PELAKSANAAN PEMBUKTIAN PERKARA TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA DI PERSIDANGAN OLEH PENUNTUT UMUM KEJAKSANAAN NEGERI SURAKARTA

Document Sample
PELAKSANAAN PEMBUKTIAN PERKARA TINDAK PIDANA  PEMBUNUHAN BERENCANA DI PERSIDANGAN OLEH  PENUNTUT UMUM KEJAKSANAAN NEGERI  SURAKARTA Powered By Docstoc
					PELAKSANAAN PEMBUKTIAN PERKARA TINDAK PIDANA
  PEMBUNUHAN BERENCANA DI PERSIDANGAN OLEH
     PENUNTUT UMUM KEJAKSANAAN NEGERI
                SURAKARTA




                   SKRIPSI

                 Disusun Oleh :

            NIN YASMINE LISASIH
                NIM : E. 006187




        FAKULTAS HUKUM
   UNIVERSITAS SEBELAS MARET
         SURAKARTA
              2009




                      40
                                                                            41



                              PERSETUJUAN


Penulis Hukum (Skripsi) ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan Dewan
penguji Penulisan Hukum (skripsi) Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
Surakarta.




                          Dosen Pembimbing Skripsi



                                 Pembimbing



                      Bambang Santoso, SH.M.Hum
                         NIP : 196202091989031001
                                                                            42




                                PENGESAHAN

        Penulis Hukum (Skripsi) ini telah diterima dan dipertahankan oleh
           Dewan penguji penulisan Hukum (skripsi) Fakultas Hukum
                     Universitas Sebelas Maret Surakarta

Pada       :
Hari       : Kamis
Tanggal    : 28 Januari 2010

                                 Dewan Penguji

1.   Edi Hendyanto, SH.MH                (                           )
     NIP : 195706291985031002
     Ketua


2.    Bambang Santoso, SH.M.Hum          (                           )
     NIP : 196202091989031001
     Sekretaris


3.   Muhammad Rustamadji, SH.MH          (                           )
     NIP : 198210082005011001
     Anggota




                                  Mengetahui,
                                    Dekan




                         (Moh. Jamin, S.H.M.Hum)
                         NIP : 19610930 198601 1001
                                                                                  43




                                    MOTTO




“Jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolongmu yang demikian itu sungguh

berat kecua1i orang-orang yang khusus “.

                                                          (QS. Al Baqarah : 45)

“Saya percaya bahwa : setiap hak mengandung tanggung jawab, setiap,

kesempatan, suatu kewajiban, setiap kekayaan, suatu pengabdian”

                                                        (John Rockefeller)

“Pada saat anda mengambil keputusan, disitulah takdir anda, ditetukan. It's in

your moments of decision that your destiny is shaped”

                                                           (Anthony Robbins)

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”

“Orang yang berhati-hati akan berhasil mendapatkan keinginannya sedang orang

yang terburu-buru akan jatuh tergelincir karena di dalam hidup ini aka nada detik-

detik yang berharga”

                                                                (Penulis)

“Hidup adalah fatamorgana, penuh dengan kepalsuan”

                                                                (Penulis)
                                                                                44




                             PERSEMBAHAN



Skripsi ini kupersembahkan kepada :
1.   Allah swt,
2.   Kedua orang tua saya, Mama yang selalu menemani hari-hari saya dengan
     penuh kasih sayang, I love u mom,. Dan Papa yang ada di surga yang selalu
     mendukung setiap langkah saya,. Yasmine kan selalu berdoa untuk papa,.. I
     love u Dad…
3.   Kakak saya, Alma Sih Dilissano, S.H yang selalu menemani dan melindungi
     saya dengan penuh kasih sayang….
4.   Saudara-saudaraku, Mbak Rima, Om Yeni, Tante Nur, Tante Hanim,Om Ari,
     Pakde Mono, Bude Ani, Bude Yun,Om Edi,Pakde Cong, kakek-nenek aku yang
     udah di surga, Pakde Mut n Pakde Pin yang udah di surga… love u all…
5.   Sahabatku, Ratna Winasih yang selalu ngertiin aku dan ngebantuin aku kalo
     urusan kampus Septian Dwi Hermanto yang udah banyak bantuin aku (pone,
     you’re my real prend). Yohana Asterita, temen main yang paling klop. Miss u
     full…
6.   Dosen-dosenku tercinta, bapak Bambang (terima kasih atas bimbingan
     skripsinya dan pesan-pesan hidupnya yag sangat meginspirasi saya), Bapak
     Aji selaku pembimbing proposal saya, Bp Edi, Bapak Harjono yang sudah
     merekrut     saya   sebagai   Asisten   Dosen   (mengajr   adalah   hal   yang
     menyenangkan, makasih bapak, …), Bapak Syafrudin selaku Pembimbing
     Akademik saya, Bapak Pius selaku pembimbing magang saya, Bapak Pranoto
     yang selaku memberi saya nilai A dan terima kasih indah… he.. he), Ibu
     Anjar,Ibu Gayatri (my inspiration…keren), Alm. Bp. Teguh dan semua dosen
     n karyawan Fakultas Hukum UNS…
7.   My band, Venus band, personal Venus : Nury and Tian, and thaks juga buat
     semua musisi and entertainer yang pernah ikut bermain music denganku en
     berproses bareng-bareng n nyiptain inspirasi buat aku, Matta band (Wor n
     istrinya teh Joiz, Stey, Sunu, Yudee, Dicky, Igoy), Bunda Elly, Cornel Letto,
     Noe Letto, Ari Letto, Kuburan band (Aa Donny, Priya, Raka, Dino), Bu Lola
     (berkat u mom, aku bias seperti sekarang), Wawa, Haikal, Pak WW, Wiwied,
     Dody, Billy, Herda, Agus, Anton, Fano, Budy, Danna, Sigit, Tyo, Akbar, Arjo,
     Bom-bom, Arip, erwan, Aji Respect, Koko, Rendy Jerk, and many moore..
8.   PT Djarum, terima kasih yang sebesar-besarnya karna telah memilih saya
     sebagai Beswan Djarum (penerima beasiswa Djarum) dan telah membiayai
     kuliah S1 saya…Terima kasih untuk Pak Rudi Djauhari selaku Pimpinan PT
                                                                                         45



     Djarum, Pak Shindaka, Koh Pazia Andhika,Pak Bowo yang selalu memback
     up event-event saya, pak Andy yang selalu mencairkan dana buat saya dan
     semua pihak Djarum yang tidak bisa kusebutkan satu per satu…
9.   Temen-temen Bewan Djarum, seru banget bisa berpetualang bareng kalian
     semua    keliling    Indonesia.    Denny,      Mada,   Nisita,   Mila,   Sam,   Hanip,
     Hermawan, Ikan, Ari, Damar, Mila, dee-dee, hafiz, Ardi, Teguh,Toto, Fauzi,
     Oka, Hafni, Hawit, Faizal, Andi, Joan,Enol, Ani en all beswan Djarum di luar
     Solo yang tidak bisa aku sebutin satu persatu …Nice have fun with u…
10. Temen-temen Fakultas Hukum UNS & temen main, Lupix Handayani
     (bersihkan dirimu….!), Angga Martandy (same with Lupix) Padmawati en
     Rud Tomico (inget nggak pertama kali kita ospek bareng,.. kelompok
     Curandus, so sweet… xixixiii pengen lagi deh…but ga terasa cepet banget ya
     kuliah angkatan… xixixi piz!!!, Wind (ayo bikin jembatan keledai hafalan
     pelajaran lagi,.. xixixi), Yuga, murid-muridku Hukum Acara Peradilan Niaga
     (asyiknya mengajar kalian semua, hehehe), temen2 seperjuangan Wisuda
     (Sinta, Intan, Yelina,rida, Farid, Putra), (temen-temen Delik, Galis n Sandy
     (haturnuhun euy!!). dll
11. Temen-temen          Magang…       seru   deh    satu   bulan     bersama   kalian   …
     (Wahyu,Puthut, Martin, Clara, Livia) dan bapak ibu jaksa di kejari Sukoharjo,
     Bapak Ibu Hakim,pengacara, panietra,Pak Polisi-polisi di Pengadilan Negeri
     Sukoharjo dan para Terdakwa (waduh kayaknya kalo ini banyak banget
     deh…Heu..heu) Pokoknamah seru banget magangnya….
12. Temen-temen bisnis n kerjaku, pegawai-pegawaiku di Asyiga Computer,
     oridlame, temen-temen PTPN Radio, seneng deh pernah hidup di PTPN, Bang
     Ige (owner PTPN Radio), temen-temen DJ, Dito Narendra, Tika Restia,
     Andika Rizki, Putri Amalia, Joan Jonathan, kangen siaran lagi bareng
     kalian…!!!
13. Yayasan Ikatan Persaudaraan Beladiri Tenaga Dalam, Penyembuhan dan
     Seni Hypnotisme Putih Lasakti Indonesia, Mas Dody (Mas Nur Asmoro), Mas
     Wijaya, Mas Dharma. Thankz..
14. Mantan SMA’ku, SMA Negeri 4 Solo, berkat sekolah di SMA N 4 aku bisa
     melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum UNS hingga menyelesaikan skripsi ini
     (Kenangan Terindah : Rangking 1 n juara parallel kelas 3 tahun ajaran 2005-
     2006) he..he nasis dikit di Skripsi nggak pa pa ya… kan bangga berprestasi..
     xixixiiii.
15. My Barbie Cat en My Guinea Piggy yang selalu ngehibur aku dengan
     tingkahnya yang lucu.
16. Yaris Merahku n My estilo Orange yang selalu menemaniku kemana-mana…
                                                                           46




                              KATA PENGANTAR



        Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya
yang telah diberikan kepada penulis dalam pembuatan skripsi ini dari awal dan
akhir, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul “PELAKSANAAN
PEMBUKTIAN PERKARA TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN
BERENCANA DIPERSIDANGAN OLEH PENUNTUT UMUM KEJAKSAAN
NEGERI SURAKARTA”.
        Skripsi ini digunakan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Hukum pada Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
        Dalam penyusunan skripsi ini, Penulis banyak mengalami hambatan dan
kesulitan, tetapi atas bantuan, dorongan dan dukungan dari semua pihak yang
telah banyak membantu, akhirnya Skripsi ini dapat terselesaikan. Dalam
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
antara lain kepada :
1. Bapak Moh. Jamin, SH. M. Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
     Sebelas Maret Surakarta.
2.   Bapak Bambang Santoso SH., M.Hum., selaku pembimbing yang telah
     memberikan arahan dan bimbingan sehingga skripsi ini dapat selesai.
3.   Bapak Rustamaji, SH., MH selaku pembimbing kedua yang telah
     memberikan arahan dan bimbingan sehingga skripsi ini dapat selesai.
4.   Bapak Momok Bambang S, SH selaku Kepala Kejaksaan Negeri Surakarta
     yang telah berkenan memberikan kesempatan dalam pelaksanaan penelitian
     pada kantor wilayahnya untuk melakukan riset dan pengambilan data
     seperlunya guna tersusunnya skripsi ini.
5.   Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Ilmu Hukum Universitas Sebelas Maret
     Surakarta yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada Penulis,
     sehingga dapat memberikan wawasan yang lebih luas.


6.   Bapak Syafrudin Yudo Wibowo SH, MH selaku pembimbing akademik yang
     selalu memberikan kemudahan dalam akademik saya.

7.   Bapak dan Ibu tercinta, atas dorongan moril maupun spiritual sehingga
     penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
                                                                                47




8.   Kakak saya tercinta, yang selalu memberikan dorongan dan dukungan kepada
     penulis untuk terus berjuang dalam menempuh Studi Ilmu Hukum ini.

9.   Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini yang tidak
     dapat penulis sebutkan satu persatu.


        Penulis yakin sepenuhnya tanpa bimbingan, arahan dan petunjuk dari
pihak-pihak tersebut, skripsi ini tidak dapat terselesaikan dengan baik. Untuk itu
segala bantuan yang telah diberikan, penulis hanya dapat menyampaikan rasa
hormat dan penghargaan yang setinggi-tingginya serta rasa terima kasih yang tak
terhingga. Semoga aural kebaikan tersebut mendapatkan balasan dari Allah SWT.

        Akhirnya penulis berharap semoga Skripsi ini dapat memberikan manfaat
pada pihak-pihak yang berkepentingan. Dan demi kesempurnaan penulisan skripsi
ini, segala sumbangan pemikiran dan kritik yang membawa kebaikan dengan
senang hati penulis perhatikan


                                             Surakarta,      Oktober 2009



                                              NIN YASMINE LISASIH
                                                  NIM : E0006187
                                                                                                              48




                                               DAFTAR ISI



HALAMAN JUDUL ...................................................................................               i
HALAMAN PERSETUJUAN .....................................................................                      ii
HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................                     iii
HALAMAN MOTTO ..................................................................................              iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................                        v
KATA PENGANTAR .................................................................................              vi
DAFTAR ISI ...............................................................................................   viii
ABSTRAK ..................................................................................................     x
BAB I   PENDAHULUAN ......................................................................                     1
        A. Latar Belakang Masalah.........................................................                     1
               B. Pembatasan Masalah .............................................................             4
               C. Perumusan Masalah ...............................................................            4
               D. Tujuan Penelitian ...................................................................        4
               E. Manfaat Penelitian .................................................................         5
               F. Metode Penelitian .................................................................          5
               G. Sistematika Skripsi ...............................................................        11
BAB II         TINJAUAN PUSTAKA .............................................................                13
               A. Kerangka Teori ...................................................................         13
                    1. Pengertian Pembuktian dan Alat Bukti ............................                     13
                    2. Alat – alat Bukti ..............................................................      14
                    3. Tinjuaan Umum tentang Penuntutan ................................                     20
                         a................................................................................. Peng
                               ertian Penuntut ..........................................................    20
                         b. ............................................................................... Peng
                               ertian Jaksa Penuntut Umum .....................................              21
                         c................................................................................. Prose
                               s penuntutan jaksan oleh Jaksa Penuntut Umum .........                        24
                    4. Tinjauan Umum Tindak Pidana Pembunuhan Berencana .                                    31
                         a................................................................................. Peng
                               ertian Tindak Pidana ..................................................       31
                                                                                                          49



                    b. ............................................................................... Peng
                          ertian Tindak Pidana Pembunuhan .............................                   32
          B. Kerangka Pemikiran .............................................................
BAB III   HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...........................                                     40
          A. Pelaksanaan Pembuktian Perkara Tindak Pidana Pembunuhan
               Berencana di persidangan oleh Jaksa penuntut Umum
               Kebijaksaan Surakarta ..........................................................           40
               1. Deskripsi Kasus ..............................................................          40
               2. Identitas Terdakwa ..........................................................           42
               3. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum .....................................                       42
               4. Alat Bukti dan Barang Bukti dalamPembuktian Dakwaan                                     47
          B. Hambatan – hambatan dalam Pembuktian Tindak Pembunuhan 67
               1. Mengumpulkan Barang – barang Bukti yang telah berkurang
                    dan berpindah Tangan .....................................................            67
               2.    Perlawanan dari Pengacara/Penasehat Hukum ................                           68
BAB V     PENUTUP ..................................................................................      69
          A. Kesimpulan ...........................................................................       69
          B. Saran ....................................................................................   70
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
                                                                               50




                                  ABSTRAK



Nama: Nin Yasmine Lisasih, NIM: E. 0006 187, “PELAKSANAAN
PEMBUKTIAN PERKARA TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN
BERENCANA DIPERSIDANGAN OLEH PENUNTUT UMUM KEJAKSAAN
NEGERI SURAKARTA”.

        Penelitian ini mempunyai 2 tujuan: 1. Tujuan Objektif : mengetahui
pelaksanaan dan hambatan pembuktian perkara tindak pidana pembunuhan
berencana dipersidangan oleh jaksa penuntut umum di Kejaksaan Negeri
Surakarta, 2. Tujuan Subjektif : mengumpulkan dan mengolah data yang
diperlukan guna penulisan, penelitian serta menambah pengetahuan penulis dan
membandingkan materi diperkuliahan dengan kenyataan sehari-hari. Metode yang
digunakan dalam, penelitian im adalah metode deskriptif kualitatif.
        Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah jenis penelitian
deskriptif, yaitu penelitian yang mengambarkan tentang pelaksanaan pembuktian
perkara, tindak pidana pembunuhan berencana dipersidangan oleh penuntut umum
Kejaksaan Negeri Surakarta. Sumber data adalah primer dan sekunder, tehnik
pengumpulan data menggunakan : wawancara, daftar pertanyaan dan kepustakaan
atau library riset. Analisis yang dilakukan dengan model analisis interatif
        Hasil penelitian: 1. Pelaksanaan pembuktian perkara, tindak pidana
pembunuhan berencana dipersidangan oleh jaksa penuntut umum Kejaksaan
Negeri Surakarta. a. Keterangan saksi antara, lain : Paulus Bambang Wijamko.
Nyonya Merapi Yatmi , Jiman, Sinta Dewi., Evi Riwayati., Agus Riyanto., Nur
Rahman Als Kikuk, Ismantoro Als Kiki, Heri Susanto, Basuki Noto Gunawan, b.
Keterangan ahli, jaksa penuntut umum mengandirkan Dr. Pudjo Pramono selaku
ahli forensik yang mengotopsi korban, c. Surat, berdasarkan Visum et repertum
No. 141 / ME / III / 2006 yang dibuat oleh laboraturium forensik fakultas
kedokteran UNS dan ditandatangani oleh Dr. Pudjo Pramono, Sp,F yang
kesimpulannya korban Nyo Siok Hoo meninggal karena patahnya tulang leher, d.
Petunjuk jaksa penuntut umum memberikan petunjuk bahwa para, saksi
menerangkan, mendengar langsung dari para, terdakwa, yang mengatakan bahwa
terdakwa memukul korban dengan potongan besi kena tengkuk belakang lantas
dijerat lehernya dengan kain beling sesuai visum, e. Keterangan terdakwa,
berdasarkan keterangan terdakwa 1 Riski Bambang Sulistyo Als Nyo-nyo
terdakwa 2. Chandra Sutrisno Als Liem Bunsen Als Babahe membenarkan telah
membunuh Nyo Siok Hoo. 2. Hambatan jaksa dalam, proses sidang adalah a.
berkurang atau berpindah tangan alat-alat bukti, sehingga mengakibatkan tidak
lengkapnya bukti dalam proses persidangan, b. adanya perlawanan dari pembela
atau penasehat hukum atau tuntutan jaksa penuntut umum.
                                                                                51




ABSTRACT



Name: Nin Yasmine Lisasih, NIM: E0006.187, “EXECUTION OF EVIDENCE
IN THE POGROM CRIME-ACT CASE AT SESSION-COURT BY
PROSECUTOR OF THE LAW COURT SURAKARTA”.

        This research have two 2 target as 1. Objective are knows of execution of
evidence in the pogrom crime-act case at session-court by prosecutor of the Law
Court Surakarta; 2. Subjective are collected and needed of the process data to
writing, research and also add knowledge of the writer and the items compare in
lecturing with everyday fact. In this research used method of qualitative
descriptive method.
        Research type in this research is descriptive, that is research depicting
about execution of evidence in the pogrom crime-act case at session-court by
prosecutor of the Law Court Surakarta. Data sources are primary and secondary,
and collecting technique use : interview, bibliography and questionnaire or library
research. Analysis done with the interactive analysis method.
        Result of the research 1. execution of evidence in the pogrom crime-act
case at session-court by prosecutor of the Law Court Surakarta. a. the explain of
the witnesses such as: Paulus Bambang Wijanarko, Mrs. Merapi Yatmi, Jiman,
Sinta Dewi, Evi Riwayati, Agus Riyanto, Nur Rahman Als Kikuk, Ismantoro Als
Kiki, Heri Susanto, Basuki Noto Gunawan. B. The explain of the expert, the
prosecutor attend of the Dr. Pudjo Pramono as forensic expert which victim
autopsy c. Letter, pursuant to Visum et repertum of No. 14 / ME / III / 2006 made
by forensic laboratory of the medicine faculty of the UNS and signed by Dr.
Pudjo Pramono, Sp,F which their conclusion that victim of Nyo Siok Hoo die
neck-bone's broken d. Guide of the prosecutor which show that witnesses explain,
direct-hearing from all defendant saying that defendant beat victim with the a iron
in the him nape-behind then ensnared by him neck with cloth-glass according to
the visum e. Explain of the defendants, pursuant to defendant 1. Riski Bambang
Sulistyo Als Nyo-Nyo is defendant 2. Chandra Sutrisno Als Liem Bunsan Als
Babahe was agree that killed to Nyo Siok Hoo. 2. Resistances of the Attorney in
course that a. decreasing or changing-hands of evidence appliances, so that result
incompletely of evidence in courts b. Existence of reserve from the advocate or
adviser public prosecutor.

Key words : Pogrom crime-act.
                                                                            52



                                    BAB I
                              PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
             Usaha penegakan hukum merupakan salah satu usaha untuk
   menciptakan tata tertib, keamanan dan ketentraman dalam masyarakat baik
   itu merupakan usaha pencegahan maupun merupakan pemberantasan atau
   penindakan setelah terjadinya pelanggaran hukum. Apabila undang-undang
   yang menjadi dasar hukum bagi gerak langkah serta tindakan dari penegak
   hukum kurang sesuai dengan dasar falsafah negara dan pandangan hidup
   bangsa, maka sudah barang tentu penegakan hukum tidak akan mencapai
   sasarannya.
          Pasal 1 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 menyatakan bahwa
   Negara Indonesia adalah negara hukum. Hal ini berarti segala bentuk perilaku
   individu didasarkan kepada hukum yang berlaku. Pelaku kejahatan ataupun
   korban kejahatan akan mendapatkan tindakan hukum berdasarkan perundang-
   undangan yang berlaku. Seseorang yang diduga melakukan pelanggaran
   hukum tidak dapat dikatakan bersalah sebelum adanya keputusan hukum dari
   hakim yang bersifat tetap. Untuk menjaga supremasi hukum saat ini sedang
   gencar-gencarnya diadakan reformasi penegak hukum yang bersih dan
   berwibawa.
          Adanya tindak pidana yang dilakukan oleh tersangka, maka langkah-
   langkah penegakan hukum merupakan proses yang panjang membentang dari
   awal sampai akhir.        Adapun menurut    sistem yang dipakai dalam
   KUHAP, maka pemeriksaan pendahuluan merupakan pemeriksaan yang
   dilakukan oleh penyidik Polri termasuk di dalamnya pemeriksaan tambahan
   atas dasar petunjuk-petunjuk dari jaksa penuntut umum dalam rangka
   penyempurnaan     hasil    penyidikannya.   Langkah    selanjutnya   adalah
   pemeriksaan pengadilan yang dilakukan di depan pengadilan yang dipimpin
   oleh hakim. Di hadapan hakim, Jaksa Penuntut Umum akan mengajukan
   tuntutannya sesuai pelanggaran yang dilakukan terdakwa.
                                                                        53



       Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan
perkara pidana ke pengadilan untuk diperiksa dan diputus oleh hakim.
Kejaksaan    adalah   satu-satunya   lembaga   pemerintahan   negara   yang
mempunyai tugas dan wewenang di bidang penuntutan dalam penegakan
hukum dan keadilan di lingkungan peradilan umum. Kejaksaan dalam
menjalankan tugas penuntutan tindak pidana setelah dilakukan tindakan
penyidikan oleh kepolisian, maka penuntut umum harus melakukan
penuntutan dengan melimpahkan ke pengadilan untuk pemeriksaan guna
membuktikan bahwa seseorang itu bersalah atau tidak, kecuali untuk perkara-
perkara tertentu demi kepentingan negara dan atau umum.
       Penetapan alat bukti berhubungan erat dengan kewenangan Jaksa
Penuntut Umum sebagai unsur pengak hukum, dimana sebagai pelaksana
tuntutan hukum membutuhkan alat bukti bahan pembuktian adanya dugaan
telah terjadi suatu perbuatan pidana. Alat bukti dalam hukum pembuktian
suatu perkara pidana yang sah antara lain adalah kesaksian, surat-surat,
pengakuan dan petunjuk-petunjuk. Untuk membuktikan telah terjadinya
tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa, maka Jaksa Penuntut Umum
akan berusaha untuk mencari alat-alat bukti selengkap mungkin untuk
meyakinkan Hakim bahwa terdakwa memang benar-benar telah melakukan
tindak pidana yang dipersangkakan kepadanya.
       Demikian pula yang terjadi pada persidangan di Pengadilan Negeri
Surakarta beberapa tahun yang lalu, bahwa Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo
Nyo dan Candra Sutrisno als. Liem Bun San als. Babahe. Keduanya telah
didakwa melakukan tindak pidana pembunuhan berencana terhadap korban
Nyo Siok Hoo (Emak). Dakwaan pembunuhan merencana ini ditetapkan oleh
Kejaksaan berdasarkan berkas penyidikan perkara yang telah dilimpahkan
dari kepolisian.
       Terhadap berkas perkara pembunuhan berencana ini, Kejaksaan
pertama-tama akan menunjuk Jaksa Penuntut Umum untuk menangani atau
menindaklanjuti atas perkara ini. Jaksa Penuntut Umum akan mempelajari
                                                                         54



terlebih dahulu perkara pembunuhan berencana mengenai pasal-pasal pidana
yang dikenakan terhadap tersangka. Selain itu Jaksa Penuntut Umum akan
mengumpulkan semua alat-alat bukti yang berhubungan dengan tindak pidana
pembunuhan berencana yang telah didakwakan terhadap kedua tersangka.
Alat-alat bukti ini diperoleh dari pihak kepolisian yang disertakan dengan
berkas penyidikan. Sehingga setelah penyidikan oleh kepolisian selesai alat-
alat bukti tidak dikembalikan kepada pemiliknya, tetapi ikut dilimpahkan ke
Kejaksaan Negeri untuk proses penuntutan.
       Apabila Jaksa Penuntut Umum kesulitan melakukan penuntutan
dikarenakan kurangnya alat-alat bukti, maka Jaksa Penuntut Umum
mempunyai kewenangan untuk mencari alat-alat bukti-bukti lain yang
berhubungan dengan tindak pidana pembunuhan berencana yang telah
dilakukan oleh kedua terdakwa. Adapun tujuan dari kelengkapan alat bukti ini
adalah untuk menguatkan pembuktian bahwa terdakwa benar-benar telah
melakukan tindak pidana pembunuhan berencara. Selain itu tuntutan Jaksa
Penuntut Umum dengan berdasarkan alat-alat bukti akan dapat memberikan
keyakinan pada Hakim dengan memberikan putusan hukum yang adil kepada
para terdakwa.
       Dari latar belakang masalah di atas diketahui bahwa alat bukti
merupakan sarana bagi aparat penegak hukum dalam membuktikan suatu
perkara tindak pidana termasuk tindak pidana pembunuhan berencana.
Masalah pembuktian ini menduduki masalah yang sentral dalam hukum acara
pidana. Tujuan dari pembuktian adalah untuk mencari dan mendapatkan
kebenaran materiil, dan bukan untuk mencari kesalahan sesorang. Bertolak
dari alasan inilah maka dalam setiap tindak pidana termasuk pembunuhan
berencana harus ditemukan alat-alat bukti tindak pidana.
       Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, penulis akan
melakukan penelitian: “PELAKSANAAN PEMBUKTIAN PERKARA
TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA DI PERSIDANGAN
OLEH PENUNTUT UMUM KEJAKSAAN NEGERI SURAKARTA”.
                                                                                 55



B. Pembatasan Masalah
            Agar tidak meluas kemana-mana, maka penulisan skripsi ini dibatasi
    pada peranan alat bukti tindak pidana pembunuhan berencana di tingkat
    penuntutan oleh Kejaksaan Negeri Surakarta. Adapun lokasi penelitian,
    penulis batasi di Kejaksaan Negeri Surakarta.


C. Perumusan Masalah
            Agar permasalahan yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan
    penulisan skripsi mencapai tujuan yang diinginkan maka perlu disusun
    perumusan masalah yang didasarkan pada uraian latar belakang dan
    pembatasan masalah. Adapun perumusan masalah dalam skripsi ini adalah:
    1. Bagaimana pelaksanaan pembuktian perkara tindak pidana pembunuhan
         berencana di persidangan oleh Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri
         Surakarta?
    2. Apa sajakan hambatan-hambatan dalam pembuktian tindak pidana
         pembunuhan berencana ?


D. Tujuan Penelitian
            Dalam suatu penelitian, pastilah ada tujuan yang hendak dicapai.
    Tujuan dari penelitian dalam penulisan penelitian ini adalah :
    1.   Tujuan Obyektif
         a. Mengetahui     pelaksanaan   pembuktian     perkara      tindak   pidana
            pembunuhan berencana di persidangan oleh Jaksa Penuntut Umum di
            Kejaksaan Negeri Surakarta
         b. Mengetahui hambatan-hambatan pembuktian perkara tindak pidana
            pembunuhan berencana di persidangan oleh Jaksa Penuntut Umum di
            Kejaksaan Negeri Surakarta
                                                                            56



   2.   Tujuan Subyektif.
        a. Mengumpulkan dan mengolah data yang diperlukan guna penulisan
          penelitian, sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana
          dalam bidang ilmu hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas
          Maret Surakarta.
        b. Menambah pengetahuan penulis dalam penulisan ilmu hukum.
        c. Membandingkan materi di perkuliahan dengan kenyataan sehari-hari.


E. Manfaat Penelitian
          Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian hukum ini antara lain
   adalah :
   1.   Manfaat Teoritis
        Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pemikiran di
        bidang ilmu hukum khusunya hukum pidana yakni tentang pelaksanaan
        pembuktian dalam tindak pidana pembunuhan berencana dan hambatan-
        hambatan dalam pembuktian oleh Jaksa Penuntut Umum di persidangan.
   2.   Manfaat Praktis
        Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi aparat
        penegak hukum, khusunya Kejaksaan Negeri Surakarta dalam rangka
        melengkapi alat bukti tindak pidana, agar sesuai dengan peraturan
        perundangan KUHAP dan perundangan lainnya yang relevan.


H. Metode Penelitian
          Metode merupakan unsur yang sangat penting dalam penelitian untuk
   mendapatkan data yang validitasnya tinggi. Tanpa suatu metode, maka
   seorang peneliti akan sulit menentukan, merumuskan, dan memecahkan
   masalah dalam mengungkapkan kebenaran.
          Menurut Winarno Surachman (1990 : 26), mengatakan bahwa metode
   penelitian adalah :
                                                                            57



        Suatu tulisan atau karangan mengenai penelitian disebut ilmiah dan
        dipercaya kebenarannya apabila pokok-pokok pikiran yang
        dikemukakan disimpulkan melalui prosedur yang sistematis dengan
        menggunakan pembuktian yang meyakinkan, oleh karena itu
        dilakukan dengan cara yang obyektif dan telah melalui berbagai tes
        dan pengujian”.

        Metode dapat digunakan untuk menganalisa, mempelajari dan
memahami keadaan-keadaan yang dihadapi. Sehingga penelitian akan disebut
ilmiah dan dapat dipercaya kebenarannya apabila disusun dengan metode
yang tepat.

1.   Jenis Penelitian
              Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian empiris atau
     non doktrinal. Dalam hal ini peneliti ingin mengkaji alat-alat bukti yang
     dipakai dalam tindak pidana pembunuhan berencana dan alat-alat ini
     dapat digunakan sebagai alat pembuktian.
2.   Sifat Penelitian
               Menurut bidangnya penelitian ini termasuk penelitian yang
     bersifat deskriptif. Penelitian deskriptif menurut Soerjono Soekanto
     (1986 : 10), adalah:

              “Suatu penelitian yang dimaksud untuk memberikan data yang
              seteliti mungkin tentang manusia, keadaan, gejala-gejala lainnya.
              Maksudnya adalah terutama mempertegas hipotesa-hipotesa, agar
              dapat membantu memperkuat teori-teori lama, atau di dalam
              kerangka penyusun teori baru”

              Dalam penelitian ini, Penulis ingin memperoleh gambaran yang
     lengkap dan jelas tentang Jaksa Penuntut Umum dalam melaksanakan
     fungsi penuntutan terhadap terdakwa pelaku pembunuhan berencana
     berdasarkan alat-alat bukti yang telah berhasil dikumpulkannya.
3.   Pendekatan Penelitian
               Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan kualitatif, yaitu
     pendekatan yang digunakan oleh peneliti dengan mendasarkan pada data-
                                                                          58



     data yang dinyatakan responden secara lisan atau tulisan, dan juga
     perilakunya yang nyata, diteliti dan dipelajari sebagai sautu yang utuh
     (Soerjono Soekanto, 1986 : 250).
             Pendekatan kualitatif ini penulis gunakan karena beberapa
     pertimbangan antara lain :
     a. Metode ini mampu menyesuaikan secara lebih mudah untuk
        berhadapan dengan kenyataan.
     b. Metode ini lebih peka dan lebih mudah menyesuaikan diri denan
        banyak penajaman terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
4.   Lokasi Penelitian
     Penelitian ini dilakukan di Kejaksaan Negeri Surakarta. Alasannya
     adalah di Kejaksaan Negeri Surakarta ini terdapat kasus pembunuhan
     berencana yang memerlukan alat pembuktian yang kuat untuk menjerat
     terdakwa sesuai Pasal 340 KUHP.
5.   Jenis dan Sumber Data
           Jenis data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah data
      primer dan data sekunder.
     a. Data Primer
       Adalah sejumlah keterangan atau fakta yang diperoleh secara
       langsung melalui penelitian lapangan, baik dengan cara wawancara
       atau observasi terhadap responden dalam penelitian.
     b. Data Sekunder
       Adalah sejumlah keterangan atau fakta yang diperoleh secara tidak
       langsung, tetapi melalui penelitian kepustakaan.
           Sumber data adalah tempat ditemukannya data. Adapun data dari
      penelitian ini diperoleh dari dua sumber yaitu: Pertama, sumber data
      primer yang berasal dari Kejaksaan Negeri Surakarta. Kedua adalah
      sumber data sekunder yang terdiri dari :
                                                                             59



     a. Bahan Hukum Primer
        Yaitu kaidah dasar, peraturan perundang-undangan antara lain yaitu
        1) UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP
        2) KUHP
        3) UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI.
     b. Bahan Hukum Sekunder
        Adalah sejumlah keterangan atau fakta yang diperoleh melalui buku-
        buku hasil karya dari kalangan hukum, hasil-hasil penelitian, dan
        artikel koran serta bahan lain yang berhubungan dengan pokok
        bahasan.
     c. Bahan Hukum Tersier
        Yaitu bahan yang memberi penjelasan terhadap bahan hukum primer
        dan sekunder, yaitu kamus hukum, Kamus Besar Bahasa Indonesia.
6.   Teknik Pengumpulan Data
            Dalam memperoleh data yang lengkap untuk penelitian ini
     menggunakan data yang bersifat primer maupun sekunder sebagai
     berikut:
     a. Data Primer
        Data yang diperoleh melalui studi langsung ke lapangan, dalam hal
        ini di Kejaksaan Negeri Surakarta. Adapun data yang diperoleh
        melalui:
        1) Wawancara (Interview)
            Yaitu proses tanya jawab secara langsung dua orang atau lebih
            berhadapan    secara   langsung   atau   tidak   (melalui   media
            komunikasi). Dalam penelitian ini menggunakan interview yang
            bebas terpimpin yaitu interview dalam pengumpulan data secara
            bebas dengan pengumpulan data berupa catatan-catatan mengenai
            pokok-pokok yang ditanyakan sehingga masih memungkinkan
            variasi pertanyaan sesuai dengan kondisi saat melakukan
                                                                               60



            interview. Data dari interview diperoleh dari Kejaksaan Negeri
            Surakarta antara lain dengan Jaksa Penuntut Umum dan Kasie
            Pidum.
       2) Daftar pertanyaan
           Adalah suatu cara pengumpulan data dengan jalan membuat suatu
           daftar pertanyaan yang ditujukan kepada responden, yaitu: pejabat
           atau pegawai atau aparat penegak hukum di Kejaksaan Negeri
           Surakarta yang berwenang memberikan jawaban, baik secara
           tertulis maupun secara lisan.
     b. Data Sekunder
       Data sekunder diperoleh dengan penelitian kepustakaan atau library
       research guna memperoleh landasan hukum atau bahan penulisan
       lainnya yang dapat dijadikan sebagai landasan teori. Data yang
       diperoleh dari dokumen-dokumen, catatan-catatan, buku-buku yang
       berhadapan dengan materi kemudian diselaraskan dengan bahan dari
       kepustakaan sebagai bahan acuan dari bahan referensi penelitian.
       Studi     kepustakaan    ini    dilakukan      dengan    mempelajari    dan
       mengidentifikasikan      literatur-literatur   yang     berupa   buku-buku,
       peraturan-peraturan, dokumen, artikel-artikel serta hasil penelitian
       yang dilakukan oleh para ahli.
7.   Teknik Analisis Data
            Dalam pemecahan masalah penarikan kesimpulan dari kasus yang
     diteliti penelitian ini sangat tergantung dari analisis data sehingga
     diperoleh penelitian yang mempunyai kualitas yang baik. Pada analisa
     data, data dikerjakan dan digunakan sampai berhasil menyimpulkan
     kebenaran-kebenaran       untuk   menjawab        persoalan-persoalan    yang
     diteliti dengan kebenaran analisis berdasarkan literatur dan dasar teori
     yang ada.    Penelitian ini menggunakan analisa data kualitatif yaitu
     dengan mengumpulkan data yang diperoleh, mengidentifikasikan,
                                                                        61



mengklarifikasikan,    menghubungkan      dengan   teori   literatur   yang
mendukung masalah kemudian menarik kesimpulan dengan analisis
kualitatif.
        Dari penelitian kualitatif ini penulis menggunakan model analisis
interaksi melalui tiga unsur utama yaitu reduksi data, sajian data dan
penarikan kesimpulan. Dengan tiga kegiatan ini menjamin penelitian ini
mendapatkan hasil yang valid dari tambahan data-data yang terkumpul
dengan didukung teori yang ada sehingga penelitian ini tidak
menyimpang dari konsep yang telah ada.
        Adapun tiga kegiatan yang utama dalam penelitian yaitu sebagai
berikut:
a. Data reduksi
   Merupakan proses seleksi, pemfokusan, dan penyederhanaan data
   pada penelitian. Data yang telah teridentifikasikan tersebut lebih
   memudahkan dalam penyusunan.


b. Penyajian data
   Sekumpulan informasi yang memungkinkan kesimpulan riset dapat
   dilaksanakan.
c. Menarik kesimpulan
   Setelah memahami arti dari berbagai hal yang meliputi pencatatan-
   pencatatan peraturan, pernyataan-pernyataan, konfigurasi-konfigurasi
   yang mungkin, alur sebab akibat, akhirnya peneliti menarik
   kesimpulan (HB. Sutopo, 2002 : 37).
        Untuk lebih memudahkan mempelajari konsep analisis interaksi
penelitian ini dibuat sebagai berikut :
                                                                                 62



                                 PENGUMPULAN DATA


                                                                   SAJIAN DATA
     REDUKSI DATA




                                      KESIMPULAN




                 Dengan model analisis ini, maka peneliti harus bergerak diantara
         empat sumbu kumparan itu selama pengumpulan data, selanjutnya bolak
         balik diantara kegiatan reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan
         selama sisa waktu penelitian. Aktivitas yang dilakukan dengan proses itu
         komponen-komponen tersebut akan didapat yang benar-benar mewakili
         dan sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Setelah analisis data
         selesai, maka hasilnya akan disajikan secara diskriptif, yaitu dengan jalan
         apa adanya sesuai dengan masalah yang diteliti dan data yang diperoleh.
                 Setelah semua data dikumpulkan, kemudian diambil kesimpulan
         dan langkah tersebut tidak harus urut tetapi berhubungan terus menerus
         sehingga membuat siklus (HB, Sutopo, 2002 : 13).


I.   Sistematika Skripsi
            Dalam penelitian ini akan diuraikan secara sistematis keseluruhan isi
     yang terkandung dalam skripsi ini. Adapun sistematika penulisannya sebagai
     berikut :
            Dalam bab I pendahuluan, berisi tentang: latar belakang masalah,
     pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
     penelitian, metode penelitian, dan sistematika skripsi.
            Dalam bab II, tinjauan pustaka, berisi tentang sub bab pertama yaitu
     kerangka teoritis yang berisi: pengertian pembuktian, alat-alat bukti dan
                                                                        63



pengertian tindak pidana pembunuhan berencana. Pada sub bab kedua adalah
kerangka pemikiran.
       Dalam bab III, hasil penelitian dan pembahasan, berisi tentang hasil
penelitian dan pembahasan yang meliputi: 1. Proses pembuktian oleh Jaksa
Penuntut Umum dalam persidangan tindak pidana pembunuhan berencana,
dan hambatan-hambatan selama proses persidangan berlangsung.
       Dalam bab IV penutup, berisi kesimpulan yang dibuat berdasarkan
hasil penelitian dan pembahasan penelitian dan saran-saran penulis
berdasarkan hasil penelitian yang dicapai.
                                                                             64



                                  BAB II
                         TINJAUAN PUSTAKA


A. Kerangka Teori
   1. Pengertian Pembuktian dan Alat Bukti
            Menurut R. Subekti (2006 : 1) yang dimaksud dengan
     “Membuktikan” adalah meyakinkan Hakim tentang kebenaran dalil atau
     dalil-dalil yang dikemukakan dalam suatu persengketaan. Dengan
     demikian   tampaklah    pembuktian      itu   hanyalah   diperlukan   dalam
     persengketaan atau perkara di muka hakim atau pengadilan.
            Masalah   pembuktian       ini   merupakan   masalah    yang   pelik
     (ingewikkeld) dan justru masalah pembuktian menempati titik sentral
     dalam hukum acara pidana. Adapun tujuan dari pembuktian adalah untuk
     mencari dan mendapatkan kebenaran materiil, dan bukanlah untuk mencari
     kesalahan seseorang.
            Tugas hakim atau pengadilan adalah menetapkan hukum untuk
     suatu keadaan tertentu, atau menerapkan hukum atau undang-undang,
     menetapkan apakah yang “hukum” atas pihak yang bersangkutan. Dalam
     melakukan pemeriksaan tadi hakim harus mengindahkan aturan-aturan
     tentang pembuktian yang merupakan hukum pembuktian. Keyakinan
     hakim ini harus didasarkan pada sesuatu, yang oleh undang-undang
     dinamakan alat bukti. Dengan alat bukti ini masing-masing pihak berusaha
     membuktikan dalilnya atau pendiriannya yang dikemukakan kepada hakim
     yang diwajibkan untuk memutusi perkara.
            Van Bemmelen dalam Suryono Sutarto (1985 : 34) mengatakan
     bahwa maksud dari pembuktian (bewijzen) sebagai berikut : “bewijzen is
     derhalve door onderzoek en redenering van de rechtereen redelijke mate
     van zekerheid de verschaffen” :
     a. omtrent de vraag of bepaalde feiten hebben plauts gevonden;
     b. omtrent de vraag waarom dit het geval is geweest.
                                                                           65



  Bewijzen bestaat dus uit :
  a. het wijzen op waarneembare feiten;
  b. mededeking van waargenomen feiten;
  c. logisch denken.
  Terjemahannya kurang lebih demikian: maka pembuktian ialah usaha
  untuk memperoleh kepastian yang layak dengan jalan memeriksa dan
  penalaran dari hakim,:
  a. Mengenai pertanyaan apakah peristiwa atau perbuatan tertentu
       sungguh pernah terjadi.
  b. Mengenai pertanyaan apakah mengapa peristiwa ini telah terjadi
  Dari itu pembuktian terdiri dari :
  a.   Menunjukkan peristiwa-peristiwa tentang peristiwa-peristiwa yang
       dapat diterima panca indera;
  b.   Memberi keterangan tentang peristiwa-peristiwa yang telah diterima
       tersebut;
  c.   Menggunakan pikiran logis.
          Dengan     demikian    pengertian    membuktikan   sesuatu   berarti
  menunjukkan        hal-hal   yang    dapat   ditangkap   oleh   pancaindera
  mengutamakan hal-hal tersebut, dan berpikir secara logika.


2. Alat-alat Bukti
          Di dalam pemeriksaan suatu perkara pidana, Hakim tidak boleh
  menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-
  kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu
  tindak pidana benar-benar terjadi bahwa terdakwa benar-benar bersalah
  melakukannya (Pasal 183 KUHAP)
          Sedangkan yang dimaksud dengan barang bukti adalah barang-
  barang yang dapat menunjukkan telah terjadi suatu tindak pidana baik
  digunakan sebagai alat, hasil dari suatu kejahatan ataupun yang
  menunjukkan bekas telah terjadinya suatu tindak pidana. Gunanya barang
  bukti adalah untuk memperkuat alat-alat bukti yang sah.
                                                                             66



       Yang disebut “terbukti dengan sah dan meyakinkan” apabila
sekurang-kurangnya ada dua alat bukti yang bisa membuat Hakim yakin
bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah
yang bersalah melakukannya (Pasal 183 KUHAP). Berdasarkan hal
tersebut maka syarat-syarat seseorang dapat dipidana apabila: (1) Ada alat
bukti yang sah sekurang-kurangnya dua alat bukti; (2) Adanya keyakinan
Hakim; (3) Adanya kesalahan yang didakwakan kepada dirinya (4) Yang
bersangkutan dapat dianggap bersalah.
       Hakim dalam menjalankan tugasnya mencari kebenaran materiil
wajib mentaati ketentuan-ketentuan tentang alat-alat bukti yang disebut
dalam undang-undang. Adapun alat-alat bukti yang dimaksud sebagaimana
dinyatakan dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP ialah : (1) Keterangan saksi;
(2) keterangan ahli; (3) surat; (4) petunjuk; dan (5) keterangan terdakwa.
a. Keterangan saksi;
          Pasal 1 butir 27 KUHAP menyatakan: Keterangan saksi ialah
   salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari
   saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, dan ia
   alami sendiri dengan menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu.
   Sedangkan pengertian keterangan saksi sebagai alat bukti, dicantumkan
   dalam Pasal 185 ayat (1) KUHAP, yang menyatakan: “Keterangan saksi
   sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan”.
          Untuk menjadi saksi dalam suatu perkara pidana maka terdapat
   syarat objektif dan subjektif yang harus dipenuhi. Syarat-syarat objektif
   untuk bisa menjadi saksi:
   1) Dewasa, telah berumur 15 tahun atau pernah kawin;
   2) Sehat akalnya
   3) Tidak ada hubungan keluarga baik karena pertalian darah atau
       karena perkawinan dengan terdakwa.
   Sedangkan syarat-syarat subjektif saksi adalah: Mengetahui secara
   langsung terjadinya peristiwa pidana, ialah melihat, mendengar atau
   merasakan sendiri.
                                                                      67



       Dalam     memberikan     kesaksian,    keterangan   saksi   harus
memenuhi 2 syarat, yaitu :
1) Syarat formil, dan
2) Syarat materiil
       Mengenai syarat formil dapat dijelaskan, bahwa keterangan
saksi seorang saksi dianggap sah, jika diberikan di bawah sumpah
menurut cara agamanya (Pasal 160 ayat 3). Sedangkan keterangan saksi
yang tidak disumpah menurut Pasal 185 ayat (7) KUHAP, “maka
keterangan dari saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan
yang lain, tidak merupakan alat bukti, namun apabila keterangan itu
sesuai dengan keterangan dari saksi yang disumpah dapat dipergunakan
sebagai tambahan alat bukti sah yang lain”.
       Bagi saksi yang belum cukup 15 tahun atau karena ada
hubungan keluarga dapat didengar tanpa disumpah dan keterangan
dapat dijadikan tambahan bahan pertimbangan bagi Hakim. Bagi saksi
yang meninggal sebelum didengar sebagai saksi tetapi di depan
penyidik telah bersumpah, maka keterangannya mempunyai nilai yang
sama dengan keterangan di depan sidang.
       Selanjutnya sebagai syarat formil, dinyatakan pula bahwa
keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa
terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya
(Pasal 185 ayat 2).
       Adapun mengenai syarat materiil dapat dikemukakan bahwa
dinyatakan Pasal 1 butir 27 jo. Pasal 185 ayat (1) KUHAP, keterangan
saksi sebagai alat bukti apabila keterangan tersebut dinyatakan di
sidang pengadilan: mengenai suatu peristiwa pidana, yang ia dengar
sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri, dengan menyebutkan alasan
dari pengetahuannya itu. Oleh karena itu keterangan saksi yang tidak
didasarkan pada apa yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami
sendiri, tidak dapat dipakai sebagai alat pembuktian yang sah. Dengan
demikian suatu kesaksian yang didengar dari orang lain (testomonium
                                                                        68



  de auditu) tidak diakui oleh undang-undang sebagai alat pembuktian
  yang sah.
            Menurut Pasal 185 ayat (6) KUHAP, dalam menilai kebenaran
  keterangan      seorang   saksi,   Hakim   harus   bersungguh-sungguh
  memperhatikan :
  1) Kesesuaian antara keterangan saksi satu dengan yang lain:
  2) Persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti yang lain;
  3) Alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberikan
      keterangan yang tertentu;
  4) Cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada
      umumnya dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu
      dipercaya.
b. Keterangan ahli;
            Pengertian umum dari keterangan ahli dicantumkan dalam Pasal
  1 butir 28, yang menyebutkan: “keterangan ahli ialah keterangan yang
  diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang
  diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna
  kepentingan pemeriksaan”. Selanjutnya dalam Pasal 186 KUHAP
  disebutkan: “keterangan ahli sebagai alat pembuktian yaitu apa yang
  seorang ahli menyatakan dalam sidang pengadilan”. Dengan demikian
  jelas bahwa keterangan dari seorang ahli harus dinyatakan dalam
  sidang.
       Seorang yang ahli dalam bidang tertentu wajib memberikan
  keterangannya jika diminta pendapatnya, demi keadilan (Pasal 179).
  Apabila seorang saksi ahli membuat keterangan dengan tulisan, maka
  bukan merupakan keterangan ahli (bukan di sidang pengadilan), tetapi
  merupakan bukti surat. Sebelum memberikan keterangan seorang ahli
  bersumpah.
       Perlu dikemukakan di sini bahwa menurut hukum acara pidana
  yang lama (HIR) keterangan ahli ini hanya berlaku sebagai penerangan
  (inlichtingen) saja untuk menguatkan keyakinan Hakim yang masih
                                                                       69



  bimbang. Jadi dalam hal ini Hakim mempunyai kebebasan memilih
  bahwa keterangan tersebut akan dipergunakan atau tidak. Namun kini
  secara tegas dinyatakan bahwa keterangan ahli ini sebagai alat bukti
  yang sah menurut Undang-undang (Pasal 184).
c. Surat
           Dalam Pasal 187 KUHAP disebutkan: Surat sebagaimana
  tersebut dalam Pasal 184 ayat (1) huruf c. dibuat atas sumpah jabatan
  atau dikuatkan dengan sumpah, adalah:
  1) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh
       pejabat umum yang berwenang atau dibuat di hadapannya, yang
       memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar,
       dilihat atau dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas
       dan tegas tentang keterangannya itu.
  2) Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-
       undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal-hal
       yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung
       jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal
       atau keadaan.
  3) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat: pendapat
       berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu keadaan yang diminta
       secara resmi dari padanya;
  4) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan
       isi dari alat pembuktian
           Dengan surat baik akta autentik maupun kata di bawah tangan,
  dimaksudkan sebagai bukti tentang sesuatu hal yang termuat di
  dalamnya.
d. Petunjuk
           Menurut Pasal 188 ayat (1), petunjuk adalah perbuatan, kejadian
  atau keadaan yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan
  yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan telah
  terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya.
                                                                      70



  Petunjuk hanya dapat diperoleh dari :
  1) Keterangan saksi;
  2) Surat;
  3) Keterangan terdakwa.
         Dengan demikian petunjuk adalah suatu kesimpulan dari Hakim
  tentang suatu hal, atas dasar beberapa hal yang satu sama lain saling
  bersesuaian.
e. Keterangan terdakwa.
         Pengakuan yang dilakukan di muka Hakim memberikan suatu
  bukti yang sempurna terhadap siapa yang telah melakukannya, baik
  sendiri maupun dengan perantaraan seorang yang khusus dikuasakan
  untuk itu. Artinya ialah bahwa Hakim harus menganggap dalil-dalil
  yang telah diakui itu sebagai benar dan meluluskan (mengabulkan)
  segala tuntutan atau gugatan yang didasarkan atas pada dalil-dalil
  tersebut (R. Subekti, 2005 : 51).
         Pengakuan terdakwa ialah pernyataan terdakwa bahwa ia
  melakukan tindak pidana dan menyatakan dialah yang bersalah. Dalam
  Pasal 189 dinyatakan : “Keterangan terdakwa adalah apa yang
  dinyatakan terdakwa di sidang tentang perbuatan yang dilakukannya
  atau yang diketahuinya sendiri atau dialaminya sendiri”.
         Jadi keterangan terdakwa itu sebagai alat bukti harus dinyatakan
  di sidang. Sedangkan keterangan terdakwa yang diberikan di luar
  sidang, dapat dipergunakan untuk membantu menemukan bukti di
  sidang, asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah
  sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya.
         Dalam hubungannya dengan ini, Pasal 175 KUHAP menyatakan
  bahwa, “Jika terdakwa tidak mau menjawab atau menolak untuk
  menjawab, hakim ketua sidang memperingatkan supaya terdakwa
  menjawabnya. Dalam hal ini hakim ketua sidang tidak dapat memaksa
  terdakwa yang tetap tidak mau menjawab pertanyaan tidak ada sanksi
  pidananya” (Suryono Sutarto, 1985 : 28).
                                                                       71



3. Tinjauan Umum Tentang Penuntutan
  a. Pengertian Penuntutan
           Menurut Pasal 1 butir 7 KUHAP yang dimaksud dengan
    penuntutan adalah: “Tindakan penuntut umum untuk melimpahkan
    perkara pidana ke Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal dan
    menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini dengan permintaan
    supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan”.

    Dengan demikian tindakan penuntutan meliputi:
    1) Tindakan Penuntut Umum untuk melimpahkan perkara pidana ke
       Pengadilan Negeri yang berwenang menurut cara yang diatur dalam
       KUHAP.
    2) Supaya perkara pidana diperiksa oleh hakim sidang pengadilan.
    3) Supaya perkara diputus oleh hakim di sidang pengadilan.
           Tugas penuntutan dimulai sejak penuntut umum menerima
    pelimpahan perkara, tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti
    dari penyidik sampai perkara tersebut memperoleh putusan hakim yang
    sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. Jadi menurut Pasal 1 butir 7
    jo Pasal 13 KUHAP penuntutan adalah tindakan penuntut umum
    mengenai:
    1) Membuat surat dakwaan dan surat pelimpahan perkara serta
       melimpahkannya ke pengadilan segera mengadilinya di sidang
       pengadilan.
    2) Mengajukan perlawanan jika ketua Pengadilan Negeri menyatakan
       tidak berwenang mengadili.
    3) Menghadapkan terdakwa dan saksi-saksi serta barang bukti ke
       sidang Pengadilan.
    4) Membacakan surat dakwaan dan membuktikan dakwaan.
    5) Mengajukan dan mempertahankan tuntutan hukumnya (termasuk
       menggunakan upaya hukum banding, atau kasasi atau yang lain)
                                                                           72



     supaya perkara tersebut mempunyai putusan yang berkekuatan
     hukum tetap.
b. Pengertian Jaksa Penuntut Umum
         Menurut Pasal 13 KUHAP dinyatakan bahwa penuntut umum
  adalah jaksa yang diberi wewenang oleh Undang-undang untuk
  melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim. Penuntut
  umum dalam melakukan penuntutan adalah menuntut perkara tindak
  pidana yang terjadi dalam daerah hukumnya menurut Undang-undang.
         Kejaksaan adalah satu-satunya lembaga pemerintah pelaksana
  kekuasaan negara yang mempunyai tugas dan wewenang di bidang
  penuntutan dalam penegakan hukum dan keadilan di lingkungan
  peradilan umum (Suryono Sutarto, 1998 : 86)
         Adapun yang dimaksud dengan “Kejaksaan adalah satu dan
  tidak terpisah-pisahkan” adalah satu landasan dalam pelaksanaan tugas
  dan wewenangnya di bidang penuntutan yang bertujuan memelihara
  kesatuan kebijakan di bidang penuntutan yang bertujuan memelihara
  kesatuan menyatu dalam tata pikir, tata laku, dan tata kerja kejaksaan.
  Oleh karena itu kegiatan penuntutan di pengadilan oleh kejaksaan tidak
  akan berhenti hanya karena jaksa yang semula bertugas berhalangan.
  Dalam hal demikian tugas penuntutan oleh kejaksaan akan tetap
  berlangsung sekalipun untuk itu dilakukan oleh jaksa lainnya sebagai
  pengganti (Suryono Sutarto, 1998 : 86)
         Menurut Pasal 14 KUHAP, penuntut umum mempunyai
  wewenang sebagai berikut :
  1) Menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan dari penyidik
     atau penyidik pembantu.
  2) Mengadakan      prapenuntutan    apabila     ada      kekurangan    pada
     penyidikan dengan memperhatikan ketentuan Pasal 110 ayat (3) dan
     ayat   (4),    dengan     memberikan       petunjuk     dalam      rangka
     penyempurnaan penyidikan dari penyidik;
                                                                 73



3) Memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau
   penahanan lanjutan dan atau mengubah status tahanan setelah
   perkaranya dilimpahkan oleh penyidik;
4) Membuat surat dakwaan;
5) Melimpahkan perkara ke pengadilan;
6) Menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa tentang ketentuan
   dan waktu perkara disidangkan yang disertai surat panggilan baik
   kepada terdakwa maupun kepada saksi, untuk datang pada sidang
   yang telah ditentukan;
7) Melakukan penuntutan;
8) Menutup perkara demi kepentingan hukum;
9) Mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab
   sebagai penuntut umum menurut undang-undang.
10) Melaksanakan penetapan hakim.
      Di dalam penjelasan Pasal 14 huruf i dinyatakan bahwa yang
dimaksud dengan “tindakan lain” ialah antara lain meneliti identitas
tersangka, barang bukti dengan memperhatikan secara tegas batas
wewenang dan fungsi antara penyidik, penuntut umum, dan pengadilan.
      Penuntut Umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh
Undang-undang untuk melakukan tugas yaitu:
1) Mewakili negara yang memperkarakan mereka yang didakwa
   melakukan tindakan pidana.
2) Menyeleksi dan menyempurnakan berkas-berkas perkara pidana
   pada pemeriksaan pendahuluan.
3) Mengadakan penuntutan sekaligus melaksanakan penetapan hakim
   atau mengadakan penghentian penuntutan atau menutup perkara
   demi hukum.
4) Terhadap perkara tindak pidana khusus seperti tindak pidana
   korupsi, subversi, ekonomi, seluruh pemeriksaan pendahuluan
   dilakukan oleh Jaksa/Penuntut Umum.
                                                                 74



      Penjelasan umum Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004
tentang Kejaksaan Republik Indonesia dijelaskan bahwa disamping
memantapkan kedudukan, organisasi jabatan, tugas, dan wewenang
kejaksaan, undang-undang tersebut menetapkan:
1) Kewenangan Kejaksaan untuk melengkapi berkas perkara tententu
   dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum
   perkara dilimpahkan ke pengadilan dengan pembatasan-pembatasan
   tertentu. Pemeriksaan tambahan dilakukan untuk memperoleh
   kepastian penyelesaian perkara dalam rangka melaksanakan asas
   peradilan cepat, sederhana dan biaya ringan serta menjamin
   kepastian hukum, hak-hak asasi pencari keadilan.
2) Di bidang perdata dan tata usaha negara kebijaksanaan dengan
   kuasa khusus dapat bertindak untuk dan atas nama negara atau
   pemerintah di dalam atau di luar pengadilan. Sebagai negara hukum
   yang menyelenggarakan kesejahteraan masyarakat akan banyak
   ditemukan keterlibatan dan kepentingan hukum dari negara atau
   pemerintah di bidang perdata atau tata usaha negara, baik dalam
   kedudukannya sebagai tergugat atau sebagai pihak yang mempunyai
   kepentingan hukum di luar pengadilan yang dapat diwakilkan
   kepada Kejaksaan.
3) Di bidang ketertiban dan ketentraman umum kejaksaan turut
   menyelenggarakan kegiatan seperti upaya meningkatkan kesadaran
   hukum masyarakat dilakukan antara lain dengan penyuluhan dan
   penerangan hukum, sedangkan pengamanan kebijakan penegakan
   hukum dapat dilakukan dengan tindakan preventif dan represif
   melalui dukungan intelejen yustisial kejaksaan.
4) Kejaksaan dapat diserahi tugas dan wewenang lain berdasarkan
   Undang-undang.
                                                                     75



         Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Jaksa akan
  bertindak sebagai penuntut umum apabila ia bertindak dalam rangka
  penyelesaian perkara di sidang pengadilan yaitu melakukan penuntutan
  dalam perkara pidana dan melaksanakan penetapan hakim.
         Penetapan hakim berbeda dengan putusan hakim. Putusan hakim
  adalah sikap hakim atau tindakan hakim yang diambil setelah
  mengadakan dan berdasarkan pemeriksaan guna mengakhiri suatu
  perkara. Putusan hakim tersebut merupakan putusan pengadilan.
  Adapun penetapan hakim adalah pernyataan tertulis untuk dan dalam
  rangka penyelesaian perkara pidana atau putusan hakim yang bukan
  putusan akhir untuk menyudahi suatu perkara, misalnya menetapkan
  penahanan, penetapan hari sidang, putusan sela dan lain-lain. (Suryono
  Sutarto. 1998 : 88)
c. Proses Penuntutan oleh Jaksa Penuntutan Umum
         Proses penuntutan dilakukan setelah proses penyidikan selesai
  dan berkas penyidikan diberikan kepada kejaksaan. Adapun proses
  penuntutan sebagaimana di sebutkan dalam Pasal 138 KUHAP sebagai
  berikut :
  1) Penuntut umum setelah menerima hasil penyidikan dari penyidik
     segera mempelajari dan menelitinya dan dalam waktu tujuh hari
     wajib memberitahukan kepada penyidik apakah hasil penyidikan itu
     sudah lengkap atau belum.
  2) Dalam hal hasil penyidikan ternyata belum lengkap, penuntut umum
     mengembalikan berkas perkara kepada penyidik disertai petunjuk
     tentang hal yang harus dilakukan untuk dilengkapi dan dalam waktu
     empat belas hari sejak tanggal penerimaan berkas, penyidik harus
     sudah menyampaikan kembali berkas perkara itu kepada penuntut
     umum.
         Berdasarkan pasal di atas maka dapat disimpulkan bahwa proses
  yang pertama kali dilakukan oleh penyidik dalam menangani
  penuntutan adalah proses prapenuntutan dimana penuntut umum
                                                                    76



memberikan petunjuk kepada penyidik dalam rangka penyempurnaan
penyidikan.
       Pada   proses     prapenuntutan   ini   kejaksaan   mengalami
perkembangan setelah disempurnakan perundangan tentang Kejaksaan
yaitu dengan UU Nomor 16 Tahun 2004 dimana Kejaksaan
mempunyuai wewenang untuk melengkapi berkas perkara tertentu dan
untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum perkara
dilimpahkan ke pengadilan, dengan pembatasan-pembatasan tertentu.
       Pemeriksaan tambahan perlu dilakukan untuk memperoleh
kepastian penyelesaian perkara dalam rangka pelaksanaan asas
peradilan cepat, sederhana dan biaya ringan serta menjamin kepastian
hukum, hak-hak asasi pencari keadilan (justisiabel), baik tersangka,
terdakwa, saksi korban maupun kepentingan umum (Suryono Sutarto,
1998 : 88)
       Untuk melengkapi berkas perkara, pemeriksaan tambahan
dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Tidak dilakukan terhadap tersangka;
2) Hanya terhadap perkara-perkara yang sulit pembuktiannya, dan atau
   dapat meresahkan masyarakat, dan atau yang dapat membahayakan
   keselamatan negara;
3) Harus dapat diselesaikan dalam waktu 14 hari setelah dilaksanakan
   ketentuan Pasal 110 dan Pasal 138 ayat (2) KUHAP;
4) Prinsip koordinasi dan kerjasama dengan penyidik.
       Proses selanjutnya adalah pembuatan surat dakwaan. Menurut
Pasal 140 KUHAP, apabila penuntut umum berpendapat bahwa hasil
penyidikan dari penyidik dapat dilakukan penuntutan, maka ia dalam
waktu secepatnya membuat surat dakwaan.
       Yang dimaksud dengan surat dakwaan adalah suatu surat atau
akte yang memuat perumusan dari tindak pidana yang didakwakan yang
sementara dapat disimpulkan dari hasil penyidikan dari penyidik yang
merupakan dasar bagi hakim untuk melakukan pemeriksaan di sidang
                                                                    77



pengadilan (Suryono Sutarto, 1998 : 90). Surat dakwaan ini sangat
penting dalam pemeriksaan perkara pidana, sebab surat inilah yang
merupakan dasar dan menentukan batas-batas bagi pemeriksaan hakim.
       Adapun tujuan surat dakwaan adalah bahwa undang-undang
ingin melihat ditatapkannya alasan-alasan yang menjadi dasar
penuntutan sesuatu peristiwa pidana, untuk itu sifat-sifat khusus dari
suatu tindak pidana yang telah dilakukan itu harus dicantumkan dengan
sebaik-baiknya.
       Terdakwa harus dipersalahkan karena telah melanggar sesuatu
peraturan hukum pidana, pada suatu saat dan tempat tertentu, serta
dinyatakan pula keadaan-keadaan sewaktu melakukannya. Menyebut
waktu, tempat dan keadaan, menunjukkan pada kita bahwa dakwaan itu
tertuju pada perbuatan-perbuatan atau peristiwa-peristiwa tertentu yang
dispesialisasikan dan diindividualisir, jadi misalnya bukanlah tindak
pidana yang umum tetapi tindak pidana yang konkrit.
       Bagi terdakwa surat dakwaan mempunyai kepentingan bahwa
terdakwa mengetahui setepat-tepatnya dan seteliti-telitinya apa yang
didakwakan kepadanya sehingga ia sampai pada hal yang sekecil-
kecilnya untuk dapat mempersiapkan pembelaannya terhadap dakwaan
tersebut (Suryono Sutarto, 1998 : 90). Setelah surat dakwaan
dilimpahkan ke pengadilan, maka dilakukan proses persidangan. Pada
umumnya tiap-tiap perkara diajukan sendiri dalam sidang peradilan.
Akan tetapi apabila pada waktu yang sama atau hampir bersamaan
penuntut umum menerima berkas perkara dari penyidik ia dapat
melakukan penggabungan perkara dan membuatnya dalam satu surat
dakwaan.
       Menurut     Pasal    141    KUHAP        kemungkinan      untuk
menggabungkan perkara ini dalam hal :
1) Beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh seorang yang sama dan
   kepentingan pemeriksaan tidak menjadikan halangan terhadap
   penggabungannya.
                                                                       78



2) Beberapa tindak pidana yang bersangkut paut satu dengan yang
    lain;
3) Beberapa tindak pidana yang tidak bersangkut paut satu dengan
    yang lain, akan tetapi yang satu dengan yang lain itu ada
    hubungannya, yang dalam hal ini penggabungan tersebut perlu bagi
    kepentingan pemeriksaan.
Jadi gagasan-gagasan untuk menggabungkan perkara ini bahwa
penggabungan itu dipandang lebih baik bagi pemeriksaan perkara itu
sendiri.
        Dalam melakukan penuntutan terdapat tiga cara sesuai dengan
jenis perkara di pengadilan cara itu adalah sebagai berikut :
1) Perkara cepat
    a) Perkara cepat tindak pidana ringan
           Menurut Pasal 205 KUHAP, yang diperiksa menurut acara
           pemeriksaan tindak pidana ringan adalah perkara yang diancam
           dengan pidana penjara atau kurungan paling lama tiga bulan dan
           atau denda sebanyak-banyaknya tujuh ribu lima ratus rupiah dan
           penghinaan ringan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 315
           KUHP. Acara pemeriksaannya disebut acara pemeriksaan
           ringan.
    b) Perkara cepat lalu lintas
           Yang mengajukan perkara atau menuntut adalah penyidik atas
           kuasa penuntut umum. Dalam Pasal 211 KUHAP, yang
           diperiksa dengan cara cepat ini adalah perkara pelanggaran lalu
           lintas tertentu.
           Untuk perkara pelanggaran lalu lintas jalan tidak diperlukan
           berita acara pemeriksaan.
2) Perkara singkat
    Yang diperiksa menurut acara pemeriksaan singkat adalah perkara
    pidana yang menurut penuntut umum pembuktiannya mudah,
    penerapan hukumnya mudah dan sifatnya sederhana (Pasal 203
    KUHAP).
                                                                  79



   Pada permulaan sidang, hakim menanyakan kepada terdakwa
   mengenai identitas serta mengingatkan segala sesuatu yang
   didengar dan dilihatnya di sidang dan setelah terdakwa menjawab
   segala pertanyaan, penuntut umum segera memberitahukan dengan
   lisan dari catatannya tentang tindak pidana yang didakwakan kepada
   terdakwa dengan menerangkan waktu, tempat, dan keadaan pada
   waktu tindak pidana itu dilakukan. Pemberitahuan secara lisan ini
   dicatat dalam berita acara sidang dan merupakan pengganti surat
   dakwaan. Dalam hal hakim memandang perlu adanya pemeriksaan
   tambahan, supaya diadakan pemeriksaan tambahan dalam waktu
   paling lama empat belas hari dan bilamana dalam waktu tersebut
   penuntut umum belum juga dapat menyelesaikannya, maka hakim
   memerintahkan perkara ini diajukan ke sidang pengadilan dengan
   acara biasa.
3) Perkara biasa
   Perkara biasa adalah perkara yang sulit pembuktiannya, demikian
   pula penerapan hukumnya dan merupakan perkara besar diajukan
   oleh penuntut umum dengan surat pelimpahan perkara (akte van
   averhijzing) Pasal 143 KUHAP.
   Pada waktu Penuntut       Umum melimpahkan perkaranya ke
   Pengadilan Negeri maka turunan surat pelimpahan perkara beserta
   surat dakwaan disampaikan kepada terdakwa atau kuasanya atau
   penasihat hukumnya dan penyidik. (Suryono Sutarto, 1998 : 110).
      Hasil akhir dari proses penuntutan adalah diputuskannya
putusan pidana oleh hakim. Putusan pidana dapat diartikan sebagai
putusan pengadilan yang merupakan hasil akhir dari proses peradilan.
Peradilan menunjuk kepada proses mengadili, sedang pengadilan
merupakan salah satu lembaga dalam proses tersebut. Lembaga-
lembaga lain yang terlibat dalam proses mengadili adalah kepolisian,
kejaksaan dan advokat.
                                                                     80



       Menurut pendapat Satjipto Raharjo (2000 : 182), mengatakan
bahwa: “Hasil akhir dari proses peradilan tersebut berupa putusan
pengadilan, atau sering juga digunakan kata putusan hakim, oleh karena
hakimlah yang memimpin sidang di pengadilan itu”.
       Putusan hukum terhadap pelaku tindak pidana dapat pula
diartikan sebagai pemidanaan. Pemidanaan berasal dari kata pidana
yang sering diartikan sama dengan istilah yang berasal dari Belanda
yaitu “straf”. Menurut Andi Hamzah :
       “Hukuman adalah suatu pengertian umum sebagai suatu sanksi
       yang menderitakan/nestafa yang sengaja ditimpakan kepada
       seseorang. Sedangkan pidana merupakan suatu pengertian
       khusus yang berkaitan dengan hukum pidana”
       (Andi Hamzah, 1996 : 1)


       Menurut Muladi dan Barda Nawawi (1992 : 1), hukuman dapat
pula diartikan sebagai pemidanaan. Adapun pendapatnya adalah:

     “Pemidanaan yaitu serangkaian dasar hukum dan pertimbangan
      yang dijadikan landasan untuk memutuskan perlu tidaknya
      penjatuhan atau pengenaan pidana atau sanksi ataupun
      pemberian tindakan sebagai konsekuensi dari tindak pidana
      yang dilakukan”


       Berjalannya proses peradilan tersebut berhubungan erat dengan
substansi yang diadili, yaitu berupa perkara perdata ataukah pidana.
Keterlibatan lembaga-lembaga dalam proses peradilan secara penuh
hanya terjadi pada saat mengadili perkara pidana.
       Bagi ilmu hukum, maka bagian terpenting dalam proses
mengadili terjadi pada saat hakim memeriksa dan mengadili suatu
perkara. Pada dasarnya yang dilakukan oleh hakim adalah memeriksa
kenyataan yang terjadi, serta menghukuminya dengan peraturan yang
berlaku. Pada waktu diputuskan tentang bagaimana atau hukum apa
yang berlaku untuk suatu kasus pidana, maka pada waktu itulah
penegakan    hukum     mencapai    puncaknya.       Putusan   pengadilan
                                                                   81



merupakan hasil akhir dari suatu jalannya persidangan terhadap suatu
kasus tindak pidana. Adapun putusan pengadilan diambil oleh hakim
pengadilan negeri, dimana tempat sidang perkara tindak pidana
berlangsung.
       Andi Hamzah (1996 : 183), merumuskan bahwa, setiap
keputusan hakim merupakan salah satu dari tiga kemungkinan:
1) Pemidanaan atau penjatuhan pidana dan atau tata tertib.
2) Putusan bebas
3) Putusan lepas dari segala tuntutan.
       Suatu proses peradilan berakhir dengan putusan akhir (vonnis).
Dalam putusan itu hakim menyatakan pendapatnya tentang apa yang
telah dipertimbangkan dan putusannya.
       Dalam Pasal 197 ayat (1) KUHAP diatur formalitas yang harus
dipenuhi suatu putusan hakim, dan menurut ayat (2) Pasal itu kalau
ketentuan tersebut tidak dipenuhi, kecuali yang tersebut pada huruf g
putusan batal demi hukum.
Ketentuan tersebut adalah :
1) Kepala putusan berbumyi: DEMI KEADILAN BERDASARKAN
   KETUHANAN YANG MAHA ESA;
2) Nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin,
   kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan terdakwa;
3) Dakwaan, sebagaimana terdapat dalam surat dakwaan;
4) Pertimbangan yang disusun secara ringkas mengenai fakta dan
   keadaan beserta alat pembuktian yang diperolej dari pemeriksaan di
   sidang yang menjadi dasar penentuan kesalahan terdakwa;
5) Tuntutan pidana, sebagaimana terdapat dalam surat tuntutan;
6) Pasal   peraturan    perundang-undangan    yang    menjadi    dasar
   pemidanaan atau tindakan dan Pasal peraturan perundang-undangan
   yang menjadi dasar hukum dari putusan, disertai keadaan yang
   memberatkan dan meringankan terdakwa;
                                                                      82



    7) Hari dan tanggal diadakan musyawarah Majelis Hakim kecuali
        perkara diperiksa oleh hakim Tunggal;
    8) Pernyataan kesalahan terdakwa, pernyataan telah terpenuhi semua
        unsur dalam rumusan delik, disertai dengan kualifikasinya dan
        pemidanaan atau tindakan yang dijatuhkan;
    9) Ketentuan kepada siapa biaya perkara dibebankan dengan
        menyebutkan jumlahnya yang pasti dan ketentuan mengenai barang
        bukti;
    10) Keterangan bahwa seluruh surat ternyata palsu atau keterangan
        dimana letaknya kepalsuannya itu. Jika terdapat surat otentik
        dianggap palsu;
    11) Perintah supaya terdakwa ditahan atau tetap dalam tahanan atau
        dibebaskan;
    12) Hari dan tanggal putusan, nama penuntut umum, nama hakim yang
        memutus, dan nama panitera.
           Kemudian dalam Pasal 200 KUHAP dikatakan bahwa surat
    keputusan ditandatangani oleh hakim dan panitera seketika setelah
    putusan itu diucapkan.
           Pada Pasal 197 ayat (1) huruf d tersebut, yang mengatakan
    bahwa yang dimaksud dengan “fakta dan keadaan” di sini ialah segala
    apa yang ada dan apa yang diketemukan di sidang oleh pihak dalam
    proses, antara lain penuntut umum, saksi, ahli, terdakwa, penasehat
    hukum, dan saksi korban.


4. Tinjauan Umum Tindak Pidana Pembunuhan Berencana
  a. Pengertian Tindak Pidana
           Istilah tindak pidana merupakan terjemahan dari bahasa Belanda
    dari kata “Straafbaar Feit”. Pembentuk undang-undang dalam
    merumuskan perbuatan yang dilarang mempergunakan beberapa istilah,
    yaitu: perbuatan pidana, tindak pidana, dan peristiwa pidana.
                                                                     83



         Semuanya     itu    dimaksudkan    untuk   menerjemahkan   kata
  “Straafbaar Feit” tadi. Tindak pidana adalah suatu perbuatan yang
  pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana dan pelakunya dapat
  dikatakan sebagai subyek pidana (Wirjono Prodjodikoro, 1986 : 55).
  Menurut pendapat Simon mengatakan bahwa, “Straafbaar Feit yaitu
  kelakuan yang diancam dengan pidana yang bersifat melawan hukum
  yang berhubungan dengan kesalahan dan yang dilakukan oleh orang-
  orang yang mampu bertanggung jawab”. (Simon dalam Wirjono
  Prodjodikoro, 1986 : 56)
         Menurut Van Hamel mengatakan bahwa “Straafbaar Feit yaitu
  kelakuan orang yang dirumuskan dalam wet yang bersifat melawan
  hukum yang patut dipidana dan dilakukan dengan kesalahan (Van
  Hamel dalam Wirjono Prodjodikoro, 1986 : 56).
         Sedangkan menurut Moeljatno berpendapat bahwa yang
  dimaksud perbuatan pidana yaitu perbuatan yang dilarang oleh suatu
  aturan hukum, larangan mana disertai ancaman atau sanksi yang berupa
  pidana tertentu bagi siapa yang melanggar            larangan tersebut
  (Moeljatno, 2000 : 54).
         Perbuatan-perbuatan pidana itu bersifat merugikan masyarakat,
  jadi dapat dikatakan sebagai anti sosial, maka perbuatan itu dilarang
  keras atau pantang dilakukan. Dengan demikian, konsepsi perbuatan
  pidana seperti yang dimaksud di atas dapat disamakan dengan konsepsi
  perbuatan pantang atau pamali yang telah lama dikenal dalam
  masyarakat Indonesia sejak dahulu kala.


b. Pengertian Tindak Pidana Pembunuhan
         Menurut Agus Sulistyo dan Adi Mulyono, “Membunuh berasal
  dari kata bunuh yang berarti menghilangkan nyawa, mematikan”.
  (Agus Sulistyo dan Adi Mulyono, 2000 : 86)
         Sedangkan menurut Imam Malik membagi pembunuhan
  menjadi dua, yaitu: pembunuhan sengaja dan pembunuhan kesalahan.
                                                                    84



Pembunuhan sengaja       adalah suatu perbuatan dengan          maksud
menganiaya dan mengakibatkan hilangnya nyawa atau jiwa orang yang
dianiaya, baik penganiayaan itu dimaksudkan untuk membunuh ataupun
tidak dimaksudkan membunuh. Sedangkan pembunuhan kesalahan
adalah suatu perbuatan yang mengakibatkan kematian yang tidak
disertai niat penganiayaan. (Imam Malik, 2000 : 54)
       Pembunuhan dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
1) Pembunuhan sengaja yaitu suatu perbuatan penganiayaan terhadap
   seseorang dengan maksud untuk menghilangkan nyawanya.
2) Pembunuhan semi sengaja yaitu suatu perbuatan penganiayaan
   terhadap seseorang tidak dengan maksud untuk membunuhnya
   tetapi mengakibatkan kematian.
3) Pembunuhan karena kesalahan, yang diakibatkan karena 3
   kemungkinan yaitu :
   a) Bila si pelaku pembunuhan sengaja melakukan suatu perbuatan
       dengan tidak bermaksud melakukan suatu kejehatan tetapi
       mengakibatkan kematian seseorang. Kesalahan seperti ini
       disebut kesalahan dalam perbuatan (error in concrito).
   b) Bila pelaku sengaja melakukanperbuatan dan mempunyai niat
       membunuh seseorang yang dalam persangkaannya boleh
       dibunuh, namun ternyata orang tersebut tidak boleh dibunuh,
       misalnya     sengaja   menembak    seseorang    musuh     dalam
       peperangan tetapi ternyata kawan sendiri. Kesalahan seperti ini
       disebut kesalahan dalam maksud (error in objecto).
   c) Bila si pelaku bermaksud melakukan kejahatan tetapi akibat
       kelalaiannya dapat menimbulkan kematian, seperti seseorang
       terjatuh dan menimpa bayi yang berada di bawahnya hingga
       mati.
       Menurut KUHP tindak pidana pembunuhan diklasifikasikan
sebagai berikut :
1) Pembunuhan Biasa (Doodslag)
                                                                  85



       Pembunuhan biasa yaitu pembunuhan yang dilakukan oleh
seseorang dengan maksud supaya korban mati atau dengan kata lain
yaitu merampas nyawa orang lain. Apabila tidak ada unsur
kesengajaan, dalam arti tidak ada niat atau maksud untuk mematikan
orang itu, tetapi apabila orang itu mati juga maka perbuatan tersebut
tidak dapat diklasifikasikan dalam pembunuhan ini. Bila terhadap
orang yang justru harus dilindungi seperti : ibu, bapak dan
keluarganya maka pidananya lebih berat.
       Dengan menyebutkan unsur tingkah laku sebagai “merampas
nyawa orang lain”, menunjukkan bahwa kejahatan pembunuhan
adalah suatu tindak pidana materiil. Tindak pidana materiil adalah
suatu tindak pidana yang malarang menimbulkan suatu akibat
tertentu, akibat yang dilarang atau akibat konstitutif (constitutief
gevolg).
       Pembunuhan biasa (doodslag) dapat dikenakan hukuman
penjara, seperti pada KUHP sebagai berikut :
Pasal 338
Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain,
dihukum, karena makar mati, dengan hukuman penjara selama-
lamanya lima belas tahun.

    Pada Pasal 338 KUHP di atas disebut dengan pembunuhan
biasa, dimana pembunuhan ini dilakukan apabila pelaku memenuhi 3
unsur yaitu barang siapa, dengan sengaja, dan menghilangkan jiwa
orang lain. Pelaku tindak pembunuhan ini dituntut dengan hukuman
penjara selama-lamanya lima belas tahun.
Pasal 339
Makar mati diikuti, disertai atau didahului dengan perbuatan yang
dapat dihukum dan yang dilakukan dengan maksud untuk
menyiapkan atau memudahkan perbuatan itu atau jika tertangkap
tangan akan melindungi dirinya atau kawan-kawannya dari pada
hukuman atau akan mempertahankan barang yang didapatnya
dengan melawan hak, dihukum penjara seumur hidup atau penjara
sementara selama-lamanya dua puluh tahun.
                                                                   86




  Pasal 340
  Barang siapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu
  menghilangkan jiwa orang lain, dihukum, karena pembunuhan
  direncanakan (moord), dengan hukuman mati atau penjara seumur
  hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.

            Pada Pasal 339 dan 340 KUHP di atas disebut dengan
  pembunuhan berencana, dimana pembunuhan ini dilakukan apabila
  pelaku memenuhi 4 unsur yaitu barang siapa, dengan sengaja,
  direncanakan, dan menghilangkan jiwa orang lain. pelaku tindak
  pembunuhan ini dituntut dengan hukuman penjara selama-lamanya
  lima belas tahun.
2) Pembunuhan Anak (Kinder doo)
            Bentuk pembunuhan oleh ibu kepada bayinya pada saat dan
  tidak lama setelah dilahirkan, yang dalam praktek hukum sering
  disebut     dengan sebutan pembunuhan bayi.        Kategori dalam
  pembunuhan ini adalah pembunuhan oleh ibunya sendiri kepada
  seorang anak pada waktu atau tidak lama setelah dilahirkan dan
  didorong oleh ketakutan si ibu akan diketahui bahwa ia telah
  melahirkan anak.
            Pembunuhan terhadap anak dapat dikenakan hukuman
  penjara, seperti pada KUHP sebagai berikut :
  Pasal 341
  Seorang ibu yang dengan sengaja menghilangkan jiwa anaknya pada
  ketika dilahirkan atau, tidak berapa lama sesudah dilahirkan, karena
  takut ketahuan bahwa ia sudah melahirkan anak dihukum, karena
  makar mati terhadap anak (kinderdoodslag), dengan hukuman
  penjara selama-lamanya tujuh tahun.

  Pasal 342
  Seorang ibu yang dengan sengaja akan menjalankan keputusan yang
  diambilnya sebab takut ketahuan bahwa ia tidak lama lagi akan
  melahirkan anak, menghilangkan jiwa anaknya itu pada ketika
  dilahirkan atau tidak lama kemudian dari pada itu, dihukum karena
                                                                 87



  pembunuhan anak (kinderdoodslag), yang direncanakan dengan
  hukuman penjara selama-lamanya sembilan tahun.

  Pasal 343
  Bagi orang lain yang turut campur dalam kejahatan yang diterangkan
  dalam Pasal 341 dan Pasal 342 dianggap kejahatan itu sebagai makar
  mati atau pembunuhan.

3) Pembunuhan atas Permintaan Si Korban
  Pembunuhan atas permintaan si korban atas dirinya sendiri ini
  dikenal dengan euthanasia (mercy killing) yang dengan dipidananya
  si pembunuh walaupun si pemilik sendiri yang memintanya.
  Pembunuhan atas permintaan si korban dapat dikenakan hukuman
  penjara, seperti pada KUHP sebagai berikut :
  Pasal 344
  Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang
  itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan dengan sungguh-
  sungguh, dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.

4) Pembunuhan terhadap Diri Sendiri
         Perbuatan mendorong pembunuhan terhadap dirinya sendiri
  adalah perbuatan dengan cara dan bentuk apapun terhadap orang lain
  yang sifatnya mempengaruhi agar pada orang terbentuk kehendak
  tertentu yang diinginkan olehnya. Masalah bunuh diri sendiri tidak
  diancam pidana, tetapi orang yang sengaja menghasut, mendorong,
  membantu, memberi saran kepada orang lain untuk bunuh diri dapat
  dikenakan pidana asal orang yang dihasutnya mati.
         Pembunuhan terhadap diri sendiri karena hasutan atau
  dorongan orang lain, maka orang lain tersebut dikenakan hukuman
  penjara, seperti pada KUHP sebagai berikut :
  Pasal 345
  Barang siapa dengan sengaja menghasut orang lain untuk
  membunhuh diri, menolongnya dalam perbuatan itu, atau
  memberikan daya upaya kepadanya untuk itu, maka jika orang itu
  jadi membunuh diri, dihukum penjara selama-lamanya empat bulan.
                                                                88



5) Menggugurkan Kandungan
         Menggugurkan kandungan yaitu seorang perempuan yang
  menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang
  lain menggugurkan atau mematikan kandungan tersebut.




  Pasal 346
  Perempuan yang dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati
  kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, dihukum penjara
  selama-lamanya empat tahun.

  Pasal 347
  (1) Barang siapa dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati
      kandungannya seorang perempuan tidak dengan izin perempuan
      itu dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun.
  (2) Jika karena perbuatan itu perempuan itu jadi mati dia dihukum
      penjara selama-lamanya lima belas tahun.

  Pasal 348
  (1) Barang siapa dengan sengaja menyebabkan gugur atau mati
      kandungannya seorang perempuan dengan izin perempuan itu,
      dihukum penjara selama-lamanya lima tahun enam bulan.
  (2) Jika karena perbuatan itu perempuan itu jadi mati dia dihukum
      penjara selama-lamanya tujuh tahun.

  Pasal 349
  Jika seorang tabib, dukun beranak atau tukang obat membantu dalam
  kejahatan yang disebut dalam Pasal 346, atau bersalah atau
  membantu dalam salah satu kejahatan yang diterangkan dalam Pasal
  347 dan Pasal 348, maka hukuman yang ditentukan dalam pasal itu
  dapat ditambah dengan sepertiganya dan dapat dipecat dari
  jabatannya yang digunakan untuk melakukan kejahatan itu.

         Dari semua jenis pembunuhan tersebut masih diberi pasal
  tambahan pada Pasal 350 KUHP sebagai berikut :
  Pasal 350
  Pada waktu menjatuhkan hukuman karena makar mati, (doodslag)
  pembunuhan itu direncanakan (moord) atau karena salah satu
                                                                      89



          kejahatan yang diterangkan dalam Pasal 344, 347 dan 348, dapat
          dijatuhkan hukuman mencabut hak yang tersebut dalam Pasal 35.
B. Kerangka Pemikiran
             Untuk mempermudah gambaran dari penelitian ini dapat dilihat
      dari kerangka pemikiran sebagai berikut :


                           TINDAK PIDANA
                       PEMBUNUHAN BERENCANA



                                  PENYIDIK
                                   POLRI



                                 KEJAKSAAN
                                   NEGERI




                                KELENGKAPAN
    PELAKSANAAN                BERKAS PERKARA          HAMBATAN-
     PEMBUKTIAN                 DAN ALAT-ALAT          HAMBATAN
                                    BUKTI



                              PUTUSAN HAKIM
                            PENGADILAN NEGERI


                                     Gambar I. 1
                                 Kerangka Pemikiran
                                                                      90



       Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut dapat dijelaskan, bahwa
adanya kasus pembunuhan berencana, maka pertama kali pihak yang
melakukan    penanganan    terhadap   tersangka    yaitu   Polri   dengan
penangkapan sampai pada penyidikan.
       Setelah berkas penyidikan selesai, maka berkas penyidikan
dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri, untuk diperiksa dan ditindaklanjuti.
Dalam persidangan di Pengadilan Negeri, Jaksa Penuntut Umum
melakukan penuntutan dengan dasar-dasar pembuktian diantaranya adalah
alat bukti. Di dalam proses pembuktian di persidangan Pengadilan Negeri,
terdapat hambatan-hambatan dalam pembuktian oleh Jaksa Penuntut
Umum misalnya kelengkapan alat bukti dan perlawanan dari pengacara
atau penasehat hukum terdakwa.
       Berdasarkan pembuktian yang diajukan oleh Jaksa Penuntut
Umum, hakim akan memberikan keputusan hukum yang mengikat dari
perkara pembunuhan yang dilakukan oleh terdakwa.
                                                                          91



                                   BAB III
                 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Pelaksanaan    Pembuktian    Perkara      Tindak   Pidana   Pembunuhan
  Berencana di Persidangan Oleh Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan
  Surakarta
  1. Deskripsi Kasus
            Berdasarkan Surat Penetapan Hakim Pengadilan Negeri Surakarta
     No. 320/Pen.Pid/2005/PN.Ska tanggal 06 September 2005 dan Surat
     Pelimpahan Perkara Acara Pemeriksaan Biasa No. B.06/0.3.11/Fp.1/08/
     2005 tanggal 01 September 2005, diduga telah terjadi perbuatan pidana
     berupa pembunuhan berencana yang dilakukan oleh dua terdakwa.
            Adapun deskripsi kasus tindak pidana pembunuhan ini adalah :
     Terdakwa 1 RIFKI BAMBANG SULISTYO als. NYO NYO bersama-
     sama maupun bertindak sendiri-sendiri dengan terdakwa 2 CANDRA
     SUTRISNO als. LIEM BUN SAN als. BABAHE pada hari Kamis tanggal
     17 Maret 2005 sekira jam 01.30 WIB atau setidak-tidaknya pada waktu lain
     dalam bulan Maret 2005 atau masih dalam tahun 2005 bertempat di rumah
     korban Nyo Siok Hoo (Emak) yang terletak di Jalan Blewah Rt. 2/VII Kl.
     Karangasem Kec. Laweyan, Kota Surakarta telah melakukan, menyuruh
     melakukan, atau turut melakukan dengan sengaja dan dengan direncanakan
     lebih dahulu menghilangkan jiwa Nyo Siok Hoo (Emak).
            Perbuatan mereka terdakwa dilakukan dengan cara antara sebagai
     berikut :
     a. Terdakwa 1 Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo Nyo sakit hati terhadap
        korban Nyo Siok Hoo (Emak) karena dilarang pacaran dengan Shinta
        Dewi, karena orang Jawa.
     b. Selanjutnya ketika berada di kuburan Sangkrah 1 Rifki Bambang
        Sulistyo als. Nyo Nyo mengutarakan niatnya menghabisi nyawa korban
        Nyo Siok Hoo (Emak) kepada terdakwa 2 Candra Sutrisno als. Liem
        Bun San als. Babahe, Agus, Kenther, Ari.
                                                                        92



c. Pada hari Rabu tanggal 16 Maret 2005 sekira jam 23.00 WIB terdakwa 1
   Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo Nyo bersama dengan terdakwa 2
   Candra Sutrisno als. Liem Bun San als. Babahe naik motor Mega Pro ke
   rumah korban, yang sebelumnya membeli 2 (dua) pasang sarung tangan
   di Apotik, setelah berada di dekat rumah korban, lalu terdakwa 2 Candra
   Sutrisno als. Liem Bun San als. Babahe mengetuk jendela, sedangkan
   terdakwa 1 Rifki Bambang Sulistyo menunggu di motor.
d. Terdakwa 2 Candra Sutrisno als. Liem Bun San als. Babahe masuk ke
   dalam rumah dengan berpura-pura akan mengambil baju milik terdakwa
   1, tidak lama kemudian terdakwa 1 Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo
   Nyo masuk ke dalam rumah tanpa diketahui korban bersembunyi di
   kamar tidur. Terdakwa 2 memikul korban dengan potongan besi
   mengenai tengkuk belakang sebanyak satu kali, saat itu korban teriak,
   kemudian terdakwa 1 menyekap mulut korban dibantu terdakwa 2
   supaya korban tidak meronta-ronta atau teriak-teriak, lantas korban
   dibawa masuk kamar posisi terlentang di lantai, selanjutnya terdakwa 1
   memukul dengan tangan kosong sebanyak dua kali atau setidak-tidaknya
   lebih dari satu kali mengenai leher atau bagian tubuh korban lainnya.
   Adapun terdakwa 2 menjerat leher dengan kain sarung guling.
e. Setelah korban tidak berdaya, lantas mereka terdakwa 1 dan terdakwa 2
   mengambil barang-barang milik korban berupa: 4 gelang emas, 2 kalung
   emas, cincin emas ukir, 2 cincin emas tidak ada batu akik, 2 cincin emas
   biasa, 2 cincin emas berlian, 3 emas batangan ukuran kecil, 1 bandul
   kalung emas bertuliskan huruf Cina, 1 bandul/liontin bukan bergambar
   Dewi Kwan Im, sepasang giwang emas, 2 batu akik warna biru dan
   hijau, 1 penjepit rambut emas, barang-barang tersebut oleh mereka
   terdakwa djual untuk dinikmati.
f. Akibat perbuatan mereka terdakwa, korban Nyo Siok Hoo (Emak)
   meninggal dunia sebagaimana visum et Repertum No. 14/MF/III/2005
   yang ditandatangani Dr. Pudjo Pramono, Sp.F dari Fakultas Kedokteran
   Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan kesimpulan bahwa korban
   meninggal karena patahnya tulang leher.
                                                                          93



2. Identitas Terdakwa
  Dalam kasus pembunuhan berencana ini dilakukan oleh dua terdakwa yaitu :
  a. Nama Lengkap       : RIFKI BAMBANG SULISTYO als. NYO NYO
     Tempat Lahir       : Surakarta
     Umur/Tgl. Lahir    : 24 Tahun / 10 Juni 1981
     Jenis Kelamin      : Laki-laki
     Kebangsaan         : Indonesia
     Tempat Tinggal     : Bulak Indah Jl. Blewah Rt. 2/VII Kl. Karangasem
                           Kec. Laweyan, Surakarta.
     Agama              : Kristen
     Pekerjaan          : Belum bekerja
     Pendidikan         : D-1
  b. Nama Lengkap       : CANDRA SUTRISNO als. LIEM BUN SAN als.
                           BABAHE
     Tempat Lahir       : Karanganyar
     Umur/Tgl. Lahir    : 24 Tahun / 30 April 1981
     Jenis Kelamin      : Laki-laki
     Kebangsaan         : Indonesia
     Tempat Tinggal     : Kp. Bonorejo Rt. 1/16 Kl. Nusukan.
                           Kec. Banjarsari, Surakarta.
     Agama              : Islam
     Pekerjaan          : Swasta
     Pendidikan         : SMP

3. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum
            Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Surakarta di persidangan
   mendakwa terdakwa dengan dakwaan sebagai berikut :
   Kesatu
   Perbuatan mereka terdakwa 1 dan terdakwa 2 sebagaimana diatur dan
   diancam pidana dalam pasal 340 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
   Kedua
   Perbuatan mereka terdakwa 1 dan terdakwa 2 sebagaimana diatur dan
   diancam pidana dalam pasal 365 ayat (2) ke-1, ke-2 dan ayat (3) KUHP
                                                                    94



      Adapun para terdakwa didakwa dengan dakwaan kesatu melanggar
pasal 340 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP adalah :
Bahwa mereka terdakwa 1 RIFKI BAMBANG SULISTYO als. NYO NYO
bersama-sama maupun bertindak sendiri-sendiri dengan terdakwa 2
CANDRA SUTRISNO als. LIEM BUN SAN als. BABAHE pada hari
Kamis tanggal 17 Maret 2005 sekira jam 01.30 WIB atau setidak-tidaknya
pada waktu lain dalam bulan Maret 2005 atau masih dalam tahun 2005
bertempat di rumah korban Nyo Siok Hoo (Emak) yang terletak di Jalan
Blewah Rt. 2/VII Kl. Karangasem Kec. Laweyan, Kota Surakarta atau
setidak-tidaknya pada di suatu tempat yang masih termasuk dalam daerah
hukum Pengadilan Negeri Surakarta, telah melakukan, menyuruh
melakukan, atau turut melakukan dengan sengaja dan dengan direncanakan
lebih dahulu   menghilangkan jiwa Nyo Siok Hoo (Emak), perbuatan
mereka terdakwa dilakukan dengan cara antara sebagai berikut :
-   Berawal terdakwa 1 Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo Nyo sakit hati
    terhadap korban Nyo Siok Hoo (Emak) karena dilarang pacaran dengan
    Shinta Dewi, karena orang Jawa.
-   Selanjutnya ketika berada di kuburan Sangkrah 1 Rifki Bambang
    Sulistyo als. Nyo Nyo mengutarakan niatnya menghabisi nyawa korban
    Nyo Siok Hoo (Emak) kepada terdakwa 2 Candra Sutrisno als. Liem
    Bun San als. Babahe, Agus, Kenther, Ari.
-   Kemudian pada hari Rabu tanggal 16 Maret 2005 sekira jam 23.00 WIB
    terdakwa 1 Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo Nyo bersama dengan
    terdakwa 2 Candra Sutrisno als. Liem Bun San als. Babahe naik motor
    Mega Pro ke rumah korban, yang sebelumnya membeli 2 (dua) pasang
    sarung tangan di Apotik, setelah berada di dekat rumah korban, lalu
    terdakwa 2 Candra Sutrisno als. Liem Bun San als. Babahe mengetuk
    jendela, sedangkan terdakwa 1 Rifki Bambang Sulistyo menunggu di
    motor.
-   Setelah pintu rumah dibuka oleh korban, lalu terdakwa 2 Candra
    Sutrisno als. Liem Bun San als. Babahe masuk ke dalam rumah dengan
    berpura-pura akan mengambil baju milik terdakwa 1, tidak lama
                                                                        95



    kemudian terdakwa 1 Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo Nyo masuk ke
    dalam rumah tanpa diketahui korban bersembunyi di kamar tidur,
    adapun terdakwa 2 keluar tumah dengan membawa tas berisi pakaian
    dan ikan Louhan diikuti korban, ketika korban akan menutup pintu
    rumah, terdakwa 1 keluar dari kamar mengikuti korban, tapi korban
    tahu dan menanyakan kepada terdakwa 1 “Temanmu mengambil ikan
    dan pakaian kamu”, kemudian korban memanggil terdakwa 2 untuk
    masuk ke rumah lagi.
-   Terdakwa 2 lantas masuk ke rumah lagi, lalu terdakwa 1 berpura-pura
    melihat isi tas bersama korban, adapun ikan Louhan dimasukkan lagi
    dalam kolam, selanjutnya terdakwa 2 bertanya pada terdakwa 1
    “Nganggo opo le”, lalu dengan tenangnya terdakwa 1 mengambil
    potongan besi yang ada di halaman rumah korban diberikan kepada
    terdakwa 2 yang seharusnya masih ada waktu berpikir apakah terdakwa
    1 Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo Nyo dan terdakwa 2 Candra
    Sutrisno als. Babahe membatalkan niatnya untuk menghilangkan nyawa
    korban (emak), tapi justru ketika korban berjalan ke arah tempat tidur
    terdakwa 2 memikul korban dengan potongan besi mengenai tengkuk
    belakang sebanyak satu kali, saat itu korban teriak, kemudian terdakwa
    1 menyekap mulut korban dibantu terdakwa 2 supaya korban tidak
    meronta-ronta atau teriak-teriak, lantas korban dibawa masuk kamar
    posisi terlentang di lantai, selanjutnya terdakwa 1 memukul dengan
    tangan kosong sebanyak dua kali atau setidak-tidaknya lebih dari satu
    kali mengenai leher atau bagian tubuh korban lainnya. Adapun
    terdakwa 2 menjerat leher dengan kain sarung guling.
-   Setelah korban tidak berdaya, lantas mereka terdakwa 1 dan terdakwa 2
    mengambil barang-barang milik korban berupa: 4 gelang emas, 2
    kalung emas, cincin emas ukir, 2 cincin emas tidak ada batu akik, 2
    cincin emas biasa, 2 cincin emas berlian, 3 emas batangan ukuran kecil,
    1 bandul kalung emas bertuliskan huruf Cina, 1 bandul/liontin bukan
    bergambar Dewi Kwan Im, sepasang giwang emas, 2 batu akik warna
                                                                      96



    biru dan hijau, 1 penjepit rambut emas, barang-barang tersebut oleh
    mereka terdakwa djual untuk dinikmati.
-   Akibat perbuatan mereka terdakwa, korban Nyo Siok Hoo (Emak)
    meninggal dunia sebagaimana visum et Repertum No. 14/MF/III/2005
    yang ditandatangani Dr. Pudjo Pramono, Sp.F dari Fakultas Kedokteran
    Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan kesimpulan bahwa korban
    meninggal karena patahnya tulang leher.
      Sedangkan pada dakwaan kedua para terdakwa didakwa diancam
pidana dalam pasal 365 ayat (2) ke-1, ke-2 dan ayat (3) KUHP dengan
alasan :
Bahwa mereka terdakwa 1 Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo Nyo bersama-
sama mapun bertindak sendiri-sendiri dengan terdakwa 2 Candra Sutrisno
als. Babahe, pada hari Kamis tanggal 17 Maret 2005 sekira jam 01.30 WIB
atau setidak-tidaknya pada waktu lain dalam bulan Maret 2005 atau masih
dalam tahun 2005 bertempat di rumah korban Nyo Siok Hoo (Emak) yang
terletak di Jalan Blewah Rt. 2/VII Kl. Karangasem Kec. Laweyan, Kota
Surakarta atau setidak-tidaknya pada di suatu tempat yang masih termasuk
dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Surakarta, melakukan pencurian
yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman
kekerasan terhadap orang, dengan maksud akan menyiapkan atau
memudahkan pencurian atau jika tertangkap tangan (kepergok) supaya ada
kesempatan bagi dirinya sendiri atau bagi kawannya yang turut
melakukankejahatan akan melarikan diri atau supaya barang yang dicuri itu
tetap ada di tangannya, yang dilakukan pada waktu malam di dalam sebuah
rumah atau pekarangan tertutup yang ada di rumahnya, dilakukan oleh dua
orang bersama-sama atau lebih serta perbuatan tersebut mengakibatkan
korban Nyo Siok Hoo (Emak) meninggal dunia, perbuatan mereka
terdakwa dilakukan dengan cara-cara antara lain sebagai berikut :
-   Berawal terdakwa 1 Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo Nyo sakit hati
    terhadap korban Nyo Siok Hoo (Emak) karena dilarang pacaran dengan
    Shinta Dewi, karena orang Jawa.
                                                                       97



-   Selanjutnya ketika berada di kuburan Sangkrah 1 Rifki Bambang
    Sulistyo als. Nyo Nyo mengutarakan niatnya mengambil barang-barang
    milik korban Nyo Siok Hoo (Emak) kepada terdakwa 2 Candra Sutrisno
    als. Liem Bun San als. Babahe, Agus, Kenther, Ari.
-   Kemudian pada hari Rabu tanggal 16 Maret 2005 sekira jam 23.00 WIB
    terdakwa 1 Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo Nyo bersama dengan
    terdakwa 2 Candra Sutrisno als. Liem Bun San als. Babahe naik motor
    Mega Pro ke rumah korban, yang sebelumnya membeli 2 (dua) pasang
    sarung tangan di Apotik, setelah berada di dekat rumah korban, lalu
    terdakwa 2 Candra Sutrisno als. Liem Bun San als. Babahe mengetuk
    jendela, sedangkan terdakwa 1 Rifki Bambang Sulistyo menunggu di
    motor.
-   Setelah pintu rumah dibuka oleh korban, lalu terdakwa 2 Candra
    Sutrisno als. Liem Bun San als. Babahe masuk ke dalam rumah dengan
    berpura-pura akan mengambil baju milik terdakwa 1, tidak lama
    kemudian terdakwa 1 Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo Nyo masuk ke
    dalam rumah tanpa diketahui korban bersembunyi di kamar tidur,
    adapun terdakwa 2 keluar tumah dengan membawa tas berisi pakaian
    dan ikan Louhan diikuti korban, ketika korban akan menutup pintu
    rumah, terdakwa 1 keluar dari kamar mengikuti korban, tapi korban
    tahu dan menanyakan kepada terdakwa 1 “Temanmu mengambil ikan
    dan pakaian kamu”, kemudian korban memanggil terdakwa 2 untuk
    masuk ke rumah lagi.
-   Terdakwa 2 lantas masuk ke rumah lagi, lalu terdakwa 1 berpura-pura
    melihat isi tas bersama korban, adapun ikan Louhan dimasukkan lagi
    dalam kolam, selanjutnya terdakwa 2 bertanya pada terdakwa 1
    “Nganggo opo le”, lalu dengan tenangnya terdakwa 1 mengambil
    potongan besi yang ada di halaman rumah korban diberikan kepada
    terdakwa 2 untuk memudahkan mengambil barang-barang milik korban
    maka dengan cara didahului atau diikuti ataupun disertai dengan
    kekerasan yaitu ketika korban berjalan ke arah tempat tidur terdakwa 2
                                                                           98



       memikul korban dengan potongan besi mengenai tengkuk belakang
       sebanyak satu kali, saat itu korban teriak, kemudian terdakwa 1
       menyekap mulut korban dibantu terdakwa 2 supaya korban tidak
       meronta-ronta atau teriak-teriak, lantas korban dibawa masuk kamar
       posisi terlentang di lantai, selanjutnya terdakwa 1 memukul dengan
       tangan kosong sebanyak dua kali atau setidak-tidaknya lebih dari satu
       kali mengenai leher atau bagian tubuh korban lainnya. Adapun
       terdakwa 2 menjerat leher dengan kain sarung guling.
   -   Setelah korban tidak berdaya, lantas mereka terdakwa 1 dan terdakwa 2
       mengambil barang-barang milik korban berupa: 4 gelang emas, 2
       kalung emas, cincin emas ukir, 2 cincin emas tidak ada batu akik, 2
       cincin emas biasa, 2 cincin emas berlian, 3 emas batangan ukuran kecil,
       1 bandul kalung emas bertuliskan huruf Cina, 1 bandul/liontin bukan
       bergambar Dewi Kwan Im, sepasang giwang emas, 2 batu akik warna
       biru dan hijau, 1 penjepit rambut emas, barang-barang tersebut oleh
       mereka terdakwa djual untuk dinikmati.
   -   Akibat perbuatan mereka terdakwa, korban Nyo Siok Hoo (Emak)
       meninggal dunia sebagaimana visum et Repertum No. 14/MF/III/2005
       yang ditandatangani Dr. Pudjo Pramono, Sp.F dari Fakultas Kedokteran
       Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan kesimpulan bahwa korban
       meninggal karena patahnya tulang leher.


4. Alat Bukti dan Barang Bukti dalam Pembuktian Dakwaan
         Dalam rangka membuktikan dakwaan di persidangan, maka penuntut
   umum mengajukan alat bukti dan barang bukti sebagai berikut :
   a. Alat Bukti
       1) Keterangan Saksi-saksi
          a) Saksi PAULUS BAMBANG WIJANARKO, dipersidangkan di
              bawah sumpah memberikan keterangan sebagai berikut :
              - Bahwa benar, kejadian pada hari Sabtu tanggal 19 Maret 2005
               sekitar jam 13.30 WIB di rumah korban Nyo Siok Hoo (Emak)
                                                               99



    Jl. Blewah Rt. 2/VII Kl. Karangasem Kec. Laweyan, Kota
    Surakarta.
   - Bahwa benar, saksi mengetahui kejadian tersebut dari keluarga
    korban yang bernama Ny. Sugiarto yang datang ke rumah saksi
    dan sewaktu kejadian saksi berada di rumah.
   - Bahwa benar Ny. Sugiarto melapaorkan kalau budhenya
    (korban Nyo Siok Hoo) telah meninggal dunia dan membusuk.
   - Bahwa benar, setelah mendapat lapaoran saksi kemudian pergi
    ke tempatnya korban, ternyata korban sudah meninggal dan
    sudah berbau busuk, kemudian saksi melaporkan ke pihak
    yang berwajib.
   - Bahwa benar, yang mengetahui pertama kali korban meninggal
    dunia adalah Sdr. Jiman dan Dodo
   - Bahwa benar, saksi mengetahui korban Ny. Nyo Siok Hoo
    tinggal di rumah bersama menantu perempuannya yang
    bernama Oei Hannie dan cucunya yaitu Rifki Bambang
    Sulistyo als. Nyonyo.
   Tanggapan para terdakwa: membenarkan semua keterangan
   saksi.
b) Saksi NY. MERAPI YATMI, dipersidangkan di bawah sumpah
   memberikan keterangan sebagai berikut :
   - Bahwa benar, saksi diberitahu melalui telepon oleh seorang
    laki-laki yang tdiak saksi ketahui kalau budhenya (korban:Nyo
    Siok Hoo) telah meninggal.
   - Bahwa benar, setelah mendapat telepon saksi menuju ke rumah
    korban dan mendapati bau yang tidak sedap dari dalam rumah
    korban.
   - Bahwa benar, setelah mencium bau tersebut kemudian saksi
    melapor ke Pak Paulus Bambang Wijanarko selaku ketua RT
    yang selanjutnya dilaporkan ke Polisi.
   - Bahwa benar, terdakwa Nyo Nyo tinggal bersama korban
    (emak) dan Oei Hannie.
                                                            100



   - Bahwa benar, emak pernah ngomong kalau terdakwa Nyo Nyo
    sudah punya pacar orang pribumi.
   - Bahwa benar, terdakwa Nyo Nyo tidak punya pekerjaan
   Tanggapan para terdakwa: membenarkan semua keterangan
   saksi.
c) Saksi JIMAN, dIpersidangkan di bawah sumpah memberikan
   keterangan sebagai berikut :
   - Bahwa benar, saksi mengetahui kejadian tersebut pada hari
    Sabtu tgl. 19 Maret 2005 sekitar jam 13.30 WIB.
   - Bahwa benar, sebelum kejadian korban pernah bercerita pada
    saksi kalau korban tinggal di rumah bersama cucunya seorang
    laki-laki.
   - Bahwa benar, saksi bertemu dengan korban terakhir saat
    berbincang-bincang di luar tembok pada hari Rabu tgl. 16
    Maret 2005 sekitar jam 08.00 WIB di rumah korban.
   - Bahwa benar, saksi mengetahui kejadiannya pada hari Sabtu
    tgl. 19 Maret 2005 sekitar jam 10.00 WIB ketika sedang
    mengerjakan bangunan melihat lalat masuk lewat fentilasi
    serta mencium bauh busuk yang menyengat serta beberapa hari
    ini korban tidak pernah keluar, kemudian saksi bersama Dodo,
    Wiji, Parijo dan Usup untuk masuk ke rumah serta meliohat ke
    dalam, ternyata di kamarnya ditemukan korban sudah
    meninggal dalam keadaan tergeletak.
   - Bahwa benar, setelah melihat kejadian tersebut saksi
    melaporkannya kepada pak Kong Wi kemudian Pak Hong Wi
    menelpon ke saudara-saudaranya.
   Tanggapan para terdakwa: membenarkan semua keterangan
   saksi.
d) Saksi SINTA DEWI, dipersidangkan di bawah sumpah
   memberikan keterangan sebagai berikut :
                                                             101



  - Bahwa benar, saksi mengetahui kejadiannya pada hari Kamis
    tgl. 17 Maret 2005 sekitar jam 01.30 WIB di Jl. Blewah Rt.
    2/VII Kl. Karangasem Kec. Laweyan, Surakarta.
  - Bahwa benar, terdakwa membunuh korban bersama temannya
    bernama Candra.
  - Bahwa benar, saksi adalah calon istri terdakwa.
  - Bahwa benar, saksi mengetahui kalau terdakwa membunuh
    korban pada hari Kamis tgl. 17 Maret 2005 sekitar jam 10.00
    WIB di Hotel Wijaya Yogyakarta pada saat saksi bersama Evi
    (istrinya Candra), Candra dan terdakwa ketika sedang makan,
    terdakwa dan Candra bercerita baru saja membunuh korban
    dengan menggunakan linggis dan mengambil uang dan
    perhiasannya.
  - Bahwa benar, saksi tidak tahu perhiasan        dan uang milik
    korban.
  - Bahwa benar, Candra bercerita memukul korban menggunakan
    linggis kena bagian leher belakang dan terdakwa memukul di
    bagian leher.
  - Bahwa benar, Evi (istrinya Candra) dibelikan sepasang sandal
    seharga Rp. 50.000,- di Jl. Malioboro Yogyakarta pada hari
    Kamis tgl 17 Maret 2005 dan sekarang disita pihak berwajib.
  - Bahwa benar , setelah pulang ke Solo, terdakwa mengambil
    uang dari tas dan tas berisi uang supaya dibawa saksi.
  Tanggapan para terdakwa: membenarkan semua keterangan
  saksi.
e) Saksi EVI RIWAYATI, dipersidangkan di bawah sumpah
  memberikan keterangan sebagai berikut :
  - Bahwa benar, saksi mengetahui kejadiannya pada hari Kamis
    tgl. 17 Maret 2005 sekitar jam 10.00 WIB di di Hotel Wijaya
    Yogyakarta saat bersama Candra dan terdakwa Nyo Nyo yang
                                                              102



    bercerita baru saja membunuh korban dan mengambil
    perhiasan dan uang korban.
  - Bahwa benar, terdakwa dan cndra memukul korban dengan
    alat berupa potongan besi.
  - Bahwa benar, saksi saat di Malioboro Yogyakarta dibelikan
    sepasang sandal seharga Rp. 50.000,- dan juga dibelikan
    sepasang sepatu sandal dengan menggunakan uang hasil
    kejahatan.
  - Bahwa benar, sandal tersebut sudah disita pihak yang berwajib.
  Tanggapan para terdakwa: membenarkan semua keterangan
  saksi.
f) Saksi AGUS PRIANTO, dipersidangkan di bawah sumpah
  memberikan keterangan sebagai berikut :
  - Bahwa benar, kejadiannya pada hari Rabu tgl. 16 Maret 2005
     sekitar jam berapa saksi tidak tahu, tapi setidaknya malam
     hari.
  - Bahwa benar, salsi kenal dengan para terdakwa tetapi tidak
     ada hubungan keluarga.
  - Bahwa benar, sewaktu minum-minuman keras di kuburan
     Sangkrah, terdakwa Nyo Nyo mgomong kepada saksi akan
     mengambil ikan Louhan, tabungan dan perhiasan korban.
  - Bahwa benar, saksi diajak terdakwa Nyo Nyo untuk
     mengambil perhiasan milik korban, namun saksi tidak mau.
  - Bahwa benar, keesokan hari terdakwa Nyo Nyo dan terdakwa
     Candra menemui saksi di bengkel dan ngomong telah
     memukul korban dengan besi.
  - Bahwa benar, saksi membenarkan barang bukti yang
     diperlihatkan di persidangan.
  - Bahwa benar, para terdakwa sehabis melakukan pembunuhan
     terhadap korban Nyo Siok Hoo (neneknya terdakwa Nyo
                                                               103



      Nyo) datang ke tempat saksi pada hari Kamis tgl. 17 Maret
      2005 sekitar jam 04.00 WIB pagi.
   - Bahwa benar, saksi diberi uang sebesar Rp. 200.000,- oleh
      terdakwa Bambang als. Nyo Nyo dari hasil kejahatan, dan
      uang tersebut digunakan untuk makan saksi sehari-hari dan
      masih sisa Rp. 175.000,- yang sekarang disita pihak berwajib.
   - Bahwa benar, para terdakwa membunuh korban dengan
      menggunakan apa saksi tidak tahu.
   - Bahwa benar, para terdakwa melakukan pembunuhan dengan
      menggunakan sarana sepeda motor Mega Pro No. Pol. AD.
      2239 TF milik terdakwa Candra.
   - Bahwa benar, terdakwa Nyo Nyo sebelum melakukan
      pembunuhan minum-minum dulu di kuburan Sangkrah
      sambil merencanakan bersama-sama dengan saksi, Ari als.
      Kikuk, terdakwa Candra dan Wiwid als. Kenthir.
   - Bahwa benar, saksi memebanarkan barang bukti sepeda
      motor Mega Pro No. Pol. AD. 2239 TF yang digunakan
      kedua terdakwa untuk sarana melakukan pembunuhan.
   Tanggapan para terdakwa: membenarkan semua keterangan
   saksi.
g) Saksi NUR RAHMAN als. KIKUK, di persidangkan di bawah
   sumpah memberikan keterangan sebagai berikut :
   - Bahwa benar, kejadiannya pada hari Rabu tgl. 16 Maret 2005
      sekitar jam berapa saksi tidak tahu, tapi setidaknya malam
      hari dan barang yang diambil berupa perhiasan emas dan
      uang tunai.
   - Bahwa benar, salsi mendengar kalau terdakwa Nyo Nyo dan
      terdakwa Candra melakukan pembunuhan terhadap neneknya
      terdakwa Nyo Nyo (korban Nyo Siok Hoo) dari Agus als.
      Kenthus saat di bengkel di depan stasiun Sangkrah pada hari
      Rabu tgl. 16 Maret 2005 sekitar jam 10.00 WIB.
                                                                      104



  - Bahwa benar, terdakwa Nyo Nyo sebelum melakukan
     pembunuhan          telah   direncanakan    terlebih    dahulu    di
     pemakaman umum Sangkrah pada hari Rabu tgl 16 Maret
     2005 sekitar jam 17.00 WIBdan saat itu sarana belum
     disiapkan.
  - Bahwa benar, terdakwa Nyo Nyo merencanakan membunuh
     neneknya bersama saksi, terdakwa Candra, Wahyu als
     Kenthir      yang    bertugas   sebagai    eksekutor,    sedangkan
     terdakwa Nyo Nyo bertugas mengetuk pintu sampai
     dibukakan neneknya.
  - Bahwa benar, saksi tidak tahu terdakwa Candra membunuh
     neneknya terdakwa bambang als.               Nyo       Nyo   dengan
     menggunakan potongan besi yang sekarang telah disita polisi.
  - Bahwa benar, terdakwa Bambang als. Nyo Nyo berhasil
     membunuh neneknya dan membawa 2 (dua) gelang emas, 4
     (empat) cincin emas, 2 (dua) kalung emas, 1 (satu) liontin
     Dewi Kwan Im, 1 (satu) liontin emas bertulisan Cina, 1 (satu)
     jepit rambut emas, 3 (tiga) batangan emas dan HP Nokia
     3530 yang dibeli dengan uang hasil kejahatan.
  Tanggapan para terdakwa: membenarkan semua keterangan
  saksi.
h) Saksi ISMANTORO als. KIKI, di persidangkan di bawah
  sumpah memberikan keterangan sebagai berikut :
  - Bahwa benar, pada hari Kamis tgl. 17 Maret 2005 sekitar jam
    22.00 WIBdi depan Jl. Letjen. Suprapto No. 10 Sumber
    Banjarsari Surakarta, saksi dititipi oleh terdakwa Candra
    berupa tas kresek plastik warna hitam yang saksi tidak tahu
    isinya.
  - Bahwa benar, setelah dibuka terdakwa Candra mengambil 2
    (dua) lempeng emas dan dibungkus lagi lalu dikembalikan
    pada saksi yang oleh saksi ditaruh di atas TV.
                                                            105



  - Bahwa benar, terdakwa Bambang als. Nyo Nyo dan terdakwa
    Candra sehabis membunuh korban Nyo Siok Hoo mengambil
    barang berupa 2 (dua) buah lempengan emas, gelang emas,
    kalung emas, cincin emas dan batu akik warna biru serta uang
    tunai sekitar Rp. 6.000.000,-
  - Bahwa benar, para terdakwa membunuh korban dengan
    menggunakan linggis serta sarana sepeda motor Honda Mega
    Pro milik terdakwa Candra.
  - Bahwa benar, terdakwa Bambang als. Nyo Nyo setelah
    membunuh korban pergi ke Jakarta untuk menghilangkan jejak
    supaya tidak ditangkap Poloisi dan kemudian disusul terdakwa
    Candra.
  - Bahwa benar, saksi memerintah terdakwa Bambang als. Nyo
    Nyo untuk pergi ke Jakarta karena terdakwa Bambang als. Nyo
    Nyo akan menjadi adik ipar saksi kalau tdiak ditangkap
    petugas.
  - Bahwa benar, saksi menyuruh Bambang als. Nyo Nyo pergi ke
    Jakarta pada hari Kamis tgl. 17 Maret 2005 sekitar jam 19.00
    WIB setelah terdakwa Bambang als. Nyo Nyo bercerita pada
    saksi.
  - Bahwa benar, saksi membenarkan barang bukti 2 (dua) gelang
    emas, 4 (empat) cincin emas, 1 (satu) penjepit rambut emas,
    2 (dua) batu akik warna biru dan hijau yang tutupnya warna
    ungu yang dibungkus plastik kresek warna hitam yang
    dititipkan saksi.
  Tanggapan para terdakwa: membenarkan semua keterangan
  saksi.
i) Saksi HERI SUSANTO, dipersidangkan di bawah sumpah
  memberikan keterangan sebagai berikut :
  - Bahwa benar, sepeda motor Mega Pro warna hitam AD. 2239
    TF berikut kunci kontak dan STNK milik terdakwa Candra
                                                                  106



       telah berada di rumah saksi Jurug, Rt. 02/Rw. 02 Jurug,
       Ngringo Karanganyar.
      - Bahwa benar, saksi tidak mengetahui kapan tepatnya terdakwa
       Candra menitipkan kendaraannya beserta kunci dan STNK nya
       tersebut.
      - Bahwa benar, pada hari Sabtu tgl. 19 Maret 2005 sekitar jam
       09.00 WIB saksi melihat sepeda motor Hinda Mega Pro No.
       Pol. AD. 2239 TF milik terdakwa Candra telah berada di depan
       rumahnya sedang kontak dan STNK berada di atas pesawat
       televisi di dalam rumah, kemudian saksi menggunakan
       kendaraan itu untuk membeli bensin.
      - Bahwa benar, saksi membenarkan barang bukti sepeda motor
       dan STNK berikut kunci kontak yang digunakan sebagai
       sarana melakukan kejahatan.
      Tanggapan para terdakwa: membenarkan semua keterangan
      saksi.
   j) Saksi BASUKI NOTOGUNAWAN, dipersidangkan di bawah
      sumpah memberikan keterangan sebagai berikut :
      - Bahwa benar, saksi adik kandung korban.
      - Bahwa benar, saudara saksi ada 4 orang, yaitu Nyo Sak Wan,
       Nyo Siok Hoo (korban), Nyo Sok Ching dan saksi.
      - Bahwa benar, selama perkawinan Nyo Siok Hoo (korban)
       tidak punya anak, lalu mengangkat Djunaidi sebagai anak.
      - Bahwa benar, selama Djunaidi kawin dengan Haini dengan
       Haini tidak punya anak, lalu mengangkat anak bernama Nyo
       Nyo.
2) Keterangan Saksi Ahli
   Dr. PUDJO PRAMONO, di bawah sumpah pada pokoknya
   memberikan keterangan sebagai berikut :
    a) Bahwa benar, pada hari Minggu tgl. 20 Maret 2005 sekira jam
       09.30 WIB saksi melakukan pemeriksaan mayat wanita.
                                                                  107



    b) Bahwa benar, leher korban terlihat memar ukuran lima kali
       empat centimeter, tulang lidah (tulang hyoid) patah, tulang
       cricid kanan patah menjadi tiga bagian, kiri menjadi dua
       bagian, terdapat patah tulang leher pada cervical enam tujuh.
    c) Bahwa benar, korban meninggal karena patahnya tulang keher.
3) Surat
   Visum et Repertum No. 14/ME/III/2006 yang dibuat oleh
   Laboratorium Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas
   Maret dan ditandatangani oleh Dr. Pudjo Pramono, Sp.F. yang
   kesimpulannya Korban Nyo Siok Hoo meninggal karena patahnya
   tulang leher.
4) Keterangan Terdakwa
   a) Terdakwa RIFKI BAMBANG SULISTYO als. NYO NYO, di
      persidangan memberikan keterangan sebagai berikut :
      (1) Bahwa benar, terdakwa membunuh Nyo Siok Hoo (Mak)
           pada hari Kamis tgl. 17 Maret 2005 sekitar jam 00.30 WIB
           di Bulak Indah Jl. Blewah Rt. 2/VII Karangasem Laweyan
           Surakarta.
      (2) Bahwa benar, terdakwa melakukan pembunuhan bersama
           terdakwa Candra, dan sebelumnya telah direncanakan
           dengan Agus, Kenther, dan Ari als. Kikuk pada hari Rabu
           sekitar jam 15.00 WIB di Pemakaman Umum Sangkrah,
           dan yang mempunyai ide terdakwa.
      (3) Bahwa benar, dalam perencanaan terdakwa dan terdakwa
           Candra sebagai petunjuk arah, Kenther dan Ari als Kikuk
           sebagai eksekutor dan Agus tidak mempunyai peranan apa-
           apa.
      (4) Bahwa benar, terdakwa dan terdakwa Candra menuju ke
           rumah korban dengan menggunakan sepeda motor Honda
           Mega Pro milik terdakwa Candra dan dalam perjalanan
           membeli 2 buah sarung tangan karet dengan maksud agar
           tidak meninggalkan sidik jari.
                                                        108



(5) Bahwa benar, sampai di rumah terdakwa Candra mengetuk
   pintu jendela kamar korban kemudian korban keluar
   membuka pintu pintu gembok regol, selanjutnya terdakwa
   Candra masuk ke dalam rumah dan terdakwa menyelinap
   masuk ke pekarangan.
(6) Bahwa benar, beberapa saat kemudian terdakwa Candra
   menemui terdakwa, selanjutnya terdakwa mengambil
   potongan besi dengan panjang 73 Cm dari halaman rumah
   korban dan diserahkan kepada terdakwa Candra.
(7) Bahwa benar, setelah terdakwa Candra menerima besi
   langsung masuk, kemudian pada saat korban berjalan dan
   tiba di depan pintu kamar, terdakwa Candra memukul leher
   korban bagian belakang dengan menggunakan besi,
   kemudian terdakwa menyekap mulut korban dari belakang.
(8) Bahwa benar, setelah disekap kemudian korban jatuh
   terlentang di dalam kamar tidurnya, terdakwa memberikan
   sarung guling warna putih motif garis merah kepada
   terdakwa Candra untuk menjerat leher korban, sedangkan
   terdakwa memukul leher korban sebanyak 2 kali.
(9) Bahwa benar, setelah memukuli korban, terdakwa dan
   terdakwa Candra mencari kunci almari, kemudian terdakwa
   menemukan kinci laci di dalam saku daster yang dipakai
   korban,   selanjutnya terdakwa dan terdakwa Candra
   mengambil uang dan perhiasan yang berada di dalam
   almari.
(10) Bahwa benar, barang-barang tersebut disimpan di rumah
   terdakwa Candra di daerah Palur Karanganyar, kemudian
   barang-barang berupa emas dititipkan pada Ismantoro aks,
   Kiki dan uangnya sebagian dibawa terdakwa dan sebagian
   dipakai terdakwa Candra dalam pelarian ke Jakarta.
                                                             109



b) Terdakwa CANDRA, di persidangan memberikan keterangan
   sebagai berikut :
   (1) Bahwa benar, terdakwa bersama Bambang als. Nyo Nyo
       melakukan pembunuhan terhadap korban Nyo Siok Hoo
       (Maknya terdakwa Nyo Nyo) pada hari Kamis tgl. 17 Maret
       2005 sekitar jam 01.30 WIB di Jl. Blewah Rt. 2/VII
       Karangasem Laweyan Surakarta.
   (2) Bahwa benar, terdakwa membunuh Korban Nyo Siok Hoo
       menggunakan alat berupa potongan besi panjang kurang
       lebih 73 Cm, sepasang sarung tangan terbuat dari karet dan
       sarung guling, sedangkan, sedangkan terdakwa Nyo Nyo
       menggunakan alat berupa sepasang sarung tangan terbuat
       dari karet.
   (3) Bahwa benar, terdakwa diberi potongan besi dan sarung
       guling dari terdakwa Nyo Nyo pada saat akan membunuh
       korban Nyo Siok Hoo, sedangkan sarung tangan terdakwa
       beli pada saat akan melakukan pembunuhan.
   (4) Bahwa benar, terdakwa melakukan pembunuhan terhadap
       Nyo Siok Hoo dengan cara terdakwa memukul dengan
       menggunakan potongan besi panjang kurang lebih 73 Cm
       sebanyak 1 (satu) kali kena pada bagian leher bagian
       belakang dan mencekik lehernya dengan menggunakan
       sarung guling, sedagnkan terdakwa Nyo Nyo membekap
       mulut    dan    hidung   korban   sampai    jatuh   dengan
       menggunakan kedua tangannya yang memakai sarung
       tangan, memukul dengan menggunakan tangan kosong
       sebanyak 4 (empat) kali kena leher bagian kiri dan
       mencekik tenggorokan.
   (5) Bahwa benar, yang mempunyai rencana atau ide pertama
       kali melakukan pembunuhan terhadap Nyo Siok Hoo adalah
       terdakwa Nyo Nyo.
                                                          110



(6) Bahwa benar, terdakwa bersama bersama Ari als. Kikuk,
    Agus, Wahyudi dan terdakwa Nyo Nyo melakukan
    pembunuhan terhadap korban Nyo Siok Hoo sebelumnya
    direncanakan pada hari Tabu tanggal 16 Maret 2005 sekitar
    jam 16.00 WIB di kuburan Sangkrah.
(7) Bahwa benar, yang membagi peran membunuh Nyo Siok
    Hoo adalah terdakwa Nyo Nyo, terdakwa mendapat tugas
    menjoki, terdakwa Nyo Nyo yang masuk ke rumah Nyo
    Siok hoo dibantu Agus, Kenthir, dan Kikuk apabila
    terdakwa Nyo Nyo mendapat kesulitan.
(8) Bahwa benar, terdakwa dan terdakwa Bambang als. Nyo
    Nyo melakukan pembunuhan terhadap korban Nyo Siok
    Hoo, dengan menggunakan sarana sepeda motor Mega Pro
    No. Pol. AD 2239 TF milik terdakwa.
(9) Bahwa benar, maksud dan tujuan terdakwa membunuh Nyo
    Siok Hoo adalah ingin mengambil barang-barang berharta
    milik Nyo Siok Hoo tersebut.
(10) Bahwa benar, selain membunuh Nyo Siok Hoo, terdakwa
    dan terdakwa Nyo Nyo mengambil barang berupa uang
    tunai sebanyak + Rp. 8.000.000,-, perhiasan berupa gelang
    emas sebanyak 4 (empat) buah. Cincin emas emas tanpa
    akik, sebanyak 2 (dua) buah, kalung emas 2 (dua) buah,
    cincin emas biasa jumlahnya berapa terdakwa tidak ingat,
    tusuk konde emas sebanyak 1 (satu) buah, sepasang giwang
    emas atasnya ada berliannya, bandulan kalung emas 1 (satu)
    buah, emas batangan 3 (tiga) buah, akik sebanyak 2 (dua)
    buah.
(11) Bahwa benar, barang-barang tersebut beserta uang tunai
    disimpan di dalam almari dan terkunci.
(12) Bahwa benar, barang-barang tersebut semula disimpan di
    rumah terdakwa, kemudian dititipkan pada Sdr. Kiki di Jl.
    Letjend Suprapto 90 Sumber Kec. Banjarsari.
                                                                     111



   5) Petunjuk
       Terdapat persesuaian antara keterangan saksi-saksi dan keterangan
       pada terdakwa, serta alat-alat nukti surat dan dihubungkan dengan
       barang bukti yang satu dengan yang lainnya sehingga merupakan
       petunjuk yang dapat dijadikan sebagai alat bukti dalam persidangan
       ini.
       Adapun petunjuk tersebut yaitu :
       Para saksi menerangkan, mendengar langsung dari para terdakwa,
       yang mengatakan bahwa terdakwa Candra memukul korban dengan
       potongan besi kena tengkuk belakang, lalu korban dibekab oleh
       terdakwa Candra dan dipikul lantas korban dijerat lehernya oleh
       terdakwa Candra dengan kain guling, dan hal ini sesuai dengan
       keterangan ahli serta Visum et Repertum matinya korban karena
       patahnya tulang leher.
b. Barang Bukti
   Barang bukti yang diajukan penuntut umum dalam persidangan adalah :
   1) 3 (tiga) kalung emas batangan terdiri dari 2 emas batangan utuh dan
      1 emas batangan bekas dipotong
   2) 2 (dua) buah gelang emas
   3) 4 (empat) buah cincin emas
   4) 2 (dua) buah kalung emas
   5) 1 (satu) buah jepitan rambut emas
   6) 2 (dua) batu akik
   7) 1 (satu) buah liontin
   8) 1 (satu) unit Hand Phone merk Nokia type 3530 warna casing biru
   9) 1 (satu) unit sepeda Mototr Mega Pro warna hitam No. Pol AD 2239
      TF beserta STNK dan kunci kontak
                                                                          112



5. Pembuktian Unsur-unsur Tindak Pidana Pembunuhan Berencana
         Jaksa Penuntut Umum dalam dakwaan kesatu Primairnya dengan
   mendakwa terdakwa 1. Bambang als. Nyo Nyo dan terdakwa 2. Candra
   telah melanggar pasal 340 KUHP yang unsur-unsur pokoknya sebagai
   berikut: Unsur barang siapa; Unsur sengaja; Unsur direncanakan; Unsur
   menghilangkan nyawa orang lain; Sementara pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP
   unsur yang terkandung adalah: Unsur Yang melakukan, Menyuruh
   Melakukan, Turut Serta Melakukan.
   Unsur Barang siapa, Bahwa yang dimaksud dengan unsur “Barang siapa”
   adalah setiap subyek hukum sebagai pelaku perbuatan pidana, dalam hal ini
   orang yang dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya tersebut sesuai
   dengan ketentuan pasal 44 KUHP.
   Unsur-unsur yang terdapat dalam Pasal 340 KUHP :
   a. Unsur Barang Siapa
             Berdasarkan keterangan saksi-saksi, keterangan ahli, surat,
      petunjuk dan keterangan para terdakwa, barang siapa ini tidak lain
      adalah para terdakwa yang identitasnya termuat dalam Surat Dakwaan,
      dan selama berlangsungnya persidangan tidak ditemukan adanya alasan
      pemaaf maupun alasan pembenar.
             Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum tercantum identitas
      terdakwa 1 yaitu RIFKI BAMBANG SULISTYO als. NYO NYO dan
      terdakwa 2 yaitu CANDRA SUTRISNO als BABAHE setelah
      diperiksa di persidangan identitas tersebut telah cocok dan sesuai serta
      terdakwa dan termasuk orang yang dapat mempertanggungjawabkan
      perbuatannya, sehingga unsur ini telah terbukti secara sah dan
      meyakinkan. Dengan demikian unsur “Barang Siapa” ini telah terbukti.
   b. Unsur sengaja
             Teori kesengajaan ada 3, yaitu kesengajaan sebagai tujuan,
      kesengajaan sebagai kemungkinan dan kesengajaan sebagai keinsyafan
      yang pasti. Dari kriteria tersebut Jaksa penuntut Umum akan
      mempertimbangkan termasuk kriteria yang mana pembunuhan yang
      dilakukan oleh para terdakwa.
                                                                      113



          Dalam perkara ini pelaku/terdakwa melakukan perbuatan pidana
   pembunuhan dengan berkehendak, yaitu dengan melihat pada maksud
   kedatangan terdakwa 1, Nyo Nyo dan terdakwa 2, Chandra dengan
   mengendarai Mega Pro dengan mempunyai rencana untuk membunuh
   sebagaimana telah direncanakan pada saat di Kuburan Sangkrah.
   Kedatangan para terdakwa pada malam hari dengan tujuan agar
   perbuatan mereka tidak diketahui oleh orang lain. Sebelum sampai di
   rumah korban para terdakwa terlebih dahulu membeli sarung tangan
   dari karet dan langsung memakainya. Hal ini dengan tujuan agar tidak
   meninggalkan sidik jari, sehingga perbuatan para terdakwa tidak mudah
   dilacak. Alat yang dipergunakan terdakwa yaitu berupa potongan besi
   sepanjang + 73 Cm yang dipukulkan kepada tengkuk korban dan sarung
   guling yang digunakan untuk menjerat leher korban yang berkibat
   patahnya leher korban sehingga Nyo Siok Hoo meninggal dunia. Hal ini
   cukup membuktikan bahwa terdakwa memang ada kehendak/niat untuk
   membunuh dan menganiaya korban. Dengan demikian unsur ini telah
   terbukti secara sah dan meyakinkan, sehingga unsur sengaja ini dapat
   dibuktikan dan terbukti.
c. Unsur direncanakan
          Pengertian direncanakan terlebih dahulu adalah adanya waktu
   berpikir untuk melaksanakan kehendaknya ataukah membatalkan
   niatnya. Waktu berpikir tidak boleh terlalu lama maupun terlalu sempit.
   ahwa suatu perbuatan pidana masuk dalam kategori direncanakan
   apabila beberapa sebelum perbuatan pidana dilakukan pada diri pelaku
   masih terdapat kesempatan berpikir menentukan jadi tidaknya
   perbuatan dilakukan.
          Dalam kasus ini baik dari keterangan saksi-saksi maupun
   terdakwa serta adanya barang bukti yang diajukan dipersidangan,
   menurut Jaksa Penuntut Umum terdapat suatu keadaan yang
   membuktikan adanya unsur perencanaan dalam kejadian peristiwa
   pembunuhan terhadap korban Nyi Siok Hoo yang dilakukan terdakwa 1
   Nyo Nyo dan Terdakwa 2 Chandra, sehingga terdakwa dapat dijerat
   dengan dakwaaan “Pembunuhan Berencana”;
                                                                        114



d. Unsur Menghilangkan nyawa orang lain
           Pada unsur menghilangkan nyawa orang lain, bahwa unsur ini
   merupakan tujuan atau maksud dari unsur sebelumnya yakni unsur
   sengaja artinya menghilangkan nyawa orang lain merupakan maksud
   dari perbuatan yang dilakukan oleh pelaku perbuatan sehingga
   perbuatan yang dilakukan pelaku tersebut benar-benar mengakibatkan
   hilangnya nyawa orang lain.
           Berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan baik didapat
   dari keterangan saksi-saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan
   keterangan terdakwa dan dihubungkan dengan barang bukti yang
   diajukan di persidangan, terdapat fakta sebagai berikut: korban Nyo
   Siok Hoo tengkuknya dipukul oleh terdakwa 2 Chandra dengan
   potongan besi, lalu mulut korban disekap oleh terdakwa 1 Nyo Nyo
   dengan posisi korban terlentang, selanjutnya leher korban dijerat
   dengan sarung guling ditarik kencang sehingga tulang leher patah,
   sebagaimana Visum et Repertum No. 14/MF/III/2005 yang dibuat oleh
   laboratorium Forensik Fakultas kedokteran Universitas Sebelas Maret
   dan ditandatangani oleh Dr.         Pudjo   Pramono,     SP.   F.   Yang
   kesimpulannya: Korban Nyi Siok Hoo meninggal karena leher patah.
           Berdasarkan fakta tersebut di atas, bahwa unsur menghilangkan
   nyawa orang lain telah dapat dibuktikan secara sah dan meyakinkan.
Unsur-unsur yang terdapat dalam Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP
      Pada unsur yang melakukan, Menyuruh Melakukan, Turut Serta
Melakukan, bahwa unsur pasal 55 ayat (1) ke-1 ini bersifat alternatif, untuk
langsung dibuktikan turut serta melakukan. Bahwa turut serta melakukan
yaitu perbuatan pidana dilakukan dua orang atau lebih secara bersama-
sama atau sendiri-sendiri.
      Apabila dihubungkan dengan fakta-fakta yang ada di persidangan:
bahwa ketika mereka para terdakwa minum-minuman keras, terdakwa 1
Nyo Nyo menyampaikan keinginannya menghabisi nyawa korban,
selanjutnya sebelum pelaksanaan mereka terdakwa membeli sarung tangan
lalu berboncengan menunju rumah korban dan menghabisi korban dengan
                                                                         115



   potongan besi dan membekapnya. Dengan demikian adanya kerja sama
   yang erat yang ditujukan pada satu tujuan yang sama yaitu matinya korban,
   maka unsur “turut serta melakukan” telah terbukti.
         Berdasarkan unsur dalam dakwaan kesatu primair terbukti secara sah
   dan meyakinkan, maka Jaksa Penuntut Umum akan menuntut para
   terdakwa dengan melanggar pasal 340 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.


6. Tuntutan Kejaksaan Negeri Surakarta
          Terhadap tindak pidana pembunuhan yang dilakukan oleh terdakwa
   1. Bambang als. Nyo Nyo dan terdakwa 2. Candra telah melanggar pasal
   340 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, maka Jaksa Penuntut Umum dalam
   persidangan mengajukan tuntutannya sebagai berikut:
   a. Menyatakan terdakwa 1 Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo Nyo dan
      terdakwa 2. Candra Sutrisno als Babahe bersalah melakukan tindak
      pidana sebagaimana diatur dalam pasal 340 jo pasal 55 ayat (1) ke-1
      KUHP dalam dakwaan kesatu.
   b. Menyatakan terdakwa 1 Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo Nyo dan
      terdakwa 2. Candra Sutrisno als Babahe dengan pidana hukuman mati.
   c. Menyatakan barang bukti berupa :
      1) 3 (tiga) kalung emas batangan terdiri dari 2 emas batangan utuh dan
          1 emas batangan bekas dipotong
      2) 2 (dua) buah gelang emas
      3) 4 (empat) buah cincin emas
      4) 2 (dua) buah kalung emas
      5) 1 (satu) buah jepitan rambut emas
      6) 2 (dua) batu akik
      7) 1 (satu) buah liontin
      8) 1 (satu) unit Hand Phone merk Nokia type 3530 warna casing biru
      9) 1 (satu) unit sepeda Mototr Mega Pro warna hitam No. Pol AD
          2239 TF beserta STNK dan kunci kontak
      Dikembalikan kepada saksi No. 10 Basuki Noto Gunawan
   d. Menetapkan agar biaya perkara sebesar Rp. 2.500,- dibebankan kepada
      negara.
                                                                          116



7. Pembahasan
        Pelaksanaan    dalam    pembuktian    tindak   pidana    pembunuhan
  berencana yang dilakukan oleh Jaksa Penuntut Umum Pengadilan Negeri
  Surakarta terhadap terdakwa Rifki Bambang Sulistyo als. Nyonyo dan
  Candra Sutrisno als Babahe adalah melalui langkah-langkah :
  a. Jaksa Penuntut Umum membuat Surat Tuntutan berdasarkan Surat
     Penyidikan yang telah dibuat oleh pihak kepolisian. Dalam kasus
     pembunuhan berencana ini surat tuntutan telah dibuat dengan No. reg.
     perk. 151/SKRTA/EP.1/07/2005.
  b. Dalam persidangan Jaksa Penuntut Umum menjerat para Terdakwa
     dengan pasal 340 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Dalam persidangan
     untuk memperkuat penuntutannya, Jaksa Penuntut Umum akan
     menghadirkan alat-alat bukti dan barang bukti. Alat-alat bukti yang
     berhasil dihadirkan dalam persidangan adalah (1) Keterangan saksi; (2)
     keterangan ahli; (3) surat; (4) petunjuk; dan (5) keterangan terdakwa.
     1) Keterangan saksi;
        Dalam perkara pembunuhan yang dilakukan oleh Rifki Bambang
        Sulistyo als. Nyonyo dan Candra Sutrisno als Babahe dengan korban
        Ny. Nyo Siok Hoo menghadirkan saksi-saksi antara lain :
        a) Saksi PAULUS BAMBANG WIJANARKO
        b) Saksi NY. MERAPI YATMI
        c) Saksi JIMAN
        d) Saksi SINTA DEWI
        e) Saksi EVI RIWAYATI
        f)   Saksi AGUS PRIANTO
        g) Saksi NUR RAHMAN als. KIKUK,
        h) Saksi ISMANTORO als. KIKI,
        i)   Saksi HERI SUSANTO
        j)   Saksi BASUKI NOTOGUNAWAN
                                                                      117



     Dari kesepuluh saksi yang telah diajukan dalam persidangan
     memberikan kekuatan pembuktian bahwa telah terjadi pembunuhan
     yang dilakukan dengan perencanaan oleh para terdakwa.
  2) Keterangan ahli;
     Jaksa Penuntut Umum menghadirkan Dr. PUDJO PRAMONO
     selaku ahli forensik yang mengautopsi korban Emak.
  3) Surat
     Pada tindak pidana dengan tersangka 1 Rifki Bambang Sulistyo als.
     Nyo Nyo dan terdakwa 2 Candra Sutrisno als. Babahe terhadap
     korban Nyo Siok Hoo (Emak) ini adalah alat bukti berupa surat yang
     diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam persidangan adalah:
     Visum et Repertum No. 14/ME/III/2006 yang dibuat oleh
     Laboratorium Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas
     Maret dan ditandatangani oleh Dr. Pudjo Pramono, Sp.F. yang
     kesimpulannya Korban Nyo Siok Hoo meninggal karena patahnya
     tulang leher.
  4) Petunjuk
     Petunjuk yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum adalah: Adanya
     persesuaian antara keterangan saksi-saksi dan keterangan pada
     terdakwa, serta alat-alat bukti surat dan dihubungkan dengan barang
     bukti yang satu dengan yang lainnya sehingga merupakan petunjuk
     yang dapat dijadikan sebagai alat bukti dalam persidangan ini.
  5) Keterangan terdakwa.
     Pada tindak pidana dengan tersangka 1 Rifki Bambang Sulistyo als.
     Nyo Nyo dan terdakwa 2 Candra Sutrisno als. Babahe terhadap
     korban Nyo Siok Hoo (Emak) ini, kedua terdakwa mengakui telah
     dengan sengaja membunuh Nyo Siok Hoo (Emak) yang sebelumnya
     telah direncanakan di Pemakaman Umum Sangkrah
c. Berdasarkan alat bukti yang telah diajukan berupa (1). Keterangan
  saksi; (2) keterangan ahli; (3) surat; (4) petunjuk; dan (5) keterangan
  terdakwa, dan semua telah terpenuhi maka Jaksa Penuntut Umum
                                                                         118



        dalam dakwaan kesatu Primairnya dengan mendakwa terdakwa
        1. Bambang als. Nyo Nyo dan terdakwa 2. Candra telah melanggar
        pasal 340 KUHP yang unsur-unsur pokoknya sebagai berikut: Unsur
        barang      siapa;   Unsur   sengaja;   Unsur   direncanakan;   Unsur
        menghilangkan nyawa orang lain; Sementara pasal 55 ayat (1) ke-1
        KUHP unsur yang terkandung adalah: Unsur Yang melakukan,
        Menyuruh Melakukan, Turut Serta Melakukan.
        Karena unsur dalam dakwaan kesatu primair terbukti secara sah dan
        meyakinkan dapat dibuktikan, maka Jaksa Penuntut Umum menuntut
        para terdakwa dengan melanggar pasal 340 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1
        KUHP. Unsur pasal 340 KUHP unsurnya tentang barang siapa, dengan
        sengaja, dan menghilangkan nyawa orang lain sebagaimana telah
        dipertimbangkan dalam unsur-unsur pasal 340 KUHP telah terpenuhi.
              Berdasarkan hal tersebut penulis beranggapan bahwa Tuntutan
     Jaksa Penuntut Umum terhadap tindak pidana pembunuhan berencana
     yang dilakukan oleh para terdakwa yaitu terdakwa 1, Nyo Nyo dan
     terdakwa 2, Chandra dengan tuntutan pidana berupa hukuman mati sudah
     sepantasnya.

B. Hambatan-Hambatan Dalam Pembuktian Tindak Pidana Pembunuhan
   Berencana
   1. Mengumpulkan barang-barang bukti yang telah berkurang dan berpindah
     tangan
     Dalam kasus pembunuhan berencana yang dilakukan oleh tersangka 1
     Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo Nyo dan terdakwa 2 Candra Sutrisno als.
     Babahe terhadap korban Nyo Siok Hoo (Emak). Barang jarahan dari
     korban setelah meninggal dunia telah diberikan kepada temannya dan
     untuk membeli sepatu Evi (istri Candra) menjadi tugas yang cukup sulit
     bagi aparat peengak hokum untuk melacak keberadaan benda tersebut.
     Tetapi dengan tertangkapnya tersangka dan adanya penulusan terhadap
     barang bukti tersebut maka barang-barang bukti kejahatan tersebut dapat
                                                                     119



   dikumpulkan dan dijadikan sebagai alat-alat bukti dalam persidangan,
   walaupun terdapat kekurangan seperti uang Rp. 200.000 yang diberikan
   kepada teman tersangka sudah berkurang untuk biaya hidup, maka sisanya
   dapat dijadikan sebagai alat bukti.
2. Perlawanan dari Pengacara / Penasehat Hukum
             Adanya Pengacara / Penasehat Hukum yang bertugas membela
   terdakwa akan menjadikan persidangan menjadi lebih panjang, dimana
   Jaksa Penuntut Umx akan menjerat dengan pasal sesuai penuntutan,
   sementara penasehat hukum akan berusaha untuk memperingan hukuman
   atau bahkan membebaskan sama sekali tuntutan hukum terhadap terdakwa.
             Untuk itulah maka Jaksa Penuntut Umum akan berusaha
   melengkapi bukti-bukti dan saksi-saksi atas suatu kasus hukum yang
   ditanganinya. Semakin lengkap bukti dan saksi yang dimiliki oleh Jaksa
   Penuntut Umum dalam suatu tindak pidana maka akan semakin mudah
   bagi jaksa dalam memberikan tuntutan sesuai pasal yang dikenakan
   terdakwa.
             Terhadap putusan hakim yang memberikan kemenangan bagi Jaksa
   Penuntut Umum belum berarti menjadi keputusan yang final, hal ini
   karena adanya hak naik banding yang diberikan kepada terdakwa. Apabila
   terdakwa melakukan banding ke Pengadilan Tinggi daerah setempat, Jaksa
   Penuntut Umum, harus menanti jawaban dari keputusan Pengadilan
   Tinggi.
             Putusan banding yang memenangkan pihak Kejaksaan Tinggi akan
   mengakhiri proses hukum pada suatu proses pengadilan tindak pidana.
   Sedangkan apabila kasus tindak pidana dimenangkan oleh terdakwa, maka
   apabila Jaksa Penuntut Umum akan menindaklanjuti perkara tersebut maka
   Jaksa Penuntut Umum harus naik ke tingkat kasasi. Hal ini akan
   membutuhkan waktu yang lama terhadap suatu proses hukum.
                                                                            120



                                    BAB IV
                                  PENUTUP


       Berdasarkan data-data yang penulis peroleh dalam penelitian ini maka
dapat dibuat kesimpulan dan saran sebagai berikut :
A. Kesimpulan
  1.   Pelaksanaan pembuktian perkara tindak pidana pembunuhan berencana di
       persidangan oleh Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Surakarta
       adalah dengan menghadirkan alat-alat bukti dalam persidangan yaitu
       a. Keterangan saksi antara lain adalah Paulus Bambang Wijanarko, Ny.
          Merapi Yatmi, Jiman, Sinta Dewi; ; Evi Riwayati; Agus Prianto; Nur
          Rahman Als. Kikuk, Ismantoro Als. Kiki, Heri Susanto, Basuki
          Notogunawan
       b. Keterangan ahli, Jaksa Penuntut Umum menghadirkan Dr. Pudjo
          Pramono selaku ahli forensik yang mengautopsi korban
       c. Surat, berdasarkan Visum et Repertum No. 14/ME/III/2006 yang dibuat
          oleh   Laboratorium    Forensik     Fakultas   Kedokteran   UNS   dan
          ditandatangani oleh Dr. Pudjo Pramono, Sp.F. yang kesimpulannya
          Korban Nyo Siok Hoo meninggal karena patahnya tulang leher.
       d. Petunjuk, Jaksa Penuntut Umum memberikan petunjuk bahwa: Para
          saksi menerangkan, mendengar langsung dari para terdakwa, yang
          mengatakan bahwa terdakwa Candra memukul korban dengan
          potongan besi kena tengkuk belakang, lalu korban dibekab oleh
          terdakwa Candra dan dipukul lantas korban dijerat lehernya oleh
          terdakwa Candra dengan kain guling. Sesuai dengan keterangan ahli
          serta Visum et Repertum matinya korban karena patahnya tulang leher.
       e. Keterangan terdakwa, berdasarkan keterangan terdakwa adalah bahwa
          benar terdakwa 1 Rifki Bambang Sulistyo als. Nyo Nyo dan terdakwa 2
          Candra Sutrisno Als. Liem Bun San Als. alias Babahe membenarkan,
          telah membunuh Nyo Siok Hoo.




                                         69
                                                                             121



  2. Hambatan Jaksa Penuntut Umum dalam proses Sidang Pengadilan adalah :
     a. Berkurang      atau   berpindah   tangannya   alat-alat   bukti sehingga
           mengakibatkan tidak lengkapnya bukti dalam proses persidangan.
     b. Adanya perlawanan dari Pembela atau Penasehat Hukum atas tuntutan
           Jaksa Penuntut Umum.


B. Saran
  1. Jaksa Penuntut Umum dalam proses penuntutan terhadap terdakwa
     sebaiknya     mempersiapkan     dengan   matang     segala    sesuatu   yang
     berhubungan dengan proses persidangan diantaranya adalah alat-alat bukti.
  2. Dengan alat bukti yang lengkap, maka Jaksa Penuntut            Umum dapat
     melaksanakan tugasnya melakukan penuntutan dengan benar berdasarkan
     perundang-udangan yang berlaku.
  3. Alat bukti yang sudah selesai dipakai untuk pembuktian dalam penuntutan
     dan sudah selesai dalam taraf putusan hokum hendaknya segera
     ditidnaklanjuti sesuai keputusan Hakim apakah harus dimusnahkan atau
     dikembalikan kepada pemiliknya atau ahli warisnya, karena alat-alat bukti
     tersebut masih sangat berguna bagi pihak-pihak berwenang sesuai
     kemanfaatannya.
                                                                            122



                             DAFTAR PUSTAKA


Buku Literatur :

Andi Hamzah, 1986, Pengantar Hukum Acara Pidana, Jakarta, Ghalia Indonesia.

Agus Sulistyo dan Adi Mulyono. 2000. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia.
       Surakarta : Penerbit Ita.

Barda Nawawi Arief, 2005, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Bandung,
       PT. Citra Aditya Bakti.

CST. Kancil, 1986. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta :
       Balai Pustaka.

E. Utrecht. 1996. Pengantar Hukum Indonesia. Jakarta : PT. Penerbit Universitas.

Lamintang. 1984. Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia. Bandung : Sinar Baru.

Moeljatno. 1995. Asas-asas Hukum Pidana. Jakarta : Bina Aksara.

Muladi dan Barda Nawawi. 1992. Asas-asas Hukum Pidana. Jakarta:Bina Aksara.

R.Soesilo, 1996, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-Komentar
        Lengkap Pasal Demi Pasal, Bogor, Politea.

Satjipto Rahardjo. 1983. Hukum dan Masyarakat. Bandung, Angkasa.

Setiono, 2005, Pemahaman Terhadap Metode Penelitian Hukum, Surakarta :
         Program Studi Ilmu Hukum Pascasarjana UNS

Soerjono Soekatno. 1986. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta : Universitas
        Indonesia.

Subekti, R. 2005. Hukum Pembuktian. Jakarta : Pradnya paramita.

Sumadi Suryabrata. 2000. Metodologi Penelitian. Yogyakarta : Rajawali Press.

Suryono Sutarto, 1985, Hukum Acara Pidana Jilid II. Semarang : Undip.

Sutopo, HB. 2002. Pengantar Kualitatif (Dasar-dasar Teoritis dan Praktis).
        Surakarta : Pusat Penelitian.

Sutrisno Hadi, 1987. Metode Research Jilid I, Yogyakarta :Yayasan Penerbit
        Fakultas Psikologi UGM.
                                                                      123



Peraturan Perundang-undangan

Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-
         Undang Hukum Acara Pidana.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum
        Acara Pidana

UU. No. 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan RI

				
DOCUMENT INFO
Description: PELAKSANAAN PEMBUKTIAN PERKARA TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA DI PERSIDANGAN OLEH PENUNTUT UMUM KEJAKSANAAN NEGERI SURAKARTA