MENCETAK GENERASI iSLAMI MELALUI PENDIDIKAN AKHLAKUL KARIMAH by salmaghaliza

VIEWS: 3,029 PAGES: 12

									                                         Mencetak Generasi Islami
        Melalui Pendidikan Akhlakul Karimah (Islamic Character Education)
                                                  Oleh : Ali Nurdin


           Krisis moral yang menimpa bangsa kita akhir-akhir ini sudah sangat mengkhawatirkan.
Betapa tidak, manusia saat ini sudah tidak dapat lagi membedakan mana yang baik mana yang
buruk, mana yang susila dan mana yang asusila, mana yang hak mana yang batil. Segala bentuk
kejahatan moral terjadi di sekitar kita. Mulai dari pembunuhan sadis, penyiksaan dan intimidasi,
pemerasan, penipuan, pemerkosaan, narkoba, korupsi dan sebagainya. Bahkan untuk kasus-kasus
korupsi bangsa kita menempati urutan ke-7 dunia dan urutan ke-3 Asia Tenggara 1. Sebuah fakta
yang menyakitkan tentunya.
           Gejolak dekadensi moral tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang dewasa atau
sudah tua, namun juga terjadi pada anak-anak generasi bangsa yang nota bene masih mengenyam
pendidikan baik tingkat dasar, tingkat menengah maupun tingkat atas.
           Sering kita mendengar dari tayangan televisi atau membaca berita dari surat kabar,
berbagai kasus kriminalitas yang melibatkan anak-anak usia sekolah. Terjadinya tindak pidana
oleh para siswa atau bahkan mahasiswa yang konon katanya di cap sebagai kaum terpelajar
sudah bukan hal yang asing lagi. Hampir setiap hari berbagai ulah negatif dilakukan oleh
generasi muda kita se-akan-akan tidak ada habisnya. Bahkan baru-baru ini di Batam terungkap
kasus tiga pelajar yang menjual diri 2. Sungguh semua itu sangat ironi dan menyedihkan. Potret
macam apa dunia pendidikan kita ini?
           Sepertinya kita perlu mengkaji lebih dalam lagi tentang proses, arah dan tujuan sistem
pendidikan kita ini. Jangan-jangan proses pendidikan yang selama ini kita lakukan tidak berjalan
dengan optimal, atau bahkan tujuan pendidikan yang kita arahkan belum mengarah pada tujuan
pendidikan yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar RI 1945. Boleh jadi,
krisis moral yang menimpa bangsa kita saat ini pun dikarenakan belum jelasnya orientasi arah
dan tujuan pendidikan nasional.



1
    http://www.antara.co.id/arc/2007/5/22/kpk-indonesia-negara-terkorup-urutan-kelima-du
2
    http://batampos.co.id/metro/Metro/Pelajar_Sudah_Krisis_Moral_.html



          1   Mencetak generasi islami melalui pendidikan akhlakul karimah (islamic character education)
          Namun, kita perlu menyadari juga bahwa saat ini bangsa kita sedang dihadapkan pada
situasi sulit. Semakin pesatnya perkembangan zaman, berkembangnya arus teknologi dan
informasi menjadikan semakin mudahnya akulturasi budaya asing masuk ke dalam budaya kita.
Dan hal seperti ini memang tidak dapat kita cegah. Arnold J. Toynbee, sejarawan Inggris
terkenal mengatakan: "Para ahli sejarah di masa mendatang akan berkata, bahwa kejadian yang
besar di abad 20 adalah pengaruh kuat peradaban Barat terhadap semua masyarakat di dunia.
Mereka juga akan berkata, bahwa pengaruh tersebut sangat kuat dan bisa menembus serta ke
mana-mana dan mampu menjungkirbalikkan korban-korbannya.3" Apa yang diprediksi Toynbee
tersebut, sebagian besar sudah terwujud dengan bergeraknya arus peradaban Barat ke seluruh
masyarakat di dunia, termasuk Indonesia arus itulah yang sekarang dikenal dengan "globalisasi".
          Sekuat apa pun arus globalisasi menerpa bangsa kita setidaknya kita mempunyai filter
untuk dapat menyaring sedemikian rupa budaya-budaya apa saja yang patut kita tiru dan kita
kembangkan yang tentunya membawa dampak positif bagi kita. Serta mencampakan budaya-
budaya yang membawa pengaruh negatif.
          Manusia oleh Allah SWT dibekali dengan kesempurnaan akal serta rasa. Dilengkapi pula
dengan tiga nikmat potensial, yaitu “as-Sam’u” (daya pendengaran), “al-Basharu” (daya
pengamatan), dan “al-Fu’ad” (daya hati-nurani), yang tidak diberikan-Nya kepada makhluk-
makhluk yang lain. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Kami (Tuhan) telah
memuliakan anak-anak Adam, dan Kami telah mengangkat mereka di daratan dan lautan, dan
Kami berikan mereka rezeki dari yang baik-bauk, dan Kami telah melebihkan mereka atas
kebanyakan dari makhluk-makhluk yang Kami cipta dengan kelebihan yang sempurna”(Q.S Al-
Isra:70).
              Dengan akalnya manusia akan terus berpikir menghasilkan karya-karya, ciptaan-ciptaan
fisik dan non fisik untuk keberlangsungan kehidupanya. Hasil-hasil pemikiran manusia
menghasilkan peradaban. Peradaban suatu bangsa yang tercermin dalam suatu bentuk budaya.
Budaya suatu bangsa menunjukan tingkat peradabannya. Selanjutnya mari kita tinjau lebih jauh
mengenai peradaban, pengaruh peradaban serta kaitannya dengan pendidikan.




3
    Membangun citra peradaban islam melalui pendidikan, dalam http://membangun_citra_peradaban_islam,html
          2    Mencetak generasi islami melalui pendidikan akhlakul karimah (islamic character education)
Definisi Peradaban
          Kata peradaban (al-hadharat) atau civilization seringkali diidentikkan dengan kata
kebudayaan (al-tsaqafah). Tsakop sendiri artinya cerdas; pintar. Dalam bahasa Arab, selain
disebut sebagai al-hadharat, peradaban terkadang juga disebut dengan al-tamaddun (beradab)
Merujuk sebuah peradaban berkeadaban dan unggul yang pernah Rasulullah SAW bangun di
kota Madinah. Karena itu, tidaklah mengherankan apabila masyarakat madani kemudian
diterjemahkan menjadi masyarakat beradab atau civil society. Masyarakat                             madani adalah
masyarakat berbudaya              yang maju, modern,             berakhlak dan mempunyai peradaban
melaksanakan ajaran agama (syara’) dengan benar.
          Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia peradaban berasal dari kata adab (kata benda)
artinya kebaikan dan kehalusan budi pekerti atau tingkah laku; kesopanan; akhlak. Peradaban
artinya kemajuan yang meliputi kecerdasan dan kebudayaan.
          Peradaban pada tataran konsep yang lebih luas (kenegaraan) adalah sekumpulan konsep
(mafahim) atau pandangan hidup (an al-hayyah) tentang kehidupan (majmu al mafahim an al
hayyah)4. Berhubungan dengan semua aspek kehidupan (material dan immaterial) aspek politik,
ekonomi, sosial budaya termasuk pendidikan.


Pendidikan Sebagai Akar Peradaban
          Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya mewariskan nilai, yang akan
menjadi penentu umat manusia dalam menjalani kehidupan, dan sekaligus untuk memperbaiki
nasib dan peradaban umat manusia. Tanpa pendidikan, maka diyakini bahwa manusia tidak akan
mampu untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan. Secara ekstrim bahkan dapat
dikatakan, bahwa maju mundurnya atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat, suatu
bangsa, akan ditentukan oleh bagaimana pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa
tersebut.
          Dalam konteks tersebut, maka kemajuan peradaban yang dicapai umat manusia dewasa
ini, sudah tentu tidak terlepas dari peran-peran pendidikannya. Diraihnya kemajuan ilmu dan




4
    Muhammad Shiddiq Al Jawi, dalam http:/www.gaulislam.com



         3   Mencetak generasi islami melalui pendidikan akhlakul karimah (islamic character education)
teknologi yang dicapai bangsa-bangsa di berbagai belahan bumi ini, merupakan produk suatu
pendidikan.
       Untuk itu, saat ini kita membutuhkan suatu konsep pendidikan yang mampu membangun
dan menciptakan manusia yang berguna dan mampu menjadi khalifah dipermukaan bumi ini
dalam rangka membangun sebuah masyarakat beradab. Dunia pendidikan sebagai satu-satunya
komponen      yang     kompeten       dalam      membangun          dan    menciptakan        manusia-manusia
berpendidikan, sudah pasti harus mempunyai karakteristik tersendiri sebagai jalur cultural untuk
mencapai masyarakat beradab.
    Pendidikan yang sejatinya diciptakan dan diarahkan untuk mencetak manusia-manusia yang
tidak hanya cerdas akalnya tetapi juga beradab dan bermoral. Sepertinya saat ini pendidikan kita
agak kehilangan kontrol. Proses pendidikan saat ini lebih mengorientasikan pada aspek
jasmaniyah saja sedangkan ruhaniyah tidak dimaksimalkan atau dengan kata lain nilai-nilai
moral agama kurang diperhtikan bahkan tersisihkan. Pendidikan-pendidikan seperti itu lebih
tepat dinamakan pendidikan sekuler. Dan anehnya masyarakat seakan-akan tidak menyadari
kondisi ini atau mungkin sengaja tidak berusaha ingin sadar. Situasi pendidikan seperti ini
menjadikan pendidikan menjadi disharmoni dan tidak seimbang. sehingga penanaman.
       Untuk mengatasi kelemahan ini tidak ada cara lagi selain mereorientasikan tujuan
pendidikan ke arah yang benar, yakni mengembalikan pendidikan sesuai dengan Al-Qur’an dan
Sunnah. Dan hal ini layak dikembalikan lagi kepada institusi-institusi atau lembaga-lembaga
pendidikan khususnya sekolah sebagai penyelenggara pendidikan.


Konsep Pendidikan Akhlakul Karimah (Islamic Character Education)
       Salah satu konsep ajaran islam yang paling sempurna adalah adalah konsep akhlak.
Rasulullah SAW menjadikan akhlak sebagai salah satu metode dakwah dan tarbiyah.
Karakteristik dan keunggulan akhlak menjadikan konsep ini lebih unggul dibandingkan konsep-
konsep yang lain. Karakteristik tentang akhlak yang komprehensif itu adalah sebagai berikut:
1. Akhlak meliputi hal-hal yang bersifat umum dan terperinci
  Di dalam Al-Qur’an ada ajaran ahlak yang dijelaskan secara umum, tetapi ada juga yang
  mendetail. Sebagai contoh, ayat yang menjelaskan akhlak secara umum adalah Q.S An-Nahl
  :90 yang memerintahkan untuk berbuat adil, berbuat kebaikan dan melarang berbuat keji.



      4   Mencetak generasi islami melalui pendidikan akhlakul karimah (islamic character education)
  Adapun contoh ayat yang menjelaskan secara terperinci adalah Q.S Al-Hujurat:12 yang berisi
  larangan Allah SWT untuk saling mencela, serta memanggil dengan gelar yang buruk.
2. Akhlak bersifat universal
  Dalam konsep islam, akhlak meliputi seluruh prikehidupan seorang muslim, baik hubungan
  secara vertikal (ketuhanan) maupun horizontal (kemanusiaan/kemasyarakatan).
3. Akhlak bersifat implementatif
  Akhlak memiliki karakter dasar yang sangat mudah dimplementasikan. Berbagai nilai dan
  muatan-muatan akhlak sangat mudah sekali kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Akhlak bersifat konsistensi dan murni
  Akhlak berbeda dengan moral atau etika yang menurut kebanyakan orang menganggap
  ketiganya identik. Meskipun objek kajiannya sama yaitu sama-sama membahas tentang sikap-
  sikap atau prilaku baik buruknya manusia, namun parameternya berbeda. Etika atau moral
  parameternya akal, sedangkan akhlak parameternya Al-Qur’an dan Sunnah. Sehingga, dengan
  parameter ini menjadikan nilai-nilai atau muatan-muatan akhlak akan senantiasa terjaga
  kemurniannya.
       Konsep akhlak ini dibawa oleh Rasululllah SAW sebagai jaminan untuk kehidupan
manusia di dunia dan akhirat. Rasullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya aku diutus tiada lain
untuk menyempurnakan akhlak”.


Metode Implementasi Pendidikan Akhlak Karimah
       Untuk dapat mengimplementasikan konsep ini dalam pendidikan, diperlukan suatu cara
atau metode yang juga lebih unik dibandingkan metode-metode pendidikan yang lain. Metode ini
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Model dan keteladanan
  Anak adalah peniru. Sering kita mendengar peribahasa guru kencing berdiri, murid kencing
  berlari. Tingkah laku orang-orang terdekat si anak termasuk gurunya, akan mempengaruhi
  karakter dirinya. Untuk itu contoh utama berakhlak harus dari orang tua dan sebagai orang
  paling dekat.
2. Membiasakan hal-hal yang baik/pembiasaan
  Pengetahuan dan pemahaman terhadap islam serta keteladanan harus dipraktikkan agar
  menjadi bagian dari kehidupan dan keseharian anak. Untuk itu diperlukan pembiasaan. Adab/

      5   Mencetak generasi islami melalui pendidikan akhlakul karimah (islamic character education)
  etika merupakan cerminan akhlak seseorang yang diwujudkan dalam bentuk tingkah laku,
  maka untuk membentuknya diperlukan pembiasaan-pembiasaan. Islam telah mengatur
  kehidupan ini dengan sempurna dan seimbang, baik yang difirmankan Allah maupun segala
  tindakan/ perbuatan dan ucapan Rasulullah saw sebagai sunnah. Pembiasaan-pembiasaan ini
  harus mengacu pada ketentuan Allah dan dicontohkan Rasul-Nya.
3. Petuah dan nasihat
  Anak sebagai amanah dari Allah, memerlukan bimbingan dan asuhan. Nasihat-nasihat sangat
  diperlukan sebagai sumber ilmu bagi anak. Boleh jadi suatu perbuatan yang dilakukan dan
  dianggap melanggar karena ketidaktahuan anak. Untuk itu, peran orang tua, guru dan
  lingkungan tempat anak dibesarkan akan membentuk akhlak seorang anak. Dalam Al-Qur’an
  Surat Luqman di dalamnya banyak menceritakan kisah-kisah Luqman dalam mendidik
  anaknya dengan nasihat-nasihat. "Dan ingatlah ketika Luqman bicara dan memberi pelajaran
  (nasehat) kepada anaknya: "Hai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah. Karena
  sesungguhnya menyekutukan Allah itu perbuatan dholim (aniaya) yang besar". Dan Kami
  (Allah) sudah memerintahan kepada manusia (supaya berbuat baik) kepada kedua orang
  tuanya, ibunya yang sudah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah
  dan menyapihnya steah berumur dua tahun. (Maka) bersyukurlah kepadaKu dan kepada
  kepada kedua orang tuamu, dan hanya kepada- Kulah kamu semua kembali."
4. Kontrol atau pengawasan
  Dalam proses pembelajaran, anak yang dibimbing perlu mendapat pengendalian agar nasihat
  dan pembiasaan tadi bisa terlaksana dengan baik.
5. Hukuman atau sangsi
  Agar pembelajaran ini efektif, harus ada hukuman sebagai sangsi pelanggaran. Namun,
  hukuman atau sangsi dibuat bukan untuk menyakiti atau menakuti anak tetapai untuk
  mendidik dan mengevaluasi.


Materi Pendidikan Akhlakul Karimah
       Seperti sudah dikemukakan di atas, bahwa akhlak yang baik akan membimbing manusia
kepada kemuliaan. Dengan akhlak menjadikan manusia memiliki integritas mulia dalam
pandangan manusia dan Allah SWT. Rasulullah SAW menjelaskan perihal keutamaan seseorang



      6   Mencetak generasi islami melalui pendidikan akhlakul karimah (islamic character education)
yang berahlak, “Iman orang-orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik
akhlaknya, lembut perangainya, bersikap ramah dan disukai pergaulannya”. (H.R Thabrani).
       Pendidikan akhlak hakekatnya adalah segala amal dan perbuatan serta sifat-sifat yang
baik dan mulia sesuai dengan syari’at agama islam. Rasulullah SAW sebagai teladan kita
hendaknya dijadikan teladan dalam kehidupan kita. Karena, tidak ada lagi manusia yang baik,
luhur dan agung akhlaknya kecuali Rasulullah SAW. Suatu hari Aisyah r.a pernah ditanya oleh
sahabat tentang akhlak Rasulullah, Aisyah r.a menjelaskan bahwa akhlak Rasulullah SAW
adalah Al-Qur’an. Artinya Rasulullah tidak pernah berbuat selain dari apa yang diajarkan Allah
dalam Al-Qur’an.
       Beberapa akhlak-akhlak Rasulullah SAW yang harus kita ajarkan kepada anak-anak kita
sebagai pilar kokohnya iman anak kita yaitu sebagai berikut:
1. Menanamkan tabiat malu
  Salah satu akhlak yang sudah terkikis pada diri manusia saat ini adalah rasa malu. Malu yang
  dimaksud di sini adalah malu kepada Allah SWT juga malu kepada sesama manusia. Sudah
  sepantasnya tabiat malu ini ditanamkan sejak kecil kepada anak-anak kita. Malu untuk
  melakukan perbuatan mungkar dan perbuatan maksiat. Malu ketika tidak menutupi aurat,
  malu ketika tidak shalat dan lain-lain. Rasulullah menjelaskan dalam hadis yang diriwayatkan
  oleh Tirmidzi: “Malulah kepada Allah dengan sebenar-benar malu. Kami sekalian lalau
  berkata: Kami memang malu kepada Allah ya Rasulullah. Alhamdulillah. Lalu Rasul berkata
  lagi: Bukan itu yang kumaksudkan. Malu kepada Allah dengan benar-benar malu itu ialah;
  engkau memelihara kepala dan apa yang disedarkannya, engkau memelihara perut dan apa
  yang disi ke dalamnya, engkau mengingati maut serta hancur luluhnya, dan barang siapa yang
  menginginkan akhirat, dia tinggalkanlah perhiasan duniua dan dia mengutamakan akhirat
  daripada dunia; dan barangsiapa yang melakukan yang demikian, barulah dikatakan malu
  kepa Allah dengan sebenar-benar malu.”
2. Menanamkan sikap lemah lembut, lapang dada dan sabar
  Akhlak mulia yang perlu ditanamkan dalam pergaulan anak adalah sikap lembut, tidak keras
  dan tidak kasar, lapang dada atau pemaaf dan sabar. Sifat-sifat yang lebih memperturutkan
  amarah harus kita jauhi. Tidak sedikit orang terjerumus ke dalam dosa karena selalu
  mengikuti amarah, namun lebih banyak lagi orang yang sukses karena mampu mengendalikan
  emosinya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Jadilah engkau pemaaf, perintahkanlah

      7   Mencetak generasi islami melalui pendidikan akhlakul karimah (islamic character education)
  orang-orang untuk berbuat baik, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”(Q.S Al-
  A’raf :199). Pada ayat lain, “Dan hamba-hamba Allah yang Maha Pemurah (yaitu) orang-
  orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan jika orang-orang bodoh menyapa
  mereka, mereka mengucapkan perkataan yang baik.”(Q.S Al-Furqan:63). Dalam hadis dari
  Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu lembut dan menyukai
  kelembutan. Dia memberi kepada orang yang lembut apa yang tidak Dia berikan kepada
  orang yang keras, dan apa yang tidak Dia berikepada orang selainnya.”(H.R Muslim)
3. Menanamkan amalan-amalan yang baik
  Pembiasaan kepada anak menanamkan amalan-amalan yang baik, cinta kebersihan, rajin
  bersyukur, shalat malam, puasa sunnah dan lain-lain akan membuat mereka senantiasa
  menjaga diri dari keburukan dan kebokbrokan moral.
4. Menanamkan rasa hormat dan kasih sayang
  Rasa hormat kepada orang tua atau orang yang lebih tua mengasihi dan menyayangi orang
  yang masih muda akan membuat anak kita mudah menempatkan diri dimanapun mereka
  berada.
5. Menanamkan sifat jujur dan amanah
  Rasulullah SAW terkenal dengan sifat jujur dan amanahnya. Gelar yang beliau peroleh dari
  masyarakat quraisy pada waktu itu adalah Al-Amin orang yang dapat dipercaya. Sifat jujur
  dan amanah, akhlak ini membawa kita mendapatkan penghargaan yang besar dari orang lain
  berupa kepercayaan.Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
  menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…”(Q.S An-Nisa:58)
6. Menanamkan disiplin dan tanggungjawab
  Ketertinggalan umat islam saat ini dikarenakan rendahnya kedisiplinan dan kurangnya
  tanggungjawab terhadap kewajiban. Anak kita harus didik dan dibiasakan untuk berdisiplin
  mematuhi segala aturan-selama aturan itu tidak melanggar syara’ berdedikasi tinggi dan
  memiliki tanggungjawab (responsibility).
       Pada dasarnya semua kebaikan-kebaikan yang menurut parameter akal dan parameter
agama dikatakan baik dan tidak buruk maka semuanya wajib kita ajarkan kepada anak -anak kita.
Namun, alangkah baiknya jika dalam mengajarkannya mengikuti cara-cara yang Rasulullah
SAW telah ajarkan (mengikuti sunnah).



      8   Mencetak generasi islami melalui pendidikan akhlakul karimah (islamic character education)
Implementasi Pendidikan Akhlakul Karimah (Islamic Character Education) di Sekolah Al-
Jannah
          Sekolah alam dan sains Al-Jannah merupakan sekolah yang mempunyai konsep
menggabungkan tiga komponen utama dalam pembelajaran yaitu alam, sains dan agama. Ketiga
komponen ini menjadi landasan dalam proses pembelajaran. Sesuai dengan visi sekolah Al-
Jannah yakni m ewujudkan generasi islami yang cinta alam dan unggul dalam sains dan
teknologi 5. Dengan misinya:
1. Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
2. Menjadikan alam sebagai sumber pembelajaran.
3. Melaksanakan pendidikan berbasis ICT
4. Mencitakan situasi sekolah yang kondusif dan terbinannya masyarakat sekolah yang
     berempati, kritis, kreatif, inovatif dan berakhlak.
5. Mampu bersaing dalam bidang sains dan teknologi pada nasional dan internasional.

          Sekolah Al-Jannah dalam visi serta misinya sudah mendeskripsikan akan kebutuhan
dunia pendidikan dewasa ini dan masa yang akan datang. Perkembangan dunia modern khusunya
bidang teknologi informasi dan komunikasi dijadikan landasan penting dalam kurikulum
sekolah. Menjadikan alam sebagai salah satu sumber pembelajaran merupakan potensi besar bagi
siswa untuk lebih mengenal alam beserta unsur-unsur di dalamnya. Kemajuan dunia sains
diantisipasi dengan pembelajaran sains yang lebih aplikatif dalam kurikulum sains terapan.
Maka, lengkap sudah semua kebutuhan siswa akan ilmu pengetahuan dapat terpenuhi dalam
porsi yang cukup besar.
          Namun, dari semua itu sekolah Al-Jannah memiliki kelebihan daripada sekolah-sekolah
lain. Kelebihan itu adalah adanya muatan kurikulum agama yang terintegrasi. Sekolah Al-Jannah
tampaknya menyadari bahwa pendidikan itu harus menyeimbangkan potensi otak dengan kalbu,
potensi jasmani dan rohani. Sehingga, siswa tidak hanya dijejali dengan pelajaran-pelajaran
keduniawian tetapi juga keakhiratan.
          Pernah suatu waktu saya bertanya kepada salah seorang orang tua murid siswa Al-Jannah
tentang latarbelakang menyekolahkan anaknya ke Al-Jannah, dan jawabannya bahwa salah satu
alasan mengapa beliau menyekolahkan anaknya ke Al-Jannah karena tertarik dengan kurikulum
islam dengan istilah Al-Jannah itu sekolah islam. Dan mungkin sepertinya tidak hanya beliau
5
    www.sekolah-aljannah.com
         9   Mencetak generasi islami melalui pendidikan akhlakul karimah (islamic character education)
saja yang mengungkapkan seperti itu tetapi banyak lagi orang tua siswa yang lain yang
menyekolahkan anaknya karena lasan yang sama. Sepertinya hal ini merupakan sebuah potensi
sekaligus kepercayaan besar bagi Al-Jannah untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas
pembelajaran agama.
         Permasalahannya sekarang, bagaimana cara meningkatkan kualitas pembelajaran agama
di Al-Jannah? Salah satu konsep yang sepertinya dapat menjawab permasalahan ini adalah
dengan penanaman karakter-karakter islami dalam diri siswa (islamic character building) atau
mengedepankan pembelajaran akhlakul karimah. Karena kita tahu bahwa agama itu bersifat
aplikatif dan dapat dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari.
         Kalau saya perhatikan sampai saat ini sekolah Al-Jannah belum menyentuh pada bagian
ini. Kekuatan akhlak belum dibangun secara maksimal. Sabda Rasulullah SAW, “Iman orang-
orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya.” (H.R Tirmidzi).
Dalam hadis lain, “Amal yang paling berat dalam timbangan seorang mukmin (pada hari kiamat)
adalah akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah SWT sangat membenci orang yang jelek
perangainya dan orang-orang yang kotor ucapannya.”(H.R Bukhari, Tirmidzi).
         Membangun pondasi akhlak dapat dilakukan dengan cara memberikan kurikulum khusus
Al-Jannah materi pembelajaran akhlakul karimah. Dalam sesi pembelajaran itu dapat jelaskan
keutamaan-keutamaan akhlak, bagaimana akhlak rasulullah saw, dan para sahabat, konsep-
konsep akhlakul karimah, dan lain-lain. Dan materi-materi akhlak itu harus mengedepankan
prinsip-prinsip dari yang mudah ke yang sulit, dari yang dekat ke yang jauh, dari dari hal-hal
kecil kepada yang besar dan terutama konsep aplikasi dalam kehidupan keseharian siswa.
         Dengan pembelajaran akhlakul karimah siswa didik untuk membiasakan berprilaku dan
bersikap dengan akhlak mulia (akhlak islami) yang akan mereka terapkan dimanapun mereka
berada. Dalam sistem evaluasi, tentunya pembelajaran akhlak ini berbeda dengan materi-materi
pelajaran yang lain. Sistem evaluasi yang dapat dilakukan yaitu semacam rubrik penilaian
tentang sikap-sikap keseharian anak dinilai oleh orang tua selaku assesor di rumah dan guru
selaku asessor di sekolah. Sistem evalusi dilakukan secara berkala dan dilaporkan secara berkala
pula.
         Semoga dengan membangun kekuatan akhlak ini (islamic character), dapat mengatasi
permasalahan yang selama ini terjadi pada bangsa kita yaitu permasalahan yang “super” besar
masalah dekadensi moral. Dan khususnya bagi lingkungan Al-Jannah akan terwujudnya sebuah

        10   Mencetak generasi islami melalui pendidikan akhlakul karimah (islamic character education)
peradaban madani seperti yang pernah terjadi beberapa abad silam di kota Madinah yaitu suatu
peradaban yang beradab, berakhlak mulia, cerdas dan unggul yang menjadi barometer bagi dunia
pendidikan islam khususnya. Semoga!




     11   Mencetak generasi islami melalui pendidikan akhlakul karimah (islamic character education)
                                           DAFTAR PUSTAKA


Al-Qur’an dan Terjemahnya.
Abd. Bin Nuh dan Oemar Bakry (2003), Kamus Arab-Indonesia-Inggris, Mutiara Sumber
      Widya, Jakarta.

Abdullah Nasih Ulwan, (1995), Pendidikan Anak-anak Dalam Islam, Pustaka Nasional PTE
LTD, Singapura Ali Abdul Halim,DR.,(1998), Fiqih Responsibilitas, Gema Insani, Jakarta.
Abdul Halim Fatani, Pendidikan Simbol Peradaban, dalam
http://www.penulislepas.com/v2/?p=206 diunduh tgl. 12 Mei 2009

Ahmad Masruri, Pendidikan Berdasar Akhlakul Karimah, dalam http://smkn1-purwodadi.net
     diunduh tgl. 10 Mei 2009

Ahmad Tafsir,DR.,(1991), Ilmu Pendidikan Dalam Prespektif Islam, Rosda, Bandung.
Hujair Ah. Sanaky, Bagaimana Strategi Pendidikan Islam, dalam
http://sdmatr.wordpress.com/2007/11/02/bagaimana-strategi-pendidikan-islam diunduh tgl. 10
Muhammad Al-Hamid, (2000), Kesalahan Mendidik Anak, Gema Insani, Jakarta.
Mustakim,Drs. (2008), Kamus Besar Bahasa Indonesia Bergambar, Pacu Minat Baca, Depok.

Yusuf Qardawi,DR., (1998), Sunnah Rasul Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Gema
      Insani, Jakarta.




     12   Mencetak generasi islami melalui pendidikan akhlakul karimah (islamic character education)

								
To top