Membangun Kekuatan ukhuwah by salmaghaliza

VIEWS: 2,081 PAGES: 14

									                        Membangun Kekuatan Ukhuwah Islamiyah
                                             Oleh : Ali Nurdin


          Belum luput dari ingatan kita, ketika terjadinya musibah gelombang tsunami yang
menyapu wilayah Aceh tahun 2004 lalu yang menewaskan lebih dari seribu orang. Gempa
bumi yang melanda daerah Yogyakarta dan sekitarnya tahun 2006, atau tragedi jebolnya
tanggul Situ Gintung1 yang terjadi di kampung Cirendeu Tangerang-Banten beberapa bulan
yang lalu. Atau bahkan musibah-musibah yang lainnya yang pernah menimpa tanah air kita
mulai dari longsor, banjir, angin kencang dan sebagainya.
          Seperti sudah menjadi langganan negeri ini, segala bentuk bencana terus menerus
melanda kita seperti tidak ada hentinya. Dari satu musibah ke musibah yang lain datang silih
berganti. Namun, tidak kah kita merenung sejenak memikirkan hikmah dibalik berbagai
bencana tersebut. Ya, dibalik semua tragedi kemanusiaan itu terselip sebuah hikmah yang
amat besar bagi kita. Hikmah tersebut adalah rasa kemanusiaan dan kepeduliaan.
          Tatkala bencana terjadi, seperti sebuah sistem yang berjalan secara otomatis berbagai
elemen masyarakat berduyun-duyun memberikan sumbangan dalam berbagai bentuk. Ada
yang yang menyumbangkan bahan makanan, pakaian, obat-obatan, dan uang. Posko bencana
Situ Gintung di Kampus UMJ beberapa waktu yang lalu mencatat sumbangan berupa uang
terkumpul hampir 250 juta lebih2. Bukankah hal ini mengindikasikan bahwa penduduk negeri
ini adalah penduduk yang mempunyai rasa kepedulian yang besar terhadap sesama?
          Boleh jadi seperti itu, Masyarakat kita pada hakikatnya mempunyai rasa persaudaraan
dan solidaritas yang yang tinggi. Tidak jarang, setiap penyumbang tidak pernah berpikir
apakah yang mereka sumbang itu saudaranya yang se-agama atau berlainan agama. Namun,
yang jelas bagi mereka turut membantu orang yang terkena bencana merupakan kewajiban
kemanusiaan.


Definisi Ukhuwah
          Berangkat dari fenomena di atas, seandainya kita perhatikan terdapat faktor penting
yang melatarbelakangi besarnya animo masyarakat dalam memberikan sumbangan terhadap
para korban bencana alam, faktor tersebut adalah rasa solidaritas atau persaudaraan antar
sesama.

1
    Koran Republika, 27 Maret 2009 “Tragedi Situ Gintung”
2
    Koran Republika, 1 April 2009 “Bantuan Terus Berdatangan”
                                                        membangun kekuatan ukhuwah islamiyah 1
          Dalam ajaran agama islam, persaudaraan identik dengan istilah ukhuwah. Diambil dari
kata “akh/ukh” artinya teman akrab/sahabat/saudara. Sedang dalam kamus besar Bahasa
Indonesia bergambar hal. 786, kata ukhuwah berarti persaudaraan3. Berasal dari kata saudara
(kata benda), dengan imbuhan per-an menjadi persaudaraan (kata sifat).
            Dalam Wawasan Al Qur'an, Dr. Quraish Shihab menulis bahwa ukhuwah
(ukhuwwah) yang biasa diartikan sebagai "persaudaraan" terambil dari akar kata yang pada
mulanya berarti "memperhatikan". Makna asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan
mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara.4
          Lebih lanjut beliau mengatakan perhatian itu pada mulanya lahir karena adanya
persamaan di antara pihak-pihak yang bersaudara, sehingga makna tersebut kemudian
berkembang, dan pada akhirnya ukhuwah diartikan sebagai "setiap persamaan dan keserasian
dengan pihak lain, baik persamaan keturunan, dari segi ibu, bapak, atau keduanya, maupun
dari segi persusuan". Secara majazi kata ukhuwah (persaudaraan) mencakup persamaan
salah satu unsur seperti suku, agama, profesi, dan perasaan.


Makna Ukhuwah
          Kata ukhuwah seringkali menempel atau bergandengan dengan kata islamiyah.
Bahkan kedua kata ini seakan-akan sudah menjadi istilah tersendiri yang sering disebut-sebut
oleh kebanyakan orang ketika menyampaikan pidato atau cermah. Untuk lebih memperjelas
arti kedua kata tersebut sedikit saya singgung mengenai definisinya.
           Selama ini ada kesan bahwa istilah ukhuwah islamiyah bermakna persaudaraan yang
dijalin oleh sesama muslim atau dengan kata lain persaudaraan antar sesama muslim.
Sehingga dengan demikian, kata "Islamiyah" dijadikan pelaku ukhuwah itu. Pemahaman ini
kurang tepat.
          Menurut Dr. Quraish Shihab, kata islamiyah yang dirangkaikan dengan kata ukhuwah
lebih tepat dipahami sebagai adjektifa (kata sifat), sehingga            ukhuwah Islamiyah berarti
persaudaraan yang bersifat Islami atau yang diajarkan oleh Islam. Paling tidak, ada dua alasan
untuk mendukung definisi ini. Pertama, Al-Quran dan hadis memperkenalkan bermacam-
macam persaudaraan, yang tidak hanya mengajarkan persaudaraan sesama muslim. Kedua,
karena alasan kebahasaan. Di dalam bahasa Arab, kata sifat selalu harus disesuaikan

3
    Kamus Besar Bahasa Indonesia Bergambar, Drs.Mustakim,M.Hum hal.786
4
    http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Ukhuwah2.html


                                                     membangun kekuatan ukhuwah islamiyah 2
dengan yang disifatinya. Jika yang disifati berbentuk indefinitif maupun feminin, kata
sifatnya pun harus demikian. Ini terlihat secara jelas pada saat kita berkata ukhuwah islamiyah
dan al-ukhuwwah al-islamiyyah. Jadi, jelaslah sekarang bahwa ukhuwah islamiyah bukanlah
diartikan persaudaraan sesama umat islam tetapi diartikan sebagai persaudaraan yang
diajarkan oleh agama islam.5
          Allah SWT menerangkan dalam Al-Qur‟an dalam kaitannya dengan hal ini, Allah
berfirman:




Artinya: "Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah
antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (Al
Hujurat:10)
          Dalam ayat ini dijelaskan bahwa setiap manusia yang terikat dalam aqidah yang sama
yakni aqidah islam adalah bersaudara. Meskipun dengan berbagai latar belakang yang
berbeda-beda, apakah suku bangsa, bahasa, budaya, dan sebagainya tetap bersaudara dengan
istilah saudara se-aqidah (ikhwah fillah). Karena itu, Rasulullah SAW menjadikan pondasi
aqidah islamiyah yang bersumber pada Allah SWT ini sebagai asas persaudaraan yang
menghimpun hati para sahabatnya dan menempatkan semua manusia dalam satu barisan
„ubudiyah hanya kepada_Nya tanpa perbedaan apa pun kecuali ketaqwaan dan amal shaleh.
          Juga di dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar ra yang diriwayatkan Bukhari dan
Muslim, Rasulullah saw bersabda:



Artinya: "Orang muslim itu saudara bagi orang muslim lainnya. Dia tidak menzaliminya dan
tidak pula membiarkannya dizalimi."
          Agama islam memerintahkan agar setiap manusia terlebih lagi umat islam agar
senantiasa menjaga persaudaraan dan kebersamaan. Risalah islam sejak awal lahirnya telah
menunjukan betapa pentingnya menjaga persaudaraan. Dalam Sirah Nabawiyah (kisah
Rasulullah SAW) hal.101 menceritakan ketika beliau melakukan hijrah dari Mekkah ke
Madinah salah satu peristiwa penting adalah mempersaudarakan sahabat Anshor dengan
sahabat Muhajirin. Rasulullah SAW memerintahkan kepada para sahabat di Mekkah untuk

5
    http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Ukhuwah2.html


                                                      membangun kekuatan ukhuwah islamiyah 3
berhijrah ke Yatsrib (Madinah) karena situasi di Mekkah sudah tidak kondusif lagi. Para
sahabat dengan setia dan ikhlas kepada Allah SWT melakukan perintah Rasulullah SAW
untuk berhijrah dengan meninggalkan rumah, tanah air, harta kekayaan dan keluarga. Semua
itu mereka tinggalkan di Mekkah untuk menyelamatkan agamanya dan mendapatkan ganti
berupa ukhuwah yang menantikan mereka di Madinah.6
           Bagaimana halnya para penduduk Madinah yang telah memberikan perlindungan dan
pertolongan kepada mereka? Sesungguhnya mereka akan mendapatkan keselamatan di dunia
dan akhirat. Rasulullah SAW kemudian mempersaudarakan para sahabatnya dari kaum
Muhajirin       dan    Anshor      atas   dasar    kebenaran   dan   persamaan.   Rasulullah     SAW
mempersaudarakani Ja'far bin Abi Thalib dengan Mu'adz bin Jabal, Abu Bakar ash Shiddiq
dengan Kharijah bin Zuhari, Umar bin Khaththab dengan 'Utbah bin Malik, Abdurrahman bin
Auf dengan Sa‟ad bin Rabi‟dan seterusnya. Persaudaraan kedua kaum ini terbentuk berkat
adanya kekutan aqidah. Sehingga menurut Imam Hasan Al Banna ukhuwah islamiyah
merupakan keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan akidah. 7
           Begitu juga dalam sejarah Indonesia, banyak peristiwa penting yang menggambarkan
betapa besarnya peranan ukhuwah dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Momentum Sumpah
Pemuda tahun 1928 menunjukan perjuangan para pemuda dalam semangat persatuan dan
kesatuan berbagai organisasi kepemudaan. Bahkan nilai-nilai ukhuwah ditengarai sebagai
aktor dibalik keberhasilan Indonesia memproklamasikan diri sebagai negara meredeka pada
17 Agustus tahun 1945.
           Sangat besarnya makna ukhuwah sehingga Rasulullah SAW menjadikan asas
ukhuwah sebagai dasar perjuangan beliau dalam menegakan masyarakat dan negara islam.
Ukhuwah merupakan suatu fondasi untuk membangun sebuah peradaban atau negara. Karena
negara mana pun tidak akan berarti dan tegak tanpa adanya kesatuan dan dukungan umatnya.
Sementara itu, kesatuan dan dukungan tidak akan lahir tanpa adanya saling bersaudara dan
mencintai. Setiap jamaah yang tidak disatukan oleh ikatan kasih sayang dan persaudaraan
yang sebenarnya, tidak akan mungkin dapat bersatu pada suatu prinsip. Selama persatuan
yang sebenarnya tidak terwujudkan dalam suatu umat atau jamaah. Selama itu pula tidak akan
terbentuk suatu peradaban atau negara.



6
    Muhammad Said Ramadhan, Sirah Nabwiyah, hal. 95
7
    http://peradabanalternatif.multiply.com/journal/item/12.



                                                        membangun kekuatan ukhuwah islamiyah 4
Implementasi Ukhuwah Dalam Kehidupan
       Ukhuwah Islamiyah dapat diwujudkan seperti yang disabdakan Rasulullah SAW
antara lain dalam bentuk bahwa seorang muslim harus dapat mencintai muslim lain
sebagaimana ia mencintai diri sendiri. Dari Abu Hamzah Anas bin Malik RA, dari Nabi SAW
bersabda, ”Tidak beriman di antara kalian hingga mencintai saudaranya sebagaimana
mencintai dirinya sendiri”. (HR Bukhari-Muslim).
       Bahwa seorang muslim harus dapat merasakan kesulitan yang dialami muslim lain,
sebagaimana sakit pada satu anggota tubuh dirasakan oleh seluruh anggota tubuh lain.
Rasulullah SAW bersabda, “Kamu melihat orang-orang mukmin dalam saling mencintai dan
saling mengasihi seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit maka
anggota yang lain tidak bisa tidur dan demam”. (H.R Bukhari-Muslim). Bahwa seorang
muslim harus saling menyokong, sebagaimana satu bagian bangunan menyangga bagian lain.
       Rasulullah mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga persaudaraan. Cara ini mesti
dilakukan agar kita tidak tercerai berai karena kesalahan kita sendiri dalam bersikap. Di dalam
Al-qur‟an, surat Al-Hujurat ayat 9-12 Allah SWT memerintahkan agar seorang muslim tidak
memusuhi, mencaci, mengolok-olok, dan berburuk sangka kepada muslim lain.
       Mengapa hal-hal tersebut harus kita hindari? Sebesar dan sehebat apapun suatu
peradaban, apabila di dalamnya masih terdapat satu atau sebagian orang yang saling
bermusuhan maka niscaya peradaban itu akan hancur berantakan. Sebaliknya, Allah SWT
memerintahkan kepada kita agar mengutamakan sikap saling memaafkan (Q.S. An-Nuur ayat
22), saling mendoakan (Q.S. Ali Imron ayat 159) dan saling melindungi (Q.S. At-Taubah ayat
71).
       Sikap-sikap seperti itulah yang harus melandasi pola kehidupan kita. Dengan
mengembangkan sikap seperti itu maka semangat ukhuwah dan kebersamaan akan terbina
dengan erat dan terikat dengan kuat. Semua itu kita lakukan dalam rangka tawassaubil haq
dan tawasaubis sobri dalam bingkai amar ma’ruf nahyi munkar.
       Namun, perlu kita ingat persaudaraan dalam Islam menghendaki wujud nyata, yaitu
minimal pengorbanan dalam harta benda. ''Jika mereka tobat, mendirikan shalat, dan
membayar zakat, barulah mereka teman kalian seagama,'' tegas Allah SWT dalam Q.S. At-
Taubah ayat 11. Selain mengeluarkan zakat, yang harus dikeluarkan dari harta kita juga infak
dan shodaqoh (Q.S. Al-Baqarah ayat 195). Inilah yang menjadi kunci kokohnya rasa
persaudaraan.


                                               membangun kekuatan ukhuwah islamiyah 5
       Meskipun semua orang menyadari penting dan besarnya pengaruh persaudaraan dan
kebersamaan itu, namun kita juga menyadari bahwa menumbuhkan bahkan membudayakan
semangat kebersamaan itu sendiri sangat sulit. Untuk menumbuhkan semangat kebersamaan
itu membutuhkan niat, itikad baik dan kepedulian.
       Ada beberapa kiat yang dapat menumbuhkan sikap persaudaraan dan menumbuhkan
jiwa kebersamaan seperti yang diajarkan Rasululullah SAW, antara lain:
1. Membangun silaturrahmi,
2. Saling memahami dan menghormati,
3. Saling memperkokoh,
4. Saling menasehati dan mengingatkan, Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Abu Said Al-
  Khudri ra, telah bersabda Rasulullah SAW,”Janganlah sekali-kali seseorang itu menghina
  dirinya sendiri. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah!Bagaiman caranya seseorang itu
  menghina dirinya sendiri? Jawab baginda: Dia paham bahwa mesti mengatakan sesuatu,
  tetapi dia tidak mengatakannya. Maka Allah berkata kepadanya pada hari kiamat: Mengapa
  engkau tiada mengakatan begini begitu karena Aku? Lalu dijawabnya: karena saya segan,
  atau takut kepada manusia. Maka Allah berkata lagi: Sepatutnya engkau lebih berhak
  menaukit, atau menyegani Aku daripada mereka sekalian”.
5. Saling berusaha membuat kebaikan,
6. Saling menolong dalam bentuk sekecil apa pun,
7. Memohon didoakan bila berpisah. Dalam sebuah hadis, “Tidak seorang hamba mukmin
  berdo‟a untuk saudaranya dari kejauhan melainkan malaikat berkata: „Dan bagimu juga
  seperti itu (H.R Muslim)
8. Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa, “Janganlah engkau meremehkan
  kebaikan (apa saja yang datang dari saudaramu), dan jika kamu berjumpa dengan
  saudaramu maka berikanlah senyum kegembiraan kepada saudaramu itu.” (H.R Muslim).
9. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim) “Tidak ada dua orang mukmin yang
  berjumpa lalu berjabatan tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum
  berpisah.” (H.R Abu Daud)
10. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu, dari Abu Hurairah, Rasululullah SAW
    bersabda, “Saling memberi hadiahlah, karena hadiah akan menghilangkan dendam di
    dalam dada.”
11. Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya,
12. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan,

                                              membangun kekuatan ukhuwah islamiyah 6
13. Menyebarkan salam setiap bertemu, “Kamu tidak akan memasuki surga, sehingga kamu
       beriman. Dan kamu tidak akan beriman, sehingga kamu berkasih sayang. Maukah kamu
       saya tunjukan kepada sesuatu,jika kamu lakukan kamu akan berkasih sayang?,
       Sebarkanlah salam antara sesama kamu!” (H.R Muslim)
14. Berta'ziah ketika ada yang mendapat musibah, “Hak seorang muslim atas muslim yang
       lain ada lima: membalas salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, menghadiri
       undangan, serta mendo‟akan orang bersin” (H.R Bukhari-Muslim)
15. Menjenguk orang sakit, dan
16. Mendo'akan orang bersin.


Tahapan Implementasi
          Dalam rangka mewujudkan ukhuwah, ada beberapa tahapan konseptual yang perlu
diperhatikan8. Secara garis besar tahapan tersebut dapat dibagi menjadi:
1.         Tahap ta'aruf (saling mengenal)
          Ta'aruf dapat diartikan sebagai saling mengenal. Dalam rangka mewujudkan ukhuwah
Islamiyah, kita perlu mengenal orang lain, baik fisiknya, pemikiran, emosi dan kejiwaannya.
Dengan mengenali karakter-karakter tersebut, maka akan mudah bagi kita untuk
menempatkan sikap dan posisi kita terhadap orang-orang yang kita kenal.
Dalam Surat Al Hujurat, Allah berfirman:




Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah
orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Mengenal." (Q.S Al-Hujurat:13)
2.         Tahap tafahum (saling memahami)
          Pada tahap tafahum (saling memahami), kita tidak sekedar mengenal sifat-sifat
saudara kita, tapi terlebih kita berusaha untuk memahaminya. Sebagai contoh jika kita telah

8
    http://peradabanalternatif.multiply.com/journal/item/12



                                                        membangun kekuatan ukhuwah islamiyah 7
mengetahui tabiat seorang rekan yang biasa berbicara dengan nada keras, tentu kita akan
memahaminya dan tidak menjadikan kita lekas tersinggung. Juga apabila kita mengetahui
tabiat rekan lain yang sensitif, tentu kita akan memahaminya dengan kehati-hatian kita dalam
bergaul dengannya. Perlu diperhatikan bahwa tafahum ini merupakan aktivitas dua arah. Jadi
jangan sampai kita terus memposisikan diri ingin difahami orang tanpa berusaha untuk juga
memahami orang lain.
3.     Tahap ta'awun (saling menolong)
       Ta'awun atau tolong-menolong merupakan aktivitas yang sebenarnya secara naluriah
sering (ingin) kita lakukan. Manusia normal umumnya telah dianugerahi oleh perasaan 'iba'
dan keinginan untuk menolong sesamanya yang menderita kesulitan. Hanya saja derajat
keinginan ini berbeda-beda untuk tiap individu.
Dalam surat Al Maidah, Allah berfirman:




Artinya: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada
Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (Q.S Al-Maaidah:2)
       Dalam hadis Rasulullah SAW bersabda:



Artinya: "Dan Allah akan selalu siap menolong seorang hamba selama hamba itu selalu siap
menolong saudaranya."
       Juga dalam hadits Ibnu Umar, disebutkan bahwa siapa yang memperhatikan
kepentingan saudaranya itu maka Allah memperhatikan kepentingannya, dan siapa yang
melapangkan satu kesulitan terhadap sesama muslim maka Allah akan melapangkan satu dari
beberapa kesulitannya nanti pada hari kiamat, dan barangsiapa yang menyembunyikan rahasia
seorang muslim maka Allah menyembunyikan rahasianya nanti pada hari kiamat.
       Dalam hal ini kita perlu memperhatikan hadis shahih dari Anas bin Malik ra, bahwa
Rasulullah saw bersabda:




                                                  membangun kekuatan ukhuwah islamiyah 8
Artinya: "Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi." Aku bertanya, "Ya
Rasulullah, menolong orang yang dizalimi dapatlah aku mengerti. Namun, bagaimana dengan
menolong orang yang berbuat zalim?" Rasulullah menjawab, "Kamu cegah dia agar tidak
berbuat aniaya, maka itulah pertolonganmu untuknya."
         Jadi, kita seharusnya berterima kasih jika ada yang menegur kita, bahkan mencegah
kita dengan kekuatan manakala kita sedang berbuat kesalahan. Karena hal itu pada
hakekatnya merupakan sebuah pertolongan orang lain kepada kita. Jika kita dibiarkan saja
maka kita selamanya akan berada dalam kelalaian itu.


4.       Tahap takaful (saling mencukupi)
         Pada tahap takaaful", di sinilah level yang tertinggi. Setelah kita saling mengenal,
kemudian saling memahami, akhirnya kita bisa saling mencukupi. Allah SWT memerintahkan
kepada kita:"....Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa, dan
janganlah kamu tolong-menolong dalam mengerjakan dosa dan pelanggaran hukum...." (Q.S.
Al-Maidah 2).
         Takaful ini akan melahirkan perasaan senasib dan sepenanggungan. Di mana rasa
susah dan sedih saudara kita dapat kita rasakan, sehingga dengan serta merta kita memberikan
pertolongan. Dalam sebuah hadits Rasulullah mengibaratkan orang beriman yang bersaudara
sebagai satu tubuh.
Dalam hadits:




Artinya: "Perumpamaan orang-orang beriman di dalam kecintaan, kasih sayang, dan
hubungan kekerabatan mereka adalah bagaikan tubuh. Bila salah satu anggotanya mengaduh
sakit maka sekujur tubuhnya akan merasakan demam dan tidak bisa tidur."
         Unsur pokok di dalam ukhuwah adalah mahabbah (kecintaan), yang terbagi dalam tiga
tingkatan:
a.   Tingkatan terendah adalah salamus shadr (bersihnya jiwa) dari perasaan hasud, membenci,
     dengki dan sebab-sebab permusuhan/pertengkaran. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh
     Bukhari Muslim, Rasulullah saw bersabda bahwa tidak halal bagi seorang muslim
     mendiamkan saudaranya selama tiga hari, yang apabila saling bertemu maka ia berpaling,


                                               membangun kekuatan ukhuwah islamiyah 9
     dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai dengan ucapan salam. Juga
     dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah saw bersabda bahwa ada
     tiga orang yang shalatnya tidak diangkat di atas kepala sejengkal pun, yaitu seorang yang
     mengimami suatu kaum sedangkan kaum itu membencinya, wanita yang diam semalam
     suntuk sedang suaminya marah kepadanya, dan dua saudara yang memutus hubungan di
     antara keduanya.
b.        Tingkatan berikutnya adalah cinta berdasarkan aqidah islam. Di mana seorang muslim
     diharapkan mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, seperti dalam hadits:
     "Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti
     mencintai dirinya sendiri." (HR muttafaq alaihi)
c.        Tingkatan yang tertinggi adalah itsar, yaitu mendahulukan kepentingan saudaranya
     daripada kepentingan sendiri. Ini merupakan tingkatan yang paling tinggi karena setiap
     muslim dituntut untuk lebih mengutamakan kepentingan saudaranya. Patut kita mengingat
     kisah-kisah para sahabat yang lebih mendahulukan memberikan bantuan kepada
     saudaranya daripada dirinya sendiri meskipun dia sendiri juga membutuhkan bantuan.


Implementasi Nilai-nilai Ukhuwah di Lingkungan Al Jannah
          Menerapkan nilai-nilai ukhuwah dan kebersamaan dalam keseharian kita sebagai
pendidik merupakan tugas utama yang selalu harus selalu kita upayakan. Apalagi berada di
sebuah lingkungan yang notabene merupakan kawasan pendidikan islam seperti di Al Jannah
Islamic Fullday School.
          Al Jannah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal dengan cita-citanya
menciptakan masyarakat madani melalui pendidikan unggul berdasarkan Al-Qur‟an dan As-
Sunnah9 yang tercermin dalam visi serta misinya merupakan institusi yang berkepentingan
mewujudkan semangat kebersamaan.
          Mencermati keragaman segenap aspek,terutama latar belakang guru dan karyawan-
yang ada di sekolah alam dan sains Al Jannah, sebenarnya merupakan suatu potensi besar
bagi terwujudnya jalinan ukhuwah yang kokoh. Mengapa demikian? Pluralitas bukanlah
menjadi hambatan tetapi sebuah peluang guna membangun kebersamaan. Hal tersebut
membuktikan bahwa perbedaan-perbedaan sengaja diciptakan oleh Allah SWT agar manusia
berpikir bagaimana mempersatukan perbedaan-perbedaan yang ada tersebut.

9
    www.sekolah-aljannah.com

                                                 membangun kekuatan ukhuwah islamiyah 10
       Untuk membangun ukhuwah dan semangat kebersamaan, maka elemen-elemen yang
terdapat di dalamnya terlebih dahulu harus dapat menyamakan persepsi, menyamakan visi
dan misi serta konsep yang utuh. Sehingga nantinya tidak akan timbul salah persepsi dan
salah paham.
       Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rangka membangun ukhuwah yaitu:
1. Adanya konsepsi makna kebersamaan yang hendak dibangun tersebut.
2. Adanya upaya yang dilakukan dan kerja yang dinyatakan atau diwujudkan.
3. Adanya sikap-sikap saling menghormati, saling menolong dan menjauhi sikap egosentris.
4. Adanya konsekuensi.
5. Pembudayaan
       Untuk membangun ukhuwah dan kebersamaan tidak ada lagi rujukan yang utama
selain Al-Qur‟an dan Hadis. Banyak ayat-ayat dan hadis-hadis yang menjelaskan bagaimana
setiap orang itu harus bersikap dan bertindak-sesuai dengan yang telah saya jelaskan di atas.
       Selain dari yang telah dijelaskan seperti di atas, secara khusus untuk di lingkungan Al-
Jannah, cara membangun nilai-nilai ukhuwah dan kebersamaan dapat dilakukan sebagai
berikut:
1. Membuat program kerja baik yayasan maupun pimpinan sekolah yang berorientasi
    kebersamaan, seperti family gathering, rekreasi, makan bersama, dan lain-lain.
2. Membuat kelompok-kelompok diskusi/kajian atau halaqoh tadarusan.
3. Menciptakan pembiasaan shalat di mesjid berjamaah.
4. Mengadakan pengajian-pengajian guru dan karyawan.
5. Program kunjungan guru dan karyawan (home visit).
6. Melakukan ta‟ziyah dan pemberian sumbangan pada keluarga guru atau karyawan yang
    ditimpa musibah.
7. Aktivitas olahraga bersama secara rutin.
8. Membangun hubungan (personal) diantara guru dan karyawan yang ideal.
       Dari semua itu yang utama adalah kembali kepada masing-masing individu agar
senantiasa menjadi teladan yang baik bagi siapapun. Bukanlah suatu hal yang mustahil
apabila Al Jannah ke depan akan menjadi sebuah miniatur lembaga yang membangun citra
islam melalui konsep pendidikan ukhuwah, uswah hasanah dan akhlakul karimah dari seluruh
elemen yang ada di dalamnya. Semoga!
       Terakhir saya hanya ingin mengajak kita untuk merenungkan ayat berikut:


                                               membangun kekuatan ukhuwah islamiyah 11
       Artinya: "Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman).
Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak
dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana." (Al Anfaal:63)
       Semoga Allah menyatukan hati-hati kita, menjadikan kita saling mencintai karena Dia.
Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi Rasululllah saw bersabda: "Di
sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya
dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para nabi atau syuhada. Para
nabi dan syuhada iri kepada mereka. Ketika ditanya para shahabat, Rasulullah menjawab,
"Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena
Allah dan saling kunjung karena Allah."




                                             membangun kekuatan ukhuwah islamiyah 12
                                   DAFTAR PUSTAKA


1. Al-Qur‟an dan Terjemahnya

2. Abd. Bin Nuh dan Oemar Bakry (2003), Kamus Arab-Indonesia-Inggris, Mutiara Sumber
        Widya, Jakarta.

3. Abu Zahra, Peradaban Alternatif, dalam
        http://peradabanalternatif.multiply.com/journal/item/12 diunduh tgl. 5 Mei 2009.

4. Muhammad Sa‟id Ramadhan,Dr.(1999), Sirah Nabawiyah, Robbani Press, Jakarta.

5. Musthafa Dieb Al-Bugha,Dr. dan Syaikh Muhiddin Mistu,(2002), Al-Wafi Syarah Hadits
        Arba’in Imam Nawawi, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.

6. Mustakim,Drs. (2008), Kamus Besar Bahasa Indonesia Bergambar, Pacu Minat Baca,
         Depok.
7. Prof.DR. Qurais Syihab, wawasan Al-Qur‟an, dalam
         http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Ukhuwah2.html diunduh tgl. 5 Mei
         2009.

8. Republika    04    Januari    2009,    Makna      Ukhuwah      Dalam     Islam,    dalam
        http://www.integral.sch.id diunduh tgl. 15 Mei 2009.

9. Ukki, Ukhuwah Islamiyyah, dalam http://ukiunsoed.blogspot.com diunduh tgl. 5 Mei 2009

10. Yusuf Qardawi,DR., (1998), Sunnah Rasul Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban,
         Gema Insani, Jakarta.




                                              membangun kekuatan ukhuwah islamiyah 13
membangun kekuatan ukhuwah islamiyah 14

								
To top