daur ulang

Document Sample
daur ulang Powered By Docstoc
					DAUR - ULANG SAMPAH ANORGANIK & PEMBERDAYAAN PEMULUNG
I. PENDAHULUAN

Masalah sampah di daerah perkotaan terutama yang memiliki laju pertumbuhan penduduk yang pesat dan tinggi pengembangan kegiatannya, patut menjadi perhatian serius mengingat berbagai macam gangguan lingkungan yang dapat ditimbulkannya. Selain kurangnya kemampuan pemerintah daerah dalam mengelola sampah, masalah sampah antara lain juga disebabkan oleh kecenderungan masyarakat kota yang memiliki gaya hidup konsumtif. Mereka, terutama masyarakat kelas menengah ke atas lebih memilih untuk membeli barang dengan kemasan yang bagus tetapi sulit didaur-ulang. Sehingga di daerah permukiman biasanya didominasi oleh sampah kemasan dibanding dengan sampah organiknya. Pada umumnya pandangan masyarakat terhadap sampah sampai saat ini adalah sebagai sisa kegiatan manusia yang tidak bermanfaat dan cenderung harus dibuang. Seringkali mereka rela membayar mahal agar rumahnya bebas dari sampah, membuangnya jauh-jauh dari rumah tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi kemudian. Upaya 3 M (Mengurangi, Menggunakan kembali, dan Mendaurulang) belum terlalu disadari oleh masyarakat, dan menganggap bahwa tanggung-jawab kebersihan lingkungan berada di tangan Pemerintah Kota. Di Indonesia, terutama di kota-kota metropolitan dan besar, upaya mendaur-ulang sampah anorganik yang dilakukan oleh laskar mandiri (pemulung) sungguh sangat mengesankan. Hal ini diakui pula oleh beberapa negara yang mengamati cara kerja pemulung di Indonesia seperti Jerman dan Jepang. Sebagai contoh, di Jakarta pada tahun 1988 lebih dari 21.000 m3 sampah dihasilkan per hari, 25% di antaranya atau 2.000 ton berhasil didaur-ulang oleh sekitar 37.000 pemulung. Pada tahun tersebut, pemulung Jakarta telah memasok sekitar 20.000 ton kertas bekas kepada 11 pabrik kertas, dan menyediakan 90% dari bahan mentah kelas dua dalam industri tersebut. Pada tahun 1994 paling sedikit 78 pabrik di Jabotabek memanfaatkan barang bekas dari plastik, kertas, kaca dan logam. Daur-ulang kaca dan kertas mencapai 60-80%. Berdasarkan studi PPLH-ITB, tahun 1988 di Bandung sekitar 5-15% sampah anorganik berhasil diserap oleh pemulung untuk didaur-ulang menjadi bahan baku industri. Di Surabaya, sesuai dengan laporan JICA (1992), sampah anorganik yang berhasil didaur-ulang oleh pemulung berkisar 17% dari total timbulan sampah.

1
PEMBERDAYAAN PEMULUNG

II.

KEUNTUNGAN DAUR-ULANG SAMPAH ANORGANIK

Selain membantu penanganan sampah di perkotaan, upaya daur-ulang sampah anorganik yang dilakukan pemulung di Indonesia memiliki beberapa fungsi dalam aspek lingkungan dan ekonomi yang seringkali diabaikan oleh berbagai pihak. A. Aspek Lingkungan 1. Penghematan Sumber Daya Alam Pemenuhan bahan baku pabrik dari hasil pemulungan sampah menyebabkan penggunaan bahan baku yang berasal dari alam menjadi berkurang dan dapat ditekan. Selanjutnya bahan baku dari alam dapat digunakan untuk proses produksi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Sebagai contoh, setiap ton daur-ulang baja dapat menghemat 1,5 ton biji besi dan 3,6 barel minyak atau menghemat 67% energi. 2. Pengurangan Pencemaran Lingkungan

Beberapa keunggulan daur-ulang sampah anorganik yang berkaitan dengan penanggulangan pencemaran lingkungan antara lain adalah sebagai berikut: a. Mendaur-ulang 1 ton kertas koran akan menyelamatkan 17 pohon dan menggunakan kertas daur-ulang dapat mengurangi 74% pencemaran udara, 34% pencemaran air, dan menghemat energi hingga 67%. Usaha daur-ulang sampah anorganik seperti kaca, plastik, kertas koran, kaleng, besi, dapat mengurangi tumpukan sampah kota hingga 25%.

b.

B. Aspek Ekonomi 1. Menghemat Biaya Operasional Pengelolaan Sampah Daur-ulang sampah anorganik telah terbukti dapat mereduksi biaya pengangkutan dan pembuangan akhir. Sebagai contoh, di Bandung laju daur-ulang sampah anorganik di 38 TPS yang ada adalah sekitar 37.204 kg per minggu atau 1.939.923 kg per tahun. Biaya satuan pengangkutan dan pembuangan akhir untuk setiap ton sampah di Kota Bandung adalah sebesar Rp.58.540,- dan Rp.17.700,-, maka biaya pengelolaan sampah yang dapat dihemat bisa mencapai Rp. 147 juta setiap tahun. Bila diasumsikan laju daur-ulang sampah anorganik meningkat sampai 20% dari total sampah anorganik yang masuk ke TPS, maka biaya yang dapat dihemat mencapai Rp. 379 juta per tahun.

2
PEMBERDAYAAN PEMULUNG

2. Menciptakan Lapangan Kerja Hasil studi CPIS (1988) menyebutkan bahwa seorang pemulung di Jakarta mampu mengumpulkan rata-rata 35 kg sampah per hari. Apabila penyerapan pemulung terhadap total produksi sampah kota sebesar 25%, maka di Jakarta saja yang menghasilkan sekitar 6.000 ton sampah per hari mampu menciptakan lapangan kerja di sektor informal bagi  40.000 pemulung. Selain itu kegiatan daur-ulang sampah anorganik mampu menciptakan usaha bagi pelapak, bandar dan pemasok. Dengan asumsi dasar bahwa seorang pelapak membeli dari 15,5% pemulung setiap harinya (CPIS, 1988), maka kegiatan daur-ulang sampah mampu menciptakan usaha bagi sekitar 2.500 pelapak di Jakarta, dengan keuntungan bersih yang relatif cukup besar, yaitu Rp.32.445,- setiap hari. Berikut skema alur daur-ulang sampah anorganik di Indonesia. SUMBER SAMPAH
TPS TPA

PEMULUNG

BANDAR

PEMASOK

PABRIK

Gambar 2.1. Alur Daur - PENGOLAH Ulang Sumber Sampah Anorganik di Indonesia

3
PEMBERDAYAAN PEMULUNG

3.

Menyediakan Bahan Baku Bagi Industri Daur-Ulang Sampah Hasil penyortiran sampah oleh pemulung akhirnya akan disetorkan ke pabrik pengolah bahan sampah sebagai bahan baku kelas dua. Sebagai contoh di Indonesia terdapat dua pabrik kertas berskala besar yang membutuhkan bahan baku dari sampah kertas sebesar 50 ton per hari (PT. Gunung Jaya Agung) dan 1.000 ton/hari (PT. Sinar Dunia Makmur). Dari kedua pabrik kertas tersebut, kebutuhan bahan baku yang dipasok dari pemulung mencapai 378.000 ton setiap tahun yang berarti penghematan sejumlah 6 juta pohon yang seharusnya ditebang sebagai bahan baku kertas. Dengan demikian pemulung sebagai salah satu sektor informal telah memberikan andil dalam pengembangan industri dalam fungsinya sebagai pemasok bahan baku industri daur-ulang.

III. PEMULUNG SEBAGAI TULANG PUNGGUNG DAUR-ULANG A. Permasalahan 1. Tidak adanya pengakuan dari berbagai pihak terutama Pemerintah Kota atau status hukum yang jelas terhadap usaha mereka sehingga menyebabkan profesi ini sangat rawan. Kelompok ini dianggap berstatus sosial rendah, produktivitas kerja tidak berkembang, sangat mudah dieksploatasi, disamakan dengan gelandangan/ pencuri dan mudah digantikan dengan penggunaan teknologi modern yang padat modal. Pemulung kurang memiliki akses ke pengambil keputusan setempat, peminjaman kredit, pendidikan, dan jasa pelayanan masyarakat lainnya. Pemulung memiliki tawar-menawar yang rendah dengan posisi dengan berbagai pihak, yaitu: a. Dengan pihak-pihak yang berada di atasnya dalam jalur perdagangan sampah, seperti bandar, pemasok, dan industri, sehingga porsi nilai tambah mereka menjadi kecil; b. Dengan pihak pemerintah yang mengakibatkan rendahnya akses terhadap berbagai fasilitas publik. Kegiatan pemulung belum mencakup bagian terbesar dari produksi sampah, yaitu sampah organik.

2.

3.

4.

4
PEMBERDAYAAN PEMULUNG

B. Peningkatan Peranserta Pemulung Dalam rangka mengatasi hambatan yang ada saat ini dan lebih meningkatkan peranserta sektor informal dalam penanganan sampah perkotaan telah dapat dilakukan beberapa upaya melalui proyek percontohan dengan melakukan program pembangunan pemulung antara lain: 1. Melakukan pendekatan untuk perubahan kebijakan bagi perubahan status hukum kerja para pemulung. 2. Meningkatkan citra dan status sosial para pemulung di mata masyarakat. 3. Meningkatkan posisi tawar pemulung dengan berbagai pihak. 4. Menjembatani pemulung dalam proses pengambilan keputusan setempat. 5. Mengembangkan teknologi tepat guna yang murah untuk memproses sampah. 6. Menyiapkan program pemulung dalam skala besar dalam konteks Sistem Pemulihan Sumberdaya Terpadu. Sebagai contoh beberapa program pemberdayaan pemulung telah dilakukan di tiga kota, yaitu Surabaya, Bandung dan Jakarta dengan cara dan penekanan yang berbeda. 1. Pembinaan Pemulung di Surabaya Program ini dilaksanakan oleh Dinas Kebersihan Kodya Dati II Surabaya bekerjasama dengan Yayasan Pemukiman Kita dengan tujuan untuk meningkatkan potensi pemulung sebagai salah satu aktor pengelola sampah dan mitra kerja pemerintah dengan cara antara lain memberikan pengakuan dan penghargaan kepada mereka secara terbuka. Penghargaan dan pengakuan pada profesi pemulung di Surabaya dengan jalan menyebut mereka sebagai Mitra Pasukan Kuning (MPK). Selanjutnya adalah memberikan wadah bagi berkumpul para pemulung tersebut melalui Paguyuban MPK. Pemulung yang terdaftar dalam PMPK diberi kartu identitas diri sehingga mempermudah dalam pengawasan dan pembinaan, disamping itu pemulung akan lebih memiliki kepercayaan diri dan tetap mempertahankan nama baik mereka. 2. Pembinaan Pemulung di Bandung Pembinaan pemulung di Kodya Bandung diawali dengan adanya kerjasama antara ITB dengan PD Kebersihan Kodya Bandung (PDK) dengan membentuk Kawasan Industri Sampah (KIS), dengan konsep dasar mengolah sampah dengan usaha daur-ulang dan pengomposan sedekat mungkin dengan sumber sampah. KIS dalam pelaksanaannya sangat menguntungkan, karena selain menghemat biaya
5
PEMBERDAYAAN PEMULUNG

pengangkutan dan pembuangan akhir sampah, KIS juga menyediakan lapangan kerja bagi pemulung dengan investasi dan teknologi yang murah dan tepat guna. IV. BEBERAPA UPAYA PENINGKATAN SISTEM DAUR - ULANG SAMPAH Beberapa upaya yang dapat digunakan untuk peningkatan usaha daurulang sampah perkotaan, yaitu: A. Promosikan penyuluhan untuk mendapatkan dukungan masyarakat dalam kegiatan daur-ulang dan pengurangan sampah (misalnya, meningkatkan dukungan masyarakat dengan memperkenalkan sistem insentif untuk daur-ulang sampah). B. Buat studi tentang aliran sampah (analisis karakteristik sampah), sistem daur-ulang, pasar untuk produk-produk daur-ulang, dan masalah-masalah dari kondisi yang ada. C. Beri dukungan untuk pemilahan di sumber sampah, daur-ulang, dan jaringan perdagangan melalui pertukaran informasi (khususnya informasi pasar) dan forum untuk pemerintah daerah. D. Beri kemudahan bagi pihak swasta melalui peraturan baru (memperbaharui peraturan yang ada) dalam rangka kerjasama, pinjaman lunak bagi usaha kecil, dsb. E. Bantu para pemulung dalam meningkatkan kinerjanya, misalnya dengan memperbolehkan pemulung memilah sampah di TPS dengan menyiapkan fasilitas pemilahan yang lebih praktis dan higienis. F. Menganjurkan Pemerintah Kota untuk membuat/memilih peraturan tentang reduksi sampah, misalnya reduksi kemasan, disain ulang produk, dan pemberian kode untuk plastik. G. Eksport produk daur-ulang yang dijamin tidak mengandung bahan berbahaya ke negara tetangga bila dibutuhkan dalam jumlah besar. H. Promosikan inovasi untuk menciptakan penggunaan produk-produk daur-ulang. Sebelum melaksanakan upaya-upaya di atas, tingkat daur-ulang atau potensi yang ada dari suatu kota atau wilayah harus diketahui terlebih dahulu. Hal ini disebabkan upaya-upaya di atas hanya cocok diaplikasikan bagi kota-kota dengan tingkat-tingkat daur-ulang tertentu. Misalnya, promosi tentang daur-ulang sampah tidak diperlukan bagi kota dengan potensial daur-ulang yang rendah. Bila sudah diketahui tingkat daur-ulang atau potensi daur-ulang yang ada, maka perlu ditetapkan target yang diharapkan dapat dicapai melalui kerjasama dengan sektor informal setiap tahun. Sampai saat ini di Indonesia sektor informal masih memegang peranan jaringan daur-ulang sampah anorganik, sehingga mengintegrasikan sektor informal ini ke dalam sistem pengelolaan sampah merupakan upaya yang sangat baik.

6
PEMBERDAYAAN PEMULUNG


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:25409
posted:1/8/2009
language:Indonesian
pages:6
Description: pedoman umum persampahan