KONSEP DASAR KEPERAWATAN GERONTIK

Document Sample

Shared by: dhartawinata
Stats
views:
33881
posted:
4/8/2010
language:
Indonesian
pages:
56
KONSEP DASAR KEPERAWATAN GERONTIK



PENGERTIAN

Ilmu + Keperawatan + Gerontik

•Ilmu : pengetahuan dan sesuatu yang dapat dipelajari

•Keperawatan : konsisten terhadap hasil lokakarya nasional keperawatan 1983

•Gerontik : gerontologi + geriatrik

•Gerontologi adalah cabang ilmu yang membahas/menangani tentang proses

penuaan/masalah yang timbul pada orang yang berusia lanjut.

•Geriatrik berkaitan dengan penyakit atau kecacatan yang terjadi pada orang yang berusia

lanjut.

•Keperawatan Gerontik : suatu bentuk pelayanan profesional yang didasarkan pada ilmu

dan kiat/teknik keperawatan yang berbentuk bio-psiko-sosio-spritual dan kultural yang

holistik, ditujukan pada klien lanjut usia, baik sehat maupun sakit pada tingkat individu,

keluarga, kelompok dan masyarakat.



LINGKUP PERAN DAN TANGGUNGJAWAB

Fenomena yang menjadi bdang garap keperawatan gerontik adalah tidak terpenuhinya

kebutuhan dasar manusia (KDM) lanjut usia sebagai akibat proses penuaan.

Lingkup askep gerontik meliputi:

1. Pencegahan terhadap ketidakmampuan akibat proses penuaan

2. Perawatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akibat proses penuaan

3. Pemulihan ditujukan untuk upaya mengatasi kebutuhan akibat proses penuaan

Dalam prakteknya keperawatan gerontik meliputi peran dan fungsinya sebagai berikut:

1. Sebagai Care Giver /pemberi asuhan langsung

2. Sebagai Pendidik klien lansia

3. Sebagai Motivator

4. Sebagai Advokasi

5. Sebagai Konselor

Tanggung jawab Perawat Gerontik

1. Membantu klien lansia memperoleh kesehatan secara optimal

2. Membantu klien lansia untuk memelihara kesehatannya

3. Membantu klien lansia menerima kondisinya

4. Membantu klien lansia menghadapi ajal dengan diperlakukan secara manusiawi

sampai dengan meninggal.

Sifat Pelayanan Gerontik

1. Independent (layanan tidak tergantung pada profesi lain/mandiri)

2. Interdependent

3. Humanistik (secara manusiawi)

4. Holistik (secara keseluruhan)

Model Pemberian Keperawatan Profesional

1. Model Asuhan

2. Model Manajerialberkaitan pada pengaturan/manajemen

Model asuhan yang sesuai masih dalam penelitian…………………………………

Diterima sementara ini “Ad an Adaptation Model of Nursing” (Sister Calista Roy)

PENDAHULUAN UMUM

Gerontologi

adalah bidang studi yang mempelajari aspek sosial, psikologi dan biologi dari proses

penuaan. Hal ini berbeda dengan geriatri, yang merupakan cabang dari ilmu kedokteran

yang mempelajari penyakit pada lanjut usia (lansia). Istilah geriatri ini berasal dari bahasa

Yunani geron yang berarti “orang tua” dan iatros yang berarti “penyembuh” alias dokter

atau dukun

Meski ilmu ini sudah diperkenalkan sejak 1909, namun perkembangannya tidak sepesat

ilmu kedokeran yang lain. Katakanlah ilmu biologi molekuler, saat ini sebagian

universitas terkenal di negeri ini “demam” dengan ilmu tersebut. Bisa jadi, penghargaan

kita terhadap generasi pendahulu kita perlu diperbaharui.

Konotasi “jompo” atau orang yang tidak berdaya, amat lekat pada lansia. Barangkali, bila

semakin banyak kelompok lansia yang cukup kaya untuk membiayai kesehatannya, ilmu

geriatri ini akan lebih berkembang

Di Amerika, ahli geriatri adalah dokter keluarga atau dokter penyakit dalam yang

memperoleh pelatihan sesuai kualifikasi ilmu geriatri. Pada pokoknya, dokter untuk

lansia ini bekerja di level komunitas. Sedangkan di Inggris, sebagian besar ahli geriatri

adalah ahli geriatri yang bekerja di rumah sakit, meskipun memiliki perhatian pula

terhadap geriatri komunitas. Pelayanannya meliputi pelayanan orthogeriatrics (fokus pada

osteoporosis dan penanganan komplikasinya), psychogeriatrics (fokus pada demensia dan

depresi pada geriatri) dan rehabilitasi.

Di Indonesia memiliki sejarah yang kurang lebih sama. Adalah Prof Supartondo, ahli

penyakit dalam yang merintis bidang ini. Guru besar FKUI ini, merekrut ahli penyakit

dalam dari berbagai divisi seperti reumatologi (Prof Harry Isbagio), pulmonologi (dr

Asril Bahar), kardiologi (Prof) dan ginjal hipertensi (Dr Suhardjono) untuk membangun

divisi Geriatri. Saat ini sudah ada 2 orang ahli geriatri di FKUI yang secara khusus

mendalami bidang ini, Dr. Czeresna Heriawan dan Dr. Siti Setiati

Perkembangan IPTEK memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan yang terlihat

dari angka harapan hidup (AHH) yaitu:

AHH di Indonesia

tahun 1971 : 46,6 tahun

tahun 1999 : 67,5 tahun

Populasi lansia akan meningkat juga yaitu:

•Pada tahun 1990 jumlah penduduk 60 tahun ± 10 juta jiwa/5,5 % dari total populasi

penduduk.

•Pada tahun 2020 diperkirakan meningka 3X menjadi ± 29 juta jiwa/11,4 % dari total

populasi penduduk (Lembaga Demografi FE-UI-1993).

Selanjutnya :

Terdapat hasil yang mengejutkan, yaitu:

•62,3% lansia di Indonesia masih berpenghasilan dai pekerjaannya sendiri

•59,4% dari lansia masih berperan sebagai kepala keluarga

•53 % lansia masih menanggung beban kehidupan keluarga

•hanya 27,5 % lansia mendapat penghasilan dari anak/menantu

DEPKES RI membagi Lansia sebagai berikut:

1. kelompok menjelang usia lanjut (45 - 54 th) sebagai masa VIRILITAS

2. kelompok usia lanjut (55 - 64 th) sebagai masa PRESENIUM

3. kelompok usia lanjut (65 th > ) sebagai masa SENIUM

Sedangkan WHO membagi lansia menjadi 3 kategori, yaitu:

1. Usia lanjut : 60 - 74 tahun

2. Usia Tua : 75 - 89 tahun

3. Usia sangat lanjut : > 90 tahun

PROSES PENUAAN

Proses Terjadinya Penuaan

1. Biologi



a. Teori “Genetic Clock”;

Teori ini menyatakan bahwa proses menua terjadi akibat adanya program jam

genetik didalam nuklei. Jam ini akan berputar dalam jangka waktu tertentu dan

jika jam ini sudah habis putarannya maka, akan menyebabkan berhentinya proses

mitosis. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian Haiflick, (1980) dikutif Darmojo

dan Martono (1999) dari teori itu dinyatakan adanya hubungan antara kemampuan

membelah sel dalam kultur dengan umur spesies Mutasisomatik (teori error

catastrophe) hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menganalisis

faktor-aktor penyebab terjadinya proses menua adalah faktor lingkungan yang

menyebabkan terjadinya mutasi somatik. Sekarang sudah umum diketahui bahwa

radiasi dan zat kimia dapat memperpendek umur. Menurut teori ini terjadinya

mutasi yang progresif pada DNA sel somatik, akan menyebabkan terjadinya

penurunan kemampuan fungsional sel tersebut.



b. Teori “Error”

Salah satu hipotesis yang yang berhubungan dengan mutasi sel somatik adalah

hipotesis “Error Castastrophe” (Darmojo dan Martono, 1999). Menurut teori

tersebut menua diakibatkan oleh menumpuknya berbagai macam kesalahan

sepanjang kehidupan manusia. Akibat kesalahan tersebut akan berakibat

kesalahan metabolisme yang dapat mengakibatkan kerusakan sel dan fungsi sel

secara perlahan.



c. Teori “Autoimun”

Proses menua dapat terjadi akibat perubahan protein pasca tranlasi yang dapat

mengakibatkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya

sendiri (Self recognition). Jika mutasi somatik menyebabkan terjadinya kelainan

pada permukaan sel, maka hal ini akan mengakibatkan sistem imun tubuh

menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing dan

menghancurkannya Goldstein(1989) dikutip dari Azis (1994). Hal ini dibuktikan

dengan makin bertambahnya prevalensi auto antibodi pada lansia

(Brocklehurst,1987 dikutif dari Darmojo dan Martono, 1999). Dipihak lain sistem

imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada proses

menua, daya serangnya terhadap antigen menjadi menurun, sehingga sel-sel

patologis meningkat sesuai dengan menigkatnya umur (Suhana,1994 dikutif dari

Nuryati, 1994)



d. Teori “Free Radical”

Penuaan dapat terjadi akibat interaksi dari komponen radikal bebas dalam

tubuh manusia. Radikal bebas dapat berupa : superoksida (O2), Radikal Hidroksil

(OH) dan Peroksida Hidrogen (H2O2). Radikal bebas sangat merusak karena

sangat reaktif , sehingga dapat bereaksi dengan DNA, protein, dan asam lemak

tak jenuh. Menurut Oen (1993) yang dikutif dari Darmojo dan Martono (1999)

menyatakan bahwa makin tua umur makin banyak terbentuk radikal bebas,

sehingga poses pengrusakan terus terjadi , kerusakan organel sel makin banyak

akhirnya sel mati.



e. Wear &Tear Teori

Kelebihan usaha dan stress menyebaban sel tubuh rusak.



f. Teori kolagen

Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan menyebabkan kecepatan

kerusakan jaringan dan melambatnya perbaikan sel jaringan.



2. Teori Sosiologi



a. Activity theory, ketuaan akan menyebabkan penurunan jumlah kegiatan secara

langsung.

b. Teori kontinuitas, adanya suatu kepribadian berlanjut yang menyebabkan adanya

suatu pola prilaku yang meningkatkan stress.

c. Disengagement Theory, putusnya hubungan dengan dunia luar seperti hubungan

dengan masyarakat, hubungan dengan individu lain.

d. Teori Stratifikasi usia, karena orang yang digolongkan dalam usia tua akan

mempercepat proses penuaan.



3. Teori Psikologis

a. Teori kebutuhan manusia dari Maslow, orang yang bisa mencapai aktualisasi

menurut penelitian 5% dan tidak semua orang bisa mencapai kebutuhan yang

sempurna.

b. Teori Jung, terdapat tingkatan-tingkatan hidup yang mempunyai tugas dalam

perkembangan kehidupan.

c. Course of Human Life Theory, Seseorang dalam hubungan dengan lingkungan ada

tingkat maksimumnya.

d. Development Task Theory, Tiap tingkat kehidupan mempunyai tugas

perkembangan sesuai dengan usianya.

•Penuaan Primer : perubahan pada tingkat sel (dimana sel yang mempunyai inti

DNA/RNA pada proses penuaan DNA tidak mampu membuat

protein dan RNA tidak lagi mampu mengambil oksigen,

sehingga membran sel menjadi kisut dan akibat kurang

mampunya membuat protein maka akan terjadi penurunan

imunologi dan mudah terjadi infeksi.

•Penuaan Skunder : proses penuaan akibat dari faktor lingkungan, fisik, psikis

dan sosial .

Stress fisik, psikis, gaya hidup dan diit dapat mempercepat

proses menjadi tua.

Contoh diet ; suka memakan oksidator, yaitu makanan yang

hampir expired.

Gairah hidup yang dapat mempercepat proses menjadi tua

dikaitkan dengan kepribadian seseorang, misal: pada

kepribadian tipe A yang tidak pernah puas dengan apa yang

diperolehnya.

Secara umum perubahan proses fisiologis proses menua adalah:

1. Perubahan Mikro

•Berkurangnya cairan dalam sel

•Berkurangnya besarnya sel

•Berkurangnya jumlah sel

2. Perubahan Makro

•Mengecilnya mandibula

•Menipisnya discus intervertebralis

•Erosi permukaan sendi-sendi

•Osteoporosis

•Atropi otot (otot semakin mengecil, bila besar berarti ditutupi oleh lemak

tetapi kemampuannya menurun)

•Emphysema Pulmonum

•Presbyopi

•Arterosklerosis

•Manopause pada wanita

•Demintia senilis

•Kulit tidak elastis

•Rambut memutih



Proses menua

Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang

telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua (

Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis.

Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran secara fisik maupun psikis.

Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih,

penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai

fungsi organ vital, sensitifitas emosional meningkat dan kurang gairah.

Meskipun harus menimbulkan penyakit oleh karenanya lanjut usia harus sehat. Sehat

dalam hal ini diartikan :

1) Bebas dari penyakit fisik, mental dan social

2) Mampu melakukan aktifitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

3) Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat

(Rahardjo, 1996)

Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan-perubahan yang

menuntut dirinya untuk menyesuaikan diri secara terus menerus. Apabila proses

penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah berbagai

masalah. Hurlock (1979) seperti dikutip oleh Munandar Ashar Sunyoto ( 1994)

menyebutkan masalah-masalah yang menyertai lansia yaitu :

1) Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain

2) Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola

Hidupnya

3) Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah meninggal

atau pindah

4) Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah

banyak

5) Belajar memperlakukan anak-anak yang telah tumbuh dewasa. Berkaitan

dengan perubahan fisik, Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik yang

mendasar adalhan perubahan gerak.

Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. Pertama minat terhadap diri

makin bertambah. Kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang. Ketiga

minat terhadap uang semakin meningkat, terkhir minta terhadap kegiatan rekreasi tak

berubah hanya cenderung menyempit. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada

diri lansia untuk selalu menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik.

Motivasi tersebut diperlikan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan teratur

untuk meningkatkan kebugaran fisiknya.

Berkaitan dengan perubahan, kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa

perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap

perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Bagaimana sikap

yang ditunjukan apakah memuaskan atau tidak memuaskan, hal ini tergantung dari

pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Perubahan yang

diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah

peningkatan kesehatan, ekonmi atau pendapatan dan peran sosial (Goldstein, 1992).

Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. Ciri-ciri penyesuaian

yang tidak baik dari lansia ( Hurlock, 1979) di kutip oleh Munandar (1994) adalah :

1) Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya

2) penarikan diri ke dalam dunia fantasi

3) Selalu mengingat kembali masa lalu

4) Selalu kwuatir karena pengangguran

5) Kurang ada motivasi

6) Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik

7) Tempat tinggal yang tidak diinginkan

Dilain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah : Minat

yang kuat, ketidaktergantungan secara ekonomi, kontak sosial luas, menikmati kerja

dan hasil kerja, menikmati kegiatan yang dilakukan saat ini dan memiliki kekuatiran

minimal terhadap diri dan orang lain.

Faktor faktor yang mempengaruhi penuaan

1)Hereditas atau ketuaan genetic

2)Nutrisi atau makanan

3)Status kesehatan

4)Pengalaman hidup

5)Lingkungan

6)Stres

KARAKTERISTIK PENYAKIT PADA LANSIA

•Saling berhubungan satu sama lain

•Penyakit sering multiple

•Penyakit bersifat degeneratif

•Berkembang secara perlahan

•Gejala sering tidak jelas

•Sering bersama-sama problem psikologis dan sosial

•Lansia sangat peka terhadap penyakit infeksi akut

•Sering terjadi penyakit iatrogenik (penyakit yang disebabkan oleh konsumsi obat yang

tidak sesuai dengan dosis)



Hasil penelitian Profil Penyakit Lansia di 4 kota (Padang, Bandung, Denpasar,

Makasar),

sebagai berikut:

•Fungsi tubuh dirasakan menurun:

Penglihatan (76,24 %),

Daya ingat (69,39 %),

Sexual (58,04 %),

Kelenturan (53,23 %),

Gilut (51,12 %).

•Masalah kesehatan yang sering muncul

Sakit tulang (69,39 %),

Sakit kepala (51,15 %),

Daya ingat menurun (38,51 %),

Selera makan menurun (30,08 %),

Mual/perut perih (26,66 %),

Sulit tidur (24,88 %) dan

sesak nafas (21,28 %).





Permasalahan umum

a) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan

b) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehinggan anggota keluaraga yang lanjut usia

kurang diperhatikan, dihargai dan dihormati.

c) Lahirnya kelompok masyarakat industry

d) Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia

e) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia



Perubahan-Perubahan yang Terjadi pada Lansia

1. Perubahan Fisik

Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya

sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan tubuh,

muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.

a. Sistem pernafasan pada lansia.

1) Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi

berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.

2) Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial

terjadi penumpukan sekret.

3) Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah udara

pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang

tenang kira kira 500 ml.

4) Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m²),

Ù menyebabkan terganggunya prose difusi.

5) Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari

hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan.

6) CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun

yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri.

7) kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari

saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.

b. Sistem persyarafan.

1) Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan.

2) Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir.

3) Mengecilnya syaraf panca indera.

4) Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium &

perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap

dingin.

c. Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia.

1) Penglihatan

a) Kornea lebih berbentuk skeris.

b) Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.

c) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa).

d)Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih

lambat, susah melihat dalam cahaya gelap.

e) Hilangnya daya akomodasi.

F Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang.

g) Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala.

2) Pendengaran

a) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) :

Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap

bunyi suara, antara lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti

kata kata, 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.

b) Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis.

c) Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya kreatin.

3) Pengecap dan penghidu.

a) Menurunnya kemampuan pengecap.

b) Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera makan

berkurang.

4) Peraba.

a) Kemunduran dalam merasakan sakit.

b) Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin.

b. Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut.

1) Katub jantung menebal dan menjadi kaku.

2) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20

tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.

3) Kehilangan elastisitas pembuluh darah.

Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi

dari tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun

menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ).

4) Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer

(normal ± 170/95 mmHg ).

c. Sistem genito urinaria.

1) Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai

50 %, penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang

akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun

proteinuria ( biasanya + 1 ) ; BUN meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang ginjal

terhadap glukosa meningkat.

2) Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun

sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria susah

dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin.

3) Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun.

4) Atropi vulva.

5) Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan menurun juga permukaan

menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap

perubahan warna.

6Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk

melakukan dan menikmati berjalan terus.

d. Sistem endokrin / metabolik pada lansia.

1) Produksi hampir semua hormon menurun.

2) Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah.

3) Pituitary, Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembuluh

darah dan berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH.

4) Menurunnya aktivitas tiriod Ù BMR turun dan menurunnya daya pertukaran zat.

5) Menurunnya produksi aldosteron.

6) Menurunnya sekresi hormon bonads : progesteron, estrogen, testosteron.

7) Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism, depresi dari sumsum tulang

serta kurang mampu dalam mengatasi tekanan jiwa (stess).



e. Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut.

1) Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi

setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang

buruk.

2) Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi

indera pengecap (± 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama

rasa manis, asin, asam & pahit.

3) Esofagus melebar.

4) Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung menurun,

waktu mengosongkan menurun.

5) Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi.

6) Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ).

7) Liver ( hati ), Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya

aliran darah.

f. Sistem muskuloskeletal.

1) Tulang kehilangan densikusnya Ù rapuh.

2) resiko terjadi fraktur.

3) kyphosis.

4) persendian besar & menjadi kaku.

5) pada wanita lansia > resiko fraktur.

6) Pinggang, lutut & jari pergelangan tangan terbatas.

7) Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi badan berkurang ).

a. Gerakan volunter / gerakan berlawanan.

b. Gerakan reflektonik / Gerakan diluar kemauan sebagai reaksi terhadap rangsangan

pada lobus.

c. Gerakan involunter / Gerakan diluar kemauan, tidak sebagai reaksi terhadap suatu

perangsangan terhadap lobus

d. Gerakan sekutu / Gerakan otot lurik yang ikut bangkit untuk menjamin efektifitas

dan ketangkasan otot volunter.

g. Perubahan sistem kulit & karingan ikat.

1). Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak.

2). Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan

adiposa

3). Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak begitu

tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi.

4). Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan

menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen.

5). Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka

kurang baik.

6). Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh.

7). Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna rambut

kelabu.

8). Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun.

9).Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun.

10).Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak

rendahnya akitfitas otot.

11). Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual.

1) Perubahan sistem reprduksi.

a) selaput lendir vagina menurun/kering.

b) menciutnya ovarium dan uterus.

c) atropi payudara.

d) testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur

berangsur.

e) dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi kesehatan baik.

2) Kegiatan sexual.

Sexualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang

berhubungan dengan alat reproduksi. Setiap orang mempunyai kebutuhan sexual, disini

kita bisa membedakan dalam tiga sisi : 1) fisik, Secara jasmani sikap sexual akan

berfungsi secara biologis melalui organ kelamin yang berhubungan dengan proses

reproduksi, 2) rohani, Secara rohani Ù tertuju pada orang lain sebagai manusia, dengan

tujuan utama bukan untuk kebutuhan kepuasan sexualitas melalui pola pola yang baku

seperti binatang dan 3) sosial, Secara sosial Ù kedekatan dengan suatu keadaan intim

dengan orang lain yang merupakan suatu alat yang apling diharapkan dalammenjalani

sexualitas.

Sexualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya, yaitu dengan cara yang lain

dari sebelumnya, membuat pihak lain mengetahui bahwa ia sangat berarti untuk anda.

Juga sebagai pihak yang lebih tua tampa harus berhubungan badan, msih banyak cara

lain unutk dapat bermesraan dengan pasangan anda. Pernyataan pernyataan lain yang

menyatakan rasa tertarik dan cinta lebih banyak mengambil alih fungsi hubungan

sexualitas dalam pengalaman sex.

2. Perubahan-perubahan mental/ psikologis

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah :

a. Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa.

b. kesehatan umum

c. Ttingkat pendidikan

d. Keturunan (herediter)

e. Lingkungan

f. Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian

g. Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan

h. Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili

i. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri dan



perubahan konsep diri

Perubahan kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi lebih sering berupa

ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang, kekakuan mungkin oleh karena faktor

lain seperti penyakit-penyakit.

Kenangan (memory) ada dua; 1) kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berhari-

hari yang lalu, mencakup beberapa perubahan, 2) Kenangan jangka pendek atau

seketika (0-10 menit), kenangan buruk.

Intelegentia Quation; 1) tidakberubah dengan informasi matematika dan perkataan

verbal, 2) berkurangnya penampilan,persepsi dan keterampilan psikomotorterjadi

perubahan pada daya membayangkan, karena tekanan-tekanan dari faktro waktu.

Pengaruh proses penuaan pada fungsi psikososial.

1. perubahan fisik, sosial mengakibatkan timbulnya penurunan fungsi, kemunduran

orientasi, penglihatan, pendengaran mengakibatkan kurangnya percaya diri pada fungsi

mereka.

2. Mundurnya daya ingat, penurunan degenerasi sel sel otak.

3. Gangguan halusinasi.

4. Lebih mengambil jarak dalam berinteraksi.

5. Fungsi psikososial, seperti kemampuan berfikir dan gambaran diri.

3. Perubahan Spiritual

Agama atau kepercayaan makin terintegarsi dalam kehidupannya (Maslow,1970).

Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berpikir dan

bertindak dalam sehari-hari. (Murray dan Zentner,1970)

Konsep Model Florence Nightingle

Inti konsep Florence Nightingale, pasien dipandang dalam kontek lingkungan secara

keseluruhan, terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan psikologis dan lingkungan sosial.

a. Lingkungan fisik (physical enviroment)

Merupakan lingkungan dasar/alami yan berhubungan dengan ventilasi dan udara.

Faktor tersebut mempunyai efek terhadap lingkungan fisik yang bersih yang selalu akan

mempengaruhi pasien dimanapun dia berada didalam ruangan harus bebas dari debu,

asap, bau-bauan.Tempat tidur pasien harus bersih, ruangan hangat, udara bersih, tidak

lembab, bebas dari bau-bauan. Lingkungan dibuat sedemikian rupa sehingga

memudahkan perawatan baik bagi orang lain maupun dirinya sendiri. Luas, tinggi

penempatan tempat tidur harus memberikan memberikan keleluasaan pasien untuk

beraktifitas. Tempat tidur harus mendapatkan penerangan yang cukup, jauh dari

kebisingan dan bau limbah. Posisi pasien ditempat tidur harus diatur sedemikian rupa

supaya mendapat ventilasi.

b. Lingkungan psikologi (psychologi enviroment)

F. Nightingale melihat bahwa kondisi lingkungan yang negatif dapat menyebabkan

stress fsiik dan berpengaruh buruk terhadap emosi pasien. Oleh karena itu ditekankan

kepada pasien menjaga rangsangan fisiknya. Mendapatkan sinar matahari, makanan

yang menarik dan aktivitas manual dapat merangsang semua faktor untuk membantu

pasien dalam mempertahankan emosinya.

Komunikasi dengan pasien dipandang dalam suatu konteks lingkungan secara

menyeluruh, komunikasi jangan dilakukan secara terburu-buru atau terputus-putus.

Komunikasi tentang pasien yang dilakukan dokter dan keluarganya sebaiknya

dilakukan dilingkungan pasien dan kurang baik bila dilakukan diluar lingkungan pasien

atau jauh dari pendengaran pasien. Tidak boleh memberikan harapan yang terlalu

muluk, menasehati yang berlebihan tentang kondisi penyakitnya. Selain itu

membicarkan kondisi-kondisi lingkungan dimana dia berada atau cerita hal-hal yang

menyenangkan dan para pengunjung yang baik dapat memberikan rasa nyaman.

c. Lingkungan sosial (social environment)

Observasi dari lingkungan sosial terutama huhbungan yang spesifik, kumpulan data-

data yang spesifik dihubungkan dengan keadaan penyakit, sangat penting untuk

pencegahan penyakit. Dengan demikian setiap perawat harus menggunakan

kemampuan observasi dalam hubungan dengan kasus-kasus secara spesifik lebih dari

sekedar data-data yang ditunjukkan pasien pada umumnya.

Seperti juga hubungan komuniti dengan lingkungan sosial dugaannya selalu

dibicarakan dalam hubungnya individu pasien yaitu lingkungan pasien secara

menyeluruh tidak hanya meliputi lingkungan rumah atau lingkungan rumah sakit tetapi

juga keseluruhan komunitas yang berpengaruh terhadap lingkungan secara khusus.



d. Hubungan teori Florence Nightingale dengan beberapa konsep

Hubungan teori Florence Nightingale dengan konsep keperawatan :



1) Individu / manusia

Memiliki kemampuan besar untuk perbaikan kondisinya dalam menghadapi

penyakit.

2) Keperawatan

Bertujuan membawa / mengantar individu pada kondisi terbaik untuk dapat

melakukan kegiatan melalui upaya dasar untuk mempengaruhi lingkungan.



3) Sehat / sakit

Fokus pada perbaikan untuk sehat.



4) Masyarakaat / lingkungan

Melibatkan kondisi eksternal yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan

individu, fokus pada ventilasi, suhu, bau, suara dan cahaya.



e. Hubungan teori Florence Nightingale dengan proses keperawatan



1) Pengkajian / pengumpulan data

Data pengkajian Florence N lebih menitik beratkan pada kondisi lingkungan

(lingkungan fisik, psikis dan sosial).



2 Analisa data

Data dikelompokkan berdasarkan lingkungan fisik, sosial dan mental yang

berkaitan dengan kondisi klien yang berhubungan dengan lingkungan

keseluruhan.



3) Masalah

Difokuskan pada hubungan individu dengan lingkungan misalnya :

Kurangnya informasi tentang kebersihan lingkungan

Ventilasi

Pembuangan sampah

Pencemaran lingkungan

Komunikasi sosial, dll



4) Diagnosa keperawatan

Berrbagai masalah klien yang berhubungan dengan lingkungan antara lain :

Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap efektivitas asuhan.

Penyesuaian terhadap lingkungan.

Pengaruh stressor lingkungan terhadap efektivitas asuhan.



5) Implementasi

Upaya dasar merubah / mempengaruhi lingkungan yang memungkinkan

terciptanya kondisi lingkungan yang baik yang mempengaruhi kehidupan,

perrtumbuhan dan perkembangan individu.



6) Evaluasi

Mengobservasi dampak perubahan lingkungan terhadap kesehatan individu.



f. Hubungan teori Florence Nightingale dengan teori-teori lain :

1) Teori adaptasi

Adaptasi menunjukkan penyesuaian diri terhadap kekuatan yang melawannya.

Kekuatan dipandang dalam konteks lingkungan menyeluruh yang ada pada

dirinya sendiri. Berrhasil tidaknya respon adapatsi seseorang dapat dilihat dengan

tinjauan lingkungan yang dijelaskan Florence N.

Kemampuan diri sendiri yang alami dapat bertindak sebagai pengaruh dari

lingkungannya berperanpenting pada setiap individu dalam berespon adaptif atau

mal adaptif.



2) Teori kebutuhan

Menurut Maslow pada dasarnya mengakui pada penekanan teori Florence N,

sebagai contoh kebutuhan oksigen dapat dipandang sebagai udara segar, ventilasi

dan kebutuhan lingkungan yang aman berhubungan dengan saluran yang baik dan

air yang bersih.

Teori kebutuhan menekankan bagaimana hubungan kebutuhan yang berhubungan

dengan kemampuan manusia dalam mempertahankan hidupnya.



3) Teori stress

Stress meliputi suatu ancaman atau suatu perubahan dalam lingkungan, yang

harus ditangani. Stress dapat positip atau negatip tergantung pada hasil akhir.

Stress dapat mendorong individu untuk mengambil tindakan positip dalam

mencapai keinginan atau kebutuhan.

Stress juga dapat menyebabkan kelelahan jika stress begitu kuat sehingga individu

tidak dapat mengatasi. Florence N, menekankan penempatan pasien dalam

lingkungan yang optimum sehingga akan menimumkan efek stressor, misalnya

tempat yang gaduh, membangunkan pasien dengan tiba-tiba, ,semuanya itu

dipandang sebagai suatu stressor yang negatif. Jumlah dan lamanya stressor juga

mempunyai pengaruh kuat pada kemampuan koping individu.



5. Teori Kejiwaan sosial



a) Aktifitas atau kegiatan ( activity theory )

Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah secara langsung. Teri

ini menyatakan bahwa lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan

ikut dalam banyak kegiatan sosial

Ukuran optimum ( pola hidup ) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia

Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil

dari usia pertengahan ke lanjut usia



b) Kepribadian berlanjut ( continuity theory )

Dasar kepribadian aatau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini

merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa

perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi

oleh tipe personality yang dimiliki.

c) Teori Pembebasan ( Disengagement theory )

Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara

bengangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan

ini mengakibatkan interksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas

maupun kuantitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda ( tripel loss ), yakni

1) kehilangan peran 2) hambatan kontak sosial 3) berkurangnya kontak

komitmen



Tanda-Tanda Bahaya Kala Nifas

Infeksi Masa Nifas

Setelah persalinan terjadi beberapa perubahan penting diantaranya makin

meningkatnya pembentukkan urin untuk mengurangi hemodilusi darah, terjadi

penyerapan beberapa bahan tertentu melalui pembuluh darah vena sehingga

terjadi peningkatan suhu badan sekitar 0,5 oC yang bukan merupakan keadaan

patologis atau menyimpang pada hari pertama. Perlukaan karena persalinan

merupakan tempat masuknya kuman kedalam tubuh, sehingga menimbulkan

infeksi pada kala nifas. Infeksi kala nifas adalah infeksi peradangan pada

semua alat genitalia pada masa nifas oleh sebab apapun dengan ketentuan

meningkatnya suhu badan melebihi 38 oC tanpa menghitung hari pertama dan

berturut-turut selama dua hari.

Gambaran klinis infeksi umum dapat dalam bentuk :

1. Infeksi Lokal

1. Pembengkakan luka episiotomi.

2. Terjadi penanahan.

3. Perubahan warna lokal.

4. Pengeluaran lochia bercampur nanah.

5. Mobilisasi terbatas karena rasa nyeri.

6. Temperatur badan dapat meningkat.

2. Infeksi General

1. Tampak sakit dan lemah.

2. Temperatur meningkat diatas 39 oC.

3. Tekanan darah dapat menurun dan nadi meningkat.

4. Pernapasan dapat meningkat dan napas terasa sesak.

5. Kesadaran gelisah sampai menurun dan koma.

6. Terjadi gangguan involusi uterus.

7. Lochia : berbau, bernanah serta kotor.

Faktor Predisposisi Infeksi Masa Nifas

Faktor predisposisi infeksi masa nifas diantaranya adalah :

1.Persalinan berlangsung lama sampai terjadi persalinan terlantar.

2.Tindakan operasi persalinan.

3.Tertinggalnya plasenta selaput ketuban dan bekuan darah.

4.Ketuban pecah dini atau pada pembukaan masih kecil melebihi enam jam.

5.Keadaan yang dapat menurunkan keadaan umum, yaitu perdarahan

antepartum dan post partum, anemia pada saat kehamilan, malnutrisi, kelelahan

dan ibu hamil dengan penyakit infeksi.

Terjadinya Infeksi Masa Nifas

Terjadinya infeksi masa nifas adalah sebagai berikut:

1.Manipulasi penolong: terlalu sering melakukan pemeriksaan dalam, alat yang

dipakai kurang suci hama.

2.Infeksi yang didapat di rumah sakit (nosokomial).

3.Hubungan seks menjelang persalinan.

4.Sudah terdapat infeksi intrapartum: persalinan lama terlantar, ketuban pecah

lebih dari enam jam, terdapat pusat infeksi dalam tubuh (lokal infeki).

Keadaan abnormal pada rahim

Beberapa keadaan abnormal pada rahim adalah :

1. Sub involusi uteri.

Proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga proses

pengecilan rahim terhambat. Penyebab terjadinya sub involusi uteri adalah

terjadinya infeksi pada endometrium, terdapat sisa plasenta dan selaputnya,

terdapat bekuan darah, atau mioma uteri.

2. Pendarahan masa nifas sekunder.

Adalah pendarahan yang terjadi pada 24 jam pertama. Penyebabnya adalah

terjadinya infeksi pada endometrium dan terdapat sisa plasenta dan selaputnya.

3. Flegmansia alba dolens.

Merupakan salah satu bentuk infeksi puerpuralis yang mengenai pembuluh

darah vena femoralis. Gejala kliniknya adalah :

1. Terjadi pembengkakan pada tungkai.

2. Berwarna putih.

3. Terasa sangat nyeri.

4. Tampak bendungan pembuluh darah.

5Temperatur badan dapat meningkat.

Keadaan abnormal pada payudara

Beberapa keadaan abnormal yang mungkin terjadi adalah :

1. Bendungan ASI

Disebabkan oleh penyumbatan pada saluran ASI. Keluhan mamae bengkak,

keras, dan terasa panas sampai suhu badan meningkat.

2. Mastitis dan Abses Mamae

Infeksi ini menimbulkan demam, nyeri lokal pada mamae, pemadatan mamae

dan terjadi perubahan warna kulit mamae.

Keadaan abnormal pada psikologis

1Psikologi Pada Masa Nifas

Perubahan emosi selama masa nifas memiliki berbagai bentuk dan variasi.

Kondisi ini akan berangsur-angsur normal sampai pada minggu ke 12 setelah

melahirkan.

Pada 0 – 3 hari setelah melahirkan, ibu nifas berada pada puncak kegelisahan

setelah melahirkan karena rasa sakit pada saat melahirkan sangat terasa yang

berakibat ibu sulit beristirahat, sehingga ibu mengalami kekurangan istirahat

pada siang hari dan sulit tidur dimalam hari.

Pada 3 -10 hari setelah melahirkan, Postnatal blues biasanya muncul, biasanya

disebut dengan 3th day blues. Tapi pada kenyataanya berdasarkan riset yang

dilakukan paling banyak muncul pada hari ke lima. Postnatal blues adalah

suatu kondisi dimana ibu memiliki perasaan khawatir yang berlebihan terhadap

kondisinya dan kondisi bayinya sehingga ibu mudah panik dengan sedikit saja

perubahan pada kondisi dirinya atau bayinya.

Pada 1 – 12 minggu setelah melahirkan, kondisi ibu mulai membaik dan

menuju pada tahap normal. Pengembalian kondisi ibu ini sangat dipengaruhi

oleh kondisi lingkungannya, misalnya perhatian dari anggota keluarga terdekat.

Semakin baik perhatian yang diberikan maka semakin cepat emosi ibu kembali

pada keadaan normal.

2. Depresi Pada Masa Nifas

Riset menunjukan 10% ibu mengalami depresi setelah melahirkan dan 10%-

nya saja yang tidak mengalami perubahan emosi. Keadaan ini berlangsung

antara 3-6 bulan bahkan pada beberapa kasus terjadi selama 1 tahun pertama

kehidupan bayi.

Penyebab depresi terjadi karena reaksi terhadap rasa sakit yang muncul saat

melahirkan dan karena sebab-sebab yang kompleks lainnya. Berdasarkan hasil

riset yang dilakukan menunjukan faktor-faktor penyebab depresi adalah

terhambatnya karir ibu karena harus melahirkan, kurangnya perhatian orang-

orang terdekat terutama suami dan perubahan struktur keluarga karena

hadirnya bayi, terutama pada ibu primipara.



Surabaya, 2/8/2007 (Kominfo-Newsroom) - Yayasan Gerontologi Abiyoso

(YGA) Propinsi Jatim siap memantau penerapan peraturan daerah (Perda)

Lanjut Usia (Lansia) Propinsi Jatim, untuk memastikan kesejahateraan

kehidupan para lansia di Jatim dapat terjamin dan terpenuhi.

“Perda tersebut merupakan payung hukum bagi lansia di Jatim dalam

memperoleh kesejahteraan hidupnya,” kata Ketua Yayasan Gerontologi

Abiyoso (YGA) Propinsi Jatim Trimarjono, ditemui di kantornya Surabaya,

Rabu (1/8).

Karenanya, ia sangat mengharapkan pemerintah Kabupaten/Kota segera

mengadopsi perda lansia ini yang sudah disahkan DPRD Jatim, Selasa (31/7).

Selama ini, kesejahteraan para lansia di Jatim dinilai masih kurang, akibat

kurangnya perhatian dari semua pihak yang terkait, sehingga dengan adanya

perda lansia ini diharapkan mereka mendapatkan payung hukum dalam

memperoleh kesejahteraan. Perda tersebut sudah disahkan dan kini tinggal

menunggu teknis pelaksanaan di lapangan.

Sementara Wakil Ketua IV YGA Prop Jatim, Soerjadi Tjokrosoewito,

mengemukakn petunjuk teknis pelaksanaan dari perda itu akan diatur dalam

Peraturan Gubernur (Pergub).

Petunjuk teknis dari perda tersebut, mengatur mekanisme dan sistem

pelaksanaannya, mulai dari mengatur tentang pelanggaran hingga ke

penindakan. ”Tentang siapa yang berhak menindak apabila ditemukan ada

yang melanggar perda lansia, itu akan disebutkan pada pergub,” paparnya.

Jumlah lansia di Jatim tahun 2006, sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS)

Jatim, tercatat sebanyak 3,94 juta orang dan dari jumlah itu sekitar 20 persen

diantaranya belum mendapatkan perhatian baik dari peroarangan, kelompok,

LSM ataupun pemerintah.

Dengan adanya Perda, para lansia yang tidak mendapatkan perhatian dapat

mengadukan kepada pihak terkait agar dapat segera ditindak tegas sesuai

kebijakan perda lansia yang sudah terbentuk ini.

Kebanyakan dari mereka yang tidak mendapatkan perhatian itu berdomisili di

pedesaan yaitu sekitar 76% dan sisanya, keberadaannya tinggal di perkotaan.

Sementara berdasar data YGA, jumlah lansia di Jatim sebanyak 3,94 juta orang

terdiri dari laki-laki 1,75 juta orang dan perempuan 2,18 juta orang. Sedangkan

rata-rata lansia di tiap Kecamatan terbanyak terdapat di Kota Malang, Kota

Kediri, Kab Malang, dan Kab Madiun. Sedangkan terbayak jumlah lansia di

desa-desa atau kelurahan berada di Kota Surabaya, Kota Malang, Kota Batu,

Kota Madiun, dan Kab Jember. ( www.d-infokom-jatim.go.id/hsn/toeb)

Thursday, January 22, 2009



SEJARAH DAN PERKEMBANGAN GERONTOLOGI

I. PENDAHULUAN

Salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa seringkali dilihat dari umur

harapan hidup penduduknya. Demikian juga Indonesia sebagai suatu negara

berkembang, dengan perkembangannya yang cukup baik, diproyeksikan angka

harapan hidupnya dapat mencapai lebih dari 70 tahun pada tahun 2020 yang

akan datang. Hal ini semua merupakan gambaran yang terjadi pada seluruh

negara di dunia berkat adanya kemajuan teknologi dan kondisi sosio-ekonomi

yang dialaminya.

Menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan

kemampuan jaringan untuk memperbaiki / mengganti diri dan

mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita

(Constantinides, 1994).

Ilmu pengetahuan dan teknologi masih ditantang untuk menerangkan penyebab

orang menjadi tua. Banyak teori yang diajukan dan belum dapat memuaskan

semua pihak. Yang jelas ialah bahwa proses menua merupakan kombinasi

berbagai faktor yang saling berkaitan.

Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari segala aspek yang berhubungan

dengan masalah lanjut usia atau dapat pula diartikan sebagai suatu pendekatan

ilmiah dari berbagai aspek proses penuaan ditinjau dari segi kesehatan, sosial,

ekonomi, perilaku, hukum, lingkungan dan lain-lain. Perkembangan ilmu ini

tidak dapat dipisahkan dari kemajuan ilmu dan teknologi, karena sampai

setengah abad yang lalu ilmu ini memang belum dikenal.

Tujuan hidup manusia adalah menjadi tua tapi tetap sehat (healthy aging).

Tujuan geriatri / gerontologi adalah mewujudkan healthy aging tersebut dengan

jalan melaksanakan P4 di bidang kesehatan, yaitu peningkatan mutu kesehatan

(promotion), pencegahan penyakit (preventive), pengobatan penyakit

(curative), dan pemulihan kesehatan (rehabilitation).

Dengan mengembangkan kerangka model seperti di atas, jelaslah peranan dan

sasaran kerja promosi dan prevensi di bidang geriatri.

Masalah lanjut usia akan dihadapi oleh setiap insan dan akan berkembang

menjadi masalah yang lebih kompleks karena :

1.Umur harapan hidup (life expectancy) pada saat itu akan berada di atas usia

70 tahun, sehingga populasi lanjut usia di Indonesia tidak saja akan melebihi

jumlah balita tetapi dapat menduduki peringkat ke-empat di dunia setelah

RRC, India dan Amerika Serikat.

2.Sistem pensiun atau tunjangan kesehatan yang memadai sampai saat ini

masih belum dipikirkan secara mendasar, padahal angka kesakitan dan

kemiskinan pada lanjut usia tentunya akan meningkat.

3.Setiap keluarga pada saat itu rata-rata akan mempunyai 2 orang anak. Para

lansia akan menghadapi kedaan dimana semua anak mereka harus bekerja dan

berkarier. Sehingga muncul pertanyaan : siapakah yang dapat diharapkan dan

mau menjadi care provider bagi mereka?

Masalah globalisasi akan menuntut perkembangan keluarga yang tadinya

berintikan nilai tradisional / keluarga guyub beralih dan cenderung berkembang

menjadi keluarga individual / patembayan. Norma masyarakat juga akan

bergeser dan mengarah pada kehidupan yang egosentris.

Masalah gender akan berkembang menjadi topik besar, karena jumlah lansia

wanita akan melebihi jumlah prianya (karena umur harapan hidup wanita

memang lebih tinggi), sedangkan kelompok wanita tua lebih bercirikan

kekurangmampuan/ kemiskinan, kurangnya ketrampilan yang dimiliki

dibandingkan dengan kelompok pria dan ketidakberdayaan. Di lain pihak,

kelompok yang melayani lansia umumnya terdiri dari para wanita.

Terbatasnya aksebilitas lansia sehingga mobilitas menjadi sangat terbatas.

Terbatasnya hubungan dan komunikasi lanjut usia dan lingkungannya dan

penurunan kesempatan dan produktivitas kerja.

Terbatasnya kemampuan dalam memanfaatkan dan mendayagunakan sumber-

sumber yang ada.

Terberantasnya penyakit infeksi yang disebabkan kuman dan parasit,

berkembangnya ilmu kesehatan lingkungan serta keberhasilan program

keluarga berencana menyebabkan meningkatnya angka harapan hidup dan

tentunya dibarengi konsekuensi lainnya yang lebih kompleks. Perkembangan

ilmu kesehatan yang berkaitan dengan lansia juga tumbuh lebih cepat, karena

penyakit lanjut usia memiliki karakteristik tertentu yang jarang didapatkan

pada masa anak dan dewasa muda. Masalah lainnya pun berkembang cepat

sehingga sampai saat ini dikenal berbagai cabang ilmu seperti :

Proses biologik pada usia lanjut

Socio-gerontology

Psycho-gerontology

Medical-gerontology yang mencakup aspek preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Sementara itu, ilmu geriatri praktis mempelajari aspek kedokteran klinis dan

tidak terlampau banyak membicarakan aspek preventif

Anthropo-gerontology, dan lain sebagainya.

Semua pihak hendaknya mengantisipasi hal ini dan mempersiapkan diri

menghadapi permasalahan yang sangat kompleks yang akan timbul.

Permasalahan potensial yang akan terjadi tidak hanya ditimbulkan oleh faktor

kependudukan, akan tetapi juga disebabkan oleh faktor biologis, sosial budaya,

ekonomi, hukum dan etika, psikologis dan perilaku, kesehatan, pembinaan,

perawatan, pelayanan serta jaringan kerjasama tingkat lokal, nasional, regional,

bahkan global. Belum lagi sering terjadi saling mempengaruhi antar berbagai

faktor yang disebutkan tadi.

Beberapa produk hukum telah dikembangkan dan yang terbaru adalah Undang-

Undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut

usia. Produk hukum tersebut dapat dijadikan pedoman guna memperbaiki

kinerja para pelaksana sehingga diperoleh kegiatan yang lebih terarah, terpadu,

efektif dan efisien dengan tujuan akhirnya, yaitu membuat lansia dan

keluarganya sejahtera.

Dengan demikian iklim yang tercipta perlu dimanfaatkan dengan sebaik-

baiknya oleh seluruh pihak yang berkiprah dalam pembangunan lanjut usia.

ii. Demografi Lanjut Usia

Transisi Demografi

Pada pertemuan di Madrid, WHO mengungkapkan bahwa semasa abad yang

lalu telah terjadi perubahan-perubahan besar sebelum perang dunia pertama,

dimana hampir semua Negara-negara di seluruh dunia tercekam oleh penyakit-

penyakit menular, kekurangan gizi dan menurunnya status kesehatan

lingkungan sehingga umur harapan hidup sangat rendah. Setelah Ilmu

Kesehatan Masyarakat dikembangkan, maka penyakit-penyakit tadi dapat

ditekan, oleh sebab itu sejak 60 tahun yang lalu ada paradigma kesehatan baru

yang disebut dengan epidemiological shift. Lalu berkembang suatu masa

dimana sejak perang dunia kedua, hampir semua penduduk dunia berkembang

biak dengan jumlah anak-anak kecil yang dilahirkan tanpa suatu program

khusus, jadi dalam keluarga tersebut bisa memiliki 10 orang anak bahkan lebih

sehingga jumlah penduduk menjadi tidak terkontrol. Saat itulah terjadi suatu

gerakan dunia untuk mengingatkan agar jangan sampai dunia mengalami

kekurangan pangan bagi penduduk-penduduk baru dan diproklamirkan suatu

gerakan berencana internasional yang disebut family planning program. Di

Indonesia gerakan family planning program ternyata cukup berhasil. Maka

kira-kira 30 tahun lalu terjadi suatu pergeseran baru dalam kesehatan yang

disebut dengan demographical shift.

Pada akhir abad yang lalu disinyalir umur lansia semakin banyak. Ada negara-

negara yang mempunyai jumlah lansia diatas 10% dan disebut dengan Aging

Populated Countries. Di Indonesia, kini populasi lansia rata-rata 7,5% dari

jumlah total penduduk dan dalam waktu 20 tahun lagi jumlah lansia Indonesia

akan melebihi balita. Pada saat itulah WHO mengatakan bahwa milenium ini

ditandai dengan apa yang disebut dengan gerontological shift, dimana jumlah

lansia dengan permasalahannya akan jauh lebih besar, lebih serius dan lebih

kompleks. Karena itu diperlukan suatu program-program yang lebih terarah

dan hanya bisa dimulai bila institusi-institusi mulai memberikan perhatian. Dan

diharapkan lembaga-lembaga lainnya akan turut berperan serta dalam usaha

ini.





Seperti diketahui bahwa Indonesia saat ini sedang berada dalam transisi

demografi dengan persentasi lansia diproyeksikan menjadi 11,34% pada tahun

2020. Keberhasilan pembangunan akan meningkatkan derajat kesehatan

penduduk yang ditandai dengan menurunnya tingkat kelahiran dan kematian

serta diikuti oleh semakin luasnya cakupan dan meningkatnya mutu pelayanan

kesehatan dan gizi rakyat telah mendorong terjadinya pergeseran berbagai

paramater demografi ke arah yang lebih baik. Salah satu diantaranya adalah

meningkatnya usia harapan hidup dari 45,7 tahun pada tahun 1968 menjadi

61,3 tahun pada tahun 1992. Diproyeksikan usia harapan hidup penduduk

Indonesia akan semakin meningkat.

Salah satu konsekuensinya yang perlu diantisipasi sejak dini adalah

meningkatnya baik jumlah maupun persentasi penduduk lansia. Pada tahun

1990 penduduk berusia 60 tahun ke atas sudah mencapai 11,3 juta atau 6,4 %

dari jumlah penduduk dan akan terus meningkat. Pada tahun 2005 jumlah

lanjut usia diramalkan akan menjadi 19 juta (8,5%) dan pada tahun 2010 akan

melebihi jumlah balita. Keadaan ini mempunyai implikasi yang besar pada

kebijakan makro di berbagai sektor pembangunan.

Kebijakan makro pun akan banyak mengalami pergeseran. Secara alami proses

manjadi tua menyebabkan para lansia mengalami kemunduran fisik dan

mental. Makin lanjut usia seseorang, makin banyak ia mengalami

permasalahan terutama fisik, mental, spiritual, ekonomi dan sosial sehingga

diperlukan upaya khusus yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan

rehabilitatif agar para lanjut usia tetap dapat mandiri dan tidak menjadi beban

bagi dirinya maupun keluarga dan masyarakat.

Struktur masyarakat Indonesia berubah dari masyarakat / populasi “muda”

(1971) enjadi populasi yang lebih “tua” pada tahun 2020. Piramida penduduk

Indonesia berubah bentuk dengan basis lebar (fertilitas tinggi) menjadi

piramida berbentuk bawang yang menunjukan rendahnya fertilitas dan

mortalitas. Pergeseran ini menuntut perubahan dalam strategi pelayanan

kesehatan, dengan kata lain perhatian dan prioritas untuk penyakit-penyakit

dewasa dan lanjut usia akan lebih dibutuhkan, namun penyakit-penyakit anak

dan balita masih juga belum diselesaikan (beban ganda). Perubahan struktur ini

juga akan mempengaruhi rasio ketergantungan (Dependency Ratio).

Dengan demikian lapisan kaum lansia dalam struktur demografi Indonesia

menjadi makin tebal, dan sebaliknya kaum muda menjadi relatif lebih sedikit.

Dengan kata lain, timbul regenerasi yang bisa membawa akibat negatif. Proses

ini berlangsung beberapa tahap, antara lain :

Tahap I

Timbul kesenjangan antar generasi (generation gap), karena kaum muda secara

lebih dinamis mengikuti kemajuan teknologi canggih, sedangkan kaum lansia

acuh, tetap tertinggal dan membiarkan kaum muda berjalan terus. Keadaan ini

belum berbahaya.

Tahap II

Karena makin tebalnya lapisan lansia dan makin meningkatnya tingkat

kesehatan,mereka pun masih mampu mengimbangi kaum muda dan

menghendaki tetap pada jabatannya, sehingga tidak mau digeser. Pada saat

inilah timbul tekanan pada generasi muda (generation pressure) yang lebih

berbahaya dari keadaan tahap I. Tahapan Indonesia saat ini adalah tahap I dan

mulai memasuki tahap II dengan timbulnya isu peningkatan usia pensiun.

Tahap III

Adalah yang paling berbahaya, ditandai dengan timbulnya konflik anyar

generasi (generation conflict). Dalam keadaan ini para lansia yang jumlahnya

makin banyak merasa makin kuat dan terus-menerus menekan generasi di

bawahnya, sedangkan generasi muda bereaksi dan melawan tekanan-tekanan

tersebut sehingga timbul konflik yang berkepanjangan dan sulit diatasi dengan

segera. Ini merupakan keadaan yang berbahaya.

Untuk mencegah proses regenerasi menuju keadaan yang berbahaya, maka

antara lain harus dilaksanakan hal-hal sebagai berikut :

1. menyelenggarakan program pensiun secara terpadu dan merata

2. menciptakan lapangan kerja/kegiatan bagi lanjut usia yang tidak

bertentangan

dengan kebutuhan kaum muda.

Pengaruh Proses Industrialisasi

Di negara-negara maju ternyata kualitas hidup dapat ditingkatkan dengan cepat

berkat industrialisasi. Hal ini umpamanya terjadi di Jepang yang pada tahun

1955 masih mempunyai persentase orang-orang usia lanjut sebesar 5,3%, pada

tahun 1975 telah meningkat menjadi 8,6% dan menjadi 14,3% pada tahun

2000.

Dengan kata lain, bahwa dengan adanya industrialisasi maka penggunaan

teknologi modern dapat lebih dimanfaatkan demi peningkatan derajat hidup.

Tetapi perkembangan industri membawa serta pula kontaminasi lingkungan

dan gangguan kelestarian lingkungan hidup, sehingga memerlukan pengaturan

dan pengawasan yang baik. Bila tidak, maka polusi ini akan berpengaruh buruk

pada lingkungannya dan terutama yang akan terkena lebih dahulu dampaknya

ialah anak-anak dan orang lanjut usia (WHO, 1974).

Dengan adanya industrialisasi, urbanisasi juga terjadi, sehingga menambah

kepadatan penduduk kota dan segala macam problemanya, yang secara

langsung atau tak langsung akan mempengaruhi perkembangan geriatri

(gerontologi) pada umumnya.

Selain itu industrialisasi juga membawa pikiran-pikiran yang lebih

materialistik dan dapat mendesak budaya tradisional yang baik. Jadi

perkembangan industri disini bisa berpengaruh positif, tetapi bila tidak diawasi

dengan baik juga dapat memberi dampak negatif terhadap golongan penduduk

berusia lanjut.

Pada era industrialisasi,baik suami maupun istri harus bekerja, sedangkan

anak-anak harus bersekolah. Seorang nenek atau kakek haruslah sendirian di

rumah. Masalah akan timbul bila mereka sudah lemah dan sakit-sakitan, maka

justru disini perlu adanya apa yang disebut “day care center” atau “day

hospital” untuk pengawasan, rehabilitasi dan lain sebagainya. Para lansia

tersebut pada sore / malam hari dapat dijemput pulang ke rumah kembali. Di

Indonesia hal ini praktis belum dikembangkan.



Indikator Demografi

Berbagai indikator demografi yang lazim dipakai adalah sebagai berikut :

1. Indeks Penuaan (The Ageing Index)

Rasio penduduk lanjut usia terhadap penduduk usia kurang dari 15 tahun.

2. Usia Median (Median Age)

Membagi sama penduduk usia muda dan tua.

3. Penuaan Penduduk Tua ( The Ageing of the Elderly Population)

Proporsi penduduk lansia diatas 75 tahun dibanding lanjut usia diatas.

4. Besar dan Proporsi Penduduk Lanjut Usia ( The Relative Weight of Elderly)

Angka 10% merupakan tanda transisi struktur penduduk muda ke arah tua.

5. Komposisi Penduduk Lanjut Usia Pria - Wanita (The Sex Composition of

the Elderly Population)

6. Angka Ketergantungan Penduduk Lanjut Usia ( The Aged Dependency

Ratio)

Jumlah penduduk lanjut usia terhadap 100 penduduk usia kerja yang berusia

15-59 tahun.

iii. Sejarah Gerontologi

Studi mengenai proses penuaan telah dikenal jauh dalam sejarah. Dalam

sebuah literatur kuno, tercantum bahwa Aristoteles mengajukan pertanyaan-

pertanyaan seputar proses menua. Dia berdiskusi mengenai umur harapan

hidup, teori penuaan, dan umur maksimal dari berbagai spesies. Kemudian

Galen dan Roger Bacon turut memberikan kontribusi berupa literatur-literatur

yang topiknya seputar masalah penuaan.

Pada zaman Renaissance, Francis Bacon menulis sebuah tulisan berjudul

“History of Life and Death”. Sebuah monograf yang ditulis oleh Joseph

Freeman menampilkan sebuah kilas balik yang menakjubkan yang beisi catatan

sejarah mengenai riset seputar masalah penuaan yang dilakukan lebih dari

2500 tahun yang lalu.

Era modern dalam riset mengenai masalah penuaan terjadi pada abad ke-20.

Sebagai contoh, pada tahun 1908, Elie Metchnikoff menerima penghargaan

nobel atas kontribusinya yang sangat besar dalam bidang biologi dan penelitian

tentang penuaan. Ia memperkenalkan konsep bahwa proses penuaan

disebabkan absorpsi toksin yang berasal dari bakteri usus.

Periode Gerontologi modern dimulai sekitar tahun 1950. Ketika itu studi yang

telah bersifat sistematik menjelaskan perubahan yang terjadi pada proses

menua, ditinjau secara fisiologi, biokimia dan morfologi seluler yang terjadi.

Beberapa penelitian pada zaman itu telah memperkenalkan kita pada teori-teori

penuaan.

Secara garis besar, teori penuaan dapat dibagi menjadi 2 grup utama. Grup

pertama menjelaskan bahwa proses menua terjadi karena adanya fenomena

“wear and tear”. Kelompok lainnya berpendapat bahwa penuaan dipengaruhi

oleh lingkungan, sebagai contoh misalnya toksin, sinar kosmis, gravitasi dan

lain-lain.

Di USA terutama pada tahun 1940, banyak studi yang difokuskan seputar

masalah panjang umur. Tujuannya adalah untuk memperpanjang umur harapan

hidup manusia. Pada tahun 1939 edisi pertama dari “Problems of Aging” yang

ditulis oleh Cowdry menandai awal era modern dalam penelitian seputar

masalah penuaan.

Secara kronologis, dibawah ini akan dijabarkan perkembangan gerontologi

khususnya di Indonesia dan kongres atau pertemuan internasional yang

memberi pengaruh pada perkembangan gerontologi di Indonesia.

Kurun Waktu 1965-1974

Kesejahteraan sosial lanjut usia selama kurun waktu 1965-1974 dilaksanakan

berdasarkan berdasarkan ketentuan Undang-undang No. 4 tahun 1965 tentang

Pemberian Bantuan Bagi Orang Jompo. Setelah tahun 1974 telah dikeluarkan

perundang-undangan lannya yang materinya terkait dengan kesejahteraan

sosial lanjut usia baik secara langsung maupun tak langsung, diantaranya

Undang-undang No. 6 tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok

Kesejahteraan Sosial dan Undang-undang No.10 tahun 1992 tentang

Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sejahtera.Dengan

meningkatnya lanjut usia dituntut adanya upaya yang lebih proporsional dalam

meningkatkan kesejahteraan lanjut usia yang tidak saja kesejahteraan sosial

sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 4 tahun 1965 tetapi juga pelayanan

kesejahteraan lanjut usia dalam arti luas.

Pra WAA II

World Assembly on Ageing (1982)

Sejak PBB menggelar World Assembly on Ageing pada tahun 1982 di Wina

dan mengingatkan semua negara bahwa masalah lanjut usia akan menjadi

masalah besar, beberapa peserta yang berasal dari Indonesia telah mengambil

prakarsa di bidang ini dan sesampainya di Indonesia mulai menyebarkan

informasi seluas mungkin seputar permasalahan lanjut usia.

Terbentuknya PERGERI (1984)

Beberapa tokoh masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro,

Universitas Indonesia dan Universitas Trisakti menggelar simposium yang

bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan masalah tersebut dan

berupaya memecahkan problema yang kompleks tersebut. Kemudian

didirikannya Perhimpunan Gerontologi Indonesia (PERGERI) pada tahun 1984

yang merupakan salah satu organisasi tertua di Indonesia yang mulai merintis

dan melangkah di bidang ini.

Dengan didirikannya PERGERI yang diakui sebagai satu-satunya organisasi

yang mewakili Indonesia dalam International Association of Gerontology /

IAG, para pakar dapat menemukan wadah dalam menyalurkan pendapat dan

aspirasinya.

Dengan adanya aktivitas PERGERI saat itu, hubungan dengan instansi

pemerintah maupun LSM lain mulai digarap, sehingga saat ini nama PERGERI

mulai dikenal baik di lingkungan pemerintahan maupun dalam kalangan ilmu

pengetahuan, dan suuatu saat PERGERI juga diakui sebagai anggota Forum

Organisasi Profersi di Indonesia / FOPI. Demikian pula di tingkat regional,

UN-ESCAP (united Nations Economic and Social Commission for Asia and

the Pacific) perwakilan PBB untuk regio Asia Pasifik.

Pencanangan Hari Lanjut Usia Nasional (1996)

Melalui melalui berbagai pendekatan terbentuklah suatu Kelompok Kerja

Tetap di lingkup Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat yang selain

mengkoordinasikan beberapa kementrerian / departemen yang terkait, juga

menampung beberapa anggota masyarakat baik dari PERGERI, PWRI maupun

wakil cerdik pandai dari kalangan universitas dan di dalam kerjasamanya

mereka menghasilkan beberapa butir kesepakatan, antara lain :

1.Agar Indonesia memiliki kelompok kerja / team-work yang secara konsisten

memikirkan masalah kesejahteraan lansia di Indonesia.

2.Agar Indonesia juga memutuskan ditentukannya Hari Lanjut Usia Nasional,

yang tanggal-tanggalnya sudah disesuaikan pada pemerintah sebagai alternatif.

3.Agar Indonesia juga setiap tahun dapat menyelenggarakan kegiatan yang

dapat dikordinasikan dengan departemen terkait secara bergilir, dan

mempunyai tema khusus bagi lanjut usia di Indonesia.

Melalui Surat Keputusan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat No.

15/KEP/MENKO/KESRA/IX/1994, telah dibentuk Panitia Nasional

Pelembagaan Lanjut Usia dalam Kehidupan Bangsa. Panitia Nasional tersebut

antara lain bertugas mempersiapkan bahan untuk mendukung terlaksananya

pencanangan Hari Lanjut Usia Nasional oleh presiden, menyiapkan konsep-

konsep dasar untuk bahan penyusunan rancangan peraturan perundang-

undangan yang mendukung kehidupan bagi lanjut usia dalam tatanan

pembangunan nasional dan menyiapkan pola umum dan standar-standar yang

berkaitan dengan pelembagaan lansia dalam kehidupan bangsa.

Suatu saat diputuskan bahwa Indonesia memang layak mempunyai Hari Lanjut

Usia Nasional yang dicanangkan oleh presiden pada tanggal 29 Mei 1996 di

Semarang.

Diperingatinya Hari Lanjut Usia secara rutin diharapkan akan membantu

meresapkan ke dalam budaya kita bahwa masalah lanjut usia adalah masalah

nasional yang tidak bisa dihindarkan oleh siapa pun dan menyangkut semua

pihak. Peraturan perundang-undangan diperlukan untuk memberi hak

fundamental kepada Lanjut Usia sebagai imbalan dari perjuangan mereka

setelah bertahun-tahun mengabdi masyarakat, agar nyata bahwa mereka

dihargai dan dihormati, bukan dikasihani. Untuk itu dipergunakan adanya pola

umum agar upaya pelembagaan lanjut usia dalam kehidupan bangsa yang

menyangkut berbagai sektor mengacu pada pedoman yang sama.

Musyawarah Nasional II PERGERI dan cikal bakal berdirinya LKLU (1997)

Selanjutnya kegiatan terus bergulir sampai PERGERI menyelenggarakan

musyawarah nasionalnya yang kedua pada bulan Desember tahun 1997,

dimana menteri sosial saat itu mengisyaratkan agar PERGERI mengambil

prakarsa untuk membentuk Badan Nasional untuk dijadikan counter part

pemerintah yang nantinya menjadi cikal bakal National Council on Ageing.

Ternyata perkembangan menjadi lebih cepat sehingga pada tahun 1998 itu pun

telah dicantumkan dalam “GBHN” baru yang disahkan pada bulan Maret 1998

dan sebelum demisioner, Menteri Sosial Dra. Inten Suweno masih sempat

mengukuhkan didirikannya Lembaga Kesejahteraan Lanjut Usia / LKLU

(dikukuhkan pada tanggal 24 Februari 1998).

Tugas LKLU : memberikan sumbangan, pemikiran dan masukan kepada

pemerintah untuk perumusan dan penetapan kebijaksanaan upaya pelembagaan

lanjut usia dalam kehidupan bangsa.

Fungsi LKLU :

1. Merumuskan kebijaksanaan dan menetapkan pedoman umum baik yang

berkenaan dengan perencanaan program/kegiatan maupun pelaksanaan secara

terpadu dan terkordinasi.

2. Menyelenggarakan koordinasi dengan berbagai instansi terkait, organisasi

sosial, LSM, dalam rangka keterpaduan perumusan dan penetapan

kebijaksanaan.

3. Melakukan pemasyarakatan, pemantauan dan pengendalian sesuai ketentuan

yang berlaku.

Pencetusan Deklarasi Macao oleh UN-ESCAP (1998)

Di kawasan Asia Pasifik, UN-ESCAP (United Nations Economic and Social

Commission For Asia and the Pacific) berhasil mencetuskan deklarasi Macao

tentang lanjut usia di Asia dan Pasifik. Deklarasi dicetuskan pada akhir

Regional Meeting On A Plan Of Action On Ageing For Asia And The Pacific

yang diselanggarakan di Macao , 28 September - 1 Oktober 1998.

UN-ESCAP berhasil meyakinkan pemerintah di daerah Asia Pasifik bahwa

masalah lanjut usia merupakan masalah aktual yang harus diselesaikan secara

bersamaan. Upaya yang telah dirintis selama ini akan bermuara pada satu

tujuan utama yaitu tindakan preventif maupun promotif agar lanjut usia masih

dapat tetap produktif, sehingga mereka dapat menyumbangkan pengetahuan,

tenaga dan aspirasinya secara tepat demi kemajuan/perkembangan sosio-

ekonomi negara masing-masing. Untuk itu dibutuhkan sarana infrastruktur

yang baru dalam menghadapi kebutuhan sosial, medik, finansial serta

emosional bagi penduduk yang sedang mengalami pergeseran demografik

tersebut. Untuk itu, plan of action yang dilahirkan pada regional meeting

tersebut diarahkan pada tujuh masalah besar yang dihadapi pada lanjut usia,

yakni:

Social Position of Older Persons (kedudukan lanjut usia dalam masyarakat) :

1.Older Persons and the Family (kedudukan lanjut usia dalam keluarga)

2.Health and Nutrition (masalah kesehatan dan gizi) Housing and

Transportation (masalah

perumahan dan transportasi)

3.Older Person and the Market (lanjut usia sebagai konsumen)

4.Income Security, maintenance an Employment (jaminan hari tua / jaminan

sosial,

pemeliharaan serta penyaluran kegiatannya)

5.Social Service and the Community (pelayanan sosial dan masyarakat)

Dalam memperingati Hari Lanjut Usia Internasional pada tanggal 1 Oktober

1998, Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan telah mencanangkan International

Year of Older Persons (IYOP). Dalam kesempatan itu, selain tema yang

dikumandangkan berjudul “Towards A Society Of All Ages” di markas PBB di

New York, juga diselenggarakan pertemuan satu hari penuh yang diprakarsai

oleh NGO Comittee on Ageing dan bekerjasama dengan UN programme on

Ageing serta UN Departement of Public Information.

Peringatan dan Acara Tahun Lanjut Usia Internasional ini akan berlangsung

sampai akhir Desember 1999.

Penetapan Hari Kebangkitan Lansia RI (2000)

Di Indonesia telah ditetapkan hari Kebangkitan Lansia RI yaitu pada 20 Mei

2000. Dan diharapkan adanya lembaga untuk Lansia yang diresmikan oleh

Presiden. Kemudian adanya usaha dari UN-ESCAP yaitu pengajuan proposal

kepada PBB agar memiliki organisasi di bawah sekjen untuk Lansia dan tiap

negara diharapkan mengembangkan pengamanan sosial bagi lansia.

Pertemuan Gerontologi di Valencia (2002)

Pertemuan gerontologi di Valencia tahun 2002 yang diprakarsai oleh IAG

(International Association of Gerontology). Indonesia diwakili oleh Dr. Tony

Setiabudi. Sp.KJ. Ph.D.

Program Healthy Ageing dikemukakan dalam forum gerontologi di Valencia,

Spanyol. Program bagi lanjut usia ini berisi hal-hal sebagai berikut :

1.Aspek demografi

Aspek demografi adalah hal-hal yang menyangkut masalah kependudukan,

antara

lain: proyeksi populasi penduduk, umur harapan hidup, masalah gender

(perbedaan

jenis kelamin) dan distribusi lansia regional.

Proyeksi populasi Indonesia telah dibuat oleh pemerintah Indonesia dari tahun

1971-2020. Dalam proyeksi tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk balita

akan

semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh keberhasilan program KB. Di sisi

lain

jumlah penduduk lanjut usia semakin bertambah. Hal ini setidaknya

merupakan

hasil positif karena peningkatan pelayanan kesehatan dari pemerintah yang

diperlihatkan dari meningkatnya usia harapan hidup.

2. Aspek nasional-regional-global

3. Hal-hal yang perlu diantisipasi

4. Sumber daya manusia

5. Masalah dalam negeri Indonesia

Kongres WAA II di Madrid, Spanyol (2002)

Setelah pertemuan IAG diadakan kongres WAA II di Madrid, Spanyol pada

tanggal 8-12 April 2002 yang membahas masalah lansia dengan lebih serius

kemudian menghasilkan Deklarasi Madrid.

Pada pertemuan di Madrid, WHO mengungkapkan bahwa semasa abad yang

lalu telah terjadi perubahan-perubahan besar pertama sebelum perang dunia,

dimana hampir semua negara-negara di dunia tercekam oleh penyakit-penyakit

menular sehingga umur harapan hidup sangat rendah misalnya karena infeksi,

kekurangan gizi, kesehatan lingkungan turun dan penyakit-penyakit parasiter.

Setelah IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat) dikembangkan maka penyakit-

penyakit tadi itu bisa ditekan, oleh sebab itu sejak 60 tahun lalu ada paradigma

kesehatan baru yang disebut dengan epidemiological shift. Lalu berkembang

suatu masa dimana setelah perang dunia II hampir semua penduduk dunia

berkembang biak dengan jumlah anak-anak kecil yang dilahirkan tanpa suatu

program khusus. Jadi dalam keluarga itu bisa memiliki 5 orang anak, 10 orang

anak dan bahkan lebih sehingga jumlah penduduk ini tidak terkontrol. Saat

itulah terjadi suatu gerakan dunia untuk mengingatkan agar jangan sampai

dunia mengalami kekurangan pangan bagi penduduk baru dan diproklamirkan

suatu gerakan berencana internasional yang disebut family planning program.

Di Indonesia gerakan family planning program ternyata cukup berhasil. Maka

kira-kira 30 tahun lalu terjadi suatu pergeseran baru dalam kesehatan yang

disebut dengan Demographical Shift.

Pada akhir abad yang lalu disinyalir umur lansia semakin banyak. Ada negara-

negara yang mempunyai jumlah lansia diatas 10% dan disebut dengan Aging

Populated Countries. Di Indonesia, kini populasi lansia rata-rata 7,5% dari

jumlah total penduduk dan dalam waktu 20 tahun lagi jumlah lansia Indonesia

akan melebihi balita. Pada saat itulah WHO mengatakan bahwa millenium ini

ditandai dengan apa yang disebut dengan Gerontological Shift, dimana jumlah

lansia dengan permasalahannya akan jauh lebih besar, lebih serius dan lebih

kompleks. Karena itu diperlukan suatu program-program yang lebih terarah

dan hanya bisa dimulai bila institusi-institusi mulai memberikan perhatian. Dan

diharapkan lembaga-lembaga lainnya akan turut berperan serta dalam usaha

ini.

Di dalam Mukadimah deklarasi Madrid diungkapkan bahwa potensi para lansia

harus dapat dimaksimalkan agar bisa disumbangkan kepada masyarakat dan

negaranya. oleh karena itu diharapkan supaya sikap masyarakat, kebijakan

pemerintah, maupun perilaku masyarakat harus diubah sehingga bisa muncul

persepsi bahwa orang tua bukannya harus disingkirkan tapi harus diupayakan,

digandeng bersama-sama untuk ikut serta dalam pembangunan. Perlu diketahui

juga bahwa lansia itu berhak untuk hidup lebih lama dengan rasa aman dan

bermartabat, tentunya juga para lansia boleh tetap berperan serta dalam

pembangunan dan mempunyai hak sebagai warga negara yang penuh.

Isi deklarasi Madrid yang utama yaitu peran lanjut usia dalam pembangunan

harus dimaksimalkan dan tentunya peran tersebut hanya mungkin

dimaksimalkan kalau derajat kesehatan dan kesejahteraannya juga

ditingkatkan. Kedua hal tersebut hanya mungkin dilaksanakan apabila disertai

partisipasi dari masyarakat itu sendiri.

Kondisi lansia perlu dimaksimalkan karena lansia merasa masih menjadi

“orang” jika mereka merasa ikut berpartisipasi aktif, mereka masih diperlukan

dalam perkembangan masyarakat secara menyeluruh Hal penting lainnya

general issues sangat luar biasa karena pertama-tama dinilai bahwa lansia

khususnya di negara miskin harapan hidup perempuannya lebih banyak dari

laki-laki, sehingga hampir semua panti werdha wanita lebih banyak tetapi di

negara miskin karena wanita praktis tidak mendapat pendidikan yang tinggi

maka kehidupannya terpuruk karena kemiskinan dan kurangnya pendidikan.

Ternyata general issues tidak berhenti sampai disitu, para tenaga yang

melayani lansia dengan caregivers dimanapun di dunia dilakukan oleh

kelompok-¬kelompok wanita. Caregivers adalah yang mereka yang berusia 40

tahun keatas dan kebanyakan wanita, maka wanita yang berusia 40 tahun

keatas harus disiapkan untuk melayani orang tuanya. Akan tetapi di Singapore

terjadi suatu proses perubahan yang besar seperti halnya di Jepang dimana para

wanita mulai masuk ke karir sehingga merasa lebih mandiri dan tidak butuh

dukungan siapa-siapa lagi.

Secara singkat, tema yang ingin dibahas dan disampaikan pada WAA II

adalah: Peningkatan partisipasi lanjut usia dalam pembangunan, peningkatan

dukungan masyarakat bagi kesejahteraan lanjut usia, perlindungan dan jaminan

sosial bagi lanjut usia, perluasan akses dan kemudahan layanan kesehatan bagi

lanjut usia serta mempertimbangkan pembentukan komisi nasional lanjut usia.

Rencana Pertemuan Internasional yang Berkaitan dengan Perkembangan

Gerontologi di Indonesia

World Congress Rio de Janeiro 2005 dan Paris 2009 (Korea mencalonkan diri

sebagai tempat pertemuan selanjutnya untuk tahun 2013)

CIGP 2006 akan diadakan di Indonesia.



Kegiatan Pelayanan Lanjut Usia di Indonesia

Landasan hukum :

Undang-undang No.6 Tahun 1974 tentang Ketentuan Pokok Kesejahteraan

Sosial.

Undang-undang No.13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.

Undang-undang No.22 tahun 2000 tentang Pemerintahan Daerah.

Undang-undang No.25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional

Tahun 2000-2004, bidang Pembangunan Sosial Budaya.

Keputusan Menkokesra No.15/KEP/IX/1994 tentang Panitia Nasional

Pelembagaan Lanjut Usia dalam Kehidupan Bangsa.

Keputusan Menteri Sosial No.10/HUK/1998 tentang Lembaga Kesejahteraan

Lanjut Usia

Sesuai Undang-undang No.13 tahun 1998, mengamanaykan bahwa pemerintah

dan masyarakat berkewajiban memberikan pelayanan sosial kepada lanjut usia.

Pemberikan pelayanan berlandaskan pada filosofi dan nilai budaya masyarakat

Indonesia yang berasas Three Generation in One Roof yang mengandung arti

yaitu adanya pertautan yang bernuansa antar 3 generasi, yaitu: anak, orang tua

dan kakek / nenek.

Sarana pelayanan kesehatan yang dipergunakan untuk melayani Lanjut Usia

digolongkan dalam berbagai tingkatan, yaitu :

a. Pelayanan Tingkat Masyarakat

Pelayanan yang ditujukan kepada Lanjut Usia, keluarga yang mempunyai

lanjut usia, kelompok lanjut usia atau kelompok masyarakat seperti :

Karang Werdha

Adalah suatu perkumpulan/paguyuban dari para lansia yang biasanya berasal

dari satu lingkungan hunian. Di dalam klub ini, para lansia yang sehat mandiri

dapat mengadakan berbagai kegiatan fisik, rohani,social-ekonomi secara

bersama-sama

Posyandu Lansia

Day Care

Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa

PUSAKA

Dana Sehat

Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM)

b. Pelayanan Tingkat Dasar

Pelayanan diselenggarakan oleh berbagai instansi dan swasta serta organisasi

masyarakat, organisasi profesi dan yayasan seperti: praktek dokter, praktek

dokter gigi, balai pengobatan dan klinik, Puskesmas, Balai Kesehatan

Masyarakat, Panti Tresna Werdha, Pusat Pelayanan dan Perawatan Lanjut

Usia.

c. Pelayanan Rujukan Tingkat I dan Tingkat II

Pelayanan yang diberikan dapat bersifat sederhana, sedang, lengkap, dan

paripurna :

Rumah sakit yang memiliki : Poliklinik Geriatri / Gerontologi, unit rehabilitasi,

ruang rawat, laboratorium, Day Hospital, Unit Gawat Darurat, Instalasi Gawat

Darurat, Bangsal Akut.

Rumah Sakit Jiwa

Rumah Sakit Khusus (lainnya)

Sasana Tresna Werdha

Sasana Tresna Werdha adalah suatu institusi hunian bersama dari para lansia

yang secara fisik/kesehatan masih mandiri, akan tetapi (terutama) memiliki

keterbatasan di bidang sosial / ekonomi. Kebutuhan harian dari para penghuni

biasanya disediakan pengurus panti. Diselenggarakan oleh pemerintah atau

swasta.

Hospitium

Melalui pelayanan kesehatan yang dikerjakan terpadu dengan pelayanan

keperawatan, pelayanan sosial, ketenagakerjaan, hukum dan bidang-bidang

lainnya, diharapkan angka kesakitan (morbiditas), angka kematian (mortalitas)

serta permasalahan lanjut usia semakin menurun. Hal ini akan menunjang

tercapainya mutu kehidupan lanjut usia yang sehat secara fisik, psikis, mental

spiritual, serta sosial.



ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS DALAM GERONTOLOGI

I. PENDAHULUAN

Ilmu Kedokteran Komunitas (Community Medicine) adalah cabang ilmu

kedokteran yang berurusan dengan kesehatan warga-warga suatu komunitas

atau suatu wilayah. Didalamnya dibagi lagi menjadi beberapa bidang, seperti

kedokteran keluarga, lansia, lingkungan, okupasi, industri, olahraga, kelautan,

dan kedirgantaraan.

Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara berbagai faktor

yang menentukan frekuensi dan distribusi penyakit pada komunitas manusia.

Demografi adalah ilmu yang mempelajari kependudukan, mencakup jumlah,

presentase kenaikan, jenis kelamin, umur harapan hidup, lokasi, distribusi, dan

perpindahan, angka kematian, pekerjaan dan penghasilan, status perkawinan,

pendidikan, gaya hidup, dan lain-lain tentang penduduk.

Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari masalah Lanjut Usia. Yang disebut

Lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas.

Kelompok ini memerlukan perhatian khusus di abad 21 ini, mengingat

jumlahnya yang meningkat cepat dan berpotensi menimbulkan permasalahan

yang akan mempengaruhi kelompok penduduk lain, sehingga aspek demografi

dari kelompok lanjut usia perlu diketahui dan dipahami untuk mengambil

langkah antisipasi dalam mengatasi permasalahan lanjut usia.

Menurut laporan data demografi penduduk Internasional yang dikeluarkan oleh

Bureau of the Census USA (1993), dilaporkan bahwa Indonesia pada tahun

1990-2025 akan mempunyai kenaikan jumlah Lansia sebesar 414%, suatu

angka paling tinggi di dunia.

Pada tahun 2000, dua diantara tiga Lansia di seluruh dunia yang berjumlah 600

juta, akan hidup dan bertempat tinggal di negara- negara sedang berkembang.

Sebelumnya angka ini adalah 50% di tahun 1960. Kenaikan jumlah ini

terutama di Asia. Di Cina dan India, pertambahan mencapai 270 juta Lansia.

Pertambahan penduduk Lansia di Indonesia dan Brazil diproyeksikan naik

masing-masing melebihi 20 juta orang, sedang kenaikan kira-kira setengah

jumlah tersebut adalah di Meksiko, Nigeria, dan Pakistan. Tahun 1980,

Indonesia adalah urutan ke-10, pada tahun 2020 akan menjadi urutan ke-5 atau

6, sebagai Negara yang banyak jumlah populasi Lansianya. (WHO,1989).

Dimana dari 33 propinsi di Indonesia saat ini, Yogyakarta memiliki jumlah

Lansia terbanyak (13,72%).

Di Eropa pada tahun 2000 diproyeksikan jumlah populasi lansia 60+ akan

berjumlah 20%, bahkan akan terjadi kenaikan yang cepat pada populasi 80+.

II. ASPEK DEMOGRAFI

Transisi Demografi

Saat ini Indonesia ada dalam transisi demografi, persentase Lansia

diproyeksikan menjadi 11,34% pada tahun 2020 yang akan datang.

Struktur masyarakat Indonesia berubah dari masyarakat atau populasi muda

menjadi populasi tua pada tahun 2020. Piramida penduduk Indonesia berubah

dari bentuk dengan basis lebar (fertilitas tinggi), menjadi piramida berbentuk

kubah mesjid atau bawang (fertilitas dan mortalitas rendah) pada tahun 2020.

Pergeseran ini menuntut perubahan dalam strategi pelayanan kesehatan,

dengan kata lain lebih minta perhatian dan prioritas untuk penyakit-penyakit

pada usia dewasa dan Lansia. Tapi dalam hal ini penyakit-penyakit pada balita

dan anak-anak masih menjadi masalah yang belum diselesaikan. Ini menjadi

beban ganda.

Perubahan struktur penduduk ini juga akan mempengaruhi ratio

ketergantungan (Dependency Ratio), baik pada golongan anak yang tidak

produktif (60 tahun), terhadap golongan

usia 15-60 tahun yang produktif. Tahun 1971, Dependency Ratio total 86,84%.

Angka ini makin menurun, sehingga tahun 2000, Dependency Ratio total

53,17%, seterusnya akan menurun sampai 41,38 pada tahun 2020, Dengan

catatan Dependency Ratio Lansia akan makin naik dan Dependency Ratio anak

muda makin menurun. Di Negara industri maju, Dependency Ratio ini sudah

sangat rendah, yang berarti golongan produktif sudah sangat tinggi

persentasenya.



IV. UPAYA PELAYANAN KESEHATAN

Upaya Mengatasi Permasalahan Kesehatan pada Lansia

Upaya pembinaan kesehatan

Upaya pelayanan kesehatan :

# Upaya promotif

# Upaya preventif

# Diagnosa dini dan pengobatan

# Pencegahan kecacatan

# Upaya rehabilitatif

Upaya perawatan

Upaya pelembagaan Lansia

Prinsip pelayanan kesehatan pada Lansia

a. Prinsip holistik

♥ Seorang penderita lanjut usia harus dipandang sebagai manusia seutuhnya

(lingkungan psikologik dan sosial ekonomi). Hal ini ditunjukkan dengan

asesmen geriatri sebagai aspek diagnostik, yang meliputi seluruh organ dan

sistem, juga aspek kejiwaan dan lingkungan sosial ekonomi.

♥ Sifat holistik mengandung artian baik secara vertikal ataupun horizontal.

Secara vertikal dalam arti pemberian pelayanan di masyarakat sampai ke

pelayanan rujukan tertinggi, yaitu rumah sakit yang mempunyai pelayanan

subspesialis geriatri. Holistik secara horizontal berarti bahwa pelayanan

kesehatan harus merupakan bagian dari pelayanan kesejahteraan lansia secara

menyeluruh. Oleh karena itu, pelayanan kesehatan harus bekerja secara lintas

sektoral dengan dinas/ lembaga terkait di bidang kesejahteraan, misalnya

agama, pendidikan, dan kebudayaan, serta dinas sosial.

♥ Pelayanan holistik juga berarti bahwa pelayanan harus mencakup aspek

pencegahan (preventif), promotif, penyembuhan (kuratif), dan pemulihan

(rehabilitatif). Begitu pentingnya aspek pemulihan, sehingga WHO

menganjurkan agar diagnosis penyakit pada Lansia harus meliputi 4 tingkatan

penyakit :

▪ Disease (penyakit), yaitu diagnosis penyakit pada penderita, misalnya

penyakit jantung iskemik.

▪ Impairment (kerusakan/ gangguan), yaitu adanya gangguan atau kerusakan

dari organ akibat penyakit, missal pada MCI akut ataupun kronis.

▪ Disability (ketidakmampuan), yaitu akibat obyektif pada kemampuan

fungsional dari organ atau dari individu tersebut. Pada kasus di atas misalnya

terjadi decompensasi jantung.

▪ Handicap (hambatan), yaitu akibat sosial dari penyakit. Pada kasus tersebut di

atas adalah ketidakmampuan penderita untuk melakukan aktivitas sosial, baik

di rumah maupun di lingkungan sosialnya.



b. Prinsip tatakerja dan tatalaksana secara TIM

Tim geriatrik merupakan bentuk kerjasama multidisipliner yang bekerja secara

inter-disipliner dalam mencapai tujuan pelayanan geriatrik yang dilaksanakan.

Yang dimaksud dengan multidisiplin si sini adalah berbagai disiplin ilmu

kesehatan yang secara bersama-sama melakukan penanganan pada penderita

lanjut usia. Komponen utama tim geriatrik terdiri dari dokter, pekerja sosio

medik, dan perawat. Tergantung dari kompleksitas dan jenis layanan yang

diberikan. Anggota tim dapat ditambah dengan tenaga rehabilitasi medik

(dokter, fisioterapist, terapi okupasi, terapi bicara, dll.), psikolog, dan atau

psikiater, farmasis, ahli gizi,dan tenaga lain yang bekerja dalam layanan

tersebut.

Istilah interdisiplin diartikan sebagai suatu tatakerja dimana masing-masing

anggotanya saling tergantung (interdependent) satu sama lain. Jika tim

multidisiplin yang bekerja secara multidisiplin, dimana tujuan seolah-olah

dibagi secara kaku berdasarkan disiplin masing-masing anggota. Pada tim

interdisiplin, tujuan merupakan tujuan bersama. Masing-masing anggota

mengerjakan tugas sesuai disiplinnya sendiri-sendiri, tetapi tidak secara kaku.

Disiplin lain dapat memberi saran demi tercapainya tujuan bersama. Secara

periodik dilakukan pertemuan anggota tim untuk mengadakan evaluasi kerja

yang telah dicapai, dan kalau perlu mengadakan perubahan demi tujuan

bersama yang hendak dicapai.

Pada tim multidisiplin, kerjasama terutama bersifat pada pembuatan dan

penyerasian konsep. Sedangkan pada tim interdisiplin, kerjasama meliputi

pembuatan dan penyerasian konsep serta penyerasian tindakan.

Tim geriatri disamping mengadakan asesmen atas masalah yang ada, juga

mengadakan asesmen atas sumber daya manusia dan sosial ekonomi yang bisa

digunakan untuk membantu pelaksanaan masalah penderita tersebut.



V. PELAKSANAAN PELAYANAN KESEHATAN USIA LANJUT

Pembinaan Kesehatan

Tujuannya adalah meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan untuk

mencapai masa tua yagn bahagia dan berguna dalam kehidupan keluarga dan

masyarakat sesuai dengan keberadaannya dalam masyarakat.

Informasi yang diperlukan usia 40-45 tahun (masa virilitas)

1. Mengetahui sedini mungkin adanya akibat proses penuaan (keluhan mudah

jatuh, mudah lelah, nyeri dada, berdebar-debar, sesak nafas waktu beraktivitas.

2. Mengetahui pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.

3. Melakukan latihan kesegaran jasmani.

4. Melakukan diet dengan menu seimbang.

5. Meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat.

6. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Informasi yang diperlukan usia 55-64 tahun (masa presenium)

1. Pemeriksaan kesehatan secara berkala.

2. Perawatan gizi/ diet seimbang

3. Kegiatan olahraga/ kesegaran jasmani.

4. Perlunya berbagai alat bantu untuki tetap berdaya guna.

5. Pengembangan dan peningkatan hubungan sosial di masyarakat.

6. Peningkatan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Informasi yang diperlukan > 65 tahun dan kelompok resiko tinggi

1. Pembinaan diri sendiri dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi, aktivitas di

dalam rumah maupun di luar rumah.

2. pemakaian alat bantu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang ada

pada mereka.

3. Pemeriksaan kesehatan secara berkala.

4. Perawatan fisioterapi di RS terdekat.

5. Latihan kesegaran jasmani.

6. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pelayanan kesehatan

a. Upaya peningkatan / Promosi Kesehatan

Pada dasarnya merupakan upaya pencegahan primer ( primary prevention).

Anjuran dari Prof. Dr. Slamet Suyono (RSCM, 1997) adalah : BAHAGIA

Berat badan berlebihan agar dihindari dan dikurangi

Aturlah makanan hingga seimbang

Hindari faktor risiko penyakit degeneratif

Agar terus berguna dengan mempunyai hobi yang bermanfaat

Gerak badan teratur agar terus dilakukan

Iman dan takwa tingkatkan, hindari dan tangkal situasi yang menegangkan

Awasi kesehatan dengan memeriksakan badan secara periodik

DepKes RI 1998, Buku Pedoman pemeliharaan Kesehatan Usia Lanjut,

memuat anjuran untuk hidup sehat :

• Perkuat ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa untuk mengendalikan stress

• Periksakan kesehatan secara berkala

• Makan dan minum

kurangi gula, lemak, dan garam

perbanyak buah, sayur, susu tanpa lemak dan ikan

hindari alkohol

berhenti merokok

perbanyak minum air putih 6-8 gelas per hari atau sesuai anjuran petugas

kesehatan

• Kegiatan fisik dan psikososial

pertahankan berat badan normal

lakukan kegiatan fisik sesuai kemampuan

lakukan latihan kesegaran jasmani sesuai kemampuan seperti jalan kaki,

senam, berenang, dan bersepeda

tingkatkan silaturahmi

sempatkan rekreasi dan salurkan hobi secara teratur dan bergairah

gunakan obat-obatan atas saran petugas kesehatan

pertahankan hubungan harmonis dalam keluarga

tetap melakukan kegiatan seksual dengan pasangan hidup

b. Upaya pencegahan / Prevention

♣ Bagaimanapun hebatnya penemuan dalam bidang teknologi dan obat-obatan

untuk merawat dan menyembuhkan Lansia yang sakit, tetapi peranan prevensi

(pencegahan) semakin besar, karena bila dilaksanakan secara cermat dan terus

menerus akan memberikan hasil yang lebih baik dengan biaya yang lebih

murah.

♣ Yang dimaksudkan dengan prevensi bukanlah menghindarkan ketuaan atau

proses menjadi tua, melainkan menghindarkan sejauh mungkin penyakit-

penyakit yang dapat timbul dan mengusahakan agar fungsi tubuh selama

mungkin dapat dipertahankan.

1. Upaya pencegahan primer (Primary prevention)

Ditujukan kepada Lansia yang sehat, mempunyai risiko akan tetapi belum

menderita

penyakit. Dapat digolongkan pada upaya peningkatan

2. Upaya pencegahan sekunder (Secondary prevention)

Ditujukan kepada penderita tnpa gejala, yang mengidap faktor risiko. Upaya

ini dilakukan

sejak awal penyakit hingga awal timbulnya gejala atau keluhan.

Menurut DepKes RI 1998, keluhan yang perlu diwaspadai :

- cepat lelah - nyeri pinggang

- nyeri dada - nyeri sendi

- sesak napas - gangguan gerak

- berdebar-debar - kaki bengkak

- sulit tidur - kesemutan

- batuk - sering haus

- gangguan penglihatan - gangguan BAB/ BAK

- gangguan pendengaran - benjolan tidak normal / daging

- gangguan mulut tumbuh

- nafsu makan meningkat atau menurun - keluarnya darah atau cairan melalui

vagina secara terus-menerus

3. Upaya pencegahan tersier (Tertiary prevention)

Ditujukan kepada penderita penyakit dan penderita cacat, yang telah

memperlihatkan gejala penyakit.

* Tahap I : Ketika Lansia dirawat di RS

* Tahap II : Ketika Lansia pada masa rehabilitasi atau rawat jalan

* Tahap III : Ketika Lansia pada saat pemeliharaan jangka panjang

♣ Tindakan pencegahan praktis yang dapat dilaksanakan :

a. Hindari berat badan berlebihan (obesitas ataupun overweight)

b. Kurangi makan dan pilihlah makanan yang sesuai

c. Olahraga yang ringan dan teratur harus dilakukan

d. Menghindari faktor resiko PJK

- faktor resiko yang tidak dapat dihindari : umur, jenis kelamin, keturunan

- faktor resiko yang sukar dihindari : kepribadian

- faktor resiko yang dapat dihindari/ dibatasi : merokok, kelebihan BB,

hiperkolesterolemia, hipertensi, DM

e. Menghindari timbulnya kecelakaan pada Lansia

f. Tindakan yang mengisi kehidupan Lansia

g. Persiapan menghadapi pensiun

h. Pemeriksaan kesehatan secara periodik

b. Diagnosa dini dan pengobatan / Early diagnosis and prompt treatment

Dilaksanakan oleh Lansia, keluarga, petugas professional, dan petugas panti.

Pengobatan dijalankan terhadap gangguan sistem, mengurangi gejala yang

terjadi dan mengatasi manifestasi klinik.

Kegiatan dilaksanakan di tingkat keluarga, fasilitas pelayanan tingkat dasar,

dan fasilitas pelayanan rujukan tingkat I dan tingkat II.

1. Diagnosa dini oleh Lansia dan keluarga

Di Amerika Serikat, bimbingan diberikan oleh National Health Information

Clearinghouse (1994), untuk memungkinkan para Lansia memberi skor

terhadap gaya hidup sehat (healthstyle self-test) dengan menghitung skor

merokok, pemakaian alkohol, dan obat, kebiasaan makan, olahraga, dan

kebugaran, pengendalian stres, juga pengamanan diri terhadap kecelakaan dan

cedera.

Medical screening schedule (prosedur penapisan) dianjurkan U.S. Preventive

Services Task Force (1994), meliputi:

a. Penapisan :

 Anamnesa diarahkan terhadap tanda gejala nyeri dada, kebiasaan diet,

kebiasaan olahraga, pemakaian alcohol dan kebiasaan merokok, serta ada atau

tidaknya gangguan fungsi di rumah

Pemeriksaan fisik : berat dan tinggi badan, tekanan darah, visus, fungsi

pendengaran, alat Bantu dengar, pemeriksaan payudara, pemeriksaan

laboratorium, glukosa dan kolesterol, fungsi kelenjar tiroid, EKG, pap smear,

sigmoidoskopi, kolonoskopi

b. Konseling :

Olahraga dan latihan tertentu, diet, lemak, kolesterol, karbohidrat, kalori,

penyalahgunaan narkotika, alcohol, zat adiktif, pencegahan kecelakaan,

kesehatan gigi, glaucoma, pengobatan estrogen.

c. Imunisasi :

Hepatitis B, Vaksin influenza

Di Indonesia

Buku Kesehatan Pribadi dianjurkan untuk dimiliki oleh masyarakat, termasuk

Lansia

 Buku Pedoman Pemeliharaan Kesehatan Usia Lanjut (1998), agar diisi oleh

para Lansia, keluarga, atau pemberi pelayanan kesehatan setiap diberikan

pelayanan kesehatan, sehingga dapat terjalin komunikasi dan tukar menukar

informasi penting diantara Lansia dengan petugas pelayanan kesehatan setiap

saat.

Kartu Menuju Sehat Usia Lanjut (1993, 1997), yang disimpan oleh Lansia

sendiri

2. Diagnosa dini oleh petugas profesional atau tim

a. Pemeriksaan status fisik :

Pemeriksaan fisik diagnostik lengkap

b. Pemeriksaan laboratorium lengkap

Gula darah dan puasa 2 jam setelah makan

HDL dan LDL kolesterol, Trigliserid

Kadar hormon

Kanker prostat, pari

Tumor marker (jika perlu)

c. Skrining kesehatan

d. Pemeriksaan status kejiwaan

Status mental (memori, konsentrasi, orientasi, komunikasi, verbalisasi)

Status psikologis (kesan umum, mood/ afek, dan perilaku)

e. Pemeriksaan status sosial ekonomi

Kontak sosial

Penyesuaian diri (terhadap keadaan saat ini, terhadap masa depan)

 Evaluasi orang yang merawat Lansia (usia, status kesehatan, ketrampilan,

derajat stress, kepandaian, tanggung jawab sebagai keluarga)

f. Pemeriksaan status fungsi tubuh

Mandiri (independent)

Kurang mandiri (partially independent)

Tidak mandiri/ tergantung (dependent)

3. Pengobatan

a. Pengobatan terhadap gangguan sistem dan gejala yang timbul (sistem

muskuloskeletal, kardiovaskular, pernapasan, pencernaan, urogenital,

hormonal, saraf, kulit, kuku, dan rambut)

b. Pengobatan terhadap manifestasi klinik (nyeri kepala, nyeri dada, nyeri

pinggang, nyeri tungkai, nyeri kaki, demam, hipotermi, tidak ada nafsu makan,

kelemahan umum, sesak napas, edema, obstipasi, gangguan kemih, gangguan

neuropsikiatri, hipertensi, klimakterium, prostat)

c. Pengobatan terhadap Geriatric Giant (RSCM, 1997), (pikiran kacau, jatuh,

imobilisasi, dekubitus, incontinentia urinae, incontinentia alvi, gangguan mata,

gangguan telinga, osteoarthrosis.

Dasar Klinis Preventive Health Care Untuk Lansia, Rekomendasi Pemeriksaan

Kesehatan Berkala

Prevensi Primer dan Sekunder Frekuensi

Edukasi Tiap 4 tahun

Prevensi terhadap kecelakaan

Penggunaan seat belts

Pengecekan sendiri : kulit, mulut, payudara, testis

Melaporkan perdarahan postmenopause

Promosi Kebiasaan Sehat

Olah raga

Gizi

Obesitas Tiap 4 tahun atau kalaudiperlukan

Kebersihan mulut

Tidur

Penggunaan obat

Prevensi terhadap Penyakit

Skrining kolesterol Tiap 4 tahun

Imunisasi

Influenza Tiap tahun

Pneumococcus Sekali

Tetanus Booster Tiap 10 tahun

Pemeriksaan gigi

Penyakit periodontal

Caries gigi Tiap tahun

Skrining untuk Penyakit dini

Penurunan pendengaran Deteksi pada kelompok resiko tinggi

Hipertensi Pengukuran tekanan darah tiap 1/ 2 tahun

Hipothyroid Pemeriksaan klinis tiap 2 tahun

Ca mamae Pemeriksaan payudara tiap thn

Mammogram tiap thn sampai usia 80 thn

Ca serviks Pap smear tiap 5 thn, tiap 2 thn sp usia 70, tiap 3 tahun

Ca colorectal Pemeriksaan rectal tiap tahun atau setahun 2 kali

Sigmoidoscopy tiap 4 tahun

Ca mulut Pemeriksaan mulut tiap tahun setelah usia 75 tahun

Ca kulit Inspeksi dan konseling, frekuensi tergantung diagnosa klinis

Malnutrisi 2 kali setahun, 65-74 thn, tiap tahun untuk usia 75+

Kelompok resiko tinggi Seperti indikasi diagnosa klinisTBC

Ketidakmampuan progresif sesuai usia

Penilaian fungsi fisik, sosial, dan mental

Dengan kunjungan rumah tiap 2 thn (65-74 thn), tiap tahun (75+)

c. Pembatasan kecacatan / Disability limitation

Kecacatan : kesukaran dalam memfungsikan otot dan alat gerak atau sistem

saraf

Kecacatan :

bersifat sementara dan dapat diperbaiki

menetap yang tidak dapat dipulihkan tapi masih mungkin dapat diganti dengan

alat bantu

progresif yang tidak dapat pulih dan tidak dapat diganti dengan alat bantu

Kegiatan yang dilakukan dalam pembatasan kecacatan :

a. Pemeriksaan (Assessment)

b. Identifikasi masalah ( Problem identification)

c. Perencanaan ( Planning)

d. Pelaksanaan ( Implementation)

e. Penilaian (Evaluation)

d. Upaya pemulihan / Rehabilitasi

Rehabilitasi dilaksanakan oleh tim rehabilitasi (petugas medik, paramedik, non

medik)

Prinsip :

a. Pertahankan lingkungan yang aman

b. Pertahankan kenyamanan (istirahat, aktivitas, mobilitas)

c. Pertahankan kecukupan gizi

d. Pertahankan fungsi pernapasan

e. Pertahankan fungsi aliran darah

f. Pertahankan fungsi aliran kemih

g. Meningkatkan fungsi psikososial

h. Pertahankan komunikasi

i. Mendorong pelaksanaan tugas

VI. TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN

Untuk mengupayakan prinsip holistik yang berkesinambungan, secara garis

besar pelayanan kesehatan pada Lansia dapat dibagi sebagai berikut (Hadi-

Martono, 1993, 1996)

1. Pelayanan Kesehatan Lansia di Masyarakat (Community Based Geriatric

Service)

Semua upaya kesehatan yang berhubungan dan dilaksanakan oleh masyarakat

harus diupayakan berperan serta dalam menangani kesehatan para Lansia.

Puskesmas dan dokter praktek swasta merupakan tulang punggung layanan di

tingkat ini. Puskesmas berperan dalam membentuk kelompok/ klub Lansia. Di

dalam dan melalui klub Lansia ini, pelayanan kesehatan dapat lebih mudah

dilaksanakan, baik usaha promotif, preventif, kuratif, atau rehabilitatif. Dokter

praktek swasta terutama menangani para Lansia yang memerlukan tindakan

kuratif insidental.

Semua pelayanan kesehatan harus diintegrasikan dengan layanan kesejahteraan

yang lain dari dinas sosial, agama, pendidikan, kebudayaan, dll. Peran serta

LSM untuk membentuk layanan sukarela misalnya dalam pendirian badan

yang memberikan layanan bantu perawatan (home nursing), kebersihan rumah,

atau pemberian makanan bagi para lansia (meals on wheels) juga perlu

didorong.

Pada dasarnya, layanan kesehatan Lansia di tingkat masyarakat seharusnya

mendayagunakan dan mengikutsertakan masyarakat (termasuk para Lansianya)

semaksimal mungkin. Yang perlu dikerjakan adalah meningkatkan kepedulian

dan pengetahuan masyarakat, dengan berbagai cara, antara lain ceramah,

simposium, lokakarya, dan penyuluhan-penyuluhan.

2. Pelayanan Kesehatan Lansia di Masyarakat Berbasis Rumah Sakit (Hospital

Based

Community Geriatric Service)

Pada layanan tingkat ini, rumah sakit setempat yang telah melakukan layanan

geriatri bertugas membina Lansia yang berada di wilayahnya, baik secara

langsung atau tidak langsung melalui pembinaan pada Puskesmas yang berada

di wilayah kerjanya.

“Transfer of Knowledge” berupa lokakarya, symposium, ceramah-ceramah,

baik kepada tenaga kesehatan ataupun kepada awam perlu dilaksanakan. Di

lain pihak, rumah sakit harus selalu bersedia bertindak sebagai rujukan dari

layanan kesehatan yang ada di masyarakat.

3. Layanan Kesehatan Lansia Berbasis Rumah Sakit (Hospital Based Geriatric

Service)

Pada layanan ini rumah sakit, tergantung dari jenis layanan yang ada,

menyediakan berbagai layanan bagi para Lansia, sampai pada layanan yang

lebih maju, misalnya bangsal akut, klinik siang terpadu (day hospital), bangsal

kronis, dan atau panti rawat wredha (nursing homes). Di samping itu, rumah

sakit jiwa juga menyediakan layanan kesehatan jiwa bagi Lansia sengan pola

yang sama. Pada tingkat ini, sebaiknya dilaksanakan suatu layanan terkait

(con-joint care) antara unit geriatri rumah sakit umum dengan unit psikogeriatri

suatu rumah sakit jiwa, terutama untuk menangani penderita penyakit fisik

dengan komponen gangguan psikis berat dan sebaliknya.



Tingkatan sarana pelayanan kesehatan:

a. Pelayanan tingkat masyarakat

Pelayanan yang ditujukan kepada Lansia, keluarga yang mempunyai Lansia,

kelompok Lansia atau kelompok masyarakat seperti :

1. Karang Wredha

2. Pos Yandu Lansia

3. Day Care

4. Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa

5. PUSAKA

6. Dana Sehat atau Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM)

b. Pelayanan tingkat dasar

Pelayanan diselenggarakan oleh berbagai instansi dan swasta serta organisasi

masyarakat, organisasi profesi dan yayasan seperti :

1. Praktek Dokter

2. Praktek Dokter Gigi

3. Balai Pengobatan dan Klinik

4. Puskesmas

5. Balai Kesehatan Masyarakat

6. Panti Tresna Wredha

7. Pusat Pelayanan dan Perawatan Lanjut Usia



c. Pelayanan rujukan tingkat I dan tingkat II

Pelayanan yang diberikan dapat bersifat sederhana, sedang, lengkap, dan

paripurna :

1. Rumah sakit yang memiliki Poliklinik Geriatri/ Gerontologi, Unit

Rehabilitasi, Ruang Rawat, Laboratorium, Day Hospital, Unit Gawat Darurat,

Instalasi Gawat Darurat, Bangsal Akut.

2. Rumah Sakit Jiwa

3. Rumah Sakit Khusus lainnya

4. Sasana Tresna Wredha

5. Hospitium

1. Poliklinik geriatri : layanan geriatri di mana diberikan jasa asesmen,

tindakan kuratif sederhana, dan konsultasi, bagi penderita rawat jalan. Sifatnya

adalah subspesialistik, sehingga hanya penderita yang telah melewati poliklinik

spesialis lain dan memenuhi syarat sebagai penderita geriatri bisa dikonsulkan

ke poliklinik ini.

2. Bangsal geriatri akut : bangsal di mana penderita geriatri dengan penyakit

akut atau subakut (stroke, pneumonia, keto-asidosis diabetika, penyakit jantung

kongestif akut, dll.).

Pada penderita tersebut dilakukan tindakan asesmen, kuratif, dan rehabilitasi

jalur cepat oleh tim geriatri.

3. Day-hospital : layanan geriatri yang dapat melaksanakan semua tindakan

yang dilakukan oleh bangsalakut atau kronis, tetapi tanpa penderita harus rawat

inap, dan layanan hanya dilakukan pada jam kerja. Jasa yang diberikan antara

lain : asesmen, kuratif, ambulatoir, rehabilitasi, dan rekreasi. Oleh karenanya

tenaga yang diperlukan selain geriatris/ internis, perawat dan sosiomedik, juga

tenaga rehabilitasi, psikolog, rekreasionis, dll.

4. Bangsal geriatri kronis : bangsal ini diperlukan untuk merawat penderita

dengan penyakit kronis yang memerlukan tindakan kuratif inap dalam jangka

waktu lama. “Turn over rate”-nya rendah, sehingga pembiayaannya menjadi

sangat mahal.

5. Panti rawat wredha : Di negara maju, layanan ini disebut “nursing home”,

yaitu suatu institusi yang memberikan layanan bagi penderita Lansia dengan

masalah medis kronis yang sudah tidak memerlukan tindakan perawatan di RS,

akan tetapi masih terlalu berat untuk bisa dirawat di rumah sendiri. Oleh karena

tidak memerlukan tindakan spesialistik oleh dokter, maka biayanya bisa

ditekan. Turn over rate juga rendah, tetapi untuk kepentingan pendidikan,

adanya bangsal ini di suatu RS pemerintah dapat menggantikan keberadaan

suatu bangsal kronis.

6. Rehabilitasi geriatri : merupakan suatu keharusan untuk dikerjakan pada

semua penderita geriatrik. Rehabilitasi jalur cepat (fast stream rehabilitation)

dikerjakan selama penderita masih dirawat di bangsal geriatri, oleh karena itu

pelaksanaannya sebaiknya diintegrasikan dengan pelayanan geriatri.

Rehabilitasi jalur lambat (slow stream rehabilitation) dilaksanankan secara

kronis, yang bisa dilaksanakan oleh unit rehabilitasi medik atau bisa juga

diintegrasikan ke dalam pelayanan geriatri.

7. Konsultasi geriatri : yaitu surat layanan konsultatif dari bagian lain terhadap

seorang penderita Lansia. Dari tindakan konsultatif ini, pada penderita yang

bersangkutan dapat diberikan pengobatan bahkan pindah perawatan ke bagian

geriatri.

8. Pendidikan dan riset : merupakan bagian implisit dari pelayanan geriatri.

Riset dilaksanakan baik untuk publikasi atau yang lebih penting adalah untuk

memperbaiki pelayanan itu sendiri.

VII. PELAYANAN SOSIAL BAGI USIA LANJUT

Pelayanan sosial pada Lansia merupakan bagian dari layanan holistik

horizontal pada populasi Lansia. Berbagai layanan yang bisa diberikan kepada

:

Institusi yang memberikan akomodasi, antara lain panti wredha (terutama bagi

para Lansia dengan keterbatasan sosial-ekonomi), akomodasi terlindung

(sheltered accomodation) bagi mereka dengan ketergantungan fisik sebagian

(semi/ partial dependency)

Bantuan pengerjaan aspek domestik (home help services), misalnya

membersihkan rumah, cuci-setrika, dll.

Bantuan penyediaan makan sehari-hari (meals on wheels)

Penjagaan penderita di malam hari (night attendants)

Penyediaan pramu wredha

Dll.

Pelayanan sosial ini sebaiknya merupakan kegiatan dari badan-badan sukarela/

partisipasi masyarakat, yang dikoordinasikan oleh dinas sosial dan atau dinas

kesehatan setempat.



Kaum Lansia Perlu Mendapat Konsep Penanganan Terpadu



JAKARTA (Media): Kaum lanjut usia (lansia) harus mendapatkan perhatian

lebih. Karena itu, perlu konsep terpadu agar penanganan kaum lansia semakin

baik. Keberadaan para lansia tersebut diharapkan tidak membebani semua

orang.

Pakar gerontologi dr Tony Setiabudhi menegaskan hal itu di Jakarta, Sabtu

(11/12), di sela-sela acara simposium Healthy and Active Ageing bertema

Successfull ageing an emerging paradigm of gerontology illness, crisis, and

loss, yang dilaksanakan oleh Pusat Kajian Masalah Lansia bersama Majelis

Fakultas Kedokteran Swasta Indonesia, Universitas Trisakti, dan Universitas

Krida Wacana.

Jumlah populasi lansia di Indonesia pada tahun-tahun mendatang akan

melonjak sangat pesat, ucapnya selaku ketua umum simposium tersebut.

Berdasarkan proyeksi yang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada

2002, jumlah penduduk Indonesia pada 2050 mencapai 293 juta jiwa.

Selain masalah jumlah penduduk, maka masalah struktur penduduk juga harus

diperhatikan. Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional

(BKKBN), pada 2050 akan terjadi perubahan struktur umur yang akan

didominasi oleh mereka yang berusia 60 tahun ke atas.

Dengan jumlah lansia sekarang telah mencapai 15 juta lebih penduduk, ia

memperkirakan, persentase kenaikannya pada 20 tahun lagi menjadi makin

besar dibanding negara lain.

''Kenyataan itu mesti diantisipasi sebelumnya karena proses tersebut akan

membawa konsekuensi yang kompleks,'' ulas Tony, didampingi pakar

gerontologi lainnya, Dr dr Frits August Kakiailatu.

Dalam pertemuan ini pula, dia mengingatkan agar lembaga swadaya

masyarakat (LSM) bersama kalangan profesional menyadari bahwa lansia

harus memperoleh perhatian lebih.

Menurut dia, pemerintah juga diminta untuk memberikan perhatian lebih

kepada lansia walaupun beberapa instansi pemerintah telah menciptakan

program-program yang menyejahterakan mereka.

Namun, ia mengungkapkan, program-program itu belum dirasakan maksimal

oleh lansia sehingga diperlukan konsep terpadu supaya penanganan bagi

mereka bisa menjadi lebih baik.

Bahkan, Tony mengharapkan, seluruh organisasi penanganan lansia

memikirkan, bagaimana agar para orang tua tersebut kelak tidak menjadi beban

bagi keluarga, masyarakat, dan negara.

Maka, pihaknya memandang pentingnya menomorsatukan program kesehatan

untuk kelompok lansia karena mereka yang miskin cukup banyak, meskipun

pertumbuhannya masih berkisar 7% sampai 8%.

Untungnya, jelas Tony, sebagian besar lansia di Indonesia masih dalam

perawatan anak maupun cucunya di rumah yang dihuni bersama. ''Hal ini suatu

yang baik di negara kita.''

Tetapi pada satu saat, apabila anak dan cucu mereka terpaksa bekerja di luar

rumah sehingga orang tua atau kakek/nenek ditinggal sendiri, ia khawatir, akan

timbul masalah.

Tony yang merupakan spesialis kesehatan jiwa meyakini, kenyataan tersebut

kemungkinan terjadi 10 tahun mendatang. Maka kita wajib memikirkan dan

menyiapkan solusinya dari sekarang.

Dalam simposium awam, Prof R Boedho Darmojo mengutip data demografi

penduduk internasional yang dikeluarkan Bureau of the Cencus, 1993, bahwa

Indonesia pada 1990-2025 mengalami peningkatan jumlah lansia sebesar

414%.

''Suatu angka yang paling tinggi di seluruh dunia,'' ujarnya, seraya

membandingkannya dengan yang terjadi di negara Kenya sebanyak 347%,

Brasil 255%, India 242%, China 220%, Jepang 129%, Jerman 66%, dan

Swedia 33%.

Pakar gerontologi tersebut mengingatkan, Indonesia saat ini berada dalam

transisi demografi dengan persentase kaum lansia diproyeksikan menjadi

11,34% pada 2020 mendatang.

DPR mendukung

Sementara itu, dalam rapat dengar pendapat antara Kepala BKKBN Sumarjati

Arjoso dan jajarannya dengan Komisi IX DPR pada Selasa (7/12) lalu,

menurut Sumarjati, Komisi XI dapat memahami misi dan visi program

Keluarga Berencana (KB) Nasional.

''Karena itu, DPR meminta BKKBN secara sungguh-sungguh untuk

mengimplementasikan program kerja 10 tahun ke depan yang meliputi

pengendalian kelahiran, memperkecil angka kematian terutama ibu dan anak

serta meningkatkan kualitas program KB,'' kata dia.

Dalam rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi IX Muhyidin

Arubusman, Sumarjati menegaskan, Komisi IX mendukung BKKBN untuk

mempertahankan posisi Indonesia sebagai salah satu Center of Excellence di

bidang kependudukan dan keluarga berencana yang telah banyak ditiru oleh

negara-negara berkembang di dunia. (Rse/V-2)





VIII. KESIMPULAN

Karena jumlah Lansia dari hari ke hari makin meningkat dengan cepat, dan hal

ini dapat menimbulkan permasalahan yang akan mempengaruhi kelompok

penduduk lain, maka aspek demografi dari kelompok Lansia ini penting

diketahui dan dipahami, sehingga dapat diambil langkah antisipasi untuk

mengatasi permasalahan yang dapat timbul tadi.

Dengan kemajuan teknologi dan umur manusia yang makin panjang, maka

terjadi pergeseran sebab-sebab kematian, dari penyakit infeksi kearah penyakit

degeneratif. Hal ini tentu memerlukan pendekatan yang berbeda di bidang

kesehatan.

Peranan prevensi/ pencegahan semakin besar, karena jika dilakukan secara

cermat dan terus menerus akan memberikan hasil yang lebih baik dengan biaya

yang lebih murah. Maksud dari prevensi sendiri adalah menghindarkan sejauh

mungkin penyakit-penyakit yang dapat timbul dan mengusahakan agar fungsi

tubuh selama mungkin dapat dipertahankan

Karena alasan-alasan di atas, prinsip pelayanan kesehatan pada Lansia adalah

holistik dan bekerja di dalam tim. Sedangkan pelaksanaannya sendiri

melibatkan masyarakat juga Rumah Sakit dan berada dalam tingkatan-

tingkatan. Pelayanannya sendiri dikelompokkan menjadi 5, promosi, prevensi,

diagnosis dini dan pengobatan, pembatasan kecacatan, dan rehabilitasi. Sebagai

pelengkap adalah pelayanan sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Darmojo, Boedhi: Bunga Rampai Karangan Ilmiah : UPF Ilmu Penyakit Dalam

Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro / RS Dr. Kariadi Semarang,

1996.

Darmojo, Boedhi; Martono, Hadi : Buku Ajar Geriatri : Balai Penerbit FKUI

Jakarta, 1999.

Hardywinoto; Setiabudhi, Tony : Panduan Gerontologi Tinjauan dari Berbagai

Aspek : Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005

Hazzard, William R : Principle of Geriatric Medicine and Gerontology, 2nd

edition : Mc Graw Hill Inc. USA. 1990.

posting, realse,transfer by :

ivanishadisofyan.blogspot.com / IVAN ISHADI SOFYAN, SKp

ishadi.skp@gmail.com / aamvan@yahoo.com



PANTI WERDHA SEBUAH PILIHAN

Keberhasilan pembangunan terutama dalam bidang kesejahteraan dan

kesehatan berdampak terhadap meningkatnya usia harapan hidup. Peningkatan

usia harapan hidup ini berbading terbalik dengan angka kelahiran yang

disebabkan oleh keberhasilan program Keluarga Berencana dan keengganan

ibu-ibu untuk melahirkan anak lebih dari dua orang. Akibatnya terjadi

perubahan struktur penduduk menjadi berbentuk piramid terbalik, dimana

jumlah orang lanjut usia lebih banyak dibandingkan anak berusia 14 tahun

kebawah.

Sekarang ini indonesia menempati peringkat keempat dunia dengan penduduk

orang berusia lanjut terbanyak di Dunia dibawah Cina, India, dan Amerika

Serikat. Berdasarkan data dari BPS penduduk orang lanjut usia (60 tahun

keatas) cenderung meningkat. Jumlah penduduk orang lanjut usia di Indonesia

tahun 2000 adalah 17.767.709 orang atau 7.97 % dari jumlah penduduk

Indonesia. Pada tahun 2010 Diprediksikan jumlah orang lanjut usia meningkat

menjadi 9,58 % dan pada tahun 2020 sebesar 11,20 %.

Peningkatan populsi orang lanjut usia diikuti pula berbagai persoalan-persoalan

bagi orang lanjut usia itu sendiri. Penurunan kondisi fisik dan psikis,

menurunnya penghasilan akibat pensiun, kesepian akibat ditinggal oleh

pasangan atau teman seusia dan lain-lain. Oleh karena itu diperlukan adanya

suatu perhatian besar dan penanganan khusus bagi orang lanjut usia tersebut.

Untuk mengatasi salah satu dari berbagai persoalan orang lanjut usia,

pemerintah dalam hal ini Departemen Sosial mengupayakan suatu wadah atau

sarana untuk menampung orang lanjut usia dalam satu institusi yang disebut

Panti Werdha.

Pada awalnya intitusi ini dimaksudkan untuk menampung orang lanjut usia

yang miskin dan terlantar untuk diberikan fasilatas yang layak mulai dari

kebutuhan makan minum sampai kebutuhan aktualisasi. Namun lambat laun

dirasakan bahwa yang membutuhkan pelayanan kesejahteraan lanjut usia yang

berbasis panti tidak hanya bagi mereka yang miskin dan terlantar saja, tetapi

orang yang berkecukupan dan mapan pun membutuhkannya.

Mengapa demikian? Ada beberapa alasan yang yang menyebabkannya,

Pertama; perubahan tipe keluarga dari keluarga besar (extended family)

menjadi keluarga kecil (nuclear family). Dimana pada awalnya dalam keluarga

terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Tapi sesuai dengan perkembangan

keluarga ada tahap dimana keluarga menghadapi anak yang menikah atau

membentuk keluarga sendiri, sehingga yang terjadi adalah orang tua akan

tinggal berdua saja, tentu saja kondisi ini membutuhkan peran pengganti

keluarga

Kedua adalah perubah peran ibu. Pada awalnya peran ibu adalah mengurus

rumah tangga, anak-anak, dan lain-lain. Sekarang telah mengalami perubahan

dimana ibu juga bertindak sebagai pencari nafkah bekerja di Kantoran dan

sebagainya. Sehingga anggota keluarga seperti anak-anak dan kakek serta

nenek dititipkan pada institusi tertentu.

Ketiga kebutuhan sosialisasi orang lanjut usia itu sendiri. Apabila ia tinggal

dalam keluarga mungkin ia akan mengalami perasaan yang bosan ditinggal

sendiri, anaknya mungkin berangkat bekerja dan cucunya kesekolah. Sehingga

ia membutuhkan suatu lingkungan sosial diamana didalam komunitas tersebut

terdapat beberapa kesamaan sehingga ia merasa betah dan kembali

bersemangat.

Inilah dilema yang terjadi, diperhadapkannya seseorang pada suatu pilihan

yang sulit, dimana keluarga mengalami situasi yang tidak memungkinkan

untuk merawat sendiri ayah dan ibu yang telah senja karena alasan pekerjaan

dan kesibukan lainnya, membuat keluarga tidak memiliki waktu untuk lebih

banyak bersama kedua orang tua.

Sebaliknya karena lebih seringnya ditinggal seorang diri di Rumah membuat

orang tua merasa kesepian dan membutuhakan suatu lingkungan dengan

komunitas yang sama.



Menjadi tua bukanlah pilihan tetapi hidup di panti werdha adalah sebuah

pilihan

Tidak dipungkiri bahwa keluargalah yang merupakan unit yang paling tepat

untuk memberikan pelayananan terhadap orang tuanya yang lanjut usia, dan

peran-peran keluarga ini perlu diamaksimalkan. Tetapi jika menghadapi

kondisi yang disebutkan diatas maka inilah yang dapat dikatakan sebagai

jawaban atas permasalahan yang dihadapi oleh keluarga yang memiliki orang

tua lanjut usia.

Dengan menggunakan jasa panti werdha sebagai suatu solusi adalah tepat.

Asalkan pengambilan keputusan/kesepakatan untuk tinggal di Panti Werdha

melibatkan seluruh anggota keluarga serta persetujuan orang tua kita yang

sudah lansia. Keluarga yang memasukkan orang tuanya ke panti werdha harus

tetap menunjukkan kasih sayangnya meski mereka berada di Panti Werdha.

Panti Werdha bisa menjadi pilihan yang baik untuk menikmati hari tua. Akan

tetapi sebagian masyarakat Indonesia memandangnya sebagai suatu yang

negative. Pandangan masyarakat tentang Panti Jompo dan orang tua yang

dititipkan di sana agaknya perlu diluruskan. Orang tua yang dititipkan di Panti

Werdha tidak berarti mereka terbuang, mereka tetap memiliki keluarga yang

merupakan bagian penting dari keberadaannya.

Di Panti Werdha mereka menemukan teman yang relative seusia dengannya

dimana mereka dapat berbagi cerita. Karena kebereadaan lansia di Panti

dengan berbagai karakter serta memiliki berbagai ragam problematika maka

dipandang perlu untuk memberikan suatu penanganan khusus sesuai kelebihan

serta kekurangan yang mereka miliki.

Di Panti Werdha selain mendapatkan pelayanan berupa pemenuhan kebutuhan

dasar juga diberikan fungsi positif lainnya yaitu program-program pelayanan

sosial yang bisa memberikan kesibukan buat mereka sebagai pengisian waktu

luang diantaranya pemberian Bimbingan Sosial, Bimbingan Mental Spiritual

serta Rekreasi, penyaluran bakat dan hoby, terapi kelompok, senam dan banyak

kegiatan lainnya.

Di Panti mereka mendapatkan fasilitas serta kemudahan–

kemudahan/aksesibilitas lainnya. selain bersama teman seusianya, mereka juga

mendapatkan pelayanan maksimal dari para Pekerja Sosial dimana mereka

menemukan hari-harinya dengan ceria



ISSUE DAN KECENDRUNGAN KEPERAWATAN GERONTIK



Perubahan, tantangan dan peluang merupakan tiga aspek inti yang sedang

terjadi dalam pelayanan keperawatan di Indonesia saat ini. Disamping itu,

suatu proses yang mendasar untuk merestrukturisasi pelayanan kesehatan telah

mempengaruhi proses perubahan dalam pelayanan keperawatan.



Fokus dan orientasi system pelayanan kesehatan telah mempengaruhi proses

perubahan dalam pelayanan keperawatan.



Fokus dan orientasi system pelayanan kesehatan dan suatu penyakit dan

pelayanan kesehatan akut telah berubah menjadi focus kepada

kesahatan/kesejahteraan dan berorientasi pada masyarakat.



Sejalan dengan situasi-tersebut, maka profesi keperawatan seyogyanya harus

mampu berespon darn meningkatkan diri agar dapat memenuhi kebutuhan

masyarakat. Salah satu cara adalah untuk meningkatkan sumber daya tenaga

keperawatan adalah dengan meningkatkan pengetahuan, ketrampilan

memimpin dan kompetensi (Nurachmah, 1999).



Pada masa lalu [dan bahkan sebagian besar sampai sekarang keperawatan

dilakukan berdasarkan intuisi dan tradisi sehingga keperawatan dianggap

sebagai kiat tanpa komponen ilmiah. Pandangan ini telah menempatkan

keperawatan hanya sebagai `pelengkap' atau bagian dari disiplin kesehatan lain

dengan ketidakpastian tentang keperawatan sebagai disiplin ilmu vang unik.

Sementara sebagai profesi, keperawatan harus memiliki ilmu dan kiat vang

diprasyaratkan untuk dapat secara otonom mengendalikan mutu pendidikan

dan praktik keperawatan (Hamid, 1999).

Sementara itu, untuk dapat melakukan perubahan, menghadapi tantangan dan

mengacnbil peluang serta merubai persepsi tentang profesi keperawatan yang

tidak benar memerlukan kesiapan sernua komponen keperawatan yang secara

factual masih acak¬acakan dan penuh ketidakpastian.



Untuk dapat mengembangkan pelayanan keperawatan dibidang gerontik perlu

adanya pengembangan yang serasi tiga komponen cikal bakal pengembangan

disiplin keperawatan, yang secara skematis ditunjukan dalam diagram berikut:



Sumber Hamid, 1999

Dengan demikian perawatan system pelayanan keperawatan gerontik akan kuat

karena didukung oleh teori yang kokoh, prakti keperawatan gerontik yang

terstandarisasi dan penelitian yang berkelanjutan untuk mengembangkan kedua

komponen tersebut.



Pertanyaannya yang muncul adalah: bagaimana pengembangan penelitian

gerotik di Indonesia sekarang ?. Jawabnya untuk saat sekarang ini adalah bisa

tapi sangat sulit karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Kita sepakat

bahwa penelitian ceperawatan diperlukan dan harus dikembangkan namun

pada waktu yang akan datang. Dikatakan bisa karena terbuka lebar tempat

penelilian, fenomena penelitian dan banyak area penelitian gerontik yang

belum tersentuh. Dalain melakukan penelitian keperawatan di pelayanan

gerontik kita harus melakukan analisa SWOT sehingga kita sadar dan

memandang persoalan secara jernih.



Faktor-faktor yang mempersulit penelitian keperawatan gerontik adalah: I.

Sumber daya manusia keperawatan

Tingkat pendidikan keperawatan di Indonesia sekarang ini masih sangat

bervariasi dari jenjang pendidikan menengah sampai jeniang pendidikan tinggi.

Keheterogenitasan inilah yang akan mempersulit pengembangan penelitian

tersebut karena jenjang pendidikan keperawatan didoininasi oleh pendidikan

keperawatan tingkat menengah yang secara konseptual dan kemampuan sangat

terbatas. Kelompok pendidikan keperawatan menegah diperkirakan menguasai

80 % dari seluruh jumlah tenaga keperawatan yang ada di Indonesia saat ini.

Jumlah perawat dengan kwalifikasi sarjana keperawatan (SI keperawatan),

.magisler keperawatan dan Dok-tor

2. Model praktek keperawafan yang belum baku

Setelah peraturan menteri kesehatan nomer 647 diterbitkan, sampai sekarang

belum ada bentuk konkrit praktek keperawatan yang akan dikembangkan.

Bentuk praktek keperawatan yang jelas sangat penting termasuk praktek

keperavatan gerontik karena penelitian keperawatan yang akan dilakukan akan

berhubungan erat dengan system atau bentuk praktek yang dikembangkan.



Padahal dalam Musyawarah nasional ke VI di bandung telah menyepakati

beberapa butir untuk menindaklanjuti peraturan menteri kesehatan no 647 yang

salah satunya memberikan amanat agar Pengurus Pusat PPNI untuk membuat

petujuk tekhnis operasional (Bina sehat 2000).



3. Sistem pelayanan kesehatan yang masih buruk.

Selama ini bentuk pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di Indonesia masih

beorientasi pada pelayanan medis (medical oriented). Selama ini kebijakan

yang dilahirkan oleh depatemen kesehatan se!alu berorientasi medis dan

menempatkan dokter sebagai 'penguasa tunggal' dalam pelayanan kesehatan.

Para dokter selalu berangapan bahwa pendekatan tim terhadap upaya

penyembuhan dan pemulihan memerlukan adanya seorang kordinator, disini

seorang tenaga medis/dokter yang bertindak sebagai nahkoda (Yusa, 2000).

Sehingga apapun kebijakan yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan

selalu berorientasi medis.

Sebagai contoh konkrit baliwa pelayanan kesehatan hanya dibagi menjadi

pelayanan kedokteran (medical services) dan pelayanan keseliatan masyarakat

(public health services) (Az_war, 1996) sehingga mengangap profesi-profesi

kesehatan diluar kedokteran sebagai pelengkap atau sebagal subsistem

pelayanan kedokteran.

Semestinya perlu dikembangkan secara professional sehingga masing - masing

profesi yang telah diakui oleh Peraturan Pemerintah No 32 tentang tenaga

kesehatan (Hanafiah dan Amir, 1999) diberi kebebasan mengembangkan diri

sesual dengan sudut padang dan otonomi profesi tersebut yang salah satunya

dikembangkan melalui penelitian. Jangan semua keputusan pengembangan

system pelayana kesehatan di tentukan oleh Departemen Kesehatan tapi

organisasi profesi tak gterlibat.



Berdasarkan masalah-masalah yang ada diatas sudah saatnya dilakukan

restrukturisasi pelayanan kesehatan secara bertahap dan berkelanjutan sehingga

semua profesi di area kesehatan mempunyai kesempatan mengembangkan diri,

mengembangkan praktek yang pada akhirnya mengembangakan pelayanan

kesehatannya kepada masyarakat.



Restrukturisasi pelayana kesehatan merupakan suatu upaya mencapai suatu

perubahan yang diharapkan melalui perancangan kembali aspek-aspek yang

dianggap menjadi penghambat terjadinya perubahan (Nurachmah, 2000).

Selama restrukturisasi ini belum dilakukan maka selama ilu juga terjadi

kesulitan pengembangan profesi keperawatan termasuk dalam hal penelitian

karena- akan berbentura.n dengan system yang masih buruk.

4. Sumber pembiayaan penelitian yang ada belum terkoordinir

Keperawatan sebagai profesi, saat li masih dalam fase pengembangan sehingga

dibutuhkan kerja keras serta infrastruktur yang menunjang perubahan tersebut.

Sebagai organisasi profesi yang datam tahap pengembangan, perawat masih

lemah dari segala segi termasuk dalam pendanaan, bargaining power dan

penentuan kebijakan (regulasi).

Penelitian untuk mengembangkan pelayanan keperawatan termasuk pelayanan

keperawatan gerontik akan sangat memerlukan dana yang sangat besar untuk

ini perlu dikembangkan usaha untuk menghimpun dana dari berbagai pihak

sehingga semua penelitian keperawatan dapat di danai dari dana yang

terkumpul tersebut. Perlu satu badan yang mengurusi tentang pendanaan

penelitian keperawatan. Badan tersebut berfungsi mencari donatur insidentil

dan donatur tetap serta melakukan mobilisasi terhadap dana yang terkumpul

demi kepentingan penelitian keperatvatan.

Jika perawat hanya mengandalkan dana penelitian yang disedikan oleh

departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial akan selalu menemui

hambatan/kesulitan karena akan berbenturan dengan system yang berlaku

sekarang ini dan proporsi pendanaan yang disedikan juga tidak seimbang untuk

masing-tnasing profesi.

Untuk mengatasi kesulitan tersebut, oerlu dilakukan klasifikasi karakteristik

dan prioritas penelitian keperawatan. Menurut Diers (dikutip Cracen dan

Hirnle, 1996) secara umum karakteristik penelitian keperawatan yang

diperlukan adalah:

1. Riset keperatvatan harus berfokus pada variabel yang meningkatkan asuhan

keperawatan.

2. Riset keperawatan mempunvai potensi untuk berkontribusi pada

pengembangan teori dan pengembangan tubuh ilmu pengetahuan

keperarwatan.

3. Masalah riset merupakan masalah riset keperawatan apabila perawat

mempunyai akses dan kendali terhadap fenomena yang diteliti.

4. Perawat yang tertarik terhadap penelitian harus mempunyai keingintahuan

dan pertanyaan yang perlu dijawab secara ilmiah.



Prioritas penelitian atau risetnva adalah sebagai berikut(Hamid, 1999 dengan

modifikasi):

1. Meningkatkan kesehatan, kesejahteraan dan kemampuan merawat diri

sendiri sehingga tiap lansia baik di rumah sakit, keluarga, kelompok, dan

masyarakat.

2. Meminimalkan atau mencegah perilaku atau lingkungan yang menimbulkan

masalah kesehatan dan berdampak pada menurunnya kualitas hidup dan

produktifitas.

3. Meminimalkan dampak negatif dari teknologi kcsehatan baru terhadap

kemampuan adaptif individu lansia dan keluarga yang sedang mengalami

masalah kesehatan akut dan kronik.

4. Memastikan bahwa asuhan keperawatan yang diperlukan bagi kelompok

yang beresiko: seperti lansia dengan penyakit kronik, lansia dengan gangguan

jiwa, lansia pada masyarakat miskin dengan cara yang dapat diterima dan

efektif.

5. Mengklasifikasi fenomena praktek keperawatan gerontik.

6. Memastikan prinsip etik sebagai pegangan dalam melakukan riset

keperawatan

7. Mengembangkan instrumen untuk mengukur hasil intervensi keperawatan.

8. Mengembangkan metodologi yang integrative untuk mengkaji manusia

secara holistic dan kontek keluarga dan gaya hidup.

9. Merancang dan mengevaluasi model alternatif teori keperawatan dan

pelayanan keperawatan dan system pelayanan kesehatan sehingga perawat

mampu meningkatkan mutu dan menghemat biaya yang dikeluarkan dalam

mernenuhi kebutuhan 'tansia khususnya dan masyarakat pada umumnya.

10. Mengevaluasi keberhasilan pendekatan altematif yang memerlukan

pengetahuan yang luas dan ketrampilan yang tinggi dalam praktek pelayanan

keperawatan geonlik.

11. Mengidentifikasi dan menganalisa faktor-faktor histories dan kontenporer

yang mempengaruhi bentuk keterlibatan keperawatan porofesional dalam

pengembangan kebijakan kesehatan nasional.

ASKEP ISK GERONTIK

Realese by Ivan

LAPORAN PENDAHULUAN

INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)

A. Pengertian

KeInfeksi Saluran mih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah

suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih.

(Agus Tessy, 2001)

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada

saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998)

B. Klasifikasi

Jenis Infeksi Saluran Kemih, antara lain:

1. Kandung kemih (sistitis)

2. uretra (uretritis)

3. prostat (prostatitis)

4. ginjal (pielonefritis)

Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut, dibedakan menjadi:

1. ISK uncomplicated (simple)

ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik,

anatomic maupun fungsional normal. ISK ini pada usi lanjut terutama

mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial

kandung kemih.

2. ISK complicated

Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit

diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam

antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis dan shock. ISK ini terjadi bila

terdapat keadaan-keadaan sebagi berikut:

a. Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral

obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing menetap

dan prostatitis.

b. Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK.

c. Gangguan daya tahan tubuh

d. Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus spp yang

memproduksi urease.

C. Etiologi

1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain:

a. Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple)

b. Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated

c. Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan-lain-lain.

2. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain:

a. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan

kandung kemih yang kurang efektif

b. Mobilitas menurun

c. Nutrisi yang sering kurang baik

d. Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral

e. Adanya hambatan pada aliran urin

f. Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

D. Patofisiologi

Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik

dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak langsung

dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen. Ada dua jalur utama

terjadinya ISK, asending dan hematogen. Secara asending yaitu:

? masuknya mikroorganisme dalm kandung kemih, antara lain: factor anatomi

dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki

sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, factor tekanan urine saat miksi,

kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan

sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi.

? Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal

Secara hematogen yaitu: sering terjadi pada pasien yang system imunnya

rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen Ada

beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga

mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan total urine

yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat

jaringan parut, dan lain-lain.

Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya:

? Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan

kandung kemih yang tidak lengkap atau kurang efektif.

? Mobilitas menurun

? Nutrisi yang sering kurang baik

? System imunnitas yng menurun

? Adanya hambatan pada saluran urin

? Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat.

Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan

distensii yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini

mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih

menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan

gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen

menyebar ke suluruh traktus urinarius. Selain itu, beberapa hal yang menjadi

predisposisi ISK, antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang

menakibtakan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter

yang disebut sebagai hidronefroses. Penyebab umum obstruksi adalah: jaringan

parut ginjal, batu, neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering ditemukan

pada laki-laki diatas usia 60 tahun.

Pathway : terlampir

E. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah (sistitis):

? Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih

? Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis

? Hematuria

? Nyeri punggung dapat terjadi

Tanda dan gejala ISK bagian atas (pielonefritis)

? Demam

? Menggigil

? Nyeri panggul dan pinggang

? Nyeri ketika berkemih

? Malaise

? Pusing

? Mual dan muntah

F. Pemeriksaan Penunjang

1. Urinalisis

? Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK.

Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar

(LPB) sediment air kemih

? Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air

kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa

kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.

2. Bakteriologis

? Mikroskopis

? Biakan bakteri

3. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik

4. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari

urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai

criteria utama adanya infeksi.

5. Metode tes

? Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess

untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami

piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang

mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.

? Tes Penyakit Menular Seksual (PMS):

Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia

trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek).

? Tes- tes tambahan:

Urogram intravena (IVU). Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi

juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari

abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses,

hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic,

sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi

penyebab kambuhnya infeksi yang resisten.

G. Penatalaksanaan

Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah agens antibacterial

yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek

minimal terhaap flora fekal dan vagina.

Terapi Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dapat dibedakan atas:

? Terapi antibiotika dosis tunggal

? Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari

? Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu

? Terapi dosis rendah untuk supresi

Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan

infeksi. Jika kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi,

factor kausatif (mis: batu, abses), jika muncul salah satu, harus segera

ditangani. Setelah penanganan dan sterilisasi urin, terapi preventif dosis

rendah.

Penggunaan medikasi yang umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin),

trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ, bactrim, septra), kadang

ampicillin atau amoksisilin digunakan, tetapi E. Coli telah resisten terhadap

bakteri ini. Pyridium, suatu analgesic urinarius jug adapt digunakan untuk

mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi.

Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkina adanya:

? Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan

? Interansi obat

? Efek samping obat

? Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal

Resiko pemberian obat pada usia lanjut dalam kaitannya dengan faal ginjal:

1. Efek nefrotosik obat

2. Efek toksisitas obat

Pemakaian obat pada usia lanjut hendaknya setiasp saat dievalusi

keefektifannya dan hendaknya selalu menjawab pertanyaan sebagai berikut:

? Apakah obat-obat yang diberikan benar-benar berguna/diperlukan/

? Apakah obat yang diberikan menyebabkan keadaan lebih baik atau malh

membahnayakan/

? Apakah obat yang diberikan masih tetap diberikan?

? Dapatkah sebagian obat dikuranngi dosisnya atau dihentikan?

H. Pengkajian

1. Pemerikasaan fisik: dilakukan secara head to toe dan system tubuh

2. Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko:

? Adakah riwayat infeksi sebelumnya?

? Adakah obstruksi pada saluran kemih?

3. Adanya factor yang menjadi predisposisi pasien terhadap infeksi

nosokomial.

? Bagaimana dengan pemasangan kateter foley?

? Imobilisasi dalam waktu yang lama.

? Apakah terjadi inkontinensia urine?

4. Pengkajian dari manifestasi klinik infeksi saluran kemih

? Bagaimana pola berkemih pasien? untuk mendeteksi factor predisposisi

terjadinya ISK pasien (dorongan, frekuensi, dan jumlah)

? Adakah disuria?

? Adakah urgensi?

? Adakah hesitancy?

? Adakah bau urine yang menyengat?

? Bagaimana haluaran volume orine, warna (keabu-abuan) dan konsentrasi

urine?

? Adakah nyeri-biasanya suprapubik pada infeksi saluran kemih bagian bawah

? Adakah nyesi pangggul atau pinggang-biasanya pada infeksi saluran kemih

bagian atas

? Peningkatan suhu tubuh biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas.

5. Pengkajian psikologi pasien:

? Bagaimana perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan pengobatan yang

telah dilakukan? Adakakan perasaan malu atau takut kekambuhan terhadap

penyakitnya.

I. Diagnosa Keperawatan Yang Timbul

1. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi

uretra, kandung kemih dan sruktur traktus urinarius lain.

2. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada

kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain.

3. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan

pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.

J. Intervensi Keperawatan

1. Dx 1 :

Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra,

kandung kemih dan struktur traktus urinarius lain.

Kriteria evaluasi:

Tidak nyeri waktu berkemih, tidak nyeri pada perkusi panggul

Intervensi:

a. Pantau haluaran urine terhadap perubahan warna, baud an pola berkemih,

masukan dan haluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang

Rasional: untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari

hasil yang diharapkan

b. Catat lokasi, lamanya intensitas skala (1-10) penyebaran nyeri.

Rasional: membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan penyebab nyeri

c. Berikan tindakan nyaman, seprti pijatan punggung, lingkungan istirahat;

Rasional: meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot.

d. Bantu atau dorong penggunaan nafas berfokus

Relaksasi: membantu mengarahkan kembali perhatian dan untuk relaksasi otot.

e. Berikan perawatan perineal

Rasional: untuk mencegah kontaminasi uretra

f. Jika dipaang kateter indwelling, berikan perawatan kateter 2 nkali per hari.

Rasional: Kateter memberikan jalan bakteri untuk memasuki kandung kemih

dan naik ke saluran perkemihan.

g. Kolaborasi:

? Konsul dokter bila: sebelumnya kuning gading-urine kuning, jingga gelap,

berkabut atau keruh. Pla berkemih berubah, sring berkemih dengan jumlah

sedikit, perasaan ingin kencing, menetes setelah berkemih. Nyeri menetap atau

bertambah sakit

Rasional: Temuan- temuan ini dapat memeberi tanda kerusakan jaringan lanjut

dan perlu pemeriksaan luas

? Berikan analgesic sesuia kebutuhan dan evaluasi keberhasilannya

Rasional: analgesic memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri

h. Berikan antibiotic. Buat berbagai variasi sediaan minum, termasuk air segar .

Pemberian air sampai 2400 ml/hari

Rasional: akibta dari haluaran urin memudahkan berkemih sering dan

membentu membilas saluran berkemih

2. Dx 2:

Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada

kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain.

Kriteria Evaluasi:

Pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi,

oliguri, disuria)

Intervensi:

a. Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristi urin

Rasional: memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi

b. Tentukan pola berkemih pasien

c. Dorong meningkatkan pemasukan cairan

Rasional: peningkatan hidrasi membilas bakteri.

d. Kaji keluhan kandung kemih penuh

Rasional: retensi urin dapat terjadi menyebabkan distensi jaringan(kandung

kemih/ginjal)

e. Observasi perubahan status mental:, perilaku atau tingkat kesadaran

Rasional: akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolit dapat

menjadi toksik pada susunan saraf pusat

f. Kecuali dikontraindikasikan: ubah posisi pasien setiap dua jam

Rasional: untuk mencegah statis urin

g. Kolaborasi:

? Awasi pemeriksaan laboratorium; elektrolit, BUN, kreatinin

Rasional: pengawasan terhadap disfungsi ginjal

? Lakukan tindakan untuk memelihara asam urin: tingkatkan masukan sari

buah berri dan berikan obat-obat untuk meningkatkan aam urin.

Rasional: aam urin menghalangi tumbuhnya kuman. Peningkatan masukan sari

buah dapt berpengaruh dalm pengobatan infeksi saluran kemih.

3. Dx 3:

Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan

berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.

Kriteria Evaluasi: menyatakna mengerti tentang kondisi, pemeriksaan

diagnostic, rencana pengobatan, dan tindakan perawatan diri preventif.

Intervensi:

a. Kaji ulang prose pemyakit dan harapan yang akan datanng

Rasional: memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat

pilihan beradasarkan informasi.

b. Berikan informasi tentang: sumber infeksi, tindakan untuk mencegah

penyebaran, jelaskna pemberian antibiotic, pemeriksaan diagnostic: tujuan,

gambaran singkat, persiapan ynag dibutuhkan sebelum pemeriksaan, perawatan

sesudah pemeriksaan.

Rasional: pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan

m,embantu mengembankan kepatuhan klien terhadap rencan terapetik.

c. Pastikan pasien atau orang terdekat telah menulis perjanjian untuk perawatan

lanjut dan instruksi tertulis untuk perawatn sesudah pemeriksaan

Rasional: instruksi verbal dapat dengan mudah dilupakan

d. Instruksikan pasien untuk menggunakan obat yang diberikan, inum sebanyak

kurang lebih delapan gelas per hari khususnya sari buah berri.

Rasional: Pasien sering menghentikan obat mereka, jika tanda-tanda penyakit

mereda. Cairan menolong membilas ginjal. Asam piruvat dari sari buah berri

membantu mempertahankan keadaan asam urin dan mencegah pertumbuhan

bakteri

e. Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan

masalah tentang rencana pengobatan.

Rasional: Untuk mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan ketidakpatuhan dan

membantu mengembangkan penerimaan rencana terapeutik.



DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan

dan pendokumentasian perawatan pasien. Alih Bahasa: I Made Kariasa, Ni made

Sumarwati. Edisi: 3. Jakrta: EGC.

Enggram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan

Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC.

Parsudi, Imam A. (1999). Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: FKUI

Price, Sylvia Andrson. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit:

pathophysiologi clinical concept of disease processes. Alih Bahasa: Peter Anugrah. Edisi:

4. Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &

Suddart. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC.

Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi Saluran

Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.


Share This Document


Related docs
Other docs by dhartawinata
ASKEP BAYI HIPERBILIRUBINEMIA
Views: 11269  |  Downloads: 280
KONSEP DASAR KEPERAWATAN GERONTIK
Views: 33881  |  Downloads: 611
KOMUNIKASI TERAPUETIK
Views: 2666  |  Downloads: 84
ASKEP sectio caesaria
Views: 5150  |  Downloads: 115
ASKEP DHF
Views: 14328  |  Downloads: 286
ASKEP BRONKHITIS
Views: 6835  |  Downloads: 176
ASKEP HIPERTROPI PROSTAT
Views: 3487  |  Downloads: 67
ASKEP APENDISITIS
Views: 13345  |  Downloads: 304
by registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!