Arti Islam by m4h1run

VIEWS: 5,560 PAGES: 9

									Arti Islam

"Sesungguhnya agama di sisi Allâh hanyalah Islam" (QS Ali Imran 19)

Secara harfiah, kata Islam memiliki arti :
 1. Taat atau berserah diri (kepada Allâh)
 2. Damai dan kasih sayang
 3. Selamat

Secara umum, Islam adalah agama yang dianugerahkan Allâh kepada umat manusia, dengan perantaraan pada
nabi dan rasul Allâh sejak rasul pertama Adam as hingga rasul terakhir Muhammad saw.

Sebagai konsekuensinya, penganut Islam haruslah mengakui ajaran final Islam seperti yang diajarkan melalui
Muhammad saw.

Untuk menjadi Islam, kita harus mengikrarkan kalimah syahadat, yaitu kalimat persaksian sebagai berikut :

Asyhadu An-Laa Ilaaha Illallâh.
Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allâh.
Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh.
Dan saya bersaksi bahwa Muhammad (saw) adalah utusan Allâh.

Kalimah syahadat adalah satu dari lima Rukun Islam. Rukun Islam adalah hal-hal yang wajib dilaksanakan oleh
umat Islam dengan syarat-syarat tertentu. Selengkapnya, Rukun Islam adalah :
 1. Mengikrarkan Kalimah Syahadat
 2. Mendirikan Shalat
 3. Mengeluarkan Zakat
 4. Melaksanakan Shaum / Puasa
 5. Menunaikan Hajji

Di samping Rukun Islam, dikenal juga Rukun Iman. Rukun Iman adalah hal-hal yang wajib diyakini oleh umat
Islam sebagai bagian dari ajaran agama Islam. Selengkapnya, Rukun Iman adalah :
  1. Iman kepada Allâh
  2. Iman kepada Malaikat-Malaikat Allâh
  3. Iman kepada Kitab-Kitab Allâh
  4. Iman kepada Rasul-Rasul Allâh
  5. Iman kepada Hari Akhir
  6. Iman kepada Qadha dan Qadar Allâh

Ikrar pertama menunjukkan pengakuan tauhid. Artinya, kita hanya mempercayai Allâh sebagai satu-satunya Ilah.
Ilah adalah 'Tuhan' dalam arti sesuatu yang menjadi motivasi atau menjadi tujuan. Jadi dengan mengikrarkan
ikrar pertama, kita memantapkan diri untuk menjadikan hanya Allâh sebagai tujuan, sebagai motivasi, dan
sebagai jalan hidup. Hanya Allâh, dan tidak ada satu pun lainnya.
Ikrar kedua menunjukkan pengakuan bahwa Muhammad saw adalah utusan Allâh. Dengan ikrar ini kita
memantapkan diri untuk meyakini ajaran Allâh seperti yang disampaikan melalui Muhammad saw, seperti
misalnya mengambil nama Islam sebagai nama ajaran Allâh ini, memegang Al-Qur`an sebagai kitab panduan
bagi seluruh umat manusia, mengambil hukum-hukum seperti yang ditetapkan Muhammad saw, dan meyakini
hadis-hadis Muhammad saw. Termasuk di dalamnya adalah tidak mempercayai klaim kerasulan setelah
Muhammad saw.



Syahadat

Syahadat berarti pernyataan kesaksian. Dalam Islam, ikrar syahadat merupakan tanda masuknya seseorang
memeluk agama Islam.

Syahadat meliputi dua kalimat berikut :

Asyhadu An-Laa Ilaaha Illallâh.
Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allâh.


Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh.
Dan saya bersaksi bahwa Muhammad (saw) adalah utusan Allâh.

Ikrar pertama menunjukkan pengakuan tauhid. Artinya, kita hanya mempercayai Allâh sebagai satu-satunya Ilah.
Ilah adalah 'Tuhan' dalam arti sesuatu yang menjadi motivasi atau menjadi tujuan. Jadi dengan mengikrarkan
ikrar pertama, kita memantapkan diri untuk menjadikan hanya Allâh sebagai tujuan, sebagai motivasi, dan
sebagai jalan hidup. Hanya Allâh, dan tidak ada satu pun lainnya.

Ikrar kedua menunjukkan pengakuan bahwa Muhammad saw adalah utusan Allâh. Dengan ikrar ini kita
memantapkan diri untuk meyakini ajaran Allâh seperti yang disampaikan melalui Muhammad saw, seperti
misalnya mengambil nama Islam sebagai nama ajaran Allâh ini, memegang Al-Qur`an sebagai kitab panduan
bagi seluruh umat manusia, mengambil hukum-hukum seperti yang ditetapkan Muhammad saw, dan meyakini
hadis-hadis Muhammad saw. Termasuk di dalamnya adalah tidak mempercayai klaim kerasulan setelah
Muhammad saw.



RAIHLAH ILMU!

Dakwah --- "Anakku, engkau tidak berada di majlis suatu kaum melainkan engkau menjadi bahan ejekan dan
tertawaan mereka. Oleh karena itu, carilah ilmu, karena ilmu akan mengangkat derajatmu" Demikian pesan
seorang ibu yang bijak kepada anak kesayangannya yang menderita cacat fisik. Pesan sang ibu terbukti di
kemudian hari. Sang anak yang tak lain Muhammad bin Abdurrahmân Al-Auqash menjadi pemimpin di Mekkah
selama dua puluh tahun.
Sungguh, pesan sang ibu tadi sangatlah tepat dan tidak ada orang yang menyangsikan akan pentingnya ilmu
pengetahuan sebagai bekal untuk kehidupan dunia dan akhirat. Maka tak heran segala usaha dan jerih payah
dicurahkan untuk mendapatkannya. Sebab kebodohan, hanya akan menjadikan manusia hina, tidak berguna,
menapak dalam kegelapan, serta rendah dalam pandangan Allah dan manusia. Sebaliknya dengan ilmulah,
derajat manusia terangkat, ia berguna bagi manusia di sekitarnya dan jalan hidup yang dilaluinya menjadi terang.
Dengan ilmu pula yang haq bisa dibedakan dari yang batil, yang buruk bisa dihindari, yang bermanfaat untuk
dunia dan akhirat dapat diraih serta hakikat hidup yang sesungguhnya menjadi jelas.

Islam dan Ilmu

Islam sebagai agama yang sempurna sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, mendorong manusia untuk
mencarinya, memuliakan orang yang berilmu dan mengangkat tinggi derajatnya. Kata-kata ilmu dan yang
sepadan dengannya banyak kita jumpai di beberapa ayat dalam al-Quran. Bahkan sejak pertama kali al-Quran
diturunkan kepada Nabi Muhammad telah mendorong manusia untuk membaca sebagai kunci ilmu pengetahuan
dan menyebutkan kata qalam (pena) sebagai alat untuk menyampaikannya. (Al-'Alaq 1-5)
Menurut Ibnu Katsîr dalam tafsirnya bahwa ayat ini adalah yang pertama kali diturunkan kepada Nabi
Muhammad sebagai rahmat pertama yang Allah curahkankan kepada para hamba-Nya dan nikmat pertama
yang Ia anugrahkan kepada mereka. Ayat ini mengingatkan tentang awal penciptaan manusia yang diciptakan
dari segumpal darah. Allah telah memuliakan manusia dengan mengajarkan kepada mereka apa yang mereka
tidak ketahui sehingga dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, manusia menjadi mulia. Dan dengan ilmu
pengetahuan pula bapak manusia, Adam as dimuliakan diatas para malaikat. (Ibnu Katsîr 4/481)

Sementara dalam ayat lain, Allah bersumpah dengan qalam (pena). Ia berfirman:

Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis, (QS. 68:1)

Menurut para ahli tafsir, jika Allah bersumpah dengan salah satu ciptaan-Nya, seperti bersumpah dengan
matahari, bulan, waktu, pena dan lainnya, menunjukan pentingnya ciptaan Allah tersebut, sehingga Ia
bersumpah dengannya dan mengajak manusia untuk memperhatikannya.

Mengapa Islam begitu besar memberikan perhatian terhadap ilmu pengetahuan? Karena ilmu pengetahuan yang
benar akan melahirkan rasa takut kepada Allah. Sebab orang yang berilmu dapat mengenal Allah dengan baik
melalui perenungannya terhadap ayat-ayat-Nya. Dan dari pengenalan-Nya akan timbul rasa takut. Jika rasa
takut telah menghujam di hati manusia maka ia telah memiliki modal kebaikan yang sangat berharga nilainya.
Karena itulah, Allah mengatakan bahwa hanya orang-orang yang berilmu (ulama) yang takut kepadaNya.
"…Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…"(QS. 35:28)

Jika Islam sangat menghormati ilmu pengetahuan dan memuliakan pemiliknya, sebaliknya, ia sangat mencela
kebodohan, menghina orang-orang yang bodoh dan mewaspadai untuk tidak mengikuti prilaku mereka. Ilmu
adalah cahaya yang menyinari jalan kehidupan. Sedangkan kebodohan adalah kegelapan yang menutup semua
sarana kebaikan.
Banyak dijumpai dalam al-Quran ayat-ayat yang mengandung celaan terhadap orang yang bodoh yang berfikir
dan bertindak tidak berdasarkan ilmu pengetahuan. Seperti firman Allah berikut:

Dan mereka berkata:"Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka
(malaikat)". Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-
duga belaka. (QS. 43:20)
Dalam ayat ini, orang-orang musyrikin dengan kebodohan mereka, mengklaim bahwa perbuatan mereka
menyembah berhala bukan atas kehendak mereka sendiri, tetapi atas kehendak Allah. Seakan mereka tidak
memiliki kebebasan memilih untuk melakukan sesuatu menurut apa yang mereka inginkan. Kemudian Allah
membantah bahwa klaim mereka itu tidak berdasarkan ilmu pengetahuan. Apa yang mereka katakan hanya
sebuah dugaan belaka.

Dengan nada hinaan yang lebih tegas lagi, Allah menganggap orang yang bodoh adalah buta. Firman-Nya:

Adakah orang yang mengetahui bahwasannya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama
dengan orang yang buta Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (QS. 13:19)

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa hanya orang yang mengetahui akan kebenaran al-Quran yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai orang yang berilmu pengetahuan yang bisa mengambil pelajaran
darinya. Selain itu Allah menganggap meraka sebagai orang-orang yang buta. Menurut Ibnu Qayyim manusia
hanya ada dua tife; orang yang berilmu dan orang yang buta. Dalam berbagai ayat, Allah menjelaskan bahwa
orang bodoh pada hakikatnya adalah orang yang tuli, bisu dan buta.

Belajar adalah ibadah

Tidak ada agama yang memberikan perhatian yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan seperti yang ditunjukan
oleh Islam. Dalam pandangan Islam mencari ilmu pengetahuan adalah ibadah dan kewajiban agama, baik ilmu
pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan dunia. Atau, baik ilmu pengetahuan yang bersumber dari wahyu
maupun ilmu pengetahuan yang bersumber dari alam semesta. Karena wahyu adalah perintah Allah dan alam
semesta adalah ciptaan-Nya dan tidak ada kontradiksi antara ciptaan dan perintah-Nya. Allah berfirman:

"…Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam." (QS.
7:54)

Jadi, dalam pandangan Islam, ilmu pengetahuan yang dianjurkan untuk dipelajari meliputi segala pengetahuan
yang mampu menyingkap hakikat segala sesuatu dan menghilangkan kabut kebodohan serta keraguan dari akal
manusia. Objeknya bisa berupa alam semesta, yang terlihat atau yang gaib. Demikian pula metode
pengetahuannya bisa berupa indra dan empiris, maupun akal, bahkan wahyu dan kenabian. Karena itu tidak
benar apa yang dikatakan oleh orang barat bahwa ilmu pengetahuan terbatas hanya yang didasarkan pada
pengamatan dan eksperimen saja. Kata "ilmu" dalam al-Quran, juga tidak ditujukan kepada ilmu pengetahuan
agama saja. Seperti firman Allah dalam surat Al-An'âm:

Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di
darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang
yang mengetahui. (QS. 6:97)

Allah telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya melalui bintang-bintang yang bertebaran di
langit. Lalu Ia menjelaskan bahwa tanda-tanda itu hanya bermanfaat bagi orang-orang yang mengetahuinya
(berilmu). Kata ilmu dalam ayat ini menunjukan kepada ilmu alam.

Kaum muslimin generasi awal telah memahami dan melaksanakan seruan mencari ilmu dengan baik. Mereka
mencurahkan segala upaya untuk meraih ilmu pengetahuan, didorong oleh semangat beragama dan beribadah
kepada Allah. Maka lahirlah para ulama dari berbagai bidang disiplin ilmu yang telah memberikan kontribusi
berguna bagi umat manusia. Mereka tidak pernah membedakan antara ilmu pengetahuan agama dan ilmu
pengetahuan dunia.

Adapun yang berbeda menurut mereka adalah sumber ilmu, tempat mengambil dan menyerap pengetahuan
darinya. Untuk mengetahui segala persoalan agama mereka merujuk kepada wahyu. Tidak sedikitpun mereka
keluar darinya. Sedangkan untuk menggali pengetahuan dunia mereka menjadikan alam semesta ini sebagai
sumber dan akal sebagai alat untuk melakukan penalaran terhadap berbagai fenomena alam yang ada.

Mereka sangat memahami benar, mana ilmu pengetahuan yang digali dari hasil penelitian, eskperimen dan
empiris serta ilmu pengetahuan yang bersumber dari wahyu dan syara'. Mereka mengambil setiap ilmu dari
masing-masing sumbernya.

Kisah penyerbukan pohon kurma yang pernah dilarang oleh Rasulullah bisa dijadikan sebuah pelajaran dalam
mengambil sumber ilmu. Dalam kisah ini, Nabi pernah melarang seseorang mengawinkan pohon kurmanya.
Ternyata hasil pertaniannya kurang bagus, karena si petani tadi mengurungkan mengawinkan pohon kurma atas
perintah Rasulullah. Ia menuruti perintah Rasulullah karena menurutnya perintah beliau bersumber dari wahyu.
Tatkala Nabi mengetahui kegagalan hasil pertaniannya, beliau berkata:

"Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian". (Muslim: 2363)

Dengan perkataan ini, Nabi hendak menyampaikan bahwa apa yang pernah ia larang sebelumnya bukanlah
bersumber dari wahyu yang disampaikan Allah kepadanya. Tetapi larangan itu hanya hasil pengamatan yang
beliau ketahui. Karena itulah Nabi menyerahkan semua ilmu pengetahuan yang berdasarkan eskperimen dan
pengamatan kepada umatnya yang lebih mengetahui akan hal itu. Sedangkan ilmu pengetahuan agama harus
dikembalikan kepadanya.

Jadi, ilmu dunia dikembalikan kepada eksperimen dan penelitian, seperti bagaimana meningkat hasil pertanian
kurma atau yang lainnya. Dan persoalan agama harus dikembalikan kepada wahyu, walaupun kadang akal kita
tidak mampu memahaminya. Alî bin Abî Thâlib pernah berkata: "Seandainya agama ini berdasarkan akal
semata, seharusnya yang lebih utama untuk dibasuh pada khuf (sejenis sepatu) adalah bagian bawah dari pada
bagian atasnya" (Abû Dâud: 162). Secara logika memang bagian bawah yang dibasuh, karena bawahlah yang
tersentuh tanah. Tetapi Rasulullah mengajarkan bagian atasnya. Membasuh khuf adalah masalah agama yang
harus bersandar kepada wahyu.

Pada wilayah eskperimen dan penelitian terhadap alam semesta, Islam memberikan kebebasan kepada
manusia untuk menggunakan akalnya, seperti kata Nabi bahwa dalam urusan dunia, kalian lebih tahu. Namun
pada wilayah wahyu kewajiban kita hanya mengikutinya. Akal bukan untuk menimbang dan menilai apakah
agama yang disampaikan wahyu ini sesuai atau tidak. Tugasnya hanya memahami bukan menilai.

Ilmu yang pertama harus dipelajari

"Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya", kata Ar-Ragîb Al-Ashfihânî dalam mendefinisikan
ilmu. Banyak hakikat kehidupan yang membutuhkan penyingkapan manusia agar bisa menuai kebahagian hidup
dan melepaskan kebodohan dari dirinya. Dan kini manusia telah banyak menyingkap misteri alam semesta
hingga mampu memberikan kenyamanan dan kemudahan dalam melakukan aktifitas hidupnya. Tetapi terdapat
hakikat yang paling besar dan agung yang pertama harus disingkap oleh manusia sebelum yang lainnya agar
tidak tersesat dalam kejahilan yang hakiki dan menghantarkannya kepada kesengsaraan selamanya di akhirat
kelak. Yaitu hakikat tentang diri manusia sendiri dan hakikat alam semesta. Dari mana manusia diciptakan, siapa
yang menciptakan dan untuk apa ia diciptakan?. Terjawabnya pertanyaan-pertanyaan ini dengan benar sangat
menentukan kebahagian hidup manusia di dunia dan akhirat. Sebaliknya tidak tersingkapnya hakikat besar ini
menjadikan manusia hidup seperti hewan bahkan lebih buruk.

Dari sinilah kebutuhan terhadap ilmu tauhid sangat penting. Yaitu ilmu mengenal Allah, mengenal Rasul-Nya dan
mengenal agama-Nya. Ilmu inilah yang pertama harus dipelajari. Dan hukum mempelajarinya menjadi kewajiban
bagi setiap individu (wajib 'aini). Setiap muslim wajib mengetahui makna dua kalimat syahadat, rukun-rukunnya,
konsekwensi apa yang harus dilaksanankan dari pengikraran bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah
selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya dan mengetahui hal-hal yang bisa membatalkan syahadah
ini. Seluruh seruan kepada ilmu dalam al-Quran lebih banyak ditujukan kepada pengenalan Allah. Diantaranya:

"…Dan bertaqwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasannya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS.
2:231)

"…Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS.
2:233)

Hal lain yang wajib diketahui oleh seorang muslim adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah sehari-
hari seperti berwudu dan shalat dan hukum tentang halal-haram. Jika telah tiba bulan puasa, ia wajib
mengetahui hukum-hukum puasa. Begitu pula haji dan zakat. Bagi seorang muslim yang telah berkeluarga wajib
mengetahui hak dan kewajiban suami-istri serta hak dan kewajiban anak. Demikian pula seorang pedagang
wajib mengetahui hukum tentang jual-beli. Dan seorang pemimpin dituntut mengetahui hak dan kewajibanya
terhadap rakyatnya.

Secara umum mempelajari ilmu pengetahuan agama dibagi kedalam dua bagian; ada pengetahuan agama yang
wajib diketahui oleh setiap individu atau yang dikenal dengan istilah fardhu 'aini. Dan ada pengetahuan agama
yang hukum mempelajarinya adalah fardhu kifâyah. Artinya tidak setiap orang dituntut mengetahuinya. Tetapi
umat Islam secara jamaah (kolektif) wajib mengetahuinya. Jika tidak ada yang mempelajarinya, semua berdosa
dan jika ada sebagian yang telah mempelajarinya, yang tidak mempelajari tidak terkena dosa. Seperti
memperdalam pengetahuan agama secara rinci untuk menjawab problematika umat. Sedangkan ilmu
pengetahuan dunia dan umum, hukum mengetahuinya adalah fardhu kifâyah. Artinya harus ada sebagian umat
Islam yang menjadi dokter misalnya. Bukan setiap orang harus mengetahui ilmu kedokteran.
Dengan demikian nampak jelas bagi kita, bahwa ilmu agama memiliki nilai lebih dari ilmu pengetahuan dunia.
Sebab, bodoh dari ilmu dunia hanya membuat manusia sengsara di dunia. Tetapi bodoh dari pengetahuan
agama membuat manusia sengsara di dunia dan akhirat. Seluruh Nabi dan Rasul pun diutus Allah ke dunia
dengan membawa ilmu pengetahuan agama, yaitu untuk menjelaskan kepada manusia, apa yang harus ia
lakukan di dunia ini. Ilmu pengetahuan ini tidak dapat disingkap oleh akal manusia tanpa diutusnya para Rasul
dan diturunkannya kitab-kitab Allah.

Manusia yang mampu menyingkap banyak hakikat alam semesta dengan ilmu pengetahuan dunia yang ia miliki,
namun jahil dari ilmu pengetahuan agama yang diwariskan oleh para Nabi dan lupa terhadap akhirat,
sesungguhnya bukan orang yang berilmu di sisi Allah. Tetapi termasuk orang yang bodoh. Allah berfirman:
"…tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan
dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (QS. 30:7)

Allah menyipati mereka hanya mengetahuai mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia dengan melalaikan
kehidupan akhirat. Dalam pandangan Allah, ilmu mereka tidaklah berarti.
Akhirnya, relakah kita menjadi orang yang berilmu, tetapi sesungguhnya bodoh dalam pandangan Allah.



ANTARA HARAPAN DAN AJAL
Dakwah --- Rasulullah saw membuat gambar empat persegi dan membuat satu garis lurus hingga keluar
melewati gambar lalu beliau membuat garis-garis kecil di sekitar garis lurus tersebut. Beliau menjelaskan garis
lurus yang terdapat di dalam gambar adalah manusia, gambar empat persegi yang melingkarinya adalah ajalnya,
satu garis lurus yang keluar melewati gambar merupakan harapan dan angan-angannya sementara garis-garis
kecil yang ada disekitar garis lurus dalam gambar adalah musibah yang selalu menghadang manusia dalam
kehidupannya di dunia. Jika manusia dapat selamat dan terhindar dari cengkraman satu musibah, musibah lain
akan menghadangnya, dan jika ia selamat dari semua musibah, ia tidak akan pernah terhindar dari ajal yang
mengelilinginya. (HR. Bukhari).

Hadis ini menunjukan kepada kita betapa Rasulullah saw seorang pendidik yang sangat memahami metode
yang baik dalam menyampaikan pengetahuan kepada manusia, beliau menjelaskan suatu informasi melalui
gambar agar lebih mudah dipahami dan diserap oleh akal dan jiwa. Dalam gambar ini beliau menjelaskan
tentang hakikat kehidupan manusia yang memiliki harapan, angan-angan dan cita-cita yang jauh ke depan untuk
menggapai segala yang ia inginkan di dalam kehidupan yang fana ini, dan ajal yang mengelilinginya yang selalu
mengintainya setiap saat sehingga membuat manusia tidak mampu menghindar dari lingkaran ajalnya,
sementara itu dalam kehidupannya, manusia selalu menghadapi berbagai musibah yang mengancam
eksistensinya, jika ia dapat terhindar dari satu musibah, musibah lainnya siap menghadang dan
membinasakannya dan seandanya ia terhindar dari seluruh musibah, ajal yang pasti datang suatu saat akan
merenggutnya.

Harapan, musibah dan ajal

Manusia memiliki harapan dan keinginan untuk memperoleh segala fasilitas kehidupan dunia yang mempesona
dan kenikmatannya yang menggoda, karena Allah telah menjadikan dunia ini dengan segala isinya sebagai
hiasan indah yang menarik hati manusia yang memandangnya. Allah berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji
mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. 18:7)

Rasulullah saw bahkan memperumpakan dunia dengan buah-buahan yang manis dan dedaunan yang hijau,
beliau bersabda:
"Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian khalifah-Nya di dunia ini
lalu Ia akan melihat bagaimana kalian beramal"

Harapan dan keinginan manusia untuk meraih keindahan dunia karena itu merupakan fitrahnya yang diakui oleh
Allah. Allah berfirman:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-
anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. 3:14)

Memang tidak ada manusia yang tidak memiliki harapan dan angan-angan untuk meraih kenikmatan dunia,
siapa manusia yang tidak mencintai wanita?, siapa manusia yang tidak mencintai anak-anak sebagai buah
hatinya?, siapa manusia yang tidak mencintai harta sebagai sarana penunjang kehidupannya?, hanya orang-
orang yang tidak mengertilah yang mengharamkan atas dirinya keindahan dunia ini, karena itu Allah mencela
mereka yang bersikap seperti ini, Ia berfirman:
Katakanlah:"Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah di keluarkan-Nya untuk hamba-
hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik". Katakanlah:"Semuanya itu (disediakan)
bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah
Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. 7:32)

Itulah keagungan Islam, agama yang menyatukan antara dunia dan akhirat, karena ia diturunkan oleh sang
pencipta manusia yang mengetahui akan ciptaaan-Nya.
Sesungguhnya keindahan dunia ini hanyalah ujian dari Allah, Ia ingin melihat siapakah diantara mereka yang
terbaik amalnya dan yang terburuk. Manusia yang terbaik amalnya adalah yang memahami tentang hakikat
kehidupan ini, ia mengerti dunia adalah negeri yang fana tidak kekal, tepat beramal, arena memperbanyak amal
baik sebelum ajal tiba dan akhirat adalah tempat yang kekal abadi, saat mendapatkan balasan amal di dunia.

Manusia yang memahami hakikat ini akan menjadikan semua fasilitas kehidupan yang dianugrahkan Allah
sebagai bekal untuk akhirat, keindahan dunia tidak dijadikannya sebagai tujuan akhir tetapi sarana menuju
tempat yang lebih baik dan abadi, ia hidup di dunia ini seperti orang asing yang tinggal di negeri nan jauh dari
negerinya, ia sangat merindukan kampung halamannya dan akan kembali pada suatu hari nanti, tak pernah ia
membayangkan untuk hidup membina keluarga di negeri orang lain, tetapi hasil kerja kerasnya yang telah ia
curahkan ia tabung untuk kembali ke kampungnya, setiap detik merupakan waktu yang sangat berharga untuk
menanam amal di ladang dunia karena ia sadar ajal tidak pernah memberitahukan kapan akan datang, karena ia
berada di dalam lingkarannya. Inilah gambaran orang yang terbaik amalnya di dunia yang kelak akan
mendapatkan balasan yang baik pula.

Rasulullah saw pernah suatu hari memegang pundak putra Umar bin Khattab ra lalu beliau berpesan:
"Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melewati jalan"
Jadilah di dunia seperti orang asing yang hanya sesaat tinggal di negeri orang lain dan pada suatu saat ia akan
kembali ke kampung halamannya atau jadilah di dunia seperti orang yang sedang melewati jalan yang tidak akan
tergiur oleh godaan yang akan menghambat perjalannya karena perjalanan yang ia tempuh masih jauh dan
panjang. Kalaupun ia berhenti di tengah perjalanannya, ia akan berhenti hanya sesaat untuk menghilangkan
keletihannya dan menambah bekalnya setelah itu iapun berangkat kembali meneruskan perjalannya. Rasulullah
saw pernah menggambarkan dirinya dengan dunia ini seperti orang yang sedang berteduh di bawah pohon
dalam sebuah perjalanan untuk menghilangkan rasa lelah yang dirasakan dan untuk berlindung dari terik
panasnya matahari di bawah rindangnya dedaunan lalu beliau berangkat kembali meneruskan perjalannya
setelah ia merasa segar kembali.
Bagi orang yang hatinya tertutup untuk mengerti tentang arti kehidupan ini, ia akan berangan-angan panjang,
bercita-cita tinggi dan berharap yang besar untuk meraih seluruh keindahan dunia. Setiap kali ia memperoleh
satu kenikmatan, ia ingin memperoleh yang lainnya dan tiap kali ia mendapatkannya ia berharap mendapatkan
yang lainnya, hatinya tidak pernah puas dengan satu kenikmatan tetapi terus berusaha mendapatkan yang lebih
besar dari yang telah ia miliki.
"Seandainya manusia memiliki harta sebanyak satu telaga ia ingi memiliki dua telaga dan seandainya ia memiliki
dua telaga ia ingin memiliki tiga telaga perut manusia hanyalah diisi dengan debu dan Allah akan menerima
taubat manusia yang bertaubat kepada-Nya"
Bagi manusia yang hatinya tertutup untuk mengerti tentang tujuan hidup ini akan menjadikan dunia dengan
segala keindahannya yang mempesona sebagai tujuan hidupnya, ia kumpulkan harta sebanyak-banyaknya
seakan ia akan hidup selamanya, jika suatu hari Allah menegurnya dengan musibah yang Ia turunkan, iapun
merunduk kepada-Nya memohon pertolongan agar dikeluarkan dari musibah ini lalu Allah menyelamatkannya,
setelah itu ia lupa akan janjinya saat ia diselimuti

								
To top