ISLAM - PDF

Document Sample
ISLAM - PDF Powered By Docstoc
					    Islam dan Wacana Radikalisme
    Agama Kontemporer
    Syamsul Bakri*




Abstract: The issues of radicalism in Islam have been mainstream phenomena
in the world since 20th century 20 until this 21st century, especially after WTC
tragedy. United States of America and West Europe have`seen Moslem
societies as their threat and danger for them. The Muslim leaders such as
Khomaeni and Saddam Husein are regarded as a dangerous leaders. In the
USA perspective they were big enemies and terrorists. The Muslim activist in
several parts of Moslem world, furthermore, can be mother of terror. It was
America perspective that Muslims revolt them. In fact, Islam has been not
religion of terror but religion of peace as written in the Qoran, Sunnah and in
the history of first Moslem society. The political backgrounds and the USA
arrogance in Muslim world have been arguments why part of Muslim
communities declared war to the US and West Europe. Historically, the US
and West Europe appear with double-standard policy as can bee seen in Israel-
Palestine affairs. For some Muslims, war against the US is a Jihad. Even
though, in fact, no religion teaches and pushes terrorism. The reaction of
Moslem communities in the world should be understood as a defensive actions,
not an offensive. Hence, is the radicalism of Islam a reality or only the
stigmatization of USA West Europe?

Keywords: radikalisme, hegemoni, arogansi Barat, tragedi kemanusiaan.




                         Islam dan Wacana … [Syamsul Bakri]                  1
Pendahuluan
      Munculnya isu-isu politis mengenai radikalisme Islam merupakan
tantangan baru bagi umat Islam untuk menjawabnya. Isu radikalisme
Islam ini sebenarnya sudah lama mencuat di permukaan wacana
internasional. Radikalisme Islam sebagai fenomena historis-sosiologis
merupakan masalah yang banyak dibicarakan dalam wacana politik
dan peradaban global akibat kekuatan media yang memiliki potensi
besar dalam menciptakan persepsi masyarakat dunia.1 Banyak label-
label yang diberikan oleh kalangan Eropa Barat dan Amerika Serikat
untuk menyebut gerakan Islam radikal, dari sebutan kelompok garis
keras, ekstrimis, militan, Islam kanan, fundamentalisme sampai
terrorisme.
      Bahkan di negara-negara Barat pasca hancurnya ideologi
komunisme (pasca perang dingin) memandang Islam sebagai sebuah
gerakan dari peradaban yang menakutkan.1 Tidak ada gejolak politik
yang lebih ditakuti melebihi bangkitnya gerakan Islam yang diberinya
label sebagai radikalisme Islam. Tuduhan-tudujan dan propaganda
Barat atas Islam sebagai agama yang menopang gerakan radikalisme
telah menjadi retorika internasional.
      Label radikalisme bagi gerakan Islam yang menentang Barat dan
sekutu-sekutunya dengan sengaja dijadikan komoditi politik. Gerakan
perlawanan rakyat Palestina, Revolusi Islam Iran, Partai FIS Al-Jazair,
perilaku anti-AS yang dipertunjukkan Mu’     ammar Ghadafi ataupun
Saddam Hussein, gerakan Islam di Mindanao Selatan, gerakan
masyarakat Muslim Sudan yang anti-AS, merebaknya solidaritas
Muslim Indonesia terhadap saudara-saudara yang tertindas dan
sebagainya, adalah fenomena yang dijadikan media Barat dalam
mengkapanyekan label radikalisme Islam.
      Dalam perspektif Barat, gerakan Islam sudah menjdi fenomena
yang perlu dicurigai. Terlebih-lebih pascahancurnya gedung WTC New
York yang dituduhkan dilakukan oleh kelompok Islam garis keras (Al-
Qaeda dan Taliban) semakin menjadikan term radikalisme Islam
menjadi wacana yang lebih menglobal yang berimplikasi pada sikap
kecurigaan masyarakat dunia, terutama bangsa Barat dan Amerika
Serikat terhadap gerakan Islam. Hal yang demikian terjadi karena
orang-orang Eropa Barat dan Amerika Serikat berhasil dalam
melibatkan dan mewarnai media sehingga mampu membentuk opini
publik.
      Praktek-praktek kekerasan yang dilakukan sekelompok Islam
dengan membawa simbol-simbol agama telah dimanfaatkan oleh
orang-orang Barat dengan memanfaatkan media massa sebagai alat


2      DINIKA Vol. 3 No. 1, January 2004
utama dalam memegang tampuk wacana peradaban, sehingga Islam
terus menerus dipojokkan oleh publik. Barangkali masyarakat Barat
telah tertipu oleh muslihat peradabannya sendiri dalam
mengeksploitasi media yang diciptakannya.
      Ketergesa-gesaan dalam generalisasi menyebabkan mereka tidak
mampu memandang fenomena historis umat Islam secara obyektif.
Tetapi hal ini tidak berarti pembenaran terhadap praktek radikalisme
yang dilakukan umat beragama karena yang demikian bertentangan
dengan pesan-pesan moral yang terkandung dalam agama dan
moralitas manapun.
      Akan tetapi apa yang perlu dilihat adalah bahwa Islam sebagai
agama sangat menjunjung tinggi perdamaian. Hal ini bukan saja ada
dalam normatifitas teks wahyu dan sunnah tetapi termanifestasi dalam
sejarah Islam awal. Islam secara normatif dan historis (era Nabi) sama
sekali tidak pernah mengajarkan praktek radikalisme sebagaimana
terminologi di Barat. Islam tidak memiliki keterkaitan dengan gerakan
radikal, bahkan tidak ada pesan moral Islam yang menunjuk kepada
ajaran radikalisme baik dari sisi normatif maupun historis kenabian.

Stigma Radikalisme Islam
         Yang dimaksud dengan radikalisme adalah gerakan yang
berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam
mengajarkan keyakinan mereka.2 Sementara Islam merupakan agama
kedamaian yang mengajarkan sikap berdamai dan mencari
perdamaian.3 Islam tidak pernah membenarkan praktek penggunaan
kekerasan dalam menyebarkan agama, paham keagamaan serta paham
politik.
         Tetapi memang tidak bisa dibantah bahwa dalam perjalanan
sejarahnya terdapat kelompok-kelompok Islam tertentu yang
menggunakan jalan kekerasan untuk mencapai tujuan politis atau
mempertahankan paham keagamaannya secara kaku yang dalam
bahasa peradaban global sering disebut kaum radikalisme Islam.
         Istilah radikalisme untuk menyebut kelompok garis keras
dipandang lebih tepat ketimbang fundamentalisme karena
fundamentalisme sendiri memimiliki makna yang interpretable.4 Dalam
tradisi pemikiran teologi keagamaan, fundamentalisme merupakan
gerakan untuk mengembalikan seluruh perilaku dalam tatanan
                                         an
kehidupan umat Islam kepada Al-Qur’ dan Al-Hadits.5 Sebutan
fundamentalis memang terkadang bermaksud untuk menunjuk
kelompok pengembali (revivalis) Islam.6 Tetapi terkadang istilah
fundamentalis juga ditujukan untuk menyebut gerakan radikalisme


                      Islam dan Wacana … [Syamsul Bakri]            3
Islam.7 Dengan demikian penulis lebih cenderung menggunakan istilah
radikalisme dari pada fundamentalisme karena pengertian
fundamentalisme dapat memiliki arti-arti lain yang terkadang
mengkaburkan makna yang dimaksudkan sedang radikalisme
dipandang lebih jelas makna yang ditunjuknya yaitu gerakan yang
menggunakan kekerasan untuk mencapai target politik yang ditopang
oleh sentimen atau emosi keagamaan.
         Sebutan untuk memberikan label bagi gerakan radikalisme bagi
kelompok Islam garis keras juga bermacam-macam seperti ekstrim
kanan, fundamentalis, militan dan sebagainya. M.A. Shaban menyebut
aliran garis keras (radikalisme) dengan sebutan neo-khawarij.8
Sedangkan Harun Nasution9 menyebutnya dengan sebutan khawarij
abad ke dua puluh (abad 21-pen) karena memang jalan yang ditempuh
untuk mencapai tujuan adalah dengan menggunakan kekerasan
sebagaimana dilakukan khawarij pada masa pascaTahkim.
         Islam sebagai agama damai sesungguhnya tidak membenarkan
adanya praktek kekerasan. Cara-cara radikal untuk mencapai tujuan
politis atau mempertahankan apa yang dianggap sakral bukanlah cara-
cara yang Islami. Di dalam tradisi peradaban Islam sendiri juga tidak
dikenal adanya label radikalisme.
         Istilah radikalisme Islam berasal dari pers barat untuk
menunjuk gerakan Islam garis keras (ekstrim, fundamentalis, militan).10
Istilah fundamentalisme dan radikalisme dalam perspektif Barat sering
dikaitkan dengan sikap ekstrim, kolot, stagnasi, konservatid, anti-Barat,
dan keras dalam mempertahankan pendapat bahkan dengan kekerasan
fisik. Penggunaan istilah radikalisme atau fundamentalisme bagi umat
Islam sebenarnya tidak tepat karena gerakan radikalisme itu tidak
terjadi di setiap negeri Muslim dan tidak dapat ditimpakan kepada
Islam. Radikalisme merupakan gerakan yang dilakukan oleh individu
atau kelompok yang dirugikan oleh fenomena sosio-politik dan sosio-
historis.
         Gejala praktek kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok
umat Islam itu, secara historis-sosiologis, lebih tepat sebagai gejala
sosial-politik ketimbang gejala keagamaan meskipun dengan
mengibarkan panji-panji keagamaan. Fenomena radikalisme yang
dilakukan oleh sebagian kalangan umat Islam, oleh pers Barat dibesar-
besarkan, sehingga menjadi wacana internasional dan terciptalah opini
publik bahwa Islam itu mengerikan dan penuh dengan kekerasan.
Akibatnyam tidak jarang image-image negatif banyak dialamatkan
kepada Islam sehingga umat Islam terpojokkan sebagai umat yang



4      DINIKA Vol. 3 No. 1, January 2004
perlu dicurigai.
        Hal yang demikian terjadi karena masyarakat barat mampu
menguasai pers yang dijadikan instrumen yang kuat guna
memproyeksikan kultur dominan dari peradaban global. Apa yang
ditangkap masyarakat dunia adalah apa yang didefinisikan dalam
media-media Barat. Label Islam untuk menyebut gerakan
fundamentalis sangat menyenangkan bagi pers Barat ketimbang label
Tamil di Srilangka, militan Hindu di India, IRA (kelompok bersenjata
Irlandia Utara), militan Yahudi sayap kanan, sekte kebatinan di Jepang
ataupun bahkan musuh lamanya, komunis-marxis yang tidak jarang
menggunakan jalan kekerasan sebagai solusi penyelesaian masalah.
        Karena     terlalu   mengkaitkan      kata-kata   radikalisme,
fundamentalis atau gerakan militan dengan Islam maka seringkali
media Barat mengabaikan perkembangan praktek kekerasan yang
ditopang keyakinan keagamaan yang dilakukan oleh kalangan non-
Islam ataupun yang ditopang oleh ideologi “kiri”. Contoh yang sangat
jelas adalah aksi tutup mulut para elit politik barat atau aksi bicara
dalam kepura-puraan ketika malihat praktek kekerasan yang dilakukan
oleh ekstrimis Yahudi ataupun sedadu Israel atas orang-orang Arab
Palestina. Apa yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pelaku
kekerasan ini secara faktual sama dengan apa yang dilakukan oleh
kelompok pelaku garis keras “radikalisme Islam”. Tetapi sebutan
radikalisme lebih kental ditujukan kepada gerakan Islam. Hal inilah
yang ditolak oleh gerakan negara-negara OKI dalam pertemuannya di
Kuala Lumpur Malaysia tanggal 1–3 April 2002.
        Realitas historis-sosiologis ini adalah bukti betapa Barat
menggunakan standar bganda dan bersikap tidak adil terhadap Islam.
Ketika masjid dan Mullah dilihat sebagai simbul radikalisme atau
ketika gejala-gejala kultural Muslim diproyeksikan sebagai bentuk
fanatisme dan ekstrimisme maka terjadilah pengekangan dan
pemenjaraan peradaban Islam. masyarakat Barat telah memberikan
klaim peradaban atas Islam sementara proses peradaban Islam sedang
membentuk jati dirinya. Hal yang demikian tidak berarti pembenaran
perilaku radikalisme yang dilakukan umat Islam karena apapun
alasannya praktek kekerasan merupakan penggaran norma keagamaan
sekaligus pelecehan kemanusiaan.
        Dengan demikian maka jelas bahwa label radikalisme yang
dialamatkan oleh Barat kepada Islam merupakan pelecahan agama
karena di dalam Islam tidak ada perintah menuju kekerasan. Istilah
salah kaprah itu sesungguhnya tidak perlu terjadi jika barat mau


                      Islam dan Wacana … [Syamsul Bakri]            5
mengkaji Islam secara objektif bahwa Islam normatif terkadang tidak
diimplementasikan oleh sekelompok Muslim dalam konteks historis-
sosiologis. Islam berbeda dengan perilaku Muslim, artinya kebutralan
(radikalisme) yang dilakukan oleh sekelompok Muslim tidak dapat
dijadikan alasan untuk menjadikan Islam sebagai biang keladi
radikalisme. Sebaliknya, kelompok-sekolompok kecil umat Islam yang
fanatik dan mengarah kepada benturan dan kekerasan juga menjadi
bahaya besar bagi masa depan peradaban manusia. Gerakan
radikalisme yang dilakukan oleh sekelompok orang, termasuk Muslim,
merupakan kanker rohani yang kronis yang mengancam manusia dan
kemanusiaan. Di luar itu semua, praktek-praktek arogansi Barat dan
hegemoninya atas dunia islam harus juga disadari sebagai factor yang
dapat menimbulkan reaksi dalam bentuk radikalisme anti-Barat yang
dilakukan oleh sebagian komunitas Muslim.

Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Gerakan Radikalisme
           Gerakan radikalisme sesungguhnya bukan sebuah gerakan
yang muncul begitu saja tetapi memiliki latar belakang yang sekaligus
menjadi faktor pendorong munculnya gerakan radikalisme. Diantara
faktor-faktor itu adalah :
           Pertama, faktor-faktor sosial-politik. Gejala kekerasan
“agama” lebih tepat dilihat sebagai gejala sosial-politik daripada gejala
keagamaan. Gerakan yang secara salah kaparah oleh Barat disebut
sebagai radikalisme Islam itu lebih tepat dilihat akar permasalahannya
dari sudut konteks sosial-politik dalam kerangka historisitas manusia
yang ada di masyarakat. Sebagaimana diungkapkan Azyumardi Azra 11
bahwa memburuknya posisi negara-negara Muslim dalam konflik
utara-selatan menjadi penopong utama munculnya radikalisme. Secara
historis kita dapat melihat bahwa konflik-konflik yang ditimbulkan
oleh kalangan radikal dengan seperangkat alat kekerasannya dalam
menentang dan membenturkan diri dengan kelompok lain ternyata
lebih berakar pada masalah sosial-politik.
           Dalam hal ini kaum radikalisme memandang fakta historis
bahwa umat Islam tidak diuntungkan oleh peradaban global sehingga
menimbulkan perlawanan terhadap kekuatan yang mendominasi.
Dengan membawa bahasa dan simbol serta slogan-slogan agama kaum
radikalis mencoba menyentuh emosi keagamaan dan mengggalang
kekuatan untuk mencapai tujuan “mulia” dari politiknya. Tentu saja hal
yang demikian ini tidak selamanya dapat disebut memanipulasi agama
karena sebagian perilaku mereka berakar pada interpretasi agama
dalam melihat fenomena historis. Karena dilihatnya terjadi banyak


6      DINIKA Vol. 3 No. 1, January 2004
penyimpangan dan ketimpangan sosial yang merugikan komunitas
Muslim maka terjadilah gerakan radikalisme yang ditopang oleh
sentimen dan emosi keagamaan.
          Kedua, faktor emosi keagamaan. Harus diakui bahwa salah
satu penyebab gerakan radikalisme adalah faktor sentimen keagamaan,
termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk kawan yang
tertindas oleh kekuatan tertentu. Tetapi hal ini lebih tepat dikatakan
sebagai faktor emosi keagamaannya, dan bukan agama (wahyu suci
yang absolut) walalupun gerakan radikalisme selalu mengibarkan
bendera dan simbol agama seperti dalih membela agama, jihad dan
mati stahid. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan emosi
keagamaan adalah agama sebagai pemahaman realitas yang sifatnya
interpretatif. Jadi sifatnya nisbi dan subjektif.
          Ketiga, faktor kultural ini juga memiliki andil yang cukup
besar yang melatarbelakangi munculnya radikalisme. Hal ini wajar
karena memang secara kultural, sebagaimana diungkapkan Musa
     ari
Asy’ 12 bahwa di dalam masyarakat selalu diketemukan usaha untuk
melepaskan diri dari jeratan jaring-jaring kebudayaan tertentu yang
dianggap tidak sesuai. Sedangkan yang dimaksud faktor kultural di sini
adalah sebagai anti tesa terhadap budaya sekularisme. Budaya Barat
merupakan sumber sekularisme yang dianggab sebagai musuh yang
harus dihilangkan dari bummi. Sedangkan fakta sejarah
memperlihatkan adanya dominasi Barat dari berbagai aspeknya atas
negeri-negeri dan budaya Muslim. Peradaban barat sekarang in
imerupakan ekspresi dominan dan universal umat manusia.
          Barat telah dengan sengaja melakukan proses marjinalisasi
selurh sendi-sendi kehidupan Muslim sehingga umat Islam menjadi
terbelakang dan tertindas. Barat, dengan sekularismenya, sudah
dianggap sebagai bangsa yang mengotori budaya-budaya bangsa
Timur dan Islam, juga dianggap bahaya terbesar dari keberlangsungan
moralitas Islam.
          Keempat, faktor ideologis anti westernisme. Westernisme
merupakan suatu pemikiran yang membahayakan Muslim dalam
                            at
mengapplikasikan syari’ Islam. Sehingga simbol-simbol Barat harus
                                         at
dihancurkan demi penegakan syarri’ Islam. Walaupun motivasi dan
gerakan anti Barat tidak bisa disalahkan dengan alasan keyakinan
keagamaan tetapi jalan kekerasan yang ditempuh kaum radikalisme
justru menunjukkan ketidakmampuan mereka dalam memposisikan
diri sebagai pesaing dalam budaya dan peradaban.
          Kelima, faktor kebijakan pemerintah. Ketidakmampuan
pemerintahn di negara-negara Islam untuk bertindak memperbaiki


                      Islam dan Wacana … [Syamsul Bakri]            7
situasi atas berkembangnya frustasi dan kemarahan sebagian umat
Islam disebabkan dominasi ideologi, militer maupun ekonomi dari
negera-negara besar. Dalam hal ini elit-elit pemerintah di negeri-negeri
Muslim belum atau kurang dapat mencari akar yang menjadi penyebab
munculnya tindak kekerasan (radikalisme) sehingga tidak dapat
mengatasi problematika sosial yang dihadapi umat.13
           Di samping itu, faktor media massa (pers) Barat yang selalu
memojokkan umat Islam juga menjadi faktor munculnya reaksi dengan
kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam. Propaganda-propaganda
lewat pers memang memiliki kekuatan dahsyat dan sangat sulit untuk
ditangkis sehingga sebagian “ekstrim” yaitu perilaku radikal sebagai
reaksi atas apa yang ditimpakan kepada komunitas Muslim.

Refleksi
            Memberikan solusi bagi permasalahan historis-sosiologis
tidaklah mudah, terlebih-lebih jika permasalahan yang ada itu ditopang
oleh emosi keagamaan. Namun demikian, dalam melihat fenomena
historis-sosiologis mengenai muncul dan berkembangnya gerakan
radikalisme ini ada beberapa catatan yang mungkin terjadi solusi
alternatif. Gerakan-gerakan radikalisme yang dilakukan oleh sebagian
kelompok umat Islam sesungguhnya mencerminkan paduan faktor
internal dan eksternal. Oleh karenanya perlu dicari akar permasalahan
dari dua sisi ini.
            Pertama, faktor internal yaitu berupa emosi keagamaan yang
berdasarkan interpretasi ajaran agama. Dalam hal ini, jika gerakan
radikalisme berbasis pada interpretasi ajaran agama maka jalan yang
perlu ditempuh untuk meminimalisir gerakan radikalisme agama
(khususnya Islam) harus mulai dengan rekontruksi terhadap
pemahaman agama, dari yang bersifar simbolik-normatif menuju
pemahaman yang etik, substansial dan universal. Namun hal ini bukan
hal yang mudah untuk dilakukan karena memerlukan upaya yang
menyeluruh dan kompleks. Mengubah pola pikir dan sikap mental
adalah perbuatan yang amat sulit dilakukan terlebih-lebih jika pola
pikir sebelumnya sudah ditopang dengan akidah (keyakinan)
keagamaan yang kuat dan mengakar.
            Kedua, faktor eksternal. Pengembalian hak-hak politik umat
Islam yang selama ini di”penjara” oleh Barat, seperti dihentikannya
perang media atas Islam yang menjadikan umat Islam terpojok oleh
propaganda media Barat, pengembalian wilayah teritori milik
komunitas umat Islam yang “dijajah” Barat atau sekutu-sekutunya,
dihentikannya penjajahan dan dominasi ekonomi, kultur maupun


8      DINIKA Vol. 3 No. 1, January 2004
militer yang dilakukan oleh barat atas negeri-negeri Muslim yang
dianggap militan. Pengembalian hak-hak Muslim merupakan syarat
utama dalam meminimalisisr gerakan radikalisme.
           Di samping itu, faktor kebijakan pemerintah negara-negara
Muslim juga memiliki peran yang cukup penting dalam memperkecil
gerakan radikalisme. Bahwa gerakan radikalisme yang dilakukan oleh
sekelompok Muslim merupakan simbol dari ketidakpercayaan
terhadap kekuatan dan kemauan para pemegang pemerintahan negeri-
negeri Muslim, serta sebagai simbol ketidakberdayaan mereka dalam
diplomasi internasional (karena sudah terpinggirkan, termajinalkan,
terjajah).
           Penanganan yang kaku oleh pemerintah terhadap gerakan
radikalisme bukan saja tidak menyelesaikan masalah tetapi juga
menyebabkan gerakan radikalisme akan terus berlangsung di samping
tentunya menimbulkan permasalahan yang dapat memicu radikalisme
baru. Ketika penguasa tidak memahami fenomena masyarakatnya,
ketika kecurigaan dan kekerasan dijadikan alat untuk memberantas
radikalisme maka radiklaisme tidak akan hilang dari fenomena historis.
Radikalisme tidak dapat dilawan dengan kekerasan. Radikalisme yang
dilakukan oleh sekelompok Muslim memiliki ide (ideologi politik dan
ideologi keagamaan), di samping ditopang oleh emosi dan solidaritas
keagamaan yang sangat kuat. Karenany maka diperlukan upaya
persuasif, kedemawaan dan rasa persaudaraan dari para penguasa
negeri-negeri Muslim agar gerakan yang lebih radikal lagi bisa dicegah.


Penutup
1. Praktek kekerasan (radikalisme) yang dilakukan oleh sekelompok
   umat Islam tidak dapat dialamatkan kepada Islam sehingga
   propaganda media Barat yang memojokkan Islam dan umat Islam
   secara umum tidak dapat diterima. Islam tidak mengajarkan
   radikalisme, tetapi perilaku kekerasan sekelompok umat Islam atas
   simbol-simbol Barat memang merupakan realitas historis-sosiologis
   yang dimanfaatkan media pers Barat memang merupakan realitas
   historis-sosiologis yang dimanfaatkan media pers Barat untuk
   memberi label dan mengkampanyekan anti-radikalisme Islam.
2. Identitas keislaman (kesadaran umum sebagai Muslim) memang
   menjadi identitas yang tepat dan referensi yang efektif bagi gerakan
   radikalisme. Tetapi faktor eksternal yaitu dominasi dan
   kesewenang-wenangan barat atas negeri-negeri Muslim merupakan
   faktor yang lebih dominan yang memunculkan radikalisme Muslim


                      Islam dan Wacana … [Syamsul Bakri]             9
   sebagai reaksi. Jadi jelas, bahwa radikalisme muncul dari kebanggan
   (identitas ke-Islaman) yanga terluka (oleh Barat), keluhan (kaum
   Muslim tertindas yang tidak diperhatikan) dan keputusasaan karena
   ketidakberdayaan.
3. Solusi-solusi yang muncul harus dapat mencakup kompleksitas
   permasalahan yang kesemuanya harus berangkat dari kearifan para
   pemimpin Barat dan juga negeri-negeri Muslim untuk mampu
   membaca fenomena perkembangan zaman yang mencerminkan
   aspirasi dari kalangan Muslim. Kondisi buruk sosial-politik dan
   ekonomi telah menjadikan umat Islam semakin termajinalkan sudah
   seharusnya dijadikan landasan awal dalam pemecahan masalah
   radikalisme. Jika tidak maka “Islam” yang damai akan
   termanifestasi dalam bentuk radikalisme yang penuh kekerasan.



Catatan Akhir:

*    Penulis adalah dosen Peradaban Islam STAIN Surakarta.
1
     Nurcholish Madjid, Pintu-PintuMenuju Tuhan, Paramadina, Jakarta, 1995, hlm. 270
2
     Lihat harun Nasution, Islam Rasional, Mizan, Bandung, 1995, hlm.124.
3
     Nurcholis Madjid, Islam Agama Peradaban, Mencari Makna Dan Relevansi Doktrin Islam
     Dalam Sejarah, Paramadina, Jakarta, 1995, hlm.260.
4
     Dalam perspektif Barat Fundamentalisme berarti paham orang-orang kaku ekstrim serta
     tidak segan-segan berperilaku dengan kekerasan dalam mempertahankan ideologinya.
     Sementara dalam perspektif Islam, fundamentalisme berarti tadjid berdasarkan pesan
     moral Al-Qur’an dan as-Sunnah. Lihat Muhammad Imarah, Fundamentalisme Dalam
     Perspektif Barat dan Islam, Terjemahan Abdul Hayyie al-Kattani, Gema Insani Press,
     Jakarta, 1999, hlm.22.
5
     William Montgmery Watt, Islamic Fundamentalism And Nodernity, T.J. Press (Padstow)
     Ltd, London, 1998, hlm.2. Fundamentalisme juga berarti anti-pembaratan (westernisme).
     Lihat Fazlur rahman, Islam And Modernity, The University of Chicago Press, Chicago,
     1982, hlm.136. Terkadang fundamentalisme diartikan sebagai radikalisme dan terrorisme
     disebabkan gerakan fundamentalisme memiliki implikasi politik yang membahayakan
     negara-negara industri di Barat. Lihat Kuntowijoyo, Identitas politik Umat Islam, Mizan,
     Bandung, 1997, hlm.49.
6
     H.A.R. Gibb, Aliran-Aliran Moderen Dalam Islam, Terjemahan Machnun Husein,
     Rajawali Press, Jakarta, 1990, hlm.52.
7
     Di media barat, fundamentalisme berarti intoleran dan kekerasan yang ditopang fanatisme
     keagamaan. Lihat Akbar S. Ahmed, Op.Cit., hlm.30.
8
     Lihat M.A. Shaban, Islamic History, Cambridge University Press, Cambridge, 1994,
     hlm.56.
9
     Harun Nasution, Op.Cit., hlm.125.




10        DINIKA Vol. 3 No. 1, January 2004
10
     Istilah radikalisme merupakan kode yang terkadang tidak disadari dan terkadang ekplisit
     bagi Islam. Lihat Akbar S. Ahmed, Op.Cit., hlm.30. Yang menjadi masalah di Barat dan
     Amerika sebenarnya bukan Islam itu sendiri tetapi praktek-praktek kekerasan yang
     dilakukan oleh sekelompok komunitas Muslim dalam proses pembentukan jati diri
     (identitas) kelompoknya. Lihat Nurcholish Madjid, Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Op.Cit.,
     hlm.270.
11
     Azyumardi Azra, Pergolakan politik Islam, Dari Fundamentalis, Modernisme Hingga
     Post-Modernisme, Paramadina, Jakarta, 1996,hlm.18.
12
                                                             an,
     Musa Asy’arie, Manusia Pembentuk Kebudayaan Dalam Al-qur’ LESFI, Yogyakarta,
     1992, hlm.95.
13
     Hal yang demikian diungkapkan oleh Mahathir Muhammad dalam sambutannya pada
     acara pertemuan negara-negara OKI di Kuala Lumpur Malaysia tanggal 1 – 3 April 2002.
     Lihat, SOLOPOS, Edisi Selasa 2 April 2002 hlm.4.




                              Islam dan Wacana … [Syamsul Bakri] 11
                        DAFTAR PUSTAKA
Ahmed, Akbar S., Posmodernisme, Bahaya dan Harapan Bagi Islam,
     Terjemahan M. Sirozi, Mizan, Bandung, 1993.
Azra, Azyumardi, Pergolakan Politik Islam, Dari Fundamentalisme,
      Modernisme Hingga Post-Modernisme, Paramadina, Jakarta,
      1996.
   arie, Musa, Manusia Pembentuk Kebudayaan Dalam Al-qur’
Asy’                                                    an,
      LESFI, Yogyakarta, 1992.
Abdullah, Amin, Studi Agama, Normatifitas Atau Historisitas?,
      Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1996.
Gibb, H.A.R., Aliran-Aliran Moderen Dalam Islam, Terjemahan
      Machnun Husein, Rajawali Pers, Jakarta, 1990.
Imarah, Muhammad, Fundamentalisme Dalam Perspektif Pemikiran
       Barat Dan Islam, Terjemahan Abdul Hayyie al-Kattani, Gema
       Insani Press, Jakarta, 1999.
Kuntowijoyo, Identitas Politik Umat Islam, Mizan, Bandung, 1997.
Madjid, Nurcholish, Pintu-Pintu Menuju Tuhan, Paramadina, jakarta,
      1995.
----------------------, Islam Agama Peradaban, Mencari Makna dan
           Relevansi Doktrin Islam Dalam Sejarah, Paramadina, Jakarta,
           1995.
Nasution, harun, Islam Rasional, Mizan, Bandung, 1995.
Rahman, Fazlur, “Pendekatan Terhadap Islam Dalam Studi Agama”
     dalam Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam Dalam
     Studi      Agama,    Terjemahan     Zakiyuddin    baidlawi,
     Muhammadiyah University Press, Surakarta. 2001.
---------------------, Islam And Modernity, The University of Chicago
           Press, Chicago, 1982.
Shaban, M.A., Islamic      History,   Cambridge    University   Press,
       Cambridge, 1994.
Watt, William Montgomery, Islamic Fundamentalism and Modernity, T.J.
       Press (Padstow) Ltd, London, 1988.




12     DINIKA Vol. 3 No. 1, January 2004

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:1035
posted:4/7/2010
language:Malay
pages:12
Description: islam dan wacana