Dampak rentenir terhadap pedagang pasar tradisional

Document Sample
Dampak rentenir terhadap pedagang pasar tradisional Powered By Docstoc
					       DAMPAK PINJAMAN KREDIT RENTENIR TERHADAP

  KESEJAHTERAAN PEDAGANG PASAR TRADISIONAL DALAM

                      TINJAUAN EKONOMI ISLAM

(Studi Kasus di Pasar Tradisional Pakan Selasa Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam)




                                    Skripsi




                                   Oleh    :


                          JUWITA FAJAR HARI
                               305.177



                       JURUSAN EKONOMI ISLAM

                           FAKULTAS SYARIAH

               INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

                         IMAM BONJOL PADANG

                                2009 M/1430H
               DAMPAK PINJAMAN KREDIT RENTENIR TERHADAP
               KESEJAHTERAAN PEDAGANG PASAR TRADISIONAL
                     DITINJAU DALAM EKONOMI ISLAM
     (Studi Kasus di Pasar Tradisional Pakan Selasa Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam)1


                                           Juwita Fajar Hari
                                                305.177


                                                ABSTRAK



            Dampak pinjaman kredit (praktek riba) yang dilakukan oleh sebagian

pedagang merupakan sorotan utama dalam penelitian ini. Keberadaan rent yang

“melembaga" layaknya sebuah lembaga keuangan formal bagi pedagang pasar

tradisional terlihat dengan aktivitas transaksi yang mereka lakukan dengan rent satu

kali seminggu. Tingginya bunga yang diberikan tidak sebanding dengan pendapatan

yang diterima untuk meningkatkan keuntungan akibat kredit. Niat hendak

meningkatkan kesejahteraan dengan adanya suntikan modal malah berbuntut pada

pengeluaran baru.

           Evaluasi dampak pinjaman kredit rentenir ini diukur melalui metode kualitatif

dan metode kuantitatif. Penelusuran metode kualitatif ditemukan bahwa tidak terlihat

perbedaan antara antara kelompok treatment (pedagang yang melakukan kredit)

dengan kelompok control (pedagang yang tidak melakukan transaksi kredit).

Kecilnya pinjaman kredit yang dilakukan tidak terlalu berpengaruh kepada



1*
     Studi ini didanai oleh Maryam Center Indonesia.(Sebuah LSM Sosial Keagamaan)
keuntungan pedagang. Temuan kualitatif tersebut dipertegas oleh temuan kuantitatif

dengan menggunakan metode difference in- difference (DiD) dan metode

ekonometrik.     Melalui metode DiD didapat bahwa dampak kredit terhadap

pendapatan berpengaruh secara signifikan tetapi terhadap keuntungan tidak

berpengaruh. Ini terbukti dengan nilai thitung > t   tabel   (3,359 > 2,045) pada pendapatan

sedangkan pada keuntungan thitung > ttabel           (0.144 < 2,045). Hasil uji     tersebut

mengindikasikan bahwa Ho pada pendapatan ditolak sedangkan Ho keuntungan

diterima. Sedangkan melalui model ekonometrik untuk mengevaluasi variable lain

yang ikut menyumbang pada hasil didapatkan hanya pada jumlah komoditas dan

pembeli mempengaruhi pendapatan sedangkan pada keuntungan tidak ada pengaruh

pinjaman kredit secara signifikan



Kata kunci: evaluasi dampak, pinjaman kredit rentenir (praktek riba), kesejahteraan

             pedagang
                        PERSETUJUAN PEMBIMBING



       Pembimbing     penulisan   skripsi   atas   nama   Saudari   Juwita    Fajar
Hari,BP.305.177,dengan judul “Dampak Pinjaman Kredit Rentenir Terhadap
Kesejahteraan Pedagang Pasar Tradisional Dalam Tinjauan Ekonomi Islam
(Studi Kasus Di Pasar Tradisional Pakan Selasa Kecamatan IV Koto Kabupaten
Agam)”. Memandang bahwa skripsi yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan
ilmiah dan dapat disetujui untuk diajukan ke sidang munaqasah.


       Demikianlah persetujuan ini diberikan untuk dipergunakan seperlunya.


                                                   Padang, Juli 2009




              Pembimbing I                         Pembimbing II




          Dra.Hj. Rosna.Arifin                     Davy. Hendri,SE,M.Si
          NIP. 150 110 199                         NIP.150 368 275
                                       DAFTAR ISI


ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR DIAGRAM
DAFTAR LAMPIRAN
SINGKATAN DAN AKRONIM
BAB I        PENDAHULUAN
        A.     Latar Belakang Masalah
        B.     Rumusan Masalah
        C.     Batasan Masalah
        D.     Tujuan Penelitian
        E.     Manfaat Penelitian
        F.     Definisi Operasional
        G.     Sistematika Penulisan
BAB II LANDASAN TEORI
        A.     Lembaga Keuangan Informal
        B.     Rentenir
        C.     Konsep Pendapatan Tinjauan Konvensional Versus Islam
        D.     Jenis Pasar
        E.     Pasar Kredit
        F.     Pasar Tradisional Dan Prilaku Pedagan
        G.     Parameter Kesejahteraan Masyarakat
        H.     Evaluasi Dampak Rentenir
        I.     Metodologi Pengukuran
        J.     Tinjauan Pustaka
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
      A. Jenis Penelitian
      B. Populasi Dan Sampel
      C. Metode Analisis
      D. Variabel Penelitian
BAB IV PEMBAHASAN
      A. Gambaran Umum Pasar Tradisional Pakan Salasa
      B. Lembaga Keuangan di Pasar Tradisional Pakan Salasa
      C. Dampak Pinjaman Kredit Rentenir terhadap Kesejahteraan Pedagang
           Pasar Tradisional Pakan Salasa
      D. Perbandingan Kesejahteraan Pedagang Pasar yang Meminjam kepada
           Rentenir dan Tidak Meminjam Kepada Rentenir
      E. Praktek Rentenir di Pakan Salasa Dalam Tinjauan Ekonomi Islam
BAB V PENUTUP
      A. Kesimpulan
      B. Saran/ Rekomendasi
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Biografi
                                DAFTAR TABEL


Tabel III.1   Jumlah Responden dan Peranan
Tabel III.2   Variabel Kontrol Yang Akan Diestimasi
Tabel IV.1    Jenis Komoditas, Jumlah Pedagang dan Proporsi Pedagang di Pasar
              Pakan Salasa
Tabel IV.2    Ketentuan Umum KUR Mikro BRI
Tabel IV.3    Perbedaan Lembaga Keuangan Formal dan Informal (Rentenir) Di
              Lingkungan Pasar Tradisional Pakan Salasa
Tabel IV.4    Dampak Pinjaman Kredit terhadap Omzet dan Keuntungan Pedagang
              Pasar Tradisional Metode Difference-in-Difference (DiD)
Tabel IV.5    Perbedaan Hipotesis Metode DiD
Tabel IV.6    Evaluasi Program Pinjaman Kredit Hubungan Antara Variabel
              Dependen Dan Independent Dengan R-Square (Dalam %)
Tabel IV.7    Evaluasi Program dengan Uji t dan Probabilitas
Tabel IV.8    Dampak Pinjaman Kredit Rentenir terhadap Kesejahteraan Pedagang
              Pasar Tradisional Pakan Salasa Hasil Estimasi Output SPSS
Tabel IV.9    Comparative of Welfare Traders Treatment and Control


                              DAFTAR DIAGRAM
Gambar II.1   Aliran Pendapatan
Gambar II.2   Tahap Pembuatan Keputusan Aliran Pendapatan Dalam Ekonomi
              Islam
Gambar II.3   Diagram Faktor yang mempengaruhi Pasar Kredit
                        DAFTAR LAMPIRAN



Lampiran I      Data Pedagang Kelompok Treatment
Lampiran II     Data Pedagang Kelompok Control
Lampiran III    Potret Pasar Tradisional dan Perangkatnya
Lampiran IV     Struktural Kepengurusan Pasar Tradisional Pakan Sarikat
                (Pakan Salasa) Kecamatan Iv Koto Kabupaten Agam
Lampiran V      Contoh Lembaran Angsuran Pinjaman Kredit Rentenir
                Dikenal        Dengan Sistem Julo-Julo
Lampiran VI     Kasus Pedagang Yang Terlibat Dengan Inang
Lampiran VII    Wawancara Mendalam Dengan Informan Kunci
Lampiran VIII   Hasil     Estimasi    Manual     Perbedaan   Pendapatan   dan
                Keuntungan Kelompok Control dan Treatment          Metode
                DiD
Lampiran IX     Hasil Pengolahan OUTPUT dengan SPSS Metode DiD
Lampiran X      Variabel Dummy dan dfNilai yang akan diestimasi kedalam
                               persamaan Model Ekonometri Menggunakan
                SPSS
Lampiran XI     Variabel Kontrol : Rata-Rata dan Standar Deviasi
Lampiran XII    Artikel Riba Dan Meta Ekonomi Islam oleh Agustianto
                        http://agustianto.niriah.com/
                  SINGKATAN DAN AKRONIM


BP3     Badan Pembantu Penyelenggara Pasar
Pemda   Pemerintah Daerah
PAD     Pendapatan Asli Daerah
KUR     Kredit Usaha Rakyat
UMKM    Usaha Mikro Kecil Menengah
PNS     Pegawai Negeri Sipil
BRI     Bank Rakyat Indonesia
BPR     Bank Perkreditan Rakyat
KMK     Kredit Modal Kerja
KI      Kredit Investasi
KTP     Kartu Tanda Penduduk
KK      Kartu Keluarga
SMERU   Social Monitoring and Early Research
df      degree of freedom (derajat kebebasan)
BRI     Bank Rakyat Indonesia
BPR     Bank Perkreditan Rakyat
SPSS    Statistical Program for Social Science
                                     BAB I

                               PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

       Dampak bunga yang tidak stabil sangat mempengaruhi pendapatan dan

berjalannya aktivitas lembaga keuangan formal, terutama perbankan. Berbeda dengan

lembaga keuangan informal (rentenir), disaat lembaga keuangan formal disibukkan

oleh kebijakan kenaikan dan penurunan suku bunga, lembaga ini masih bertahan

dengan suku bunga yang sama. Dampak otoritas moneter yang dikeluarkan oleh BI

tak berpengaruh terhadap suku bunga kredit yang mereka tawarkan.

       Kehadiran lembaga keuangan informal (rentenir) sepertinya tumbuh subur

berdampingan dengan lembaga keuangan formal walaupun tak ada data yang pasti

kapan lembaga ini mulai berkembang.(Teguh, 1999 : 94) Perkembangan lembaga ini

terlihat jelas menyatu dengan perekonomian masyarakat di pedesaan, layaknya

sebuah lembaga kredit.

       Disaat lembaga keuangan formal menawarkan suku bunga 2, 5 % per bulan

lembaga ini malah berani memberikan bunga pinjaman 6,7 % per bulan.(sinar

harapan, www.google.co.id) Sasaran mereka memang masyarakat golongan kecil

yang sering luput dari sasaran lembaga keuangan formal. Prosedur yang cepat dan

mudah membuat lembaga ini makin bertahan sebagai lembaga kredit di masyarakat.

       Dari penelitian yang pernah dilakukan oleh Pemkab Bantul dari Rp 45 miliar

dana yang digunakan pedagang kecil di Bantul, Rp 25 miliar dipasok rentenir dengan
nasabah     petani     77%.     ,     pedagang     78,6%,     dan     pekerja     60,5%2

(http://www2.kompas.com/kcm/, 22/03/2009). Fakta ini merupakan bukti bahwa bagi

masyarakat usaha kecil dan menengah rentenir adalah lembaga intermediasi kredit

yang kompenten sesuai dengan keinginan masyarakat.

       Begitu juga menurut, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM (usaha mikro kecil

dan menengah) Provinsi Banten M.Hasan Basri sekitar 80 persen dari 873.000

UMKM di Banten disinyalir menjadikan rentenir sebagai perantara meningkatkan

perekonomian         mereka.        (Memberdayakan      UMKM          Dengan       Kredit

Mikro,www.banten.go.id,28/04/2009)

       Provinsi Sumatra Barat-pun menjadi sasaran empuk juga bagi rentenir. Dari

penelitian yang dilakukan Emilia di Lintau Buo Tanah Datar bahwa 53 % masyarakat

dengan usaha kecil lebih tertarik untuk meminjam kepada lembaga keuangan

informal. (Jurnal Manajemen dan Pembangunan Vol VIII , 1998:52)

       Faktanya masyarakat kecil (pedagang golongan bawah dengan modal yang

relatif kecil) sebagai sasaran utama rentenir sering tidak menghiraukan bunga tinggi

yang ditawarkan. Mereka hanya memikirkan bagaimana meningkatkan pendapatan

dengan adanya penambahan modal usaha.

       Padahal secara teoritis, modal usaha yang diperlukan oleh setiap anggota

masyarakat dalam meningkatkan produksinya dan menambah konsumsinya, haruslah

bersumber dari kemampuannya sendiri (Samuelson & William,1992 : 331). Modal

2
  Maksudnya 77 % dari 100 % petani memasok kredit dari rentenir,78.6 % dari 100 % pedagang
memasok kredit dari rentenir dan seterusnya. Nilai peresntase untuk masing-masing kelompok
nasabah, bukan persentase keseluruhan.
tersebut dihimpun dari tabungan yang diperoleh dari surplus pendapatan, setelah

dikurangi untuk konsumsi jangka pendek, yaitu konsumsi sehari-hari. Tabungan yang

dipupuk kemudian ditingkatkan menjadi investasi, dan selanjutnya digunakan sebagai

pembentukan modal. Dengan modal inilah kemudian produksi (kegiatan ekonomi)

semakin meningkat, pendapatan meningkat, konsumsi meningkat, tabungan

meningkat, investasi meningkat dan seterusnya, sehingga modal adalah harus muncul

dari kemampuan sendiri dari tabungan (yang kadangkala harus dipaksakan) untuk

senantiasa dipupuk dan dikembangkan.

       Modal yang dipaksakan dengan meminjam kepada rentenir memberi dampak

negatif kepada masyarakat. Semua itu disebabkan oleh besarnya bunga yang

diberikan. Modal yang diharapkan bisa meningkatkan pendapatan secara teoritis tidak

terwujud karna adanya pengeluaran lain yang harus dibayarkan sampai-sampai

mengorbankan konsumsi hanya untuk sekedar membayar kredit berikut bunganya.

Bukankah ini sebuah paradox?

       Bunga akhirnya dianggap sebagai tambahan biaya produksi bagi para

pedagang yang menggunakan modal pinjaman rentenir. Biaya produksi yang tinggi

tentu akan memaksa pedagang untuk menjual produknya dengan harga yang lebih

tinggi pula. Melambungnya tingkat harga, pada gilirannya, akan mengundang

terjadinya inflasi akibat semakin lemahnya daya beli konsumen.

       Di Caruban Madiun Jawa Timur, terbukti rentenir berhasil mengeksploitatif

60 % para pedagang pasar sayur sampai mereka tidak mampu lagi membayar kredit

beserta bunga sehingga kehabisamodal. (,15/03/2009).
         Di Damas Raya Sumatra Barat masyarakat pemilik perkebunan akhirnya

harus rela menyerahkan sertifikat tanahnya kepada rentenir karena tidak mampu

membayar.( Harian Padang Ekspress, K a m i s , 2 9 / 0 1 / 2 0 0 9 )

         Semua dampak negatif yang dialami oleh hampir seluruh masyarakat kecil

dan menengah di Indonesia merupakan sistim ekonomi ribawi yang secara gradual,

tapi pasti akan mengkeroposkan sendi-sendi ekonomi umat. Krisis ekonomi tentunya

tidak terlepas dari pengadopsian sistim ekonomi ribawi seperti disebutkan di atas.

         Akibat dari menurunnya produksi dan konsumsi di masa yang akan datang

secara tidak langsung juga akan mempengaruhi pendapatan pedagang. Kesejahteraan

mereka tidak akan tercapai selama sebagian dari omset penjualannya harus

dibayarkan kepada rentenir dengan bunga yang tinggi.

         Dampak positif dari rentenir tersebut tidak dapat dipungkiri dalam jangka

pendek meningkatkan konsumsi pedagang dan membantu pengadaan input produksi

         Begitu juga di sebuah pasar tradisional                yang menjadi obyek penelitian

penulis pada penelitian ini pedagang menjadikan rentenir sebagai lembaga

intermediasi.. Semenjak tahun 1980 rentenir yang biasa disebut inang3 ini mulai

beroperasi menawarkan jasa bagi para pedagang yang memiliki modal terbatas

(Kamal Sutan Batuah, wawancara, pengelola Pakan Salasa, 18/02/2009). Jasa ini

sudah melembaga layaknya sebuah lembaga kredit. Dikalangan pedagang inang




3
 Inang artinya dalam bahasa batak adalah ibu tetapi istilah ini dipakai karena rentenir yang biasa
menawarkan kredit kepada mereka juga berasal dari batak.
bukan lagi suatu hal yang baru, inang dikenal sebagai bank keliling dengan

persyaratan cepat, mudah dan tanpa prosedur yang berbelit-belit..

       Aktivitas transaksi kredit tersebut akan menjadi pemandangan yang biasa saja

bagi pedagang dimana inang sang penagih hutang menangih angsuran pinjaman

kepada pedagang dalam 12 kali angsuran.. Bu Netri salah seorang pedagang sayur

mengungkapkan bahwa satu kali seminggu saya harus menyetorkan uang kepada

inang Rp.30.000 dalam 12 kali angsuran dengan pinjaman Rp.300.000,-

(Netri,wawancara.dengan pedagang pasar, 14/10/2008) Artinya pinjam Rp.300.000,-

dan bayar Rp.360.000 dalam waktu 3 bulan. Menurut Dinas Pasar sampai saat ini

hampir 50 % pedagang masih melakukan pinjaman kepada inang untuk

meningkatkan kesejahteraan mereka. Praktek ribawi ini sudah merupakan aktivitas di

pakan ini

       Dari fakta yang penulis temui di lapangan dan fenomena di berbagai daerah

dimana masyarakat kalangan menengah ke bawah masih menjadikan rentenir sebagai

solusi utama meningkatkan pendapatan usaha mereka tanpa mempertimbangkan

bunga yang tinggi. Maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dalam

mengkaji permasalahan tersebut dalam bentuk skripsi “Dampak Pinjaman Kredit

Rentenir terhadap Kesejahteraan Pedagang Pasar Tradisional Dalam Tinjauan

Ekonomi Islam (Studi Kasus Pasar Tradisional Pakan Selasa Kecamatan Koto

Tuo Kabupaten Agam Bukittinggi)
   B. Rumusan Masalah

       Peranan lembaga keuangan sangat besar sekali membantu kegiatan

perekonomian tidak hanya dalam lingkup makro tetapi juga lingkup mikro.

Pemberian kredit tidak selamanya memberikan kontribusi yang positif      terhadap

peminjamnya tetapi juga mempunyai pengaruh negatif. Rentenir “inang” sebagai

lembaga keuangan informal dengan bunga yang tinggi (20 %) masih tetap bertahan

sebagai solusi keuangan pedagang untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

       Berdasarkan permasalahan tersebut penulis merumuskan masalah :

       1. Sejauhmana pinjaman kredit rentenir mempengaruhi kesejahteraan

           pedagang pasar ?

       2. Bagaimana dampak pinjaman kredit rentenir terhadap kesejahteraan

           pedagang di pasar tradisional?

       3. Bagaimana perbandingan kesejahteraan pedagang antara yang tidak

           melakukan transaksi dengan yang melakukan pinjaman dengan rentenir?

       4. Bagaimana pandangan ekonomi islam terhadap praktek rentenir?

   C. Batasan Masalah

       Mengingat pembahasan mengenai ini sangat kompleks maka penulis membuat

batasan masalah sebagai berikut :

       1. Penelitian terhadap beberapa pedagang yang sudah berkali-kali melakukan

           akad dengan rentenir minimal (lebih dari 3 kali pinjaman) di pasar

           tradisional.
   2. Pembatasan masalah dampak rentenir dilihat dari pinjaman kredit yang

      dilakukan sedangkan       kesejahteraan pedagang dilihat dari omzet

      penjualan,keuntungan dan variabel lain yang ikut menyumbang seperti

      konsumsi.

   3. Pembahasan     lebih   ditekankan   kepada pengaruh pendapatan       dan

      keuntungan pedagang setelah dan sebelum melakukan pembayaran kredit

      dengan angsuran satu kali seminggu sebagai responden perlakuan.

   4. Penelitian juga dilakukan terhadap pendapatan dan keuntungan pedagang

      yang tidak melakukan pinjaman kepada rentenir sebagai responden

      kontrol.

D. Tujuan Penelitian

      Sejalan dengan rumusan masalah diatas maka, penelitian ini bertujuan

   untuk mengetahui :

   1. Sejauhmana pinjaman kredit rentenir mempengaruhi kesejahteraan

      pedagang pasar

   2. Dampak pinjaman kredit rentenir di pasar tradisional

   3. Perbandingan kesejahteraan pedagang antara yang tidak melakukan

      transaksi dengan pedagang yang melakukan transaksi dengan rentenir

   4. Pandangan ekonomi Islam terhadap Praktek Rentenir

E. Manfaat Penelitian

   Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat :
      1. Bagi pedagang sebagai bukti nyata (tertulis) bahwa apa yang mereka

          lakukan selama ini akan merugikan mereka juga dan mereka akan

          tetap dalam lingkaran setan tersebut selamanya.

      2. Bagi lembaga keuangan formal sebagai bahan pertimbangan untuk

          lebih serius lagi mengenalkan produk mereka kepada kalangan

          pedagang.

      3. Bagi lembaga keuangan informal (rentenir) sebagai bahan renungan

          bagi mereka karna telah menzalimi para pedagang sehingga terjerat

          dalam lingkaran setan dan berusaha hijrah dengan pengelolaan yang

          lebih baik dan tidak ada yang dirugikan.

      4. Bagi    masyarakat,    penelitian    ini    berguna   untuk   memberikan

          pemahaman yang lebih jelas mengenai besarnya kerugian yang mereka

          derita jika melakukan praktek rentenir yang berbau riba tidak saja

          kerugian dunia tapi juga akhirat.

      5. Bagi Penulis, sebagai wisata belajar berfikir sistematis sekaligus

          sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Islam pada

          Fakultas Syariah Institut Agama Islam (IAIN) Imam Bonjol Padang

F. Definisi Operasional

   Dampak                       : Pengaruh kuat yang mendatangkan akibat baik

                                negatif maupun positif ( KBBI, 2003 : 287).

   Rentenir                     :   orang     yang     memberikan      nafkah   dan

                                membungakan           uang,/tukang      riba/pelepas
                    uang/intah darat. Dengan bunga sekitar 10-30 %

                    (KBBI, 1990 : 457). Dalam penelitian ini

                    menggunakan istilah rentenir karenan bunga

                    yang diberikan 20 %.

Kesejahteraan       : Tercukupinya kebutuhan hidup, keamanan,

                    keselamatan, ketentraman, kesenangan hidup ,

                    kemakmuran dan sebagainya (Balai Pustaka,

                    1990: 480) dalam hal ini dalam taraf pedagang

Pedagang            : spesialis dalam berniaga untuk barang

                    dagangan                                  tertentu

                    (www.alimargono.blogspot.com).               Ada

                    pedagang kain, pedagang sayur, pedagang

                    minyak, pedagang beras, pedagang pakaian,

                    pedagang ikan dan lain sebagainya.

Pasar Tradisional   : Merupakan tempat bertemunya penjual dan

                    pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi

                    penjual pembeli secara langsung dan biasanya

                    ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya

                    terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran

                    terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu

                    pengelola pasar(Sudarsono,2001 : 225)
       Ekonomi Islam                : ilmu ekonomi yang dilaksanakan dalam

                                    praktek (penerapan ilmu ekonomi) sehari-

                                    harinyanya bagi individu ,keluarga,kelompok,

                                    masyarakat maupun pemerintah dan pengusaha

                                    dalam          rangka     mengorganisir       faktor

                                    produksi,distribusi dan pemamfaatan barang

                                    dan     jasa    yang    dihasilkan   tunduk   dalam

                                    peraturan         /perundang-undangan         Islam

                                    (Sunnatullah) (Lubis ,1999: 14)

       Definisi operasional secara menyeluruh dalam penelitian ini adalah pengaruh

positif dan negatif pinjaman kredit yang diberikan rentenir dengan bunga 20 %

terhadap terrcukupinya kebutuhan pedagang pasar tradisional dalam tinjauan sebuah

disiplin ilmu yang mengorganisir faktor produksi dengan menggunakan prinsip-

prinsip ekonomi islam.

   G. Sistematika Penulisan

       Untuk memudahkan memahami masalah dalam skripsi ini                maka penulis

membuat sistematika penulisan yang terbagi dalam lima bab

       Bab    I merupakan pendahuluan yang           menjadi acuan dalam penulisan

selanjutnya. Dalam bab ini mengemukakan latar belakang, rumusan masalah, batasan

masalah, tujuan penelitian, mamfaat penelitian, definisi operasional dan sistematika

penulisan.
       Bab II memuat landasan teoritis yang secara umum berisikan teori yang

berkaitan dengan permasalahan lembaga keuangan informal, pandangan ekonomi

islam terhadap praktek rentenir serta pasar tradisional dan prilaku pedagang serta

tinjauan pustaka

       Bab III berisi tentang metode penelitian yang menjelaskan tentang jenis

penelitian, sumber data, penyajian data, hipotesis, model yang ditawarkan, tekhnik

pengolahan data dan tahap penelitian.

       Bab IV berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan yang menjelaskan

dampak pinjaman rentenir terhadap pendapatan pedagang pasar tradisional di Pasar

Tradisional Pakan Salasa Kecamatan Koto Tuo Kabupaten Agam Bukittinggi. Dan

juga menjelaskan pandangan ekonomi islam mengenai kasus rentenir ini.

       Bab V merupakan penutup yang berisikan kesimpulan, saran, keterbatasan

dan rekomendasi penelitian.
                                        BAB II
                              KERANGKA TEORITIS


A. Lembaga Keuangan Informal

       1. Lembaga Keuangan

       Lembaga keuangan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu lembaga

keuangan formal dan informal. Lembaga keuangan formal adalah lembaga keuangan

yang dibentuk berdasarkan undang-undang yang keberadaannya dilindungi oleh

hukum (Teguh 1999 : 92) . Lembaga keuangan ini terdiri dari lembaga keuangan

bank (bank konvensional dan bank syariah) dan lembaga keuangan non bank

(koperasi).

       Sedangkan lembaga keuangan informal merupakan lembaga keuangan baik

yang berbentuk organisasi atau individu yang biasanya terbentuk menurut situasi,

tanpa diatur oleh undang-undang dan tidak dilindungi oleh pemerintah. (Teguh 1999 :

92). Lembaga ini cendrung bertindak menurut aturan main mereka sendiri sehingga

sering mengakibatkan kerugian di salah satu pihak. Lembaga keuangan informal ini

antara lain yang kita kenal dengan rentenir, pengijon, bank plecit.

       Fungsi lembaga keuangan menyediakan jasa sebagai perantara antara pemilik

modal dan pasar utang yang bertanggung jawab dalam penyaluran dana dari investor

kepada perusahaan yang membutuhkan dana tersebut. Kehadiran lembaga keuangan

inilah yang memfasilitasi arus peredaran uang dalam perekonomian, dimana uang

dari individu investor dikumpulkan dalam bentuk tabungan sehingga resiko dari para
investor ini beralih pada lembaga keuangan yang kemudian menyalurkan dana

tersebut    dalam   bentuk   pinjaman    utang   kepada    yang    membutuhkan        (

www.wikipedia.org ,18/2/2009). Ini adalah merupakan tujuan utama dari lembaga

penyimpan dana untuk menghasilkan pendapatan

       Lembaga keuangan informal dengan fungsi sama-sama menyalurkan dana

kepada konsumen yang membutuhkan. Lembaga perkreditan ini beroperasi

berdampingan dengan lembaga formal. Lembaga perkreditan ini cendrung beroperasi

di wilayah pinggiran dan pedesaan. Disadari atau tidak lembaga ini mempunyai

pengaruh positif dan negatif bagi pembangunan pedesaan. Dalam kondisi terjepit

banyak dari anggota masyarakat yang jatuh dalam genggaman lintah darat atau

rentenir. Target peminjam (debitur) lembaga informal biasanya orang-orang dengan

ekonomi lemah yang tinggal di kota atau pinggiran kota, seperti buruh kecil, pegawai

kecil dan perajin kecil atau dengan istilah lain masyarakat yang kurang mampu dari

segi ekonomi.

       2.       Jenis Lembaga Keuangan Informal

       Menurut Deni Mukbar Peneliti AKATIGA, Divisi Usaha Kecil dan Studi

Perdesaan (http://akatiga.org/, 30/04/2009) lembaga keuangan informal antara lain :

       a.sArisan

       Arisan adalah lembaga tabungan kolektif yang diselenggarakan oleh banyak

orang, umumnya pertetanggaan. Jumlah peserta arisan pun berbeda-beda, tergantung

kelompok bersangkutan. Ada berbagai macam bentuk arisan bergantung tujuan
penampungannya, seperti arisan uang, arisan honda (arisan untuk motor), atau arisan

berbagai bentuk barang lainnya.

       b. Rentenir

           Masyarakat setempat mengenal model pinjaman sejenis rentenir sebagai

`bank harian’. Istilah tersebut muncul karena pengelola pinjaman menjalankan

aktivitas `dagang uang’ setiap hari. Selain itu, ada pula yang mengenalnya sebagai

`bank ucek-ucek’ , karena mereka mendatangi pengguna jasanya setiap pagi, sekitar

jam 07.30 -09.00.

       c.gKredittBarang

Selain itu, masyarakat pun dapat memanfaatkan sumber pinjaman berbentuk barang,

dikenal dengan sebutan kreditan barang (mindring). Tata cara peminjaman hampir

sama dengan bank harian, pemberi pinjaman barang berkeliling menagih kepada

peminjam sekaligus mencari calon peminjam lainnya. Namun ada pula model

pembayaran sekaligus, di saat selepas panen (barnen = bayare wis panen).

B. Rentenir

       1. Pengertian Rentenir

       Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia rentenir adalah            orang yang

memberikan nafkah dan membungakan uang,/tukang riba/pelepas uang/intah

darat.(KBBI, 1990 : 457)

       Rentenir adalah pemberi pinjaman uang (kreditur) dengan bunga sekitar 10-30

persen per bulan dalam kondisi perekonomian normal dengan rata-rata bunga

pinjaman   bank      umum   kurang   lebih   1-2   persen   per   bulan.(http://we-
press.com/?p=12,22/02/2009) Plafon pinjaman yang diberikan biasanya antara 50.000

sampai dengan 1.000.000 rupiah. Target peminjam (debitur) mereka biasanya orang-

orang dengan ekonomi lemah yang tinggal di kota atau pinggiran kota, seperti buruh

kecil, pegawai kecil dan perajin kecil atau dengan istilah lain masyarakat yang kurang

mampu dari segi ekonomi.

       Salah satu sebutan yang diberikan oleh masyarakat terhadap praktek rentenir

ini misalnya sebutan terhadap orangnya ”inang” begitu juga dengan sitem rentenir

tersebut mereka kenal dengan sistem julo-julo.

       1.     Sejarah Berkembangnya Praktek Rentenir di Indonesia

       Tidak ada data yang pasti sejak kapan lembaga informal ini ada di

Indonesia,yang jelas lembaga informal ini tumbuh subur berdampingan dengan

lembaga formal (Teguh,1999 : 94)

       Di dalam literatur sejarah menjelaskan bahwa maraknya praktek rentenir ini

pada masa penjajahan kolonial melalui tangan-tangan pribumi walaupun sebelumnya

juga sudah ada pada masa kerajaan pribumi.(Colombijn, 2006 :58). Paham kapitalis-

merkantilisme ini dibawa oleh pedagang bersenjata rempah-rempah yang akhirnya

diorganisasikan dalam bentuk VOC. Melalui VOC ini awalnya sistem pialang

dikenal. Dengan sistem toke/agen. Mereka menggunakan perantara pribumi untuk

menyalurkan dana mereka.

       Pendirian lembaga-lembaga keuangan Bank pada masa kolonial pun

dilakukan sebagai antisipasi bagi praktek rentenir, pengijon atau tengkulak. Dengan

dikeluarkannya Pakto no 27 tahun 1988 menandakan bahwa praktek rentenir sudah
menjadi       masalah   bagi   pembangunan     Indonesia   sebelumnya.    (Karsidi,

http://createpdf.adobe.com/?Language=ENU : 15) sehingga akhirnya pemerintah

mengambil kebijakan dengan pendirian BPR di daerah-daerah pedesaan.

         Dari pengadopsian sistem-sistem kolonial tersebut perkembangan rentenir ,

pengijon ada sampai sekarang. Para pemburu rente,rent-seeker, pergi menawarkan

jasanya kepada penduduk yang memerlukan uang baik untuk kebutuhan konsumsi

maupun produksi Mereka tidak saja membatasi diri dalam menawarkan pinjaman

uang tapi lebih dari itu mereka juga menawarkan barang-barang kebutuhan sehari-

hari dengan pembayaran bisa dicicil. (Teguh, 1999 : 95)

         Perkembagan rentenir yang menawarkan jasa kredit kepada masyarakat mikro

dilakukan dengan mendatangi individu dari rumah ke rumah, tidak hanya dalam

bentuk menjajakan jasa kredit uang tetapi juga dengan modus pedagang keliling

baang-barang kebutuhan masyarakat dan pembayaran pun boleh dicicil.(Teguh, 1999

: 106)

         2.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pilihan Kredit Informal

         Menurut Muhammad Teguh (1999 : 108) dalam penelitiannya mengenai

Peranan Lembaga Kredit Informal bahwa ada 6 faktor yang mempengaruhi pilihan

masyarakat terhadap kredit informal yaitu :

         a. Pertama,adanya retristik (pembatasan) yang dibuat oleh lembaga

keuangan formal melalui peraturan-peraturan yang diterapkan oleh lembaga tersebut.

         b. Kedua, adanya keahlian tertentu dari pemberi kredit informal dalam

menanggapi kebutuhan masyarakat
      c. Ketiga, akibat ketidaksabaran masyarakat

      d. Keempat, keperluan-keperluan yang mendesak dari masyarakat

      e. Kelima, adanya persepsi masyarakat yang lebih berorientasi pada

          kebutuhan sekarang daripada dimasa datang

      f. Keenam, tidak adanya alternatif lain yang dapat dimamfaatkan sebagai

          sumber dana

      Ada lima alasan menurut Iyuk Wahyudi kenapa rentenir sebagai lembaga

pembiayaan non-formal tetap eksis sampai sekarang khususnya dikalangan

masyarakat miskin dan lemah.(Rentenir, Antara Hujatan dan Sanjungan, Harian

Kompas, Senin,23/09/2008) yaitu:

      a. Simpel, tidak birokratis dan berbelit-belit.Sangat mempertimbangkan

          aspek momentum. Artinya, rentenir mampu memberikan dana nasabahnya

          disaat yang tepat.

      b. Pendekatan     budaya     setempat,   artinya   rentenir   datang   sebagai

          kawan/kolega yang senyatanya.

      c. Bertransaksi dengan didasari oleh saling kenal dan rasa saling percaya.

      d. Pemahaman mendalam terhadap bisnis si nasabah. Artinya, si rentenir

          tahu kapan waktu panennya, kapan menjual, kapan butuh uang, resiko,

          bahkan hingga tingkat keuntungan yang akan diperoleh para klien-nya..

      e. Progresif dan proaktif, artinya lebih sering rentenir terjun langsung ke

          lokasi usaha si calon nasabah.
       3. Dampak Negatif dan Positif Rentenir

       Dampak-dampak       negatif       dari   lembaga   keuangan   pedesaan     adalah

(Teguh,1999 :107) :

 a. Bersifat eksploitatif karena adanya kehendak mendapatkan keuntungan yang

     relatif besar dari pemberi kredit

 b. Dalam kurun waktu yang relatif lama kredit ini mengurangi konsumsi dan

     produksi di masa datang

 c. Kredit informal banyak digunakan untuk keperluan konsumtif                  sehingga

     mengurangi kegiatan produktif masyarakat di masa yang akan datang.

 d. Kenyamanan memiliki barang-barang konsumsi yang relatif jauh dibawah

     kemampuan pendapatan menimbulkan beban dan kerugian konsumsi bagi

     masyarakat di masa akan datang dan menimbulkan tabungan yang dipaksakan.

 e. Menghambat proses pemerataan distribusi pendapatan masyarakat

 f. Jangka waktu yang pendek dalam pelunasan hutang menyebabkan kesulitan

     bagi peminjam kredit sehingga mengakibatkan perubahan pada pendapatan,

     konsumsi dan sumber-sumber lain yang dibutuhkan.

Dampak positif dari lembaga keuangan kredit pedesaan adalah :

   a. Dalam kondisi mendesak , lembaga kredit dapat membantu krisis keuangan

       sementara

   b. Eksistensi lembaga keuangan informal dalam waktu yang relatif singkat dapat

       meningkatkan konsumsi dan prestasi masyarakat

   c. Membantu masyarakat dalam pengadaan input-output produksi
 4.      Praktek Rentenir dalam Tinjauan Ekonomi Islam

 Beberapa Praktek Rentenir di :

a. Di Sumatra Barat hampir sistem yang digunakan rentenir di beberapa Pasar

   di Sumatra Barat sama yaitu 10 : 12. Artinya jika minjam Rp 100.000,-

   bayar Rp.120.000,-. Rp.20.000 dikenal dengan imbalan atas pinjaman.

   (Emilia, 1998 : 47)

 b. Opini Masyarakat Jabar (www.navigation.com , 30/2/2009)

   (1)   pinjam Rp.100.000 dipotong 10.000 untuk biaya administrasi dan

         kemudian mereka diwajibkan mengangsur sebesar 120.000 dalam

         waktu satu bulan atau 24 hari efektif dengan sistem angsuran harian

         atau dengan bunga 30 % (tiga puluh persen) per bulan. Jadi angsuran

         harian Rp.5000,-.

   (2)   Kasus Cici seorang pedagang sayur terpaksa meminjam uang kepada

         rentenir untuk menambah dagangannya , yang dia sebut sebagai “uang

         panas” Bunga yang ditetapkan rentenir tersebut sebesar 30 persen dari

         pinjaman pokok, dengan jangka waktu sebulan. Cici, yang meminjam

         Rp 100.000 untuk menambah daganganya, terpaksa harus membayar

         Rp 130.000 saat jatuh tempo nanti.

   (3)   Kasus Ny. Nia (45) Warga RT 05 RW 06 Cilengkrang II (Jabar)

         mengaku kalau dirinya pernah meminjam uang rentenir, besar jasa

         pinjaman yang dipatok oleh para lintah daratpun tak tanggung-

         tanggung bisa dari mulai 20 sampai 50 persen per bulannya. Biasanya
              mereka memberlakukan aturan cicilan harian. Bayangkan kalau

              seseorang meminjam uang sebesar 500 ribu, maka ia harus

              mengembalikan sebesar 750 ribu dalam hitungan 30 hariKalo pinjam 1

              800.000 biasanya harus dikembalikan 2.160.000 dalam 12 bulan.

       Ekonomi Islam memandang bahwa kredit dengan instrumen utamanya adalah

bunga jelas haram. Bunga sama dengan riba. Riba dalam bahasa arab berarti ziyadah

artinya kelebihan atau tambahan. Pengertian tambahan dalam konteks riba yaitu

tambahan uang atas pinjaman, baik tambahan berjumlah sedikit atau banyak.(Ahmadi

&Yeni ,2004 : 104) Penghitungan waktu pada riba mengandung tiga unsur :

         1. Tambahan atas uang pokok

         2. Tarif tambahan yang sesuai dengan waktu

         3. Pembayaran sejumlah tambahan yang menjadi syarat           dalam tawar

          menawar.

     Sementara ulama fiqh mendefinisikan riba sebagai kelebihan harta dalam

muamalah tanpa adanya satu transaksi pengganti atau penyeimbang yang dibenarkan

oleh syara’. (Ahmadi &Yeni, 2004 : 104))

     Transaksi penyeimbang maksudnya adalah transaksi bisnis komersial yang

melegitimasi adanya penambahan tersebut secara adil. Misalnya transaksi jual-beli si

pembeli akan membayar harga atau imbalan atas barangnya, gadai, sewa atau bagi

hasil proyek. Pengganti yang didapatkan sebagai akibat dari usaha yang mengandung

resiko. Berbeda dengan rentenir yang mengambil tambahan dalam bentuk bunga
tanpa adanya penyeimbang yang diterima si peminjam kecuali kesempatan dan faktor

waktu berjalan yang berjalan selama proses peminjaman

     Riba sering dikaitkan dengan al-bathil tertulis dalam Al-quran Surah

       An-Nisa’ 29




          artinya   :
              “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan
          harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan
          perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan
          janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha
          Penyayang kepadamu. “

     Tahapan Pelarangan Riba :

     1.   Tahap Awal :mengambarkan adanya unsure negatif didalamnya




              "Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta
              manusia bertambah, Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.
          Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk
              mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah
          orang-    orang yang melipatgandakan (pahalanya).“ (Q.S. Ar Rum:
          39).

          2. Tahap kedua: berisi isyarat tentang keharamannya
          Artinya : “Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami
          haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang
          dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak
          menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Dan disebabkan mereka
          memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang
          daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan
          yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di
          antara mereka itu siksa yang pedih. “ (Q.S. An Nisa: 160-161

          3. Tahap Ketiga : dinyatakan secara eksplisit salah satu keharaman

             bentuknya



             "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba
          dengan berlipat-ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya
          kamu mendapat keberuntungan." (Q.S. Ali Imran: 130).

          4. Tahap terakhir : diharamkan secara total dalam bentuk apapun

                     278



              "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan
          tinggalkan sisa-sisa (dari berbagai jenis) riba jika kamu orang-orang
          yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa
          riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan
          memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba),
          maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula
          dianiaya." (Al Baqarah: 278-279)

      Jelaslah tahapan-tahapan tersebut mengharamkan riba secara total. Riba

menjadi alat pemerasan antar sesama manusia. Praktek rentenir menyebabkan

hancurnya ukhuwah dan memicu perselisihan. Kita lihat pelaku rentenir hanya

mengoyang-goyangkan kakinya sambil menikmati bunga yang akan terus mengalir ke

dalam sakunya. Gambaran pelaku riba didalam alquran adalah
           “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan
           seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.
           Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata
           (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah
           menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah
           sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil
           riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang
           larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi
           (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka
           kekal di dalamnya. “ QS Al Baqarah 275)


       Kenyataan pelaku riba cendrung memiliki prilaku malas, eksploitatif dan spekulatif.

Jadi jelas bahwa praktek rentenir dalam ekonomi Islam adalah praktek yang

bertentangan dengan nilai-nilai syara’. Rentenir adalah pekerjaan yang dikecam karna

kemaslahatan umat terganggu dan akan terjadi penipuan dan pertumbuhan ekonomi

tidak akan tercapai karna masyarakat tidak bisa keluar dari jerat hutang yang semakin

hari semakin mengunung. Ditambah perekonomian Indonesia semakin memburuk.

Ternyata di pasar tradisional-lah dinamika perekonomian bangsa sesungguhnya

terlihat nyata (Iwan Piliang, http://tinyurl.com/prabowo : 20/3/2009)

C. Konsep Pendapatan Tinjauan Konvensional Versus Islam

       Tujuan pokok dijalankannya suatu usaha perdagangan adalah untuk

memperoleh pendapatan (penghasilan) , dimana pendapatan tersebut dapat digunakan

untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kelangsungan hidup usaha perdagangannya.

Pendapatan yang diterima adalah dalam bentuk uang, dimana uang adalah merupakan

alat pembayaran atau alat pertukaran (Samuelson dan Nordhaus,1997: 36)

       Pendapatan juga dapat didefinisikan sebagai berikut : “ Pendapatan

menunjukan jumlah seluruh uang yang diterima oleh seseorang atau rumah tangga
selama jangka waktu tertentu ( biasanya satu tahun ), pendapatan terdiri dari upah,

atau penerimaan tenaga kerja, pendapatan dari kekayaan seperti : ( sewa, bunga dan

deviden ) serta pembayaran transfer atau penerimaan dari pemerintah seperti tujangan

sosial atau asuransi pengangguran (Samuelson & William, 1992 : 258)

Adapun menurut Lipsey pendapatan terbagi dua macam yaitu :

         1.   Pendapatan perorangan

              Pendapatan perorangan adalah pendapatan yang dihasilkan oleh atau

              dibayarkan kepada perorangan sebelum dikurangi dengan pajak

              penghasilan perorangan. Sebagian dari pendapatan perorangan

              dibayarkan untuk pajak, sebagian ditabung oleh rumah tangga ; yaitu

              pendapatan perorangan dikurangi dengan pajak penghasilan.

         2.   Pendapatan disposible

              Pendapatan disposible merupakan jumlah pendapatan saat ini yang

              dapat di belanjakan atau ditabung oleh rumah tangga ; yaitu

              pendapatan perorangan dikurangi dengan pajak penghasilan.



       Dalam pembahasan kali ini kita akan mencoba melihat perekonomian yang

bersifat sederhana dimana hanya ada rumah tangga dan perusahaan.di pasar dengan

jumlah barang dan jasa yang bermacam.
             Aliran Pendapatan Dijelaskan Oleh Gambar 2.1


                                          Produksi




                 Pengeluaran                                  Pendapatan




        Produksi (usaha perdagangan) menciptakan pendapatan dan pendapatan

menciptakan pengeluaran dan pengeluaran mendorong           rumah    tangga    bisnis

(pedagang) untuk melaksanakan proses produksi.(Rosyidi, 2004 : 109)

        Pendapatan yang didapat tersebut akan mempengaruhi konsumsi, tabungan

dan investasi. Pendapatan yang akan mempengaruhi konsumsi individu, jika semakin

besar pendapatan maka konsumsi terhadap barang juga akan bertambah dan peluang

saving juga akan semakin besar begitupun sebaliknya jika pengalokasian pendapatan

tidak hanya digunakan untuk konsumsi tetapi juga untuk pembayaran hutang maka

peluang konsumsi akan berkurang disebabkan pengeluaran pendapatan lebih

diprioritaskan untuk pembayaran hutang.

        Dalam islam pendistribusian pendapatan harus seimbang antar dunia dan

akhirat. Keputusan apa pun yang dibuat pada masing-masing tahap, akan mempunyai

implikasi terhadap tabungan dan distribusi kita bisa mengidentifikasi paling tidak

empat    tahap    proses   pembuatan   keputusan,    yang   nampak    pada    gambar

berikut:(http://www.ekisonline.com/,28/02/2009)
Fungsi pendapatan (omzet ) secara tidak langsung mempengaruhi konsumsi suatu

individu begitu juga dengan keuntungan.

D. Jenis Pasar

       Menurut Gilarso pengertian pasar dalam arti sempit adalah “suatu tempat

dimana pada hari tertentu penjual dan pembeli dapat bertemu untuk jual beli barang.

       Para penjual menawarkan barang (beras, buah-buahan, dan sebagainya)

dengan harapan dapat laku terjual dan memperoleh sekedar uang sebagai gantinya.

Para konsumen (pembeli) datang ke pasar untuk berbelanja dengan membawa uang

untuk membayar harganya

       Pasar dalam arti luas, Gilarso berpendapat bahwa pasar terjadi kalau ada :

           - Suatu “pertemuan’’ antara
           - Orang yang mau menjual,dan
          - Orang yang mau membeli
          - Suatu barang dan jasa tertentu
          - Dengan harga tertentu
       Pasar juga terdiri dari pasar konkret dan pasar abstrak. Pasar konkret adalah

tempat para pembeli dan penjual melakukan transaksi barang yang langsung

diperjualbelikan, sedangkan pasar abstrak adalah pasar tempat penjual menawarkan

barang-barangnya secara moneter (atau lewat contoh).

       Menurut Mentri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia dalam

keputusannya (Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik

Indonesia, Nomor 23/ MPP/ Kep/ 1/ 1998 tentang Lembaga-Lembaga Usaha

Perdagangan) menyatakan bahwa pasar adalah tempat bertemunya pihak penjual dan

pihak pembeli untuk melaksanakan transaksi dimana proses jual beli terbentuk, yang

menurut kelas mutu pelayanan dan menurut sifat pendistribusiannya dapat

digolongkan menjadi :

       1. Pasar Modern, adalah pasar yang dibangun oleh Pemerintah, Swasta, atau

          Koperasi yang dalam bentuknya berupa Mall, Supermarket, Departement

          Store, dan Shoping Center dimana pengelolaannya dilaksanakan secara

          modern, dan mengutamakan pelayanan kenyamanan berbelanja dengan

          manajemen berada disatu tangan, bermodal relatif kuat, dan dilengkapi

          label harga yang pasti.

       2. Pasar Tradisional, adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh

          Pemerintah, Swasta, Koperasi atau Swadaya Masyarakat dengan tempat-

          tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda, yang dimiliki/ dikelola oleh
           pedagang kecil dan menengah, dan koperasi, dengan usaha skala kecil dan

           modal kecil, dan dengan proses jual beli melalui tawar menawar.

       3. Pasar Grosir, adalah pasar tempat dilakukannya usaha perdagangan partai

           besar.

       4. Pasar Eceran, adalah pasar tempat dilakukannya usaha perdagangan dalam

           partai kecil.

       5. Pasar Swalayan (Super Market), adalah pasar yang kegiatan usahanya

           menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari secara langsung kepada

           konsumen dengan tehnik pelayanan oleh konsumen itu sendiri.

E. Pasar Kredit

       Kata kredit berasal dari bahasa latin credere yang berart kepercayaan. Dan

kepercayaanlah yang ada pada pemberi dan penerima kredit.

       Menurut UU No. 10 tahun 1998 menyebutkan bahwa kredit adalah
       penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
       berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank
       dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi
       utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Jika
       seseorang menggunakan jasa kredit, maka ia akan dikenakan bunga
       tagihan.( Simorangkir, 1984: 91)


       Dewasa ini kehidupan modern adalah prestasi uang, maka transaksi kredit

menyangkut uang sebagai alat kredit yang menjadi pembahasan.Pasar sebagai tempat

bertemunya penjual dan pembeli juga mempunyai peranan yang besar terhadap kredit

yang dikenal dengan pasar kredit. (Suyatno dkk , 2007 : 9)
       Pasar kredit merupakan pasar yang sangat dinamis, dimana didalamnya

terdapat dua kekuatan yang saling berinteraksi yaitu penawaran dan permintaan akan

kredit. Permintaan akan kredit diwakili oleh para peminjam (borrowers), sedangkan

penawaran akan kredit diwakili oleh pemberi pinjaman (lenders) (Deno Hervino ,

www.denohervino.blogspot.com , 22/03/2009) Penawaran akan kredit terdiri atas tiga

komponen, yaitu (1) kredit langsung dari bank, (2) pembeli aset keuangan dari

konsumen, dan (3) kredit baru yang diciptakan oleh bank sentral melalui mekanisme

pasar terbuka.

       Pasar kredit merupakan penghubung bagi efektivitas kebijakan moneter dan

pertumbuhan ekonomi. Pasar kredit terkait dengan bunga . Menurut keynesian tingkat

bunga tidak dipengaruhi oleh keputusan menabung, tetapi dipengaruhi oleh peranan

bank dalam menciptakan uang.( Sadono Sukirno ,2005 : 404)

       Kondisi pasar kredit terjadi sebagai akibat dimana pihak bank memberikan

kredit kepada si penerima kredit, dan di pihak yang lain penerima kredit memperoleh

dana kredit guna pemenuhan modal usahanya. Menurut Charles L.Prather : Suatu

transaksi kredit dapat menimbulkan mamfaat dan dapat juga menimbulkan paksaan,

kerugian serta beban bagi yang berutang.(Teguh, 1999 :102)

       Kredit dapat memperkaya konsumsi , memenuhi kebutuhan yang mendesak

dan untuk meningkatkan produksi.
             Diagram II.3 Faktor yang mempengaruhi Pasar Kredit



   Penawaran      :                                    Permintaan :
   1. Tabungan berbunga                                   1. Kemampuan
   2. Tabungan non                                           antisipasi
      lembaga keuangan                                       prilaku
   3. Pelepasan cadangan           Dana                      keuntungan
      untuk mengurangi             diperlukan                dari investasi
      preferensi likuiditas        atau dana                 yang
   4. Penyusutan                   investasi                 direncanakan
   5. Perputaran Modal                                    2. Tingkat bunga
   6. Kebijaksanaan                                       3. Tingkat
      Pemerintah                                             pendapatan
                                                          4. Peluang-
                                                             peluang


       Ekonomi Islam sebagai sebuah disiplin ilmu yang mengedepankan nilai-nilai

dalam kegiatan ekonomi juga mempunyai perhatian yang besar terhadap masalah ini.

Pelarangan bunga dikarenakan banyaknya kemudaratan yang ditimbulkan dari prilaku

tersebut. Pasar kredit yang menjadikan bunga sebagai imbalan sedangkan pasar islam

lebih dikenal adanya bagi hasil atau keuntungan dari permintaan dan penawaran yang

dilakukan. Pasar sebagai tempat pengalokasian kredit harus berorientasi pada nilai

dan kemaslahatan umat.(Edwin. 2006 : 276)

F. Pasar Tradisional Dan Prilaku Pedagang

       Pasar tradisional yang dikenal dengan istilah pakan merupakan tempat

penjual dan pembeli memperdagangkan barang-barangnya secara berpindah         dari

satu tempat ke tempat lain sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati bersama.
Sistem ekonomi tradisional ini masih memegang      peran penting dalam kehidupan

masyarakat desa.(Said Syahbuddin, www.melayuOnline.com : 20/02/2009)

     Dalam pasar tradisional terdapat kesepakatan masyarakat mengenai tempat dan

hari untuk menjual hasil produksinya. Misalnya, pada hari Senin di desa A, Kamis di

kota atau di desa B. Masyarakat didaerah minang menyebut pasar dengan pakan,

sehingga terdapat istilah Pakan Kamis, Pakan Senin, Pakan Salasa dan seterusnya.

     Gilarso pengertian pasar dalam arti sempit adalah “suatu tempat dimana pada

hari tertentu para penjual dan pembeli dapat bertemu untuk jual beli barang..Para

pedagang menawarkan barang (beras, buah-buahan, dan sebagainya) dengan harapan

dapat laku terjual dan memperoleh sekedar uang sebagai gantinya. Para konsumen

(pembeli) datang ke pasar untuk berbelanja dengan membawa uang untuk membayar

harganya.

     Masalah yang biasa dihadapi oleh pedagang di pasar tradisional adalah

kekurangan modal apalagi ditambah dengan inflasi yang tidak menentu.

Ciri-Ciri Pedagang tradisional      :

a. Modal yang mereka punya relatif kecil

       Para pedagang tak mempunyai keberanian mendatangi bank umum untuk

memperoleh modal, mengingat rumitnya prosedur dan persyaratan yang sulit mereka

penuhi. Apalagi kebanyakan dari mereka buta huruf dan tak punya aset sebagai

jaminan. Akhirnya mereka berpaling pada rentenir, yang setiap saat mampu

memberikan pinjaman dengan cepat, tanpa butuh waktu lama dan proses yang rumit.
b.Biasanya mereka melakukan perdagangan hanya untuk memenuhi kebutuhan saat

itu. Maksudnya biasanya para pedagang tradisional kurang memperhitungkan adanya

tabungan masa depan. Pendapatan yang mereka dapatkan langsung mereka belikan ke

barang dagangan, beli keperluan sehari-hari dan tentunya membayar cicilan hutang.

          Pendidikan para pedagang relatif rendah bahkan buta huruf sehingga mereka

kurang melihat prospek masa akan datang, bagi mereka perdagangan yang mereka

lakukan selama telah memenuhi kebutuhan sudah cukup. Lebih cendrung memilih

melakukan pinjaman kepada rentenir karna proses nya yang mudah.

G. Parameter Kesejahteraan Masyarakat

          Menurut Kementerian Koordinator Rakyat memberi pengertian sejahtera yaitu

suatu kondisi masyarakat yang telah terpenuhi kebutuhan dasarnya. Kebutuhan dasar

tersebut berupa kecukupan dan mutu pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan,

lapangan pekerjaan, dan kebutuhan dasar lainnya seperti lingkungan yang bersih,

aman dan nyaman. Juga terpenuhinya hak asasi dan partisipasi serta terwujudnya

masyarakat        beriman      dan     bertaqwa   kepada      Tuhan   Yang    Maha     Esa

(www.menkokesra.go.id).

          Parameter kesejahteraan diukur dari sisi fisik, seperti Human Development

Index , Physical Quality Life Index (Indeks Kualitas Hidup); Basic Needs) dan

GNP/Kapita (Pendapatan Perkapita). Ukuran kesejahteraan ekonomi inipun bisa

dilihat    dari    dua      sisi,    yaitu   konsumsi   dan     produksi   (skala    usaha)

(http://www.tamzis.com, 21/04/2009). Dari sisi konsumsi maka kesejahteraan bisa

diukur dengan cara menghitung seberapa besar pengeluaran yang dilakukan
seseorang atau sebuah keluarga untuk kebutuhan sandang, pangan, papan, serta

kebutuhan lainnya dalam waktu atau periode tertentu. Begitu juga menurut Sukirno

bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat diukur melalui tingkat pendapatannya.(2007

: 56)

        Morris D : Physical Quality of Life Index (PQLI) Indeks Kualitas Hidup

(IKH) yaitu gabungan tiga faktor :Tingkat harapan hidup, Angka kematian dan

tingkat melek huruf.

        Sejak thn 1990 UNDP mengembangkan Indeks Pembangunan Manusia

(IPM) (Human Development Index = HDI) adalah Tingkat harapan hidup,tingkat

melek huruf masyarakat dan tingkat pendapatan riil perkapita masyarakat berdasarkan

dayabeli masing-masing negara..Besarnya indeks 0 s/d 1. Semakin mendekati 1

berarti indeks pembangunan manusianya tinggi demikian sebaliknya

Beberapa faktor ekonomi yang menentukan tingkat kesejahteraan :

        1) Pengaruh adat istiadat dan iklim dan pilihan
        2) Komposisi umur penduduk
        3) Distribusi pendapatan masyarakat
        4) Pola pengeluaran masyarakat
        5) Komposisi Pendapatan Nasional
        6) Perbedaan masa lapang
        7) Keadaan Pengangguran
H. Evaluasi Dampak Rentenir

        Evaluasi adalah aktivitas yang sistematis dan kontinyu untuk menilai

konseptualisasi, desain, implementasi, dan manfaat kebijakan/program (Ayodha
Pramudita). Evaluasi merupakan aspek sentral dalam setiap program. Secara

komprehensif evaluasi mencakup monitoring, evaluasi proses, evaluasi cost-benefit

dan evaluasi dampak.

       Dalam konsep evaluasi dampak (impact evaluations), evaluasi dimaksudkan

untuk menentukan secara lugas apakah suatu program yang dijalankan mencapai hasil

seperti yang diinginkan terhadap individu, rumah tangga dan institusi dan apakah

dampak tersebut memang semata-mata hanya ditimbulkan oleh program tersebut

(Baker, 2000 ).

       Beberapa pertanyaan lain yang juga perlu dieskplorasi dari sebuah evaluasi

dampak program adalah : Bagaimana keberadaan rentenir mempengaruhi

kesejahteraan pedagang? Apakah ada perbaikan sebagai hasil langsung dari kredit

yang diberikan    rentenir?   Dapatkah   kredit   diperbaiki   untuk   meningkatkan

dampaknya? Hal-hal ini secara tidak langsung mengharuskan eksisnya suatu

metodologi sehingga dapat menunjukkan hasil dari usaha yang dilakukan guna

pengembangan, perbaikan atau malah penghapusan kredit tersebut di masa datang

(Baker, 2000).

       Pengambilan kebijakan didasarkan pada pengukuran kuantitatif dari dampak

kredit rentenir terhadap standar kesejahteraan masyarakat , terutama pedagang pasar

tradisional. Pengukuran atau penaksiran perbaikan kesejahteraan yang diperoleh

sebagai dampak kredit, diperkaya oleh beragamnya dimensi kesejahteraan dan sudut

pandang dalam menafsirkan arti kesejahteraan.
         Evaluasi keberhasilan suatu kebijakan akan sangat bergantung pada prioritas

kebijakan itu pada ukuran kesejahteraan pedagang, apakah keputusan pedagang

melakukan transaksi rentenir berdampak terhadap pendapatan dan keuntungan.

I. Metodologi Pengukuran

         Sementara itu, metodologi pengukuran kuantitatif dampak kredit terhadap

kesejahteraan dapat dikelompokkan menjadi 2 pendekatan yaitu the classic (non-

behavioral), benefit/outcome incidence studies dan behavioral approach (Walle,

1998).

1.   Benefit/Outcome Incidence (Non-Behavioral) Studies

          Pendekatan ini mengurutkan (ranking) individu (atau rumah tangga) ke

dalam beberapa kelompok yang sama besar (misalnya: desil) berdasarkan ukuran

kesejahteraan tertentu (misalnya: pengeluaran per kapita).

          Metode ini mengasumsikan bahwa manfaat yang diterima oleh pedagang

setara, dengan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk kredit. Dapat ditarik kesimpulan,

bahwa tujuan dasar pendekatan ini adalah untuk membandingkan distribusi

kesejahteraan pedagang dengan dan tanpa kredit.

2.   Behavioral Approach

         Pendekatan ini mengasumsikan bahwa manfaat kredit bisa, dinilai dengan

menggunakan ukuran kesejahteraan uang maupun bukan uang. Dengan asumsi ini,

behavioral approach dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan pengukuran dengan

benefits incidence studies.

         Penerima dan bukan penerima manfaat selalu menyesuaikan respon tingkah
laku mereka terhadap campur tangan kredit. Lebih jauh dapat dikatakan bahwa

walaupun permintaan kumulatif terhadap kredit berkecendrungan tidak elastis, namun

keelastisan itu bervariasi pada tiap pedagang. Secara riil kecendrungan tambahan

mengkonsumsinya (marginal propensity to consume) lebih besar, dan tidak bisa

disangkal, lebih responsif terhadap perubahan harga. Satu contoh kecil, pendekatan

benefit incidence study mungkin memperlihatkan bahwa pedagang yang terlibat

kredit lebih banyak memanfaatkan jasa pusat kesehatan dibandingkan yang lainnya.

Namun itu tidak menjamin bahwa kelompok ini akan serta merta selalu menjadi

pengguna terbesar jika harga sarana dan prasarana kesehatan meningkat.

3.   Pendekatan Revisi New Approaches Incorporate Behavioral Responses into

Incindence Studies

       Untuk memperbaiki berbagai kelemahan dari pendekatan behavioral

responses dan incindence studies, maka keduanya dapat digabungkan menjadi suatu

pendekatan baru (hybrid approaches) dalam mengukur dampak pengeluaran publik.

Hal ini dapat dilakukan dengan menentukan dampak sebenarnya dari suatu kebijakan

melalui pendekatan behavioral approach dengan mengumpulkan beberapa pedagang

yang dapat mewakili seluruh populasi.

       Kemudian regresi memperkirakan hasil rata-rata. Langkah selanjutnya adalah

menentukan dampak pada level yang lebih kecil dan menentukan dampak yang

sebenarnya pada distribusi kesejahteraan. Dengan kata lain, tujuannya adalah untuk

menjadikan dampak kebijakan sebagai sebuah fungsi dari karakteristik pedagang,

termasuk pendapatan, bukan hanya mengontrol karakteristik saja.
       Dalam konteks penelitian      ini maka pendekatan yang digunakan dalam

pengukuran dampak kredit terhadap kesejahteraan pedagang adalah pendekatan

behavioral approach. Dengan dasar teori yang telah dikemukakan di atas, penelitian

ini mencoba mengeksplorasi seberapa besar dampak kredit rentenir terhadap

kesejahteraan pedagang pasar tradisional.

J. Tinjauan Pustaka

       Berawal dari penelitian yang dilakukan oleh SMERU (www.smeru.co.id)

terhadap dampak supermarket terhadap pasar dan pedagang ritel tradisional di daerah

perkotaan di Indonesia. Studi ini mengukur dampak supermarket pada pasar

tradisional di daerah perkotaan di Indonesia secara kuantitatif dengan menggunakan

metode difference- in-difference (DiD) dan metode ekonometrik, serta secara

kualitatif dengan menggunakan metode wawancara mendalam. Penelusuran melalui

metode kuantitatif secara statistik tidak menemukan dampak signifikan pada

pendapatan dan keuntungan, tetapi terdapat dampak siginifikan supermarket pada

jumlah pegawai pasar tradisional. Temuan-temuan kualitatif menunjukkan bahwa

kelesuan yang terjadi di pasar tradisional kebanyakan bersumber dari masalah

internal pasar tradisional yang memberikan keuntungan pada supermarket Karena itu,

untuk menjamin keberlangsungan pasar tradisional diperlukan perbaikan sistem

pengelolaan pasar tradisional yang memungkinannya dapat bersaing dan tetap

bertahan bersama kehadiran supermarket.
                                       BAB III

                                METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

        Sebagaimana paparan sebelumnya, penelitian ini akan mengevaluasi dampak

pinjaman kredit rentenir di pasar tradisional. Evaluasi proses difokuskan untuk

melihat perubahan derajat kesejahteraan pedagang pakan baik yang terlibat dengan

rentenir maupun tidak. Secara teknis, penelitian ini akan menggunakan kombinasi

pendekatan kuantitatif melalui survei dan pendekatan kualitatif melalui wawancara

mendalam terhadap informan kunci.

        Berbicara lebih spesifik, untuk memperkirakan dampak keberadaan kredit

rentenir dalam 2 jangka waktu (two point on time), Secara sederhana pendekatan ini

akan melihat perbedaan antara pendapatan dan keuntungan pedagang sebelum dan

sesudah menerima kredit rentenir. Untuk mengisolasi pengaruh variabel lain atas

dampak tadi maka perlu dilakukan metode case-control dalam hal ini. Artinya, harus

ada data pembanding (control), yaitu pedagang yang tidak pernah menerima kredit

rentenir (Baker, 2000).

        Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dimana

data dikumpulkan dan diolah sendiri oleh organisasi dan penerbitnya (Dajan, 1983)

B.    Populasi Dan Sampel

     1. Populasi

        Populasi   penelitian    menurut   Suharsimi   adalah   keseluruhan   subjek

penelitian.(1998 : 115). Sedangkan menurut Moh.Nazir populasi adalah kumpulan
dari unit-unit-unit elementer (sebuah objek dimana dilakukan pengukuran-

pengukuran.(2005 : 273). Populasi dalam penelitian ini adalah Pedagang Pasar

Tradisional Pakan Salasa IV Koto Agam.

   2. Sampling

       Sampel penelitian menurut Suharsimi adalah sebagian atau wakil populasi

yang diteliti (1998 : 177). Sedangkan menurut Moh Nazir sampel adalah kumpulan

dari unit sampling. Unit sampling adalah kumpulan dari unsur-unsur populasi yang

tidak tumpang tindih.(2005,273)

       Dalam penelitian ini tekhnik sampling yang digunakan untuk mendapatkan

data adalah metode purposive sampling. sehingga didapat satu kelompok treatment

dan satu unit kelompok kontrol..

                      Tabel III.I Jumlah Responden dan Peranan

                  No             Peranan      Jumlah Responden

                  1      Treatment (T)        30 orang

                  2      Control ( C )        30 orang

                               Total          60 orang




C. Metode Analisis

       Studi penelitian ini menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif.

Evaluasi dampak kuantitatif menggunakan metode difference-in-difference dan model

ekonometrik, dua metode yang lazim dipakai dalam evaluasi dampak (Baker, 2000).

Sementara evaluasi dampak kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam
dengan informan kunci. Studi ini menggunakan kuesioner untuk para pedagang dan

panduan wawancara untuk para informan kunci sebagai instrumen penelitian.

Kuesioner berisi pertanyaan tentang pendapatan pedagang yang melakukan kredit

(sebelum dan sesudah ) dan para pedagang yang tidak melakukan kredit, pengetahuan

tentang riba dan dampak rentenir serta fakta berkenaan dengan kesejahteraan

pedagang yang berhubungan dengan rentenir.

1. Metode Difference-in-Difference(DiD)

       Metode DiD mensyaratkan pencatatan keadaan dalam dua periode waktu –

sebelum dan sesudah perlakuan (treatment). Dalam hal ini, perlakuan adalah para

pedagang yang melakukan kredit rentenir. Selanjutnya, juga harus terdapat kelompok

kontrol (para pedagang yang tidak melakukan kredit rentenir), dan karakteristik

kelompok perlakuan dan kelompok kontrol harus serupa. Kerangka metode DiD

ditunjukkan oleh persamaan (1) berikut :

       Dampak = (T2 – T1) – (C2 – C1) ………………………..(1)

   di mana :

         T1    =   kondisi pedagang (omzet dan keuntungan) treatment sebelum
               memperoleh kredit rentenir
       T2 = kondisi pedagang (omzet) treatment sesudah memperoleh kredit
               rentenir
   Sementara itu :

         C1 =  keadaan pedagang control (omzet dan keuntungan) dimana tidak
             melakukan kredit dengan rentenir selama responden treatment
             sebelum memperoleh kredit
         C2 = keadaan pedagang control (omzet dan keuntungan) dimana tidak
             melakukan kredit dengan rentenir selama responden treatment
             sesudah memperoleh kredit
       Jika dampak secara signifikan berbeda dari nol, maka rentenir berdampak

nyata pada kesejahteraan pedagang.

2. Metode Ekonometrik

       Bila DiD hanya menghitung apakah perbedaan antara kelompok kontrol dan

kelompok perlakuan secara statistik signifikan tanpa mengontrol variabel lain, maka

model ekonometrik mengontrol kondisi-kondisi lain yang turut menyumbang pada

hasil. Kondisi yang terukur mencakup tingkat pendidikan pedagang, letak lapak , pola

konsumsi dan jenis komoditas yang dijual.

       Untuk mengontrol keadaan yang tidak teramati, disertakan juga variabel

boneka pengetahuan tentang riba dalam beberapa variabel khusus. Studi ini

menggunakan dua bentuk model ekonometrik yang langsung dapat diestimasi

(reduced forms). Yang pertama hanya menggunakan kondisi ex-ante (kondisi

sebelum dilakukan intervensi) sebagai variabel kontrol, sementara yang lain

menggunakan baik kondisi ex-ante dan perubahan-perubahannya. Model-model

umum yang digunakan ditunjukkan dalam persamaan (2) dan (3) (www.smeru.co.id,

28/03/2009) :

          C X S ..(2)
                                               '

          C X X S (3)


   Dimana :

       Konstanta                koefisien regresi X

       koefisienX          koefisien regresi S
       Ci = perubahan proporsional dalam indikator kinerja pedagang i. Indikator

               kinerja yang kita pakai adalah keuntungan dan omzet

       Xi    = variabel kontrol

       Xi = perubahan dalam variabel kontrol

       Si = variabel yang membedakan kelompok kontrol dari kelompok perlakuan,

            di mana digunakan indikator pinjaman kredit rentenir

3. Wawancara Mendalam

       Evaluasi dampak kualitatif mencakup wawancara dengan para stackholder di

pasar tradisional. Para informan ini meliputi Kepala Dinas Pasar,Petugas Pasar,

pedagang yang terseleksi dan pembeli serta lembaga keuangan formal (BPR dan

BRI) di pasar tersebut.

D. Variabel Penelitian

       Menurut Suharsimi variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang

menjadi titik perhatian suatu penelitian (1998 :99) Sedangkan menurut Sutrisno Hadi

(1982:437) variabel adalah semua keadaan, faktor, kondisi, perlakuan, atau tindakan

yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen. Dalam model ekonometrik ada tiga

variabel kontrol yang digunakan. Pertama, variabel yang mengontrol kondisi

pedagang sebelum meminjam kredit rentenir. Kedua          variabel yang mengontrol

perubahan sebelum dan sesudah menerima kredit rentenir. Ketiga variabel yang

mengontrol variabel tertentu yang tidak teramati yaitu variabel boneka tentang

pengetahuan pedagang tentang keharaman bunga.
         Tabel III.2 Variabel Kontrol Yang Akan Diestimasi


                                                       Variabel
                          Variabel
                                                       Boneka
Kondisi Before
Tingkat Keberaksaran/Melek Huruf                             Ya


Tingkat Pendidikan
  Tidak Tamat                                                Ya
  SD                                                         Ya
  SLTP/MTSN                                                  Ya
  SLTA/MA                                                    Ya
  Perguruan Tinggi                                           Ya


Ukuran tempat dagangan (m2)                              Tidak
Pedagang didepan pakan                                       Ya
Pedagang ditengah pakan                                      Ya
Pedagang di belakang pakan                                   Ya


Pola Konsumsi
 Pedagang menkonsumsi daging setiap minggu                   Ya


Jumlah Pembeli                                               Ya


Komoditas yang dijual                                        Ya
   Hanya satu komoditas                                      Ya
   Lebih dari satu komoditas                                 Ya
   Komoditas utama : beras                                   Ya
   Komoditas utama : PMD                                     Ya
   Komoditas utama : lauk pauk                               Ya
   Komoditas utama : sayur-sayuran, umbi-umbian dan
                         kacang-kacangan                     Ya
   Komoditas utama : makanan dan minuman                     Ya
   Komoditas utama : bumbu                                   Ya
   Komoditas utama : buah-buahan                             Ya
   Komoditas utama : kelapa                                  Ya
   Komoditas utama : barang pecah belah                      Ya
   Komoditas utama : accesoris dan mainan anak- anak   Ya
   Komoditas utama : sepatu dan sandal                 Ya
   Komoditas utama : pakaian                           Ya
   Komoditas utama : cabe, bawang                      Ya
   Komoditas utama : tahu                              Ya


   Pengetahuan Riba                                    Ya


Perubahan Before-After
  Perubahan besar tempat dagangan                      Ya
  Ukuran tempat lebih besar                            Ya
  Ukuran tempat tambah kecil                           Ya
                                                       Ya
  Perubahan Pola Konsumsi
  Perubahan jumlah pembeli                             Ya
  Perubahan jumlah komoditas                           Ya
  Perubahan Komoditas Utama                            Ya
                                     BAB IV

                                PEMBAHASAN



A. Gambaran Umum Pasar Tradisional Pakan Salasa

   1. Bangunan dan Struktur Pasar Pakan Salasa


       Pasar Tradisional yang lebih dikenal dengan Pasar Sarikat Pakan Salasa ini

dibangun tahun 1929 pada saat penjajahan Belanda. Awalnya fungsi pasar ini ada dua

yaitu pertama pada siang hari sebagai tempat berdagang dan kedua pada malam hari

digunakan sebagai tempat hiburan rakyat. Akan tetapi mulai pada era pemerintahan

orde baru dimana sistem pemerintahan diganti dari nagari menjadi desa, pasar ini

hanya berfungsi sebagai tempat berdagang saja.

       Pakan Salasa adalah sebuah pasar Sarikat atau pasar persekutuan. Tanahnya

dimiliki oleh 4 suku yang ada di Nagari Tabek Sarojo jorong Guguak Randah yaitu

Suku Pili, Suku Payo Bada, Suku Sikumbang dan Pisang. Empat suku ini

menyepakati untuk memberikan hak pakai tanah mereka sebagai pusat aktivitas

perdagangan masyarakat.

       Pasar tradisional yang terletak di Nagari Tabek Sarojo jorong Guguak Randah

Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam memiliki luas lahan 800 m 2 . (BPS Kecamatan

IV Koto : 2007)
         Pengelolaan pakan4 diserahkan oleh Camat IV Koto kepada perwakilan setiap

Nagari yaitu :

             1.   Nagari Tabek Sarojo
             2.   Nagari Balingka
             3.   Nagari Koto Panjang
             4.   Nagari Koto Tuo

         Perwakilan masing-masing nagari disebut komisi pasar. Sedangkan orang-

orang yang merumuskan AD/ART adalah BP3 pasar dan orang yang menjalankan

disebut dengan pengurus pasar. Pengurus pasar yang diperkerjakan berjumlah 4

orang. Stuktur kepengurusan Pasar dapat dilihat pada lampiran IV.

         Retribusi pasar dipungut oleh petugas pasar kepada pedagang pasar

Rp.7.000,0/bulan dan harus diserahkan kepada PAD Pemda sebesar Rp.50.000,-

/bulan. Sedangkan untuk uang kebersihan setiap pakan tidak ditentukan jumlahnya.

Mereka cendrung akan membayar uang kebersihan apabila dagangan mereka laku

banyak.(Kamal Sutan Batuah, wawancara : 18/02/2009) Pakan ini beroperasi setiap

hari Selasa dan Jumat dari jam 06.00 Wib sampai dengan 14.00 Wib tetapi beberapa

tahun terakhir pasar sudah mulai sepi, jam 11.00 Wib para pedagang sudah mulai

membereskan dagangan mereka.

Pasar tradisional ini terdiri dari 3 bagian (bangunan dapat dilihat pada lampiran III) :

    1. Bagian depan terdiri dari 3 buah counter5(ukuran 2 x 2 m 2 ) dan 10 buah

         lapak-lapak6 berukuran 1 x 1 m 2 serta 2 kios berukuran 3 x 3 m 2



Istilah pasar trasisional dalam penelitian ini akan kita ganti dengan istilah pakan dan untuk selanjutnya
penulis akan menggunakan pakan dalam penulisan.
      2. Bagian tengah/dalam terdiri dari 7 counter dan 40 lapak. Bangunan pada

           bagian tengah dibangun khusus agak tinggi agar pedagang bisa langsung

           mengelar dagangannya berbentuk lapak-lapak berukuran 1 x 1 m 2 , 2 x 1 m 2

           dan 2 x 3 m 2         Pada bagian tengah ini bangunan paling aman karena

           dilindungi atap di atasnya. Di bagian tengah ini juga ada 10 pedagang yang

           berjualan di depan kios dan bangunan tinggi tersebut. 2 buah kios juga ada di

           bagian ini yaitu foto kopi dan kios makanan siap saji. Bangunan kios ini

           berada di bagian tepi pada bagian tengah.

      3. Bagian belakang hampir semua pedagang menggunakan counter untuk

           mengelar dagangannya. Ada sekitar 25 pedagang menggunakan counter (2 x 3

           m2 )    terdiri dari pedagang sayur, daging, ikan, ayam potong, itik dan

           makanan siap saji.


           Hasil pengamatan penulis bahwa bangunan pasar terlihat sangat tua dan sudah

tidak pernah direnovasi. Pada bagian depan banyak lubang-lubang di lantai sehingga

ketika memasukinya harus hati-hati. Di bagian dalam/tengah lantainya juga mulai

berlubang, dan atapnya sudah banyak yang bocor. Pada bagian belakang susunan para

pedagang sudah tidak teratur.

           Dari wawancara yang penulis lakukan dengan para pedagang dikemukakan

bahwa pengurus pasar kurang memperhatikan kondisi pakan ini ditambah lagi dana

untuk renovasi pasar tidak ada. Sejalan dengan pendapat pedagang pengurus pasar

1
    Counter biasanya digunakan oleh pedagang sayur-sayuran dan daging berbentuk kotak atau meja
6
    lapak adalah dagangan yang digelar langsung dibawah menggunakan alas berupa tikar plastik
yang diwawancarai juga tidak menyanggah kurangnya perhatian pihak Kecamatan

terhadap infrastruktur pasar disebabkan oleh kurangnya anggaran.

   2. Pedagang Pakan Salasa

       Pedagang yang berjualan di pasar ini biasanya datang dari daerah sekitar pasar

yaitu Nagari Pakan Sinayan Banuhampu, Nagari Koto Tuo,Koto Gadang, Nagari Sei

Tanang, Nagari Padang Lua, Sei Buluh. Pedagang yang paling jauh berasal dari

Lubuak Basuang, mereka membawa kelapa ,ikan dan beras ke pasar ini.

       Biasanya pedagang membawa dagangan ke pakan menggunakan mobil

cateran, motor, gerobak dan bahkan berjalan kaki. Barang dagangan mereka pasok

dari pedagang grosir partai besar atau pedagang lain di pasar lain yang lebih besar.

Untuk pedagang sayur-sayuran kebanyakan mereka bawa langsung dari ladang

mereka sehingga kelihatan segar. Pedagang barang harian (minyak,gula, sabun)

umbi-umbian dan barang lain mereka pasok dari pasar tradisional lain.

                                  Tabel IV.1
                       Jenis Komoditas, Jumlah Pedagang
                  dan Proporsi Pedagang di Pasar Pakan Salasa

                                                    Jumlah
      No    Jenis Komoditas
                                                    Pedagang       %
      1     Sayuran Segar                           28             20 %
      2     Telur                                   5              3,6 %
      3     Barang Harian                           8              5,8 %
      4     Bumbu Giling                            5              3,6 %
      5     Cabe                                    15             10,7 %
      6     Buah-buahan                             9              6,4 %
      7     Ikan                                    4              2,9 %
      8     Ayam Potong                             3              2,1 %
      9     Daging Sapi                             2              1,4 %
      10    Beras                                   5              3,6 %
      11    Umbi-umbian dan Kacang-Kacangan         15             10,7 %
      12      Kelapa                                           4                  2,9 %
      13      Makanan dan Minuman                              12                 8,6 %
      14      Pakaian                                          2                  1,4 %
      15      Sandal & Sepatu                                  3                  2,1 %
      16      Ikan Kering                                      3                  2,1 %
      17      Pecah Belah                                      2                  1,4 %
      18      Kaus Kaki                                        2                  1,4 %
      19      Accessories                                      4                  2,9 %
      20      Jilbab                                           2                  1,4 %
      21      Mainan                                           2                  1,4 %
      22      Kaset                                            1                  0,7 %
      23      Tahu dan Tempe                                   4                  2,9 %
      Total                                                    140                100.00%
       Sumber : Hasil observasi ulang langsung penulis merujuk kepada survey pengurus pasar tahun 2007 ,
       22 Mei 2009



   B. Lembaga Keuangan Informal (Praktek Kredit Rentenir) dan Lembaga

       Keuangan Formal (BPR Gema Ampekkoto Sejahtera dan BRI) di Pasar

       Tradisional Pakan Salasa

       1. Praktek Kredit Rentenir

       Rent/tukang riba di pakan ini dikenal dengan sebutan inang.. Hampir seluruh

responden yang penulis wawancarai mengenal inang sebagai sebutan bagi orang yang

meminjamkan uang dengan bunga, cepat dan mudah serta berasal dari Batak.

Sebagian pedagang di pakan pernah meminjam kepada inang.Praktek inang bisa

dilihat pada Lampiran III.

       Sistem meminjam kepada inang disebut dengan julo-julo. Perjanjian julo-julo

ini adalah 10 : 11 pada awalnya tetapi karena banyak dari para pedagang yang

menunggak mengangsur pinjaman maka inang lebih memperketat perjanjian dengan

sistem 10 : 12. Artinya pinjam 10 bayar 12 kali angsuran atau kalau kita
persentasekan bahwa si pedagang harus menyerahkan bunga 20 % kepada inang

sebagai imbalan selama 12 kali angsuran. Besar pinjaman yang inang tawarkan

berkisar antara Rp.200.000,- s/d Rp.5.000.000,-.

       Misalnya saja Buk Netri seorang pedagang sayur segar meminjam uang

kepada inang Rp.500.000,- sesuai perjanjian, maka buk Netri harus mengembalikan

uang Rp.600.000,- dengan angsuran Rp.50.000,- selama 12 kali.Biasanya inang

datang setiap hari Selasa untuk menangih angsuran mingguan kepada para pedagang.

Contoh lembaran angsuran bisa dilihat pada lampiran V.

           b. BRI cabang IV Koto

       Bank Rakyat Indonesia (BRI) unit IV Koto mulai beroperasi pada 28

September 1970. Berjarak 1 km dari pasar tradisional dan berada di tepi jalan raya.

Hasil wawancara penulis dengan Direktur BRI, Bapak Iwan, SE menyatakan bahwa

hanya 20 % pedagang Pakan Salasa yang menabung dan hanya beberapa orang yang

pernah meminjam uang di BRI. Nasabah BRI ini lebih banyak para PNS dan

masyarakat sekitar. Produk yang ditawarkan BRI kepada pedagang kecil adalah KUR

Mikro. Sebuah fasilitas kredit yang disediakan oleh BRI unit untuk mengembangkan

atau meningkatkan usaha kecil yang layak. Sektor usahanya adalah sektor pertanian,

perdagangan, perkebunan dan usaha lain. Sejauh ini pendekatan yang dilakukan oleh

BRI kepada para pedagang kurang dan bisa dikatakan tidak pernah menawarkan

produknya langsung ke pasar. Biasanya para pedagang langsung meminjam ke Bank.
                                        Tabel IV.2

                            Ketentuan Umum KUR Mikro

          Keterangan                              Persyaratan
                            Individu yang melakukan usaha produktif yang
       Calon Debitur
                            layak
       Lama Usaha           Minimal 6 bulan
       Besar Kredit         Maksimal Rp. 5 juta
       Jenis Kredit         KMK atau KI maksimal 3 tahun
       Suku Bunga           Efektif maksimal 1,125 % flat rate per bulan
       Prov & adm           Tidak dipungut
       Legalitas            KTP & KK
       Agunan               Seperti tanah/bangunan/Kendaraan atau jaminan
                            sesuai dengan jumlah pinjaman
       Sumber : hasil olahan data sekunder Produk Bank Rakyat Indonesia

           c. BPR Gema Ampekkoto Sejahtera

           PT.BPR Gema Ampekkoto Sejahtera merupakan salah satu lembaga

keuangan perbankan yang telah disyahkan oleh Menteri Keuangan Republik

Indonesia berdasarkan surat No.Kep.240/KM.17/1993 tanggal 22 Oktober 1993

(Brosur BPR). Jaraknya 1,5 km dari pasar tradisional Pakan Salasa dan berseberangan

dengan BRI unit IV Koto. Hampir 50 % pedagang pasar telah menabung di BPR.

Banyaknya pedagang yang menabung disebabkan dengan sistem jemput bola yang

mereka tawarkan sehingga meringankan pedagang. Disamping berdiri untuk

meningkatkan kesejahteraan pedagang, BPR ini             juga ingin untuk memberantas

praktek rentenir.(Riko ,wawancara,Perwakilan BPR, 04/06/2009). Sasaran BPR ini

memang sektor UMKM yang sering luput dari BRI                     padahal sebenarnya para

pedagang mempunyai peluang yang besar untuk membayar.
        Prosedur peminjaman kredit di BPR Gema Ampekkoto (Data BPR Gema

Ampek Koto 2006)        :

   a. Penggunaan kredit

        Kredit usaha diperuntukkan sebagai (tambahan) modal kerja bagi para pelaku

        usaha mikro, seperti pedagang di pasar, warungan, jasa jahit, bengkel dan

        usaha mikro lainnya. Dengan harapan pengucuran modal kerja tersebut akan

        mendorong tingkat produktivitas usaha nasabah.

   b. Persyaratan Pinjaman

   1)   mempunyai usaha mikro produktif

   2)   Usaha yang dijalankan sudah berjalan minimal 1 tahun

   3)   Mempunyai agunan tunjuk yang memadai dan dapat dipertanggungjawabkan,

        contoh : televisi, lemari es, dll

   4)   Usaha dan domisili berada di Wilayah Kecamatan IV Koto

   c. Prosedur Pinjaman

          1)    Melengkapi form permohonan.

          2)    Melampirkan foto copy Identitas yang masih berlaku (KTP, SIM).

          3)    Berdasarkan      berkas     permohonan   kredit   tersebut   petugas

                analisis/surveyor melakukan peninjauan dan menilai kelayakan usaha

                serta kemampuan angsur.

          4)    Hasil analisa kredit tersebut dimintakan persetujuan ke Kepala Bagian

                Kredit UMKM untuk dapat dicairkan di tempat kantor atau di tempat

                usaha nasabah dengan menerbitkan surat pengakuan utang
    d. Plafond 7 Jangka Waktu Biaya, Suku Bunga & Provinsi & Administrasi

          1)     Plafond pinjaman mulai Rp.500.000,- s/d Rp.5.000.000,-

          2)     Jangka Waktu

                a) 10 minggu → Suku bunga : 1,25% / minggu flat

                b) 15 & 20 minggu → Suku bunga : 1,00% / minggu flat

          3) Provisi & Administrasi

                a) Provisi         : 0,75% dari plafond kredit

                b) Provisi          : 0,75% dari plafond kredit

                c) Materai         :    Rp     3.000,-     untuk      di     bawah   Rp1.000.000,-

                   Rp 6.000,- untuk Rp 1.000.000,- ke atas


                                   Tabel IV.3
            Perbedaan Lembaga Keuangan Formal dan Informal (Rentenir)
                   Di Lingkungan Pasar Tradisional Pakan Salasa

                                                           BPR Gema
           No    Perbedaan               BRI                                     Rentenir
                                                          Ampek Koto
           1     Prosedur         ada                  ada                     tidak
           2     Bunga                                 angsuran        10      Angsuran 12
                                  angsuran      6      minggu bunga 1,         kali bunga 20
                                  bulan     bunga      25% angsuran 15         %         dari
                                  1,25 %               & 20 minggu 1 %         pinjaman
                                  Pedagang             Pedagang      kecil     Pedagang
           3     Sasaran          partai besar         UMKM                    kecil
        Sumber : hasil olahan penulis terhadap data sekunder dan wawancara

    Perbedaan yang jelas diantara ketiga lembaga keuangan ini adalah sasaran

nasabah mereka. Dari wawancara yang penulis lakukan dengan dua lembaga


7
 Plafond adalah jumlah pinjaman yang tercantum dalam pinjaman
 Provisi adalah sanksi keterlambatan pembayaran
flat rate adalah suatu tarif yang ditetapkan secara merata dan berlaku umum (Sudarsono,2001 :122)
keuangan formal diatas bahwa kebanyakan sumber modal rente biasanya Bank

dengan jaminan tanah atau harta lain yang bersifat tetap.

   C. Dampak Pinjaman Kredit Rentenir terhadap Kesejahteraan Pedagang

       Pasar Tradisional Pakan Salasa

1. Analisa Kuantitatif

       Analisis kuantitatif mengawali analisis kita pada bagian ini, untuk mengukur

dampak pinjaman kredit tersebut, berikut ini dilakukan analisis kuantitatif yang

disusun dengan menggunakan indikator kinerja objektif (omzet/pendapatan dan

keuntungan)

a. Metode Dampak Difference-in-Difference (DiD)

       Dari analisis kuantitatif, Tabel IV.4       menunjukkan rata-rata perubahan

proporsional omzet dan keuntungan diantara pedagang. Terlihat jelas perbedaan

diantara kelompok treatment dan control dengan adanya pinjaman kredit. Kelompok

treatment tidak mengalami penurunan dalam omzet dan keuntungan sedangkan

kelompok control mengalami penurunan terbukti dengan adanya angka negatif

terhadap kolom omzet dan keuntungan pedagang control. Hal ini mengindikasikan

bahwa pinjaman kredit rentenir mempengaruhi pendapatan dan keuntungan

pedagang.

       Evaluasi dampak DiD sangat jelas menemukan bahwa dampak dari pinjaman

kredit rentenir terhadap omzet pedagang antara kelompok treatment dan kelompok

control nyata secara statistik tetapi terhadap keuntungan tidak nyata secara statistik
(keuntungan bersih dalam konteks setelah dikurangi angsuran pinjaman kredit

rentenir)

                       Tabel IV.4 Dampak Pinjaman Kredit terhadap
                     Omzet dan Keuntungan Pedagang Pasar Tradisional:
                           Metode Difference-in-Difference (DiD)

                                       Treatment                  Control              Perbedaan
                                    69333,3333               -73666,6667
                   Omzet                                                           143000,0000
                                (14550,21691)            (40353,22771)            (42567,45830)
                                   -1500.00                 -9166.67                7666.6667
             Keuntungan
                                 (3738,19982)            (53991.84875)            (53425.06479)
          Catatan: Angka di atas adalah rata-rata perubahan proporsional dalam setiap kategori
          sebelum dan sesudah kredit . Angka dalam tanda kurung adalah galat standar.

          Dari hasil uji t dengan menggunakan SPSS untuk masing-masing variabel

terlihat bahwa antara kelompok treatment dan kelompok control (Lampiran VIII &

IX) mengalami perbedaan Bisa dijelaskan dalam tabel IV.5

                                             Tabel IV.5
                                   Perbedaan Hipotesis Metode DiD

                                                                                               Dampak
 No        Variabel              Kelompok          t ouput       </>      t tabel      H       Pinjaman
                                                                                                Kredit
                             Treatment             4,765           >      2,045     Ditolak        nyata
  1         Omzet
                             Control               -1,826          <      2,045     Diterima       tidak
                             Dampak                 3,359          >      2,045     Ditolak        nyata
          Keuntungan         Treatment             -0.401          <      2,045     Diterima       tidak
  2
                             Control                -170           <      2,045     Diterima       tidak
                             Dampak                 0.144         <       2,045     Diterima       tidak



      Terlihat pada tabel IV.5 bahwa dampak pinjaman kredit terhadap pendapatan

sangat nyata terbukti dengan nilai t               output   >t   tabel   dan bertanda positif.. Sedangkan

nilai t   output   < t   tabel   dan bertanda negatif pada kolom keuntungan sehingga Ho
diterima.    Artinya       pinjaman        kredit      tidak     mempengaruhi          keuntungan.    Ini

mengindikasikan bahwa pedagang lebih mengutamakan kemampuan untuk menjual

dibanding dengan mempertahankan tingkat keuntungan.

b. Metode Ekonometrik

        Metode ekonometrik dipakai untuk analisis kuantitatif kedua. Dalam estimasi

persamaan 2 dan 3 pada Bab III terdapat tiga variabel kontrol yang digunakan.

        C X S ..(2)

        C X X S (3)

        Pertama variabel yang mengontrol kondisi pedagang sebelum meminjam

kepada rentenir..Kedua variabel yang mengontrol perubahan-perubahan kondisi

pedagang sebelum dan sesudah meminjam kredit rentenir. Ketiga variabel yang

membedakan antara kelompok treatment dan kelompok control yaitu pinjaman kredit.

rentenir.

        Dimana S pada persamaan pertama (kondisi before) bernilai 0 karena belum

melakukan pinjaman kredit rentenir. Secara total dilakukan 12 estimasi untuk setiap

variabel dependen. Hasil estimasi dapat dilihat pada tabel IV.6. Variabel-variabel

yang diestimasi meggunakan variabel dummy (boneka) kecuali luas tempat berdagang

Masing-masing estimasi persamaan akan menggunakan variabel dummy yang

berbeda sesuai dengan kategori masing-masing bisa dilihat pada lampiran X..

        Variabel       dummy         adalah       variabel       terhadap       data   kualitatif    yang

dikuantitatifkan. Data kualitatif dalam penelitian ini diolah dari kuesioner yang
dibagikan kepada responden dengan menggunakan program SPSS. Nilainya adalah 1

dan 0. Biasanya dilambangkan oleh D (Dummy). (Supranto,1995 : 198)

       Hasil evaluasi estimasi tabel IV.7 akan dijelaskan sesuai dengan pendekatan

sebagai berikut :

       1. R-Square (R2)

       R2 dapat disebut dengan koefisien determinasi (Santoso,2001 : 318) dimana

digunakan untuk melihat hubungan antar variabel. Dalam penelitian ini kita akan

melihat hubungan antara variabel dependen terhadap variabel independen . Artinya

bahwa pendapatan dan keuntungan dapat dijelaskan oleh variabel-variabel kontrol

sebanyak berapa persen. Biasanya berkisar antara 0-1 atau 0 % s/d 100 %. Semakin

besar R2 maka semakin kuat hubungannya dan sebaliknya.

       Pada estimasi 1- 12 terlihat bahwa R 2 hanya berkisar antara 0.2 % s/d 77 %.

Angka ini mengindikasikan bahwa pendapatan dan keuntungan dapat dijelaskan oleh

variabel kontrol bersifat lemah yang berkisar antara 0.2 % sampai 77 %. Bisa dilihat

dalam tabel R2 untuk masing-masing variabel yang salng berhubungan.

       Tabel IV.6 menunjukkan peringkat hubungan variabel mulai dari yang paling

kuat sampai yang paling lemah hubungannya. Tabel R-Square ini akan mengevaluasi

apakah kondisi-kondisi yang menyumbang kepada program berkaitan erat dengan

pendapatan dan keuntungan pedagang dalam meningkatkan kesejahteraan mereka.
                                            Tabel IV.6
                        Evaluasi Program Pinjaman Kredit Hubungan Antara
                        Variabel Dependen Dan Independent Dengan R-Square
                                            (Dalam %)

                                             Kondisi                                             Kondisi
                                            Program                Variabel Kontrol             Program
            Variabel Kontrol              Pendapatan                                          Keuntungan
                                         Before   After                                      Before   After
   Before                                                     Before
   Komoditas yang dijual                 77                   Komoditas yang dijual          60.2
   Jumlah Pembeli                        27.60     43         Jumlah Pembeli                 27.60     43
   Ukuran tempat dagangan (m2)           26.60                Pengeluaran Utama              20.90     9.4
   Tingkat Pendidikan                    12.00                Lokasi Pedagang                17
   Lokasi Pedagang                       9.8.                 Tingkat Pendidikan             16.3
   Pengeluaran Utama                     1.7       17.20      Ukuran tempat dagangan         15
   Pola Konsumsi                         2.5       25.1       Tingkat melek Huruf            0.3
   Tingkat melek Huruf                   0.20                 Pola Konsumsi                  4.8       10
   After                                                      After
   Perubahan jumlah komoditas                      25.10      Perubahan jumlah komoditas                20
       Sumber : hasil olahan SPSS untuk regresi dengan dua atau lebih variabel bebas maka koefisien determinasi yang
       diambil adalah Adjusted R Square.


        Dari analisis menggunakan R2 ditemukan bahwa antara pendapatan dengan

variabel kontrol yang menyumbang tidak begitu memiliki hubungan yang kuat.

Terlihat pada kolom bahwa pendapatan dan keuntungan pedagang hanya dapat

dijelaskan secara kuat oleh komoditas yang dijual senilai 77 % dan 60.2 %.

Sedangkan variabel lain nilainya sangat lemah jauh dibawah 50 %. Setelah program

pinjaman kredit di estimasi kedalam persamaan maka terlihat bahwa terjadi

perubahan-perubahan :

            1. Perubahan pada jumlah pembeli

        Sebelum intervensi program pinjaman kredit pendapatan dan keuntungan

dijelaskan oleh jumlah pembeli sebesar 27.60 % tetapi setelah intervensi maka
pendapatan dijelaskan oleh variabel jumlah pembeli meningkat menjadi 43 %.

Jumlah yang sama antara pendapatan dan keuntungan.

         2. Perubahan Pengeluaran Utama

       Pendapatan dijelaskan oleh pengeluaran utama sebelum intervensi 1.7 % naik

menjadi 17.2 % setelah intervensi pinjaman kredit. Sedangkan keuntungan hanya

mampu dijelaskan sebelum dan sesudah intervensi kredit sebesar 20.90 % turun

menjadi 9.4 %. Artinya bahwa pengeluaran utama mengalami penurunan yang drastis

terhadap keuntungan. Dalam Lampiran VII dapat dilihat bahwa pengeluaran utama

pedagang yang berubah dari pengeluaran terhadap barang dagangan beralih kepada

pengeluaran kredit.

         3. Perubahan Pola Konsumsi

       Pola konsumsi mampu menjelaskan hubungan dengan pendapatan sebesar 1%

tetapi setelah intervensi kredit meningkat menjadi 25.1 %. Hubungan keuntungan

dengan pola konsumsi meningkat dari 4.8 % menjadi 10 %.

       Secara umum bahwa nilai R2 yang dijelaskan oleh masing-masing variabel

kontrol (independent) terhadap variabel dependen (pendapatan dan keuntungan)

sangat rendah. Hanya jumlah komoditas yang mampu menjelaskan lebih besar

terhadap pendapatan dan keuntungan. Walaupun terjadi peningkatan peningkatan

terhadap masing-masing variabel walaupun lemah.

           2.   Uji t dan Probabilitas

       Uji t dan Uji Probabilitas atau uji F digunakan untuk menguji signifikansi

(pengaruh) konstanta variabel kontrol dan variabel dependen pendapatan dan
keuntungan. (Santoso, 2001 : 334). Uji ini dilakukan untuk pengambilan keputusan

apakah Hipotesa Ho diterima atau ditolak Nilai antara uji t dengan Uji F harus sama.

Hipotesis :

Ho ditolak maka koefisien regresi signifikan

Ho diterima maka koefisien regresi tidak signifikan

Teknik Pengambilan Keputusan (Suroto, 2001 : 336) :

   (a) Dengan membandingkan antara Statistik hitung dengan Statistik tabel

Jika statistik t hitung < statistik t Tabel, maka Ho diterima

Jika statistik t hitung > statistik t Tabel, maka Ho ditolak

      Statistik t hitung
   Pada SPSS nilai t hitung diambil pada kolom Coeficient
      Statistik tabel

   Dalam penelitian ini tingkat signifikansi  = 5 % (0.05) dengan df (derajat

kebebasan) dimana df = n-k (n = jumlah sampel dan k = banyaknya koefisien).

   (b) Berdasarkan Probabilitas

Jika probabilitas > 0.05, maka Ho diterima

Jika probabilitas < 0.05, maka Ho ditolak

Nilai signifikansi (Sig) bisa dilihat pada kolom ANOVA hasil output SPSS.
                                         Tabel IV.7
                        Evaluasi Program dengan Uji t dan Probabilitas

Variabel Dependen : Pendapatan

                                          Pengambilan Keputusan

   Variabel Kontrol                    Uji t                 Probabilitas             Ho          Effect
                            t hitung     </>   t tabel    Sig     </>
1.Tingkat                                                                                     Tidak
                             0.207        <    1.699     0.837     >        0.05   diterima
Keberaksaraan                                                                                 Signifikan
                                                                                              Tidak
                             0.373        <    1.706     0.507     >        0.05   diterima
2. Tingkat Pendidikan                                                                         Signifikan
 3. Luas Dagangan            3.182        >    1.699     0.004     <        0.05   ditolak    signifikan
4. Lokasi Dagangan
                             0.449                                                            Tidak
    Didepan                               <    1.703     0.247     >        0.05   diterima
                             1.418                                                            Signifikan
    Dibelakang                            <    1.703
5. Pola Konsumsi                          <                                                   Tidak
                             0.128             1.699     0.899     >        0.05   diterima
Daging                                    <                                                   Signifikan
6. Jumlah Pembeli
    Pembeli 1                0.847-       <    1.706
                                                                                              Tidak
    Pembeli2                 0.370        <    1.706     0.078     >        0.05   diterima
                                                                                              Signifikan
    Pembeli 3                0.859        <    1.706
    Pembeli 4                1.647        <    1.706
7. Jenis Komoditas
    PMD                       0.000       <    1.740
    Mkn Hewani                0.541       <    1.740
    Telur                     1.397       <    1.740
    Bumbu                    -0.565       <    1.740
    Buah-buahan              -1.711       <    1.740
    Kelapa                    0.000       <    1.740                                          Tidak
                                                         0.0573    >        0.05   diterima
    Pecah Belah              -0.403       <    1.740                                          Signifikan
    Sayur-sayuran            -0.396       <    1.740
    Pakaian                   0.000       <    1.740
    Cabe                     -0.897       <    1.740
    Kaus Kaki                -0.699       <    1.740
    Accessories              -2.096       <    1.740
    Sandal                   -4,191       <    1.740
                                                                                              Tidak
                            - 0.693       <    1.699     0.494     >        0.05   diterima
8. Pengeluaran Utama                                                                          Signifikan
9. Perubahan
Pengeluaran Utama                                                                             Tidak
                                                         0.079     >        0.05   diterima
Konsumsi                     -1.257       <    1.701                                          Berpengaruh
Kredit                        1.801       <    1.701
10.Perubahan Pola
Konsumsi
                            2.093         >    1.701     0.036     <        0.05   ditolak    Signifikan
11. Perubahan Jumlah
Pembeli
   Pembeli 1                 1.568        <    1.711
   Pembeli2                  2.276        >    1.711     0.020     <        0.05   ditolak    Signifikan
   Pembeli 3                 2.279        >    1.711
   Pembeli 4                 1.912        >    1.711
   Pembeli 5                 2.058        >    1.711
12. Perubahan Jumlah
                             2.147        >    1.701      0.02     <        0.05   ditolak    Signifikan
Komoditas
Variabel Dependen : Keuntungan

                                          Pengambilan Keputusan

    Variabel Kontrol                 Uji t                      Probabilitas         Ho          Effect
                          t hitung     </>    t tabel     Sig        </>
 13. Tingkat                                                                                 Tidak
                          -0.053      <       1.699     0.782        >     0.05   diterima
 Keberaksaraan                                                                               signifikan
                                                                                             Tidak
                          0.788       <       1.706     0.327        >     0.05   diterima
 14. Tingkat Pendidikan                                                                      signifikan
 15. Luas Dagangan        2.219        >      1.699     0.035        <     0.05   ditolak    signifikan
 16. Lokasi Dagangan
    Didepan               -0.460      <       1.703                                          Tidak
                                                        0.927        >     0.05   Diterima
    Dibelakang            -0.077      <       1.703                                          signifikan
                          -0.188      <       1.703
 17. Pola Konsumsi                                                                           Tidak
 Daging
                          0.842       <       1.699     0.407        >     0.05   diterima
                                                                                             signifikan
 18. Jumlah Pembeli
    Pembeli 1             1.567       <       1.706
                                                                                             Tidak
    Pembeli2              0.633       <       1.706     0.079        >     0.05   Diterima
                                                                                             signifikan
    Pembeli 3             1.481       <       1.706
    Pembeli 4             2.421       >       1.706
 19. Jenis Komoditas
    PMD                   1.293       <       1.740
    Mkn Hewani            0.389       <       1.740
    Telur                 1.723       <       1.740
    Bumbu                 -2.154      <       1.740
    Buah-buahan           0.498       <       1.740
    Kelapa                -0.440      <       1.740                                          Tidak
                                                        0.119        >     0.05   Diterima
    Pecah Belah           0.646       <       1.740                                          signifikan
    Sayur-sayuran         0.746       <       1.740
    Pakaian               0.000       <       1.740
    Cabe                  0.124       <       1.740
    Kaus Kaki             0.249       <       1.740
    Accessories           0.000       <       1.740
    Sandal                -0.862      <       1.740
 20. Pengeluaran Utama    -2.717      <        1.699    0.01         <     0.05   ditolak    Signifikan
 21. Perubahan
 Pengeluaran Utama                                                                           Tidak
                                                        0.265        >     0.05   Diterima
    Konsumsi              -1.699      <       1.701                                          signifikan
    Kredit                -1.020      <       1.701
 22. Perubahan Pola                                                                           Tidak
 Konsumsi                 -1.183       <       1.699    0.128        <     0.05   Diterima
                                                                                             signifikan

 23. Perubahan Jumlah
     Pembeli
    Pembeli2              2.230       >       1.708     0.014        <     0.05   Ditolak    Signifikan
    Pembeli 3             2.021       >       1.708
    Pembeli 4             2.674       >       1.708
    Pembeli 5             3.087       >       1.708
 24 .Perubahan Jumlah
                          2.646        >       1.699    0.013        <     0.05   Ditolak    Signifikan
 Komoditas
Catatan : Tingkat Signifikansi yang digunakan  = 5% dengan df yang berbeda untuk masing-masing variabel
kontrol pada estimasi persamaan 3 yaitu estimasi terhadap perubahan setelah dilakukan intervensi dengan
memasukkan variabel bebas pinjaman kredit (estimasi 9 – 12 dan 21-24). Tulisan yang dicetak tebal
mengindikasikan dampak.
       Pada estimasi 1,2,4-9,12-14,16-19,21 23 mengindikasikan bahwa Ho diterima

dan koefisien regresi tidak        berdampak      signifikan      secara      statistik      terhadap

pendapatan dan keuntungan. Sebaliknya pada estimasi 3, 10,11,15,20,23 dan 24

menunjukkan bahwa nilai uji t dan uji probabilitas berdampak secara signifikan

terhadap pendapatan dan keuntungan pedagang.

                                 Tabel IV.8
        Dampak Pinjaman Kredit Rentenir terhadap Kesejahteraan Pedagang
                        Pasar Tradisional Pakan Salasa
                         Hasil Estimasi Output SPSS

                          Before Credit                              After Credit
   Variabel              C X S                      C X XS 
                               S=0                                S = Pinjaman Kredit
Pendapatan
1.Pola          C = 68095.238 +        4126984X        C = 5287.743 -30908.703 X
Konsumsi                (17693.506)       (32303.724)          + 69400.232 X + .143S
                 Koefisien regresi
                 68095.238 412698                Koefisien regresi :
                 R2 = 0.01                               29411.610 32974.098
                 Konsumsi                                33157.361 .072
                 thitung = 0.128
                                                         R2 = .192
                 df = n – k = 2 – 1 = 1
                 t tabel = 1.699

2.Pengeluaran C = 78235.294 – 20543 X                  C = 15649.284 - 48944.3X + 69949.727X
Utama                  (19504.246) (29629.076)                  + 0.122 S
                Koefisien regresi                          (30263.125) (38944.102)        (38832.273)
                                                                (0.062)
                 78235.294 – 20543               Koefisien regresi :
                 R2 = 0.017                              15649.284 - 48944.3
                 Barang Dagangan           Konsumsi
                                                         69949.727  0.122
                 thitung = - 0.693          thitung = R2 = 0.280
                 0.128                                   Barang Dagangan          Konsumsi
                 df = n – k = 2 – 1 = 1
                                                         thitung = 1.801          thitung = -1.257
                 t tabel = 1.699                         df = n – k = 4 – 3 = 4
                                                          t tabel = 1.701      t tabel = 1.701
3. Jumlah       C = 45406.504 + 49634.146X1 +        C = 216558 + + 126078.7X1 +
   Pembeli        20.406.5X2 + 50365.854X3 +              220100.5X2 + 228262.9X3 + 175795.4X4
                  154593X4                                + 0.217 S
                                                          Standar error
               Standar error                               58617.404
               58617.404               0.217
                                       55090.405                                   55090.405
               58617.404     58617.404
               93873.330      93873.330
                                                                                         93873.33
               R2 = 0.276                                     2
                                                           R = 0.410
Keuntungan
1. Pola        C = 3571.429 + 6904.762           X        C = 8352.233 -17889.053X +
Konsumsi               (4490.569)      (8198.620)                 16832.403X + 1.196E-
                                                                  02S
               R2 = 0. 025                                  Koefisien regresi :
               thitung = 0.842                             8352.233 -17889.053
                                                           16832.4031.196E-02
                                                           R2 = 0.234

2.Pengeluaran C = 20588.235 – 17511.3 X                  C = 28932.744 + 19646.726X2 –
Utama                 (4243.393) (6446.177)                          16518X – 29016.8X –
               Koefisien regresi                                     34490.7X + 3.557E-03 S
               20588.235– 17511.3              Koefisien regresi :
               R2 = 0.209                                  16534.233-7026.028
                                                           17904.337
                                                           18348.273
                                                           17285.680
                                                           (0.014
                                                           R2 = 0.358

3.Jumlah       C = 5121.951 + 22276.423X1 +             C = 34636.3 + 30687.463X1 +46428X2
Pembeli         8455.285X2 + 21056.911X3 +                   + 43888.601X3 + 57622.708X4 +
                55121.951X4                                  70000X5 +1.464E-02 S

               standar error                                Standar error
               14307.576 14218.152             298222.6092436.849
                                         13362.649   0.025
               14218.152                                 22875.810
               22769.779    
               R2 = 0.276                                  21748.118
                                                                                         22989.956
                                                           R2 = 0.439
          Tabel IV.8 akan mengakhiri analisis kuantitatif dalam mengevaluasi dampak

pinjaman kredit terhadap variabel kontrol yang ikut menyumbang pada hasil.

Persamaan regresi akan dijelaskan satu persatu                        :

1. Pola Konsumsi Daging

    a. Pendapatan

           C = 68095.238 +        4126984X...............................................(before program)
                  (17693.506)        (32303.724
           
           C = 5287.743 -30908.703 X + 69400.232 X + .143S ........(after program))
                  (29411.610)     32974.098)        (33157.361)            .072)

Jadi intervensi program mengambarkan :

       Jika tidak ada konsumsi daging dan pinjaman kredit maka perubahan yang

        terjadi pada pendapatan pedagang sebanyak Rp. 5287.743

     Jika terjadi penambahan pada pola konsumsi daging (+1) maka akan

        mengurangi pendapatan sebesar pendapatan Rp. 30908.703,-

     Jika terjadi perubahan pada pola konsumsi daging (  1) maka akan

        mempengaruhi pendapatan pedagang  Rp 69400.232

     Jika terjadi peningkatan pada pembayaran pinjaman kredit (+1) angsuran maka

        akan mempengaruhi pendapatan Rp 0.143,-

        b. Keuntungan

        C = 3571.429 + 6904.762      X     ....................................................(before   program)
              (4490.569)   (8198.620)



          C = 8352.233 -17889.053X + 16832.403X + 1.196E-02S .....(after program))
              (6519.665)  (7309.361)    (7349.985) (0.016)

Jadi intervensi credit rent program mengambarkan :
            Jika tidak ada konsumsi daging dan pinjaman kredit maka perubahan yang

             terjadi pada keuntungan pedagang menjadi Rp 8352.233

          Jika terjadi penambahan pada pola konsumsi daging (+1) maka akan

             mengurangi keuntungan sebesar Rp. -17889.053,-

          Jika terjadi perubahan pada pola konsumsi daging (  1) maka akan

             mempengaruhi pendapatan pedagang  Rp 16832.403

         Jika terjadi peningkatan pada pembayaran pinjaman kredit (+1) angsuran maka

 akan mempengaruhi pendapatan Rp 1.196E-0.8 Untuk kasus ini nilai E condition

 index adalah 1.000 sehingga masalah multikolineritas tidak terlalu berpengaruh.

         2. Pengeluaran Utama

           a. Pendapatan
           C = 78235.294 – 20543 X.........................................................(before program)
                     (19504.246)    (29629.076)
             C = 15649.284 - 48944.3X + 69949.727X + 0.122 S......( after program)
                       (30263.125) (38944.102)       (38832.273)            (0.062)
         Jadi intervensi progam mengakibatkan                  :

            Jika tidak ada pengeluaran dan pinjaman kredit maka perubahan yang terjadi

             pada pendapatan pedagang sebanyak Rp. 15649.284

          Jika terjadi penambahan pada pengeluaran (+1) maka akan mengurangi

             pendapatan sebesar Rp. 48944.3

          Jika terjadi perubahan pada pengeluaran (  1) maka akan mempengaruhi

             pendapatan pedagang  Rp 69949.727

 8
   Huruf E adalah nilai Eugen menjelaskan bahwa ada multikolineritas antara pinjaman kredit dengan
 keuntungan dan pola konsumsi. Jika kondisi indeks besar dari 15 maka masalah multikolineritas besar.
 Nilai E dan indeks dapat kita lihat pada output SPSS pada kolom Colinearty Diagnostic.
 (Santoso,2001: 358)
           Jika terjadi peningkatan pada pembayaran pinjaman kredit (+1) angsuran maka

            akan mempengaruhi pendapatan Rp 0.122

              b.Keuntungan

           C = 20588.235 – 17511.3 X .........................................................(before program)
                        (4243.393)          (6446.177)

        C = 28932.744 + 19646.726X2 – 16518X – 29016.8X – 34490.7X + 3.557E-03 S
             (16534.233)        (7026.028)            (17904.337)        (18348.273)          (17285.680)         (0.014)

   (after program)

           Jika tidak ada pengeluaran dan pinjaman kredit maka perubahan yang terjadi

            pada keuntungan pedagang sebanyak Rp 28932.744

           Jika terjadi perubahan pada pengeluaran utama konsumsi (  1) maka akan

            mempengaruhi keuntungan pedagang  Rp 16518

           Jika terjadi peningkatan pada pembayaran pinjaman kredit (+1) angsuran maka

            akan mempengaruhi keuntungan Rp 3.557

          Condition Indexnya = 1.000

          3. Jumlah Pembeli

       a. Pendapatan
                       
      C = 45406.504 + 49634.146X1 + 20.406.5X2 + 50365.854X3 + 154593X4..............(before)
             58617.404) (55090.405)   (58617.404)     93873.330)
   C = -216558 + + 126078.7X1 + 220100.5X2 + 228262.9X3 + 175795.4X4 + 0.217 S ........(after))
   
          Jadi jika jumlah pembeli berkurang maka pendapatan akan berkurang Rp216558

          dan pinjaman kredit juga akan mmepengaruhi pendapatan sebanyak Rp.0.217

          b. Keuntungan

  C = 5121.951 + 22276.423X1 + 8455.285X2 + 21056.911X3 + 55121.951X4........................................................(before)

  C = -34636.3 + 30687.463X1 +46428X2 + 43888.601X3 + 57622.708X4 + 70000X5 +1.464E-02 S (after)
     Pinjaman kredit (+1)akan mengurangi keuntungan pedagang sebesar Rp. 1.46.

Jadi dari tabel tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa pinjaman kredit secara

tidak langsung akan mempengaruhi pendapatan dan keuntungan khususnya pada

kolom jumlah pembeli negatif pada koefisien konstansta.

2. Analisa Kualitatif

       Hasil penelitian studi ini menunjukkan adanya penurunan kinerja pedagang

pasar tradisional secara keseluruhan. Temuan ini akan menganalisis secara khusus

kontribusi dari pinjaman kredit terhadap penurunan kesejahteraan pedagang tersebut.

Analisis kualitatif mengawali diskusi pada bagian ini, dilanjutkan dengan analisis

kuantitatif untuk mengukur dampak pinjaman kredit rentenir terhadap kesejahteraan

pedagang pasar tradisional Pakan Salasa khususnya omzet/pendapatan dan

keuntungan sebagai variabel dependen.

       Menurut para pedagang beberapa tahun terakhir omzet dan keuntungan

mereka mengalami penurunan Penyebab penurunan ini terutama lebih kepada tidak

stabilnya harga barang dan bertambahnya jumlah pedagang padahal jumlah pembeli

tetap serta daya beli konsumen mulai rendah.

       Pinjaman kredit yang mereka lakukan guna meningkatkan pendapatan juga

tidak begitu berpengaruh. Mereka tidak terlalu menargetkan keuntungan besar dan

bagi mereka yang terpenting barang dagangan laku dan bisa membeli kebutuhan

hidup mereka. Pembayaran kredit bagi sebagian pedagang tidak terlalu membebani

tapi ada sebagian pedagang yang malah makin terbebani dengan adanya kredit

rentenir. Kasus beberapa pedagang bisa dilihat pada lampiran VI.
       Menurut beberapa pedagang tidak ada perbedaan yang begitu signifikan

antara pedagang yang meminjam maupun yang tidak meminjam kepada inang.

Pendapatan mereka hampir sama saja. Pendapat ini juga sejalan dengan pendapat

pengurus pasar perbedaan antara pedagang kredit dan non-kredit tidak begitu terlihat

karena jumlah pinjaman mereka cendrung kecil sehingga tidak begitu terlihat

terhadap barang dagangan mereka. Sebaliknya bunga yang rentenir berikan tinggi.

Tidak sebanding dengan pendapatan mereka.

       Penyebab tidak begitu nampaknya dampak dari pinjaman kredit terhadap

kesejahteraan pedagang treatment (Artikel tentang wawancara dengan beberapa

informan kunci dapat dilihat pada lampiran VII) antara lain :

1. Mapan dan ketidakmapanan.

       70 % informan kunci menyatakan bahwa biasanya orang-orang yang terlibat

dengan inang adalah orang-orang yang memilki tanggungan keluarga yang banyak

dan tidak sebanding antara kebutuhan dan penghasilan yang mereka dapatkan.

2. Prilaku hidup Boros

       50 % para pedagang yang diwawancarai, memaparkan bahwa prilaku boros

sangat terlihat jelas pada pedagang yang melakukan pinjaman ke inang. Berniat

meminjam untuk suntikan modal malah mengalihkannya kepada hal-hal konsumtif

atau hidup berfoya-foya. Seperti yang dipaparkan oleh Jumaini yang biasa dipanggil

”akak eni” didalam artikel bahwa sebagian pedagang yang meminjam kepada inang

mempunyai prilaku boros.

3. Pinjaman Kredit Yang Menumpuk Akibatnya Terjerat Dalam Lingkaran Setan
       Boleh meminjam lebih dari satu pinjaman. Hampir semua responden

memaparkan bahwa kepercayaan adalah kunci sukses dalam melakukan pinjaman.

Jika inang sudah bisa memegang kepercayaan pada seseorang maka kucuran dana

akan mengalir seperti air bahkan disaat angsuran pinjaman belum selesai diangsur

kita bisa meminjam lagi dengan jumlah yang berbeda

       Jadi secara kualitatif ditemukan bahwa ada beberapa faktor penyebab tidak

adanya perbedaan kesejahteraan pedagang yang melakukan pinjaman kredit dan non

kredit antara lain prilaku hidup boros, pinjaman kredit yang menumpuk pinjaman

kredit yang relatif kecil, harga barang yang tidak stabil, pedagang yang makin banyak

serta daya beli konsumen menurun.

D. Perbandingan Kesejahteraan Pedagang Pasar yang Meminjam kepada

Rentenir dan Tidak Meminjam Kepada Rentenir

   Dalam penelitian kuantitatif dengan menggunakan model DiD dan model

ekonometrik memberikan indikasi bahwa pengaruh pinjaman kredit kepada kelompok

treatment signifikan secara statistik dalam meningkatkan pendapatan. Sedangkan

keuntungan tidak signifikan secara statistik. Berikut akan dibahas perbandingan

kesejahteraan Group Tratment dan Group Control pada Tabel 1V.9.

                                    Tabel IV.9
                           Comparative of Welfare Traders
                              Treatment and Control

          Comparative                Group Treatment              Group Control

Metode Kuantitatif
 1. Model DiD
   a. Pendapatan              Meningkat (69333,3333)       Menurun (-73666,6667)
    b.Keuntungan                      Menurun (-1500.00)                   Menurun (-9166.67)

2. Model Ekonometrik (Regresi)
  a.Tingkat melek      huruf          Rendah ( 0.667)                      Tinggi (0.8667)
  b. Tingkat Pendidikan               Rendah (0.3667)                      Tinggi (1.0591)
                                               2
  c. Luas Tempat Berdagang            2 8333 m                             2.96667 m2
  d. Pola Konsumsi daging             Menurun (0.3000 menjadi 0.2600)      Menurun (0.4667 menjadi 0.1667)
  e. Jumlah Pembeli                   Meningkat (0.966 menjadi1.140)       Tetap (0.89 menjadi 0.83)
   f. Jumlah komoditas dagangan     Meningkat ( 0.20 menjadi 0.25)          Meningkat (0.26 menjadi 0.30)
                                    Konsumsi(0.57-0.13) menjadi
  g. Pengeluaran Utama              kredit (0-0.73)                         Konsumtif (0.86-0.46)
   Sumber : olahan SPSS Regresi angka dalam tabel adalah nilai mean (bisa juga dilihat dalam lampiran VII

    Dalam tabel menerangkan bahwa antara kelompok treatment dan kelompok

perlakuan memiliki kesejahteraan yang berbeda tetapi secara umum intervensi kredit

tidak menimbulkan perbedaan yang signifikan.

    Data kuantitatif tersebut menguatkan penelitian kualitatif dimana dalam

wawancara mendalam dengan beberapa informan kunci didapatkan bahwa tingkat

pendidikan yang rendah menjadi salah satu faktor mereka melakukan praktek kredit

rentenir yang sangat dilarang oleh agama. Begitu juga pengeluaran utama kelompok

treatment yang berubah secara drastis dari konsumtif menjadi membayar kredit.

Berbeda dengan kelompok control yang masih menjadikan konsumsi sebagai

pengeluaran utama walaupun mengalami penurunan.

    Menarik juga untuk dibahas akibat dari pinjaman kredit rentenir, pola konsumsi

daging menurun senilai 0.3000 menjadi                   0.2600 tetapi pada kelompok control

penurunannya senilai 0.4667 menjadi 0.1667. Artinya bahwa kesejahteraan pedagang

dalam mengkonsumsi daging pada kelompok treatment masih sejahtera daripada

control sebagai akibat dari pinjaman kredit rentenir.
    Wawancara yang penulis lakukan dengan beberapa pedagang mengatakan bahwa

nilai barang yang tidak stabil dan cendrung selalu naik membuat daya beli konsumtif

pedagang menurun. Beberapa wawancara penulis dengan informan kunci dapat

dilihat pada lampiran V untuk menguatkan perbandingan kedua kelompok tratment-

control secara kualitatif.

E. Praktek Rentenir di Pakan Salasa Dalam Tinjauan Ekonomi Islam

        Ekonomi Islam sebagai sebuah ilmu sosial yang mempelajari masalah

ekonomi masyarakat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam (Mannan). Nilai-nilai islam

ini juga yang mejadi aspek sentral umatnya dalam berekonomi memberikan indikator

penulis untuk perlu membahas tentang praktek rent di Pakan Salasa ini.

        Praktek kredit rentenir yang dilakukan oleh pedagang pakan salasa didalam

penelitian ini dikategorikan riba dalam artian riba sebagai tambahan yang diberikan

sebagai imbalan atas pinjaman, baik dalam jumlah besar atau sedikit tanpa ada

penggantinya (Syabiq 4, 2008 :173). Seperti yang penulis jelaskan dalam pembahasan

praktek rentenir dimana bunga (usury) yang diberikan oleh inang kepada pedagang

yang meminjam sebesar 20 %.. Bunga 20 % yang diberikan tersebut menjadi alasan

penulis mengkategorikan praktek pinjaman inang sebagai praktek riba/rent.

    Salah satu icon dari ekonomi islam dalam bidang muamalah adalah

diharamkannya praktek riba dalam masyarakat. Mengenai masalah riba Allah sudah

menegaskan keharamannya dalam QS Al-Baqarah 275
          Merujuk pada pembahasan riba pada Bab II maka praktek rentenir kita

kategorikan kepada praktek riba. Berangkat dari artikel (lampiran IX) Agustianto9

kita akan mengevaluasi dampak praktek rent credit yang telah mengakar pada

sebagian pedagang pakan semenjak mereka mulai beroperasi di pakan dalam tinjauan

ekonomi islam.

       Dalam ilmu ekonomi konvensional, sistem kredit dengan instrumen bunga

dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi rakyat dan pada gilirannya akan

membantu      ekonomi     masyarakat     berkembang.      Pandangan     tersebut    sangat

bertolakbelakang dengan firman Allah QS Ar-Rum : 39 :



     Artinya : “Apa yang kamu berikan (pinjaman) dalam bentuk riba agar harta
               manusia bertambah, maka hal itu tidak bertambah di sisi Allah……… “
       Ayat ini menyampaikan pesan moral, bahwa pinjaman (kredit) dengan sistem

bunga tidak akan membuat ekonomi masyarakat tumbuh secara agregat dan adil.

Pandangan Al-quran ini secara selintas sangat kontras dengan pandangan manusia

kebanyakan. Manusia menyatakan bahwa pinjaman dengan sistem bunga akan

meningkatkan ekonomi masyarakat, sementara menurut Allah, pinjaman dengan

sistem bunga tidak membuat ekonomi tumbuh dan berkembang.




9
  Beliau seorang pakar ekonomi Islam menjabat Sekretaris Umum DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam
Indonesia (IAEI) dan Pengajar pada Program Pascasarjana PSTTI UI
        Firman Allah yang hakiki dan pandangan manusia yang dangkal ini kemudian

dikolaborasikan oleh Agustianto dengan konsep meta-ekonomi islam yaitu sebuah

pandangan ekonomi yang berada di luar akal material manusia yang dangkal.

Dampak Kredit Rentenir (Praktek Riba) dalam Ekonomi Islam

     1. add vs less

        add = pengadaan barang dagangan
        less = keuntungan
        Bertambah versus berkurang artinya pinjaman kredit yang dilakukan oleh para

pedagang dengan maksud menumbuh dan mengembangkan usahanya secara real

tidak terwujud disebabkan oleh bunga yang diberikan tinggi oleh inang. Dari analisis

kuantitatif ditemukan bahwa akibat dari pinjaman kredit rentenir pengeluaran utama

pedagang beralih dari yang bersifat menambah dagangan menjadi pembayaran kredit.

Keuntungan mereka menurun setelah adanya kredit rentenir. Begitu juga dengan pola

konsumsi daging mereka akan berkurang dengan adanya praktek riba.10

     2. Welfare vs suffer

     Kesejahteraan versus kesengsaraan. Pinjaman modal untuk meningkatkan

kesejahteraan hidup tidak akan pernah tercapai selama dalam bentuk hutang. Dalam

ilmu ekonomi islam menegaskan bahwa hutang cendrung menyengsarakan kreditur

disebabkan ketidakpastian nilai uang setiap waktu (inflantor) (Hafidhuddin,2003

:112). Syafi’i antonio juga menyatakan dalam rujukan yang sama bahwa hutang yang


10
  Bisa dilihat lagi hasil estimasi dampak pada poin C dimana hampir seluruh koefisien regresi bernilai
negatif artinya pinjaman kredit tentu akan mengurangi pendapatan yang nantikan akan dialokasikan
untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.
terus menerus inilah penyebab kemiskinan struktural yang menjerat dan

menyengsarakan masyarakat.

   Pandangan ekonomi islam tersebut sangat tepat sekali menggambarkan kondisi

pedagang yang terlibat dengan rentenir. Secara kualitatif ditemukan bahwa sebagian

pedagang masih terjerat rentenir karena ketidakmampuan membayar. Data kuantitatif

juga ditemukan bahwa pengeluaran utama kelompok treatment beralih drastis dari

konsumsi (57 %) ke pembayaran angsuran kredit (70 %).

   Dua aspek tinjauan aplikatif tersebut secara tegas menjelaskan bahwa praktek riba

tidak akan menumbuhkan ekonomi masyarakat. Meta ekonomi yang diistilahkan

oleh Agustianto di awal artikelnya hanya untuk para penganut ribawi yang

menganggap bahwa riba bersifat positive- konstruktif bagi masyarakat. Realitasnya

dari tahun ke tahun praktek ribawi yang merajalela semakin nyata mengeroposkan

sendi ekonomi umat.

   Konsep metaekonomi yang diistilahkan oleh Agustianto seharusnya menjadi

dasar bagi kita dalam menelaah masalah ekonomi. Ekonomi Islam adalah ekonomi

rahmatan lil alamin.
                                      BAB V

                                    PENUTUP

A.   Kesimpulan

       Eksistensi rent/tukang riba sebagai lembaga intermediasi kredit sepertinya

sudah melembaga di kalangan masyarakat (pedagang) kalangan menengah ke bawah.

Bunga yang tinggi tidak membuat para pedagang beralih ke lembaga keuangan

formal yang lebih profesional. Prosedur yang mudah dan cepat menjadi andalan rent

dalam menawarkan produk kreditnya. Rent cendrung beroperasi di pedesaan dan

pinggiran kota dimana masyarakatnya masih awam dengan kredit. Salah satu sasaran

operasi rent adalah pedagang pasar tradisional. Karakteristik pedagang dengan modal

yang kecil dan mengingginkan suntikan modal secara cepat, mudah untuk

meningkatkan kesejahteraannya akhirnya memilih rentenir.

       Pinjaman kredit rentenir dengan maksud meningkatkan kesejahteraan inilah

mengawali studi ini.Dengan mengukur dampak yang ditimbulkan dari program kredit

terhadap pedagang paar tradisional yang menggunakan jasa rent. Kajian dalam

penelitian ini menggunakan dua metode analisis. Pertama , analisi kuantitatif dengan

Metode DiD dan model ekonometrik . Kedua, analisis kualitatif dengan melakukan

wawancara mendalam dengan pedagang, pelanggan dan pengurus pasar serta kepada

lembaga keuangan formal BRI dan BPR.

Pedagang Tradisional yang dipilih kemudian dikelompokkan menjadi group

treatment dan control yang memiliki karakteristik yang sama.. Group treatment

sebagai kelompok yang melakukan pinjaman kredit rent. Sedangkan Group contro
adalah pedagang yang tidak melakukan kredit rent.Wawancara mendalam sebagai

lanjutan penelitian dilakukan kepada 15 informan kunci dengan profesi yang berbeda.

Berikut ini adalah kesimpulan dari hasil penelitian terhadap dampak pinjaman kredit

rentenir terhadap kesejahteraan pedagang pasar tradisional Pakan Salasa :

1. Secara umum, antara Rent, BPR Ampekkoto Sejahtera dan BRI unit IV Koto

   mempunyai fungsi yang sama sebagai penyalur kredit. Perbedaannya hanya

   terdapat pada sistem pengalokasian kreditnya. Rentenir biasanya datang langsung

   ke pasar untuk menawarkan jasanya., jejak rentenir pun sekarang sudah diikuti

   oleh BPR dengan sistem jemput bola hanya BRI yang tidak pernah menjamah

   langsung ke pasar menawarkan jasa kredit. Perbedaan yang jelas sekali diantara

   BRI dengan BPR dan rent adalah sasaran nasabah dan jumlah kredit mikro.

2. Dampak Pinjaman kredit Rent terhadap kesejahteraan pedagang secara umum

   tidak begitu terlihat jelas antara kelompok treatment dengan kelompok

   control.Dari analisis kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam

   mengungkapkan bahwa penyebab utama tidak adanya perbedaan tersebut karena

   kecilnya pinjaman dan tidak sebanding dengan bunga 1/3 dari pinjaman. Prilaku

   konsumtif menjadi penghalang pedagang meningkatkan kesejahteraan pendapatan

   dan keuntungan.

3. Analisis dampak kuantitatif mengungkapkan hasil analisis statistik untuk berbagai

   indikator kesejahteraan pedagang pasar tradisional seperti omzet dan keuntungan

   dan variabel kontrol lain yang menyumbang. Analisis statistik dilakukan dengan

   dua metode yaitu metode DiD dan model ekonometrik.
4. Evaluasi dampak DiD sangat jelas menemukan bahwa dampak dari pinjaman

   kredit rentenir terhadap omzet pedagang antara kelompok treatment dan

   kelompok control nyata secara statistik tetapi terhadap keuntungan tidak nyata

   secara statistik (keuntungan bersih dalam konteks pendapatan setelah dikurangi

   angsuran pinjaman kredit rentenir). Dampak kredit terhadap omzet sangat nyata

   terbukti dengan nilai t output > t tabel dan bertanda positif.. Sedangkan nilai t output <

   t tabel dan bertanda negatif pada kolom keuntungan sehingga Ho diterima. Artinya

   keuntungan tidak Ini mengindikasikan bahwa pedagang lebih mengutamakan

   kemampuan untuk         menjual dibanding dengan            mempertahankan        tingkat

   keuntungan.

5. Evaluasi dampak kuantitatif menggunakan model ekonometrik dilakukan untuk

   melihat variabel lain yang ikut menyumbang pada hasil. Dari 12 estimasi yang

   dilakukan untuk masing-masing variabel kontrol pada indikator omzet dan

   keuntungan, ditemukan pinjaman kredit rentenir tersebut hanya berdampak

   signifikan secara statistik pada perubahan jumlah komoditas barang terbukti

   dengan nilai R2 jumlah komoditas barang terhadap pendapatan dan keuntungan 70

   % dan 60.2 %. Begitu juga dengan uji t yang dilakukan ditemukan bahwa jumlah

   pembeli, pengeluaran utama dan komoditas berdampak signifikan terhadap

   pendapatan akibat pinjaman kredit tetapi pada keuntungan dampak signifikan

   hanya pada perubahan jumlah pembeli dan komoditas sedangkan pola konsumsi

   daging Ho diterima. Begitu juga dengan persamaan regrresi yang didapat hanya
     pendapatan berdampak signifikan tetapi keuntungan tidak berpengaruh signifikan

     ditandai dengan nilai konstanta bertanda negatif.

6. Perbandingan kesejahteraan antara kelompok treatment dan control terlihat pada

     pola konsumsi daging. Group treatment         penurunanya dari 0.3000 menjadi

     0.2600 tetapi pada kelompok control penurunannya senilai 0.4667 menjadi 0.1667

     Artinya bahwa kesejahteraan pedagang dalam mengkonsumsi daging pada

     kelompok treatment masih sejahtera daripada control sebagai akibat dari pinjaman

     kredit rentenir.

7. Pinjaman kredit dalam tinjauan ekonomi islam dipandang sebagai praktek riba

     yang jelas haram hukumnya. Dampak dari praktek riba ini yang ditegaskan oleh

     Allah (QS Rum 39) tidak akan menumbuhkan usaha terbukti dalam penelitian

     ini. Walaupun omzet mereka bertambah tetapi tidak mempengaruhi laba yang

     diterima karena pinjaman kredit rent yang mereka lakukan.mengharuskan mereka

     mengurangi pendapatan yang didapat untuk membayar angsuran. Prilaku

     konsumtif menjadi pemicu mereka semakin terjerat oleh lingkaran setan hutang

     rent.

B.     Saran

         Terkait dengan penelitian mengenai effect praktek riba rent dalam penelitian

ini, penulis perlu menyampaikan beberapa saran sebagai berikut :

     1. Agar kajian ini lebih komprehensif hendaknya untuk penelitian terhadap

         kasus ini selanjutnya perlu kiranya dilakukan penelitian terhadap rentenir

         (orang yang meminjamkan kredit)
2. Pihak Lembaga keuangan formal khusunya llembaga Keuangan Syariah yang

   mulai merambah usaha mikro diharapkan bisa bertindak cepat terhadap

   peluang besar dimana pedagang mempunyai kemampuan yang besar untuk

   melakukan praktek kredit dengan bunga yang tinggi sekarang tinggal pihak

   bank dalam menawarkan produk kreditnya supaya diterima dan sesuai dengan

   kondisi pedagang.

3. Para ekonom islam baik yang profesional maupun tidak harus gencar

   menyampaikan dampak praktek riba dalam segala aspek kehidupan kepada

   masyarakat kecil yang awam.
                                   DAFTAR PUSTAKA


__________ Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2000, www.google.co.id

Alimargono. pedagang kaki lima..24 December 2008.www.alimargono.blogspot.com

Baker, Judy , Evaluating the Impact of Development Projects on Poverty: A Handbook

         for Practitioners. Washington DC: Bank Dunia,2000

Boediono,Dr. Ekonomi Moneter,(Yogyakarta:BPFE,1996)

Hafidhuddin,Didin,Islam Aplikatif,Gema Insani Press,Jakarta,2003)

Hervini,Deno.Pasar Kredit,|(Yogyakarta,2008).www.denohervinoblogspot.com

http://www.wikimediafoundation.org/

Irawan, Prasetia. Logika dan Prosedur Penelitian,Jakarta, Repro International,1998

J.Suprapto, ekonometrik,Buku Dua,Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas

Indonesia, Jakarta, 1995

Kredit     (Keuangan),     Wikipedia       bahasa   Indonesia,    ensiklopedia    bebas,

         www.wikipedia.org

Lembaga        Keuangan,          Wikipedia     bahasa     Indonesia,      ensiklopedia

         bebas,www.wikipedia.org

M    Fahim      Khan,    kritik     atas   model    konsumsi     islami   dan    Keynes,

         http://www.ekisonline.com/

Nazir, Moh, Metode Penelitian, Bogor, Ghalia Indonesia, cet ke 6, 2005

Nasution ,Mustafa Edwin, dkk, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, Jakarta:

         Kencana Media Group,Cet ke 6 , 200
Nordhaus, Samuelson. Ekonomi,Jakarta, Erlangga,1997

O.P.Simorangkir, Ek, Seluk Beluk BANK KOMERSIAL, Jakarta: Aksara Persada

       Press,1984

Penindasan Rentenir, September 6th 2008, http://we-press.com/?p=12

Opini Masyarakat Jabar, www.navigation.com

Rosyidi, Suherman. Pengantar Teori Ekonomi Pendekatan kepada teori makro dan

       mikro , Jakarta, PT Raja Grafindo Persada,1995

Sadono Sukirno, Makroekonomi Modern Perkembangan Ekonomi dari Klasik

       Hingga Keynesia Baru, (Jakarta: PR Raja Grafindo Persada, 2005)

Santoso, Singgih. SPSS versi 10 Mengolah Data Statistic Secara Profesional,

       Jakarta:PT Elex Media Komputindo,2001

Sistem ekonomi dalam islam, www. shariaeconomy.blogspot.com

Sistem perekonomian sederhana, dua sector, www.google.co.id

Sudarsono,Kamus Ekonomi Uang dan Bank,Rineka Cipta, Jakrta,2001)

Suhrawardi K Lubis, Hukum Ekonomi Islam, Jakarta , Sinar Grafika,2002

Suroto, Group Perjaka (Perseduluran Jalan Kampus) : Semangat Kecil Keluar Dari

       msuii.net/baca.asp?katagori=rubrik&menu=ekonomi&baca=artikel

Suwiknyo, Saya Bukan Rentenir , SpiritualFinancial,www.google.co.id

Syahbuddin, Said. Pasar Melayu di Riau : Tradisional dan Kontemporer,

       www.melayuOnline.com

Syamsi, Ibnu, Drs.. Dasar-Dasar Kebijaksanaan Keuangan Negara, Jakarta, PT Bumi

       Aksara, 1983
Teguh, Muhammad. Metodologi Penelitian Ekonomi, Jakarta, Rajawali Press, 1999

Thomas Rollin G. www.e-dukasi.net.

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, pasar, www.e-dukasi.net

Wira ,Ahmad ,DT Diko, M.Ag, Phd. Bahan seminar tentang Mengenal Ekonomi

       Syariah, Dosen Fakultas syariah IAIN Imam Bonjol Padang.2009
LAMPIRAN
                                          Lampiran I
                          Data Pedagang Kelompok Treatment


                                                                     Tahun
                  Jenis          Jumlah                      Dapat   mulai                   Luas
                   Kel            Tang          Tingkat      Mem      berd    Lokasi        Tempat
No        Nama    amin    Umur   gungan        Pendidikan    baca    agang   Dagangan      Dagangan
 1   Asnidar      P         45     6      SLTP              Ya        1987   di tengah     2x2m
 2   Yunisri      P         48     6      SD                Ya        1990   di belakang   2 x 1.5 m
 3   Rosnaili     P         55     4      Tidak Tamat       Tidak     1995   di depan      2x1m
 4   Ulvi         L         38     3      SLTA              Ya        2002   di belakang   2x1m
 5   Nim          P         50     8      SLTP              Ya        1990   di tengah     2x 3 m
 6   Gadih        P         45     7      SD                Ya        2007   di tengah     2x2m
 7   Yeni         P         45     5      SLTP              Ya        2000   ditengah      2x2m
     Tania
     Sutan
 8   Marajo       L         46     6      Tidak Tamat       Tidak     2000   ditengah      2x2m
 9   Kurnia       P         28     3      SLTA              Ya        2006   di tengah     2xIm
10   Ju           P         52     6      Tidak Tamat       Tidak     1998   di belakang   1x1m
11   Fredi        L         45     6      SD                Ya        2000   di belakang   2x2m
12   Misnar       P         65     3      Tidak Tamat       Tidak     1990   di depan      2x2m
13   Tasman       L         40     5      SLTP              Ya        2000   di tengah     2x1m
14   Riko         L         25     2      SD                Ya        2005   di tengah     2x1m
15   Nurli        P         50     3      Tidak Tamat       Tidak     2000   di depan      1x1m
16   Jus          P         65     4      Tidak Tamat       Tidak     1995   di depan      1x1m
17   Dinih        P         60     5      Tidak Tamat       Tidak     1990   di belakang   2x1m
18   Yarli Anis   P         52     6      SD                Ya        1986   di depan      2x2m
19   Upik         P         70     3      Tidak Tamat       Tidak     1986   di tengah     2x1m
20   Ar           L         40     3      SLTP              Ya        2004   di tengah     2x2m
21   Ajeng        P         55     3      Tidak Tamat       Tidak     2004   di tengah     1x2m
22   Ati          P         40     5      SD                Ya        2005   di tengah     1x1m
23   Santi        P         30     4      SLTA              Ya        2002   di tengah     2x1m
24   Herman       L         35     4      SLTP              Ya        2003   di belakang   2x2m
25   Maisaroh     P         46     5      SLTP              Ya        2005   di belakang   2x1m
26   Menan        L         55     6      SD                Ya        2005   di belakang   2x2m
27   Mini         P         40     4      SLTP              Ya        2000   di belakang   2x2m
     Amriati
28   Anis         P         35     3      SLTA              Ya        2000   di tengah     2x2m
29   Yasnidar     P         55     9      SD                Ya        2001   di depan      1x1m
30   Netri        P         48     6      Tidak Tamat       Tidak     1999   di tengah     2 x 1,5 m
                                          Lampiran II
                            Data Pedagang Kelompok Control


                                                          Da     Tahun
                  Jenis          Jumlah        Tingkat    pat     mulai                 Luas
                   Kel            Tang          Pendi    mem       ber     Lokasi      Tempat
No     Nama       amin    Umur   gungan         dikan    baca    dagang   Dagangan    Dagangan
 1   Jumaini      P         42       2    SD             Ya      1985     Di depan    3x2m
 2   Syamsimar    P         60       2    SLTA           Ya      2002     Di depan    2x1m
 3   Aisyah       P         64       1    SD             Ya      1980     belakang    2x2
 4   Januar       L         55       6    SD             Ya      1999     belakang    1x1m
 5   Endri Yeni   P         45       7    SLTP           Ya      2006     di tengah   2x2m
 6   Dini         P         30       4    SLTA           Ya      2005     di tengah   2x1m
 7   Adab         P         56       3    Tidak Tamat    Tidak   2001     di depan    1x1m
 8   Mak kirai    L         50       8    SLTP           Ya      1990     di depan    2x3m
 9   Umi          P         50       2    SLTP           Ya      2006     di tengah   2x1m
10   Rauna        P         45       5    SLTP           Ya      1999     di depan    1x1m
11   Rosma        P         60       7    SD             Ya      2002     di tengah   1x1m
12   Saidar       P         65       3    SLTA           Ya      1987     belakang    1x1m
13   Nur          P         60       2    Tidak Tamat    Tidak   2000     di tengah   2x2m
14   Udin         L         40       5    SLTA           Ya      2000     di tengah   2x2m
15   Yanto        L         60       7    Tidak Tamat    Ya      2006     di tengah   2X2M
16   Kamil        L         28       4    SLTP           Ya      2007     di tengah   2x1m
17   Amin         L         70       3    Tidak Tamat    Tidak   1999     Di depan    1x1m
18   Salma        P         40       5    SLTP           Ya      2000     di tengah   2x2m
19   Emriani      P         36       7    SLTA           Ya      2003     di tengah   2x2m
20   Yon          L         40       5    SLTA           Ya      2000     di tengah   2x3m
21   Evi          P         38       4    SLTA           Ya      2007     di tengah   2x2m
22   Wati         P         29       3    SD             Ya      2005     Di depan    1x1m
23   Maidar       P         45       3    SLTP           Ya      2006     dbelakang   1x1m
24   Dalima       P         50       3    Tidak Tamat    Tidak   1990     dbelakang   2x2m
25   Roni         L         55       6    SLTP           Ya      2002     belakang    2x1m
                                          Perguruan
26   Kiki         P         25            Tinggi         Ya      2007     Di tengah   2x2m
27   Sri          P         40       5    SLTA           Ya      2005     belakang    2x2m
28   Arman        L         36       3    SLTP           Ya      2005     belakang    2x1m
29   Yesi         P         25       3    Tidak Tamat    Ya      2000     Di tengah   2x2m
30   Iman         L         29       3    SLTA           Ya      2001     dbelakang   2 x 1,5 m
       Sumber : olahan kuesioner
                                              Lampiran III
                           Potret Pasar Tradisional dan Perangkatnya

1. Bangunan Pasar Tradisional




a. Bangunan Pasar Tradisional    b. Bagian depan          c. Bagian tengah          d. Bagiab Belakang

2. Tempat Dagangan




            a.                  b.                        c.
a. Counter pedagang daging ayam dan sapi b. counter pedagang sayur c. lapak pedagang pada bagai belakang




  d. lapak pedagang ikan        e. lapak pedagang ikan bagian tengah

3. Lembaga Keuangan Formal di Pasar Tradisional
      a.) BPR Ampek Koto Sejahtera
   b) Bank Rakyat Indonesia unit IV Koto




4. Lembaga Keuangan Informal (Praktek Rentenir) di Pasar Tradisional
                                    Lampiran IV

                  STRUKTURAL KEPENGURUSAN
        PASAR TRADISIONAL PAKAN SARIKAT (PAKAN SALASA)
             KECAMATAN IV KOTO KABUPATEN AGAM




           Komisi Pasar                     Ketua        : Camat IV Koto
                                                         M. Arsyid.S.Sos




         BP3 Pasar
                                          Ketua          : H S Dt Tumangguang

                                          Wakil Ketua : HM.Dt Rajo Api
             Merumuskan AD/ART
                                          Sekretaris     : Bachril Ilmi




         Pengurus Pasar
                                            Ketua         : Kari Sutan
                                            Sekretaris    : Ratnawati
               Menjalankan AD/ART
                                            Bendahara     : Amril Sutan Batuah
                                            Petugas Pasar : Kamal Sutan Batuah



Sumber : Hasil Olahan Penulis Terhadap Data Sekunder
                                 LAMPIRAN V

         KASUS PEDAGANG YANG TERLIBAT DENGAN INANG


             Pedagang Sayur Mengadaikan Emas Karena Rentenir

             Pedagang Sayur Mengadaikan Emas Karena Rentenir

                          Bu Netri, 48 tahun seorang pedagang sayur yang sudah hampir 10
                     tahun berjualan di pakan ini. Sudah enam kali pengalaman meminjam
                     kepada rentenir . Prosedur yang mudah dan cepat menjadi pilihan
                     meminjam kepada inang ” di bank tu prosedurnyo rumio ditambah
                     ambo indak pandai tulis baco!” ujarnya sambil tetap melayani
                     pembeli.
                          Terjerat dengan inang tidak membuat beliau kapok. Bahkan masih
                     tetap meminjam kepada inang.Menurut beberapa pedagang beliau
                     pernah dibentak-bentak karena menunggak berapa kali bahkan sampai
                     beliau harus menyerahkan emas yang dipakainya. Prilaku royal yang
                     membuat beliau akhirnya seperti itu. Besar pasak daripada tiang istilah
                     inilah yang cocok untuk beliau. (Pakan Salasa, Penulis,22/05/2009)




     Rumitnya Prosedur Bank Beralih Ke Inang Sebagai Solusi Terakhir

          Asnidar yang biasa dipanggil Gadih Icah ini sudah lebih 20 tahun mengadu
nasib di pakan ini. Lebih dari lima kali pengalaman meminjam kepada inang. Mudah,
cepat dan tidak memperumit keadaan menjadi alasan beliau memilih inang sebagai
sumber modal. ”awalnya saya pernah berusaha meminjam ke BRI tetapi karena begitu
rumit persyaratannya dan proses cair uangnya lama dan saya butuh cepat maka
akhirnya saya beralih ke inang” cerita beliau menjelaskan alasan. Beliau tidak
menghiraukan besarnya bunga yang diambil. Pinjaman inang sangat membantu dan
bisa menambah dagangan. Tetapi disatu sisi kadang angsuran tersebut memberatkan
beliau karna harga barang yang tidak stabil apalagi pada saat kasus wabah flu burung
kemaren membuat telur ayam naik drastis dari Rp.800,- menjadi Rp 1.200,-
.(penulis,02/06/2009)


            Ditolak Pihak Bank Karena Tidak Ada Jaminan

Gadih, pedagang PMD mengeluhkan pendapatan beliau turun drastis. Penyebab
utamanya adalah harga barang yang tidak stabil. ” minyak ketika membeli naik tapi
beberapa jam setelah membeli turun hingga akhirnya kita harus menurunkan harga
kalau tidak mau kehilangan pembeli” ujar beliau. Persaingan yang ketat diantara
pedagang membuat beliau tidak memikirkan keuntungan yang penting dagangan habis.
Pernah berusaha melakukan pinjaman ke BRI tapi ditolak karena tidak ada jaminan
yang bisa ditinggalkan ditambah lagi prosedurnya yang lama sehingga akhirnya beliau
mengurungkan niat meminjam ke Bank dan berali ke inang (penulis,26/5/2009)).
                       Banyaknya Tangunggan Beralih Ke Inang

                                          Ibu yang sedang melayani pembeli yang biasa
                                     disebut ajen penjual cabe dan jenis lain
                                     mengungkapkan inang sangat membantu menambah
                                     barang dagangan. Apalagi dengan banyaknya
                                     tangunggan sebanyak 4 anak dan 8 cucu harus dibiayai
                                     sedangkan usaha makin hari makin menurun. Harga
                                     tidak stabil. Seandainya harga beli cabe Rp. 10.000,
                                     nanti siang bisa turun Rp 8.000,- per kg sehingga
                                     pendapatan berjualan hari ini harus      mengurangi
                                     membeli barang kebutuhan makan karena harga barang
dagangan meningkat, hingga harus meminjam ke inang. Pengalaman meminjam ke inang sudah
4 kali dengan pinjam Rp300.000,-. Pernah menunggak dan tidak masalah bagi inang. Tetapi
dengan wajah yang agak letih ibu ajen mengakui kalau pinjaman inang tidak membantu
menambah keuntungan hanya membantu menambah barang dagangan. Ketika penulis
menanyakan tentang riba, ibu ajen menjawab riba sama dengan bunga bank. (Jumat,
01062009,11.00 WIB)


                                   KEMBALI DARI RANTAU PINJAM KE INANG


                                           Sutan Kayo Bos besar pasa induak, bangkrut,
                                   beralih menjadi pedagang bumbu kecil-kecilan. Usaha
                                   yang mkin menurun, membuat kayo meminjam ke inang
                                   alih-alih bisa meningkatkan usaha dikampung. Pinjaman
                                   ke inang sudah dua kali dan sejauh ini amn-aman saja,
                                   ujarnya. Tetapi ungkapnya pinjaman ini hanya berdampak
                                   pada jumlah barang yang bertambah sedangkan laba bisa
                                   dikatakan sama saja karena harus membayar kredit.
                                    Lampiran VII
           WAWANCARA MENDALAM DENGAN INFORMAN KUNCI


1. Wawancara dengan Pedagang

                             Pinjam ke inang Haram
                             Nenek Tua yang biasa dipanggil Mak dan ini sudah 10 tahun
                             berdagang dipakan berdagang sayuran. Sejak awal beliau
                             berdagang inang sudah ada di pakan. Pernah ditawarkan oleh
                             pedagang lain untuk meminjam ke inang tetapi beliau tidak mau
                             karena pinjam ke inang sama dengan riba karena tingginya bunga.
                             Pengetahuan tersebut sudah lama beliau dapatkan ketika di bangku
                             thawalib. Biarlah hidup susah asal halal. Apalagi pemandangan
                             yang ia lihat sangat inang menagih angsuran sungguh kurang
                             manusiawi. Seperti ceritanya “ yo bana tadiam urang sapakan
                             kalau inang alah mamberangan urang nan manunggak mambayia!”
                             ketika penulis wawancarai di kediaman beliau sepulang beliau
                             berdagang. (29 Mei 2009 : 17.00)

                    Pinjaman Kecil Buat Tidak Sejahtera

                               Emriani, pedagang jilbab yang sudah 4 tahun berdagang merasakan betul
             sulitnya usaha sekarang apalagi orang lebih mementingkan yang pokok daripada beli jilbab.
             Dulu omzet usaha bisa 300.000,- tetapi semenjak setahun belakang hanya Rp 100.000,-
             bahkan sampai tidak ada terjual. Pernah ditawarkan pedagang lain untuk minjam, beralih ke
             usaha lain, tetapi uni em menolak. Meminjam ke inang boleh dengan jumlah kecil yang
             berbeda dengan BPR atau BRI yang pinjamannya Rp.500.000,- ke atas. Tapi dengan
             Rp.200.000,-pun boleh.. Pinjaman yang kecil tersebut maksudnya untuk modal malah
             kadang sering digunakan pedagang untuk biaya konsumsi. Padahal yang akan kena akibat
             dagangan kita juga sedangkan penghasilan semakin menurun.Pinjam ke inang tidak akn
             sejahtera tapi sengsara.ujar uni ini disela tawa beliau sedang bermain dengan anaknya
                  (Pakan Sinayan, 300509, 11.00 WIB)



                  Inang Ibarat Gali Lobang Tutup Lobang

                                Dalima, wanita paruh baya yang berjualan itik di bagian paling
                      belakang dari pakan ini mengatakan bahwa pinjaman inang yang harus
                      dibayar pasti setiap minggunya ibarat gali lobang tutup lobang. Karena
                      penghasilan kita tidak akan pasti setiap pakannya sedangkan bayaran
                      yang harus kita berikan tetap.Apalagi saya dengar di pengajian kalau
                      bunga itu haram apalagi tinggi. Dari pengamatan saya ujar ibu ini bahwa
                      sangat nampak perbedaan antara yang meminjam dan tidak meminjam
                      hanya nampak dari kedatangan rentenir sekali seminggu ke pakan ini
                      mengih hutan. Pemandangan pedagang yang dihardik sudah biasa kami
                      lihat. Ditambah lagi dengan logat Batak inang yang kental menuat
                      pedagang makin takut. Ujarnya sambil tertawa kecil sambil membereskan
                      itik-itiknya yang masih tersisa..(Selasa, 20609,3.30)
                                    Hidup Boros

        Jumaini yang biasa dipanggil akak eni memaparkan bahwa perbedaan antara
pedagang yang meminjam ke inang dan tidak hanya terlihat ketika inang dating
menagih hutang kepada pedagang. Pendapatan yang merka terima tidak terlalu
berbeda dengan kelompok control. Hidup boros terlihat jelas dari beberapa pedagang
yang melakukan pinjaman ke inang. “Belum lagi dagangan mereka laku sudah
memesan ini dan itu, ada juga pedagang yang rela berhutang bahan makanan
disebabkan pendapatannya sebagian harus diberikan ke inang”. Sudah menjadi
rahasia umum prilaku beberapa pedagang meminjam tidak dengan satu nama.Mereka
kadang menjual nama orang yang pernah meminjam dengan perantara mereka.
Biasanya pinjaman mereka gunakan untuk hal konsumtif.

2. Wawancara dengan Pengurus Pasar
                 Ratnawati, sekretaris Pengurus Pakan Salasa yang bertugas mengelola pasar
                 yang penulis temui memberikan informasi bahwa jumlah pinjaman kredit yang
                 kecil tidak membantu pedagang. Memang diakui inang sudah lama berada di
                 pakan ini. Selama ini tidak ada tindak lanjut kami karena tidak ada keluhan
                 pedagang tentang keberadaan ini dan malah sebagian pedagang mengakui inang
                 sangat membantu. Sikap kekeluargaan yang saya lihat diantara mereka, biasa
                 bergurau dan bercerita. Berbeda dengan Bank yang prosedurnya menurut
                 pedagang rumit. Inang dananya bias cair langsung. Perhatian kepada
                 infrastruktur memang kurang karena pernah diajukan kepada pemerintahan
                 daerah tetapi ditangguhkan karena anggaran dana kurang dan pospek pasar tidak
                 terlalu menjanjikan bagi pihak kecamatan.
                           Lampiran VIII
                        Hasil Estimasi Manual
 Perbedaan Pendapatan dan Keuntungan Kelompok Control dan Treatment
                             Metode DiD

             Omzet                              Omzet                 Perbedaan
   (T2)        T1       T2-T1         C2         C1      C2-C1
  After      Before                  After     Before
 1200000      1000000     200000    1000000    1500000      -500000     700000
  500000       400000     100000     200000     250000       -50000     150000
  350000       300000      50000     450000     400000        50000          0
  600000       500000     100000     450000     400000        50000      50000
  600000       400000     200000    1000000     600000       400000    -200000
  600000       500000     100000      80000     100000       -20000     120000
  500000       500000          0     100000     150000       -50000      50000
  500000       400000     100000    1200000     800000       400000    -300000
  200000       400000    -200000     200000     300000      -100000    -100000
  400000       300000     100000     300000     200000       100000          0
  700000       600000     100000     250000     250000            0     100000
  400000       350000      50000     150000     200000       -50000     100000
  100000       150000     -50000     200000     500000      -300000     250000
  150000       100000      50000     300000     600000      -300000     350000
  250000       200000      50000     500000     800000      -300000     350000
  200000       250000     -50000     100000     150000       -50000          0
  600000       500000     100000     100000     150000       -50000     150000
  500000       400000     100000     500000     800000      -300000     400000
  300000       200000     100000     150000     250000      -100000     200000
  300000       250000      50000     600000     500000       100000     -50000
  300000       250000      50000     250000     300000       -50000     100000
  200000       150000      50000     200000     150000        50000          0
  130000       100000      30000     200000     150000        50000     -20000
  450000       300000     150000     400000     600000      -200000     350000
  300000       300000          0     400000     300000       100000    -100000
  600000       400000     200000      60000     100000       -40000     240000
  500000       400000     100000     800000    1500000      -700000     800000
  300000       200000     100000     250000     400000      -150000     250000
  200000       150000      50000     500000     600000      -100000     150000
  400000       300000     100000     200000     300000      -100000     200000
12330000    10250000     2080000   11090000   13300000    -2210000     4290000
  411000   341666.667   69333.33   369666.7   443333.3     -73666.7     143000
Keuntungan

          Keuntungan                                                   Perbedaan
  (T2)       T1     T2-T1           C2         C1      C2-C1
                    After-
  After    Before   Before          After     Before   After-Before
 150000    100000        50000      150000    100000           50000            0
  60000     75000       -15000       30000     25000            5000       -20000
  40000     60000       -20000       50000     75000          -25000         5000
  50000     50000             0      30000     40000          -10000        10000
  60000     75000       -15000      100000   1500000       -1400000       1385000
  50000    120000       -70000       30000     25000            5000       -75000
 100000    100000             0      35000     25000           10000       -10000
  75000    100000       -25000      100000    150000          -50000        25000
  30000     50000       -20000       30000     30000               0       -20000
  70000     50000        20000       40000     60000          -20000        40000
 100000    100000             0      40000     30000           10000       -10000
  50000     60000       -10000       40000     30000           10000       -20000
  30000     40000       -10000      100000     20000           80000       -90000
  40000     30000        10000       80000     50000           30000       -20000
  40000     30000        10000      120000     70000           50000       -40000
  25000     30000        -5000       30000     20000           10000       -15000
  80000     75000          5000      25000     15000           10000        -5000
  80000     75000          5000     150000     80000           70000       -65000
  50000     40000        10000      800000     60000         740000       -730000
  60000     50000        10000       80000    120000          -40000        50000
  50000     30000        20000       80000     60000           20000            0
  40000     50000       -10000       25000     35000          -10000            0
  30000     25000          5000      30000     50000          -20000        25000
  60000     75000       -15000      120000     80000           40000       -55000
  40000     60000       -20000       50000     40000           10000       -30000
  50000     40000        10000       30000     20000           10000            0
  70000     50000        20000      150000    100000           50000       -30000
  40000     30000        10000       80000     40000           40000       -30000
  35000     25000        10000      100000     70000           30000       -20000
  25000     30000        -5000       60000     40000           20000       -25000
1680000   1725000       -45000     2785000   3060000          -27500       230000
  56000     57500        -1500    92833.33    102000        -9166.67     7666.667
                                                          LAMPIRAN IX

                    Hasil Pengolahan OUTPUT dengan SPSS Metode DiD



Hasil Pengolahan Output SPSS dengan menggunakan Paired Sample T Test.

Paired Sample T Test adalah uji T untuk dua sample berpasangan (paired). Uji ini

digunakan untuk menganalisis perbandingan untuk dua sampel yang berpasangan

dengan subjek yang sama namun mengalami perlakuan yang berbeda yaitu sebelum

dan sesudah (Santoso,2001 : 222).

Group Treatment

T-Test untuk omzet

                            Paired Samples Statis tics

                                                                              Std. Error
                             Mean                  N       Std. Deviation       Mean
     Pair      SESUDAH      411000.0                   30 222777.91632        40673.50
     1         SEBELUM      341666.7                   30 180556.29237        32964.92



                    Paired Sample s Corre lations

                                          N            Correlation   Sig.
  Pair 1    SESUDAH & SEBELUM                 30             .943      .000

Hasil korelasi antara kedua variabel yang menghasilkan angka 0,943 ini menyatakan
bahwa hubungan antara penghasilan sesudah dan sebelum sangat erat.
                                  Paired Sam ples Te st

                                                                             Pair 1
                                                                       SESUDAH - SEBELUM
  Paired Dif ferences   Mean                                                   69333.3333
                        Std. Deviation                                        79694.82021
                        Std. Error Mean
                                                                                  14550.21691
                        95% Conf idence Interval         Low er                     39574.7984
                        of the Dif f erence              Upper                      99091.8683
  t                                                                                      4.765
  df                                                                                        29
  Sig. (2-tailed)                                                                         .000

T hitung 4.765
T tabel 2.045
4.765 > 2.045
Jika t output > t tabel maka H0 ditolak berarti pinjaman kredit berdampak nyata terhadap omzet
pedagang
T-Test keuntungan
T-Test
                             Paired Samples Statis tics

                                                                             Std. Error
                              Mean              N         Std. Deviation       Mean
  Pair       SESUDAH         56000.00               30    26794.23510        4891.936
  1          SEBELUM         57500.00               30    26644.20750        4864.544

                        Paired Sample s Corre lations

                                           N        Correlation     Sig.
  Pair 1    SESUDAH & SEBELUM                  30         .706        .000

0,706 menyatakan bahwa hubungan korelasi antara sebelum dan sesudah sangat erat.


                                     Paired Sam ples Te st

                                                                                 Pair 1
                                                                           SESUDAH - SEBELUM
  Paired Dif ferences      Mean                                                    -1500.0000
                           Std. Deviation                                         20474.96369
                           Std. Error Mean
                                                                                      3738.19982
                           95% Conf idence Interval      Low er                       -9145.4771
                           of the Dif f erence           Upper                         6145.4771
  t                                                                                         -.401
  df                                                                                           29
  Sig. (2-tailed)                                                                            .691

Control
T-Test omzet
                         Paired Sample s Corre lations

                                               N         Correlation         Sig.
  Pair 1     SESUDAH & SEBELUM                      30         .787            .000

                                   Paired Sam ples Te st

                                                                          Pair 1
                                                                    SESUDA H - SEBELUM
  Paired Dif ferences    Mean                                              -73666.6667
                         Std. Deviation                                  221024.00140
                         Std. Error Mean
                                                                              40353.27711
                         95% Conf idence Interval    Low er                   -156198.3852
                         of the Dif f erence         Upper                       8865.0518
  t                                                                                 -1.826
  df                                                                                    29
  Sig. (2-tailed)                                                                     .078

T-Test keuntungan
TT-Test
                            Paired Samples Statis tics

                                                                                 Std. Error
                             Mean                  N       Std. Deviation          Mean
 Pair       SESUDAH         92833.33                   30 139646.61887           25495.87
 1          SEBELUM         102000.0                   30 266032.79549           48570.72

                    Paired Sample s Corre lations

                                          N         Correlation       Sig.
 Pair 1   SESUDAH & SEBELUM                   30          .038          .842


                                     Paired Sam ples Te st

                                                                                      Pair 1
                                                                                SESUDA H - SEBELUM
 Paired Dif ferences     Mean                                                            -9166.6667
                         Std. Deviation                                              295725.53484
                         Std. Error Mean
                                                                                          53991.84875
                         95% Conf idence Interval           Low er                       -119592.3962
                         of the Dif f erence                Upper                         101259.0628
 t                                                                                              -.170
 df                                                                                                29
 Sig. (2-tailed)                                                                                 .866



Perbedaan untuk omzet
T-Test
                         Paired Sample s Statistics

                                                                          Std. Error
                           Mean               N        Std. Deviation       Mean
 Pair     TREATMEN        69333.33                 30  79694.82021        14550.22
 1        CONTROL         -73666.7                 30 221024.00140        40353.28


                         Paire d Samples Corre lations

                                                       N          Correlation          Sig.
 Pair 1     TREATMEN & CONTROL                             30           .024             .900

                                  Paired Sam ples Te st

                                                                               Pair 1
                                                                         TREATMEN - CONTROL
 Paired Dif f erences   Mean                                                     143000.0000
                        Std. Deviation                                          233151.57124
                        Std. Error Mean
                                                                                   42567.45830
                        95% Conf idence Interval       Low er                       55939.7725
                        of the Dif f erenc e           Upper                       230060.2275
 t                                                                                       3.359
 df                                                                                          29
 Sig. (2-tailed)                                                                           .002

Dampak perbedaan Keuntungan
T-Test
                          Paired Sample s Statistics

                                                                                Std. Error
                             Mean                  N        Std. Deviation        Mean
  Pair     TREATMEN         -1500.00                    30  20474.96369         3738.200
  1        CONTROL          -9166.67                    30 295725.53484         53991.85




Lampiran Euigivalen Untuk Pola Konsumsi Pedagang
Variable Dependen Keuntungan.

Collinearity Diagnostics
                               Eigenvalue Conditio                      Variance
                                           n Index                    Proportions
     Model Dimension                                                 PKONSUMS PERUBHN PJMNKRED
         1          1        1.961 1.000                                      .10  .09      .10
                    2         .751 1.616                                      .19  .74      .01
                    3         .288 2.611                                      .71  .17      .89
a Dependent Variable: KEUNTUNG
b Linear Regression through the Origin


Lampiran Euigivalen Untuk Pengeluaran Utama Pedagang

                                                                           a
                                                   Colline arity Diagnostics


                                       Condition                                V arianc e Proportions
  Model   Dimension   Eigenvalue        Index          (Cons tant)   KONSU     PERBHBR        PREBKON      PERBHKR    PJMNKR
  1       1                3.488           1.000               .00       .02           .00           .00        .00       .01
          2                1.094           1.786               .00       .02           .01           .14        .00       .00
          3                1.000           1.868               .00       .00           .16           .02        .00       .00
          4                 .289           3.473               .00       .62           .00           .05        .00       .21
          5                 .112           5.570               .06       .32           .04           .00        .07       .77
          6            1.646E-02          14.556               .94       .01           .79           .79        .91       .00
    a. Dependent V ariable: KEUNTUNG
                                  Lampiran X
                            Variabel Dummy dan df
      Nilai yang akan diestimasi kedalam persamaan Model Ekonometrik
                              Menggunakan SPSS


                                                                          Banyaknya
                                                      Kategori    Bany
                                   Kategori                                Variabel
                                                       Dasar      aknya
                                                                           Dummy            df
                                                                   Kate
      Variabel Kontrol                                                     Banyak
                                        (D)               D=0      gori
No                                                                        Kategori-1   k    n-k
1    Tingkat                  D1 = Ya                 Tidak         2         1         1     29
     Keberaksaran/Melek
     Huruf                    D2 = Tidak
2    Tingkat Pendidikan       D1 = Tidak Tamat        PT            5         4        4     26
                              D2 = SD
                              D3 =SLTP/MTSN
                              D4 = SLTA/MA
                              D5 = PT
3    Ukuran tempat                                    -             -                  1     29
     dagangan (m2)            -
4    Lokasi Pedagang          D1 = depan              depan         3         2        2     28
                              D2 = tengah


                              D3 = belakang
5    Pola Konsumsi            D1 = Ya                 Tidak         2         1        1     29
     Daging setiap minggu
                              D2 = Tidak
6    Jumlah Pembeli           D1 = Pembeli 1          Pembeli 5     5         4        4     26
                              D2 = PEMBELI 2
                              D3 =Pembeli 3
                              D4 = Pembeli 4
                              D5 = Pembeli 5
7    Komoditas yang dijual     D1 = PMD               kerupuk      14        13        13    17
                              D2 = lauk pauk
                              ,daging
                              D3 = telur
                              D4 = bumbu
                              D5 = buah-buahan
                              D6 = kelapa
                              D7 = pecah belah
                              D8 = pakaian/jilbab
                              D9 =
                              cabe,kentang,bwg,tahu
                              ,tempe
                             D10 = sayuran
                              D11 = accesories
                         D12 = kaus kaki
                         D13 = sandal


                         D14 = plastik
8    Pengeluaran Utama   D1 = Konsumsi     Kredit      3   2   2   28
                         D2 = Barang
                         dagangan
                         D3 = Kredit
9    Perubahan           D1 = Konsumsi     Barang      3   2   3   27
     Pengeluaran Utama   D2 = Barang       Dagangan
                         dagangan
                         D3 = Kredit
10   Perubahan Pola      D1 = Ya           Tidak       2   1   2   28
     Konsumsi
                         D2 = Tidak
11   Perubahan jumlah    D1 = Pembeli 1    Pembeli 5   5   4   5   25
     pembeli
                         D2 = PEMBELI 2
                         D3 =Pembeli 3
                         D4 = Pembeli 4
                         D5 = Pembeli 5
12   Perubahan jumlah    D1 = Tetap        Tetap       2   1   2   28
     komoditas
                         D2 = Bertambah
                                   Lampiran XI
                 Variabel Kontrol : Rata-Rata dan Standar Deviasi


                                          Perbedaan Rata-        Perbedaan Std
                                               Rata
                                          Group      Group      Group      Group
                 Variabel                Treatment   Control   Treatment   Control
Kondisi Before
Tingkat Keberaksaran/Melek Huruf           0,67       0.87       0,47      0.35


Tingkat Pendidikan
  Tidak Tamat                             0.3333      0.23       0.47      0.43
  SD                                      0.2667      0.17       0.44      0.37
  SLTP/MTSN                               0.2667      0.30       0.44      0.46
  SLTA/MA                                   0.1       0.33       0.31      0.47
  Perguruan Tinggi                          -         0.03        -        0.18


Ukuran tempat dagangan (m2)                2.83       2.96       1.32      1.63
Pedagang didepan pakan                     0.20       0.23       0.41      0.42
Pedagang ditengah pakan                    0.50       0.45       0.51      0.51
Pedagang di belakang pakan                 0.30       0.32       0.46      0.48


Pola Konsumsi
   Pedagang menkonsumsi daging setiap
minggu                                     0.30       0.46       0.46      0.51


Jumlah Pembeli
   Pembeli 1 (10-20 orang)                 0.33       0.23       0.47      0.40
   Pembeli 2 ( 20-30 orang)                0.36       0.30       0.51      0.49
   Pembeli 3 (30-40 orang)                 0.23       0.17       0.43      0.43
   Pembeli 4 ( 40-50 orang)                0.03       0.06       0.18      0.25
   Pembeli 5 ( lebih dari 50 orang)          -        0.13         -       0.34


Komoditas yang dijual
   Komoditas utama : PMD                   0.03       0.10       0.18      0.31
   Komoditas utama : lauk pauk ,daging     0.17       0.13       0.38      0.34
   Komoditas utama : telur                 0.03       0.06       0.18      0.25
   Komoditas utama : bumbu                   0.06   0.03   0.25   0.18
   Komoditas utama : buah-buahan             0.1    0.03   0.31   0.18
   Komoditas utama : kelapa                  0.03    -     0.18   -
   Komoditas utama : pecah belah             0.06    -     0.25   -
    Komoditas utama : pakaian/jilbab         0.06   0.06   0.25   0.25
   Komoditas utama : cabe,kentang,bwg,tahu
,tempe                                       0.06   0.10   0.25   0.31
  Komoditas utama : sayuran                  0.23   0.23   0.43   0.43
   Komoditas utama : accesories              0.03   0.01   0.18   0.31
   Komoditas utama : kaus kaki               0.03    -     0.18   -
   Komoditas utama : sandal                  0.03   0.03   0.18   0.18
   Komoditas utama : plastik                  -     0.03    -     0.18
   Komoditas utama :kerupuk/nasi              -     0.06    -     0.25


Pengeluaran Utama
   Konsumsi                                  0.57   0.86   0.50   0.34
   Barang dagangan                           0.43   0.13   0.50   0.34


Pengetahuan Riba                             0.90   0.86   0.31   0.35


Perubahan Before-After
  Perubahan Pengeluaran Utama
    Konsumsi                                 0.13   0,46   0.34   0.50
    Barang Dagangan                          0.13   0.40   0.34   0.49
    Kredit                                   0.73   0.10   0.45   0.30


  Perubahan Pola Konsumsi                    0.20   0.17   0.41   0.38
  Perubahan jumlah pembeli
    Pembeli 1 (10-20 orang)                  0.26   0.32   0.45   0.48
    Pembeli 2 ( 20-30 orang)                 0.33   0.15   0.28   0.44
    Pembeli 3 (30-40 orang)                  0.33   0.20   0.45   0.40
    Pembeli 4 ( 40-50 orang)                 0.15   0.03   0.25   0.21
    Pembeli 5 ( lebih dari 50 orang)         0.07   0.13   0.18   0.34
  Perubahan jumlah komoditas                 0.25   0.30   0.41   0.47
                                     Lampiran XII
                                       Artikel

                           RIBA DAN META EKONOMI ISLAM
                               http://agustianto.niriah.com/


Firman Allah : “Apa yang kamu berikan (pinjaman) dalam bentuk riba agar harta
manusia betambah, maka hal itu tidak bertambah di sisi Allah” (QS.ar-Rum : 39)
Menurut pandangan kebanyakan manusia, pinjaman dengan sistem bunga akan dapat
membantu ekonomi masyarakat yang pada gilirannya akan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi rakyat. Anggapan tersebut telah menjadi keyakinan kuat hampir setiap orang, baik
ekonom, pemeritah maupun praktisi. Keyakinan kuat itu juga terdapat pada inetelektual
muslim terdidik yang tidak berlatar belakang pendidikan ekonomi. Karena itu tidak aneh, jika
para pejabat negara dan direktur perbankan seringkali bangga melaporkan jumlah kredit
yang dikucurkan untuk pengusaha kecil sekian puluh triliun rupiah. Begitulah pandangan dan
keyakinan hampir semua manusia saat ini dalam memandang sistem kredit dengan
instrumen bunga. Itulah pandangan material (zahir) manusia yang seringkali terbatas.

Pandangan umum di atas dibantah oleh Allah dalam Al-quran surah Ar-Rum : 39, “
Apa “Apa yang kamu berikan (berupa pinjaman) dalam bentuk riba agar harta
manusia bertambah, maka hal itu tidak bertambah di sisi Allah” (QS.ar-Rum : 39).
       Ayat ini menyampaikan pesan moral, bahwa pinjaman (kredit) dengan sistem
bunga tidak akan membuat ekonomi masyarakat tumbuh secara agregat dan adil.
Pandangan Al-quran ini secara selintas sangat kontras dengan pandangan manusia
kebanyakan. Manusia menyatakan bahwa pinjaman dengan sistem bunga akan
meningkatkan ekonomi masyarakat, sementara menurut Allah, pinjaman dengan
sistem bunga tidak membuat ekonomi tumbuh dan berkembang.
       Mengapa Allah mengatakan pinjaman kredit dengan sistem bunga tidak
menumbuhkan ekonomi ?. Di sinilah keterbatasan akal (pemikiran) sebagian besar
manusia. Mereka hanya memandang secara dangkal, kasat mata dan material (zahir)
belaka. Dari sinilah muncul konsep meta-ekonomi Islam, yaitu, sebuah pandangan
ekonomi yang berada di luar akal material manusia yang dangkal.
Dampak Bunga.
         Harus dicatat, bahwa Al-quran membicarakan riba (bunga) dalam ayat
tersebut dalam konteks ekonomi makro, bukan ”hanya” ekonomi mikro. Bahkan sisi
ekonomi makro jauh lebih besar. Kesalahan manusia kapitalis, termasuk ahli agama
Islam yang tak berlatar belakang ekonomi, adalah menempatkan dan membahas riba
dalam konteks ekonomi mikro semata. Membicarakan riba dalam konteks ekonomi
makro adalah mengkaji dampak riba terhadap ekonomi masyarakat secara agregat
(menyeluruh), bukan individu atau perusahaann (institusi). Sedangkan membicarakan
riba dalam lingkup mikro, adalah membahas riba hanya dari sisi hubungan kontrak
antara debitur dan kreditur. Biasanya yang dibahas berapa persen bunga yang harus
dibayar oleh si A atau perusahaan X selaku debitur kepada kreditur. Juga, apakah
bunga yang dibayar debitur sifatnya memberatkan atau menguntungkan. Ini disebut
kajian dari perspektif ekonomi mikro.
         Padahal dalam ayat, Al-Quran menyoroti praktek riba yang telah sistemik,
yaitu riba yang telah menjadi sistem di mana-mana, riba yang telah menjadi
instrumen ekonomi, sebagaimana yang diyakini para penganut sistem ekonomi
kapitalisme.Dalam sistem kapitalis ini, bunga bank (interest rate) merupakan jantung
dari sistem perekonomian. Hampir tak ada sisi dari perekonomian, yang luput dari
mekanisme kredit bunga bank (credit system). Mulai dari transaksi lokal pada semua
struktur ekonomi negara, hingga perdagangan internasional.
        Jika riba telah menjadi sistem yang mapan dan telah mengkristal sedemikian
kuatnya, maka sistem itu akan dapat menimbulkan dampak buruk bagi perekonomian
secara luas. Dampak sistem ekonomi ribawi tersebut sangat membahayakan
perekonomian.
        Pertama, Sistem ekonomi ribawi telah banyak menimbulkan krisis ekonomi
di mana-mana sepanjang sejarah, sejak tahun 1930 sampai saat ini. Sistem ekonomi
ribawi telah membuka peluang para spekulan untuk melakukan spekulasi yang dapat
mengakibatkan volatilitas ekonomi banyak negara. Sistem ekonomi ribawi menjadi
punca utama penyebab tidak stabilnya nilai uang (currency) sebuah negara. Karena
uang senantiasa akan berpindah dari negara yang tingkat bunga riel yang rendah ke
negara yang tingkat bunga riel yang lebih tinggi akibat para spekulator ingin
memperoleh keuntungan besar dengan menyimpan uangnya dimana tingkat bunga
riel relatif tinggi. Usaha memperoleh keuntungan dengan cara ini, dalam istilah
ekonomi disebut dengan arbitraging. Tingkat bunga riel disini dimaksudkan adalah
tingkat bunga minus tingkat inflasi. Kedua, di bawah sistem ekonomi ribawi,
kesenjangan pertumbuhan ekonomi masyarakat dunia makin terjadi secara konstant,
sehingga yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Data IMF berikut
menunjukkan bagaimana kesenjangan tersebut terjadi.
        Ketiga, Suku bunga juga berpengaruh terhadap investasi, produksi dan
terciptanya pengangguran. Semakin tinggi suku bunga, maka investasi semakin
menurun. Jika investasi menurun, produksi juga menurun. Jika produksi menurun,
maka akan meningkatkan angka pengangguran.
        Keempat, Teori ekonomi juga mengajarkan bahwa suku bunga akan secara
signifikan menimbulkan inflasi. Inflasi yang disebabkan oleh bunga adalah inflasi
yang terjadi akibat ulah tangan manusia. Inflasi seperti ini sangat dibenci Islam,
sebagaimana ditulis Dhiayuddin Ahmad dalam buku Al-Quran dan Pengentasan
Kemiskinan. Inflasi akan menurunkan daya beli atau memiskinkan rakyat dengan
asumsi cateris paribus.
        Kelima, Sistem ekonomi ribawi juga telah menjerumuskan negara-negara
berkembang kepada debt trap (jebakan hutang) yang dalam, sehingga untuk
membayar bunga saja mereka kesulitan, apalagi bersama pokoknya.
        Kenam, dalam konteks Indonesia, dampak bunga tidak hanya sebatas itu,
tetapi juga berdampak terhadap pengurasan dana APBN. Bunga telah membebani
APBN untuk membayar bunga obligasi kepada perbakan konvensional yang telah
dibantu dengan BLBI. Selain bunga obligasi juga membayar bunga SBI. Pembayaran
bunga yang besar inilah yang membuat APBN kita defisit setiap tahun. Seharusnya
APBN kita surplus setiap tahun dalam mumlah yang besar, tetapi karena sistem
moneter Indonesia menggunakan sistem riba, maka tak ayal lagi, dampaknya bagi
seluruh rakyat Indonesia sangat mengerikan .
        Dengan fakta tersebut, maka benarlah Allah yang mengatakan bahwa sistem
bunga tidak menumbuhkan ekonomi masyarakat, tapi justru menghancurkan sendi-
sendi perekonomian negara, bangsa dan masyarakat secara luas. Itulah sebabnya,
maka lanjutan ayat tersebut pada ayat ke 41 berbunyi :”Telah nyata kerusakan di
darat dan di laut, karena ulah tangan manusia, supaya kami timpakan kepada
mereka akibat dari sebagian perilaku mereka.Mudah-mudahan mereka kembali ke
jalan Allah”
        Konteks ayat ini sebenarnya berkaitan dengan dampak sistem moneter ribawi
yang dijalankan oleh manusia. Kerusakan ekonomi dunia dan Indonesia berupa krisis
saat ini adalah akibat ulah tangan manusia yang menerapkan riba yang bertentangan
dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
         Berdasarkan kenyataan itu, maka sekali lagi, maha benarlah firman Allah
yang mengatakan bahwa riba tidak menumbuhkan ekonomi masyarakat. Inilah meta
ekonomi Islam yang terdapat dalam ayat 39 Surah Ar-Rum.
         Dalam pendangan seorang banker atau debitur, sistem bunga yang mereka
terapkan yang dilandasai saling ridha dan terkesan tidak ada saling menzalimi di
antara mereka, dianggap sebagai sebuah sistem yang wajar dan tidak menjadi
masalah. Bahkan bersifat positif-konstruktif bagi masyarakat. Inilah pandangan
ekonomi mikro yang sering menjerumuskan banyak orang yang akalnya
terbatas.Begitulah, akal manusia sering kali tidak bisa menjangkau apa yang dibalik
realitas ekonomi. Padahal sistem riba itu justru merusak dan sama sekali tidak
membawa pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya. Inilah yang dijelaskan Al-Quran
dalam surah Ar-Rum ayat 39 di atas. Inilah konsep metaekonomi Islam dalam
larangan riba. Namun, bagi para ekonom Islam, hal tersebut bukan lagi meta, tapi
fakta, karena mereka telah melihat fakta riil kerusakan ekonomi masyarakar, negara
dan dunia akibat riba (bunga). Mereka telah melihat secara nyata bahwa riba tidak
akan menumbuhkan perekonomian masyarakat. Metaekonomi Islam dalam larangan
riba hanya relevan bagi para penganut dan pengamal ekonomi ribawi yang mayoritas
di negeri ini. Tugas pakar ekonomi syari’ah untuk menjelaskan meta ekonomi Islam
itu kepada penganut dan pengamal kapitalisme ribawi yang masih mayoritas di negeri
ini.
Sekretaris Umum DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) dan Pengajar
pada
Program Pascasarjana PSTTI UI

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:4632
posted:4/4/2010
language:Indonesian
pages:121
Description: Penelitian ini merupakan sebuah evaluasi dampak kredit oleh rentenir yang diberikan kepada para pedagang di pasar tradisional sumatera barat. Penelitian menggunakan metode difference in difference dengan cara restrospektif. Penelitian ini semakin memperteguh hipotesis bahwa kredit oleh para pelepas uang memang tidak memberikan dampak kesejahteraan dan memang pemberdayaan masyarakat miskin tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan modal semata