Docstoc

Kajian literatur sekolah berasrama

Document Sample
Kajian literatur sekolah berasrama Powered By Docstoc
					                                                         Review Boarding School


                                     [12]
                Review Boarding School1
Kunci Sukses:

    (a) Boarding School adalah sekolah alternative, dimana system pembelajaran
         terpadu dan tempat tinggal berasrama, mirip pesantren.
    (b) Evaluasi menunjukkan banyak sisi positif dari boarding school, bukan
         hanya pencapaian aspek kognitif semata tetapi juga menmperlihtakan
         secara jelas capaian aspek afektif dan psiko-motorik taua perilaku,
         diantaranya tamatan lebih memiliki daya juang yang tinggi termasuk
         penderma.
    (c) Boarding school dapat difokuskan pada masyarakat terpencil, miskin dan
         mempunyai masalah khusus.




                             [Pendahuluan]

S   alah satu konsensus masyarakat dunia dalam bidang
    pendidikan dewasa ini adalah menjamin tidak adanya lagi
anak-anak pada rentang usia sekolah dasar yang tidak bersekolah.
Hal ini dicantumkan dalam target MDG’s (Millenium
Development Goals) 2015, bahwa selambat-lambatnya pada tahun
2015, semua anak di dunia sudah menyelesaikan pendidikan
dasarnya. Selain itu, sebenarnya gerakan EFA (Education For
All) juga mempunyai beberapa tujuan lagi selain akses 100 %
dalam pendidikan dasar, yaitu keadilan memperoleh pendidikan
bagi anak perempuan dan kelompok yang kurang beruntung dan
peningkatan kualitas hasil pendidikan (improved student learning
outcomes).


1
 Bab ini ditulis oleh saudara Davy Hendri melalui survey literature. Tulisan ini
sebagai gagasan awal untuk mewujudkan boarding school di Indonesia
                                                                         12 - 1
                                             Review Boarding School

        IEG (Independent Evaluation Group), sebuah lembaga
penelitian di bawah Bank Dunia, dalam rilis laporannya
menjadikan tema kualitas hasil pendidikan dasar ini sebagai isu
utama, From Schooling Access To Learning Outcomes : An
Unfinished Agenda, 2006. Kenapa kualitas hasil pendidikan dasar
ini harus     dimunculkan sebagai isu utama dalam arahan
pembangunan pendidikan dasar dunia ke depan?. Jawabnya,
karena ia terkait erat pula dengan isu lingkaran kemiskinan yang
tak berkesudahan (vicious circle). Fakta beberapa hasil evaluasi
pendidikan menyebutkan bahwa walaupun para siswa berhasil
menyelesaikan pendidikan dasarnya, namun capaian perolehan
keterampilan dan pengetahuannya ternyata berada di bawah
standar yang diinginkan.

        Sebagai contoh, di India hanya setengah dari siswa
berumur 7-10 tahun yang mampu membaca sebuah paragraf
singkat dengan lancar. Dari berbagai studi lain di lain belahan
dunia, ditemukan pula fakta rendahnya kemampuan berhitung
pada anak-anak sekolah dasar ini. Di Uganda, hanya 10 % dari
total anak sekolah dasar yang mampu mencapai standar nilai
dalam matematika dan lebih rendah lagi, hanya 5 % dalam
pelajaran bahasa inggris.

        Padahal perolehan keterampilan dan pengetahuan dasar
tadi merupakan aset berharga untuk membebaskan mereka dari
jeratan kemiskinan selama ini. Kemudian timbul pertanyaan, apa
yang menjadi kontributor utama rendahnya kualitas hasil
pendidikan ?. Rendahnya kualitas proses pendidikan itu sendiri
menjadi akar dari permasalahan ini. Jika diurut lagi ke belakang,
ternyata gaung peningkatan kualitas pendidikan dasar, jarang
sekali diperdengarkan, walaupun sebenarnya telah dinyatakan
sebagai salah satu tema reformasi pendidikan dasar di dunia.
Laporan IEG juga menyebutkan bahwa dari 12 negara target
evaluasi mereka selama ini, hanya 5 negara yang secara resmi
memiliki sistem pemantauan kualitas hasil pendidikan dasar.

                                                            12 - 2
                                             Review Boarding School




                    [Konteks Indonesia]
Bagi Indonesia, target-target utama pendidikan dasar di atas masih
menjadi beban berat dan belum terselesaikan pada saat ini. Benar,
bahwa pada tahun 1988 jumlah anak usia sekolah dasar Indonesia
yang sedang atau telah menyelesaikan pendidikan dasar 6
tahunnya telah mencapai 99,6 %. Namun jangan lupa bahwa krisis
ekonomi tahun 1997 juga telah menyebabkan tingginya tingkat
putus sekolah, terutama pada rumah tangga miskin di pedesaan.
Walaupun kemudian bantuan beasiswa sebagai bagian dari
program JPS (Jaring Pengaman Sosial) Bidang Pendidikan turut
berperan besar memulihkan tingkat daftaran sekolah dasar, namun
krisis yang belum sepenuhnya pulih dan pertumbuhan penduduk
usia muda yang sempat membesar karena rendahnya cakupan
program KB, masih menyisakan sejumlah angka putus sekolah
dasar sebagai PR yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah
c.q Departemen Pendidikan Nasional.

        Beberapa hasil penelitian lapangan menyebutkan bahwa
salah satu alasan utama tidak bersekolahnya anak-anak usia
pendidikan dasar adalah jauhnya jarak sekolah dengan tempat
tinggal mereka. Di samping berbagai kontribusi faktor lain, yang
tidak bisa dilupakan adalah bahwa kemiskinan tetaplah menjadi
kontributor signifikan. Apalagi jika kita kemudian berbicara
tentang pemantauan kualitas hasil pendidikannya. Apalagi jika
berbicara tentang tingkat daftaran pada level pendidikan yang
lebih tinggi, sekolah menengah, masih menjadi impian besar!.

   [Kuantitas dan Kualitas Pendidikan, relasi substitusi ?]

Untuk mengatasi jebloknya capaian dari sisi kuantitas, pemerintah
kemudian melakukan intervensi sisi supply. Hal ini dilakukan
dengan pembangunan gedung sekolah-sekolah baru yang

                                                            12 - 3
                                             Review Boarding School

berlokasi dekat dari pemukiman penduduk, sekolah 2 shift,
program guru kontrak ataupun berbagai bentuk penggalangan
partisipasi masyarakat. Sementara intervensi sisi demand,
dilakukan melalui program pengurangan biaya sekolah, beasiswa
dan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah).

        Namun, sebagaimana kita ketahui, program-program
subsidi ini memerlukan pembiayaan yang sangat besar dan
menyedot (shifting) alokasi anggaran sektor lain. Dalam APBN
2007 saja, jumlah anggaran pendidikan untuk keseluruhan
program telah mencapai 90,01 triliun atau sekitar 11,8 %.
Memang dari sisi amanat UUD 1945 yang telah diamandemen,
angka ini masih jauh dari ideal, yaitu 20 % dari APBN. Dalam
hitung-hitungan sederhana, berarti sebenarnya masih 62,71 triliun
lagi yang harus dialokasikan untuk sektor pendidikan pada tahun
2007.

        Namun jangan lupa, program EFA juga mengamanatkan
perbaikan kualitas output pendidikan itu sendiri (outcome
learning), terutama bagi anak-anak dari keluarga miskin.
Sebagaimana dipaparkan di awal tadi, hanya dengan perbaikan
mutu pendidikanlah, lingkaran kemiskinan yang tak berkesudahan
dapat diputuskan. Berbagai studi menunjukkan bahwa berbagai
program, diantaranya program subsidi bertarget cukup
memberikan kontribusi positif pada perbaikan kualitas hasil
belajar anak-anak dari kelompok masyarakat miskin dan
mengurangi gapnya dengan anak-anak kelompok masyarakat
lebih beruntung lainnya. Selain itu, perbaikan manajemen sekolah
juga menjadi faktor pendorong yang menentukan. Dalam hal ini
introduksi program peningkatan kualitas guru dan monitoring
evaluasi hasil pembelajaran kepada pimpinan sekolah menjadi
syarat keberhasilan program ini. Lebih mendetail lagi,
pengawasan yang lebih ketat terhadap kemajuan hasil belajar
siswa per grup karakteristik sosial ekonomi, bukan secara rata-
rata, akan menjadi poin penting program.

                                                            12 - 4
                                             Review Boarding School



       Program ini tentunya secara total juga akan memperbesar
biaya penyelenggaraan pendidikan. Nah, bagaimana pula dengan
alokasi anggaran yang tersedia ? Sepertinya, untuk memperbesar
capaian kuantitas, memang harus mengorbankan (trade-off)
perbaikan kualitas. Apakah memang demikian adanya ?. Tidak
mungkinkah menggabungkan kedua tujuan ini dalam sebuah
program ?.

        Nah, di sinilah benang merahnya. Sebenarnya, relasi
kuantitas dengan kualitas pendidikan yang selama ini diterima
saja apa adanya sebagai relasi substitusi dapat dirubah menjadi
relasi yang bersifat komplementer, saling memperkuat.
Peningkatan kualitas yang merupakan program berkesinambungan
dan memakan waktu, tentu mengharuskan tetap hadirnya para
siswa di sekolah. Program monitoring pembelajaran tidak akan
bisa berjalan sama sekali, apalagi mencapai hasilnya, jika para
siswa tadi dengan tiba-tiba berhenti sekolah drop-out (DO) di
tengah jalan. Syarat utama kualitas siswa akan meningkat adalah
jika dan hanya jika si siswa tetap hadir secara rutin di sekolah.
Setelah itu, bolehlah bicara tentang berbagai faktor lainnya!

        Selanjutnya, secara sederhana hukum demand akan
berlaku dengan sendirinya. Ketika standard kualitas telah tercapai
maka diharapkan dengan sendirinya, kuantitas akan terjaga. Hal
inilah yang menjadi faktor penjelas, kenapa sekolah swasta favorit
tidak pernah sepi dari peminat. Bahkan pada beberapa kasus,
orang tua kaya malah saat ini harus mulai mengantri hanya untuk
sekedar mendaftarkan anaknya yang baru mau masuk SD, pada 2-
3 tahun lagi ke depan. Begitu juga dengan pemikiran sederhana
banyak orang tua yang kurang beruntung dari sisi ekonomi
lainnya. Adagiumnya adalah sekolah atau tidakpun anak mereka,
nasib mereka setelah itu tidak berubah!



                                                            12 - 5
                                                     Review Boarding School

        Berat memang, untuk merubah adagium ini. Namun bukan
berarti perjuangan untuk merubahnya bukan hal mustahil pula.
Agaknya sekolah yang terpusat pada suatu daerah dan
memberlakukan pemantauan perkembangan keterampilan dan
pengetahuan siswa secara periodik, layak menjadi sebuah program
unggulan untuk menjawab kebutuhan pencapaian target
pendidikan dasar Indonesia. Dunia pendidikan mengenalnya
dengan istilah Boarding School (Sekolah Berasrama).

                [Kenapa Boarding School ?]
       “Bukan hanya sekolah yang kami peroleh, tetapi juga hidup……”

Selain bisa menjadi alternatif solusi akses bagi siswa yang
terkendala geografis, berdasarkan data, sekolah berasrama juga
menawarkan banyak nilai positif sebagai sasaran antara bagi
peningkatan kualitas hasil pendidikan itu sendiri.

        Berikut akan kita sadurkan hasil survey yang dilakukan
The Association of Boarding Schools (TABS), lembaga pemantau
independent yang berbasis di USA. Survey ini dilakukan terhadap
2700 siswa SMP dan orang dewasa yang sudah merasakan
minimal 16 bulan persekolahan. Jumlah ini meliputi 1.000 siswa
dan alumni boarding school, 1.100 dari sekolah negeri dan 600
dari sekolah swasta biasa. Interview ini dilakukan terhadap siswa
SMP, lulusan perguruan tinggi dan pekerja yang merupakan
alumni            dari           masing-masing            sekolah
(http://www.schools.com/about/advantage.html)

                        [Kualitas Pendidikan]

Bagi kebanyakan remaja dan orang tua, hampir 60 %, kualitas
pendidikanlah yang menjadi alasan utama mereka memasukkan
anak-anak mereka ke boarding school. Berikut kita uraikan
pengakuan mereka :

                                                                      12 - 6
                                         Review Boarding School



a.   95 % siswa boarding school mengaku merasa puas dan
     sangat puas dengan pengalaman akademis mereka,
     dibanding hanya 86 % yang dirasakan oleh siswa di
     sekolah swasta biasa atau sekolah negeri.

b.   91 %      siswa boarding school melaporkan        bahwa
     persekolahan mereka menantang, dibanding hanya 70 %
     siswa sekolah swasta biasa dan 50 % siswa sekolah negeri
     yang mengaku merasakan hal serupa




c.   90 % siswa boarding school mengakui bahwa guru mereka
     sangat berkualitas, dibanding hanya 62 % siswa sekolah
     swasta biasa dan 51 % siswa sekolah negeri yang mengaku
     merasakan hal serupa.

d.   Siswa boarding school menggunakan waktu mereka rata-
     rata 17 jam per minggu untuk mengerjakan PR dibanding
     hanya 9 jam yang dilakukan oleh siswa sekolah swasta
     biasa dan 8 jam oleh siswa sekolah negeri.




                                                        12 - 7
                                        Review Boarding School




e.   75 % siswa boarding school melaporkan bahwa mereka
     termotivasi oleh lingkungan sebayanya. Sementara hanya
     71 % siswa sekolah swasta biasa dan 49 % siswa sekolah
     negeri yang melaporkan hal serupa.




f.   90 % pekerja baru dan 80 % pekerja lama yang merupakan
     alumni boarding school menyatakan ingin merasakan lagi
     pengalaman di boarding school.



                                                       12 - 8
                                          Review Boarding School


     [Penggunaan Waktu Yang Lebih Produktif]
Sebagai buah dari sistem pendidikan yang berkualitas dan
dijalankan dengan serius, maka tingkat keterlibatan siswa
boarding school di dalam aktivitas kurikulernya lebih tinggi

a.    Siswa boarding school menggunakan waktunya rata-rata 12
      jam seminggu untuk kegiatan pelatihan atau olah raga

b.    Siswa boarding school menggunakan waktunya rata-rata 6
      jam seminggu untuk kegiatan-kegiatan kreatif bermanfaat
      seperti musik dan pertukangan dibanding hanya 4 jam oleh
      siswa sekolah swasta biasa dan 5 jam oleh siswa sekolah
      negeri

c.    Lebih banyak, 35 % siswa boarding school yang
      menggunakan waktunya rata-rata 7-14 jam seminggu untuk
      kegiatan ekstrakurikuler non-atletik seperti OSIS dan
      kelompok studi dibanding hanya 27 % oleh siswa sekolah
      lainnya

d.    Siswa boarding school menggunakan waktunya lebih
      sedikit, rata-rata hanya 3 jam seminggu untuk menonton
      TV dibanding 7 jam seminggu yang dihabiskan oleh siswa
      sekolah lainnya


           [Pengembangan Perilaku Positif]
Boarding School menekankan pada pengembangan perilaku
pribadi personal dan yang akan memberi pengaruh sosial,
sebagaimana juga mereka menekankan pada pencapaian prestasi
akademis bagi semua siswa.



                                                         12 - 9
                                         Review Boarding School

a.   Sekitar 70 % siswa boarding school menyatakan bahwa
     sekolah mereka membantu dalam mendisiplinkan diri,
     menjadi dewasa dan mandiri

b.   Sekitar 77 % siswa boarding school menyatakan bahwa
     sekolah mereka memberikan peluang kepemimpinan
     dibanding hanya 60 % pada sekolah swasta biasa dan 40 %
     pada sekolah negeri




c.   Siswa boarding school, menikmati kedekatan dengan guru-
     guru mereka setiap jam dalam seminggu, dibanding hanya
     rata-rata 4 jam sehari pada sekolah lainnya

d.   Hanya 26 % siswa boarding school yang terlibat Contek
     Mencontek, dibanding 60 % pada siswa sekolah swasta
     biasa dan 54 % pada siswa sekolah negeri




                                                       12 - 10
                                           Review Boarding School


[Alumni Mempunyai Karir yang Lebih Cepat
Berkembang Dan Lebih Penderma]

Riset juga membuktikan bahwa rata-rata alumni boarding school
mempunyai karir yang lebih cepat berkembang dan lebih terlibat
dalam kegiatan-kegiatan sosial

a.   Di tengah masa karirnya (mid-career), 44 % alumni boarding
     school yang telah mencapai posisi top management,
     dibandingkan hanya 27 % yang dicapai oleh alumni sekolah
     swasta biasa dan 33 % pada alumni sekolah negeri
b.   Di akhir masa karirnya (late-career), sudah 52 % alumni
     boarding school yang telah mencapai posisi top management,
     dibandingkan hanya 39 % yang dicapai oleh alumni sekolah
     swasta biasa dan 27 % pada alumni sekolah negeri




c.     Alumni boarding school lebih penderma; pada posisi mid-
       career, 60 % alumni boarding school bederma kepada
       lembaga sosial dibanding 46 % alumni sekolah lainnya, 58
       % bederma kepada partai politik dibanding 33 % alumni
       sekolah lainnya, dan 52 %        yang bederma kepada

                                                         12 - 11
                                              Review Boarding School

       sekolahnya dibandingkan hanya 35 % yang dilakukan oleh
       alumni sekolah lainnya

                        [Kesimpulan]
Review dari kajian di atas diperoleh dari pengalaman penerapan
Boarding School di negara maju, yaitu Amerika Serikat.
Sementara itu, ketersediaan kajian ilmiah dan terstruktur di negara
berkembang tentang topik ini memang masih terbatas. Agaknya,
kurang adil dan menjadi bias jika harus memaksakan
perbandingan capaian hasil pendidikan antara negara maju dengan
negara berkembang. Berbagai literature menyebutkan multi
faktor, tidak hanya sistem pembelajaran an-sich, yang
menentukan kualitas hasil pendidikan.

       Kondisi ini, tentu membawa konsekuensi yang signifikan
dalam proses aplikasinya pada berbagai negara sedang
berkembang, seperti Indonesia, yang masih berkutat dengan
masalah pendidikan yang mendasar lainnya. Namun setidaknya
dari sisi pengalaman, pelajaran-pelajaran positif negara maju
dapat dijadikan sebagai dasar untuk merumuskan program
boarding school di Indonesia yang diperkaya dengan karakteristik
lokal. Pertanyaannya sekarang adalah siapa yang akan
memulainya ?.




                                                            12 - 12
                                           Review Boarding School


                         Lampiran:
                         Metodology
Berikut ini dinarasikan bagaimana study kelayakan dilakukan,
untuk merumuskan dan menghitung sistem pendirian Boarding
School di Sumatra Barat.

       Beberapa survey perlu dilakukan sebelum dihitungnya
skenario penyusunan FS. Diantaranya survey daerah penerima
serta survey tentang rumah tangga yang beresiko mengikuti
program yang akan dilaksanakan.

Daerah Penerima

Daerah penerima dimana diselenggarakan Boarding school adalah
merupakan daerah yang diputuskan bersama oleh ninik-mamak
pemangku adat.

Hal hal yang perlu dilakukan adalah:

   a. Kesediaan masyarakat menyediakan sarana dan prasarana;
      seperti tanah, bangunan untuk sekolah dan perumahan
      (skenario, sudah ada, ada di revisi, atau dibangun baru).
   b. Peserta adalah representatif semua suku. Dan disertai 3
      tungku sajarang, diperkirakan akan dihadiri rapat FGD
      sebanyak 30 orang, dengan pertemuan sebanyak 5 kali,
      selama persiapan.
   c. Survey lokasi

Survey Rumah Tangga

Survey rumah tangga dilakukan untuk memperkirakan potensi
anak-anak di bawah program boarding school, termasuk kesediaan
rumah tangga untuk mengirimkan anak anak mereka memperoleh
pendidikan di boarding.
                                                         12 - 13
                                            Review Boarding School

       Populasi adalah rumah tangga yang tinggal dimana desa
yang dianggap beresiko untuk putus sekolah atau tidak memiliki
sekolah menengah pertama. Kemudian dilengkapi dengan rumah
tangga miskin daerah yang menjadi sasaran program.

       Diharapkan sample untuk 1 boarding school adalah
sebanyak 200 rumah tangga yang memiliki anak kelas 6 sekolah
dasar.

Survey Kesediaan Guru

Laporan juga memperkirakan bagaimana mobilisasi Guru untuk
dapat berfungsi dalam mengembangkan boarding school. Baik
guru pegawai negeri, guru bantu, maupun honorer. Jumlah guru
yang akan disurvey adalah guru daerah terpencil dan bukan
terpencil, masing-masingnya adalah sebanyak 25 orang. Dengan
kata lain diperlukan pengamatan sebanyak 25 orang guru.

Survey terhadap Pesantren

Untuk menaksir kebutuhan pembiayaan, maka akan dilakukan
simulasi dari sekolah mirip boarding yang pernah ada. Untuk itu
dilakukan penelitian terhadap 2 pesantren yang ada.

Data yang akan dikumpulkan di pesantren adalah data yang
menginformasikan:

   a.   Biaya penyelenggaraan boarding school.
   b.   Biaya sekolah
   c.   Biaya makan
   d.   Biaya asrama dan seterusnya.




                                                          12 - 14

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1416
posted:4/4/2010
language:Indonesian
pages:14
Description: Mendeskripsikan kelemahan mendasar pembangunan pendidikan Indonesia baik dari sisi kuantitas dan kualitas dan tawaran alternatif untuk mengatasinya dengan model sekolah berasrama boarding school