JAMAAH TABLIGH Dalam Bingkai Islam Kaffah

Document Sample
JAMAAH TABLIGH  Dalam Bingkai Islam Kaffah Powered By Docstoc
					                                     JAMAAH TABLIGH
                                   Dalam Bingkai Islam kaffah
                                       Oleh: Israh Fuedhy

Contoh mutlak dalam mengamalkan Islam secara benar dapat dilihat dari zaman Nabi Muhammad
saw. Dari sanalah segala sumber Hukum dan Syariat Islam diberlakukan. Dalam Al’quran juga
disebutkan agar Islam dilaksanakan secara kaffah seperti tertera dalam Surah al-Baqarah, Ayat 208.
Bagi mereka, yang mengamini pelaksanaan Islam secara kaffah dan melihat Rasul dalam
mengamalkanya, pasti akan berperilaku sama persis dengan kondisi pada saat itu. Dari memanjangkan
jenggot, jubah, hingga berkendaraan unta. Pandangan tersebut ada yang menamakan “Islam secara
literal”. Namun bagi yang tak sepaham, ada alasan kuatnya. Yakni, hal tersebut sulit untuk
direalisasikan pada jaman sekarang. Dan tidak jarang, sikap yang demikian (baca; yang tidak sepaham)
memberikan kesan bahwa sebenarnya ada rasa berat hati dan malas-malasan untuk meniru paham
Islam yang beraliran Kaffah.

Dari fenomena diatas, menarik rasanya untuk mencermati pergerakan yang bernama Jamaah Tabligh
(JT). JT –didirikan oleh Sheikh Muhammad Ilyas Kandahalawi (1303-1364) dan berpusat pada tiga
negara, India, Pakistan dan Bangladesh- dalam perjalanannya masih selalu eksis dan berkembang
dalam berdakwah untuk menyebarluaskan agama dan ajaran Islam. Mencermati JT ini tidak dalam
kerangka doktrin dan ajakannya, namun lebih ditekankan dalam mencermati hal-hal yang bersifat
amalan dan sandaran yang muncul dari diri JT itu sendiri. Apakah JT cenderung pada kelompok
pertama yang mencerminkan Islam kaffah secara literal? Atau mungkin, JT dikategorikan dalam
golongan yang lain?

Melihat arti kaffah secara literal memang mempunyai arti “menyeluruh”. Dalam definisi, rasanya sudah
terlalu banyak partisipan yang sibuk dalam menyumbangkan arti kaffah itu, sehingga tenggelam dalam
polemik pendefinisian yang tanpa akhir dan hasil.

Hal ini sekilas dapat dilihat bahwa sikap dan perangai Tablighiyyin dimanapun berada adalah yang
paling mendekati ke-kaffah-an Islam tersebut. Dari segala ritual keagamaannya sampai hubungan sosial
kemayarakatan. Keteguhan dalam mempertahankan prinsip keislamannya (tampaknya) tidak perlu
diragukan lagi. Dalam bersosial, istilah “ikram al-duyuf” sering mereka pakai. Makanya patut dinamai
“full of peace and sincerity”. Dalam praktenyapun sama sekali tidak disangsikan. Dalam hal lain,
pendekatan merekapun mampu menembus ke seluruh elemen masyarakat. Pakaian yang mereka
kenakan, serta kebersamaan dengan dipimpin oleh satu amir, terasa memberi gambaran dan karakter
khas dalam diri JT tersebut.

Namun, kaitannya dengan Islam kaffah, sudahkah itu semua mewakili untuk dikategorikan sebagai
penganut Islam Kaffah?. Sebaiknya masyarakat Muslim tidak terjebak dalam sikap “ngaku-ngaku”
dalam mempraktikkan Islam secara Kaffah. Lebih-lebih sebelum mempunyai bukti kongkrit, dari
praktek keseharian yang berlandaskan ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah secara total. Apapun alasannya,
idealisme ke-kaffa-an Islam patut didengungkan. Kendatipun itu sangatlah tidak mungkin dalam
pelaksanaannya, hal itu kalau Islam dipahami secara literal -seratus persen persis dengan keadaan pada
zaman itu. Namun sebaliknya, kalau Islam Kaffah dipahami dengan spirit idealisme yang tinggi rasanya
tiada kata mustahil. Karena pada hakikatnya, Islam adalah agama yang fleksible, jauh dari batasan-
batasan hukum yang rigid dan menyulitkan (al-Baqarah,286, al-Maidah 6 dan masih banyak lagi ayat
yang berkaitan). Karena siapapun dia dengan pemahaman seperti itu (Islam literal) sangatlah tidak
mungkin, Meskipun JT itu sendiri. Disini penulis ambil tiga point dominan yang ada dalam JT:

1. Essensi enam prinsip.
Enam point yang biasa dinamai "che number" meliputi : kalimah agung (syahadat), menegakkan shalat,
ilmu dan dzikir, memuliakan setiap Muslim, ikhlas, berjuang fisabilillah (keluar/khuruj), adalah asas
dakwah dalam diri JT tersebut. Untuk mengimplementasikan paham Islam secara Kaffah dan
berdasarkan dalil-dalil yang ada, nampaknya tidak mungkin dengan hanya mempertahankan enam poin
tersebut. Karena hukum dan ajaran Islam yang dipahami secara komprehensif, tidak hanya berkutat
pada itu saja, melainkan masih banyak lagi tuntutan-tuntutan ritual keagamaan yang harus dipenuhi,
seperti zakat, nafkah, jihad fisabilillah (perang), dll.

2. Khuruj fisabilillah.
Istilah “khuruj fisabilillah”, yang diartikan keluar meninggalkan sanak dan saudara, demi
menyebarluaskan ajaran dan agama Islam secara benar dan penuh keyakinan, dengan cara
menanamkan enam poin esssensial tadi, semua itu sudah tertera dengan jelas dan terangkum semua
dalam “marjaul hukum” (al-Qur’an dan Hadis). Namun, seperti yang disebut diatas, bahwa
pemahaman Islam secara komprehensif -dengan melihat dari segala aspek hukum yang ada dalam
Hadis dan al-Qur’an- tidak mustahil JT tersebut mempunyai banyak kekurangan dan keterbatasan.

3. Akomodatif terhadap kebudayaan lokal
Hal ini (salah satunya) terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh mereka yang aktif dalam JT. Shalwar
Khameez -yang khas untuk penduduk negeri Pakistan dan sekitarnya- beserta sorban atau peci yang
lazim dikenakan, tidak lain hanyalah kontribusi mereka untuk tidak mengadopsi dan terpaku dengan
kebudayaan pada jaman dahulu (Islam zaman Rasulullah). Hal ini berimplikasi bahwa JT sangatlah
menjunjung tinggi nilai-nilai kultur setempat, sepanjang tidak berseberangan dengan nilai-nilai prinsipil
dalam Islam. Tidak hanya Shalwar Kameez namun masih banyak lagi yang (mungkin) teradopsi dari
adat setempat.

Tidak hanya tiga poin diatas yang mungkin dapat dicermati, namun masih banyak lagi sisi-sisi lain
(yang belum disebut) dalam JT itu. Singkatnya, pengertian Islam Kaffah dalam JT ternyata, dalam
perjalanannya, telah mengalami perkembangan dan penyesuaian. Karena dalam prakteknya sangat tidak
mungkin pengertian Islam dengan masih mempertahankan “rigorisme” yang ada pada jaman itu. Jadi
yang sesuai dengan rasio manusia adalah arti Kaffah sekarang berbeda dengan Kaffah pada zaman
Nabi dengan tetap mengambil kaidah-kaidah dasar yang melandasi pelaksanaan Islam secara Kaffah
pada zaman itu.

Sebenarnya sudah lama masyarakat Muslim disibukan dengan pembahasan (Islam) seperti ini. Namun
apalah semua itu, kalau pada akhirnya hasil akhir -input maupun output- yang dicapai hanyalah sebuah
pengertian dan pencerahan dalam diri Islam yang pengejawentahannya hanya dalam kerangka
“obrolan-obrolan” semata dan jauh dari kenyataan yang ada. Islam hanya merupakan ‘ lip-service’ yang
tidak habis untuk dipoles dan dipoles. Sampai kapanpun itu semua tidak akan selesai. Kalau boleh
diibaratkan, Islam seolah-olah sebuah bangunan, namun disana terlalu banyak arsitek yang akan
membangunnya. Masing-masing memiliki gaya dan corak yang berbeda. Setiap arsitek tersebut masih
tetap dalam pandangannya dan mempertahankan masing-masing style bangunan yang dimiliki, sampai
akhirnya ia lupa dengan tujuan utamanya (membangun sebuah bangunan). Apakah bangunan tersebut
dapat dirampungkan sesuai kemauan dan dalam jangka waktu yang rencanakan? Sangatlah mustahil.
Islam tiada lain hanyalah satu bangunan yang tidak membutuhkan banyak arsitek. Karena dengan
banyak arsitek, namun tidak disertai dengan pekerja-pekerja yang handal –yang dimaksud adalah mau
dan berpengharapan kuat untuk melaksanakan pekerjaannya- hasilnya adalah nol besar. Disini,
Muhammadlah satu-satunya arsitek dalam bangunan Islam, yang di bawahnya diharapkan anak buah
atau pekerja yang membidangi dalam tugas masing-masing. Seorang Muhammad pun tidak salah dalam
memilih sahabatnya. Seperti Bilal yang disuruhnya sebagai Muadzin, Khalid bin Walid dan Usamah bin
Tsabit sebagai Panglima perang adalah contohnya.
Jadi baik politisi, dai, ahli orasi, bapak menteri, mahasiswa/wi, tablighi maupun mereka yang termasuk
dalam non-educated semuanya mempunyai kesamaan tujuan yang diemban yaitu membangun sebuah
bangunan bernama “Islam”. Namun bedanya mungkin masing-masing mempunyai job yang berbeda
sesuai dengan keahliannya. Ada yang bagian interior dan ada yang bagian eksterior. Hal itu disesuaikan
dengan kemampuan arsitektur masing-masing.

Jadi, Jamaah Tabligh hanyalah satu dari sekian ribu jamaah atau pergerakan yang ada di muka bumi ini,
yang hasil dan sumbangsihnya dalam membangun masyarakat Islam sedang dan – Insha Allah SWT –
akan terus berjalan. Paling tidak JT tidak hanya berhenti pada teori-teori semu yang dilontarkan
banyak arsitek, namun lebih cenderung kearah praktik dan kerja riil. Maka dari itu, hendaknya setiap
individu tidak hanya berinisiatif atau “omong kosong doang”, dan lebih naif lagi, sebelum melakukan
sudah mengklaim bahwa pekerjaan tersebut “mustahil” untuk dilaksanakan. Wallahu a`lam……….

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:6122
posted:4/3/2010
language:Indonesian
pages:3
Description: JAMAAH TABLIGH, Islam Kaffah, gerakan islam, aliran islam