BOTANI_MANGROVE__Ekosistem_Man

Document Sample
BOTANI_MANGROVE__Ekosistem_Man Powered By Docstoc
					BIODIVERSITAS                                                                                                  ISSN: 1412-033X
Volume 5, Nomor 2                                                                                                      Juli 2004
Halaman: 105-118



                                                       R E V I E W:

                       Ekosistem Mangrove di Jawa: 2. Restorasi
                                 Mangrove ecosystem in Java: 2. Restoration


                AHMAD DWI SETYAWAN1,2, KUSUMO WINARNO1,2, PURIN CANDRA PURNAMA1
                            1
                             Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126
            2
             Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126

                                       Diterima 15 Desember 2002. Disetujui 15 Juli 2003.




                                                         ABSTRACT

The restoration of mangroves has received a lot of attentions world wide for several reasons. Mangrove ecosystem is very
important in term of socio-economic and ecology functions. Because of its functions, wide range of people paid attention
whenever mangrove restoration taken place. Mangrove restoration potentially increases mangrove resource value, protect
the coastal area from destruction, conserve biodiversity, fish production and both of directly and indirectly support the life of
surrounding people. This paper outlines the activities of mangrove restoration on Java island. The extensive research has
been carried out on the ecology, structure and functioning of the mangrove ecosystem. However, the findings have not
been interpreted in a management framework, thus mangrove forests around the world continue to be over-exploited,
converted to aquaculture ponds, and polluted. We strongly argue that links between research and sustainable management
of mangrove ecosystem should be established.
                                                                                 2003 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
Key words: mangrove, restoration, management, Java.


                      PENDAHULUAN                                 untuk mengembalikan sesuatu ke kondisi semula;
                                                                  kreasi adalah tindakan untuk membuat, menemukan
   Ekosistem mangrove di Jawa mengalami penurun-                  atau menghasilkan sesuatu; sedangkan pengkayaan
an sangat drastis, akibat tingginya tekanan penduduk              adalah menambahkan atau menaikkan sesuatu
yang     berimplikasi   pada     besarnya     kegiatan            (Mish, 1989). Selanjutnya muncul istilah rehabilitasi
pertambakan, penebangan hutan, reklamasi dan                      sebagai payung yang mencakup istilah restorasi dan
sedimentasi,     serta    pencemaran      lingkungan.             kreasi (Streever, 1999). Menurut Whitten et al.,
Ekosistem mangrove memiliki fungsi sosial-ekonomi,                (2000) restorasi adalah suatu taktik untuk
sosial-budaya, dan peran ekologi yang sangat                      mengembalikan lahan yang terdegradasi ke kondisi
penting, sehingga banyak pihak (stakeholders) yang                asli atau mendekati kondisi asli, sedangkan
memberi perhatian lebih untuk mengembalikan fungsi                rehabilitasi adalah suatu strategi manajemen untuk
ekosistem ini melalui restorasi. Restorasi mangrove               mencegah        degaradasi     suatu     lanskap    dan
dapat menaikkan nilai sumber daya ini, memberi                    menjadikannya bermanfaat. Di samping itu terdapat
mata pencaharian penduduk, mencegah kerusakan                     pula istilah reforestasi dan afforestasi. Menurut Lewis
pantai, menjaga biodiversitas, menjaga hasil                      dan Streever (2000), reforestasi adalah penanaman
tangkapan      perikanan,     serta     mempengaruhi              mangrove pada bekas area hutan mangrove, sedang
kehidupan masyarakat di sekitarnya baik secara                    afforestasi adalah penanaman mangrove pada area
langsung atau tidak langsung (Setyawan dkk., 2003).               yang semula bukan hutan mangrove.
   Terdapat tiga kata kunci yang penting dalam                        Tulisan ini bermaksud menjelaskan aktivitas
manajemen ekosistem mangrove, yaitu restorasi,                    restorasi ekosistem mangrove khususnya di Jawa,
kreasi (pembentukan), dan pengkayaan spesies                      sehingga fungsinya dapat kembali seperti semula.
(Lewis, 1990; Mish, 1989). Restorasi adalah tindakan              Penelitian yang luas telah dilakukan untuk memahami
                                                                  ekologi, struktur dan fungsi ekosistem mangrove.
                                                                  Namun, temuan-temuan tersebut belum diterapkan
♥ Alamat korespondensi:                                           dalam kerangka kerja manajemen, terbukti hutan
  Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta 57126                              mangrove di seluruh dunia terus mengalami
  Tel. & Fax.: +62-271-663375.                                    penurunan terutama akibat eksploitasi berlebih,
  e-mail: biology@mipa.uns.ac.id
106                        SETYAWAN dkk. – Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi


konversi ke tambak ikan dan udang, serta                 19 di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam
pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu             (Teas, 1980; Teas et al., 1975). Kegiatan manajemen
kiranya mengaitkan penelitian mangrove dengan            meliputi penanaman, penjarangan, penyiangan
manajemen lestari ekosistem tersebut.                    spesies yang tidak dikehendaki, dan persemaian
                                                         propagul, khususnya Rhizophora. Informasi silvikultur
                                                         mangrove untuk restorasi relatif masih sedikit. Pada
       SEJARAH RESTORASI MANGROVE                        saat ini telah diketahui spesies-spesies pohon yang
                                                         dapat digunakan untuk restorasi, namun kegiatan
    Penanaman dan pengelolaan mangrove memiliki          penciptaan ekosistem yang bernilai bagi perikanan
sejarah panjang di Asia Tenggara (Watson, 1928),         dan konservasi masih jarang (Kaly dan Jones, 1996).
meskipun catatan tertua mengenai manajemen                   Salah satu upaya mengintegrasikan perikanan dan
mangrove sebagai penghasil kayu terdapat di              konservasi mangrove dilakukan oleh Perhutani dan
Sundarbans, suatu hutan mangrove seluas 6.000 km2        masyarakat di pantai utara Jawa dengan sistem
di perbatasan India dan Banglades, yang dikelola         “empang parit” (“tambak tumpangsari”). Sistem ini
sejak 1769, dimana rencana kerja lengkap pengelola-      merupakan pengetahuan asli masyarakat Indonesia,
annya telah disempurnakan pada tahun 1893-1894           dimana pada hutan mangrove dibuat lajur-lajur
(Chowdhury dan Ahmed, 1994). Hutan mangrove              tambak untuk memelihara ikan, atau sebaliknya di
seluas 40.000 ha di Matang, Malaysia yang dikelola       atas tambak dibuat lajur-lajur tumbuhan mangrove,
sejak 1902 untuk menghasilkan kayu bakar (Watson,        misalnya di Brebes, Pemalang, Cirebon, Indramayu,
1928), merupakan contoh tertua dan terbaik mana-         Purwakarta, Karawang, dan Tanggerang (Anonim,
jemen hutan mangrove (Khoon dan Eong, 1995).             1991, 1997; Fitzgerald dan Savitri, 2002; Fitzgerald,
    Pada saat ini mangrove dikelola secara terinte-      1997, 2002; Tessar dan Insan, 1993; Hartina, 1996;
grasi untuk budidaya ikan dan udang (Primavera,          Widiarti dan Effendi, 1989).
1995), ekoturisme (Bacon, 1987), mencegah erosi              Di Jawa, sejarah restorasi ekosistem mangrove
(Teas, 1977), eksperimen biologi (Rabinowitz, 1978),     tidak banyak dicatat, namun berbagai individu dan
melindungi dari badai (Hamilton dan Snedaker,            lembaga, baik pemerintah maupun swasta, diyakini
1984), dan merestorasi kerusakan ekosistem akibat        terlibat dalam kegiatan ini meskipun jumlahnya relatif
tumpahan minyak (Duke, 1996). Restorasi ekosistem        terbatas. Salah satu contoh restorasi hutan mangrove
mangrove yang rusak antara lain dibahas oleh             yang dilakukan secara kontinyu dan cukup berhasil
Watson (1928), Noakes (1951), Chapman (1976),            adalah penanaman Rhizophora spp. di sepanjang
Lewis (1982), Hamilton dan Snedaker (1984), Lewis        pantai utara Rembang, khususnya di kecamatan kota.
(1990a, 1990b), Crewz dan Lewis (1991), Cintron-         Pada tahun 1980-an, pemerintah setempat bersama
Molero (1992), Saenger dan Siddiqi (1993), Siddiqi et    para pihak melakukan restorasi ekosistem mangrove
al. (1993), dan Field (1996).                            pada area dengan panjang sekitar 3000 m, dan lebar
    Penanaman kembali hutan-hutan daratan yang           antara 100-300 m. Pada saat ini tegakan yang
rusak (reboisasi) telah dilakukan selama ratusan         terbentuk sudah dapat menjalankan fungsi utamanya
tahun, namun reboisasi ekosistem mangrove baru           sebagai penahan gelombang laut, angin dan
akhir-akhir ini mendapatkan perhatian serius, seperti    mencegah pantai dari abrasi. Untuk menjaga
di Indonesia, Malaysia, Banglades, dan Cina.             kelestarian tumbuhan ini, masyarakat setempat
Banglades mempelopori penghutanan mangrove               diikutsertakan dalam kelompok-kelompok tani yang
dengan sukses sejak 1966 di atas tanah seluas            memiliki hak untuk memanen ekosistem yang ada,
113.000 ha (Choudhury, 2000). Malaysia sejak 1980        dengan tetap memperhatikan kelestariannya. Salah
menanam berbagai tumbuhan mangrove untuk                 satu kegiatan terkait konservasi yang cukup berhasil
membatu regenerasi alami dan memantapkan                 adalah pembibitan Rhizophora spp. untuk memenuhi
penutupan hutan (Hassan, 1981). Penghutanan              kebutuhan bibit proyek-proyek rehabilitasi hutan
mangrove di Cina dimulai pada akhir 1950-an dan          bakau di Jawa. Kawasan ini merupakan salah satu
diaktifkan lagi pada tahun 1980 (Baowen et al., 1997).   pusat pembibitan Rhizophora spp. terbesar di Jawa.
Di Indonesia, reboisasi mangrove diawali di Sinjai,      Pantai utara Rembang merupakan tidal flat bagi
Sulawesi pada tahun 1985 diprakarsai sekelompok          sungai-sungai di sekitarnya, seperti Sungai Delok,
nelayan. Kesuksesan upaya ini mendorong reboisasi        Sungai Anyar, dan Sungai Lasem, sehingga
mangrove di seluruh Indonesia (Choudhury, 1996). Di      memungkikan terus berlanjutnya perluasan ekosistem
atas kertas, rehabilitasi mangrove mendapatkan           mangrove ke arah laut. Suatu tindakan yang hingga
perhatian cukup besar dalam Strategi Nasional            saat ini masih terus dilakukan oleh pemerintah
Pengelolaan Mangrove di Indonesia (Anonim, 2003),        setempat. Pada akhirnya lokasi ini bernilai konservasi
namun implementasi di lapangan tampaknya masih           karena menarik berbagai hidupan liar yang megah,
jauh dari harapan. Kegagalan beberapa kegiatan           khususnya spesies-spesies burung air. Di samping itu
restorasi ditengarai karena pendekatan “proyek” yang     terdapat pula nilai edukasi dan turisme, dimana
menyebabkan lemahnya manajemen pelaksanaan.              sering disinggahi pelancong di jalur pantura dan
    Silvikultur mangrove (penanaman, pemeliharaan,       menjadi lokasi praktikum dan penelitian mahasiswa
dan pemanenan) telah dilaksanakan sejak abad ke-         dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas
                             B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118                     107

Diponegoro Semarang, dan lain-lain (ADS, 2002-                                   TUJUAN RESTORASI
2003, pengamatan pribadi). Upaya restorasi mangrove
dengan pola serupa, yakni memberi peran aktif                     Tujuan utama restorasi mangrove adalah menge-
kepada masyarakat juga dilakukan di Probolinggo,              lola struktur, fungsi, dan proses-proses ekologi pada
Jawa Timur (Sudarmadji, 2003, komunikasi pribadi).            ekosistem tersebut, serta mencegahnya dari
Tampaknya pelibatan aktif masyarakat merupakan                kepunahan, fragmentasi atau degradasi lebih lanjut
salah satu unsur utama keberhasilan pengelolaan               (Anonim, 2001). Restorasi diperlukan apabila
kawasan pesisisir (Suara Pembaruan, 03/03/2002).              ekosistem telah terdegradasi dan berubah jauh, tidak
    Salah satu contoh upaya restorasi mangrove yang           dapat memperbaharui diri secara alami untuk kembali
kurang berhasil terjadi di muara Sungai Bogowonto,            ke kondisi semula, serta tidak dapat melaksanakan
satu-satunya ekosistem mangrove di Propinsi Daerah            fungsi sebagaimana mestinya, sehingga memerlukan
Istimewa Yogyakarta dan berbatasan dengan Pro-                pengelolaan dan perlindungan (Stevenson et al.,
pinsi Jawa Tengah. Upaya ini telah dilakukan sejak            1999; Morrison, 1990). Pada kondisi ini, homeostasis
tahun 1990-an, namun hasilnya tidak memuaskan.                ekosistem secara permanen terhenti, sehingga
Tidak adanya kesamaan persepsi antara para pihak              menghambat proses suksesi sekunder secara normal
yang berkepentingan tampaknya menjadi penyebab                untuk menyembuhkan area yang rusak (Stevenson et
utama kegagalan. Universitas, lembaga swadaya                 al., 1999). Konsep ini belum banyak dibahas,
masyarakat, dan sebagian organ pemerintah setem-              pembahasan baru dilakukan antara lain oleh
pat merasa berkepentingan untuk menjaga keles-                Detweiler et al. (1976), Ball (1980), dan Lewis (1982).
tarian ekosistem mangrove. Pengusaha dan sebagain                 Tujuan restorasi lainnya adalah memperkaya
organ pemerintah lainnya mencoba mengambil                    landskap, mempertahankan keberlanjutan produksi
keuntungan ekonomi dengan membuat tambak.                     sumberdaya alam (khususnya perikanan dan kayu),
Adapun masyarakat setempat secara turun-temurun               melindungi kawasan pantai, serta fungsi sosial
memanfaatkan tepian lahan untuk bertani dan bagian            budaya (Watson, 1928; Field, 1996; Morrison, 1990;
tengah untuk padang penggembalaan kerbau (Bos                 Lewis, 1992, Aksornkoea, 1996; Stevenson et al.,
bubalis). Semua kepentingan tersebut tidak dikelola           1999). Tujuan restorasi perlu ditetapkan berdasarkan
secara integratif, sehingga boleh jadi saling merugi-         masukan dari para pihak dan merupakan konsensus
kan. Upaya konservasi dengan mengembalikan lahan              bersama, sehingga mendapat dukungan secara luas
menjadi hutan mangrove dapat menafikan upaya                  (Fitzgerald, 1997), tanpa dukungan para pihak se-
pengusaha untuk membuat tambak dan upaya petani               tempat keberhasilan restorasi dalam jangka panjang
untuk terus memanfaatkannya sebagai lahan bertani             sangat kecil (Primavera dan Agbayani, 1996).
dan menggembalakan ternak. Upaya pembuatan                        Keuntungan restorasi komunitas mangrove
tambak dapat menggusur lahan bercocok tanam dan               meliputi: konservasi dan pengembalian spesies yang
penggembalaan ternak, serta berpotensi menghan-               pernah ada, spesies yang memiliki daerah jelajah
curkan lahan mangrove yang tersisa. Sedangkan                 luas, dan burung-burung migran; mendaur-ulang
upaya petani mempertahankan lahan untuk bertanam              nutrien dan menjaga keseimbangan nutrisi pada
dan menggembala ternak dapat menghambat upaya                 muara sungai; melindungi jaring-jaring makanan pada
perluasan tambak dan mematikan benih mangrove                 hutan mangrove, muara, dan laut; menjaga habitat
yang diharapkan dapat menyebar dan menutupi                   fisik dan tempat pembesaran anakan berbagai
seluruh laguna sebagaimana dahulu. Apabila tidak              spesies laut komersial; melindungi lahan dari badai,
dikelola dengan tepat, permasalahan ini akan meng-            menjaga garis pantai, dan mengendapkan lumpur;
habiskan energi, dana, dan sumber daya tanpa hasil            meningkatkan kualitas dan kejernihan air dengan
yang memadahi (ADS, 2002-2003, pengamatan pribadi).           menyaring dan menjebak sampah dan sedimen yang
    Kegiatan restorasi lahan mangrove di Jawa                 dibawa air permukaan dari hulu sungai. Pada
dengan ukuran yang signifikan, antara lain juga telah         akhirnya, preservasi ekosistem mangrove membantu
dilakukan di teluk Jakarta, Muara Angke, Bekasi,              menjaga keseluruhan kondisi alami dan keindahan
Indramayu, Pemalang, Tegal, dan Demak dengan                  panorama muara sungai dan nilai ekonomi kawasan
dipelopori oleh Yayasan Mangrove Indonesia)                   pesisir (Anonim, 2001).
(Anonim, 2003). Kegiatan restorasi juga dilakukan di              Dalam restorasi mangrove kadang-kadang hanya
Segara Anakan oleh Badan Pengelola Kawasan                    fungsi tertentu saja yang ingin dikembalikan, karena
Segara Anakan (BPKSA) (Suara Pembaruan,                       beberapa parameter seperti kondisi dan tipe tanah,
19/04/2003), muara sungai Porong oleh Pemerintah              serta spesies tumbuhan dan hewan telah berubah
Kabupaten Sidoarjo (Republika Online, 15/07/2002),            (Lewis, 1990b, 1992). Restorasi yang bertujuan
Telukawur-Semat,       Jepara    oleh      Universitas        mengembalikan suatu area sepenuhnya ke kondisi
Diponegoro Semarang (Suara Merdeka, 09/04/2003),              alami seperti sebelum dibangun, memiliki tingkat
dan lain-lain. Dalam jumlah yang lebih kecil, kegiatan        kegagalan jauh lebih tinggi dibandingkan restorasi
ini diyakini banyak di lakukan di berbagai lokasi,            karakter dan fungsi ekosistem tertentu saja (Lewis et
termasuk pada muara-muara sungai di pantai selatan            al., 1995). Restorasi ke tipe habitat asli kemungkinan
Jawa, misalnya di Purworejo dan Kebumen (ADS,                 juga bukan pilihan terbaik untuk skala regional,
2002-2003, pengamatan pribadi).                               khususnya apabila ekosistem yang rusak hanya
108                        SETYAWAN dkk. – Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi


bagian kecil dari suatu tipe ekosistem yang umum,        tahun 1970 terjadi akselerasi pertambakan, khusus-
namun apabila tipe ekosistem tersebut sangat langka      nya dengan ditemukannya metode budidaya intensif
maka restorasi ke kondisi asli barangkali diperlukan     udang di tambak (Fitzgerald dan Savitri, 2002),
(Cairns, 1988). Dalam tulisan ini, hanya disinggung      sehingga sejumlah besar area mangrove di pantai
praktek restorasi mangrove dengan tujuan melindungi      utara Jawa diubah menjadi tambak. Namun tambak
pantai, mengembalikan tambak yang rusak, serta           udang intensif berkonsekuensi pada perubahan
mengatasi kerusakan akibat tumpahan minyak.              kondisi hidrologi, edafit (tanah sulfat asam), penyakit,
                                                         dan pencemaran lingkungan, sehingga ratusan hektar
                                                         tambak beserta sarana produksinya dibiarkan rusak
Pelindung pantai                                         tidak terurus (Setyawan dkk., 2002). Dalam kondisi
    Di kawasan yang penuh aktivitas dan padat            demikian, Stevenson et al. (1999) menyarankan agar
penduduk, restorasi dapat ditujukan untuk melindungi     dilakukan restorasi mangrove pada tambak udang
pantai (Stevenson et al., 1999). Di pantai utara Jawa,   yang rusak, diikuti pembukaan area mangrove baru
abrasi merupakan fenomena yang sering terjadi,           untuk tambak udang.
seperti di Tangerang (Media Indonesia, 19/08/2002,           Pengamatan di beberapa kawasan pantai utara
03/10/2003), Jakarta (Media Indonesia, 17/06/2002),      Jawa      menunjukkan,        tingginya     sedimentasi
Indramayu (Pikiran Rakyat, 27/12/2002; Republika         menyebabkan garis pantai cenderung terus menuju
Online, 17/04/2002; Suara Pembaruan, 07/07/2002,         ke arah laut, dengan segaris mangrove tepi sebagai
11/12/2002; Pikiran Rakyat, 14/03/2003), Cirebon         batas antara laut dengan lahan budidaya masyarakat,
(Media Indonesia, 08/04/2003), Brebes (Media             umumnya berupa tambak bandeng, tambak udang
Indonesia, 28/07/2003), Tegal (Kompas, 06/08/2002),      atau tambak garam. Mangrove tepi ini sekaligus
Pemalang,       Pekalongan      (Media      Indonesia,   berfungsi sebagai pelindung dari ombak, badai, dan
31/05/2002; Republika Online, 15/07/2003), Kendal,       abrasi. Dalam periode tertentu, luasan dataran
Semarang, Demak, Jepara, dan Pati (Kompas,               lumpur yang ditumbuhi mangrove cukup untuk diubah
15/08/2002; Suara Merdeka, 26/01/2003).                  menjadi tambak dengan menyisakan segaris
    Pembabatan mangrove di beberapa kawasan              mangrove tepi, biasanya berupa tegakan Avicennia
terkait erat dengan kerusakan ekosistem ini,             atau Rhizophora. Pembukaan kawasan mangrove ini
meskipun dapat pula terjadi karena perubahan arus        umumnya dimulai dengan proses pelelangan oleh
laut akibat pengerukan pasir (Pikiran Rakyat,            aparat desa setempat, sehingga area ini berubah dari
04/04/2002; Media Indonesia, 15/09/2003), reklamasi      tanah publik menjadi tanah pribadi. Dalam hal ini,
pantai (Kompas, 06/10/2003), gangguan/pemindahan         tambak lama letaknya akan semakin jauh dari pantai,
muara sungai (Kompas, 10/11/2002), dan kerusakan         akumulasi perubahan kondisi hidrologi, edafit,
terumbu karang (Whitten et al., 2000). Restorasi         penyakit, dan pencemaran lingkungan menyebabkan
ekosistem mangrove diharapkan dapat memulihkan           tambak ini tidak lagi ekonomis untuk diusahakan.
kondisi lingkungan seperti semula, meskipun harapan      Upaya untuk mengembalikan area ini kembali ke
ini tidak selalu berhasil mengingat pada kasus           ekosistem mangrove merupakan tindakan mahal,
tertentu kerusakan yang timbul bersifat permanen         mengingat tanah tersebut merupakan milik pribadi,
sehingga penanaman mangrove tidak dapat                  serta adanya perubahan pola hidrologi. Akibatnya
mengatasi, tanpa perubahan kondisi-kondisi lain yang     banyak bekas-bekas tambak yang dibiarkan tidak
menyebabkan perubahan arus laut. Di samping itu          terawat (Jawa: bera). Dalam jumlah cukup signifikan,
kesembuhan ekosistem mangrove bersifat jangka            kondisi demikian dapat dijumpai pada “cekungan”
panjang, dimana pada kasus tertentu, kecepatan           antara gunung Muria dan gunung Lasem, salah satu
abrasi jauh melebihi kemampuan tumbuhnya                 produsen bandeng budidaya terbesar di Jawa, yang
mangrove. Meskipun pada akhirnya abrasi akan             meliputi Kabupaten Pati dan Rembang. Pada kondisi
terhenti dengan sendirinya apabila pola arus laut        ketersediaan air tawar mencukupi, secara gradual
kembali seimbang. Dalam hal ini pembangunan              bekas tambak dapat diubah menjadi sawah, seperti di
tanggul dan pemecah gelombang tampaknya lebih            sepanjang pesisir Demak, meskipun untuk itu perlu
sesuai (Pikiran Rakyat, 27/12/2002).                     dibangun tanggul dan bendungan untuk mencegah
                                                         masuknya air laut di kala pasang (ADS, 2002-2003,
                                                         pengamatan pribadi).
Restorasi mangrove pada bekas tambak udang                   Di Indonesia, upaya restorasi mangrove pada
    Restorasi secara khusus dapat pula ditujukan untuk   bekas tambak udang dalam luasan yang signifikan
mengembalikan bekas tambak udang ke ekosistem            dan cukup berhasil antara lain dilakukan di teluk
mangrove. Hingga kini sangat sedikit laporan             Benoa, Bali. Budidaya udang di kawasan ini dimulai
berkenaan dengan restorasi tambak (Stevenson dkk.,       pada tahun 1991, dan program restorasi dimulai sejak
1999). Pembangunan tambak udang merupakan                tahun 1995, dimana sekitar 350 ha tambak udang
salah satu penyebab utama kerusakan ekosistem            rusak ditanami mangrove kembali. Penanaman
mangrove di Jawa. Tambak ikan memiliki sejarah           dimulai dari bekas tambak paling dekat daratan
panjang di Jawa, dimana bandeng (Chanos chanos)          menuju arah laut (Stevenson dkk., 1999).
telah dibudidayakan sejak abad ke-15, namun pada
                            B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118                     109

Restorasi akibat tumpahan minyak                                        KERANGKA KERJA RESTORASI
    Mangrove yang mati akibat tumpahan minyak
dapat direstorasi untuk mengembalikan fungsi dan                 Secara umum dapat diformulasikan tiga langkah
penampakannya. Langkah ini dapat mempercepat                 utama untuk meriset restorasi habitat mangrove,
kesembuhan ekosistem. Biasanya restorasi hanya               yaitu: (i) menggambarkan status ekosistem, serta
ditekankan pada satu atau beberapa spesies kunci,            menentukan tujuan dan kriteria keberhasilan restorasi
restorasi ekosistem mangrove yang kompleks secara            (Lewis, 1990; Kusler dan Kentula, 1990; Pratt, 1994),
keseluruhan tergantung pada proses alami.                    (ii) pengembangan teknologi, meliputi pemilihan
Regenerasi baik secara alami maupun buatan segera            spesies, penentuan perlu tidaknya pekerjaan fisik dan
setelah tumpahan minyak tidak mungkin dilakukan,             restorasi buatan (Kaly dan Jones, 1996), (iii) menilai
karena minyak yang tersisa akan mematikan atau               keberhasilan restorasi, berdasarkan besarnya biaya
menghambat pertumbuhan mangrove. Contoh toksi-               dan kecepatan kesembuhan ekosistem (Henry dan
sitas pasca tumpahan minyak ditunjukkan di Panama            Amoros, 1995), yakni kembalinya aspek fungsional
tahun 1986, dimana propagul Rhizophora yang                  ekosistem tersebut (Kaly dan Jones, 1996).
ditanam 4 dan 6 bulan pasca kecelakaan semuanya                  Restorasi biasanya ditekankan pada penanaman
mati, sedang propagul yang ditanam 9 bulan atau              tumbuhan mangrove, namun sebelumnya perlu
lebih setelah kecelakaan dapat hidup (IPIECA, 1993).         diketahui penyebab kerusakan, menghilangkan
    Lama waktu degradasi racun minyak bumi tergan-           penyebab tersebut, dan membiarkan proses
tung tipe tanah, arus pasang surut, dan curah hujan.         penyembuhan secara alami (Lewis dan Streever,
Penanaman mangrove tidak harus menunggu racun                2000; Hamilton dan Snedaker, 1984). Keberhasilan
tersebut sepenuhnya hilang. Regenerasi alamiah               restorasi mangrove akan meningkat apabila kondisi
mangrove yang mati akibat tumpahan minyak dapat              habitat telah diidentifikasi; memperhatikan hak milik
terjadi, tetapi proses ini kemungkinan sangat lambat         atas tanah dan rencana perlindungan habitat liar
karena adanya sisa-sisa minyak yang beracun,                 secara menyeluruh; pengelolaan hidrologi dan
kurangnya suplai propagul dari kawasan sekitarnya            introduksi tumbuhan asing untuk memperkaya,
atau hambatan propagul untuk mencapai lokasi,                merestorasi, dan menjaga keanekaragaman spesies;
akibat adanya sisa-sisa batang dan akar mangrove             dan terdapat peraturan perundang-undangan yang
mati yang menghalanginya (IPIECA, 1993).                     tegas (Anonim, 2001). Hutan mangrove dapat
    Regenerasi buatan atas ekosistem mangrove                memulihkan diri sendiri tanpa upaya restorasi melalui
yang rusak oleh tumpahan minyak dapat dipercepat             suksesi sekunder pada periode 15-30 tahun, apabila
dengan mengganti tanah tercemar pada lubang                  siklus hidrologi normal dan tersedia biji atau propagul
penanaman dengan tanah dari daratan, baru ditanami           dari ekosistem mangrove di sekitarnya (Watson,
propagul. Dapat pula dengan menanam bibit pada               1928;     Lewis,    1982;     Cintron-Molero,    1992).
wadah yang memisahkannya dari tanah tercemar,                Regenerasi buatan hanya diperlukan untuk
dengan berjalannya waktu wadah ini akan rusak dan            mempercepat proses alami (McKee dan Faulkner,
toksisitas tanah akan menurun, sehingga bibit dapat          2000) atau apabila kesembuhan alami tidak mungkin
tumbuh normal. Dapat pula dilakukan pembibitan               terjadi akibat perubahan homeostasis yang terlalu
propagul, sehingga bibit akan siap ditanam pada saat         jauh (Lewis dan Streever, 2000). Kegagalan melihat
toksisitas tanah sudah menurun. Cara regenerasi di           penyebab degradasi merupakan penyebab utama
atas berhasil diterapkan di Panama, dimana area se-          kegagalan restorasi mangrove.
luas 75 ha ditanami lebih dari 86.000 bibit mangrove.            Menurut Sanyal (1998) antara tahun 1989-1995
Dua tahun pasca tumpahan minyak, saat regenerasi             area seluas 9,050 ha di Bengali Barat, India ditanam
alami mulai terbentuk, bibit hasil penanaman telah           mangrove, namun tingkat keberhasilannya hanya
mencapai tinggi 1 meter dengan tingkat keberhasilan          1,52%. Sebaliknya Soemodihardjo et al. (1996)
hidup lebih dari 90% (IPIECA, 1993).                         melaporkan bahwa hanya 10% area yang ditebangi di
    Di Jawa restorasi ekosistem mangrove yang rusak          Tembilahan, Indonesia (715 ha) yang memerlukan
akibat tumpahan minyak bumi tampaknya belum per-             penanaman ulang, sebab kawasan tersebut masih
nah dilakukan. Dalam skala Indonesia, hal ini pernah         menyisakan lebih dari 2.500 seedling alami setiap ha.
dilakukan di delta Mahakam, Kalimantan Timur                 Mangrove       dapat      juga     dibentuk     dengan
dengan bibit Sonneratia caseolaris (Dutrieux et al.,         menghutankan kawasan intertidal yang tidak
1990). Di Jawa, dampak negatif tumpahan minyak               bervegetasi atau area lain yang secara alami tidak
bumi terhadap ekosistem mangrove dapat diamati di            memungkinkan kedatangan propagul mangrove,
sekitar sungai Donan, Segara Anakan, Cilacap                 misalnya tanah timbul, namun area ini sering juga
dimana terdapat industri pengilangan minyak.                 melayani tujuan ekologis lain seperti menjadi tempat
Kawasan ini secara periodik terpengaruh tumpahan             mencari makan burung-burung air (Lewis dan
minyak baik dari industri tersebut maupun kapal-kapal        Streever, 2000). Penanaman ini juga dapat
tangker yang melayaninya. Ukuran pohon mangrove              mempengaruhi vegetasi akuatik lain seperti padang
yang dekat dengan lokasi tersebut umumnya lebih              lamun (Phillips dan McRoy, 1980).
kecil, lebih pendek, dan lebih jarang dibandingkan               Terdapat lima langkah penting bagi keberhasilan
lokasi yang jauh (Hardjosuwarno, 1989).                      restorasi mangrove (Lewis dan Marshall, 1997):
110                         SETYAWAN dkk. – Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi


(i) Pemahaman autekologi setiap spesies mangrove,          menyertakan masukan lokal akan lebih berhasil dan
      meliputi pola reproduksi, distribusi propagul, dan   mendapatkan dukungan politis lebih besar. Dua
      pemantapan seedling.                                 pendekatan telah digunakan di restorasi area
(ii) Pemahaman pola hidrologi yang mempengaruhi            mangrove yang terdegradasi, yaitu regenerasi buatan
      distribusi, pemantapan, dan pertumbuhan spesies      dan alami (Kairo et al., 2001).
      mangrove yang diinginkan.                                Keberhasilan harus dapat diukur sebagai derajat
(iii) Pemahaman perubahan lingkungan yang dapat            dimana fungsi ekosistem alami yang digantikan dapat
      mencegah suksesi sekunder secara alami.              ditingkatkan. Hal ini tidak hanya ditentukan
(iv) Restorasi sifat hidrologi, dan bila memungkinkan      berdasarkan spesies yang hadir dan fungsi yang
      penggunaan propagul alami.                           terkait denganya, tetapi juga sifat fisik, kimia dan
(v) Penanaman dilakukan apabila jumlah rekruitmen          biologi habitat. Ekosistem yang direstorasi juga harus
      alami tidak mencukupi untuk penyembuhan.             dapat merespon cekaman dan perubahan lingkungan
                                                           sepanjang waktu sebagaimana ekosistem alami.
                                                           Beberapa faktor penting yang terkait dengan
KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN RESTORASI                       keberhasilan restorasi wetland adalah kemampuan
                                                           untuk mengakses dan membuat kembali hidrologi,
    Pada bagian pertama tulisan ini telah                  serta mengelola dan melindungi wetland baru dalam
dikemukakan kondisi terkini ekosistem mangrove di          jangka panjang (Kusler dan Kentula, 1990).
Jawa, termasuk keterancaman dan kerusakan                      Secara     ringkas,    faktor-faktor  yang    perlu
(Setyawan dkk., 2003). Keberhasilan restorasi              diperhatikan dalam restorasi mangrove mencakup
mangrove antar lokasi sulit digeneralisasikan, karena      stabilitas tanah dan pola penggenangan (Pulver,
tergantung kondisi lingkungan setempat dan spesies         1975), pasang surut dan ombak (Lewis, 1992, Field,
yang ditanam, sehingga perlu diketahui pola yang           1996), elevasi (Hoffman et al., 1985), salinitas dan
mendasari terbentuknya tegakan mangrove (Field,            aliran air tawar permukaan (Jiminez, 1990),
1998a). Umumnya pola hidrologi dianggap sebagai            ketersediaan propagul (Loyche, 1989, Kairo et al.,
faktor utama yang mempengaruhi daya tahan dan              2001), predasi propagul (Dahdouh-Guebas et al.,
pertumbuhan seedling mangrove (Field, 1996,                1997, 1998), jarak dan kerapatan (FAO, 1985, Kairo
1998b). Oleh karena itu, mangrove ditanam pada             et al., 2001), eradikasi gulma (Saenger dan Siddique,
lokasi dengan ombak kecil, dimana tingkat erosi            1993), teknik pembibitan (Siddique et al., 1993),
pantai minimal. Pengetahuan zonasi spesies                 pemantauan         (Lewis,     1990b),    keikutsertaan
mangrove diperlukan untuk menentukan area yang             masyarakat (Kairo dkk., 2001) dan biaya yang
sesuai untuk spesies yang berbeda (Kairo et al.,           dibutuhkan (Field, 1998a). Di Jawa, kegagalan
2001). Zonasi ini merupakan hasil toleransi                restorasi mangrove dapat disebabkan oleh kesalahan
lingkungan dan pilihan fisiologis setiap spesies           pemahaman pola hidrologi, perubahan arus laut, tipe
(Rabinowitz, 1978). Setiap spesies mangrove                tanah, pemilihan spesies, penggembalaan hewan
mempunyai suatu cakupan toleransi yang spesifik            ternah, sampah, kelemahan manajemen, dan
terhadap parameter-parameter lingkungan, seperti           ketiadaan partisipasi masyarakat (ADS, 2002-2003,
kadar garam, genangan pasang surut, keteduhan,             pengamatan pribadi).
elevasi daratan dan lain-lain. Hal ini membatasi zona          Kelemahan manajemen dan tidak adanya peran
yang sesuai bagi keberadaannya. Sonneratia alba            aktif masyarakat merupakan penyebab utama
dan Rhizophora akan tumbuh pada perbatasan                 kegagalan restorasi di beberapa lokasi di Jawa,
ekosistem mangrove dengan laut, sebab tidak                selain akibat melanggar langkah-langkah penting lain.
mampu menoleransi fluktuasi konsentrasi garam              Kegagalan restorasi mangrove di muara Bogowonto
yang besar, sedang Ceriops tagal dan Avicennia             antara lain juga disebabkan kesalahan pemilihan
marina dapat menoleransi kadar garam yang tinggi           sumber propagul dan pemahaman pola genangan.
sehingga ditemukan pada batas ekosistem mangrove           Penanaman Sonneratia spp. dengan bibit dari Segara
dengan daratan. Oleh karena itu, Sonneratia dapat          Anakan Cilacap ke Sungai Bogowonto pada tahun
ditanam pada dataran lumpur yang berbatasan                1997 menunjukkan kegagalan pertumbuhan akibat
langsung dengan laut, sedangkan Ceriops dan                adanya genangan. Secara alami, setiap tahun di
Avicennia dapat ditanam pada lokasi kering yang            musim      kemarau      muara      Sungai   Bogowonto
berbatasan dengan daratan (Kairo et al., 2001).            mengalami penggenangan sekitar 4-6 minggu. Hal ini
    Faktor penting lainnya yang menentukan                 terjadi karena terbentuknya gumuk pasir (sanddunes)
keberhasilan proyek restorasi adalah tingkat               yang membendung muara sungai. Bendungan ini
kerjasama dari masyarakat dan para pemimpin lokal.         akan jebol dengan sendirinya ketika volume air yang
Tekanan populasi lokal akan mempengaruhi struktur          terbendung melimpah. Bibit Sonneratia spp. dapat
dan fungsi ekosistem mangrove di sekitarnya.               bertahan hingga tahun 1999, karena pada tahun 1998
Pendidikan lingkungan dapat mendorong keterlibatan         tidak terjadi genangan yang cukup berarti akibat
aktif dan keikutsertaan publik yang lebih besar.           curah hujan dan debit air sungai cukup tinggi
Keduanya merupakan isu penting dalam manajemen             sepanjang tahun sehingga mampu menembus gumuk
dan konservasi mangrove. Keputusan manajemen               pasir di muara sungai. Namun pada musim kemarau
                               B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118                    111

tahun 1999, kembali terjadi genangan selama 6                   bubalis), sehingga seedling alami hanya dapat berta-
minggu, sehingga hampir semua populasi Sonneratia               han di kawasan yang sulit dijangkau ternak, sedang-
spp. dari Segara Anakan Cilacap mati terendam,                  kan penanaman sengaja hanya dapat dilakukan pada
namun populasi lokal tetap bertahan (Tjut S. Djohan,            area yang dipagari, yang biasanya telah rusak se-
2001, komunikasi pribadi). Pengamatan isozim oleh               belum seedling cukup tinggi, sehingga akan dimakan
penulis menunjukkan adanya perbedaan pola pita                  kerbau (ADS, 2002-2003, pengamatan pribadi).
isozim populasi Sonneratia spp dari kedua lokasi                    Di pantai utara Jawa, kegagalan restorasi juga
tersebut. Menurut McPhaden (1999), badai El Nino                dapat disebabkan perubahan arus laut. Hal ini terjadi
South Oscillation (ENSO) pada tahun 1997-1998                   pada pantai-pantai terabrasi, dimana penanaman
merupakan yang terbesar sepanjang sejarah, hingga               mangrove akan sia-sia, selama penyebab utama
mencurahkan cukup banyak air ke kawasan barat                   abrasi belum diatasi, karena seedling yang ditanam
Pasifik,    setelah    sebelumnya       menyebabkan             ikut tergerus arus laut. Salah satu contoh
kekeringan hebat. Di samping itu kegagalan juga                 keberhasilan penanaman mangrove untuk mencegah
disebabkan perumputan oleh kerbau, sebagaimana                  abrasi ditemukan di kawasan Bulak-Semat, Jepara.
terjadi pada populasi Rhizophora spp (ADS, 2002-                Pada tahun 1980-an pantai di kawasan ini terabrasi
2003, pengamatan pribadi).                                      akibat kerusakan terumbu karang dan pembabatan
    Di pantai selatan Jawa, kegagalan restorasi juga            hutan mangrove. Pembuatan tanggul pemecah
terjadi di muara sungai Cakrayasan, Purworejo dan               gelombang dan penanaman mangrove terbukti dapat
muara sungai Luk Ulo, Kebumen. Pada tahun 2000,                 mengurangi efek abrasi. Pada saat ini Rhizophora
dilakukan restorasi ekosistem mangrove di kedua                 yang ditanam langsung berbatasan dengan bibir laut,
lokasi ini dengan spesies Rhizophora spp. Di muara              dan tanah dibawahnya ditutupi pasir putih,
sungai       Cakrayasan,      kegagalan         restorasi       menunjukkan garis pantai berhenti di bawah tegakan
kemungkinan besar disebabkan akumulasi sampah                   komunitas ini (ADS, 2002-2003, pengamatan pribadi).
dari hulu sungai pada awal musim hujan. Sampah,
seperti lembaran plastik, kantung plastik, tali dan lain-
lain menutupi area penanaman sehingga anakan                                       TEKNIK RESTORASI
mangrove tidak dapat tumbuh sempurna, bahkan
sebagian besar seedling yang perakarannya masih                     Kebanyakan restorasi hanya bertumpu pada
lemah ikut terhanyut ke laut. Di pantai utara Jawa, di          penanaman pohon mangrove, kurang memperhatikan
sepanjang muara-muara sungai di Demak, Jepara,                  struktur komunitas dalam jangka panjang atau
Pati, dan Rembang, kematian seedling akibat                     kaitannya dengan ekosistem di sekitarnya (Kusler
“terjerat” sampah domestik merupakan kejadian                   dan Kentula, 1990; Simberloff, 1990). Kebanyakan
umum. Secara unik “penjeratan” ini juga dilakukan               proyek restorasi mangrove hanya bersangkutan
oleh sejenis algae lembaran, Ulva spp. Spesies ini              dengan introduksi pohon mangrove, dengan harapan
hidup mengapung di tepi pantai dangkal terbuka,                 hidupan lain seperti kepiting, meiofauna, algae, ikan,
yang juga merupakan lokasi yang umum didatangi                  dan fauna mangrove lain akan mengikuti dengan
propagul alami, dan dipilih dalam program                       sendirinya ketika habitat yang dibuat telah mapan
penghijauan mangrove. Pada saat air pasang, Ulva                (Kaly dan Jones, 1996). Biasanya restorasi hanya
akan terangkat ke atas, dan ketika air surut akan               ditekankan pada satu atau beberapa spesies kunci,
tersangkut, melekat, dan mati pada seedling                     restorasi ekosistem mangrove yang kompleks secara
mangrove, sehingga menghambat pertumbuhan dan                   keseluruhan tergantung pada proses alami berikutnya
mematikan      seedling     tersebut.    Kondisi       ini      (IPIECA, 1993).
menyebabkan kerugian yang cukup berarti pada                        Teknik restorasi meliputi introduksi biji atau
program penghijauan bakau di tepi pantai Pasar                  propagul, anakan pohon, atau pohon yang lebih
Banggi, Rembang. Di Segara Anakan, kegagalan                    besar. Penanaman biji atau propagul dapat dilakukan
restorasi akibat sampah, kurang teramati mengingat              secara langsung di area yang direstorasi, atau
luasnya area mangrove tersebut (ADS, 2002-2003,                 disemaikan dahulu hingga setinggi 0,3-1,2 m
pengamatan pribadi). Ancaman terbesar ekosistem                 (Thorhaug, 1990). Penyemaian biji atau propagul
mangrove di kawasan ini adalah sedimentasi                      menjadi anakan pohon dapat meningkatkan
(Winarno dan Setyawan, 2002).                                   keberhasilan penanaman dibandingkan menanamnya
    Di muara sungai Luk Ulo, Kebumen selain                     secara langsung (Hannan, 1975; Thorhaug, 1990),
sampah, pola genangan, dan jenis tanah berpasir                 meskipun demikian suatu eksperimen di kawasan
yang cenderung kurang cocok bagi Rhizophora;                    tropis Australia menunjukkan bahwa keberhasilan
tampaknya penggembalaan merupakan penyebab                      hidup dan pertumbuhan bibit mangrove tidak ada
utama kegagalan restorasi. Lokasi mangrove yang                 perbedaan signifikan antara benih hasil semaian,
direstorasi merupakan area penggembalaan ternak                 cangkokan, dan benih yang ditanam langsung (Kaly
sapi (Bos sondaicus), sehingga seedling yang dita-              dan Jones, 1996).
nam tidak tersisa akibat perumputan. Hal sama terjadi               Strategi menghilangkan makrofauna pada awal
di muara sungai Bogowonto, dimana area mangrove                 restorasi dapat membantu pertumbuhan mangrove,
merupakan kawasan penggembalaan kerbau (Bos                     karena menjadi pemangsa atau parasit propagul dan
112                        SETYAWAN dkk. – Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi


tumbuhan muda. Smith (1987a,b,c) menemukan               mengeruk tanah di permukaan tambak yang
bahwa kepiting merupakan predator bibit mangrove         dikeringkan setebal 15 cm dan ditambahkan kapur
yang signifikan, dan dapat mempengaruhi distribusi       untuk mencegah pelepasan asam. Cara lain adalah
spesies di hutan mangrove. Kepiting dapat                menggenangi tanah dengan air pasang dan
memusnahkan sama sekali Avicennia marina dengan          membiarkan waktu untuk mengoksidasi asam
mengkonsumsi 100% propagul. Menurut Tampa dan            sebelum ditanami kembali. Tanah dikembalikan ke
Tampa (1988), Kumbang parasit Coccotrypes fallax         kondisi anoksik sebagaimana area lumpur pasang
(Scolytidae) dapat mengerumuni sampai 95%                surut alami. Di ekosistem mangrove tropis, bakteri
propagul dan seedling. Menurut Kitamura et al.           tanah memainkan peranan penting dalam jejaring
(1997), jenis hama dan penyakit utama seedling           makanan benthos, seperti memineralisasikan detritus
mangrove pada kebun bibit di Bali adalah kepiting,       organik dan mendaur ulang nutrien penting (Kaly dan
kumbang dan tikus.                                       Jones, 1996). Oleh karena itu, proses biogeokimia
                                                         alami perlu didorong untuk menumbuhkan bakteri
                                                         (Alongi, 1994).
           RESTORASI FISIK HABITAT                           Polutan. Mangrove merupakan ekoton antara
                                                         kawasan daratan dan laut, sehingga pencemaran
    Sebelum dilaksanakan penanaman tumbuhan              yang terjadi di darat maupun di laut dapat menumpuk
mangrove, perlu dilakukan restorasi fisik habitat        di kawasan ini. Salaha satu jenis bahan pencemar
sehingga memungkinkan tumbuhan mangrove yang             yang menarik adalah tumpahan minyak bumi. Dalam
ditanam dapat tumbuh sehat. Secara umum habitat          suatu studi, Sonneratia caseolaris, digunakan
fisik yang perlu diperhatikan mencakup pola hidrologi,   sebagai tumbuhan pionir dan ditanam pada tanah
kondisi tanah dan adanya bahan pencemar.                 yang terpolusi minyak di delta Mahakam, sebagian
    Hidrologi. Ekosistem mangrove sudah lama             dari lokasi ini juga terpolusi pupuk nitrat dan sisa-sisa
dikenal sebagai pelindung dan pemantap garis pantai      dispersan minyak. Dalam hal ini restorasi diarahkan
(Othman, 1994), sehingga selamat dari angin topan        hanya untuk mengembalikan satu spesies mangrove
dan gelombang laut, namun mangrove hanya dapat           yang paling kuat sebagai starter. Minyak mempenga-
mempengaruhi tingkat pengendapan sedimen atau            ruhi kematian dan pertumbuhan seedling yang di-
erosi, tetapi tidak mengendalikannya (Gill, 1971;        tanam, tetapi dispersan berpengaruh lebih buruk lagi.
Hannan, 1975). Oleh karena itu pada pantai yang          Untuk itu area mangrove yang tertumpahi minyak se-
terabrasi akibat perubahan arus laut, tetap              baiknya tidak disemprot dispersan dan penanaman
memerlukan tanggul pemecah ombak seperti batu,           ditunda hingga beberapa bulan (Dutrieux et al., 1990).
kuadrapot, tiang pancang, karung goni atau bekas
ban (Teas et al., 1975; Hannan, 1975). Struktur
tersebut dapat mempercepat kesembuhan ekosistem                          REGENERASI ALAMI
mangrove (Lin dan Beal, 1995) dan mendorong
terbentuknya mangrove baru pada kawasan                       Regenerasi mangrove secara alami menggunakan
sekitarnya.      Hidrologi     yang   mempengaruhi       biji dan propagul alami (wildlings) sebagai sumber
keberhasilan restorasi mangrove, meliputi: pola          bibit, sehingga komposisi spesies yang tumbuh
pasang surut (frekuensi dan periode), ketinggian         tergantung pada populasi mangrove tetangganya.
sedimen dan drainase, serta masukan air tawar (Kaly      Kemampuan mangrove menyebar dan tumbuh
dan Jones, 1996). Kegagalan restorasi seringkali         dengan sendirinya tergantung pada kondisi hutan,
akibat sulitnya memperbaiki pola hidrologi (Kusler       arus pasang surut, dan stabilitas tanah (Kairo et al.,
dan Kentula, 1990). Pada area dimana terjadi             2001). Pada famili Rhizophoraceae, propagul
sedimentasi      pasir,    kemungkinan     diperlukan    dilengkapi dengan hipokotil runcing yang akan jatuh
pengerukan untuk mencapai tanah mangrove yang            dan menanam diri sendiri pada lumpur tidak jauh dari
kaya bahan organik. Restorasi hidrologi termasuk         induknya (La Rue dan Muzik, 1954), namun apabila
menghubungkan kembali area dengan laut terbuka           propagul tersebut jatuh pada saat air pasang atau
sehingga terjadi arus pasang surut yang normal           ombak tinggi, kadang-kadang tidak dapat menancap
(Brockmeyer et al., 1997, Turner dan Lewis, 1997),       di lumpur, bahkan tersapu dan terbawa arus laut,
serta pembatasan pengaruh gelombang akibat lalu          hingga tumbuh jauh dari induknya (Rabinowitz, 1978;
lintas perahu (Knutson et al., 1981).                    van Speybroeck, 1992).
    Kondisi tanah. Tanah sulfat asam (acid soil), yang        Penebangan hutan mangrove secara berlebihan
umum ditemukan pada area mangrove di seluruh             dapat menurunkan stabilitas tanah, sehingga
dunia tropis serta diakibatkan oleh oksidasi dan         propagul dan anak pohon mudah dihanyutkan ombak
asidifikasi sedimen yang mengandung pirit ketika         dan regenerasi alami sulit terbentuk (Kairo et al.,
penggalian dan pengeringan, merupakan tantangan          2001). Di Malaysia, direkomendasikan agar disisakan
potensial dalam restorasi ekosistem mangrove             sebanyak 12 pohon induk per ha, sebagai penyuplai
(Brinkman dan Singh, 1982). Tanah ini dapat memiliki     biji regenerasi alami (Tang, 1978, FAO, 1994), namun
pH 2 (Kaly dan Jones, 1996). Brinkman dan Singh          pada lokasi-lokasi dengan tingkat regenerasi rendah
(1982) mengurangi kondisi sulfat asam dengan             jumlah tersebut dapat dinaikkan. Di Thailand,
                                B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118                    113

penggunaan pohon induk diganti lajur-lajur mangrove                  Pada spesies mangrove tertentu ketersediaan
yang tidak ditebangi untuk menjaga regenerasi (FAO,              propagul tergantung musim. Propagul mangrove yang
1985). Kelebihan dan kekurangan regenerasi alami                 telah masak dikoleksi dari pohon induk, dari bawah
dan regenerasi buatan tersaji pada Tabel 1.                      pohon atau dari pantai. Pada Rhizophora dan Ceriops
                                                                 warna hipokotil dapat digunakan untuk membedakan
Tabel 1. Kelebih dan kekurangan regenerasi secara alami          propagul muda dari yang masak. Pada Avicennia,
(Kairo et al., 2001).                                            propagul masak dapat dipetik dengan mudah dari
                                                                 induknya dengan meninggalkan kelopak. Propagul
Kelebihan                                                        hasil koleksi dapat disimpan dalam kantung plastik
                                                                 lembab selama tiga hari hingga beberapa minggu, di
•   Lebih murah.                                                 tempat teduh, untuk meningkatkan daya tahan
•   Tidak memerlukan tenaga kerja dan peralatan.                 terhadap serangan kepiting (Watson, 1928, Dahdouh-
•   Lebih sedikit disturbansi pada tanah.                        Guebas et al., 1997). Propagul juga dapat dilindungi
•   Pertumbuhan anakan pohon lebih subur.                        dengan mengecat hipokotil atau meletakkannya
                                                                 dalam buluh bambu (FAO, 1994). Sepanjang
Kekurangan                                                       kelembaban dijaga, propagul mangrove dapat
                                                                 disimpan selama enam bulan (Kairo et al, 2001).
•   Spesies pengganti kemungkinan berbeda dengan
                                                                     Pada saat penanaman anak pohon baik dari
    spesies semula.
                                                                 kebun pembibitan atau hutan alam perlu dilakukan
•   Ketiadaan pohon induk menyebabkan bibit sedikit atau
    tidak ada.                                                   upaya melindungi akar, baik ketika dicabut atau
•   Pengkayaan genetika sulit terjadi.                           ditanam. Hal ini biasanya dilakukan dengan
•   Ombak laut dapat menyebabkan sulit mapan.                    menyekop anak pohon dengan diameter tanah
•   Terjadi predasi bibit oleh makrofauna (seperti kepiting      separuh tinggi anak pohon. Daya tahan propagul atau
    dan siput).                                                  anak pohon lebih baik (80-100% dari 70.000 setelah
•   Jarak tanam, asal dan komposisi spesies bibit sulit          24 bulan) dibanding pohon kecil (< 5% setelah 12
    dikontrol.                                                   bulan). Anak pohon dari kebun pembibitan memiliki
                                                                 daya tahan lebih tinggi (80-100% setelah 24 bulan)
                                                                 dibandingkan seedling alami (Kairo et al., 2001).
               REGENERASI BUATAN                                     Bibit mangrove dapat pula diperoleh dengan
                                                                 mencangkok, misalnya pada Rhizophora mangle,
    Regenerasi mangrove secara alami dapat berlang-              Avicennia germinans, dan Laguncularia racemosa
sung lambat, karena perubahan kondisi tanah, pola                (Calton dan Moffler, 1978). Keberhasilan teknik ini
hidrologi, dan terhambatnya suplai bibit. Regenerasi             tergantung spesies, terdapat perbedaan signifikan
buatan pertama-tama harus memperbaiki pola hidro-                (p<0,001) keberhasilan pertumbuhan akar antara
logi dan penanaman hanya dilakukan jika rekrutmen                Sonneratia alba (58,8%), Lumnitzera racemosa
alami tidak mencukupi atau kondisi tanah mengha-                 (36,5%),    dan     Xylocarpus   granatum      (4,4%).
langi pemantapan alami. Penanaman mangrove telah                 Regenerasi buatan memiliki beberapa keuntungan
berhasil dilaksanakan di Indonesia, Malaysia, India,             antara lain: distribusi dan komposisi spesies dapat
Filipina, Thailand, dan Vietnam. Kebanyakan spesies              diatur, tumbuhan dapat diperkaya secara genetik, dan
yang ditanam termasuk dalam famili Rhizophoraceae,               serangan hama dapat dikendalikan (Field, 1998a).
Avicenniaceae, dan Sonneratiaceae (Kairo et al.,
2001). Teknik regenerasi buatan umumnya
menggunakan propagul, kadang-kadang anak pohon                                   SPESIES YANG DITANAM
(tinggi < 1,2 m), tetapi jarang menggunakan pohon
kecil (tinggi > 6 m). Metode ini sudah digunakan sejak              Informasi teknik pembibitan mangrove memusat
Watson (1928) hingga kini (Kogo et al., 1987,                    pada beberapa spesies mangrove mayor. Dari sekitar
Qureshi, 1990, Siddique et al., 1993).                           60 spesies pohon dan semak mangrove mayor dan
    Propagul Rhizophora sering dipilih karena memiliki           minor, serta sekitar 20 spesies tumbuhan asosiasi,
hipokotil panjang sehingga dapat ditancapkan                     hanya 12 spesies yang biasa digunakan untuk
langsung di lapangan, namun teknik ini tidak dapat               restorasi, yaitu Rhizophora, Avicennia, Sonneratia,
digunakan pada anggota genus mangrove lain. Pada                 Bruguiera, Heritiera, Lumnitzera, Ceriops, Excoe-
umumnya, propagul ditanam dengan jarak 1 meter                   caria, Xylocarpus, Nypa, Cassurina, dan Hibiscus.
(10.000 per ha). Pada mangrove, angka kematian                   Penentuan spesies yang dipilih tergantung pada
bibit awal relatif rendah, tetapi tingkat daya hidup             tekstur tanah, kadar garam, dan lama penggenangan,
yang diharapkan biasanya hanya sekitar 50%,                      serta iklim mikro lainnya (Choudhury, 1996; 2000).
sehingga diperoleh kepadatan hutan mangrove                         Di kebanyakan negara, pada mulanya penanaman
dewasa yang ideal, sekitar 1.000 pohon per hektar (1             mangrove dilakukan dengan propagul atau seedling
pohon per 10 m2). Penanaman anak pohon sebaiknya                 yang dikumpulkan dari lantai hutan. Sekarang
dilakukan pada awal musim hujan, meskipun dapat                  material yang digunakan adalah seedling alami, biji
pula ditanam sepanjang tahun (Kairo et al., 2001).               atau propagul, dan seedling pembibitan. Hutan
                                                     B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118                                                                            1
Tabel 2. Teknik penanaman beberapa spesies mangrove yang utama di Bali (Kitamura dkk., 1997).

                     Rhizophora                Rhizophora apiculata Bruguiera                 Sonneratia alba           Avicennia marina          Ceriops tagal           Xylocarpus
                     mucronata                                      gymnorrhiza                                                                                           granatum
Musim buah           September-Desember        Desember-Pebruari    Mei-Desember              April-Juni dan            Desember-Pebruari         Agustus-Desember        September-Desember
                                                                                              September-Oktober
Kriteria buah        Kotiledon hijau muda      Kotiledon merah,        Kotiledon hijau tua    Buah jatuh dari pohon,    Berat buah tanpa          Kotiledon kuning,       Buah kuning hingga
                     atau kuning, panjang >    panjang > 20 cm,        hingga merah,          biji mengapung di air     kelopak 1,5 g, panjang    panjang > 20 cm,        cokelat, permukaan
                     50 cm, dipilih propagul   diameter > 1,4 cm,      panjang > 20 cm.       tawar.                    > 1,8 cm. Sebelum         dipilih propagul yang   biji cokelat kekuningan
                     yang bebas penyakit.      dipilih propagul yang                                                    ditanam direndam air      bebas penyakit.         dengan bintik-bintik
                                               bebas penyakit                                                           semalam untuk                                     kelabu, tali ari tampak.
                                                                                                                        membuang kulitnya.
Media tanam          Tanah tepi tambak.        Tanah tepi tambak.      Tanah tepi tambak.     Tanah yang dicampur       Tanah tepi tambak.        Tanah tepi tambak.      Tanah tepi tambak.
                                                                                              30% pupuk kandang.
Pembibitan            Propagul ditancapkan     Propagul ditancapkan    Propagul ditancapkan   Biji dipendam sedalam     Biji dipendam sedalam      Biji dipendam          Biji diletakkan di atas
                     sedalam 10 cm.            sedalam 5 cm.           sedalam 5 cm.          separuh panjangnya,       1/3 panjangnya,           sedalam 5 cm.           tanah dengan posisi
                                                                                              dua biji per pot.         diletakkan bebas dari                             radikula di bawah.
                                                                                                                        pasang surut hingga
                                                                                                                        berakar.
Naungan              50%                       50%.                    30%.                   30%.                      30%.                      50%.                    30%.
Pengairan            Mengikuti arus            Mengikuti arus          Mengikuti arus         Mengikuti arus            Disiram dua kali          Mengikuti arus pasang   Mengikuti arus pasang
                     pasang-surut.             pasang-surut.           pasang-surut.          pasang-surut dan          sehari pada saat tidak    surut, dan disiram      surut, dan disiram
                                                                                              pengairan buatan          ada pasang, dan           pada saat air surut.    pada saat air surut.
                                                                                              setiap hari.              sekali ketika ada
                                                                                                                        pasang, saat air surut.
Hama dan penyakit    Kepiting, ulat, dan       Tidak ada yang cukup    Tidak ada yang cukup   Tikus, kepiting, dan      Tikus, kepiting, dan      Tidak ada yang cukup    Tidak ada yang cukup
                     kumbang.                  berarti.                berarti.               ulat.                     ulat.                     berarti.                berarti.
Cara mengatasi       Kepiting memakan                                                         Tikus memakan biji,       Tikus memakan biji, ,
                     propagul baru, diatasi                                                   daun muda dan tunas       diatasi dengan
                     dengan meletakkan                                                        muda, diatasi dengan      memasang jaring
                     pangkal bibit setinggi                                                   memasang jaring           keliling kebun.
                     20 cm di atas dasar.                                                     keliling kebun.           Kepiting memakan
                     Ulat dan kumbang                                                         Kepiting memakan          tunas muda dan daun,
                     memakan ujung                                                            tunas muda dan daun,      diatasi dengan
                     propagul, diatasi                                                        diatasi dengan            memasang lembaran
                     secara manual.                                                           memasang lembaran         plastik keliling kebun.
                                                                                              plastik keliling kebun.   Ulat diatasi dengan
                                                                                              Ulat diatasi dengan       memasang jaring
                                                                                              memasang jaring           halus keliling kebun.
                                                                                              halus keliling kebun.
Lama pembibitan      4-5 bulan, tinggi         4-5 bulan, tinggi     3-4 bulan, tinggi        5-6 bulan, tinggi         3-4 bulan, tinggi         6-7 bulan, tinggi       3-4 bulan, tinggi
                     seedling > 55 cm,         seedling > 30 cm,     seedling > 35 cm,        seedling > 15 cm,         seedling > 30 cm,         seedling > 20 cm,       seedling > 20 cm,
                     jumlah daun 2 pasang.     jumlah daun 2 pasang. jumlah daun > 3          jumlah daun > 3           jumlah daun > 3           jumlah daun > 2         jumlah daun > 2
                                                                     pasang.                  pasang.                   pasang.                   pasang.                 pasang.
Penanaman            Polibag dibuang dan       Polibag dibuang dan   Polibag dibuang dan      Polibag dibuang.          Polibag dibuang.          Polibag dibuang dan     Polibag dibuang.
                     1/3 bagian propagul       1/3 bagian propagul   1/3 bagian propagul                                                          1/3 bagian propagul
                     dibenamkan.               dibenamkan.           dibenamkan, pada                                                             dibenamkan.
                                                                     penaman langsung
                                                                     kelopak tidak dibuang.
                             B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118                                1


mangrove alami biasanya memiliki sejumlah besar               Malaysia biasanya dipilih propagul dalam praktek
seedling alami. Mereka sering kali sama tingginya             penanaman, sehingga spesies yang ditanam
umurnya bervariasi mulai dari 1-6 tahun. Seedling             umumnya Rhizophora (Choudhury, 2000).
alami yang bangsor, halus, dan sehat memiliki                     Penanaman        mangrove    memerlukan     masa
kemampuan tumbuh lebih baik (Choudhury, 1996).                perawatan intensif sekitar 75 hari setelah tanam,
    Penggunaan biji dan propagul di penghutanan               dimana diperlukan penggantian bibit yang tersapu
mangrove biasa dilakukan, khususnya propagul                  ombak, tererosi, dimakan kepiting, bibit yang tidak
vivipar. Beberapa spesies tumbuhan mangrove                   sehat dan mati serta menjaga drainase, membuang
memerlukan kebun pembibitan. Di Bali, pembibitan              sampah, dan menjaga dari erosi. Semak-semak
dilakukan    terhadap     Rhizophora     mucronata,           mangrove yang tebal dapat terbentuk setelah 5
Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza,                  tahun. Adapun pohon mangrove dewasa dengan
Sonneratia alba, Avicennia marina, Ceriops tagal, dan         tinggi lebih dari 5 m, akar penyangga kuat, rangkaian
Xylocarpus granatum (Kitamura dkk., 1997). Di Jawa,           akar nafas luas, dan kanopi rapat dapat terbentuk
pembibitan umumnya dilakukan terhadap Rhizophora              dalam waktu 15 tahun (Choudhury, 1996). Perbedaan
spp. seperti dilakukan kelompok tani di pesisir               signifikan komposisi dan keanekaragaman fauna
Rembang, Probolinggo, dan Perhutani di Indramayu.             mulai teramati 5 tahun setelah penanaman.
Para petani membibitkan Rhizophora untuk                      Kepadatan makrofauna tanah pada ekosistem yang
memenuhi kebutuhan proyek-proyek restorasi                    direstorasi lebih tinggi daripada ekosistem yang
mangrove. Proyek-proyek ini sering kali identik               dibiarkan terbuka, serta sama dengan ekosistem
dengan penanaman bakau yang memiliki bentuk                   alami (Kairo et al., 2001).
perakaran khas. Masyarakat di pantai utara Jawa
juga biasa menggunakan seedling alami Rhizophora,
Avicennia dan Sonneratia untuk menguatkan tanggul-                        PEMANTAUAN AREA RESTORASI
tanggul tambak, terutama yang berbatasan langsung
dengan sungai atau laut (ADS, 2002-2003,
pengamatan pribadi).                                              Area restorasi mangrove perlu dipantau (Tabel 3).

                                                              Tabel 3. Aktivitas pemantauan            setelah   penanaman
                                                              mangrove (Field, 1998b).
     TEKNIK PEMBIBITAN DAN PENANAMAN
                                                              Aktivitas                    Tindakan di lapangan
    Di Bali, pembibitan dilakukan di kebun persemaian         Memantau                     Mengecek kebenaran asal usul
yang letaknya di lokasi mangrove, sehingga bibit              perkembangan spesies         propagul dan biji
dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan di area           Memantau laju                Mengamati kerapatan sapling
penanaman. Seedling ditanam dalam polibag yang                pertumbuhan sejalan          dan pohon, diameter batang,
diisi tanah, dimana penyiraman umumnya mengikuti              dengan umur                  tinggi dan volume pohon.
arus pasang laut. Penanaman langsung propagul                                              Mengukur pertambahan tahunan.
Rhizophora dimungkinkan pada lokasi yang dangkal              Memantau                     Mengamati struktur batang,
(Kitamura dkk., 1997). Di Rembang, pembibitan tidak           pertumbuhan sifat-sifat      nodus, fenologi, pembuahan,
dilakukan pada area khusus, tetapi di bawah tegakan           khusus                       serta resistensi terhadap hama
                                                                                           dan penyakit.
mangrove yang agak terbuka atau di tepian area                Mencatat tingkat             Menyiapkan penjelasan ilmiah
mangrove, pada batas dengan daratan. Propagul                 kegagalan anak pohon         mengenai kegagalan ini.
ditanam pada polibag yang cukup tinggi untuk                  Mencatat tingkat             Mencatat asal sampah dan
mengurangi pemangsaan oleh kepiting (ADS, 2002-               akumulasi sampah             langkah yang diambil untuk
2003, pengamatan pribadi). Cara pembibitan                                                 mengatasinya.
berbagai spesies mangrove antara lain dipublikasikan          Mengatur kerapatan           Mencatat tingkat kelebatan,
oleh Choudhury (1994, 1996, 2000) berdasarkan                 seedling dan anak            regenerasi buatan atau alami.
penelitian di Banglades, namun dalam tulisan ini              pohon pada tingkat           Mencatat pertumbuhan pohon.
hanya dikemukan cara pembibitan mangrove tujuh                optimum
                                                              Memperkirakan total          Mencatat semua pengeluaran,
spesies di Bali oleh Kitamura et al. (1997), mengingat        biaya akhir proyek           meliputi persiapan lokasi, koleksi
kedekatan ekosistemnya dengan Jawa (Tabel 2.).                restorasi                    propagul, pembibitan di kebun,
    Penanaman seedling umumnya dilakukan pada                                              penanaman di lapangan dan
bulan Desember s.d. Januari, pada awal musim                                               lain-lain.
hujan. Waktu penanaman juga memperhatikan kalen-              Memantau dampak              Hal ini merupakan catatan
der hijriah, dimana penanaman dilakukan seminggu              penebangan hutan             restorasi jangka panjang
setelah tanggal 14 atau 15 saat pasang sedang                 mangrove di sekitarnya
rendah. Bibit yang digunakan biasanya berketinggian           Memantau sifat-sifat         Mengukuran secara terinci
sekitar 60 cm, bibit yang lebih tinggi dapat ditanam          ekosistem mangrove           mengenai fauna, flora dan
                                                              yang direstorasi             parameter lingkungan dari
pada area dengan tingkat penggenangan lebih                                                ekosistem hasil restorasi dan
dalam, tetapi bibit dengan ketinggian lebih dari 1,5 m                                     membandingkannya dengan
sebaiknya tidak digunakan. Di Indonesia dan                                                ekosistem mangrove alami.
2                                 SETYAWAN dkk. – Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi


    Pemantauan tumbuhan mangrove yang telah                            Baowen, L. 1997. The present situation and prospects of mangrove
                                                                           afforestation in China. World Forestry Congress 1997.
ditanam sangat diperlukan untuk menjamin
                                                                       Brinkman, R., and V.P. Singh, 1982. Rapid reclamation of
keberhasilan program restorasi. Parameter yang                             fishponds on acid sulphate soils. In Dost, H. & N. van Breemen
perlu diperhatikan dalam proyek restorasi disajikan                        (ed.). Proceedings of the Bangkok Symposium on Acid
pada Tabel 3. Aktivitas ini serupa dengan aktivitas                        Sulphate Soils. ILRI. Wageningen, Nederlands, Publication 31:
                                                                           318-330.
yang dilakukan pada proyek kehutanan pada
                                                                       Brockmeyer, R.E. Jr., J.R. Rey, R.W. Virnstein, R.G. Gilmore, and
umumnya (Field, 1998b).                                                    L. Ernest. 1997. Rehabilitation of impounded estuarine
                                                                           wetlands by hydrologic reconnection to the Indian River Lagoon,
                                                                           Florida (USA). Wetlands Ecology and Management 4 (2): 93-
                                                                           109.
                           PENUTUP
                                                                       Cairns, J. 1988 Restoration ecology: the new frontier. In
                                                                           Restoration of Damaged Ecosystems, Volume 1. Boca Raton,
    Mangrove       merupakan        ekosistem      yang                    Flo.: CRC Press.
menghubungkan hidupan laut dan daratan, serta                          Calton, J.M. and M.D. Moffler. 1978. Propagation of mangroves by
                                                                           air-layering. Environmental Conservation 5: 147-150
menjadi daerah penyangga dan ekoton antar kedua
                                                                       Chapman, V.J. 1976. Mangrove Vegetation. Liechtenstein:
hidupan tersebut. Semua aktivitas yang dilakukan di                        J.Cramer Verlag.
darat dan di laut dapat mempengaruhi eksistensi                        Choudhury, J.K. 1994. Mangrove re-afforestation in Bangladesh.
ekosistem ini. Nilai penting ekosistem mangrove telah                      Proceedings on the Workshop on ITTO Project Development
                                                                           and Dissemination of Re-afforestation Techniques on
diketahui secara luas, namun hingga kini penurunan
                                                                           Mangrove Forests: 18-20 April 1994. Bangkok Thailand.
luasan mangrove di seluruh dunia yang terus                            Choudhury, J.K. 1996. Mangrove forest management. Mangrove
berlanjut. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan                          Rehabilitation and Management Project in Sulawesi. Jakarta:
antara teori yang menyatakan perlunya pemanfaatan                          Asia Development Bank.
                                                                       Choudhury, J.K. 2000. Sustainable management of coastal
ekosistem mangrove secara lestari dan praktek yang
                                                                           mangrove forest development and social needs. Mangroves
menunjukkan dilaksanakannya pemanfaatan secara                             and      Other     Coastal      Forests.     www.fao.org/montes/
tidak lestari. Mangrove merupakan ekosistem yang                           foda/wforcong/ PUBLI/PDF/V6E_T386.PDF.
sangat viabel. Ekosistem mangrove yang rusak dapat                     Chowdhury, R.A., and I. Ahmed. 1994. History of forest
                                                                           management. In Hussain Z. and G. Acharya (ed.). Mangroves
memulihkan diri sepanjang faktor-faktor lingkungan
                                                                           of the Sundarbans, Vol. 2: Bangladesh. Gland, Switzerland:
seperti pola hidrologi, kondisi tanah, dan ketersediaan                    IUCN Wetlands Program.
propagul mendukung, namun pada kondisi daya                            Cintron-Molero, G. 1992. Restoring mangrove systems. In Thayer,
lenting terpatahkan perlu dilakukan campur tangan                          G.W. (ed.). Restoring the Nation’s Marine Environment.
                                                                           Maryland: Maryland Seagrant Program, College Park.
dengan melakukan regenerasi secara buatan. Teknik
                                                                       Crewz, D.W. and R.R. Lewis. 1991. An evaluation of historical
manajemen mangrove yang ada saat ini sering kali                           attempts to establish emergent vegetation in marine wetlands
gagal untuk mempertahankan kelestarian sumber                              in Florida. Florida Sea Grant Technical Publication No. 60,
daya ini. Untuk itu perlu dilakukan pendekatan yang                        Gainesville, Flo:.Florida Sea Grant College.
                                                                       Dahdouh-Guebas, F., M. Verneirt, J.F. Tack, and N. Koedam. 1997.
lebih luas dengan mengintegrasikan manajemen                               Food preferences of Neosarmatium meinerti de Man
kawasan pesisir, dengan memasukkan unsur-unsur                             (Decapoda: Sesarminae) and its possible effect on the
penting seperti ekologi, sosial ekonomi, dan sosial                        regeneration of mangroves. Hydrobiologia 347: 83-89
budaya sehingga dapat memenuhi hajat hidup orang                       Dahdouh-Guebas, F., M. Verneirt, J.F. Tack, D. Van Speybroeck,
                                                                           and N. Koedam. 1998. Propagule predators in Kenyan
banyak, sekaligus memelihara biodiversitas secara
                                                                           mangroves and their possible effect on regeneration. Marine
luas.                                                                      and Freshwater Research 49: 345-350
                                                                       Detweiler, T.E., F.M. Dunstan, R.R. Lewis, and W.K. Fehring. 1976.
                                                                           Patterns of secondary succession in a mangrove community.
                                                                           Proceedings of the Second Annual Conference on Restoration
                    DAFTAR PUSTAKA
                                                                           of Coastal Plant Communities in Florida. Tampa, FL:
                                                                           Hillsborough Community College.
Aksornkoae, S. 1996. Reforestation in mangrove forests in              Duke, N. 1996. Mangrove reforestation in Panama: an evaluation of
    Thailand, A case study in Pattani Province. In Field, C.D. (ed.)       planting areas deforested by a large oil spill. In: Field C. (ed.)
    Restoration of Mangrove Ecosystems. Okinawa: International             Restoration of Mangrove Ecosystems. Okinawa: International
    Society for Mangrove Ecosystems.                                       Tropical Timber Organization and International Society for
Alongi, D.M. 1994. The role of bacteria in nutrient recycling in           Mangrove Ecosystems.
    tropical mangrove and other coastal benthic ecosystems.            Dutrieux, E., F.Martin, and A. Debry. 1990. Growth and mortality of
    Hydrobiologia 285: 19-32.                                              Sonneratia caseolaris planted on an experimentally oil-
Anonim. 1991. Application social forestry strategy by using                polluted soil. Marine Pollution Bulletin 21: 62-68.
    silvofishery system for supporting national food production.       FAO. 1985. Mangrove Management in Thailand, Malaysia and
    Bandung: Perum Perhutani Unit III West Java.                           Indonesia. Rome: FAO Environment Paper.
Anonim. 1997. Empang parit di Desa Randusanga Kulon,                   FAO. 1994. Mangrove Forest Management Guidelines. Rome: FAO
    Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. Kehutanan Indonesia                Forestry Paper.
    6: 31-34.                                                          Field, C. 1996. Restoration of mangrove Ecosystems. Okinawa:
Anonim. 2001. Mangroves, Multi-Species Recovery Plan for South             International Tropical Timber Organization and International
    Florida. southeast.fws.gov/vbpdfs/commun/mn.pdf.                       Society for Mangrove Ecosystems.
Anonim. 2003. Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove di                Field, C. 1998a. Rationales and practices of mangrove afforestation.
    Indonesia. Jakarta: Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup.            Marine and Freshwater Research 49: 353-358
Bacon, P.R. 1987. Use of wetlands for tourism in the insular           Field, C. 1998b. Rehabilitation of mangrove ecosystems: an
    Caribbean. Annals of Tourism Research 14: 104-117.                     overview. Marine Pollution Bulletin 37: 383-392
Ball, M. C. 1980. Patterns of secondary succession in a mangrove       Fitzgerald, B. 2002. Case study 5: integrated mangrove forest and
    forest in south Florida. Oecologia (Berl.) 44: 226-235.                aquaculture systems (silvofisheries) in Indonesia. In Macintosh
                                                                           D.J., M.J. Phillips, R.R. Lewis, and B. Clough. Annexes to the
                                    B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118                                       3

     Thematic Review on Coastal Wetland Habitats and Shrimp            Kusler, J.A. and M.E. Kentula. 1990. Wetland Creation and
     Aquaculture. Case studies 1-6. Report prepared under the               Restoration: The Status of the Science. Washington: Island
     World Bank, NACA, WWF and FAO Consortium Program on                    Press.
     Shrimp Farming and the Environment. Work in Progress for          La Rue, C.D. and T.J. Muzik. 1954. Does mangrove really plant its
     Public Discussion. Published by the Consortium.                        seedling. Nature 114: 661-662
Fitzgerald, B. and L.A. Savitri. 2002. Case study 6: integration of    Lewis, R.R. 1982. Low marshes, peninsular Florida. In Lewis, R.R.
     silvofisheries into coastal management and mangrove                    (ed.). Creation and restoration of coastal plant communities
     rehabilitation in Java, Indonesia. In Macintosh D.J., M.J.             Boca Raton, FL.: CRC Press.
     Phillips, R.R. Lewis, and B. Clough. Annexes to the Thematic      Lewis, R.R. 1990a Creation and restoration of coastal wetlands in
     Review on Coastal Wetland Habitats and Shrimp Aquaculture.             Puerto Rico and the US Virgin Islands. In Kusler, J.A. and M.E.
     Case studies 1-6. Report prepared under the World Bank,                Kentula (ed.) Wetland Creation and Restoration: The Status of
     NACA, WWF and FAO Consortium Program on Shrimp                         Science. Washington: Island Press.
     Farming and the Environment. Work in Progress for Public          Lewis, R.R. 1990b. Wetlands restoration/creation/enhancement
     Discussion. Published by the Consortium.                               terminology: suggestions for standardization. In J.A. Kusler and
Fitzgerald, W.J. 1997. Silvofisheries-an environmentally sensitive          M.E. Kentula (eds.) Wetland Creation and Restoration: The
     integrated mangrove forest and aquaculture system.                     Status of the Science. Island Press, Washington, D.C., USA.
     Aquaculture Asia 2 (3): 9-17.                                     Lewis, R.R. 1992. Coastal habitat restoration as a fishery
Gill, A. M. 1971. Mangroves-is the tide of public opinion turning?          management tool. In Stroud, R.H. (ed.) Stemming the Tide of
     Fairchild Tropical Garden Bulletin 26: 5-9.                            Coastal Fish Habitat Loss; Proceedings of a Symposium on
Hamilton, L.S. and S.C. Snedaker. 1984. Handbook for Mangrove               Conservation of Coastal Fish Habitat, Baltimore, MD, USA,
     Area Management. Honolulu: Environment and Policy Institute,           March 7-9 1991. National Coalition for Marine Conservation,
     East-West Center.                                                      Inc., Savannah, Georgia, USA.
Hannan, J. 1975. Aspects of red mangrove reforestation in Florida.     Lewis, R.R. and M.J. Marshall. 1997. Principles of successful
     Proceedings of the Second Annual Conference on the                     restoration of shrimp aquaculture ponds back to mangrove
     Restoration of Coastal Vegetation in Florida.                          forests. Programa/resumes de Marcuba ‘97, September 15/20,
Hardjosuwarno, S. 1989. The impact of oil refinery on the                   Palacio de Convenciones de La Habana, Cuba.
     mangrove vegetation. BIOTROP Special Publications 37: 187-        Lewis, R.R., and B. Streever. 2000. Restoration of mangrove
     192.                                                                   habitat. WRP Technical Notes Collection (ERDC TN-WRP-VN-
Hartina, 1996. Evaluasi Usaha Tumpang Sari Empang Parit di RPH              RS-3.2). Vicksburg, MS.: U.S. Army Engineer Research and
     Cemara, BKPH Indramayu, KPH Indramayu. [Tesis].                        Development Center. www.wes.army.mil/el/wrp.
     Yogyakarta: Program Pascasarjana UGM.                             Lewis, R.R., J.A. Kusler, and K.L. Erwin. 1995. Lessons learned
Hassan, H.H.A. 1981. A Working Plan for the Second 30-year                  from five decades of wetland restoration and creation in North
     Rotation of the Matang Mangrove Forest Reserve Perak 1980-             America. pp. 107-122 In Montes, C., G. Oliver, F. Molina, and
     89. Perak, Malaysia: State Forestry Department Publication.            J. Cobos (eds.) Bases Ecologicas para la Restauracion de
Hoffman, W.E., M.J. Durako, and R.R. Lewis. 1985. Habitat                   Humedales en la Cuenca Mediterranea. Proceedings of a
     restoration in Tampa bay. In: Simon, S.A.F., R.R. Lewis, and           meeting held at the University of La Rabida, Spain. 7-l 1 June
     R.R. Whiman. (eds.) Treat, Proc. Tampa Bay Area Scientific Inf.        1993. Junta de Andaluca, Spain.
     Symp. Tampa: Florida Sea Grant College & Bellwether Press.        Lin, J. And J.L. Beal. 1995. Effects of mangrove marsh
IPIECA. 1993. Biological Impact of Oil Pollution: Mangroves.                management on fish and decapod communities. Bulletin of
     IPIECA Report No. 4. London: International Petroleum Industry          Marine Sciences 57: 193-201.
     Environmental Conservation Association.                           Loyche M. 1989. Mangrove of West Africa — the forest within the
Jimenez, JjA. 1990. The structure and function of dry weather               sea. Mangroves and Fish. IDAF Newsletter 9: 18-31
     mangroves on the Pacific coast of Central America, with           McKee, K.L., and P.L. Faulkner. 2000. Restoration of
     emphasis on Avicennia bicolor forests. Estuaries 13: 182-192           biogeochemical function in mangrove forests. Restoration
Kairo, J.G., F Dahdouh-Guebas, J. Bosire, and N. Koedam. 2001.              Ecology 8: 274-259
     Restoration and management of mangrove systems — a                McPhaden, M.J. 1999. Genesis and evolution of the 1997-1998 El-Nino.
     lesson for and from the East African region. South African             Science 283: 950-954.
     Journal of Botany 67: 383-389.                                    Media Indonesia, 03/10/2003. Abrasi Pantura Tangerang Makin
Kaly, U.L. and G.P. Jones. 1996. Mangrove Restoration: a                    Mengkhawatirkan
     Potential Tool for Ecosystem Management of Coastal                Media Indonesia, 08/04/2003. 20 Km Pantura Cirebon dan
     Fisheries. Queensland: Department of Marine Biology, James             Indramayu Mengalami Abrasi
     Cook University, Queensland, Australia.                           Media Indonesia, 15/09/2003. Nelayan Keluhkan Pengerukan Pasir
Khoon, G.W. and O.J. Eong. 1995. The use of demographic                     Laut
     studies in mangrove silviculture. Hydrobiologia 295: 255-261.     Media Indonesia, 17/06/2002. 124 Pantai di Indonesia Mengalami
Kitamura, S., C. Anwar, A. Chaniago, and S. Baba. 1997.                     Kerusakan
     Handbook of Mangroves in Indonesia; Bal & Lombok.                 Media Indonesia, 19/08/2002. Desa-desa di Pesisir Tangerang
     Denpasar: The Development of Sustainable Mangrove                      Makin Terancam Abrasi
     Management Project, Ministry of Forest Indonesia and Japan        Media Indonesia, 28/07/2003. Ribuan Hektare Tambak di Brebes,
     International Cooperation Agency.                                      Cirebon, dan Indramayu Lenyap Terkena Abrasi
Knutson, P.L., J.C. Ford, M.R. Inskeep, and J. Oyler. 1981.            Media Indonesia, 31/05/2002. Pantai Slamaran di Pekalongan
     National survey of planted salt marshes (vegetative                    Alami Abrasi
     stabilization and wave stress), Journal of the Society of         Mish, F.C. (ed.). 1989. Webster’s ninth new collegiate dictionary.
     Wetland Scientists 1, 129-156.                                         Springfield, MS.: Merriam-Webster Inc.
Kogo, M., D. Kamimura, and T. Miyagi. 1987. Research for               Morrison, D. 1990. Landscape restoration in response to previous
     rehabilitation/reforestation of mangroves in Truk Island. In:          disturbance. In: Turner, M.G. (ed.) Landscape Heterogeneity
     Mangroves of Asia and the Pacific: Status and Management.              and Disturbance. New York: Springer-Verlag.
     Technical Report of the UNDP/UNESCO Research and                  Noakes, D.S.P. 1951. Notes on the silviculture of the mangrove
     Training Pilot Programme on Mangrove Ecosystems in Asia                forest of Matang, Perak. Malaysian Forester 14: 183-196.
     and the Pacific (RAS/79/002). Quezon City, Phillipines:           Othman, M.A. 1994. Value of mangroves in coastal protection.
     UNESCO.                                                                Hydrobiologia 285: 277-282.
Kompas, 06/08/2002. 29 Hektar Pantai Muara Reja Terkena Abrasi         Phillips, R.C. and C.P. McRoy (eds.). 1980. Handbook of Seagrass
Kompas, 06/10/2003. Reklamasi Pantai Jakarta Memperparah                    Biology and Ecosystem Perspective. New York: Garland STPM
     Abrasi                                                                 Press.
Kompas, 10/11/2002. Pantai Dadap Direklamasi Untuk Tempat              Pikiran Rakyat, 04/04/2002. Pantai Pakisjaya Dikeruk Warga
     Wisata                                                                 Khawatirkan Abrasi.
Kompas, 15/08/2002. Parah Abrasi di Pantura
4                                   SETYAWAN dkk. – Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi


Pikiran Rakyat, 14/03/2003. Ribuan Hektare Pantai Habis Digerus           Soemodihardjo, S., P. Wiroatmodjo, F. Mulia, and M.K. Harahap.
    Abrasi.                                                                   1996 Mangroves in Indonesia, a case study of Tembilahan,
Pikiran Rakyat, 27/12/2002. 20 Kilometer Pantai Rusak Karena                  Sumatra. In Fields, C. (ed.) Restoration of Mangrove
    Abrasi.                                                                   Ecosystems. Okinawa: International Society for Mangrove
Pratt, J.R. 1994. Artificial habitats and ecosystem restoration:              Ecosystems.
    Managing for the future. Bulletin of Marine Sciences 55: 268-         Stevenson, N.J., R.R. Lewis, and P.R. Burbridge. 1999. Disused
    275.                                                                      shrimp ponds and mangrove rehabilitation. In Streever, W.
Primavera, J.H. 1995. Mangroves and brackish water pond culture               (ed.). An International Perspective on Wetland Rehabilitation.
    in the Philippines. Hydrobiologia 295: 303-309.                           Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.
Primavera, J.H. and R.F. Agbayani. 1996. Comparative strategies           Streever, W. (ed.). 1999. An International Perspective on Wetland
    in community based mangrove rehabilitation programs in the                Rehabilitation. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.
    Philippines. Proceedings of the ECOTONE V Regional                    Suara Merdeka, 09/04/2003. Kampanye Tanam Bakau di
    Seminar:      Community      Participation   In    Conservation,          Telukawur.
    Sustainable Use and Rehabilitation of Mangroves In Southeast          Suara Merdeka, 26/01/2003. Abrasi Pantai di Kendal dan Demak.
    Asia. Ho Chi Minh City, Vietnam, 8-12 January, 1996.                  Suara Pembaruan, 03/03/2002. Pengelolaan Pesisir Harus
    Mangrove Ecosystem Research Centre (MERC), and Vietnam                    Libatkan Warga Lokal
    National University.                                                  Suara Pembaruan, 07/07/2002. Abrasi Mengancam Desa
Pulver, T.R. 1975. Suggested mangrove transplanting techniques.               Limbangan
    Proceedings of the Second Annual Conference on the                    Suara Pembaruan, 11/12/2002. Pendangkalan dan Abrasi di Jawa
    Restoration of Coastal Vegetation in Florida.                             Mengkhawatirkan
Qureshi MT. 1990. Experimental plantation for rehabilitation of           Suara Pembaruan, 19/04/2003. 25.000 Batang Mangrove Ditanam
    mangrove forests in Pakistan. Mangrove Ecosystem                          di Segara Anakan
    Occasional Papers 4. UNESCO, COMAR, UNDP                              Suara Pembaruan, 30/06/2002. Dilema Lingkungan Akibat Tambak
Rabinowitz, D. 1978. Early growth of mangrove seedlings in                    Udang
    Panama, and hypothesis concerning the relationship of                 Tampa, S. and P. Tampa. 1988. Establishment and growth of
    dispersal and zonation. Journal of Biogeography 5: 113-133.               mangrove seedlings in mangrove forests of southern Thailand.
Republika Online, 15/07/2002. Kawasan Pantai Sidoarjo Akan                    Ecological Research 3: 227-238.
    Ditanami 20.000 Pohon Mangrove.                                       Tang, H.T. 1978. Regeneration stocking adequacy standards.
Republika Online, 15/07/2003. Sejumlah Tambak Terkena Dampak                  Malaysian Forester 41: 176-182
    Abrasi.                                                               Teas, H.J. 1977. Ecology and restoration of mangrove shorelines in
Republika Online, 17/04/2002. Abrasi Laut Ancam Permukiman                    Florida. Environmental Conservation 4: 51-58
    Ratusan Warga Indramayu.                                              Teas, H.J. 1980. Saline silviculture. 2nd International Workshop on
Saenger, P. and N.A. Siddique. 1993. Land from the sea: the                   Biosaline Research, La Paz, Baja, California sur, Mexico.
     mangrove afforestation proqramme of Bangladesh. Ocean and            Teas, H.J., W. Jurgens, and M.C. Kimball. 1975. Planting of red
     Coastal Management 20: 23-29.                                            mangroves (Rhizophora mangle L.). In: Lewis RR (ed.)
Sanyal, P. 1998. Rehabilitation of degraded mangrove forests of               Proceedings of the 2nd Annual Conference on the Restoration
     the Sunderbans of India. Program of the International                    of Coastal Vegetation, Florida; May 17, 1975, Hillsborough
     Workshop on the Rehabilitation of Degraded Coastal Systems.              Community College, Tampa, Florida.
     Phuket Marine Biological Center, Phuket, Thailand. 19-24             Tessar, B. dan K.I. Insan. 1993. Melacak gubug akhir hutan bakau.
     January 1998.                                                            Warta Konservasi Lahan Basah 2 (2): 8-9.
                                                  .
Setyawan, A.D., K. Winarno, P.C. Purnama 2003. REVIEW:                    Thorhaug, A. 1990. Restoration of mangroves and seagrasses-
    Ekosistem Mangrove di Jawa: 1. Kondisi Terkini. Biodiversitas             economic benefits for fisheries and mariculture. In Berger, J.J.
    4 (2): 133-145.                                                           (ed.) Environmental Restoration: Science and strategies for
Siddique, N.A., M.R. Islam, M.A.S. Khan, and M. Shahidullah.                  restoring the earth ed. Washington, D.C.: Island Press.
    1993. Mangrove nurseries in Bangladesh. International Society         Turner, R.E. and R.R. Lewis. 1997. Hydrologic restoration of
    for Mangrove Ecosys stems Occasional Papers No.1. Okinawa:                coastal wetlands. Wetlands Ecology and Management 4 (2):
    International Society for Mangrove Ecosystems.                            65-72.
Simberloff, D. 1990. Reconstructing the ambiguous: Can island             van Speybroeck, D. 1992. Regeneration strategy of mangroves
    ecosystems be restored? In Towns, D.R., C.H. Daugherty, and               along the Kenyan coast: A first approach. Hydrobiologia 247:
    I.A.E. Atkinson. Ecological Restoration of New Zealand Islands;           243-251
    Conservation Sciences Publication No. 2. Wellington:                  Watson, J.G. 1928. Mangrove forests of the Malay Peninsula.
    Department of Conservation, New Zealand.                                  Kulala Lumpur: Malaysian Forest Records No. 6
Smith, T.J. 1987a. Seed predation in relation to tree dominance           Whitten, T., R.E. Soeriaatmadja, and S.A. Afiff. 2000. The Ecology
    and distribution in mangrove forests. Ecology 68: 266-273.                of Java and Bali. Singapore: Periplus.
Smith, T.J. 1987b. Effects of seed predators and light level on the       Widiarti, A. and R. Effendi. 1989. Socio-economic aspects of
    distribution of Avicennia marina (Forsk.) Vierh. in tropical, tidal       brackishwater pond forest in mangrove forest complex.
    forests. Estuarine, Coastal and Shelf Science 25: 43-51.                  Symposium Mangrove Management in Indonesia. Biotrop
Smith, T.J. 1987c. The influence of seed predators on structure and           Special Publication No. 37: 275-279.
    succession in tropical tidal forests. Proceedings Ecological          Winarno, K. dan A.D. Setyawan. 2003. REVIEW: Penyudetan
    Society Australia 15: 203-211.                                            Sungai Citanduy, buah simalakama konservasi ekosistem
                                                                              mangrove Segara Anakan. Biodiversitas 4 (1): 63-72.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1510
posted:4/2/2010
language:Indonesian
pages:16