Docstoc

EKSISTENSIALISME

Document Sample
EKSISTENSIALISME Powered By Docstoc
					                               DAFTAR ISI

                                                  Halaman
Halaman Judul………………………………………………………………………... i

Daftar Isi……………………………………………………………………………… iii

PEMBAHASAN

  A. Pengertian Eksistensialime……………………………………………………. 3
  B. Tokoh Eksistensialime & hasil pemikirannya
     a. Soren Kierkegaard………………………………………………………… 4
     b. Martin Heidegger…………………………………………………………. 5
     c. Jean-Paul Sartre…………………………………………………………… 7
     d. Nicholas Berdyaev ………………………………………………………... 8

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………… iv
                             EKSISTENSIALISME


A. Pengertian Eksistensialime

       Eksistensialisme adalah aliran filsafat yg pahamnya berpusat pada manusia individu yang
bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang
benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan
mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan
karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.

       Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat
Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keberadaan manusia, dan keberadaan itu dihadirkan
lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu
soal kebebasan. Apakah kebebasan itu? bagaimanakah manusia yang bebas itu? dan sesuai
dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk
determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri.

       Dalam studi sekolahan filsafat eksistensialisme paling dikenal hadir lewat Jean-Paul
Sartre, yang terkenal dengan diktumnya "human is condemned to be free", manusia dikutuk
untuk bebas, maka dengan kebebasannya itulah kemudian manusia bertindak. Pertanyaan yang
paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan
tersebut bebas? atau "dalam istilah orde baru", apakah eksistensialisme mengenal "kebebasan
yang bertanggung jawab"? Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya
universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan
individu lain.

       Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu harus menjadi seorang yang lain-daripada-
yang-lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada diluar kendali
manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari
eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung
jawabnya dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau kita
akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi
yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang
tua, atau keinginan sendiri.

Aliran Eksistensialisme (Filsafat Masa Kontemporer)

       Eksistensialisme dan Fenomenologi merupakan dua gerakan yang sangat erat dan
menunjukkan pemberontakan tambahan metode-metode dan pandangan-pandangan filsafat barat.
Istilah eksistensialisme tidak menunujukkan suatu sistem filsafat secara khusus. Meskipun
terdapat perbedaan-perbedan yang besar antara para pengikut aliran ini, namun terdapat tema-
tema yang sama sebagai ciri khas aliran ini yang tampak pada penganutnya. Mengidentifikasi ciri
aliran eksistensialisme sebagai berikut :

a. Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat
modern, khususnya terhadap idealisme Hegel.
b. Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualis terhadap konsep-konsep, filsafat
akademis yang jauh dari kehidupan konkrit.
c. Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal (tanpa
kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan massa.
d. Eksistensialisme merupakan protes terhadap gerakan-gerakan totaliter, baik gerakan fasis,
komunis, yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di dalam kolektif
atau massa.
e. Eksistensialisme menekankan situasi manusia dan prospek (harapan) manusia di dunia.
f. Eksistensialisme menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman
kesadaran yang dalam dan langsung.
       Salah seorang tokoh eksistensialisme yang popular adalah Jean Paul Sartre (1905-1980),
ia membedakan rasio dialektis dengan rasio analitis. Rasio analitis dijalankan dalam ilmu
pengetahuan. Rasio dialektis harus digunakan, jika kita berfikir tentang manusia, sejarah, dan
kehidupan sosial.
B. Tokoh Eksistensialime & hasil pemikirannya
   1. Soren Kierkegaard

         Søren Aabye Kierkegaard (lahir di Kopenhagen, Denmark, 5 Mei 1813 – meninggal di
Kopenhagen, Denmark, 11 November 1855 pada umur 42 tahun) adalah seorang filsuf dan
teolog abad ke-19 yang berasal dari Denmark. Kierkegaard sendiri melihat dirinya sebagai
seseorang yang religius dan seorang anti-filsuf, tetapi sekarang ia dianggap sebagai bapaknya
filsafat eksistensialisme. Kierkegaard menjembatani jurang yang ada antara filsafat Hegelian dan
apa yang kemudian menjadi Eksistensialisme. Kierkegaard terutama adalah seorang kritikus
Hegel pada masanya dan apa yang dilihatnya sebagai formalitas hampa dari Gereja Denmark.
Filsafatnya merupakan sebuah reaksi terhadap dialektik Hegel.

         Banyak dari karya-karya Kierkegaard membahas masalah-masalah agama seperti
misalnya hakikat iman, lembaga Gereja Kristen, etika dan teologi Kristen, dan emosi serta
perasaan individu ketika diperhadapkan dengan pilihan-pilihan eksistensial. Karena itu, karya
Kierkegaard kadang-kadang digambarkan sebagai eksistensialisme Kristen dan psikologi
eksistensial. Karena ia menulis kebanyakan karya awalnya dengan menggunakan berbagai nama
samaran, yang seringkali mengomentari dan mengkritik karya-karyanya yang lain yang ditulis
dengan menggunakan nama samaran lain, sangatlah sulit untuk membedakan antara apa yang
benar-benar diyakini oleh Kierkegaard dengan apa yang dikemukakannya sebagai argumen dari
posisi seorang pseudo-pengarang. Ludwig Wittgenstein berpendapat bahwa Kierkegaard "sejauh
ini, adalah pemikir yang paling mendalam dari abad ke-19".

         Pemikiran Kierkegaard, sebagai kritik atas Hegel, menekankan pada aspek subjektivisme.
Mengingat seluruhnya pada dasarnya adalah manifestasi dari apa yang disebut Hegel sebagai
fenomenologi roh maka individu manusia direduksi menjadi kawanan. Hal ini akan melenyapkan
individu dari tanggung jawab pribadinya secara etis bahkan juga melenyapkan eksistensi
individu di dalam kerumunan kawanan. Penekanan pada eksistensi individu inilah yang
menjadikan Kierkegaard dianggap sebagai bapak eksistensialisme yang dipopulerkan oleh Sartre
kelak.
       Pemikiran    lain   yang   menarik   adalah   sebuah   dialektika   eksistensialis   yang
menggambarkan perkembangan religiusitas manusia dari apa yang disebutnya tahap estetis,
tahap etis, hingga tahapan religius. Tahap pertama adalah tahap estetis yaitu ketika manusia
bereksistensi berdasarkan prinsip kesenangan indrawi, sebagaimana arti kata estetis yang
bermakna mengindra. Tokoh dalam peradaban barat yang menjadi contoh adalah Don Juan yang
memburu kesenangan. Tahapan kedua dicapai dengan satu lompatan menuju tahap dimana
manusia bereksistensi dengan pertimbangan moral universal dalam kerangka benar dan salah.
Tokoh yang dapat dijadikan contoh adalah Socrates yang mengorbankan dirinya demi prinsip
moral universal. Tahap terakhir adalah tahap keimanan puncak yang tidak dapat dinilai dengan
penilaian moral universal namun menemui sifat paradoks keimanan. Tokoh yang dijadikan
teladan adalah Ibrahim (atau Abraham) dalam kisah penyembelihan anaknya (Ishak dalam
agama Kristen dan Ismail dalam agama Islam) yang tindakannya tersebut, sebagai manifestasi
dari keimanannya, tidak dapat dinilai dengan penilaian moral universal. Sebuah tindakan yang
mengandung dasar paradoks karena di satu sisi Ibrahim menyerahkan diri sepenuhnya, dan
kehilangan segala-galanya, dengan gerakan imannya dan di sisi lain, secara bersamaan, dia
mendapatkan segalanya dengan cara yang baru. Sebuah kegilaan ilahi, sesuatu yang tidak
dikutuk tapi justru dianjurkan oleh Kierkegaard, yang akan tampak absurd apabila dimasukkan
ke dalam kategori moral universal.

       Pengaruh dan penerimaan masyarakat terhadap Karya-karya Kierkegaard baru tersedia
luas beberapa dasawarsa setelah kematiannya. Pada tahun-tahun segera setelah meninggalnya,
Gereja Negara Denmark, sebuah institusi penting di Denmark pada saat itu, menjauhi karya-
karyanya dan menganjurkan orang-orang Denmark lainnya untuk melakukan hal yang sama.
Selain itu, kurang dikenalnya bahasa Denmark, dibandingkan dengan bahasa Jerman, Perancis,
dan Inggris, membuat hampir tidak mungkin bagi Kierkegaard untuk mendapatkan pembaca-
pembaca non-Denmark.

       Akademikus pertama yang mengarahkan perhatian kepada Kierkegaard adalah sesama
orang Denmark Georg Brandes, yang menerbitkan dalam bahasa Jerman maupun Denmark.
Brandes menyampaikan kuliah resminya yang pertama tentang Kierkegaard dan menolong
memperkenalkan Kierkegaard ke seluruh Eropa. Pada 1877, Brandes juga menerbitkan buku
pertama tentang filsafat dan kehidupan Kierkegaard. Dramatis Henrik Ibsen menjadi tertarik
terhadap Kierkegaard dan memperkenalkan karyanya ke seluruh Skandinavia. Sementara
terjemahan-terjemahan independen dalam bahasa Jerman dari beberapa karya Kierkegaard mulai
muncul pada 1870-an, terjemahan-terjemahan akademis dalam bahasa Jerman dari seluruh karya
Kierkegaard harus menunggu hingga 1910-an. Terjemahan-terjemahan ini dimungkinkan karena
pengaruh Kierkegaard terhadap para pemikir dan penulis Jerman, Perancis, dan Inggris abad ke-
20 mulai terasa.

       Pada 1930-an, terjemahan akademis pertama dalam bahasa Inggris, oleh Alexander Dru,
David F. Swenson, Douglas V. Steere, dan Walter Lowrie muncul, di bawah usaha editorial dari
editor Oxford University Press, Charles Williams. Terjemahan akademis yang kedua dalam
bahasa Inggris dan yang terdapat luas diterbitkan oleh Princeton University Press pada 1970-an,
1980-an, 1990-an, di bawah pengawasan Howard V. Hong dan Edna H. Hong. Terjemahan resmi
ketiga, di bawah pengawasan Pusat Penelitian Søren Kierkegaard, akan mencapai 55 jilid dan
diharapkan akan selesai setelah 2009.

       Banyak filsuf abad ke-20, baik yang teistik maupun yang ateistik, meminjam banyak
konsep dari Kierkegaard, termasuk pemahaman tentang angst (kecemasan), keputusasaan, serta
pentingnya individu. Sebagai seorang filsuf ia menjadi sangat termasyhur pada tahun 1930-an,
sebagian besar karena naik daunnya gerakan eksistensialis yang menunjuk kepadanya sebagai
seorang pendahulu, meskipun kini ia sendiri dipandang sebagai seorang pemikir yang sangat
penting dan berpengaruh. Para filsuf dan teolog yang dipengaruhi oleh Kierkegaard termasuk
Karl Barth, Simone de Beauvoir, Martin Buber, Rudolf Bultmann, Albert Camus, Martin
Heidegger, Abraham Joshua Heschel, Karl Jaspers, Gabriel Marcel, Maurice Merleau-Ponty,
Franz Rosenzweig, Jean-Paul Sartre, Joseph Soloveitchik, Paul Tillich, Miguel de Unamuno,
Hans Urs von Balthasar. Anarkisme ilmiah Paul Feyerabend diilhami oleh gagasan Kierkegaard
tentang subyektivitas sebagai kebenaran. Ludwig Wittgenstein sangat dipengaruhi dan harus
mengakui keunggulan Kierkegaard, dan mengklaim bahwa "Betapapun juga, Kierkegaard jauh
terlalu dalam bagi saya. . Karl Popper merujuk kepada Kierkegaard sebagai "pembaharu besar
dalam etika Kristen, yang memaparkan moralitas Kristen yang resmi pada zamannya sebagai
kemnafikan yang anti-Kristen dan anti-kemanusiaan".
       Para filsuf kontemporer seperti Emmanuel Lévinas, Hans-Georg Gadamer, Jacques
Derrida, Jürgen Habermas, Alasdair MacIntyre, dan Richard Rorty, meskipun kadang-kadang
sangat kritis, juga telah mengadaptasi beberapa pemikiran Kierkegaard. Jerry Fodor pernah
menulis bahwa Kierkegaard adalah "seorang empu dan jauh berada di luar liga tempat kami
semua [para filsuf] bermain". Kierkegaard banyak sekali mempengaruhi literatur abad ke-20.
Tokoh-tokoh yang sangat dipengaruhi oleh karya-karyanya termasuk Walker Percy, W.H.
Auden, Franz Kafka, David Lodge, dan John Updike.

       Kierkegaard juga sangat berpengaruh terhadap psikologi dan ia daapt dianggap sebagai
pendiri psikologi Kristen dan psikologi dan terapi eksistensial. Para psikolog dan terapis
eksistensialis (seringkalid isebut "humanistik") termasuk Ludwig Binswanger, Victor Frankl,
Erich Fromm, Carl Rogers, dan Rollo May. May mendasarkan bukunya The Meaning of Anxiety
(Makna Kecemasan) pada karya Kierkegaard Konsep tentang Kecemasan. Karya sosiologis
Kierkegaard Dua Zaman: Zaman Revolusi dan Masa Kini memberikan kritik yang menarik
terhadap modernitas. Kierkegaard juga dilihat sebagai pendahulu penting dari pasca-
modernisme.

   2. Martin Heidegger

       Martin Heidegger (lahir di Meßkirch, Jerman, 26 September 1889 – meninggal 26 Mei
1976 pada umur 86 tahun) adalah seorang filsuf asal Jerman. Ia belajar di Universitas Freiburg di
bawah Edmund Husserl, penggagas fenomenologi, dan kemudian menjadi profesor di sana 1928.
Ia mempengaruhi banyak filsuf lainnya, dan murid-muridnya termasuk Hans-Georg Gadamer,
Hans Jonas, Emmanuel Levinas, Hannah Arendt, Leo Strauss, Xavier Zubiri dan Karl Löwith.
Maurice Merleau-Ponty, Jean-Paul Sartre, Jacques Derrida, Michel Foucault, Jean-Luc Nancy,
dan Philippe Lacoue-Labarthe juga mempelajari tulisan-tulisannya dengan mendalam. Selain
hubungannya dengan fenomenologi, Heidegger dianggap mempunyai pengaruh yang besar atau
tidak dapat diabaikan terhadap eksistentialisme, dekonstruksi, hermeneutika dan pasca-
modernisme. Ia berusaha mengalihkan filsafat Barat dari pertanyaan-pertanyaan metafisis dan
epistemologis ke arah pertanyaan-pertanyaan ontologis, artinya, pertanyaan-pertanyaan
menyangkut makna keberadaan, atau apa artinya bagi manusia untuk berada. Heidegger juga
merupakan anggota akademik yang penting dari Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei.
        Heidegger dilahirkan di sebuah keluarga desa di Meßkirch, Jerman, dan diharapkan kelak
menjadi seorang pendeta. Di masa remajanya, ia dipengaruhi oleh Aristoteles yang dikenalnya
lewat teologi Kristen. Konsep tentang Ada, dalam pengertian tradisional ini, yang berasal dari
Plato, adalah perkenalan pertamanya dengan sebuah gagasan yang kelak ditanamkannya pada
pusaat karyanya yang paling terkenal, Being and Time (bahasa Jerman: Sein und Zeit) (1927).
Keluarganya tidak cukup kaya untuk mengirimnya ke universitas, dan ia membutuhkan bea
siswa. Untuk maksud tersebut, ia harus belajar agama. Heidegger juga tertarik akan matematika.
Ketika ia belajar sebagai mahasiswa, ia meninggalkan teologi dan beralih kepada filsafat, karena
ia menemukan sumber pendanaan lain untuk studinya. Ia menulis disertasi doktoralnya
berdasarkan sebuah teks yang saat itu dianggap sebagai karya Duns Scotus, seorang pemikir
etika dan keagamaan abad ke-14, namun belakangan orang menduga itu adalah karya Thomas
dari Erfurt.

        Heidegger mulanya adalah seorang pengikut fenomenologi. Secara sederhana, kaum
fenomenolog menghampiri filsafat dengan berusaha memahami pengalaman tanpa diperantarai
oleh pengetahuan sebelumnya dan asumsi-asumsi teoretis abstrak. Edmund Husserl adalah
pendiri dan tokoh utama aliran ini, sementara Heidegger adalah mahasiswanya dan hal inilah
yang meyakinkan Heidegger untuk menjadi seorang fenomenolog. Heidegger menjadi tertarik
akan pertanyaan tentang "Ada" (atau apa artinya "berada"). Karyanya yang terkenal Being and
Time (Ada dan Waktu) dicirikan sebagai sebuah ontologi fenomenologis. Gagasan tentang Ada
berasal dari Parmenides dan secara tradisional merupakan salah satu pemikiran utama dari
filsafat Barat. Persoalan tentang keberadaan dihidupkan kembali oleh Heidegger setelah
memudar karena pengaruh tradisi metafisika dariPlato hingga Descartes, dan belakangan ini pada
Masa Pencerahan. Heidegger berusaha mendasarkan Ada di dalam waktu, dan dengan demikian
menemukan hakikat atau makna yang sesungguhnya dalam artian kemampuannya untuk kita
pahami.

        Demikianlah Heidegger memulai di mana Ada itu dimulai, yakni di dalam filsafat
Yunani, membangkitkan kembali suatu masalah yang telah lenyap dan yang kurang dihargai
dalam filsafat masa kini. Upaya besar Heidegger adalah menangani kembali gagasan Plato
dengan serius, dan pada saat yang sama menggoyahkan seluruh dunia Platonis dengan
menantang saripati Platonisme - memperlakukan Ada bukan sebagai sesuatu yang nirwaktu dan
transenden, melainkan sebagai yang imanen (selalu hadir) dalam waktu dan sejarah. Hal ini yang
mengakibatkan kaum Platonis seperti George Grant menghargai kecemerlangan Heidegger
sebagai seorang pemikir meskipun mereka tidak setuju dengan analisisnya tentang Ada dan
konsepsinya tentang gagasan Platoniknya.

        Meskipun Heidegger adalah seorang pemikir yang luar biasa kreatif dan asli, dia juga
meminjam banyak dari pemikiran Friedrich Nietzche dan Soren Kierkegaard. Heidegger dapat
dibandingkan dengan Aristoteles yang menggunakan dialog Plato dan secara sistematis
menghadirkannya sebagai satu bentuk gagasan. Bagitu juga Heidegger mengambil intisari
pemikiran Nietzsche dari sebuah fragmen yang tak terbit dan menafsirkannya sebagai bentuk
puncak metafisika barat. Karya Heidegger berupa transkrip perkuliahan selama 1936 tentang
Nietzsche’s Will to Power as Art kurang bernilai akademis dibandingkan karyanya sendiri yang
lebih asli. Konsep Heidegger tentang kecemasan angst dan das sein berasal dari konsep
Kierkegaard tentang kecemasan, pentingnya relasi subjektivitas dengan kebenaran, eksistensi di
hadapan kematian, kesementaraan eksistensi, dan pentingnya afirmasi diri dari Ada seseorang di
dalam dunia.

        Martin Heidegger dianggap sebagai salah satu filsuf terbesar dari abad 20. Arti
pentingnya hanya dapat disaingi oleh Ludwig Wittgenstein. Gagasannya merasuki berbagai
bidang penelitian yang luas. Karena diskusi Heidegger tentang ontologi maka dia kerap dianggap
salah satu pendiri eksistensialisme dan gagasannya kerap mewarnai banyak karya besar filsafat
seperti karya Sartre yang mengadopsinya banyak gagasannya, meskipun Heidegger bersikeras
bahwa Sartre salah memahami gagasannya. Gagasannya diterima di seluruh Jerman, Perancis,
dan Jepang hingga banyak pengikut di Amerka Utara sejak 1970-an. Meskipun demikian,
gagasannya dianggap sebagai tak bernilai oleh beberapa pemikir kontemporer seperti mereka
yang di dalam Lingkaran Wina,Theodor Adorno, dan filsuf Inggris Bertrand Russell dan Alfred
Ayer.

        Penolakan Heidegger akan konsep seperti pembedaan fakta dan nilai, penambahan
komponen etis pada filsafatnya, kekritisannya terhadap sains dan teknologi modern, dan
klaimnya akan kesalahpahaman akan pikirannya kerap membingungkan para filsuf. Serangan
terhadap gagasannya nampak menjadi satu-satunya kemungkinan yang dapat dilakukan, terlebih
ditambah dengan tingkah laku pribadinya yang tampak secara moral dan politik ambigu.

       Karya terpenting Heidegger adalah Being and Time (German Sein und Zeit, 1927).
Meskipun karya yang terbit hanyalah sepertiga dari total rencana keseluruhan sebagaimana
tampak dalam pengantarnya namun karya ini menunjukkan satu titik balik dalam filsafat
kontinental. Karya ini berpengaruh besar dan luas serta masih menjadi salah satu karya yang
paling banyak dibicarakan pada abad ke-20. Banyak paham filsafat, seperti eksistensialisme dan
dekonstruksi, yang berhutang banyak pada Being and Time.

       Dalam karya ini, Heidegger memepertanyakan makna dari ada: apa maknanya bila
sesuatu entitas dikatakan ada? Pertanyaan ini adalah satu pertanyaan mendasar dalam caakupan
wilayah ontologi. Dalam pendekatannya Heidegger terpisah dari tradisi Aristotelian dan Kantian
yang mendekati pertanyaan itu dari sudut pandang logika. Secara implisit mereka mengatakan
bahwa pengetahuan teoritis mewakili relasi mendasar antara individu dan ada di dunia sekitarnya
(mencakup juga dirinya sendiri).

       Heidegger menolak tesis ini dengan mengawali pendekatannya dari fenomena
keterlibatan yang disebutnya sebagai sorge. Perilaku manusia adalah sebuah keterlibatan secara
aktif dengan objek keseharian di sekelilingnya. Dia bukan seorang pengamat pasif yang
mengambil jarak dari dunianya. Pendaatnya ini sekaligus sebuah kritik bagi pemikiran Cartesian
yang mengagungkan "aku" sebagai objek berpikir murni yang terpisah dari dunianya. Heidegger
mengritik pernyataan terkenal Descartes aku berpikir maka aku ada yang terlalu menekankan
pada aku berpikir dan lupa bahwa seharusnya aku ada terlebih dahulu barulah kemudian aku bisa
berpikir. Fakta mendasar dari eksistensi manusia adalah bahwa kita telah 'ada di dalam dunia'.
Dunia adalah karakter dari ada di dalam dunia, yang selanjutnya disebut dengan das sein.
Selanjutnya Heidegger menolak kategori subjek-ojek yang kerap dikenakan oleh filsuf pasca
Descartes. Sesuatu bermakna bagi kita hanya dalam penggunaannya pada konteks tertentu yang
telah ditetapkan oleh norma sosial.
   3. Jean-Paul Sartre

       Jean-Paul Sartre (lahir di Paris, Perancis, 21 Juni 1905 – meninggal di Paris, 15 April
1980 pada umur 74 tahun) adalah seorang filsuf dan penulis Perancis. Ialah yang dianggap
mengembangkan aliran eksistensialisme.Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding
esensi (L'existence précède l'essence). Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan
selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya di masa lalu. Karena
itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L'homme
est condamné à être libre).

       Pada tahun 1964 ia diberi Hadiah Nobel Sastra, namun Jean-Paul Sartre menolak. Ia
meninggal dunia pada 15 April 1980 di sebuah rumah sakit di Broussais (Paris). Upacara
pemakamannya dihadiri kurang lebih 50.000 orang. Pasangannya adalah seorang filsuf wanita
bernama Simone de Beauvoir. Sartre banyak meninggalkan karya penulisan diantaranya berjudul
Being and Nothingness atau Ada dan Ketiadaan.

   4. Nicholas Berdyaev

       Berdyaev dilahirkan di Kiev dalam suatu keluarga militer aristokrat. Ia hidup sendirian di
masa kanak-kanaknya di rumah, dan perpustakaan ayahnya memungkinkannya banyak
membaca. Ia membaca karya-karya Hegel, Schopenhauer, dan Kant ketika usianya baru 14 tahun
dan ia menguasai berbagai bahasa asing.

       Berdyaev memutuskan untuk menempuh kariernya sebagai intelektual dan masuk ke
Universitas Kiev pada 1894. Waktu itu semangat revolusioner berkembang di antara para
mahasiswa dan kaum inteligensia. Berdyaev menjadi seorang Marxis dan pada 1898 ia ditangkap
dalam sebuah demonstrasi mahasiswa dan dikeluarkan dari Universitas tersebut. Belakangan
keterlibatannya dalam kegiatan-kegiatan ilegal menyebabkan ia dibuang ke Rusia tengah selama
tiga tahun - sebuah hukuman ringan dibandingkan apa yang harus dialami oleh banyak tokoh
revolusioner lainnya.
       Pada 1904 Berdyaev menikah dengan Lydia Trusheff dan pasangan itu kemudian pindah
ke St. Petersburg, ibu kota Rusia dan pusat intelektual serta aktivitas revolusioner. Berdyaev ikut
serta sepenuhnya dalam perdebatan intelektual dan rohani, dan akhirnya meninggalkan
Marxisme radikal dan memusatkan perhatiannya pada filsafat dan spiritualitas. Berdyaev dan
Trusheff tetap saling sangat mencintai hingga Trusheff meninggal pada 1945. Berdyaev adalah
seorang Kristen yang saleh, namun ia seringkali kritis terhadap gereja yang mapan. Sebuah
artikel pada 1913 mengecam Sinode Kudus dari Gereja Ortodoks Rusia menyebabkan ia dituduh
menghujat, dan hukumannya adalah pembuangan ke Siberia seumur hidup. Perang Dunia dan
Revolusi Bolshevik membuat ia tidak pernah diajukan ke pengadilan.

       Berdyaev tidak dapat menerima rezim Bolshevik, karena sifatnya yang otoriter dan
dominasi negara terhadap kebebasan individu. Namun ia menerima beratnya masa revolusi,
karena ia diizinkan untuk sementara waktu untuk tetap memberikan kuliah dan menulis.
Filsafatnya dicirikan sebagai eksistensialis Kristen. Ia sangat memperhatikan kreativitas dan
khususnya kemerdekaan dari segala sesuatu yang menghalangi kreativitas. Karena itu ia
menentang "masyarakat mekanis yang dikolektifkan".

       Pada 1922, pemerintahan Bolshevik mengusir sekitar 160 intelektual terkemuka, antara
lain Berdyaev. Secara keseluruhan, mereka bukanlah pendukung rezim Czar ataupun kaum
Bolshevik, karena mereka lebih suka akan bentuk pemerintahan yang tidak begitu otokratis. Di
antara mereka termasuk orang-orang yang menuntut kebebasan pribadi, perkembangan rohani,
etika Kristen, dan jalan yang dibimbing oleh nalar dan dipimpin oleh iman.

       Mulanya Berdyaev dan para emigran lainnya pergi ke Berlin, namun kondisi ekonomi
dan politik di Jerman menyebabkan dia dan istrinya pindah ke Paris pada 1923. Di sana ia
mendirikan sebuah Akademi, mengajar, berceramah, bertukar pikiran dengan komunitas
intelektual Prancis.

       Pada masa pendudukan Prancis oleh Jerman, Berdyaev terus menulis buku-buku yang
kemudian diterbitkan setelah perang - sebagian setelah kematiannya. Pada tahun-tahun yang
dilewatninya di prancis, Berdyaev menulis 15 buku, termasuk sebagian dari karya-karyanya yang
paling penting. Ia meninggal di meja tulisnya di rumahnya di Clamart, dekat Paris, pada Maret
1948.
                                    DAFTAR PUSTAKA

http://indramunawar.blogspot.com/2009/03/aliran-eksistensialisme-filsafat-masa.html.Kamis,
       25 Maret 2010, jam 11.00.

Anonimous, Zaman Modern. http://norpud.blogspot.com. Diakses Selasa, 16 Maret 2010 Jam
       11.30 Wita.

Anonimous, Søren Kierkegaard. http://id.wikipedia.org. Diakses Selasa, 24 Maret 2010 Jam
      19:30:38 wita.

Anonimous, Nikolai_Berdyaev. http://id.wikipedia.org. Diakses Selasa, 24 Maret 2010 Jam
      19:26:00 wita.

Anonimous, Jean-Paul_Sartre. http://id.wikipedia.org. Diakses Selasa, 24 Maret 2010 Jam
      19:21:46 wita.

Anonimous, Martin Heidegger. http://id.wikipedia.org. Diakses Selasa, 24 Maret 2010 Jam
      19:18:49wita.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:18248
posted:4/2/2010
language:Indonesian
pages:14