KH Hasyim Asy'ari_ Pendiri NU dan Kiblat Kiai Nusantara

Document Sample
KH Hasyim Asy'ari_ Pendiri NU dan Kiblat Kiai Nusantara Powered By Docstoc
					KH Hasyim Asy'ari (1871-1947 M)
Pendiri NU dan Kiblat Kiai Nusantara

LANGIT di atas Tebuireng, Jombang, siang itu cerah. Cahaya matahari memancar sempurna
menembus gumpalan awan putih menyorot seisi jagad. Di siang bolong, ketika sinar mentari
membakar kulit, warga desa Cukir biasanya lebih suka mengurung diri di dalam rumah sembari
istirahat. Namun, tidak demikian dengan ratusan santri yang mendiami komplek Pesantren
Tebuireng.
        Usai salat dzuhur, seperti biasa, para santri segera duduk bersila untuk mengaji kitab
kepada Hadratusy Syaikh Hasyim Asy‟ari. Seolah tak peduli panasnya cuaca siang itu, semua
santri khusyu menyimak penjelasan Kiai Hasyim. Bait demi bait kitab disimak. Tak ada santri
yang berani mengobrol sendiri di belakang apalagi sengaja membuat kegaduhan.
        Di tengah heningnya suasana pengajian, sembari tetap membaca kitab Kiai Hasyim tiba-
tiba melempar tongkatnya ke arah santri. Tak jelas siapa yang hendak dituju, tapi tiba-tiba
tongkat itu mampir di punggung salah seorang santri. “Plak…plak…!” begitu suara tongkat Kiai
Hasyim saat mengenai salah seorang santri, sebut saja Fulan. Semua mata pun sontak tertuju
pada Si Fulan itu. Pipi Si Fulan memerah. Detak jantungnya kian cepat. Ia tak bisa
menyembunyikan rasa malunya. Sebab, bukan kebetulan jika tongkat Kiai Hasyim tiba-tiba
mampir di punggungnya.
        Menyadari ada yang tak beres dari dirinya, Si Fulan keluar dari majelis. Ia bergegas ke
musala. Apa gerangan yang membuat Fulan „ditegur‟ tongkat Kiai Hasyim? Rupanya ia lupa
belum salat zuhur. Kejadian seperti itu sebenarnya bukan hal asing bagi santri Kiai Hasyim.
Konon, tongkat yang bisa berjalan sendiri „menegur‟ santri yang salah sudah biasa disaksikan
santri di tengah pengajian. Bahkan, di saat perang melawan Belanda, tongkat itu juga bisa
melawan musuh sendiri.
        Di kesempatan lain, kejadian unik juga terekam dalam memori keluarga dan para
santrinya. Saat suasana perang tengah mencekam, Kiai Hasyim kedatangan tamu besar, yakni
Jendral Sudirman. Saat itu, putra bungsu Kiai Hasyim, Yusuf Hasyim langsung menjemput
Jendral Sudirman di pintu gerbang. Gus Yusuf mengutarakan keinginannya untuk bergabung
dengan pasukan Pak Dirman.
        Pak Dirman yang saat itu tengah sakit pun menyampaikan keinginan Gus Yusuf pada
Kiai Hasyim. Mendengar permintaan itu, Kiai Hasyim kontan menjawab, “Beribu-ribu santri
siap mati syahid untuk mempertahankan negaranya,” kata Kiai Hasyim penuh semangat. Kalimat
itu sontak membuat Pak Dirman yang tengah sakit langsung mengubah posisi duduknya. Energi
positif dari kalimat Kiai Hasyim seketika menyembuhkan sakit Pak Dirman.
        Dua kisah yang dinukil dari buku berjudul Karomah Para Kiai karya Samsul Munir
Amin itu merupakan sisi unik dari Kiai Hasyim Asy‟ari yang dalam bahasa tasawuf dikenal
sebagai karomah. Karomah yaitu kemuliaan, kejadian luar biasa, atau keistimewaan tertentu
yang dianugerahkan Allah Swt. kepada hamba-Nya yang dikasihi atau waliyullah.
        Di kalangan kaum nahdliyin, memang para ulama tertentu diyakini memiliki banyak
karomah. Karomah itu bisa menetes kepada orang yang di dekatnya. Tak heran jika makam
pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu sejak dulu hingga kini terus diziarahi ribuan orang dari
berbagai penjuru. Selain mendoakan, mereka juga berharap mendapatkan tetesan karomah atau
barokahnya.

Isyarat Orang Besar
        Kiai Hasyim Asy‟ari lahir dengan nama Muhammad Hasyim Asy‟ari ibn „Abd Al-Wahid.
Ia lahir di desa Gedang, Jombang, Jawa Timur, pada Selasa kliwon 24 Dzu Al-Qa’idah 1287 H
atau bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871 M. Ayahnya bernama Kiai Asy‟ari dan Ibunya
bernama Nyai Halimah putri dari Kiai Utsman yang mengasuh Pesantren Gedang. Dari garis ibu,
Kiai Hasyim atau Muhammad Hasyim merupakan keturunan Raja Brawijaya VI atau Lembu
Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang. Dengan demikian ia adalah keturunan
kedelapan dari Jaka Tingkir.
        Tak hanya mulia secara nasab, tanda-tanda bahwa kelak Muhammad Hasyim akan
menjadi orang besar telah tampak sejak ia masih dalam kandungan. Ibundanya, Nyai Halimah,
menuturkan, isyarat itu berupa masa kandungan yang lebih lama dari biasanya yakni 14 bulan.
Di kalangan masyarakat Jawa diyakini bahwa masa kandungan yang lama merupakan isyarat
bahwa anak itu akan tumbuh menjadi orang yang cerdas.
        Di samping itu, suatu malam ketika tengah terlelap dalam tidurnya, Nyai Halimah
bermimpi melihat bulan jatuh dari langit ke dalam kandungannya. Konon, mimpi itu menandai
bayi yang kelak lahir akan menjadi pemimpin besar di kalangan masyarakatnya. Dan, mimpi itu
ternyata bukan sekadar bunga tidur yang menghiasi malam-malam Nyai Halimah. Setelah lahir,
seiring pertumbuhannya sebagai seorang anak lelaki, Muhammad Hasyim menunjukkan tanda-
tanda itu menjadi kian nyata.
        Di kalangan teman sepermainannya, misalnya, Muhammad Hasyim dikenal kerap
mendamaikan dan memberi solusi ketika terjadi perkelahian atau perselisihan di antara mereka.
Perkembangan intelektualitasnya juga mengagumkan. Melalui tangan dingin orang tua dan
kakeknya, Muhammad Hasyim mendapatkan pendidikan agama yang luar biasa. Tak heran jika
dalam usia relatif muda, 13 tahun, Muhammad Hasyim sudah berani menggantikan guru yang
berhalangan di pesantren orang tuanya.

Mereguk Samudera Ilmu,
Dari Pesantren Hingga ke Mekkah
       Setelah pendidikan dari keluarganya dirasa cukup. Pada usia 15 tahun Muhammad
Hasyim melanjutkan pendidikannya ke sejumlah pondok pesantren. Mulanya ia mengaji di
Pondok Pesantren Wonorejo di Jombang, kemudian ke Wonokoyo di Probolinggo, Tringgilis di
Surabaya, dan Langitan di Tuban. Dari Langitan Muhammad Hasyim bertolak ke Pesantren
Kademangan, Bangkalan Madura, asuhan Kiai Cholil.
       Di bawah asuhan Kiai Cholil, Muhammad Hasyim tumbuh menjadi santri yang kian
cerdas baik secara intelektual maupun spiritual. Ia juga menjadi pribadi yang tawadlu serta
takdzim terhadap guru. Suatu hari, Kiai Cholil duduk dengan muka murung. Muhammad Hasyim
pun tak bisa diam menyaksikan gurunya tampak memendam kesedihan. Rupanya yang membuat
Kiai Cholil murung adalah cincin istrinya terjatuh di jamban.
       “Kiai, sudahlah belikan saja cincin yang baru,” bujuk Muhammad Hasyim. “Tidak.
Cincin itu harus ditemukan. Itu cincin istri saya,” jawab Kiai Cholil masih dengan muka murung.
       Sebagai murid yang takdzim, Muhammad Hasyim tak kuasa melihat gurunya sedih.
Dalam hati ia berguman, ia siap melakukan apapun agar wajah gurunya tak lagi diliputi
kesedihan. “Kiai, kalau begitu biar saya cari cincinnya di jamban sampai ketemu,” kata
Muhammad Hasyim menawarkan bantuan.
       Sejurus kemudian Muhammad Hasyim segera menyusuri jamban dengan penuh
kesabaran. Tangannya dicelupkan ke dalam jamban, disusurinya di antara kotoran-kotoran yang
mengapung. Kendati harus sedikit mengatur nafas dan sesekali menutup hidung, Muhammad
Hasyim tak peduli. Dengan penuh keihlasan, akhirnya cincin yang dicari gurunya segera ia
temukan.
         “Kiai, ini cincinnya sudah saya temukan,” kata Muhammad Hasyim. Melihat cincin yang
dicarinya di depan mata, wajah muram Kiai Cholil menjadi berseri-seri. Betapa bahagianya ia
menyaksikan muridnya begitu takdzim mencari cincin hingga ditemukan. Hubungan guru dan
murid itu pun kian dekat. Tak hanya ketika menjadi santri, bahkan ketika Muhammad Hasyim
sudah menjadi kiai dan memimpin pesantren, mereka masih terus menjaga hubungan baik itu.
Keduanya sering saling mengunjungi.
         Usai nyantri di Bangkalan, Madura, Muhammad Hasyim kembali melanjutkan
pengembaraan intelektualnya dengan nyantri di Pesantren Siwalan, Sono Sidoarjo, di bawah
asuhan Kiai Ya‟kub. Pesantren Siwalan dikenal menonjol di bidang nahwu dan shorof. Di
pesantren ini Muhammad Hasyim ingin memperdalam dan mematangkan dua ilmu itu.
         Lambat laun, Kiai Ya‟kub tertarik dengan Muhammad Hasyim. Kiai bermaksud
menjadikannya menantu. Maka di umurnya yang ke-21, Muhammad Hasyim dinikahkan Kiai
Ya‟kub dengan putrinya, Nyai Nafisah. Tak lama berselang, usai pernikahan itu Muhammad
Hasyim bersama istri dan mertuanya menunaikan ibadah haji ke kota Mekah Al-Mukaromah.
         Semangatnya untuk terus menuntut ilmu tak pernah pupus kendati sudah malang
melintang di sejumlah pesantren di tanah air. Kesempatan beribadah haji di Mekah pun ia
manfaatkan untuk mengaji kepada para ulama Mekah yang telah masyhur di tanah air. Dengan
penuh kesungguhan Muhammad Hasyim mengaji dari satu ulama ke ulama lainnya. Kehidupan
keluarganya pun kian lengkap dengan hadirnya seorang putra yang ia beri nama Abdullah.
         Namun, kegembiraan itu tak berlangsung lama. Sebuah cobaan menimpa keluarganya.
Istri tercintanya, Nyai Nafisah terserang penyakit yang parah hingga akhirnya meninggal dunia.
Duka itu belum berakhir, baru genap 40 hari ditinggal istrinya, putranya, Abdullah menyusul
ibundanya berpulang ke Rahmatullah. Hati Muhammad Hasyim yang saat itu sudah dikenal
sebagai ulama sangat terpukul. Dua orang yang dicintainya menghadap ilahi rabbi.
         Sebagai seorang alim, Muhammad Hasyim atau Kiai Hasyim Asy‟ari, tak bisa terus
menerus larut dalam kesedihan. Ia menyerahkan semuanya kepada Allah Swt. Ia pun mencoba
menghibur diri dengan melaksanakan thawaf serta ibadah-ibadah lainnya, sehingga sedihnya
terobati. Seiring itu, Kiai Hasyim juga rajin menelaah kitab-kitab yang dipelajarinya. Tujuh
bulan di kota Suci, akhirnya Kiai Hasyim kembali bertolak ke tanah air bersama mertuanya, Kiai
Ya‟kub.
         Di tanah air, kerinduannya ke kota suci Mekah mendorongnya kembali untuk
mematangkan ilmu agamanya. Bersama adik kandungnya, Anis, pada tahun 1309 H / 1893 M,
Kiai Hasyim berangkat kembali ke Mekah. Bagi Kiai Hasyim, kota yang didatanginya untuk
kedua kalinya, ini merupakan kota yang merekam bagian dari episode hidupnya beberapa waktu
lalu. Di sana ia pernah merasakan suka, bahagia, hingga duka mendalam atas wafatnya istri dan
anaknya.
         Pada etape keduanya di kota Mekah, kali ini Kiai Hasyim lebih semangat. Semua
kenangan masa lalunya di kota ini dijadikan motivator yang mendorongnya lebih giat ibadah dan
belajar memperdalam ilmu agamanya. Dengan semangat dan penuh kekhusyu‟an Kiai Hasyim
mendatangi tempat-tempat bersejarah dan mustajabah untuk berdoa agar cita-citanya tercapai.
Padang Arafah, Gua Hira‟, Maqam Ibrahim, dan bahkan makam Rasulullah Saw. di Madinah
kerap ia ziarahi.
         Seiring itu, ghirahnya untuk menuntut ilmu juga kian memuncak. Dengan semangat
penuh ia mengaji kepada Syaikh Su‟ab bin Abdurrahman. Untuk mendalami ilmu bahsa dan
syariah, Kiai Hasyim berguru pada Syaikh Muhammad Mahfud Termas. Kemudian yang tak
kalah pentingnya, sesuai dengan minat intelektualnya di bidang hadits, ia pun memperdalam
ilmu hadits bersama Sayyid Abbas Al-Maliki al-Hasani. Ia pun berguru kepada Syaikh Nawawi
Al-Bantani dan Syaikh Khatib Al-Minang Kabawi dalam berbagai bidang keilmuan agama.
       Tujuh tahun mukim di kota Mekah, Kiai Hasyim pun mulai merindukan tanah airnya.
Pada tahun 1899 M atau 1313 H, ia kembali ke tanah air dengan membawa segudang ilmu
agama. Kedatangannya kali ini telah siap untuk mengabdi di tengah masyarakatnya.

Mengabdi untuk Umat,
Mendirikan Pesantren dan Nahdlatul Ulama
        Dalam dunia pesantren, nama Kiai Hasyim Asy‟ari dianggap sebagai ulama pembaharu
sistem pendidikan pesantren. Selain mengajarkan agama dalam pesantren, ia juga mengajar para
santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato. Ia juga
memasukkan ilmu bumi dan bahasa Belanda di pesantren.
        Seulang dari Mekah, Kiai Hasyim tidak langsung membuka pesantren. Mulanya ia
mengajar di di Pesantren Ngedang, milik mendiang kakeknya sekaligus tempatnya tumbuh di
masa kanak-kanak. Setelah itu, ia mengutarakan keinginannya mendirikan pesantren di dusun
Tebuireng.
        Kiai Hasyim sengaja memilih Tebuireng sebagai tempat bagi pesantren yang akan
didirikannya karena daerah ini dikenal sebagai sarang maksiat dan perjudian. Tak heran jika niat
itu banyak ditentang oleh keluarganya dan orang-orang di sekitarnya. Tapi, Kiai Hasyim
meyakinkan bahwa dengan membuka pesantren di tempat itu, maka sekaligus bisa
menghilangkan kemaksiatan dari daerah itu. Meski tantangan untuk itu berat, tapi Kiai Hasyim
telah mantap dengan pilihannya.
        Mengenai nama Tebuireng, menurut salah satu cerita yang berkembang di masyarakat,
nama itu berasal dari kata Kebo ireng atau kerbau hitam. Dulu, konon ada seekor kerbau yang
terbenam di dalam Lumpur yang banyak sekali lintahnya di daerah itu. Setelah kerbau itu dibawa
ke darat, tubuhnya dipenuhi lintah dan warnanya menjadi hitam. Padahal warna aslinya putih
kemerah-merahan. Sejak saat itulah daerah itu disebut Keboireng, yang selanjutnya menjadi
Tebuireng.
        Niat mendirikan pesantren di daerah itu akhirnya terwujud pada 26 Robiul Awal 1317
H/1899 M, dengan nama Pondok Pesantren Tebuireng. Saat itu, Kiai Hasyim dibantu sahabat-
sahabat seperjuangannya, yakni Kiai Abas Buntet, Kiai Sholeh Benda Kereb, Kiai Syamsuri
Wanan Tara, dan beberapa Kiai lainnya. Kiai Abas konon yang membantu mengatasi perlawanan
dari para penjahat-penjahat di daerah itu karena ia dikenal sebagai ahli beladiri.
        Mulailah kegiatan pesantren itu berjalan. Awalnya hanya ada 28 santri yang mengaji
pada Kiai Hasyim. Seiring itu, karena nama Kiai Hasyim dikenal alim di kalangan pesantren,
banyak santri dari berbagai daerah di Jawa yang datang mengaji di Tebuireng. Hingga akhirnya
pesantren itu berkembang pesat menjadi pencetak para kiai yang alim dan disegani di
masyarakat.
        Sebagaimana lazimnya pesantren tradiosional, sistem pendidikan yang diterapkan Kiai
Hasyim awalnya adalah metode sorogan, weton, bandongan, dan halqah. Kitab yang dipelajari
yaitu seputar ilmu agama Islam, syariat, dan bahasa Arab. Namun seiring berjalannya waktu
perubahan sistem dilakukan Kiai Hasyim. Pada 1919 M Kiai Hasyim menerapkan sistem
pendidikan baru yaitu sistem madrasi atau klasikal dengan mendirikan Madrasah Salafiyah
Syafi‟iyah. Sistem ini dibagi dua tingkat yaitu Shifir Awal dan Shifir Tsani.
        Pada periode berikutnya, sebagai Kiai yang inovatif, Kiai Hasyim terus menyempurnakan
sistem pendidikan di Tebuireng. Pada 1929 M ia kembali merintis pembaharuan dengan
memasukkan komponen pelajaran umum ke dalam struktur kurikulum pesantren. Seperti ilmu
bumi, sejarah, dan bahasa Belanda.
        Kebijakan baru itu rupanya tak mudah diterima masyarakat dan wali santri serta ulama
lainnya. Protes pun berdatangan dari segala penjuru. Namun, karena yakin bahwa yang
dilakukannya akan bermanfaat Kiai Hasyim terus melanjutkan pembaharuan itu. Hingga suatu
saat banyak orang menyadari bahwa ilmu umum sangat bermanfaat bagi santri ketika terjun di
masyarakat.
        Ada salah satu tradisi yang dibangun Kiai Hasyim di Pesantren Tebuireng setiap bulan
Ramadhan, yakni membuka pengajian dua kitab hadits, Shahih Bukhari dan Muslim.
Kemampuannya dalam ilmu hadits, diwarisi dari gurunya, Syekh Mahfudh at-Tarmisi di
Mekkah. Inilah yang kemudian menjadi salah satu keistimewaan Kiai Hasyim, yang kemudian
dikenal sebagai ahli hadits, karena memang minat intelektualnya sejak di pesantren dan di
Mekah di bidang hadits. Kegiatan ini menyedot animo luar biasa dari masyarakat, hingga ratusan
kiai berbondong-bondong dari seluruh jawa mengikuti pengajiannya.
        Salah satu Kiai yang menjadi santri Kiai Hasyim pada bulan Ramadhan adalah gurunya
sendiri Kiai Cholil Bangkalan. Ketika Kiai Cholil datang dan mengutarakan niatnya menjadi
santri Kiai Hasyim, mereka terlibat dalam dialog yang sangat mengesankan.
        "Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah
murid Tuan," kata Kiai Cholil.
        Kiai Hasyim menjawab, "Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan
mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya,
seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap
menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya."
        Tanpa merasa tersanjung, Kiai Cholil tetap bersikeras dengan niatnya. "Keputusan dan
kepastian hati kami sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa kami akan turut
belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan," katanya. Karena sudah
hafal dengan watak gurunya, Kiai Hasyim tidak bisa berbuat lain selain menerimanya sebagai
santri.
        Uniknya, ketika turun dari masjid usai shalat berjamaah, keduanya cepat-cepat menuju
tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, karena hendak memasangkan ke kaki gurunya.
Keduanya telah menunjukkan akhlak yang sangat terpuji dan menjadi contoh bagi para santri dan
kiai lainnya. Ternyata bisa saja seorang murid akhirnya lebih pintar ketimbang gurunya. Namun
keduanya harus saling menghormati.
        Di samping menjadi perintis pembaruan pendidikan pesantren, Kiai Hasyim juga dikenal
sebagai pendiri sebuah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).
Organisasi ini berdiri sebagai respons dari kondisi sosial keagamaan yang terjadi di Indonesia
dan dunia pada saat itu, yaitu munculnya gerakan pembaharuan Islam yang menganggap praktek
keagamaan tertentu sebagai tahayul, bid‟ah, dan churafat.
        Di Indonesia kelompok ini diwakili Muhammadiyah dan Persis yang sebenarnya para
tokohnya merupakan kawan satu guru Kiai Hasyim ketika di Mekah. Mereka adalah orang yang
merespon positif gerakan pembaharuan Islam yang tengah berlangsung di Timur Tengah yang
dipelopori Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh.
        Kiai Hasyim bukannya tidak mengetahui dan terpengaruh gerakan pembaharuan yang
tengah bergema di Timur Tengah. Hanya saja, Kiai Hasyim tidak sependapat dengan beberapa
hal, misalnya pemikiran Abduh soal madzhab. Abduh menyerukan agar umat Islam melepaskan
diri dari kererikatan madzhab.
        Bagi Kiai Hasyim umat Islam tidak mungkin memahami maksud dari al-Qur‟an dan
Hadits secara benar tanpa mengaji kitab dari para ulama yang tergabung dalam sebuah madzhab.
Jika tidak bermadzhab, menurut Kiai Hasyim, pemahaman yang dihasilkan hanya
pemutarbalikan saja dari ajaran Islam sebenarnya.
        Nah, di Indonesia perdebatan itu terjadi antara kelompok modernis yang diwakili
Muhammadiyah dan Persis dengan kelompok tradisional. Benturan antara kelompok modernis
yang diwakili Achmad Dahlan dan Ahmad Soerkati dengan kelompok tradisional yang diwakili
para ulama seperti Kiai Abdul Wahab mengemuka dalam Kongres al-Islam tahun 1922 di
Cirebon. Bahkan kalimat yang menuduh syirik, musyrik dan sebagainya mengemuka dalam
forum itu.
        Tahun 1926 dalam Kongres al-Islam di Bandung yang disiapkan untuk Kongres Umat
Islam di Mekah, aspirasi kaum tradisional agar tradisi bermazhab tetap diberi kebebasan,
terpeliharanya tempat-tempat penting seperti makam Rasulullah sampai para sahabat, tidak
diakomodir kelompok modernis.
        Karena aspirasi golongan tradisional tidak tertampung kelompok ini kemudian
membentuk Komite Hijaz. Komite yang dipelopori Kiai Abdullah Wahab Chasbullah ini
bertugas menyampaikan aspirasi kelompok tradisional kepada penguasa Arab Saudi. Atas restu
Kiai Hasyim, Komite inilah yang pada 31 Februari l926 menjelma jadi Nahdlatul Ulama (NU)
yang artinya kebangkitan ulama.
        Nahdlatul Ulama menganut faham ahli sunnah waljama‟ah dengan memegang teguh pada
salah satu dari madzhab empat yaitu Imam Muhammad bin Idris Asyafi‟i, Imam Malik bin Anas,
Imam Abu Hanifah An-Nu‟am dan Ahmad bin Hambali. Kiai Hasyim sendiri terpilih menjadi
Rois Akbar NU, sebuah gelar yang hingga kini tidak seorang pun menyandangnya, karena
beralih menjadi Rois Am.
        Di bawah kepemimpinan Kiai Hasyim, NU tak hanya menjadi organisasi keagamaan, ia
juga menjadi organisasi yang berperan dalam perjuangan kemerdekaan. Kiai Hasyim misalnya
pernah mengeluarkan fatwa tentang jihad berperang melawan penjajah.
        Setelah NU berdiri posisi kelompok tradisional kian kuat. Terbukti, pada l937 ketika
beberapa ormas Islam membentuk badan federasi partai dan perhimpunan Islam Indonesia yang
terkenal dengan sebuta MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia) Kiai Hasyim diminta jadi ketuanya.
Kiai Hasyim juga pernah memimpin Masyumi, partai politik Islam terbesar yang pernah ada di
Indonesia.

Wafatnya Sang Kiai
        Perjuangan Kiai Hasyim tidak pernah berhenti hingga akhir hayatnya 25 Juli 1947,
bertepatan dengan Tanggal 7 Ramadhan 1366 H. Ceritanya, usai mengimami Shalat Tarawih,
seperti biasanya duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. Di tengah
pengajian, tiba-tiba datanglah seorang tamu utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Kiai
Hasyim menemui utusan tersebut dengan didampingi Kiai Ghufron, kemudian tamu itu
menyampaikan pesan berupa surat. Entah apa isi surat itu, yang jelas Kiai Hasyim meminta
waktu semalam untuk berfikir dan jawabannya akan diberikan keesokan harinya.
        Sesaat kemudian, Kiai Ghufron melaporkan situasi pertempuran. “Kiai, kondisi pejuang
sekarang semakin tersudut, rakyat sipil kian banyak yang menjadi korban,” kata Kiai Ghufron.
        “Masya Allah, Masya Allah…” begitu jawaban Kiai Hasyim sembari memegang
kepalanya. Kiai Ghufron menyangka Kiai Hasyim sedang mengantuk. Para tamu pun pamit
keluar. Kiai Hasyim diam saja, tidak menjawab. Kiai Ghufron pun mendekat dan kemudian
meminta kedua tamu tersebut untuik meninggalkan tempat, sedangkan dia sendiri tetap berada di
samping Kiai Hasyim Asy‟ari.
        Betapa kagetnya, Kiai Ghufron baru menyadari bahwa Kiai Hasiyim tidak sadarkan diri.
Dengan tergopoh-gopoh ia memanggil keluarga dan membujurkan tubuh Kiai Hasyim. Pada saat
itu, putra-putri Kiai Hasyim tidak berada di tempat. Kiai Yusuf Hasyim sedang berada di markas
tentara pejuang. Tapi kemudian segera datang dengan membawa seorang dokter bernama Angka
Nitisastro.
        Dari hasil diagnosa dokter, ternyata Kiai Hasyim terkena pendarahan otak. Dokter telah
berusaha maksimal untuk mengurangi rasa sakitnya. Namun Allah Swt. berkehendak lain pada
kekasihnya itu. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Kiai Hasyim Asy‟ari wafat pada pukul 03.00
pagi, tanggal 25 Juli 1947, bertepatan dengan tanggal 7 Ramadhan 1366 Hijriah. Semua orang
berduka melepas kepergian sang pendiri NU itu. Kiai Hasyim dimakamkan di komplek
Pesantren Tebuireng, selanjutnya makam ini menjadi makam keluarganya termasuk almarhum
Kiai Abdurrahman Wahid (Gus Dur), cucunya yang juga Presiden RI ke-4.
        Kiai Hasyim Asy‟ari memang merupakan sosok kiai yang alim, inovatif, dan berjuang
untuk negaranya. Ia tak pernah berhenti berjuang hingga ajal menjemputnya. Bahkan sahabatnya,
Kiai Abdul Wahab Hazbulloh memberi kesaksian. “Kiai Hasyim adalah sosok yang berjuang
terus dengan tiada mengenal surut dan kalau perlu zonder istirahat.” [] HM

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:5865
posted:4/1/2010
language:Indonesian
pages:7