Docstoc

3 Hukum Mestakung

Document Sample
3 Hukum Mestakung Powered By Docstoc
					         3 Hukum Mestakung

         Apa yang terjadi ketika kita menuangkan pasir sedikit demi sedikit ke atas lantai? Ya betul, pasir akan
membentuk suatu bukit pasir kecil. Jika kita terus menuangkan pasir, bukit pasir ini makin lama makin besar dan
makin tinggi. Ketika bukit pasir mencapai suatu ketinggian tertentu yang kita sebut ketinggian kritis terjadilah suatu
keanehan. Pada ketinggian kritis ketika kita terus menjatuhkan butir pasir, butir-butir pasir ini mengatur dirinya,
mempertahankan agar kemiringan bukit pasir tidak berubah. Memang bukit semakin besar, tetapi kemiringan tetap
sama. Aneh bukan? Sepertinya pasir-pasir ini punya otak untuk menghitung agar kemiringan bukit pasir tidak
berubah.

         Peristiwa pengaturan diri seperti yang terjadi pada pembentukan bukit pasir ini merupakan satu diantara
ribuan bahkan jutaan peristiwa pengaturan diri yang terjadi di alam ini. Peristiwa-peristiwa pengaturan diri ini terjadi
ketika suatu sistem berada pada kondisi kritis. Pada kondisi kritis, tiap individu berinteraksi dengan individu-individu
lain. Kemudian individu-individu ini secara bersama-sama mengatur dirinya (self organizing criticality) sehingga mem-
brojol-lah (emerge) sesuatu keadaan yang baru, yang berbeda dari biasanya. Dalam fisika, proses pengaturan diri
pada kondisi kritis dikenal sebagai fenomena kritis (critical phenomena).

         Apa yang terjadi pada air yang berada dalam kondisi kritis (kondisi dimana air berada dalam wujud cair dan
gas secara bersamaan yaitu ketika air berada pada tekanan 218 kali tekanan udara normal dan suhu 3740C)? Disini
juga terjadi proses pengaturan diri (self organizing criticality). Ketika suhu air kritis ini diturunkan sedikiiit saja, secara
tiba-tiba seluruh molekul (tidak hanya satu, ya seluruh molekul), sepertinya ada yang menyuruh, mengubah air kritis
menjadi cair. Atau ketika tekanan diturunkan sedikiit saja, maka secara tiba-tiba seluruh molekul akan mengubah air
ini menjadi gas.

         Proses pengaturan diri ini terjadi juga pada fenomena magnet yang dipanaskan sampai suhu kritis yang
dinamakan suhu Curie. Magnet yang dipanaskan melewati suhu kritis ini         secara tiba-tiba dapat kehilangan sifat
magnetnya. Ataupun pada fenomena superkonduktor yaitu ketika suatu material didinginkan hingga suhu tertentu
yang kita namakan suhu kritis, secara tiba-tiba kehilangan hambatan listriknya.

        Dalam biologi peristiwa pengaturan diri ini terjadi pada angsa-angsa yang hidup didaerah 4 musim. Ketika
musim dingin tiba angsa-angsa berada pada kondisi kritis. Jika mereka diam ditempat mereka akan mati, sebaliknya
jika mereka harus terbang sendiri ribuan kilometer mencari daerah hangat, mereka juga akan mati (tidak sanggup
terbang sejauh itu). Pada kondisi kritis ini terjadilah pengaturan diri, angsa-angsa ini secara ajaib membentuk suatu
kelompok dan terbang dalam suatu formasi berbentuk huruf “V”. Pada formasi ini angsa terdepan mengeluarkan
tenaga paling besar, ia membuka jalur udara untuk angsa-angsa dibelakangnya, sehingga angsa dibelakangnya dapat
menghemat energi. Ketika angsa terdepan ini lelah, angsa dibelakangnya menggantikannya. Mereka mengatur diri
hingga mereka bisa keluar dari kondisi kritis ini.

         Ketika seorang dikejar anjing galak, orang itu berada pada kondisi kritis. Disini sel-sel tubuh orang ini
mengatur diri. Sel-sel ini secara serentak mengubah ATP (adenin Tri phospat) menjadi ADP (adenin diphospat) dengan
melepaskan phospatnya. Pengubahan ini menghasilkan energi ekstra yang digunakan untuk keluar dari kondisi kritis
ini. Yang semula orang itu hanya bisa melompat 1 meter, kini secara tiba-tiba mampu melompat lebih dari 1,5 meter.

         Ketika mengikuti acara pemberian medali Olimpiade Fisika Internasional, saat nama sang absolute winner
(juara) diumumkan, secara serentak penonton berdiri memberikan tepuk tangan yang terus menerus, dengan irama
yang enak didengar. Kembali kondisi kritis mendorong pengaturan diri (self organizing).

         Peristiwa pengaturan diri pada kondisi kritis (Self organizing criticality) ini terjadi juga dalam bisnis atau
kehidupan sosial. Seorang pebisnis ketika bisnisnya berada pada kondisi kritis, secara tiba-tiba menemukan jalan
keluar, ada proses pengaturan diri dimana lingkungan (semesta) membantu dia untuk keluar dari krisisnya. Mereka
sering namakan ini invisible hand. Atau seorang yang ingin sekali sembuh dari penyakitnya secara ajaib mendapat
petunjuk dari sekelilingnya (dari temannya, saudaranya ataupun dari alam sekelilingnya) untuk sembuh dari
penyakitnya. Alam mengatur dirinya untuk ia keluar dari kondisi kritis. Menurut suatu penelitian tubuh kita sudah
mempunyai mekanisme sendiri untuk menyembuhkan berbagai penyakit melalui pengaturan sel-sel tubuhnya.

           Peristiwa pengaturan diri pada keadaan kritis (self organizing criticality) untuk mengeluarkan kita dari kondisi
kritis ini saya namakan MESTAKUNG (MES = seMESta, KUNG = menduKUNG). Ketika terjadi kondisi kritis Tuhan telah
menyediakan semesta (yang dimaksud semesta dalam hal ini adalah sel-sel tubuh kita, pikiran, keluarga, teman,
lingkungan dan alam sekitar kita) yang akan mengatur diri untuk membantu kita keluar dari kondisi ini.

Hukum Alam

Self organizing Criticality atau Mestakung ini merupakan hukum alam. Sama seperti hukum-hukum alam lainnya
(misalnya hukum Gravitasi, hukum benda terapung dsb), hukum ini akan bekerja tidak tergantung pada apakah kita
percaya atau tidak. Benda yang dilepas di atas permukaan bumi akan jatuh ke bawah, tidak pernah jatuh ke atas
terlepas kita percaya atau tidak. Demikian hukum Mestakung ini akan bekerja pada siapa saja terlepas kita percaya
atau tidak, terlepas kita agama, suku, atau ras apapun.

Hukum Mestakung ini terdiri dari 3 hukum yang saya ringkaskan sebagai Krilangkun (merupakan singkatan dari kata
KRItis, LANGkah dan teKUN). Hukum ini berbunyi sebagai berikut:

Hukum 1: hukum Kritis

         „Pada setiap kondisi KRITIS     ada jalan keluar“

Hukum 2: hukum Langkah
         „Ketika seorang MELANGKAH, ia akan melihat jalan keluar“

Hukum 3: hukum Tekun

         „Ketika seorang TEKUN melangkah, ia akan mengalami mestakung (semesta mendukung).

Penjelasan hukum 1:

        Telah kita lihat dalam berbagai contoh di atas bahwa pada setiap kondisi kritis pasti ada jalan untuk keluar
dari kondisi kritis itu. Semua agama mengajarkan bahwa kalau kita berada dalam kondisi kritis jangan menyerah,
Tuhan Yang Maha Kuasa sudah menyediakan jalan keluar.

Ada dua jenis kondisi kritis: kondisi kritis sekarang dan kondisi kritis yang diciptakan.

         Kondisi kritis sekarang maksudnya adalah kondisi kritis yang sedang dialami atau sedang menimpa saat ini.
Misalnya pada contoh diatas angsa yang sedang menghadapi musim dingin ataupun orang yang sedang dikejar
anjing. Contoh lain adalah mereka yang sedang sakit, atau menghadapi masalah keluarga, masalah bisnis (hutang
yang tidak terbayar) atau masalah apapun juga. Hukum ini mengatakan bahwa pada masalah-masalah ini ada jalan
keluar. Jadi jangan takut, percayalah bahwa telah tersedia jalan keluar.

         Kondisi kritis yang diciptakan adalah kondisi kritis yang kita buat sendiri. Misalnya pada contoh diatas adalah
tentang pasir yang dituangkan membentuk bukit pasir ataupun air yang dibuat pada keadaan kritis. Dalam kehidupan
sehari-hari kita bisa menciptakan kondisi kritis yaitu dengan keluar dari zona kenyamanan (comfort zone) kita. Kita
bisa membuat target-target yang tinggi misalnya penghasilan yang dua kali lipat lebih besar, juara dalam
pertandingan tingkat dunia, membangun gereja besar, mengerti suatu hukum alam, menjadi peraih Nobel,
mempunyai keluarga yang sejahtera, mendirikan sekolah ataupun mendirikan rumah sakit. Bagi mereka yang
menginginkan suatu perubahan, ciptakanlah kondisi kondisi kritis berupa target-target yang tinggi.

Penjelasan hukum 2:

Kalau kita mau melihat jalan keluar dari kondisi kritis, kita harus melangkah yaitu dengan membuat strategi untuk
menyelesaikan masalah itu, rajin bertanya pada banyak orang, meminta bantuan dan nasehat orang bijak, sharing
(bercerita) pada orang disekitar kita, membaca buku dan literatur, belajar dari orang yang berhasil keluar dari kondisi
yang mirip, berlatih keras, ataupun merenung sambil berpikir.

Ketika kita melangkah inilah kita akan melihat titik-titik terang berupa pemecahan masalah. Magnet pada kondisi
kritis tidak mungkin kehilangan kemagnetannya kalau kita tidak menaikan suhunya. Suatu bahan superkonduktor
yang berada pada suhu kritis tidak akan menjadi superkonduktor jika suhunya tidak diturunkan sedikit lagi. Angsa-
angsa tidak mungkin keluar dari kondisi kritisnya jika ia tidak bertemu dengan angsa-angsa lain untuk terbang
bersama. Orang yang dikejar anjing tidak mungkin lepas dari gigitan anjing jika tidak melangkah lari. Seorang yang
ingin jadi presiden tidak mungkin bisa jadi presiden jika tidak membuat strategi kesana. Seorang yang ingin sembuh
tidak mungkin sembuh jika tidak mencari jalan atau nasehat orang-orang yang sebelumnya pernah mengalami hal
yang sama.

Penjelasan hukum 3:

Pada kondisi kritis, ketika kita terus melangkah dan melangkah dengan tekun, maka kita akan melihat mestakung,
semesta mendukung kita untuk keluar dari kondisi kritis. Tuhan telah menciptakan semesta untuk kita keluar dari
kondisi kritis ini. Mestakung hanya bekerja ketika kita tekun. Sel-sel orang yang dikejar anjing tidak mungkin
menghasilkan energi yang lebih jika orang itu tidak tekun berlari dan berlari. Seorang Jonathan Pradhana Mailoa tidak
mungkin jadi absolute winner olimpiade fisika ke 38 di Singapura jika tidak tekun berlatih dan berlatih (ketika berlatih
dan berlatih keras inilah semesta mendukung, para pelatih terdorong untuk memberikan buku dan materi yang tepat,
para sponsor terdorong untuk memberikan dana bagi pelatihan, keluarga mendukung, sekolah dan yayasannya
mendukung, teman-temannya mendukung, semua mendukung sehingga apa yang diimpi-impikan oleh Jonathan
berupa medali emas olimpiade fisika bisa tercapai).

Seorang Wahid Supriadi Supriadi tidak mungkin membuat Festival Indonesia di Melbourne. Menurut apa yang saya
dengan dari Wahid Supriadi, Konsul Jenderal Indonesia di Melbourne KJRI tidak punya dana promosi untuk
menyelenggarakan festival Indonesia ini. Mereka harus memutar otak untuk mencari dana. Mereka melangkah, KJRI
mendirikan Lembaga Independen Festival Indonesia Inc. dengan modal nol! Mereka melangkah lagi, mengirim surat
ke ratusan perusahaan/institusi potensial baik di Australia maupun di Indonesia untuk minta dukungan. Namun,
responnya sangat menyedihkan. Apakah mereka menyerah? Tidak! Pak Wahid tekun melangkah, membangkitkan
semangat para penyelenggara, menyusun strategi, menghubungi semua kontak baik individu maupun lembaga-
lembaga swasta dan pemerintah yang masuk dalam mailing list KJRI, dan menjual program-program FI. Tahu apa
yang terjadi? Terjadilah Mestakung di mana-mana. Mahasiswa-mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Australia
menyingsingkan lengan bajunya. Mereka bekerja bersama-sama, mengatur acara, mencari dana, mengundang orang-
orang terkenal dari Indonesia untuk acara seminar, mengundang para penari untuk menunjukkan budaya Indonesia,
dan sebagainya. Beberapa Pemda mulai menunjukkan komitmennya, para sponsor pelan-pelan mulai menghubungi
panitia, dan juga kalangan pengusaha mulai mendaftarkan diri untuk ikut konferensi walaupun harus membayar.
Bahkan dalam minggu-minggu terakhir beberapa sponsor utama datang dan menyatakan komitmennya untuk
membantu festival tersebut. Ribuan orang datang ke Federal Court di Melbourne untuk menyaksikan Festival yang luar
biasa ini. Selama dua hari festival budaya, makanan, dan perdagangan dihadiri sekitar 67 ribu orang, sementara
business conference dihadiri sekitar 150 pengusaha, pejabat Pemda baik dari Indonesia maupun Australia. Luar biasa!
Selesai acara, pemerintah kota Melbourne memberikan pujian dan meminta agar acara ini dapat diselenggarakan
secara rutin setiap tahun di Melbourne. Pemerintah Melbourne bahkan berjanji akan mendukung termasuk
pendanaannya. Luar biasa! Ketekunan membangkitkan mestakung yang membantu keluar dari kondisi kritis.

Apakah Mestakung meniadakan peran Tuhan?
Ada yang bertanya pada saya apakah dengan adanya Mestakung, tidak ada lagi peran Tuhan? Jika tidak ada peran
Tuhan apakah Tuhan itu perlu ada?

Dalam konsep mestakung, kita mengenal Tuhan sebagai pencipta Mestakung. Tuhanlah yang menciptakan semesta
yang dapat mengatur diri ketika suatu sistem disekitarnya berada pada keadaan kritis, untuk membantu sistem itu
keluar dari kondisi kritis. Disini peran Tuhan sangat jelas. Tanpa Tuhan tidak akan ada mestakung. Tanpa Tuhan tidak
pernah ada konsep pengaturan diri sendiri yang begitu indah.




(Yohanes Surya)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:16
posted:4/1/2010
language:Indonesian
pages:3