Artikel Pariwisata by redvalentine

VIEWS: 5,776 PAGES: 3

									Artikel Pariwisata: Kerasnya Tekanan terhadap Coastal Zone Dibalik
Gemerlapnya Pariwisata di Bali

Oleh I Nengah Subadra

Pesatnya pertumbuhan pembangunan untuk kepentingan perumahan dan industri khususnya
industri pariwisata hotel, villa, bungalow, dan sarana kegiatan olah raga air di hampir semua
kawasan pesisir di Bali telah mengakibatkan tekanan-tekanan terhadap kehidupan sosial-budaya
masyarakat, sumber daya alam (air, udara dan tanah), dan ekosistem yang ada di sekitarnya.

Kehidupan sosial-budaya masyarakat sudah semakin terkikis seiring dengan derasnya laju
pembangunan pariwisata. Budaya-budaya asli (indigenous cultures) masyarakat yang hidup di
sepanjang kawasan pesisir di hampir seluruh pelosok Bali seperti nelayan, pembuat garam,
pencari kerang dan batu kerang, serta petani rumput laut sudah mulai ditinggalkan oleh
masyarakat karena dianggap kurang menjajikan kesejastraan hidupnya. Perubahan-perubahan
tersebut tidak terlepas dari manisnya kata “pariwisata” yang beriming-iming dolar. Namun tanpa
mereka sadari bahwa pariwisata secara perlahan telah merubah pola, gaya, dan prilaku hidupnya
sehingga sering kali terjerumus ke dalam “noda hitam” pariwisata.

Fakta
Hilangnya keaslian pantai di Pantai Sanur (dari Pantai Matahari Terbit sampai dengan Pantai
Mertasari) merupakan contoh nyata dari rusaknya sumber daya alam pesisir pantai. Contoh lain
adalah abrasi yang terjadi di Pantai Lebih, Gianyar yang air lautnya sudah mengancam
keberadaan tempat-tempat makan lesehan yang berada di sepanjang garis pantai.

Selain kerusakan pantai, daerah pesisir juga sangat rentan dengan pencemaran air yang
diakibatkan karena pembuangan sapah secara sembarangan di sungai-sungai yang secara
langsung bermuara di pantai atau laut. Sungai yang melewati Kawasan Mangrove Information
Center merupakan salah satu sungai yang langsung bermuara ke laut. Di tempat ini terdapat
tumpukan berbagai jenis sampah yang dibuang secara sembarangan dari hului sungai. Tumpukan
sampah tersebut tidak hanya mencemari air tetapi juga menutupi akar-akar pohon mangrove
dipergunakan sebagai alat pernafasan sehingga mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan dan
penyebaran pohon tersebut. Pencemaran serupa juga terjadi di sungai yang terletak di ujung
Pantai Mertasari, Sanur. Sampah-sampah organik dan non organik secara langsung dibuang ke
laut tanpa melalui proses penyaringan sehingga mengakibatkan terganggunya aktivitas
masyarkat yang sedang berlibur dan berenang di kawasan tersebut.

Faktor                        Utama                       dan                       Pendukung
Tekanan terhadap zona pesisir umumnya disebabkan oleh beberapa hal antara lain; pergantian
jenis dan penambahan jumlah populasi, peningkatan arus urbanisasi, peningkatan jumlah
penduduk lokal, serta invasi yang dilakukan oleh para penanam modal (investor). Seiring dengan
pesatnya pertumbuhan industri khususnya pariwisata di Bali yang sebagian besar objek
wisatanya menawarkan keindahan alam pantai dan aktivitas wisata yang berhubungan dengan
laut atau pantai, maka semakin banyak peluang kerja dan sumber mata pencaharian yang tercipta
dan tersedia di sekitar kawasan pesisir yang dijadikan sebagai objek-objek wisata. Hal ini
mengakibatkan banyak orang datang ke kawasan industri pariwisata untuk mencari nafkah untuk
memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya untuk menggapai masa depan yang lebih
menjanjikan. Pertambahan jumlah penduduk inilah yang mengakibatkan semakin kerasnya
tekanan fisik maupun non fisik di kawasan pesisir.

Tekanan fisik yang terjadi adalah pengalihan fungsi lahan untuk kepentingan pemukiman bagi
masyarakat lokal dan para penduduk pendatang. Selain itu, terjadi pula penggalian sumber mata
air yang menggunakan sumur bor yang mengakibatkan semakin bertambahnya lubang-lubang
pada perut bumi ini. Tekanan non fisik yang terjadi adalah persaingan dalam bidang pendidikan
dan pekerjaan antara penduduk asli dengan pendatang. Fakta yang terjadi di lapangan, sebagian
besar penduduk lokal di kawasan pesisir pantai terhimpit oleh masyarakat pendatang karena
mereka kurang siap dalam berkompetisi untuk mencari pekerjaan di industri pariwisata yang ada
di sekitarnya.

Lemahnya kompetensi (skill, knowledge dan attitude) masyarakat lokal dimanfaatkan oleh para
penanam modal yang tertarik untuk berinvestasi dalam bidang industri pariwisata. Sebagian
besar masyarakat beranggapan bahwa investor adalah pahlawan pembangunan. Tetapi, jika
ditelusuri lebih jauh maka investor adalah sama dengan pisau, bisa dijadikan sebagai senjata
untuk mengamankan dan melindungi diri tetapi bisa juga dipakai untuk membunuh diri sendiri.
Kasus “Loloan” yang terjadi di kawasan pesisir di salah satu wilayah Kabupaten Badung pada
tahun 2007 merupakan bukti nyata yang mengisyaratkan bahwa investor tidak selalu memihak
kepada masyarakat yang bermukim di kawasan pesisir. Secara nyata tempat tersebut dijadikan
sebagai tempat untuk kepentingan upacara bagi pemeluk Agama Hindu yaitu “melasti” namun
dengan seribu cara investor mampu mengalihfungsikan lahan tersebut untuk kepentingan bisnis
investor tersebut. Konflik sosial dan budayapun terjadi, bahkan lingkungan menjadi rusak. Siapa
yang bertanggung jawab untuk memecahkan masalah yang pelik ini?

Faktor-faktor lain yang turut berkontribusi terhadap tertekannya daerah pesisir adalah kebijakan
pemerintah dan persaingan antara industri pariwisata dan perikanan. Kebijakan pemerintah yang
lebih cendrung mendukung perkembangan industri pariwisata dari pada perikanan dan kelautan
telah mengakibatkan kerdilnya pertumbuhan perekonomian masyarakat yang bergelut sebagai
nelayan atau pelaut. Konskuensi lain dari model penerapan kebijakan pemerintah ini adalah
semakin sedikit jumlah orang yang mau meneruskan profesi nenek moyangnya sebagai pelaut
karena sudah dianggap sudah tidak menjanjikan kehidupan dan masa depan yang cerah. Ini juga
yang akan menambahkan jumlah koleksi lagu sejarah bangsa Indonesia “ Nenek Moyangku
Seorang Pelaut …”.

Simpulan                                    dan                                     Rekomendasi
Tingginya tekanan terhadap kawasan pesisir yang terjadi sekaran ini perlu dikaji lebih jauh untuk
mengidentifikasi kerusakan-kerusakan yang telah, sedang, dan akan terjadi yang selanjutnya
dibuat dalam suatu bentuk profile kawasan pesisir. Peran serta masyarakat dalam pelestarian
alam dan lingkungan di sekitar pesisir masih lemah dan sangat perlu ditingkatkan sehingga bisa
turut serta dalam mewujudkan visi dan misi yang tertuang dalam profile penegembangan
kawasan pesisir dengan baik.

Penerapan dan penegakkan hukum terutama dalam pengeluaran izin pembangunan industri
termasuk industri pariwisata harus ditingkatkan. Selain itu perlu adanya pengadopsian konsep
pengembangan suatu kawasan pesisir di suatu daerah atau negara yang telah berhasil
melestarikan alam kawasan pesisir serta mempererat kordinasi antar lembaga pemerintah seperti
AMDAL, Dinas Pariwisata, Dinas Perikanan dan Kelautan, stakeholder pariwisata (industri
pariwisata, LSM, masyarakat lokal, wisatawan, dan akademisi) agar bisa bersinergi dalam upaya
melestarikan dan menyelamatkan kawasan pesisir di Bali.

Catatan:
Artikel ini sudah diterbitkan di Harian Umum Bali Post pada hari Kamis 17 januari 2008

								
To top