; MAKALAH KERAJAAN MATARAM
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

MAKALAH KERAJAAN MATARAM

VIEWS: 37,010 PAGES: 23

  • pg 1
									                           KATA PENGANTAR




       Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas mata kuliah Sejarah Indonesia Zaman Pengaruh Islam yang
berjudul “Kerajaan Mataram Islam”.

       Ucapan terima kasih diperuntukkan bagi dosen pembimbing yang telah
membimbing saya dalam menyelesaikan tugas ini.

       Di samping itu, penulis juga menyadari bahwa tugas ini masih dangkal
dalam pembahasan dan jauh dari kesempurnaan, maka dari itu penulis
mengharapkan adanya kritik dan saran serta tanggapan yang sifatnya membangun
tugas ini agar mendekati kesempurnaan.

       Semoga tugas ini bermanfaat bagi penulis khususnya, rekan mahasiswa
dan pembaca pada umumnya.




                                                       Padang, Januari 2010



                                                            Penulis




                                                                              1
                                                    DAFTAR ISI



                                                                                                                  halaman



KATA PENGANTAR ...............................................................................                       i

DAFTAR ISI ..............................................................................................            ii

BAB I PENDAHULUAN

            1.1 Latar Belakang .......................................................................               1

            1.2 Rumusan masalah ..................................................................                   1

            1.3 Tujuan Penulisan .....................................................................               1

            1.4 Manfaat Penulisan ..................................................................                 2

BAB II PEMBAHASAN

            2.1 Perkembangan Kerajaan Mataram Islam...............................

BAB III PENUTUP

            A. Kesimpulan ...............................................................................

            B. Saran ..........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA




                                                                                                                          2
                                     BAB I

                               PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang

      Kerajaan mataram berdiri pada tahun 1582 pusat kerajaan ini terletak
   disebelah tenggara Yogyakarta, yakni di Kota Gede, para raja memerintah di
   Kerajaan Mataram ini yaitu Penembahan Senopati (1584 – 1601), Mas Jolang
   (1601 – 1677), Mas Jolang (1606 – 1677) dan Adipati Martapura.

      Pada awalnya daerah mataram dikuasai oleh Kesultanan Pajang sebagai
   balas jasa atas perjuangan dalam mengalahkan Arya penangsung, Sultan
   Hadiwijaya menghadiahkan daerah Mataram kepada Ki Ageng Pemanahahan.




1.2 Rumusan Masalah

      Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan beberapa
   masalah tentang latar belakang berdirinya Kerajaan Mataram Islam, Raja-raja
   yang memerintah di Kerajaan Islam dan perebutan Kerajaan Mataram.




1.3 Tujuan Penulisan

   Tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut:

   1. Untuk menyelesaikan tugas akhir semester.
   2. Mengasah kemampuan penulis secara akademik untuk membahas tentang
      Kerajaan Mataram Islam.
   3. Untuk menambah wawasan atau pemahaman terhadap Mataram Islam.
   4. Mencapai nilai yang bagus.


                                                                            3
1.4 Manfaat penulisan

   Dengan penulisan ini ssemoga bermanfaat bagi:

   1. Mahasiswa dalam menggali ilmu dan pengetahuan tentang Mataram Islam.

   2. Sebagai bahan bacaan bagi rekan seperguruan dalam menggali ilmu
      tentang Kerajaan mataram Islam.




                                                                         4
                                      BAB II

                            KERAJAAN MATARAM



2.1 Latar Belakang Kerajaan Mataram

             Kerajaan Mataram berdiri pada tahun 1582, pusat kerajaan ini terletak
   disebelah tenggara Yogyakarta, yakni di Kota Gede, para raja yang pernah
   memerintah di kerajaan Mataram ini yaitu Panembahan senopati (1584-1601),
   pemerintahan Seda Krapyak (1601-1677). Kesultanan mataram memiliki
   peranan yang cukup penting dalam perjalanan sejarah kerajaan. Kerajaan islam
   di Nusa Tenggara (Indonesia). Pada awalnya daerah Mataram dikuasai
   Kesultanan Pajang sebagai balas jasa. Atas perjuangan dalam mengalahkan
   Arya Penangsang. Sultan Hadiwijaya menghadiahkan daerah Mataram kepada
   Ki Ageng Pamanahan, selanjutnya Ki Ageng Pamanahan membangun
   Mataram sebagai tempat pemukiman baru dan persawahan.
             Ki Ageng Pamanahan melanjutkan pembangunan. la membangun
   pusat kekuasaan di Picred dan menyiapkan strategi untuk menundukkan para
   penguasa yang menentang kehadirannya pada tahun 1575, Parnanahan
   meninggal dan digantikan oleh putranya Danane Sutawijaya. la bercita-cita
   membebaskan diri dan kekuasaan Pajang. Sehingga hubung anntara Mataram
   dengan pajang memburuk.


2.2 Pemerintahan dan Masyarakatnya
             Sistem pemerintahan yang dianut Maataram Islam iaiah sistem Dewa
   Raja. Artinya pusat kekuasaan tertinggi dan mutlak ada apa diri sultan,
   seorang sultan atau raja sering digambarkan memiliki sifat keramat yang
   tiada tara. Raja menampakkan diri pada rakyat sekali seminggu dialun-alun
   istana.
             Selain sultan, pejabat lainnya adalah kaum priyai yang merupakan
   penghubung antara raja dan rakyat. Sejain itu panglima perang yang bergelar
   Kusumadayu, serta perwira rendahan atau Yudanegara. Pejabat lainnya adalah
                                                                                 5
   Sastranegara, pejabat administrasi.
          Dengan sistem pemerintahan seperti itu. Penambahan Senapati terus
   menerus memperkuat pengaruh mataram dalam berbagai bidang sampai ia
   meninggal pada tahun 1601. Ia digantikan oleh putranya, Mas jolang atau
   Panembahan Sedaing Krapyak (1601-1613). Mas jolang meninggal ia
   digantikan Mas Rangsang (1613 – 1645). Pada masa pemerintahannya
   penarik kejayaan.


2.3 Hubungan dengan Bangsa Asing
        Pada akhir 1604-an mulai ada pendekatan antara Mataram dan VOC.
  Dengan pulihnya perdagangan dengan VOC diharapkan adanya keuntungan
  banyak bagi Mataram, untuk memperlancar perdagangan itu, sistem monopoli
  dihapus khususnya dalam hal beras. Raja berhak atas sebagian dari keuntungan
  upeti, namun mengalami banyak kesulitan. Pusat menganggap sumbangan
  daerah kurang dan sebaliknya.
        Konflik terus terjadi. Dalam hubungan ini peranan VOC menjadi
   penting, tidak hanya sebagai pedagang tetapi juga kreditor. Mataram hendak
   menjalankan monopoli namun penyelundupan tidak dapat diberantas.
   Pelabuhan terpaksa ditutup tahun 1655 dan dibuka pada tahun 1657. Sistem
   bea masuk tidak dapat dilaksanakan karna VOC tidak setuju membayar bea
   yang tinggi.
        Pada seperempat abad ke XVII, ruang gerak perdagangan pesisir mulai
   menyempit. Komoditinya adalah beras, perdagangan lada berpusat di wilayah
   sebelah barat Indonesia, dan cengkeh serta pala di Makasar dan VOC. Mataram
   juga menjalin hubungan dengan kerajaan lain sangat vital yang turut
   menentukan perkembangan perdagangan dan sejarah Indonesia. Sati demi satu
   kerajaan jatuh ketangan VOC yaitu Makasar, Banten dan Mataram. Penetrasi
   VOC semakin mmendalam dan meluas apabila da pergolakan dan adanya
   golongan yang cenderung menerima bantuan VOC dalam perjuangan
   kekuasaannya.


                                                                              6
2.4 Hubungan dengan Kerajaan Di Indonesia
        Dinasti Banten menganggap dirinya lebih tua sebagai cabang keturunan
   Demak. Raja Cirebon yang mempunyai kewibawaan di mata Banten dan
   bersahabat dengan Mataram tidak dapat mengajak Sultan Banten menghadap
   ke Mataram. Tahun 1650 Sultan Banten mengirim utusan ke Mataram namun
   tidak berhasil, bahkan ketegangan semakin memuncak. Cirebon memihak
   Mataram mengirim ekspedisi ke Banten. Angkatan laut di pimpin oleh P.
   Martasari dan Ngabei Pajang Jawa berlayar mudik melawan S. Tanara dengan
   60 kapal tempur di bawah pimpinan Lurah Astrasusila, hanya satu kapal
   Cirebon dapat menyelamatkan diri.
        Tahun 1652 politik Mataram terhadap Banten berubah, ostpolitik dengan
   cara pura-pura bersahabat dengan Banten. Menurut Belanda ada pengaruh
   golongan agama dan motivasi religius yang mengubah haluan politik raja.
   Perang terhadap Blambangan harus didahulukan karena masih kafir.
   Ketegangan terjadi 4 tahun kemudian karena kesamaan kedudukan yang tidak
   dapat di selesaikan, pecah perang 1657, namun pasukan Mataram banyak
   mengalami rintangan dan tidak berdaya untuk melakukan serangan.
   Perundingan berdamai diselenggarakan pada tahun 1659. Perjuangan segi tiga
   antara Mataram, Banten dan VOC. Banten dapat menembus monopoli VOC,
   dan banyaklah ditampung pengungsian dari Pesisir Jawa dan Makasar,
   berkembanglah gerakan religius yang menentang Belanda. Mataram dibawah
   Amangkurat 1 menjalankan penekanan terhadap golongan religius yang
   bertentangn dengan Banten dan akirnya keduanya saling melemahkan.
         Perdagangan beras dari Mataram ke Palembang dan Jambi membuat
   keduanya berhubungan baik. Kewibawaan Mataram sangat tinggi membuat
   hubungannya semakin erat. Tahun 1650 dan 1658 lalu lintas diplomatik
   berjalan lancar. Permusuhan Makasar dan VOC merupakan rintangan bagi
   hubungan Mataram dan Makasar. Utusan dari Makasar ke Mataram berturut-
   turut 1656-1657 dan 1658-1659, bertujuan memperoleh bantuan. Perjanjian
   1659 mencapai kebuntuan kartena Sultan Amangkurat menuntut Makasar
   sedang dalam perjanjian kedua kerajaan harus saling bantu melawan VOC.
                                                                            7
2.5 Kemunduran Kerajaan Mataram
        Kerajaan Mataram Islam dalam Penambahan Senopati 1575 mencapai
   puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung. Raja ke-3
   rnemerintah tahun 1613-1645      pada waktu wilayah kekuasaan meliputi
   wilayah Jawa Tengah bagian dari jawa barat namun dalam masa
   pemerintahannya. Raja yang menggantikannya terlihat kemunduran
   berangsur wilayahnya semakin sempit akibat anexasi yang dilakukan oleh
   Belanda, sebagai imbauan intervensi Belanda dalam pertentangan di
   kerajaan. Setelah perang Trunajoyo berakhir 1678 Mataram harus
   melepaskan daerah Krawang. Sebagian dari daerah Priangan dan Semarang
   lebih lanjut setelah perang Cina 1743. Seluruh daerah pantai utara Jawa dan
   seluruh pulau Madura sudah dikuasai Belanda. Tahun 1755 kerajaan
   Mataram pecah menjadi 2 kerajaan yaitu Kerajaan Surakarta dan Kerajaan
   Yogyakarta. Tahun 1757-1813 wilayah terpecah lagi dan muncul
   kekuasaan Mangkunegara dan Pakualam.


2.6 Perebutan Hagemoni Mataram I

        Awal perkembangan kerajaan Mataram adalah daerah Kuropaten yang
   dikuasai oleh Ki Gede Pamanahan, daerah tersebut diberikan oleh pangeran
   Adi Jaya, Joko Tingkir yaitu Raja Pajang kepada Ki Gede Pamanahan atas
   jasanya membantu perang saudara di Demak yang menjadi latar belakang
   munculnya Kerajaan Pajang.

        Ki Gede Pemanahan memiliki seorang putra bernama Sutajaya yang juga
   mengabdi kepada Raja Pajang sebagai Komandan Pasukan Pengabdi Raja.
   Setelah   Ki   Gede    Pemanahan     meninggal    1575,   maka    Sutawijaya
   menggantikannya sebagai penganti Mahkota Ki Gede tersebut, setelah
   pemerintahan Sutawijaya kerajaan Pajang berakhir, maka terjadi perang
   saudara antara pangeran Benomo putra hadiwijaya dengan Alfa pangiri, bupati
   Demak yang merupakan keturunan dari Raden Tenggono. Akibat peran
   saudara tersebut maka banyak daerah yang dikuasai Pajang melepaskan diri,
                                                                                 8
sehingga inilah yang mendorong Pangeran Binimo meminta bantuan kepada
Sutawijaya. Atas bantuan Sutawijaya tersebut maka perang saudara dapat di
atasi dan karena ketidak mampuannya, maka secara suka rela pangeran
Benowo menyerahkan tahtanya jepada Sutawijaya. Dengan demikian
berpindahlah kerajaanya. Muncullah kerajaan Mataram. Lokasi kerajaan
Mataram tersebutdi Jawav tengah bagian selatan tengah pusatnyadi Kota Gede
yaitu disekitar kota Yogyakarta sekarang.

2.6.1   Sebab Terjadinya Perlawanan / Perebutan Hogemoni di Mataram

          1) Hubungan Mataram-Madura

             Pendiri kerajaan Mataram adalah Sultawijaya yaitu putra kyai
             Ageng    Pemanahan     kerajaan    Mataram      mencapai     puncak
             kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Agung ketika
             Sultan Agung naik tahta kerajaan Mataram sudah berkembang.

             Pada tahun 1629 setekah menghadapi perlawanan bupati dan
             bupati Madura yang pemberani yang gigih akhirnya Mataram
             dapat   juga   menduduki       daerah   tersebut.   Sultan   Agung
             mengangkat bupati sampang menjadi penguasa seluruh Madura
             dan diberi gelar tahta ningrat 1 dan kemudian dikawinkan
             dengan adik Sultan Agung. Itulah penilaian hubungan antara
             hubungan antara Mataram dengan Madura yang disebut keluarga
             Cakraningrat di Madura yang berkuasa selain berabad-abad.

          2) Hubungan Mataram-VOC

             Sebagai seorang raja besar kekurangan Sultan Agung meliputi
             seluruh jawa timur, Jawa Tengah sebagian Jawa Barat,(Cirebon
             Jombang dan beberapa bagian sebelah selatan).




                                                                               9
     Liku-liku Sultan Agung

        1. Ingin menguasai pulau Jawa

        2. Anti VOC (penjajahan)

        3. Merubah tahun saka menjadi tahun masehi.

            Perhatian Sultan Agung dikerjakan ke Banten, ia
            berpendapat daerah Banten adalah haknya, tentu saja
            Banten tidak mau tunduk kepada Mataram,kemudian
            Sultan Agung mencoba mengajak kompeni Batavia untuk
            menyerang Banten.

            Kompeni menolak dengan pertimbangan kalau Banten
            jatuh ketangan Mataram Sultan Agung menjadi kuat akan
            membahayakan kompeni sendiri.Apabila hubungan antara
            Mataram dan kompeni tidak begitu baik.

            Pemerintahan kerajaan ditandai dengan perebutan tahta
            dan perselisihan antara anggota keluarga yang sering
            dicampuri oleh Batavia.Kompeni yang membutuhkan
            harus   berusaha    memeperbaiki     hubungan     dengan
            Mataram.Sultan Agung mau berdamai kalau Belanda
            menguasai sebai raja yang tertinggi diseluruh pulau Jawa.




   Amangkurat I (Pro VOC)

    Sultan meninggal pada tahun 1695,meninggalkan Mataram dalam
keadaan yang kokoh, aman dan makmur Sultan Agung digantikan oleh
putranya yang begelar Amangkurat I (1670-1671).Amangkurat I tigak
mewarisi sifat-sifat ayahnya, Amangkurat seorang yang lemah
terhadap kompeni tetapi sangat besar terhadap lawan-lawannya dalam

                                                                   10
negeri. Oran-orang yang dianggap lawannya banyak yang dijatuhi
hukuman mati,sehingga banyak yang tidak menyenanginya.

     Pada masa pemerintahannya itu kota kerajaan maka pindah ke
kerta.Pada tahun 1676 kompeni berhasil menandatangani suatu
perjanjian dengan Amangkurat I yang menetapkan antara lain :

 Utusan Mataram keluar Negeri akan dibawa oleh kapal-kapal
    kompeni.
 Kompeni mengirim utuasan tiap tahun ke Mataram
 Kapal-kapal Mataram yang melewati selat Malaka harus ada izin
    dari kompeni.


     Perjanjian dengan kompeni menyebabkan perang.saat tidak senag
rakyat terhadap Amangkurat I bertambah besar. Rakyat tidak senang
terhadap kepemimpinan Amangkurat I, maka pemberontakan dating
karena pemerintah Mataram bukan sebesar Sultan Agung lagi.

     Diam-diam putra mahkota dan berbagai pangeran bersekutu
dengan Terumanejaya untuk melawan kompeni,karena tidak bisa
mengatasi masalah antara kompeni dengan pemberontakan, maka
Amangkurat I melarikan diri.Karena usia yang sudah lanjut,
Amangkurat I meninggal di Tegalarum. Sebelum meninggal, ia
berpesan agar putranya meminta bantuan kepada Belanda. Yang mana
pada masa itu menyebut dirinya sebagai Amangkurat I.




   Amangkurat II (Pro Belanda)
     Pada tahun 1677 Adipati Anom anak dari Amangkurat I berganti
gelar menjadi Amangkurat II menandatangani perjanjian yang berisi
antara lain :



                                                               11
          Semua pelabuhan di Pesisir       Utara dari krawang sampai
           tempat terjauh disebelah timur akan digadaikan pada
           kompeni     sampai   hutang    sunan   terbayar   lunas   dari
           penghasilan pelabuhan itu.
      Hanya kompeni yang boleh memasuki dan menjual kain-kain
           dari Persia dan hindia belanda diseluruh pelabuhan.
     Pada tahun 1680, Amangkurat II beserta tentara memasuki Plered
Amangkurat II tidak dapat menjalankan isi perjanjian, ia merasa terlalu
berat sehigga ia berselisih dengan kompeni pada saat perselisihan itu
datanglah seorang pemberontak bernama Untung Surapati.

     Pada tahun 1703, Amangkurat II wafat ia digantikan Adipati
Anom yang disebut juga Sunan Mas atau Amangkurat III.




   Amangkurat III (Kontra Belanda)
     Amangkurat III lebih tegas dan menggabungkan dirinya dengan
Surapati.Amangkurat III membangun pertahanan di ungaran dipimpin
oleh pangeran Arya Mataram.Pamannya pangeran Puges diam-diam
ternyata mendukung Pakubuwono. Arya Mataram berhasil membujuk
Amangkurat III supaya meninggalkan Kertasura. Ia sendiri kemudian
bergabung dengan Pakubuwona yang tidak lain adalah kakaknya
sendiri.

     Rombongan Amangkurat III melarikan diri ke Ponorogo sambil
membawa pusaka keratin. Di kota ia menyiksa Adipati Martowongso
hanya karena salah paham.           Melihat Bupatinya disakiti, rakyat
Ponorogo memberontak. Amangkurat III pun lari ke Madium, dari
sana kemudian ia pindah ke Kediri. Untung Surapati yang nanti VOC.
Madura dan Surabaya bergerak menyerbu Pasuruan tahun 1706 dalam
pertempuran didesa Surabangil Untung Surapati tewas.


                                                                      12
             Putra-putranya kemudian bergabung dengan Amangkurat III di
         Malang sepanjang tahun 1707. Amangkurat III mengalami penderitaan
         karena diburu pasukan Pakubuwono dari Malang ke Blitar kemudian
         ke Kediri akhirnya memutuskan menyerahkan diri di Surabaya tahun
         1708.

2.6.2 Akibat terjadinya perlawanan /perebutan Hegomoni Si Mataram.

           Pada akhir tahun 1628 J-Ploen menyuruh bakar Jepara san diulang
     lagi pada tahun 1619 waktu perjalanan dari Ambon ke Jakarta tetapi
     pertahanan Jepara yang cukup kuat meninggalkan J.P Coen merebut
     kota itu akibatnya :

     -      Semenjak peristiwa itu hibungan antara Mataram dengan kompeni
     tidak pernah baik, keadaan bertambah buruk ke kota Batavia.
     Mempersulit perdagangan antara Mataram dengan Maluku.

     -      Sultan Agung mengadakan persiapan untuk menyerang kompeni di
     Batavia, pantai utara pulau jawa mulai ditutupi bagi perdadangan asing.

         Motif dari penyerangan disamping untuk membalas penyerangan
         orang-orang Mataram pada tahun 1618 terhadap kentor perdagangan
         VOC juga untuk merusakkan kantor dagang inggris dan untuk
         membuat orang-orang cina pindah ke Jakarta.

         1) Sebab terjadinya perpecahan antara Mataram menjadi kerajaan
            Solo,Yogyakarta, Mangkunegara

            Jawab :

            1). Terjadi perebutan kekuasaan dinasty Mataram yaitu setelah
            meninggalnya    Sultan   Agung     yang    nantinya   digantukan
            Amangkurat I, Amangkurat II dan Amangkurat III yang membagi
            daerah Mataram menjadi 3 bagian yaitu Solo, Yogyakarta,
            Mangkunegoro.
                                                                          13
          Setelah perpecahan ini terbentuklah perjanjian biyonti pada tahun
          1755 :

                   1). Amangkurat II menguasai Surakarta

                   2). Pangeran Mangkubumi menguasai Jogyakarta

          Perjanjian Salatiga pasa tahun 1757 antara lain terbagi 4 wilayah

                   1). Amangkurat III menguasai Surakarta

                   2). Pangeran Mangkubumi menguasai Jogyakarta

          3).a) Surakarta dibagi menjadi 2 wilayah, yang satu milik
          Amangkurat, yang bergelar Sunan PakaBuana, yang satu lagi milik
          pangeran Jambernyawa yang bergelar Mangkunegara.

          b).Yogyakarta    dibagi menjadi 2      yang      satu   milik   Sultan
          Hamengkubuwono,yang satu lagi milik Pakualam.




2.6.3 Perang Suksesi Jawa I

          Pada bulan Juni 1704 VOC mengakui Puger sebagai suruhan
     Pakubuwono I dan meletuslah konflik yang terkenal sebagai perang
     Suksesi Jawa I (1708 – 1708). Daerah pesisir merupakan daerah
     Pakubuwono I. Namun beberapa diantaranya meminta dijadikan daerah
     VOC.

          Pada tahun 1707 Pasuruan berhasil ditakhlukkan, sedangkan
     Amungkurat III yang telah melarikan diri ke Malang pada tahun 1708,
     pada akhirnya Amungkurat III menyerahkan diri kepada VOC
     berdasarkan pebesahan bahwa diperbolehkan memerintah sebagian Jawa
     dan tidak harus tunduk kepada Pakubuwono I, akhirnya Amangkurat III
     dibuang ke Srilanka, dimana ia wafat pada tahun 1734.

                                                                              14
          Pada masa itu Amangkurat telah membagikan harta pusakanya
     kepada para pengikutnya dengan menyembunyikannya di Jawa Timur.
     Pada tahun 1737 putra-putrinya Amangkurat III diperbolehkan pulang ke
     Srilangka.

          Sampai akhirnya tahun 1762, seorang laki-laki anak Amangkurat
     III bernama raden Mas Guntur masih mempunyai keris pusaka.




2.6.4 Perang Suksesi Jawa II

          Pada bulan November 1714 VOC melakukan serangan dan berhasil
     mengalahkan tokoh-tokoh pemberontak dari kubu pertahanan mereka di
     Mataram.

          Usaha terpenting VOC diarahkan ke daerah timur, ketika VOC
     berhasil mencapai kemenangan tersebut dengan jumlah korbannya yang
     amat besar. Maka pasukan memberontak di timur disebut bersatu padu.
     Akan tetapi, karena jatuh banyak korban sebagian akibat pengikut dan
     perang pemberontak-pemberontak itu mulai bercerai berai.

          Sebelum pada tahun 1719, Pangeran Arya Mataram sudah
     menyerah dan wafat pada tahun 1718 dan Jaya Puspita wafata pada
     tahun 1720, Pangeran Butai wafat pada tahun 1724.




2.6.5 Pemberontakan Cina

          Adanya perasaan saling curiga menyebabkan timbulnya kekerasan,
     pada bulan Oktober 1746 berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh.

          Pakubuwono II kini menghadapi suatukeputusan yang paling sulit
     pada masa pemerintahannya, menurut sebuah sumber berbahasa jawa
     terbagi dalam dua kelompok utama, yaitu:

                                                                       15
                1.   Kelompok satu, yang dipimpin oleh Patih Nataka semua
                     memilih melawan VOC dan juga bergabung dengan orang-
                     orang cina.

                2.   Kelompok lain, yang dipimpin oleh penguasa pesisir yang
                     kuat mempunyai pertimbangan bahwa VOC akan menang
                     pada akhirnya.

                Pakubuwono II sekarang baru menyadari betapa buruknya
           kesalahan yang ia perbuat. Sekutunya orang-orang cina kalah
           perangbanyak    pera     pembesar    Jawa   yang   tidak    tertarik   peda
           kebijakannya,dan sebagian kerajaan dengan cepat jatuh ke tangan
           Coencoraningrat 10.

                Pada akhir bulan Juni 1742 pemberontak tersebut mencapai puncak
           dengan direbut Kartasoro, Pakubuwono II dan horodroff melarikan diri
           ke arah timur dan Raja kini kehilangan harapan.

                Cokroningrat       mengajukan   permintaan    kepada     VOC      agar
           Pakubuwono II dijadikan contoh untuk para penguasa yang tidak setia.




2.7 Kehidupan Politik Kerajaan Mataram

           Pendiri kerajaan Mataram adalah Sutawijaya. Ia bergelar Penembahan
   Senopati, memerintah tahun 1586-1601. Pada awal pemerintahannya ia
   berusaha menunjukan daerah-daerah seperti Madium, Pasuruan, Cirebon serta
   Bali.

           Sebelum usahanya untuk memperluas dan memperkuat kerajaan
   Mataram Sutawijaya digantikan oleh putranya yaitu Mas Jolang yang bergelar
   Sultan Raja tahun 1601-1613.

                                                                                    16
     Sebagai Raja Mataram yang berusaha menyingkirkan apa yang telah
dilakukan oleh panembahan Senopati untuk memperoleh kemenangan
Mataram dengan mengandalkan daerah-daerah yang melepaskan diri dari
mataram. Akan tetapi sebelum usahanya selesai Mas Jolang meninggal tahun
1613 dan di kenal dengan sebutan Panembahan Seto Kiopati. Untuk
selanjutnya yang menjadi Raja Mataram adalah Mas Rangrang yang bergelar
Sultan Agung Senopati Indoyo Ngabdurrahman yang memerintah pada tahun
1613-1645. Sultan Agung merupakan Raja terbesar dari kerajaan ini. Pada
masa pemerintahannya Mataram mencapai puncaknya, karena seorang raja
yang gagah berani, cakap dan bijaksana.

     Daerah-daerah tersebut yang diperuntukkan untuk Mataram antara lai
adalah melalui ikatan perkawinan antara adipati-adipati dengan putri-putri
Mataram, bahkan Sultan Agung sendiri menikah dengan Putri Cirebon
sehingga daerah cirebon menjadi daerah kekuasaan Mataram.

     Disamping mempersatukan berbagai daerah pulau Jawa, Sultan Agung
juga berusaha mengusir VOC Belanda dari Batavia. Untuk itu Sultan Agung
melakukan penyerangan terhadap VOC ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629
akan tetapi serangan tersebut mengalami kegagalan. Penyebab kegagalan
serangan terhadap VOC antara lain karena jarak tempuh dari pulau Mataram
ke Batavia terlalu jauh kira-kira membutuhkan waktu 1 bulan untuk berjalan
kaki, sehingga bantuan tentara sulit diharapkan dalam waktu singkat. Dan
daerah-daerah yang dipersiapkan untuk mendukung pasukan sebagai lambang
padi yaitu kerduang dari bekasi kebatavia dibakar oleh VOC sebagi akibatnya
pasujan Mataram kekurangan bahan makanan. Dampak pembakaran lumbung
padi maka tersbar wabah penyakit yang menjangkiti pasukan Mataram.
Serangan pengorbanan belum sempurna. Hal inilah yang banyak menimbulkan
korban dari pasukan Mataram. Disamping itu juga system persenjataan
Belanda lebih unggul dibanding pasukan Mataram.




                                                                        17
     Dalam pemberitaan VOC nama Surapati sudah disebut pada tahun 1678.
Dikabarkan bahwa Surapati bersama beberapa pemuka Bali lain telah masuk
Islam. Rupanya telah masuk islam. Rupanya telah menjadi kezaliman bahwa
budak-budak berasal dari Bali masuk islam setelah menetap di Pulau Jawa.
Beberapa pemuka lain yang disebut antara lain Nayawangsa, Cakrayuda, Sura
yuda, Derpayana, Sarantaka dan Wirantaka. Yang paling terkemuka adalah
Cakarayuda. Anatara lain karena mudah berubah loyalitas. Sebagai gejala
sejarah mirip dengan condottier di Itali (condottier = adalah orang yang
mempunyai profesi “berperang” dan dapat diswa oleh pihak mana saja).

     Dalam ekspedisi kumpeni di daerah pedalamana kontingen itu menjadi
tulang punggung karena dapat memasuki daerah yang sulit ditempuh oleh
Kontingen Eropa. Justru ciri-ciri condottier yang ada pada pasukan Bali,
loyalitas tidak dapat diandalkan sehingga mudah terjadi “pelarian” dari barisan
VOC.

     Sepeninggalan Surapati ada usaha-usaha untuk mendekatinya, antara lain
oleh Ruys dan Van Happel, keduanyamenghimbau agar dia kemabali pada
pangkuan Kumpeni. Setelah Surapati memakai alasan bahwa kakinya sakit,
pihak kumpeni menyadari sukar dicapai persetujuan. Diputuskan oleh kumpeni
untuk menangkap Surapati dan akan dikejar sampai dimana saja. Suatu ancaman
terhadap Batavia oleh kedatangan angakatan laut Inggris, kumpeni terpaksa
menunda pengiriman ekspedisi untuk pengejaran itu.

     Pasukan Couper yang dikirim pada tanggal 24 September 1684
menghadapi serangan barisan Surapati di Rajapalah. Barisan itu terdiri dari
pasukan Bali 500 orang dan 300 orang pasukan Jawa. Pengejaran terhambat oleh
banjir dan penyergapan di Madura tidak berhasil menangkap Surapati. Dengan
pasukannya dia telah meneruskan hijrahnya ke Mataram lewat Banyumas.

     Daerah Banyumas dan Bagelen pada masa itu masih banyak dijelajah
oleh gerombolan-gerombolan pemberontak (Krantan) antara lain dari sisa
pasukan Trunajaya; petualangpetualang, tentara sewaan, dan unsur-unsur
                                                                            18
perbanditan sosial. Dari gerombolan itu yang disebut antara lain gerombolan
sebesar kurang lebih 60 orang Bali di bawah Singaderpa-, gerombolan
Surapati kurang lebih 30 orang (110 orang termasuk keluarga) di bawah
Surapati, Cakrayuda, dan Suralelana dan 40 orang di bawah seorang Daeng.
Bentrokan terjadi dengan pasukan penjagaan di Banyumas dibawah Arya
Wirabrata, akhirnya diketengahi oleh barisan Wates dan Kediri di bawah Ngabei
Wirawidigda, Wiranija dan Mandaraka dan juga oleh barisan Bagelen di
bawah Curuda dan Widigda, Surapati segera menyatakan loyalitasnya terhadap
Sunan Mataram. Kemudian pernimpin pasukan Bali yang telah mengabdi di
Mataram di bawah Wangsanata              dan Singabarong turut serta dalam
perundingan.



2.7.2 Suasana Politik di Kartasura (1684-1686)

                Kedatangan Surapati beserta rombongannya mempunyai arti
      penting     bagi    perkembangan    politik     Mataram     terutama    yang
      berhubungan dengan perbandingan politik antar Mataram dan VOC.
      Pemerintah Amangkurat dimulai dalam masa pergolakn dan akan
      berakhir dalam suasana kekacauan sedang dalam periode di antaranya
      terus-menerus dialami kegelisahan sosial serta pergolakan politik.
      Kehadiran Surapati di Kartasura meningkatkan krisis politik di dalam
      lingkungan yang sudah cukup kompleks itu.

                Sementara Kartasura dibangun sebagai kota istana baru,
      pemerintahan       Mataram   mengalami        proses   reorganisasi,   namun
      konsolidasi tidak sempat dilaksanakan. Oleh karena, gangguan kkonflik
      internal antara kelompok atau klik-klik. Pada waktu itu semangat anti-
      Kumpeni meluap lagi, meskipun tidak selalu tampak di permukaan.
      Partai anti-Belanda dipimpin oleh Patih Nerangkusuma. Di lingkungan
      isatana permaisuri Sunan sendiri, ratu Amngkurat dan Nyai Asem,
      seorang emban sunan, sangat benci terhadap Belanda. Selanjutnya di

                                                                                19
      kalangan para penguasa pesisir juga terdapat tokoh-tokoh, yaitu Suranata
      dari Demak dan Kyai Demang Leksamana, Syahbandar Jepara.

             Sunan sendiri semakin lama semakin anti-kumpeni karena
      pengaruh Nerangkusuma. Sebagai akibat kontrak yang ditanda tangani
      pada tahun 1677 dan pada tahun 1678, Mataram kehilangan banyak
      daerah, utang besar kepada VOC yang mustahil dapat dilunasi oleh
      Mataram.

             Kehadiran pasukan Kumpeni di lingkungan keraton sangat
      menonjoldan merupakan “duri dalam mata” Keraton Kartasura.
      Pengutusan yang terdiri dari R. Arya Sindureja, T.Singawangsa dan T.
      Surawikrama dikirim ke Batavia untuk merundingkan pengurangan
      pasukan Kumpeni di Kartasura dan Jepara. Pihak Kumpenim menunda-
      nunda tanggapan, menyusullah pergolakan Surapati yang dengan
      mendadak mebuat situasi sangat kritis bagi VOC.




2.7.3 Surapati di Karatsura (1685)

            Sebelum masuk Kartasura, Surapati telah berjasa             dalam
     penumpasan pemberontakkan di Kembang Kuning. Dengan pasukan
     kecil yang lebih kurang 400 orang. Di Kartasura rombongan Surapati
     diterima dengan baik dan diberi rempat tinggal tidak jauh dari kepatihan.
     Mereka masih dianugerahi sawah dan wanita. Sunan berkenan untuk
     mengangkat pasukan Surapati sebagai pengawalnya. Sedangkan Surapati
     diakui sebagai pemimpin seluruh pasukan Bali di Karatasura.

            Kehadiran Surapati di Kartasura serta perlindungan Sunan yang
     dinikmatinya me-nimbulkan kejengkelan pada pihak Kumpeni, salah
     satu masalah yang perlu diselesaikan oleh utusannya pada bulan oktober
     1685, ialah Francois Tack, Sunan mengatakan bahwa ia tidak mampu
     memindahkan Surapati dari Karatasura.
                                                                           20
       Misi Kapten Tack juga diberi tugas       menyelesaikan masalah
dengan Surapati, hidup atau mati harus dipegang oleh Kumpeni.
Rupanya tujuan misi itu diketahui di Kartasura, maka ekspedisi Tack
menjadi ancaman besar. Pasukan Tack tiba di Semarang pada tanggal 22
Desember    tetapi   pada   tanggal   27   januari   terjadi   kekacauan.
Nerangkusuma meminta racun kepada Greving, Komandan Kumpeni
untuk membinasakan Surapati akan tetapi usaha itu gagal karena racun
itu tidak mempan. Kemudian Cakraningrat II menjadi perantara. Dan
pada tanggal 7 Februari 1686 kumpeni hendak bertindak terhadap
Surapati, akan tetapi Cakraningrat memanggil VOC agar penangkapan
Surapati diserahkan kepada pasukan Jawa. Digerakkannya pasukan Jawa
sebesar seribu orang dan pasukan Madura, untuk mengepung tempat tinggal
Surapati. Surapati dan barisannya berhasil menembus kepungan itu,
maka orang-orang mulai sangsi akan loyalitas Cakraningrat. Setiba di
Kartasura pada tanggal 8 Februari 1686 Kapten Tack menyiapkan
pasukannya untuk mengadakan serbuan terhadap keraton. Sementara itu ,
Sunan telah meninggalkan keraton, tetapi kemudian dapat ditemukan
oleh Pasukan Tack dan diamankan di keraton lagi dengan pengamanan
yang ketat. Urawan diminta oleh tack untuk menunjukkan jalannya
disertai pasukannya tanpa persenjataan yang cukup. Waktu bergerak dari
Pajang dan sampai ke rumah-rumah yang terbakar, terdengarlah
temabakan-temabakan dari arah keraton. Pasukan kumpeni telah
diserang oleh pasukan Surapati, Greving dan anak buahnya gugur.

       Dalam pertempuran yang berikutnya antara pasukan Tack dan
pasukan pemberontak, tack mati terbunuh. Dari perjalanan pertempuran
itu terbukti bahwa ada persekongkolan dan pengertian antara Sunan dan
Surapati.

       Peristiwa Kartasura yang di uraikan di atas memberikan sorotan
kepada posisi Sunan Amangkurat II, sikapnya yang mendua. Bial
dibandingkan dengan peranannya semasa kedudukan sebagai Putra
                                                                       21
     mahkota menjdai jelas sikap dan perwatakannya. Kecenderungannya
     untuk bersimpati kepada VOC juga cukup jelas, maka dia senantiasa
     terombang-ambing antara kedua pendirian, jadi politiknya setengah-
     setengah.

2.7.4 Surapati di jawa timur

            Waktu Surapati meninggalkan Karatasura dan berhijrah ke Jawa
     Timur, tentara gabungan VOC dan mataram di bawah pimpinan P. Puger
     di kirim untuk mengejarnya. Para Bupati pesisir diperintahkan untuk
     menggabungkan diri kepada ekspedisi itu. Surapati mengadakan
     pertahanan singkel di tepi sungan Brantas sebelah timur. Namun dia
     berhasil menyelamatkan diri dari suatu kepungan dengan menempuh
     jalan air hilir lewat sungai barantas dan melalui wirasaba, bangil dan
     Pasuruan. Barisannya diperkuat oleh Jayanglelana dari Probolinggo dan
     Jayengpusura dari Bangil yang memihak Surapati.

            Waktu keraton Surakarta diduduki oleh tentara kumpeni, Sunan
     Mas menggabungkan diri kepada Surapati dengan tujuan agar gerakan
     Surapati dapat mendukung dia dalam perlawanan melawan VOC. Patih
     Mataram Nerangkusuma juga menyusul masuk barisan Surapati.
     Akhir nya yang bertentangan ialah Kumpeni dan Surapati. Yang
     pertama dibantu oleh Mataram dan Pesisir, sedang yang kedua oleh
     Sunan Mas dan beberapa bupati Jawa Timur, seperti Bupati Bangil dan
     Bupati Probolinggo. Dalam pertikaian itu peranan para bupati pesisir
     sangat menentukan.

            Pasukan Surapati di Pasuruan      terdiri atas bangsa melayu,
     Makasar, bali dan madura. Kesemuanya adalah unsur-unsur anti-Belanda
     dan bersemangat Islam. Kerajaan Blambangan di bawah Tawang Alun
     lebih mencari bantuan VOC akan tetapi penggantinya Senapati bersikap
     anti-Belanda, akhirnya partai pro-Belanda di bawah Mancanegara lebih
     kuat, maka tidak dapat diharapkan bantuannya oleh Surapati. Waktu
                                                                        22
Cakraningrat II dari madura dan Jangrana II dari Surabaya memihak P.
Puger dalam Perang Perebutan Tanta, sedang Sunan Mas ada di pihak
Surapati, kedudukan pihak terakhir menjadi lemah.

       Pasukan VOC dan barisan Surapati mengalami tiga kali secara
berturut-turut di Sungai penangungan, Demak (26 September 1706),
dan Bangil (4 Oktober). Kekalahan diderita terus oleh barisan Surapati
meskipun pertahanan dilakukan secara gigih, seperti pada pertahanan
Benteng Bangil. Akhirnya Bangil jatuh ke tangan Kumpeni, Surapati luka-
luka dan dapat menyelamatkan diri ke Pasuruan. Dan akhirnya karena
luka-lukanya tersebut, ia meninggal pada tanggal 15 November 1706.
Dengan jatuhnya Pasuruan ke tangan VOC para putranya mengundurkan
diri ke pedalaman di daerah Malang.




                                                                    23

								
To top