PERANAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN LAHAN

Document Sample
PERANAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN LAHAN Powered By Docstoc
					  PERANAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN LAHAN
             RAWA MENDUKUNG PEMBANGUNAN
                   AGRIBISNIS WILAYAH 1)

            Pantjar Simatupang dan Abdurachman Adimihardja 2)


                                   Pendahuluan

       Lahan rawa di Indonesia, termasuk yang ada di Propinsi Sumatera Selatan
ini, memiliki peranan makin penting dan strategis bagi pengembangan pertanian,
terutama bila dikaitkan dengan pertambahan penduduk dan berkurangnya lahan
subur karena berbagai penggunaan non pertanian. Peranan lahan rawa dalam
mendukung pembangunan wilayah, dan peningkatan ketahanan pangan nasional
perlu ditingkatkan, mengingat potensi arealnya luas dan beberapa teknologi
pengelolaannya sudah tersedia, namun harus tetap dengan kehati-hatian mengingat
agrekosistem ini sifatnya labil.

       Selain memiliki potensi yang luas dan prospek pengembangan yang baik,
sejarah   reklamasi dan pengembangan lahan         pasang    surut untuk pertanian
juga memperlihatkan berbagai keberhasilan dan kegagalan. Hal ini disebabkan oleh
masalah biofisik lahan, kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kurangnya dukungan
eksternal yang memadai, seperti pembangunan infrastruktur, jaringan tata air dan
perhubungan, kelembagaan, penyediaan sarana produksi, penanganan pasca
panen, pemasaran dan permodalan.

       Mengingat lahan rawa tergolong labil/rapuh terutama dengan adanya zat
beracun dan tanah gambut,          maka pengembangan secara besar-besaran
memerlukan kecermatan dan kehati-hatian, serta        dukungan data yang akurat.
Kekeliruan dalam mereklamasi dan mengelola lahan rawa dapat mengakibatkan
rusaknya lahan dan lingkungan, yang memerlukan biaya besar untuk merehabilitasi
bio-fisik dan kondisi kemasyarakatannya. Kegagalan Proyek Lahan Gambut satu juta
hektar di Kalimantan Tengah telah membuktikan hal tersebut, dan sampai saat ini
masalahnya belum sepenuhnya terselesaikan.


1) Makalah disampaikan pada Seminar dan Lokakarya Nasional “ Hasil Penelitian dan
Pengkajian Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi “, Palembang tanggal 28-29 Juni 2004,
Balai Pengkajian teknologi Pertanian Sumatera selatan
2) Masing-masing adalah Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi
   Pertanian dan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat



                                        347
         Dalam rangka mendukung pengembangan pertanian di lahan rawa,
pemerintah melalui lembaga penelitian dan perguruan tinggi telah melakukan
berbagai kegiatan penelitian di beberapa lokasi terutama di lahan rawa pasang surut
Kalimantan dan Sumatera sejak awal tahun 1970-an. Badan Litbang Pertanian
melalui Balai Penelitian Tanaman Pangan Lahan Rawa (sekarang Balai Penelitian
Pertanian Lahan Rawa) dan berbagai proyek penelitian lintas sektoral telah
melakukan kegiatan penelitian secara intensif sejak pertengahan tahun 1980-an.
Berbagai komponen teknologi usahatani sudah dihasilkan dan beberapa paket
teknologi usahatani juga sudah direkayasa guna mendukung pengembangan
pertanian atau agribisnis di lahan rawa.

         Keberhasilan agribisnis di lahan rawa melalui penerapan teknologi
pengelolaan lahan dan komoditas yang tepat, tentunya           perlu didukung oleh
kemampuan sumberdaya manusia yang berkualitas, sarana dan prasarana yang
memadai serta kelembagaan yang efektif dan efisien. Oleh karena itu, peningkatan
kemampuan dan pemberdayaan SDM, serta partisipasi masyarakat perlu dilakukan
secara sinambung melalui berbagai sosialisasi dan pelatihan baik dalam aspek
teknis maupun non teknis.



                   POTENSI DAN PROSPEK PENGEMBANGAN

         Menurut data yang ada, lahan rawa di Indonesia meliputi areal seluas 33,4
juta ha, yang tersebar di empat pulau besar Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,
dan Irian Jaya, terdiri atas lahan rawa pasang surut sekitar 20,1 juta ha dan
lahan rawa lebak (non pasang surut) 13,3 juta ha (Subagjo dan Widjaja-Adhi,
1998).     Selanjutnya Widjaja-Adhi   dan    Alihamsyah   (1998)   menginformasikan
bahwa lahan pasang surut tersebut terdiri atas 2,07 juta ha lahan potensial, 6,7 juta
ha lahan sulfat masam, 10,89 juta ha lahan gambut, dan 0,44 juta ha lahan salin.
Menurut Abdurachman dan Ananto (2000), luas lahan yang             berpotensi untuk
pertanian 9,53 juta ha dan yang telah direklamasi seluas 4,19 juta ha. Dengan
demikian masih tersedia lahan cukup luas yang dapat dikembangkan sebagai
areal pertanian. Luas dan penyebaran lahan rawa disajikan pada 1.




                                           348
Tabel 1. Luas Dan Penyebaran Lahan Rawa Di Indonesia.

                                                   Luas lahan rawa
      Wilayah
                          Pasang surut                    Lebak                       Total
                             ---------------------------- ribu ha ----------------------------
 Sumatera                     6.600                      2.770                        9.370
 Kalimantan                   8.109                      3.580                      11.689
 Sulawesi                     1.180                         606                       1.786
 Irian Jaya                   4.220                      6.300                      10.520
 Jumlah                      20.109                     13.256                      33.365
Sumber : Nugroho et al. (1992) dalam Widjaja-Adhi (1994); Subagjo dan Widjaja-Adhi (1998)


       Berbagai hasil litbang memperlihatkan bahwa lahan rawa memiliki potensi
dan prospek yang besar serta layak dikembangkan menjadi lahan pertanian,
terutama untuk peningkatan ketahanan pangan nasional dan diversifikasi produksi,
pengembangan agribisnis dan agroindustri, peningkatan lapangan kerja dan
kesejahteraan masyarakat

       Peningkatan Ketahanan Pangan dan Diversifikasi Produksi. Peningkatan
ketahanan pangan dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas dan intensitas
pertanaman pada areal yang sudah diusahakan maupun perluasan areal tanaman
dengan pengusahaan lahan tidur dan pembukaan lahan baru. Hal ini sangat
dimungkinkan, karena ketersediaan airnya cukup, baik dari hujan maupun dari air
pasang dan arealnya yang berpotensi untuk tanaman pangan sangat luas. Di lahan
rawa, padi dapat ditanam sebagai padi sawah maupun padi gogo atau gogo rancah
tergantung kepada penataan lahan dan ketersediaan airnya. Namun, saat ini
intensitas tanam pada lahan rawa umumnya baru satu kali tanam per tahun dengan
produktivitas yang juga rendah. Oleh karena itu, masih terbuka peluang penelitian
dan pengembangan teknologi inovasi untuk meningkatkan hasil panen sesuai
potensinya.

       Pengembangan pertanian di lahan rawa selain dapat meningkatkan produksi
juga untuk diversifikasi produksi, baik bersifat horisontal berupa hasil primer beragam
komoditas pertanian maupun bersifat vertikal berupa aneka hasil olahan. Hal ini
sangat mungkin karena pengembangan sistem usahatani terpadu dengan perspektif
pemaduan berbagai komoditas pertanian yang serasi dapat menghasilkan beragam
hasil pertanian dan produk olahan. Berbagai tanaman hortikultura dan tanaman
industri seperti kelapa, kopi, lada dan jahe serta berbagai jenis ternak dan ikan juga


                                             349
dapat tumbuh baik dan memberikan hasil tinggi. Pemilihan komoditas pertanian yang
diusahakan      disesuaikan      dengan     pola   pemanfaatan        lahan    dan     prospek
pemasarannya.

          Pengembangan Agribisnis dan Agroindustri. Adanya potensi peningkatan
dan diversifikasi produksi memberi peluang besar terhadap pengembangan
agribisnis dan agroindustri. Berbagai usaha sebagai bagian dari subsistem agribisnis
dapat dikembangkan, mulai dari usaha penyediaan benih dan sarana produksi
sampai kepada usaha jasa tenaga kerja dan keuangan serta pengolahan dan
pemasaran hasil. Sedangkan pengembangan agroindustri ditujukan terutama untuk
meningkatkan nilai tambah, seperti kelapa menjadi kopra dan minyak kelapa atau
cabai dan tomat menjadi sambal saus serta buah-buahan menjadi selai dan sirup
atau buah-buahan dalam kaleng untuk ekspor.

          Peningkatan      Lapangan        Kerja   dan         Kesejahteraan     Masyarakat.
Pengembangan        agribisnis    dan     agroindustri   ini    tentunya    secara     otomatis
meningkatkan kegiatan ekonomi sebagai akibat dari pengembangan pertanian baik
oleh petani dalam skala kecil maupun oleh pengusaha dalam skala luas. Hal ini pada
akhirnya akan membuka peluang kesempatan kerja, peningkatan aktivitas ekonomi
dan pendapatan masyarakat serta pengembangan wilayah setempat. Beberapa
contoh disini adalah berkembangnya wilayah pasang surut diberbagai lokasi
transmigrasi di Sumatera Selatan, Jambi, Riau serta Kalimantan Barat, Tengah dan
Selatan sebagai daerah pemasok hasil pertanian terutama tanaman pangan dan
ternak.


                              KENDALA PENGEMBANGAN

          Lahan rawa tergolong lahan marjinal, yakni lahan yang kurang baik untuk
pertanian sehingga pemanfaatannya merupakan pilihan terakhir. Sifat intrinsik basis
usahatani      (content)   maupun         lingkungan     strategisnya      (context)    kurang
menguntungkan bagi pertumbuhan dan perkembangan usaha dan sistem agribisnis
secara berkelanjutan yang selanjutnya berdampak pada tertinggalnya pembangunan
di wilayah tersebut. Perpaduan content dan context yang serba marjinal selanjutnya
menyebabkan marjinalitas dukungan kebijakan pemerintah (consent). Faktor-faktor
marjinalitas tersebut dirinci pada Tabel 2.
          Pertama, agroekosistem rawa kurang baik sebagai basis usaha pertanian.
Tanah rawa miskin hara dan masam sehingga variasi tanaman yang dapat tumbuh


                                             350
baik relatif terbatas dan produktivitasnya pun rendah. Pengendalian tingkat
kemasaman dan tinggi genangan air membutuhkan pembangunan sistem jaringan
irigasi dengan konstruksi yang tepat dan membutuhkan biaya investasi, operasi dan
pemeliharaan yang cukup tinggi. Peningkatan dan pemeliharaan keseimbangan hara
tanah membutuhkan pemupukan berimbang yang cukup intensif. Dengan demikian,
usahatani di lahan rawa secara umum tergolong kategori ongkos tinggi-hasil rendah
(high cost-low output) sehingga daya saingnya relatif rendah.
       Terbatasnya ragam komoditas layak agronomis merupakan kendala teknis
yang membatasi kebiasaan petani dalam memilih dan mengelola pola pertanaman
sesuai dengan kondisi dan dinamika pasar. Komoditas yang paling prospektif dari
segi pasar belum tentu layak secara agronomis. Terbatasnya fleksibilitas dalam
memilih komoditas yang diusahakan menyebabkan usahatani di lahan rawa rawan
terhadap resiko produksi maupun perubahan harga relatif antar komoditas.
       Sifat tanah lahan rawa sangat heterogen secara spasial. Sifat tanah antar
petakan lahan milik petani yang berbeda atau bahkan antar persil dalam petakan
lahan yang sama dapat sangat berbeda. Akibatnya, domain rekomendasi, yakni
cakupan lahan dimana suatu teknologi rekomendasi yang sesuai untuk diterapkan,
sangat sempit. Teknologi harus dirancang secara tailored made , khusus untuk
hamparan lahan tertentu, bukan customized yang dapat digunakan untuk hamparan
luas. Perancangan teknologi secara tailored made jelas menyulitkan, tidak saja
dalam proses pengkajian guna memperoleh teknologi rekomendasi tetapi juga dalam
mengolah usaha tani. Keharusan untuk menggunakan aneka teknologi dan pola
tanam menyebabkan ekonomi skala hamparan kecil atau bahkan negatif
(disekonomi).
       Agroekosistem sangat fluktuatif karena sensitif terhadap dinamika agroklimat
maupun oseanografi (untuk pasang surut). Semakin ekstrim pola musim curah hujan
semakin ekstrim pula pola fluktuasi agroekosistem lahan rawa. Selain oleh curah
hujan, agroekosistem lahan pasang surut sangat dipengaruhi oleh tinggi permukaan
air laut yang berubah cukup besar tiap hari sesuai dengan siklus pasang. Hanya
tanaman yang toleran terhadap fluktuasi egroekosistem tersebut dapat layak
diusahakan secara teknis pada lahan rawa. Tidak saja membatasi pilhan jenis
tanaman yang dapat diusahakan, fluktuasi agroekosistem juga merupakan salah
satu faktor resiko usahatani pada lahan rawa.
       Agroekosistem lahan rawa, sensitif dan rapuh dalam arti mudah berubah
nyata oleh pengaruh eksternal. Sifat ini menyebabkan usahatani pada lahan rawa



                                        351
kurang tangguh menghadapi resiko. Jika tidak dengan pupuk intensif dan berimbang,
pengolahan lahan serta tata air yang baik kesuburan lahan dapat menurun cepat.
Agroekosistem lahan pasang surut juga cepat berubah oleh perubahan iklim maupun
penurunan air laut. Hal inilah yang membuat agroekosistem rawa secara intrinsik
bersifat fluktuatif dan rawan. Dengan perkataan lain, usahatani pada lahan rawa
biasanya kurang toleran terhadap resiko produksi maupun resiko harga.
       Usahatani pada lahan rawa pada umumnya rawan (vulnerable) dalam arti
berada dalam cekaman faktor resiko internal maupun eksternal yang dapat
mengancam produksi usahatani. Faktor resiko internal antara lain kedalaman
gambut, kandungan pirit dan hama penyakit yang semuanya merupakan resiko
langsung bagi usahatani. Faktor resiko ekternal antara lain ialah perubahan
agroklimat dan peningkatan air laut. Upaya untuk mengurangi faktor resiko ini
memerlukan ongkos mitigasi yang tinggi.
       Lahan rawa umumnya memiliki lapisan gambut atau lumpur yang dalam yang
tidak saja kurang baik bagi pertumbuhan tanaman tetapi juga menghambat mobilitas
tenaga kerja manusia maupun alat mekanis. Bekerja pada lahan rawa sungguh
melelahkan. Efisiensi teknis tenaga kerja manusia maupun peralatan mekanis relatif
rendah. Bahkan bila tidak dirancang khusus, berbagai alat mekanis tidak layak guna
untuk lahan rawa. Dengan demikian, usahatani pada lahan rawa membutuhkan
tenaga kerja yang relatif besar. Dengan sendirinya, ongkos tenaga kerja usahatani
pada lahan rawa relatif besar pula.
       Kedua, lahan rawa biasanya terpencil, berada jauh dari pemukiman padat
penduduk dan akses transportasi maupun komunikasi amat rendah. Akar
penyebabnya ialah sifat marjinalitas kawasan lahan rawa itu sendiri. Pemukiman
penduduk selalu berawal pada kawasan yang baik untuk pertanian, nyaman untuk
pemukiman (baik untuk perumahan dan jalan pedesaan, sumber air bersih tersedia,
lingkungan hidup sehat), dekat dengan pusat-pusat perekonomian, dan sarana
transportasi tersedia atau mudah dibangun. Persyaratan tersebut tidak dipenuhi oleh
kawasan lahan rawa (akan diuraikan di bawah ini)
       Lahan yang terpencil menyebabkan ongkos pemasaran produk pertanian
yang dihasilkan di daerah kawasan lahan rawa menjadi tinggi, yang berarti harga
yang diterima petani rendah. Kurangnya fasilitas komunikasi dan rendahnya
mobilitas komutasi warga membuat informasi pasar asimetri, lebih dikuasai
pedagang, sehingga pasar imput dan output pertanian tidak sempurna dan tidak




                                       352
efisien. Masalah pemasaran menjadi salah satu kendala utama usaha pertanian di
kawasan lahan rawa.

Tabel 2. Karakteristik Marjinalitas Lahan Rawa Dan Implikasinya Terhadap Content
         Dan Context Usahatani.
                      Karakteristik                   Implikasi terhadap ”content” dan ”context” usahatani
 1.Agroekosistem kurang menguntungkan
   (unfavorable agroecosystem)
 a. Tidak subur (infertile)                            • Jumlah komoditas yang sesuai (diversifikasi dan
                                                         fleksibilitas usahatani) terbatas
                                                       • Produktivitas tinggi
                                                       • Kebutuhan input eksternal tinggi
 b. Heterogen secara spasial                          • Teknologi dan pola pertanian sempit
                                                      • Ekonomi skala hamparan kecil
 c. Fluktuatif secara temporer                        • Jumlah komoditas yang sesuai (diversifikasi dan
                                                         fleksibilitas usahatanai) terbatas
                                                      • Resiko produksi usahatani tinggi
 d. Rapuh (fragile)                                   • Resiko penggunaan teknologi tinggi
                                                      • Resiko tidak keberlanjutan usahatani tinggi
                                                      • Ongkos mitigasi resiko tinggi
 e. Rawan (vulnerable)                                • Resiko produksi akibat anomali alam tinggi
                                                      • Ongkos mitigasi tinggi
 f. Bergambut atau berlumpur dalam                    • Mobilitas pekerjaan lambat
                                                      • Mekanisasi tidak layak (dicangkul khusus)
 2. Lokasi terpencil (remote)

 a. Akses transportasi rendah                         •   Ongkos pemasaran tinggi (harga output rendah,
                                               harg       input tinggi)
                                                      •   Resiko harga output tinggi
                                                      •   Resiko langka pasok dan lonjak harga input

 b. Akses komunikasi rendah                           •   Informasi pasar asimetris
                                                      •   Inefisiensi pasar
 3. Kurang baik untuk pemukiman

 a. Penduduk jarang                                   •   Kelangkaan tenaga kerja
                                                      •   Potensi pasar lokal rendah
 b. Dorongan migrasi ke luar tinggi                   •   Resiko keberlanjutan sosial
                                                      •   Masalah adverse selection kependudukan
 c. Pendidikan petani rendah                          •   Daya adopsi teknologi rendah
                                                      •   Kapasitas manajemen usahatani rendah
 4. Pembangunan tertinggal (underdeveloped)

 a. Infrastruktur pendukung kurang                    •   Kapasitas sumberdaya tidak dapat ditingkatkan
                                                      •   Pemanfaatan sumberdaya tidak optimal
 b. Usaha dan sistem agribisnis kurang maju           •   Sistem distribusi dan pemasaran kurang lancar
                                                      •   Kendala modal eksternal
                                                      •   Dampak pengganda usahatani rendah
 c. Pendapatan penduduk sekitar rendah                •   Permintaan lokal rendah
                                                      •   Kendala modal internal petani
 5. Kurang dukungan kebijakan pemerintah

 a. Investasi sarana publik                           •   Investasi swasta rendah
                                                      •   Infrastruktur kurang
 b. Insentif dan fasilitasi usahatani kurang          •   Profitabilitas usahatani rendah
                                                      •   Usahatani stagnan




                                                  353
       Ketiga, kawasan pasang surut kurang baik untuk pemukiman penduduk. Ini
merupakan implikasi langsung dari agroekosistem yang kurang baik untuk usaha
pertanian yang merupakan basis produksi pangan dan sistem perekonomian desa
penopang kehidupan penduduk. Selain itu, lahan yang labil kurang baik untuk
tapapakan perumahan maupun jalan pedesaan. Sumber air bersih sulit diperoleh.
Ekosistem lahan rawa baik untuk sarang nyamuk. Dengan kesempatan ekonomi
yang terbatas dan lingkungan pemukiman yang kurang nyaman, orang tidak suka
atau bahkan cenderung meninggalkan kawasan lahan rawa (migrasi keluar)
khususnya mereka yang berpendidikan cukup tinggi.
       Akibatnya, penduduk di daerah lahan rawa umumnya sedikit (kepadatan
agraris rendah). Tingkat pendapatan penduduk yang umumnya rendah dan sarana
pendidikan yang umumnya kurang menyebabkan tingkat pendidikan penduduk di
kawasan rawa relatif rendah. Hal ini diperburuk pula oleh kecendrungan emigrasi
permanen warga yang berpendidikan relatif cukup baik.       Dengan karakteristik
demografi demikian, usahatani di kawasan pasang surut umumnya dikelola oleh
petani dengan kapasitas manajemen yang rendah, menghadapi kendala pasokan
tenaga kerja, dan basis perekonomian yang rendah.
       Tak haya berdampak negatif terhadap kuantitas penduduk, kecenderungan
emigrasi penduduk merupakan proses penyaringan sosial (secara kualitatif). Warga
terbaik (dari segi pendidikan, kewirausahaan) cenderung pindah keluar dan yang
tinggal adalah warga yang kurang progresif . Proses penyaringan sosial yang buruk
(adverse selection) ini juga merupakan ancaman keberlanjutan pembangunan di
kawasan rawa, termasuk keberlanjutan usaha pertanian.
       Keempat, pembangunan di daerah rawa umumnya tertinggal (under
developed). Infrastruktur perekonomian umum seperti parasarana dan sarana
transportasi, kelistrikan, telekomunikasi dan air bersih pada umumnya belum ada
atau tersedia kurang memadai. Hal sama berlaku untuk infrastruktur penunjang
agribisnis seperti jaringan irigasi, pasar dan sistem distribusi input-output-
permodalan, dan sistem inovasi teknologi (sistem distribusi benih, penyuluhan).
Secara singkat, baik usaha dan sistem agribisnis maupun usaha dan sistem
perekonomian kawasan secara umum masih belum tumbuh-berkembang secara
luas, mendalam dan koheren. Akibatnya, pendapatan penduduk pada umumnya
masih rendah.
       Pembangunan yang masih tertinggal merupakan kendala bagi usaha
pertanian di kawasan rawa. Betapapun besar potensinya, lahan yang tersedia tidak



                                      354
dapat dimanfaatkan secara optimal. Usahatani menghadapi kendala teknologi, modal
dan   pemasaran.    Secara      umum,   marjinalitas   (ketertinggalan)   pembangunan
merupakan tatanan lingkungan strategis yang tidak kondusif bagi pertumbuhan dan
perkembangan usaha pertanian di daerah rawa.
       Kelima, kurangnya dukungan kebijakan pemerintah. Marjinalitas dukungan
kebijakan pemerintah terrefleksikan pada kurangnya fasilitas prasarana publik,
termasuk parasarana pertanian dan prasarana ekonomi umum, di daerah rawa.
Seperti yang telah diuraikan, kurangnya prasarana pendukung inilah salah satu
kendala utama usaha pertanian di kawasan rawa. Kiranya patut dicatat, investasi
publik pada umumnya komplementer dengan investasi swasta. Jika investasi publik
tidak memadai maka investasi swasta pun akan rendah pula. Investasi publik
merupakan motor penggerak investasi swasta yang mutlak memadai untuk dapat
memicu dan memacu perkembangan agribisnis di kawasan rawa.
       Kurangnya    investasi    pemerintah    di   kawasan    rawa   dapat   dipahami
berdasarkan rasionalitas komersial. Dukungan kebijakan pemerintah diprioritaskan
untuk wilayah yang memiliki potensi pembangunan tinggi, biaya investasi kecil,
namun dampak investasi tersebut cukup besar dan segera. Selain rasionalitas
dampak ekonomi, prioritas wilayah investasi pemerintah juga sangat ditentukan oleh
pertimbangan sosio-politik. Investasi pemerintah di prioritaskan pada wilayah-wilayah
padat penduduk. Dengan begitu, secara sosial, manfaat investasi publik dapat
dinikmati oleh rakyat banyak, dan secara politis hal itu akan memberikan dukungan
rakyat banyak kepada pemerintah pembuat kebijakan. Masalahnya ialah, dari segi
potensi ekonomi maupun potensi politik (jumlah dan kualitas penduduk) wilayah
pasang surut kalah bersaing dengan wilayah lainnya sehingga tidak menjadi prioritas
pembangunan bagi pemerintah.
       Dari paparan diatas, marjinalitas content, context dan consent, potensi
kawasan rawa merupakan kendala maha berat pengembangan usaha pertanian di
kawasan rawa. Marjinalitas yang demikian luas dan dalam cenderung memasung
kawasan rawa dalam jerat lingkaran keterbelakangan (under development trap)
seperti yang ditampilkan pada Gambar 1. Dengan demikian, issu sentral
pembangunan agribisnis kawasan rawa ialah bagaimana memutus jerat lingkaran
keterbelakangan tersebut.




                                         355
                                   USAHA DAN SISTEM
                                      AGRIBISNIS
                                       MARJINAL




    AGROEKOSISTEM                                                   MARJINALISASI
      DAN LOKASI                                                   PEREKONOMIAN
       MERJINAL                                                       WILAYAH




                  KEBIJAKAN                            MARJINALISASI
                  MARJINAL                            KEPENDUDUKAN




  Gambar 1. Siklus Marjinalisasi Usaha dan Sistem Agribisnis di Kawasan Rawa.


            PERAN STRATEGI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

       Pemerintah Indonesia sudah lama menyadari betapa besar potensi lahan
rawa di Indonesia. Oleh karena itulah, sejak awal tahun 1970-an pemerintah telah
melaksanakan penelitian eksploratif untuk inventarisasi dan evaluasi potensi
pengembangan, penelitian teknologi dan kelembagaan agribisnis, serta penelitian
kaji-terap sistem usaha pertanian. Pada saat ini, sudah tersedia pengetahuan dan
teknologi yang cukup untuk menunjang pengembangan agribisnis di kawasan rawa.
Bahkan beberapa tahun yang lalu, pemerintah Indonesia telah mencoba
mengembangkan lahan pasang surut di Kalimantan yang dikenal dengan proyek
besar ” Pengembangan Lahan Gambut Sejuta Hektar ”. Sayang, proyek ini gagal
total, walaupun lahan telah dibuka amat luas dengan biaya investasi amat besar.

       Terlepas dari kerugian yang ditimbulkan oleh kegagalan masa lalu, dengan
potensi pengembangan yang demikian besar dan tuntutan kebutuhan yang amat
mendesak, tidak ada pilihan lain, pemerintah Indonesia harus kembali sungguh-


                                       356
sungguh mengembangkan agribisnis di kawasan lahan rawa secara besar-besaran.
Mnegutip Widjaja-Adi, et.al (2000) : ”Hanya saja perencanaan, pemanfaatan, dan
pengembangan harus disusun berdasarkan pada kaidah-kaidah hasil penelitian dan
pengalaman masa silam, mengukir masa depan diatas batu sandungan masa silam
”.

         Pengembangan lahan rawa ke depan secara umum harus memenuhi tiga
syarat, yaitu secara teknis bisa dilaksanakan dan diterima masyarakat, secara
ekonomi layak dan menguntungkan, serta tidak merusak lingkungan. Artinya
pengembangan lahan rawa memerlukan teknologi yang bukan hanya secara teknis
dapat dilaksanakan tetapi juga dapat diterima oleh masyarakat sesuai dengan
preferensi dan kemampuannya. Selain itu diperlukan juga model usahatani dan
model pengembangan kelembagaan pertanian, serta cara-cara yang efektif untuk
membantu penerapannya di masyarakat.

         Dengan demikian penelitian pertanian lahan rawa harus diarahkan kepada
penemuan teknologi maju yang mencakup aneka komoditas pertanian unggulan,
teknologi reklamasi dan pengelolaan lahan, penemuan kebijakan dan model
pengembangan agribisnis serta kelembagaan penunjangnya.

         Salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) dibawah lingkup Badan Litbang
adalah Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), yang berada di Banjar Baru,
Kalsel. UPT, yang diberi mandat khusus untuk melaksanakan penelitian pertanian
lahan rawa tersebut perlu didorong untuk terus menghasilkan berbagai teknologi
yang dibutuhkan untuk mengembangkan pertanian lahan rawa. Sementara BPTP-
BPTP di provinsi-provinsi yang memiliki areal rawa cukup luas, seperti BPTP
Sumatra Selatan ini,     harus menjalin kerja sama yang sinergistis dan saling
menguntungkan dengan UPT tersebut. Balittra harus memberikan teknologi yang
efektif, sedangkan   BPTP harus menindak-lanjuti dengan pengkajian-pengkajian
untuk mendapatkan teknologi spesifik lokasi, dan selanjutnya memberikan umpan
balik.
         Dari penelitian intensif yang telah dilakukan Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, telah diperoleh berbagai teknologi dan kelembagaan
tepat guna untuk pengembangan agribisnis di lahan rawa. Panelitian-penelitian
terdahulu telah menghasilkan bukti-bukti yang meyakinkan bahwa lahan rawa
memiliki prospek yang besar untuk pengembangan agribisnis dalam rangka
pencapaian swasembada pangan, diversifikasi produksi, peningkatan pendapatan



                                        357
dan lapangan kerja, serta pengembangan perekonomian wilayah ( Proyek P2LPSR-
Swamp II, 1993 dan 1993 dalam Widjaja-Adi.et.al 2000 ).
        Lahan rawa dapat ditanami dengan berbagai jenis tanaman pangan seperti
padi, jagung, kacang tanah, kacang hijau, ubikayu, dan ubi jalar. Tidak saja varietas
tradisional, verietas unggul tanaman padi dan palawija terbukti dapat beradaptasi
dengan baik di lahan rawa. Tanaman perkebunan yang dapat tumbuh dan
memberikan hasil yang cukup tinggi antara lain, kelapa, kopi, lada, dan bahkan jeruk.
Berbagai jenis tanaman hortikultura (sayuran dan buah-buahan) juga terbukti dapat
tumbuh dan memberikan hasil yang baik. Sebagai gambaran, hasil penelitian tentang
produktivitas beberapa tanaman pada empat tipe lahan pasang surut ditampilkan
pada Tabel 3.

Tabel 3.   Kisaran Produktivitas Beberapa Tanaman Pada Empat Tipologi Lahan
           Pasang Surut (Ton/Ha).

                                              Tipologi lahan
    Komoditas
                        Potensial      Sulfat masam        Gambut            Salin
 Padi sawah              3,2-6,3          2,6-4,5          2,7-4,0          2,6-3,9
 Padi gogo                   -             1,5-2,8          1,8-2,5            -
 Jagung                  1,7-2,8           2,4-3,6          2,1-4,1         1,0-1,7
 Kedelai                 0,8-1,2           0,8-1,0          0,8-1,0         0,9-1,2
 Kacang hijau            0,7-0,9           0,6-1,0          1,5-2,4         0,7-0,8
 Kelapa                   12-20             4-10             7-13           18-28
                                               a      b
Sumber : Proyek P2LPSR-Swamps II (1991,1993 , 1993 ) dikutip dari Widjaja-Adi (2000).


       Hasil analisis usahatani eks-ante (Ekspose Teknologi Pertanian Lahan
Pasang Surut di Barito Kuala, 2003) menunjukkan bahwa pengembangan berbagai
komoditas pertanian adaptif baik secara tunggal maupun dalam suatu sistem
usahatani terpadu di lahan pasang surut cukup layak secara ekonomi (Tabel 4 dan
5). Tanaman sayuran memberikan nilai keuntungan dan R/C lebih tinggi daripada
tanaman pangan, namun memerlukan pemeliharaan lebih intensif dan biaya lebih
tinggi sehingga pengusahaannya oleh petani tidak bisa secara ekstensif. Sedangkan
usahatani terpadu antara tanaman padi – jeruk - cabai memberikan keuntungan dan
nilai R/C yang tinggi sehingga layak dikembangkan.

       Beberapa hasil penelitian     sistem usahatani di Sumatera Selatan, Jambi,
Riau, Kalimantan Barat dan Selatan menunjukkan bahwa walaupun keragaan
pengembangan pertanian beragam antar lokasi tapi masih layak, dimana tanaman


                                         358
padi memberikan kontribusi paling besar terhadap penerimaan usahatani di semua
tipologi lahan. Nilai Incremental Benefit Cost Ratio (IBCR) sistem usahatani masing-
masing sebesar 3,55; 2,65; 1,54; dan 2,14 pada lahan potensial, sulfat masam,
gambut dan salin. Sedangkan kombinasi usahatani sistem longyam di lahan
pekarangan dan sistem surjan di lahan usaha seluas 1,75 ha yang ditanami tanaman
pangan dan sayuran memberikan nilai IBCR sebesar 1,74.

Tabel 4. Keragaan Ekonomi Berbagai Tanaman di Lahan Sulfat Masam Pada
         Ekspose Teknologi Pertanian Lahan Pasang Surut di Barito Kuala, 2003.


                                Biaya            Penerimaan      Keuntungan
       Jenis tanaman                                                              R/C
                               (Rp/ha)            (Rp/ha)          (Rp/ha)

 Tanaman Pangan
 Padi lokal                   1.103.300          3.750.000        2.647.000       3,40
 Padi Margasari               2.499.000          4.500.000        2.001.000       1,80
 Padi unggul                  3.086.000          4.200.000        1.114.000       1,36
 Kedelai                      4.368.000          6.300.000        1.932.000       1,44
 Kacang tanah                 3.080.000          8.000.000        4.920.000       2,60
 Kacang hijau                 3.561.000          6.750.000        3.190.000       1,90
 Jagung                       2.400.000          4.000.000        1.600.000       1,67

 Tanaman Sayuran *)
 Cabai                        1.380.000          4.800.000        3.420.000       3,48
 Tomat                        1.231.000          7.680.000        6.449.000       6,24
 Kubis                        1.926.000          7.168.000        5.242.000       3,72
 Timun                        1.713.000          4.608.000        2.895.000       2,69
 Buncis                       1.820.000          3.072.000        1.252.000       1,69
*)   Tanaman sayuran ditanam pada bagian guludan surjan seluas 0,224 t/ha lahan


          Dengan kendala marjinalitas yang demikian berat, berbagai teknologi inovatif
yang telah dihasilkan Badan Litbang Pertanian nampaknya masih harus terus di
perbaiki dan disempurnakan agar dapat di adopsi lebih cepat dan lebih luas.
Penelitian terdahulu tersebut praktis di fokuskan pada dua jenis teknologi yaitu
peningkatan produktivitas dan penekanan biaya produksi. Kedepan, cakrawala
inovasi baru yang perlu dieksplorasi ialah teknologi untuk menciptakan atau
meningkatkan mutu khas komoditas spesifik lahan rawa. Hal ini mungkin dilakukan
antara lain dengan mengeksploitasi kandungan mineral-mineral logam berat yang
cukup tinggi di lahan rawa, khususnya besi, dan esensial untuk kesehatan manusia.



                                           359
Dengan perkataan lain, usahatani di lahan rawa diarahkan untuk menghaislkan
bahan pangan “fungsional”, yakni bahan pangan yang kaya kandungan zat gizi
tertentu. Salah satu contoh konkritnya ialah “gandum rice” yang kaya akan zat besi
dan kini sedang dikembangkan oleh IRRI.


Tabel 5. Hasil Analisis Usahatani Sistem Surjan di Lahan Sulfat Masam Pada
         Ekspose Teknologi Pertanian Lahan Pasang Surut di Barito Kuala, 2003.


                            Biaya            Penerimaan     Keuntungan
    Jenis tanaman                                                           R/C
                           (Rp/ha)            (Rp/ha)         (Rp/ha)

         Pola padi lokal pada tabukan dan jeruk + cabai pada guludan
 Padi lokal                  856.000          2.910.000      2.054.000     3,40
 Jeruk                     1.162.000         10.070.000      8.908.000     8,67
 Cabai                       810.000          1.500.000        690.000     1,85
 Jumlah                    2.828.000         14.480.000     11.652.000     4,93
     Pola padi – padi unggul pada tabukan dan jeruk + cabai pada guludan
 Padi unggul               3.794.000          6.984.000      3.190.000     1,84
 Jeruk                     1.162.000         10.070.000      8.908.000     8,67
 Cabai                       810.000          1.500.000        690.000     1,85
 Jumlah                    5.766.000         18.554.000     12.788.000     3,21

       Arahan penelitian demikian cukup prospektif. Di satu sisi, hal itu konsisten
dengan keunggulan komparatif lahan rawa yang kaya akan mineral tertentu. Di sisi
lain, permintaan pasar terhadap bahan pangan “fungsional” semakin meningkat
seiring dengan peningkatan pengetahuan dan kesadaran gizi masyarakat. Harga
bahan pangan fungsional jelas lebih tinggi dari bahan pangan tradisonal. Dengan
menghasilkan komoditas khas bernilai tinggi maka masalah marjinalitas lahan
mungkin dapat diuvah menjadi kekuatan dalam pengembangan agribisnis di
kawasan lahan rawa.

                                     PENUTUP

       Optimalisasi pemanfaatan lahan rawa meerupakan salah satu peluang yang
paling mungkin dilakukan guna menkompensasi fenomena penurunan luas baku
lahan subur yang telah menyebabkan perlambatan laju peningkatan produksi
pertanian dan percepatan marjinalisasi kepemilikan lahan di Indonesia. Lahan rawa




                                       360
amat potensial sebagai sumber pertumbuhan baryu sektor pertanian di masa
mendatang.

       Lahan rawa memang bukanlah lahan terbaik untuk pengembangan agribisnis.
Tidak saja sifat intrinsik agroekosistemnya, lingkungan strategis kawasan lahan rawa
serba marjinal sehingga amat sukar dan mahal untuk di kembangkan menjadi pusat
pengembangan agribisnis.

       Tersedianya teknologi unggul spesifik lahan rawa merupakan kunci utama
pengembangan agribisnis di kawasan lahan rawa. Penelitian intensif yang sudah
sejak lama di lakukan Badan Litbang Petanian telah menghasilkan banyak teknologi
usaha pertanian di lahan rawa. Inovasi teknologi tersebut terbukti mampu
meningkatkan kapasitas lahan rawa sehingga layak menjadi basis bagi berbagai
jenis usahatani.

       Inovasi teknologi konvensional yang bersifat meningkatkan produktivitas dan
atau menurunkan biaya produksi usahatani kurang efektif untuk mengatasi kendala
marjinalitas lahan rawa sehingga agribisnis di kawasan lahan rawa tumbuh kembang
secara lambat saja. Oleh karena itu, ke depan, penelitian untuk pengembangan
lahan rawa perlu di perluas dengan mengeksplorasi kemungkinan terobosan
produksi komoditas bahan pangan “ fungsional “, yakni bahan pangan yang kaya
kandungan zat gizi esensial seperti besi dan mineral lainnya, yang juga terkandung
amat tinggi di tanah rawa. Komoditas pangan fungsional tidak saja bermutu gizi lebih
tinggi, harga pasarnya pun lebih tinggi pula daripada bahan pangan tradisonal.



                               DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman dan Ananto (2000). Konsep Pengembangan Pertanian Berkelanjutan
      di Lahan Rawa untuk mendukung Ketahanan Pangan dan Pengembangan
      Agribisnis. Makalah Utama Disajikan Pada Seminar Nasional Penelitian dan
      Pengembangan Pertanian Lahan Rawa. Bogor, 25-27 Juli 2000. 23 hlm.
      (tidak di publikasikan).


Nugroho et.al. (1992) dalam Widjaja-Adhi (1994). Peta Areal Potensial untuk
      Pengembangan Pertanian Lahan pasang Surut, Rawa, dan Pantai. Proyek
      Penelitian Sumberdaya Lahan. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.
      Badan Litbang Pertanian.

Proyek P2LPSR-Swamps II. 1991. Hasil Utama Sistim Usahatani Lahan Pasang
      Surut dan Rawa, tahun 1987-1990. Badan Litbang Pertanian. 63 hlm.



                                        361
       Proyek P2LPSR-Swamps II. 1993a. Petunjuk Teknis Pengelolaan Sistim
       Usahatani di Lahan Pasang Surut. Badan Litbang Pertanian. 97 hlm (Tidak
       dipublikasikan).

Proyek P2LPSR-Swamps II. 1993b. Sewindu Penelitian Pertanian di Lahan Rawa.
       Tahun 1985-1993. Badan Litbang Pertanian. 128 hlm (Tidak dipublikasikan).

Subagjo dan Widaja-Adhi (1998). Peluang dan Kendala Penggunaan Lahan Rawa
      untuk Pengembangan Pertanian di Indonesia. Kasus: Sumatera Selatan dan
      Kalimantan Tengah. hlm. 13-50 dalam Prosiding Pertemuan Pembahasan
      dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat. Makalah Utama.
      Bogor, 10-12 Februari 1998. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor


Widaja-Adhi dan Alihamsyah (1998). Pengembangan Lahan Pasang Surut: Potensi,
        Prospek dan Kendala Serta Teknologi Pengelolaanya Untuk Pertanian. hlm.
        51-27 dalam Prosiding Seminar Nasional dan Pertemuan Tahunan
        Komisariat Daerah Himpunan Ilmu Tanah Indonesia.




                                      362