Docstoc

Nutrisi Ikan_8

Document Sample
Nutrisi Ikan_8 Powered By Docstoc
					        BUKU AJAR



NUTRISI IKAN

          DISUSUN OLEH:
 DR.IR. SUBANDIYONO, MAppSc.
    DR.IR. SRI HASTUTI, MSi.




   Disusun atas bantuan biaya dari:
Lembaga Pengembangan Pendidikan
     Universitas Diponegoro




 UNIVERSITAS DIPONEGORO
 TAHUN 2009
                174




  SUPLEMEN I



MIKRO-NUTRIEN
                                                                           175



                     VI. MIKRO-NUTRIEN



6.1.   PENDAHULUAN

6.1.1.    Deskripsi Singkat
     Komponen nutrien yang termasuk kedalam mikro-nutrien adalah vitamin dan
mineral. Meskipun vitamin dan mineral tidak memiliki energi sebagaimana makro-
nutrien protein, lemak, dan karbohidrat, namun keberadaannya dalam pakan
adalah mutlak. Ke dua komponen ini terlibat dalam berbagai aktivitas enzimatik
dan hormonal yang terjadi di dalam tubuh.      Ikan membutuhkan vitamin dan
mineral dalam jumlah tertentu. Kekurangan ataupun kelebihan akan vitamin atau
mineral atau ke duanya dapat berdampak pada terganggunya aktivitas bio-
fisiologis seperti nafsu makan hilang hingga pertumbuhan menurun, terjadinya
penyimpangan bentuk tulang, munculnya berbagai jenis penyakit nutrisional, dan
bahkan kematian. Oleh karena itu, pemahaman terhadap berbagai jenis, fungsi,
serta kebutuhan vitamin maupun mineral adalah sangat penting, terutama yang
termasuk ke dalam kelompok vitamin dan mineral esensial bagi ikan.



6.1.2.    Relevansi
     Pokok   Bahasan VI dan selanjutnya merupakan materi suplemen bagi

mahasiswa yang ingin mempelajari materi nutrisi ikan lebih lanjut, namun masih
terkait dengan komponen makro-nutrien protein, lemak, dan karbohidrat yang
telah diterangkan secara lebih rinci masing-masing pada Bab III, IV, dan V. Bab
ini membahas tentang mikro-nutrien vitamin serta mineral. Perbedaan mendasar
antara mikro- dan makro-nutrien terletak pada ketersediaannya akan energi.
                                                                                176



Namun, ke dua kelompok nutrien tersebut merupakan satu kesatuan yang saling
melengkapi dan tidak terpisahkan dalam membahas berbagai permasalahan yang
terkait dengan nilai nutrisi untuk ikan maupun jenis hewan lainnya.        Dengan
demikian, selain berbagai Pokok Bahasan terdahulu, aspek-aspek yang tercermin
dalam suplemen I Bab VI Mikro-Nutrien ini sangat penting untuk dipahami
sebelum mempelajari bab selanjutnya yang terkait dengan kelompok non-nutrien
(termasuk anti-nutrien) yang terdapat dalam suplemen II Bab VII.



6.1.3.     Kompetensi

Standar Kompetensi
         Pada   akhir penjabaran suplemen I ini mahasiswa diharapkan mampu

menjelaskan      kembali    berbagai      komponen   mikro-nutrien   penting   yang
mempengaruhi kualitas pakan dan yang sesuai dengan kebutuhan ikan pada
kegiatan budidaya perikanan.



Kompetensi Dasar
     Pada akhir pemaparan dari materi ini hendaknya mahasiswa telah mampu
menyebutkan, menjelaskan, dan/atau mendiskripsikan kembali:
     •   Menyebutkan berbagai jenis vitamin yang larut dalam lemak dan larut
         dalam air;
     •   Menjelaskan 10 macam pengaruh dari pakan yang kekurangan akan
         vitamin atau vitamin tertentu;
     •   Mendiskripsikan ikan yang defisien akan vitamin tertentu;
     •   Menyebutkan berbagai macam makro- dan mikro-mineral;
     •   Menyebutkan 10 fungsi dari mineral;
     •   Mendiskripsikan ikan yang defisien akan mineral tertentu.
                                                                                   177




6.2.    PENYAJIAN

6.2.1.     URAIAN

Vitamin
     Pengertian Vitamin.            Vitamin merupakan komponen organik dan

diperlukan dalam jumlah yang sangat sedikit. Vitamin sangat dibutuhkan dalam
berbagai fungsi sebagian besar bentuk-bentuk kehidupan.            Apa yang disebut
dengan premix?.     Premix merupakan suplemen vitamin yang ditambahkan ke
dalam pakan.     Premix diformulasikan untuk menambah berbagai vitamin yang
terkandung dalam berbagai bahan penyusun pakan. Premix ditambahkan untuk
mengganti atau mengimbangi berbagai vitamin yang tersedia secara tidak lengkap
dan kehilangan yang terjadi selama proses pembuatan dan penyimpanan.


     Klasifikasi Vitamin.        Vitamin dibagi menjadi 2 kategori, yaitu vitamin

yang larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak.          Vitamin yang larut
dalam air (water-soluble vitamins) meliputi thiamin, ribovlavin, piridoksin (vitamin
B6), pantotenat, niasin, biotin, folat, vitamin B12, kolin, mioinositol, dan vitamin C.
 B




Berbagai macam vitamin yang larut dalam lemak (fat-soluble vitamins) adalah
vitamin A, D, E, dan K. Ingat!! Kata ‘ADEK’ yang mirip dengan kata ‘ADIK’, lawan
kata ‘kakak’.


     Peran Vitamin.        Vitamin merupakan komponen organik yang memiliki

banyak peran secara bio-fisiologis.     Vitamin berfungsi dalam berbagai macam
reaksi kimia dalam tubuh. Sebagian besar vitamin yang larut dalam air berperan
sebagai ko-enzim pada reaksi biokimia tubuh. Ko-enzim bekerja dengan atau
menjadi bagian dari suatu enzim. Sebagaimana diketahui, enzim merupakan
katalisator biologis. Sebagian besar enzim adalah protein, dan bersifat unik atau
                                                                              178



spesifik untuk setiap reaksi biokimia. Vitamin yang larut dalam lemak diserap
bersama-sama dengan lemak dalam pakan. Tidak sebagaimana vitamin yang
larut dalam air, vitamin yang larut dalam lemak dapat disimpan dalam jaringan
tubuh. Jumlah yang berlebihan dalam pakan dapat menyebabkan suatu kondisi
meracuni yang disebut hipervitaminosis.     Fungsi dari jenis vitamin yang larut
dalam lemak agak spesifik.
     Beberapa contoh vitamin yang larut dalam air seperti kolin, mioinositol, dan
vitamin C berperan terhadap berbagai macam fungsi. Kolin berfungsi sebagai: a)
komponen dari membran; b) prekursor dari asetilkolin, suatu kimiawi untuk
transmisi syaraf; dan c) pemberi atau penyedia grup metil (CH3) untuk berbagai
reaksi kimiawi. Miositol juga merupakan komponen membran dan terlibat dalam
pengiriman pesan pada berbagai proses tubuh.           Vitamin C terlibat dalam
pembentukan jaringan ikat (connective tissue), matrik tulang, dan perbaikan-
perbaikan luka. Vitamin C juga memfasilitasi penyerapan besi (Fe) dari usus dan
membantu mencegah peroksidasi lemak dalam jaringan.
     Vitamin A, D, E, dan K merupakan jenis vitamin yang larut dalam lemak.
Vitamin A diperlukan untuk penglihatan, pertumbuhan yang baik, reproduksi,
resistensi atau ketahanan terhadap infeksi, dan perawatan bagian luar atau kulit
tubuh.   Sebagaimana pada hewan darat, ikan dapat menggunakan β-karoten
sebagai prekursor vitamin A.    Vitamin D membantu tubuh dalam memobilisasi
atau memindahkan, mengangkut, menyerap, dan menggunakan kalsium (Ca)
serta fosfor (P). Vitamin D bekerja dengan 2 hormon dari suatu glandula atau
kelenjar endokrin, yaitu paratiroid. Vitamin E adalah suatu nama yang diberikan
untuk semua senyawa yang berperan selayaknya α-tokoferol. Vitamin E, yang
mana bekerja dengan selenium (Se), melindungi sel melawan efek buruk dari
oksidasi. Vitamin K dibutuhkan untuk proses penggumpalan darah (blood-clotting)
secara normal.    Beberapa jenis hewan dapat mensintesis vitamin K dalam
ususnya. Ikan tidak memiliki bakteri tertentu untuk melakukan hal tersebut.


     Kebutuhan Vitamin. Vitamin memiliki banyak peran secara bio-fisiologis.
Keberadaannya dalam pakan banyak dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan
normal, reproduksi, dan kesehatan.     Sistem pencernaan ikan yang sederhana
                                                                              179



menetapkan kebutuhan tertentu akan suplementasi vitamin dalam pakan ikan.
Kebutuhan vitamin pada ikan menyerupai hewan non-ruminansia, seperti babi dan
ayam. Ikan dan manusia merupakan contoh diantara hewan yang sedikit lebih
tinggi kebutuhannya akan sumber vitamin C dalam pakan. Kekurangan vitamin C
pada ikan lele menyebabkan perubahan bentuk atau deformitis pada bagian ekor.
Secara umum, berbagai gejala yang ditunjukkan oleh ikan yang kekurangan akan
suatu vitamin adalah hilang nafsu makan (anorexia), pertumbuhan menurun, dan
hingga kematian.



                                    TUGAS!!
     Selanjutnya Anda disarankan untuk merangkum (dalam bentuk Tabel)
   mengenai kebutuhan vitamin serta berbagai gejala yang ditunjukkan oleh
   beberapa jenis ikan, apabila ikan tersebut kekurangan akan jenis vitamin
  tertentu, baik untuk vitamin yang larut dalam air maupun yang larut dalam
     lemak. Informasi dapat diproleh dari jurnal, buku, maupun internet.



     Kebutuhan ikan dalam hal vitamin sudah banyak diketahui. Pada sistem
budidaya ekstensif dengan kepadatan rendah, makanan alami cukup berlimpah
untuk menyediakan berbagai jenis vitamin esensial.      Oleh karena itu, kondisi
kekurangan akan vitamin dalam pakan buatan tidak banyak membawa masalah
yang serius. Lain halnya pada sistem budidaya intensif dengan kepadatan tinggi.
Pada sistem tersebut jumlah dan jenis makanan alami terbatas atau bahkan tidak
ada sama sekali. Oleh karena itu, vitamin perlu dan harus disediakan dari pakan
buatan untuk mendukung pertumbuhan yang normal.
     Bagaimana cara menentukan kebutuhan vitamin?.         Kebutuhan ikan akan
vitamin dapat ditentukan secara kualilatif maupun kuantitatif. Metode ini dapat
diterapkan dengan cara memberi pakan ikan dengan pakan uji yang kekurangan
akan jenis vitamin tertentu.   Berbagai faktor yang dapat menentukan kadar
kebutuhan vitamin dalam pakan meliputi kondisi bio-fisiologis ikan seperti ukuran,
umur, laju pertumbuhan, dan kematangan secara seksual; berbagai faktor
lingkungan; dan hubungan antar nutrien.
                                                                       180




                      VITAMIN C YANG STABIL
     Meskipun sangat penting untuk pertumbuhan ikan, ketidak-stabilan
vitamin C memberikan kesulitan bagi produsen pakan dibidang perikanan.
Panas dan air dari proses pengilingan cenderung mempercepat oksidasi
dan pada akhirnya kerusakan vitamin C. Pada tahun 1988, usaha bersama
oleh Kansas State University, Manhattan, Kansas; Rangen Inc., Buhl,
Idaho; dan Zeigler Brothers, Inc., Gardner, Pennsylvania, menghasilkan
pengembangan produk vitamin C yang stabil dan yang relatif tidak mahal
untuk digunakan dalam pakan ikan, dan kemungkinan juga untuk hewan
lainnya, serta berbagai industri nutrisi dan kesehatan manusia.
     Komponen    L-ascorbyl-2-polyphosphate,    atau   disingkat   ASPP,
memungkinkan para nutrisionis bidang perikanan membuat formula pakan
hewan akuatik secara ekonomis dengan tingkat jaminan yang tinggi
bahwa kadar yang mencukupi akan nutrien vitamin C yang penting akan
berada dalam pakan.         Fosfat yang menempel pada vitamin C
melindunginya dari oksigen selama pemrosesan dan penyimpanan pakan.
Sesaat setelah pencernaan oleh ikan, proses-proses pencernaan
memisahkan ASPP kembali menjadi 2 nutrien, vitamin C dan fosfat.
     Pada tahun 1989, Vitamin Technologies International, Buhl, Indaho,
menerima persetujuan dari The Food and Drug Administration untuk
memproduksi dan memasarkan ASPP untuk digunakan dalam pakan
budidaya ikan.   Dikarenakan pakan ikan biasanya mengandung minyak
pada tingkat yang tinggi, proses oksidasi mungkin saja mengakibatkan
berbagai jenis vitamin menjadi tidak aktif.        Jumlah vitamin yang
melebihi kebutuhan memastikan bahwa ikan menerima kadar yang cukup.
                                                                                   181



     Penentuan kebutuhan vitamin secara kualitatif dapat dilakukan dengan cara
membandingkan berbagai pengaruh bio-fisiologis yang ditimbulkan antara ikan
yang diberi pakan kontrol (control diet, yaitu pakan yang mengandung secara
lengkap semua jenis vitamin yang dibutuhkan ikan), dengan ikan yang diberi
pakan uji (test diet, yaitu pakan yang mengandung secara lengkap semua jenis
vitamin yang dibutuhkan ikan kecuali satu jenis vitamin tertentu yang akan dikaji
pengaruhnya pada ikan tersebut). Pengaruh atau gejala yang ditimbulkan akibat
dari pemberian ke dua jenis pakan tersebut merupakan pengaruh dari jenis
vitamin yang tidak terdapat dalam pakan uji. Fenomena tersebut mengindikasikan
bahwa jenis vitamin tertentu yang sedang dikaji pengaruhnya bersifat esensial
bagi ikan uji dan perlu ada atau hendaknya ditambahkan dalam pakan.
Sebaliknya bila pakan uji tidak menimbulkan gejala kekurangan, maka berarti
bahwa jenis vitamin uji bersifat tidak esensial dan tidak harus ditambahkan ke
dalam pakan. Skema penentuan uji kebutuhan vitamin secara kualitatif disajikan
pada Gambar 6.1.


                     TEST DIETS        VS     CONTROL DIET


                  Lack of particular            Containing
                      vitamin                complete vitamins

Gambar 6.1. Skema Penentuan Uji Kebutuhan Vitamin secara Kualitatif.


     Penentuan kebutuhan vitamin secara kuantitatif dapat dilakukan dengan cara
yang mirip sebagaimana cara di atas, yaitu dengan memberi makan ikan
menggunakan pakan uji dan pakan kontrol yang merupakan pakan lengkap atau
murni,   dan    selanjutnya   mengamati     perbedaan   gejala   bio-fisiologis   yang
ditimbulkannya pada ikan uji. Pakan kontrol adalah pakan lengkap atau murni
dengan kandungan semua jenis vitamin pada jumlah yang dibutuhkan ikan untuk
dapat hidup dan tumbuh secara normal.          Pakan uji adalah beberapa pakan
dengan kriteria kualitas yang sama sebagaimana pakan kontrol, namun dengan
kandungan vitamin tertentu yang akan dikaji pengaruhnya pada kadar yang
berjenjang mulai dari konsentrasi terendah (misalnya nol) hingga tertinggi
(Gambar 6.2).
                                                                             182




                    TEST DIETS        VS    CONTROL DIET


               Particular vitamin with          Complete/
               different concentrations        purified diet

Gambar 6.2. Skema Penentuan Uji Kebutuhan Vitamin secara Kuantitatif


     Pengaruh berupa gejala yang ditimbulkannya dapat dievaluasi menggunakan
berbagai kriteria dan mengindikasikan berapa konsentrasi optimum dari jenis
vitamin yang sedang dikaji tersebut dibutuhkan oleh ikan.      Apabila pakan uji
memunculkan gejala kekurangan akan vitamin, maka berarti bahwa vitamin
dengan kadar tertentu dalam pakan tersebut tidak sesuai untuk diberikan pada
ikan uji dan oleh karena itu pakan tersebut tidak lagi digunakan. Sebaliknya bila
terdapat pakan uji yang tidak memunculkan gejala kekurangan vitamin atau
memberikan pengaruh terhadap ikan uji sebagaimana pakan kontrol, maka
vitamin dengan kadar sebagaimana dalam pakan uji tersebut ditetapkan sebagai
kebutuhan terendah dalam pakan. Selanjutnya pakan tersebut diujikan kembali
pada ikan yang dipelihara di dalam kolam dengan kepadatan tinggi.        Apabila
pakan tersebut memunculkan beberapa gejala yang merugikan bagi ikan,
misalnya stres atau penyakit, maka berarti bahwa kadar vitamin dalam pakan
tersebut perlu untuk ditingkatkan kembali diatas kadar yang telah ditetapkan
berdasarkan pada percobaan laboratorium (Gambar 6.3).
     Penambahan vitamin dalam pakan hingga kadar tertentu yang lebih tinggi
dari kadar yang dibutuhkan ikan adalah penting dikarenakan beberapa alasan.
Pertama, jenis vitamin tertentu mungkin saja rusak selama proses pembuatan dan
penyimpanan pakan.      Sebagai contoh adalah terjadinya oksidasi vitamin C
(ascorbic acid).   Oksidasi vitamin C merupakan masalah yang umum terjadi.
Proses oksidasi ini dapat dipercepat oleh adanya pengaruh panas, kelembaban,
perubahan pH, keberadaan logam-logam tertentu, dan oksidasi lipid yang sedang
berlangsung.   Oksidasi vitamin dapat dikontrol melalui berbagai macam cara,
diantaranya adalah: a) pakan sebaiknya dilindungi dengan berbagai bentuk
vitamin yang sudah diproteksi; b) penggunaan berbagai jenis lemak yang mudah
                                                                                 183



teroksidasi hendaknya dihindarkan atau dibatasi; c) kondisi penyimpanan yang
kurang tepat sebaiknya dihindari; dan d) pakan sebaiknya segera dipergunakan
setelah pembuatan (pelleting) selesai. Kedua, kandungan vitamin dari berbagai
bahan penyusun pakan cukup bervariasi.

     TEST DIETS                                        COMPLETE DIET


                            Ada gejala
                            kekurangan
                                                       Pertumbuhan normal
                                                   Tak ada perubahan metabolik
                                                    Tak ada gejala kekurangan
     Tak ada gejala
      kekurangan             Pakan tak
                             digunakan


                       Minimum dietary requirement




                      Stres dikarenakan kepadatan tinggi
                               Muncul penyaklit
                          Berbagai gejala yang belum
                           diketahui penyebabnya




                     Membutuhkan vitamin dalam pakan
                  dengan konsentrasi diatas kadar minimum
                    berdasarkan percobaan laboratorium


Gambar 6.3. Skema Prosedur Pengambilan Keputusan Berdasarkan Kriteria dan
            Gejala Bio-Fisiologis yang Ditimbulkan Pakan Uji terhadap Ikan Uji.

     Sementara itu, kadar yang sebenarnya dari berbagai vitamin dalam bahan
penyusun pakan tersebut tidaklah diketahui kecuali setiap bahan dianalisis.
Dengan demikian lebih mudah dan lebih aman mengasumsikan tak ada vitamin
dalam pakan yang sesuai jumlahnya dengan kebutuhan ikan. Ketiga, beberapa
bahan penyusun pakan mengandung berbagai faktor anti-nutritional yang ada
secara alami. Faktor-faktor anti-nutritional ini mungkin mengurangi ketersediaan
                                                                           184



atau berpengaruh terhadap fungsi beberapa vitamin tertentu.          Keempat,
hendaknya dibuat perkiraan akan terjadinya pencucian atau pelepasan berbagai
vitamin dari pakan tersebut ketika pakan diberikan pada ikan. Lepasnya vitamin
ke dalam air merupakan masalah utama pada pemberian pakan untuk krustase,
dimana pellet mungkin saja berada beberapa jam di dalam air bak atau kolam
sebelum benar-benar dikonsumsi.



Mineral
     Definisi dan Pengertian Mineral. Definisi dan pengertian akan mineral
yang dikelompokkan kedalam mineral esensial bagi ikan dan hewan berbeda
dengan definisi untuk asam amino maupun asam lemak. Menurut Prof.Dr.Ir. Toha
Sutardi, MSc. (2004), seorang guru besar pada bidang ilmu nutrisi ternak, IPB,
definisi mineral esensial dikategorikan berdasarkan pada 3 kriteria, yaitu
konservatif yang berat kriteria persyaratannya, liberal yang ringan kriteria
persyaratannya, dan moderat dengan kriteria persyaratan diantaranya.     Beliau
menganut paham liberal, yaitu bilamana defisiensinya mengakibatkan perubahan
fungsional dari optimal menjadi sub-optimal maka mineral tersebut dapat
dikategorikan sebagai mineral esensial. Beliau berpendapat bahwa suatu elemen
dapat dipertimbangkan bersifat esensial jika memenuhi persyaratan-persyaratan
sebagai berikut: 1) dipertahankan pada status homeostasi, jika kelebihan akan
diekskresi; 2) sudah ada sejak lahir dan menurun sejalan dengan bertambahnya
usia; dan 3) merupakan bagian (kofaktor) enzim serta gejala defisiensi yang
ditimbulkan dapat diatasi. Sedangkan menurut Georgievskii (1982), seorang ahli
nutrisi mineral berkebangsaan Rusia menyatakan bahwa suatu elemen dapat
dipertimbangkan bersifat esensial jika memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai
berikut: 1) jika selalu terdapat di dalam hewan pada konsentrasi yang hampir
sama untuk setiap individu hewan; 2) jika kandungan dari elemen yang diberikan
tersebut di dalam berbagai jaringan yang berbeda mengikuti urutan (sekuensi)
yang sama; 3) jika suatu pakan yang defisien akan elemen tersebut menghasilkan
gejala-gejala defisiensi yang jelas pada hewan dan perubahan-perubahan
biokimia yang jelas dalam jaringan; dan 4) jika gejala-gejala dan perubahan-
                                                                              185



perubahan yang ditimbulkan tersebut dapat dicegah atau dieliminasi dengan
penambahan elemen yang sedang dikaji ke dalam pakan uji.
     Mineral terdapat dalam sel dan jaringan tubuh hewan dalam berbagai
macam fungsi, kombinasi kimiawi, dan kadar sifat, yang bervariasi menurut
elemen dan jaringannya. Kadar elemen esensial biasanya harus dipertahankan
dalam kisaran yang relatif sempit bila integritas struktural dan fungsional dari
jaringan ingin tetap terjaga serta pertumbuhan, kesehatan, dan produktivitas
hewan tersebut tetap tidak terganggu.


     Klasifikasi Mineral. Berdasarkan pada kebutuhan atau penggunaannya
oleh seekor hewan, mineral dibagai menjadi 2 kelompok, yaitu makro-mineral dan
mikro-mineral.   Makro-mineral terdapat dalam tubuh dalam jumlah yang relatif
besar. Jenis mineral yang disebutkan di bawah ini sekaligus merupakan contoh
dari makro- dan mikro-mineral esensial bagi ikan. Makro-mineral tersebut meliputi
kalsium (Ca), klorin (Cl), magnesium (Mg), fosfor (P), potasium (kalium, K), dan
sodium (natrium, Na).      Beberapa peneliti menambahkan sulfur (belerang, S)
sebagai salah satu dari kelompok makro-mineral. Mikro-mineral meliputi tembaga
(copper, Cu), yodium (iodine, I), besi (iron, Fe), mangan (manganese, Mn),
selenium (Se), dan seng (zinc, Zn).       Penelitian yang berkembang pesat pada
akhir-akhir ini memasukkan beberapa jenis mikro-mineral lainnya ke dalam
kelompok mikro-mineral esensial. Mikro-mineral esensial tersebut adalah kobal
(Co), molibdenum (Mo), fluorin (F), timah (Sn), nikel (Ni), silikon (Si), vanadium
(V), kromium (Cr), arsenik (As), timbal (Pb), dan litium (Li).


     Peran Mineral. Mineral mempunyai beberapa peran secara bio-fisiologis.
Berbagai fungsi penting dari mineral meliputi: a) Fungsi Stuktural. Mineral dapat
membentuk komponen struktural dari jaringan dan organ tubuh. Tulang dan gigi
tersusun atas komponen utama seperti Ca, P, Mg, F, Si.               Protein otot
mengandung P dan S. Mineral seperti Zn dan P membantu stabilitas struktural
terhadap berbagai molekul dan membran, dimana mineral tersebut menjadi
bagiannya; b) Fungsi Fisiologikal.      Mineral terdapat dalam cairan tubuh dan
jaringan sebagai elektrolit, yaitu keterkaitannya dengan fungsi mempertahankan
                                                                              186



tekanan osmotik, keseimbangan asam-basa, permeabilitas membran, dan
iritabilitas jaringan. Mineral seperti Na, K, Cl, Ca, dan Mg terdapat dalam darah.
Beberapa jenis mineral mempunyai fungsi fisiologikal pada cairan otak dan tulang
belakang serta pada cairan pencernaan (gastric juice);        c) Fungsi Katalitik.
Mineral dapat berperan sebagai katalis dalam sistem enzim dan hormon, sebagai
komponen spesifik dan integral dari struktur metaloenzim atau sebagai aktivator
yang kurang spesifik dalam sistem tersebut; d)     Fungsi Regulatori.   Beberapa
tahun terakhir ini, berbagai mineral telah ditemukan berperan dalam regulasi
replikasi dan diferensiasi sel. Sebagai contoh, Ca mempengaruhi trasduksi signal,
Zn mempengaruhi transkripsi, dan I berperan sebagai bagian dari tiroksin yaitu
memperpanjang kemantapan akan peran regulatorinya.


     Respons Dosis Mineral. Hewan memberikan respons yang berbeda
terhadap perbedaan dosis dan sifat mineral yang masuk ke dalam tubuh.
Hubungan respons dosis antara suplai atau pemasukan mineral dan produksi
hewan menunjukkan adanya batas marjinal antara konsentrasi mineral dalam
pakan yang berkecukupan, kekurangan, atau bersifat racun. Grafik dan kisaran
marjinal bergerak ke kanan bilamana daya serap dari sumber mineral menurun.
Dengan demikian, grafik ‘A’ mewakili sumber mineral dengan daya serap yang
lebih, dan ‘B’ (garis putus) mewakili sumber mineral yang lebih sedikit dapat
diserap (Gambar 6.4).




Gambar 6.4. Skema Respons Hewan terhadap Dosis Mineral dalam Pakan
           (diadiopsi dari Underwood dan Suttle, 1999)
                                                                                187



     ‘Kebutuhan’ ditetapkan berada dalam batas kecukupan tengah yang berkisar
dari kebutuhan minimum hingga tingkat aman yang diijinkan, bergantung pada
daya serap mineral dan berbagai variabel yang diambil sebagai bahan
pertimbangan. Berdasarkan pada Gambar 6.4 terlihat pula bahwa kebutuhan ikan
akan jenis mineral tertentu perlu ditetapkan dengan seksama. Tingkat kecukupan
kebutuhan mineral (yaitu minimum hingga optimum) berada pada kisaran yang
bervariasi, yaitu sempit hingga luas.    Namun demikian, secara umum dapat
dinyatakan bahwa kekurangan maupun kelebihan mineral dalam pakan, baik
untuk jenis mineral dengan daya serap rendah maupun tinggi, dapat bersifat
merugikan hewan yang mengkonsumsinya. Bahkan, peneliti lainnya menyatakan
bahwa diluar kisaran marjinal dapat mengakibatkan kematian.


     Kebutuhan Mineral.          Ikan dapat menyerap sejumlah mineral secara

langsung dari air, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), sodium (natrium, Na),
potasium (kalium, K), besi (Fe), seng (Zn), tembaga (Cu), dan selenium (Se). Hal
ini mengurangi kebutuhan mineral dalam pakan.         Namun, hal tersebut juga
membuat penelitian tentang kebutuhan mineral sulit dan tidak meyakinkan.
Sebagian besar peneliti setuju bahwa ikan membutuhkan semua jenis mineral
yang dibutuhkan oleh hewan lainnya.
     Kalsium dan fosfor secara langsung paling terlibat dalam perkembangan dan
pertumbuhan tulang rangka, dan ke dua mineral tersebut berperan pada banyak
reaksi biokimia lainnya. Ikan menyerap kalsium secara langsung dari air dengan
insang dan kulit. Kebutuhan kalsium ditentukan oleh kimia air.
     Fosfor dalam pakan lebih kritis. Fosfor diturunkan dari fosfat dalam pakan.
Tanda-tanda kekurangan fosfor meliputi pertumbuhan lambat, efisiensi pakan
menurun, bentuk tulang yang tidak normal (deformitis). Ketersediaan fosfor dalam
bahan penyusun pakan sangat bervariasi. Bahan penyusun pakan dari biji-bijian
mengandung fosfor dalam bentuk yang diketahui sebagai fitin (phytin).
Ketersediaan fosfor dalam fitin adalah rendah. Hewan dengan perut sederhana
kekurangan enzim untuk melepaskan fosfor.
     Magnesium     berfungsi   dengan     berbagai   enzim       sebagai   kofaktor.
Kebutuhannya dalam pakan dapat dipenuhi dari air atau pakan.           Kekurangan
                                                                                  188



magnesium menyebabkan nafsu makan hilang, pertumbuhan menurun, ‘suka
tidur’ (letargia), bentuk tulang belakang tidal normal, degenerasi sel, dan kejang.
     Sodium (Na), potasium (K), dan klorin (Cl) adalah elektrolit. Sodium dan
klorin terdapat dalam cairan di luar sel. Potasium terdapat di dalam sel, yang
merupakan kation intraseluler.        Dikarenakan melimpahnya elemen-elemen
tersebut di lingkungan, tanda-tanda kekurangan sulit dihasilkan.



                                     TUGAS!!
     Selanjutnya Anda disarankan untuk merangkum (dalam bentuk Tabel)
     kebutuhan beberapa jenis ikan, baik ikan air tawar maupun laut, akan
      berbagai makro-mineral penting tertentu (misalnya: kalsium, klorin,
  magnesium, fosfor, potasium, dan sodium). Informasi dapat diproleh dari
                          jurnal, buku, maupun internet.



     Tembaga merupakan bagian dari berbagai jenis enzim dan dibutuhkan untuk
aktivitas enzim-enzim tersebut. Meskipun dibutuhkan oleh ikan, tembaga dapat
bersifat racun pada konsentrasi antara 0.8 hingga 1.0 m per liter air. Ikan lebih
toleran terhadap tembaga dalam pakan daripada dalam air.
     Yodium diperlukan untuk pembentukan berbagai hormon dari kelenjar tiroid.
Ikan dapat memperoleh yodium dari air atau pakan. Sebagaimana hewan darat,
kekurangan yodium mengakibatkan kelenjar tiroid tumbuh, suatu kondisi seperti
gondok atau gondong (goiter).
     Besi diperlukan untuk pembentukan komponen darah merah.              Komponen
tersebut membawa oksigen. Dikarenakan air alamiah rendah akan besi, pakan
merupakan sumber utama besi.        Kekurangan besi mengakibatkan kekurangan
darak (anemia).      Besi pada kandungan yang tinggi dapat menjadi racun dan
menurunkan pertumbuhan, diare, kerusakan hati, dan kematian.
     Mangan berfungsi sebagai bagian dari enzim atau sebagai kofaktor.
Meskipun mangan dapat diserap dari air, mangan lebih efisien diserap dari pakan.
Kekurangn mangan mengakibatkan pertumbuhan menurun dan tulang kerangka
yang tidak normal.
                                                                             189



     Selenium melindungi sel dan membran terhadap peroksida yang berbahaya.
Kekurangan selenium mengakibatkan pertumbuhan menurun.           Selenium dan
vitamin E, ke duanya diperlukan untuk mencegah penyakit otot pada beberapa
spesies. Bilamana selenium dalam pakan melebihi 13 hingga 15 mg per kg pakan
kering, selenium menjadi racun, yang menghasilkan pertumbuhan menurun,
efisiensi pakan yang rendah, dan kematian.
     Seng juga merupakan bagian dari banyak jenis enzim. Seng dalam pakan
diserap dengan lebih efisien daripada yang terlarut dlam air. Kalsium dan fosfor
dalam pakan, tipe protein asam fitat, suatu bentuk dari seng, semuanya
mempengaruhi penyerapan dan penggunaan dari seng.            Kekurangan seng
mengakibatkan pertumbuhan tertahan, katarak, ekor dan kulit geripis, kerdil atau
kuntet, dan kematian.
     Mineral lainnya seperti fluorida dan kromium mungkin penting, namun bukti
masih terbatas. Kebutuhan ikan akan kromium (Cr+3) telah diteliti sejak tahun
2003 oleh Subandiyono dan Sri Hastuti, dosen pada Program Studi Budidaya
Perairan, FPIK, UNDIP.    Berdasarkan pada hasil penelitian tersebut diketahui
bahwa kebutuhan kromium meningkat berdasarkan klasifikasi feeding habit ikan,
yaitu 3.0 ppm untuk gurame (herbivora), 4.5 ppm untuk nila (omnivora), dan 4.5 –
6.0 ppm untuk lele (omnivora).



                                   TUGAS!!
     Selanjutnya Anda disarankan untuk merangkum (dalam bentuk Tabel)
    kebutuhan ikan, baik ikan air tawar maupun laut, akan berbagai mikro-
   mineral penting tertentu (misalnya: besi, tembaga, mangan, seng, kobal,
    iodium, selenium, dan kromium). Informasi dapat diproleh dari jurnal,
                            buku, maupun internet.
                                                                         190




6.3.   PENUTUP

6.3.1.   Rangkuman

                                 Vitamin
       Vitamin merupakan komponen organik dan diperlukan dalam jumlah
 sangat sedikit. Vitamin dibagi menjadi 2 kategori, yang larut dalam air

 dan larut dalam lemak.     Sebagian besar vitamin yang larut dalam air

 berperan sebagai ko-enzim. Fungsi vitamin yang larut dalam lemak agak

 spesifik. Jumlah yang berlebihan dalam pakan dapat meracuni, disebut

 hipervitaminosis.   Ikan menetapkan kebutuhan tertentu akan vitamin

 dalam pakan. Pada budidaya ekstensif, makanan alami cukup berlimpah

 menyediakan berbagai jenis vitamin esensial.      Pada budidaya intensif,

 jumlah dan jenis makanan alami terbatas atau bahkan tidak ada sama

 sekali. Oleh karena itu, vitamin perlu dan harus disediakan dari pakan.

 Penentuan kebutuhan vitamin secara kualitatif dilakukan dengan cara

 membandingkan berbagai pengaruh bio-fisiologis yang ditimbulkan antara

 ikan yang diberi pakan kontrol dengan ikan yang diberi pakan uji yang

 mengandung secara lengkap semua jenis vitamin yang dibutuhkan ikan

 kecuali satu jenis vitamin tertentu yang akan dikaji pengaruhnya.

 Penentuan kebutuhan vitamin secara kuantitatif dapat dilakukan dengan

 cara memberi makan ikan menggunakan pakan uji dan pakan kontrol yang

 merupakan pakan lengkap atau murni, dan selanjutnya mengamati

 perbedaan gejala bio-fisiologis yang ditimbulkannya pada ikan uji.
                                                                              191




                                 Mineral

      Mineral     esensial definisi dikategorikan berdasarkan pada 3

kriteria, yaitu konservatif, liberal, dan moderat. Mineral dikategorikan

esensial bilamana defisiensinya mengakibatkan perubahan fungsional dari

optimal menjadi sub-optimal. Elemen dipertimbangkan bersifat esensial

jika: 1) dipertahankan pada status homeostasi, jika kelebihan akan

diekskresi; 2) sudah ada sejak lahir dan menurun sejalan dengan

bertambahnya usia; dan 3) merupakan bagian (kofaktor) enzim serta

gejala defisiensi yang ditimbulkan dapat diatasi.       Pendapat lain, suatu

elemen dipertimbangkan bersifat esensial jika: 1) selalu terdapat di

dalam hewan pada konsentrasi yang hampir sama untuk setiap individu

hewan; 2) kandungan dari elemen yang diberikan tersebut di dalam

berbagai jaringan yang berbeda mengikuti urutan (sekuensi) yang sama;

3) suatu pakan yang defisien akan elemen tersebut menghasilkan gejala-

gejala defisiensi yang jelas pada hewan dan perubahan-perubahan

biokimia yang jelas dalam jaringan; dan 4) gejala-gejala dan perubahan-

perubahan yang ditimbulkan tersebut dapat dicegah atau dieliminasi

dengan penambahan elemen yang sedang dikaji ke dalam pakan uji.

Mineral dibagai menjadi makro-mineral dan mikro-mineral. Fungsi bio-

fisiologis penting dari mineral meliputi fungsi: a) stuktural, b) fisiologikal,

c) katalitik, d) regulatori. Kekurangan maupun kelebihan mineral dapat

bersifat merugikan, bahkan kematian. Dikarenakan melimpahnya mineral

di lingkungan, tanda-tanda ikan kekurangan mineral sulit dihasilkan.
                                                                             192




DAFTAR PUSTAKA/ACUAN/BACAAN ANJURAN
1. Berdanier, C.D. 1998. Advanced Nutrition-Micronutrients. CRC Press, Boca
       Raton, Florida. 223 p.

2. Cho, C.Y., Cowey, C.B. and Watanabe, T. 1985. Finfish Nutrition in Asia-
      Methodological Approaches to Research and Development.         IDRC,
      Canada. 154 p.

3. Halver, J.E. 1972. Fish Nutrition. Acad. Press., New York. 713 p.

4. Halver, J.E. 1989. Fish Nutrition. 2nd ed. Acad. Press, Inc., San Diego. 798
       p.

5. Halver, J.E. and Hardy, R.W. 2002. Fish Nutrition. 3rd ed. Acad. Press,
       Amsterdam. 822 p.

6. Hepher, B. 1988. Nutrition of Pond Fishes. Cambridge Univ. Press. New
      York. 387 p.

7. Lawrence, E. 1989. Biological Terms. 10th ed. Longman Sci. & Technical,
      Singapore. 645 p.

8. Lovell, T. 1989. Nutrition and Feeding of Fish. Van Nostrand reinhold, New
       York. 260 p.

9. NRC. 1977. Nutrient Requirements of Warmwater Fishes. Nation. Acad. Sci.,
      Washington, DC., USA. 78 p.

10. NRC. 1982. Nutrient Requirements of Warmwater Aquatic Animals. Nation.
       Acad. Press, Washington, DC., USA. 252 p.

11. Parker, R. 2002. Aquaculture Science. 2nd ed. Delmar, Thomson Learning,
        USA. 621 p.

12. Steffens, W. 1989. Principles of Fish Nutrition. Ellis Horwood Ltd., England.
        384 p.

13. Tacon, A.G.J. 1987. The Nutrition and Feeding of Farmed Fish and Shrimp-A
       Training Manual: The Essential Nutrients. FAO-UN., Brazil. 117 p.

14. Underwood, E.J. and Suutle, N.F. 1999. The Mineral Nutrition of Livestock.
       CABI Pub., UK. 624 p.

15. Webster, C.D. 2002. Nutrient Requirements and Feeding of Finfish for
       Aquaculture. CABI Pub., USA. 448 p.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1609
posted:3/29/2010
language:Indonesian
pages:20