Docstoc

SKRIPSI siap

Document Sample
SKRIPSI siap Powered By Docstoc
					                                        SKRIPSI

JUDUL                : ANALISIS PERGESERAN SEKTOR - SEKTOR
                          EKONOMI DI KABUPATEN BANYUMAS TAHUN
                          1994 - 2002
PELAKSANA            : NOVA ANDY CAHYO PURNOMO
NPM                  : 0231020901/E



                                I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

          Perkembangan daerah sebagai integral dari pembangunun nasional
   dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi daerah dan pengaturan sumber daya
   nasional yang memberikan kesempatan bagi peningkatan demokrasi dan
   kinerja daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat menuju
   masyarakat yang bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme ( undang-undang
   otonomi daerah, 1999 ). Penyelenggaraan pemerintah daerah sebagai sub
   sistem pemerintah negara dimaksudkan untuk meningkatkan daya guna dan
   hasil guna penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan masyarakat sebagai
   otonomi.      Daerah     mempunyai      kewenangan    dan   tanggung    jawab
   menyelenggarakan kepentingan masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip
   keterbukaan, partisipasi masyarakat, dan pertanggungjawaban kepada
   masyarakat.
          Kunci pembangunan daerah dalam mencapai sasaran pembangunan
   nasional secara efisien dan efektif adalah perencanaan koordinasi dan
   keterpaduan antara sektor pembangunan, sektor tersebut di daerah disesuaikan
   dengan kondisi dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Tujuan
   pembangunan      dalam     kebijakan    pembangunan   daerah   adalah   untuk
   menyelaraskan pertumbuhan dan mengurangi kesenjangan dan tingkat
   kemajuan antar daerah, melalui pembangunan serasi dan terpadu antar sektor
pembangunan daerah yang efisien dan efektif menuju tercapainya kemandirian
daerah.
          Secara makro pertumbuhan atau PDRB dari tahun ke tahun merupakan
salah satu indikator dari keberhasilan pembangunan daerah dimana dalam hal
ini PDRB dikategorikan dalam berbagai sektor ekonomi yaitu :
1. Sektor Pertanian
2. Sektor Pertambangan dan Penggalian
3. Sektor Industri Pengolahan
4. Sektor Listrik,Gas, Dan Sektor Air Bersih
5. Sektor Bangunan
6. Sektor Perdaganagn, Hotel, dan Restoran
7. Sektor Angkutan Dan Komunikasi
8. Sektor Keuangan, Persewaan, Dan Jasa Perusahaan
9. Sektor Jasa-Jasa
          Pertumbuhan PDRB tidak lepas dari peran setiap sektor-sektor
ekonomi tersebut di atas, besar kecilnya kontribusi pendapatan setiap sektor
ekonomi merupakan hasil perencanaan secara sektoral yang dilaksanakan di
daerah.
          Masalah utama di dalam pelaksanaan pembangunan di daerah adalah
kurang mampunya pemerintah daerah melaksanakan strategi perencanan yang
matang serta kurang jelinya pemerintah daerah dalam melihat pergeseran-
pergeseran yang terjadi dari tahun ke tahun dalam sektor ekonomi. Disinilah
peranan Badan Perencanaan Daerah (BAPPEDA) cukup dominan dalam
menentukan arah serta rencana pembangunan daerah agar pembangunan di
daerah berjalan sesuai prioritas sektor yang diinginkan.
          Dari latar belakang masalah yang diuraikan, maka penulis tertarik
untuk mengadakan penelitian tentang Analisis Pergeseran Sektor-Sektor
Ekonomi Di Kabupaten Banyumas Tahun 1994-2002.
B. Perumusan Masalah

          Pembangunan     daerah    diarahkan   untuk   mengacu    pemerataan
   pembangunan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan
   pendayagunaan potensi yang dimilki daerah secara optimal. Dari latar
   belakang masalah yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan pokok
   permasalahan sebagai berikut :
   1. Bagaimana perubahan sektor ekonomi Kabupaten Banyumas yang terjadi
      tahun 1994-2002.
   2. Bagaimana pertumbuhan sektor ekonomi di Kabupaten Banyumas.
   3. Sektor-sektor mana yang merupakan sektor potensial (basis) yang
      merupakan sektor andalan dalam struktur perekonomian di Kabupaten
      Banyumas tahun 1994-2002 berdasarkan analisis (LQ).

C. Pembatasan Masalah

          Penelitian ini hanya dibatasi pada masalah pergeseran sektor-sektor
   ekonomi yang terdiri dari sektor pertanian, sektor pertambangan dan
   penggalian, Sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas, dan air bersih,
   sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, Sektor angkutan,
   dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor
   jasa-jasa yang terjadi di Kabupaten Banyumas pada tahun 1994-2002.

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

   1. Tujuan penelitian
      a. Untuk mengetahui pergeseran pangsa setiap sektor ekonomi.
      b. Untuk mengetahui komponen-komponen yang mempengaruhi pada
          perekonomian daerah Kabupaten Banyumas.
      c. Untuk mengetahui sektor mana yang merupakan sektor potensial
          (basis) di Kabupaten Banyumas.
   2. Kegunaan Penelitian
      a. Bagi pemerintah daerah diharapkan dapat menjadi tambahan informasi
          sekaligus bahan evaluasi agar lebih memantapkan peran perencanaan
          daerah dari tahun ke tahun.
      b. Sebagai bahan informasi bagi penelitian lain yang berminat pada
          masalah perencanaan daerah.
      c. Bagi penulis penelitian ini merupakan hasil aplikasi serta penerapan
          langsung dari salah satu alat analisis yang didapat dari bangku kuliah.

E. Hipotesis
   1. Terjadi pergeseran atau perubahan struktur dalam sektor ekonomi
      Kabupaten Banyumas selama tahun 1994-2002.
   2. Sektor potensial atau sektor basis masih di dominasi oleh sektor pertanian,
      sektor bangunan, dan sektor angkutan dan komunikasi.
   3. Tingkat pertumbuhan sektor ekonomi Kabupaten Banyumas cenderung
      meningkat dan mempunyai potensi yang dapat diandalkan untuk
      memberikan kontribusi bagi daerah.
                         II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Perencanaan Ekonomi
          Perencanaan merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang
   mencangkup keputusan- keputusan atau pilihan – pilihan berbagai alternatif
   penggunaan sumberdaya untuk mencapai tujuan – tujuan tertentu pada masa
   yang akan datang (Conyers & Hills , 1994) Berdasarkan definisi diatas berarti
   ada empat elemen dasar perencanaan yaitu :
   a. Merencanakan berarti memilih
   b. Perencanaan merupakan alat pengalokasian sumberdaya
   c. Perencanaan merupakan alat untuk mecapai tujuan
   d. Perencanan untuk masa depan (Lincolin Arsyad,1999)
          Arthur lewis dalam bukunya berjudul Development Planning (1966).
   Membagi perencanaan dalam 6 (enam) pengertian yaitu :
   1. Istilah perencanaan seringkali dihubungkan dengan letak geografis,
      bangunan, tempat tinggal, bioskop dan lainnya. Di negara sedang
      berkembang hal ini sering disebut dengan istilah perencanaan kota dan
      negara (town and country planning) atau perencanaan kota dan daerah
      (urban and regional planning).
   2. Perencanaan mempunyai arti keputusan penggunaan dan pemerintah
      dimasa yang akan datang.
   3. Ekonomi berencana adalah ekonomi dimana setiap unit produksi hanya
      memanfaatkan sumber daya manusia, bahan baku, dan peralatan yang
      dialokasikan dengan jumlah tertentu dan menjual produknya hanya kepada
      perusahaan atau perorangan yang ditunjuk oleh pemerintah.
   4. Perencanaan berarti setiap penentuan sasaran produksi oleh pemerintah.
   5. Penerapan sasaran untuk perekonomian secara keseluruhan dengan
      maksud untuk mengalokasikan semua tenaga kerja, devisa, bahan mentah
      dan sumberdaya lainnya ke berbagai bidang perekonomian.
   6. Untuk menggambarkan sarana yang digunakan pemerintah untuk
      memaksakan sasaran-sasaran yang ditetapkan.
          Perencanaan        sebenarnya   merupakan     suatu    proses    yang
   berkesinambungan dari waktu ke waktu dengan melibatkan kebijaksanaan
   (polycy) dari pembuat keputusan berdasarkan sumber daya yang tersedia dan
   disusun secara sistematis.
          Maka pelaksanaan perancangan pembuatan perencanaan itu pada
   dasarnya adalah mengambil suatu kebijaksanaan dengan mempertimbangkan
   hal-hal sebagai berikut (Soekartawi, 1990).
   1. Perencanaan berarti memilih berbagai alternatif yang terbaik dari sejumlah
      alternatif yang ada.
   2. Perencanaan berarti pula alokasi sumberdaya yang tersedia baik
      sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia.
   3. Perencanaan mengandung arti rumusan yang sistematis yang didasarkan
      pada kepentingan masyarakat banyak.
   4. Perencanaan juga menyangkut masalah tujuan atau sasaran tertentu yang
      harus dicapai.
   5. Perencanaan juga dapat diartikan atau dikaitkan dengan kepentingan masa
      depan.
          Meskipun tidak ada kesepakatan diantara para ekonomi berkenaan
   dengan istilah perencanaan ekonomi mengandung arti pengendalian dan
   pengaturan perekonomian dengan sengaja oleh pemerintah untuk mencapai
   sasaran dan tujuan tertentu didalam jangka waktu tertentu pula. (Lincolin
   arsyid, 1999)

B. Fungsi Perencanaan Ekonomi
          Beberapa buku literatur perencanaan pembangunan (Development
   planning) pembahasan terhadap pentingnya perencanaan ini sering dikaitkan
   dengan pembangunan itu sendiri. Dengan demikian, pembahasan pentingnya
   aspek perencanaan yang dikaitkan dengan aspek pembangunan dapat
   diklarifikasikan menjadi dua topik utama, yaitu :
   1. Perencanaan sebagai alat dari pembangunan.
2. Perencanaan sebagai tolok ukur dari berhasil atau tidaknya pembangunan
    tersebut.
        Secara sistematis, kaitan antara aspek perencanaan dan pembangunan
dapat digambarkan seperti gambar 1 dibawah ini :
                                Gambar 1
            Skema hubungan Antara Perencanaan dan Pembangunan


                               Sebagai alat




             Perencanaan                          Pembangunan

                            Sebagai tolok ukur



                                              Pembangunan yang berencana

        Perencanaan dianggap sebagai alat pembangunan karena perencanaan
memang merupakan alat strategis dalam menuntun jalannya pembangunan.
Suatu perencanaan yang disusun secara acak-acakkan (tidak sistematis) dan
tidak memperhatikan aspirasi target group (sasaran), maka pembangunan yang
dihasilkan tidak seperti yang diharapkan. Dengan demikian dalam konteks
perencanaan, sebagai alat maka mempunyai keunggulan komprehensif sebagai
berikut :
a. Perencanaan dapat dipakai sebagai alat untuk dijadikan pedoman dalam
    pelaksanaan pembangunan.
b. Perencanaan dapat dipakai sebagai alat penentuan sebagai alternatif dan
    berbagai kegiatan pembangunan.
c. Perancanaan dapat dipakai sebagai penentuan skala prioritas.
d. Perencanaan dapat dipakai sebagai alat peramalan (forecasting) dari
    kegiatan dari masa ke masa yang akan datang. (Soekartawi, 1990)
          Sementara menurut Lincolin Arsyad fungsi-fungsi perencanaan adalah
   sebagai berikut:
   a. Dengan perencanaan diharapkan terdapatnya suatu pengarahan kegiatan,
      adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan
      kepada tujuan pembangunan.
   b. Dengan perencanaan dapat dilakukan suatu perkiraan potensi-potensi,
      prospek-prospek perkembangan, hambatan serta resiko yang mungkin
      dihadapi pada masa yang akan datang.
   c. Perencanaan memberikan kesempatan untuk mengadakan pilihan yang
      terbaik.
   d. Dengan perencanaan dilakukan penyusunan skala prioritas dari segi
      pentingnya tujuan.
   e. Perencanaan sebagai alat untuk mengukur atau standar untuk mengadakan
      pengawasan evaluasi.

C. Proses Perencanaan Ekonomi
          Proses perencanaan merupakan hal mendasar yang harus diperhatikan
   oleh para pembuat keputusan (perencanaan), adapun proses perencanaan
   ekonomi tersebut dibagi kedalam empat tahap diantaranya adalah:
   1. Tahap pertama, pada tahap ini diterapkan tujuan oleh pemimpin politik,
      serta prioritas tujuan untuk mengarahkan para perencana jika terjadi
      konflik tujuan.
   2. Tahap kedua, adalah mengukur ketersediaan sumberdaya yang langka
      sebelum periode perencanaan tersebut.
   3. Tahap ketiga, hampir dari semua upaya ekonomi ditujukan untuk memilih
      berbagai cara (kegiatan dan alat) yang bisa digunakan untuk mencapai
      tujuan nasional.
   4. Tahap keempat, perencanaan mengerjakan proses pemilihan kegiatan yang
      penting dan mungkin untuk mencapai tujuan nasional (welfare fungtion)
      tanpa terganggu adanya kendala-kendala sumberdaya dan organisasional.
      Hasil dari proses ini adalah strategi pembangunan (Development strategy)
   atau rencana mengatur kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selama
   beberapa tahun (biasanya lima tahun). (Lincoln Arsyad, 1999)
       Pertumbuhan dan Perkembangan Ekonomi menurut Adam Smith
membagi tahapan pertumbuhan ekonomi menjadi lima tahap yang berurutan,
yaitu dimulai dari masa perburuan, masa berternak, masa bercocok tanam,
masa perdagangan dan yang terakhir adalah masa perindustrian. Menurut teori
ini, masyarakat akan bergerak dari masyarakat tradisional kemasayarakat
modern yang kapitalis. Dalam prosesnya, pertumbuhan ekonomi akan semakin
terpacu dengan adanya sistem pembagian kerja antar pelaku ekonomi. Dalam
hal ini, Adam Smith memandang pekerja sebagai salah satu input bagi proses
produksi.Pembagian kerja merupakan titik sentral pembahasan dalam terori
Adam Smith, dalam upaya meningkatkan produktifitas tenaga kerja. Dalam
pembangunan ekonomi, modal memegang peran penting. Menurut teori ini,
akumulasi modal akan menentukan cepat atau lambatnya pertumbuhan
ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Modal tersebut diperoleh dari
tabungan yang dilakukan masyarakat. Adanya akumulasi modal yang
dihasilkan dari tabungan, maka pelaku ekonomi dapat menginvestasikan
kesektor riil, dalam upaya untuk meningkatkan penerimaannya.
       Menurut Adam Smith proses pertumbuhan akan terjadi secara simultan
dan memiliki hubungan keterkaitan satu dengan lain. Timbulnya peningkatan
kinerja pada suatu sektor akan meningkatkan daya tarik bagi pemupukan
modal, mendorong kemajuan tekhnologi, meningkatkan spesialisasi dan
memperluas pasar hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi semakin
pesat. Proses pertumbuhan ekonomi sebagai suatu ‘fungsi tujuan’, pada
akhirnya harus tunduk pada ‘fungsi kendala’, yaitu keterbatasan sumberdaya
ekonomi. Pertumbuhan ekonomi akan mengalami keterlambatan jika daya
dukung alam tidak mampu lagi mengimbangi aktivitas ekonomi yang ada.
Keterbatasan sumberdaya merupakan faktor yang dapat menghambat ekonomi
tersebut, bahkan dalam perkembangan hal tersebut justru menurunkan tingkat
pertumbuhan ekonomi. (Mudrajad kuncoro, 1997)
D. Pengertian Pembangunan Ekonomi Daerah
         Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah
  daerah dan masyarakat mengelola sumberdaya yang ada dan membentuk suatu
  pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk
  menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan
  kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut. (Lincolin
  Arsyad, 1999)
         Masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada
  penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang berdasarkan
  pada kekhasan daerah yang bersangkutan (endogenous development) dengan
  menggunakan potensi sumberdaya manusia, kelembagaan, dan sumberdaya
  fisik secara lokal (daerah). Orientasi ini mengarahkan kita kepada
  pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses
  pembangunan untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang
  kegiatan ekonomi.
         Pembangunan ekonomi daerah suatu proses yaitu proses yang
  mencakup pembentukan-pembentukan institusi baru, pembangunan industri-
  industri alternatif, perbaikam kapasitas tenaga kerja yang ada untuk
  menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru,
  alih ilmu pemngetahuan, dan pengembangan perusahaan-perusahan baru.
         Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama
  untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah.
  Dalam upaya untuk mencapai tujuan tesebut, pemerintah daerah dan
  masyarakat harus secara bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan
  daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah beserta daerah beserta partisipasi
  masyarakatnya dan dengan dengan menggunakan sumberdaya yang ada harus
  menafsir potensi sumberdaya yang diperlukan untuk merancang dan
  membangun perekonomian daerah. (Lincolin Arsyad, 1999)
E. Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah
         Perencanaan pembangunan ekonomi daerah bisa dianggap sebagai
  perencanaan untuk memperbaiki penggunaan sumberdaya publik yang
  tersedia didaerah tersebut dan untuk memperbaiki kapasitas sektor swasta
  dalam menciptakan nilai sumberdaya swasta secara bertanggung jawab.
         Pembangunan ekonomi yang efisien membutuhkan secara seimbang
  perencanaan yang lebih teliti mengenai penggunaan sumber daya publik dan
  sektor swasta : petani, pengusaha kecil, koperasi, pengusaha besar, organisasi
  sosial harus mempunyai peran dalam proses perencanaan.
         Ada tiga (3) impilikasi pokok dari perencanaan pembangunan ekonomi
  daerah :
  Pertama,   perencanan    pembangunan      ekonomi    daerah   yang    realistik
  memerlukan pemahaman tentang hubungan antara daerah dengan lingkungan
  nasional dimana daerah tersebut merupakan bagian darinya, keterkaitan secara
  mendasar antara keduanya, dan konsekuensi akhir dari interaksi tersebut.
  Kedua, sesuatu yang tampaknya baik secara nasional belum tentu baik untuk
  daerah dan sebaliknya yang baik di daerah belum tentu baik secara nasional.
  Ketiga, Perangkat kelembagaan yang tersedia untuk pembangunan daerah,
  misalnya administrasi, proses pengambilan keputusan, otoritas biasanya
  sangat berbeda pada tingkat daerah dengan yang tersedia pada tingkat pusat.
  Selain itu, derajat pengendalian kebijakan sangat berbeda pada dua tingkat
  tersebut. Oleh karena itu perencanaan darah yang efektif harus bisa
  membedakan apa yang seyogyanya dilakukan dan apa yang dapat dilakukan,
  dengan menggunakan sumber daya pembangunan sebaik mungkin yang benar-
  benar dapat dicapai, dan mengambil manfaat dari informasi yang lengkap
  yang tersedia pada tingkat daerah karena kedekatan para perencananya dengan
  obyek perencanaan. (Lincolin arsyad, 1999)
F. Sasaran Pembangunan Lima Tahun Keenam Daerah Jawa Tengah
           Sesuai dengan tujuan pembangunan daerah, maka sasaran umum
   pembangunan lima tahun ke enam adalah tumbuhnya sikap kemandirian
   dalam diri manusia dan masyarakat melalui peningkatan peran serta efisien,
   dan produktivitas rakyat dalam peningkatan taraf hidup, kecerdasan dan
   kesejahteraan lahir dan batin.
           Adapun sasaran bidang ekonomi adalah pemantapan industri yang
   mengarah     pada    pungutan,     pendalaman,    peningkatan,      perluasan,    dan
   penyebaran industri di daerah yang mempunyai potensi industri dan makin
   kukuhnya struktur industri dengan meningkatkan keterkaitan antara industri
   hulu dengan hilir, antara industri besar, menengah, industri kecil dan industri
   rakyat serta keterkaitan antara industri dengan sektor ekonomi lainnya,
   peningkatan diversifikasi usaha dan hasil pertanian serta peningkatan
   intensifikasi,   ekstensifikasi,   dan   rehabilitasi   pertanian    dengan      tetap
   mempertahankan swasembada pangan yang didukung industri pertanian,
   penataan dan pemantapan kelembagaan dan sistem koperasi agar koperasi
   makin sehat, tangguh dan mandiri serta berperan utama sebagai wadah
   perekonomian rakyat dan berakar dalam masyarakat, peningkatan pangsa
   pasar dalam negeri dan luar negeri dengan pola perdagangan dan sistem
   distribusi yang makin meluas dan mantap, yang secara keseluruhan di
   laksanakan bersamaan dengan upaya peningkatan pemerataan melalui
   peningkatan kegiatan ekonomi rakyat, kesempatan berusaha, lapangan kerja
   serta peningkatan pendapatan dan kesempatan berusaha, lapangan kerja serta
   peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di daerah dalam rangka
   mencapai tujuan pembangunan. (Pola Dasar Pembangunan Daerah Jawa
   Tengah Tahun. 1994/1995-1998/1999)

G. Prioritas Pembangunan Lima Tahun Ke enam Daerah Jawa Tengah.
           Dengan memperhatikan tujuan dan sasaran pembangunan lima tahun
   ke enam daerah dalam rangka pembangunan jangka panjang kedua, maka
   pembangunan lima tahun ke enam daerah adalah pembangunan sektor-sektor
  di bidang ekonomi dengan keterkaitan antara industri dan pertanian serta
  bidang pembangunan lainnya dan peningkatan kualitas sumber daya manusia
  yang dikembangkan sebagai berikut :
  a. Penataan industri dan keterkaitan antara industri dengan sektor lainnya
     yang mengarah pada perbuatan dan pendalaman struktur industri yang
     didukung kemampuan tekhnologi dan kesiapan sumber daya manusia,
     ketangguhan pertanian, pemantapan sistem dan kelembagaan koperasi,
     penyempurnaan pola perdagangan, jasa dan sistem distribusi, pemantauan
     secara optimal dan tepat guna faktor produksi, sumberdaya ekonomi dan
     ilmu pengetahuan dan tekhnologi sebagai prasyarat terbentuknya
     masyarakat industri dengan tepat menjamin peningkatan keadilan,
     kemakmuran dan pemerataan pendapatan serta kesejahteraaan rakyat
     sesuai dengan Nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
  b. Pembangunan sumberdaya manusia agar makin meningkatnya kualitas
     sehingga dapat mendukung pembangunan ekonomi melalui peningkatan
     produktivitas dengan pendidikan yang makin merata dan bermutu disertai
     peningkatan dan perluasan pendidikan keahlian yang dibutuhkan berbagai
     bidang pembangunan serta pengembangan ilmu pengetahuan dan
     tekhnologi yang makin mantap agar dapat meningkatkan penguasaan ilmu
     pengetahuan, kemampuan pengkajian dan alih tekhnologi.
  c. Pembangunan bidang lainnya terus ditingkatkan seimbang, serasi dan
     selaras saling memperkuat dengan pembangunan di daerah merupakan
     satu kesatuan gerak dalam mewujudkan masyarakat maju, sejahtera,
     mandiri, adil dan makmur dengan tetap memperhatikan keseimbangan
     lingkungan dan pemanfaatan sumberdaya yang optimal. (Pola Dasar
     Pembangunan Daerah Jawa Tengah Tahun. 1994/1995-1998/1999)
H. Kebijakan Umum Lima Tahun Ke enam Daerah Jawa Tengah
         Sejalan dengan kebijaksanaan pembangunan lima tahun keenam
  daerah Jawa Tengah yang bertumpu pada trilogi pembangunan dalam bidang
  ekonomi adalah sebagai berikut :
a. Pembangunan industri diarahkan untuk menuju kemandirian guna
   meningkatkan kemampuan bersaing dan menaikkan pangsa pasar dalam
   negeri dan luar negeri dan selalu memelihara kelestarian fungsi lingkungan
   hidup pembangunan industri ditujukan untuk memperkukuh struktur
   ekonomi di daerah dengan keterkaitan yang kuat dan saling mendukung
   antar sektor memperluas lapangan kerja dan kesempatan usaha sekaligus
   mendorong berkembangnya kegiatan berbagai sektor pembangunan
   lainnya.
b. Pembangunan agro industri diarahkan pada pemanfaatan hasil pertanian
   secara optimal melalui pengembangan dan penguasaan tekhnologi,
   pemanfaatan hasil penelitian sekaligus meningkatklan keterkaitan yang
   saling menguntungkan antara petani produsen dengan industri.
c. Pembangunan industri menghasilkan bahan baku, komponen dan bahan
   penolong sektor industri rancang bangun dan rekayasa diarahkan agar
   makin efisien dan mampu besaing serta mampu mamenuhi kebutuhan
   industri lain sehingga mengurangi ketergantungan impor.
d. Pembangunan industri kecil dan menengah termasuk industri kerajinan,
   industri rumah tangga serta industri rakyat tradisional diarahkan agar
   menjadi usaha yang makin efisien dan berkembang mandiri.
e. pembangunan pertanian yang mencakup pertanian tanaman pangan,
   perkebunan, peternak,dan perikanan diarahkan pada perkembangannya
   pertanian yang maju efisien dan tangguh untuk meningkatkan pendapatan
   dan taraf hidup petani, nelayan, peternak dan masyarakat pedesaan
   memperluas pasar baik pasar dalam negeri maupun luar negeri sehingga
   mampu meningkatkan hasil, meningkatkan mutu dan derajat pengolahan
   produksi produksi dan menunjang pembangunan wilayah.
f. Pembangunan pertanian diarahkan yang diharapkan mampu meningkatkan
   pembangunan dalam hal meningkatkan usaha diservikasi, intensifikasi,
   ekstensifikasi, dan rehabilitasi pertanian dengan perencanaan dan
   pengolahan pembangunan pertanian yang makin terpadu.
   g. Pengolahan usaha pertanian terutama yang dikaitkan dengan usaha agro
       industri    dan   agrobisnis.     Dengan   memperhatikan       prinsip-prinsip
       keunggulan komparatif dan kompetitif, ketrampilan masyarakat pedesaan,
       persediaan bahan baku cukup dan berkelanjutan, tersedianya prasarana dan
       fasilitas   pelayanan   lainnya    di   pedesaan   diarahkan    pada      usaha
       meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditi pertanian untuk
       menjamin kesinambungan usaha pertanian.
   h. Pengembangan usaha pertanian skala besar diarahkan pada upaya
       mendorong perkembangan dan keterkaitan yang saling menunjang dan
       saling menguntungkan dengan usaha pertanian rakyat dan koperasi dengan
       tetap memperhatikan kelestarian daya dukung sumberdaya alam dan
       fungsi lingkungan hidup.
   i. Pembangunan        perdagangan      diarahkan   pada      terciptanya     sistem
       perdagangan yang makin efisien dan afektif serta mampu memanfaatkan
       dan memperluas pasar.
       Pergeseran struktural pembangunan terjadi karena berbagai unsur
kebijakan. Dalam ikatan sektor itu terjalin jaringan kehidupan yang tertata rapi
sesuai dengan fungsi dan peran masing – masing. Dalam ikatan – ikatan
primordial itu terlihat jelas pembagian fungsi dan peran dari masing – masing
unsur dan komponen. Dan orang tidak hidup di luarnya, orang hidup dalam sistem
itu. (Problema dan prospek nagari ke depan. Mochtar Naim)
       Pergeseran    sektor-sektor     ekonomi    dimaksudkan     untuk       mencapai
pembangunan dalam kebijakan pembangunan daerah serta menyelaraskan
pertumbuhan dan mengurangi kesenjangan dan tingkat kemajuan antar daerah,
melalui pembangunan serasi dan terpadu antar sektor pembangunan daerah yang
efisien dan efektif menuju tercapainya kemandirian daerah.
            III. METODOLOGI PENELITIAN DAN ANALISIS


A. Metodologi Penelitian
   1. Obyek Penelitian
     Penelitian ini dilakukan pada kantor Badan Perencanaan Pembangunan
     Daerah (BAPPEDA) Banyumas.
   2. Metodologi Penelitian
     Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus.
   3. Jenis Data
     a. Data Primer, Yaitu data yang diperoleh langsung dari kantor
          BAPPEDA, antara lain berupa data tentang jumlah PDRB Kabupaten
          Banyumas, dan jumlah PDRB Propinsi Jawa Tengah.
     b. Data Sekunder, Yaitu data yang diperoleh melalui studi pustaka yang
          bertujuan mendapatkan literatur dan hal-hal lain yang relevan, antara
          lain data yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik, BAPPEDA dan
          sumber lain yang terkait dan relevan denagan obyek yang diteliti.
   4. Sumber Data
     a    Data dari (BPS) Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Tengah.
     b. Data dari (BPS) Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas.
     c. Pola dasar pembangunan daerah Propinsi Jawa Tengah.
     d. Pola dasar pembangunan daerah Kabupaten Banyumas.
   5. Data Yang diperlukan
     a.   Data PDRB atas harga berlaku dan konstan pada Kab. Banyumas dan
          Propinsi Jawa Tengah tahun 1994 - 2002
     b.   Laporan laju pertumbuhan penduduk dan sektor-sektor ekonomi pada
          Kab. Banyumas dan Propinsi Jawa Tengah tahun 1994 - 2002
     c.   Data-data lain yang berhubungan dengan penelitian.
   6. Metode Pengumpulan Data
     a.   Metode Observasi, yaitu dengan melakukan pengamatan langsung
          terhadap obyek penelitian.
  b.   Metode Wawancara, yaitu dengan melakukan wawancara langsung
       dengan pimpinan dan karyawan Institusi terkait.
7. Metode Analisis
  a.   Analisis kualitas
       1.   Dalam penelitian ini digunakan tekhnik analisis perencanaan
            pembangunan yaitu Shif-Share (S-S) dan Location Quation (L-Q).
            Tekhnik analisis Shif-Share adalah suatu tekhnik analisis didalam
            perencanaan pembangunan yang menganalisis bagaimana pangsa
            masing-masing sektor dalam perekonomian daerah yang lebih
            rendah secara hirarkis. Dengan melihat perbandingan laju
            pertumbuan sektor-sektor perekonomian daerah sekaligus melihat
            bila daerah itu memperoleh pertumbuhan sebagai perubahan (D)
            suatu variabel wilayah yaitu pendapatan atau output sektor-sektor
            ekonomi daerah selama kurun waktu tertentu menjadi pengaruh
            pertumbuhan propinsi (N). Pengaruh propinsi disebut pengaruh
            pangsa (share), bauran industri (M), pengaruh bauran industri
            disebut bauran komposisi (proporsional shift) dan keunggulan
            kompetitif (C). Pengaruh keunggulan kompetitif disebut regional
            share, karena itulah tekhnik analisis ini dinamakan tekhnik analisis
            shif-share. Maenurut Prasetyo Soepono (1993) bentuk umum
            persamaan dari analisis shif-share dan komponen-komponen adalah
            sebagai berikut :
            Dij=Nij + Mij + Cij
            Keterangan :
            i      = Sektor ekonomi yang diteliti
            j      = Variabel ekonomi yang diteliti
       2. Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah pendapatan
            atau nilai sektor yang dinotasikan sebagai (y)
            Dij    = y*ij-yij
            Nij    = yij.rn
            Mij    = yij (rin – rn )
Cij        = yij ( rij- rin)
Keterangan :
Dij        = Variabel wilayah
Nij        = Pertumbuhan daerah propinsi
Mij        = Pengaruh Bauran industri
Cij        = Keunggulan kompetitif
yij        = Pendapatan sektor i Wilayah j (kabupaten)
y*         = Pendapatan tahun terakhir
rn         = Laju pertumbuhan PDRB di Wilayah n (propinsi)
rin        = Laju pertumbuhan i di Wilayah n ( propinsi)
rij        = Laju pertumbuhan sektor i di Wilayah j ( kabupaten )
Dimana rij, rin, dan rn mewakili laju pertumbuhan daerah
kabupaten dan daerah propinsi yang masing-masing didefinisikan
sebagai berikut :
        ( y * ij  yij)
rij 
               yij
         ( y * in - yin)
rin 
                yin
        ( yn * -yn)
rn 
            yn
Keterangan :
rij        = Laju pertumbuhan sektor i di Wilayah j ( kabupaten )
rin        = Laju pertumbuhan i di Wilayah n ( propinsi)
rn         = Laju pertumbuhan PDRB di Wilayah n (propinsi)
y*         = Pendapatan tahun terakhir
yij        = Pendapatan sektor i Wilayah j (kabupaten)
yin        = Pendapatan sektor i di wilayah n ( propinsi )
yn         = PDRB wilayah n ( propinsi )
     Secara keseluruhan wilayah, persamaan untuk sektor i di wilayah
     adalah :
     Dij     = yij . rn + yij (rin-rn) + yij (rij-rin)
     Keterangan :
     Dij     = Variabel wilayah
     yij     = Pendapatan sektor i di wilayah j ( kabupaten )
     rij     = Laju pertumbuhan sektor i di wilayah j ( kabupaten)
     rin     = Laju pertumbuhan sektor i di wilayah n (propinsi)
     rn      = Laju pertumbuhan PDRB di wilayah n (propinsi)
3.   Dalam penelitian ini juga digunakan alat analisis Location Quotient
     (LQ), Location Quotien adalah salah satu tekhnik analisa dalam
     perencanaan pembangunan yang digunakan untuk menganalisa
     sektor potensial atau sektor basis dalam suatu daerah, dengan cara
     mengukur konsentrasi suatu sektor ekonomi dalam suatu daerah
     yaitu membandingkan peranan sektor tersebut dalam perekonomian
     daerah Kabupaten Banyumas dengan sektor sejenis dalam
     perekonomian Daerah Propinsi Jawa Tengah. Menurut Lincolin
     Arsyad (1993) rumus untuk menghitung LQ adalah
            yi * / yt *
     LQ 
             Yi / Yt
     Keterangan :
     LQ      = Koefisien LQ
     yi*     = Pendapatan (PDRB) sektor tertentu di Kabupaten
                  Banyumas dalam Jutaan rupiah.
     yt*     = Pendapatan (PDRB) total daerah Kabupaten Banyumas
                  dalam jutaan rupiah.
     Yi      = Pendapatan (PDRB) sektor tertentu di daerah Propinsi
                  Jawa Tengah dalam jutaan Rupiah
     Yt      = Pendapatan (PDRB) total daerah Jawa Tengah dalam
                  jutaan rupiah
Adapun klarifiasi LQ sebagai berikkut :
LQ > 1     Merupakan sektor basis dan kemampuan produksi sektor
           tersebut di suatu kabupaten lebih besar dibandingkan sektor
           sejenis di tingkat propinsi.
LQ = 1     Berarti kemampuan produksi sektor tersebut di suatu
           kabupaten sama dengan sektor sejenis di tingkat propinsi.
LQ < 1     Merupakan sektor non basis dan kemampuan produksi
           sektor tersebut disuatu kabupaten lebih kecil dibanding
           sektor sejenis pada tingkat propinsi.
Adapun asumsi dalam analisis LQ adalah :
a. Selera dan pola pengeluaran di suatu daerah dengan daerah lain di
   seluruh wilayah propinsi Jawa Tengah adalah sama.
b. Setiap penduduk di setiap darah Kabupaten Banyumas mempunyai
   pola permintaan terhadap suatu barang dan jasa sama terhadap pola
   permintaan barang dan jasa pada tingkat propinsi Jawa Tengah.
c. Tingkat konsumsi rata-rata untuk masing-masing barang dan jasa
   disetiap daerah sama.
                          IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Tinjauan Umum Obyek Penelitian
   1. Perkembangan PDRB Kabupaten Banyumas
               Sesuai dengan titik berat pembangunan jangka panjang dan
      memperhatikan masalah-masalah pokok yang masih dihadapi, maka
      prioritas pembangunan daerah Banyumas diletakkan dalam pembangunan
      sektor ekonomi dengan keterkaitan antara sektor industri dan pertanian
      serta pembangunan bidang lainnya. Untuk mengetahui perkembangan
      pembangunan sektor ekonomi di Kabupaten Banyumas disajikan dalam
      beberapa tabel berikut :
      Tabel 1. Pendapatan domestik bruto atas dasar harga berlaku dan konstan
                  serta perkembangannya di Kabupaten Banyumas (dalam jutaan
                  rupiah).
                             Pendapatan Domestik Regional Bruto
      Tahun
                   Berlaku     Perkembangan      Konstan      Perkembangan
      1994        987,105,167    944,870,431    909,338,095     867,103,359
      1995      1,141,735,114    154,629,947    977,022,785      67,684,690
      1996      1,264,887,106    123,151,992 1,018,612,908       41,590,123
      1997      1,455,196,851    190,309,745 1,055,339,404       36,726,496
      1998      2,155,729,913    700,533,062    983,564,125      71,775,279
      1999      2,272,760,897    117,030,984    988,804,675       5,240,550
      2000      2,626,318,550    353,557,653 1,028,604,674       39,799,999
      2001      2,936,417,202    310,098,652 1,040,236,787       11,632,113
      2002      3,312,730,470    376,313,268 1,075,573,954       35,337,167
    Sumber : Data primer diolah

               Dari tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa PDRB Kabupaten
    Banyumas pada tahun 2002 atas dasar harga berlaku Rp. 3,312,730,470.
    Dengan kata lain jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya maka PDRB
    Kabupaten Banyumas mengalami peningkatan 376,313,268 juta rupiah. Hal
    ini tidak seimbang dengan perkembangan berdasarkan harga konstan yang
    hanya mencapai sebesar 35,337,167 juta rupiah.
                  Laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Banyumas tahun 1994 – 2002,
          disajikan dalam tabel 2 dimana laju pertumbuhan PDRB dibagi menjadi 9
          (sembilan) sektor, masing-masing mempengaruhi besarnya PDRB (tabel 2).
          Tabel 2. Laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Banyumas 1994 – 2002
                      (dalam %)
                                                   Pertumbuhan Pendapatan Domestik Regional Bruto
No                Sektor             1994     1995     1996     1997     1998     1999     2000     2001     2002
                                     (%)      (%)      (%)      (%)      (%)      (%)      (%)      (%)      (%)
1     PERTANIAN                       30.48   29.39    28.46    29.23     28.21    26.00   26.74     25.02   25.10

2     PENGGALIAN                      1.19      1.38     1.36     1.52     1.47     1.61     1.58     1.64     1.66

3     INDUSTRI                       16.45     17.67    17.86    17.89    18.77    18.93    18.44    18.80    18.83

4     LISTRIK, GAS & AIR MINUM        0.74      0.77     0.86     1.11     1.22     1.35     1.43     1.46     1.56

5     BANGUNAN                        4.31      4.55     4.75     4.59     3.37     3.51     3.50     3.57     3.61

6     PERDAGANGAN                    12.97     13.29    13.40    13.53    13.83    13.77    14.00    14.21    14.34

7     ANGKUTAN/ KOMUNIKASI            6.65      6.72     7.00     6.97     8.54     9.48     9.44     9.68     9.48

8     KEUANGAN, PERSEWAAN, DAN
                                      8.45      8.51     8.86     8.66     7.83     8.49     8.39     8.69     8.71
      JASA PERUSAHAAN
9     JASA - JASA                    18.77     17.73    17.44    16.59    16.75    16.86    16.48    16.93    16.71

                           PDRB     100.00    100.00   100.00   100.00   100.00   100.00   100.00   100.00   100.00

    Sumber : BPS, PDRB Kabupaten Banyumas dan Propinsi Jawa Tengah

                  Berdasarkan tabel 2, dapat diketahui pada tahun 2002 sektor-sektor
          yang mengalami pertumbuhan ekonomi positif diatas 2 persen mulai tahun
          1994-2002 yaitu sektor industri sebesar 18.83 persen, sektor perdagangan
          sebesar 14.34 persen, dan sektor angkutan/komunikasi sebesar 9.48 persen.
          Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan industri, perdagangan dan sektor
          angkutan/ komunikasi di Kabupaten Banyumas semakin bertambah baik
          volume maupun jumlah pelanggan.
                  Sedangkan laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Banyumas terdapat
          juga sektor-sektor yang mengalami pertumbuhan ekonomi negatif,
          penurunan prosentase dari tahun ke tahun dapat dilihat pergeseran angka
          mulai tahun 1994-2002 yaitu pada sektor pertanian, bangunan, jasa-jasa.
                         Peranan masing-masing sektor dalam Produk Domestik Regional
              Bruto tahun 1994 – 2002, dimana laju pertumbuhan PDRB di bagi menjadi 9
              (sembilan) sektor disajikan dalam tabel 3 berikut ini :
              Tabel 3. Peranan masing-masing sektor dalam PDRB berdasarkan Harga
                         Konstan 1993 di Kab. Banyumas tahun 1994 – 2002 (dalam %)
        SEKTOR / LAPANGAN USAHA      1994     1995     1996     1997     1998     1999     2000     2001     2002
No
                                     (%)      (%)      (%)      (%)      (%)      (%)      (%)      (%)      (%)
1    PERTANIAN
                                     275,51   286,74   288,80   290,36   277,45   257,09   275,04   260,28   269,92
2    PENGGALIAN
                                      11,20    13,01    14,08    15,11    14,47    15,88    16,21    17,02    17,85
3    INDUSTRI
                                     145,91   166,28   175,45   183,84   184,58   187,17   189,63   195,51   202,54
4    LISTRIK, GAS & AIR MINUM
                                       6,52     7,41     8,99    13,06    12,01    13,37    14,75    15,22    16,76
5    BANGUNAN
                                      39,87    44,99    48,98    52,06    33,15    34,67    35,98    37,18    38,80
6    PERDAGANGAN
                                     115,11   125,48   132,00   137,94   136,01   136,19   144,01   147,78   154,26
7    ANGKUTAN / KOMUNIKASI
                                      64,61    71,61    76,13    82,00    84,02    93,71    97,11   100,65   101,98
     KEUANGAN, PERSEWAAN, DAN
8
     JASA PERS.                       74,88    79,31    86,04    88,19    77,05    83,96    86,31    90,40    93,68
9    JASA - JASA
                                     175,69   182,15   188,10   192,73   164,79   166,72    16,95   176,15   179,72
      Sumber : BPS, PDRB Kabupaten Banyumas dan Propinsi Jawa Tengah

                         Berdasarkan tabel 3, peranan masing-masing sektor terhadap total
              PDRB dari tahun ke tahun mengalami perubahan. Tahun 2002 peranan
              sektor pertanian menduduki peringkat tertinggi sebesar 269.92% kemudian
              disusul sektor industri sebesar 202.54%. Sedangkan sektor yang peranannya
              kecil adalah listrik,gas dan air minum sebesar 16.76%, penggalian sebesar
              17.85%, untuk sektor bangunan peranan sebesar 38.80% atau naik 1.62%
              jika dibanding tahun sebelumnya. Sektor angkutan/komunikasi naik dari
              147.78% pada tahun 2001 menjadi 154.26% pada tahun 2002, kemudian
              untuk sektor lain cenderung stabil.
                 Salah satu indikator makro yang dapat menunjukan kondisi
      perekonomian regional suatu daerah/wilayah adalah Produk Domestik
      Regional Bruto (PDRB). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
      perkapita dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
      Tabel 4. Pendapatan Domestik Regional Bruto Perkapita penduduk
                 Kabupaten Banyumas 1994 – 2002
                                      Pendapatan Domestik Regional Bruto
    Tahun          Pendapatan perkapita menurut harga   Pendapatan perkapita menurut harga
                         yang berlaku (rupiah)                   konstans (rupiah)
     1994                                 987.105.167                                706.141
     1995                               1.141.735.114                                810.712
     1996                               1.264.887.106                                886.789
     1997                               1.455.196.851                              1.008.878
     1998                               2.155.729.913                              1.483.922
     1999                               2.272.760.897                              1.552.414
     2000                               2.626.318.550                              1.776.589
     2001                               2.936.417.202                              1.968.224
     2002                               3.312.730.470                              2.202.735
Sumber : BPS, PDRB Kabupaten Banyumas dan Propinsi Jawa Tengah

                 Berdasarkan tabel 4, rata-rata PDRB perkapita penduduk
      Kabupaten Banyumas tiap tahun meningkat. Pada tahun 2001 PDRB
      perkapita penduduk sebesar Rp. 2.936.417.202 meningkat menjadi Rp.
      3.312.730.470 pada tahun 2002. gambaran perekonomian Kabupaten
      Banyumas berdasarkan kondisi semester satu tahun 2001 dengan inflasi
      dapat dikendalikan memberikan informasi adanya gerak laju pertumbuhan
      yang positif. Kondisi itu akan bertahan bila tidak terjadi peristiwa yang
      buruk terhadap kehidupan berbangsa, konflik antar daerah tidak mencuat,
      investasi mulai berjalan dan pengaruh iklim atau cuaca yang mendukung
      produksi Keuangan,Persewaan, dan Jasa Pers sebagai sektor andalan
      Kabupaten Banyumas.
B. Deskripsi Data
             Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang
    diperoleh dari berbagai sumber, seperti yang diterbitkan oleh Badan Pusat
    Statistik, BAPPEDA dan sumber lain yang terkait dan relevan dengan obyek
    yang diteliti dimulai dari tahun 1994 hingga tahun 2002. data tersebut adalah
    data pendapatan sektor-sektor ekonomi daerah yang tercermin dalam PDRB
    Kabupaten Banyumas tahun 1994 – 2002 atas dasar harga konstan dan
    pendapatan sektor-sektor ekonomi Propinsi Jawa Tengah yang tercermin
    dalam PDRB tahun 1994 – 2002 atas dasar harga konstan.

             Data    tersebut   digunakan    untuk    menganalisis    perubahan
    pertumbuhan sembilan sektor ekonomi Kabupaten Banyumas dibandingkan
    dengan Propinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan alat analisis
    yaitu Analisis Shift-Share (SS) dan Analisis Location Qoutient (I.Q). Pada
    analisis Shift-Share, menggunakan data PDRB Kabupaten Banyumas dan
    PDRB Jawa Tengah menurut sektor awal tahun 1994 dan menurut sektor
    akhir tahun 2002. sedangkan untuk analisis Location Quotient data yang
    dipergunakan adalah data Kabupaten Banyumas dan PDRB Jawa Tengah
    menurut sektor selama 9 tahun yaitu sejak tahun 1994 – 2002.
     1. Hasil Analisis Shift - Share Sektor Ekonomi Kabupaten Banyumas Tahun
         1994 – 2002.
                       Hasil Analisis Shift - Share Ekonomi Kabupaten Banyumas tahun
         1994 – 2002 disajikan dalam tabel 5 berikut :
         Tabel 5. Hasil Analisis Shift - Share Sektor Ekonomi Kabupaten Banyumas
                       tahun 1994 – 2002. (perhitungan lihat lampiran 1)
                                         Komponen          Komponen          Komponen               Jumlah
No                  Sektor              Pertumbuhan      Bauran Industri    Keunggulan         Keseluruhan (Dij)
                                        Propinsi (Nij)       (Mij)         Kompetitif (Cij)
1    Pertanian                             139,915,441    (139,783,918)         630,281,186          630,412,709
2    Pertambangan & Penggalian               5,457,376      155,138,590        (123,931,670)          36,664,295
3    Industri Pengolahan                    75,527,226        (109,811)         459,392,708          534,810,124
4    Listrik, Gas & Air Bersih               3,391,900        4,960,123          30,799,452           39,151,475
5    Bangunan                               19,769,932       (4,800,239)         53,306,312           68,276,005
6    Perdagangan, Hotel dan Restoran        59,529,991           14,524         326,190,728          385,735,244
7    Angkutan & komunikasi                  30,523,720       (5,574,488)        151,120,814          176,070,046
8    Bank, Persewaan, Jasa Perusahaan       38,781,824     (19,895,114)         198,781,089          217,667,799
9    Jasa - jasa                            86,147,117     (57,480,553)         208,211,042          236,877,606
 Ket : angka dalam kurung menunjukkan minus
 Sumber : Data primer diolah

                       Adapun penjelasan dari hasil analisis shift share sektor ekonomi
         Kabupaten Banyumas tahun 1994 – 2002 adalah sebagai berikut :
         a. Sektor Pertanian
                       Sektor pertanian Kabupaten Banyumas berdasarkan analisis shift
                 share selama tahun tersebut dipengaruhi oleh beberapa komponen.
                 Misalnya, pengaruh komponen pertumbuhan propinsi (Nij) pada sektor
                 pertanian Kabupaten Banyumas yang mempunyai konstribusi positif
                 sebesar 139.915.441 terhadap pertumbuhan propinsi. Sedangkan
                 pengaruh komponen bauran industri (Mij) mempunyi nilai negatif
                 sebesar -139.783.918 yang menunjukkan bahwa sektor pertanian
                 mempunyai kontribusi yang negatif atau lebih lambat pertumbuhannya
                 terhadap sektor pertanian dalam propinsi Jawa Tengah.
                       Kemudian pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij)
                 kontribusi sektor pertanian sebesar 630.281.186 yang berarti kontribusi
                 sektor pertanian Kabupaten Banyumas positif atau lebih cepat
   pertumbuhannya dibanding sektor pertanian dalam propinsi Jawa
   Tengah.
        Untuk jumlah keseluruhan (Dij) pada sektor pertanian mempunyai
   konstribusi sebesar 630.412.709 yang menunjukkan bahwa sumbangan
   sektor pertanian Kabupaten Banyumas positif terhadap kontribusi sektor
   pertanian dalam propinsi Jawa Tengah.
b. Sektor Pertambangan dan Penggalian
        Berdasarkan analisis shift share pada sektor tersebut dipengaruhi
   oleh beberapa komponen. Pengaruh komponen pertumbuhan propinsi
   (Nij) pada Sektor Pertambangan dan Penggalian Kabupaten Banyumas
   mempunyai kontribusi yang positif sebesar 5.457.376 terhadap
   pertumbuhan propinsi. Sedangkan pengaruh komponen bauran industri
   (Mij) mempunyai nilai sebesar 155.138.590 yang menunjukkan sektor
   ini kontribusinya positif atau lebih cepat pertumbuhannya terhadap
   propinsi Jawa Tengah.
        Pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij) pada sektor
   pertambangan dan penggalian mempunyai nilai negatif sebesar -
   123.931.670,    berarti   kontribusi   sektor   tersebut   lebih   lambat
   pertumbuhannya terhadap sektor Pertambangan dan Penggalian propinsi
   Jawa Tengah.
        Untuk jumlah keseluruhan pada sektor pertambangan dan
   Penggalian     mempunyai      kontribusi   sebesar    36.664.295    yang
   menunjukkan bahwa sumbangan sektor pertambangan dan penggalian
   Kabupaten Banyumas positif terhadap kontribusi sektor pertambangan
   dan penggalian dalam propinsi Jawa Tengah.
c. Sektor Industri Pengolahan
        Sektor Industri Pengolahan Kabupaten Banyumas berdasarkan
   analisis shift share selama tahun tersebut dipengaruhi oleh beberapa
   komponen. Misalnya, pengaruh komponen pertumbuhan propinsi (Nij)
   pada sektor Industri Pengolahan Kabupaten Banyumas yang mempunyai
   konstribusi positif sebesar 75.527.226 terhadap pertumbuhan propinsi.
   Sedangkan pengaruh komponen bauran industri (Mij) mempunyai nilai
   negatif sebesar -109.811 yang menunjukkan bahwa sektor industri
   pengolahan mempunyai kontribusi yang negatif atau lebih lambat
   pertumbuhannya terhadap sektor industri pengolahan dalam propinsi
   Jawa Tengah.
         Kemudian pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij)
   kontribusi sektor Industri Pengolahan sebesar 459.392.708 yang berarti
   kontribusi sektor Industri Pengolahan Kabupaten Banyumas positif atau
   lebih cepat pertumbuhannya dibanding sektor sejenis dalam propinsi
   Jawa Tengah.
         Untuk jumlah keseluruhan (Dij) pada sektor industri pengolahan
   mempunyai konstribusi sebesar 534.810.124 yang menunjukkan bahwa
   sumbangan sektor industri pengolahan Kabupaten Banyumas positif
   terhadap kontribusi sektor sejenis dalam propinsi Jawa Tengah.
d. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih
         Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih Kabupaten Banyumas
   berdasarkan analisis shift share selama tahun tersebut dipengaruhi oleh
   beberapa komponen. Misalnya, pengaruh komponen pertumbuhan
   propinsi (Nij) pada Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih Kabupaten
   Banyumas yang mempunyai konstribusi positif sebesar 3.391.900
   terhadap pertumbuhan propinsi. Sedangkan pengaruh komponen bauran
   industri (Mij) mempunyai nilai sebesar 4.960.123 yang menunjukkan
   bahwa Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih mempunyai kontribusi yang
   positif atau lebih cepat pertumbuhannya terhadap Sektor Listrik, Gas dan
   Air Bersih dalam propinsi Jawa Tengah.
         Kemudian pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij)
   kontribusi Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih sebesar 30.799.452 yang
   berarti kontribusi Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih Kabupaten
   Banyumas positif atau lebih cepat pertumbuhannya dibanding sektor
   sejenis dalam propinsi Jawa Tengah. Untuk jumlah keseluruhan (Dij)
   pada sektor Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih mempunyai konstribusi
   sebesar 39.151.475 yang menunjukkan bahwa sumbangan Sektor Listrik,
   Gas dan Air Bersih Kabupaten Banyumas positif terhadap kontribusi
   pertumbuhannya dibanding sektor sejenis dalam propinsi Jawa Tengah.
e. Sektor Bangunan
        Sektor Bangunan Kabupaten Banyumas berdasarkan analisis shift
   share selama tahun tersebut dipengaruhi oleh beberapa komponen.
   Misalnya, pengaruh komponen pertumbuhan propinsi (Nij) pada sektor
   Bangunan Kabupaten Banyumas yang mempunyai konstribusi positif
   sebesar 19.769.932 terhadap pertumbuhan propinsi. Sedangkan pengaruh
   komponen bauran industri (Mij) mempunyai nilai sebesar -4.800.239
   yang menunjukkan bahwa sektor bangunan mempunyai kontribusi yang
   negatif atau lebih lambat pertumbuhannya terhadap sektor Bangunan
   dalam propinsi Jawa Tengah.
        Pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij) kontribusi sektor
   Bangunan mempunyai nilai positif sebesar 53.306.312 yang berarti
   kontribusi sektor tersebut lebih cepat pertumbuhannya terhadap Sektor
   Bangunan propinsi Jawa Tengah. Untuk jumlah keseluruhan (Dij) pada
   sektor Bangunan mempunyai nilai positif sebesar 68.276.005 yang
   berarti kontribusi sektor tersebut lebih cepat pertumbuhannya terhadap
   Sektor Bangunan propinsi Jawa Tengah.
f. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
        Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Kabupaten Banyumas
   berdasarkan analisis shift share selama tahun tersebut dipengaruhi oleh
   beberapa komponen. Misalnya, pengaruh komponen pertumbuhan
   propinsi (Nij) pada sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Kabupaten
   Banyumas yang mempunyai konstribusi positif sebesar 59.529.991
   terhadap pertumbuhan propinsi.
        Pengaruh komponen bauran industri (Mij) mempunyai nilai
   sebesar 14.524 yang menunjukkan bahwa sektor Perdagangan, Hotel dan
   Restoran mempunyai kontribusi yang positif atau lebih cepat
   pertumbuhannya terhadap kontribusi sektor Perdagangan, Hotel dan
   Restoran dalam propinsi Jawa Tengah.
        Pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij) pada sektor
   Perdagangan, Hotel dan Restoran mempunyai nilai positif sebesar
   326.190.728    berarti   kontribusi    sektor   tersebut   lebih   cepat
   pertumbuhannya terhadap Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran di
   Jawa Tengah. Jumlah keseluruhan (Dij) pada sektor Perdagangan, Hotel
   dan Restoran mempunyai nilai positif sebesar 385.735.244 berarti
   kontribusi sektor tersebut lebih cepat pertumbuhannya terhadap Sektor
   Perdagangan, Hotel dan Restoran propinsi Jawa Tengah.
g. Sektor Angkutan dan Komunikasi
        Sektor   Angkutan    dan    Komunikasi     Kabupaten     Banyumas
   berdasarkan analisis shift share selama tahun tersebut dipengaruhi oleh
   beberapa komponen. Misalnya, pengaruh komponen pertumbuhan
   propinsi (Nij) pada sektor Angkutan dan Komunikasi Kabupaten
   Banyumas yang mempunyai konstribusi positif sebesar 30.523.720
   terhadap pertumbuhan propinsi. Sedangkan pengaruh komponen bauran
   industri (Mij) mempunyai nilai sebesar -5.574.488 yang menunjukkan
   bahwa sektor Angkutan dan Komunikasi mempunyai kontribusi yang
   negatif atau lebih lambat pertumbuhannya terhadap sektor Angkutan dan
   Komunikasi dalam propinsi Jawa Tengah.
        Pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij) pada sektor
   Angkutan dan Komunikasi mempunyai nilai positif sebesar 151.120.814
   yang berarti kontribusi sektor tersebut lebih cepat pertumbuhannya
   terhadap Sektor Angkutan dan Komunikasi propinsi Jawa Tengah.
   Untuk jumlah keseluruhan (Dij) pada sektor Angkutan dan Komunikasi
   mempunyai kontribusi sebesar 176.070.046 yang berarti menunjukkan
   bahwa sumbangan sektor Angkutan dan Komunikasi               Kabupaten
   Banyumas lebih cepat pertumbuhannya dibanding Sektor sejenis dalam
   propinsi Jawa Tengah.
h. Sektor Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan
             Sektor Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan Kabupaten
   Banyumas berdasarkan analisis shift share selama tahun tersebut
   dipengaruhi oleh beberapa komponen. Misalnya, pengaruh komponen
   pertumbuhan propinsi (Nij) pada sektor Bank, Persewaan, dan Jasa
   Perusahaan Kabupaten Banyumas yang mempunyai konstribusi positif
   sebesar 38.781.824 terhadap pertumbuhan propinsi. Sedangkan pengaruh
   komponen bauran industri (Mij) mempunyai nilai sebesar -19.895.114
   yang menunjukkan bahwa sektor Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan
   mempunyai kontribusi yang negatif atau lebih lambat pertumbuhannya
   terhadap kontribusi sektor Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan dalam
   propinsi Jawa Tengah.
         Pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij) kontribusi sektor
   Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan mempunyai nilai positif sebesar
   198.781.089 yang berarti kontribusi sektor tersebut lebih cepat
   pertumbuhannya terhadap Sektor Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan
   propinsi Jawa Tengah. Untuk jumlah keseluruhan (Dij) pada sektor
   Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan mempunyai kontribusi sebesar
   217.667.799 yang menunjukkan bahwa sumbangan sektor Bank,
   Persewaan, dan Jasa Perusahaan Kabupaten Banyumas positif terhadap
   kontribusi sektor Bank, Persewaan, dan Jasa Perusahaan dalam propinsi
   Jawa Tengah.
i. Sektor Jasa-jasa
         Sektor Jasa-jasa Kabupaten Banyumas berdasarkan analisis shift
   share selama tahun tersebut dipengaruhi oleh beberapa komponen.
   Misalnya, pengaruh komponen pertumbuhan propinsi (Nij) pada sektor
   Jasa-jasa Kabupaten Banyumas yang mempunyai konstribusi positif
   sebesar 86.147.117 terhadap pertumbuhan propinsi. Sedangkan pengaruh
   komponen bauran industri (Mij) mempunyai nilai sebesar -57.480.553
   yang menunjukkan bahwa sektor Jasa-jasa mempunyai kontribusi yang
negatif atau lebih lambat pertumbuhannya terhadap sektor Jasa-jasa
dalam propinsi Jawa Tengah.
      Pengaruh komponen keunggulan kompetitif (Cij) kontribusi sektor
Jasa-jasa mempunyai nilai positif sebesar 208.211.042 yang berarti
kontribusi sektor tersebut lebih cepat pertumbuhannya terhadap Sektor
Jasa-jasa propinsi Jawa Tengah. Untuk jumlah keseluruhan (Dij) pada
sektor Jasa-jasa sebesar 236.877.606 yang menunjukkan bahwa
sumbangan Sektor Jasa-jasa Kabupaten Banyumas positif terhadap
kontribusi sektor Jasa-jasa dalam propinsi Jawa Tengah.
      Kriteria analisis shift – share merupakan tekhnik analisis dengan
membagi pertumbuhan suatu wilayah menjadi 3 komponen yaitu :
      1. Komponen pertumbuhan nasional.
      2. Komponen industri mix.
      3. Komponen kompetitif/ daya saing.
      Pengaruh pertumbuhan nasional disebut pengaruh pangsa (share),
pengaruh     industri       mix   disebut   proporsional    atau     bauran
komposisi,sedangkan pengaruh keunggulan kompetitif dinamakan pula
differential shift atau regional share.
      Berdasarkan analisis Shift Share diketahui bahwa sektor pertanian
merupakan sektor yang mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialis,
dengan perhitungan 139,915,441(Nij) + (- 139,783,918)(Mij) +
630,281,1886(Cij)       =   630,412,709(Dij),   Sedangkan   sektor    yang
mempunyai keunggulan spesialis adalah sektor pertambangan dan
penggalian, dengan perhitungan 5,457,376(Nij) + 155,138,590(Mij) + (-
123,931,670)(Cij) = 36,664,295(Dij). Kemudian sektor yang tidak
mempunyai keunggulan kompetitif dan spesialis (non kompetitif dan
non spesialis) adalah sektor bangunan, Hal ini dapat dijelaskan dengan
hasil perhitungan 19,769,932(Nij) + (-4,800,239)(Mij) + 53,306,312(Cij)
= 68,276,005(Dij).
        2. Hasil Analisis Location Quotient Sektor Ekonomi Kabupaten Banyumas
              Tahun 1994 – 2002
                            Hasil analisis LQ sektor ekonomi Kabupaten Banyumas tahun
              1994 – 2002 dapat dilihat pada tabel 6 (berdasarkan lampiran 2),
              menunjukkan potensi masing-masing sektor perekonomian Kabupaten
              Banyumas atau dalam pembentukan PDRB.
              Tabel 6. Analisis Location Quotient Sektor Ekonomi Kabupaten Banyumas
                            Tahun 1994 – 2002
No                 Sektor           1994    1995     1996    1997     1998     1999      2000     2001     2002
1    Pertanian                      1.325    0.184   1.352     1.29   13.174   1.422      1.505    1.366     1.11
2    Pertambangan & Penggalian      0.991    1.558   1.122    1.079    0.745   0.924      8.806    0.915    0.075
3    Industri Pengolahan            0.546    0.076   0.568      0.5    0.568   0.684      0.581    0.535    4.335
4    Listrik, Gas & Air Bersih      1.099    0.142   1.099    1.201    0.705   0.822      0.865    7.873    0.883
5    Bangunan                       0.911    0.131   1.023    0.854    0.498   0.861      0.703     0.59    4.757
6    Perdagangan, Hotel, Restoran   0.647    0.085   0.627    0.561    0.564   0.655       0.66    0.589     0.48
7    Angkutan & komunikasi          1.767    0.238   1.808     1.53    1.364   1.668     16.420    1.559   12.764
8    Bank, Persewaan, Jasa Persh    1.684    0.222   1.751    1.534    1.205   2.058      1.726   16.417   13.426
9    Jasa - jasa                    1.631    0.215   1.645   14.432    1.072   1.255      1.221    11.11    0.871
     Sumber : data primer diolah

                            Penjelasan dari tabel Analisis LQ pada                     Sektor Ekonomi
              Kabupaten Banyumas Tahun 1994 – 2002 dapat diuraikan sebagai berikut :
              1. Potensi Sektor Pertanian
                            Berdasarkan Analisis Location Quotient, potensi sektor Pertanian
                     dalam perekonomian Kabupaten Banyumas selama tahun 1994 – 2002
                     nilainya cukup besar yaitu nilai perhitungan sebagian besar diatas nilai
                     rata-rata 1 (LQ > 1) kecuali tahun 1995 (LQ < 1). Pada tahun 1994 nilai
                     LQ sektor pertanian sebesar 1.325 dan tahun 2002 nilai LQ sebesar 1.11
                     yang berarti terjadi penurunan sebesar 0.25. penurunan kontribusi sektor
                     pertanian ini selain disebabkan oleh faktor geografis yaitu kesuburan
                     tanah juga karena pengelolaan sektor pertanian yang relatif lebih
                     modern, serta karena sektor ini menyerap banyak tenaga kerja.
                     Diharapkan sektor pertanian ini tetap mempunyai potensi yang besar di
                     tahun-tahun yang akan datang dan tetap menjadi andalan bagi
                     pembentukan PDRB Kabupaten Banyumas asalkan ada perhatian dan
   kemauan dari semua pihak (masyarakat dan instansi terkait) khususnya
   kesadaran mengenai pentingnya menjaga kelestarian sumber daya alam.
2. Potensi Sektor Pertambangan dan Penggalian
         Berdasarkan      Analisis   Location    Quotient,   potensi   sektor
   Pertambangan     dan    Penggalian   dalam     perekonomian    Kabupaten
   Banyumas selama tahun 1994 – 2002 ditemui nilai hasil perhitungan
   sebagian besar dibawah nilai rata-rata 1 (LQ < 1), berarti potensi sektor
   Pertambangan dan Penggalian kontribusinya terhadap pendapatan
   regional (PDRB) Kabupaten Banyumas masih kecil dan tidak dapat
   dikategorikan sebagai sektor yang potensial. Selama tahun 1994 sampai
   tahun 1998 nilai LQ selalu mengalami penurunan, dan tahun 1999
   sampai dengan tahun 2002 nilai LQ berfluktuasi.
3. Potensi Sektor Industri Pengolahan
         Berdasarkan Analisis Location Quotient, potensi sektor Industri
   Pengolahan dalam perekonomian Kabupaten Banyumas selama tahun
   1994– 2002 ditemui nilai hasil perhitungan sebagian besar dibawah nilai
   rata-rata 1 (LQ < 1), berarti potensi sektor Industri Pengolahan
   kontribusinya terhadap pendapatan regional (PDRB) Kabupaten
   Banyumas masih kecil dan tidak dapat dikategorikan sebagai sektor yang
   potensial. Selama tahun 1994 sampai dengan tahun 2002 nilai LQ
   berfluktuasi.
4. Potensi Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih.
         Berdasarkan Analisis Location Quotient, potensi sektor Listrik,
   Gas dan Air Bersih dalam perekonomian Kabupaten Banyumas selama
   tahun 1994 – 2002 dapat diketahui nilai hasil perhitungan sebagian besar
   diatas nilai rata-rata 1 (LQ > 1), yang berarti bahwa selama tahun
   tersebut sektor Listrik, Gas dan Air Bersih dapat dikategorikan dalam
   sektor potensial dan dapat diandalkan dalam pembentukan PDRB
   Kabupaten Banyumas, pada tahun 1994 nilai LQ sektor Listrik, Gas dan
   Air Bersih sebesar 1.099 dan tahun 2002 nilai LQ sebesar 0.883 yang
   berarti terjadi penurunan sebesar 0,216.
5. Potensi Sektor Bangunan
        Berdasarkan Analisis Location Quotient, potensi sektor Bangunan
   dalam perekonomian Kabupaten Banyumas selama tahun 1994 – 2002
   cukup kecil yaitu nilai hasil perhitungan sebagian besar dibawah nilai
   rata-rata 1 (LQ < 1), walaupun jumlahnya fluktuatif dan sempat
   mengalami peningkatan hingga nilai (LQ > 1) pada tahun 2002. Berarti
   sektor Bangunan tidak dapat dikategorikan dalam sektor potensial dan
   tidak dapat    diandalkan dalam pembentukan PDRB Kabupaten
   Banyumas.
6. Potensi Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
        Berdasarkan     Analisis      Location   Quotient,   potensi   sektor
   Perdagangan, Hotel dan Restoran dalam perekonomian Kabupaten
   Banyumas selama tahun 1994 – 2002 ditemui nilai hasil perhitungan
   sebagian besar dibawah nilai rata-rata 1 (LQ < 1), berarti potensi sektor
   Perdagangan, Hotel dan Restoran kontribusinya terhadap pendapatan
   regional (PDRB) Kabupaten Banyumas masih kecil dan tidak dapat
   dikategorikan sebagai sektor yang potensial. Selama tahun 1994 - 2002
   ditemui nilai yang berfluktuasi.
7. Potensi Sektor Angkutan dan Komunikasi
        Berdasarkan Analisis Location Quotient, potensi sektor Angkutan
   dan Komunikasi dalam perekonomian Kabupaten Banyumas selama
   tahun 1994 – 2002 mempunyai nilai hasil perhitungan sebagian besar
   diatas nilai rata-rata 1 (LQ > 1) yang berarti bahwa sektor Angkutan dan
   Komunikasi dapat dikategorikan sebagai sektor potensial dan dapat
   diandalkan bagi pembentukan PDRB Kabupaten Banyumas.
8. Potensi Sektor Bank Persewaan dan Jasa Perusahaan
        Berdasarkan analisis Location Quotient, potensi sektor bank,
   persewaan dan sektor jasa perusahaan dalam perekonomian kabupaten
   Banyumas selama tahun 1994 – 2002 dapat diuraikan sebagai berikut :
   nilai hasil perhitungan sebagian besar diatas nilai rata-rata 1 (LQ > 1)
   yang berarti selama tahun tersebut sektor bank, persewaan dan sektor
   jasa perusahaan dapat dikategorikan sebagai sektor potensial dan dapat
   diandalkan bagi pembentukan PDRB Kabupaten Banyumas.
   Hal ini berarti pada tahun 2002 sektor bank, persewaan dan sektor jasa
   perusahaan dapat dikategorikan sebagai sektor potensial dan dapat
   diandalkan bagi pembentukan PDRB Kabupaten Banyumas.
9. Jasa-jasa
        Berdasarkan analisis Location Quotient, potensi sektor jasa-jasa
   dalam perkonomian kabupaten Banyumas selama tahun 1994 – 2002
   ditemui nilai hasil perhitungan sebagian besar diatas rata-rata 1 (LQ > 1)
   yang berarti selama tahun tersebut sektor jasa - jasa dapat dikategorikan
   sebagai sektor potensial dan dapat diandalan bagi pembentukan PDRB
   Kabupaten Banyumas. Berdasarkan analisis LQ selama 1994 – 2002
   ditemui nilai yang berfluktuasi.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:3741
posted:3/28/2010
language:Indonesian
pages:36
About Cuek..cool...apa adanya dan setia...