Docstoc

skripsi baru

Document Sample
skripsi baru Powered By Docstoc
					                                  BAB I

                             PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

            Struktur modal atau keputusan pendanaan akan sangat berpengaruh

   pada kinerja perusahaan. Keputusan apakah dana yang akan digunakan

   oleh perusahaan dengan hutang atau dengan penjualan saham akan sangat

   berpengaruh terhadap kinerja perusahaan khususnya dalam rangka

   memaksimalkan kemakmuran atau kekayaan para pemegang saham atau

   pemilik yang akan tercermin melalui harga saham perusahaan. Dengan

   demikian perusahaan perlu mengusahakan suatu keseimbangan yang

   optimal dalam menggunakan kedua sumber tersebut sehingga dapat

   memaksimalkan nilai perusahaan.

            Perusahaan bertujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan pemilik

   melalui keputusan atau kebijakan investasi, keputusan pendanaan dan

   keputusan dividen yang tercermin dalam harga saham di pasar modal,

   demikian jika dilihat berdasarkan sudut pandang manajemen keuangan.

   Tujuan     ini   sering   diterjemahkan   sebagai   suatu   usaha   untuk

   memaksimumkan nilai perusahaan. Dalam mencapai tujuan tersebut,

   banyak shareholder yang menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada

   para profesional yang bertanggung jawab mengelola perusahaan, yang

   disebut manajer. Para manajer yang diangkat oleh shareholder diharapkan

   akan bertindak atas nama shareholder tersebut, yakni memaksimumkan

   nilai perusahaan sehingga kemakmuran shareholder akan dapat tercapai.

                                                                           1
       Para manajer dalam menjalankan operasi perusahaan, sering kali

tindakannya bukan memaksimumkan shareholder, melainkan justru

tergoda untuk meningkatkan kesejahteraannya sendiri. Kondisi ini akan

mengakibatkan munculnya perbedaan kepentingan antara external

shareholder dengan manajer. Konflik yang disebabkan oleh pemisahan

antara kepemilikan dan fungsi pengelolaan dalam teori keuangan disebut

konflik keagenaan atau Agency conflik.

       Peningkatan kepemilikan manajerial dapat digunakan sebagai cara

untuk mengurangi konflik keagenan (Crutchley dan hansen: 1989, Jensen,

Solberg dan Zorn: 1992). Perusahaan meningkatkan kepemilikan

manajerial untuk mensejajarkan kedudukan manajer dengan pemegang

saham sehingga bertindak sesuai dengan keinginan pemegang saham.

Dengan meningkatnya persentase kepemilikan, manajer termotivasi untuk

meningkatkan kinerja dan bertanggung jawab meningkatkan kemakmuran

pemegang saham. Pada kepemilikan yang menyebar, masalah keagenan

terjadi antara pihak manajemen dengan pemegang saham. Hal ini

menyebabkan kekuasaan pemegang saham dan menyerahkan kepada

manajer. Sebagai konsekuensinya, manajer menuntut kompensasi yang

tinggi sehingga meningkatkan biaya keagenan. Pada kondisi ini, konflik

keagenan   diatasi   dengan   meningkatkan   kepemilikan   manajerial.

Sebaliknya pada kepemilikan yang berkonsentrasi masalah keagenan

disebabkan oleh hubungan antara pemegang saham dan kreditor. Masalah

ini dijumpai pada perusahaan-perusahaan di Indonesia. Pada kepemilikan


                                                                    2
terpusat terdapat dua kelompok pemegang saham, yaitu controlling

mayority stockholder dan minority stockholder. Manajer diangkat dan

diberhentikan     oleh     controlling   mayority     stockholder   sehingga

menunjukkan kinerja baik dihadapkan pemegang saham. Kondisi ini

memperkecil biaya keagenan ekuitas tetapi menimbulkan biaya keagenan

baru yaitu biaya keagenan hutang ( Husnan : 2000).

       Peningkatan dividen diharapkan dapat mengurangi biaya keagenan.

Hal ini disebabkan dimana dividen yang besar menyebabkan rasio laba

ditahan akan kecil sehingga perusahaan membutuhkan tambahan dana dari

sumber eksternal, seperti emisi saham baru. Penambahan dana

menyebabkan kinerja manajer dimonitor oleh bursa dan penyediaan dana

baru. Pengawasan kinerja menyebabkan manajer bertindak sesuai dengan

kepentingan pemegang saham sehingga mengurangi biaya yang berkaitan

dengan emisi saham baru (floating cost). (Crutchley dan Hansen : 1989).

       Perkembangan riset pasar modal telah memotivasi penulis untuk

melakukan penelitian bidang keuangan. Beberapa penelitian tentang

struktur modal terhadap nilai perusahaan telah banyak dilakukan oleh

peneliti dan hasilnya saling kontradiksi. Jensen dan Meckling (1976)

beragumentasi bahwa konflik keagenan terjadi karena adanya pemisahan

kepemilikan     dan      pengendalian.   Konflik    keagenan    menyebabkan

penurunan     nilai   perusahaan.    Penurunan      nilai   perusahaan   akan

mempengaruhi kekayaan dari pemegang saham sehingga pemegang saham

akan melakukan tindakan pengawasan terhadap perilaku manajemen.


                                                                           3
Dalam teori keagenan dijelaskan bahwa kepentingan manajemen dan

kepentingan pemegang saham mungkin bertentangan. Hal tersebut

disebabkan manajer mengutamakan kepentingan pribadi, sebaliknya

pemegang saham tidak menyukai kepentingan pribadi manajer tersebut,

karena pengeluaran tersebut akan menambah kos perusahaan yang

menyebabkan penurunan keuntungan perusahaan dan penurunan dividen

yang akan diterima. Pemegang saham menginginkan agar kos tersebut

dibiayai oleh utang, tetapi manajer tidak menyukai dengan alasan bahwa

utang mengandung risiko yang tinggi. Perbedaan kepentingan itu

menimbulkan konflik yaag biasa disebut konflik agensi. Konflik

kepentingan dapat diminimumkan dengan suatu mekanisme pengawasan

yang dapat mensejajarkan kepentingan-kepentingan yang terkait tersebut.

Akibat dari munculnya mekanisme pengawasan tersebut menyebabkan

timbulnya suatu kos yang disebut agency cost.

       Ada beberapa alternatif untuk mengurangi kos keagenan tersebut

yaitu : pertama, dengan meningkatkan kepemilikan saham perusahaan oleh

manajemen (Jensen dan Meckling 1976). Analisisnya menyatakan bahwa

proporsi kepemilikan saham dikontrol manajer dapat mempengaruhi

kebijakan-kebijakan perusahaan. Selain itu kepemilikan manajerial akan

mensejajarkan kepentingan manajemen dan pemegang saham, sehingga

manajer akan merasakan langsung manfaat dari keputusan yang diambil

dengan benar dan akan merasakan kerugian sebagai konsekwensi dari

pengambilan keputusan yang salah. Kedua, dengan meningkatkan dividen


                                                                     4
payout ratio (Crutley dan Hansen, 1989; Easterbrook, 1989; Leland dan

Pyle, 1977). Penelitian mereka menyatakan bahwa pembayaran dividen

akan mempengaruhi kebijakan pendanaan, karena dengan pembayaran

dividen akan mengurangi cash flow perusahaan akibatnya perusahaan

dalam memenuhi kebutuhan operasinya akan mencari alternatif sumber

pendanaan yang relevan, Ketiga, meningkatkan pendanaan dengan utang.

Penurunan utang akan menurunkan besarnya konflik antara pemegang

saham dengan manajemen. Disamping itu utang akan menurunkan exess

cash flow yang ada dalam perusahaan, sehingga akan menurunkan

kemungkinan pemborosan yang dilakukan oleh manajemen. Keempat,

institusional investor sebagai pihak yang memonitor agen, Moh’d et al.

(1998) menyatakan bahwa distribusi saham antara pemegang saham dari

luar seperti institusional investor dapat mengurangi agency cost. Hal ini

disebabkan karena kepemilikan mewakili sumber kekuasaan yang dapat

digunakan untuk mendukung atau sebaliknya terhadap keberadaan

manajemen. Jadi dengan adanya investor institusional akan mendorong

peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen.

       Ada dua pandangan yang terus diperdebatkan oleh ahli-ahli

keuangan di dunia. Pandangan pertama dikenal dengan pandangan

tradisional yang menyatakan bahwa struktur modal mempengaruhi nilai

perusahaan. Pandangan tradisional diwakili oleh dua teori yaitu Trade off

Theory dan Pecking Order Theory, Myers (1984). Pandangan kedua

dikemukakan oleh Modigliani dan Miller yang menyatakan bahwa struktur


                                                                       5
modal tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Myers dan Majluf (1984),

menyatakan bahwa perusahaan cenderung mempergunakan internal equity

terlebih dahulu, dan apabila memerlukan external financing, maka

perusahaan akan mengeluarkan debt sebelum menggunakan external

equity.

          Dari beberapa penelitian yang dilakukan pada perusahaan-

perusahaan di Indonesia ditemukan bahwa perusahaan-perusahaan di

Indonesia cenderung mengikuti pecking order theory. Santoso (2001) telah

menemukan bahwa pada umumnya para manajer perusahaan di Indonesia

cenderung mengikuti hirarki pendanaan (pecking order theory). Struktur

modal perusahaan diprediksi juga dipengaruhi oleh faktor ekstern dan

faktor intern perusahaan. Struktur kepemilikan menjadi penting dalam

teori keagenan karena sebagian besar argumentasi konflik keagenan

disebabkan oleh adanya pemisahan kepemilikan dan pengelolaan. Konflik

keagenan tidak terjadi pada perusahaan dengan kepemilikan seratus persen

oleh manajemen (Jensen dan Meckling, 1976). Struktur kepemilikan

saham diprediksi berpengaruh dalam penentuan struktur modal. Semakin

terkonsentrasi kepemilikan saham perusahaan cenderung akan mengurangi

utang. Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham, maka akan terjadi

pengawasan yang efektif terhadap manjemen. Manajemen akan semakin

berhati-hati dalam melakukan peminjaman, sebab jumlah utang yang

terlalu tinggi akan menimbulkan risiko financial distress sehingga nilai

perusahaan akan menurun. Jumlah utang yang melewati titik optimalnya


                                                                      6
   akan membuat penghematan pajak dari penggunaan utang lebih rendah

   dari pada nilai sekarang dari financial distress dan agency cost (model

   trade off). Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham perusahaan juga

   diprediksi akan menigkatkan nilai perusahaan.

           Pentingnya penelitian ini dari jurnal sebelumnya penelitian ini

   menggunakan bantuan software Lisrel 8.54, sedangkan dalam jurnal

   sebelumnya menggunakan bantuan software Amos 4.0 dan juga dalam

   penelitian ini menambahkan dua variabel manifest yaitu DAR (Debt to

   Asset Ratio) dan PER (Price Earning Ratio).

           Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan dan evaluasi peneliti

   sebelumnya maka penulis tertarik mengadakan penelitian mengenai

   “Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Leverage, Faktor Intern

   Dan Faktor Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan”.

B. Identifikasi Masalah

        Berdasarkan latar belakang masalah tersebut peneliti mengidentifikasi

   sebagai berikut :

   1.   Pengaruh kepemilikan saham, faktor ekstern dan faktor intern

        terhadap leverage.

   2.   Pengaruh kepemilikan saham, faktor ekstern, faktor intern dan

        leverage terhadap nilai perusahaan.




                                                                                7
C. Pembatasan Masalah

         Untuk membatasi masalah agar tidak terlalu meluas

         pembahasannya maka penulis membatasi masalah sebagai berikut :

     1. Penelitian ini menggunakan variabel endogen dan eksogen.

     2. Peneliti dilakukan pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di

         BEI. Periode penelitian per 31 Desember 2003 sampai 31

         Desember 2006.

D. Perumusan Masalah

  1. Apakah struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap

     leverage?

  2. Apakah faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap leverage?

  3. Apakah faktor intern berpengaruh signifikan terhadap leverage?

  4. Apakah struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap

     nilai perusahaan?

  5. Apakah      faktor   ekstern   berpengaruh   signifikan   terhadap   nilai

     perusahaan?

  6. Apakah faktor intern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan?

  7. Apakah leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan?




                                                                             8
E. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

E.1 Tujuan Penelitian

          Tujuan utama dari studi ini adalah untuk menguji pengaruh

   struktur kepemilikan, leverage, faktor ekstern, dan faktor intern terhadap

   perusahaan di Bursa Efek Jakarta.

   1   Untuk menganalisis pengaruh struktur kepemilikan saham terhadap

       leverage.

   2   Untuk menganalisis pengaruh faktor ekstern terhadap leverage.

   3   Untuk menganalisis pengaruh faktor intern terhadap leverage.

   4   Untuk menganalisis pengaruh struktur kepemilikan saham terhadap

       nilai perusahaan.

   5   Untuk menganalisis pengaruh faktor eksren terhadap nilai perusahaan.

   6   Untuk menganalisis pengaruh faktor intern terhadap nilai perusahaan.

   7   Untuk menganalisis pengaruh leverage terhadap nilai perusahaan.

   E.2 Manfaat Penelitian

       1. Bagi Penulis

        Dapat menerapkan Ilmu Ekonomi, khususnya dlam Manajemen

        Keuangan dan Pasar Modal yang telah diperoleh selama masa

        perkuliahan.

       2. Bagi Investor

        Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan informasi untuk

        mengetahui       keadaan   keuangan   perusahaan    sehingga   dapat


                                                                           9
 dimanfaatkan oleh para investor dalam pengambilan keputusan

 investor dari pasar modal.

3. Bagi Perusahaan

 Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan publik

 dalam hal pengambilan keputusan keuangannya terutama dalam

 menentukan berapa besar proporsi sumber pembiayaan struktur

 modalnya, dimana diharapkan dengan proporsi struktur modal

 tersebut perusahaan dapat meningkatkan harga sahamnya.

4. Bagi Akademisi

 Sebagai penambah kepustakaan dibidang keuangan dan pasar modal.




                                                              10
                                    BAB II

                           TINJAUAN PUSTAKA

A. Leverage (Struktur Modal)

        Struktur modal / capital structure       : berkaitan dengan struktur

   pembelanjaan permanen perusahaan yang terdiri dari hutang jangka panjang

   dan modal sendiri. Ahmad Rodoni dan Indo Yama Nasaruddin (2007).

        Struktur modal adalah perbandingan nilai hutang dengan nilai modal

   sendiri yang tercermin pada laporan keuangan akhir tahun.

        Struktur modal merupakan perimbangan antara utang dengan modal

   yang dimiliki perusahaan. Salah satu isi penting yang sering dihadapi oleh

   manajer suatu perusahaan adalah menentukan perimbangan yang tepat antara

   utang dengan modal.

        Terdapat tiga teori utama dalam menjelaskan tujuan perusahaan dalam

   memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham. Ketiga teori tersebut

   berusaha menjelaskan bagaimana struktur modal dapat memaksimumkan nilai

   perusahaan. Ketiga teori tersebut adalah :

      a) Teori Tradisional atau Teori Klasik

              Menyatakan bahwa struktur modal yang optimal yang dapat

          memaksimumkan         nilai   perusahaan   adalah    dengan    cara

          meminimumkan biaya modal rata-rata (average cost of capital). Salah

          satu versi teori ini dikembangkan oleh Ezra Solomon yang

          menyatakan bahwa struktur modal yang optimal terjadi apabila



                                                                          11
        terdapat kelebihan antara debt equity ratio dengan average cost of

        capital.

    b) Teori yang dikembangkan oleh Miller dan Modigliani

              Menyatakan bahwa pasar modal itu adalah sempurna dan tidak

        ada pajak. Mereka menyatakan nilai perusahaan tidak dipengaruhi

        oleh struktur modal.

    c) Teori yang juga dikembangkan oleh Miller dan Modigliani.

               Dengan memperhatikan tingkat pajak mereka menyatakan

        bahwa penggunaan utang dapat memaksimumkan nilai perusahaan

        dan kemakmuran pemegang saham.

       Weston (1963) dalam Napa (1999), menggunakan analisis regresi

berganda untuk menguji leverage. Hasilnya mendukung teori leverage

tradisional. Barger (1963) dalam Napa (1999) menggunakan fungsi kuadrat

untuk mempelajari pengaruh perubahan leverage terhadap nilai pasar

perusahaan .hasilnya mendukung teori tradisional     Myers (1984) dalam

penelitiannya menemukan bahwa profitabilitas perusahaan mempunyai

hubungan yang positif secara signifikan dengan utang perusahaan. Myers

dalam Sutiati (2001) menunjukan bahwa perusahaan yang profitabilitas tinggi

lebih dipercaya untuk memperoleh utang. Myers juga berpendapat bahwa

apabila harga saham dipasaran terlalu mahal maka perusahaan harus menolak

menerbitkan saham baru karena harga saham tersebut akan turun melalui

proses penilaian.




                                                                        12
1. Pengertian Struktur Modal

          Struktur modal merupakan komposisi pendanaan ekuitas (modal

   sendiri) dan utang pada suatu perusahaan (Wild et al., 2005). Struktur modal

   sering kali dihitung berdasarkan besaran relatif berbagai sumber pendanaan.

   Stabilitas keuangan perusahaan serta risiko gagal melunasi utang tergantung

   pada sumber pendanaan serta jenis dan jumlah berbagai aktiva yang dimiliki

   perusahaan. Struktur modal dapat diartikan sebagai paduan sumber dana

   jangka panjang yang digunakan oleh perusahaan (Keown et al., 2000).

   Sedangkan menurut Awat (1999) struktur modal adalah proporsi antara utang

   jangka panjang dan modal sendiri. Demikian pula menurut Riyanto (2001)

   bahwa struktur modal adalah perimbangan antara utang jangka panjang

   dengan modal sendiri.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal

          Menurut Riyanto (2001) besar kecilnya struktur modal yang digunakan

   perusahaan dipengaruhi oleh banyak faktor. Adapun faktor-faktor tersebut

   antara lain:

   a) Tingkat bunga

          Tingkat bunga yang berlaku saat manajemen akan menentukan struktur

      modal akan mempengaruhi jenis modal apa yang akan digunakan, apakah

      menggunakan saham atau obligasi. Penggunaan obligasi hanya dibenarkan

      jika tingkat bunga obligasi lebih rendah daripada earning power dari

      tambahan modal tersebut.




                                                                            13
b) Stabilitas earning

      Stabilitas dan besarnya earning yang diperoleh perusahaan akan

   menentukan apakah perusahan dibenarkan untuk menggunakan modal

   dengan beban tetap (utang) atau tidak. Jika perusahaan memiliki earning

   yang stabil maka perusahaan akan mampu memenuhi kewajiban finan-

   sialnya, sebaliknya perusahaan yang memiliki earning tidak stabil akan

   menghadapi risiko tidak dapat membayar beban bunga atau angsuran

   utangnya pada tahun-tahun atau kondisi yang buruk.

c) Susunan aktiva

      Pada kebanyakan perusahaan industri atau manufaktur di mana

   sebagian besar dari modalnya tertanam dalam aktiva tetap, akan cenderung

   mengutamakan penggunaan modal sendiri sedang modal asing atau utang

   hanya sebagai pelengkap. Sedangkan perusahaan yang sebagian besar

   aktivanya terdiri atas aktiva lancar akan menggutamakan pemenuhan ke-

   butuhan dananya dengan utang jangka pendek.

d) Risiko aktiva

      Risiko yang melekat pada setiap aktiva perusahaan belum tentu sama.

   Semakin panjang jangka waktu penggunaannya maka risikonya semakin

   besar. Jika perusahaan memiliki aktiva yang peka terhadap risiko maka

   perusahaan harus memilih banyak menggunakan modal sendiri yang relatif

   tahan risiko, dan sedapat mungkin mengurangi penggunaan modal asing

   (utang) yang memiliki risiko lebih tinggi dibanding modal sendiri.




                                                                        14
e) Jumlah modal yang dibutuhkan

      Jumlah modal yang dibutuhkan atau diperlukan dapat mempengaruhi

  struktur modal. Jika modal yang dibutuhkan sangat besar maka dirasakan

  perlu bagi perusahaan untuk menggunakan beberapa sekuritas secara ber-

  samaan, misalnya mengeluarkan saham dan obligasi secara bersamaan.

f) Keadaan pasar modal

      Kondisi pasar sering mengalami perubahan yang disebabkan oleh

  banyak faktor. Oleh karena itu, dalam rangka memperoleh dana melalui

  penjualan sekuritas perusahaan harus memperhatikan kondisi pasar modal.

  Ketika investor menyukai menanamkan dananya dalam pembelian saham,

  maka pada waktu itu perusahaan lebih baik melakukan penerbitan saham.

g) Sifat manajemen

      Bagi manajemen yang optimis terhadap masa depan perusahaan,

  umumnya akan berani menangung risiko yang besar (risk seeker),

  sehingga akan lebih berani menggunakan utang untuk memenuhi

  kebutuhan dana perusahaan. Sebaliknya manajer yang bersifat pesimis dan

  tidak menyenangi risiko (risk averter) akan lebih suka menggunakan

  sumber dana intern untuk memenuhi kebutuhan dananya.

h) Besarnya perusahaan

      Suatu perusahaan yang tergolong besar di mana sahamnya tersebar

  sangat luas, penambahan saham untuk memenuhi kebutuhan dana tidak

  banyak mempengaruhi kekuasan atau pengendalian pemegang saham

  mayoritas. Oleh karena itu, perusahaan besar umumnya lebih menyukai


                                                                       15
melakukan penerbitan saham baru untuk memenuhi kebutuhan dananya.

Sedangkan menurut Brigham dan Houston (2001) besarnya kecilnya

struktur modal atau utang suatu perusahaan ditentukan oleh empat faktor

berikut :

    a. Risiko bisnis

            Risiko bisnis atau tingkat risiko yang terkandung dalam

       operasi perusahaan apabila perusahaan tersebut menggunakan

       utang. Makin besar atau makin tinggi risiko perusahaan, maka

       perusahaan akan cenderung menggunakan utang yang rendah.

    b. Pajak perusahaan

            Alasan utama penggunaan utang oleh perusahaan adalah

       karena biaya bunga dapat dikurangkan dalam perhitungan pajak.

    c. Fleksibilitas keuangan

            Fleksibilitas keuangan atau kemampuan perusahaan untuk

       menambah modal dengan persyaratan yang wajar dalam keadaan

       yang memburuk. Ketersediaan modal yang cukup merupakan hal

       yang penting guna mendukung operasi perusahaan yang stabil serta

       menentukan keberhasilan perusahan dalam jangka panjang. Oleh

       karena itu dalam kondisi perekonomian yang sulit, atau apabila

       perusahaan mengalami kesulitan operasi maka kemungkinan

       perusahaan tersebut memperoleh pinjaman dari investor relatif

       kecil, sehingga kondisi tersebut akan mempengaruhi struktur modal

       atau utang perusahaan.


                                                                       16
           d. Agresivitas manajemen

                     Pada perusahaan-perusahaan dengan manajer yang agresif

              pada umumnya lebih cenderung menggunakan utang untuk

              meningkatkan laba.

3. Utang

  1) Pengertian utang

           Utang atau sering disebut dengan istilah kewajiban adalah "tuntutan-

      tuntutan dari pihak luar", yaitu kewajiban ekonomis yang harus dibayar

      kepada pihak luar. Pihak-pihak di luar perusahaan tersebut disebut kreditur

      (Horngren et al., 1997). Sedangkan menurut Munawir (2001), utang adalah

      semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang belum

      terpenuhi, di mana utang ini merupakan sumber dana atau modal

      perusahaan yang berasal dari kreditur.

  2) Jenis utang

           Utang atau kewajiban perusahaan dapat dikelompokkan menjadi utang

      jangka pendek (utang lancar) dan utang jangka panjang.

      2a) Utang jangka pendek atau utang lancar

                Utang jangka pendek atau utang lancar adalah utang perusahaan

           yang pelunasannya atau pembayarannya akan dilakukan dalam jangka

           pendek (satu tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan aktiva

           lancar yang dimiliki oleh perusahaan (Munawir, 2001). Utang lancar

           tersebut meliputi beberapa utang sebagai berikut :

           (a) Utang dagang, yaitu utang yang timbul karena adanya pembelian


                                                                               17
       barang dagangan secara kredit.

   (b) Utang wesel, yaitu utang yang disertai dengan janji tertulis untuk

       melakukan pembayaran sejumlah tertentu pada waktu tertentu di

       masa yang akan datang.

   (c) Utang pajak, yaitu utang pajak yang belum disetorkan ke kas

       negara.

   (d) Biaya yang masih harus dibayar, yaitu biaya-biaya yang sudah

       terjadi tetapi belum dilakukan pembayarannya.

   (e) Utang jangka panjang yang segera jatuh tempo, yaitu sebagian

       (seluruh) utang jangka panjang yang sudah mejadi utang jangka

       pendek, karena harus segera dilakukan pembayarannya.

   (f) Penghasilan yang diterima di muka (deferred revenue), yaitu

      Penerimaan uang untuk penjualan barang/jasa yang belum di

      realisir.

2b) Utang jangka panjang

          Utang jangka panjang adalah kewajiban keuangan yang jangka

    waktu pembayarannya (jatuh temponya) masih jangka panjang (lebih

    dari satu tahun sejak tanggal neraca) (Munawir, 2001). Utang jangka

    panjang tersebut meliputi:

    a. Utang obligasi

    b. Utang hipotik yaitu utang yang dijamin dengan aktiva tetap

       tertentu.

    c. Pinjaman jangka panjang yang lain.


                                                                       18
4.   Modal

              Modal adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik Perusahaan

     yang ditunjukkan dalam pos modal (modal saham), surplus dan laba yang

     ditahan. Atau kelebihan nilai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terhadap

     seluruh utang-utangnya (Munawir, 2001). Dalam praktek kadang-kadang

     nampak adanya suatu klasifikasi di dalam neraca yang pada umumnya

     membingungkan pembaca (sulit untuk ditafsirkan) dengan nama reserve

     (cadangan). Seharusnya cadangan ini diklasifikasikan sesuai dengan

     klasifikasi neraca yaitu aktiva, utang dan milik sendiri (modal) sehingga

     cadangan pada prinsipnya juga terdiri dari tiga golongan yaitu: (Munawir,

     2001).

     1. Cadangan sebagai pengurang aktiva (reserve that offseting assets). Misal-

       nya cadangan penyusutan (reserve for depreciation), cadangan ini

       meupakan pengurangan terhadap aktiva yang disusut, sehingga dalam

       neraca nampak di sebelah debet mengurangi aktiva yang bersangkutan.

       Cadangan penyusutan itu akan lebih tepat bila diberi nama lain yaitu

       akumulasi penyusutan, atau akumulasi depresiasi (Munawir, 2001).

     2. Cadangan sebagai utang (liability reserve), misalnya reserve for taxes

       (cadangan untuk pajak) merupakan suatu utang yang dicatat sebagai

       cadangan, ini tidak benar, seharusnya cadangan untuk pajak ini

       dimasukkan dalam utang lancar (current liability), yaitu Utang Pajak atau

       Taksiran Utang Pajak.




                                                                              19
   3. Cadangan yang merupakan surplus, yang betul-betul merupakan hak para

      pemilik perusahaan, misalnya cadangan untuk ekspansi adalah merupakan

      pemisahan sebagian dari laba yang ditahan (retained earning), dan dalam

      neraca masuk dalam klasifikasi modal (appropriated surplus).

B. Nilai Perusahaan

        Nilai perusahaan adalah sangat penting karena dengan nilai perusahaan

  yang tinggi akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham

  (Bringham Gapensi, 1996). Semakin tinggi harga saham semakin tinggi nilai

  perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik

  perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukan kemakmuran

  pemegang saham juga tinggi. Kekayaan pemegang saham dan perusahaan

  dipresentasikan oleh harga pasar dari saham yang merupakan cerminan dari

  keputusan investasi, pendanaan (financing), dan manajemen asset.

        Menurut Fama (1978) dalam Untung wahyudi et.al , nilai perusahaan

  akan tercermin dari harga sahamnya. Harga pasar dari saham perusahaan yang

  terbentuk antara pembeli dan penjual disaat terjadi transaksi disebut nilai pasar

  perusahaan, karena harga pasar saham dianggap cerminan dari nilai asset

  perusahaan sesungguhnya. Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator

  nilai pasar saham sangat dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Adanya

  peluang investasi dapat memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan

  perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga akan meningkatkan harga

  saham, dengan meningkatnya harga saham maka nilai perusahaan pun akan

  meningkat.

                                                                                20
           Indikator- indikator yang mempengaruhi nilai perusahaan diantaranya

  adalah :

  1.   PER (Price Earning Ratio)

       PER yaitu rasio yang mengukur seberapa besar perbandingan antara harga

  saham perusahaan dengan keuntungan yang diperoleh para pemegang saham. (

  Sutrisno, 2000 dalam Mohammad Usman,2001 dalam Malla Bahagia,2008).

  Rumus yang digunakan adalah :



                                 Harga Pasar Saham
                       PER= -------------------------------

                                Laba per Lembar Saham

  Faktor-faktor yang mempengaruhi PER adalah :

           Tingkat pertumbuhan laba

           Dividend Payout Ratio

           Tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemodal.

  Menurut Basuku Yusuf, 2005 dalam Malla Bahagia, 2008, hubungan faktor-

faktor tersebut terhadap PER dapat dijelaskan sebagai berikut :

   1. Semakin tinggi Pertumbuhan laba semakin tinggi PER nya, dengan kata

       lain hubungan antara pertumbuhan laba dengan PER nya bersifat positif.

       Hal ini dikarenakan bahwa prospek perusahaan dimasa yang akan datang

       dilihat dari pertumbuhan laba, dengan laba perusahaan yang tinggi

       menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola biaya yang

       dikeluarkan secara efisien. Laba bersih yang tinggi menunjukkan earning

       per share yang tinggi, yang berarti perusahaan mempunyai tingkat
                                                                           21
   profitabilitas yang baik, dengan tingkat profitabilitas yang tinggi dapat

   meningkatkan kepercayaan pemodal untuk berinvestasi pada perusahaan

   tersebut sehingga saham-saham dari perusahaan yang memiliki tingkat

   profitabilitas dan pertumbuhan laba yang tinggi akan memiliki PER yang

   tinggi pula, karena saham-saham akan lebih diminati di bursa sehingga

   kecenderungan harganya meningkat lebih besar.

2. Semakin tinggi Dividend Payout Ratio (DPR), semakin tinggi PER nya.

   DPR memiliki hubungan positif dengan PER, dimana DPR menentukan

   besarnya dividen yang diterima oleh pemilik saham dan besarnya dividen

   ini secara positif dapat mempengaruhi harga saham terutama pada pasar

   modal didominasi yang mempunyai strategi mangejar dividen sebagai

   target utama, maka semakin tinggi dividen semakin tinggi PER.

3. Semakin tinggi required rate of return (r) semakin rendah PER, r

   merupakan tingkat keuntungan yang dianggap layak bagi investasi saham,

   atau disebut juga sebagai tingkat keuntungan yang disyaratkan. Jika

   keuntungan yang diperoleh dari investasi tersebut ternyata lebih kecil dari

   tingkat keuntungan yang disyaratkan, berarti hal ini menunjukkan

   investasi tersebut kurang menarik, sehingga dapat menyebabkan turunnya

   harga saham tersebut dan sebaliknya. Dengan begitu r memiliki hubungan

   yang negatif dengan PER, semakin tinggi tingkat keuntungan yang

   diisyaratkan semakin rendah nilai PER nya.

          PER adalah fungsi dari perubahan kemampuan laba yang

   diharapkan di masa yang akan datang. Semakin besar PER, maka semakin


                                                                           22
     besar pula kemungkinan perusahaan untuk tumbuh sehingga dapat

     meningkatkan nilai perusahaan.

   2. PBV (Price Book Value)

            Rasio ini mengukur nilai yang diberikan pasar keuangan kepada

     manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang

     terus tumbuh (Brigham, 1999: 92).

     Rumus yang digunakan adalah :



                          Harga Pasar per Lembar Saham
                    PBV = ---------------------------------------

                             Nilai Buku per Lembar Saham




C. Struktur Kepemilikan Saham

     Struktur kepemilikan saham adalah proporsi kepemilikan institusional dan

   manjemen dalam kepemilikan saham perusahaan.

   1. Kepemilikan Manajerial

            Shleifer dan Vishny (1986) dalam Theresia (2002) menemukan

   kepemilikan institusional secara positif terhadap kepemilikan manajerial.

   Kepemilikan institusional secara mayoritas akan mengurangi kemungkinan

   perusahaan untuk diakuisisi, sehingga meningkatkan keinginan manajer untuk

   memperbasar kepemilikan pada perusahaan. Namun sebaliknya, menurut Fitri

   dan Manduh (2003) semakin tinggi kepemilikan institusioanal maka akan

   semakin meningkatkan kepengawasan pihak eksternal terhadap perusahaan.


                                                                          23
     Proporsi hutang yang besar akan menempatkan manajer di bawah

pengawasan debtholders dan manajer cenderung tidak menyukai pengawasan

oleh debtholders tersebut, sehingga pengaruh kebijakan hutang terhadap

kepemilikan manajerial adalah negatif. Kontras dengan pernyataan diatas,

Fitri dan Mamduh (2003) menyatakan adanya pengaruh positif. Pernyataan

ini berdasarkan pada asumsi bahwa penggunaan hutang akan mengurangi

kebutuhan   penerbitan    saham   baru   sehingga   meningkatkan    proporsi

kepemilikan manajerial.

     Hubungan antara dividend dan kepemilikan manajerial dapat dijelaskan

melalui free cash flow hypothesis (FCF) (Jensen, 1986). Melalui hipotesis ini

kebijakan dividen digunakan untuk mempengaruhi kepemilikan manajerial

sehingga mengurangi biaya keagenan yang berkaitan dengan FCF. Penelitian

tersebut membuktikan bahwa terdapat hubungan subtitusi antara kebijakan

dividend dan kepemilikan manajerial.

2. Kepemilikan Institusional

     Dengan tingginya kepemilikan manajerial, para investor institusional

akan mendapatkan kesempatan kontrol perusahaan yang lebih sedikit. Ini

berarti bahwa hubungan antara kepemilikan manajerial dan kepemilikan

institusional adalah negatif. Hubungan ini sesuai dengan penelitian Fitri dan

Mamduh (2003).

     Risiko mempunyai       hubungan negatif dan        signifikan terhadap

kepemilikan institusional. Tingginya risiko yang dihadapi perusahaan

meningkatkan risiko kebangkrutan dan volatilitas dari pendapatan, hal ini


                                                                          24
akan mengurangi minat institusi untuk melakukan investasi pada saham

perusahaan itu karena institusi lebih mementingkan pada stabilitas

pendapatan (Fitri dan Mamduh,2003).

     Menurut Crutchley et al (1999), pengaruh kebijakan hutang terhadap

kepemilikan institusional adalah positif. Kebijakan hutang yang tinggi

menyebabkan perusahaan dimonitor oleh pihak debtholders, karena

monitoring dalam perusahaan yang ketat tadi menyebab manajer akan

bertindak sesuai dengan kepentingan debtholders dan shareholders, sehingga

kondisi ini akan menarik masuknya kepemilikan institusional.

     Kebijakan dividen mempunyai pengaruh positif terhadap kepemilikan

institusional. Dari sudut pandang investor, investor institusional mungkin

akan lebih tertarik untuk berinvestasi pada saham dengan dividen yang tinggi

dan mekanisme yang ketat.

     Semakin banyak saham yang dimiliki manajer akan semakin

menurunkan masalah keagenan sehingga membuat dividen tidak perlu

dibayarkan pada risiko yang tinggi dalam hal ini berarti kepemilikan

manajerial mempengaruhi kebijakan dividen secara negatif.

     Dengan jumlah investasi yang tinggi, investor institusional melakukan

monitoring yang semakin ketat dan menghalangi perilaku oportunis manajer.

Monitoring oleh investor institusional ini dapat mengurangi agency cost

dalam hal ini yaitu biaya yang ditanggung pemilik untuk mengawasi agen

seperti biaya audit, sehingga dividen yang dibayarkan juga menurun.




                                                                         25
Kehadiran kepemilikan institusional memiliki efek subtitusi bagi pembayaran

dividen untuk mengurangi biaya keagenan.

      Menurut Chen dan Steiner (1999), variabe risiko mempunyai hubungan

negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Dengan tingginya risiko

bisnis yang dihadapi perusahaan akan diantisipasi dengan kebijakan

pembayaran dividen yang rendah. Dividen yang rendah dapat digunakan

untuk menghindari pemotongan dividen dimasa mendatang sehingga

penalokasian sebagian keuntungan pada laba ditahan dapat digunakan untuk

investasi lebih lanjut.

      Malalui penjelasan balancing model of agency cost, Megginson (1997)

dalam    Mahadwarta       (2002)   menyatakan   bahwa   kebijakan   hutang

mempengaruhi kebijakan dividen dengan hubungan yang negatif. Perusahaan

dengan tingkat hutang yang tinggi akan berusaha untuk mengurangi agency

cost of debt-nya dengan mengurangi hutang, sehingga untuk membiayai

investasinya digunakan pendanaan dari aliran cost internal. Pemegang saham

akan merelakan aliran kas internal yang sebelumnya dapat digunakan untuk

pembayaran dividen untuk membiayai investasi




                                                                        26
D. Faktor Ekstern

 Faktor ekstern merupakan pengelompokan dari variablel-variabel yang

tidak dapat dikendalikan perusahaan. Variabel yang termasuk faktor ekstern

adalah :

 1. Tingkat suku bunga

           Pengertian operasional variabel tingkat suku bunga adalah tingkat

     bunga kredit investasi dan tingkat bunga kredit modal kerja Bank

     Umum rata-rata pertahun yang dibebankan kepada perusahaan atas

     penggunaan modal kerja dalam bentuk utang jangka pendek dan dana

     investasi dalam bentuk hutang jangka panjang pada akhir tahun. Suku

     bunga merupakan biaya modal bagi perusahaan suku bunga yang

     tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga

     perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya

     leverage akan menurun.

 2. Keadaan Pasar Modal

           Keadaan pasar modal semakin bergairah akan mengurangi minat

     perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih

     tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage

     akan menurun. Keadaan pasar modal merupakan besarnya nilai

     transaksi perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada akhir tahun

     sebagai cermin perkembangan BEI. Variabel pasar modal diukur

     dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham di BEI pada akhir tahun.




                                                                         27
 3. Pertumbuhan Pasar

        Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia

    dipasar yang harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini

    diukur dari nilai rasio selisih volume penjualan pada tahun t dengan

    volume penjualan pada tahun t-1 dibagi dengan volume penjualan

    industri pada tahun t-1. Pertunbuhan pasar menunjukan kinerja

    perusahaan membaik sehingga investor akan merespon positif dan nilai

    perusahan akan meningkat. Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan

    prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif

    sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat.



E. Faktor Intern

        Faktor intern merupakan variabel-variabel yang dapat dikendalikan

   oleh perusahaan. Variabel-variabel yang termasuk variabel faktor intern

   adalah :

 1. Profitabilitas

        Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan

    profit atau laba selama satu tahun yang dinyatakan dengan rasio laba

    operasi dengan penjualan dari data laporan labarugi akhir tahun.

        Rasio profitabilitas dapat diukur dari dua pendekatan yakni

    pendekatan penjualan dan pendekatan investasi (Horne 1992). Ukuran

    yang banyak digunakan adalah return on assets (ROA) dan return on

    equity (ROE).


                                                                       28
    Tingkat profitabilitas masa lalu di suatu perusahaan harus

merupakan pene tu atau determinan penting atas struktur modal

perusahaan yang bersangkutan dengan besarnya jumlah laba ditahan,

suatu perusahaan mungkin cenderung memilih pendanaan dari sunber

tersebut dari pada peminjaman. Hal ini sejalan dengan hipotesa

pecking order theory yang digunakan oleh Myers, yang menyatakan

bahwa     cara-cara    yang    dipergunakan       oleh   perusahaan         dalam

memperoleh dana adalah dengan urutan sebagai berikut :

    Pertama, dari laba di tahan. Kedua, dari pendanaan hutang dan

Ketiga, dari ekuitas baru. Profitabilitas yang mempunyai pengaruh

penting pada kebijakan dividen perusahaan. Perusahaan yang memiliki

tingkat keuntungan yang tinggi cenderung akan membayarkan sebagai

besar hasil keuntungan tersebut dalam bentuk dividen. Untuk menilai

tingkat profit ini digunakan perhitungan tingkat rata-rata atas asset

(ROA) (Hang and Rhee, 1990. Hal 2a).

Dengan formula :

        Laba Bersih yg Tersedia bagi Pemegang Saham Biasa
ROA = -------------------------------------------------------------------
                           Rata-rata Total Aktiva

sumber. Brigham Gapenski dan Daves (1999, hal. 77).




                                                                              29
2. Pembayaran dividen

 1.) Definisi kebijakan dividen

      Kebijakan dividen adalah kebijakan dalam menentukan pembagian

 laba antara pembayaran kepada pemegang saham dan investasi kembali ke

 perusahaan (Copeland, 1997 : 125). Kebijakan dividen mempengaruhi baik

 pembelajaan jangka panjang ataupun penghasilan yang dibagikan kepada

 pemegang saham, maka perusahaan memiliki dua kemungkinan sudut

 pandang untuk membayar dividen :

  a. Sebagai keputusan pembelanjaan jangka panjang dengan pendekatan

      ini, semua laba sesudah pajak yang diperoleh perusahaan dapat

      dipandang sebagai sumber dana jangka panjang. Suatu pengumpulan

      dividen kas mengurangi jumlah dana yang tersedia untuk membelanjai

      pertumbuhan, membatasi pertumbuhan, atau memaksa perusahaan

      memperoleh sumber dana yang lain. Perusahaan akan menahan

      pendapatanya, bila : a) tersedia proyek-proyek yang menguntungkan,

      b) struktur modal membutuhkan modal sendiri.

  b. Sebagai suatu keputusan kesejahteraan maksimum dengan pendekatan

      ini perusahaan mengakui bahwa pembayaran dividen mempunyai

      pengaruh terhadap harga pasar saham biasa. Perusahaan harus

      memaksimumkan rasa kesejahteraan dengan mendeklarasikan dividen

      yang cukup untuk memenuhi harapan investor dan pemegang saham.

      (Sarwoko, 1995 : 206) kebijakan dividen yang optimal adalah

      kebijakan yang menciptakan keseimbangan diantara dividen saat ini


                                                                     30
       dan pertumbuhan dimasa mendatang sehingga memaksimumkan harga

       saham (Brigham, 1994 : 198).

    2.) Jenis-jenis dividen

          Jenis-jenis dividen yang dibagikan oleh perusahaan kepada para

    pemegang saham adalah :

    a. Cash dividend, yaitu dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam

       bentuk tunai atau kas.

    b. Property dividend, dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam

       bentuk aktiva selain kas, misalnya mesin, inventory, dll.

    c. Script dividend, yaitu dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam

       dua kali pembayaran atau lebih karena perusahaan dalam kesulitan

       likuiditas.

    d. Liquidating    dividend,   yaitu   dividen   dibagikan      dengan   tidak

       berdasarkan keuntungan yang diperoleh perusahaan tetapi merupakan

       pengurangan modal perusahan.

       Stock dividend, yaitu dividen yang dibagikan oleh perusahaan dalam

       bentuk sham. Hal ini dimaksudkan untuk mengkapitalisasi pendapatan

       perusahaan sehingga tidak ada aset yang diberikan.

3.) Jenis kebijakan dividen

    a. kebijakan dividen yang stabil

       jumlah dividen per lembar yang dibayarkan setiap tahunnya relatif

       tetap selama jangka waktu tertentu meskipun pendapatan per lembar

       saham pertahunnya berfluktuasi.


                                                                              31
  b. kebijakan dividen dengan penetapan jumlah dividen minimal plus

     jumlah ekstra tertentu.

     Kebijakan ini menetapkan jumlah rupiah minimal dividen per lembar

     saham tiap tahunnya. Dalam keadaan keuangan yang lebih baik

     perusahaan akan membayarkan dividen ekstra diatas jumlah minimal

     tersebut.

  c. kebijakan dividen dengan penetapan dividend payout ratio yang

     konstan.

     Kebijakan ini membayarkan dividen berdasarkan persentase tertentu

     dari laba. Ini berarti bahwa jumlah dividen per lembar saham yang

     dibayarkan    setiap   tahunnya   akan   berfluktuasi   sesuai   dengan

     perkembangan keuntungan neto yang diperoleh setiap tahunnya.

  d. kebijakan dividen fleksibel.

     Pembayaran besarnya dividen setiap tahunnya disesuaikan dengan

     posisi financial dan kebijakan financial perusahan tersebut.



3. Ukuran Perusahaan

         Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar

     kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan

     pada neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total

     aktiva.

         Ukuran perusahaan menunjukan aktifitas perusahaan yang dimiliki

     perusahaan. Semakin besar ukuran perusahaan berarti semakin besar


                                                                         32
         aktiva yang bisa dijadikan jaminan untruk memperoleh hutang

         sehingga leverage akan meningkat.

             Sebuah perusahaan yang besar dan mampu mempertahankan

         keberadaannya dengan baik akan memiliki akses yang mudah pada

         pasar modal bila dibandingkan dengan perusahaan yang kecil. Karena

         aksebilitas yang mudah terhadap pasar modal berarti memiliki

         fleksibilitas yang besar dan kemampuan untuk mengumpulkan dana

         dalam waktu singkat, dengan demikian perusahaan besar biasanya

         mampu membayarkan rasio dividen yang lebih tinggi dibandingkan

         perusahaan kecil.




F. Peneliti Sebelumnya


         Peneliti sebelumnya telah dilakukan oleh Sujoko dan Ugy Soebiantoro

   (2007) yang menguji tentang pengaruh struktur kepemilikan, leverage, faktor

   ekstern dan faktor intern terhadap nilai perusahaan di Bursa Efek Jakarta.

   Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis apakah ada

   pengaruh struktur kepemilikan, faktor ekstern, dan faktor intern berpengaruh

   signifikan terhadap leverage, dan untuk mengetahui serta menganalisis

   apakah ada strukrur kepemilikan, faktor ekstern,faktor intern dan leverage

   berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahan. Populasi dalam studi ini

   adalah perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Sebanyak 134

   perusahaan diambil sebagai sampel dengan menggunakan purposive

   sampling. Adapun metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini
                                                                   33
adalah dengan menggunakan analisis Structural Equation Modeling. Hasil

studi ini menunjukan bahwa struktur kepemilikan, faktor ekstern dan faktor

intern berpengaruh signifikan terhadap leverage. Struktur kepemilikan, faktor

ekstern, faktor intern dan leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai

perusahaan. Studi ini menguji teori keagenan Jensen dan Meckling (1971).

Pecking Order Theory Myers (1984), Trade Off Model dan Signaling Theory,

Bhattacarya (1979).


       Peneliti lainnya dilakukan oleh Siti Khodijah (2006) analisa faktor-

faktor determinan struktur modal dan price earning ratio serta pengujian

terhadap harga saham studi empiris perusahaan Jakarta Islamic Index dengan

pendekatan Path Analysis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor-

faktor apa saja yang mempengaruhi struktur modal baik secara langsung dan

tidak tidak langsung dalam hal struktur aktiva, operating leverage (DOL),

total leverage (DCC), profitabilitas (ROI), penjualan (sales) dan tingkat

pertumbuhan (grow rates), untuk menganalisa dari variabel-variabel tersebut.

Variabel apa saja yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap

struktur modal perusahaan,untuk memperoleh bukti empiris tentang faktor-

faktor apa saja yang memperngaruhi price earning ratio (PER) , seperti total

leverage (DCL), profitabilitas (ROI), penjualan (sales), dan tingkat

pertumbuhan (grow rates), baik secara langsung dan tidak langsung, untuk

menganalisa dari keempat variabel tersebut, variabel apa saja yang

mempunyai pengaruh paling dominan terhadap price earning ratio (PER) dan

untuk memperoleh bukti empiris tentang faktor apa saja dari kedua faktor,
                                                                          34
yakni struktur modal dan price earning ratio (PER) yang mempengaruhi harga

saham, serta mencari faktor apa yang dimiliki pengaruh paling dominan.

Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis Path Analysis.

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahan-perusahaan yang terdaftar

dalam JII di BEJ dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil

studi ini menunjukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal

adalah struktur aktiva dan profitabilitas yang mempunyai pengaruh paling

dominan terhadap struktur modal ialah profitabilitasnya, total pengaruh dari

total leverage dan penjualan maka total leverage mempunyai pengaruh yang

paling dominan terhadap PER dan hasil penelitian selanjutnya yakni antara

pengaruh struktur modal dan PER terhadap harga saham hasil menunjukan

bahwa kedua variabel tersebut mempunyai pengaruh.


       Peneliti lainnya dilakukan oleh Cyrillius Martono (2002). Analisa

pengaruh profitabilitas industri, rasio leverage keuangan tertimbang dan

itensitas modal tertimbang serta pangsa pasar terhadap ROA dan ROE

perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia. Studi ini meneliti empat

proksi rasio-rasio persaingan yang mempengaruhi profitabilitas perusahaan.

Proksi tersebut meliputi profitabilitas industry, rasio leverage keuangan

tertimbang dan pangsa pasar. Penelitian ini menggunakan data laporan

keuangan perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia sejak 1994-

1997 dengan total sampel per tahun sebanyak 41 perusahaan yang terdaftar di

Bursa Efek Jakarta. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi

berganda dengan menggunakan pooling data. Uji t dan uji F digunakan untuk
                                                                         35
menguji hipotesis penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa : pertama,

tiga variabel, yaitu ROA industri, intensitas modal tertimbang, dan leverage

keuangan tertimbang terbukti berpengaruh signifikan terhadap ROA

perusahaan. Kedua, tiga variabel, yaitu ROE industri, leverage keuangan

tertimbang, dan pangsa pasar terbukti berpengaruh signifikan terhadap ROE.

Ketiga, berdasarkan nilai R2,      hasil analisis regresi ROE.      Keempat,

profitabilitas industri, terbukti superior dalam menjelaskan ROA, sedangkan

variabel yang superior dalam menjelaskan ROE adalah rasio leverage

keuangan tertimbang.


       Peneliti lainnya dilakukan oleh Ardi Murdoko Sudarmadji dan Lana

Sularto (2007). Pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, dan tipe

kepemilikan perusahaan terhadap luas voluntary disclosure aporan keuangan

tahunan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah variabel ukuran

perusahaan, profitabilitas dan tipe kepemilikan perusahaan berpengaruh

terhadap luas voluntary disclosure laporan tahuanan. Jumlah sampel yang

digunakan dalam penelitian ini yaitu terdiri dari 8 perusahaan yang bergerak

dalam manufaktur. Pengolahan dan analisis data menggunakan regeresi linier

berganda dengan bantuan program SPSS. Pengujian data digunakan untuk

regresi linier berganda yaitu uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini didapat

bahwa variabel ukuran perusahaan, profitabilitas dan tipe kepemilikan

perusahaan tidak berpengaruh terhadap luas voluntary disclosure laporan

tahunan.



                                                                           36
       Peneliti lainnya dilakukan oleh Etty M. Nasser dan Fielyandi F.

(2006) meneliti tentang pengaruh kepemilikan institusional, ukuran

perusahaan, profitabilitas, dan hutang sebagai variabel intervening terhadap

nilai perusahaan. Pengujian hipotesis menggunakan path analysis (structural

equation model) dengan bantuan software Amos 4.0. Penelitian ini bertujuan

untuk menguji apakah ada pengaruh ukuran perusahaan dan kepemilikan

institusional terhadap kebijakan hutang dan menguji apakah ada pengaruh

ukuran perusahaan, kepemilikan institusional, profitabilitas dan kebijakan

hutang terhadap nilai perusahaan. Hasil penelitian ini didapat bahwa variabel

ukuran perusahaan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap

kebijakan hutang. Kepemilikan institusional mempunyai pengaruh negatif

signifikan terhadap kebijakan hutang. Hasil analisa pengaruh ukuran

perusahaan terhadap nilai perusahaan ditemukan bahwa size mempunyai

pengaruh yang positif signifikan terhadap nilai perusahaan, variabel

profitabilitas juga memiliki pengaruh positif signifikan terhadap nilai

perusahaan.




                                                                          37
G. Kerangka pemikiran

          Struktur kepemilikan secara teoritis mempunyai hubungan dengan

   leverage. Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham maka pengawasan

   pemilik terhadap manjemen akan semakin efektif. Manajemen akan semakin

   berhati-hati dalam memperoleh pinjaman sebab jumlah utang yang semakin

   meningkat akan menimbulkan financial distress. Terjadinya financial distress

   akan mengakibatkan nilai perusahaan akan mengalami penurunan sehingga

   mengurangi kemakmuran pemilik.

          Suku bunga merupakan biaya modal bagi perusahaan suku bunga

   yang tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi dehingga

   perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage

   akan menurun. Keadaan pasar modal semakin bergairah akan mengurangi

   minat perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih

   tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan

   menurun. Pertumbuhan pasar yang tinggi menunjukan peluang pasar yang

   bagus sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan peminjaman

   sehingga leverage akan meningkat. Profitabilitas yang meningkat akan

   meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat perusahaan

   untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun. Pembayaran

   dividen yang meningkat akan mengurangi laba yang ditahan sehingga sumber

   dana intern akan menurun dan perusahaan akan tertarik melakukan

   peminjaman dan leverage akan meningkat. Ukuran perusahaan menunjukan

   aktifitas perusahaan yang dimiliki perusahaan. Semakin besar ukuran

                                                                            38
perusahaan berarti semakin besar aktiva yang bisa dijadikan jaminan untruk

memperoleh hutang sehingga leverage akan meningkat. Kepemilikan

institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan peminjaman kepada

manajemen sehingga manajemen terdorong untuk meningkatkan kinerjanya,

selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Kepemilikan manajerial akan

mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja perusahaan, karena

mereka juga memiliki perusahaan. Kinerja perusahaan yang meningkat akan

meningkatkan nilai perusahaan. Suku bunga yang tinggi akan mengurangi

minat investor untuk menginvestasikan dananya kepasar modal sehingga

aktifitas perdagangan akan menurun dan nilai perusahaan akan menurun.

Pertunbuhan pasar menunjukan kinerja perusahaan membaik sehingga

investor akan merespon positif dan nilai perusahan akan meningkat.

Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan prospek perusahaan yang baik

sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan

meningkat. Singnally theory,    Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa

profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang bagus

sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan

meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukan

prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk

membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran perusahaan

yang besar menunjukan perusahaan mengalami perkembangan sehingga

investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Investor

akan merespon positif sehingga perusahaan akan meningkat. Leverage yang


                                                                         39
       semakin tinggi menimbulkan financial distress sehingga nilai perusahaan

       akan menurun. Balancing theory (1976), Stigliz (1976) menyatakan bahwa

       ada keseimbangan antara manfaat dan pengorbanan dalam kaitannya dengan

       utang.

                Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian yang

       disesuaikan dengan konsep jalur, maka secara sistematis dapat dibuat

       kerangka pemikiran sebagai berikut :

e1      X.1
         1
                  Struktur Kepemilikan                          J
                       Saham (X 1)                           Cru e nsen           1
e2      X.2
                                                                t ch , e ta
                                                                                                               1
                                           Ste




                                                                    iey
         1                                                              , e t ll (19
                                               in




                                                                             all 92)
                                                er




                                                                                 (1 9 , (-
                                                                                     92) )
                                                    19
                                                    Su , Ittu




                                                                                        , (-
                                                       96




                                                                                             )
                                                       da




                                                                                                                                                      e9
                                                          rm rig a




                                                                                                                                       Y1.1
                                                            a( &
                                                             2 3) (-)nz (200




                                                                                                        Struktur Modal
                                                              2 0 Sa
                                                                 0




                                                                                                        (Leverage) (Y1)
e3      X.1
         2                                                 (+ ) )
                                                                                                                                    Y1.2              e10
                                                       3
                                                                            1)




                                                        3)      -
                                                     200 001) (
                                                                              (+)




                                                ri (
                                            a st ati (2
                                         Sul aw
                                            tn
                                         Ra
e4      X.2
         2         Faktor Ekstern (X2)     Su
                                              la   st r       4
                                                                                                                   Trade off Theory (Rubenstein)(1973)
                                                                                                                   Pecking Order Theory (Myers)(1984)(-)
                                                       i   (2 0                                                    Steiner (2004)(+)
                                                               03
                                                                               (+)




                                                                    ) (+
                                                                               4)




                                                                        )
                                                                            98




        X.3
                                                                        (1




e5       2
                                                               (M (-)
                                                                    rs)
                                                             ry 992)
                                                                 ye




                                                                                                                                       Y2.1           e11
                                                        Th rn (1




                                                                                                        Nilai Perusahaan
                                                 Or g & 5
                                                    d er Z o
                                                          eo




                                                                                                 (+ )          (Y2)
                                               ng olber




                                                                                        )
                                                                               6(+) 979
                                                                             99) (1
                                                                                                                                       Y2.2           e12
                                         Pe sen,S




e6      X.1
         3                                                               (19 ry a
                                                                      ko ttacha
                                           ck i
                                          Jen




                                                                   jo
                                                                S u Ba
                                                                   ry
                                                               heo
                                                        in   gT
                                                     nal
                                              S ig
e7      X.2
         3         Faktor Intern (X3)                                                                          2


e8      X.3
         3


Keterangan :

X1.1     : Kepemilikan Manajerial

X1.2     : Kepemilikan Institusional

X2.1     : Tingkat Suku Bunga

X2.2     : Keadaaan Pasar Modal


                                                                                                                                                       40
X2.3     : Pertumbuhan Pasar

X3.1     : Profitabilitas

X3.2     : Pembayaran Dividen

X3.3     : Ukuran Perusahaan

Y1.1     : DER (Debt to Equity Ratio)

Y1.2     : DAR (Debt to asset Ratio)

Y2.1     : PER (Price Earning Ratio)

Y2.2     : PBV (Price Book Value)

β       : (beta) koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel endogen ke

          variabel endogen

    γ   : (gama) koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel eksogen

        ke variabel endogen

ε        : (error) error term yang berkaitan dengan latent variabel endogen

Bentuk persamaan struktural sebagai berikut :

Y1       : γ1 X1 + γ3X2+ γ5 X3+ε1

Y2       : γ2 X1 + γ4X2+ γ6 X3+ε2

Y2       : βY1+ε2

         Pada persamaan struktural pertama, X1 (Struktur Kepemilikan Saham), X2

( Faktor Ekstern) dan X3 ( Faktor Intern) merupakan variabel eksogen, Y1

(Struktur Modal) sebagai variabel endogen, ε1 merupakan residual variabel yang

berkaitan dengan variabel endogen, dan γ1,γ3,dan γ5 koefisien jalur yang

menjelaskan pengaruh dari variabel eksogen ke variabel endogen. Pada persamaan

                                                                                41
struktural kedua X1 (Struktur Kepemilikan Saham), X2 ( Faktor Ekstern) dan X3 (

Faktor Intern) merupakan variabel eksogen, Y2 ( Nilai Perusahaan) sebagai

variabel endogen, ε2 merupakan residual variabel yang berkaitan dengan variabel

endogen, dan γ2,γ4,dan γ6 koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel

eksogen ke variable endogen. Pada persamaan struktural ketiga Y1 (Struktur

Modal) dan Y2 (Nilai Perusahaan) sebagai variabel endogen, β (beta) yaitu

koefisien jalur yang menjelaskan pengaruh dari variabel endogen (Y2)( Nilai

Perusahaan) ke variabel endogen lainnya (Y1)(Nilai Perusahaan. Sedangkan ε2

merupakan residual variabel yang berkaitan dengan variabel endogen.

          Awal penelitian ini dilakukan dengan mengamati perusahaan-perusahaan

yang tergabung dalam Bursa Efek Indonesia dan menyeleksi perusahan-

perusahaan yang secara terus menerus membagikan dividen masuk didalamnya

selama empat periode yaitu tahun 2003 sampai dengan tahun 2006. Selanjutnya

dari perusahaan tersebut peneliti mengambil data laporan keuangan akhir tahun

per 31 Desember yang berupa modal saham (share capital), nilai perdagangan

saham (value trade), total sales industry, ROA, DPR, total asset, DER, DAR,

PER dan PBV. Data tersebut akan diolah untuk mendapatkan variabel-variabel

yang diperlukan dalam penelitian. Dalam penelitian ini melibatkan variabel latent

dan beberapa indikator sebagai variabel manifest. variabel latent yaitu variabel

yang tidak bisa diukur secara langsung dan memerlukan beberapa indikator

sebagai proksi dan variabel manifest adalah variabel yang secara langsung daoat

diukur.



                                                                              42
       Variabel latent terdiri dari variabel endogen dan variabel eksogen.

Variabel endogen dalam penelitian ini diantaranya adalah Struktur Modal

(Leverage) (Y1), dan Nilai Perusahaan (Y2), dan variabel eksogennya diantaranya

Struktur Kepemilikan Saham (X1), Faktor Ekstern (X2), Faktor Intern (X2).

       Setelah variabel manifest/indikator tersebut diperoleh maka dilakukan

pengujian dengan menggunakan metode structural equation modeling (SEM),

metode ini dibantu dengan menggunakan program Lisrel (Linear Structural

Relationships) 8.54.




H. Rumusan Hipotesis

          Secara teoritis, pembiayaan perusahaan dihadapkan oleh berbagai

    macam pertimbangan. Salah satu teori yang mendasari keputusan pendanaan

    perusahaan adalah pecking order theory, Myers (1984) yang mengemukakan

    adanya kecenderungan perusahaan untuk menentukan pemilihan sumber

    pendanaan atas dasar hirarki risiko (pecking order theory). Pecking Order

    Theory adalah salah satu teori yang mendasarakan pada asimetri informasi.

    Asimetri informasi akan mempengaruhi struktur modal perusahaan dengan

    cara membatasi akses pada sumber pendanaan dari luar. Myers dan Majluf

    (1984) menunjukan bahwa dengan adanya asimetri informasi investor

    biasanya akan menginterpretasikan sebagai berita buruk apabila perusahaan

    mendanai investasinya dengan menerbitkan equitas. Dengan demikian,

    perusahaan akan lebih memilih mendanai investasinya berdasarkan urutan

    resiko. Bayless dan Diltz (1994) mengemukakan bahwa pecking order theory

                                                                            43
cenderung akan memilih internal fund, riskless debt, risky debt dan equity.

Myers dan Majluf (1984), dan Myers (1984) mengacu terhadap masalah ini

sebagai hipotesis pecking order yang menyatakan bahwa perusahaan

cenderung menggunakan internal equity terlebih dahulu, dan apabila

memerlukan external finance, maka perusahaan akan mengeluarkan debt

sebelum menggunakan external equity.

       Struktur kepemilikan secara teoritis mempunyai hubungan dengan

leverage. Semakin terkonsentrasi kepemilikan saham maka pengawasan

pemilik terhadap manjemen akan semakin efektif. Manajemen akan semakin

berhati-hati dalam memperoleh pinjaman sebab jumlah utang yang semakin

meningkat akan menimbulkan financial distress. Terjadinya financial distress

akan mengakibatkan nilai perusahaan akan mengalami penurunan sehingga

mengurangi kemakmuran pemilik.

       Suku bunga merupakan biaya modal bagi perusahaan suku bunga

yang tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi dehingga

perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage

akan menurun. Keadaan pasar modal semakin bergairah akan mengurangi

minat perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih

tertarik melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan

menurun. Pertumbuhan pasar yang tinggi menunjukan peluang pasar yang

bagus sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan peminjaman

sehingga leverage akan meningkat. Profitabilitas yang meningkat akan

meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat perusahaan


                                                                         44
untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun. Pembayaran

dividen yang meningkat akan mengurangi laba yang ditahan sehingga sumber

dana intern akan menurun dan perusahaan akan tertarik melakukan

peminjaman dan leverage akan meningkat. Ukuran perusahaan menunjukan

aktifitas perusahaan yang dimiliki perusahaan. Semakin besar ukuran

perusahaan berarti semakin besar aktiva yang bisa dijadikan jaminan untruk

memperoleh hutang sehingga leverage akan meningkat. Kepemilikan

institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan peminjaman kepada

manajemen sehingga manajemen terdorong untuk meningkatkan kinerjanya,

selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Kepemilikan manajerial akan

mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja perusahaan, karena

mereka juga memiliki perusahaan. Kinerja perusahaan yang meningkat akan

meningkatkan nilai perusahaan. Suku bunga yang tinggi akan mengurangi

minat investor untuk menginvestasikan dananya kepasar modal sehingga

aktifitas perdagangan akan menurun dan nilai perusahaan akan menurun.

Pertunbuhan pasar menunjukan kinerja perusahaan membaik sehingga

investor akan merespon positif dan nilai perusahan akan meningkat.

Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan prospek perusahaan yang baik

sehingga investor akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan

meningkat. Singnally theory,    Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa

profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang bagus

sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan

meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukan


                                                                         45
prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk

membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran perusahaan

yang besar menunjukan perusahaan mengalami perkembangan sehingga

investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Investor

akan merespon positif sehingga perusahaan akan meningkat. Leverage yang

semakin tinggi menimbulkan financial distress sehingga nilai perusahaan

akan menurun. Balancing theory (1976), Stigliz (1976) menyatakan bahwa

ada keseimbangan antara manfaat dan pengorbanan dalam kaitannya dengan

utang.

Hipotesis penelitian

H1= Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap leverage

H2= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap leverage

H3= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap leverage

H4= Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap nilai

    perusahaan

H5= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

H6= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

H7= Leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan




                                                                          46
                                      BAB III

                         METODOLOGI PENELITIAN

A.   Ruang Lingkup Penelitian

           Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan go public

     yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2003 sampai dengan

     tahun 2006. Ditetapkan penelitian dimulai tahun 2003 karena pada tahun

     2003 keadaan perekonomian mulai pulih kembali setelah terjadi krisis.

     Ditetapkan BEI sebagai tempat penelitian karena BEI penulis anggap sebagai

     tempat untuk memperoleh data yang diperlukan berupa laporan keuangan dan

     harga saham yang dijadikan sampel dalam penelitian ini. Adapun variabel

     yang diteliti adalah struktur kepemilikan saham, struktur modal (leverage),

     faktor ekstern, faktor intern, dan nilai perusahaan.

B. Metode Penentuan Sampel

     1.   Populasi

          Penelitian ini mengambil populasi perusahaan-perusahaan go public yang

          terdaftar di BEI tahun 2003 sampai dengan tahun 2006 melalui proses

          screaning.

     2.   Sampel

          Metode penentuan sampel yang digunakan adalah purposive sampling,

          yaitu sampel yang memiliki kriteria sebagai berikut :

          a.   Perusahaan tercatat di BEI tahun 2003 sampai dengan tahun 2006.

          b.   Data laporan keuangan tersedia berturut-turut untuk laporan tahun

               2003 sampai dengan tahun 2006.

                                                                                 47
       c.     Perusahaan mempublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit

              dengan menggunakan tahun buku yang berakhir pada tanggal 31

              Desember.

       d.     Perusahaan harus membagikan dividen pada tahun 2003, 2004, 2005,

              dan 2006 secara terus menerus.

C. Metode Pengumpulan Data

             Untuk memperoleh hasil penelitian yang diharapkan, dibutuhkan data

   dan informasi yang mendukung penelitian ini. Data sekunder dan informasi

   yang dibutuhkan penulis diperoleh dari :

      a). Penelitian Laporan

                1. Laporan keuangan 31 Desember 2003, 31 Desember 2004, 31

                   Desember 2005, 31 Desember 2006.

                2. Harga saham akhir tahun pada tahun 2003 sampai dengan

                   tahun 2006.

                3. Rata-rata tingkat suku bunga modal kerja akhir bulan dan rata-

                   rata tingkat suku bunga investor akhir bulan dari Bank Umum

                   untuk tahun 2003 sampai dengan tahun 2006.

      b). Metode Kepustakaan

             Penelitian ini juga dilakukan melalui studi kepustakaan seperti jurnal,

      literature, buku, website dan lain-lain yang behubungan dengan penelitian

      ini.




                                                                                 48
D. Metode Analisis

            Rancangan penelitian yang dipilih berupa model persamaan struktural

   atau structural equation modeling (SEM) dan untuk pengujian hipotesis

   menggunakan path analysis. Path analysis digunakan untuk mengetahui

   hubungan antara masing-masing variabel.

        Identifikasi Variabel

    Terdapat dua variabel yaitu :

       a. Variabel Endogen

             Variabel endogen adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel

             eksogen dan merupakan variabel antara. Ada dua variabel endogen

             dalam penelitian yaitu : Leverage (Y1) dan Nilai Perusahaan (Y2).

       b.    Variabel Eksogen

             Variabel Eksogen adalah variabel yang diduga secara bebas

             berpengaruh terhadap variabel endogen yaitu : struktur kepemilikan

             saham (X1), factor ekstern (X2), dan faktor intern (X3).

       c.    Variabel Manifest (variabel observed /indikator)

             Variabel Manifest (variabel observed /indikator) adalah variabel

             yang dapat diukur secara langsung. variabel manifest dalam

             penelitian ini meliputi struktur kepemilikan saham manajerial (X1.1),

             struktur kepemilikan institusional (X1.2), tingkat suku bunga (X2.1),

             keadaan pasar modal (X2.2), pertumbuhan pasar (X2.3), profitabilitas

             (X3.1), pembayaran dividen (X3.2), ukuran perusahaan (X3.3), debt to



                                                                                 49
    equity ratio (DER) (Y1.1), debt to asset ratio (DAR) (Y1.2), price

    earning ratio (PER) (Y2.1), dan price book value (PBV) (Y2.2).

 Structural Equation Modeling (SEM)

     Model persamaan struktural (structural equation modeling) adalah

  generasi kedua teknik analisis multivariate (Bagozzi dan Fornell 1982)

  yang memungkinkan peneliti untuk menguji hubungan antara variabel

  yang kompleks baik recursive maupun non recursive untuk

  memperoleh gambaran menyeluruh mengenai keseluruhan model.

     Selain itu menurut Bollen (1989), SEM juga dapat menguji secara

  bersama-sama :

  1. Model struktural. Yaitu hubungan antara variabel laten baik

     variabel laten endogen maupun eksogen.

  2. Model measurement. Yaitu hubungan (nilai loading) antar indikator

     dengan variabel latennya.

     Dengan adanya pengujian model struktural dan pengukuran

  memungkinkan         peneliti untuk menguji kesalahan pengukuran

  (measurement error) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari

  Structural Equation Modeling dan melakukan analisis faktor

  bersamaan dengan pengujian hipotesis. Proses Structural Equation

  Modeling mencakup beberapa langkah yang harus dilakukan

  antaranya adalah :




                                                                     50
1 . Konseptualisasi Model

       Tahap    ini     berhubungan   dengan   pengembangan      hipotesis

    berdasarkan teori sebagai dasar dalam menghubungkan variabel laten

    dengan variabel laten lainnya, dan juga dengan indikator-indikatornya.

    Teori dalam konseptualisasi model bukan hanya berasal dari para

    akademisi, tetapi juga dapat berasal pengalaman dan praktek yang

    diperoleh dari para praktisi. Selain itu konseptualisasi model juga

    harus merefleksikan pengukuran variabel laten melalui berbagai

    indikator yang dapat diukur.

 2. Penyusunan Diagram Jalur

       Tahap ini akan memudahkan kita dalam memvisualisasikan

    hipotesis yang telah diajukan dalam konseptualisasi model. Path

    diagram merupakan representasi grafis mengenai bagaimana beberapa

    variabel pada suatu model berhubungan satu sama lain, yang

    memberikan suatu pandangan menyeluruh mengenai struktur model

 3. Spesifikasi Model

       Tahap ketiga ini memungkinkan kita untuk menggambarkan sifat

    dan jumlah parameter yang diestimasi

 4. Identifikasi Model

      Informasi yang diperoleh dari data yang diuji untuk menentukan

    apakah cukup untuk mengestimasi parameter dalam model, disini kita

    dapat memperoleh nilai yang unik untuk seluruh parameter dari data

    yang telah kita peroleh.


                                                                       51
  Untuk menentukan apakah model kita mengandung atau tidak

masalah identifikasi, maka harus dipenuhi keadaan berikut :

   t < s/2

   dimana :

   t : jumlah parameter yang diestimasi

   s : jumlah varians dan kovarians antara variable manifest

     (observed/manifest) : yang merupakan (p+q) (p+q+1)

   p : jumlah variabel y (indikator variabel endogen)

   q : jumlah variabel x (indikator variabel eksogen)

             Jika t > 2, maka model tersebut adalah unidentified.

  Masalah ini dapat terjadi pada SEM, dimana informasi yang

  terdapat pada data empiris (varians dan kovarians variabel

  manifest) tidak cukup untuk menghasilkan solusi yang unik untuk

  memperoleh parameter model. Masalah unidentifest tersebut dapat

  diatasi dengan mengkonstraint model dengan cara menambah

  indikator (variabel manifest) ke dalam model, menentukan (fix)

  parameter tambahan menjadi 0 dan mengasumsikan bahwa

  parameter yang satu dengan parameter yang lain sama.



  Jika t = s/2, maka model disebut just-identified, sehingga solusi

  yang unik, tunggal, dapat diestimasi untuk megestimasi parameter.

  Model yang just-identified, seluruh informasi yang tersedia telah

  digunakan untuk mengestimasi parameter, sehinggga tidak ada


                                                                52
        informasi yang tersisa untuk menguji model ( derajat kepercayaan

        adalah 0).

                Jika t < s/2, maka model tersebut adalah over-identified.

        Dalam hal ini lebih dari satu estimasi masing-masing dapat

        diperoleh (karena jumlah persamaan yang tersedia melebihi jumlah

        parameter yang diestimasi).

  5. Estimasi Parameter

         Tahap ini, kita melakukan pengujian signifikansi yaitu menentukan

  apakah parameter yang dihasilkan secara signifikan berbeda dari nol.

  Estimasi parameter dalam LISREL mempunyai tiga informasi yang

  berguna yaitu koefisien regresi standar error dan nilai t. Standar error

  yang digunakan untuk mengukur ketepatan dari setiap estimasi

  parameter. Untuk mengetahui signifikan tidaknya hubungan antara

  variabel laten maupun antara variabel laten dengan indikatornya, maka

  nilai t harus lebih besar dari nilai t-tabel pada level tertentu yang

  tergantung dari ukuran sampel dan level signifikan tersebut.

  6. Penilaian Model Fit

         Uji Keseluruhan

     Salah satu tujuan dari Structural Equation Modeling adalah

menentukan apakah model plausible (masuk akal) atau fit. Suatu model

penelitian dikatakan baik, apaabila memiliki model fit yang baik pula.

     Tingkat kesesuaian model secara keseluruhan terdiri dari:




                                                                         53
 Absolute Fit Measures

     Absolut fit Measures digunakan untuk memiliki kesesuaian model

  secara keseluruhan      (baik   model pengukuran maupun model

  struktural), tanpa menyesuaikan kepada degree of freedom-nya.

  Indikator-indikator dalam absolut fit Measures adalah sebagai berikut:

  a. Chi-Square dan Probabilitas

       Chi-square merupakan ukuran mengenai buruknya fit suatu

     model. Nilai Chi-square sebesar nol menunjukkan bahwa model

     memiliki fit yang sempurna (perfect fit). Nilai chi-square yang

     signifikan (kurang dari 0.05) menunjukkan bahwa data empiris

     yang diperoleh memiliki perbedaan dengan teori yang telah

     dibangun berdasarkan struktural equation modeling. Sedangkan

     probabilitas adalah untuk memperoleh penyimpangan (deviasi)

     besar yang ditunjukkan oleh chi-square. Nilai probabilitas yang

     tidak signifikan (p≥0) adalah yang diharapkan, yang menunjukkan

     bahwa data empiris sesuai dengan model.

       Nilai probabilitas chi-square memiliki permasalahan yang

     fundamental dalam validitasnya. Menurut Cochran (1952) dalam

     Imam Ghozali (2005) probabilitas ini sangat sensitif dimana

     ketidaksesuaian   antara     data   dengan   teori   (model)   sangat

     dipengaruhi oleh besarnya ukuran sampel. Jika ukuran sampel

     kecil, maka chi-square ini akan menunjukkan data secara signifikan

     tidak berbeda dengan model dan teori-teori yang mendasarinya.


                                                                       54
Sedangkan jika ukuran sampel adalah besar, maka uji chi-square

akan menunjukkan bahwa data secara signifikan berbeda dengan

teori, meskipun perbedaan tersebut adalah sangat kecil

b.   Goodness of Fit Indices (GFI)

        Goodness of Fit Indices (GFI) merupakan suatu ukuran

mengenai ketepatan model dalam menghasilkan observed matriks

kovarians. Nilai GFI ini harus berkisar antara 0 dan 1. Menurut

Diamantopaulus dan Siguaw (2000) dalam Imam Ghozali (2005),

nilai GFI yang lebih besar dari 0,9 menunjukkan fit suatu model

yang baik.

c.   Adjusted Goodness of Fit Index

     Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI) adalah sama dengan

GFI, tetapi telah menyesuaikan pengaruh degress of freedom pada

suatu model. Model yang fit adalah yang memiliki nilai AGFI 0.9

(Diamantopaulus dan Sigauw (2000) dalam Imam Ghozali (2005),.

Ukuran yang hampir sama dengan GFI dan AGFI adalah

Parsimony goodness of fit indexs (PGFI) yang diperkenalkan oleh

Mulaik et.al (1989), yang juga telah menyesuaikan adanya dampak

dari degree of freedom dan kompleksitas model. Model yang baik

apabila memiliki nilai PGFI jauh lebih besar daripada 0.6 (Byrne,

1998 dalam Imam Ghozali, 2005).




                                                              55
d.   Root Mean Square Errors of Approximation (RMSEA)

     Ukuran model fit telah lama diperkenalkan oleh Steiger dan

Lind pada tahun 1980. Nilai RMSEA yang kurang daripada 0.05

mengindikasikan adanya model fit, dan nilai RMSEA yang berkisar

antara 0.08 menyatakan bahwa model memiliki perkiraan

permasalahan yang reasonable (Byrne, 1998 dalam Imam Ghozali,

2005). Sedangkan menurut Maccallum et.al (1996) dalam Imam

Ghozali (2005) menyatakan bahwa model memiliki nilai yang

cukup fit jika RMSEA berkisar 0.08 sampai dengan 0.1 dan jika

RMSEA lebih besar dari 0.1 mengindikasikan model memiliki nilai

fit yang jelek.

     P-value for test of Close juga merupakan indikator yang

menilai fit aatau tidaknya suatu model yang dapat dilihat dari

kedekatannya terhadap model fit. Joreskog (1996) dalam Imam

Ghozali (2005) menganjurkan bahwa P-value for test of Close

(RMSEA < 0.05) haruslah lebih besar daripada 0.5 sehingga

mengindikasikan bahwa model adalah fit.

e.   Normed Chi-Square (X2 /df)

     Normed Chi-Square (X2 /df) merupakan indikator goodness of

fit adalah rasio perbandingan antara nilai chi-square dengan

degrees of freedom. Menurut Wheaton (1977) dalam Imam Ghozali

(2005) cut-off model fit sebesar 5 dan sedikit lebih tinggi daripada




                                                                 56
       yang dianjurkan oleh Carmines dan Melver (1981) dalam Imam

       Ghozali (2005) yaitu sebesar 2).

 Comparative Fit Measures

            Comparative fit Measures berkaitan dengan pertanyaan

       seberapa baikkah kesesuaian model yang dibuat dibandingkan

       dengan    beberapa    model   alternatif.   Indikator-indikator   dari

       comparative fit Measures dianataranya adalah:

    a. Normed Fit Index (NFI)

        Normed Fit Index (NFI) yang ditemukan oleh Bentler dan Bonetts

       (1980), merupakan salah satu alternatif untuk menentukan model

       fit. Namun, karena NFI memiliki tendensi untuk merendahkan fit

       dalam sampel yang kecil, sehingga merevisi index ini dengan nama

       Comparative Fit Index (CFI). Nilai NFI dan CFI berkisar antara 0

       dan 1. Tetapi suatu model dikatakan fit apabila memiliki nilai NFI

       dan CFI lebih besar dari 0.9 (Bentler,1992).

     b. Non-Normed Fit Index (NNFI)

       Non-Normed Fit Index (NNFI) digunakan untuk mengatasi

       permasalahan yang timbul akibat kompleksitas model. Menurut

       Kelloway (1998) dalam Didi Achjari (2003) dalam Malla Bahagia

       (2008) menyatakan bahwa model dikatakan fit jika nilai NNFI

       0.90.

     c. Relative Fit Index (RFI)




                                                                          57
     Relative Fit Index (RFI) digunakan untuk mengukur fit dimana

     nilainya 0 sampai 1, nilai yang lebih besar menunjukkan adanya

     superior fit. Menurut Kelloway (1998) menyatakan bahwa model

     dikatakan fit jika nilai NNFI 0.90.

    d. Comparative Fit Index (CFI)

      Comparative Fit Index (CFI) suatu model dikatakan fit apabila

      memiliki Comparative Fit Index (CFI) lebih besar dari 0.90.

      (Bentler, 1992 dalam Imam Ghozali,205).

    Parsimonius Fit Measures

    a. Parsimony Goodness of Fit Index (PGFI)

      Parsimony Goodness of Fit Index (PGFI) yang diperkenalkan

      oleh Mulaik et.al. (1998) dalam Imam Ghozali (2005). PGFI telah

      menyesuaikan adanya dampak dari degree of freedom dan

      kompleksitas model. Model yang baik apabila memiliki nilai

      PGFI jauh lebih besar daripada 0.6. (Byrne,1998 dalam Imam

      Ghozali, 2005). Lain halnya menurut Kelloway (1998) nilai PGFI

      berkisar antara 0-1, dimana lebih besar nilai tersebut lebih baik.

    b. Parsimony Normed Fit Index (PNFI)

      Menurut Kelloway (1998) nilai PNFI berkisar antara 0-1, dimana

      lebih besar nilai tersebut lebih baik.




                                                                           58
                                       Tabel 3.1
                           Standar Penilaian Kesesuaian (Fit )
                                              Nilai Yang Direkomendasikan
       Laporan Statistik
                                 Holmes- Smith (2002)       Kelloway (1998)
          Absolut Fit
χ²                               p > 0.05                   Tidak Signifikan
Normed Chi-Square (χ²⁄df)        1<χ²⁄df<2                  2<χ²⁄df<5
                                 Nilai 2-3 →reasonable
                                 good fit                   < 2 → over fitting
                                 Nilai < 1 →overfit
RMR                              < 0.05                     < 0.05
RMSEA                            < 0.05                     < 0.10 → good fit
                                 0.05-0.08→reasonable fit   <0.05 → very good fit
                                                            < 0.01 →outstanding fit
GFI                              > 0.95                     >0.90→ good fit
                                 > 0.90 →reasonable fit
AGFI                             >0.95                      >0.90→ good fit
                                 >0.90 →reasonable fit
        Comparative Fit
NFI                              -                          0.9 → good fit
NNFI                             >0.95                      0.9 → good fit
                                 >0.90 →reasonable fit
                                 >1 → lack of parsimony
CFI                              >0.95                      0.9 → good fit
                                 >0.90 →reasonable fit
RFI                              -                          0.9 → good fit
       Parsimonious Fit
PNFI                             -                          0-1 (lebih besar lebih baik)
PGFI                             -                          0-1 (lebih besar lebih baik)
AIC                              Nilai sekecil mungkin      0-1 (lebih besar lebih baik)
CAIC                             Nilai sekecil mungkin      0-1 (lebih besar lebih baik)



            Uji Individual Measurement Model

                        Bila Kecocokan model secara keseluruhan telah terpenuhi,

            selanjutnya adalah memperhatikan kecocokan measurement model

            untuk setiap model. Bila model telah memenuhi criteria yang

            ditetapkan pada uji keseluruhan, maka langkah selanjutnya menguji


                                                                                       59
     setiap construct secara terpisah , dengan Uji signifiakansi setiap

     indikator dengan uji – t, variabel indikator diaktakan signifikan

     apabila nilai t yang diperoleh minimal sebesar 1.96 untuk taraf α =

     5%, dan 2.58 untuk taraf α = 1% .

      Uji Individual Struktural Model

             Langkah selanjutnya adalah menguji structural model. Pada

      pengujian ini terdapat dual hal yang harus dilakukan , yaitu :

      a. Uji koefisien gamma dan beta

     Seperti halnya uji signifikansi untuk indikator, parameter Gamma

     atau Beta dikatakan diaktakan signifikan apabila nilai t yang

     diperoleh minimal sebesar 1.96 untuk taraf α = 5%, dan 2.58 untuk

     taraf α = 1% .

      b. Uji keseluruhan structural model

             Untuk menilai kebaikan dari keseluruhan structural model,

      perhatikanlah nilai Squared Multiple Correlation (R²). Semakin

      besar nilai tersebut semakin baik model yang dihasilkan.

7. Modifikai Model

          Modifikasi model dilakukan jika hasil yang diperoleh tidak fit.

Model yang tidak fit dapat dilihat dari beberapa indikator goodness of fit

yang tidak menunjukan batas dan syarat tertentu misalkan nilai p yang

lebih kecil dari 0.05 sehingga menunjukkan model tidak fit padahal

model dikatakan fit apabila memiliki p yang tidak signifikan (lebih besar

dari 0.05). dalam Lisrel, terdapat modification index yang merupakan


                                                                       60
    salah satu alternatif terbaik untuk memodifikasi model. Namun harus

    diperhatikan juga bahwa segala modifikasi (walaupun sangat sedikit),

    harus berdasarkan teori yang mendukung.

              Beberapa modifikasi model dapat dilakukan dengan cara :

          1. Mengkorelasikan antara dua indikator.

          2. Menambah hubungan (path) antara indikator dan variabel laten.

          3. Merubah indikator dari suatu variabel.

          Setelah melakukan modifikasi tersebut, maka yang seharusnya kita

    lakukan adalah mempertimbangkan dan mencari justifikasi teori yang

    kuat terhadap dilakukannya modifikasi tersebut.

    8. Validasi Silang Model

          Validasi silang model merupakan tahap terakhir dari analisis SEM

    yaitu menguji fit tidaknya model terhadap suatu data baru (validasi sub-

    sampel yang diperoleh melalui pemecahan sampel). Validasi silang ini

    penting apabila terdapat modifikasi yang substansial yang dilakukan

    terhadap model asli yang dilakukan pada tahap sebelumnya.



    Uji Hipotesis

       Pengujian hipotesis pada SEM dimulai dengan penyusunan hipotesa

berdasarkan kajian pustaka dan hasil penelitian terdahulu, sehingga dapat

ditarik inferensi terhadap masalah penelitian dalam bentuk hipotesis alternatif

sebgai jawaban sementara penelitian sebagai berikut :




                                                                            61
H1= Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap leverage

H2= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap leverage

H3= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap leverage

H4=Struktur kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap nilai

    perusahaan

H5= Faktor ekstern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

H6= Faktor intern berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan

H7= Leverage berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.



     Uji Signifikan

   Uji signifikan dapat dilakukan dengan cara melihat jalur-jalur pada model

pengukuran dan model struktural yamg signifikan. Pada model pengukuran,

jalur–jalur   (pengaruh)   yang   dapat   dilihat   adalah    pengaruh   yang

menghubungkan antara variabel laten dan indikatornya, apakah mempunyai

tingkat signifikan terhadap variabel latennya atau tidak. Uji signifikan pada

model pengukuran bertujuan untuk menentukan kemampuan suatu indikator

dalam mengukur variabel latennya. Pada model struktural pengaruh dapat

dilihat dari pengaruh yang menghubungkan antara variabel eksogen dengan

variabel endogen dan antara variabel endogen dengan variabel endogen.

Untuk mengetahui jalur-jalur hubungan dapat dilihat uji koefisien secara

parsial. Uji secara parsial terhadap koefisien path pada setiap jalur model

pengukuran maupun struktural dapat ditunjukkan dari t-value (nilai t) sebagai

berikut :


                                                                          62
        Jika t-hitung > t-tabel, maka terdapat koefisien jalur yang signifikan.

        Jika t-hitung < t-tabel, maka tidak terdapat koefisien jalur yang tidak

        signifikan.



E. Definisi Operasional Variabel

      1. Variabel Endogen

           a. Leverage ( Struktur Modal )

               Indikator-indikator        yang mempengaruhi leverage diantaranya

             adalah :

      1.    DER (Debt to Equity Ratio)

            DER yaitu rasio yang mencerminkan besarnya modal sendiri dijadikan

            jaminan utang, yang diukur dengan formulasi sebagai berikut :

                                Hutang Jangka Panjang
                      DER = ---------------------------------------
                                       Modal Sendiri


      2.    DAR (Debt to Asset Ratio)

            DAR yaitu perbandingan antara utang jangka panjang dengan total

            aktiva.

                                Hutang Jangka Panjang
                      DAR = ---------------------------------------
                                       Total Aktiva


           b. Nilai Perusahaan

               Indikator-indikator        yang     mempengaruhi       nilai   perusahaan

             diantaranya adalah :


                                                                                     63
     1. PER (Price Earning Ratio)

          PER yaitu rasio yang mengukur seberapa besar perbandingan antara

          harga saham perusahaan dengan keuntungan yang diperoleh para

          pemegang saham. ( sutrisno,2000 dalam Mohammad Usman,2001

          dalam Malla Bahagia,2008).

          Rumus yang digunakan adalah :



                             Harga Pasar Saham
                   PER= -------------------------------

                            Laba per Lembar Saham


     2. PBV(Price Book Value) Rasio ini mengukur nilai yang diberikan pasar

          keuangan kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai

          sebuah perusahaan yang terus tumbuh (Brigham, 1999: 92).



                         Harga Pasar per Lembar Saham
                   PBV = ---------------------------------------

                            Nilai Buku per Lembar Saham

2.   Variabel Eksogen

     a. Struktur kepemilikan saham

       Struktur kepemilikan saham adalah proporsi kepemilikan institusional

       dan manjemen dalam kepemilikan saham perusahaan.

       1) Kepemilikan Istitusional

              Kepemilikan Institusional merupakan proporsi kepemilikan

       saham oleh institusi dalam hal ini institusi pendiri perusahaan, bukan
                                                                          64
   institusi pemegang saham publik yang diukur dengan prosentase jumlah

   saham yang dimiliki oleh investor institusi intern. Pengukuran ini

   mengacu dari penelitian Sudarma (2003) dalam Sujoko (2007).

                                                    Inst Shrs it
                 Institusional (X ) =     ---------------------------
                                                   Total Shrs it
   Keterangan :

   Inst Shrs it=Saham yang dimiliki oleh institusi pada perusahaan i

   periode t.

   Total Shrs it= Jumlah total saham beredar perusahaan I periode t


2) Kepemilikan Manjerial

       Kepemilikan Manajerial merupakan kepemilikan terbesar oleh

manjemen perusahaan yang diukur dengan prosentase jumlah saham yang

dimiliki manajemen. Pengukuran ini mengaju dari Sudarma (2003) dalam

Sujoko (2007).

                                           D + C Shrs it
Managerial Ownership (X ) =             -------------------------
                                           Total Shrs it


Keterangan :
D & C Shrs it = Saham yang dimiliki perusahaan I pada     periode t
Total Shrs it = Jumlah total saham beredar perusahaan I pada periode t




                                                                         65
b. Faktor Ekstern

  Faktor Ekstern merupakan pengelompokan dari variabel-variabel yang

  tidak dapat dikendalikan perusahaan. Variabel yang termasuk faktor

  ekstern adalah:

  1)      Tingkat Suku Bunga

          Pengertian operasional variabel tingkat suku bunga adalah tingkat

  bunga kredit investasi dan tingkat bunga kredit modal kerja Bank Umum

  rata-rata pertahun yang dibebankan kepada perusahaan atas penggunaan

  modal kerja dalam bentuk utang jangka pendek dan dana investasi dalam

  bentuk hutang jangka panjang pada akhir tahun.

  2)     Keadaan Pasar Modal

         Keadaan pasar modal merupakan besarnya nilai transaksi

  perdagangan di BEI pada akhir tahun sebagai cermin perkembangan BEI.

  Variabel pasar modal diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham

  di BEI pada akhir tahun.

  3)     Pertumbuhan Pasar

          Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia

  dipasar yang harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini diukur

  dari nilai rasio selisih volume penjualan pada tahun t dengan volume

  penjualan pada tahun t-1 dibagi dengan volume penjualan industri pada

  tahun t-1.

                                   vol penj pada th t – volpenj pada th t-1
                    Pertum pasar =     ---------------------------------------
                                       volume penjualan pada tahun t-1


                                                                           66
c.   Faktor Intern

     Faktor intern merupakan variabel-variabel yang dapat dikendalikan oleh

     perusahaan. Variabel-variabel yang termasuk variabel faktor intern adalah :

     1)   Profitabilitas

            Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan

     profit atau laba selama satu tahun yang dinyatakan dengan rasio laba operasi

     dengan penjualan dari data laporan labarugi akhir tahun.

     2)   Pembayaran Dividen

            Pembayaran dividen merupakan besarnya laba yang dibagikan

     kepada pemegang saham pada akhir tahun yang juga akan mencerminkan

     besarnya laba yang akan ditanamkan pada laba ditahan akhir tahun. Variabel

     ini dinyatakan dengan rasio dividen perlembar saham dengan laba

     perlembar saham akhir rahun.

                                            Dividen per lembar saham
                              DPR = -------------------------------------------
                                            Laba per lembar saham


     3)   Ukuran Perusahaan

            Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar

      kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan pada

      neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total aktiva.

                           SIZE = Ln Total Assets it

                           Keterangan :

                           Total Assets it = Total assets yang dimiliki perusahaan i

                                            periode t
                                                                                  67
                                         BAB IV

                                    PEMBAHASAN



A. Gambaran Umum Objek Penelitian

A.1 Pasar Modal

           Pasar modal adalah pasar yang memperjualbelikan instrument keuangan

    jangka panjang baik dalam bentuk hutang maupun modal sendiri, baik yang

    dibentuk oleh pemerintah, public authorities maupun perusahaan swasta,artinya

    pasar modal bertindak sebagai penghubung antara para investor dengan

    perusahaan ataupun institusi pemerintah melalui perdagangan instrument

    keuangan jangka panjang seperti obligasi, saham dan lainnya.

    Selain itu pasar modal memiliki peran dan manfaat diantaranya :

1. Pasar modal merupakan wahana pengalokasian dana secara efisien.

           Artinya investor dapat melakukan investasi pada perusahaan melalui

   pembelian efek-efek baru yang ditawarkan/diperdagangkan pasar modal, dan

   sebaliknya perusahaan dapat memperoleh dana yang dibutuhkan dengan

   menawarkan instrument keuangan melalui pasar modal tersebut.

2. Pasar modal sebagai alternative investasi.

           Yaitu pasar modal memudahkan alternatif investasi untuk memperoleh

  keuntungan dengan risiko tertentu.

3. Memungkinkan para investor untuk memiliki perusahaan yang sehat dan

   berprospek baik.




                                                                              68
            Hal ini dikarenakan penyebaran kepemilikan secara luas (tidak hanya

     dimiliki oleh sejumlah orang tertentu saja) akan mendorong perkembambangan

     perusahaan menjadi transparan.

 4. Pelaksanaan manejemen perusahaan secara profesional dan transfaran

 5. Peningkatan aktivitas ekonomi nasional.

            Dengan keberadaan pasar modal perusahaan akan lebih mudah

     memperoleh dana sehingga akan mendorong perekonomian nasional menjadi

     lebih maju, terciptanya kesempatan kerja yang luas dan meningkatkan pendapatan

     pajak bagi pemerintah.



A.2 Organisasi Yang Terkait di Pasar Modal.

     1. Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM).

            BAPEPAM melakukan kewenangan untuk melakukan pembinaan,

     pengaturan, pengawasan pasar modal, di Indonesia dan keberadaan BAPEPAM

     dibawah Menteri Keuangan sekaligus bertanggung jawab kepadanya

     2.Perusahaan (Emiten).

            Memperoleh dana di pasar modal dengan melaksanakan penawaran umum

     atau investasi langsung.

     3.Self Regulatory Organization (SRO).

        SRO adalah organisasi yang mewakili kewenangan untuk membuat peraturan

     yang berhubungan dengan aktivitas usahanya. SRO terdiri dari :




                                                                                69
      Burasa Efek.

          Adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan system dan

       sarana mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain

       dengan tujuan memperdagangkan efek antara mereka.

      Lembaga Kliring dan Penjaminan (LKP).

          Adalah pihak yang menyelenggarakan jasa kliring dan penjaminana

       trqansaksi bursa agar terlaksana secara teratur, wajar, dan efisien. Setiap

       trnasaksi akan melewati lembaga ini untuk diselesaikan transaksinya,

       apakah seorang pemodal akan bertambah jumlah saham yang dimilikinya

       karena menjual saham yang dimilikinya dan menerima pembayaran.

       Lembaga yang telah memperoleh izin usaha sebagai LKP oleh BAPEPAM

       adalah PT.KPEI (PT. Kliring Penjaminan Efek Indonesia).

      Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaiana (LPP).

          Adalah pihak yang menyelenggarakan kegiatan custodian sentral

       (penyimpanan efek) bagi Bank custodian, perusahaan efek dan lainnya.

       Lembaga yang telah memperoleh izin usaha sebagai (LPP) oleh

       BAPEPAM adalah PT. KSEI (PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia).

4. Perusahaan Efek.

              Perusahaan efek adalah yang mempunyai aktivitas sebagai

       perantara pedagang efek yaitu bahwa perusahaan efek melakukan jual beli

       saham atas kepentingan pihak lain, atau dirinya sendiri, sebagai penjamin

       emisi efek yaitu menjamin agar penerbitan emisi sekuritas yang dilakukan

       oleh suatu perusahaan dapat terjual smua, dan sebagai manajer iivestasi

                                                                               70
            yaitu mengelola dana nasabah untuk diinvestasikan keberbagai sekuritas

            atau gabungan dari ketiga tersebut.

     5. Penasehat Investasi

                   Penasihat investasi yaitu pihak yang member nasihat kepada pihak

            lain mengenai penjualan dan pembelian efek.



A.3 Sejarah Pasar Modal di Indonesia

            Kegiatan jual beli saham dan obligasi sebenarnya telah dimulai pada abad

     XIX. Pada tanggal 14 Desember 1912, Amserdamse Effectenbueurs mendirikan

     cabang bursa di Batavia. Bursa ini merupakan bursa tertua keempat di Asia,

     setelah Bombay, Hongkong dan Tokyo. Bursa yang dinamakan Vereniging voor

     de Effectenhandel, memperjualbelikan saham dan obligasi perusahaan/perkebunan

     Belanda yang beroperasi di Indonesia, obligasi yang diterbitkan pemerintah

     (propinsi dan kotapraja), sertifikat saham perusahaan-perusahaan Amerika yang

     diterbitkan oleh kantor administrasi di negeri Belanda serta efek perusahaan

     Belanda lainnya (Rusdin, Pasar Modal, Bandung; Alfabeta, 2006, hal 4).

            Minat masyarakat terhadap pasar modal mendorong didirikannya bursa di

     kota Surabaya (11 Juni 1925) dan Semarang (1 Agustus 1925). Perkembangan

     pasar modal pada saat itu, terlihat dari nilai efek yang mencapai NIF 1,4 milyar,

     pun demikian perkembangan pasar modal ini mengalami penyurutan akibat

     Perang Dunia II.

            Akibatnya, pemerintah Hindia Belanda mengambil kebijakan untuk

     memusatkan perdagangan efeknya di Batavia dan menutup bursa efek di


                                                                                   71
Semarang dan Surabaya. Pada tanggal 17 Mei 1940, secara keseluruhan kegiatan

perdagangan efek ditutup. Di masa kemerdekaan, pada tahun 1950, pemerintah

mengeluarkan obligasi Republik Indonesia, yang menandakan mulai aktifnya

Pasar Modal Indonesia.

       Pada tanggal 31 Juni 1952, Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali.

Penyelenggaraan tersebut kemudian diserahkan kepada Perserikatan Perdagangan

Uang dan Efek-efeknya (PPUE). Namun pada tahun 1958, terjadi kelesuan dan

kemunduran perdagangan di Bursa, akibat konfrontasi pemerintah dengan

Belanda. Pemerintah di masa Orde Baru, berusaha untuk mengembalikan

kepercayaan rakyat terhadap nilai mata uang Rupiah.

       Pemerintah melakukan persiapan khusus untuk membentuk pasar modal.

Pada tahun 1976, pemerintah membentuk Bapepam (Badan Pembina Pasar

Modal) dan PT Danareksa. Hal tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah

untuk membentuk Pasar Uang dan Pasar Modal. Pada tanggal 10 Agustus 1977,

berdasarkan Keppres RI No 52/ 1976, pasar modal diaktifkan kembali.

Perkembangan pasar modal selama tahun 1977–1987, mengalami kelesuan. Pada

tahun 1987-1988, pemerintah menerbitkan paket-paket deregulasi. Paket

deregulasi ini adalah: Paket Desember 1987 (Pakdes 87), Paket Desember 1988

(Pakto 88), dan Paket Desember 1988 (Pakdes 88). Penerbitan paket deregulasi ini

menandai liberalisasi ekonomi Indonesia. Dampak dari adanya ketiga kebijakan

tersebut, pasar modal Indonesia menjadi aktif hingga sekarang.




                                                                             72
Pakdes 1987 .

Pakdes 1987 merupakan penyederhanaan persyaratan proses emisi saham dan

obligasi, dihapuskannya biaya yang sebelumnya dipungut oleh Bapepam, seperti

biaya pendaftaran emisi efek. Selain itu dibuka pula kesempatan bagi pemodal

asing untuk membeli efek maksimal 49% dari total emisi. Pakdes 87 juga

menghapus batasan fluktuasi harga saham di bursa efek dan memperkenalkan

bursa paralel. Sebagai pilihan bagi emiten yang belum memenuhi syarat untuk

memasuki bursa efek.

Pakto 88

Pakto 88 ditujukan pada sektor perbankkan, namun mempunyai dampak terhadap

perkembangan pasar modal. Pakto 88 berisikan tentang ketentuan 3 L (Legal,

Lending, Limit), dan pengenaan pajak atas bunga deposito. Pengenaan pajak ini

berdampak positif terhadap perkembangan pasar modal. Sebab dengan keluarnya

kebijaksanaan ini berarti pemerintah memberi perlakuan yang sama antara sektor

perbankan dan sektor pasar modal.

Pakdes 88

Pakdes 88 pada dasarnya memberikan dorongan yang lebih jauh pada pasar modal

dengan membuka peluang bagi swasta untuk menyelenggarakan bursa.




                                                                           73
A.4 Perkembangan Pasar Modal

           Minggu keempat Februari 2006, Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa

    Efek Jakarta (BEJ) cenderung menurun. Indeks ditutup pada level 1.216,140 atau

    turun 27,335 poin (2,19%) dibandingkan akhir minggu sebelumnya yang

    mencapai level 1.243,475. Pada perdagangan saham hari pertama, indeks

    mengalami peningkatan sebesar 3,939 poin (0,32%) ke posisi 1.247,414.

    Peningkatan indeks ini antara lain didorong oleh adanya aksi beli para pemodal

    atas saham PT Semen Gresik. Hal ini juga dipengaruhi oleh adanya sentimen

    positif pasar atas pernyataan dari Bank Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi

    akan tumbuh secara cepat dalam semester pertama tahun 2006 ini, dan

    pertumbuhan PDB tahun 2006 diperkirakan akan mencapai antara 5% dan 5,7%.

           Pada perdagangan saham hari berikutnya indeks melemah 11,325 poin

    (0,91%) ke level 1.236,089. Para pemodal cenderung melakukan aksi jual atas

    saham-saham unggulan seperti saham PT. Astra Int, PT Bank BRI dan PT. Bank

    Mandiri berkenaan dengan kekhawatiran akan kembali naiknya tingkat suku

    bunga perbankan. Kondisi tersebut tidak terlepas dari rencana pemerintah yang

    akan menaikkan tariff dasar listrik yang akan berdampak pada naiknya tingkat

    inflasi. Aksi jual juga terjadi pada saham PT. Indosat dan PT. Telkom berkenaan

    dengan adanya laporan dari Morgan Stanley yang memberikan rekomendasi

    industri telekomunikasi di Indonesia dari “attractive” menjadi “cautious” seiring

    dengan semakin ketatnya persaingan di industri telekomunikasi.

           Penurunan indeks terus berlanjut pada pertengahan minggu, dimana indeks

    ditutup pada posisi 1.231,250 atau turun 4,839 poin (0,39%). Para pemodal


                                                                                  74
cenderung melakukan aksi jual atas saham-saham perbankan seiring dengan

adanya pernyataan dari US Federal Reserve yang mengindikasikan akan

melanjutkan menaikkan tingkat suku bunga. Tingginya tingkat suku bunga di

Amerika Serikat akan mendorong Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga

sebagai upaya mencegah penurunan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut masih

berlanjut pada perdagangan saham hari Kamis, dimana indeks mengalami

penurunan sebesar 7,086 poin (0,58%) menjadi 1.224,164.

       Pada akhir pekan indeks turun 8, 024 poin ke level 1.215,140 yang dipicu

oleh aksi jual saham PNG yang dinilai harga sahamnya naik terlalu cepat,

disamping adanya kekhawatiran investor terhadap laporan keuangan emiten tahun

2005   yang   diprediksi   belum   menunjukan     perbaikan,   terutama    emiten

perbankan. Nilai rata-rata perdagangan saham perhari di BEJ pada minggu ini Rp.

1.045,99 miliar, turun 23,64% dibandingkan minggu sebelumnya Rp. 1.369,78

miliar. Sementara itu, proporsi perdagangan lebih didominasi oleh pemodal

domestik yang mencapai 73, 60% dibandingkan dengan pemodal asing 26,40%

dari total perdagangan saham. Pemodal asing lebih banyak melakukan penjualan,

terlihat dari total posisi jual yang lebih besar daripada posisi belinya sehingga

terjadi aliran dana keluar sekitar Rp. 311.812 miliar. (Sumber:Bapepam).




                                                                              75
B.    Deskriptif Analisis

B.1 Deskripsi Data Sampel

      Berdasarkan pengambilan sampel secara Purposive Sampling maka dapat

diperoleh sebagai berikut :

     Perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta (Bursa Efek Indonesia) dan

      mengeluarkan laporan keuangan per 31 desember pada tahun 2003-2006

      berjumlah 389 perusahaan.

     Perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta (Bursa Efek Indonesia)

      listing sebelum tahun 2003 berjumlah 318 perusahaan.

     Perusahaan yang membagikan dividen secara terus-menerus selama tahun

      2003-2006 berjumlah 58 perusahaan.

     Perusahaan yang tidak memiliki struktur kepemilikan baik kepemilikan

      manajerial maupun kepemilikan institusional berjumlah 40 perusahaan.

  Dari keterangan-keterangan tersebut, maka dapat diperoleh sampel penelitian

  yaitu 24 perusahaan dengan nama perusahaan sebagai berikut :




                                                                              76
                                        Tabel 4.1
                                 Sampel Data Penelitian

 No                        Nama Perusahaan
  1    AKR Corporatian Tbk.
  2    Asuransi Bintang Tbk.
  3    Asuransi International Tbk.
  4    Astra Graphia Tbk.
  5    Astra Otoparts Tbk.
  6    Berlian Laju Tanker Tbk.
  7    Bank UOB Buana Tbk.
  8    Ekhadarma International Tbk.
  9    Gudang Garam Tbk.
  10   Hexindo Adiperkasa Tbk.
  11   Indorama Sythentic Tbk.
  12   Indosat Tbk.
  13   Intel Nickel Indonesia Tbk.
  14   Kimia Farma Tbk.
  15   Lautan Luas Tbk.
  16   Panin Sekuritas Tbk.
  17   Ramayana Lestari Tbk.
  18   Rig Tenders Tbk.
  19   Selamat Sempurna Tbk.
  20   Sorini Corporation Tbk.
  21   Sepatu Bata Tbk.
  22   Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk.
  23   Tempo Scan Pasific Tbk.
  24   Tunas Baru Lampung Tbk.
Sumber : Bursa Efek Indonesia


B.2 Deskripsi Analisis Data

       Perolehan data-data dari variabel observed/indicator yang diteliti,

diantaranya adalah :

    a. Struktur Kepemilikan Saham

       Struktur kepemilikan saham (X1) merupakan distribusi saham antara pihak

       manjemen perusahaan (manajer dan staf) (X1.1), dan kepemilikan

       institusional   (X1.2).     Manajer   Ownership    (X1.1)   menggambarkan


                                                                              77
kepemilikan saham oleh manajemen perusahaan yang diukur dengan

persentase jumlah saham yang dimiliki manajemen. Rasio ini digunakan

untuk mengetahui proporsi kepemilikan saham oleh manajer terhadap total

saham       beredar.   Institusioanl   Ownership   (X1.2)   menggambarkan

kepemilikan saham oleh investor institusi yang diukur dengan persentase

jumlah saham yang dimiliki investor institusi, adapun rasio yang diperoleh

dari indikator-indikator yang diteliti dapat dilihat dari table yaitu sebagai

berikut :




                                                                          78
                                                             Tabel 4.2
                                                 Struktur Kepemilikan Saham (X1).
No.   Nama Perusahaan                                Mjr. Own                               Inst. Own
                                         2003       2004        2005    2006     2003     2004          2005         2006
  1   AKR Corporatian Tbk.              0,0048    0,0014    0,0014     0,0014   0,7335   0,7124    0,7124           0,7124
  2   Asuransi Bintang Tbk.             0,0448    0,0717    0,0800     0,0950   0,6146   0,8128    0,8613           0,8648
  3   Asuransi International Tbk.       0,0009    0,0009    0,0044     0,0002   0,4755   0,4755    0,5011           0,5011
  4   Astra Graphia Tbk.                0,0001    0,0001    0,0001     0,0001   0,7695   0,7687    0,7687           0,7687
  5   Astra Otoparts Tbk.               0,0001    0,0004    0,0009     0,0005   0,8731   0,8504    0,8672           0,8672
  6   Berlian Laju Tanker Tbk.          0,0006    0,0006    0,0006     0,0006   0,6325   0,5228    0,4541           0,4542
  7   Bank UOB Buana Tbk.               0,0066    0,0065    0,0061     0,0061   0,6814   0,7185    0,8785           0,8788
  8   Ekhadarma International Tbk.      0,0505    0,0549    0,0638     0,0588   0,7282   0,7282    0,7326           0,7437
  9   Gudang Garam Tbk.                 0,0174    0,0174    0,0206     0,0206   0,7212   0,7212    0,7212           0,7212
 10   Hexindo Adiperkasa Tbk.           0,0021    0,0021    0,0508     0,0001   0,7624   0,8131    0,1721           0,7621
 11   Indorama Sythentic Tbk.           0,1318    0,1318    0,1318     0,1937   0,4516   0,4516    0,4516           0,5379
 12   Indosat Tbk.                      0,0002    0,0002    0,0002     0,0003   0,5694   0,5577    0,5504           0,5510
 13   Intel Nickel Indonesia Tbk.       0,0122    0,0004    0,0004     0,0004   0,7882   0,8207    0,8207           0,8207
 14   Kimia Farma Tbk.                  0,0097    0,0097    0,0040     0,0039   0,9003   0,9003    0,9003           0,9003
 15   Lautan Luas Tbk.                  0,0364    0,0364    0,0364     0,0364   0,6303   0,6303    0,6303           0,6818
 16   Panin Sekuritas Tbk.              0,0400    0,0400    0,0400     0,0400   0,3344   0,3344    0,3344           0,3344
 17   Ramayana Lestari Tbk.             0,0371    0,0371    0,0370     0,0368   0,6407   0,6407    0,6378           0,5755
 18   Rig Tenders Tbk.                  0,0011    0,0011    0,0011     0,0011   0,7746   0,7747    0,9685           0,9684
 19   Selamat Sempurna Tbk.             0,0448    0,0649    0,0666     0,0822   0,6802   0,6802    0,6802           0,6136
 20   Sorini Corporation Tbk.           0,0005    0,0005    0,0005     0,0005   0,6462   0,6462    0,6462           0,6462
 21   Sepatu Bata Tbk.                  0,0011    0,0001    0,0001     0,0001   0,8420   0,7880    0,8410           0,8390
 22   Tambang Batu Bara Bukit Tbk       0,0122    0,0125    0,0070     0,0035   0,8374   0,7019    0,6502           0,6502
 23   Tempo Scan Pasific Tbk.           0,0006    0,0010    0,0011     0,0010   0,7656   0,6628    0,6633           0,1413
 24   Tunas Baru Lampung Tbk.           0,0010    0,0010    0,0010     0,0010   0,8269   0,7820    0,7820           0,5957
       Rata-rata per tahun              0,0190    0,0205    0,0232     0,0243   0,6950   0,6873    0,6761           0,6721
                Sumber : Laporan Keuangan Tiap Perusahaan BEI



                            Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa hampir sebagian besar perusahaan

                memiliki nilai struktur kepemilikan institusional dari tahun ketahun selama

                periode 2003-2006 yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai struktur

                kepemilikan saham manajerial.




                                                                                                               79
       Rata-rata struktur kepemilikan saham manajerial pada tabel tersebut

menunjukan jumlah kecil yaitu sekitar 0.0190 (1.90%) pada tahun 2003, 0.0205

(2.05%) pada tahun 2004, 0.0232 (2.32%) pada tahun 2005, dan 0.0243 (2.43%)

pada tahun 2006, dimana struktur kepemilikan saham manajerial tertinggi dimiliki

oleh perusahaan Indorama Synthetic Tbk. yaitu sebesar 0.1937 (19.37%) dan

0.0950 (9.50%) oleh perusahaan Asuransi Bintang Tbk. Tetapi tidak hanya pada

tahun 2006, perusahaan Indorama Synthetic Tbk. dan Perusahaan Asuransi

Bintang Tbk. mempunyai struktur saham manajerial yang sama besar pada tahun

2003, 2004, dan 2005 yaitu 0.1318 (13.18%) yang dimiliki perusahaan

IndoramaSynthetic Tbk. dan 0.08 (8%) yang dimiliki oleh perusahaan Asuransi

Bintang Tbk. Sementara itu perusahaan yang memiliki struktur kepemilikan

saham manajerial terendah pada tahun 2003 adalah perusahaan astra Graphia Tbk.

dan Astra Otoparts Tbk. yaitu sama-sama sebesar 0.0001 (0.01%). Selanjutnya

tahun 2004 struktur kepemilikan saham manajerial terendah dimiliki oleh

perusahaan Astra graphia Tbk. dan Sepatu BataTbk. yaitu sama-sama sebesar

0.0001 (0.01%). Selanjutnya tahun 2005 yang memiliki struktur kepemilikan

saham manajerial terendah adalah perusahaan Astra Graphia Tbk. dan Sepatu Bata

Tbk. yaitu sama-sama sebesar 0.0001 (0.01%), dan tahun 2006 yang memiliki

struktur kepemilikan saham manajerial terendah adalah perusahaan Perusahaaan

Astra Graphia Tbk., perusahaan Hexindo Adiperkasa Tbk., dan perusahaan Sepatu

bata Tbk. yaitu sama-sama sebesar 0.0001 (0.01%).

       Rata-rata struktur kepemilikan saham Institusional pada tabel tersebut

menunjukan jumlah yang besar yaitu sekitar 0.6950 (69.5%) pada tahun 2003,


                                                                             80
0.6873 (68.73%) pada tahun 2004, 0.6761 (67.61%) pada tahun 2005, dan 0.6721

(67.21%) pada tahun 2006. Dimana struktur kepemilikan saham institusi tertinggi

dmiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk. yaitu sebesar 0.9685 (96,85%) pada

tahun 2005, dan perusahaan Kimia Farma Tbk. yaitu sebesar 0.9003 (90.03%).

       Sementara itu perusahaan yang memiliki struktur kepemilikan saham

institusional terendah pada tahun 2003, 2004, dan 2005 adalah perusahaan panin

Sekuritas Tbk. yaitu sebesar 0.3344 (33.44%), selanjutnya pada tahun 2006

struktur kepemilikan saham institusional terendah dimiliki oleh perusahaan

Tempo Scan Pasific Tbk. yaitu sebesar 0.1413 (14.13%).

       Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar

(bahkan seluruh) perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia periode 2003-

2006 mempunyai jumlah kepemilikan saham manajerial yang kecil atau kurang

dari 5%, ini menunjukan bahwa dengan kepemilikan manajerial yang rendah,

kekuasaan yang dimiliki oleh pihak manajemen atas perusahaan yang semakin

rendah. Hal ini juga menyebabkan segala tindakan dan keputusan yang dilakukan

oleh manajer diawasi oleh pihak institusi. Dengan kepemilikan saham

Institusioanal yang besar akan menimbulkan usaha pengawasan dan kontrol yang

lebih besar oleh pihak investor Institusi terhadap opportunistic manajer sehingga

pemanfaatan akan aktiva perusahaan semakin besar.




                                                                              81
     b. Faktor Ekstern

         Faktor ekstern (X2), yaitu merupakan pengelompokan dari variabel-

variabel yang tidak dapat dikendalikan perusahaan. Variabel yang termasuk dalam

faktor ekstern adalah tingkat suku bunga, keadaan pasar modal, dan pertumbuhan

pasar.

1)       Tingkat Suku Bunga (X2.1)

                Pengertian operasional variabel tingkat suku bunga adalah tingkat

         bunga kredit investasi dan tingkat bunga kredit modal kerja Bank Umum

         rata-rata pertahun yang dibebankan kepada perusahaan atas penggunaan

         modal kerja dalam bentuk utang jangka pendek dan dana investasi dalam

         bentuk hutang jangka panjang pada akhir tahun.

2)       Keadaan Pasar Modal (X2.2)

                Keadaan pasar modal merupakan besarnya nilai transaksi

         perdagangan di BEI pada akhir tahun sebagai cermin perkembangan BEI.

         Variabel pasar modal diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham

         di BEI pada akhir tahun.

3)       Pertumbuhan Pasar (X2.3)

                Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia

         dipasar yang harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini diukur

         dari nilai rasio selisih volume penjualan pada tahun t dengan volume

         penjualan pada tahun t-1 dibagi dengan volume penjualan industri pada

         tahun t-1.




                                                                              82
        Adapun rasio yang diperoleh dari indikator-indikator yang diteliti

dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

                                      Tabel 4.3
                                 Faktor Ekstern (X2).
No.   Nama Perusahaan                              Tingkat Suku Bunga
                                           2003         2004     2005    2006
  1   AKR Corporatian Tbk.               0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
  2   Asuransi Bintang Tbk.              0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
  3   Asuransi International Tbk.        0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
  4   Astra Graphia Tbk.                 0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
  5   Astra Otoparts Tbk.                0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
  6   Berlian Laju Tanker Tbk.           0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
  7   Bank UOB Buana Tbk.                0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
  8   Ekhadarma International Tbk.       0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
  9   Gudang Garam Tbk.                  0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
 10   Hexindo Adiperkasa Tbk.            0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
 11   Indorama Sythentic Tbk.            0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
 12   Indosat Tbk.                       0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
 13   Intel Nickel Indonesia Tbk.        0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
 14   Kimia Farma Tbk.                   0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
 15   Lautan Luas Tbk.                   0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
 16   Panin Sekuritas Tbk.               0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
 17   Ramayana Lestari Tbk.              0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
 18   Rig Tenders Tbk.                   0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
 19   Selamat Sempurna Tbk.              0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
 20   Sorini Corporation Tbk.            0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
 21   Sepatu Bata Tbk.                   0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
 22   Tambang Batu Bara Bukit Tbk        0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
 23   Tempo Scan Pasific Tbk.            0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
 24   Tunas Baru Lampung Tbk.            0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
        Rata-rata per tahun              0,1699     0,1440     0,1413   0,1585
Sumber : Data diolah

        Dari tabel 4.3 diatas dapat dilihat bahwa rata-rata tingkat suku

bunga per tahun yaitu pada tahun 2003 tingkat suku bunga sebesar 0.1699

(16.99%), pada tahun 2004 sebesar 0.1440 (14.4%), pada tahun 2005



                                                                             83
sebesar 0.1413 (14.13%), dan pada tahun 2006 sebesar 0.1585 (15.85%).

Dimana tingkat suku bunga tertinggi yaitu pada tahun 2003 sebesar 0.1699

(16.99%), dan tingkat suku bunga terendah yaitu pada tahun 2005 sebesar

0.1413 (14.13%). Semakin tinggi suku bunga berarti biaya penggunaan

dana semakin tinggi sehingga perusahaan enggan untuk melakukan

peminjaman dan selanjutunya leverage akan menurun, dan sebaliknya

semakin rendah suku bunga berarti biaya penggunaan dana semakin

rendah sehingga perusahaan melakukan peminjaman yang tinggi dan

selanjutunya leverage akan meningkat. Semakin tinggi suku bunga akan

mengurangi minat investor untuk menginvestasikan dananya ke pasar

modal sehingga aktivitas perdagangan akan menurun dan nilai perusahaan

akan menurun, begitu juga sebaliknya semakin rendah suku bunga akan

menambah minat investor untuk menginvestasikan dananya ke pasar

modal sehingga aktivitas perdagangan akan meningkat dan nilai

perusahaan akan meningkat.

       Selanjutnya adalah tabel 4.4 keadaan pasar modal (X2.2) yang

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X2)

yang merupakan besarnya nilai transaksi perdagangan di Bursa Efek

Indonesia , yang diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham di

Bursa Efek Indonesia pada akhir tahun 2003-2006.




                                                                     84
          Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat

dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :



                                       Tabel 4.4
                                  Faktor Ekstern (X2).
    No.    Nama Perusahaan                                Value Trade
                                              2003        2004      2005     2006
      1    AKR Corporatian Tbk.             1,0986       5,1417   6,1356    6,6606
      2    Asuransi Bintang Tbk.            1,7579       2,3514   0,6931    0,1823
      3    Asuransi International Tbk.      9,3304       9,7491   9,9166   10,1628
      4    Astra Graphia Tbk.               6,0210       5,3660   6,2005    5,5053
      5    Astra Otoparts Tbk.              5,8230       6,4968   5,6312    5,1874
      6    Berlian Laju Tanker Tbk.         5,3279       6,9147   8,4451    9,6346
      7    Bank UOB Buana Tbk.              4,7791       7,0792   7,8120    3,8286
      8    Ekhadarma International Tbk.     1,6094       2,5649   1,6094    0,6931
      9    Gudang Garam Tbk.                1,6094       2,5649   1,6094    0,6931
     10    Hexindo Adiperkasa Tbk.          3,2581       5,7683   5,0626    5,3799
     11    Indorama Sythentic Tbk.          5,1475       5,3033   4,4659    3,2958
     12    Indosat Tbk.                     8,7407       9,3927   9,6366    9,9426
     13    Intel Nickel Indonesia Tbk.      5,8861       7,8002   7,8364    8,4002
     14    Kimia Farma Tbk.                 5,4337       4,9488   4,7362    4,2195
     15    Lautan Luas Tbk.                 4,6444       5,0814   6,3613    4,4998
     16    Panin Sekuritas Tbk.             3,0910       2,1972   2,0794    2,4849
     17    Ramayana Lestari Tbk.            7,0842       7,2392   7,2004    7,5501
     18    Rig Tenders Tbk.                 4,2767       3,4340   6,2558    0,6931
     19    Selamat Sempurna Tbk.            3,8501       1,9459   1,9459    1,3863
     20    Sorini Corporation Tbk.          1,7918       3,8501   2,8904    1,9459
     21    Sepatu Bata Tbk.                 2,8285       2,2439   2,1211    2,5321
     22    Tambang Batu Bara Bukit Tbk      4,1109       4,9345   4,3438    6,4135
     23    Tempo Scan Pasific Tbk.          6,3509       6,5425   5,6168    7,3415
     24    Tunas Baru Lampung Tbk.          4,1109       4,9345   4,3438    6,4135
             Rata-rata per tahun            4,4984       5,1602   5,1229    4,7936
   Sumber : Data diolah

          Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa rata-rata per tahun keadaan

pasar modal yang diukur dari besarnya nilai transaksi perdagangan di BEI

pada akhir tahun sebagai cermin perkembangan BEI. Variabel pasar modal

                                                                                 85
diukur dengan len (ln) dari nilai perdagangan saham di BEI pada akhir

tahun, pada tahun 2003 sebesar 4.4984, pada tahun 2004 rata-rata per

tahun sebesar 5.1602, pada tahun 2005 rata-rata per tahun sebesar 5.1229,

dan pada tahun 2006 rata-rata per tahun 4.7936. Dimana rata-rata pertahun

tertinggi yaitu pada tahun 2004 sebesar 5.1602, dan rata-rata pertahun

terendah yaitu pada tahun 2003 sebesar 4.4984. Semakin tinggi keadaan

pasar modal akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan

peminjaman karena perusahaan lebih tertarik melakukan pembiayaan

melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun

       Selanjutnya adalah table 4.5 Pertumbuhan pasar (X2.3) yang

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X2),

Pertumbuhan pasar adalah persepsi peluang bisnis yang tersedia dipasar

yang harus direbut oleh perusahaan. Pertumbuhan pasar ini diukur dari

nilai rasio selisih volume penjualan pada tahun t dengan volume penjualan

pada tahun t-1 dibagi dengan volume penjualan industri pada tahun t-1.




                                                                         86
        Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat

dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

                                       Tabel 4.5
                                  Faktor Ekstern (X2).
 No.   Nama Perusahaan                              Pertumbuhan Pasar
                                            2003         2004     2005      2006
   1   AKR Corporatian Tbk.              10,5443   10,7099      11,0115   11,1590
   2   Asuransi Bintang Tbk.             11,1794   11,2488      11,1087   11,6630
   3   Asuransi International Tbk.       10,8190   11,0566      11,3526   11,2377
   4   Astra Graphia Tbk.                10,5443   10,7099      11,0115   11,1590
   5   Astra Otoparts Tbk.               10,8190   11,0566      11,3526   11,2377
   6   Berlian Laju Tanker Tbk.          10,3866   10,6470      10,9090   11,0771
   7   Bank UOB Buana Tbk.               11,1794   11,2488      11,1087   11,6630
   8   Ekhadarma International Tbk.      10,9804   10,8946      11,0418   11,0747
   9   Gudang Garam Tbk.                 10,9804   10,8946      11,0418   11,0747
  10   Hexindo Adiperkasa Tbk.           10,5443   10,7099      11,0115   11,1590
  11   Indorama Sythentic Tbk.           10,8190   11,0566      11,3526   11,2377
  12   Indosat Tbk.                      10,3866   10,6470      10,9090   11,0771
  13   Intel Nickel Indonesia Tbk.        9,4212   10,0330      10,3686   10,4873
  14   Kimia Farma Tbk.                  10,7649   11,2274      11,3093   11,4582
  15   Lautan Luas Tbk.                  10,5443   10,7099      11,0115   11,1590
  16   Panin Sekuritas Tbk.              11,1794   11,2488      11,1087   11,6630
  17   Ramayana Lestari Tbk.             10,5443   10,7099      11,0115   11,1590
  18   Rig Tenders Tbk.                  10,3866   10,6470      10,9090   11,0771
  19   Selamat Sempurna Tbk.             10,8190   11,0566      11,3526   11,2377
  20   Sorini Corporation Tbk.           10,9804   10,8946      11,0418   11,0747
  21   Sepatu Bata Tbk.                  10,8190   11,0566      11,3526   11,2377
  22   Tambang Batu Bara Bukit Tbk       10,7649   11,2274      11,3093   11,4582
  23   Tempo Scan Pasific Tbk.           10,5443   10,7099      11,0115   11,1590
  24   Tunas Baru Lampung Tbk.           10,7649   11,2274      11,3093   11,4582
         Rata-rata per tahun             10,6965   10,9012      11,0961   11,2270
Sumber : Data diolah

        Dari tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan

pasar tertinggi pada tahun 2006 sebesar 11.2270 dan rata-rata

pertumbuhan pasar terendah adalah pada tahun 2003 yaitu sebesar

10.6965, dimana pertumbuhan pasar yang tinggi menunjukan peluang

                                                                                87
  pasar bagus sehingga akan mendorong perusahaan untuk melakukan

  pinjaman sehingga leverage akan meningkat, pertumbuhan                 pasar

  menunjukan kinerja perusahaan menbaiksehingga investor akan merespon

  positif dan nilai perusahaan akan meningkat.



c. Faktor Intern

          Faktor intern (X3) merupakan variabel-variabel yang dapat

  dikendalikan oleh perusahaan. Variabel-variabel yang termasuk variabel

  faktor intern adalah :

 a. Profitabilitas (X3.1)

          Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan

    profit atau laba selama satu tahun yang dinyatakan dengan rasio laba

    operasi dengan penjualan dari data laporan labarugi akhir tahun.

 b. Pembayaran Dividen (X3.2)

          Pembayaran dividen merupakan besarnya laba yang dibagikan

    kepada pemegang saham pada akhir tahun yang juga akan mencerminkan

    besarnya laba yang akan ditanamkan pada laba ditahan akhir tahun.

    Variabel ini dinyatakan dengan rasio dividen perlembar saham dengan

    laba perlembar saham akhir rahun.

 c. Ukuran Perusahaan

          Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar

    kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan

    pada neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total aktiva.


                                                                           88
 SIZE = Ln Total Assets it.

        Adapun rasio yang diperoleh dari indikator-indikator yang diteliti

 dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

                                        Tabel
                                   Faktor Intern 4.6
  No.   Nama Perusahaan                               ROA(Return On Asset)
                                               2003       2004      2005      2006
  1     AKR Corporatian Tbk.                 0,0880     0,0975    0,0925     0,0796
  2     Asuransi Bintang Tbk.                0,0304     0,0198    0,0127     0,0031
  3     Asuransi International Tbk.          0,2569     0,2046    0,1746     0,1014
  4     Astra Graphia Tbk.                   0,0367     0,1040    0,1054     0,1395
  5     Astra Otoparts Tbk.                  0,1512     0,1351    0,1416     0,1278
  6     Berlian Laju Tanker Tbk.             0,0513     0,0568    0,0826     0,1479
  7     Bank UOB Buana Tbk.                  0,0223     0,0255    0,0308     0,0348
  8     Ekhadarma International Tbk.         0,0887     0,0989    0,0862     0,0862
  9     Gudang Garam Tbk.                    0,1516     0,1248    0,1225     0,0738
  10    Hexindo Adiperkasa Tbk.              0,1075     0,2077    0,1325     0,0481
  11    Indorama Sythentic Tbk.              0,0132     0,0130    0,0050     0,0049
  12    Indosat Tbk.                         0,0600     0,0855    0,0718     0,0591
  13    Intel Nickel Indonesia Tbk.          0,1151     0,2522    0,2341     0,3509
  14    Kimia Farma Tbk.                     0,0560     0,1053    0,0700     0,0536
  15    Lautan Luas Tbk.                     0,0195     0,0604    0,0518     0,0344
  16    Panin Sekuritas Tbk.                 0,0693     0,0859    0,0696     0,0834
  17    Ramayana Lestari Tbk.                0,1603     0,1618    0,1677     0,1584
  18    Rig Tenders Tbk.                     0,0697     0,1034    0,0896     0,0242
  19    Selamat Sempurna Tbk.                0,1299     0,1506    0,1539     0,1470
  20    Sorini Corporation Tbk.              0,0952     0,1172    0,0999     0,0694
  21    Sepatu Bata Tbk.                     0,2339     0,2019    0,1258     0,1194
  22    Tambang Batu Bara Bukit Tbk          0,1553     0,2419    0,2300     0,2153
  23    Tempo Scan Pasific Tbk.              0,2236     0,2035    0,1726     0,1475
  24    Tunas Baru Lampung Tbk.              0,0407     0,0217    0,0128     0,0386
          Rata-rata per tahun                0,1011     0,1200    0,1057     0,0978
Sumber : data diolah


        Dari tabel 4.6 tersebut dapat kita lihat bahwa rata-rata pertahun

ROA pada tahun 2003 sebesar 0.1011 (10.11%), pada tahun 2004 sebesar

0.1200 (12%), pada tahun 2005 0.1057 (10.57%), dan pada tahun 2006
                                                                                  89
sebesar 0.0978 (9.78%). Dimana rata-rata pertahun tertingggi yaitu pada

tahun 2004 sebesar 0.1200 (12%),dan rata-rata pertahun terendah yaitu

pada tahun 2006 sebesar 0.0978 (9.78%). Pada tahun 2003 ROA tertinggi

dimiliki oleh perusahaan Asuransi Internasional Tbk. yaitu sebesar 0.2569

(25.69%), untuk tahun 2004, 2005, dan 2006 ROA tertinggi dimiliki oleh

perusahaan Intel Nickel Indonesia Tbk. yaitu masing-masing sebesar

0.2522 (25.22%) untuk tahun 2004, 0.2341 (23.41%) untuk tahun 2005,

dan 0.3509 (35.09%) untuk tahun 2006. Pada tahun 2003, 2004, dan 2005

ROA terendah dimiliki perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar

0.0132 (1.32%) untuk tahun 2003, 0.0130 (1.3%) untuk tahun 2004, dan

0.0050 (0.5%) untuk tahun 2005. Pada tahun 2006 ROA terendah dimiliki

oleh perusahaan Asuransi Bintang Tbk. yaitu sebesar 0.0031 (0.31%).

Profitabilitas yang meningkat akan meningkatkan laba ditahan sehingga

akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan pinjaman dan

leverage akan menurun. Probabilitas yang tinggi menunjukkan prospek

perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif sinyal

tersebut dan nilai perusahaan meningkat.

       Selanjutnya adalah tabel 4.7 dividen payout ratio (X3.2) yang

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X3).

Pembayaran dividen merupakan besarnya laba yang dibagikan kepada

pemegang saham pada akhir tahun yang juga akan mencerminkan

besarnya laba yang akan ditanamkan pada laba ditahan akhir tahun.




                                                                      90
Variabel ini dinyatakan dengan rasio dividen perlembar saham dengan

laba perlembar saham akhir tahun.

           Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat

 dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

                                   Tabel 4.7
                               Faktor Intern (X3)
     No.    Nama Perusahaan                         DPR(Dividen Payout Ratio)
                                                2003      2004     2005         2006
      1     AKR Corporatian Tbk.              0,1931    0,3279    0,3139    0,3167
      2     Asuransi Bintang Tbk.             0,4083    0,8328    0,5022    0,6760
      3     Asuransi International Tbk.       0,0051    0,0050    0,0048    0,0054
      4     Astra Graphia Tbk.                0,7550    2,8179    0,9349    1,1651
      5     Astra Otoparts Tbk.               0,1830    0,2065    0,2764    0,2051
      6     Berlian Laju Tanker Tbk.          0,2080    0,1278    0,1289    0,1380
      7     Bank UOB Buana Tbk.               0,3649    0,3001    0,3002    0,3000
      8     Ekhadarma International Tbk.      0,1030    0,5001    0,5391    0,2910
      9     Gudang Garam Tbk.                 0,3139    0,5374    0,5091    0,4773
     10     Hexindo Adiperkasa Tbk.           0,3556    0,3951    0,3952    0,3622
     11     Indorama Sythentic Tbk.           0,2561    0,2560    0,4810    0,5068
     12     Indosat Tbk.                      0,0953    0,4991    0,4926    0,5000
     13     Intel Nickel Indonesia Tbk.       0,3576    0,4123    0,3725    1,0231
     14     Kimia Farma Tbk.                  0,4000    0,2982    0,3000    0,2992
     15     Lautan Luas Tbk.                  0,2040    0,2554    0,2529    0,2103
     16     Panin Sekuritas Tbk.              0,1856    0,1469    0,1713    0,1729
     17     Ramayana Lestari Tbk.             0,5553    0,1347    0,5117    0,4950
     18     Rig Tenders Tbk.                  1,0504    0,5286    0,6755    0,7866
     19     Selamat Sempurna Tbk.             0,9490    0,4527    0,8638    3,2163
     20     Sorini Corporation Tbk.           0,1361    0,2052    0,3035    0,3887
     21     Sepatu Bata Tbk.                  0,5427    0,5561    0,5182    0,4997
     22     Tambang Batu Bara Bukit Tbk       0,5032    0,4742    0,5009    0,5000
     23     Tempo Scan Pasific Tbk.           0,5578    0,5548    0,4548    0,0413
     24     Tunas Baru Lampung Tbk.           0,3194    0,2945    0,2025    0,2981
              Rata-rata per tahun             0,3751    0,4633    0,4169    0,5365
Sumber : data diolah

           Pada tabel 4.7 diatas menunjukkan bahwa rata-rata rasio

 pembayaran dividen yang dilakukan perusahaan pada tahun 2003 sebesar

                                                                                   91
0.3751 (37.51%), pada tahun 2004 sebesar 0.4633 (46.33%), pada tahun

2005 sebesar 0.4169 (41.69%), dan pada tahun 2006 sebesar 0.5365

(53.65%). Rata-rata rasio pembayaran dividen tertinggi pada tahun 2006

sebesar 0.5365 (53.65%), dan rata-rata rasio pembayaran dividen

terendah pada tahun 2003 sebesar 0.3751 (37.51%). Pada tahun 2003

rasio pembayaran dividen (dividen payout ratio) tertinggi dimiliki oleh

perusahaan Rig Tenders Tbk. yaitu sebesar 1.0504 (105.04%), untuk

tahun 2004 DPR tertinggi dimiliki oleh perusahaan Astra Graphia Tbk.

yaitu sebesar 2.8179 (281.79%), untuk tahun 2005 DPR            tertinggi

dimiliki oleg perusahaan Astra Graphia Tbk. yaitu sebesar 0.9349

(93.49%), dan DPR tertinggi untuk tahun 2006 dimiliki oleh perusahaan

Selamat Sempurna Tbk. yaitu sebesar 3.2163 (321.63%). Ini dapat

dibuktikan bahwa hampir atau lebih dari 100% keuntungan yang

diperoleh perusahaan dibagikan kepada para pemegang saham dalam

bentuk dividen, sementara itu DPR terendah yang dibayarkan perusahaan

kepada pemegang saham adalah Asuransi Internasional Tbk. pada tahun

2003 yaitu sebesar 0.0051 (0.51%), tahun 2004 sebesar 0.0050 (0.5%),

tahun 2005 sebesar 0.0048 (0.48%), dan pada tahun 2006 sebesar 0.0054

(0.54%).

           Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perusahaan-

perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia selama 2003 sampai

dengan 2006 memiliki rata-rata DPR yang cukup tinggi sekitar (44.7%).

Ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari keuntungan yang diperoleh


                                                                      92
perusahaan digunakan untuk membayar dividen kepada pemegang saham

dan sisanya akan diinvestasikan kembali kedalam perusahaan dalam

bentuk laba ditahan. Peningkatan pembayaran dividen akan mengurangi

laba yang ditahan sehingga      sumber dana intern akan menurun dan

perusahaan akan tertarik untuk melakukan pinjaman sehingga leverage

akan meningkat, dan pembayaran dividen yang semakin meningkat

menunjukkan prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan

tertarik untuk membeli saham dan nilai perusahaan meningkat.

        Selanjutnya adalah tabel 4.8 ukuran perusahaan (X3.3) yang

merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi faktor ekstern (X3).

Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar

kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan

pada neraca akhir tahun yang dilakukan dengan len (ln) dari total aktiva.




                                                                       93
          Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat

 dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :

                                     Tabel 4.8
                                 Faktor Intern (X3).
No.   Nama Perusahaan                                   Total Asset
                                           2003        2004       2005     2006
 1    AKR Corporatian Tbk.               13,4477   14,3404     14,4985   14,6815
 2    Asuransi Bintang Tbk.              12,1635   12,0191     12,0707   12,1147
 3    Asuransi International Tbk.        17,1262   17,4828     17,4828   17,6654
 4    Astra Graphia Tbk.                 13,4655   13,2552     13,1593   13,2791
 5    Astra Otoparts Tbk.                14,4871   14,7061     14,9236   14,9235
 6    Berlian Laju Tanker Tbk.           14,9176   15,2884     15,8835   15,8835
 7    Bank UOB Buana Tbk.                16,4782   16,6100     16,5881   16,6402
 8    Ekhadarma International Tbk.       11,0158   11,0523     11,2274   11,2205
 9    Gudang Garam Tbk.                  16,6685   16,8404     16,9124   16,8943
10    Hexindo Adiperkasa Tbk.            13,2785   13,3631     13,8827   14,0012
11    Indorama Sythentic Tbk.            15,3263   15,4124     15,5209   15,4930
12    Indosat Tbk.                       17,0795   17,1431     17,3055   17,3486
13    Intel Nickel Indonesia Tbk.        16,2075   16,4592     16,5980   16,7682
14    Kimia Farma Tbk.                   14,1280   13,9754     13,9754   13,9790
15    Lautan Luas Tbk.                   14,0215   14,1697     14,2910   14,4201
16    Panin Sekuritas Tbk.               12,6169   12,6115     13,0815   13,5689
17    Ramayana Lestari Tbk.              14,7367   14,7550     14,6649   14,7429
18    Rig Tenders Tbk.                   13,0293   13,3254     13,4156   13,7586
19    Selamat Sempurna Tbk.              13,3576   13,3862     13,4047   13,4824
20    Sorini Corporation Tbk.            13,1825   13,1872     13,3728   12,3556
21    Sepatu Bata Tbk.                   12,3556   12,4781     12,6306   12,5116
22    Tambang Batu Bara Bukit Tbk        14,5236   14,6848     14,8592   14,9494
23    Tempo Scan Pasific Tbk.            14,4799   14,5770     14,6681   14,7235
24    Tunas Baru Lampung Tbk.            13,9564   14,1172     14,1881   14,5329
        Rata-rata per tahun              14,2521   14,3850     14,5252   14,5808
Sumber : data diolah

       Pada tabel 4.8 diatas menunjukkan bahwa rata-rata pertahun total

asset pada tahun 2003 sebesar 14.2521, pada tahun 2004 sebesar 14.3850,

tahun 2005 sebesar 14.5252, dan tahun 2006 sebesar 14.5808. Rata-rata

total asset tertinggi pada tahun 2006 yaitu sebesar 14.5808, dan rata-rata

                                                                               94
  terendah pada tahun 2003 yaitu sebesar 14.2521. Pada tahun 2003, 2004,

  2005, dan 2006 total asset tertinggi dimiliki oleh perusahaan Asuransi

  International Tbk. yaitu sebesar 17,1262, untuk tahun 2003, sebesar

  17.4828 untuk tahun 2004 dan 2005, dan sebesar 17.6654 untuk tahun

  2006. Pada tahun 2003, 2004, 2005, dan 2006 total asset terendah dimiliki

  oleh perusahaan Ekhadarma International Tbk. yaitu sebesar 11,0158

  untuk tahun 2003, sebesar 11,0523 untuk tahun 2004, sebesar 11,2274

  untuk tahun 2005, dan sebesar 11,2205 untuk tahun 2006. Ukuran

  perusahaan menunjukan aktifitas perusahaan yang dimiliki perusahaan.

  Semakin besar ukuran perusahaan berarti semakin besar aktiva yang bisa

  dijadikan jaminan untruk memperoleh hutang sehingga leverage akan

  meningkat. Ukuran perusahaan yang besar menunjukan perusahaan

  mengalami perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan

  nilai perusahaan akan meningkat.



d. Struktur Modal (leverage)


         Struktur   modal    dapat   diukur       melalui   beberapa   indikator

   diantaranya Debt to Equity Ratio (DER), dan Debt to Asset Ratio (DAR).

   Adapun rasio-rasio yang diperoleh dari beberapa indikator tersebut dapat

   ditunjukkan pada tabel 4.9 sebagai berikut :




                                                                             95
                                        Tabel
                                     Leverage 4.9
   No.    Nama Perusahaan                                 DER
                                             2003     2004      2005      2006
     1    AKR Corporatian Tbk.              0,4500    0,7800    0,8600    1,0900
     2    Asuransi Bintang Tbk.             1,3800    1,1300    1,3500    1,1100
     3    Asuransi International Tbk.       1,1900    1,1800    1,1100    1,4100
     4    Astra Graphia Tbk.                1,1200    0,7200    0,8200    0,9800
     5    Astra Otoparts Tbk.               0,5200    0,6200    0,7100    0,5700
     6    Berlian Laju Tanker Tbk.          1,7800    1,6200    2,9400    1,6200
     7    Bank UOB Buana Tbk.               7,5200    7,6000    6,3800    4,1600
     8    Ekhadarma International Tbk.      0,2200    0,1800    0,3700    0,2900
     9    Gudang Garam Tbk.                 0,5800    0,6900    0,6900    0,6500
    10    Hexindo Adiperkasa Tbk.           1,8300    1,2500    2,1000    2,4800
    11    Indorama Sythentic Tbk.          25,6100   25,6000   48,1000   50,6800
    12    Indosat Tbk.                      1,1300    1,1000    1,2800    1,2400
    13    Intel Nickel Indonesia Tbk.       0,5000    0,4000    0,2700    0,2600
    14    Kimia Farma Tbk.                  0,8100    0,4400    0,3900    0,4500
    15    Lautan Luas Tbk.                  1,9400    1,9700    2,1000    2,4300
    16    Panin Sekuritas Tbk.              1,9300    1,4200    2,1500    2,7300
    17    Ramayana Lestari Tbk.             0,6500    0,5400    0,3300    0,3000
    18    Rig Tenders Tbk.                  0,0400    0,0400    0,0400    0,6600
    19    Selamat Sempurna Tbk.             0,5900    0,7100    0,6100    0,5300
    20    Sorini Corporation Tbk.           0,7100    0,6000    0,6700    0,7200
    21    Sepatu Bata Tbk.                  0,4700    0,5000    0,7300    0,4300
    22    Tambang Batu Bara Bukit Tbk       0,3400    0,4100    0,3800    0,3500
    23    Tempo Scan Pasific Tbk.           0,1900    0,2000    0,2600    0,2300
    24    Tunas Baru Lampung Tbk.           1,2800    1,6500    1,8300    1,3700
            Rata-rata per tahun             2,1992    2,1396    3,1863    3,1975
         Sumber : data diolah

         Dari tabel 4.9 diatas menunjukkan bahwa rata-rata debt to equity

ratio (DER) pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun

2003, 2004, dan 2005. Tahun 2003 rata-rata debt to equity ratio (DER)

mencapai 2.1992 dimana nilai DER tertinggi dimiliki oleh perusahaan

Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 25.6100 dan terendah dimiliki oleh

perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2004

                                                                                   96
rata-rata debt to equity ratio (DER) mencapai 2.1396 dimana nilai DER

tertinggi dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar

25.6000 dan terendah dimiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu

sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2005 rata-rata debt to equity ratio (DER)

mencapai 3.1863, dimana nilai DER tertinggi dimiliki oleh perusahaan

Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 48.1000, dan terendah dimiliki oleh

perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400,dan tahun 2006 rata-rata

debt to equity ratio (DER) mencapai 3.1975, dimana nilai DER tertinggi

dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 50.6800,

dan terendah dimiliki oleh perusahaan Tempo Scan Pasific Tbk. yaitu

sebesar 0.2300.

       Dari uraian diatas menunjukkan bahwa dalam membiayai hutang

jangka panjang perusahaan-perusahaan yang listed di Bursa Efek

Indonesia selama periode 2003-2006 menggunakan equity yang dimiliki.

       Selanjutnya adalah tabel 4.10 Debt to Asset Ratio (DAR) (Y1.2)

yang merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi struktur modal

(leverage) (Y1). Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti

dapat dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :




                                                                      97
                                          Tabel
                                       Leverage 4.10
    No.     Nama Perusahaan                                   DAR
                                                 2003    2004       2005     2006
     1      AKR Corporatian Tbk.                0,3000   0,4000     0,4200   0,4800
     2      Asuransi Bintang Tbk.               0,5700   0,5300     0,5700   0,5300
     3      Asuransi International Tbk.         0,5100   0,5000     0,4800   0,5400
     4      Astra Graphia Tbk.                  0,5300   0,4200     0,4500   0,4900
     5      Astra Otoparts Tbk.                 0,5700   0,5300     0,5700   0,5300
     6      Berlian Laju Tanker Tbk.            0,6400   0,6200     0,7500   0,6200
     7      Bank UOB Buana Tbk.                 0,8800   0,8800     0,8600   0,8100
     8      Ekhadarma International Tbk.        0,1800   0,1500     0,2700   0,2200
     9      Gudang Garam Tbk.                   0,3700   0,4100     0,4100   0,3900
    10      Hexindo Adiperkasa Tbk.             0,6500   0,5500     0,6800   0,7100
    11      Indorama Sythentic Tbk.             0,5700   0,5600     0,5800   0,6000
    12      Indosat Tbk.                        0,5300   0,5200     0,5600   0,5500
    13      Intel Nickel Indonesia Tbk.         0,3300   0,2900     0,2200   0,2100
    14      Kimia Farma Tbk.                    0,4500   0,3100     0,2800   0,3100
    15      Lautan Luas Tbk.                    0,6300   0,6300     0,6500   0,6700
    16      Panin Sekuritas Tbk.                0,6600   0,5900     0,6800   0,7300
    17      Ramayana Lestari Tbk.               0,3900   0,3500     0,2500   0,2300
    18      Rig Tenders Tbk.                    0,0400   0,0400     0,0400   0,4000
    19      Selamat Sempurna Tbk.               0,3400   0,3800     0,3400   0,3300
    20      Sorini Corporation Tbk.             0,3800   0,3600     0,3800   0,4000
    21      Sepatu Bata Tbk.                    0,3200   0,3300     0,4200   0,3000
    22      Tambang Batu Bara Bukit Tbk         0,2500   0,2900     0,2700   0,2600
    23      Tempo Scan Pasific Tbk.             0,1600   0,1600     0,2000   0,1800
    24      Tunas Baru Lampung Tbk.             0,5600   0,6200     0,6500   0,5800
               Rata-rata per tahun              0,4504   0,4342     0,4575   0,4613
          Sumber : data diolah



          Dari tabel 4.10 diatas menunjukkan bahwa rata-rata debt to asset

ratio (DAR) pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun

2003, 2004, dan 2005. Tahun 2003 rata-rata debt to asset ratio (DAR)

mencapai 0.4504 dimana nilai DAR tertinggi dimiliki oleh perusahaan

Bank UOB Buana Tbk. yaitu sebesar 0.8800 dan terendah dimiliki oleh


                                                                                      98
  perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2004

  rata-rata debt to asset ratio (DAR) mencapai 0.4342 dimana nilai DAR

  tertinggi dimiliki oleh perusahaan Bank UOB Buana Tbk. yaitu sebesar

  0.8800 dan terendah dimiliki oleh perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu

  sebesar 0.0400, sedangkan tahun 2005 rata-rata debt to asset ratio (DAR)

  mencapai 0.4575, dimana nilai DAR tertinggi dimiliki oleh perusahaan

  Bank UOB Buana Tbk. yaitu sebesar 0.8600, dan terendah dimiliki oleh

  perusahaan Rig Tenders Tbk yaitu sebesar 0.0400,dan tahun 2006 rata-rata

  debt to asset ratio (DAR) mencapai 0.4613, dimana nilai DAR tertinggi

  dimiliki oleh perusahaan Bank UOB Buana Tbk. yaitu sebesar 0.8100, dan

  terendah dimiliki oleh perusahaan Tempo Scan Pasific Tbk. yaitu sebesar

  0.1800.

            Dari uraian diatas menunjukkan bahwa dalam membiayai hutang

  jangka panjang perusahaan-perusahaan yang listed di Bursa Efek

  Indonesia selama periode 2003-2006 menggunakan aktiva yang dimiliki.



e. Nilai Perusahaan

       Nilai perusahaan dapat diukur dari beberapa indicator diantaranya

  Price Earning Ratio (PER), dan Price Book Value (PBV).

         Adapun rasio-rasio yang diperoleh dari indikator-indikator yang

  diteliti dapat ditunjukkan pada tabel 4.11 sebagai berikut :




                                                                       99
                                        Tabel
                                Nilai Perusahaan 4.11
     No.   Nama Perusahaan                                   PER
                                               2003       2004       2005      2006
       1   AKR Corporatian Tbk.               3,4800     9,4300     7,7400   13,2800
       2   Asuransi Bintang Tbk.              5,0400    19,7800    11,8000   67,6000
       3   Asuransi International Tbk.        4,5600     7,1900     7,5700   17,1200
       4   Astra Graphia Tbk.                20,7600    11,5600    11,0300    7,4000
       5   Astra Otoparts Tbk.                5,6700     6,6200     7,7400    8,0000
       6   Berlian Laju Tanker Tbk.          13,8700    11,9300     6,7000    6,0000
       7   Bank UOB Buana Tbk.               12,3700    14,5100    15,8400   15,7700
       8   Ekhadarma International Tbk.       9,7800    12,2500    14,6600   15,5200
       9   Gudang Garam Tbk.                 14,2300    14,5600    11,8600   19,4700
      10   Hexindo Adiperkasa Tbk.            3,6600     5,6500     8,2500   19,1700
      11   Indorama Sythentic Tbk.            8,4000     8,8900    15,0700   17,3800
      12   Indosat Tbk.                       9,8500     4,6300     4,9400    6,6500
      13   Intel Nickel Indonesia Tbk.        9,8500     4,6300     4,9400    6,6500
      14   Kimia Farma Tbk.                  27,1700    14,6400    15,2400   20,8300
      15   Lautan Luas Tbk.                  29,0700     5,5600     7,1400   10,6400
      16   Panin Sekuritas Tbk.               5,1500     4,7000     3,0300    2,6800
      17   Ramayana Lestari Tbk.             20,1300    17,4000    18,8400   19,6600
      18   Rig Tenders Tbk.                  12,8200     8,7200    11,1500   39,3300
      19   Selamat Sempurna Tbk.              7,1800     6,5600     6,5900    6,8700
      20   Sorini Corporation Tbk.            4,0800     5,5100     5,7700   11,6600
      21   Sepatu Bata Tbk.                   5,1000     5,1900     7,5100    9,0300
      22   Tambang Batu Bara Bukit Tbk        7,5900     7,7500     8,8800   16,7200
      23   Tempo Scan Pasific Tbk.            8,2300    10,5400     8,5700   14,8600
      24   Tunas Baru Lampung Tbk.           10,2200    22,5800    51,9500   18,7200
             Rata-rata per tahun             10,7608    10,0325    11,3671   16,2921
       Sumber : data diolah

       Tabel 4.11 menunjukkan bahwa rata-rata PER dari semua industri

pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan tahun 2003, 2004, dan 2005.

Tahun 2003 rata-rata PER dari semua industri sebesar 10.7608, dimana

nilai tertinggi PER dimiliki oleh perusahaan Lautan Luas Tbk. yaitu

sebesar 29.0700 sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan AKR

Corporation Tbk. yaitu sebesar 3.4800. Sementara itu rata-rata PER tahun

                                                                                 100
2004 rata-rata PER dari semua industri sebesar 10.0325, dimana nilai

tertinggi dimiliki oleh perusahaan       Tunas Baru Lampung Tbk. yaitu

sebesar 22.5800, sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan Indosat

Tbk. dan Intel Nickel Indonesia Tbk. yaitu sebesar 4.6300. Sementara itu

rata-rata PER tahun 2005 rata-rata PER dari semua industri sebesar

11.3671, dimana nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan      Tunas Baru

Lampung Tbk. yaitu sebesar 51.9500, sedangkan terendah dimiliki oleh

perusahaan Indosat Tbk. dan Intel Nickel Indonesia Tbk. yaitu sebesar

4.9400. Selanjutnya rata-rata PER tahun 2006 rata-rata PER dari semua

industri sebesar 16.2921, dimana nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan

Asuransi Bintang Tbk. yaitu sebesar           67.6000, sedangkan terendah

dimiliki oleh perusahaan Panin Sekuritas Tbk. yaitu sebesar 2.6800.

       Dari tabel diatas menunjukkan bahwa semakin tinggi PER maka

semakin tinggi pula prospek pertumbuhan dimasa depan, karena menurut

Foster (1986) dalam Yetti Iswahyuni (2002) dalam Malla Bahagia (2008),

PER dapat mempresentasikan aliran laba masa depan. Semakin besar PER,

maka semakin besar pula kemungkinan perusahaan untuk tumbuh

sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.

         Selanjutnya adalah tabel 4.12 Price Book Value (Y2.2) yang

 merupakan salah satu indikator yang mempengaruhi nilai perusahaan

 (Y2). Adapun rasio yang diperoleh dari indikator yang diteliti dapat

 dilihat dari tabel yaitu sebagai berikut :




                                                                      101
                                        Tabel
                                Nilai Perusahaan 4.12
    No.    Nama Perusahaan                                  PBV
                                               2003      2004      2005     2006
       1   AKR Corporatian Tbk.               0,4000    0,8400    0,9500   1,6400
       2   Asuransi Bintang Tbk.              0,3700    0,4900    0,5100   1,0100
       3   Asuransi International Tbk.        1,7200    2,3600    2,0600   2,8400
       4   Astra Graphia Tbk.                 1,3400    1,3000    1,4000   1,3900
       5   Astra Otoparts Tbk.                0,9800    1,0600    1,3200   1,2100
       6   Berlian Laju Tanker Tbk.           1,9100    1,7400    2,1500   2,3100
       7   Bank UOB Buana Tbk.                1,6300    2,1600    2,5300   1,9700
       8   Ekhadarma International Tbk.       0,8500    1,0200    1,3900   1,5500
       9   Gudang Garam Tbk.                  2,3900    2,1400    1,7100   1,4900
      10   Hexindo Adiperkasa Tbk.            0,7500    1,8200    2,3400   2,1900
      11   Indorama Sythentic Tbk.            0,1800    0,1900    0,1300   0,1500
      12   Indosat Tbk.                       1,2700    2,3000    2,0800   2,4100
      13   Intel Nickel Indonesia Tbk.        1,1900    1,1400    1,0300   2,0300
      14   Kimia Farma Tbk.                   1,5500    1,4000    0,9500   1,0500
      15   Lautan Luas Tbk.                   0,5600    0,6300    0,7500   0,6200
      16   Panin Sekuritas Tbk.               0,9500    0,9300    0,6300   0,8000
      17   Ramayana Lestari Tbk.              3,9900    3,2700    3,2300   3,1600
      18   Rig Tenders Tbk.                   0,8500    0,8500    0,9400   1,0700
      19   Selamat Sempurna Tbk.              0,9600    1,1000    1,0700   1,0100
      20   Sorini Corporation Tbk.            0,4800    0,6200    0,6000   0,9100
      21   Sepatu Bata Tbk.                   1,1600    1,0400    1,0700   0,9600
      22   Tambang Batu Bara Bukit Tbk        1,2300    1,9300    2,0200   3,5400
      23   Tempo Scan Pasific Tbk.            1,7000    2,0000    1,4200   2,0900
      24   Tunas Baru Lampung Tbk.            0,5100    0,7300    0,6300   1,1500
            Rata-rata per tahun               1,2050    1,3775    1,3713   1,6063
       Sumber : data diolah

       Tabel 4.12 menunjukkan bahwa rata-rata PBV dari semua industri

pada tahun 2006 lebih tinggi dibandingkan tahun 2003, 2004, dan 2005.

Tahun 2003 rata-rata PBV dari semua industri sebesar 1.2050, dimana

nilai tertinggi PBV dimiliki oleh perusahaan Ramayana Lestari Tbk. yaitu

sebesar 3.9900 sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan Indorama

Sythentic Tbk. yaitu sebesar 0.1800. Sementara itu rata-rata PBV tahun

                                                                              102
       2004 dari semua industri sebesar 1.3775 dimana nilai tertinggi dimiliki

       oleh perusahaan Ramayana Lestari Tbk. yaitu sebesar 3.2700, sedangkan

       terendah dimiliki oleh perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar

       0.1900. Sementara itu rata-rata PBV tahun 2005 dari semua industri

       sebesar 1.3713, dimana nilai tertinggi dimiliki oleh perusahaan Ramayana

       Lestari Tbk. yaitu sebesar     3.2300 sedangkan terendah dimiliki oleh

       perusahaan Indorama Sythentic Tbk. yaitu sebesar 0.1300. Selanjutnya

       rata-rata PBV tahun 2006 dari semua industri sebesar 1.6063, dimana nilai

       tertinggi dimiliki oleh perusahaan Tambang Batu Bara Bukit Tbk. yaitu

       sebesar 3.5400, sedangkan terendah dimiliki oleh perusahaan Indorama

       Sythentic Tbk. yaitu sebesar 0.1500. Dari tabel diatas menunjukkan bahwa

       semakin tinggi PBV maka semakin tinggi pula prospek pertumbuhan

       dimasa depan.



C.     Pengujian dan Pembahasan

1. Pengujian Model Secara Keseluruhan

          Berdasarkan pada output analisis SEM yang menggunakan software

     Lisrel diperoleh nilai-nilai yang digunakan sebagai acuan dalam pengujian

     model secara keseluruhan. Nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut :




                                                                               103
                                    Tabel 4.13
             Uji kecocokan pada beberapa Kriteria Goodness of Fit Index

 Goodness of Fit        Cut Off Value        Hasil Penelitian      Evaluasi Model
       Index
Degree Of Freedom          Positif                  44
Normed Chi Square           <2                     1.25              Over fitting
      (X²⁄df)
       RMR                 < 0.05                 0.048               Good fit
     RMSEA                 < 0.05                 0.040               Good fit
        GFI                > 0.90                  0.92               Good fit
       AGFI                > 0.90                  0.86               Cukup fit
        NFI                 0.9                    0.90               Good fit
       NNFI                 0.9                    0.97               Good fit
        CFI                 0.9                    0.98               Good fit
        RFI                 0.9                    0.86               Good fit
       PNFI                 0-1                    0.60               Cukup fit
       PGFI                 0-1                    0.52               Cukup fit

       Koefisien Goodness of Fit Index diatas menunjukkan adanya kecocokan

model dengan tingkat kecocokan yang baik. Dari beberapa indikator yang

digunakan dalam menilai kecocokan model ini, seluruhnya terpenuhi dengan baik.

       Hal ini dapat ditujukan dari beberapa indikator fit diantaranya adalah :

      Normed Chi-Square (X²⁄df) yang mempunyai nilai sebesar 1.25, karena

       nilai tersebut mendekati nilai yang direkomendasikan yaitu 1 < X²⁄df < 2,

       maka dapat dikatakan bahwa model tersebut Over fitting. Hal ini

       disesuaikan dengan standar penilaian kesesuaian yang dilakukan oleh

       beberapa peneliti yaitu Holmes Smith (2002) dalam Didi Achjari (2003)

       menyatakan bahwa nilai normed chi-square antara 2-3 merupakan

       reasonable good fit. Kelloway (1998) menyatakan bahwa model dikatakan

       fit jika 2 < X²⁄df < 5 dan dikatakan overfitting nilai normed chi-square < 2.




                                                                                    104
   RMR ( Root Mean Square Residual ) yang menunjukkan good fit karena

    RMR     mempunyai      nilai   0.048,   nilai   tersebut   lebih   dari   yang

    direkomendasikan yaitu 0.050.

   RMSEA ( Root Mean Square Error of Appoximation ) yang menunjukkan

    bahwa model adalah good fit, karena RMSEA mempunyai nilai 0.040

    yang mendekati 0.05.

   GFI ( Goodness of Fit Index ) yang mempunyai nilai sebesar 0.92, yang

    menunjukkan bahwa model adalah good fit karena mendekati nilai yang

    direkomendasikan sebesar 0.90.

   AGFI ( Adjusted Goodness of Fit Index ) yang mempunyai nilai sebesar

    0.86 lebih kecil dari nilai yang direkomendasikan yaitu 0.90, sehingga

    dapat dikatakan bahwa model adalah cukup fit.

   NFI ( Normed Fit Index ) menunjukkan bahwa model adalah good fit. Ini

    dapat dilihat dari nilai NFI yaitu sebesar 0.90, nilai tersebut sama dengan

    nilai yang direkomendasikan yaitu sebesar 0.90.

   NNFI / Tucker Lewis Index (TLI) yang mempunyai nilai sebesar 0.97,

    menunjukkan bahwa model adalah good fit, karena nilai tersebut

    mendekati dari yang direkomendasikan yaitu 0.90.

   CFI ( Comparative Fit Index ) mempunyai nilai sebesar 0.98 lebih besar

    dari nilai yang direkomendasikan yaitu sebesar 0.90, sehingga dapat

    dikatakan bahwa model adalah good fit.




                                                                              105
    RFI ( Relative Fit Index ) mempunyai nilai sebesar 0.86 lebih kecil dari

     nilai yang direkomendasikan yaitu sebesar 0.90, sehingga dapat dikatakan

     bahwa model adalah good fit.

    PNFI ( Parsimony Normed Fit Index ) menunjukkan bahwa model adalah

     cukup fit, ini dapat dilihat dari nilai PNFI yang sebesar 0.60, nilai tersebut

     berkisar 0-1 dimana nilai yang mendekati 1 tersebut menunjukkan model

     cukup fit.

    PGFI ( Parsimony Goodness Fit Index ) mempunyai nilai sebesar 0.52

     sehingga dikatakan bahwa model cukup fit karena nilai tersebut berkisar 0-

     1 dimana nilai yang mendekati 1 tersebut menunjukkan model cukup fit.

             Berdasarkan pada nilai-nilai koefisien diatas yang memenuhi

     pesyaratan kecocokan sebuah model, maka dapat disimpulkan bahwa

     secara umum, model yang diperoleh memiliki tingkat kecocokan yang

     baik.



2. Pengujian Jalur Individual – Measurement Model

             Setelah   dilakukan    pengujian    secara   keseluruhan,    langkah

     selanjutnya adalah melakukan pengujian secara individual, yaitu untuk

     melihat apakah seluruh jalur yang dihipotesiskan memiliki tingkat

     signifikansi yang baik atau tidak. Untuk mengetahui apakah masing-

     masing jalur memiliki tingkat signifikansi yang tinggi atau tidak dilakukan

     dengan melihat nilai t-hitung yang diperoleh. Sebuah jalur dikatakan

     signifikans jika nilai t-hitung untuk jalur tersebut lebih besar dari 1,96.

                                                                               106
Berikut diagram yang berisikan nilai-nilai T-Value dan Standardized

Solution untuk seluruh koefisien jalur :

                             Gambar 4.1

                               T-Value




                                                               107
                                 Gambar 4.2

                               Koefisien Path




      Dari path diagram diatas dapat menunjukkan hubungan indikator

 terhadap variabel latennya yaitu sebagai berikut :

1. Kepemilikan Manajerial (X1.1) terhadap Struktur Kepemilikan Saham.

          Kepemilikan manajerial mempunyai koefisien path (jalur) positif

   dan hubungan yang signifikan terhadap struktur kepemilikan saham, hal

   ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.91 dan nilai-t hitung

   yang sebesar 6.28 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar

   1.96, sehingga indikator kepemilikan manajerial mempunyai tingkat

                                                                            108
   signifikan yang baik. Kepemilikan manajerial mempunyai koefisien path

   sebesar 0.91 (91%) terhadap struktur kepemilikan saham.

2. Kepemilikan Institusional (X1.2) terhadap Struktur Kepemilikan Saham.

          Kepemilikan institusional mempunyai koefisien path (jalur) positif

   dan hubungan yang signifikan terhadap struktur kepemilikan saham, hal

   ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.75 dan nilai-t hitung

   yang sebesar 5.62 yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar

   1.96, sehingga indikator kepemilikan institusional mempunyai tingkat

   signifikan yang baik. Kepemilikan Institusional mempunyai koefisien path

   sebesar 0.75 (75%) terhadap struktur kepemilikan saham. Kepemilikan

   Institusional merupkan indikator dari Struktur Kepemilikan Saham dimana

   indikator ini paling mewakili variabel latennya. Kepemilikan institusional

   mempunyai koefisien path sebesar 0.75 (75%) terhadap struktur

   kepemilikan saham.



3. Tingkat Suku Bunga (X2.1) terhadap Faktor Ekstern.

          Tingkat suku bunga merupakan indikator dari faktor ekstern.

   Tingkat suku bunga mempunyai koefisien path (jalur) positif dan

   hubungan yang signifikan terhadap faktor ekstern, hal ini dapat ditujukan

   dari koefisien jalur yang sebesar 0.97 dan nilai-t hitung yang sebesar 12.51

   yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga

   indikator tingkat suku bunga mempunyai tingkat signifikan yang baik.




                                                                            109
   Tingkat suku bunga mempunyai koefisien path sebesar 0.97 (97%)

   terhadap factor ekstern.

4. Keadaan Pasar Modal (X2.2) terhadap faktor Ekstern.

           Keadaan Pasar Modal merupakan indikator dari Faktor Ekstern,

   dimana indikator ini paling mewakili variabel latennya. Keadaan pasar

   modal mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang

   signifikan terhadap faktor ekstern, hal ini dapat ditujukan dari koefisien

   jalur yang sebesar 0.94 dan nilai-t hitung yang sebesar 11.99 yang lebih

   besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator

   keadaan pasar modal mempunyai tingkat signifikan yang baik. Keadaan

   pasar modal mempunyai koefisien path sebesar 0.94 (94%) terhadap factor

   ekstern.

5. Pertumbuhan Pasar (X2.3) terhadap Faktor Ekstern.

           Pertumbuhan pasar mempunyai koefisien path (jalur) positif dan

   hubungan yang signifikan terhadap faktor ekstern, hal ini dapat ditujukan

   dari koefisien jalur yang sebesar 0.75 dan nilai-t hitung yang sebesar 8.56

   yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga

   indikator pertumbuhan pasar mempunyai tingkat signifikan yang baik.

   Pertumbuhan pasar mempunyai koefisien path sebesar 0.75 (75%)

   terhadap factor ekstern.

6. Profitabilitas (X3.1) terhadap Faktor Intern.

           Profitabilitas merupakan indikator dari Faktor Intern, dimana

   indikator ini paling mewakili variabel latennya. Profitabilitas mempunyai


                                                                          110
   koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan terhadap faktor

   intern, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar 0.81 dan

   nilai-t hitung yang sebesar 8.19 yang lebih besar dibandingkan dengan t-

   tabel sebesar 1.96, sehingga indikator probabilitas mempunyai tingkat

   signifikan yang baik. Profitabilitas mempunyai koefisien path sebesar 0.81

   (81%) terhadap factor intern.

7. Pembayaran Dividen (X3.2) terhadap Faktor Intern.

          Pembayaran dividen mempunyai koefisien path (jalur) positif dan

   hubungan yang signifikan terhadap faktor intern, hal ini dapat ditujukan

   dari koefisien jalur yang sebesar 0.52 dan nilai-t hitung yang sebesar 5.02

   yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga

   indikator pembayaran dividen mempunyai tingkat signifikan yang baik.

   Pembayaran dividen mempunyai koefisien path sebesar 0.52 (52%)

   terhadap factor intern.

8. Ukuran Perusahaan (X3.3) terhadap Faktor Intern.

          Ukuran Perusahaan mempunyai koefisien path (jalur) positif dan

   hubungan yang signifikan terhadap faktor intern, hal ini dapat ditujukan

   dari koefisien jalur yang sebesar 0.86 dan nilai-t hitung yang sebesar 8.77

   yang lebih besar dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga

   indikator ukuran perusahaan mempunyai tingkat signifikan yang baik.

   Ukuran Perusahaan mempunyai koefisien path sebesar 0.88 (86%)

   terhadap factor intern.




                                                                          111
9. Debt to Asset Ratio (Y1.2) terhadap Leverage.

           Debt to Asset Ratio merupakan indikator dari Leverage, dimana

   indikator ini paling mewakili variabel latennya. Debt to Asset Ratio

   mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan

   terhadap leverage, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang sebesar

   0.92 dan nilai-t hitung yang sebesar 5.84 yang lebih besar dibandingkan

   dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator Debt to Asset Ratio

   mempunyai tingkat signifikan yang baik. Debt to Asset Ratio mempunyai

   koefisien path sebesar 0.92 (92%) terhadap Leverage.

10. Price Book Value (Y2.2) terhadap Nilai Perusahaan.

           Price Book Value merupakan indikator dari nilai perusahaan,

   dimana indikator ini paling mewakili variabel latennya. Price Book Value

   mempunyai koefisien path (jalur) positif dan hubungan yang signifikan

   terhadap nilai perusahaan, hal ini dapat ditujukan dari koefisien jalur yang

   sebesar 0.87 dan nilai-t hitung yang sebesar 3.32 yang lebih besar

   dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1.96, sehingga indikator Price Book

   Value    mempunyai tingkat signifikan yang baik.        Price Book Value

   mempunyai koefisien path sebesar 0.87 (87%) terhadap Nilai Perusahaan.

           Dari gambar 4.1 diatas terlihat bahwa jalur dari indikator terhadap

   latennya yang dihipotesiskan nilai t-hitung yang lebih besar dari 1.96 dan

   dapat disimpulkan bahwa seluruh koefisien jalur tersebut signifikan,

   kecuali indikator Y1.1 dan Y2.2 tidak memiliki t-value, karena didalam




                                                                           112
       SEM indikator pertama dari variabel endogen tidak memiliki nilai t (t-

       value).

 3. Pengujian Jalur Individual – Stuctrural Model

     Langkah berikutnya adalah menguji struktural model. Ada dua hal yang

     harus diperhatikan, yaitu :

            1.Signifikansi koefisien Beta dan Gamma dengan uji t

            2.Kecocokan dari model structural dengan memperhatikan nilai R²

            (Squared Multiple Correlation).


                                    Tabel 4.14
                             Hubungan Beta dan Gamma
                                                               Koefisien Path
Hipotesis   Variabel indipenden           Variabel Dependen    (t-value)
                                          Struktur Modal
H₁          Struktur Kepemilikan Saham    (leverage)            -0.30 (-2.47)
H₂          Struktur Kepemilikan Saham    Nilai Perusahaan      0.12 (0.94)
                                          Struktur Modal
H₃          Faktor Ekstern                (leverage)            -0.24 (-2.16)
H₄          Faktor Ekstern                Nilai Perusahaan      0.05 (0.49)
                                          Struktur Modal
H₅          Faktor Intern                 (leverage)            -0.38 (-2.95)
H₆          Faktor Intern                 Nilai Perusahaan      0.18 (1.28)
H₇          Struktur Modal (leverage)     Nilai Perusahaan      -0.52 (-2.61)
Sumber : data diolah

                 Dari output yang ditampilkan dengan path diagram dan

       ditunjukkan dengan tabel, maka didapatlah hubungan dan pengaruh

       sebagai berikut :

       H₁ Struktur Kepemilikan Saham terhadap Struktur Modal.

                 Dari tabel 4.14 diatas menujukkan adanya koefisien path negatif

       dan berpengaruh signifikan antara struktur kepemilikan saham terhadap

       struktur modal, ini dapat dilihat dari koefisien path sebesar -0.30 dan nilai

                                                                                113
t-hitung sebesar -2.47 lebih besar dari 1.96, hubungan tersebut menyatakan

bahwa variabel struktur kepemilikan saham berpengaruh negatif terhadap

struktur modal (leverage), artinya semakin tinggi struktur kepemilikan

saham perusahaan, maka pengawasan yang dilakukan pemilik terhadap

managemen akan semakin efektif, manajemen akan berhati-hati dalam

melakukan pinjaman sehingga leverage akan menurun. Hasil ini sesuai

dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa struktur

kepemilikan saham mempunyai pengaruh negatif terhadap struktur modal

(leverage).

H₂ Struktur Kepemilikan Saham terhadap Nilai Perusahaan.

        Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path positif dan

tidak berpengaruh signifikan antara struktur kepemilikan saham terhadap

nilai perusahaan. Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien

path (pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar 0.12 dan hubungan yamg

tidak signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar 0.94 lebih kecil

dari 1.96.    hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel struktur

kepemilikan    saham     mempunyai     pengaruh     positif   terhadap   nilai

perusahaan, artinya semakin tinggi struktur kepemilikan saham perusahaan

maka nilai perusahaan akan meningkat, dengan peningkatan kepemilikan

saham    institusional   akan   mendorong      pemilik   untuk    melakukan

peminjaman kepada manajemen sehingga terdorong untuk meningkatkan

kinerjanya, selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Dan kepemilikan

manajerial akan mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja

                                                                          114
perusahaan, karena mereka juga memiliki perusahaan, kinerja perusahaan

yang meningkat akan meningkatkan perusahaan. Hasil ini sesuai dengan

penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel struktur

kepemilikan    saham    mempunyai      pengaruh    positif   terhadap   nilai

perusahaan.

H₃ Faktor Ekstern terhadap Struktur Modal.

       Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path negatif dan

berpengaruh signifikan antara faktor ekstern terhadap struktur modal

(leverage). Pengaruh negatif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path

(pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar -0.24 dan hubungan yamg

signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar -2.16 lebih besar dari

1.96. Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor ekstern

berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage), artinya semakin

tinggi faktor ekstern maka leverage akan menurun, faktor ekstern dapat

dilihat dari indikatorrnya yaitu tingkat suku bunga yang tinggi berarti

biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga perusahaan enggan untuk

melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage akan menurun, indikator

lainnya yaitu keadaan pasar modal yang tinggi, akan mengurangi minat

perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih tertarik

melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan

menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang

membuktikan bahwa variabel faktor ekstern berpengaruh negatif terhadap

struktur modal (leverage).

                                                                         115
H₄ Faktor Ekstern terhadap Nilai Perusahaan.

        Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path positif dan

tidak berpengaruh signifikan antara faktor ekstern terhadap nilai

perusahaan. Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path

(pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar 0.05 dan hubungan yamg tidak

signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar 0.49 lebih besar dari

1.96.

        Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor ekstern

berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan artinya semakin tinggi

faktor ekstern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor ekstern dapat

dilihat dari indikatorrnya yaitu keadaan pasar modal mempunyai pengaruh

positif terhadap nilai perusahaan, temuan penelitian ini menunjukkan

bahwa para pemodal secara umum akan mempertimbangkan faktor

perkembangan pasar modal dalam membeli saham, indikator lainnya yaitu

pertumbuhan     pasar   mempunyai      pengaruh    positif   terhadap   nilai

perusahaan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa meningkatnya

pertumbuhan pasar akan mempengaruhi earning perusahaan, earning

perusahaan yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan yang bagus

dimasa yang akan datang, prospek bagus tersebut akan direspon positif

oleh investor, respon positif oleh investor tersebut akan meningkatkan

harga sahamuntuk selanjutnya akan meningkatkan nilai perusahaan.




                                                                         116
H₅ Faktor Intern terhadap Struktur Modal.

        Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path negatif dan

berpengaruh signifikan antara faktor intern terhadap struktur modal

(leverage). Pengaruh negatif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path

(pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar -0.38 dan hubungan yamg

signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar -2.95 lebih besar dari

1.96. Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor intern

berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage), artinya semakin

tinggi faktor intern maka leverage akan menurun, faktor intern dapat

dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang meningkat akan

meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat

perusahaan untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun.

Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan

bahwa variabel faktor intern berpengaruh negatif terhadap struktur modal

(leverage).

H₆ Faktor Intern terhadap Nilai Perusahaan.

        Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path positif dan

tidak berpengaruh signifikan antara faktor intern terhadap nilai

perusahaan. Pengaruh positif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien path

(pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar 0.18 dan hubungan yamg tidak

signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar 1.28 lebih besar dari

1.96.




                                                                         117
       Hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel faktor intern

berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan artinya semakin tinggi faktor

intern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor intern dapat dilihat

dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang tinggi akan menunjukan

prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon positif

sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat. Singnally theory,

Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa profitabilitas yang tinggi

menunjukan prospek perusahaan yang bagus sehingga investor akan

merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Pembayaran

dividen yang semakin meningkat menunjukan prospek perusahaan

semakin bagus sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham dan

nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran perusahaan yang besar

menunjukan perusahaan mengalami perkembangan sehingga investor akan

merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat. Hasil ini sesuai

dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor

intern berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

H₇ Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan.

       Tabel 4.14 diatas menunjukkan adanya koefisien path negatif dan

berpengaruh signifikan antara struktur modal (leverage) terhadap nilai

perusahaan. Pengaruh negatif tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien

path (pengaruh) yang diperoleh yaitu sebesar -0.52 dan hubungan yamg

signifikannya dapat dilihat dari nilai t-tabel sebesar -2.61 lebih besar dari

1.96. hubungan tersebut menyatakan bahwa variabel struktur modal

                                                                         118
(leverage) berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan artinya, semakin

tinggi leverage maka nilai perusahaan akan menurun, karena leverage yang

semakin tinggi akan menimbulkan financial distress sehingga nilai

perusahaan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007)

yang membuktikan bahwa variabel struktur modal (leverage) berpengaruh

negatif terhadap nilai perusahaan.

       Pada tabel 4.14 Gamma di atas, terlihat bahwa pada model yang

dihipotesiskan, variabel Struktur Kepemilikan Saham, Faktor Ekstern, dan

Faktor Intern mempengaruhi Struktur Modal secara signifikans. Ini

ditunjukkan dengan nilai t-hitung nya masing-masing yang lebih besar dari

1,96. Sementara itu, tidak terdapat satupun variabel yang mempengaruhi

Nilai Perusahaan, dimana Struktur Kepemilikan Saham, Faktor Ekstern,

dan Faktor Iintern tidak mempengaruhi secara signifikans karena memiliki

nilai t-hitng yang lebih kecil dari 1,96. Sementara pada tabel Beta terlihat

bahwa Struktur Modal secara signifikans mempengaruhi Nilai Perusahaan.

Ini diperlihatkan oleh nilai t-hitung yang lebih besar dari 1,96.




                                                                        119
              Selanjutnya,    kecocokan      dari   model     structural   dengan

       memperhatikan nilai R² (Squared Multiple Correlation).

                                   Tabel 4.15
                         Squared Multiple Correlations (R²)
                        Variabel Laten         Indikator     R²
                           Struktur               X₁.₁      0.83
                       Kepemilikan Saham          X₁.₂      0.56
                                                  X₂.₁      0.93
                          Faktor Ekstern          X₂.₂      0.89
                                                  X₂.₃      0.57
                                                  X₃.₁      0.65
                           Faktor Intern          X₃.₂      0.27
                                                  X₃.₃      0.74
                         Struktur Modal           Y₁.₁      0.52
                            (leverage)            Y₁.₂      0.85
                               Nilai              Y₂.₁      0.25
                           Perusahaan             Y₂.₂      0.76
                      Sumber : data diolah


       Dari tabel 4.15 diatas, dapat dilihat bahwa X₂.₁ (tingkat suku bunga)

memiliki R² tertinggi yaitu sebesar 0.93, artinya faktor ekstern (variabel laten

endogen) berkontribusi besar terhadap varians tingkat suku bunga yaitu sebesar

93% sedangkan sisanya sebesar 7% dijelaskan oleh measurement error, sehingga

dapat dikatakan bahwa tingkat suku bunga merupakan indicator yang paling baik

dari variable latennya yaitu factor ekstern, sedangkan Y₂.₁ (price earning ratio)

merupakan indiaktor yang paling kurang baik dari variable laten endogennya yaitu

nilai perusahaan karena mempunyai nilai R² yang paling kecil dibanding dengan

indikator variabel endogen yang lain.




                                                                             120
D. Interpretasi

       Berdasarkan pembahasan hipotesis diatas terdapat pengaruh negatif antara

struktur kepemilikan saham terhadap struktur modal. Hal ini terjadi karena

kepemilikan saham yang tinggi dapat mengurangi penggunaan leverage artinya,

kepemilikan institusi yang tinggi akan meningkatkan pengawasan dan kontro

lterhadap tindakan dan keputusan yang dibuat oleh pihak manjemen sedangkan

jika kepemilikan saham manajerial meningkat maka akan menimbulkan sikap

berhati-hati bagi pihak manajemen untuk bertindak dan mengambil keputusan.

       Variabel struktur kepemilikan saham mempunyai pengaruh positif

terhadap nilai perusahaan, artinya semakin tinggi struktur kepemilikan saham

perusahaan maka nilai perusahaan akan meningkat, dengan peningkatan

kepemilikan saham institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan

peminjaman kepada manajemen sehingga terdorong untuk meningkatkan

kinerjanya, selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat.

       Variabel faktor ekstern berpengaruh negatif terhadap struktur modal

(leverage), artinya semakin tinggi faktor ekstern maka leverage akan menurun,

faktor ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu tingkat suku bunga yang

tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga perusahaan enggan

untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya leverage akan menurun, indikator

lainnya yaitu keadaan pasar modal yang tinggi, akan mengurangi minat

perusahaan untuk melakukan peminjaman karena perusahaan lebih tertarik

melakukan pembiayaan melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun.




                                                                             121
       Variabel faktor ekstern berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan

artinya semakin tinggi faktor ekstern maka nilai perusahaan akan meningkat,

faktor ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu keadaan pasar modal

mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, temuan penelitian ini

menunjukkan bahwa para pemodal secara umum akan mempertimbangkan faktor

perkembangan pasar modal dalam membeli saham

       Variabel faktor intern berpengaruh negatif terhadap struktur modal

(leverage), artinya semakin tinggi faktor intern maka leverage akan menurun,

faktor intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang meningkat

akan meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan mengurangi minat

perusahaan untuk melakukan peminjaman dan leverage akan menurun. Hasil ini

sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor

intern berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage).

       Variabel faktor intern berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan

artinya semakin tinggi faktor intern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor

intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang tinggi akan

menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor akan merespon

positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat. Pembayaran dividen yang

semakin meningkat menunjukan prospek perusahaan semakin bagus sehingga

investor akan tertarik untuk membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat.

Ukuran perusahaan yang besar menunjukan perusahaan mengalami perkembangan

sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat.




                                                                               122
       Variabel struktur modal (leverage) berpengaruh negatif terhadap nilai

perusahaan artinya, semakin tinggi leverage maka nilai perusahaan akan menurun,

karena leverage yang semakin tinggi akan menimbulkan financial distress

sehingga nilai perusahaan menurun.




                                                                           123
                              BAB V

                  KESIMPULAN DAN IMPLIKASI



A. Kesimpulan

           Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan yang telah dijelaskan

  pada bab sebelumnya, maka penelitian ini dapat diambil kesimpulan yaitu

  sebagai berikut :

  1. Struktur Kepemilikan Saham mempunyai koefisien path (jalur) negatif

     dan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (leverage). Ini

     menggambarkan semakin tinggi kepemilikan kepemilikan saham baik

     kepemilikan saham manjerial maupun institusional maka semakin

     rendah tingkat hutang (leverage) yang digunakan. Hasil penelitian ini

     sesuai dengan yang dilakukan oleh Sujoko (2007) yang menyatakan

     bahwa semakin tinggi struktur kepemilikan saham perusahaan, maka

     pengawasan yang dilakukan pemilik terhadap managemen akan

     semakin efektif, manajemen akan berhati-hati dalam melakukan

     pinjaman sehingga leverage akan menurun. Temuan penelitian ini juga

     tidak mendukung Agency Theory, Jensen dan Meckling (1979) yang

     menjelaskan tentang adanya pemisahan yang jelas antara fungsi

     kepemilikan dengan fungsi pengelolaan. Manajemen tidak mempunyai

     kendali dalam menentukan hutang karena banyak dikendalikan oleh

     mayoritas.




                                                                      124
2. Struktur kepemilikan Saham

   Struktur kepemilikan saham mempunyai koefisien path (jalur) positif

   dan tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya,

   semakin tinggi struktur kepemilikan saham perusahaan maka nilai

   perusahaan akan meningkat, dengan peningkatan kepemilikan saham

   institusional akan mendorong pemilik untuk melakukan peminjaman

   kepada   manajemen     sehingga     terdorong   untuk   meningkatkan

   kinerjanya, selanjutnya nilai perusahaan akan meningkat. Dan

   kepemilikan    manajerial    akan   mendorong     manajemen     untuk

   meningkatkan kinerja perusahaan, karena mereka juga memiliki

   perusahaan, kinerja perusahaan yang meningkat akan meningkatkan

   perusahaan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko (2007) yang

   membuktikan bahwa variabel struktur kepemilikan saham mempunyai

   pengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini sesuai

   dengan temuan penelitian Sudarma (2003) yang menemukan bahwa

   Struktur kepemilikan saham tidak berpengaruh signifikan terhadap

   nilai perusahaan.

3. Faktor Ekstern mempunyai koefisien path (jalur) negatif dan

   berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (leverage). Artinya,

   semakin tinggi faktor ekstern maka leverage akan menurun, faktor

   ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu tingkat suku bunga yang

   tinggi berarti biaya penggunaan dana semakin tinggi sehingga

   perusahaan enggan untuk melakukan peminjaman dan selanjutnya


                                                                     125
   leverage akan menurun, indikator lainnya yaitu keadaan pasar modal

   yang tinggi, akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan

   peminjaman karena perusahaan lebih tertarik melakukan pembiayaan

   melalui pasar modal sehingga leverage akan menurun. Hasil ini sesuai

   dengan penelitian Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel

   faktor ekstern berpengaruh negatif terhadap struktur modal (leverage).

4. Faktor Ekstern mempunyai koefisien path (jalur) positif dan tidak

   berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya, semakin

   tinggi faktor ekstern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor

   ekstern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu keadaan pasar modal

   mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, temuan

   penelitian ini menunjukkan bahwa para pemodal secara umum akan

   mempertimbangkan faktor perkembangan pasar modaldalam membeli

   saham, indikator lainnya yaitu pertumbuhan pasar mempunyai

   pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, temuan penelitian ini

   menunjukkan     bahwa    meningkatnya     pertumbuhan     pasar   akan

   mempengaruhi earning perusahaan, earning perusahaan yang tinggi

   menunjukkan prospek perusahaan yang bagus dimasa yang akan

   datang, prospek bagus tersebut akan direspon positif oleh investor,

   respon positif oleh investor tersebut akan meningkatkan harga

   sahamuntuk selanjutnya akan meningkatkan nilai perusahaan

5. Faktor Intern mempunyai koefisien path (jalur) negatif dan

   berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (leverage). Artinya,


                                                                      126
   semakin tinggi faktor intern maka leverage akan menurun, faktor

   intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang

   meningkat akan meningkatkan laba yang ditahan sehingga akan

   mengurangi minat perusahaan untuk melakukan peminjaman dan

   leverage akan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko

   (2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor intern berpengaruh

   negatif terhadap struktur modal (leverage). Hasil penelitian ini

   mendukung Pecking Order Theory, Myers (1984) dimana dalam

   melakukan pembiayaan, perusahaan mendasarkan pada urutan dari

   laba yang ditahan , kemudian hutang dan yang terakhir adalah emisi

   saham baru.

6. Faktor Intern mempunyai koefisien path (jalur) positif dan tidak

   berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya, semakin

   tinggi faktor intern maka nilai perusahaan akan meningkat, faktor

   intern dapat dilihat dari indikatorrnya yaitu Profitabilitas yang tinggi

   akan menunjukan prospek perusahaan yang baik sehingga investor

   akan merespon positif sinyal tersebut dan nilai perusahaan meningkat.

   Singnally theory,      Bhattacarya (1979) mengemukakan bahwa

   profitabilitas yang tinggi menunjukan prospek perusahaan yang bagus

   sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan

   meningkat. Pembayaran dividen yang semakin meningkat menunjukan

   prospek perusahaan semakin bagus sehingga investor akan tertarik

   untuk membeli saham dan nilai perusahaan akan meningkat. Ukuran


                                                                       127
      perusahaan    yang    besar    menunjukan   perusahaan    mengalami

      perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan nilai

      perusahaan akan meningkat. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sujoko

      (2007) yang membuktikan bahwa variabel faktor intern berpengaruh

      positif terhadap nilai perusahaan.

   7. Struktur Modal (leverage) mempunyai koefisien path (jalur) negatif

      dan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Artinya,

      semakin tinggi leverage maka nilai perusahaan akan menurun, karena

      leverage yang semakin tinggi akan menimbulkan financial distress

      sehingga nilai perusahaan menurun. Hasil ini sesuai dengan penelitian

      Sujoko (2007) yang membuktikan bahwa variabel struktur modal

      (leverage) berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Hasil

      penelitian ini mendukung teori struktur modal Trade off Model yang

      menyatakan bahwa jumlah hutang yang semakin meningkat akan

      menurunkan nilai perusahaan.



B. Implikasi

               Penelitian ini belum menggunakan kepemilikan saham public

      sebagai indikator dari variabel laten eksogen struktur kepemilikan

      saham, peneliti mendatang perlu memasukan kepemilikan public

      sebagai dari indicator struktur kepemilikan saham.




                                                                       128
       Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan, maka penulis

mencoba mengemukakan implikasi yang mungkin bermanfaat

diantaranya :

1. Bagi Perusahaan

   Adanya       pengaruh-pengaruh   yang   terjadi   antara   struktur

   kepemilikan saham, faktor ekstern, faktor intern terhadap struktur

   modal (leverage), dan struktur kepemilikan saham, faktor ekstern,

   faktor intern terhadap nilai perusahaan, dapat membantu pihak

   perusahaan dalam mengambil keputusan yang amat penting,

   karena keputusan yang nantinya diambil dapat menentukan

   kemajuan dan kelangsungan hidup perusahaan.

2. Bagi Investor

   Dengaan adanya struktur modal (leverage) pengaruh-pengaruh

   yang terjadi dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan dan

   memutuskan investasi yang akan dilakukan karena setiap investor

   menginginkan prospek yang amat baik bagi perusahaan di masa

   depan.

3. Bagi Akademisi

   Perlu diadakan penelitian selanjutnya mngenai pengaruh-pengaruh

   variable endogen dan variable eksogen dengan menambahkan

   sample yang lebih banyak dan juga menggunakan analisis SEM

   dengan konseptualisasi model yang berbeda dan menggunakan

   software lainnya.


                                                                  129
                            DAFTAR PUSTAKA



Almilia, Luciana Spica, dan Meliza Silvy, ”Analisis Kebijakan Dividen dan
       Kebijakan Leverage Terhadap Prediksi Kepemilikan Manajerial Dengan
       Tehnik Analisis Multinomial logit”, Jurnal Akuntansi dan Bisnis, Vol.6,
       No. 1, hal. 1 – 19, 2006.

Achjari, Didi. “Pelaporan statistic Structural Equation Modeling : Temuan Tiga
       Jurnal Bisnis”, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Volume 6, No.
       3,September 2003.

Bahagia, Malla, “Analisis Struktur Kepemilikan, Kebijakan Dividen dan
      Kwbijakan Hutang Terhadap Nilai Perusahaan dengan Pendekatan
      Structural Equation Modeling (SEM)”, Jakarta: UIN Syarifhidayatullah,
      2008.

Christianti, Ari, “Penentuan Prilaku Kebijakan Struktural Modal pada
        Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta : Hipotesis Static Trade
        Off atau Pecking Order Theory”, Simposium Nasional Akuntansi 9
        Padang. 2006.

Ghozali, Imam. “Structural Equatin Modeling Theory, Konsep n Aplikasi dengan
        Program Lisrel 8.54”, Semarang : Universitas Diponegoro, 2005.

Hamid, Abdul. “Panduan Penulisan Skripsi”. Jakarta : FEIS UIN Syarif
       Hidayatullah Press, 2007.

Muslimin, “Analisis Struktur Kepemilikan, Kebijakan Dividend an kebijakan
       Utang Terhadap Nilai Perusahaan”, Jurnal Ekonomi dan Manajemen,
       volume 7, No. 2, Juni, 2006.

Nasser, Etty M., dan Fielyandi F., “Pengaruh Kepemilikan Institusional, Ukuran
        Perusahaan, Profitabilitas, dan Hutang Sebagai Variabel Intervening
        Terhadap Nilai Perusahaan”, Jurnal Ekonomi STEI, No.2. 2006.

Putra, AA GP Widana, “Pengaruh Free Cash Flows Terhadap Hubungan Antara
       Struktur Modal dan Kebijakan Dividend an Return Saham” Yogyakarta :
       Tesis S2, Universitas Gajah Mada, 2003.

Putri, Imanda, dan Moh. Nasir, “Analisis Persamaan Simultan Kepemilikan
         Manajerial, Kepemilikan Institusional, Risiko, Kebijakan Hutang, dan
         Kebijakan Dividen Dalam Perpektif Teori Keagenan”, Simposium
         Nasional Akuntansi, Ikatan Akuntansi Indonesia. 2006.


                                                                          130
Riyanto, Bambang. “Dasar- Dasar Pembelanjaan Perusahaan”. Yogyakarta :
        Yayasan Penerbit Gajah Mada, 1998.

Rodoni, Ahmad dan Nasaruddin, Indo Yama, “Modul Manajemen Keuangan”,
      Jakarta : Bab IX Capital Sstructure and Leverage, 2007.

Sholihah, Maratush. Engujian Empiris Balance Theory, Pecking Order Theory
        dan Signaling Theory pada Struktur Modal Perusahaan di Indonesia”.
        Skripsi S1 FEIS UIN Syarif Hidayatullah. 2006.

Sudana, I Made, dan Wiayaningrum, M Enny, “Analisis Kebijakan Investasi
        Modal Kerja Hubungannya dengan Profitabilitas pada Kondisi Ekonomi
        SebelumKrisis dan Masa Krisis”, Majalah Ekonomi, Fak. Ekonomi
        Unair dan Fak. Ekonomi Ubhara, 2003.

Sudarmadji, Ardi Murdoko dan Sularto, Lana, “Pengaruh Ukuran Perusahaan,
      Profitabilitas, Leverage, dan Tipe Kepemilikan Perusahaan Terhadap luas
      Voluntary disclosure laporan Keuangan Tahunan”, Proceeding PESAT
      (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitek dan Sipil), Auditorium Kampus
      Gunadarma, 2007.

Suhartoro, “Pengaruh Insider Ownership Net Organizational Capital dan Risiko
       Pasar terhadap Kebijakan Dividen”, Yogyakarta : Tesis S2, Universitas
       Gajah Mada, 2002.

Sujoko,”Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Lverage,Faktor Intern dan
        Faktor Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan.
        Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan Vol. 9 no. 1, Surabaya :
        Universitas Kristen petra, 2007.

Suranta, Eddy, dan Pratana P. Midiastuti, ”Analisis Hubungan Kepemilikan
       Manajerial, Nilai Perusahaan, dan Investasi dengan Model Persamaan
       Linier Simultan”, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.6, No.1. 2003.

Utami, Sih Widhi. “Asosiasi Investment Opportunity Set dengan Kebijakan
       Pendanaan, Kebijakan Dividen, dan Implikasinya pada Perubahan
       Harga Saham”. Simposium Nasional Akuntansi, IAI. 2006.

Wahyudi, Untung, dan Hartini P.Pawesti, “Implikasi Struktur Keuangan
     Terhadap Nilai Perusahaan : Dengan Keputusan Keuangan Sebagai
     Variabel Intervening”, Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang. 2006.




                                                                         131

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2169
posted:3/28/2010
language:Indonesian
pages:131
About Cuek..cool...apa adanya dan setia...