DOA MENUJU SUNTER PODOMORO by jumanb

VIEWS: 212 PAGES: 2

More Info
									DOA MENUJU SUNTER PODOMORO
Oleh: Jum’an

Murottal surat yasin di hape saya berdurasi seperempat jam, kira-kira sejarak
dari Kebonkacang sampai ke perempatan Senen dipagi hari jam delapanan.
Sejak duduk dimobil dan saya on-kan, saya komat-kamit mengkuti bacaan itu
sambil sedapat mungkin mengingat artinya dan mengharapkan pahalanya. Tidak
sedikit godaannya terutama kalau setir sendiri. Mengulurkan gopek diputeran,
gadis cantik menyeberang, rem dan gas menghindari motor yang berseliweran,
tukang koran dan peminta-minta. Kadang-kadang saya merasa pesimis seberapa
manfaat dan pahala untuk saya. Tetapi begitu hampir tiap hari saya kerjakan.

Ketika berakhir di perempatan Senen, saya berdoa semoga seandainya ada
pahala yang saya terima, arwah kedua kakak perempuan saya juga memperoleh
kebaikan yang sama. Untuk arwah kedua orang tua, saya doakan tersendiri.

Saya masih punya waktu setengah jam antara underpass depan pasar Senen,
melewati jalan Utan Panjang sampai ke tepi danau Sunter untuk bermohon-
mohon atau menyampaikan puji-pujian. Saya harus mendahulukan mana yang
saya anggap penting. Nanti didepan Vihara Budha 200 meter sebelum kantor,
doa-doa sudah harus saya hentikan selesai atau belum selesai. Dari sana saya
hanya akan membaca pujian yang ringan dilidah tetapi berat dalam timbangan
yaitu: Subhanaalloh Walhamdulillah wal Ilaha illalloh wallohu akbar, teruuus
samapai kekantor.

Yang paling penting, yang sering saya ingat adalah jangan sampai saya dipanggil
sebelum dosa-dosa saya diampuni. Oleh karena itu saya baca astaghfirulloh
lengkap beberapa kali. Lalu umur, kesehatan dan rizki. KepadaNya yang telah
bersabda kun fayakun dan yang ditanganNya digenggam segala urusan, saya
mohon dipanjangkan umur, dimudahkan urusan dan dimurahkan rizki terutama
dihari rambut sudah memutih dan tulang-tulang sudah melemah ini.

Agar saya tidak ditolak oleh lingkungan, kepadaNya yang telah melunakkan besi
bagi Sulaiman dan mendinginkan api bagi Ibrahim, saya bermohon agar hati
orang-orang disekitar saya dingin dan damai terhadap saya. Biasanya doa ini
saya ucapkan didekat-dekat masjid yang tidak pernah selesai dibangun
disimpang empat Haji Jiung yang ramai dan semrawut itu.

Kadang-kadang ketika sinar pagi sangat cerah saya teringat untuk megucapkan
bahwa duha ini, kemegahan ini, keindahan dan kekuatan ini semua milik Alloh.
Kalau rizkiku ada dilangit tolong turunkan, kalau didalam bumi tolong keluarkan
kalau sulit tolong mudahkan, wahai pemilik sinar pagi duha ini. Asmaul husna
yang saya ingatpun saya baca dengan harapan dapat kecipratan hikmahnya.
Selangkah sebelum masuk pintu kantor saya baca doa pamungkas: Hasbialloh
wani’mal wakiil. Terserah dan pasrah.

Sebenarnya berangkat kantor bukanlah waktu yang tepat untuk berdoa, kalau
saja sehabis maghrib tidak lunglai kelelahan dan solat subuh tidak kesiangan.
Entah bagaimana caranya membela diri, tetapi untuk saya yang tidak pandai
mengatur waktu, berangkat kantor adalah prime time, masih segar rasa habis
mandi, pikiran cerah, konsentrasi masih focus. Daripada mengisinya dengan
yang lain saya rasa paling tepat justru untuk berdoa.

Tetapi manusia tetap manusia. Doa yang sering diucapkan menjadi verbalistis,
kehilangan arti dan kosong. Lagi pula yang saya tulis diatas itu belum tentu saya
jalani terus dengan istiqomah. Yah sekedar berbagi, bahwa ada juga orang yang
model beginian.

								
To top