Docstoc
EXCLUSIVE OFFER FOR DOCSTOC USERS
Try the all-new QuickBooks Online for FREE.  No credit card required.

Makalah tentang ILmu

Document Sample
Makalah tentang ILmu Powered By Docstoc
					                                    BAB I
                                Pendahuluan




A. Latar Belakang
      Open Source Software menjadi sangat menarik dan dianggap sebagai
   fenomena baru dari keseluruhan ruang lingkup Teknologi Informasi. Fenomena
   Open Source Software bukan cerita baru maskipun beberapa tahun belakangan ini,
   hal ini target media masa.
      Dampak dari teknologi Open Source diharapkan mendapat perhatian dari
   industry software, dan dalam lingkungan keseluruhan. Banyak orang percaya
   bahwa dampak dari Open Source Software dalam industri teknologi Informasi dan
   lingkungan pada umumnya akan membesar.
      Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas,maka kami mengajukan tema
   makalah mengenai ” Free Software / Open Source Software”.


B. Perumusan Masalah
      Dalam penulisan ini kami akan membahas hal - hal yang berhubungan dengan
   Open Source seperti :
      1. Sejarah dari munculnya Open Source Software
      2. Definisi dari Open Source Software
      3. Keuntungan dan kerugian dari Open Source Software
      4. Lisensi dari Open Source Software
      5. Intelektual property Open Source
1.SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ILMU
       Filsafat ilmu berkembang dari masa ke masa sejalan dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta realitas sosial. Dimulai dengan aliran
rasionalisme-emprisme , kemudian kritisisme dan positivisme.
                       Rasionalisme adalah paham yang menyatakan kebenaran
               haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan dan analisis yang
               berdasarkan fakta. Paham ini menjadi salah satu bagian dari
               renaissance atau pencerahan dimana timbul perlawanan terhadap
               gereja yang menyebar ajaran dengan dogma-dogma yang tidak bisa
               diterima oleh logika. Filsafat Rasionalisme sangat menjunjung tinggi
               akal sebagai sumber dari segala pembenaran. Segala sesuatu harus
               diukur dan dinilai berdasarkan logika yang jelas. Titik tolak
               pandangan ini didasarkan kepada logika matematika. Pandangan ini
sangat popular pada abad 17. Tokoh-tokohnya adalah Rene Descartes (1596-1650),
Benedictus de Spinoza – biasa dikenal: Barukh Spinoza (1632-1677), G.W. Leibniz
(1646-1716), Blaise Pascal (1623-1662).
                          Empirisisme adalah pencarian kebenaran melalui
                  pembuktian-pembukitan indrawi. Kebenaran belum dapat
                  dikatakan kebenaran apabila tidak bisa dibuktikan secara indrawi,
                  yaitu dilihat, didengar dan dirasa. Francis Bacon (1561-1624)
                  seorang filsuf Empirisme pada awal abad Pencerahan menulis
                  dalam salah satu karyanya Novum Organum: Segala kebenaran
                  hanya diperoleh secara induktif, yaitu melalui pengalamn dan
                  pikiran yang didasarkan atas empiris, dan melalui kesimpulan dari
hal yang khusus kepada hal yang umum. Empirisisme muncul sebagai akibat
ketidakpuasan terhadap superioritas akal. Paham ini bertolak belakang dengan
Rasionalisme yang mengutamakan akal. Tokoh-tokohnya adalah John Locke (1632-
1704); George Berkeley (1685-1753); David Hume (1711-1776). Kebenaran dalam
Empirisme harus dibuktikan dengan pengalaman. Peranan pengalaman menjadi
tumpuan untuk memverifikasi sesuatu yang dianggap benar. Kebenaran jenis ini juga
telah mempengaruhi manusia sampai sekarang ini, khususnya dalam bidang Hukum
dan HAM.
        Kedua aliran ini dibedakan lewat caranya untuk mencari kebenaran
rasionalisme didominasi akal sementara empirisisme didominasi oleh pengalaman
dalam pencarian kebenaran. Kedua aliran ini secara ekstrim bahkan tidak mengakui
realitas di luar akal, pengalaman atau fakta. Superioritas akal menyebabkan agama
dilempar dari posisi yang seharusnya. Agama didasarkan pada doktrin-dokrtin yang
tidak bisa diterima oleh rasio sehingga tidak diterima oleh para pemegang paham
rasionalisme dan empirisisme. Bukan berarti dogma yang diajarkan agama itu tidak
benar, tapi rasio manusia masih terbatas untuk menguji kebenaran dogma Tuhan.
Munculah aliran kritisisme sebagai jawaban dari rasionalisme dan empirisisme untuk
               menyelamatkan agama.
                      Kritisisme merupakan filsafat yang terlebih dahulu menyelidiki
              kemampuan dan batas-batas rasio sebelum melakukan pencarian
              kebenaran. Tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah Immanuel Kant
              (1724-1804). Filsafatnya dikenal dengan Idealisme Transendental atau
              Filsafat Kritisisme. Menurutnya, pengetahuan manusia merupakan
sintesa antara apa yang secara apriori sudah ada dalam kesadaran dan pikiran dengan
impresi yang diperoleh dari pengalaman (aposteriori).
        Filsafat positivisme membatasi kajian filsafat ke hal-hal yang dapat di
justifikasi (diuji) secara empirik. Hal-hal tersebut dinamakan hal-hal positif.
Positivisme digunakan untuk merumuskan pengertian mengenai relaita sosial dengan
Penjelasan ilmiah, prediksi dan control seperti yang dipraktekan pada fisika, kimia,
dan biologi. Tahap penelitian positivisme dimulai dengan pengamatan, percobaan,
generalisasi, produksi, manipulasi.
Krisis Sains
         Perkembangan sains sampai ke abad 20 membawa manusia ke tingkat yang
lebih tinggi pada kehidupannya. Level pemahaman terhadap alam mencapai tingkat
level yang lebih tinggi. Pengamatan alam sudah sampai ke level mikroskopis, ternyata
pengamatan pada level mikroskopis mementahkan hukum-hukum fisika yang pada
saat itu menajdi pijakan ilmu fisika. Hukum-hukum fisika klasik seperti mekanika dan
gravitasi dimentahkan oleh perilaku elektron dan proton yang acak tapi teratur.
Penemuan-penemuan baru pada bidang fisika pada level mikroskopis merubah
pandangan ilmuwan pada saat itu mengenai alam secara keseluruhan. Tenyata sains
merupakan ilmu yang tidak pasti, ada ketidakpastian dalam kepastian terutama pada
level mikroskopis dimana ketidakpastian itu semakin besar. Pada masa ini terjadi
pergeseran paradigma dari paradigma Newtonian ke paradigm pos Newtonian.
Perubahan paradigma ini merupakan revolusi pada bidang fisika, yang melahirkan
tokoh-tokoh baru seperti Einstein dan Heisenberg


                                                              Paradigma Pos
          Objek               Paradigma Newtonian
                                                                Newtonian

          Alam                        Mesin                   Sistem / jaringan

      Ruang, waktu              Datar, tak berbatas       Melengkung, tak berbatas
     Kekuatan alam            Determenistik, realistik      Indeterministik, anti-
                                                                  realistik
        Werner Heisenberg mengajukan teori ketidakpastian yang menyatakan tidak
mungkin mengukur secara teliti suatu partikel secara stimultan dalam ruang dan
waktu. Teori ini bukan hanya menjungkirbalikan teori fisika klasik yang
dikembangkan oleh Newton, namun juga mengubah cara pandang berbagai disiplin
ilmu terhadap sifat alam yang tadinya dianggap determentstik (dapat ditentukan)
menjadi indeterminsitik (tidak dapat ditentukan). Teori ini menjadi landasan fisika
kuantum. Perubahan paradigma terhadap alam mengubah arah perkembangan
teknologi. Namun perkembangan teknologi yang revolusioner malah menjadi petaka
bagi seluruh umat manusia, puncaknya ketika Albert Einstein menemukan bom atom
dan digunakan oleh manusia untuk menghancurkan kota Hirosima dan Nagasaki.
Dunia terkejut oleh kemampuan sains yang bukan hanya memudahkan manusia,
namun juga menghancurkan. Pada tahap ini mulai dipertanyakan peranan sains dalam
menuju kehidupan manusia yang lebih baik. Kritik mulai dilontarkan terhadap sains
karena ternyata kemajuan sains belum tentu memajukan kemanusiaan di muka bumi.
        Sains memiliki tiga sifat utama yaitu netral, humanistik dan universal. Namun
pada perkembangannya ternyata sains tidak netral, humanistik dan universal. Sains
sangat tergantung pada kondisi ekonomi, sehingga pemilik modal dapat mengarahkan
perkembangan sains. Pada masa perang dunia II sains memberi kontribusi besar pada
kematian umat manusia lewat penemuan senjata pemusnah masal. Sains juga
kehilangan sifat netralnya karena pengembangan sains sangat tergantung dari pemilik
modal. Sains berpihak kepada pemilik modal.
       Sains bersifat humanistik yaitu manusia sebagai pusat dari segalanya. Ternyata
pandangan ini malah menghancurkan manusia. Kemajuan sains seiring dengan
kemajuan teknologi. Teknologi sangat menguntungkan manusia karena bersifat
memudahkan. Teknologi membutuhkan sumber daya yang diambil dari alam dan
teknologi juga menghasilkan limbah yang sulit diuraikan aoleh sistem alam.
Eksploitasi sumber daya alam berlebih mengakibatkan keseimbangan lingkungan
terganggu yang menjadikan Bumi rentan terhadap bencana. Limbah hasil industri
diketahui berbahaya bagi manusia, sehingga menimbulkan kanker yang membunuh
jutaan manusia tiap tahunnya.
      Sains hanya alat untuki mencapai sesuatu, namun dasar motivasi untuk
mencapai suatu hal adalah hal yang berbeda. Akal budi lebih berperan untuk
menentukan arah tujuan sains tersebut. Perkembangan dari sains seharusnya diikuti
dengan perkembangan akal budi agar tercipta kehidupan manusia yang lebih baik.
2. Ilmu dan Pengalaman Pra Ilmiah
        Pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang diketahui langsung dari
pengalaman, berdasarkan panca indra, dan diolah oleh akal budi secara spontan. Pada
intinya, pengetahuan bersifat spontan, subjektif dan intuitif. Pengetahuan berkaitan
erat dengan kebenaran, yaitu kesesuaian antara pengetahuan yang dimiliki manusia
dengan realitas yang ada pada objek.
        Pengetahuan dapat dibedakan menjadi pengetahuan non-ilmiah dan
pengetahuan pra-ilmiah. Pengetahuan non-ilmiah adalah hasil serapan indra terhadap
pengalaman hidup sehari-hari yang tidak perlu dan tidak mungkin diuji kebenarannya.
Pengetahuan non-ilmiah tidak dapat dikembangkan menjadi pengetahuan ilmiah.
Misalnya pengetahuan orang tertentu tentang jin atau makhluk halus di tempat
tertentu, keampuhan pusaka, dan lain-lain. Pengetahuan prailmiah adalah hasil
serapan indra dan pemikiran rasional yang terbuka terhadap pengujian lebih lanjut
menggunakan metode-metode ilmiah. Misalnya pengetahuan orang tentang manfaat
rebusan daun jambu biji untuk mengurangi gejala diare.
        Ilmu (sains) berasal dari Bahasa Latin scientia yang berarti knowledge. Ilmu
dipahami sebagai proses penyelidikan yang berdisiplin. Ilmu bertujuan untuk
meramalkan dan memahami gejala-gejala alam. Ilmu pengetahuan ialah pengetahuan
yang telah diolah kembali dan disusun secara metodis, sistematis, konsisten dan
koheren. Agar pengetahuan menjadi ilmu, maka pengetahuan tadi harus dipilah
(menjadi suatu bidang tertentu dari kenyataan) dan disusun secara metodis, sistematis
serta konsisten. Tujuannya agar pengalaman tadi bisa diungkapkan kembali secara
lebih jelas, rinci dan setepat-tepatnya.
       Metodis berarti dalam proses menemukan dan mengolah pengetahuan
menggunakan metode tertentu, tidak serampangan. Sistematis berarti dalam usaha
menemukan kebenaran dan menjabarkan pengetahuan yang diperoleh, menggunakan
langkah-langkah tertentu yang teratur dan terarah sehingga menjadi suatu keseluruhan
yang terpadu. Koheren berarti setiap bagian dari jabaran ilmu pengetahuan itu
merupakan rangkaian yang saling terkait dan berkesesuaian (konsisten). Sedangkan
suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu
pengetahuan disebut penelitian (research). Usaha-usaha itu dilakukan dengan
menggunakan metode ilmiah.
Ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah dapat dibedakan atas:
   1. Ilmu Pengetahuan Fisis-Kuantitatif, sering disebut pengetahuan empiris.
      Pengetahuan ini diperoleh melalui proses observasi serta analisis atas data dan
      fenomena empiris. Termasuk dalam kelompok ilmu ini adalah geologi,
      biologi, antropologi, sosiologi, dan lain-lain.
   2. Ilmu Pengetahuan Formal-Kualitatif, sering disebut pengetahuan matematis.
      Ilmu ini diperoleh dengan cara analisis refleksi dengan mencari hubungan
      antara konsep-konsep. Termasuk dalam kelompok ilmu ini adalah logika
      formal, matematika, fisika, kimia, dan lain-lain.
   3. Ilmu Pengetahuan Metafisis-Substansial, sering disebut pengetahuan filsafat.
      Pengetahuan filsafat diperoleh dengan cara analisis refleksi (pemahaman,
       penafsiran, spekulasi, penilaian kritis, logis rasional) dengan mencari hakikat
       prinsip yang melandasi keberadaan seluruh kenyataan.

Pengertian Metode Ilmiah
       Metode Ilmiah merupakan suatu cara sistematis yang digunakan oleh para
ilmuwan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Metode ini menggunakan
langkah-langkah yang sistematis, teratur dan terkontrol. Pelaksanaan metode ilmiah
ini melalui tahap-tahap berikut:
   1. Merumuskan masalah. Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan, yang
      dapat muncul karena adanya pengamatan dari suatu gejala-gejala yang ada di
      lingkungan.
   2. Mengumpulkan keterangan, yaitu segala informasi yang mengarah dan dekat
      pada pemecahan masalah. Sering disebut juga mengkaji teori atau kajian
      pustaka.
   3. Merumuskan hipotesis. Hipotesis merupakan jawaban sementara yang disusun
      berdasarkan data atau keterangan yang diperoleh selama observasi atau telaah
      pustaka.
   4. Menguji hipotesis dengan melakukan percobaan atau penelitian.
   5. Menganalisis data (hasil) percobaan untuk menghasilkan kesimpulan.
   6. Penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan ini berdasarkan pada analisis
      data-data penelitian. Hasil penelitian dengan metode ini adalah data yang
      objektif, tidak dipengaruhi subyektifitas ilmuwan peneliti dan universal
      (dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja akan memberikan hasil yang
      sama).
   7. Menguji kesimpulan. Untuk meyakinkan kebenaran hipotesis melalui hasil
      percobaan perlu dilakukan uji ulang. Apabila hasil uji senantiasa mendukung
      hipotesis maka hipotesis itu bisa menjadi kaidah (hukum) dan bahkan menjadi
      teori.

        Metode ilmiah didasari oleh sikap ilmiah. Sikap ilmiah semestinya dimiliki
oleh setiap penelitian dan ilmuwan. Adapun sikap ilmiah yang dimaksud adalah :
   1. Rasa ingin tahu
   2. Jujur (menerima kenyataan hasil penelitian dan tidak mengada-ada)
   3. Objektif (sesuai fakta yang ada, dan tidak dipengaruhi oleh perasaan pribadi)
   4. Tekun (tidak putus asa)
   5. Teliti (tidak ceroboh dan tidak melakukan kesalahan)
   6. Terbuka (mau menerima pendapat yang benar dari orang lain)

Penelitian Ilmiah
        Salah satu hal yang penting dalam ilmu pengetahuan adalah penelitian
(research). Research berasal dari kata re yang berarti kembali dan search yang berarti
mencari, sehingga research atau penelitian dapat didefinisikan sebagai suatu usaha
untuk mengembangkan dan mengkaji kebenaran suatu pengetahuan. Penelitian ilmiah
didefinisikan sebagai rangkaian pengamatan yang sambung menyambung,
berakumulasi dan melahirkan teori-teori yang mampu menjelaskan dan meramalkan
fenomena-fenomena.
        Penelitian ilmiah sering diasosiasikan dengan metode ilmiah sebagai tata cara
sistimatis yang digunakan untuk melakukan penelitian. Penelitian ilmiah juga menjadi
salah satu cara untuk menjelaskan gejala-gejala alam. Adanya penelitian ilmiah
membuat ilmu berkembang, karena hipotesis-hipotesis yang dihasilkan oleh penelitian
ilmiah seringkali mengalami retroduksi.
       Suatu penelitian harus memenuhi beberapa karakteristik untuk dapat dikatakan
sebagai penelitian ilmiah. Umumnya ada empat karakteristik penelitian ilmiah, yaitu :
   1. Sistematik, yang berarti suatu penelitian harus disusun dan dilaksanakan
      secara berurutan sesuai pola dan kaidah yang benar, dari yang mudah dan
      sederhana sampai yang kompleks.
   2. Logis. Suatu penelitian dikatakan benar bila dapat diterima akal dan
      berdasarkan fakta empirik. Pencarian kebenaran harus berlangsung menurut
      prosedur atau kaidah bekerjanya akal, yaitu logika. Prosedur penalaran yang
      dipakai bisa prosedur induktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan
      umum dari berbagai kasus individual (khusus) atau prosedur deduktif yaitu
      cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan
      yang bersifat umum.
   3. Empirik, artinya suatu penelitian biasanya didasarkan pada pengalaman
      sehari-hari (fakta aposteriori, yaitu fakta dari kesan indra) yang ditemukan
      atau melalui hasil coba-coba yang kemudian diangkat sebagai hasil penelitian.
      Landasan penelitian empirik ada tiga yaitu :a). Hal-hal empirik selalu
      memiliki persamaan dan perbedaan (ada penggolongan atau perbandingan satu
      sama lain). b). Hal-hal empirik selalu berubah-ubah sesuai dengan waktu. c).
      Hal-hal empirik tidak bisa secara kebetulan, melainkan ada penyebabnya (ada
      hubungan sebab akibat).
   4. Replikatif. Artinya suatu penelitian yang pernah dilakukan harus diuji kembali
      oleh peneliti lain dan harus memberikan hasil yang sama bila dilakukan
      dengan metode, kriteria, dan kondisi yang sama. Agar bersifat replikatif,
      penyusunan definisi operasional variabel menjadi langkah penting bagi
      seorang peneliti.

       Sains, suatu proses yang bekerja dengan metode ilmiah, telah banyak
memperbaiki pandangan-pandangan manusia. Salah satu keberhasilan itu adalah
koreksi atas teori generasi spontan yang telah ada sejak jaman pertengahan. Teori ini
menganggap bahwa makhluk hidup berasal dari makhluk tak hidup. Contohnya, katak
muncul dari lumpur, serangga dari sisa makanan, kain kotor yang ditaburi gandum
dapat memunculkan tikus, dan belatung berasal dari daging. Setelah bekerja keras
melalui penelitian yang panjang, Louis Pasteur, seorang ilmuwan kenamaan Prancis,
mengumumkan kesimpulannya yang menggugurkan teori generasi spontan maupun
teori evolusi Charles Robert Darwin.
        Pasteur mengungkapkan hal berikut: ”Dapatkah materi melakukan
pembentukan dirinya sendiri? Tidak! Sampai saat ini tidak ada faktor-faktor yang
dengannya orang dapat membuktikan adanya makhluk hidup-makhluk hidup
mikroskopis yang dapat hidup di bumi tanpa adanya induk yang menyerupai
sebelumnya.”Penemuan-penemuan dibidang sains memperbaiki teknologi. Sementara
itu, kemajuan teknologi menunjang pencapaian penelitian.
3. Pertumbuhan Masyarakat Berilmu
      Di Indonesia sudah beberapa tahun terakhir ini dibicarakan masalah era
informasi. Bahwa begitu banyak publikasi beredar di berbagai belahan dunia ini,
sehingga terjadi ledakan informasi dan timbul istilah era informasi. Itulah yang
banyak dituliskan orang dalam berbagai publikasi. Kemudian bagaimana era
informasi itu berpengaruh pada masyarakat Indonesia ?
Dalam sebuah masyarakat informasi, ada aliran bebas dari komunikasi dua arah
diantara pemerintah dan rakyatnya, diantara rakyatnya sendiri. Dalam sebuah
masyarakat yang demikian, setiap orang diinformasikan kejadian-kejadian mutakhir,
terutama yang mempunyai akibat langsung terhadap mereka, dan setiap orang
mempunyai kemampuan untuk membuat suara mereka didengar. Karena itu, setiap
orang mempunyai suara dalam pembentukan rencana-rencana sosio-ekonomis dan
berbagai strategi dalam hal-hal yang berkaitan secara nasional (Rahim, 2004). Masih
menurut Rahim (2004), masyarakat informasi telah diciptakan merujuk kepada
komunitas dimana ada kesiapan untuk mengakses informasi dan pengetahuan, menuju
kepada kesempatan yang berkelanjutan dan berkeadilan untuk pertumbuhan dan
kemajuan.
Dari pernyataan Rahim berkaitan dengan masyarakat informasi tersebut, terlihat jelas
masyarakat Indonesia belum bisa dikatakan masyarakat informasi. Seringkali suara
rakyat tidak didengar, bahkan masih banyak yang tidak tahu bahwa mereka itu
mempunyai hak untuk didengar suaranya dalam memutuskan nasib mereka. Begitu
juga dengan kesiapan untuk mengakses informasi dan pengetahuan, masih sangat
banyak rakyat Indonesia yang buta informasi. Perpustakaan umum dan perpustakaan
jenis lainnya masih sepi dari pengunjung, disamping memang koleksi perpustakaan
tersebut banyak yang tidak menarik minat masyarakat, dan perpustakaan pun tidak
mempromosikan layanan yang bisa diberikan kepada masyarakat. Pada umumnya
perpustakaan perguruan tinggi yang cukup banyak dimanfaatkan oleh pengguna,
itupun karena mahasiswa harus menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen.
Begitu juga dengan oplah surat kabar di Indonesia masih rendah, dibandingkan
dengan jumlah rakyat Indonesia. Jadi masih banyak rakyat yang tidak mempunyai
pengetahuan tentang apa yang terjadi di sekitar mereka. Berbicara mengenai akses
masyarakat terhadap pengetahuan secara formal, artinya akses masyarakat terhadap
pendidikan, kondisinya pun tidak jauh berbeda. Bahkan akses masyarakat terhadap
pendidikan formal semakin parah, apa lagi setelah terjadinya krisis multidimensi yang
melanda Indonesia berkepanjangan. Semakin banyak anak-anak yang putus sekolah
dan menjadi buruh dengan bayaran yang murah, atau bahkan berkeliaran di jalan
menjadi pengamen atau pengemis.
Sementara itu bila kita browsing internet atau membaca buku dan artikel dari luar
negeri, terutama negara-negara maju, banyak dibicarakan knowledge worker,
knowledge society, dan knowledge economy. Makalah ini akan difokuskan kepada
knowledge society, walaupun ada sedikit penjelasan akan kaitannya dengan istilah
yang lain itu.
Apakah Knowledge Society itu ?
Menurut Drucker (1994), knowledge society adalah sebuah masyarakat dari berbagai
organisasi dimana secara praktis setiap tugas tunggal akan dilakukan dalam dan
melalui sebuah organisasi. Ciri-ciri masyarakat berpengetahuan adalah:
· Mempunyai kemampuan akademik
· Berpikir kritis
· Berorientasi kepada pemecahan masalah
· Mempunyai kemampuan untuk belajar meninggalkan pemikiran yang lama-lama dan
belajar lagi untuk hal-hal yang baru
· Mempunyai keterampilan pengembangan individu dan sosial (termasuk kepercayaan
diri, motivasi, komitmen terhadap nilai-nilai moral dan etika, pengertian secara luas
akan masyarakat dan dunia) (Manuwoto, 2005)
Dalam masyarakat berpengetahuan, bukanlah individu yang berkinerja, tetapi
organisasi yang berkinerja. Seorang dokter misalnya, tentu mempunyai banyak
pengetahuan. Tetapi dokter itu tidak dapat berfungsi tanpa pengetahuan yang
diberikan oleh disiplin ilmu lainnya, yaitu fisika, kimia, genetika, dan lain sebagainya.
Dokter itu tidak dapat berfungsi tanpa hasil-hasil tes yang dilakukan oleh para ahli
laboratorium tes darah, X-ray (rontgen), scanning otak, dan lain-lain. Di sisi lain,
berbagai keahlian tertentu, seperti seorang dokter bedah syaraf, contoh dari
knowledge worker, hanya bisa dihasilkan dari sekolah formal. Dengan demikian
pendidikan menjadi pusat dari masyarakat berpengetahuan dan sekolah merupakan
institusi kuncinya. Pernyataan itu diperkuat oleh Noel Dempsey (Minister for
Education and Science, Ireland, 2004) bahwa untuk bisa kompetitif dalam ekonomi
berpengetahuan global (global knowledge economy), semua pengambil keputusan
untuk publik harus fokus pada pendidikan sebagai faktor kunci dalam memperkuat
daya saing, lapangan kerja dan keterpaduan sosial. Drucker (1994) memperkuat
kesimpulan itu dengan menyatakan bahwa pekerja berpengetahuan lebih mempunyai
kesempatan memperoleh akses terhadap pekerjaan dan posisi sosial melalui
pendidikan formal (Drucker, 1994).
Tujuan utama dari pendidikan adalah untuk memberikan kepada setiap orang
kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya sampai maksimum, baik sebagai
individu maupun sebagai seorang anggota masyarakat. Seorang yang berpendidikan
akan menjadi seseorang yang telah belajar bagaimana untuk belajar, dan keseluruhan
masa kehidupannya terus belajar, terutama masuk dan keluar dari pendidikan formal
(Drucker, 1994).
Transformasi dari struktur masyarakat yang ada, dengan pengetahuan sebagai sumber
daya utama untuk pertumbuhan ekonomi, lapangan pekerjaan dan sebagai faktor dari
produksi, merupakan basis untuk menandai masyarakat modern yang maju sebagai
sebuah "masyarakat berpengetahuan." Dalam sebuah masyarakat berpengetahuan
ukuran-ukuran lama dalam persaingan seperti biaya tenaga kerja, sumbangan sumber
daya dan infrastruktur digantikan oleh dimensi-dimensi seperti paten, penelitian dan
pengembangan, serta ketersediaan pekerja berpengetahuan.
Untuk masyarakat berpengetahuan, jelas semakin banyak dibutuhkan penguasaan
pengetahuan, terutama pengetahuan tingkat lanjut. Pengetahuan itu dibutuhkan oleh
orang-orang yang pasca usia sekolah, dan kebutuhan itu terus meningkat, di dalam
dan melalui proses pendidikan yang tidak berpusat pada sekolah tradisional, tetapi
pendidikan berkelanjutan yang sistematik yang ditawarkan pada tempat bekerja.
Dalam masyarakat berpengetahuan, akses terhadap kepemimpinan terbuka untuk
semua orang. Akses terhadap kemahiran dari pengetahuan tidak lagi tergantung
kepada perolehan pendidikan yang ditentukan pada usia tertentu. Pembelajaran akan
menjadi alat dari individu yang tersedia baginya pada usia berapa pun, karena begitu
banyak keterampilan dan pengetahuan dapat diperoleh dengan cara-cara pemanfaatan
teknologi pembelajaran baru. Implikasi lainnya adalah bahwa kinerja dari seorang
individu, sebuah organisasi, sebuah industri atau sebuah negara dalam perolehan dan
penerapan pengetahuan akan meningkat menjadi faktor kunci persaingan untuk
berkarir dan memperoleh kesempatan dari para individu untuk berkinerja. Masyarakat
berpengetahuan akan tak terelakkan menjadi jauh lebih kompetitif daripada
masyarakat di masa-masa yang lalu. Dengan pengetahuan yang dapat diakses secara
universal tidak ada alasan untuk tidak berkinerja. Tidak akan ada negara-negara
miskin. Hanya akan ada negara-negara yang terabaikan.
Pusat kekuatan tenaga kerja dalam masyarakat berpengetahuan akan terdiri dari
orang-orang dengan spesialisasi yang tinggi. Dalam dunia kerja berpengetahuan,
orang-orang dengan pengetahuan mempunyai tanggung jawab untuk membuat dirinya
dimengerti oleh orang-orang yang tidak mempunyai basis pengetahuan yang sama.
Sebenarnya investasi dalam masyarakat berpengetahuan bukanlah dalam mesin-mesin
dan peralatan. Tetapi dalam pengetahuan dari pekerja berpengetahuan. Tanpa itu,
mesin-mesin yang sangat maju dan canggih, tidak akan produktif.
Pengetahuan dalam masyarakat berpengetahuan haruslah sangat mempunyai
spesialisasi untuk menjadi produktif. Ini mengakibatkan dua persyaratan baru: 1.
pekerja berpengetahuan bekerja dalam kelompok-kelompok; dan 2. pekerja
berpengetahuan harus mempunyai akses terhadap sebuah organisasi yang, dalam
kebanyakan kasus, artinya pekerja berpengetahuan harus menjadi pekerja dari sebuah
organisasi.
Karena masyarakat berpengetahuan mensyaratkan sebuah masyarakat dari berbagai
organisasi, yang organ sentral dan khususnya adalah manajemen. Semua organisasi
itu membutuhkan manajemen apakah mereka menggunakan istilah itu atau tidak.
Semua manajer mengerjakan hal yang sama apa pun bisnis dari organisasi mereka.
Para manajer itu harus membawa orang-orang yang masing-masing mempunyai
pengetahuan yang berbeda, bersama untuk berkinerja bersama. Intisari dari
manajemen adalah membuat pengetahuan menjadi produktif (Drucker, 1994).
Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi
Fakta yang terjadi sekarang ini bahwa negara-negara industri menjadi masyarakat
berbasis pengetahuan. Timbul pertanyaan tentang peran teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) dalam membangun "masyarakat berpengetahuan" yang inovatif
dalam dunia yang berkembang. Sebuah kesimpulan sentral adalah bahwa TIK dapat
memberikan kontribusi utama terhadap pengembangan berkelanjutan, tetapi peluang
ini akan diikuti oleh resiko utama. Sebagai contoh, negara-negara yang sangat lamban
perkembangannya menghadapi resiko yang besar dari keterasingan karena mereka
sering kurang kemampuan sosial dan ekonomi yang dibutuhkan untuk mengambil
kelebihan dari inovasi dalam TIK. Negara-negara berkembang perlu mencari jalan
untuk mengkombinasikan kompetensi mereka dalam teknologi dan sosial yang ada,
jika mereka ingin mengambil keuntungan dari banyak kelebihan potensial dari TIK.
Pengembangan berbasis pengetahuan adalah sebuah proses yang kompleks dalam
mengkombinasikan unsur-unsur teknologi dan sosial (termasuk kompetensi sumber
daya manusianya) dalam cara yang produktif, untuk menciptakan infrastruktur
informasi nasional. Berbagai strategi untuk membangun infrastruktur informasi
nasional haruslah lebih daripada pernyataan-pernyataan tentang apa yang harus
dilakukan. Para pengambil keputusan harus berorientasi pada aksi dan dibiayai
dengan tepat.
Untuk negara-negara berkembang, membangun "masyarakat berpengetahuan" yang
inovatif melibatkan berbagai inisiatif dalam dua area utama - pembangunan
infrastruktur TIK yang pokok, dan penciptaan kondisi-kondisi yang akan mendorong
pembangunan berbagai kompetensi sosial dalam bidang-bidang tertentu. Indonesia
sebagai negara agraris justru masih minim dalam penyediaan informasi dan
pengetahuan praktis dan strategis yang relevan dengan bidang pertanian. Padahal
untuk mengangkat masyarakat agraris (petani) konvensional menjadi petani
berpengetahuan adalah dengan penyediaan sistem repositori pengetahuan yang mudah
dan merata dijangkau oleh masyarakat. Disini peran TIK dapat didayagunakan untuk
tujuan pemberdayaan sumberdaya manusia yang berpengatahuan dan profesional
(Seminar 2002, Seminar 2004, Seminar 2005). Level konsumsi informasi dengan
berbagai interaksi dengan melihat, membaca, mendengar, dan berbuat (by seeing,
reading, hearing, and doing) berbasis TIK (Seminar 2002, Seminar 2004) harus
diakomodir melalui perpustakaan. Investasi dalam infrastruktur TIK perlu dilakukan
secara paralel dengan investasi dalam berbagai kompetensi sosial yang timbul dari
infrastruktur sosial dan institusional, termasuk pendidikan dan pengetahuan teknis,
begitu juga dengan institusi-institusi politik, ekonomi, kultural, dan sosial di negara-
negara berkembang. Namun demikian, investasi pada akumulasi teknologi dan
keterampilan tidak menjamin bahwa berbagai strategi untuk membangun "masyarakat
berpengetahuan" yang inovatif akan efektif atau masuk akal.
Banyak kesempatan untuk semua negara di tahun-tahun mendatang untuk
memanfaatkan yang terbaik dari potensi yang ditawarkan oleh TIK dalam mendukung
sasaran pengembangan utama mereka. Hal itu berlaku untuk sasaran pada
peningkatan mutu kehidupan dan keberlanjutan lingkungan di negara-negara industri.
Itu juga berlaku untuk sasaran pada pengurangan kemiskinan dan menyumbang pada
pengembangan berkelanjutan di negara-negara terbelakang dan berkembang.
Pemanfaatan berbagai sarana TIK secara inovatif bisa memberikan titik awal untuk
pengembangan "masyarakat berpengetahuan" secara inovatif.
Peran potensial dari TIK di negara-negara berkembang: 1) TIK merupakan sarana
untuk pengembangan, tetapi penggunaan yang efektif mensyaratkan investasi dari
kombinasi kompetensi sosial dan teknologi; 2) Pemanfaatan TIK akan memberikan
keuntungan terhadap investasi yang jauh lebih baik; 3) Kemampuan untuk
menggerakkan investasi dalam TIK dan pemanfaatannya secara efektif berbeda pada
masing-masing negara berkembang; 4) Idealnya, investasi-investasi tersebut
diusahakan simultan, tetapi bila tidak mungkin, investasi dalam kompetensi sosial
seharusnya diprioritaskan; 5) kemitraan yang baru dibutuhkan sehubungan dengan
berbagai koordinasi, mobilisasi investasi, mengatasi berbagai masalah sosial di
negara-negara berkembang.
Tantangan untuk pengambil keputusan negara berkembang adalah menciptakan
kerangka kebijakan yang membangkitkan, mendukung, dan membebaskan
kemampuan rakyat untuk memanfaatkan TIK untuk menghasilkan pengetahuan dan
sumber daya lainnya yang bermanfaat.
Dimana Peran Perpustakaan ?
Masyarakat Indonesia masih belum mencapai knowledge society. Lihat saja tenaga
kerja Indonesia yang mencari kerja di negara-negara lain, mereka menjadi buruh,
pembantu rumah tangga, supir, bukan knowledge worker. Akibatnya mereka banyak
diperlakukan dengan kasar, tidak adil, bahkan ada yang upahnya tidak dibayar.
Sementara di dalam negeri, pemilihan kepala daerah saja menjadi ajang perkelahian.
Berbagai kekerasan terjadi akibat hasutan dari orang-orang yang tidak bertanggung
jawab. Disamping itu masyarakat masih ditimpa oleh berbagai bencana alam, bencana
penyakit yang banyak memakan korban jiwa. Mengapa semua itu terjadi ? Salah
satunya adalah akibat dari masyarakat kita tidak berpengetahuan, belum menjadi
knowledge society.
Bila tenaga kerja kita sudah menjadi knowledge worker, mereka bisa bekerja di
kantor-kantor dengan upah yang tinggi, menjadi perawat di rumah sakit yang masih
dibutuhkan di berbagai negara dengan bayaran yang tinggi. Bila masyarakat kita
sudah berpengetahuan, mereka tidak mudah dihasut, tidak mudah dirayu dengan
money politic. Mereka memilih para calon kepala daerah dengan kesadaran akan
akibat yang timbul bila mereka memilih orang yang salah. Masyarakat yang
berpengetahuan sudah memiliki informasi gejala-gejala alam sebelum adanya bencana
yang lebih dahsyat. Mereka sudah dapat menjaga lingkungan dengan lebih baik, agar
kesehatan mereka terjaga. Mereka tidak tinggal diam bila pemerintahnya melakukan
hal-hal yang merusak lingkungan, dan pemerintahnya tidak bisa memaksakan
kehendaknya secara semena-mena.
Lalu bagaimana kita membangun masyarakat berpengetahuan di Indonesia ? Menurut
para pakar, salah satu kunci membangun knowledge society adalah melalui
pendidikan. Selain pendidikan formal, masyarakat pun memerlukan pendidikan
berkelanjutan, life long education. Perpustakaan bisa berperan dalam pendidikan
berkelanjutan ini, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah. Yang menjadi
masalah, masyarakat itu belum mengenal bagaimana memanfaatkan perpustakaan.
Mereka juga belum mempunyai kebiasaan membaca. Dengan demikian pustakawan
harus bekerja dengan lebih kreatif lagi.
Seperti yang terjadi di dunia komersil, bahwa yang namanya memasarkan itu memang
harus aktif, kreatif dan inovatif. Walaupun perpustakaan bukanlah lembaga komersil,
namun jurus-jurus pemasaran bisa diterapkan juga. Bila masyarakat tidak datang ke
perpustakaan, maka perpustakaanlah yang mendatangi masyarakat. Perpustakaan
keliling bisa dijadikan salah satu sarana, tetapi tidak cukup dengan hanya sarana itu.
Pustakawannya harus aktif mengumpulkan anak-anak, remaja, pemuda-pemudi yang
putus sekolah, dan para ibu-ibu dalam kelompok-kelompok terpisah. Pustakawan
perlu memilihkan bahan pustaka yang diduga diperlukan oleh kelompok-kelompok
masyarakat di kampung-kampung. Dengan demikian pustakawan sebelumnya perlu
melakukan kajian tentang masalah apa yang diminati oleh kelompok tertentu di suatu
daerah. Misalkan di daerah itu banyak remaja perempuan yang bekerja di perusahaan
garmen, maka pustakawan perlu membawa bahan pustaka yang ada hubungannya
dengan peningkatan pengetahuan mereka soal menjahit, desain baju, pertekstilan, dan
sebagainya. Tentunya mereka perlu juga diinformasikan tentang masalah kesehatan,
lingkungan, hukum, dan lain sebagainya, setelah mereka tertarik untuk membaca
bahan pustaka kebutuhan utama mereka. Awalnya mungkin sulit mengumpulkan
mereka, tetapi kalau sudah ada yang merasakan manfaatnya, akan dengan sendirinya
mereka berdatangan mencari perpustakaan. Satu tantangan di pihak perpustakaan,
mampukah perpustakaan terus membeli bahan pustaka baru yang menarik minat
masyarakat ?
Pustakawan perlu juga menggunakan media massa lokal untuk mensosialisasikan
pelayanan perpustakaan. Menurut Rahim (2004), cara yang paling efektif dari segi
biaya dalam mencapai komunikasi yang meresap sampai ke akar rumput dan tersebar
luas adalah melalui media massa, dan terutama radio. Media tersebut sejauh ini yang
paling meresap jangkauannya. Rakyat yang hidup di daerah pedesaan dalam banyak
negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Karibia, sangat tergantung pada radio yang
menghubungkan mereka dengan dunia yang lebih besar "di sebelah luar." Media yang
sedang hangat dibicarakan saat ini, seperti internet, masih mengalami kendala di
banyak pelosok kota kecil dan desa di negara-negara berkembang. Bahkan di kota-
kota di Indonesia pun, walau sudah tersedia, namun kecepatan aksesnya masih jauh
dari yang diharapkan. Oleh karena itu, media massa, dan stasiun radio khususnya,
perlu berubah dari alur komersil dan sangat fokus pada rakyat pedesaan begitu juga
dengan kelompok-kelompok terpinggirkan lainnya. Tujuan utamanya adalah
menciptakan apa yang diistilahkan "pluralisme media," yang merefleksikan
kebutuhan dari semua anggota masyarakat, dan terutama mereka yang suaranya
sampai sekarang telah diabaikan.
Jadi melihat manfaat radio di atas, pustakawan perlu bekerja sama dengan stasiun
radio lokal. Agar menarik, pengenalan perpustakaan pada awalnya di sela-sela acara
interaktif dengan pendengar untuk meminta lagu. Bila sudah banyak penggemarnya,
barulah acara perpustakaan ini bisa berdiri sendiri. Kejelian pustakawan diperlukan
untuk memilih bahan pustaka yang menarik baik isi maupun format untuk dibacakan
kepada para pendengar, yang ada manfaatnya juga bagi para pendengar tentunya.
Melihat peran perpustakaan untuk mewujudkan knowledge society, sepertinya semua
ini mengarah kepada peran perpustakaan umum. Namun demikian bukan berarti
bahwa perpustakaan umum bekerja sendiri, baik pustakawan dari berbagai jenis
perpustakaan lain maupun koleksinya harus mendukung juga untuk dimanfaatkan
dalam membangun knowledge society. Perpustakaan perlu secara kreatif dan dinamis
diintegrasikan dengan berbagai portal ilmu pengetahuan yang relevan (Seminar 2005).
Hal ini sangat vital, karena masyarakat berpengetahuan sangat eksploratif dalam
penggalian informasi. Seyogyanyalah lautan ilmu pengetahuan yang ada di bumi ini
dapat diintekoneksikan dan digunakan bersama untuk kemanfaatan yang lebih luas
dan merata. Para pustakawan harus menggalang kekuatan untuk terwujudnya
knowledge society di Indonesia. Sebagai contoh, sekarang ini berdiri Taman Pintar
(perpustakaan) di stasion kereta api Bogor yang didirikan oleh Karang Taruna
Nasional. Jadi pustakawan perlu juga mengajak berbagai pihak untuk segera
mewujudkan knowledge society di Indonesia.
Merujuk kepada sasaran yang dituju yaitu terutama masyarakat akar rumput, maka
koleksi yang akan banyak dimanfaatkan adalah koleksi berbahasa Indonesia.
Sekarang ini di pasaran sudah cukup banyak tersedia bahan pustaka berbahasa
Indonesia yang isinya ditujukan untuk masyarakat awam. Bila bahan pustaka itu
banyak dibeli untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, maka akan berefek
positif terhadap dunia penerbitan di Indonesia. Akan semakin banyak penulis
tergugah untuk menghasilkan bacaan, dan penerbit pun bergairah untuk lebih banyak
berproduksi.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) sebagai payung dari semua
perpustakaan di Indonesia harus mensosialisasikan program ini ke berbagai pihak,
baik ke pemerintah pusat maupun kepada pemerintah daerah, agar memperoleh
dukungan dari pihak-pihak tersebut. Perpusnas juga bisa mengkoordinasikan
pengumpulan dana kepada berbagai pihak swasta ataupun negara-negara donor,
mengingat Perpusnas berkedudukan di Jakarta, serta mempunyai power yang jauh
lebih kuat untuk bernegosiasi dengan para penyandang dana dan pemegang
kekuasaan. Dana yang terkumpul bisa disalurkan kepada perpustakaan yang
mempunyai aktivitas yang keatif, tetapi tidak bisa memperoleh dana. Bila melihat
dana yang dikumpulkan dalam bencana tsunami di Aceh, masih banyak orang yang
mau memberikan sumbangan, asalkan pengelolaan hasil sumbangan transparan dan
jelas terlihat manfaat yang diperoleh dari dana tersebut.
Penutup
Knowledge society di Indonesia harus terus dibangun, bila Indonesia tidak mau
menjadi bangsa yang terabaikan. Pustakawan yang sehari-hari dikelilingi oleh
informasi, harus bisa memanfaatkan apa yang dimilikinya untuk disebarluaskan
kepada masyarakat di sekitarnya. Jangan menunggu lagi soal dana, mulailah dengan
yang dimiliki, mulai dari diri sendiri dan mulailah sekarang (kata Aa Gym). Bila
belum dicoba, bagaimana bisa diketahui kalau hal itu tidak akan berhasil ?
Tengku Mohd. Azzman Shariffadeen, sekretaris National Information Technology
Council, Malaysia (dalam Amidon, 2001) menyatakan strategi pengembangan
berbasis pengetahuan mensyaratkan: akses terhadap pengalaman kultural dan sosial
manusia yang sangat beragam dalam rangka membangun tidak hanya masyarakat
yang terinformasikan atau mempunyai pengetahuan yang banyak, tetapi juga yang
bijak; mempunyai kompetensi dan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam proses
pengambilan keputusan lokal, nasional, dan global; dan sebuah kerangka kerja
kekuasaan institusional untuk mempromosikan dan mendorong kemitraan yang
cerdas.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:9143
posted:3/27/2010
language:Indonesian
pages:15