Docstoc

MAKALAH - DOC

Document Sample
MAKALAH - DOC Powered By Docstoc
					                      MAKALAH
   “ INVERSION EMULSION “




                            Disusun Oleh :


1. Siskawati                                 D 500 050 001
2. Sumiyati                                  D 500 050 033
3. Ariza Wahyu                               D 500 060 010
4. Sugi Wijati                               D 500 080 023
5. Prinda Widyarani                          D 500 080 027
6. Anwar Basuki                              D 500 080 031




               JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
               UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
                           SURAKARTA
                                  2009
                                Emulsion Inversion


        Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau cairan obat
terdispersi dalam cairan pembawa distabilkan dengan zat pengemulsi atau
surfaktan yang cocok. Emulsi adalah suatu sistem heterogen yang tidak stabil
secara termodinamika, yang terdiri dari paling sedikit dua fase cairan yang tidak
bercampur, dimana salah satunya terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk
tetesan–tetesan kecil, yang berukuran 0,1-100 mm, yang distabilkan dengan
emulgator/surfaktan yang cocok. Inversi yaitu peristiwa berubahnya tipe emulsi
W/O menjadi O/W atau sebaliknya dan sifatnya irreversible (Andrea, 2009).
      Sehingga dapat disimpulkan bahwa emulsion inversion adalah kebalikan
dari emulsi, yaitu ketidakstabilan dari emulsi atau dengan kata lain terpisahnya
suatu larutan menjadi dua zat yang berbeda sifatnya.
     Teori
     Dengan menggunakan pendekatan kinetika flokulasi emulsi.
     Persamaan Smoluchowski
                 J = 16 D an²
     Keterangan :
     J = fluks
     D = koefisien difusi
     a = radius/jari-jari
     n = jumlah densitas


Stabilitas Emulsi
        Stabilitas suatu emulsi adalah suatu sifat emulsi untuk mempertahankan
distribusi halus dan teratur dari fase terdispersi yang terjadi dalam jangka waktu
yang panjang. (Voight., 1995).
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi stabilitas emulsi yaitu :
a) Pengaruh Viskositas
        Ukuran partikel yang didistribusi partikel menunjukan peranannya dalam
menentukan viskositas emulsi. Umumnya emulsi dengan partikel yang makin
halus menunjukan viskositas yang makin besar dibandingkan dengan emulsi
dengan partikel yang lebih kasar. Jadi, emulsi dengan distribusi partikel yang
besar memperlihatkan viskositas yang kurang / kecil. Untuk mendapatkan suatu
emulsi yang stabil atau untuk menaikan stabilitas suatu emulsi dapat dengan cara
menambahkan zat-zat yang dapat
menaikan viskositasnya dari fase luar. Bila viskositas fase luar dipertinggi maka
akan menghalangi pemisahan emulsi.
b). Pemakaian alat khusus dalam mencampur emulsi
        Dalam pencampuran emulsi dapat dilakukan dengan mortar secara manual
dan dengan menggunakan alat pengaduk yang mengguanakan tenaga listrik
seperti mixer. Untuk membuat emulsi yang lebih stabil, umumnya proses
pengadukannya dilakukan dengan menggunakan alat listrik. Disamping itu
penggunaan alat dapat mempercepat distribusi fase internal kedalam fase kontinu
dan peluang terbentuknya emulsi yang stabil lebih besar.
c) Perbandingan optimum fase internal dan fase kontinu.
        Suatu produk emulsi mempunyai nilai perbandingan fase dalam dan fase
luar yang berbeda-beda. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan jenis bahan
yang digunakan ataupun karena adanya perbedaan perlakuan yang diberikan pada
setiap bahan emulsi yang digunakan. Umumnya emulsi yang stabil memiliki nilai
range fase dalam antara 40% sampai 60% dari jumlah seluruh bahan emulsi yang
digunakan.
Terdapat beberapa teori tentang emulsi yaitu :
a) Creaming atau Flokulasi
        Adalah peristiwa terbentuknya dua lapisan emulsi yang memiliki
viskositas yang berbeda, dimana agregat dari bulatannya fase dalam mempunyai
kecenderungan yang lebih besar untuk naik kepermukaan emulsi atau jatuh
kedasar emulsi tersebut dengan keadaan yang bersifat reversibel atau dapat
didistribusikan kembali melalui pengocokan. (Ansel,1989)
b) Inversi
        Ialah suatu peristiwa pecahnya emulsi dengan tiba-tiba dari satu tipe ke
tipe yang lain.
c) Cracking atau Koalesensi
  Adalah peristiwa pecahnya emulsi karena adanya penggabungan partikel-
partikel kecil fase terdispersi membentuk lapisan atau endapan yang bersifat
ireversibel dimana emulsi tidak dapat terbentuk kembali seperti semula melalui
pengocokan. (Anief, 2000)
Pecahnya emulsi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
    1. Jika emulsi yang terjadi belum sempurna lalu diencerkan maka emulsi
        akan pecah kembali.
    2. Pengocokan yang keras dapat menggabungkan partikel terdispersi
        sehingga emulsi menjadi pecah.Teknik pembuatan, misalnya terlalu lama
        merendam
    3. Gom dalam minyak.
    4. Senyawa organic yang larut dalam air misalnya eter, ethanol, etil asetat
        akan memberikan pengaruh yang tidak baik terhadap emulsi. Oleh karena
        itu harus ditambahkan sedikit demi sedikit lalu diikuti dengan pengadukan.
    5. Perubahan pH yang besar.
    6. Perubahan temperature.
    7. Emulgator yang berlawanan misalnya gelatin dan Gom.
    8. Penambahan garam atau elektrolit dalam kondisi yang besar.
Proses dari Emulsion Inversion dibagi menjadi 2, yaitu:
 Mekanisme Fisika
    Pada mekanisme fisika ini terjadi pembentukan emulsion inversion dengan
    cara:
    1. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, dimana yang
    satu mengandung fase dispers lebih banyak daripada lapisan yang lain.
    Creaming bersifat reversibel artinya bila dikocok perlahan-lahan akan
    terdispersi kembali.
    2. Koalesen dan cracking (breaking) yaitu pecahnya emulsi karena film
    yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen (menyatu).
    Sifatnya irreversibel (tidak bisa diperbaiki). Hal ini dapat terjadi karena:
     Peristiwa kimia, seperti penambahan alkohol, perubahan PH,
    penambahan CaO / CaCl2
     Peristiwa fisika, seperti pemanasan, penyaringan, pendinginan dan
    pengadukan.
     Inversi

    Viskositas emulsi dipengaruhi oleh perubahan komposisi :
    1.Adanya hubungan linear antara viskositas emulsi dan viskositas fase
    kontinu.
    2.Makin besar volume fase dalam, makin besar pula viskositas nyatanya.
    3. Untuk mengatur viskositas emulsi, tiga faktor interaksi yang harus
    dipertimbangkan oleh pembuat formula, yaitu :
     Viskositas emulsi m/a dan a/m dapat ditingkatkan dengan mengurangi
    ukuran partikel fase terdispersi ,
     Kestabilan emulsi ditingkatkan dengan pengurangan ukuran partikel,
     Flokulasi atau penggumpalan, yang cenderung membentuk fase dalam
    yang dapat meningkatkan efek penstabil, walaupun ia meningkatkan
    viskositas.
    4. Biasanya viskositas emulsi meningkat dengan meningkatnya umur
    sediaan tersebut.
Emulsion inversion atau pemecahan emulsi dapat dilakukan dengan cara:
Creaming, Koalesen dan cracking (breaking), Flokulasi atau penggumpalan.
 Mekanisme Kimia
Salah satu proses terbentuknya emulsi dengan teori:
   Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension)
    Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang
    disebut dengan daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik
    menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut dengan daya
    adhesi.
   Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair
   akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya
   kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan
   tegangan permukaan.
   Dengan cara yang sama dapat dijelaskan terjadinya perbedaan tegangan
   bidang batas dua cairan yang tidak dapat bercampur. Tegangan yang
   terjadi antara dua cairan tersebut dinamakan tegangan bidang batas.
   Semakin tinggi perbedaan tegangan yang terjadi pada bidang
   mengakibatkan antara kedua zat cair itu semakin susah untuk bercampur.
   Tegangan yang terjadi pada air akan bertambah dengan penambahan
   garam-garam anorganik atau senyawa-senyawa elektrolit, tetapi akan
   berkurang dengan penambahan senyawa organik tertentu antara lain sabun.
   Didalam teori ini dikatakan bahwa penambahan emulgator akan
   menurunkan dan menghilangkan tegangan permukaan yang terjadi pada
   bidang batas sehingga antara kedua zat cair tersebut akan mudah
   bercampur (Andrea, 2009).
   Dari penjelasan di atas, dapat dilihat baahwa semakin tinggi tegangan
   permukaan pada suatu bidang akan menyebabkan dua zat cair yang
   berbeda akan susah untuk bercampur (stabil) yang dikarenakan adanya
   pembentukan permukaan baru.




 Penerapan emulsion inversion dalam peristiwa industri adalah pada proses
  pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO).
   Virgin Coconut Oil (VCO) merupakan minyak kelapa murni yang terbuat
   dari daging kelapa segar yang diolah dalam suhu rendah atau tanpa melalui
   pemanasan, sehingga kandungan yang penting dalam minyak tetap dapat
      dipertahankan, mempunyai warna lebih jernih dan dapat tahan selama dua
      tahun tanpa menjadi tengik. Poses pembuatan Virgin Coconut Oil dengan
      metode memancing minyak dengan minyak kelapa memerlukan waktu
      inkubasi selama 10-12 jam, dengan metode tersebut minyak yang
      terekstrak dari krim santan tidak terjadi secara sempurna, masih ada
      minyak yang tertinggal pada krim santan. Untuk meningkatkan rendemen
      minyak yang erekstrak dari krim santan dapat dilakukan dengan
      menambahkan suatu enzim yang dapat memecah emulsi pada santan.
      Pemecahan emulsi santan berlangsung melalui reaksi hidrolisis yang dapat
      terjadi dengan adanya enzim proteolitik. enzim papain merupakan enzim
      proteolitik yang terdapat pada getah pepaya. Enzim ini dapat mengkatalis
      reaksi pemecahan rantai peptida pada protein dengan menghidrolisa ikatan
      peptidanya menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Di dalam
      tubuh asam lemak rantai panjang dan lipoprotein harus menembus dinding
      sel agar dapat digunakan menjadi energi, dan keduanya membutuhkan
      enzim untuk menenbus dinding membran mitokondria di dalam sel tempat
      energi dihasilkan. Sedangkan asam lemak rantai sedang dapat langsung
      menembus dinding mitokondria sehingga dapat menghasilkan energi
      dengan cepat dan efisien. Komponen utama dari Virgin Coconut Oil
      sekitar 92% adalah asam lemak jenuh, Untuk mendapatkan manfaatnya
      bagi kesehatan, Virgin Coconut Oil dapat dikonsumsi secara langsung atau
      digunakan untuk menggoreng atau menumis makanan (Purnomo, 2007).
Mekanisme yang terjadi pada proses pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO)
adalah dengan koalesen dan cracking (breaking) yaitu pecahnya emulsi karena
film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen (menyatu).
Sifatnya irreversibel (tidak bisa diperbaiki).
                            DAFTAR PUSTAKA




Andrea,       2009,    “Tugas      Kuliah     Emulsi      dan      Suspensi”,
http://andre774158.wordpress.com/2009/05/23/tugas-kuliah-emulsi-dan-suspensi/
Anief,     2000,     “Emulsi,   Shampo,     Lotion,     Cleansing     Cream”,
http://dprayetno.wordpress.com/emulsi-shampo-lotion-clensing-cream/


Ansel,1989, “Emulsi”, http://rgmaisyah.wordpress.com/1989/12/03/emulsi/
http://medicafarma.blogspot.com/2008/08/suspensi_28.html
Purnomo, 2007, Virgin coconut Oil Vs Papain si Getah Pepaya,
http://www.bloggaul.com/yudhi_alamsah/readblog/65552/virgin-coconut-oil-vs-
papain-si-getah-pepaya
Voight., 1995, “Stabilitas Emulsi”, www.marthian.co.nr

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:18268
posted:3/25/2010
language:Malay
pages:7