SPI by staryasmine

VIEWS: 1,465 PAGES: 22

More Info
									                                            BAB I

                                     PENDAHULUAN

                                           Abstrak

  Di Asia Tenggara, Islam merupakan kekuatan sosial yang patut diperhitungkan,karena hampir
seluruh negara yang ada di Asia Tenggara penduduknya, baik mayoritas ataupun minoritas
memeluk agama Islam. Misalnya, Islam menjadi agama resmi Negara federasi Malaysia,
Kerajaan Brunei Darussalam, negara Indonesia (penduduknya mayoritas atau sekitar 90%
beragama Islam), Burma (sebagian kecil penduduknya beragama Islam),Republik Filipina,
Kerajaan Muangthai, Kampuchea, dan Republik Singapura (Muzani,1991: 23).
  Dari segi jumlah, hampir terdapat 300 juta orang di seluruh Asia Tenggara yang mengaku
sebagai Muslim. Berdasar kenyataan ini, Asia Tenggara merupakan satu-satunya wilayah Islam
yang terbentang dari Afrika Barat Daya hingga Asia Selatan, yang mempunyai penduduk
Muslim terbesar. Asia Tenggara dianggap sebagai wilayah yang paling banyak pemeluk agama
lslamnya.Termasuk wilayah ini adalah pulau-pulau yang terletak di sebelah timur lndia sampai
lautan Cina dan mencakup lndonesia, Malaysia dan Filipina.
       Sebagai seorang muslim yang tinggal di kawasan ASEAN hendaklah kita mengetahui
tentang sejarah masuknya Isalmdi kawasan ASEAN.Akan tetapi ,kami iidak dapat menulissemua
sejarah itu disini,karenaitu dari negara di ASEAn,kami hanya akan membahas 4 saja yaitu
masuknya Islamdi Indonesia,Filipina,Malaysia,dan Muangthai.adapun untuk brunei dan
Singapura tidak jauh beda dengan di Malaysia.
                                           BAB II

                         PERADABAN ISLAM DI ASIA TENGGARA

A. SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI ASEAN

Islam masuk ke Asia Tenggara disebarluaskan melalui kegiatan kaum pedagang. Hal ini berbeda
dengan daerah Islam di Dunia lainnya yang disebarluaskan melalui penaklulan Arab dan Turki.
Islam masuk di Asia Tenggara dengan jalan damai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga Islam
sangat mudah diterima masyarakat Asia Tenggara.

Mengenai kedatangan Islam di negara-negara yang ada di Asia Tenggara hampir semuanya
didahului oleh interaksi antara masyarakat di wilayah kepulauan dengan para pedagang Arab,
India, Bengal, Cina, Gujarat, Iran, Yaman dan Arabia Selatan. Pada abad ke-5 sebelum Masehi
Kepulauan Melayu telah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berlayar ke Cina dan
mereka telah menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar Pesisir. Kondisi semacam inilah
yang dimanfaatkan para pedagang Muslim yang singgah untuk menyebarkan Islam pada warga
sekitar pesisir. Berikut tentang sejarah masuknya Islam di negara negara ASEAN.

B.PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA

Awal Masuknya Islam di Indonesia

       Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti animisme,
dinamisme, Hindu dan Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa Indonesia bahkan dibeberapa
wilayah kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha.
Misalnya kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat, kerajaan
Sriwijaya di Sumatra dan sebagainya. Namun Islam datang ke wilayah-wilayah tersebut dapat
diterima dengan baik, karena Islam datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian,
persamaan antara manusia (tidak ada kasta), menghilangkan perbudakan dan yang paling penting
juga adalah masuk kedalam Islam sangat mudah hanya dengan membaca dua kalimah syahadat
dan tidak ada paksaan.
       Tentang kapan Islam datang masuk ke Indonesia, menurut kesimpulan seminar “
masuknya Islam di Indonesia” pada tanggal 17 s.d 20 Maret 1963 di Medan, Islam masuk ke
Indonesia pada abad pertama hijriyah atau pada abad ke tujuh masehi. Menurut sumber lain
menyebutkan bahwa Islam sudah mulai ekspedisinya ke Nusantara pada masa Khulafaur
Rasyidin (masa pemerintahan Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali
bin Abi Thalib), disebarkan langsung dari Madinah.

Cara Masuknya Islam di Indonesia

Islam masuk ke Indonesia, bukan dengan peperangan ataupun penjajahan. Islam berkembang dan
tersebar di Indonesia justru dengan cara damai dan persuasif berkat kegigihan para ulama.
Karena memang para ulama berpegang teguh pada prinsip Q.S. al-Baqarah ayat 256 :

                                         

256. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);

Adapun cara masuknya Islam di Indonesia melalui beberapa cara antara lain ;
1. Perdagangan

Jalur ini dimungkinkan karena orang-orang melayu telah lama menjalin kontak dagang dengan
orang Arab. Apalagi setelah berdirinya kerajaan Islam seperti kerajaan Islam Malaka dan
kerajaan Samudra Pasai di Aceh, maka makin ramailah para ulama dan pedagang Arab datang ke
Nusantara (Indonesia). Disamping mencari keuntungan duniawi juga mereka mencari
keuntungan rohani yaitu dengan menyiarkan Islam. Artinya mereka berdagang sambil
menyiarkan agama Islam.

2. Kultural

Artinya penyebaran Islam di Indonesia juga menggunakan media-media kebudayaan,
sebagaimana yang dilakukan oleh para wali sanga di pulau jawa. Misalnya Sunan Kali Jaga
dengan pengembangan kesenian wayang. Ia mengembangkan wayang kulit, mengisi wayang
yang bertema Hindu dengan ajaran Islam. Sunan Muria dengan pengembangan gamelannya.
Kedua kesenian tersebut masih digunakan dan digemari masyarakat Indonesia khususnya jawa
sampai sekarang. Sedang Sunan Giri menciptakan banyak sekali mainan anak-anak, seperti
jalungan, jamuran, ilir-ilir dan cublak suweng dan lain-lain.

3. Pendidikan

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang paling strategis dalam pengembangan
Islam di Indonesia. Para da’i dan muballig yang menyebarkan Islam diseluruh pelosok Nusantara
adalah keluaran pesantren tersebut. Datuk Ribandang yang mengislamkan kerajaan Gowa-Tallo
dan Kalimantan Timur adalah keluaran pesantren Sunan Giri. Santri-santri Sunan Giri menyebar
ke pulau-pulau seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga ke Nusa Tenggara.
Dan sampai sekarang pesantren terbukti sangat strategis dalam memerankan kendali penyebaran
Islam di seluruh Indonesia.

4. Kekuasaan politik

Artinya penyebaran Islam di Nusantara, tidak terlepas dari dukungan yang kuat dari para Sultan.
Di pulau Jawa, misalnya keSultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan menjadi pelindung
perkembangan Islam. Begitu juga raja-raja lainnya di seluruh Nusantara. Raja Gowa-Tallo di
Sulawesi selatan melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh Demak di Jawa.
Dan para Sultan di seluruh Nusantara melakukan komunikasi, bahu membahu dan tolong
menolong dalam melindungi dakwah Islam di Nusantara. Keadaan ini menjadi cikal bakal
tumbuhnya negara nasional Indonesia dimasa mendatang.

Perkembangan Islam di Beberapa Wilayah Nusantara

   1. Di Sumatra

 Wilayah Nusantara yang mula-mula dimasuki Islam adalah pantai barat pulau Sumatra dan
 daerah Pasai yang terletak di Aceh utara yang kemudian di masing-masing kedua daerah
 tersebut berdiri kerajaan Islam yang pertama yaitu kerajaan Islam Perlak dan Samudra Pasai.
 Menurut keterangan Prof. Ali Hasmy dalam makalah pada seminar “Sejarah Masuk dan
 Berkembangnya Islam di Aceh” yang digelar tahun 1978 disebutkan bahwa kerajaan Islam
 yang pertama adalah kerajaan Perlak. Namun ahli sejarah lain telah sepakat, Samudra Pasailah
 kerajaan Islam yang pertama di Nusantara dengan rajanya yang pertama adalah Sultan Malik
Al-Saleh (memerintah dari tahun 1261 s.d 1297 M). Sultan Malik Al-Saleh sendiri semula
bernama Marah Silu. Setelah mengawini putri raja Perlak kemudian masuk Islam berkat
pertemuannya dengan utusan Syarif Mekkah yang kemudian memberi gelar Sultan Malik Al-
Saleh.

     Kerajaan Pasai sempat diserang oleh Majapahit di bawah panglima Gajah Mada, tetapi
bisa dihalau. Ini menunjukkan bahwa kekuatan Pasai cukup tangguh dikala itu. Baru pada tahun
1521 di taklukkan oleh Portugis dan mendudukinya selama tiga tahun. Pada tahun 1524 M
Pasai dianeksasi oleh raja Aceh, Ali Mughayat Syah. Selanjutnya kerajaan Samudra Pasai
berada di bawah pengaruh keSultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam
(sekarang dikenal dengan kabupaten Aceh Besar).

     Munculnya kerajaan baru di Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam, hampir
bersamaan dengan jatuhnya kerajaan Malaka karena pendudukan Portugis. Dibawah pimpinan
Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim kerajaan Aceh terus mengalami kemajuan besar.
Saudagar-saudagar muslim yang semula berdagang dengan Malaka memindahkan kegiatannya
ke Aceh. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Iskandar Muda
Mahkota Alam ( 1607 - 1636).

     Kerajaan Aceh ini mempunyai peran penting dalam penyebaran Agama Islam ke seluruh
wilayah Nusantara. Para da’i, baik lokal maupun yang berasal dari Timur Tengah terus
berusaha menyampaikan ajaran Islam ke seluruh wilayah Nusantara. Hubungan yang telah
terjalin antara kerajaan Aceh dengan Timur Tengah terus semakin berkembang. Tidak saja para
ulama dan pedagang Arab yang datang ke Indonesia, tapi orang-orang Indonesia sendiri banyak
pula yang hendak mendalami Islam datang langsung ke sumbernya di Mekah atau Madinah.
Kapal-kapal dan ekspedisi dari Aceh terus berlayar menuju Timur Tengah pada awal abad ke
16. Bahkan pada tahun 974 H. atau 1566 M dilaporkan ada 5 kapal dari kerajaan Asyi (Aceh)
yang berlabuh di bandar pelabuhan Jeddah. Ukhuwah yang erat antara Aceh dan Timur Tengah
itu pula yang membuat Aceh mendapat sebutan Serambi Mekah.

 2. Di Jawa
   Benih-benih kedatangan Islam ke tanah Jawa sebenarnya sudah dimulai pada abad pertama
Hijriyah atau abad ke 7 M. Hal ini dituturkan oleh Prof. Dr. Buya Hamka dalam bukunya Sejarah
Umat Islam, bahwa pada tahun 674 M sampai tahun 675 M. sahabat Nabi, Muawiyah bin Abi
Sufyan pernah singgah di tanah Jawa (Kerajaan Kalingga) menyamar sebagai pedagang. Bisa
jadi Muawiyah saat itu baru penjajagan saja, tapi proses dakwah selanjutnya dilakukan oleh para
da’i yang berasal dari Malaka atau kerajaan Pasai sendiri. Sebab saat itu lalu lintas atau jalur
hubungan antara Malaka dan Pasai disatu pihak dengan Jawa dipihak lain sudah begitu pesat.
Adapun gerakan dakwah Islam di Pulau Jawa selanjutnya dilakukan oleh para Wali Songo, yaitu:
a. Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik

b. Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel)

c. Sunan Giri (Raden Aenul Yaqin atau Raden Paku)

d. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)

e. Sunan Kalijaga (Raden Syahid)

f. Sunan Drajat.

g. Syarif Hidayatullah

h. Sunan Kudus

i. Sunan Muria

Diparuh awal abad 16 M, Jawa dalam genggaman Islam. Penduduk merasa tentram dan damai
dalam ayoman keSultanan Demak di bawah kepemimpinan Sultan Syah Alam Akbar Al Fatah
atau Raden Patah. Hidup mereka menemukan pedoman dan tujuan sejatinya setelah mengakhiri
masa Siwa-Budha serta animisme. Merekapun memiliki kepastian hidup bukan karena wibawa
dan perbawa sang Sultan, tetapi karena daulah hukum yang pasti yaitu syari’at Islam
“Salokantara” dan “Jugul Muda” itulah dua kitab undang-undang Demak yang berlandaskan
syari’at Islam. Dihadapan peraturan negeri pengganti Majapahit itu, semua manusia sama
derajatnya, sama-sama khalifah Allah di dunia. Sultan-Sultan Demak sadar dan ikhlas dikontrol
oleh kekuasaan para Ulama atau Wali. Para Ulama itu berperan sebagai tim kabinet atau
merangkap sebagai dewan penasehat Sultan.

   Dalam versi lain dewan wali sanga dibentuk sekitar 1474 M. oleh Raden Rahmat (Sunan
Ampel), membawahi Raden Hasan, Maftuh Ibrahim, Qasim (Sunan Drajat) Usman Haji (ayah
Sunan Kudus, Raden Ainul Yakin (Sunan Gresik), Syekh Sutan Maharaja Raden Hamzah, dan
Raden Mahmud. Beberapa tahun kemudian Syekh Syarif Hidayatullah dari Cirebon bergabung di
dalamnya. Sunan Kalijaga dipercaya para wali sebagai muballig keliling. Disamping wali-wali
tersebut, masih banyak Ulama yang dakwahnya satu kordinasi dengan Sunan Ampel hanya saja,
sembilan tokoh Sunan Wali Sanga yang dikenal selama ini memang memiliki peran dan karya
yang menonjol dalam dakwahnya.

  3. Di Sulawesi

   Ribuan pulau yang ada di Indonesia, sejak lama telah menjalin hubungan dari pulau ke pulau.
Baik atas motivasi ekonomi maupun motivasi politik dan kepentingan kerajaan. Hubungan ini
pula yang mengantar dakwah menembus dan merambah Celebes atau Sulawesi. Menurut catatan
company dagang Portugis pada tahun 1540 saat datang ke Sulawesi, di tanah ini sudah ditemui
pemukiman muslim di beberapa daerah. Meski belum terlalu banyak, namun upaya dakwah terus
berlanjut dilakukan oleh para da’i di Sumatra, Malaka dan Jawa hingga menyentuh raja-raja di
kerajaan Gowa dan Tallo atau yang dikenal dengan negeri Makasar, terletak di semenanjung
barat daya pulau Sulawesi

   Kerajaan Gowa ini mengadakan hubungan baik dengan kerajaan Ternate dibawah pimpinan
Sultan Babullah yang telah menerima Islam lebih dahulu. Melalui seorang da’i bernama Datuk
Ri Bandang agama Islam masuk ke kerajaan ini dan pada tanggal 22 September 1605 Karaeng
Tonigallo, raja Gowa yang pertama memeluk Islam yang kemudian bergelar Sultan Alaudin Al
Awwal (1591-1636 ) dan diikuti oleh perdana menteri atau Wazir besarnya, Karaeng Matopa.
Setelah resmi menjadi kerajaan bercorak Islam Gowa Tallo menyampaikan pesan Islam kepada
kerajaan-kerajaan lain seperti Luwu, Wajo, Soppeng dan Bone. Raja Luwu segera menerima
pesan Islam diikuti oleh raja Wajo tanggal 10 Mei 1610 dan raja Bone yang bergelar Sultan
Adam menerima Islam tanggal 23 November 1611 M. Dengan demikian Gowa (Makasar)
menjadi kerajaan yang berpengaruh dan disegani. Pelabuhannya sangat ramai disinggahi para
pedagang dari berbagai daerah dan manca negara. Hal ini mendatangkan keuntungan yang luar
biasa bagi kerajaan Gowa (Makasar). Puncak kejayaan kerajaan Makasar terjadi pada masa
Sultan Hasanuddin (1653-1669).

4. Di Kalimantan

   Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo melalui tiga jalur. Jalur
pertama melalui Malaka yang dikenal sebagai kerajaan Islam setelah Perlak dan Pasai. Jatuhnya
Malaka ke tangan Portugis kian membuat dakwah semakin menyebar sebab para muballig dan
komunitas muslim kebanyakan mendiamai pesisir barat Kalimantan.

   Jalur kedua, Islam datang disebarkan oleh para muballig dari tanah Jawa. Ekspedisi dakwah
ke Kalimantan ini mencapai puncaknya saat kerajaan Demak berdiri. Demak mengirimkan
banyak Muballig ke negeri ini. Para da’i tersebut berusaha mencetak kader-kader yang akan
melanjutkan misi dakwah ini. Maka lahirlah ulama besar, salah satunya adalah Syekh
Muhammad Arsyad Al Banjari.

   Jalur ketiga para da’i datang dari Sulawesi (Makasar) terutama da’i yang terkenal saat itu
adalah Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan.

  4. Di Maluku

Kepulauan Maluku terkenal di dunia sebagai penghasil rempah-rempah, sehingga menjadi daya
tarik para pedagang asing, tak terkecuali para pedagang muslim baik dari Sumatra, Jawa, Malaka
atau dari manca negara. Hal ini menyebabkan cepatnya perkembangan dakwah Islam di
kepulauan ini.

   Islam masuk ke Maluku sekitar pertengahan abad ke 15 atau sekitar tahun 1440 dibawa oleh
para pedagang muslim dari Pasai, Malaka dan Jawa (terutama para da’i yang dididik oleh para
Wali Sanga di Jawa). Tahun 1460 M, Vongi Tidore, raja Ternate masuk Islam. Namun menurut
H.J De Graaft (sejarawan Belanda) bahwa raja Ternate yang benar-benar muslim adalah Zaenal
Abidin (1486-1500 M). Setelah itu Islam berkembang ke kerajaan-kerajaan yang ada di Maluku.
Tetapi diantara sekian banyak kerajaan Islam yang paling menonjol adalah dua kerajaan , yaitu
Ternate dan Tidore.
Selain Islam masuk dan berkembang di Maluku, Islam juga masuk ke Irian yang disiarkan oleh
raja-raja Islam di Maluku, para pedagang dan para muballig yang juga berasal dari Maluku.
Daerah-daerah di Irian Jaya yang dimasuki Islam adalah : Miso, Jalawati, Pulau Waigio dan
Pulau Gebi.

Peranan Umat Islam dalam Mengusir Penjajah.

   Ketika kaum penjajah datang, Islam sudah mengakar dalam hati bangsa Indonesia, bahkan
saat itu sudah berdiri beberapa kerajaan Islam, seperti Samudra Pasai, Perlak, Demak dan lain-
lain. Jauh sebelum mereka datang, umat Islam Indonesia sudah memiliki identitas bendera dan
warnanya adalah merah putih. Ini terinspirasi oleh bendera Rasulullah saw. yang juga berwarna
merah dan putih. Rasulullah saw pernah bersabda :” Allah telah menundukkan pada dunia, timur
dan barat. Aku diberi pula warna yang sangat indah, yakni Al-Ahmar dan Al-Abyadl, merah dan
putih “. Begitu juga dengan bahasa Indonesia. Tidak akan bangsa ini mempunyai bahasa
Indonesia kecuali ketika ulama menjadikan bahasa ini bahasa pasar, lalu menjadi bahasa ilmu
dan menjadi bahasa jurnalistik.

   Beberapa ajaran Islam seperti jihad, membela yang tertindas, mencintai tanah air dan
membasmi kezaliman adalah faktor terpenting dalam membangkitkan semangat melawan
penjajah. Bisa dikatakan bahwa hampir semua tokoh pergerakan, termasuk yang berlabel
nasionalis radikal sekalipun sebenarnya terinspirasi dari ruh ajaran Islam. Sebagai bukti misalnya
Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) tadinya berasal dari Sarekat Islam (SI); Soekarno
sendiri pernah jadi guru Muhammadiyah dan pernah nyantri dibawah bimbingan Tjokroaminoto
bersama S.M Kartosuwiryo yang kelak dicap sebagai pemberontak DI/TII; RA Kartini juga
sebenarnya bukanlah seorang yang hanya memperjuangkan emansipasi wanita. Ia seorang
pejuang Islam yang sedang dalam perjalanan menuju Islam yang kaaffah. Ketika sedang
mencetuskan ide-idenya, ia sedang beralih dari kegelapan (jahiliyah) kepada cahaya terang
(Islam) atau minaz-zulumati ilannur (habis gelap terbitlah terang). Patimura seorang pahlawan
yang diklaim sebagai seorang Nasrani sebenarnya dia adalah seorang Islam yang taat. Tulisan
tentang Thomas Mattulessy hanyalah omong kosong. Tokoh Thomas Mattulessy yang ada adalah
Kapten Ahmad Lussy atau Mat Lussy, seorang muslim yang memimpin perjuangan rakyat
Maluku melawan penjajah. Demikian pula Sisingamangaraja XII menurut fakta sejarah adalah
seorang muslim.

   Semangat jihad yang dikumandangkan para pahlawan semakin terbakar ketika para penjajah
berusaha menyebarkan agama Nasrani kepada bangsa Indonesia yang mayoritas sudah beragama
Islam yang tentu saja dengan cara-cara yang berbeda dengan ketika Islam datang dan diterima
oleh mereka, bahwa Islam tersebar dan dianut oleh mereka dengan jalan damai dan persuasif
yakni lewat jalur perdagangan dan pergaulan yang mulia bahkan wali sanga menyebarkannya
lewat seni dan budaya. Para da’i Islam sangat paham dan menyadari akan kewajiban
menyebarkan Islam kepada orang lain, tapi juga mereka sangat paham bahwa tugasnya hanya
sekedar menyampaikan. Hal ini sesuai dengan Q.S. Yasin ayat 17 :”Tidak ada kewajiban bagi
kami     hanyalah     penyampai      (Islam)    yang     nyata”.     (Q.S.    Yasin     :    17)
C.SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI FILIPINA

       Islam di asia menurut Dr. Hamid mempunyai 3 bentuk penyebaran. Pertama, penyebaran
Islam melahirkan mayoritas penduduk. Kedua, kelompok minoritas Islam. Ketiga, kelompok
negera negara Islam tertindas.

       Dalam bukunya yang berjudul Islam Sebagai Kekuatan International, Dr. Hamid
mencantumkan bahwa Islam di Philipina merukan salah satu kelompok minoritas diantara negara
negara yang lain. Dari statsitk demografi pada tahun 1977, Masyarakat Philipina berjumlah
44. 300.000 jiwa. Sedangkan jumlah masyarakat Muslim 2.348.000 jiwa. Dengan
prosentase 5,3% dengan unsur dominan komunitas Mindanao dan mogondinao.

       Hal itu pastinya tidak lepas dari sejarah latar belakang Islam di negeri philipina. Bahkan
lebih dari itu, bukan hanya penjajahan saja, akan tetapi konflik internal yang masih berlanjut
sampai saat ini.

       Sejarah masuknya Islam masuk ke wilayah Filipina Selatan, khususnya kepulauan Sulu
dan Mindanao pada tahun 1380 M. Seorang tabib dan ulama Arab bernama Karimul Makhdum
dan Raja Baguinda tercatat sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di kepulauan
tersebut. Menurut catatan sejarah, Raja Baguinda adalah seorang pangeran dari Minangkabau
(Sumatra Barat). Ia tiba di kepulauan Sulu sepuluh tahun setelah berhasil mendakwahkan Islam
di kepulauan Zamboanga dan Basilan. Atas hasil kerja kerasnya juga, akhirnya Kabungsuwan
Manguindanao, raja terkenal dari Manguindanao memeluk Islam. Dari sinilah awal peradaban
Islam di wilayah ini mulai dirintis. Pada masa itu, sudah dikenal sistem pemerintahan dan
peraturan hukum yaitu Manguindanao Code of Law atau Luwaran yang didasarkan atas Minhaj
dan Fathu-i-Qareeb, Taqreebu-i-Intifa dan Mir-atu-Thullab. Manguindanao kemudian menjadi
seorang Datuk yang berkuasa di propinsi Davao di bagian tenggara pulau Mindanao. Setelah itu,
Islam disebarkan ke pulau Lanao dan bagian utara Zamboanga serta daerah pantai lainnya.
Sepanjang garis pantai kepulauan Filipina semuanya berada dibawah kekuasaan pemimpin-
pemimpin Islam yang bergelar Datuk atau Raja. Menurut ahli sejarah kata Manila (ibukota
Filipina sekarang) berasal dari kata Amanullah (negeri Allah yang aman). Pendapat ini bisa jadi
benar, mengingat kalimat tersebut banyak digunakan oleh masyarakat sub-kontinen

       Secara umum, gambaran Islam masuk di Philiphina melalui beberapa fase, dari
penjajahan sampai masa modern.

Masa Kolonial Spanyol

       Sejak masuknya orang-orang Spanyol ke Filipina, pada 16 Maret 1521 M, penduduk
pribumi telah mencium adanya maksud lain dibalik “ekspedisi ilmiah” Ferdinand de Magellans.
Ketika kolonial Spanyol menaklukan wilayah utara dengan mudah dan tanpa perlawanan berarti,
tidak demikian halnya dengan wilayah selatan. Mereka justru menemukan penduduk wilayah
selatan melakukan perlawanan sangat gigih, berani dan pantang menyerah. Tentara kolonial
Spanyol harus bertempur mati-matian kilometer demi kilometer untuk mencapai Mindanao-Sulu
(kesultanan Sulu takluk pada tahun 1876 M). Menghabiskan lebih dari 375 tahun masa
kolonialisme dengan perang berkelanjutan melawan kaum Muslimin. walaupun demikian, kaum
Muslimin tidak pernah dapat ditundukan secara total. Selama masa kolonial, Spanyol
menerapkan politik devide and rule (pecah belah dan kuasai) serta mision-sacre (misi suci
Kristenisasi) terhadap orang-orang Islam. Bahkan orang-orang Islam di-stigmatisasi (julukan
terhadap hal-hal yang buruk) sebagai “Moor” (Moro). Artinya orang yang buta huruf, jahat, tidak
bertuhan dan huramentados (tukang bunuh). Sejak saat itu julukan Moro melekat pada orang-
orang Islam yang mendiami kawasan Filipina Selatan tersebut. Tahun 1578 M terjadi perang
besar yang melibatkan orang Filipina sendiri. Penduduk pribumi wilayah Utara yang telah
dikristenkan dilibatkan dalam ketentaraan kolonial Spanyol, kemudian di adu domba dan disuruh
berperang melawan orang-orang Islam di selatan. Sehingga terjadilah peperangan antar orang
Filipina sendiri dengan mengatasnamakan “misi suci”. Dari sinilah kemudian timbul kebencian
dan rasa curiga orang-orang Kristen Filipina terhadap Bangsa Moro yang Islam hingga sekarang.
Sejarah mencatat, orang Islam pertama yang masuk Kristen akibat politik yang dijalankan
kolonial Spanyol ini adalah istri Raja Humabon dari pulau Cebu,

Masa Imperialisme Amerika Serikat

       Sekalipun Spanyol gagal menundukkan Mindanao dan Sulu, Spanyol tetap menganggap
kedua wilayah itu merupakan bagian dari teritorialnya. Secara tidak sah dan tak bermoral,
Spanyol kemudian menjual Filipina kepada Amerika Serikat seharga US$ 20 juta pada tahun
1898 M melalui Traktat Paris. Amerika datang ke Mindanao dengan menampilkan diri sebagai
seorang sahabat yang baik dan dapat dipercaya. Dan inilah karakter musuh-musuh Islam
sebenarnya pada abad ini. Hal ini dibuktikan dengan ditandatanganinya Traktat Bates (20
Agustus 1898 M) yang menjanjikan kebebasan beragama, kebebasan mengungkapkan pendapat,
kebebasan mendapatkan pendidikan bagi Bangsa Moro. Namun traktat tersebut hanya taktik
mengambil hati orang-orang Islam agar tidak memberontak, karena pada saat yang sama
Amerika tengah disibukkan dengan pemberontakan kaum revolusioner Filipina Utara pimpinan
Emilio Aguinaldo. Terbukti setelah kaum revolusioner kalah pada 1902 M, kebijakan AS di
Mindanao dan Sulu bergeser kepada sikap campur tangan langsung dan penjajahan terbuka.
Setahun kemudian (1903 M) Mindanao dan Sulu disatukan menjadi wilayah propinsi Moroland
dengan alasan untuk memberadabkan (civilizing) rakyat Mindanao dan Sulu. Periode berikutnya
tercatat pertempuran antara kedua belah pihak. Teofisto Guingona, Sr. mencatat antara tahun
1914-1920 rata-rata terjadi 19 kali pertempuran. Tahun 1921-1923, terjadi 21 kali pertempuran.
Patut dicatat bahwa selama periode 1898-1902, AS ternyata telah menggunakan waktu tersebut
untuk membebaskan tanah serta hutan di wilayah Moro untuk keperluan ekspansi para kapitalis.
Bahkan periode 1903-1913 dihabiskan AS untuk memerangi berbagai kelompok perlawanan
Bangsa Moro. Namun Amerika memandang peperangan tak cukup efektif meredam perlawanan
Bangsa Moro, Amerika akhirnya menerapkan strategi penjajahan melalui kebijakan pendidikan
dan bujukan. Kebijakan ini kemudian disempurnakan oleh orang-orang Amerika sebagai ciri
khas penjajahan mereka. Kebijakan pendidikan dan bujukan yang diterapkan Amerika terbukti
merupakan strategi yang sangat efektif dalam meredam perlawanan Bangsa Moro. Sebagai
hasilnya, kohesitas politik dan kesatuan diantara masyarakat Muslim mulai berantakan dan basis
budaya mulai diserang oleh norma-norma Barat. Pada dasarnya kebijakan ini lebih disebabkan
keinginan Amerika memasukkan kaum Muslimin ke dalam arus utama masyarakat Filipina di
Utara dan mengasimilasi kaum Muslim ke dalam tradisi dan kebiasaan orang-orang Kristen.
Seiring dengan berkurangnya kekuasaan politik para Sultan dan berpindahnya kekuasaan secara
bertahap ke Manila, pendekatan ini sedikit demi sedikit mengancam tradisi kemandirian.

Masa Peralihan

       Masa pra-kemerdekaan ditandai dengan masa peralihan kekuasaan dari penjajah Amerika
ke pemerintah Kristen Filipina di Utara. Untuk menggabungkan ekonomi Moroland ke dalam
sistem kapitalis, diberlakukanlah hukum-hukum tanah warisan jajahan AS yang sangat
kapitalistis seperti Land Registration Act No. 496 (November 1902) yang menyatakan keharusan
pendaftaran tanah dalam bentuk tertulis, ditandatangani dan di bawah sumpah. Kemudian
Philippine Commission Act No. 718 (4 April 1903) yang menyatakan hibah tanah dari para
Sultan, Datu, atau kepala Suku Non-Kristen sebagai tidak sah, jika dilakukan tanpa ada
wewenang atau izin dari pemerintah. Demikian juga Public Land Act No. 296 (7 Oktober 1903)
yang menyatakan semua tanah yang tidak didaftarkan sesuai dengan Land Registration Act No.
496 sebagai tanah negara, The Mining Law of 1905 yang menyatakan semua tanah negara di
Filipina sebagai tanah yang bebas, terbuka untuk eksplorasi, pemilikan dan pembelian oleh WN
Filipina dan AS, serta Cadastral Act of 1907 yang membolehkan penduduk setempat (Filipina)
yang berpendidikan, dan para spekulan tanah Amerika, yang lebih paham dengan urusan
birokrasi, untuk melegalisasi klaim-klaim atas tanah. Pada intinya ketentuan tentang hukum
tanah ini merupakan legalisasi penyitaan tanah-tanah kaum Muslimin (tanah adat dan ulayat)
oleh pemerintah kolonial AS dan pemerintah Filipina di Utara yang menguntungkan para
kapitalis. Pemberlakukan Quino-Recto Colonialization Act No. 4197 pada 12 Februari 1935
menandai upaya pemerintah Filipina yang lebih agresif untuk membuka tanah dan menjajah
Mindanao. Pemerintah mula-mula berkonsentrasi pada pembangunan jalan dan survei-survei
tanah negara, sebelum membangun koloni-koloni pertanian yang baru. NLSA – National Land
Settlement Administration – didirikan berdasarkan Act No. 441 pada 1939. Di bawah NLSA,
tiga pemukiman besar yang menampung ribuan pemukim dari Utara dibangun di propinsi
Cotabato Lama. Bahkan seorang senator Manuel L. Quezon pada 1936-1944 gigih
mengkampanyekan program pemukiman besar-besaran orang-orang Utara dengan tujuan untuk
menghancurkan keragaman (homogenity) dan keunggulan jumlah Bangsa Moro di Mindanao
serta berusaha mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat Filipina secara umum.
Kepemilikan tanah yang begitu mudah dan mendapat legalisasi dari pemerintah tersebut
mendorong migrasi dan pemukiman besar-besaran orang-orang Utara ke Mindanao. Banyak
pemukim yang datang, seperti di Kidapawan, Manguindanao, mengakui bahwa motif utama
kedatangan mereka ke Mindanao adalah untuk mendapatkan tanah. Untuk menarik banyak
pemukim dari utara ke Mindanao, pemerintah membangun koloni-koloni yang disubsidi lengkap
dengan seluruh alat bantu yang diperlukan. Konsep penjajahan melalui koloni ini diteruskan oleh
pemerintah Filipina begitu AS hengkang dari negeri tersebut. Sehingga perlahan tapi pasti orang-
orang Moro menjadi minoritas di tanah mereka

Masa Pasca Kemerdekaan hingga Sekarang

       Kemerdekaan yang didapatkan Filipina (1946 M) dari Amerika Serikat ternyata tidak
memiliki arti khusus bagi Bangsa Moro. Hengkangnya penjajah pertama (Amerika Serikat) dari
Filipina ternyata memunculkan penjajah lainnya (pemerintah Filipina). Namun patut dicatat,
pada masa ini perjuangan Bangsa Moro memasuki babak baru dengan dibentuknya front
perlawanan yang lebih terorganisir dan maju, seperti MIM, Anshar-el-Islam, MNLF, MILF,
MNLF-Reformis, BMIF. Namun pada saat yang sama juga sebagai masa terpecahnya kekuatan
Bangsa Moro menjadi faksi-faksi yang melemahkan perjuangan mereka secara keseluruhan.
Pada awal kemerdekaan, pemerintah Filipina disibukkan dengan pemberontakan kaum komunis
Hukbalahab dan Hukbong Bayan Laban Sa Hapon. Sehingga tekanan terhadap perlawanan
Bangsa Moro dikurangi. Gerombolan komunis Hukbalahab ini awalnya merupakan gerakan
rakyat anti penjajahan Jepang. Setelah Jepang menyerah, mereka mengarahkan perlawanannya
ke pemerintah Filipina. Pemberontakan ini baru bisa diatasi di masa Ramon Magsaysay, menteri
pertahanan pada masa pemerintahan Eipidio Qurino (1948-1953). Tekanan semakin terasa hebat
dan berat ketika Ferdinand Marcos berkuasa (1965-1986). Dibandingkan dengan masa
pemerintahan semua presiden Filipina dari Jose Rizal sampai Fidel Ramos maka masa
pemerintahan Ferdinand Marcos merupakan masa pemerintahan paling represif bagi Bangsa
Moro. Pembentukan Muslim Independent Movement (MIM) pada 1968 dan Moro Liberation
Front (MLF) pada 1971 tak bisa dilepaskan dari sikap politik Marcos yang lebih dikenal dengan
Presidential Proclamation No. 1081 itu. Perkembangan berikutnya kita semua tahu. MLF sebagai
induk perjuangan Bangsa Moro akhirnya terpecah. Pertama, Moro National Liberation Front
(MNLF) pimpinan Nurulhaj Misuari yang berideologikan nasionalis-sekuler. Kedua, Moro
Islamic Liberation Front (MILF) pimpinan Salamat Hashim, seorang ulama pejuang, yang murni
berideologikan Islam dan bercita-cita mendirikan negara Islam di Filipina Selatan. Namun dalam
perjalanannya, ternyata MNLF pimpinan Nur Misuari mengalami perpecahan kembali menjadi
kelompok MNLF-Reformis pimpinan Dimas Pundato (1981) dan kelompok Abu Sayyaf
pimpinan Abdurrazak Janjalani (1993). Tentu saja perpecahan ini memperlemah perjuangan
Bangsa Moro secara keseluruhan dan memperkuat posisi pemerintah Filipina dalam menghadapi
Bangsa Moro. Ditandatanganinya perjanjian perdamaian antara Nur Misuari (ketua MNLF)
dengan Fidel Ramos (Presiden Filipina) pada 30 Agustus 1996 di Istana Merdeka Jakarta lebih
menunjukkan ketidaksepakatan Bangsa Moro dalam menyelesaikan konflik yang telah
memasuki 2 dasawarsa itu. Disatu pihak mereka menghendaki diselesaikannya konflik dengan
cara diplomatik (diwakili oleh MNLF), sementara pihak lainnya menghendaki perjuangan
bersenjata/jihad (diwakili oleh MILF). Semua pihak memandang caranyalah yang paling tepat
dan efektif. Namun agaknya Ramos telah memilih salah satu diantara mereka walaupun dengan
penuh resiko. “Semua orang harus memilih, tidak mungkin memuaskan semua pihak,” katanya.
Dan jadilah bangsa Moro seperti saat ini, minoritas di negeri sendiri.

Dari telusan diatas, begitu kentara bahwasanya islam masuk Philipina dengan jalan yang tidak
mulus, berliku dan harus menghadapi rintangan dan hambatan dari dalam maupun luar negeri.
Imbasnya, maka pada awal tahun 1970-an, Islam di Philipina merupakan komunitas minoritas
dan tinggal di beberapa daerah dan pulau khusus. Dengan suatu konsekwensi bagi kaum
minoritas Islam berseberangan dengan kepentingan pemerintah, hingga timbullah konflik yang
berkepanjangan antara pemerintah dan komunitas muslim.

D.SEJARAH ISLAM DI MALAYSIA

Masuknya Islam di Malaysia
  Pengakuan Islam di bagian dunia telah menjadi fakta sejak CE 674 (empat puluh dua tahun
setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW ketika penguasa Umayyah Muawiyah berkuasa di
Damaskus. Dua ratus tahun kemudian pada tahun 878 Masehi Islam dianut oleh orang-orang di
sepanjang pantai Semenanjung Malaysia termasuk pelabuhan Kelang yang terkenal pusat
perdagangan. Sebelum kedatangan Islam, orang Melayu pribumi memeluk agama kuno dengan
berbagai bentuk keyakinan dengan beberapa milik penduduk Hindu / Budha agama. Hidup ini
terstruktur dan diatur dengan cara-cara yang menunjukkan pengaruh lebih dari satu agama. Hal
ini dapat dilihat tidak hanya dalam pola-pola budaya malay tetapi juga bagian dari 'kekuatan'
struktur pejabat negara dan pangeran.

      Kejayaan Malaka dapat dibina lagi sedikit demi sedikit oleh Sultan Aludin Syah I, sebagai
pengganti Muhammad Syah. Kemudian pusat pemerintahannya dari Kampar ke Johor
(Semenanjung Malaka). Sultan Alaudin Syah I dikenal sebagai Sultan Johor yang pertama dan
negeri Johor makin nertambah ramai dengan datangnya para pedagang dan pendatang.

  Pada tingkat politik, penguasa kerajaan dan kepala negara di sebagian besar masyarakat di
dunia malaysia memeluk agama Islam. Orang-orang terkesan dan tertarik oleh ketentuan dalam
Alquran dan Hadis bahwa manusia harus digolongkan atas dasar kesetaraan interpersonal.

  Mereka yang begitu lama telah dianggap kasta rendah melihat bagaimana berbagai strata
masyarakat Islam yang diletakkan di depan mereka. Mereka tidak lagi dipenjara dalam sistem
kasta keagamaan dan pengertian tentang hidup dalam "kelas". Dalam Islam tidak ada
diskriminasi, atau divisi berdasarkan warna, kelas afiliasi suku, ras, tanah air dan tempat
kelahiran, yang semuanya memunculkan masalah. Hak yang sama manusia sepertinya solusi
yang tepat, yang dalam prakteknya berarti penerimaan hak dan kewajiban sebagai anggota
masyarakat Islam. Orang yang saleh dicapai keagungan dan kedekatan kepada Allah.

  Penduduk lokal melihat bahwa Islam bisa melepaskan mereka dari belenggu ini dan
menyediakan sarana bagi pemusnahan kejahatan sosial. Agama baru memberi pria kecil rasa
individu ini bernilai - martabat manusia - sebagai anggota masyarakat Islam.

  Upaya para ulama 'dalam menerapkan ajaran Islam secara bertahap mencapai penguasa,
pejabat, pemimpin masyarakat dan rakyat biasa. Upaya mereka meninggalkan jejak di tempat-
tempat seperti Banten (sebelumnya Bantam), Jawa Timur, Makasar, Kalimantan, Filipina
Selatan, selatan Thailand, Malaka, Trengganu dan di tempat lain. Para ulama 'juga memainkan
peran dalam administrasi, dan beberapa sultan kuat berpegang teguh kepada ajaran Islam.

  Penyebaran Islam

  Setelah pengenalan awal Islam, agama ini disebarkan oleh para sarjana Muslim lokal atau
ulama 'dari satu kabupaten yang lain. Praktik normal mereka adalah untuk membuka pusat
pelatihan agama disebut "pondok" atau pondok dari ruang tidur kecil yang dibangun bagi para
siswa.

  Selain memberi kuliah di rumah-rumah, rumah doa, atau masjid, mereka juga melakukan
tugas-tugas seperti bekerja di ladang padi, berkebun dan craftwork dan pekerjaan lain sesuai
dengan kemampuan masing-masing individu. Peran ulama ini 'tidak hanya itu seorang guru
tetapi juga bahwa dari penasihat bagi keluarga dan masyarakat desa. Peran yang mereka mainkan
cukup luas dengan alasan salah satu keahlian dan kemampuan mereka di lebih dari satu bidang
kegiatan manusia. Setelah lulus, murid-murid akan kembali ke tanah air mereka, sering di
beberapa sudut terpencil negara, membentuk sebuah mata rantai antara satu ulama 'dan lainnya.

  Islam di Malay Archipelago pada umumnya dan Malaysia khususnya mengikuti Madhab
Syafi'i (aliran pemikiran). Namun, ada banyak umat Islam di Malaysia yang tidak mengikuti
sekolah tertentu. Di Perlis, konstitusi negara menentukan bahwa Perlis mengikuti Al-Qur'an dan
Sunnah dan tidak Madhab tertentu. Banyak umat Islam di Perlis karenanya tidak mengikuti
Madhab, seperti halnya dengan para pengikut dan anggota Organisasi Muhammadiyah di
Indonesia.

  Namun ada, sejumlah umat Islam yang merasa bahwa sekolah-sekolah pondok tidak bisa
menghadapi tantangan lembaga pendidikan kolonial. Dalam rangka untuk mengatasi masalah,
Madrasatul Mashoor Al-Islamiyah didirikan di Pulau Pinang pada tahun 1916 dengan
menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Madrasah mengajarkan Fiqh serta mata
pelajaran sekuler. Lembaga ini belajar tidak hanya dimaksudkan untuk meningkatkan posisi
Muslim di Penang dan utara Malaya tapi di Asia Tenggara juga. Memilih sekolah ini sebagai
inspirasi nama Syed Ahmad Al Mashoor, alternatif dikenal sebagai Ayid Mashoor, seorang
pemimpin keturunan Arab di Pulau itu. Setelah mencapai kemerdekaan Malaya pada 31 Agustus
1957, pertumbuhan pendidikan agama di sekolah-sekolah yang disubsidi pemerintah adalah hasil
dari usaha terus-menerus di malay bagian dari masyarakat. Hal ini dapat dilihat di Islamic
College dan National University of Malaysia. Yang paling terkenal dan konon pondok tertua di
Malaysia adalah bahwa dari Tok Guru Haji Muhammad Yusof atau Tok Kenali, yang dibangun
sendiri di Kota Bahru, Kelantan.

      Sampai sekarang perkembangan agama Islam di Malaysia makin bertambah maju dan
pesat, dengan bukti banyaknya masjid-masjid yang dibangun, juga terlihat dalam
penyelenggaraan jamaah haji yang begitu baik. Sehingga dapat dikatakan bahwa perkemabangan
Islam di Malaysia, tidak ada hambatan. Bahkan, ditegaskan dalam konstitusi negaranya bahwa
Islam merupakan agama resmi negara. Di kelantan, hukum hudud (pidana Islam) telah
diberlakukan sejak 1992. kelantan adalah negara bagian yang dikuasai partai oposisi, yakni
Partai Al-Islam se-Malaysia (PAS) yang berideologi Islam. Dalam pemilu 1990 mengalahkan
UMNO dan PAS dipimpin oleh Nik Mat Nik Abdul Azis yang menjabat sebagai Menteri Besar
Kelantan.

E.ISLAM DI MUANGTHAI
Latar Belakang Muangthai
  Di Muangthai terdapat sekitar 2,2 juta kaum muslimin atau 4 % dari penduduk umumnya.
Muangthai dibagi menjadi 4 propinsi, yang paling banyak menganut Islam yaitu di propinsi
bagian selatan tepatnya di kota Satun, Narathiwat, Patani dan Yala. Pekerjaan kaum muslimin
Muangthai cukup beragam, namun yang paling dominan adalah petani, pedagang kecil, buruh
pabrik, dan pegawai pemerintahan. Agama Islam di Muangthai merupakan minoritas yang paling
kuat di daerah Patani pada awal abad ke-17 pernah menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di
Asia Tenggara dan menghasilkan ulama besar seperti Daud bin Abdillah bin Idris al-Fatani.
  Di Semenanjung Malaya, Islam mula-mula meyakinkan penguasa setempat di kota Malaka
yang tadinya berada di bawah kekuasaan raja Siam yang beragama Budha. Sekian abad
sebelumnya telah datang agama Hindu dan Budha, beliau membangun sebuah peradaban dengan
bukti meninggalkan berkas-berkasnya pada rakyat. Menurut Geertz ketika Islam tiba
pengaruhnya hanya terbatas pada masyarakat ras melayu, sebelum Islam dapat meluas lebih
dalam di daratan Asia dibendung oleh kolonialisme yang sebagai kekuatan baru menyebar luas
di seluruh kawasan.
b. Masyarakat
  Masyarakat Melayu sangat terisolasi dari masyarakat Muangthai pada umumnya dan
karakteristik sosial budayanya cenderung untuk mengisolasikan. Istilah masyarakat Muslim
hampir sinonim dengan masyarakat pedesaan. Daerah-daerah perkotaan secara dominan
merupakan daerah Muangthai Budhis, yang berhubungan dengan birokrasi negara dan para
pedagang serta pemilik tokoh Cina. Hanya ada dua alasan bagi orang Muslim pedesaan Melayu
untuk berhubungan dengan orang Muslim bukan melayu di daerah perkotaan. Oleh karena itu,
usaha-usaha kecil di desa dimiliki oleh orang-orang Muslim Melayu sendiri. Dan untuk
berhubungan atau berurusan dengan pemerintahan harus memakai cara penghubung atau
perantara, maka kesempatan diadakannya hubungan antar pribadi antara mayoritas Melayu
Muslim dan non Muslim di daerah itu sangat terbatas. Para pejabat pemerintah tidak mempunyai
banyak kesempatan untuk mengetahui dari sifat sebenarnya terhadap masalah-masalah yang
dihadapi oleh penduduk desa. Penduduk desa menyerahkan persoalan dagangnya dengan para
saudagar Cina dipemilik toko di desa. Lingkungan sosialnya cenderung kecil dan mereka tidak
merasa perlumemperluas jaringan sosialnya.
c. Penyebaran Islam di daerah Patani
  Pada dasarnya yang menyebabkan tetap kuatnya kesetiaan rakyat dan rasa keterikatan kultural
mereka dengan Patani adalah peran historisnya sebagai pusat Islam di Asia Tenggara. Bahkan
kerabat-kerabat raja dan kaum bangsawan tetap merupakan symbol kemerdekaan Patani selama
banyak dasawarsa, setelah negeri itu secara formal dimasukkan ke dalam kerajaan Muangthai
dalam tahun 1901. Pada tahun 1613 Patani masuk Islam sebelum Malaka, secara tradisional
dikenal sebagai “ Darussalam” (tempat damai) pertama di kawasan itu. Sejalan dengan tradisi
antara agama dan system pemerintahan di Asia Tenggara. Di kalangan pemegang kekuasaan
untuk menerima“idiologi yang memberi legitimasi” sebelum rakyat sendiri memeluknya. Maka
Islam dianut oleh keluarga para raja.
  Penyebaran Islam di Muangthai melalui perdagangan, di sana Islam tidak berhasil mendesak
pengaruh Budha secara kultural maupun politik. Karena Islam pada saat itu masih sedikit. Kaum
muslimin yang menjadi mayoritas menghadapi masalah, namun tak lama kemudian Muslim
minoritas bisa berperan penting dalam kehidupan nasional mereka. Karena kemajuan yang telah
dicapai di bidang pendidikan. Dan pendidikan inilah faktor terpenting bagi kemajuan kaum
muslimin, contohnya berhasilnya Surin Pitsuan dengan nama Muslim Abdul Halim bin Ismail,
beliau mendapat gelar kesarjanaan tertinggi di bidang ilmu politik, beliau juga seorang
intelektual Muslim berhaluan modernis dan moderat. Surin Pitsuan berfikir bahwa selama ini
sistem negara Muangthai berdasarkan budhisme terbukti dalam keanggotaannya dalam parlemen.
Kaum muslimin yang merupakan minoritas memang merasa tertekan dan tertindas. Dengan bukti
terjadinya berbagai pemberontakan bersenjata yang selalu timbul sejak awal abad ini. Setelah
datangnya Islam konsep negara atau agama menjadi dikotomi melayu Islam yang menyatakan
hubungan mistik yang sama di Patani seperti juga di negeri-negeri Islam lainnya di kawasan itu.
Pada saat orang beralih ke agama Islam, dan membina hubungan dengan Dunia Melayu. Dengan
Islam sebagai faktor pemersatunya. Masa kejayaan daerah Patani pada abad ke-17.
d. Perkembangan Keagamaan dan Peradaban di Muangthai
Islam di Muangthai adalah agama minoritas hanya 4 %, selain itu masyarakat Muangthai
menganut agama Budha dan Hindu. Orang Melayu Muslim merupakan golongan minoritas
terbesar ke-dua di Muangthai, sesudah golongan Cina. Mereka tergolong Muslim Sunni dari
madzab Syafi’I yang merupakan madzab paling besar dikalangan umat Islam di Muangthai.
Ikatan-ikatan budayanya telah membantu memupuk suatu perasaan keterasingan dikalangan
mereka terhadap lembaga-lembaga sosial, budaya, dan politik Muangthai. Sejak bangsa
Muangthai untuk pertama kali menyatakan daerah itu sebagai wilayah yang takluk kepada
kekuasaannya. Pada akhir abad ke-13 orang Melayu Muslim terus-menerus memberontak
terhadap kekuasaan Muangthai. Keinginan mereka adalah untuk menjadi bagian dari Dunia
budaya Melayu Muslim dengan pemerintahan otonom. Akhirnya keinginan yang tak pernah
mengendor itu pudar dalam sejarah, dan ciri-ciri sosial ekonomi dan budaya mereka telah
membuat mereka sadar bahwa mereka hanyalah kelompok kecil yang mempunyai identitas
terpisah dari bagian utama penduduk Negeri Muangthai. Masyarakat Muslim di Muangthai
sebagian besar berlatarbelakang pedesaan. DanPerkembangan Islam di Muangthai telah banyak
membawa peradaban-peradaban,misalnya :
1) Di Bangkok terdaftar sekitar 2000 bangunan masjid yang sangat megah dan indah.
2) Golongan Tradisional dan golongan ortodoks telah menerbitkan majalah Islam
“Rabittah”.
3) Golongam modernis berhasil menerbitkan jurnal “Al Jihad”.
                                             BAB III

                                             PENUTUP

A.KESIMPULAN

Penyebaran Islam di Asia Tenggaratidak terlepas dari peranan kaum pedagang Muslim. Hingga
kontrol ekonomi pun di monopoli oleh mereka. Disamping itu pengaruh ajaran Islam sendiripun
telah   mempengaruhi      berbagai   aspek    kehidupan   Masyarakat   Asia   Tenggara.   Islam
mentransformasikan budaya masyarakat yang telah di-Islamkan di kawasan ini, secara bertahap.
Islam dan etos yang lahir darinya muncul sebagai dasar kebudayaan.Namun dari masyarakat
yang telah di-Islamkan dengan sedikit muatan lokal. Islamisasi dari kawasan Asia Tenggara ini
membawa persamaan di bidang pendidikan. Pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa kaum
bangsawan. Tradisi pendidikan Islam melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Setiap Muslim
diharapkan mampu membaca al-Qur’an dan memahami asas-asas Islam secara rasional dan dan
dengan belajar huruf Arab diperkenalkan dan digunakan di seluruh wilayah dari Aceh hingga
Mindanao. Bahasa bahasa lokal diperluasnya dengan kosa-kata dan gaya bahasa Arab. Bahasa
Melayu secara khusus dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari di Asia Tenggara dan menjadi
media pengajaran agama. Bahasa Melayu juga punya peran yang penting bagi pemersatu seluruh
wilayah itu.Sejumlah karya bermutu di bidang teologi, hukum, sastra dan sejarah, segera
bermunculan.
B.Kritik dan saran

       Mengingat bahwaIslam masuk ke ASEAn secara damai ,maka hendaklah kitamenjaga
        suasanan itu seterusnya.Agar Isalm tidak dicap sebagai agama yang anarkis seperti yang
        banyak di isukan saat ini.
DAFTAR PUSTAKA

http://hbis.wordpress.com/2007/12/11/perkembangan-islam-di-dunia/Diakses tanggal 21 Febuari
2010

http://www.voa-islam.com/news/se-asia/2009/07/09/175/sejarah-asia-tenggara-(3awal-mula-
masuknya-peradaban-islam/diakses tanggal 1Maret 2010

http://cintailmoe.wordpress.com/2008/04/07/sejarah-islam-di-filipina/ diakses tanggal 1 maret
2010

								
To top