Konsep Infaq: Tafsir al-Muharrar al-Wajiz by naguibsulaimana

VIEWS: 4,809 PAGES: 20

More Info
									                    Makalah

                                       KONSEP INFAQ MENURUT
                                 KITAB TAFSIR AL-MUHARRAR AL-WAJIZ




                                          Disampaikan pada Forum Kajian Alquran
                                        Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar
                                              Pada Hari Sabtu 7 September 2000




                                                             Oleh:

                                                  MUHAMMAD NAJIB




                                         PROGRAM PASCASARJANA
                                      UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
                                               MAKASSAR
                                                   2000




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                         2




                                                     I. PENDAHULUAN

                    A. Latar Belakang Masalah
                          Menurut Alquran, jin dan manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada
                    Allah SWT.1       Semua rasul utusan Allah diberi tugas untuk mengajak manusia
                    beribadah kepada-Nya.2         Islam memandang seluruh hidup manusia haruslah
                    merupakan ibadah kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan definisi ibadah yang
                    dikemukakan oleh Ibn Taimiyah. Ia menyatakan bahwa ibadah adalah sebuah kata
                    yang menyeluruh, meliputi segala yang dicintai dan diridhai oleh Allah, menyangkut
                    segala ucapan dan perbuatan yang tidak tampak maupun yang tampak.3 Dengan
                    demikian, ibadah bukan saja berdzikir, shalat, dan puasa, tetapi juga menolong yang
                    teraniaya, memberi makanan kepada yang kelaparan, dan memberi pakaian kepada
                    yang telanjang.
                          Ulama biasanya membagi ibadah ke dalam dua macam kategori, yakni ibadah
                    mahdhah (murni hubungan dengan Tuhan) dan ibadah ghairu mahdhah (mencakup
                    hubungan antar manusia dalam rangka mengabdi kepada Allah).                Jenis ibadah
                    pertama biasa juga disebut sebagai ibadah ritual atau ibadah an sich, sedangkan
                    ibadah yang kedua populer dengan sebutan muamalah atau ibadah sosial.4
                          Menurut Jalaluddin Rakhmat, ajaran Islam lebih menekankan ibadah
                    muamalah dari pada         ibadah ritual. Untuk mendukung pendapatnya ini, ia
                    mengemukakan beberapa alasan, di antaranya adalah bahwa proporsi terbesar dari isi
                    Alquran dan Hadis adalah berkenaan dengan urusan muamalah. Hal ini berdasarkan
                    kepada hasil penelitian        Ayatullah Khomeini yang mengungkapkan bahwa
                    perbandingan ayat-ayat ibadah (an sich) dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan

                            1
                               QS. al-Dzariyat (51): 56
                            2
                               QS. Al-Nahl (16): 36 dan QS. al-Anbiya’ (21): 25.
                             3
                               Lihat Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif: Ceramah-ceramah di Kampus
                    (Cet. VII; Bandung: Mizan, 1995), h. 46.
                             4
                               Lihat Jalaluddin Rahman, Islam: Dalam Perspektif Pemikiran Kontemporer
                    (Cet. I: Ujung Pandang: PT Umitoha Ukhuwah Grafika, 1997), h. 6-7.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                           3



                    sosial adalah satu berbanding seratus—untuk satu ayat ibadah, ada seratus ayat
                    muamalah.5
                          Dengan berasumsi pada pendapat di atas, serta berpegang kepada keyakinan
                    bahwa ajaran Islam adalah benar-benar merupakan pedoman hidup yang berasal dari
                    Allah SWT, maka dapat dikatakan bahwa seharusnya dalam masyarakat muslim
                    tidak akan ada masalah-masalah sosial yang berarti. Kalaupun ada, pasti akan dapat
                    segera diatasi dengan menggunakan “resep-resep” ampuh yang ada dalam ajaran
                    Islam terutama dalam Alquran.        Akan tetapi, dalam kenyataannya pada banyak
                    masyarakat muslim, seperti di Indonesia, justru terdapat masalah sosial yang
                    berlarut-larut dan susah untuk diatasi.      Di antaranya adalah terjadinya       tingkat
                    kesenjangan sosial yang begitu tinggi; yang kaya semakin kaya sedangkan yang
                    miskin tambah sengsara.
                          Masalah kesenjangan sosial tersebut sebenarnya tidak akan terjadi jika umat
                    Islam memahami dan melaksanakan ajaran agamanya secara konsisten.                 Dalam
                    Alquran jelas dinyatakan bahwa harta yang ada ditangan seseorang, terutama di
                    tangan yang berkelebihan, sebahagian adalah milik orang yang “tidak punya”.6 Oleh
                    karena itu harta tersebut harus didistribusikan kepada mereka sesuai dengan
                    petunjuk-petunjuk agama. Untuk keperluan pendistribusian tersebut, dalam Islam
                    dikenal ajaran yang disebut sebagai zakat, infak, dan sedekah.             Dalam Alquran
                    sendiri, ketiga term—dengan beberapa kata yang seakar—biasa digunakan.7
                          Adanya masalah-masalah sosial yang sulit teratasi di kalangan kaum muslimin,
                    khususnya masalah kesenjangan sosial tersebut, yang menurut penulis antara lain
                    disebabkan oleh kurangnya pengamalan ajaran Islam tentang zakat, infaq, dan
                    sedekah, mendorong penulis untuk mengkaji dan menulis makalah tentang konsep
                    infak yang ada dalam Alquran. Semoga kajian dan tulisan ini dapat dijadikan bahan
                    diskusi yang akan menghasilkan suatu pemikiran yang berguna dan sekaligus dapat

                            5
                             Lihat Jalaluddin Rakhmat, op. cit., h. 48 dst.
                            6
                             Lihat QS. al-Ma’arij (70): 24-25.
                           7
                             Misalnya, dalam QS.Al-Baqarah (2): 43 (Zakat), QS. al-Taubah (9): 104
                    (sedekah), QS. al-Taubah (9): 35 (infaq).




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                          4



                    disosialisasikan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran umat untuk
                    melakasanakan ajaran Islam, khususnya infaq, dalam kehidupan ini.
                    B. Rumusan dan Batasan Masalah
                          Berdasarkan latar belakang di atas, penulis akan membahas ajaran infaq yang
                    ada dalam Alquran dengan merujuk sekaligus menyoroti penafsiran Ibn ‘Athiyah
                    dalam kitabnya yang berjudul al-Muharrar al-Wajiz fi tafsir al-Kitab al-‘Aziz.
                          Untuk itu, masalah pokok yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
                    Bagaimanakah konsep infaq dalam Alquran menurut kitab tafsir Ibn “Athiyah
                    tersebut?     Pokok permasalahan ini akan dibahas dengan menggunakan analisis
                    filosofis. Oleh karena itu, penulis merumuskannya ke dalam             sub-sub masalah,
                    sebagai berikut:
                     1. Siapakah Ibn Athiyah itu dan bagaimana kitab tafsirnya tersebut?
                     2. Apakah hakekat infaq dalam konsep Alquran menurut kitab tafsir tersebut?
                     3. Bagaimanakah unsur-unsur (objek, subjek, dan sasaran) infaq menurut tafsir ibn
                     ‘Athiyah?
                     4. Bagaimanakah urgensi infaq menurutnya?

                          Perlu dikemukakan di sini bahwa dalam Alquran, kata infaq (dan kata yang
                    seakar dengannya) juga digunakan dalam konteks pembicaraan menyangkut infaq
                    yang subjek dan sasarannya adalah orang kafir dan kepentingan mereka.8
                    Sehubungan dengan hal itu, perlu ditegaskan bahwa infaq yang dibicarakan disini
                    adalah infaq yang merupakan salah satu ibadah (dalam arti luas) dalam Islam.

                         II. IBN ‘ATHIYAH DAN KITAB TAFSIR AL-MUHARRAR AL-WAJIZ

                    A. Riwayat Hidup Ibn ‘Athiyah

                          Al-Qadhi Abu Muhammad ‘Abd al-Haq ibn Ghalib ibn ‘Abd al-Rahman ibn
                    Ghalib ibn ‘Athiyah al-Andalusi lahir pada tahun 481 H. di Ghurnat. Saat itu adalah


                            8
                                Lihat QS. al-Anfal (8); 36.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                       5



                    masa awal dari pemerintahan Daulah al-Murabhitun.* Ia dididik dan tumbuh dalam
                    lingkungan keluarga berilmu dan penuh keutamaan.                Dalam keluarganya ia
                    senantiasa mendapatkan dorongan dari orang tuanya untuk mengembangkan potensi
                    intelektual yang dimilikinya.9
                          Ibn ‘Athiyah adalah seorang yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi.
                    Kemampuan pemahamannya baik dan cepat, serta mempunyai semangat yang
                    membara dalam menuntut ilmu. Selain itu ia seorang yang rajin dan tekun.10 Oleh
                    karena itu tidak mengherankan jika kemudian ia menjadi seorang ulama yang
                    mumpuni. Ibn ‘Athiyah adalah seorang ahli fiqih (faqih) besar, menguasai ilmu
                    Hadis, tafsir, serta bahasa dan sastra Arab. Sebagai seorang faqih ia adalah salah
                    seorang pendukung utama mazhab Maliki.11 Sehubungannya dengan otoritasnya
                    dalam bidang fiqih (mazhab Maliki), maka pemerintah dinasti al-Murabithun yang
                    bermazhab Maliki mengangkatnya sebagai hakim atau qadhi diwilayah Andalusi
                    (Spanyol).12
                          Sebagai seorang ahli tafsir ia menyusun sebuah kitab tafsir yang terkenal
                    dengan nama al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz. Dalam kitab tafsirnya
                    jelas tergambar bagaimana kemampuan Ibn ‘Athiyah sebagai seorang ahli tafsir yang
                    sekaligus seorang faqih dari mazhab Maliki dan merupakan seorang ahli bahasa dan




                           * Daulah al-Murabithun adalah adalah daulah yang berpusat di Maroko dan
                    kekuasaannya meliputi Maroko dan Andalusia. Daulah ini didirikan oleh Abu Bakar
                    al-Lamtuni pada tahun 448 H. Mereka mengakui khilafah Abbasiyah dan menganut
                    mazhab Maliki yang tersebar luas di Afrika Utara
                            9
                             Lihat Manii’ Abd Halim Mahmud, Manahij al-Mufassirin (Cet I; Kairo: Dar
                    al-Kitab al-Mishri, 1978), h. 127; Lihat juga Manna’ Khalil al-Qattan, Mabahits fi
                    ‘Ulum al-Qura’an ( Cet. XIV; Beirut: Muassasah al-Risalah, t..th.), h. 364.
                            10
                               Lihat ibid.
                            11
                               Lihat Manna al-Qattan, loc. cit.
                            12
                               LihatMuhammad Ali ash-Shobuni, al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an,
                    diterjemahkan oleh Muhammad Qodirun Nur dengan judul Ikhtisar Ilmu Qur’an
                    Praktis (Jakarta: Pustaka Amani, 1988), h. 265.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                         6



                    sastra Arab. Mengenai kitab ini, akan dijelaskan lebih jauh dalam pembahasan
                    berikut.

                    B. Kitab Tafsir al-Muharrar al-Wajiz

                          Kitab tafsir yang disusun Ibn ‘Athiyah dinamai dengan Al-Muharrar al-Wajiz
                    fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz.     Al-Muharrar berarti pembebas, artinya, kitab ini
                    merupakan pembebas dari penafsiran-penafsiran yang bersifat janggal. Sedangkan
                    al-Wajiz berarti ringkas, artinya bahwa kitab ini merupakan ringkasan dari kitab-
                    kitab sebelumya. Yang dimaksud ringkas ini adalah dalam cara pengungkapan
                    uraian-uraian tafsirnya, yang meskipun singkat tetapi padat dan jelas.13 Tafsir ini
                    juga dikenal dengan tafsir Ibn ‘Athiyah,14 disandarkan kepada nama pengarangnya.
                          Tafsir Ibn ‘Athiyah digolongkan sebagai tafsir bi al-matsur.15 Tafsir bi al-
                    Matsur yang juga biasa disebut sebagai tafsir bi al-riwayah atau tafsir bi al-manqul
                    adalah penafsiran ayat Alquran dengan ayat Alquran yang lain atau dengan Hadis
                    Nabi atau dengan ucapan sahabat. Ulama lain memasukkan juga penafsiran ayat
                    Alquran dengan perkataan Tabi’in sebagai tafsir bil matsur .16
                            Dalam kitab tafsir ini, Ibnu ‘Athiyah banyak menyebutkan sejumlah Hadis
                    atau atsar yang ia nukil dari para ulama tafsir bil matsur             termasyhur yang
                    mendahuluinya. Ibn ‘’Athiyah dalam hal ini banyak menukil dari al-Thabary dan Ibn
                    Hayyan al-Tsa’labiy.      Dalam menukil, ia memilih Atsar yang lebih mendekati
                    kebenaran.17

                            13
                               Lihat Manii’ ‘Abd Halim Mahmud, op. cit., h. 125 & 126.
                            14
                               Lihat ash-Shobuni, op. cit., h 262.
                            15
                               Lihat ibid., h. 263 dst.
                            16
                             Lihat ash-Shobuni, op. cit., h. 90-91; Bandingkan dengan ‘Abd al-Hayy al-
                    Farmawi, al-Bidayah fi al-Tafsir al-Mawdhu’iy: Dirasah Manhajiah Mawdhu’iyah,
                    diterjemahkan oleh Suryan A. Jamrah dengan judul Metode Tafsir Mawdhu’iy: Suatu
                    Pengantar (Cet. II; Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996), h. 12-13.
                            17
                           Lihat ash-Shobuni, op. cit., h. 265.; Lihat juga Manii’ ‘Abd Halim
                    Mahmud, op. cit., h. 126.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                         7



                            Di dalam kitabnya, Ibn ‘Athiyah tidak hanya membatasi pada tafsir bi al-
                    manqul yang diriwayatkan tetapi juga ia menambahkan padanya semangat ilmiah
                    melimpah sebagai refleksi kecerdasannya yang menjadikan tafsirnya semakin
                    mempesona dan digemari. Kitab tersebut terdiri atas sepuluh jilid berukuran besar,
                    dan sampai kini aslinya masih tetap berbentuk manuskrip. Syaikh Muhammad al-
                    Zahabi menyebutkan, di “Darul Kutub al-Misriyah” kitab itu hanya ditemukan empat
                    jilid, padahal kitab ini cukup terkenal dan sering dikutip oleh para mufassir. Ibn
                    ‘Athiyah sangat memperhatikan bukti-bukti sastra dan karya Nahwu.18
                            Dalam kitab Fatawinya, Ibn Taimiyah membandingkan kitab tafsir ini dengan
                    kitab tafsir al-Zamakhsyari.        Ia mengemukakan penilaiannya bahwa tafsir Ibn
                    ‘Athiyah adalah lebih baik dari pada tafsir al-Zamakhsyari. Kelebihan tafsir Ibn
                    ‘Athiyah terletak kepada segi penukilan dan pembahasannya yang lebih shah serta
                    lebih jauh dari bid’ah. Meskipun tafsir tersebut juga memuat sebagian hal yang
                    janggal, akan tetapi ia tetap jauh lebih baik daripada tafsir al-Zamakhsyari. Bahkan
                    mungkin ia merupakan kitab tafsir yang paling rajih.19


                                    III. PENAFSIRAN IBNU ‘ATHIYAH TENTANG INFAQ
                     A. Pengertian Infaq
                         Dari segi etimologi, kata infaq merupakan derivasi dari kata nafaqa. Kata
                    nafaqa yang terdiri dari huruf nun (‫ ,)ث‬fa (‫ ,)ف‬dan qaf (‫ )ق‬menurut Ibnu Faris antara
                    lain bermakna “ keterputusan dan kelenyapan “.           Kata infaq merupakan bentuk
                    masdar dari kata anfaqa. Dalam bahasa Arab jika dikatakan anfaqa al-Rajul itu
                    berarti “menjadi miskin atau habis hartanya”.20 Dari segi leksikal kata infaq berarti
                    mengorbankan harta dan semacamnya dalam hal kebaikan .21

                            18
                                 Lihat al-Qattan, op. cit., h. 364-365.
                            19
                             Lihat ash-Shobuni, loc. cit.
                            20
                             Lihat Abu Husain Ahmad ibn Faris ibn Zakariya, Mu’jam Maqayis al-
                    Lughah, juz V (t.tp.: Dal al-Fikr, t.th.), h. 454.
                          21
                             Lihat Ibrahim Mushthafa, (et al.), al-Mu’jam al-Wasith., juz II (Teheran:
                    al-Maktabat al-Islamiyat, t.th.), h. 942.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                         8



                        Dengan demikian, kalau makna leksikal ini dihubungkan dengan tinjauan kata
                    infaq dari segi etimologis di atas, maka dapat dipahami              bahwa harta yang
                    dikorbankan atau didermakan pada kebaikan itulah yang mengalami keterputusan
                    atau lenyap dari kepemilikan orang yang mengorbankannya. Berdasarkan pengertian
                    di atas, maka setiap pengorbanan (pembelanjaan) harta dan semacamnya pada
                    kebaikan disebut al-infaq.
                        Dalam Alquran, kata infaq dan kata yang seakar dengannya digunakan sebanyak
                    73 kali.22 Denotasi kata infaq dalam Alquran lebih luas daripada yang dipahami
                    sehari-hari. Dalam istilah sehari-hari, infak itu adalah pendermaan harta yang bersifat
                    sunnat, identik dengan sedekah (dibedakan dengan zakat).23 Akan tetapi, dalam
                    istilah Alquran tidak demikianlah adanya. Hal ini dapat dilihat dalam penafsiran Ibn
                    ‘Athiyah terhadap ayat-ayat infaq, yang antara lain akan dikemukakan dalam uraian
                    berikut ini.
                            Dalam QS. Al-Baqarah (2): 267, Allah berfirman:
                      ‫ﯾﺎأﯾﮭﺎ اﻟﺬﯾﻦ ءاﻣﻨﻮا أﻧﻔﻘﻮا ﻣﻦ ﻃﯿﺒﺎت ﻣﺎ ﻛﺴﺒﺘﻢ وﻣﻤﺎ أﺧﺮﺟﻨﺎ ﻟﻜﻢ ﻣﻦ اﻷرض وﻻ ﺗﯿﻤﻤﻮا اﻟﺨﺒﯿﺚ‬
                                     (267)‫ﻣﻨﮫ ﺗﻨﻔﻘﻮن وﻟﺴﺘﻢ ﺑﺂﺧﺬﯾﮫ إﻻ أن ﺗﻐﻤﻀﻮا ﻓﯿﮫ واﻋﻠﻤﻮا أن اﷲ ﻏﻨﻲ ﺣﻤﯿﺪ‬
                        ‘Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari
                        hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari
                        bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu
                        nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya
                        melainkan dengan memicinkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah
                        Maha Kaya lagi Maha Terpuji.’24

                            Dalam tafsir Ibn ‘Athiyah dikemukakan beberapa qaul dari kalangan
                    muta’awwalun (sahabat dan tabi’in)         berkenaan dengan pengertian kata anfiqu
                    dalam ayat di atas.    Terjadi perbedaan pendapat di antara mereka mengenai yang
                    dimaksud kata tersebut, apakah yang dimaksud adalah zakat ataukah al-Tathawwu’



                            22
                              Lihat M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an (Cet. VII; Bandung: Mizan,
                    1998), h. 4.
                           23
                              Lihat Didin Hafidhuddin, Panduan Praktis tentang Zakat, Infak dan
                    Sedekah (Cet. I: Jakarta: Gema Insani Press, 1998), h. 14-15.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                             9



                    (sedekah). ‘Ali ibn Abi Thalib, ‘Ubaidah al-Salmaniy, dan Muhammad ibn Sirin
                    berpendapat bahwa yang dimaksud adalah zakat. Sedangkan al-Barra’ ibn ‘Azib, al-
                    Hasan ibn Abi al-Hasan, dan Qatadah berpendirian bahwa yang dimaksud ayat
                    tersebut adalah al-Tathawwu’. Ibn ‘Athiyah menyatakan bahwa kata anfiqu dalam
                    ayat ini dapat diartikan dengan keduanya. Kalau ia diartikan sebagai zakat, maka itu
                    berarti secara hukum ia wajib, sedangkan kalau diartikan sebagai al-Tathawwu’,
                    maka itu berarti ia identik dengan apa yang diistilahkan sekarang sebagai sedekah
                    (sunnat).25
                            Dalam penafsiran di atas tergambar jelas bagaimana status ibn ‘Athiyah
                    sebagai ahli hukum dalam mempengaruhi pendekatan penafsirannya, khususnya
                    dalam menafsirkan kata anfiqu dalam ayat tersebut.
                            Ayat lain yang menggunakan kata yang seakar dengan kata infaq adalah QS.
                    al-Baqarah (2): 215, sebagai berikut:
                      ‫ﯾﺴﺄﻟﻮﻧﻚ ﻣﺎذا ﯾﻨﻔﻘﻮن ﻗﻞ ﻣﺎ أﻧﻔﻘﺘﻢ ﻣﻦ ﺧﯿﺮ ﻓﻠﻠﻮاﻟﺪﯾﻦ واﻷﻗﺮﺑﯿﻦ واﻟﯿﺘﺎﻣﻰ واﻟﻤﺴﺎﻛﯿﻦ واﺑﻦ اﻟﺴﺒﯿﻞ‬
                                                                       (215)‫وﻣﺎ ﺗﻔﻌﻠﻮا ﻣﻦ ﺧﯿﺮ ﻓﺈن اﷲ ﺑﮫ ﻋﻠﯿﻢ‬
                        ‘Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah:
                        “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak,
                        kaum kerabat, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-
                        orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat,
                        maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.’26

                            Dalam tafsir Ibn ‘Athiyah dikemukakan kembali perbedaan pendapat
                    mengenai ayat tersebut. Ibnu Juraij dan yang lainnya berkata bahwa ayat ini
                    berbicara tentang infaq dalan arti shadaqah sunnat. Sementara itu ada yang
                    berpendapat ayat ini merupakan ayat tentang zakat (wajib) dan dengan demikian kata
                    al-Waladaani dalam ayat ini dinasakh oleh ayat-ayat zakat yang datang kemudian.
                    As-Suddi berkata bahwa ayat ini turun sebelum diwajibkannya zakat, baru setelah

                            24
                              Departemen Agama RI., Al-Quraan Dan Terjemahnya (Depag RI.: Jakarta,
                    1983), h. 67.
                           25
                              Lihat Abu Muhammad ‘Abd al-Haq ibn ‘Athiyah al-Ghurnaty, al-
                    Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab al-‘Aziz, juz II (t.d), h. 243-244.
                           26
                              Departemen Agama RI. op. cit., h. 52.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                       10



                    ayat tentang zakat diturunkan maka ayat ini pun mansukh. Al-Mardawiy ragu kalau
                    as-Suddiy berpendapat demikian. Menurutnya al-Suddiy itu berpendapat bahwa ayat
                    tersebut memang merupakan ayat tentang zakat. Dan kata al-Waladani mansukh
                    setelah ayat zakat (QS. Al-Taubah: 60) turun kemudian. Terhadap pertentangan
                    pendapat ini, Ibnu ‘Athiyah dalam anotasi kitab tafsirnya       tersebut mengemukakan
                    pendapat at-Thabary. Dalam kitab Jami’ul Bayan, at-Thabari mengatakan bahwa
                    sesungguhnya al-Suddiy mengatakan bahwa ayat ini bukanlah ayat tentang zakat,
                    tetapi ia hanya berbicara tentang infaq kepada anggota keluarga dan          sedekah.
                    Adapun mengenai masalah ayat ini dinasakh oleh ayat zakat, menurut at-Thabary
                    mungkin memang pendapat itu benar mungkin juga tidak, yang jelas tidak ada dalil
                    yang kuat yang mendukung pendapat tersebut. Menurut at-Thabary, kemungkinan
                    ayat ini merupakan anjuran kepada orang-orang yang bertaqwa untuk melakukan
                    perbuatan terpuji yakni menafkahkan harta kepada orang tua, kaum kerabat, dan
                    seterusnya (sebagaimana yang disebut dalam ayat tersebut). Dan juga Allah
                    menginformasikan kepada hamba-hambanya tentang pihak-pihak yang utama untuk
                    mendapatkan infaq atau nafkah.27        Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan
                    bahwa kata infaq (kata yang seakar dengannya) dapat ditafsirkan sebagai zakat,
                    sebagai nafkah kepada para anggota keluarga serta kaum kerabat, dan sebagai infaq
                    untuk kemaslahatan yang disunnahkan syara’ seperti menolong orang dan lain-lain.


                    B. Unsur-unsur Infaq
                    1. Objek Infaq
                            Menurut al-Maraghi, kata infaq mempunyai arti yang sama dengan kata
                    infadz yakni hilang atau lenyap. Hanya saja kata infadz mengandung pengertian
                    hilang secara keseluruhan. Sedangkan infaq hanya berarti hilang sebahagian.28 Dari



                            27
                             Lihat Ibn Athiyah, op. cit., h. 42-43.
                            28
                             Lihat Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, juz I, diterjemahkan
                    oleh Bahrun Abubakar dengan judul, Terjemah Tafsir al-Maraghi ( Cet. I; Semarang:
                    Toha Putra, 1985), h. 66.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                            11



                    sini dapat dipahami bahwa objek infaq itu hanyalah sebahagian dari sesuatu yang
                    kita “miliki”.
                            Dalam QS. Al-Baqarah (2): 219, Allah SWT berfirman sebagai berikut:
                     ‫ﯾﺴﺄﻟﻮﻧﻚ ﻋﻦ اﻟﺨﻤﺮ واﻟﻤﯿﺴﺮ ﻗﻞ ﻓﯿﮭﻤﺎ إﺛﻢ ﻛﺒﯿﺮ وﻣﻨﺎﻓﻊ ﻟﻠﻨﺎس وإﺛﻤﮭﻤﺎ أﻛﺒﺮ ﻣﻦ ﻧﻔﻌﮭﻤﺎ وﯾﺴﺄﻟﻮﻧﻚ‬
                                                 (219)‫ﻣﺎذا ﯾﻨﻔﻘﻮن ﻗﻞ اﻟﻌﻔﻮ ﻛﺬﻟﻚ ﯾﺒﯿﻦ اﷲ ﻟﻜﻢ اﻵﯾﺎت ﻟﻌﻠﻜﻢ ﺗﺘﻔﻜﺮون‬

                            Ibn ’Athiyah menafsirkan kata al-‘Afwa dalam ayat di atas dengan makna
                    “menafkahkan segala yang bermanfaat dalam diri dan harta dengan tidak
                    menghabiskannya; Yang diinfakkan adalah apa yang tersisa dari kebutuhan.”
                    Diriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda:
                        (‫ﻣﻦ ﻛﺎن ﻟﮫ ﻓﻀﻞ ﻓﻠﯿﻨﻔﻘﮫ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﮫ ﺛﻢ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﯾﻌﻮل ﻓﺎ ن ﻓﻀﻞ ﺷﯿﺊ ﻓﻠﯿﺘﺼﺪق ﺑﮫ )اﻟﺤﺪ ﯾﺚ‬
                    ‘Siapa yang ada padanya kelebihan, maka hendaklah ia menafkahkannya kepada
                    dirinya (keluarganya), kemudian kepada yang kesulitan (orang miskin), dan jika
                    masih ada sisa, maka hendaklah disedekahkan.’29
                            Mengenai objek infaq, Alquran menyebutkan hal-hal sebagai berikut:
                     * . . . anfiqu min ma razaqnakum . . . (QS. II: 254).
                     * . . . min thayyibat ma kasabtum wa min ma akhrajna lakum min al-ardhi . . .
                     (QS.II: 267).
                     * . . . qul ma anfaqtum min khairin . . . (QS. II: 215).
                     * . . . min ma tuhibbun . . . (QS. III: 92).
                            Dari ayat-ayat di atas dapat diketahui bahwa objek infaq adalah sesuatu yang
                    direzkikan oleh Allah SWT kepada kita. Rezki dalam bahasa Arab disebut rizq yang
                    berarti “pemberian”.       Dalam istilah, kata ini banyak dipahami untuk pengertian
                    barang-barang yang dimanfaatkan oleh hewan dan manusia, termasuk di dalamnya
                    barang-barang yang halal dan haram. Akan tetapi, sebahagian orang mengatakan
                    bahwa istilah rizq       ini hanya dipakai untuk hal-hal yang halal.30      Terlepas dari
                    perbedaan pendapat tentang cakupan pengertian rizq, maka tentu dalam konteks



                            29
                                 Lihat Ibn ‘Athiyah, op. cit., h. 63.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                             12



                    ajaran infaq Alquran, khususnya yang dibicarakan di sini, adalah rizq halal yang
                    ada pada manusia.
                            Dalam QS. al-Baqarah (2): 267 dikemukakan bahwa objek infaq itu adalah
                     min thayyibat ma kasabtum wa min ma akhrajna lakum min al-ardhi . . . (QS.II:
                     267). Lafad kasabtum dalam ayat tersebut ditafsirkan oleh Ibn ‘Athiyah sebagai
                     hasil usaha yang berasal dari kerja fisik, transaksi perdagangan, dan warisan.
                     Sedangkan lafad min ma akhrajna lakum min al-ardhi ia tafsirkan sebagai tumbuh-
                     tumbuhan, barang tambang, harta karung, dan yang serupa dengannya.31
                            Selanjutnya dalam beberapa ayat disebutkan bahwa objek infaq itu adalah al-
                     mal ‘harta benda’ (Misalnya, QS. II: 274).            Dalam QS. al-Baqarah (2): 272
                     dikemukakan bahwa objek infaq itu adalah khair. Menurut Ibn ‘Athiyah,—dengan
                     berdasarkan kepada qaul dari Ikrimah—al-khair pada ayat-ayat infaq adalah berarti
                     al-mal.32
                            Dari penafsiran-penafsiran di atas, kelihatannya objek infaq itu hanyalah
                     sesuatu yang bersifat materi. Namun demikian, ketika Ibn ‘Athiyah menafsirkan
                     QS. Ali Imran (3): 92, ia memperluas cakupan objek infaq itu, yaitu dari hal-hal
                     yang bersifat materi saja kemudian mencakup juga hal-hal yang bersifat non-materi.
                     Dalam ayat tersebut, Allah SWT berfirman:
                                        (92)‫ﻟﻦ ﺗﻨﺎﻟﻮا اﻟﺒﺮ ﺣﺘﻰ ﺗﻨﻔﻘﻮا ﻣﻤﺎ ﺗﺤﺒﻮن وﻣﺎ ﺗﻨﻔﻘﻮا ﻣﻦ ﺷﻲء ﻓﺈن اﷲ ﺑﮫ ﻋﻠﯿﻢ‬
                       ‘Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu
                       menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. . . .33

                    Ketika Ibn ‘Athiyah menafsirkan kata min ma tuhibbun ‘sebahagian yang kamu
                    cintai’ dalam ayat tersebut, antar lain ia menyatakan bahwa yang termasuk hal-hal
                    yang dicintai manusia itu adalah al-maal (harta benda), kesehatan, peringatan, dst.34


                            30
                                 Lihat, al-Maraghi, loc. cit.
                            31
                                 Lihat Ibn ‘Athiyah, op. cit., h. 245.
                            32
                               Lihat ibid., h. 261.
                            33
                               Lihat Depag RI. op. cit., h. 91.
                            34
                               Lihat Ibn ‘Athiyah, op. cit., h. 503.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                         13



                    Dengan demikian, objek infak itu bukan hanya hal yang bersifat materi, yakni harta
                    benda, tetapi juga hal yang bersifat non-materi, seperti kesehatan dan peringatan.
                          Hal tersebut sejalan dengan penafsiran Syekh al-Syirasi dalam tafsir al-Amtsal-
                       nya. Ketika al-Syirasi menafsirkan kata infaq (yunfiqun) dalam QS. al-Baqarah
                       (2): 3, ia menyatakan bahwa orang-orang bertaqwa tidak hanya menginfakkan
                       harta mereka saja, tetapi mereka juga menginfakkan ilmu, pemikiran, dan jasa.
                       Dengan kata lain mereka menginfakkan seluruh kemampuan mereka kepada yang
                       membutuhkannya tanpa mengharapkan balasan darinya.
                           Infaq adalah hukum yang lazim berlaku dalam kehidupan dalam kehidupan
                       ini. Seperti halnya dalam susunan organ tubuh manusia, jantung yang bekerja
                       tidak hanya untuk dirinya, tetapi ia menginfakkan apa yang dia miliki (memompa
                       darah) untuk semua bagian-bagian tubuh, seperti otak dan paru-paru.           Pada
                                                                             35
                       dasarnya kehidupan menjadi tak berarti tanpa infaq. .
                     2. Subjek Infaq (al-munfiqu)
                         Dari uraian terdahulu dapat dipahami bahwa yang menjadi subjek infaq (al-
                    munfiqu) adalah yang memiliki kelebihan. Kalau kelebihan yang dimaksud adalah
                    kelebihan harta benda, mungkin tidak semua orang dapat menjadi al-munfiqu. Akan
                    tetapi, seperti yang telah dikemukakan bahwa objek infaq itu mencakup juga hal-hal
                    yang bersifat non-materi, maka rasanya tidak ada orang yang tidak dapat menjadi al-
                    munfiqu.
                         Menurut ibn ‘Athiyah, orang yang berinfaq “di jalan Allah” dalam
                    kenyataannya dapat dibagi ke dalam tiga golongan, yakni:
                    a. Orang yang berinfaq benar-benar karena mengharap ridha Allah SWT. Mereka
                        ini sama sekali tidak mengharapkan apa-apa dari orang yang diberinya infak.
                    b. Orang yang berinfaq karena mengharapkan sesuatu balasan dari orang yang
                        dibantunya dan ini berarti tidak karena Allah.


                            35
                              Disadur dari Syaikh Nashir Makarim asy-Syirazi, al-Amtsal fi Tafsir Kitab
                    Allah al-Munzal (jilid I), diterjemahkan oleh Ahmad Sobandi dkk. dengan judul
                    Tafsir al-Amtsal, juz I (Jakarta: Gerbang Ilmu Press, t.th.), h. 68.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                           14



                    c. Orang yang berinfaq karena terpaksa, seperti untuk menolak hukuman yang
                        berlaku padanya jika tidak berinfaq.             Orang yang seperti ini juga dianggap
                        berinfaq tidak karena Allah dan tentu Allah tidak akan ridha dengan infak yang
                        dikeluarkannya.36
                     3. Sasaran Infaq (al-Munfaqu)
                            Mengenai petunjuk Alquran tentang pihak-pihak yang menjadi sasaran infaq,
                    dapat dilihat dalam QS. al-Baqarah (2): 215.             Dalam ayat ini dikemukakan lima
                    pihak yang menjadi al-munfaqu (sasaran infaq), yakni al-waladani (kedua orang
                    tua), al-aqrabin (kerabat dekat), al-yatama (anak yatim), al-masakin (orang-orang
                    miskin), dan ibn al-sabil. Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu bahwa Ibn
                    ‘Athiyah mengemukakan adanya perbedaan pendapat mengenai arti infaq dalam ayat
                    tersebut. Ada yang berpendapat bahwa ayat tersebut berbicara tentang infaq wajib,
                    yakni zakat, sedangkan sebagian orang menyatakan bahwa ayat itu berbicara tentang
                    sedekah (al-tathawwu’). Konsekuensi dari pendapat yang menyatakan bahwa ayat
                    ini merupakan ayat zakat adalah timbulnya anggapan bahwa ayat tersebut atau kata
                    al-waladani dalam ayat tersebut menjadi mansukh setelah turunnya ayat zakat yang
                    tidak memasukkan al-waladani di antara delapan pihak yang berhak menerima
                    zakat.37
                            Dalam anotasi tafsir ibn ‘Athiyah dikemukakan pandangan al-Thabary
                    mengenai perbedaan pendapat di atas. Antara lain, ia menyatakan bahwa tidak ada
                    dalil yang kuat tentang berlakunya hukum nasikh-mansukh terhadap ayat tersebut.
                    Lebih lanjut al-Thabary mengatakan bahwa ayat itu bisa dipahami sebagai dorongan
                    Allah SWT kepada hambanya agar senantiasa berinfaq, bukan hanya infaq dalam hal
                    arti zakat, tetapi juga infaq dalam arti luas yakni menafkahkan harta kepada ibu
                    bapak, kerabat dekat, anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil. Dalam ayat ini Allah
                    mengajari hambanya prioritas-prioritas pihak yang berhak menerima infaq (al-



                            36
                                 Lihat Ibn ‘Athiyah, op. cit., h. 231.
                            37
                                 Lihat Ibn ‘Athiyah, ibid., h. 42




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                     15



                    munfaqu).38 Dapat dipahami dari ayat tersebut bahwa hendaknya infaq itu terlebih
                    dahulu dimulai dari pihak-pihak terdekat yang memang butuh bantuan.
                            Hal yang senada dengan pandangan al-Thabary disampaikan oleh Subhi al-
                    Shalih. Al-Shalih menyatakan bahwa ada sebagian orang berpendapat bahwa setiap
                    ayat yang mengandung soal infaq (di luar zakat) dipandang sebagai dinasakh oleh
                    ayat-ayat yang menegaskan kewajiban zakat.             Akan tetapi para ulama yang
                    memahami Alquran dengan teliti dan cermat, semuanya berpendapat bahwa ayat-
                    ayat infaq merupakan anjuran kepada orang-orang yang bertakwa untuk melakukan
                    perbuatan terpuji. Karena itu, infaq dapat ditafsirkan sebagai zakat, sebagai infaq
                    kepada para anggota keluarga dan kerabat (nafaqah), dan sebagai infaq untuk
                    kemaslahatan yang disunnahkan syara (sedekah)’.39 Jadi, ada tiga macam wujud
                    infaq, yakni: zakat, shadaqah (sedekah), dan nafaqah (nafkah).
                        Zakat secara etimologi berasal dari akar kata zaka (‫ .)ز ﻛﻰ‬Menurut Ibn Faris,
                    kata yang terdiri dari huruf Zai (‫ ,)ز‬Kaf (‫ ,)ك‬dan huruf Mu’tal (‫ )ى‬mempunyai makna
                    “kesuburan dan bertambah”, serta “pensucian”.40             Dalam Mu’jam al-Wasith,
                    ditambah lagi makna yang lain, yaitu “keberkahan” dan “baik”.41              Dalam
                    terminologi syariat, zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah
                    mencapai syarat tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk dikeluarkan dan
                    diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula,42—
                    terlihat adanya kaitan antara makna etimologi dan makna terminologi di atas, yakni
                    bahwa setiap harta yang sudah dikeluarkan zakatnya akan menjadi suci, bersih, baik,
                    berkah, tumbuh, dan berkembang.         Berdasarkan QS. al-Taubah: 60, maka pihak



                            38
                              Lihat ibid.
                            39
                              Lihat Subhi al-Shalih, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, diterjemahkan oleh
                    Tim Pustaka Firdaus dengan judul Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an (Cet.VI; Jakarta:
                    Pustaka Firdaus, 1996), h. 350.
                           40
                              Lihat ibn Faris, op. cit. juz III, h. 17.
                           41
                              Lihat Ibrahim Mushthafa (et.al), op. cit. juz I, h. 398
                           42
                              Taqiuddin Abu Bakr bin Muhammad al-Husaini, Kifayatul Akhyar, juz
                    I(Bandung: Syirakah Ma’arif, t.th.), h. 1-2.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                        16



                    yang memenuhi syarat atau berhak mendapat zakat ada delapan golongan, yakni:
                    fakir, miskin, ‘amil, muallaf, hamba, orang-orang berutang, sabilillah, dan musafir.43
                            Adapun jenis infaq yang disebut sebagai nafaqah adalah belanja yang dipakai
                    untuk membiayai kebutuhan hidup, bagi istri, anak-anak, kerabat dekat yang lemah
                    (‘ajiz)an, dan bagi perawatan barang milik kepunyaannya, seperti hewan piaraan.44
                            Jenis infaq yang lain adalah sedekah. Sedakah berasal dari bahasa Arab, al-
                    Shadaqah. Al-Shadaqah berasal dari akar kata shadaqa, yang berarti “benar”.45
                    Sehubungan dengan itu, harta yang didermakan biasa disebut sebagai sedekah karena
                    bersedekah merupakan bukti kebenaran iman seseorang kepada Allah dan bahwa ia
                    membenarkan adanya hari kemudian.46 Sebenarnya, dalam Alquran kata shadaqah
                    biasa juga digunakan dalam arti zakat.47 Akan tetapi menurut istilah, shadaqah atau
                    sedekah adalah mengeluarkan/menggunakan sebagian dari yang kita miliki secara
                    suka rela dan bebas (sunnat), artinya subjek, objek dan sasarannya tidak ditentukan
                    oleh syara; setiap orang dapat menjadi subjek dan sasaran sedekah.48
                    C. Urgensi Infaq
                            Dalam tafsir Ibn ‘Athiyah, persoalan infaq nampaknya cenderung didekati
                    dengan menggunakan tinjauan hukum. Hal ini dapat diketahui dari uraian-uraian
                    terdahulu, yakni ketika ia menafsirkan pengertian infaq dalam bebarapa ayat di atas,
                    yang dikemukakan adalah masalah apakah ayat infaq tersebut berbicara tentang zakat
                    ataukah tathawwu’.         Kalau zakat berarti hukumnya wajib, sedangkan kalau

                            43
                             Uraian selengkapnya lihat Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam (Cet. XXVII;
                    Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1994), h. 210 dst.
                          44
                             Lihat Ali Yafie, Menggagas Fiqih Sosial: Dari Soal Lingkngan Hidup ,
                    Asuransi Hingga Ukhuwah (Cet. III; Bandung: Mizan, 1995), h. 174.
                            45
                              Lihat A.W. Munawwir, Kamus al-Munawwir: Arab-Indonesia (t.d), h. 823.
                            46
                              Lihat Yusuf Qardahawi, Dirasah Muqaranah li Ahkamiha wa Falsafatina fi
                    Dhau’I al-Qur’an wa al-Sunnah, Juz I (Cet. XXII; Beirut: Muassasah al-Risalah,
                    1994), h. 41.
                           47
                              T.M. Hasbi ash-Shiddieqy, Pedoman Zakat (Cet. VII; Jakarta: Bulan
                    Bintang, 1991), h. 27.
                            48
                                 Bandingkan dengan Didin Hafidhuddin, op. cit., h. 14-15.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                         17



                    tathawwu’ itu berarti hukumya adalah mandub atau sunnat. Lebih dari itu, penulis
                    belum mendapatkan keterangan yang lebih kongkrit tentang urgensi infaq dalam
                    tafsir tersebut.
                            Tapi yang jelas, infaq adalah sesuatu yang penting karena ia adalah
                    kewajiban atau anjuran Allah SWT.


                                                      IV. KESIMPULAN
                            Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai
                    berikut:
                    A. Ibn ‘Athiyah dalam kitab tafsirnya yang berjudul al-Muharrar al-Wajis fi Tafsir
                    al-Kitab al-‘Aziz—sebuah kitab tafsir bil-matsur—telah menafsirkan ayat-ayat
                    Alquran dengan didukung oleh kemampuannya sebagai ahli tafsir, sekaligus sebagai
                    ahli hukum (faqih), bahasa dan sastra Arab, dan ilmu Hadis.
                     B. Dalam penafsiran ibn ‘Athiyah tentang pengertian infaq dapat diketahui denotasi
                     (cakupan) dari kata infaq tersebut.      Denotasi infaq sebagai salah satu jenis ibadah
                     dalam Islam mencakup zakat, sedekah, dan juga nafaqah.
                     C. Unsur-unsur infaq meliputi objek, subjek (al-munfiqu) dan sasaran (al-munfaqu)
                     infaq. Adapun objek infaq adalah sebagian dari rezki (halal) yang diberikan Allah
                     kepada kita, baik yang bersifat materi maupun yang bersifat non-materi. Sedangkan,
                     subjek infaq itu adalah setiap orang yang beriman, serta sasarannya adalah orang-
                     orang yang membutuhkan, dimulai dari keluarga terdekat, lalu anak yatim,
                     kemudian faqir/miskin, ibn sabil, dst.
                     D.   Menurut tafsir ibn ‘Athiyah, infaq merupakan sesuatu yang urgen karena ia
                     merupakan kewajiban atau anjuran dari Allah SWT.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                                          18



                                                           KEPUSTAKAAN

                    Al-Qur’an al-Karim
                    Departemen Agama RI., Al-Quraan Dan Terjemahnya (Depag RI.: Jakarta, 1983).
                    al-Farmawi, ‘Abd al-Hayy. al-Bidayah fi al-Tafsir al-Mawdhu’iy: Dirasah
                            Manhajiah Mawdhu’iyah, diterjemahkan oleh Suryan A. Jamrah dengan
                            judul Metode Tafsir Mawdhu’iy: Suatu Pengantar (Cet. II; Jakarta: PT
                            RajaGrafindo Persada, 1996).
                    Hafidhuddin, Didin. Panduan Praktis tentang Zakat, Infak dan Sedekah (Cet. I:
                            Jakarta: Gema Insani Press, 1998).
                    Al-Husaini, Taqiuddin Abu Bakr bin Muhammad, Kifayatul Akhyar, juz I(Bandung:
                             Syirkah Ma’arif, t.th.)
                    Ibn ‘Athiyah, Abu Muhammad ‘Abd al-Haq. al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Kitab
                            al-‘Aziz, juz II (t.d).
                    Ibn Zakariya, Abu Husain Ahmad ibn Faris. Mu’jam Maqayis al-Lughah, juz III & V
                            (t.tp.: Dal al-Fikr, t.th.).
                    Mahmud, Manii’ Abd Halim. Manahij al-Mufassirin (Cet I; Kairo: Dar al-Kitab al-
                            Mishri, 1978).
                    al-Maraghi, Ahmad Musthafa. Tafsir al-Maraghi, juz I, diterjemahkan oleh Bahrun
                    Abubakar dengan judul, Terjemah Tafsir al-Maraghi ( Cet. I; Semarang:
                            Toha Putra, 1985).
                    Munawwir, A.W. Kamus al-Munawwir: Arab-Indonesia (t.d).
                    Mushthafa, Ibrahim (et al.), al-Mu’jam al-Wasith., juz I & II (Teheran: al-Maktabat
                            al-Islamiyat, t.th.).
                    Qardawi, Yusuf. Dirasah Muqaranah li Ahkamiha wa Falsafatina fi Dhau’I al-Qur’an wa al-
                    Sunnah, Juz I (Cet. XXII; Beirut: Muassasah al-Risalah, 1994).
                    al-Qattan, Manna’ Khalil. Mabahits fi ‘Ulum al-Qura’an ( Cet. XIV; Beirut:
                            Muassasah al-Risalah, t..th.).
                    Rahman, Jalaluddin. Islam: Dalam Perspektif Pemikiran Kontemporer (Cet. I: Ujung
                             Pandang: PT Umitoha Ukhuwah Grafika, 1997).
                    Rakhmat, Jalaluddin. Islam Alternatif: Ceramah-ceramah di Kampus
                             (Cet. VII; Bandung: Mizan, 1995).
                    Rasjid, Sulaiman.sjid, Fiqh Islam (Cet. XXVII; Bandung: Sinar Baru Algensindo,
                            1994).
                    al-Shalih, Subhi. Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, diterjemahkan oleh Tim Pustaka
                            Firdaus dengan judul Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an (Cet.VI; Jakarta:
                            Pustaka Firdaus, 1996).
                    Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi ash-Shiddieqy, Pedoman Zakat (Cet. VII; Jakarta: Bulan
                            Bintang, 1991).
                    Shihab, M. Quraish. Wawasan al-Qur’an (Cet. VII; Bandung: Mizan, 1998).
                    ash-Shobuni, Muhammad Ali. al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an, diterjemahkan oleh
                            Muhammad Qodirun Nur dengan judul Ikhtisar Ilmu Qur’an Praktis (Jakarta:
                            Pustaka Amani, 1988).
                    asy-Syirazi, Syaikh Nashir Makarim. al-Amtsal fi Tafsir Kitab Allah al-Munzal (jilid
                            I), diterjemahkan oleh Ahmad Sobandi dkk. dengan judul Tafsir al-Amtsal,
                            juz I (Jakarta: Gerbang Ilmu Press, t.th.).
                    Yafie, Ali. Menggagas Fiqih Sosial: Dari Soal Lingkngan Hidup , Asuransi Hingga
                            Ukhuwah (Cet. III; Bandung: Mizan, 1995).




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                               19



                    Tugas                : M.K. Tafsir
                    Semester/Angk. : I/V

                                       KONSEP INFAQ MENURUT
                                 KITAB TAFSIR AL-MUHARRAR AL-WAJIZ




                                                             Oleh:

                                                  MUHAMMAD NAJIB
                                                   Nim: 091 03 05 99




                                                 Dosen Pembimbing:
                                          Prof. Dr. H. ABD. MUIN SALIM
                                          Drs. NASHIRUDDIN PILO, M.A.




                                         PROGRAM PASCASARJANA
                                      UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
                                               MAKASSAR
                                                   2000




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                                                               20




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)

								
To top