Docstoc

Teori Fitrah (Teori Pendidikan: Pembawaan dan Lingkungan)

Document Sample
Teori Fitrah (Teori Pendidikan: Pembawaan dan Lingkungan) Powered By Docstoc
					                                             TEORI FITRAH
                             (Teori Pendidikan:Pembawaan dan Lingkungan)




                                                            Makalah
                                               Disampaikan dalam Seminar Kelas
                            Mata Kuliah Teori-teori Pendidikan Kontemporer Semester III/Angkatan V
                                                       Tahun 2000/2001



                                                              Oleh:
                                                     MUHAMMAD NAJIB
                                                      NIM: 091.03.05.99


                                                      Dosen Pembimbing

                                               Prof. Dr. H. Azhar Arsyad, M.A.




                                           PROGRAM PASCASARJANA
                                         UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
                                                  MAKASSAR
                                                     2001




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                      I. PENDAHULUAN


                         Dalam perkembangan ilmu pendidikan telah muncul bermacam-macam
                   teori mengenai soal pembawaan (potensi asasi yang dapat berkembang)
                   pada manusia. Proses munculnya teori-teori tersebut merupakan proses
                   thesa, anti thesa, dan sinthesa antara satu dengan yang lain. Pada mulanya
                   muncul suatu teori yang intinya berpandangan bahwa perkembangan
                   manusia mutlak ditentukan oleh lingkungan, termasuk pendidikan. Setelah
                   itu timbul reaksi dengan munculnya teori lain            yang menganggap bahwa
                   pembawaanlah yang secara mutlak menentukan perkembangan manusia.
                   Kemudian      muncul        lagi    satu   teori   (konvergensi)    yang    berusaha
                   mengkompromikan kedua pandangan terdahulu.
                         Mengenai hubungan antara pembawaan dan lingkungan dengan
                   perkembangan manusia, para ulama atau ahli pendidikan Islam juga
                   mempunyai pandangan yang beragam.                  Hal tersebut berpangkal pada
                   perbedaan interpretasi mereka terhadap term fithrah (Indonesia=fitrah) dalam
                   Alquran dan Hadis. Di antara mereka ada yang berpandangan mirip dengan
                   kedua pandangan ekstrim di atas.              Ada juga di antara mereka yang
                   cenderung berpandangan moderat sebagaimana para pendukung teori
                   konvergensi.
                         Dalam pembahasan berikut, penulis akan berusaha menguraikan lebih
                   jauh pandangan-pandangan atau teori-teori di atas. Dengan pembahasan ini
                   diharapkan akan diperoleh gambaran yang jelas tentang pandangan masing-
                   masing ahli atau aliran mengenai peranan dan hubungan pembawaan dan
                   lingkungan di dalam pendidikan. Selain itu, akan diuraikan pula perbedaan
                   pandangan Islam dengan teori-teori sekuler mengenai pembawaan dan
                   lingkungan.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                     II. PEMBAHASAN


                   A. Pengertian Pembawaan dan Lingkungan

                    1. Pembawaan
                           Pembawaan adalah suatu konsep yang dipercayai/dikemukakan oleh
                   orang-orang yang mempercayai adanya potensi dasar manusia yang akan
                   berkembang       sendiri   atau    berkembang      dengan      berinteraksi   dengan
                   lingkungan.       Ada pula istilah lain yang biasa diidentikkan dengan
                   pembawaan, yakni istilah keturunan dan bakat. Sebenarnya ketiga istilah
                   tersebut tidaklah persis sama pengertiannya.
                           Pembawaan ialah seluruh kemungkinan atau kesanggupan (potensi)
                   yang terdapat pada suatu individu dan yang selama masa perkembangan
                   benar-benar dapat diwujudkan (direalisasikan). (M. Ngalim Purwanto,
                   1994:53)
                           Pembawaan tersebut berupa sifat, ciri, dan kesanggupan yang biasa
                   bersifat fisik atau bisa juga yang bersifat psikis (kejiwaan). Warna rambut,
                   bentuk mata, dan kemampuan berjalan adalah contoh sifat, ciri, dan
                   kesanggupan yang bersifat fisik. Sedangkan sifat malas, lekas marah, dan
                   kemampuan memahami sesuatu dengan cepat adalah sifat-sifat psikis yang
                   mungkin berasal dari pembawaan.
                           Pembawaan yang bermacam-macam itu tidak berdiri sendiri-sendiri,
                   yang satu terlepas dari yang lain. Seluruh pembawaan yang terdapat dalam
                   diri seseorang merupakan keseluruhan yang erat hubungannya satu sama
                   lain; yang satu menentukan, mempengaruhi, menguatkan atau melemahkan
                   yang lain. Manusia tidak dilahirkan dengan membawa sifat-sifat pembawaan
                   yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri, tetapi merupakan struktur
                   pembawaan. Struktur pembawaan itu menentukan apakah yang mungkin
                   terjadi pada seseorang. (Purwanto, 1994: 54)




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                   Hubungan Pembawaan dengan Keturunan dan Bakat
                         Dengan uraian di atas dapat dipahami bahwa semua potensi yang
                   dibawa sejak lahir dan memiliki kemungkinan untuk muncul pada diri
                   seseorang disebut sebagai pembawaan.              Adapun keturunan, menurut M.
                   Ngalim Purwanto (1994: 51) adalah persamaan sifat atau ciri-ciri yang
                   menurun atau diwarisi melalui sel-sel kelamin dari generasi lainnya. Jadi
                   keturunan adalah termasuk juga pembawaan, lebih tepatnya disebut
                   pembawaan-keturunan.
                         Meskipun semua sifat atau ciri yang termasuk pembawaan-keturunan
                   adalah pembawaan, karena memang dibawa sejak lahir, namun tidaklah
                   semua sifat atau ciri yang dibawa sejak lahir (pembawaan) dapat disebut
                   sebagai pembawaan-keturunan.           Hal itu disebabkan oleh adanya bawaan
                   sejak lahir yang tidak bersumber atau diwarisi melalui sel-sel kelamin.
                   Sebagai contoh adalah cacat yang disebabkan oleh faktor-faktor yang
                   diperoleh pada masa pertumbuhan embrio dalam kandungan.
                         Adapun     mengenai       pembawaan       dan     bakat,   Ngalim     Purwanto
                   menyatakan bahwa meskipun banyak penulis buku psikologi menyamakan
                   kedua istilah tersebut, namun menurutnya tidaklah demikian semestinya.
                   Dalam pandangannya, istilah bakat lebih dekat pengertiannya dengan kata
                   aptitude (bahasa Inggris) yang berarti kecakapan pembawaan, yaitu
                   mengenai kesanggupan-kesanggupan (potensi) tertentu.                Jadi bakat tidak
                   termasuk pembawaan yang berupa sifat atau ciri yang bukan merupakan
                   kecakapan; kecerdasan; ketangkasan. (Purwanto, 1994: 56)
                         Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa istilah pembawaan mencakup
                   pengertian keturunan dan bakat.              Akan tetapi, kedua istilah terakhir
                   mempunyai pengertian yang lebih khusus/sempit jika dibandingkan dengan
                   pengertian pembawaan. Jadi, jika dipakai istilah pembawaan mungkin yang
                   dimaksud adalah bakat, atau keturunan, atau bakat sekaligus keturunan.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                    2. Lingkungan (Environment)
                         Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata
                   lingkungan berarti “semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia dan
                   hewan.”(Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan
                   Bahasa, 1989: 526)
                         Dalam konteks pendidikan, objek pengaruh tentu saja dibatasi hanya
                   pada pertumbuhan manusia, tidak mencakup pertumbuhan hewan.                 Oleh
                   karena itu, M. Ngalim Purwanto menyatakan bahwa yang dimaksud dengan
                   lingkungan di dalam pendidikan ialah setiap pengaruh yang terpancar dari
                   orang-orang lain, bintang, alam, kebudayaan, agama, adat-istiadat, iklim, dsb,
                   terhadap diri manusia yang sedang berkembang. (Purwanto, 1994: 50)
                         Menurut penulis, mungkin yang dimaksud Ngalim dalam definisi di atas
                   adalah pengaruh lingkungan (bukan lingkungan). Dengan asumsi ini maka
                   lingkungan adalah segala sesuatu yang mempengaruhi perkembangan diri
                   manusia, yakni orang-orang lain (individu atau masyarakat), binatang, alam,
                   kebudayaan, agama, adat- istiadat, iklim, dsb.
                         Sartain (Purwanto, 1994: 59-60), seorang ahli psikolog Amerika,
                   membagi lingkungan menjadi 3 bagian sebagai berikut:
                       a. Lingkungan alam atau luar (eksternal or physical environment), ialah
                           segala sesuatu yang ada dalam dunia ini, selain manusia.
                       b. Lingkungan dalam (internal environment), ialah segala sesuatu yang
                           telah masuk ke dalam diri kita, yang                 dapat mempengaruhi
                           pertumbuhan fisik kita, misalnya makanan yang telah diserap
                           pembuluh-pembuluh darah dalam tubuh.
                       c. Lingkungan sosial, ialah semua orang atau manusia lain yang
                           mempengaruhi kita.
                         Mengenai jenis lingkungan yang ketiga, Ralph Linton (1962: 10),
                   seorang     anthropolog    Amerika,     mengistilahkannya      sebagai lingkungan
                   manusiawi. Menurutnya, lingkungan manusiawi itu mencakup masyarakat




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                   dan cara hidup yang khas dari masyarakat, yaitu kebudayaan. Baik Sartain
                   maupun Linton sepakat bahwa lingkungan sosial atau lingkungan manusiawi
                   adalah yang paling besar berpengaruh dalam perkembangan pribadi
                   seseorang.


                   B. Teori-teori mengenai Pembawaan dan Lingkungan
                    1. Empirisme
                           Empirisme adalah suatu aliran atau paham yang menganggap bahwa
                   segala kecakapan dan pengetahuan manusia timbul dari pengalaman
                   (empiri) yang masuk melalui indera (Purwanto, 1994: 16). Menurut penganut
                   aliran ini, pengalaman yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari
                   terdiri dari stimulan-stimulan dari alam bebas dan yang diciptakan oleh orang
                   dewasa dalam bentuk program pendidikan (Umar Tirtarahardja dan La Sula,
                   2000: 194). Jadi, yang menentukan perkembangan anak (manusia) adalah
                   semata-mata faktor-faktor eksternal (lingkungan).
                           John Locke (1632-1714 M), salah seorang tokoh aliran emprisme,
                   terkenal dengan Teori Tabularasanya.           Menurut teori ini, anak yang baru
                   dilahirkan dapat diumpamakan sebagai kertas putih bersih yang belum ditulisi
                   (a sheet of white paper avoid of all characters). Artinya bahwa anak sejak
                   lahir   tidak   mempunyai       pembawaan       apa-apa     (netral),   tidak   punya
                   kecenderungan untuk menjadi baik atau menjadi buruk. Dengan demikian
                   anak dapat dibentuk sekehendak pendidiknya. Dengan kata lain, hanya
                   pendidikan (atau lingkungan) yang berperan atas pembentukan anak.
                   (Purwanto, 1994: 15-16)
                           Pengaruh aliran ini tampak juga pada salah satu mazhab psikologi
                   yang disebut sebagai behaviorisme (aliran tingkah laku). Para tokoh aliran
                   ini, seperti Thorndike, I. Pavlov, J.B. Watson, dan F. Skinner berpendapat
                   bahwa manusia adalah makhluk yang pasif dan dapat dimanipulasi, umpama
                   melalui modifikasi tingkah laku.         Mereka memandang manusia sebagai




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                   makhluk reaktif (tidak aktif). Manusia hanyalah objek, benda hidup yang
                   hanya dapat memberi respons kepada perangsang yang berasal dari
                   lingkungannya. (Umar Tirtarahardja dan La Sula, 2000: 195; Hasan
                   Langgulung, 1995: 134).          Jadi dalam hubungannya dengan lingkungan,
                   seseorang      hanya     dapat    bersifat   autoplastis,    tidak    dapat     bersifat
                   alloplastis.(Bandingkan Purwanto, 1994: 61)
                           Dengan      demikian     empirisme     berpandangan          bahwa     pendidik
                   memegang peranan yang sangat menentukan dalam proses pendidikan.
                   Pendidiklah yang menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak didik dan
                   akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman. Kemudian dari
                   pengalaman-pengalaman akan dapat terbentuk susunan kebiasaan yang
                   membentuk pribadi seseorang.
                    2. Nativisme
                           Sebagai reaksi terhadap          empirisme, muncul nativisme. Istilah
                   nativisme berasal dari kata nativus (latin) yang berarti karena kelahiran.
                   (Purwanto, 1994: 16)
                           Aliran nativisme berpendapat bahwa tiap-tiap anak dilahirkan dengan
                   membawa sejumlah potensi (pembawaan) yang akan berkembang sendiri
                   menurut arahnya masing-masing. Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak
                   ada artinya, sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi
                   perkembangan       anak.       Tokoh    nativisme,    Schopenhauer          (1788-1860)
                   berpendapat bahwa bayi lahir beserta pembawaannya, baik atau buruk.
                   Seorang anak yang mempunyai pembawaan baik, maka dia akan menjadi
                   baik. Sebaliknya, kalau anak mempunyai pembawaan buruk, maka dia akan
                   tumbuh menjadi anak yang jahat. Pembawaan-pembawaan itu tidak akan
                   dapat diubah oleh kekuatan luar (lingkungan). (Umar Tirtarahardja dan La
                   Sula, 2000: 196)
                           Dengan demikian dapat dipahami bahwa aliran ini berpandangan
                   bahwa keberhasilan pendidikan ditentukan oleh hal-hal yang bersifat internal




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                   pada anak didik sendiri. Dengan kata lain, hasil akhir pendidikan ditentukan
                   oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Pendidikan yang tidak
                   sesuai dengan pembawaan atau bakat anak didik tidak akan berguna untuk
                   perkembangan anak tersebut. Oleh karena itu, pendidikan sebenarnya tidak
                   diperlukan, dan inilah yang disebut sebagai pesimisme pedagogis.
                    3. Naturalisme
                           Pandangan yang mirip dengan pandangan nativisme dikemukakan
                   oleh para penganut paham naturalisme.                  Sesuai dengan akar kata
                   naturalisme, yakni nature ‘alam’ atau ‘apa yang dibawa sejak lahir’, aliran ini
                   berpandangan bahwa seorang anak telah mempunyai pembawaan sejak
                   lahir.(Purwanto, 1994: 46)
                           Meskipun kedua aliran sepakat dalam hal adanya pembawaan pada
                   manusia, namun J.J. Rousseau (1712—1778) (tokoh utama naturalisme),
                   berbeda pendapat dengan Schopenhauer (nativisme) tentang pembawaan
                   tersebut. Schopenhauer berpendapat bahwa bayi lahir dengan dua
                   kemungkinan pembawaan, yakni baik atau buruk, sedangkan Rosseau
                   menyatakan bahwa semua anak yang baru dilahirkan hanya mempunyai
                   pembawaan baik. (Umar Tirtarahardja dan La Sula, 2000: 197)
                           Kalau dalam hal keberadaan pembawaan manusia pandangan antara
                   naturalisme dengan nativisme ada kesamaan, maka dalam hal besarnya
                   peranan lingkungan dalam mempengaruhi perkembangan anak, justru
                   pandangan naturalisme memiliki unsur kesamaan dengan empirisme. Hal ini
                   dapat dilihat dalam pernyataan J.J. Rousseau bahwa “semua anak adalah
                   baik pada waktu baru datang dari Sang Pencipta,               tetapi semua menjadi
                   rusak di tangan manusia”. (Purwanto, 1994: 46)
                           Jadi, walaupun manusia lahir dengan potensi pembawaan baik, tetapi
                   bagaimana hasil perkembangannya kemudian sangat ditentukan oleh
                   pendidikan yang diterimanya atau yang mempengaruhinya. Jika pengaruh itu




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                   baik, akan menjadi baiklah ia, tetapi bilamana pengaruh itu jelek akan jelek
                   pula hasilnya.
                         Dengan berasumsi pada teori di atas, maka dalam hal pendidikan
                   Rosseau berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan orang dewasa
                   malahan dapat merusak pembawaan anak yang baik itu. Karena pendapat
                   inilah maka naturalisme juga disebut sebagai negativisme.                   Mereka
                   berpandangan bahwa pendidik wajib membiarkan pertumbuhan anak pada
                   alam, inilah yang disebut sebagai “pendidikan alam”. Dengan pendidikan
                   alam, anak dibiarkan berkembang menurut alam (nature)-nya, manusia atau
                   masyarakat jangan mencampurinya agar pembawaan yang baik itu tidak
                   menjadi rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan pendidikan
                   yang dilakukan oleh manusia. (Umar Tirtarahardja dan La Sula, 2000: 197;
                   Purwanti, 1994: 46)
                         Dengan demikian dapat dipahami bahwa naturalisme, sebagaimana
                   nativisme, tidak menganggap perlu diadakannya pendidikan (oleh manusia)
                   bagi manusia. Bahkan dengan anggapan bahwa pendidikan dapat merusak
                   pembawaan baik anak, naturalisme justru dapat dianggap menentang
                   pelaksanaan pendidikan yang dilakukan oleh manusia.
                    4. Tut Wuri Handayani
                           Istilah tut wuri handayani berasal dari bahasa Jawa. Tut wuri berarti
                   mengikuti dari belakang dan handayani berarti mendorong, memotivasi, atau
                   membangkitkan semangat. (Purwanto, 1994: 49)
                         Tut wuri handayani (sekarang menjadi semboyan Depdiknas) pada
                   awalnya merupakan inti salah satu dari “Asas 1922”, yakni tujuh buah asas
                   dari Perguruan Taman Siswa (didirikan pada tanggal 3 Juli 1922 oleh Ki
                   Hadjar Dewantoro). Asas pertama Perguruan Taman Siswa menegaskan
                   bahwa setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri dengan
                   mengingat tertibnya persatuan dalam perikehidupan umum. Asas inilah yang
                   mendorong Taman Siswa untuk mengganti sistem pendidikan cara lama yang




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                   menggunakan perintah, paksaan, dan hukuman dengan sistem khas Taman
                   Siswa yang didasarkan pada perkembangan kodrati. Dari asas ini pulalah
                   lahir sistem Among, di mana guru memperoleh sebutan pamong, yaitu
                   sebagai pemimpin yang berdiri di belakang dengan semboyan tut wuri
                   handayani, yaitu tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan kepada
                   anak didik untuk berjalan sendiri, dan tidak terus menerus dicampuri,
                   diperintah, dan dipaksa. Pamong hanya wajib menyingkirkan segala sesuatu
                   yang merintangi jalannya anak serta hanya bertindak aktif dan mencampuri
                   tingkah laku atau perbuatan anak apabila mereka sendiri tidak dapat
                   menghindarkan diri dari berbagai rintangan atau ancaman keselamatan atau
                   gerak majunya. Jadi, sistem Among adalah cara pendidikan yang dipakai
                   dengan maksud mewajibkan pada guru supaya memperhatikan dan
                   mementingkan kodrat-iradat para siswa dengan tidak melupakan segala
                   keadaan yang mengelilinginya. (Umar Tirtarahardja dan La Sula, 2000: 118-
                   119)
                          Dengan menyimak uraian di atas, dapat dipahami bahwa konsep
                   pendidikan Ki Hadjar Dewantoro ini mengakui adanya bakat, pembawaan,
                   ataupun potensi-potensi yang ada pada anak sejak dilahirkan.                Potensi-
                   potensi tersebut saling mempengaruhi dengan lingkungan dalam proses
                   perkembangan anak.           Purwanto (!994: 49) menyatakan bahwa kalau
                   dibandingkan dengan aliran-aliran pendidikan yang berkembang di Barat, tut
                   wuri handayani lebih mirip dengan aliran konvergensi dari William Stern.
                   Penganut aliran ini berpandangan bahwa perkembangan anak (manusia)
                   ditentukan oleh proses interaksi antara pembawaan anak dengan lingkungan,
                   termasuk pendidikan, yang mempengaruhi anak dalam perkembangannya.
                    5. Teori Fitrah
                           Dalam pandangan Islam kemampuan dasar/pembawaan itu mungkin
                   bisa disejajarkan dengan istilah fitrah.           Secara etimologis, kata fitrah




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                   (Arab=fithrah) berarti asal kejadian, bawaan sejak lahir, jati diri, dan naluri
                   manusiawi. (Quraish Shihab, 1995: 52)
                           Dari segi terminologi Islam, sejumlah interpretasi terhadap kata fithrah
                   (fitrah) dalam Alquran dan Hadis dikemukakan oleh para ahli.                           Berkaitan
                   dengan pembahasan ini, H.M. Arifin (1994: 88-96) mengemukakan bahwa
                   sejumlah ayat Alquran dan Hadis , serta interpretasi ahli ilmu pendidikan
                   Islam terhadap         keduanya       telah    memungkinkan           lahirnya     pandangan-
                   pandangan yang cenderung kepada nativisme, atau konvergensis, atau
                   bahkan empirisme dalam ilmu pendidikan Islam.
                         Menurut Arifin (!994: 101) sendiri, fitrah adalah faktor kemampuan dasar
                   perkembangan manusia yang terbawa sejak lahir yang berpusat pada potensi
                   dasar untuk berkembang. Potensi dasar itu berkembang secara menyeluruh
                   (integral)   yang     menggerakkan          seluruh      aspek-aspeknya          yang     secara
                   mekanistis satu sama lain saling mempengaruhi menuju ke arah tujuan
                   tertentu.    Menurutnya aspek-aspek fitrah terdiri dari komponen-komponen
                   dasar (bakat, insting, nafsu, karakter, hereditas, dan intuisi) yang bersifat
                   dinamis dan responsif terhadap pengaruh lingkungan sekitar, termasuk
                   pengaruh pendidikan.
                         Adanya peranan lingkungan dalam proses perkembangan anak yang
                   telah lahir dengan membawa fitrah sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.
                   dalam satu hadis (al-Bukhariy, 1997: 272), sebagai berikut:
                                (‫ﻜل ﻤﻭﻟﻭﺩ ﻴﻭﻟﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻁﺭﺓ ﻓﺎﺒﻭﺍﻩ ﻴﻬﻭﺩﺍﻨﻪ ﺍﻭﻴﻨﺼﺭﺍﻨﻪ ﺍﻭﻴﻤﺠﺴﺎﻨﻪ . . . )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ‬
                         ‘Setiap bayi dilahirkan dengan fitrah.                     Hanya ibu bapaknyalah
                   (lingkungan) yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
                         Dalam konsep Islam, fitrah dalam hubungannya dengan lingkungan
                   ketika mempengaruhi perekembangan manusia tidaklah netral, sebagaimana
                   pandangan empirisme yang menganggap bayi yang baru lahir sebagai suci
                   bersih dari pembawaan (potensi) baik dan buruk. Bagi Islam, manusia lahir




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                   dengan membawa suatu fitrah dengan kecenderungan yang bersifat
                   permanen (Qs. 30: 30). Fitarh akan berinteraksi secara aktif dan dinamis
                   dengan lingkungan dalam proses perkembangan manusia.
                         Menurut Hasan Langgulung (1995: 21-22), fitrah itu dapat dilihat dari
                   dua penjuru.       Pertama, dari segi pembawaan manusia, yakni potensi
                   mengembangkan sifat-sifat Tuhan pada dirinya.             Kedua, fitrah dapat juga
                   dilihat dari segi wahyu Tuhan yang diturunkan kepada nabi-nabi-Nya (agama
                   tauhid; Islam). Jadi, potensi manusia dan agama wahyu adalah satu “benda”
                   (fitrah) yang dapat diibaratkan mata uang dua sisi.            Ini bermakna bahwa
                   agama yang diturunkan Allah melalui wahyu kepada para nabi-Nya adalah
                   sesuai dengan fitrah atau potensi (sifat-sifat) asasi manusia.
                         Dari apa yang dikemukakan Hasan Langgulung tersebut dapat dipahami
                   bahwa fitrah itu berorientasi kepada kebaikan. Dengan kata lain, manusia
                   pada dasarnya adalah baik atau memiliki kecenderungan asasi untuk
                   berkembang ke arah yang baik. Baik menurut Islam adalah bersumber dari
                   Allah Swt., bersifat mutlak.       Tidak sebagaimana pandangan aliran-aliran
                   sekuler Barat yang berpandangan bahwa baik adalah suatu yang bersifat
                   relatif dan bersumber pada manusia (anthroposentrisme).
                         Dalam kaitannya dengan pendidikan, meskipun konsep tentang fitrah
                   mirip dengan naturalisme yang menganggap manusia pada dasarnya baik,
                   tetapi Islam tidak berpandangan negativis dalam pendidikan.                 Menurut
                   Abdurrahman Saleh Abdullah (1994: 64) seorang pendidik muslim selain
                   berikhtiar untuk menjauhkan timbulnya pelajaran melakukan kebiasaan yang
                   tidak baik, juga mesti berikhtiar menanamkan tingkah laku yang baik, karena
                   fitrah itu tidak berkembang dengan sendirinya. Kekurangan perhatian dari
                   pihak pendidik tidak dibenarkan.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                    III. KESIMPULAN


                           Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
                   A. Pembawaan adalah istilah yang dipakai untuk menyebut semua potensi
                   yang dibawa manusia sejak lahir dan memiliki kemungkinan untuk muncul
                   pada perekembangan manusia. Istilah ini mencakup pengertian “bakat” dan
                   “keturunan”.        Adapun      “lingkungan”    adalah     segala     sesuatu   yang
                   mempengaruhi perkembangan diri manusia.
                   B. Mengenai implikasi pembawaan dan lingkungan dalam perkembangan
                   manusia telah muncul sejumlah aliran dan pandangan yang bervariasi baik di
                   Barat maupun dunia Islam. Di Barat muncul aliran-aliran: empirisme yang
                   menganggap         bahwa       lingkungan      berpengaruh       mutlak     terhadap
                   perkembangan manusia, nativisme beranggapan bahwa perkembangan
                   manusia mutlak ditentukan oleh pembawaannya, naturalisme berpandangan
                   bahwa pada dasarnya manusia adalah baik dan kebaikan ini akan bertahan
                   jika dalam perkembangannya, manusia tumbuh secara alami (tanpa
                   pengaruh hasil rekayasa manusia), konvergensi yang di Indonesia diwakili
                   oleh tut wuri handayani merupakan aliran pendidikan yang memadukan
                   antara empirisme dan nativisme, berpandangan bahwa perkembangan
                   manusia ditentukan oleh interaksi antara pembawaan dan lingkungan.
                   C.    Meski di dunia Islam terdapat beberapa penafsiran yang berbeda
                   terhadap fitrah (istilah Islam terhadap potensi dasar manusia=pembawaan),
                   namun penulis sependapat dengan pandangan bahwa fitrah merupakan
                   esensi spiritual yang mendalam, permanen, dan universal pada manusia.
                   Fitrah ini memiliki kecenderungan yang bersifat asasi pada kebajikan dan
                   ketundukan kepada Allah Swt.




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)
                                                     KEPUSTAKAAN


                   Alquran al-Karim

                   Abdullah, Abdurrahman Saleh. Educational Theory a Quranic Outlook.
                         Diterjemahkan oleh H.M. Arifin dan Zainuddin dengan judul: Teori-teori
                         Pendidikan Berdasarkan Alquran (Cet. II; Jakarta: Rineka Cipta, 1994

                   Arifin, H.M. Ilmu Pendidikan Islam (Cet. III; Jakarta: Bumi Aksara, 1994).

                   Arsyad, Azhar. “Manajemen Pendidikan Bahasa Arab: Sebuah Tinjauan
                         Teologis, Kultural, dan Psikodinamik” (Pidato Penerimaan Jabatan
                         Guru Besar Tetap Pendidikan Bahasa Arab dan Ilmu Manajemen,
                         Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Makassar, 11 Januari 2001).

                   Al-Bukhariy. Shahih Al-Bukhariy (Riyadh: Dar al-Salam, 1997).

                   Langgulung, Hasan. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam (Cet. II;
                        Bandung: Al-Ma’arif, 1995).

                   Linton, Ralph. The Cultural Background of Personaliry. Diterjemahkan oleh
                          Fouad Hassan dengan judul Latar Belakang Kebudajaan daripada
                          Kepribadian (Djakarta: Djaja Sakti, 1962).

                   Mohamed, Yasien. Fitra: The Islamic Concept of Human Nature.
                        Diterjemahkan oleh Masyhur Abadi dengan judul: Insan Yang Suci:
                        Konsep Fithrah Dalam Islam (Cet. I; Bandung: Mizan, 1997).

                   Purwanto, M. Ngalim. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (Cet. VII;
                        Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994).

                   Shihab, M. Quraish. Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan (Cet. XVII;
                         Bandung: Mizan, 1999).

                   Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
                        Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. II; Jakarta: Balai Pustaka, 1989).

                   Tirtarahardja, Umar dan La Sula.          Pengantar Pendidikan (Cet. I; Jakarta:
                          Rineka Cipta, 2000).




Create PDF files without this message by purchasing novaPDF printer (http://www.novapdf.com)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Education, View
Stats:
views:16809
posted:3/23/2010
language:Indonesian
pages:14
Description: Makalah ini mengelaborasi salah satu pandangan kependidikan mengenai hubungan perkembangan manusia dengan pembawaan dan lingkungan