MENGENAL KEBUDAYAAN SUNDA DI KALANGAN MASYARAKAT TAMAN HEWAN

Document Sample
MENGENAL KEBUDAYAAN SUNDA DI KALANGAN MASYARAKAT TAMAN HEWAN Powered By Docstoc
					     KU 4184 ANTROPOLOGI


               Makalah
Kebudayaan Masyarakat Taman Hewan




       Disusun oleh kelompok 6-A :
       Trisna Wanto         10104093
       Rani Kurniasih       10506094
       Gani                 10706014
       Diha Madihah         10706062
       Farasdaq M S         12206074
       Satya Fajar          13506021




    MATA KULIAH DASAR UMUM
 FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
  INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
                     2009
                                        BAB I
                                    PENDAHULUAN


I.   Latar Belakang
Taman Hewan merupakan pemukiman yang berada di dekat ITB dan ITB merupakan
institusi terbaik di Indonesia. Ironisnya, terjadi kesenjangan kehidupan antara
masyarakat ITB dengan masyarakat Taman Hewan. ITB berisi individu-individu yang
mempunyai intelegensia diatas rata-rata, sementara warga Taman Hewan pada
umumnya hanya dapat mengenyam pendidikan SMA bahkan SMP atau SD saja. ITB
mempunyai aset milyaran bahkan trilyunan rupiah, sementara penduduk Taman Hewan
harus puas dengan kehidupan perekonomian yang termasuk ke dalam menengah ke
bawah. ITB merupakan salah satu pusat teknologi tinggi di Indonesia, harapan bangsa
ini. Namun tak jauh dari kampus ITB terdapat pemukiman Taman Hewan yang
kehidupan teknologinya hanya terbatas TV, radio, listrik, dan lain-lan. Jarang bahkan
tidak ada rumah yang mempunyai jaringan internet. Di pemukiman tersebut hanya
mempunyai beberapa Warung Internet, yang bahkan dapat dihitung dengan jari. ITB
mempunyai pakar-pakar kesehatan yang berkualitas, namun tingkat kesehatan warga
masih rendah, banyak warga Taman Hewan yang masih mengidap penyakit dan
sebagian besar warga tidak mempunyai toilet / kamar mandi pribadi.


II. Tujuan Penelitian
Mengetahui kebudayaan masyarakat Taman Hewan ditinjau berdasarkan 7 aspek
kebudayaan yaitu :
1. Sistem religi, yang meliputi ssitem kepercayaan, sistem nilai, pandangan hidup,
     komunikasi, keagamaan, atau upacara keagamaan
2. Sistem kemasyarakatan dan organisasi sosial, yang mencakup kekerabatan,
     asosiasi, perkumpulan, sistem kenegaraan, dan sistem kesatuan hidup
3. Sistem pengetahuan, yang meliputi pengetahuan tentang flora dan fauna,
     waktu,ruang, bilangan, tubuh manusia, dan perilaku antar sesama manusia
4. Bahasa, yang berbentuk lisan maupun tulisan
5. Kesenian yang meliputi seni patung, pahat, relief lukis dan gambar, seni rias, vokal,
     musin, bangunan, kesusastraan, atau drama
6. Sistem    mata     pencaharian    hidup/sistem   ekonomi,   yang     meliputi   berburu,
     mengumpulkan      makanan,     bercocok    tanam,   perternakan,    perikanan,    dan
     perdagangan
7. Sistem teknologi : produksi, distribusi, transportasi, peralatan komunikasi, peralatan
   konsumsi dalam bentuk wadah, pakaian, perhiasan, tempat berlindung (perumahan),
   atau senjata


III. Rumusan masalah
1. Seperti apa tingkat pendidikan masyarakat yang tinggal di wilayah Taman Hewan
   dan sekitarnya?
2. Seperti apa tingkat ekonomi masyarakat yang tinggal di wilayah Taman Hewan dan
   sekitarnya?
3. Seperti apa tingkat kesehatan masyarakat yang tinggal di wilayah Taman Hewan dan
   sekitarnya?
4. Seperti apa tingkat teknologi masyarakat yang tinggal di wilayah Taman Hewan dan
   sekitarnya?
5. Seperti apa kepedulian pihak ITB terhadap masyarakat Taman Hewan?
6. Bagaimana pengaruh kebudayaan Sunda terhadap masyarakat Taman Hewan?
7. Bagaimana pengaruh kebudayaan lain yang dibawa oleh warga pendatang?


IV. Batasan Masalah
   Penduduk tetap Taman Hewan.
                                                BAB II
                                          LANDASAN TEORI


Teori dasar yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan beberapa faktor yaitu faktor
ekonomi, faktor pendidikan, dan faktor kesehatan. Teori dasar tersebut antara lain :
1. Faktor Ekonomi
   Dalam kajian Sosiologi kehidupan sosial atau dalam bentuk masyarakat adalah
   merupakan bagian dari sistem sosial. Sedangkan sistem sosial sendiri di defenisikan
   sebagai, totalitas dari bagian-bagian atau unsur-unsur yang saling mempengaruhi yang
   berada dalam satu kesatuan dan menjadi unsur-unsur atau elemen dari kehidupan
   sosial ini adalah masyarakat. Beberapa ciri-ciri yang sistem sosial yang dikemukakan
   oleh Robert A. Dahl adalah:
       1) dua orang atau lebih yang saling mempengaruhi
       2) dalam tindakannya mereka memperhitungkan bagaimana orang lain bertindak
       3) kadang-kadang mereka bertindak bersama untuk mengejar tujuan bersama.


   Kehidupan masyarakat secara bersama dalam satu kesatuan dengan segala elemen
   yang menyertainya membuat kehidupan masyarakat didalam sistem sosial ditandai oleh,
   masyarakat yang hidup bersama, dengan adanya kesadaran karena mereka hidup
   bersama dalam satu kesatuan dalam jangka waktu yang lama sehingga mengakibatkan
   terjadinya satu perasaan yang saling memiliki. Dan puncak dari adanya perasaan suatu
   kesatuan terciptalah kehidupan bersama (sistem sosial).


   Menurut saya sistem sosial dalam hal ini kehidupan sosial bermasyarakat merupakan
   suatu “sistem”, suatu kesatuan dari elemen-elemen yang sangat kompleks termasuk
   sistem matapencarian hidup. Yang merupakan salah satu kajian ilmu antropologi yaitu
   etnografi. Metode khas antropologi yang merupakan suatu deskripsi menyeluruh
   mengenai suatu suku bangsa, dalam awal sejarah perkembangan ilmu antropologi
   etnografi sendiri merupakan cikal bakal dari munculnya ilmu antropologi. Karena
   karangan etnografi merupakan deskripsi murni yang tidak ada nilai terapannya (pada
   awalnya hanya merupakan bentuk keingintahuan para musafir bangsa Eropa terhadap
   suku bangsa asing yang ditemuinya pada perjalanan keliling dunia mereka). Dalam
   menulis karangan etnografinya para ahli antropologi membagi-bagi unsur kebudayaan
   menurut tata urut yang sudah baku. Koentjaraningrat menyebutnya dengan kerangka
   etnografi. Salah satu unsur kebudayaan universal yang termasuk kedalam tata urut ini
   adalah Sistem matapencarian hidup. Walaupun kadang Koentjaraningrat menyebutnya
   dengan sistem ekonomi. Para ahli antropologi pada dasarnya cenderung mengkaji mata
pencarian hidup yang hanya bersifat tradisional saja, sebagimana perkembangan awal
antropologi yang hanya mengkaji masyarakat terasing yang hidup diluar Eropa. Secara
tradisional Koentjaraningrat mengklasifikasikan mata pencarian manusia adalah terdiri
sebagai berikut :
      1) berburu dan meramu
      2) beternak
      3) bercocok tanam diladang
      4) bercocok tanam menetap dengan irigasi.


Menurut hemat saya pada pengkajian yang lebih luas dalam antropologi ekonomi dan
antrpologi perdesaan mata pencarian manusia dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
      1) hunter and gather
      2) pastoralist (beternak)
      3) holtikulturalism (bercocok tanam)
      4) peasantry (petani pedesaan)
      5) industrialist (urban).


Karena sekarang kehidupan manusia berkembang dengan cepat karena berbagai
proses perpindahan budaya (hampir tidak ada lagi kebudayaan suatu suku bangsa yang
murni). Karena itu sistem matapencarian hidup pun berkembang dengan pesat,
walaupun perkembangan ini tidak terjadi secara bersamaan. Sebagian suku bangsa
penghuni papua masih bertahan dengan sistem berburu dan meramu mereka, di gurun
timur tengah masih ada suku pengembara yang hidup dari berternak dan mengembala
domba dan hampir tidak ditemukan lagi matapencarian berburu bahkan bercocok tanam
(secara tradisional) di Eropa karena sebagian besar masyarakatnya sudah tersentuh
oleh industrialisasi.


Dalam kajian ilmu ekonomi modern, kegiatan ekonomi pada intinya berpusat pada
kegiatan produksi barang, distribusi (mendeliverkan barang pada konsumen) dan
akhirnya pada proses konsumi (menghabiskan atau memakai barang atau jasa). Semua
proses ini juga terjadi dalam kehidipan ekonomi masyarakat tradisional, walaupun tidak
begitu mendapat perhatian dari ahli ekonomi karena lebih memusatkan perekonomian
pada tingkat global. Dalam sistem matapencarian hidup para ahli antropologi juga
memperhatikan sistem produksi lokalnya, cara pengolahan sumberdaya alam, cara
pengumpulan modal, cara pengerahan dan manajemen tenaga kerja. Teknologi dalam
sistem produksi, sistem distribusi pasar, dan proses konsumsinya. Kalau dirinci lebih
jauh lagi termasuk didalamnya dikaji bagaimana keterlibatan keluarga dalam
   mengkonsumsi suatu barang juga sistem distribusi seperti apa yang digunakan, siapa
   saja yang terlibat dalam proses produksi, dan lain sebagainya. Di dalam buku pengantar
   ilmu antropologi terlihat Koentjaraningrat begitu membatasi kajian ekonomi pada sistem
   mata mencarian hidup hanya dalam ruang lingkup yang kecil saja dan menganggap hal-
   hal seperti proses distribusi yang besar dengan jaringan yang luas dan sistem ekonomi
   yang berdasarkan pada industri merupakan murni kajian ahli ekonomi. Sehingga
   memberikan kesan pemahaman bahwa antropologi adalah ilmu yng tertinggal
   (membatasi diri pada hal-hal yang seharusnya bisa menjadi kajian antropologi, dengan
   tidak lepas dari akar ilmu antropologi sendiri tentunya).


   Kajian-kajian yang luas mengenai perekonomian di tingkat global, perekonomian negara,
   ketertinggalan negara-negara dunia ketiga (yang akar permasalahannya juga adalah
   masalah ekonomi), proses pembuatan kebijakan oleh pemerintah, pola perilaku
   konsumen, bahkan penciptaan dan inovasi produk baru dalam proses produksi
   sebenarnya bisa diperdalam dan dipelajari oleh spesilaisasi ilmu antropologi seperti
   antropologi ekonomi, antropologi terapan dan antropologi perkotan.


2. Faktor Pendidikan
   Dalam kepustakaan antropologi pendidikan ditemukan beberapa konsep yang paling
   penting,      yakni      enculturation       (pembudayaan/pewarisan),      socialization
   (sosialisasi/pemasyarakatan), education (pendidikan), dan schooling (persekolahan).
   Menurut Herskovits, bahwa enkilturasi berasal dari aspek-aspek dari pengalaman belajar
   yang memberi ciri khusus atau yang membedakan manusia dari makhluk lain dengan
   menggunakan pengalaman-pengalaman hidupnya. Proses enkulturatif bersifat kompleks
   dan berlangsung hidup, tetapi proses tersebut berbeda-beda pada berbagai tahap dalam
   lingkaran kehidupan seorang. Enkulturasi terjadi secara agak dipaksakan selama awal
   masa kanak-kanak tetapi ketika mereka bertambah dewasa akan belajar secara lebih
   sadar untuk menerima atau menolak nilai-nilai atau anjuran-anjuran dari masyarakatnya.
   Bahwa tiap anak yang baru lahir memiliki serangkaian mekanisme biologis yang diwarisi,
   yang harus dirubah atau diawasi supaya sesuai dengan budaya masyarakatnya.


   Kesamaan dari konsep enkulturasi dengan konsep sosialisasi terlihat dari pernyataan
   Herkovits yang mengatakan bahwa sosialisasi menunjukkan proses pengintegrasi
   individu ke dalam sebuah kelompok sosial, sedangkan enkulturasi adalah proses yang
   menyebabkan individu memperoleh kompetensi dalam kebudayaan kelompok.
Menurut Hansen, enkulturasi mencakup proses perolehan keterampilan bertingkah laku,
pengetahuan tentang standar-standar budaya, dan kode-kode perlambangan seperti
bahasa dan seni, motivasi yang didukung oleh kebudayaan, kebiasaan-kebiasaan
menanggapi, ideologi dan sikap-sikap. Sedangkan sosialisasi menurut Gillin dan Gillin
adalah proses yang membawa individu dapat menjadi anggota yang fungsional dari
suatu kelompok, yang bertingkah laku menurut standar-standar kelompok, mengikuti
kebiasaan-kebiasaan kelompok , mengamalkan tradisi kelompok dan menyesuaikan
dirinya dengan situasi-situasi sosial yang ditemuinya untuk mendapatkan penerimaan
yang baik dari teman-teman sekelompoknya.


Bagi Herskovits, pendidikan (education) adalah ”directed learning” dan persekolahan
(schooling) adalah “formalized learning”. Dalam literatur pendidikan dewasa ini dikenal
istilah pendidikan formal, informal dan non-formal. Pendidikan formal adalah system
pendidikan yang disusun secara hierarkis dan berjenjang secara kronologi mulai dari
sekolah dasar sampai ke universitas dan disamping pendidikan akademis umum
termasuk pula bermacam-macam program dan lembaga untuk pendidikan kejuruan
teknik dan profesional.


Pendidikan informal adalah pendidikan seumur hidup yang memungkinkan individu
memperoleh sikap-sikap, nilai-nilai, keterampilan-keterampilan dan pengaruh-pengaruh
yang ada di lingkungannya dari keluarga, tetangga. Label informal berasal dari
kenyataan bahwa tipe proses belajarnya bersifat tidak terorganisasi dan tidak
tersistematis. Pendidikan informal biasanya dilaksanakan dalam masyarakat sederhana
dimana belum ada sekolah.


Karangan Margared Mead mengenai pendidikan dalam masyarakat sederhana (1942),
dimana ia membedakan antara learning cultures dan teaching cultures atau kebudayaan
belajar   dan   kebudayaan   mengajar.    Dalam   golongan    yang   pertama,   warga
masyarakatnya belajar dengan cara yang tidak resmi yaitu dengan berperan serta dalam
kehidupan rutin sehari-hari. Dimana mereka memperoleh segala pengetahuan,
kemampuan dan keterampilan yang mereka perlukan untk dapat hidup dengan layak
dalam masyarakat dan kebudayaan mereka sendiri. Dalam golongan yang kedua, warga
masyarakat mendapat pelajaran dari warga-warga lain yang lebih tahu, yang seringkali
dilakukan dalam pranata-pranata pendidikan yang resmi, dimana mereka memperoleh
segala pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang mereka perlukan.
   Pendidikan non-formal merupakan kegiatan terorganisasi di luar kerangka sekolah
   formal atau sistem universitas yang ada yang bertujuan untuk mengkomunikasikan
   gagasan-gagasan      tertentu,     pengetahuan,   sikap-sikap.   Pendidikan   non-formal
   memusatkan perhatian kepada perbaikan kehidupan sosial dan kemampuan dalam
   pekerjaan. Pendidikan non-formal lebih berorientasi terhadap menolong individu-individu
   memecahkan masalah mereka, bukan pada penyerapan isi kurikulum tertentu.
   Pengajaran dilakukan melalui kerjasama dengan guru, umpamanya dengan pekerja-
   pekerja ahli, pekerja sosial, penyuluh pertanian, dan petugas kesehatan.


3. Faktor Kesehatan
   Antropologi lebih luas lagi kajiannya dari itu seperti Koentjaraningrat mengatakan bahwa
   ilmu antropologi mempelajari manusia dari aspek fisik, sosial, budaya (1984;76).
   Pengertian Antropologi kesehatan yang diajukan Foster/Anderson merupakan konsep
   yang tepat karena termakutub dalam pengertian ilmu antropologi seperti disampaikan
   Koentjaraningrat di atas. Menurut Foster/Anderson, Antropologi Kesehatan mengkaji
   masalah-masalah kesehatan dan penyakit dari dua kutub yang berbeda yaitu kutub
   biologi dan kutub sosial budaya.


   Pokok perhatian Kutub Biologi :
   •   Pertumbuhan dan perkembangan manusia
   •   Peranan penyakit dalam evolusi manusia
   •   Paleopatologi (studi mengenai penyakit-penyakit purba)


   Pokok perhatian kutub sosial-budaya :
   •   Sistem medis tradisional (etnomedisin)
      Masalah petugas-petugas kesehatan dan persiapan profesional mereka
      Tingkah laku sakit
      Hubungan antara dokter pasien
      Dinamika dari usaha memperkenalkan pelayanan kesehatan barat kepada
       masyarakat tradisional.


   Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Antropologi Kesehatan adalah disiplin yang
   memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosio-budya dari tingkahlaku
   manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya disepanjang sejarah
   kehidupan manusia, yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit pada manusia
   (Foster/Anderson, 1986; 1-3).
Teori-teori budaya yang mengkaji kesehatan menurut beberapa ahli :
      Menurut Weaver :Antropologi Kesehatan adalah cabang dari antropologi terapan
       yang menangani berbagai aspek dari kesehatan dan penyakit (Weaver, 1968;1)
      Menurut Hasan dan Prasad :Antropologi Kesehatan adalah cabang dari ilmu
       mengenai manusia yang mempelajari aspek-aspek biologi dan kebudayaan
       manusia (termasuk sejarahnya) dari titik tolak pandangan untuk memahami
       kedokteran (medical), sejarah kedokteran medico-historical), hukum kedokteran
       (medico-legal), aspek sosial kedokteran (medico-social) dan masalah-masalah
       kesehatan manusia (Hasan dan Prasad, 1959; 21-22)
      Menurut Hochstrasser : Antropologi Kesehatan adalah pemahaman biobudaya
       manusia dan karya-karyanya, yang berhubungan dengan kesehatan dan
       pengobatan (Hochstrasser dan Tapp, 1970; 245)
      Menurut Lieban :Antropologi Kesehatan adalah studi tentang fenomena medis
       (Lieban 1973,1034)
      Menurut Fabrega :Antropologi Kesehatan adalah studi yang menjelaskan:
       • Berbagai faktor, mekanisme dan proses yang memainkan peranan didalam
       atau mempengaruhi cara-cara dimana individu-individu dan
       kelompok-kelompok terkena oleh atau berespons terhadap sakit dan penyakit.
       • Mempelajari masalah-masalah sakit dan penyakit dengan penekanan terhadap
       pola-pola tingkahlaku. (Fabrga, 1972;167)


Dari definisi-definisi yang dibuat oleh ahli-ahli antropologi mengenai Antropologi
Kesehatan seperti tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Antropologi
Kesehatan mencakup:
1) Mendefinisi secara komprehensif dan interpretasi berbagai macam masalah tentang
hubungan timbal-balik biobudaya, antara tingkah laku manusia dimasa lalu dan masa
kini dengan derajat kesehatan dan penyakit, tanpa mengutamakan perhatian pada
penggunaan praktis dari pengetahuan tersebut
2) Partisipasi profesional mereka dalam program-program yang bertujuan memperbaiki
derajat kesehatan melalui pemahaman yang lebih besar tentang hubungan antara gejala
bio-sosial-budaya dengan kesehatan, serta melalui perubahan tingkah laku sehat kearah
yang diyakini akan meningkatkan kesehatan yang lebih baik.


Beberapa model mengenai faktor kesehatan, salah satunya adalah model evolusi yang
dikemukakan oleh beberapa pakar, antara lain sebagai berikut :
a. Charles Darwin – Social Darwinism ( Spesies – Natural selection )
1.Faktor ketahanan fisik
2.Berfindah, mencari tempat yang lebih cocok
3.Bertahan, pengembang iptek
b. Auguste Comte
1.Manusia adalah benda mati yang memiliki nyawa
2.Metafisika – penjelasan fenomena alam melalui analisis abstrak
3.Scientific stage – semua unsur penyebab dijelaskan melalui analisisi tentang proses
ilmiah / alamiah
c. Karl Marx
1.Setiap perbedaan akan hancur
2.Muncul peradaban paling tinggi sosialis menggantikan feodalis
3.Perubahan harus duupayakan – perombakan sosial ( revolusioner )
d. Herbert Spencer
1.Perubahan masyarakat secara alamiah
2.Masyarakat bergerak ke arah lebih baik dan sempurna
e.Emile Durkhein
Model evolusi semu, karena perubahan tidak selalu ke arah kesempurnaan :
1.Spesialis pekerjaan sederhana – mechanical solidarity
2.Kepadatan penduduk – spesialisasi berbeda – organic solidarity
f.Leslie White
1.Tingkat perubahan tidak berdasarkan urutan tapi bisa meloncat
2.Modernisasi – global
                                       BAB III
                                   METODOLOGI


I.   Metode Penelitian
        a. Metode Primer :
           Secara kuantitatif   : pembagian kuesioner
           Secara kualitatif    : wawancara
        b. Metode Sekunder      : studi literatur
                                     BAB IV
                            DATA ANALISIS KUANTITATIF


 I. Jenis kelamin




 II. Pekerjaan


                 10%
          6%
                                              Ibu Rumah Tangga
     4%
                                              Pedagang
                                              Buruh

  10%                                         Pensiunan
                                      54%
                                              Pengangguran
                                              Sekolah
          16%




III. Agama

                       4%




                                                        Islam
                                                        Kristen




                            96%
IV. Jumlah anggota keluarga

                   6%
      12%
                              30%

                                    3 Orang
                                    4 Orang
                                    5 Orang
                                    6 Orang




             52%




V. Kemampuan membaca




VI. Tingkat pendidikan
VII. Kegiatan kemasyarakatan

                     2%              10%
         18%
                                            10%
                                                          Arisan
                                                          Siskamling
                                                          Pengajian
                                                          PKK
                                                          Kesenian


                         60%



VIII. Pengenalan budaya sunda

                         2%




                                                                Ya
                                                                Tidak




                               98%



IX. Bahasa sehari-hari




                                                  Sunda
 42%
                                                  Indonesia
                                           52%
                                                  Campuran Indonesia
                                                  dan Sunda

               6%
X. Penggunaan internet

                                 12%




                                                    Bisa
                                                    Tidak




                   88%



XI. Barang elektronik yang dimiliki

             14%
                                       24%
      3%
                                              Handphone
                                              TV
                                              Kulkas
                                              Rice cooker



                    59%



XII. Kepemilikan kendaraan


                                  12%
                                              Sepeda
                                       26%    Motor
             62%                              Mobil
                                              Tidak Punya

                                         0%
XIII. Kepemilikan MCK pribadi


                                   12%
                                                     Sepeda
                                      26%            Motor
                  62%                                Mobil
                                                     Tidak Punya

                                         0%

XIV. Usia

                        4%   6%
                                         12%
       22%                                                  <20
                                                            20an
                                                            30an
                                                            40an

                                               26%          50an
                                                            60an
              30%



XIV. Harapan yang ingin dicapai


             6%         4%
                             24%               Kebersihan Lingkungan
            14%                                Perbaikan Jalan
                                               Fasilitas MCK Tambahan
                                               Modal Usaha
        22%                                    Lapangan Olahraga
                                30%
                                               Lain-lain
                                         BAB V
                              ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dan membahas unsur-unsur kebudayaan yang
terdapat dalam masyarakat Taman Hewan. Ketujuh unsur tersebut merupakan hal-hal
yang saling berkait dan berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu
akan dibahas satu persatu unsur budaya yang terdapat di sana berdasarkan data
kuantitatif yang diperoleh.


Ditinjau dari jenis kelaminnya, Masyarakat dilingkungan taman hewan kebanyakan
berjenis kelamin wanita, dengan presentase sebesar 60% dibandingkan jenis kelamin pria,
40%. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh angka kelahiran ibu untuk melahirkan seorang
bayi perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Namun, bukan hanya hal itu saja yang
menjadi factor banyaknya perempuan daripada laki-laki, melainkan proses transmigrasi
penduduk diluar lingkungan Taman Hewan yang berdatangan untuk membuka usaha.


Selain itu, berdasarkan data kuantitatif yang diperoleh, pekerjaan masyarakat taman
hewan pada umumnya adalah ibu rumah tangga dibandingkan yang lainnya. Angka 54%
dapat menjelaskan betapa banyaknya seorang wanita dilingkungan taman hewan. Setelah
ibu rumah tangga, pekerjaan sebagai pedagang menyusul dengan peringkat kedua.
Melihat kondisi taman hewan yang strategis dengan masyarakat lain untuk bertindak
konsumtif tentu menjadi factor utama untuk berjualan. Didukung pula dengan adanya
Kebun Binatang Bandung yang berlokasi sangat dekat sekali dengan masyarakat di
lingkungan taman hewan. Masyarakat yang berjualan tidak hanya memanfaatkan lokasi
wisata yang sangat dekat itu, tapi banyak juga yang menjadi pedagang keliling yang pergi
ke sekolah-sekolah, memutari Bandung, dan banyak lokasi-lokasi lain yang menjadi
tempat mereka menanggung nasib untuk memperoleh sesuap nasi.                Selanjutnya,
presentase ketiga dengan angka 10% merupakan pekerjaan menjadi anak sekolah dan
juga buruh. Dua pekerjaan ini memiliki angka yang sama. Pekerjaan itu pilihan, mana yang
lebih mampu dilakukan itulah yang dipilih. Sama halnya dengan memilih untuk menuntut
ilmu. Memang jarang ditemui masyarakat penduduk daerah di lingkungan taman hewan
yang menuntut ilmu hingga perguruan tinggi dan bekerja sesuai bidangnya. Namun, nilai
itu tetap saja ada. Pilihan ini dipengaruhi oleh pola pikir. Yang berpikir bahwa menuntut
ilmu setinggi-tingginya adalah penting, maka dengan kemampuan yang dimiliki seorang
manusia, akan terus berusaha untuk memperoleh hal tersebut. Lain halnya dengan yang
menerima apa saja, dan siap pekerjaan keras walaupun hasil yang diperoleh tidak besar.
Itulah realita yang kadang manusia untuk mengakuinya saja masih ragu-ragu. Sisanya
adalah pensiunan dan pengangguran. Warga yang menganggur                 biasanya berada
dirumah dan kebanyakan mengasuh anak.


Warga di sekitar taman hewan dominan beragama Islam, ditunjukkan dengan angka
presentase sebesar 96% dari data kuantitatif. Pedoman yang dianut ini dapat dilihat juga
dari kegiatan masyarakatnya yang suka melakukan pengajian di masjid.               Hal ini
merupakan wujud kebudayaan yang dibentuk oleh masyarakat di masa-masa terdahulu.
Kebudayaan memiliki sifat-sifat tertentu, yaitu:
 1. Kebudayaan itu abstrak
 2. Kebudayaan itu menuntun dan mengarahkan manusia
 3. Kebudayaan itu dimiliki manusia
 4. Kebudayaan itu dimiliki oleh masyarakat
 5. Kebudayaan itu diwariskan
 6. Kebudayaan itu berubah.
Agama memiliki sifat kebudayaan yang menuntun dan mengarahkan manusia untuk
menjadi makhluk yang beriman dan bertakwa. Maksudnya, agama manapun pasti memiliki
landasan dan hokum-hukum yang berdiri didalamnya. Pedoman itulah yang menjadi
penuntun dan pengarah. Dalam kehidupan, masyarakat bersikap dan berperilaku sesuai
dengan peraturan yang menjadi kesepakatan bersama. Jika ada orang atau bagian dari
masyarakat yang tidak tunduk pada tata aturan yang bernama kebudayaan, ia dikatakan
berperilaku   menyimpang.     Biasanya,    orang   yang   menyimpang    dari   kebudayaan
masyarakatnya akan mendapatkan sanksi sosial. Namun, di lingkungan taman hewan
sanksi sosial yang dimaksud tidak begitu keras dan masih bersifat kekeluargaan.


Jumlah anggota keluarga di lingkungan taman hewan, sebanyak 52% berjumlahkan 4
orang. Artinya sepasang suami istri memiliki dua orang anak. Hal ini dipengaruhi oleh
pembentukan keluarga berencana (KB). Hal ini bisa saja menjadi kebudayaan di
lingkungan taman hewan. Karena kebudayaan itu bersifat diwariskan atau turun menurun.


Dapat dilihat dari data kuantitatif bahwa masyarakat taman hewan kebanyakan berada
pada usia tua 40 tahun keatas sebanyak 56 persen. Untuk usia produktif 20-40 tahun
sebanyak 38 persen, dan usia muda (<20tahun) hanya sebanyak 6 persen.


Aspek budaya yang lainnya, yakni bahasa, dari data kuantitatif yang diperoleh dapat dilihat
bahwa mayoritas masyarakat Taman Hewan menggunakan Bahasa Sunda sebagai
bahasa sehari-hari. Hal ini disebabkan karena hampir semua masyarakat di lingkungan
Taman Hewan berasal dari suku Sunda. Selain itu banyak juga masyarakat yang
menggunakan bahasa Indonesia dalam sehari-hari. Masyarakat yang menggunakan
Bahasa Indonesia rata-rata berasal dari daerah diluar lingkup Sunda. Namun terkadang
mereka menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari bersama
mahasiswa.


Untuk meneliti unsur budaya sistem teknologi, maka ditinjau dari tiga hal, yakni
kemampuan menggunakan internet, barang elektronik yang digunakan dan kendaraan
yang digunakan    Dari data kuantitatif yang ada dapat dilihat bahwa hampir kebanyakan
masyarakat Taman Hewan tidak dapat menggunakan internet. Hal ini dikarenakan
kebanyakan masyarakat Taman Hewan berusia diatas 30 tahun dan tidak memerlukan
internet dalam pekerjaan kesehariannya. Namun rata-rata anak-anak mereka yang masih
sekolah di tingkat SMP atau SMA mampu menggunakan internet. Selain itu, dari data
kuantitatif yang diperoleh dapat dilihat bahwa 59 persen masyarakat Taman Hewan
memiliki televisi. 24 persen masyarakat Taman hewan memiliki handphone yang biasanya
digunakan oleh masyarakat dalam tingkat remaja. Dalam menanak nasi hanya sekitar 14
persen yang menggunakan rice cooker serta sangat sedikit sekali yang memiliki kulkas.
Selain itu, ditinjau dari kendaraan yang digunakan, berdasarkan data kuantitatif dapat
dilihat, sebanyak 26% responden mengaku memiliki motor dan 12% responden mengaku
memiliki sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari. Selain itu, 62% responden mengaku
tidak memiliki kendaraan apapun sebagai alat transportasinya. Hal ini menunjukkan bahwa
tingkat ekonomi masyarakat sekitar Taman Hewan masih dalam taraf menengah ke
bawah. Bukti lain yang mendukung fakta ini adalah tidak adanya masyarakat di sekitar
Taman Hewan yang memiliki mobil pribadi sebagai alat transportasinya.


Dari hasil data kuantitatif yang diperoleh, masyarakat sekitar Taman Hewan sebagian
besar atau 82% sudah bisa membaca, walaupun tidak bisa dikatakan bebas sama sekali
dari buta huruf, karena sebagian kecil (sekitar 18%) terdapat orang-orang tua yang tinggal
di daerah tersebut tidak mengenyam pendidikan dasar. Sehingga menyebabkan para
orang tua tersebut buta huruf. Akan tetapi untuk anak-anak usia sekolah, semuanya sudah
bisa membaca. Hal ini disebabkan oleh semakin terjangkaunya sekolah-sekolah dasar
dikarenakan program pemerintah berupa biaya sekolah dasar gratis, dan juga disebabkan
oleh semakin sadarnya para orang tua akan pentingnya kemampuan membaca bagi anak-
anak mereka. Karena hampir semua masyarakat taman hewan beragama Islam, selain
membaca bahasa latin, masyarakat juga sebagian besar bisa membaca Al-Qur’an. Hal ini
diakibatkan oleh seringnya diadakan pengajian rutin di lingkungan tersebut
Tingkat pendidikan di daerah Taman Hewan masih cukup rendah untuk ukuran zaman
sekarang ini yang sangat mensyaratkan pendidikan cukup atau setingkat SMA untuk
mendapatkan pekerjaan yang layak. Dari data kuantitatif yang diperoleh, rata-rata
masyarakat Taman Hewan berpendidikan SMP (sekitar 48%).
Terdapat dua faktor yang menyebabkan masyarakat tersebut berpendidikan rendah, yaitu:
1. Kurangnya perhatian masyarakat terhadap pendidikan.
 Masyarakat Taman Hewan menganggap pendidikan tidak cukup penting untuk
 diperhatikan. Mereka menganggap bisa membaca dan berhitung (setingkat SD atau
 SMP) sudah cukup untuk bekal dalam menjalankan hidup.
2. Pekerjaan masyarakat taman hewan yang sebagian besar di sektor informal.
 Pekerjaan Masyarakat di sektor Informal seperti pedagang dan buruh bangunan sangat
 mempengaruhi tingkat pendidikan di daerah tersebut. Karena faktor ekonomi, mereka
 tidak sanggup menyekolahkan anak mereka ke sekolah lebih tinggi seperti SMA atau
 Perguruan TInggi, karena pemerintah hanya menggratiskan pendidikan sampai tingkat
 SMP saja.


Masyarakat di sekitar taman hewan merupakan masyarakat yang masih erat hubungan
kekeluargaan di antara mereka. Hal ini dapat terlihat dari hasil pengamatan kami, dimana
lingkungan Taman Hewan banyak melakukan kegiatan kemasyarakatan yang sangat
bermanfaat bagi lingkungan tersebut. Cukup banyak kegiatan kemasyarakatan yang
diadakan disana seperti, pengajian, siskamling, arisan, PKK, dan Kegiatan Kesenian.
Banyak sekali manfaat yang bisa diambil dari kegiatan tersebut, contohnya ; siskamling
bertujuan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan lingkungan sekitar, PKK bertujun
melatih para ibu-ibu di lingkungan tersebut untuk mempunyai beberapa keahlian yang bisa
digunakan baik untuk berumah tangga ataupun memberi penghasilan tambahan, seperti
memasak, membuat kerajinan,dll. Arisan bertujuan selain untuk mempererat hubungan
kekeluargaan juga mengajarkan masyarakat untuk menyisihkan sebagian dari penghasilan
mereka untuk ditabung. Kegiatan kemasyarakatan yang paling banyak dilakukan di
lingkungan tersebut dari hasil survey dan wawancara kami adalah pengajian (sekitar
60%). Biasanya pengajian dilakukan rutin tiap malam jumat atau ketika hari-hari besar
Islam, dan juga tiap hari pada saat bulan Ramadhan. Banyaknya anggota masyrakat
Taman Hewan yang mengikuti pengajian dapat terlihat dari selalu penuhnya masjid-masjid
pada waktu malam hari. Hal ini tentu sangat bermanfaat selain untuk mempererat
hubungan kekeluargaan      antara   anggota masyarakat,    juga agar    menghindarkan
masyarakat dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik serta lebih mendekatkan diri pada
Tuhan Yang Maha Esa.
Masyarakat yang berada di Taman Hewan sebagian besar adalah suku sunda. Walaupun
begitu tidak seluruhnya masyarakat Taman Hewan asli dari Bandung, mereka juga ada
yang berasal dari kota-kota lain sekitar Jawa Barat seperti Garut, Sukabumi, Tasikmalaya,
Banjar, Kuningan, dan lain-lain yang juga merupakan suku sunda. Sebagian kecil
penduduk disana juga ada yang suku padang, jawa atau batak. Maka tidak heran budaya
sunda masih sangat kental disana. Dari survey yang kami lakukan, 98% masyarakat
disana mengaku masih mengenal budaya sunda. Bahkan mereka tidak hanya mengenal,
tetapi juga masih melestarikan kebudayaan sunda. Hal ini bisa dilihat dari diadakannya
kegiatan kesenian yang rutin dilaksanakan masyarakat Taman Hewan sebagai bagian dari
kegiatan kemasyarakatan. Hal lain yang menarik kami temukan adalah para anak-anak di
lingkungan tersebut bisa menyanyi lagu-lagu sunda. Dari setiap anak di lingkungan Taman
Hewan yang kami minta untuk menyanyi lagu sunda, semuanya bisa menyanyikan lagu
sunda dengan baik. Ini membuktikan regenerasi Budaya Sunda sangat baik terjadi di
lingkungan Taman Hewan, sehingga budaya sunda dapat terjaga kelestariannya.


Kepemilikan MCK (mandi, cuci, kakus) merupakan salah satu faktor lainnya yang ditinjau
dalam penelitian ini. Dari data kuantitatif yang diperoleh, 72% responden menyatakan
bahwa mereka tidak memiliki MCK pribadi di rumahnya masing-masing. Sebaliknya, 28%
responden menyatakan bahwa mereka telah memiliki MCK pribadi di rumahnya. Hasil
survey ini menunjukkan bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar Taman Hewan masih
memiliki jiwa sosial yang tinggi. Mereka tidak segan berbagi kepemilikian MCK bersama
masyarakat lainnya yang tinggal di sekitar Taman Hewan meskipun alasan utama
keberadaan MCK umum adalah karena faktor ekonomi.


Harapan yang ingin dicapai oleh masyarakat di sekitar Taman Hewan umumnya beragam.
Sekitar 30% responden mengatakan bahwa mereka menginginkan perbaikan jalan di
lingkungan Taman Hewan. 24% responden lainnya menginginkan kebersihan lingkungan
ditingkatkan. 22% responden menyatakan ingin memiliki tambahan fasilitas MCK umum di
sekitar Taman Hewan. Sebanyak 14% responden menyatakan mereka membutuhkan
tambahan modal usaha untuk memperbaiki usaha yang telah dirintis guna meningkatkan
taraf hidupnya. Selain itu, 6% responden menginginkan adanya lapangan olahraga yang
diperuntukkan bagi masyarakat di sekitar Taman Hewan. Sedangkan, 4% responden
lainnya menginginkan hal-hal lain yang belum tercantum dalam lembar kuesioner. Dari
pernyataan para responden tersebut, dapat disimpulkan bahwa masyarakat di sekitar
Taman Hewan memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan tempat mereka
tinggal dan menginginkan perbaikan di lingkungannya tersebut.
                                          BAB VI
                               KESIMPULAN DAN SARAN




I. KESIMPULAN
1. Tingkat pendidikan warga Taman Hewan masih berada pada level menengah ke
   bawah
2. Sebagian besar masyarakat Taman Hewan masih merasa tingkat perekonomiannya
   kurang.
3. Tingkat kesehatan masyarakat Taman Hewan yan masih rendah.
4. Tingkat teknologi masyarakat yang tinggal di wilayah Taman Hewan masih belum
   berkembang dengan baik, namum dapat dikatakan perkembangannya cukup baik.
5. Tingkat kepedulian pihak ITB terhadap kehidupan masyarakat Taman Hewan masih
   sangat kurang.
6. Kebudayaan Sunda masih sangat kental pada masyarakat Taman Hewan.
7. Kebudayaan lain yang dibawa oleh warga pendatang sedikit mempengaruhi
   masyarakat Taman Hewan.


II. SARAN
1. Apresiasi masyarakat Taman Hewan yang masih rendah dan sedikit yang ingin
   melanjutkan ke jenjang lebih tinggi perlu ditingkatkan lagi.
2. Tingkat perekononian masyarakat Taman Hewan dapat ditingkatkan dengan
   memberikan subsidi silang dari pihak ITB.
3. Masyarakat Taman Hewan masih membuang sampah sembarangan ke Sungai
   Cikapundung, sehingga hal ini perlu diperhatikan karena menyangkut kesehatan
   masyarakat.
4. Tingkat teknologi dapat ditingkatkan dengan cara memberikan penyuluhan mengenai
   penggunaan internet dan meningkatkan penggunanaannya di wilayah tersebut.
5. Pihak ITB dapat membantu masyarakat Taman Hewan dengan beberapa cara.
   Mungkin dengan memberikan subsidi silang, pekerjaan, atau penyuluhan untuk
   masyarakat Taman Hewan.
6. Kebudayaan Sunda di kalangan masyarakat Taman Hewan harus dilestarikan untuk
   kekayaan bangsa Indonesia.
7. Kebudayaan lain selain kebudayaan Sunda dapat diserap, namun hanya sisi positifnya
   saja. Akulturasi kebudayaan Sunda dengan kebudayaan lain yang diharapkan dapat
   memberikan hasil kebudayaan yang positif.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1717
posted:3/21/2010
language:Indonesian
pages:22