Digitalisasi Warisan Budaya by agussaputera

VIEWS: 351 PAGES: 6

									                              Digitalisasi Warisan Budaya

                                       Oleh: Agus Saputera



       Warisan budaya nasional atau warisan budaya bangsa adalah cermin tingginya

peradaban dan marwah bangsa itu. Dan salah satu ciri bangsa besar dan maju adalah bangsa

yang mampu menghargai dan melestarikan warisan budaya nenek moyang mereka. Semakin

banyak warisan budaya masa lampau yang bisa digali dan dilestarikan, maka sudah

semestinyalah peninggalan budaya tersebut semakin dihargai. Barulah disadari betapa kaya

dan melimpah ruahnya warisan budaya nenek moyang kita yang ternyata selama ini

terabaikan, terlantar dan tidak dipedulikan. Penyebabnya bisa karena ketidaktahuan,

kurangnya kesadaran dan pemahaman akan pentingnya warisan budaya, maupun karena ingin

mendapatkan keuntungan pribadi dengan mengoleksi atau memperdagangkannya.

       Warisan atau khazanah budaya bangsa merupakan karya cipta, rasa, dan karsa

masyarakat di seluruh wilayah tanah air Indonesia yang dihasilkan secara sendiri-sendiri

maupun akibat interaksi dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaanya dan terus

berkembang sampai saat ini. Warisan budaya itu mencakup sesuatu yang berwujud (tangible)

seperti candi, istana, bangunan, tarian, musik, bahasa, manuskrip (naskah kuno), dan yang

tidak berwujud (intangible) seperti filosofi, nilai, keyakinan, kebiasaan, konvensi, adat-

istiadat, etika dan lain sebagainya.

       Sebagai sebuah negara yang kaya dengan warisan budaya, sudah sepatutnya

pemerintah dan seluruh warga negara Indonesia berkomitmen untuk melestarikan warisan

yang sangat tinggi nilainya itu agar tidak musnah, hancur, lapuk, dipindahtangankan, ataupun

hilang karena dicuri, dirampas baik dengan terang-terangan maupun secara halus. Pelestarian

warisan budaya bangsa dapat diartikan sebagai kegiatan terus menerus untuk menjaga

kumpulan kekayaan akal-budi, pengetahuan, dan budaya bangsa untuk tetap hidup dan


                                               1
bermanfaat bagi masyarakat masa kini dan masa yang akan datang. Oleh sebab itu upaya

pelestarian khazanah budaya nasional secara tidak langsung menjadi upaya menjaga marwah

bangsa Indonesia di mata Internasional.

Pelestarian Muatan Lokal

       Beberapa naskah kuno (manuscript) yang sangat terkenal seperti Negara Kertagama,

Sutasoma, Babad Giyanti dan lain sebagainya memiliki nilai historis bangsa yang perlu

dilestarikan, dan dikaji isinya sebagai bekal pembangunan dalam membentuk jati diri bangsa

dan dapat diwariskan kepada generasi penerus. Selain masalah pemanfaatan pusaka budaya

yang tidak maksimal, masalah lain yang muncul adalah keberadaannya yang sulit dilacak.

Beberapa naskah asli Indonesia diketahui tersebar di negara-negara lain, seperti Malaysia,

Belanda dan lain sebagainya. Begitu banyak muatan lokal (local content) yang ditulis pada

naskah-naskah tersebut baik berisi rekaman peristiwa, sejarah, maupun adat istiadat dari

berbagai aspek kehidupan manusia di Indonesia. Hal ini diupayakan sebagai langkah

penyelamatan aset budaya bangsa agar tidak kehilangan mata rantai perkembangan

kebudayaan dari zaman dulu sampai dengan sekarang.

       Seiring dengan perkembangan zaman, warisan pusaka budaya bangsa Indonesia dirasa

kurang mendapat perhatian dan dukungan baik dari pemerintah maupun para pewaris pusaka

budaya itu sendiri sehingga tidak heran jika banyak benda pusaka budaya kondisinya tidak

terawat dan tercerai berai di banyak tempat. Kurangnya pemahaman akan arti pusaka budaya

serta tidak adanya dana untuk merawat benda-benda pusaka budaya dijadikan alasan untuk

melakukan penjualan benda-benda pusaka. Maka tak heran jika peninggalan leluhur itu

tercecer di banyak negara. Khusus untuk manuskrip dengan bahan kertas, lontar, bambu dan

kulit kayu yang banyak terdapat di tanah air, kondisi fisiknya sangat memprihatinkan dan

cenderung bertambah parah jika tidak diselamatkan.




                                            2
         Bukan itu saja, bahkan kasus yang masih segar dalam ingatan kita sangat mencoreng

martabat bangsa yaitu diklaimnya warisan budaya dan seni asli milik Indonesia oleh negara

lain tanpa negara mampu berbuat apa-apa karena tidak bisa membuktikan bahwa ia adalah

hak milik sah bangsa Indonesia. Penyebabnya adalah karena kurang tanggapnya negara

(pemerintah) dalam mematenkan karya cipta budaya bangsa dan lemahnya diplomasi

kebudayaan di tingkat internasional. Dan akar dari semua itu bersumber dari kurangnya

kepedulian dan penghargaan terhadap warisan budaya nasional.

         Kalau sudah terjadi demikian, barulah pemerintah merasa kebakaran janggut, kasak-

kusuk mematenkan kekayaan intelektual, budaya, dan seni tanpa pernah menyadari dan mau

berpikir logis bahwa upaya pelestarian budaya bangsa (budaya nasional) bukanlah sesuatu

yang bersifat instan, spontan, dan parsial. Ia adalah sebuah proses panjang dari generasi ke

generasi yang melibatkan seluruh komponen masyarakat bukan hanya penguasa atau

pemerintah tetapi juga khalayak ramai. Bahkan merupakan kebijakan yang ditetapkan oleh

negara dan dikuatkan melalui undang-undang, bukan untuk kepentingan retorika politik.

         Sebenarnya Pemerintah sendiri telah memahami arti penting kebudayaan dan peran

perpustakaan dalam pelestariannya. Untuk itu pemerintah mengaturnya dalam berbagai

produk perundang-undangan yaitu UU. no. 4/1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan

Karya Rekam dilengkapi dengan PP 70/1991. Pasal 4 ayat (c) UU 4/1990, menyatakan salah

satu tujuan perpustakaan adalah menyediakan wadah bagi pelestarian hasil budaya bangsa,

baik berupa karya cetak, maupun karya rekam, melalui program wajib serah simpan karya

cetak dan karya rekam sesuai dengan Undang-Undang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya

Rekam. Melanggar ketentuan ini adalah tindakan pidana yang dapat dihukum penjara atau

denda.

         Kewajiban serah-simpan karya cetak dan karya rekam yang diatur dalam Undang-

undang ini bertujuan untuk mewujudkan Koleksi Deposit Nasional dan melestarikannya


                                             3
sebagai hasil budaya bangsa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu

kebijakan untuk melestarikan budaya nasional mestilah ditanamkan semenjak dini dengan

menimbulkan kecintaan dan kebanggaan terhadap budaya milik sendiri baik secara pribadi

melalui keluarga dan kelompok masyarakat, maupun secara institusional melalui lembaga-

lembaga pemerintah. Padahal sesungguhnya sudah ada institusi di Indonesia yang sangat

diandalkan dalam melestarikan warisan budaya yaitu museum dan perpustakaan. Namun

sayang selama ini keduanya kurang difungsikan dalam tugas pelestarian warisan budaya.

       Secara fungsional institusi perpustakaan (termasuk arsip dan dokumentasi) dan

musium memiliki peran yang sama yaitu melestarikan khazanah budaya nasional di seluruh

wilayah negara kesatuan Republik Indonesia. Perbedaanya hanya terletak kepada objek yang

disimpan, dijaga, dilestarikan, diberdayakan, dan dilayankan (diambil informasi di

dalamnya). Kalau musium adalah tempat menyimpan benda-benda berharga, sedangkan

perpustakaan menyimpan dokumen (arsip dan buku).

Alih Media Digital

       Benda-benda warisan budaya baik yang berada di musium maupun yang terserak

secara acak di beberapa tempat, semakin lama semakin dimakan usia serta kemungkinan

terjadinya kerapuhan, kerusakan, dan kehilangan adalah besar sekali, sedangkan informasi

yang terkandung di dalamnya harus senantiasa bisa diakses untuk kepentingan ilmu

pengetahuan dan pembangunan bangsa. Maka koleksi yang ada harus dilestarikan dengan

cara mendigitalisasi atau mendokumentasikannya dalam format digital. Bentuk format digital

yang dihasilkan meliputi audio, video, gambar atau tulisan. Proses konversi menjadi format

digital ini disebut dengan digitalisasi atau alih media digital.

       Digitalisasi berasal dari kata digit (angka), karena data atau informasi yang

terkandung dalam benda berformat digital ini, menurut sain atau ilmu komputer tersusun dari

angka-angka 0 dan 1. Agar data-data tersebut bisa dibaca kembali maka diperlukan alat bantu


                                                 4
membukanya yaitu personal komputer (PC) dan komputer jinjing (laptop, notebook, netbook,

dsb). Itulah sebabnya maka salah satu syarat untuk mengadakan perpustakaan digital harus

memiliki komputer sebagai perangkat pembaca dan data itu sendiri dalam format digital.

       Saat ini bahan pustaka tercetak, terekam, mikro, elektronik, peta, lukisan, manuskrip

dan sebagainya berpotensi dialihkan ke bentuk digital. Pemanfaatan teknologi informasi

dapat mengatasi bahan pustaka tercetak dan terekam dari kerentanan terhadap resiko rusak

karena usia, penanganan yang keliru, metode dan ruang penyimpanan yang tidak tepat,

vandalisme, dan kelembaban. Alih bentuk melalui tranformasi digital dapat menyelamatkan

isi atau informasi yang dikandung bahan pustaka tersebut tanpa menghilangkan atau merubah

bentuk aslinya.

       Alih media juga membuat diversifikasi bentuk dan layanan bahan pustaka karena

kemampuannya dalam menampilkan secara lebih menarik, halaman tak terbatas, portabel,

interaktif dan tahan lama. Alih media digital pada saat ini menjadi suatu fenomena baru yang

mulai banyak diperhatikan dan dibutuhkan dalam penyebaran informasi maupun pelestarian

informasi itu sendiri, sehingga akses informasi menjadi cepat dan efisien.

       Alih media digital terutama bahan dokumen tercetak merupakan dasar dalam

membangun suatu koleksi digital yang nantinya akan dapat dipergunakan untuk berbagai

macam keperluan akses informasi maupun penyebaran informasi.

       Beberapa keunggulan format digital diantaranya adalah sebagai berikut. Pertama, long

distance service, artinya pengguna bisa menikmati layanan sepuasnya, kapanpun dan

dimanapun. Kedua, akses yang mudah. Akses lebih mudah karena pengguna tidak perlu

mencari di katalog dengan waktu yang lama. Ketiga, murah (cost efective). Mendigitalkan

koleksi perpustakaan lebih murah dibandingkan dengan membeli buku. Keempat, mencegah

duplikasi dan plagiat. Format digital lebih aman, sehingga tidak akan mudah untuh diplagiat.

Bila penyimpanan koleksi perpustakaan menggunakan format PDF, koleksi perpustakaan


                                              5
hanya bisa dibaca oleh pengguna, tanpa bisa mengeditnya. Kelima, publikasi karya secara

global. Karya-karya dapat dipublikasikan secara global ke seluruh dunia dengan bantuan

internet.

        Dengan memanfaatkan teknologi alih media atau digitalisasi secara tepat dan cermat

kita optimistis bahwa warisana budaya bangsa akan terhindar dari kerusakan, kepunahan, dan

dirampas oleh pihak-pihak lain yang tidak bertanggung jawab. Tugas tersebut terletak di

tangan seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya pemerintah atau perpustakaan, musium, galeri,

sanggar, padepokan, dan sebagainya. Mari kita tumbuhkan kebanggaan memiliki budaya asli

sendiri dan semangat menjaga, merawat, dan melestarikannya.




                                            6

								
To top