Pengembangan Bahan Ajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia by lor25842

VIEWS: 0 PAGES: 29

									              Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta:
          Kajian Deskriptif dan Alternatif Pengembangan Bahan Ajar
           Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah 1


                                    Kundharu Saddhono 2


Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1) cerita rakyat yang
melatarbelakangi Upacara Tradisi Sekaten; 2) prosesi dan nilai simbolis dalam
Upacara Tradisi Sekaten; dan 3) pelaksanaan pembelajaran sastra (cerita rakyat) di
SD, SMP, dan SMA di Surakarta. Kajian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan sumber
data berupa peristiwa, informan, dokumen, dan benda budaya. Teknik pengumpulan
data menggunakan wawancara mendalam, pengamatan langsung, dan analisis isi
dokumen. Teknik analisis data adalah teknik analisis interaktif. Simpulan penelitian ini
adalah cerita rakyat yang melatarbelakangi berupa asal-usul diselenggarakannya
Sekaten dimulai dari berdirinya Kerajaan Islam Demak. Penyebaran Islam dilakukan
dengan mengakulturasikan budaya setempat dan ajaran Islam. Untuk itu dibuatlah
momentum yang bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu dakwah
dengan media gamelan. Terdapat 22 simbol dalam upacara tersebut dan simbol utama
berupa Gunungan yang menyimbolkan wujud syukur Raja kepada Tuhan. Dalam
pelaksanaan pembelajaran sastra di SD, SMP, dan SMA yang telah diteliti yaitu bahan
ajar cerita rakyat dapat digunakan sebagai apresiasi sastra yang dapat menanamkan
nilai budi pekerti.

Kata kunci: sekaten, cerita rakyat, Surakarta, pembelajaran, dan bahan ajar




Pendahuluan

         Upacara tradisi merupakan bagian dari adat istiadat yang merupakan salah satu

upaya masyarakat Jawa untuk menjaga keharmonisan dengan alam, dunia roh, dan

sesamanya (Danandjaja, 1997). Sebagai perwujudan dari itu, Keraton Kasunanan

Surakarta sekarang ini masih memiliki beranekaragam hasil kebudayaan. Hal tersebut

masih tercermin dengan dilakukannya beberapa upacara tradisional, di antaranya:


1
     Artikel Hasil Penelitian
2
    Kundharu Saddhono adalah Ketua Pengembangan Bahan Ajar, Lembaga Pengembangan Pendidikan
    (LPP) dan Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS-
    Solo)
upacara jamasan pusaka, sekaten, upacara labuhan, upacara garebeg besar, sesaji

mahesa, lawung, dan lain sebagainya. Upacara tradisional tersebut masih terpelihara

dengan baik.

       Keraton Kasunanan Surakarta merupakan sebuah kerajaan Islam. Dalam agama

Islam, Nabi Muhammad SAW merupakan Rasul pembawa ajaran Islam di muka bumi

sehingga hari kelahiran beliau diperingati oleh umat Islam, karena Nabi Muhammad

SAW sebagai pembawa kebenaran. Selain itu, dalam ajaran Islam disebutkan bahwa

orang harus selalu bersyukur atas segala sesuatu yang telah diberikan oleh Tuhan. Oleh

sebab itu, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, Keraton Kasunanan Surakarta

mengemasnya dalam bentuk upacara tradisional. Salah satu budaya tradisional yang

hingga saat ini tetap dipertahankan keberadaannya adalah Upacara Tradisi Sekaten di

Keraton Kasunanan Surakarta. Pada dasarnya upacara tradisi ini merupakan upacara

memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Upacara tersebut sebagai wujud rasa

syukur tersebut diadakan setiap tahun sekali dalam penyelenggaraan Sekaten. Perayaan

Sekaten ini diadakan setiap 12 Mulud atau 12 Rabiul Awal (Rahmawati, 2002).

        Pada zaman dahulu, orang Jawa menyukai gamelan maka pada saat hari raya

Islam itu di dalam masjid diadakan penabuhan gamelan agar orang-orang menjadi

tertarik. Jika masyarakat sudah berkumpul lalu diberi pelajaran tentang agama Islam.

Untuk keperluan itu para wali menciptakan seperangkat gamelan yang dinamai Kiai

Sekati. Usul dari Sunan Kalijaga tersebut disepakati oleh wali lainnya yaitu pada hari

lahir Nabi Muhammad SAW dalam masjid dipukul gamelan. Ternyata banyak orang

datang ke masjid untuk mendengarkan gamelan Sekaten (Kiai Guntur Madu dan Kiai

Guntur Sari) yang dibunyikan mulai pada tanggal 5 Rabiul Awal pukul empat sore di

Pendopo Masjid Agung. Pada puncak acaranya tepat tanggal 12 Rabiul Awal diadakan




                                            2
Garebeg yaitu upacara selamatan dengan dikeluarkannya gunungan dari keraton. Dari

sinilah raja mengeluarkan sepasang gunungan (kakung dan putri) yang bermakna

keselamatan dan pembawa berkah.

       Kajian mengenai cerita rakyat dari berbagai daerah memang sudah sering

dilakukan, tetapi setiap masyarakat memiliki keanekaragaman cerita rakyat sendiri yang

berbeda dengan cerita rakyat masyarakat lainnya. Kajian Upacara Tradisi Sekaten di

Keraton Kasunanan Surakarta ini dilakukan untuk menggali dan mendokumentasikan

keanekaragaman cerita rakyat yang dimiliki masyarakat Indonesia pada umumnya dan

cerita rakyat daerah untuk memperkaya kebudayaan nasional, sampai kapan pun kajian

cerita rakyat dari berbagai daerah di tanah air Indonesia akan tetap dilakukan. Upaya

pelestarian budaya ini diharapkan dapat menimbulkan rasa bangga dan memiliki budaya

nasional, sehingga pewarisan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam cerita tersebut dapat

menanamkan nilai budi pekerti sebagai penyaring budaya asing yang tidak sesuai

dengan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia.

       Kajian ini dilakukan sebagai upaya untuk mewariskan karya-karya para leluhur

kepada para generasi baru sehingga dapat melestarikan dan mengembangkan khasanah

kehidupan sastra daerah di tengah-tengah persaingan budaya-budaya lain. Sebab sastra

daerah merupakan akar budaya bangsa, cermin jati diri bangsa dan sekaligus merupakan

aset bangsa. Oleh karenanya, cerita rakyat tersebut perlu adanya penyebarluasan serta

pendokumentasian agar kemurnian cerita aslinya tidak punah.

       Bangsa yang tinggi adalah bangsa yang menghargai karya-karya leluhur yang

diwariskan kepadanya. Sebagai wujud atas penghargaan tersebut yaitu dengan cara

melestarikannya. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk melestarikan warisan itu, di

antaranya adalah dengan cara mengajarkan kepada generasi-generasi baru. Apalagi




                                            3
fenomena yang terjadi, bahwa bentuk folklor yang merupakan kekayaan budaya

nasional belum tergali sepenuhnya di tanah air tercinta ini. Oleh karena itu, apabila

terdapat keunikan-keunikan tertentu dalam folklor, sangat tepat bila dikaitkan dengan

pendayagunaan bidang pendidikan khususnya sebagai bahan ajar. Upacara Tradisi

Sekaten mempunyai folkor yang sarat dengan nilai. Namun, sebagian besar masyarakat

Surakarta sebagai pemilik folklor tidak mengetahui cerita rakyat yang melatarbelakangi

Upacara Tradisi Sekaten tersebut. Penyebarluasan cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten

ini sangat penting untuk menjaga agar tidak punah dan mengajarkan kepada generasi

muda merupakan cara yang tepat. Agar mengetahui bahwa daerah Surakarta memiliki

kekayaan budaya yang dapat digali seperti Upacara Tradisi Sekaten di Keraton

Kasunanan Surakarta yang memiliki cerita rakyat yang melatarbelakangi upacara

tersebut. Untuk itu, hasil dari penelitian ini diarahkan sebagai alternatif bahan ajar yaitu

dalam bidang apresiasi sastra. Sebagai masukan pembelajaran sastra untuk materi cerita

rakyat di sekolah.

       Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka tujuan

penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) mendeskripsikan cerita rakyat yang

melatarbelakangi diadakannya Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta, 2) memaparkan

prosesi dan nilai simbolis yang terkandung dalam Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta,

dan 3) menjelaskan pelaksanaan pembelajaran cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten

pada sekolah di Surakarta.


Kajian Literatur
Upacara Tradisi Sekaten

       G.P.H. Puger (2002: 1) menjelaskan tentang asal mula dan maksud perayaan

yang diadakan tiap-tiap tahun baik di Surakarta maupun di Yogyakarta. Asal mula




                                             4
Sekaten dimulai pada zaman Demak, zaman mulainya kerajaan Islam di tanah Jawa.

Sekaten diadakan sebagai salah satu upaya dalam menyiarkan agama Islam. Karena

orang Jawa pada waktu itu menyukai gamelan maka pada hari raya Islam yaitu pada

hari lahirnya Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung dipukul gamelan sehingga orang

berduyun-duyun datang di halaman masjid untuk mendengarkan pidato-pidato tentang

agama Islam.

       Menurut Supanto (1982: 6), upacara tradisional sebagai pranata sosial penuh

dengan simbol-simbol yang berperanan sebagai alat komunikasi antarsesama warga

masyarakat dan juga merupakan penghubung antara dunia nyata dengan dunia gaib.

Bagi para warga yang ikut berperan serta dalam penyelenggaraan upacara tradisional,

unsur-unsur yang berasal dari dunia gaib menjadi tampak nyata melalui pemahamannya

terhadap simbol-simbol tersebut. Upacara tradisional biasanya diadakan dalam waktu-

waktu tertentu. Ini berarti menyampaikan pesan yang mengandung nilai-nilai kehidupan

itu harus diulang-ulang terus, demi terjaminnya kepatuhan para warga masyarakat

terhadap pranata-pranata sosial yang berlaku.

       Salah satu bentuk tradisi yang masih dipertahankan ialah Upacara Tradisi

Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta. Sekaten berasal dari bahasa Arab, yaitu

“syahadatain” yaitu kalimat syahadat yang merupakan suatu kalimat yang harus dibaca

oleh seseorang untuk masuk Islam, yang mempunyai arti: Tiada tuhan selain Allah dan

Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Sekaten selain berasal dari kata syahadatain juga

berasal dari kata 1) Sahutain : menghentikan atau menghindari perkara dua, yakni sifat

lacur dan menyeleweng; 2) Sakhatain : menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan

dan sifat setan, karena watak tersebut sumber kerusakan; 3) Sakhotain : menanamkan

perkara dua, yaitu selalu memelihara budi suci atau budi luhur dan selalu




                                           5
menghambakan diri pada Tuhan; 4) Sekati : setimbang, orang hidup harus bisa

menimbang atau menilai hal-hal yang baik dan buruk; dan 5) Sekat : batas, orang hidup

harus membatasi diri untuk tidak berbuat jahat serta tahu batas-batas kebaikan dan

kejahatan (Handipaningrat, tt : 3).


Nilai Simbolis

       Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta

(2003: 654), simbol atau lambang ialah sesuatu seperti tanda, lukisan, perkataan,

lencana, dan sebagainya yang mengatakan sesuatu hal atau mengandung maksud

tertentu, misalnya warna putih ialah lambang kesucian dan gambar padi sebagai

kemakmuran.

       The Liang Gie (dalam Sutarjo, 1998: 8), mendefinisikan nilai sebagai suatu cita-

cita, dan cita-cita mutlak yang terkenal dalam filsafat adalah hal yang benar, hal yang

baik dan hal yang indah. Pengertian nilai secara sempit sering diasosiasikan sebagai

etika tradisisonal yang ruang lingkupnya berkisar pada kesejajaran antara yang baik dan

yang buruk. Nilai adalah sesuatu yang dapat digunakan sebagai tolok ukur atau

pedoman, tuntutan yang baik dalam kehidupan masyarakat. Nilai berfungsi sebagai

pengarah dan pendorong seseorang dalam melakukan perbuatan. Dengan demikian,

nilai dapat menimbulkan tekad bagi yang bersangkutan yang diwujudkan dalam

perbuatan sehari-hari.

       Simbolisme sangat menonjol peranannya dalam tradisi atau adat istiadat.

Simbolisme ini terlihat dalam upacara-upacara adat yang merupakan warisan turun-

temurun dari generasi yang tua ke generasi berikutnya yang lebih muda. Kata simbol

berasal dari kata Yunani symbolis yang berarti tanda atau ciri yang memberitahukan

sesuatu hal kepada seseorang (Herusatoto, 1987 : 10). Sejalan dengan pengertian Kamus



                                            6
Besar Bahasa Indonesia (Moeliono,1999 : 630), bahwa “simbol atau lambang ialah 1)

sesuatu seperti tanda (lukisan, lencana, dan sebagainya) yang mengatakan sesuatu hal

atau mengandung maksud tertentu, misalnya gambar tunas kelapa lambang pramuka,

warna biru lambang kesetiaan; dan 2) simbol bisa berarti tanda pengenal tetap yang

menyatakan sifat, keadaan, dan sebagainya, seperti peci putih dan serban ialah lambang

haji.”

         Segala bentuk dan macam kegiatan simbolik dalam masyarakat tradisional pada

dasarnya upaya pendekatan manusia kepada Tuhannya, yang menciptakan,

menurunkannya ke dunia, memelihara hidup, dan menentukan kematian manusia.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa simbolisme dalam masyarakat tradisional di

samping membawakan pesan-pesan kepada generasi berikutnya juga selalu

dilaksanakan dalam kaitannya dalam religi (Herusatoto, 1987 : 30-31). Unsur unsur dari

kebudayaan yang paling menonjolkan sistem klasifikasi simbolik orang Jawa menurut

Koentjaraningrat adalah bahasa dan komunikasi, kesenian dan kesusasteraan, keyakinan

keagamaan, ritual, ilmu gaib serta beberapa pranata dalam organisasi sosialnya. (1984:

428).


Cerita Rakyat sebagai Bahan Ajar

         Kemp (1994: 84) mengatakan materi atau bahan ajar merupakan gabungan

antara pengetahuan yang termasuk di dalamnya fakta dan informasi, keterampilan yang

mencakup langkah, prosedur, keadaan, syarat, dan faktor sikap (knowlegde, skill, dan

attitude).

         Dengan melihat standar kompetensi dalam Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (Depdiknas: 2006) pada mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan 1)

peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan,



                                           7
dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan

dan hasil intelektual bangsa sendiri, 2) guru dapat memusatkan perhatian kepada

pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan

berbahasa dan sumber belajar, 3) guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan

bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan

kemampuan peserta didiknya, 4) orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat

dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah, 5) sekolah dapat

menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan

keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia, dan 6) daerah dapat

menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi

dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.

       Menghadapi perkembangan zaman dengan diiringi masuknya budaya global

yang dapat mempengaruhi mental serta perilaku masyarakat Indonesia, pengenalan

budaya lokal dalam usaha pewarisan kekayaan budaya yang mengandung nilai-nilai

luhur sangat tepat untuk membentengi diri dari budaya asing yang tidak sesuai dengan

jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia. Berkenaan dengan hal tersebut, pengenalan

folklor dapat dimasukkan sebagai bahan ajar dalam apresiasi sastra di sekolah, yaitu

disesuaikan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang berlaku, pengajaran

cerita rakyat dimasukkan dalam standar kompetensi mendengarkan. Masing-masing

diajarkan untuk SD kelas V semester 1, SMP kelas VII semester 1, SMA kelas X

semester II. Standar kompetensi dan kompetensi dasar Bahasa dan Sastra Indonesia

untuk materi cerita rakyat terdapat dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada

Tabel 1.




                                           8
                                    Tabel 1
        Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Bahasa dan Sastra Indonesia

          Standar Kompetensi                             Kompetensi Dasar
    Kelas V, Semester 1
    Mendengarkan
    1.  Memahami penjelasan            1.1 Menanggapi penjelasan narasumber (petani,
        narasumber dan cerita rakyat       pedagang, nelayan, karyawan, dll.) dengan
        secara lisan                       memperhatikan santun berbahasa
                                       1.2 Mengidentifikasi unsur cerita tentang cerita rakyat
                                           yang didengarnya

    Kelas VII, Semester I
    Mendengarkan
    1.  Mengapresiasi cerita rakyat    1.1. Menemukan hal-hal yang menarik dari cerita rakyat
        yang diperdengarkan                 yang diperdengarkan
                                       1.2. Menunjukkan relevansi isi cerita rakyat dengan
                                            situasi sekarang

    Kelas X, Semester II
    Mendengarkan
    1. Memahami cerita rakyat yang     1.1 Menemukan hal-hal menarik tentang tokoh cerita
        dituturkan                         rakyat yang disampaikan secara langsung dan atau
                                           melalui rekaman
                                       1.2 Menjelaskan hal-hal yang menarik tentang latar
                                           cerita rakyat yang disampaikan secara langsung dan
                                           atau melalui rekaman.

   Sumber: Diolah dari www.puskur.net

Metode Penelitian

       Penelitian ini dilakukan di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta, yaitu

terletak pada kelurahan Baluwarti kecamatan Pasar Kliwon Surakarta. Tempat ini

disesuaikan dengan objek yang menjadi kajian dalam penelitian, di mana lokasi tersebut

merupakan tempat penyelenggaraan upacara tradisi Sekaten.

       Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif.

Penelitian kualitatif menggunakan desain yang secara terus-menerus disesuaikan dengan

kenyataan lapangan. Desain ini tidak tersusun secara ketat dan kaku sehingga dapat

diubah dan disesuaikan dengan pengetahuan baru yang ditemukan (Moleong, 2001: 7).

Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi atau gambaran

tentang suatu hal secara sistematis, faktual, dan akurat. Data yang telah terkumpul



                                                9
disusun, dianalisis, diinterpretasikan, dan disimpulkan sehingga memberikan suatu

gambaran tentang hasil penelitian yang sistematis dan nyata.

       Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan desain studi

kasus terpancang tunggal. Desain studi kasus menghendaki suatu kajian yang rinci,

mendalam, menyeluruh atas objek tertentu yang biasanya relatif kecil selama kurun

waktu tertentu, termasuk kemungkinan hubungan antarvariabel yang ada (Susanto,

2004: 37). Dalam hal ini peneliti mengkaji data tentang sekaten secara utuh dan

mendalam.

       Sumber data dalam penelitian ini adalah peristiwa, informan, dokumen, dan

benda-benda budaya. Sumber data peristiwa di sini adalah rangkaian prosesi upacara

tradisi sekaten yang mencakup persiapan, pelaksanaannya, dan hiburan. Informan yang

dipilih dalam penelitian ini adalah orang yang dapat memberikan informasi atau

keterangan mengenai segala permasalahan yang diperlukan dalam penelitian ini.

Informan yang dimintai informasinya tersebut meliputi pelaku upacara dan masyarakat

yang berpartisipasi dalam upacara Sekaten, guru Bahasa Indonesia, siswa, dosen, dan

calon guru Bahasa Indonesia.

       Sumber data di atas perlu diseleksi untuk mendapatkan data yang diperlukan

sehingga akan diambil sampelnya. Teknik pertama yang diterapkan untuk menentukan

sampel adalah purposive sampling, yakni pemilihan berdasarkan tujuan. Hal ini

didasarkan pada asumsi bahwa tingkat representatif sampel bukan karena kesatuan

sumber data yang mencerminkan sifat homogenitas dan keseluruhan sumber data,

melainkan keterwakilannya lebih didasarkan atas kemampuannya dalam mengungkap

dan menjawab masalah penelitian. Kompleksitas data hanya dapat dijangkau dengan

berbagai sumber data yang dapat mewakili informasi yang dibutuhkan.




                                          10
       Ada tiga teknik pengumpulan data yang diterapkan sebagai alat untuk menjaring

data secara akurat dan lengkap sehubungan dengan masalah yang diteliti, yaitu 1)

Teknik wawancara mendalam (in-depth interview); 2) Teknik pengamatan langsung;

dan 3) teknik analisis isi dokumen atau arsip.

       Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis model atau

interaktif model of analysis (Sutopo, 2002). Mekanisme analisis interaktif pada dasarnya

melibatkan tiga komponen utama analisis, yaitu reduksi data, sajian data dan

verifikasi/menarik simpulan. Keterkaitan ketiga komponen dilaksanakan secara

interaktif yang bersifat siklus. Dengan demikian, apabila simpulan yang dihasilkan dari

analisis dipandang kurang akurat atau belum tepat maka penulis kembali ke lokasi

penelitian untuk mengumpulkan data dan melaksanakan analisis sehingga diperoleh

hasil simpulan yang lengkap dan akurat.


Hasil Penelitian dan Bahasan
Cerita Rakyat yang Melatarbelakangi Upacara Tradisi Sekaten

       Untuk mengetahui asal mula sekaten yang tiap tahun diadakan di Keraton

Kasunanan Surakarta maka harus memulainya dari zaman Demak. Kerajaan Demak

merupakan kerajaan Islam yang di Jawa yang berdiri setelah Majapahit runtuh pada

tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi. Keruntuhan Majapahit diperingati dengan

candrasengkala ”Sirna Hilang Kertaning Bumi”. Berakhirnya Kerajaan Majapahit

berarti berakhir pula Kerajaan Hindu di Jawa, di bawah pemerintahan Prabu Brawijaya

V. Raja Demak yang pertama adalah Raden Patah yang bergelar Sultan Bintara.

       Raden Patah akhirnya mengadakan suatu pertemuan dengan para wali yang

berjumlah sembilan, yaitu Sunan Ampel (Raden Rahmad), Sunan Gresik (Malik

Ibrahim), Sunan Giri (Raden Paku), Sunan Bonang (Makdum Ibrahim), Sunan Kudus,




                                           11
Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, dan Sunan Gunung Jati. Untuk membahas

cara menyiarkan Islam di tanah Jawa, Sunan Kalijaga mempunyai usul tentang

penyiaran agama Islam agar diterima oleh masyarakat yang sejak dahulu memeluk

agama Hindu. Usul Sunan Kalijaga tersebut adalah dengan membiarkan tetap

dilaksanakannya adat atau tata cara dalam agama Hindu, tetapi dimasuki pelajaran

Islam.

         Usul dari Sunan Kalijaga tersebut disepakati oleh wali yang lainnya dan Raden

Patah, yaitu pada hari lahir Nabi Muhamad yaitu pada 12 Mulud, dalam masjid dipukul

gamelan. Tanggal 12 Mulud selain merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW

juga merupakan hari wafat beliau. Ternyata banyak orang yang berduyun-duyun datang

ke masjid untuk mendengarkan bunyi gamelan. Orang-orang tersebut datang ke masjid

walaupun rumahnya jauh, sehingga mereka bermalam di alun-alun atau sekitar masjid.

         Pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW tersebut, selain rakyat, para bupati

pesisir juga datang ke kota kerajaan untuk memberi sembah pada raja. Mereka datang

beberapa hari sebelum tanggal 12 Mulud dan membuat rumah di alun-alun untuk

bermalam. Pada tanggal 12 Mulud tersebut, bupati menghadap raja dan kemudian

menggiring raja ke masjid. Karena banyaknya orang yang menggiring raja tersebut,

timbul perkataan Garebeg yang berasal dari kata anggrubyung yang berarti menggiring.

         Orang-orang yang datang di halaman masjid disuruh untuk mendengarkan

pidato-pidato tentang ajaran agama Islam yang mudah-mudah dahulu. Pertama, mereka

diberi tahu maksudnya syahadat dan bagaimana bunyinya. Dari itulah timbul kata

sekaten yang berasal dari bahasa Arab syahadatain. Kalimat syahadat merupakan suatu

kalimat yang harus dibaca oleh seseorang untuk masuk Islam, yang mempunyai arti:

tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat syahadat




                                           12
itu juga ditulis di atas pintu gerbang masjid. Karena banyak orang yang datang

berduyun-duyun ke masjid dan banyak yang bermalam maka banyak pula orang yang

berjualan di sekitar masjid dan alun-alun.


Prosesi dan Nilai Simbolis dalam Upacara Tradisi Sekaten

       Perayaan sekaten dimulai pada tanggal 5 Rabiul Awal dan berakhir dengan

Garebeg Mulud tanggal 12 Rabiul Awal yang ditandai dengan keluarnya gunungan.

Gunungan berasal dari kata gunung, terdiri dari berbagai jenis makanan dan sayuran

yang diatur bersusun meninggi menyerupai gunung.

       Pada hari pertama perayaan sekaten tanggal 5 Rabiul Awal, diawali dengan

dikeluarkannya dua buah gamelan yang merupakan peninggalan zaman Demak dari

dalam keraton. Dua buah gamelan itu dibawa dari dalam keraton lewat alun-alun

kemudian dibawa ke Masjid Agung. Sebelum dikeluarkan dari keraton diadakan

selamatan dengan diberi doa terlebih dahulu dan diberi sesajen. Setelah diadakan serah

terima dari utusan keraton kepada penghulu masjid, gamelan ditempatkan di Bangsal

Pradonggo di selatan dan utara halaman muka Masjid Agung Surakarta. Gamelan mulai

dibunyikan ketika sudah ada utusan dari keraton yang memerintahkan untuk

membunyikan gamelan, yaitu pada pukul 16.00. Dua buah gamelan tersebut bernama

Kiai Guntur Madu, yaitu berada di sebelah selatan yang melambangkan syahadat tauhid.

Kiai Guntur Madu merupakan peninggalan Pakubuwana IV, yaitu tahun 1718 Saka

yang ditandai dengan sengkalan Naga Raja Nitih Tunggal. Gamelan yang lainnya

bernama Kiai Guntur Sari, berada di sebelah utara dan melambangkan syahadat Rosul.

Kiai Guntur Sari merupakan peninggalan Sultan Agung Hanyokusumo pada tahun 1566

Saka. Selama perayaan sekaten selama satu minggu, Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur

Sari ditabuh secara bergantian.



                                             13
       Pada tanggal 5 Rabiul Awal tersebut, sebagai awal perayaan sekaten, yang lebih

dulu ditabuh adalah Kiai Guntur Madu dengan memperdengarkan gending Rambu.

Rambu berasal dari bahasa Arab Robbuna yang berarti Allah Tuhanku. Rambu

mengisyaratkan gending yang ditabuh khusus untuk penghormatan kepada Tuhan. Kiai

Guntur Sari memperdengarkan gending Rangkung yang berasal dari bahasa Arab

Roukhun yang berarti jiwa besar atau jiwa yang agung. Rangkung menurut etimologi

atau lebih tepatnya kerata basa atau jarwa dhasaknya berasal dari kata ‘barang kakung’

yang menginterpretasikan pada seorang Nabi, Khalifah, dan Raja-Raja Mataram yang

kesemuanya laki-laki. Menurut G.P.H. Puger berpendapat bahwa gending-gending yang

pertama dibunyikan, Rambu dan Rangkung adalah nama dua jin Islam yang berbincang

dan sangat setuju atas usaha yang dilakukan Walisanga dalam penyebaran agama Islam

melalui media gamelan.

       Gamelan sekaten yang mulai dibunyikan pada tanggal 5 Rabiul Awal pukul

16.00 merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak orang sehingga

masyarakat mulai berbondong-bondong datang ke Masjid Agung untuk mendengarkan

gamelan dipukul pertama kalinya. Menurut kepercayaan masyarakat, barang siapa yang

memakan sirih tepat pada saat gamelan sekaten berbunyi untuk pertama kalinya akan

awet muda sehingga banyak orang yang berjualan sirih pada perayaan sekaten. Namun

G.P.H. Puger menanggapi mitos tersebut dengan pemikiran yang logis.

Diungkapkannya bahwa pernyataan mitos yang sangat dipercaya masyarakat tersebut

menandakan pada zaman dahulu sudah dikenal adanya ilmu kesehatan. Terbukti bahwa

masyarakat dianjurkan makan sirih yang mempunyai banyak fungsi untuk kesehatan

tubuh karena kandungan sirih tersebut dapat mengobati berbagai macam penyakit,

menyehatkan gigi, berfungsi dalam pencernaan, dan akan menyegarkan badan. Selain




                                          14
itu, jika musim sekaten tiba di areal halaman Masjid Agung akan dipenuhi oleh penjual

yang ikut meramaikan perayaan sekaten dengan menjual berbagai makanan ataupun

berbagai barang khas dari sekaten, seperti misal telur asin, jenang, sirih, pecut, dan

mainan anak-anak.

       Kemudian dua buah gamelan tersebut dibunyikan secara bergantian tiap harinya

selama perayaan sekaten. Gamelan tersebut tiap pagi mulai dibunyikan pada pukul

sembilan, waktu Ashar dan Dzuhur berhenti, kemudian mulai lagi dan berhenti lagi

waktu Maghrib dan Isya. Setelah Isya dibunyikan lagi sampai pukul 24.00. Bila

perayaan sekaten jatuh pada hari Jumat, gamelan tidak dibunyikan mulai Maghrib

sampai siang, karena hari Jumat merupakan hari mulia bagi orang Islam. Gamelan

tersebut berhenti pada waktu-waktu sholat karena memberikan kesempatan kepada

penabuh gamelan maupun bagi masyarakat yang mendengarkannya untuk menjalankan

kewajiban sholat sehingga fungsi perayaan sekaten sebagai syiar Islam tetap terpelihara.

       Setelah perayaan sekaten berlangsung tujuh hari maka tepat pada tanggal 12

Rabiul Awal, yaitu hari lahir Nabi Muhammad SAW diadakan upacara Garebeg yaitu

upacara selamatan dengan dikeluarkannya gunungan dari keraton. Gunungan dibuat

beberapa hari sebelum perayaan Garebeg Mulud oleh abdi dalem khusus yang ditunjuk

oleh sinuhun. Gunungan tersebut dikeluarkan dari keraton menuju Masjid Agung. Dari

sinilah raja mengeluarkan sepasang gunungan pada waktu perayaan sekaten, yaitu

gunungan kakung dan gunungan putri.

       Doa yang dipanjatkan kepada Allah sebelum gunungan itu diperebutkan oleh

masyarakat, dipimpin oleh penghulu keraton di dalam masjid. Adapun doa yang

dipanjatkan dalam upacara pada gunungan itu intinya untuk memohon keselamatan

pada diri Sinuhun, istri, dan para putranya, pejabat, serta rakyat semuanya sehingga




                                            15
dapat menjalani hidup dengan aman, tenteram, nyaman, sejahtera, dan bahagia di dalam

perlindungan negara yang adil dan makmur.

       Pada perayaan sekaten Sinuhun berkenan datang ke Masjid Agung untuk ikut

berdoa bersama atas gunungan tersebut sebagai rasa syukur Sinuhun kepada Allah

SWT. Setelah diberi doa oleh penghulu keraton dan juga disaksikan oleh Sinuhun,

gunungan tersebut dibagikan kepada semua yang hadir, tidak ketinggalan dikirimkan

kepada Sinuhun, para sentana dalem, dan para punggawa kerajaan. Kemudian gunungan

tersebut dibawa keluar dari Masjid Agung untuk diberikan kepada rakyat. Karena

banyak rakyat yang ingin mendapatkan gunungan itu maka mereka memperebutkan

gunungan itu dengan dirayah. Hal itu terjadi karena telah menjadi kepercayaan

masyarakat bahwa isi gunungan tersebut dapat mendatangkan berkah bagi siapa yang

memperolehnya. Masyarakat yang datang berasal dari berbagai daerah bahkan dari luar

Surakarta, seperti Klaten, Sukoharjo, Tawangmangu, Kartasura, Boyolali, Sragen,

Karanganyar, dan kebanyakan adalah orang tua bahkan lanjut usia. Dituturkan oleh

Bapak Bejo selaku abdi dalem Keraton, bahwa masyarakat yang ikut meramaikan

sekaten adalah orang tua atau sepuh dari berbagai daerah yang datang untuk rayahan

gunungan sekaten. Antusias yang masih begitu besar itu menandakan bahwa Upacara

Tradisi Sekaten di Surakarta masih banyak masyarakat pendukungnya. Untuk

meramaikannya, satu bulan sebelum perayaan sekaten disambut dengan keramaian

berbagai sektor dagang yang dipusatkan di halaman Masjid Agung Surakarta.

Masyarakat dari berbagai daerah memanfaatkan pula momentum sekaten untuk

berjualan yang merupakan ladang hangat dalam sektor ekonomi.

       Dalam Upacara Tradisi Sekaten terdapat gunungan yang merupakan simbol atau

lambang yang bermakna positif. Berbagai jenis makanan yang disiapkan dalam




                                          16
gunungan tersebut mengandung nilai-nilai luhur dan harapan yang baik bagi masyarakat

pendukungnya. Terdapat 22 nilai simbolis yang terkandung dalam setiap makanan atau

sesaji yang terdapat dalam gunungan, canthangbalung, sirih, dan pecut yang terdapat

pada Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta.

       Gunungan kakung; gunungan bermakna kesuburan, gunungan kakung

melambangkan sifat baik, sedangkan gunungan putri melambangkan sifat buruk. Dua

sifat ini bila berdiri sendiri akan menimbulkan sifat perusak sehingga dua sifat ini harus

disatukan. Bendera merah putih; bendera ini ditempatkan pada ujung gunungan,

berjumlah lima buah sebagai lambang sebuah negara atau kerajaan. Warna merah

bermakna semangat atau kebenaran sedangkan warna putih berarti suci. Warna merah

putih mengingatkan akan Kerajaan Majapahit dengan istilah gula klapa yang

melambangkan bahwa orang harus mempunyai sifat dan semangat keberanian serta

kesucian.

       Cakra; cakra sebagai puncak dari pangkal berdirinya gunungan mempunyai

makna gaman atau pusaka milik dari Prabu Kresna yang mempunyai kekuatan dahsyat

dalam menegakkan keutamaan. Selain itu cakra sebagai simbol dari hati yang

merupakan petunjuk dan pemimpin dalam kehidupan. Perjalanan cakra adalah berputar

yang bermakna bahwa roda kehidupan manusia itu selalu berputar, manusia harus selalu

ingat kepada Tuhan dalam keadaan senang maupun susah. Wapen; wapen merupakan

simbol yang digunakan sebagai lambang. Wapen dalam gunungan yang dimaksud

adalah petunjuk bagi keselamatan dan kekuasaan dari Raja Surakarta yang bertahta.

       Kampuh; kampuh adalah kain berwarna merah putih yang menutupi jodhang

(tempat makanan) yang bermakna kesusilaan. Kampuh dibuat sebagus mungkin yang

membuktikan kepribadian, pepatah Jawa mengatakan ajining salira saka busana yang




                                            17
berarti dihormatinya seseorang karena pakaiannya. Sandang, yang berarti pakaian yang

dipakai oleh manusia. Pakaian melambangkan kenyataan hidup (senang-susah, beja-

cilaka).

       Entho-entho; makanan berbentuk bulat telur yang terbuat dari tepung beras ketan

yang dikeringkan hingga keras, kemudian digoreng. Hal ini bermakna keteguhan hati

dalam menghadapi masalah kehidupan dunia. Telur asin; melambangkan amal, adapun

makna lain bahwa terbagi dua bagian, bagian kuning melambangkan laki-laki, dan

bagian putih adalah perempuan. Kemudian keduanya bersatu dan terjadi manusia baru.

Nasi; melambangkan kemakmuran dari sebuah kerajaan. Bahan perlengkapan dalam

gunungan kakung seperti tebu, cabe, daun pisang, terong, wortel, timun, kacang panjang

dan daging yang kesemuanya merupakan hasil dari bumi yang dinikmati manusia.

Selain itu, juga dami (batang padi), jodhang, sujen, peniti, jarum bundel, dan samir

jene. Bahan-bahan hasil bumi tersebut merupakan lambang dari kesuburan bumi.

       Gunungan putri; bentuk gunungan putri dihubungkan dengan yoni atau alat vital

perempuan. Gunungan putri melambangkan putri sejati yang menggambarkan bahwa

seorang wanita harus memiliki badan dan pikiran yang dingin sehingga dia mempunyai

penangkal untuk menahan isu-isu yang datang dari luar, baik yang menjelek-jelekkan

dirinya maupun keluarganya dan dapat menyimpan rahasia manusia atau keluarganya.

Eter; terbuat dari seng berbentuk jantung manusia atau bunga pisang (tuntut) yang

bermakna sebagai api yang menyala, yaitu semangat hidup yang menyala terus

sebagaimana modang (dalam batik menggambarkan nyala api atau uriping latu). Eter

juga berwujud jantung yang merupakan pusat kebatinan atau rohani, hal ini ada

pertimbangan kewajiban lahir batin atau dengan Allah dan sesama manusia.




                                           18
       Bunga sebagai pengharum; mempunyai dua makna yang terkandung di

dalamnya, yaitu makna lahiriah dapat mendekatkan atau mendatangkan berkah bagi

yang cocok dan menjauhkan bagi yang tidak cocok, sedangkan makna batiniah yaitu

kemuliaan atau keharuman jati diri manusia yang diperoleh dengan amal yang baik.

Jajan; terdiri dari jadah, wajik, dan jenang sebagai isi dari jodhang yang

menggambarkan hasil karya wanita dalam dapur atau rumah tangga. Uang logam;

bermakna sebagai sarana memperoleh kebutuhan lahiriah manusia dalam hidup di

dunia, dan bermakna batiniah sebagai simbol cobaan atau ujian hidup manusia yang

dapat menggunakan dan mendatangkan keresahan bagi yang dapat menggunakan dan

mendatangkan keresahan bagi yang tidak dapat menggunakan. Gunungan anakan;

bermakna bahwa anak dari sebuah rumah tangga yang sudah tentu diharapkan oleh

orang tuanya, anak dapat menyambung sejarah keluarga atau dapat mikul dhuwur

mendhem jero, artinya menjunjung harkat dan martabat orang tua dengan cara menjaga

nama baik orang tua atau dalam agama Islam dikenal dengan istilah anak sholeh yang

berbakti dan mau mendoakan orang tuanya dilambangkan dengan tuntut atau eter kecil.

       Ancak cantaka; merupakan sedekah para abdi dalem dan kerabat keraton yang

dikeluarkan oleh raja karena mereka ada di dalam lindungan-Nya. Melambangkan

kehidupan yang makmur tercukupi kebutuhan jasmani dan rohani. Terbinanya

kehidupan beragama dan tersedianya kebutuhan di dunia yaitu sandang, pangan, dan

papan. Sega uduk atau nasi gurih dengan perlengkapan daging ayam (ingkung), kedelai,

dan pisang raja, maksudnya sebagai lambang kehidupan yang enak atau baik, sedangkan

yang dituju adalah untuk para Nabi dan wali.

       Sega janganan atau nasi sayuran; Melambangkan kehidupan tercukupi

(duniawi), sedangkan yang dituju adalah para roh dan danyang. Dalam kejawen dikenal




                                            19
dengan kiblat papat lima pancer yang mempengaruhi kehidupan manusia. Sega asahan;

bermakna untuk menyucikan lahir dan batin. Buah-buahan atau jajan pasar; bermakna

sebagai penolak balak atau menyingkirkan segala sumber bahaya atau bencana yang

akan terjadi. Sirih; menurut kepercayaan masyarakat, barang siapa yang memakan sirih

tepat pada saat gamelan sekaten berbunyi untuk pertama kalinya akan awet muda. Oleh

karena itu, banyak orang yang berjualan sirih pada perayaan sekaten. Canthangbalung;

adalah abdi dalem yang bertugas membuat orang lain menjadi gembira. Disebut

Canthangbalung karena mereka membawa kepyak dari tulang yang diselipkan pada jari-

jari dan selalu dibunyikan dengan irama “crek, crek, crek”.

Pelaksanaan Pembelajaran Sastra (Cerita Rakyat) di Sekolah

       Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pada mata

pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia tepatnya pada bidang apresiasi sastra, cerita

rakyat merupakan salah satu materi pokok yang terdapat di dalamnya. Pengajaran cerita

rakyat dilaksanakan pada semester dua untuk siswa kelas X di SMA, semester satu

untuk siswa kelas VII SMP, dan semester satu untuk siswa kelas V SD. Dalam

penerapan folklor (Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta) sebagai objek

kajian penelitian, dipilih SMA Muhamadiyah 3 Surakarta, SMP Negeri 16 Surakarta,

dan SD Muhamadiyah 22 Surakarta sebagai sampel tempat penerapan bahan ajar cerita

rakyat tersebut. Tempat ini dipilih oleh penulis dengan berbagai pertimbangan yang

salah satunya adalah masyarakat Surakarta sebagai masyarakat pendukung dan pemilik

folklor Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta. Tidak ada salahnya sebagai masyarakat

pemilik folklor mengetahui cerita rakyat yang ada di daerah setempat, salah satunya

adalah Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta.




                                           20
       Dari hasil pengamatan dan analisis yang dilakukan oleh penulis, siswa cukup

memberikan respon positif dengan terlihat adanya proses interaksi tanya jawab siswa

seputar folklor dan sekaten. Siswa tertarik mengikuti proses pembelajaran, karena

sejauh ini siswa hanya mengetahui beberapa cerita rakyat yang sering didengar dan

berasal dari daerah lain, seperti Sangkuriang, Tangkuban Perahu, Terjadinya Danau

Toba dan sebagainya. Karena ternyata di daerah lokal sekitar mereka juga sarat dengan

budaya yang dapat digali berbagai nilai dan cerita rakyat yang membangunnya, salah

satunya adalah cerita rakyat Sekaten di Surakarta.

       Setelah diberikan materi tentang folklor dan contoh folklor di daerah Surakarta

tepatnya Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten oleh guru kemudian siswa diminta

untuk mengerjakan soal-soal, yaitu 10 soal objektif dan 3 soal uraian tentang sekaten.

Yang masing-masing bertujuan untuk mengukur pemahaman dan daya tarik siswa

terhadap folklor Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta.

       Berdasarkan hasil nilai tersebut dapat dirumuskan bahwa pembelajaran folklor

dengan Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Surakarta sebagai alternatif bahan ajar

dapat diterima oleh siswa dengan baik. Bahkan, hampir seluruh siswa dapat menemukan

unsur intrinsik yang berupa tema, latar, penokohan, dan alur sesuai yang dimaksudkan.

Setelah pembelajaran selasai, beberapa siswa menanggapi dengan baik cerita rakyat

yang telah diajarkan. Sejauh ini yang diketahui oleh siswa Upacara Tradisi Sekaten

adalah sebatas perayaan yang mirip dengan pasar malam. Akan tetapi ternyata budaya

lokal yang berada di Surakarta itu mempunyai cerita rakyat yang melatarbelakangi

diselenggarakannya upacara tradisi tersebut. Bahkan, sarat dengan nilai jika dikaji lebih

dalam, baik nilai simbolis, agama, maupun budayanya.




                                           21
       Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta tersebut

jika digali lebih lanjut mempunyai beberapa manfaat. Manfaat ini juga merujuk pada

pandangan Rahmanto (1988: 15). Salah satunya dapat membantu keterampilan

berbahasa siswa. Yang dimaksudkan di sini sesuai dengan kompetensi dasar dalam

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku dalam apresiasi sastra

salah satunya adalah kemampuan kebahasaan mendengarkan dengan memahami cerita

rakyat yang dituturkan. Dengan kompetensi dasar tersebut melalui media cerita rakyat

Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta, akan membantu melatih

siswa dalam keterampilan membaca, keterampilan menyimak, berbicara, dan menulis

yang masing-masing mempunyai hubungan erat dalam proses pemahaman cerita rakyat

yang dipelajari. Untuk mengetahui isi cerita rakyat yang diajarkan, siswa dituntut untuk

membaca dengan seksama dari teks atau wacana cerita rakyat. Kemudian juga

menyimak penjelasan dari guru yang mendukung untuk memperjelas pemahaman siswa

tentang cerita rakyat yang dibaca. Setelah siswa memahami cerita rakyat yang telah

dibaca, siswa juga diharapkan dapat menceritakan kembali garis besar isi cerita rakyat

dan memberikan tanggapan tentang cerita tersebut melalui keterampilan berbicaranya.

Yang terakhir, siswa akan mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru dengan

keterampilan menulisnya.

       Manfaat yang kedua adalah pengajaran folklor Cerita Rakyat Upacara Tradisi

Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta ini dapat meningkatkan pengetahuan budaya.

Lebih tepatnya adalah mengetahui serta menggali lebih lanjut budaya lokal yang

terdapat di daerah sendiri. Pemahaman Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di

Keraton Kasunanan Surakarta sebagai budaya lokal yang harus diketahui dan

dilestarikan dapat menumbuhkan rasa bangga dan rasa ikut memiliki.




                                           22
       Manfaat yang ketiga adalah mengembangkan cipta dan rasa. Dalam pengajaran

sastra, khususnya cerita rakyat kecakapan yang perlu dikembangkan adalah kecakapan

yang bersifat indra (penglihatan, pendengaran, peraba). Dalam cerita rakyat sekaten,

siswa dapat menggambarkan bagaimana keramaian dalam perayaan sekaten yang

diceritakan, bagaimana rupa Canthangbalung yang dilukiskan dalam cerita yang lucu

dan menggelikan, serta gunungan sekaten yang memiliki simbol-simbol dapat diketahui

siswa dengan mendengarkan penjelasan guru dengan baik. Selain itu, Cerita Rakyat

Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta juga mengandung nilai

religius yang tinggi. Kebenaran mutlak akan ajaran agama yang tetap dipegang teguh

meskipun diselaraskan dengan budaya yang ada melalui proses akulturasi.

       Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta juga

dapat bermanfaat untuk menunjang pembentukan watak siswa. Yang dimaksud di sini

adalah dengan mengambil contoh-contoh teladan dari tokoh yang digambarkan dalam

cerita rakyat yang diajarkan. Cerita Rakyat Sekaten mempunyai beberapa orang tokoh,

yaitu Raden Patah dan Walisanga yang mempunyai watak yang patut untuk dicontoh,

gigih dan berani dalam berjuang dan senantiasa memberitahukan bahwa pendidikan

bukan hanya diperoleh dari kegiatan formal, namun pendidikan juga dapat diperoleh

dari kegiatan nonformal seperti dakwah yang dilakukan oleh Walisanga.

        Pengajaran sastra hendaknya dapat memberikan bantuan dalam usaha

mengembangkan kualitas kepribadian siswa yang antara lain ketekunan, kepandaian,

pengimajinasian, dan penciptaan. Dalam hal ini Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten

di Keraton Kasunanan Surakarta mempunyai beberapa komponen tersebut. Cerita rakyat

ini sarat dengan nilai yang patut diketahui oleh siswa yang juga merupakan budaya

lokal yang harus dilestarikan.




                                          23
       Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta ini jika

dipakai sebagai salah satu alternatif bahan ajar dalam bidang apresiasi sastra mata

pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD, SMP, dan SMA di Surakarta sangat tepat. Seperti

yang dikemukakan G.P.H. Puger bahwa Cerita Rakyat Upacara Tradisi Sekaten ini

dapat digunakan sebagai bahan ajar untuk materi cerita rakyat. Bahkan, sangat bagus

karena selain memperkenalkan kepada masyarakat tentang cerita rakyat yang

melatarbelakangi Upacara Tradisi Sekaten untuk diketahui oleh masyarakat luas bahwa

sekaten juga merupakan cikal bakal dari pendidikan. Mengapa demikian? Diungkapkan

juga oleh Puger bahwa sudah dari zaman dahulu telah diterapkan pendidikan, berupa

pendidikan nonformal seperti dakwah yang dilakukan oleh Walisanga. Dengan Sekaten

yang menjadi cikal bakal pendidikan terbukti dengan pendirian Mamba’ul Ulum

(sekolah Islam) yang terletak di samping Masjid Agung Surakarta. Dahulu Mamba’ul

Ulum ini adalah satu-satunya sekolah yang menjadi cikal bakal pendidikan.


Simpulan dan Saran
Simpulan

       Cerita rakyat yang melatarbelakangi diadakannya Upacara Tradisi Sekaten di

Keraton Kasunanan Surakarta dimulai dengan berdirinya kerajaan Islam yang pertama,

yaitu Demak, dengan Raja Islam yang pertama, Raden Patah. Beliau berusaha

menyinari seluruh pelosok negeri dengan agama Islam. Bersama dengan Walisanga,

Raden Patah mendirikan Masjid Agung di Demak. Kemudian masjid tersebut digunakan

sebagai sarana dakwah dan penyebarluasan Islam, dengan memadukan budaya

setempat. Dibuatlah suatu momentum bertepatan dengan hari kelahiran Nabi

Muhammad SAW, di dalam masjid diadakan dakwah dengan menggunakan media

gamelan sehingga terjadilah suatu keramaian, masyarakat banyak yang datang dan




                                           24
sesampai di masjid mereka di- syahadat-kan. Banyak masyarakat yang tertarik sehingga

kemudian lama-lama momentum ini disebut dengan sahadatan atau sekaten.

       Prosesi Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta dilaksanakan

bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, tanggal 5 sampai dengan 12

Rabiul Awal.. Pada hari pertama perayaan sekaten tanggal 5 Rabiul Awal, diawali

dengan dikeluarkannya dua buah gamelan yang merupakan peninggalan zaman Demak

dari dalam keraton. Dua buah gamelan itu dibawa dari dalam keraton lewat alun-alun

kemudian dibawa ke Masjid Agung. Sebelum dikeluarkan dari keraton diadakan

selamatan dengan diberi doa terlebih dahulu dan diberi sesajen. Setelah diadakan serah

terima dari utusan keraton kepada penghulu masjid, gamelan ditempatkan di Bangsal

Pradonggo di selatan dan utara halaman muka Masjid Agung Surakarta. Gamelan mulai

dibunyikan ketika sudah ada utusan dari keraton yang memerintahkan untuk

membunyikan gamelan, yaitu pada pukul 16.00. Dua buah gamelan tersebut bernama

Kiai Guntur Madu, yaitu berada di sebelah selatan yang melambangkan syahadat

tauhid. Kiai Guntur Sari di sebelah utara Pendopo Masjid Agung yang melambangkan

syahadat Rosul. Gamelan sekaten yang mulai dibunyikan pada tanggal 5 Rabiul Awal

pukul 16.00 merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak orang sehingga

masyarakat mulai berbondong-bondong datang ke Masjid Agung untuk mendengarkan

gamelan dipukul pertama kalinya. Kemudian dua buah gamelan tersebut dibunyikan

secara bergantian tiap harinya selama perayaan sekaten. Gamelan tersebut tiap pagi

mulai dibunyikan pada pukul sembilan, waktu Ashar dan Dzuhur berhenti, kemudian

mulai lagi dan berhenti lagi waktu Maghrib dan Isya. Setelah Isya dibunyikan lagi

sampai pukul 24.00. Setelah perayaan sekaten berlangsung tujuh hari maka tepat pada




                                          25
tanggal 12 Rabiul Awal, yaitu hari lahir Nabi Muhammad SAW diadakan upacara

Garebeg yaitu upacara selamatan dengan dikeluarkannya gunungan dari keraton.

       Nilai simbolis yang telah diteliti terdiri dari 22 nilai yaitu 1) adanya hidup itu

harus ada bapak dan ibu yang semuanya pada dasarnya merupakan kehendak Tuhan,

disimbolkan dengan gunungan kakung dan gunungan putri; 2) bahwa orang harus

mempunyai sifat dan semangat keberanian serta kesucian dilambangkan dengan bendera

merah putih; 3) manusia harus selalu ingat kepada Tuhan dalam keadaan senang

maupun susah, merupakan simbol dari cakra; 4) petunjuk bagi keselamatan dan

kekuasaan dari raja Surakarta yang bertahta terkandung dalam makna wapen; 5) sebagai

simbol pakaian jasmani dan rohani manusia adalah kampuh; 6) keteguhan hati dalam

menghadapi masalah kehidupan dunia dilukiskan dengan entho-entho; 7) telur asin

melambangkan laki-laki dan perempuan yang bersatu dan terjadinya manusia baru; 8)

kemakmuran dari sebuah kerajaan dilambangkan dengan nasi; 9) bahan hasil bumi

merupakan lambang kesuburan bumi; 10) gunungan putri melambangkan putri sejati,

11) semangat hidup dan pertimbangan kewajiban lahir batin dengan Tuhan dan sesama

manusia dilihat dari eter; 12) mendatangkan berkah dan kemuliaan jati diri manusia

yang diperoleh dari amal baik terwakili oleh bunga; 13) menggambarkan hasil karya

wanita dalam dapur atau rumah tangga terwakili oleh jadah, wajik, dan jenang; 14)

sebagai sarana memperoleh kebutuhan lahiriah manusia dalam hidup di dunia dan

bermakna batiniah sebagai cobaan hidup manusia yang mendatangkan keresahan bagi

yang tidak dapat menggunakan terwakili oleh uang logam; 15) dapat menjujung harkat

dan martabat orang tua dilambangkan dengan tuntut atau eter kecil; 16) Ancak cantaka

melambangkan kehidupan yang makmur tercukupi kebutuhan jasmani dan rohani; 17)

sebagai lambang kehidupan yang baik untuk para Nabi dan Wali terwakili oleh sega




                                            26
uduk atau nasi gurih; 18) kehidupan yang tercukupi dilambangkan pada sega janganan

atau nasi sayuran; 19) untuk menyucikan lahir batin disimbolkan dengan sega asahan;

20) penolak balak dan menyingkirkan segala sumber bahaya atau bencana yang akan

terjadi terwakili oleh buah-buahan atau jajan pasar; 21) awet muda jika memakan sirih

saat gamelan sekaten dibunyikan pertama kali, dan 22) untuk menguji kesungguhan dan

keteguhan iman pepatih dalem dalam mengemban perintah ingkang Sinuhun

dilambangkan dengan canthangbalung.

       Pelaksanaan pembelajaran sastra (cerita rakyat) di SD, SMP, dan SMA

merupakan salah satu upaya pelestarian budaya dalam bidang pendidikan.

Penyebarluasan folklor adalah wujud konkret untuk memperkenalkan kepada generasi

muda keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sehingga akan

menimbulkan rasa ikut memiliki serta bangga. Sebagai upaya benteng diri dari

masuknya budaya asing yang semakin beragam dan tidak sesuai dengan jiwa serta

kepribadian bangsa Indonesia, foklor dari berbagai macam daerah dapat ditampilkan

sebagai penyaring budaya asing yang tidak sesuai dengan adanya pembelajaran sastra di

sekolah. Kajian nilai luhur dan budi pekerti yang dapat ditanamkan kepada siswa dari

cerita rakyat yang merupakan kekayaan budaya Indonesia. Salah satu cerita rakyat

daerah Surakarta yang sarat dengan nilai pendidikan (budi pekerti) dan simbolis yang

tinggi adalah cerita rakyat sekaten. Untuk itu, pengajaran cerita rakyat ini dapat

mendukung dalam upaya pelestarian budaya sehingga siswa mengetahui cerita rakyat

budaya setempat dan mengetahui bagaimana cerita rakyat sekaten yang berada di

Keraton Kasunanan Surakarta itu lebih detail. Dengan demikia, materi yang didapatkan

oleh siswa lebih variatif dengan memperkenalkan cerita rakyat daerah sendiri serta




                                            27
menambah pelajaran tentang nilai budi pekerti dan religi yang menjadi benteng dari

budaya asing yang tidak sesuai dengan jiwa serta kepribadian bangsa Indonesia..


Saran

        Berkaitan dengan simpulan di atas, saran yang dapat diberikan adalah bahwa

cerita rakyat Upacara Tradisi Sekaten yang berkembang dalam masyarakat Surakarta ini

dapat digunakan sebagai bahan ajar untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia,

khususnya pengajaran sastra. Pemerintah Daerah Surakarta dapat mempublikasikan hal-

hal yang berkaitan dengan Upacara Tradisi Sekaten, karena upacara tradisi ini dapat

dijadikan aset wisata yang menarik. Dinas Pariwisata hendaknya memberikan

rekomendasi untuk menerbitkan buku yang berisi cerita rakyat terutama cerita rakyat

Upacara Tradisi Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta untuk dijadikan sumber

informasi dan bahan ajar bagi guru. Selain itu, buku tersebut juga dapat dijadikan bahan

bacaan bagi siswa baik SD, SMP, dan SMA.




                                           28
Pustaka Acuan

Danandjaja, James. 1997. Folklor Indonesia. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti.

Depdiknas. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Kurikulum Tingkat
        Satuan Pendidikan. Jakarta.

Handipaningrat, KRT.. Tt. Perayaan Sekaten. Surakarta: Kapustakan Sono Pustoko
        Karaton Surakarta.

Herusatoto, Budiono. 1987. Simbolisme Dalam Budaya Jawa.Yogyakarta: Yayasan
        Kanisius.

Kemp, Jerrold. E. 1994. Proses Perancangan Pengajaran. Bandung: ITB.

Koentjaraningrat.1984. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Moeliono, Anton (penyunting). 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
        Pustaka.

Moleong, Lexy.J. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja.

Poerwadarminto, W.J.S.. 2003. Ensiklopedi Umum. Jakarta: Balai Pustaka.

Puger, GPH.. 2002. Sekaten. Karaton Surakarta: Kapustakan Sono Pustoko Karaton
        Surakarta.

Rahmanto, B.1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Rahmawati Agustina Noor. 2002. Sekaten Tahun Dal dan Pengaruhnya terhadap
      Kehidupan Masyarakat Surakarta. Surakarta: Fakultas Sastra dan Seni Rupa
      UNS.

Susanto. 2004. Metode Penelitian Sosial. Surakarta. Sebelas Maret University Press.

Sutarjo, I.. 1998. Nilai Simbolis dan Religius dalam upacara Tradisional Bersih Desa.
          Penelitian Mandiri: UNS.

Supanto. 1982. Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: Proyek Inventaris
         dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan
         Kebudayaan.

Sutopo, H.B. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta. Sebelas Maret
         University Press.




                                          29

								
To top