1 DAENDELS DALAM NASKAH DAN CERITA RAKYAT Cerita yang

Document Sample
1 DAENDELS DALAM NASKAH DAN CERITA RAKYAT Cerita yang Powered By Docstoc
					                                                                                                     1



              DAENDELS DALAM NASKAH DAN CERITA RAKYAT:
            Cerita yang berkaitan dengan Daendels di Pantai Utara Jawa.1
                                   Oleh: Djoko Marihandono2


1.       Pengantar
         Herman Willem Daendels              atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama
Daendels, adalah nama seorang Gubernur Jenderal Belanda yang pernah memerintah
di bumi kita tercinta ini antara tahun 1808 dan 1811. Berdasarkan buku-buku sejarah,
Gubernur Jenderal Daendels dikenal sebagai seorang diktator yang sangat kejam,
tidak berperikemanusiaan, dan selalu menindas rakyat demi keuntungan pemerintah
Kolonial Belanda dan pribadinya.3
         Sebelum meninggalkan negeri Belanda menuju Jawa, Daendels menerima dua
tugas yang diberikan oleh Louis Napoleon, yang menjadi raja di negeri Belanda pada
saat itu. Kedua tugas itu adalah:
         a. Mempertahankan Pulau Jawa agar tidak jatuh ke tangan Inggris; dan
         b. Memperbaiki sistem administrasi negara di Jawa.
         Kedua tugas ini diberikan kepadanya mengingat bahwa pada saat itu negeri
Belanda berada di bawah kekuasaan Napoleon Bonaparte, dan Inggris adalah salah
satu negara yang belum bisa ditaklukkan Prancis yang saat itu. (Eymeret: 1973: 29).
         Pada tanggal 28 Januari 1807 Daendels menerima tugas untuk menjadi
Gubernur Jenderal di Hindia Belanda langsung dari Louis Napoleon atas perintah dari
Napoleon Bonaparte. Persiapan keberangkatannya pun dilakukan. Pada tanggal 9
Februari 1807, Louis Napoleon menandatangani instruksi yang harus dilakukan oleh
Daendels. Instruksi itu terdiri atas 37 pasal. Pada bulan Maret, Daendels berangkat
secara diam-diam, agar tidak diketahui pihak Inggris, melalui Paris, kemudian ke
Lisabon dengan menaiki kapal Amerika dan mengubah namanya menjadi Van




1
     Makalah ini disajikan dalam Seminar Internasional Tradisi Lisan IV yang diselenggarakan di
     Jakarta tanggal 2—5 Oktober 2003
2
     Penulis adalah staf pengajar tetap di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
     Saat ini penulis sedang menyelesaikan disertasinya tentang politik dan birokrasi Gubernur Jenderal
     Daendels di Jawa tahun 1808—1811.
3
     Lihat Soekanto, Sekitar Djogjakarta 1755—1825. Halaman: 120; Vlekke (1947: hal. 262); Polak
     (1962:7—16)
                                                                                                2


Vlierden. Dari Lisabon Daendels berlayar menuju Kepulauan Kanari selanjutnya
menuju pulau Jawa. (Paulus: 1917: 554).4
         Pada tanggal 1 Januari 1808, setelah menempuh perjalanan selama 10 bulan,
Daendels mendarat di Anyer hanya dengan didampingi oleh seorang ajudannya dan
tanpa memiliki surat-surat kepercayaan. Dari Anyer dia melalui jalan darat menuju ke
Batavia untuk menemui gubernur jenderal saat itu, yaitu Henricus Albertus Wiese
(Stapel: 1940: 35). Tampaknya Wiese telah menerima berita pengangkatan Daendels.
Pada tanggal 14 Januari 1808 Wiese menyerahkan kekuasaannya kepada Daendels.


2.       Hubungan Daendels dengan Raja-Raja di Jawa Barat
         Sebenarnya Daendels melakukan intervensi terhadap kekuasaan kesultanan
di Jawa, yakni: Kesultanan Banten, Cirebon (Kanoman dan Kasepuhan), Yogyakarta
dan Surakarta (Vorstenlanden). Namun, sesuai dengan tema seminar ini, hanya akan
dibahas hubungan Daendels dengan Kesultanan Banten dan Cirebon.
         Hubungan antara Daendels dan raja Banten bermula dari rencana pembuatan
pelabuhan dan jalan raya di Ujung Kulon. Ribuan pekerja dikerahkan untuk membuat
jalan dan pelabuhan itu. Dalam pekerjaan ini terjadi banyak korban manusia baik
yang berasal dari kalangan pribumi maupun dari kalangan orang Eropa, karena
tanahnya banyak yang berupa rawa-rawa. Untuk melanjutkan proyek itu Daendels
meminta kepada Sultan Banten saat itu, untuk menyediakan tenaga baru dari Banten.
Sultan Banten menolak permintaan itu mengingat banyaknya korban yang sakit dan
mati karena penyakit. Daendels tidak bisa menerima alasan tersebut, kemudian
mengirimkan utusannya yang bernama Komandan Du Puy untuk mendesak Sultan
Banten agar bersedia mengirimkan rakyatnya. Du Puy diserang dan dibunuh. Keadaan
ini membuat Daendels marah, sehingga ia memutuskan untuk menyerang Banten.
Sultan Banten menyerah dan diasingkan ke Ambon, sementara pemerintahan
diserahkan kepada putra mahkota (Murdiman: 1970:14).
         Kondisi di Cirebon berbeda sekali dengan kondisi di Banten. Pada akhir abad
ke-18, di kraton-kraton Cirebon cukup kacau akibat konflik di dalam kraton. Sultan
Sepuh yang memerintah dari tahun 1781 dikabarkan sakit ingatan, sehingga tidak
mampu      untuk    menjalankan      pemerintahan.      Selanjutnya,    untuk    menjalankan


4
     Sumber lain menyebutkan bahwa Daendels pergi ke Jawa melalui Cadix, Tanger, Kepulauan
     Kanari, New York baru menuju ke Jawa dengan menggunakan kapal Amerika (Graaf: 1949: hal.
     363).
                                                                               3


pemerintahan di kraton dilakukan oleh beberapa adipati. Ketika sultan wafat pada
tahun 1787, ia digantikan oleh penggantinya yang kemudian pada tahun 1791
meninggal juga secara mendadak.       Sementara itu putranya yang diharapkan
menggantikannya usianya masih sangat muda. Akibatnya, pemerintahan di dalam
kraton diserahkan kepada walinya hingga tahun 1799. Kondisi kraton menjadi sangat
kacau ketika putra Sultan yang dulu dibuang ke Maluku melakukan pemberontakan.
Ia ditangkap dan dibawa ke Batavia. Sementara itu Sultan Kanoman meninggal tahun
1798. Namun, yang menggantikan bukan putra mahkota, melainkan orang lain. Hal
ini mengakibatkan kekacauan yang mengakibatkan banyak orang Cina terbunuh.
Akibat kerusuhan ini putra mahkota Kanoman ditangkap dan dibawa ke Batavia
karena dianggap mendalangi kerusuhan itu. Ribuan rakyat protes ke Batavia, tetapi
bisa dihalau di Krawang. Akibat dari kejadian ini semua, putra mahkota Kanoman
dibuang ke Ambon. (Lubis, 2000: 45—47)
       Pada masa Daendels menjadi gubernur jenderal, raja Kanoman dikembalikan
ke Cirebon atas desakan para tokoh agama. Raja Kanoman diberi 1000 cacah milik
Panembahan Cirebon yang telah lama wafat (1773). Raja Kanoman diijinkan untuk
membangun kembali Kraton Kacirebonan yang telah dibubarkan pada tahun 1768.
Dengan demikian di Cirebon terdapat tiga kraton, yakni Kasepuhan, Kanoman, dan
Kacirebonan. Oleh Daendels para penguasa kerajaan tidak diijinkan menggunakan
sebutan sultan lagi, melainkan menggunakan sebutan pangeran.


3.     Jatuhnya Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon
       Menurut sumber sejarah, Kesultanan Banten mulai berada di bawah kekuasaan
pemerintah Hindia Belanda semenjak Sultan Banten       menandatangani perjanjian
dengan Belanda yang dilakukan oleh Sultan Safiuddin pada tanggal 28 Nopember
1808. Setelah penandatangan dan pengucapan sumpah pada tanggal itu, istana
Sorosowan yang juga dikenal dengan istilah Benteng Intan dihancurkan belanda
sebagai hukuman atas meninggalnya pejabat tinggi negara dan pejabat rendah yang
dibunuh oleh abdi dalem Sultan.
       Sementara itu, di Cirebon pemerintah Belanda mulai melakukan intervensi
terhadapat kehidupan di Kraton-kraton di Cirebon terutama setelah terjadinya
pemberontakan di Cirebon.
                                                                                               4


3.1     Jatuhnya Kesultanan Banten berdasarkan arsip yang ada.
        Berdasarkan ringkasan daftar keputusan Gubernur Jenderal Herman Willem
Daendels yang dibuat di Banten tanggal 22 Nopember 18085 terdapat dua hal yang
berkaitan dengan jatuhnya Kesultanan banten, yaitu: Pertama, Berita Acara
terbunuhnya Komandan Du Puy dan Letnan Kohl serta seorang Eropa dan tiga
anggota militer pribumi dan kedua perintah untuk Raja Banten.
        Daendels menerima laporan terbunuhnya Komandan Du Puy, Letnan Kohl,
tiga orang Eropa dan tiga anggota militer pribumi. Pada saat Du Puy dipanggil oleh
utusan Sultan agar datang menghadap ke Benteng Intan (Istana Sorosowan),
Komandan Du Puy diserang oleh adipati Pangeran Wargadiraja hingga meninggal.
Sultan dianggap mengetahui rencana pembunuhan itu dan tidak melakukan apa-apa,
bahkan membiarkan para penyerang merusak mayat Du Puy, kemudian dengan sangat
kejam menyeretnya menuju sungai dan menenggelamkannya. Kejadian ini juga
menimpa para anggota militer Eropa dan pribumi yang menyertai Du Puy ke sana.
Wakil pemerintah yang ditugaskan ikut menjaga Kraton yang bernama Kapten Kohl,
pada malam sebelum pembunuhan itu dibuat mabuk, sehingga Sultan dianggap
dengan bebas bisa membunuhnya esok harinya. Sultan tidak melakukan tindakan
pencegahan sedikitpun. Selain itu juga ada tuduhan pemerintah Hindia Belanda
kepada Sultan Banten yakni: adanya serangan terhadap tiga orang serdadu Eropa yang
dikirim ke teluk Anyer. Namun, tidak semuanya berhasil dibunuh, karena sebagian
bisa melarikan diri ke seberang.
        Sultan juga dianggap mengabaikan bertemu dengan Perfect Daerah Hulu
Jakarta W.C. van Mohman, Direktur Jenderal W.H. van Ijsseldijk dan anggota Dewan
Hindia P.F. Chasse yang sengaja diutus oleh Gubernur Jenderal untuk menangani
masalah ini.
        Pemerintah Hindia Belanda memandang bahwa martabat pemerintah telah
dicemari dengan pembunuhan itu dan akan menggunakan segala cara untuk
mempertahankan martabat itu, bahkan bila perlu dengan mengepung Kraton dan
menangkap Sultan untuk dibawa ke Benteng Speelwijk. Pembunuhan terhadap
pejabat tinggi pemerintah yang telah dilakukan oleh raja dan rakyat harus dijadikan
contoh oleh yang lain. Oleh karena pemerintah menetapkan hal-hal sebagai berikut:



5
      Sumber: Bundel Banten nomor 94/142 Koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta.
                                                                                  5


1.      Kesultanan Banten akan dinyatakan sebagai wilayah Raja Belanda serta demi
        kepentingan negara.
2.      Marsekal dan Gubernur Jenderal akan mempertimbangkan kebiasaan yang ada
        di Banten seperti ketika dipimpin oleh rajanya sendiri dengan mengangkat
        putra mahkota sekarang Pangeran Ratu Aliudin yang tidak terlibat sedikitpun
        dalam perkara itu. Pangeran Ratu Aliudin       akan diangkat menjadi Sultan
        Banten dengan aturan-aturan dan instruksi serta sumpah yang diambilnya
        seperti terlampir dalam peraturan pemerintah ini.
3.      Tanah yang dipinjamkan oleh Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia sejak
        tahun 1752    di daerah Lampung kepada Sultan Banten ternyata menjadi
        tempat persembunyian yang aman bagi para perompak laut. Hanya sebagian
        kecil yang benar-benar di bawah kekuasaan Sultan Banten dan sebagian besar
        tunduk pada orang-orang Banten yang memberontak dan melarikan diri. Demi
        kepentingan negara dipandang perlu untuk meminta kembali semua tanah di
        Lampung dari pemerintahan Sultan Banten dan khususnya di bawah
        kekuasaan langsung dari pemerintahan Hindia Belanda.
     4. Karena dalam pemerintahan sebelumnya terdapat penyetoran hasil bumi dan
        kerja wajib oleh raja yang telah turun tahta ini, pemerintah Hindia Belanda
        memutuskan untuk mengambil alih bagian Timur wilayah Kesultanan Banten
        yang disewakan kepada orang-orang Cina oleh Sultan, diperintah oleh Patih,
        yang dirasakan oleh penduduk setempat banyak pemerasan dan penipuan
        sehingga banyak warganya yang lari dan menanggung beban yang berat dari
        gangguan yang ada di sekitarnya. Warga yang baik terpaksa harus dibebaskan
        dari perampokan dan pembunuhan sebagai tugas negara yang mengambil alih
        sewa tanah itu.
     5. Empat pabrik gula yang dimiliki Sultan, harus dibekukan untuk menjamin
        pasokan ke ibukota khususya, dengan tetap memperhatikan penanaman padi.
     6. Bagian Timur Kesultanan Banten membentang dari kabupaten Tangerang di
        sepanjang sungai Cidani sampai 300 roed melalui sungai Jemanteri, serta
        distrik Sading dan Jesingen dinyatakan sebagai wilayah yang terpisah dari
        Kesultanan Banten dan digabungkan dengan daerah Batavia.
                                                                                      6


     Selanjutnya Daendels memberikan instruksi bagi Raja Banten yang baru, untuk
mengesahkan tata cara berikut upacara bagi Prefect Banten, apabila dia tiba sebagai
wakil pemerintahan umum Paduka Raja.


   1. Tidak ada upacara yang dilakukan apabila pada kesempatan ini Prefect tidak
       sedang diminta untuk menghadap raja;
   2. dalam     kesempatan     resmi   tergantung    pada   kondisi,   Prefect   setelah
       menyampaikan kepada raja alasan pertemuan ini, oleh empat utusan dikawal
       dan upacra dari pihak raja Banten akan diadakan sesuai kebiasaan;
   3. Prefect setelah mendekati raja akan dilengkapi dengan sebuah payung besar
       yang baik pada sisi dalam maupun luarnya dicat kuning dan diberi warna
       pinggi emas dan batangnya lebar, dan selain itu akan dicat biru muda dengan
       tombol emas, yang harus dipegang oleh seorang pembantu sampai di rumah
       ketika dia harus diterima oleh raja dengan seluruh ikat kepalanya.
   4. Raja harus berdiri dari kursinya ketika Prefect memasuki istana dan harus
       menyambutnya ketika Prefect di sini menyampaikan salamnya kepada raja,
       seperti halnya diadakan upacara secara cermat ketika kembali terjadi dia
       duduk di sebelah kanan raja dan kemudian disesuaikan dengan pemilihan.
   5. dalam peristiwa upacara ini bisa ditunjukan bahwa kepada raja ketika tampil
       di depan umum dan Prefect kebetulan ada di sana, harus digandeng tangannya
       di bawah pengawasan Prefect dan dipayungi.
   6. apabila raja menghampiri Prefect, ketika memasuki benteng Speelwijk atau di
       tempat lain di mana pejabat ini biasa tinggal, dilepaskan tiga tembakan
       senapan, dan kepada Prefect wajib menyambutnya, membawanya masuk
       namun para pejabat rendahan bisa menerimanya di depan atau di luar
       kompleks bangunan itu.
   7. Juga para pejabat rendahan seperti halnya Prefect baik yang berjalan kaki
       maupun berkereta dan berkuda bisa berangkat dan dinaiki bila mereka
       kebetulan berhalangan.
   8. Apabila seorang Prefect atau pejabat lain bertemu dengan raja di tengah jalan,
       setiap orang akan berbagi jalan dan masing-masing memberi salam, namun
       anggota militer bisa berdiri di depan raja.
                                                                                    7


     9. apabila Prefect berjalan menghampiri raja, dia akan berjalan di belakang
        korps prajurit jaga yang terdiri atas seorang sersan, seorang kopral dan 12
        orang prajurit biasa.
     10. pada semua upacara lain, sejauh dirasakan perlu oleh Prefect, harus dihadiri
        pula oleh raja ketika upacara ini diadakan seperti yang ditetapkan dalam pasal
        6.
     11. Dengan kedatangan Prefect di Banten, Prefect akan menyampaikan kepada
        raja yang akan memberikan sambutan kedatangannya sebelum dia sendiri
        menghadap raja.
     12. selain itu kepada Prefect dan raja diberi wewenang untuk saling bertemu
        secara kekeluargaan tanpa upacara. Setelah itu Prefect dalam semua aspek
        akan memperhatikan kepentingan martabat negara yang diwakilinya dan
        memperhatikan agar raja dan para bangsawannya baik dari pihak penguasa
        Eropa maupun bangsanya sendiri dihormati martabatnya.
      Selain itu diputuskan pula untuk mengatur kembali wilayah di daerah Anyer,
Carita dan Caringin yang diusulkan oleh Prefect Banten J.W. Moorrees dalam tiga
distrik atau kabupaten dengan batasan sebagai berikut:
1.      Anyer dimulai dengan kampung Ceromo yang terletak di jalan dari Banten
        menuju Anyer sampai ke laut dan dari sana pada jarak setengah jam atau
        menurut ketentuan lain dari aliran utara sungai Pasilanang;
2.      Carita dimulai dengan garis batas di atas dan membentang sampai Caringin.
3.      di daerah Caringin, kampung Caringin, Labong dan Plandewarto selatan
        sampai Ploso akan diangkat kepala daerah atau bupati. Atas kabupaten Anyer
        akan diangkat Aria Abdullah, untuk kabupaten Carita Aria Soba dan atas
        kabupaten Caringin Pangeran Adi. Dan bisa disampaikan kepada pemerintah
        Hindia serta Prefect J.W. Morrees, untuk pemberitahuan dan kepadanya akan
        ditambahkan pengakuan sebagai pejabat baru di sana.


        Sementara itu, pihak Kesultananan Banten harus menerima perintah yang
diberikan oleh Gubernur Jenderal yang dirinci dalam suatu aturan yang terdiri atas 30
pasal. Beberapa pokok perintah ini antara lain:
a.      Sultan Banten tidak memiliki wewenang sedikitpun untuk menegakkan
        kesuasaan atas tanah-tanah di sepanjang sungai Cidani, termasuk tanag Sading
        dan Jasinga yang digabungkan dengan daerah Batavia (pasal 2)
                                                                               8


b.   Sultan dan para abdi dalem harus tunduk pada peraturan-peraturan yang dibuat
     baginya. Sebagai imbalan Sultan akan menerima jaminan kesejahteraan yang
     sah (pasal 3);
c.   Sultan akan mematuhi perintah yang diberikan oleh prefect yang mewakili
     pemerintah Hindia belanda (pasal 4);
d.   Sumber penghasilan yang sebelumnya menjadi wewenang Banten akan
     diambil alih oleh pemerintah Belanda dan Sultan setiap tahunnya akan
     menerima tunjangan sebesar 15 ribu ringgit Spanyol, hak pasar di Kekel
     (setahunnya mencapai f 108), pasar di daerah Blachan (setahun mencapai f
     160),   penjualan kerbau kepada penggilingan tebu (f 170), pemborongan
     pohon pinang dan apel manis (f 80),           pemborongan kapok (f 70),
     pemborongan pembuatan genting (f80), pemborongan pabrik kapok di
     Banjarnegara (f 30), pemotongan kerbau (f 540), pemborongan kapok di
     Seram (f 120), pemborongan perahu balok dan kayu bakar di Cibabi ( f 264),
     pemborongan gambir dan tembakau di Margalangu (f 126), pemborongan
     pajak di Margarana (F 108), pajak di Kalodran (f 192), pajak di Cidasari ( f
     54) dan di Pasar Lama (f 72). (pasal 7)
e.   Para pangeran dan bangsawan tetap dipertahankan, tetapi tidak diijinkan
     mengangkat pangeran baru. (pasal 8).
f.   Pemerintah akan membangun tempat tinggal bagi prefet          bersama para
     pelayannya yang harus disediakan oleh Sultan. (pasal 15)
g.   Jika pemerintah Belanda memerlukan tenaga untuk memperluas prasarana
     bentengnya untuk aktivitas lain, Sultan harus menyediakan tenaganya yang
     akan dibayar oleh pemerintah. (pasal 16).
h.   Semua pelarian pribumi atau Eropa yang bersembunyi di daerah yang
     dipinjamkan kepada Sultan harus dicari atas perintah negara dan diserahkan
     kepada pemerintah, tidak terkecuali para budak dan bupati yang mencuri.
     Mereka yang berhasil menangkapnya akan diberi hadiah. (pasal 17).
i.   Meskipun sifat-sifat Banten telah lenyap, keturunan mereka akan tetap
     menjadi ahli waris yang sah atau bisa dialihkan kepada siapapun yang menjadi
     pilihannya tanpa menunggu kematian sultan seperti yang sebelumnya terjadi.
     (pasal 19).
j.   Untuk memberikan contoh penghukuman yang dijatuhkan atas pembunuhan
     yang dilakukan terhadap pegawai tinggi dan rendah negara, benteng Intan
                                                                                9


       yang diduduki dan direbut oleh pasukan militer        akan dibongkar dan
       dirobohkan. (pasal 21).
k.     Kepada Sultan diwajibkan, dengan persetujuan pemerintah Belanda, untuk
       memilih tempat tinggal yang pembangunannya dilakukan oleh rakyat Banten.
       (pasal 22).
l.     Mesjid dan makam raja-raja Banten dibiarkan tetap pada posisi lamanya dan
       kepada Sultan beserta keluarganya diberikan ijin apabila akan melaksanakan
       ibadah di sana dan memakamkan anggota keluarganya. (pasal 23);
m.      Semua adat dan kebiasaan yang sifatnya merendahkan bagi pegawai
       pemerintah akan dihapuskan dan kepada prefect Banten akan diperintahkan
       suatu ketentuan upacara baru di Kraton Sultan seperti saat penerimaan dan
       pelepasan.


       Sultan harus menandatangai dan mengambil sumpah atas instruksi ini di
bawah Al Qur’an. Pengambilan sumpah dan penandatanganan instruksi ini dilakukan
oleh raja Banten pada tanggal 28 Nopember 1808.


3.2    Runtuhnya Kesultanan Banten berdasarkan cerita rakyat.
       Cerita-cerita rakyat di daerah Banten, khususnya Banten lama sudah banyak
yang punah. Hal ini disebabkan sudah tidak adanya lagi orang yang tahu mengenai
cerita rakyat Banten. Menurut para informan, punahnya cerita-cerita tentang Banten
sebentar lagi akan hilang karena para pencerita sudah hampir semuanya meninggal
dunia. Selain itu, di wilayah Banten, khususnya Banten Lama mulai banyak
pendatang baru yang tidak memahami cerita-cerita lama.
       Dari cerita yang disampaikan oleh tiga orang informan diperoleh cerita
sebagai berikut:
       Kalau berbicara tentang kota Banten, yang dimaksudkan adalah kota Banten
lama, yang terletak 11 kilometer di sebelah Utara kota Serang. Di situlah terletak
reruntuhan istana Kesultanan Banten yang lebih dikenal orang dengan         Istana
Sorosowan. Di sekitar Istana Sorosowan terdapat Masjid Agung yang terletak di
sebelah Barat reruntuhan Istana Sorosowan. Di dalam kompleks Masjid Agung ini
dimakamkan beberapa Sultan Banten dengan keluarganya. Sementara itu di sebelah
Timur reruntuhan Istana Sorosowan terdapat reruntuhan Istana Kaibon.
                                                                                  10


       Menurut cerita rakyat, kata Banten berasal dari Ketiban Inten yang maknanya
adalah ´kejatuhan intan´. Yang dimaksudkan dengan intan menurut beberapa versi
antara lain adalah agama Islam, karena di kota Banten lama inilah agama Islam
berkembang. Versi lain mengatakan bahwa di dalam reruntuhan istana Sorosowan
terdapat sebuah kolam yang bernama kolam intan, yang reruntuhannya hingga saat
ini masih ada, yaitu berada di dalam reruntuhan istana Sorosowan.
       Versi lain mengatakan bahwa kata Banten berasal dari istilah bantahan yang
mengacu kepada tindakan para sultan di Banten yang selalu membantah untuk
mengikuti perintah pemerintah Hindia Belanda.
       Menurut versi orang Banten, keruntuhan Banten memiliki dua versi. Versi
pertama yaitu tidak dinobatkannya Sultan Banten di atas Batu Gilang. Versi kedua
adalah karena tindakan Pangeran Mangkubumi yang membunuh utusan Belanda yang
bernama Kapten Du Puy.
       Diceritakan bahwa pada mulanya Maulana Hasanuddin, putra Syarif
Hidayatullah, bertapa di atas batu untuk bersimpuh yang namanya Batu Gilang.
Karena khusuknya dan lamanya beliau bertapa, beliau tidak sadar bahwa peci yang
dikenakannya sudah menjadi sarang burung. Maksud dan tujuan beliau bertapa adalah
untuk meminta petunjuk di mana tempat yang baik untuk mengajarkan agama Islam.
Tiba-tiba, batu yang digunakan untuk bertapa ini seakan-akan terbang dan di
sekelilingnya terdapat air laut. Maulana Hasanuddin beserta Batu Gilang terombang-
ambing di atas laut dan terdampar di daratan yang saat ini dikenal dengan kota Banten
lama. Di sinilah Maulana Hasanuddin mendirikan Kesultanan Banten pertama kali.
Oleh karena itu Semua Sultan Banten yang akan dinobatkan menjadi raja harus
dinobatkan di atas Batu Gilang ini.
       Belanda yang saat itu mengincar wilayah Banten untuk dijadikan jajahannya
tidak berhasil untuk menundukkan Banten yang saat itu menjadi kota pelabuhan yang
sangat besar.    Belanda melihat bahwa salah satu penyebab sukarnya Banten
ditaklukkan karena adanya Batu Gilang ini. Oleh karena itu, Belanda membuat tiruan
dari batu gilang ini yang disebut sebagai Singayaksa. Semenjak Sultan yang kelima,
Sultan tidak dilantik lagi di atas Batu Gilang, melainkan dinobatkan di atas batu
Singayaksa. Menurut anggapan masyarakat Banten dengan dinobatkannya para Sultan
di atas batu Singayaksa inilah yang menyebabkan kehancuran Kesultanan Banten.
       Versi kedua,    keruntuhan Kesultanan banten diakibatkan oleh perlawanan
Sultan Shafiuddin kepada pihak Belanda. Diceritakan bahwa Daendels yang saat itu
                                                                                11


menjadi Gubernur Jendral di Batavia, ingin membuat jalan dari Anyer sampai
Panarukan dan membangun pelabuhan angkatan laut di Ujung Kulon. Karena hanya
bermodalkan uang sedikit dan mengejar waktu pembangunan jalan yang harus selesai
selama satu tahun, maka dilaksanakanlah apa yang disebut sebagai kerja paksa.
       Untuk melaksanakan dua proyek besar itu, Sultan Banten harus menyediakan
tenaga sebanyak 1.000 orang setiap harinya. Namun, karena kondisi alam yang
banyak rawanya serta becek, banyak penduduk Banten yang mati karena penyakit dan
mati karena disiksa. Kabar kematian penduduk yang banyak itu didengar oleh Sultan
Shafiuddin, sehingga beliau memutuskan untuk tidak mengirimkan penduduknya
untuk mengerjakan proyek itu.
       Tiba-tiba datanglah Kapten Du Puy, utusan Gubernur Jenderal dari Batavia,
menghadap Sultan Banten. Akan tetapi, ketika Du Puy akan memasuki istana, tidak
disambut dengan tabik tuan, melainkan disambut dengan ayunan pedang oleh
mangkubumi istana, hingga lehernya putus.         Mendengar berita ini Daendels
memerintahkan untuk menangkap Sultan Banten dan menghancurkan istananya.
Sultan Shafiuddin dibuang ke Ambon, sementara istananya dibakar oleh militer
Belanda. Orang Banten dikejar dan dibunuh. Oleh karena itu banyak penduduk dan
ulama Banten (Tubagus) yang melarikan diri ke Sumedang, Lampung, dan wilayah
lain di nusantara ini. Jadi dapat dimaklumi apabila saat ini di luar wilayah Banten
banyak ditemukan nama Tubagus yang mengaku nenek moyangnya orang Banten.
Setelah itu pemerintahan di Banten diambil alih oleh pemerintah Belanda.
       Untuk meredam gejolak orang Banten, Belanda mengangkat Sultan yang ke-
21 yakni Sultan Rafiuddin, yang tidak memiliki kekuasaan apa-apa. Bahkan untuk
makan saja, Sultan menerima gaji dari Belanda, dan tidurnya pun di istana ibunya
yang bernama Istana Kaibon.
       Belanda memang menghendaki hilangnya Kesultanan Banten. Oleh karena itu,
Istana Kaibonan pun akhirnya dihancurkan. Bahkan, pada saat membangun kantor
dan tempat tinggal residen Serang, batu bata dan kayu serta perlengkapan rumah
lainnya yang ada di Istana Kaibon dibawa ke kota Serang.
                                                                                                12


3.3       Pemberontakan Cirebon sebagai penyebab runtuhnya Kraton-Kraton
          Cirebon.

          Berdasarkan laporan yang dibuat oleh Nicolas Engelhard yang dimuat dalam
majalah Indisch Archief Tijdschrift de Indien yang dihimpun oleh Dr. S.A. Buddingh
disampaikan bahwa Cirebon dilanda pemberontakan besar yang bila dibiarkan akan
(1850) sangat membahayakan kelangsungan pemerintahan Hindia Belanda di Jawa.
          Pada tanggal 1 Juli 1806, Nicolas Engelhard menerima surat dari Gubernur
Jenderal Albertus Henricus Wiese di Batavia yang isinya memberitahu tentang
kondisi di Cirebon yang mulai memburuk dari hari ke hari. Wiese kemudian pada
tanggal 23 Juli 1806 memberikan perintah kepadanya agar segera mengirimkan
pasukan Madura yang ditempatkan di Ujung Timur Pantai Timur Laut Jawa. Pasukan
ini terdiri atas 1 kompi, dibantu pula oleh pasukan dari Surabaya sebanyak satu
batalyon. Permasalahannya adalah untuk segera menangani kerusuhan yang ada di
Cirebon dan mencegah perpindahan penduduk di Cirebon dan segera mengembalikan
keamanan dan ketentraman di kabupaten yang sama. Mengingat gawatnya
permasalahannya ini N. Engelhard memutuskan untuk berangkat pada hari itu juga.
Jabatanya sebagai Dewan Pertama dan Direktur Jenderal Republik Bataaf Hindia,
Gubernur dan Direktur di sepanjang Timur Laut Jawa sementara diserahkan kepada
Rothenbuhler        yang saat itu menjadi residen di Surabaya. Keberangkatannya ke
Cirebon disertai oleh satu batayon militer yang dipimpin oleh Pangeran Sicodiningrat,
putra sulung Panembahan Madura, di bawah perintah Mayor Komandan Milisi Ujung
Timur Jawa Carel von Frauquemont dengan menggunakan kapal Debora dan
Phoenix6.
          Sesampai di Semarang Nicolas Engelhard menerima surat dari Walbeck,
mantan residen Cirebon yang dipecat karena tidak mampu menangani kerusuhan ini,
yang intinya selain adanya pemberontakan yang makin hari makin membesar juga
terdapat epidemi penyakit menular yang melanda penduduk Cirebon. Kesimpulannya
adalah Engelhard tidak dapat memanfaatkan seorang pun di Cirebon untuk
menjalankan misi ini.



6
      Pada misi ini berangkat pula sekretaris keamanan J.A. van Middelkoop, Letnan Kolonel komandan
      Artileri Carel von Wolzogen, Kapten resimen Kadipaten Wurtenberg Fressz dan Letnan Kavaleri
      Mentges, ahli bedah rumah sakit DT Herwich, Pangeran Wijir dari kadilangu, dan Pendeta Tinggi
      dari Pengadilan Semarang Bastma dengan pasukan yang berjumlah 720 pasukan (Hal: 82--83).
                                                                                  13


       Sesampai di kota Cirebon, Engelhard melihat bahwa semua aktivitas
penduduk terhenti karena para abdi dalem di kraton meninggalkan sultan-sultan
mereka. Pendeknya semua penduduk di wilayah kerajaan telah memberontak , bahkan
daerah itu dikuasai oleh pemberontak bersenjata dengan tokoh-tokohnya yang
melakukan tindakan kekerasan dan pemerasan terhadap orang-orang Cina yang
tampaknya menjadi sasran para pemberontak itu (hal: 84). Kesimpulan Engelhard
terhadap pemandangan kota Cirebon saat itu adalah kepercayaan rakyat terhadap para
pejabat dan raja-raja di Cirebon telah hilang sama sekali. Mereka tidak lagi bersedia
mematuhi janji atau kesanggupannya dan sebagai akibatnya tidak ada utusan yang
diterima oleh para pemberontak.
       Jumlah pasukan yang disiapkan saat itu terdiri atas 2017 pasukan termasuk
1852 orang pribumi yang ditempatkan di berbagai tempat baik di Cirebon maupun
Indramayu, kemudian di beberapa pos yang terletak di pedalaman seperti: Cirebon
sebanyak 278 serdadu, Indramayu 332 serdadu, Karangsambung 151 serdadu dan
Cibitung 189 serdadu, Indramayu sebanyak 332 serdadu, Karangsembung 151
serdadu, Cibitung 189 serdadu, Losari 1067 serdadu. Sebaliknya jumlah penduduk
yang memberontak diperkirakan sebanyak 35 sampai 40 ribu orang dengan dilengkapi
senapan, tombak, pelempar batu, dan berbagai senjata tradisional lainnya.
       Nicolas   Engelhard    sebagai   pengendali   pasukan    pemulihan    Cirebon
berkeinginan agar tidak terjadi pertumpahan darah di Cirebon. Peperangan akan
menjadi kesengsaraan tidak hanya bagi rakyat yang tidak berdosa, tetapi juga bagi
tentara Belanda, karena harus berhadapan dengan hutan yang luas, pegunungan , dan
rawa-rawa yang akan membuat para serdadu menderita. Berdasarkan arsip kompeni
yang sudah dipelajarinya, peperangan akan membuat rakyat menjadi trauma dan
susah untuk diajak kembali ke kampung halamannya. Sementara itu biaya pemulihan
perang juga sangat besar, padahal saat itu pemerintah sedang mengalami kesulitan
keuangan (Hal. 87). Para serdadu diinstruksikan untuk tidak menembak kecuali bila
terdesak. Untuk itu dia memanggil penasehatnya untuk mencari tahu dasar alasan
mengapa rakyat memberontak kepada kompeni. Kemudian dikirimlah beberapa
utusan untuk menemui pemberontah yang sudah diketahui di bawah pimpinan Bagus
Sidong.
       Bagus Sidong bersama dengan kedua anaknya, Bagus Arisim dan Bagus
Suwasa, melakukan pemberontakan kepada raja dan orang-orang Cina di daerah
Cirebon.
                                                                                 14


        Karena Engelhard telah mengetahui akar permasalahan pemberontakan ini,
maka dikeluarkanlah instruksi antara lain:
   1. tidak akan melakukan gerakan lebih lanjut terutama tidak akan melakukan
        tembakan;
   2. Para pemberontak agar segera kembali ke kampung halamannya masing-
        masing;
   3. Apabila anjuran untuk kembali ke desa masing-masing tidak dipatuhi, maka
        pemerintah akan memaksa pemberontak untuk mematuhi dengan kekerasa
        senjata , serta jika perlu menjadikan mereka semua bersama wanita dan anak-
        anak sebagai korban kekerasan hati dan kekerasan kepada mereka;
   4. Himbauan ini akan diterjemahkan dalam bahasa pribumi baik di wilayah
        Cirebon maupun di daerah sekitarnya.
        Utusan Nicolas Engelhard kembali dengan membawa berita gembira karena
para pemimpin telah mengenal Nicolas Engelhard ketika menjadi residen di Semarang
dan mereka bersedia mendengarkan peringatan         dia, dan bersedia kembali ke
kampung halamannya.
        Pada tanggal 23 Juli 1806, Bagus Sidong dan kedua putranya mengirim surat
kepada Nicolas Engelhard yang intinya:
   1.      Permohonan agar Pangeran Raja Kanoman, Raja Kabopaten dan Raja
           Lautan dikembalikan ke kraton;
   2.      Mohon agar orang Cina dijauhkan dari mereka karena telah memeras
           rakyat dengan meminta uang dan meminta tanah mereka;
   3.      Mohon agar para serdadu Batavia ditarik dari Cirebon, termasuk pasukan
           di Indramayu, Sukasari, dan Tomono, agar rakyat tidak menderita
           ketakutan terhadap mereka.
        Nicolas Engelhard membalas surat mereka bertiga yang intinya menyetujui
semuanya ini bahkan akan memberikan amnesti bagi para pemberontak. Dia juga
berjanji untuk tidak akan memanggil pasukan militer untuk ditempatkan di wilayah
Cirebon. (Hal.: 96). Bagus Sidong bersama dengan kedua putranya akhirnya bertemu
dengan Engelhard di suatu tempat di dekat Palimanan dan dengan demikian selesailah
pemberontakan di bawah pimpinan Bagus Sidong.
        Sebagai akhir dari pemberontakan ini, dicapai kesepakatan yang dibuat antara
anggota Dewan dan pejabat Direktur Jenderal Hindia Belanda dan Gubernur
sepanjang Pantai Timur Laut Jawa di satu pihak dan kedua orang sultan di daerah
                                                                                   15


Cirebon Kanoman dan Kaepuhan di pihak lain. Dalam kesempatan itu disepakati
bahwa Sultan Kanoman diberi hak mutlak atas tanah yang termasuk milik kompeni
secara sah dan dijadikan bupati. Namun, untuk mencegah agar peristiwa tersebut
tidak terulang kembali, dicapai kesepakan antara pemerintah Hindia Belanda dan
kedua Sultan yang terdiri atas 46 pasal (halaman 240—267).. Intisari kesepakatan itu
antara lain:
a.    Kasepuhan dan Kanoman harus membayar kerugian akibat pemberontakan itu,
      dan harus sudsah lunas dalam waktu 10 tahun (pasal 1).
b.    Daerah Cirebon dipimpin oleh dua orang Tumenggung sebagai patih selain oleh
      kedua orang Sultan, dan oleh enam mantri di mana seorang Tumenggung
      dengan tiga orang mantri di Kasepuhan dan sejumlah pejabat yang sama di
      Kasepuhan. Semua itu berada di bawah residen atau yang diberi kuasa atas nama
      Republik Bataaf. (pasal 3).
c.    Tumenggung disahkan oleh Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia Belanda,
      sementara para Mantri disahkan oleh Residen yang semuanya dilengkapi dengan
      akta. (Pasal 4).
d.    Semua pejabat dari Demang, Hangabehi atau kuwu yang dipilih oleh Sultan
      harus diserahkan kepada residen dan pengangkatannya dibuktikan dengan akta.
      (Pasal 6)
e.    Semua penduduk yang berada di bawah pemerintahan Sultan harus dikenai
      pajak. (Pasal 8).
f.    Tidak ada perpindahan penduduk dari distrik satu ke distrik lainnya kecuali atas
      ijin Sultan. (Pasal 9).
g.    Dalam hal pengadilan, penghulu atau jaksa dari kedua Sultan tidak boleh
      berkerabat sampai generasi ketiga. Semua tuduhan berat diserahkan kepada
      keputusan yang dipimpin oleh residen sebagai kepala pengadilan, dua orang
      Sultan, dua orang Tumenggung atau patih dan enam orang mantri. Bila perlu
      bisa ditambahkan orangnya atas ijin pemerintah Bataaf. (Pasal 12).
h.    Semua perkara yang tidak disepakati di tingkat Pengadilan Negeri akan
      diserahkan kepada Pengadilan Tinggi di Batavia atau di kota lain di mana
      lembaga ini berada. (Pasal 13)
i.    Apabila ada penduduk pribumi yang bukan dari wilayah Sultan yang ditangkap
      karena kejahatan, bisa langsung diserahkan kepada Residen untuk diadili. (Pasal
      14)
                                                                                16


j.   Apabila orang Cina yang menyadi penyebab perpindahan penduduk, maka
     kepada orang Cina tidak diijinkan untuk tinggal di pedalaman. (Pasal 15)
k.   Kedua Sultan wajib menyerahkan beras kepada pemerintah Bataaf sebesar
     masing-masing 300 koyang (Pasal 19).
l.   Tidak ada pemecatan Tumenggung, Mantri, Demang Hangabehi atau Kuwu
     yang bisa dilakukan tanpa sepengathuan Residen. (Pasal 26)
m.   Semua upacara adat yang berhubungan dengan penerimaan Gubernur Jenderal,
     dan anggota Dewan, perlengkapan upacara, tempat duduk dalam peradilan,
     penampilan di depan umum tetap diatur atas dasar sama seperti yang ada saat
     itu. (Pasal 28)
n.   Pemerintah Bataaf akan memonopoli pengangkutan candu dan kain dari Hindia
     Barat di tanah Cirebon.(Pasal 29).
o.   Kedua Sultan berjanji untuk tidak membuat benteng pertahanan, membentuk
     pasukan, ataupun mengirimkan ekspedisi ke tempat lain. (Pasal 33).
p.   Kedua Sultan akan menerima gaji masing-masing 1125 ringgit per tahunnya dari
     pendapatan sewa atau cukai di perbatasan Cirebon. (Pasal 37).
q.   Kedua Sultan harus mengirimkan uang untuk perawatan orang-orang yang
     dibuang ke Ambon, Banda atau tempat lain. (Pasal 39)
       Kontrak ini ditandatangani tanggal 1 September 1806 oleh kedua Sultan, patih
dari kedua kesultanan di satu pihak dan Nicolas Engelhard, François van Braam,
Jacobus Albertus van Middelkoop, Jan Willem Domis di lain pihak. Sebagai saksi
Pangeran Secadiningrat, Pangeran dari Madura, Mayor Komandan dan Kepala
Ekspedisi Carel Gaup, dan Mayor Komandan Pasukan Madura Carel von
Franquemont. Untuk terjemahan dari bahasa Belanda ke Bahasa Melayu dilakukan
oleh Adriaan Theodor Vermeulen.           Untuk terjemahan ke dalam bahasa Jawa
dilakukan oleh Tumenggung Kendal Suroadinegoro.
       Kenyataannya pemberontakan rakyat Cirebon tidak berhenti di sini saja. Pada
masa Gubernur Jenderal Daendels berkuasa, di Cirebon terjadi pemberontakan yang
dipimpin oleh Bagus Rangin. Berdasarkan arsip “Pemberontak Bagus Rangin tahun
1812” diketahui nahwa Bagus Rangin tinggal di Bantar Jati. Arsip yang berupa proses
verbal yang berupa tanya jawab antara pihak pemerintah Belanda yang diwakili oleh
Waterloo, dan Bagus Manuh. Sebagai saksi ikut pula menandatangani proses verbal
ini G. Bois. (lihat Pemberontak Bagus Rangin 1812, bundel Cheribon nomor 38/8)
koleksi Arsip nasional, Jakarta).
                                                                                17


          Bagus Rangin dianggap pemberontak karena dia ingin mengatur kampung
halamannya di Bantar jati dengan membantu rakyat dalam mengatasi wajib kerja yang
dilakukan oleh rakyat untuk pemerintah Belanda. Bagus Rangin mempunyai banyak
pengikut dari Semarang di Ujung Timur hingga di Sumedang, Raja Galuh, dan
beberapa wilayah lainnya. Bagus Rangin menolak berunding dengan Belanda karena
dia merasa akan dipersalahkan oleh pihak pemerintah Belanda. Menurut Bagus
Manuh, tujuan bagus Rangin melakukan itu semua adalah untuk mengumpulkan
rakyat dan menunjuk seseorang untuk memimpinnya yang tinggal di gunung.
Sementara dia sendiri tidak menginginkan apa-apa.
          Bagus Rangin selama ini bersembunyi di Gunung Aji, daerah Sumedang.
Sementara persembunyian utamanya ada di Kabuyutan Kawuenten di Ciase. Bagus
Rangin memiliki banyak anak buah dan sebagian besar membawa senapan. Amunisi
dan Senapan dipasok dari daerah Krawang dan Pamanukan. Bahkan menurut laporan
Bagus Manuh, Bagus Rangin memiliki dua meriam kecil berukuran ½ kaliber.
          Sebenarnya Bagus Rangin masih kerabat dengan Bagus Arisim yang telah
menandatangani kesepakatan dengan pemerintah Belanda. Namun bagus Rangin telah
telah melarikan diri dari wilayah Bantar Jati ke wilayah Bayawak dan bersembunyi di
hutan Ujung Jaya daerah Sumedang dengan membawa isteri dan anaknya, yang
kemudian berpisah dengan mereka. Selanjutnya tidak diketahui lagi di mana dia
berada.
          Bagus Manuh menjawab pertanyaan dari penanya bahwa bagus Rangin telah
mengetahui bahwa paginya dia akan diserang dari penduduk Sukawana. Namun tidak
diketahui persis siapa yang memberitahukan hal itu. Sebenarnya Bagus rangin tidak
ingin bertempur. Akan tetapi dia terpaksa bertempur karena harus membela diri.
Bagus Rangin ingin tetap tinggal di sana dan bertani di sana. Sementara itu juga
dilaporkan bahwa bagus Rangin ingin mencari sejumlah orang yang kuat, yang akan
dibawanya menuju pegunungan tinggi dan bersembunyi di daerah Banyumas, di mana
Bagus Rangin bertahan.
          Bagus Rangin mengajak warga Bantar Jati untuk pergi menuju ke Gunung
Luhur untuk membangun kota atau ibu kota di sana yang diberi nama Nagara Panca
Tengah dan dialah yang akan menjadi raja sekaligus menguasai daerah Gunung
Luhur. Mungkin Bagus Rangin ingin menjadi raja di sana.
          Bagus Manuh juga menggambarkan fisik dari Bagus Rangin yang belunm
dikenal oleh pemerintah Belanda. Dia adalah seorang pria berusia kurang lebih lima
                                                                                18


puluh tahun dan memiliki kulit berbintik yang tidak pernah sembuh. Dengan tanda itu
dia sangat mudah dikenal banyak orang. Dengan penampilan sedang dan
berperawakan tidak begitu gemuk, berkulit hitam, berbusana kebanyakan terdiri atas
kebaya kasar. Bagus Rangin sangat terkenal oleh para pengikutnya dan sering tampil
bersama Ama dan Rama Bantam yang biasanya sering diajak berbicara. Orang-orang
pengikut bagus Rangin berkata bahwa Bagus Manuh tidak menunjukkan
penghormatan kepada Bagus rangin ketika tampil di depannya. Satu-satunya hukuman
yang dilaksanakan adalah memasung, memukul atau hukuman lain, tetapi tidak
pernah ada hukuman mati yang dijatuhkannya.
       Pada saat ditanya apakah bagus Manuh berani menghadap bagus Rangin dan
membujuknya agar meminta maaf kepada pemerintah Belanda, Bagus Manuh
menjawab bahwa dia tidak berani karena takut akan dibunuh. Disampaikan pula
bahwa Bagus Rangin telah menyimpan semua surat pernyataan yang diterima oleh
para pengikutnya dan Bagus Manuh menjamin bahwa Bagus Rangin tidak akan
pernah mau meminta maaf.


3.4    Cerita Rakyat tentang Bagus Rangin
       Diceritakan oleh informan bahwa ada seorang Dalang dari daerah Beber yang
bernama Sabdani, yang mendalang dengan lakon cerita Bagus Rangin. Informan
mendengar cerita itu pada saat mereka menonton wayang ketika masih kecil di
klenteng-klenteng di daerah Jatiwangi. Tokoh Bagus Rangin muncul dalam cerita
wayang Babad Bantar Jati, yang menceritakan tentang Pangeran Kornel yang
membantu Belanda dalam memberantas kaum pemberontak yang dikepalai oleh
Bagus Rangin.
       Bagus Rangin adalah pemberontak yang memihak kepada rakyat. Bagus
Rangin memusatkan strateginya di Jati Tujuh di Bantar Jati yang sekarang sudah
menjadi kecamatan. Desa itu dinamakan Jati Tujuh karena memang di sana dahulu
ada pohon jati yang berjumlah tujuh. Karena memihak rakyat inilah Bagus Rangin
dianggap sebagai pemberontak. Pangeran Kornel memihak kepada Belanda
berhadapan dengan bagus Rangin.      Karena terdesak, Bagus Rangin mundur dari
bantar Jati menuju Panongan, Wanasalam, Salawana, Cibogo, dsb.
       Karena terdesak, ada salah satu pengikut Bagus Rangin yang tertangkap dan
dipenggal kepalanya oleh pasukan Pangeran Kornel. Namun, yang terjadi adalah
kepala pengikut Bagus Rangin berubah menjadi kepala ikan odong (ikan Gabus).
                                                                                 19


Bagus Rangin terus mundur tetapi tidak pernah tertangkap dan tidak pernah
menyerah. Bagus Rangin selalu mendapat dukungan dari masyarakat yang dilaluinya.
Bahkan masyarakat dengan suka rela menyembunyikannya apabila terjadi bahaya.
Perlindungan yang diberikan kepada Bagus Rangin bahkan sampai di Indramayu.
Akan tetapi atas perintah dari Belanda, Sultan-Sultan Cirebon bersama dengan
Pangeran Kornel mencari dan melawan Bagus Rangin, bahkan sempat dikepung.
Namun, karena saktinya bagus Rangin selalu bisa mengelak dan luput dari
pengejarannya. Pertempuran besar pernah pula terjadi di Kadongdong, di daerah
Indramayu.
       Alasan Bagus Rangin memberontak terhadap pemerintah Hindia Belanda
karena rakyat kelaparan dan pemerintah Hindia Belanda bertindak sewenang-wenang.
Rakyat marah dan berontak. Bagus Rangin dianggap pemimpinnya. Jadi sebenarnya
yang memberontak bukan Bagus Rangin,             tetapi rakyat Cirebonlah yang
memberontak. Pada saat timbul paceklik dan tidak ada yang membela rakyat inilah
muncul seorang pemimpin yang mendapat dukungan dari rakyat. Di mana pun bagus
Rangin berada selalu mendapat dukungan dari rakyat. Bahkan rakyat pun
melindunginya ketika dilakukan pengejaran untuk menangkapnya. Wajarlah bilña
Bagus Rangin ini tidak dapat ditangkap dan tidak mau menyerah. Menurut dongen
orang-orang Bantar Jati, Bagus Rangin wafat dan dimakamkan di makam di desa
Depok di Jatiwangi.


4.     Strukturisme dalam Konteks Kejatuhan Kedua Kraton
       Strukturisme dalam ilmu sejarah diilhami dari pendapat Anthony Giddens
yang bertolak dari interaksi antara agency    dan structure. Agency adalah pelaku
sejarah yang konkret yang oleh ahli sejarah dapat ditemukan dalam arsip yang
dijadikan bahan penelitiannya. Sementara struktur adalah sesuatu yang konkret pula
seperti halnya agency, tetapi tidak jelas terlihat sebab walaupun sukar ditemukan
dalam sumber sejarah tetapi struktur itu ada. Mengenai struktur dan agency ini lebih
jelas lagi dibahas oleh Lloyd yang mengatakan bahwa agency          dan    structure
keduanya berhubungan secara simbiosis, yaitu walaupun masing-masing memiliki
hakekatnya sendiri, tetapi yang satu tidak bisa ada kalau yang lainnya tidak hadir
pula. (Lloyd: 1995).
       Agency bukanlah bukan hanya manusia yang sadar akan perbuatannya tetapi
manusia yang sanggup memahami kesadarannya itu (self monitoring of action).
                                                                                    20


Kesadaran itu bisa diungkapkan, tetapi banyak yang tidak diungkapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Demikian pentingnya agency yang sadar akan perbuatannya
ini, sehingga kausalitan akan kesadarannya dari berbagai peristiwa hanya dapat
diungkapkan melalui perumusan kembali melalui wacara           yang berkaitan dengan
perbuatan agency itu sendiri.       Dengan demikian manusia yang sadar akan
perbuatannya itu menentukan dinamika proses sejarah yang ditentukan oleh
manusianya itu sendiri (reflexive self regulation). Inilah yang menjadi kunci dari
kausalitas dalam sejarah.
        Sementara itu struktur menurut pengertian Giddens berbeda dengan struktur
dalam pendekatan struktural. Struktur menurut Giddens adalah seperangkat kaidah
atau aturan. Kaidah ini tidak hanya terdapat dalam kesadaran manusia tetapi bisa juga
di luar kesadaran manusia. Sifat struktur yang demikian ini disebut sebagai dualty of
structure. Dalam hal struktur ini Lloyd berbeda dengan Giddens. Loys menambahkan
bahwa yang dimaksudkan sebagai struktur tidak hanya perangkat aturan (sistem nilai),
tetapi juga terdiri atas peran-peran (roles) dan interaksi antarperan-peran itu. Karena
komponen struktur itu tidak terlihat maka wujudnya dapat dilihat melalui teori
tertentu.
        Selanjutnya dalam strukturis ini juga dikenal istileh mentalité yang
sebelumnya telah diperkenalkan oleh para sejarawan aliran Les Annales yang berpusat
di Paris. Agency yang menentukan perubahan sosial bersifat dinamis, tidak statis, dan
mampu berfikir dan mampu memilih sehingga memiliki alternatif. Lloyd
menyebutkan mentalité sebagai idea, ideology dan culture. (Lloyd: 1995: 96—98).
Yang dimaksudkan sebagai idea adalah gagasan besar seperti yang terdapat pada
ilmu-ilmu tertentu yang bisa ditelusuri sejarahnya dari masa ke masa. Ideology
adalah ide-ide politik yang melatarbelakangi tindakan-tindakan politik. Ide-ide
semacam ini biasanya dipelajari dalam ilmu politik. Sementara itu culture lebih
bervariasi, karena ada high culture yang sama dengan seni, ada pula material culture
yang meneliti hasil kebudayaan, serta popular culture yang juga disebut (mirip?)
dengan mentalité. Yang dimaksudkan sebagai mentalité atau popular culture adalah
bagaimana masyarakat itu memahami dirinya sendiri dan dunia mereka, dan
bagaimana mereka mengekspresikan diri mereka sendiri melalui agama, ritus, busana,
musik, dan sebagainya (ibid: 97).
        Sementara itu Lloyd juga melihat bahwa pentingnya rumusan-rumusan yang
mirip dengan ilmu alam yang disebut sebagai causal factor.
                                                                                   21


       Dalam makalah ini tidak akan dibahas bagaimana penerapan teori strukturis
dalam konteks kedua kesultanan itu, tetapi akan lebih menyoroti mentalité yang hidup
dan diikuti oleh kedua masyarakat tersebut.
       Masyarakat Banten menganggap bahwa akar kehancuran Kesultanan Banten
adalah karena para raja terakhirnya tidak dinobatkan di atas Batu Gilang.        Batu
Gilang adalah simbol kehidupan kerohanian para penganutnya. Simbol Batu Gilang
adalah warisan leluhur yang di menjadi peletak dasar perkembangan agam Islam di
Banten. Oleh karena itu, apabila orang atau masyarakat ingin hidup tenang, damai,
sejahtera, maka yang paling utama adalah tidak boleh melupakan ibadah dan leluhur
mereka. Dengan demikian bagi masyarakat Banten ibadah menjadi suatu kegiatan
yang tidak boleh diabaikan. Ibadah merupakan suatu kegiatan yang wajib dan harus
dijalankan oleh masing-masing individu. Proses hadirnya Batu Gilang yang menurut
tradisi lisan yang tertuang dalam dongeng merupakan sistem nilai yang berlaku dalam
masyarakat yang berlangsung dari dulu hingga kini. Apabila masyarakat mengabaikan
sistem nilai yang berlaku maka tampak jelas bagi mereka reruntuhan kerajaan
Sorosowan yang merupakan simbol kehancuran duniawi sebagai akibat dari tidak
dijalankannya sistem nilai yang berlaku di Banten.
       Rakyat Banten harus melarikan diri ke luar Banten ketika benteng Sorosowan
dihancurkan. Fenomena banyaknya orang yang mengaku sebagai orang banten yang
tinggal di kota lain disebabkan karena para adipati Banten ini diburu dan dibunuh. Hal
ini dapat diasumsikan bahwa pada saat penyerangan dan penghancuran istana
Sorosowan banyak adipati Banten yang dibunuh, yang tidak dilaporkan oleh
pemerintah Hindia Belanda.
       Berbeda dengan di Banten, cerita rakyat di Banten yang menceritakan tentang
perjuangan Bagus Rangin dan tindakan kedua Kesultanan Cirebon, merupakan contoh
kepedulian pimpinan dan rakyatnya. Bagi masyarakat Cirebon khususnya pemimpin
yang baik akan dicintai oleh rakyatnya dan akan dilindungi. Pemimpin yang
mempedulikan rakyatnya akan selalu berjuang demi kesejahteraan rakyatnya. Ini
semua terdapat pada cerita Bagus Rangin.
       Sementara itu cerita lisan ini juga membawa dampak bagi perilaku pada
sementara orang. Bagus Rangin yang ditumpas oleh Pangeran Kornel membuat
sebagian masyarakat Cirebon merasa segan untuk berhubungan dengan masyarakat
Sumedang. Konflik sosial yang didasari atas cerita rakyat ini masih hidup hingga kini
                                                                                    22


bagai sementara orang. Atntardua masyarakat itu saling menghindarkan diri untuk
berkerabat.


5.     Kesimpulan
       Setelah membandingkan antara arsip dan cerita lisan yang hidup di kedua
masyarakat dapat ditarik beberapa kesimpulan:
       Pertama, bahwa antara arsip dan cerita lisan seling berhubungan. Walaupun
cerita lisan hidup terus menerus di masyarakat, cerita laisan tetap berhubungan
dengan sumber sejarah. Karena disampaikan secara lisan, maka sumber yang berasal
dari cerita lisan lebih dinamis dan lebih banyak mendapatkan distorsi, sehingga sering
terdapat perbedaan tokoh sampingan, perbedaan waktu, perbedaan zaman. Yang
dipentingkan dalam cerita lisan adalah pesan moral yang terkandung di dalamnya.
Sementara itu sumber yang berupa arsip sifatnya statis, isinya seperti apa adanya yang
tertuang di dalam sumber arsip itu.
       Kedua, cerita lisan berfungsi sebagai pandangan tatanan adat atau nilai bagi
masyarakatnya.    Cerita   lisan   bisa   dijadikan   petuah   ataupun   hal-hal   yang
mengendalikan perilaku masyarakatnya. Sebagai halnya yang terjadi pada masyarakat
Cirebon, walaupun kini pendapat tentang tidak diperbolehkannya berkerabat dengan
orang Sumedang tidak diikuti lagi oleh masyarakatnya, bahkan cenderung hilang,
tetapi cerita itu masih hidup dan berkembang di kalangan orang tertentu. Demikian
pula penghargaan mereka terhadap kedua Sultan yang ada di wilayah Cirebon. Masih
hidup pandangan di kalangan yang sangat terbatas bahwa Sultan Cirebon tidak
memperhatikan rakyatnya, sehingga mereka tidak memiliki kebanggaan sama sekali
memiliki dua Sultan.
       Ketiga, budaya popular akan terus hidup sejalan dengan perkembangan
masyarakat. Apabila masih dirasakan bermanfaat, budaya popular itu akan terus
hidup. Semnatara itu apabila dirasakan sudah tidak bermanfaat akan ditinggalkan oleh
masyarakatnya. Cerita rakyat yang ada, baik di Banten maupun di Cirebon merupakan
contoh dari budaya popular. Sementara orang sudah ada yang mulai meninggalkannya
karena dianggap tidak sesuai lagi dengan pandangan masyarakat masa kini.
       Keempat, perlu dilakukan pengumpulan dan kajian lebih mendalam dan lebih
intensif cerita-cerita rakyat di kedua wilayah ini, karena orang yang mengenal cerita
ini sudah banyak yang maninggal karena tua. Di Banten, hanya dua atau tiga orang
saja yang masih mengetahui cerita rakyat ini, karena menurut pengakuan mereka para
                                                                                 23


pencerita itu semuanya sudah meninggal, dan tidak ada yang mengetahuinya lagi
karena mulai banyak para pendatang yang bermukim di wilayah itu. Kejadian serupa
juga terjadi di Cirebon. Hanya sedikit orang yang masih ingat akan cerita Bagus
Rangin atau cerita-cerita lainnya. Informan yang ada rata-rata usianya sudah di atas
60 tahun, sehingga apabila tidak segera dilakukan pendokumentasian, cerita-cerita
rakyat ini akan musnah.
                                                                            24




                             DAFTAR PUSTAKA




Buku dan Majalah
Ambary, Hasan Muarif. 1996. Masyarakat dan Budaya Banten. Kumpulan Karangan
     ruang lingkup Arkeologi, Sejarah, Sosial dan Budaya. Jakarta: Pusat
     Penelitian Arkeologi Nasional.

Colenbrander, Dr. H.T. 1925. XVII Daendels.   Dalam Koloniale Geschiedenis.
      Tweede deel Nederlan de West de Oost tot 1816. S´Gravenhage: martinus
      Nijhoff.

Eymeret, Joël. 1973. L’Administration Napoléonienne en Indonésie. Dalam Revue
      Française dÓutre Mer. Paris: Librairie Orientale Paul Geuthner SA.

Graaf, H.J. Dr. De. 1949. Geshiedenis van Indonnesie’s. S´Gravenhage: Martinus
       Nijhoff.

Kartodirdjo, Sartono, dkk. 1975. Sejarah Nasional Indonesia. Jilid IIII dan IV.
       Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Lloyd, Christopher, 1995. The Structures of History. United Kingdom: Blekwell
       Publishers.

Lubis, H. Nina. Dkk. 2000, . Sejarah Kota-Kota Lama di Jawa Barat. Bandung:
       Alqaprint.

Murdiman, Siti Hadijah. 1970. Sedikit tentang persamaan dan perbedaan
      Pemerintahan Daendels dan Raffles di Indonesia. Seminar Sedjarah Nasional
      II, Yogyakarta. 1970.

Paulus, Mr. Dr. J. 1917. Encyclopaedi van Nederlands-Indie. Eerste Deel.
       S´Gravenhage: Martinus Nijhoff.

Polak, Mayer, JBAF. 1962. “Serba-serbi masa Daendels 1808—1911” dalam
       Penelitian Sedjarah. Maret 1962.

Rafi’udin, Tb. Hafidz. 2000. Riwayat Kesultanan banten. Serang: CV. Kentjana
       Grafika.

Ricklefs, M.C. 1992. Sejarah Indonesia Modern. Terjemahan olah Drs. Dharmono
       Hardjowidjono. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Soekanto, Dr. 1952. Sekitar Djogjakarta 1755—1825.
                                                                                25



Stapel, Dr. F.W.1940. Geschiedenis van Nederlandsch Indië.        Amsterdam: NV
       Uitgeversmaatschappij.

Vlekke, B.H.M. 1947. Geschiedenis van Indischen Archipel. Roermond-Maaseik.




Arsip:

Europeesche Zeden op Java in Daendels’ Tijd. Indische Gids. Iilid I Tahun 1896,
      halaman 81—82. Koleksi Perpustakaan Nasional RI.

Rapport over de Onlusten te Cheribon in 1806 ingediend door wijlen N. Engelhard, in
      lezen gouverneur van Java’s Noord Oost Hust. Dimuat dalam Indisch Archief.
      Tijdschrift Jilid III. Dihimpun oleh Dr. S. Buddingh. Batavia Lange 1850.
      Koleksi Perpustakaan Nasional RI.

Instructie voor den Koning van Bantam. Koleksi Arsip Nasional RI Bundel Banten
        nomor 94/142.

Pemberontak Bagus Rangin 1812. Koleksi Arsip nasional RI bundel Cheribon nomor
      39/8.

Landrost Ambt van Bantam. Koleksi Arsip Nasional RI Bundel Banten nomor 42/23.