PENYEDIAAN DAN KUALITAS PAKAN SAPI DI MUSIM KEMARAU PADA by dxj10251

VIEWS: 1,181 PAGES: 5

									 PENYEDIAAN DAN KUALITAS PAKAN SAPI DI MUSIM KEMARAU PADA DAERAH
           PERTANIAN LAHAN KERING DI KABUPATEN DOMPU

                               Yusuf Akhyar Sutaryono1) dan Mashur2)
                                1)
                               Fakultas Peternakan Universitas Mataram
              2)
                 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tengggara Barat, Mataram


                                                   ABSTRAK
           Hampir seluruh peternak yang memelihara sapi didaerah transmigrasi dengan pertanian lahan kering di
Kabupaten Dompu memelihara ternak dengan sistem potong angkut (cut and carry). Untuk musim kemarau selain
pemberian rumput dan tanaman gulma yang terbatas, hampir seluruh peternak lebih mengandalkan hijauan pakan yang
berasal dari legume pohon seperti lamtoro (Leucaena leucocephala), gamal (Gliricidia sepium), dan daun-daun pohon
lainnya. Disamping itu peternak memberikan pula batang pisang (Musa paradisiaca), batang papaya (Carica papaya)
dan buah semu jambu mete (Anacardia officinale). Walaupun jumlah yang diberikan relative lebih sedikit bila
dibandingkan dengan pemberian pakan hijauan dimusim hujan, akan tetapi kualitas pakan sapi pada musim kemarau
cukup memadai. Kandungan protein kasar pakan yang diberikan pada pertengahan musim kering berkisar antara 5 - 12%
bahan kering dengan variasi pakan terdiri dari rumput, legume merambat dan gulma pertanian, dengan kecernaan in vitro
sekitar 40% bahan kering. Pada pakan yang diberikan pada puncak musim kering variasi pakan menjadi lebih banyak
dengan kandungan protein berkisar dari 5 - 17%, dengan kecernaan pakan memperlihatkan nilai yang lebih baik dengan
kecernaan terendah 37% (rumput) dan tertinggi 70% (legume pohon). Pemberian air minum setiap hari berkisar antara
10 – 15 liter/ekor/hari.
Kata kunci: Lahan kering, pakan musim kemarau, protein kasar, kecernaan in vitro.



                                               PENDAHULUAN

        Pemeliharaan ternak di Kabupaten Dompu umumnya masih menerapkan sistem tradisional
dengan menggembalakan secara bebas pada padang penggembalaan dan lahan sawah yang tidak
ditanami pada musim kemarau. Akan tetapi pada daerah transmigrasi yang sebagian besar
penduduknya berasal dari Pulau Lombok para peternak mempraktikkan sistem pemeliharaan ternak
yang berbeda. Mereka ini sebagaimana kebiasaan bertani dan beternak di Lombok melanjutkan
cara pemeliharaan ternak dengan sistem potong angkut. Walau demikian karena luasnya lahan
pertanian dan perkebunan jambu mente yang mereka miliki sebagian peternak juga menerapkan
sistem penggembalaan penuh dan sistem campuran antara keduanya.
        Daerah transmigrasi ini petani menerapkan sistem pertanian lahan kering karena lahan
pertanian hanya mendapat air pada musim hujan saja dan tidak terdapat sistem irigasi sama sekali.
Dengan sistem pertanian lahan kering seperti ini maka ternak memegang peranan yang sangat
penting dalam menunjang kehidupan dan kesejahteraan petani. Hampir seluruh penduduk desa
yang berjumlah kurang lebih 100 kepala keluarga memiliki ternak antara 2 sampai 4 ekor per
peternak dan umumnya adalah ternak betina induk dengan anaknya.
        Pada musim kemarau yang terjadi sekitar bulan Mei sampai Desember penyediaan hijuan
pakan menjadi faktor pembatas. Pada awal musim kemarau masih bisa diperoleh rumput dan legum
merambat walau dalam jumlah dan kondisi tumbuh yang tidak memadai akibat keterbatasan air.
Namun seiring dengan berlanjutnya kemarau dan makin sedikitnya kandungan air tanah, rumput
dan legum meranbat makin menghilang dan sulit diadapatkan. Penyediaan pakan hijauanpun
berubah dengan memanfaatkan tanaman yang lebih tinggi seperti leguminosa pohon dan tanaman
tinggi dan pakan alternatif lainnya. Dengan keadaa demikian, perlu untuk mengetahui keadaan
penyediaan pakan ternak, jumlah pemberian dan komsumsi, apa saja jenis hijauan pakan dan
kualitasnya sebagai pakan ternak dengan melihat kandungan protein kasar dan kecernaannya, serta
jumlah pemberian air minum bagi ternak setiap hari.
                                      MATERI DAN METODE

        Penelitian dilaksanakan dengan melakukan pengamatan dan pengambilan sampel pakan
pada peternak serta observasi langsung di padang penggembalaan di Desa Sukadamai Kecamatan
Manggalewa Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat. Dari keseluruhan peternak yang terdiri dari
kurang lebih 100 orang peternak dengan sistem pemeliharaan yang bervariasi, dipilih 9 orang
peternak sebagai sample; masing-masing 3 (tiga) orang dengan sistem potong angkut, 3 orang
peternak dengan sistem penggembalaan penuh dan 3 (tiga) orang peternak dengan sistem
campuran. Kesembilan peternak ini diamati pemberian pakan ternaknya selama musim kemarau
2002, dengan pengambilan sampel pakan pada bulan Juli dan Oktober 2002. Jumlah pakan segar
yang diberikan ditimbang, demikian pula dengan sisa pakan yang tidak dikonsumsi. Kemudian
diamati perbandingan antara jumlah daun dan batang pada pakan, jenis hijauan penyusun pakan.
Untuk analisis kandungan protein kasar dan kecernaan in vitro pakan digolongkan dalam 3
golongan tanaman yaitu rumput-rumputan, tanaman leguminosa dan gulma pertanian. Protein
kasar pakan dianalisis dengan metode analisis proksimat, sedangkan kecernaan dianalisis dengan
metode in vitro (metode Tilley and Terry).


                                   HASIL DAN PEMBAHASAN

         Penyediaan pakan ternak untuk musim kemarau ternyata lebih bervariasi dibandingkan
dengan pakan pada musim hujan. Ketika awal musim kemarau peternak masih bisa memperoleh
rumput alam dan leguminosa merambat serta tanaman gulma pertanian, tetapi semakin lama
kemarau berlangsung jenis tanaman ini kemudian menghilang dan atau mengering. Peternak
kemudian harus menggunakan rumput kering, daun tanaman leguminosa pohon dan daun tanaman
pohon lainnya. Bahkan pada puncak musim kemarau peternak memberikan pakan alternatif
lainnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bamualim dan Wirdahayati (2003) bahwa sebagian
besar produksi ternak di Nusa Tenggara hanya didukung oleh rumput-rumput alam dan tanaman
lain yang tumbuh liar. Seiring dengan berlanjutnya musim kemarau yang diikuti meningkatnya
kekeringan maka sistem pemeliharaan peternak juga menyesuaikan. Hampir seluruh peternak
kemudian menerapkan sistem potong angkut (cut and carry) bagi ternaknya, karena sudah tak
tersedia lagi pakan bagi ternak yang menggembala bebas.
        Pada musim kemarau peternak memberikan pakan hijuan segar sekitar 16 kg/ekor/hari.
Jumlah ini memang jauh berkurang bila dibandingkan dengan jumlah pakan hjauan segar yang
diberikan pada bulan-bulan musim hujan. Bamualim dkk (1994a) juga melaporkan terjadinya
penurunan pemberian pakan selama musim kemarau sampai setengah dari pemberian musim hujan.
Pemberian pakan seperti ini walaupun jumlahnya tidak sebanyak pemberian pada musim hujan,
tetapi karena pakannya berupa hijauan legum pohon dengan kualitas protein yang baik serta
kandungan bahan kering yang lebih tinggi, makan ternak masih dapat mempertahankan berat badan
ternak hingga datangnya musim hujan.

                20
                19
                18
                                  16,667                             16,458
                17
                16
                15
                14
                13
                12
                11
                10
                                  July_02                            Oct_02


     Gambar 1. Grafik rata-rata jumlah pakan hijauan yang diberikan pada ternak (kg segar/ekor/hari)
        Persentase daun dari pakan yang diberikan sepanjang tahun umumnya lebih dari 50%,
kecuali pada musim kemarau ketika rumput dan daun-daunan mulai terbatas dan ternak diberikan
pakan hijauan alternatif. Hampir semua bagian daun dari pakan yang diberikan umumnya
dikonsumsi habis dan yang tersisa adalah batang-batang tua yang keras.

        70                    64       65

        60          53.333
        50                                                                          46.667

        40                                                                                           33.333
        30

        20
                                                                                              10
                                                                          7.5
        10
                                                    0
         0
                                  July_02                                              Oct_02

                                            grass       legume    forbs       other_cc

   Gambar 2. Grafik persentase daun pada pakan hijauan yang diberikan pada ternak di musim kemarau.

        Pada pertengahan musim kemarau sekitar bulan Juli, ketika rumput mulai sulit didapatkan,
peternak mulai menggunakan Gamal (Gliricidia sepium) dan Lamtoro (Leucaena leucocephala).
Pada puncak musim kemarau sekitar bulan Oktober, selain memberi Gamal dan Lamtoro, peternak
juga memberikan daun pohon-pohonan seperti daun Nangka (Arthocarpus integra), Sonokeling
(Dalbergia latifolia) dan Kesambi (Schleichera oleosa). Tidak jarang peternak memberikan sapi
mereka pakan hijauan yang terdiri dari 100% berupa Lamtoro atau Gamal. Dengan demikian
sebenarnya peternak telah menerapkan pemanfaatan stata ketiga dari konsep tiga strata (STS, Nitis
dkk 1989). Selain itu peternak juga memberikan pakan alternatif yang hanya diberikan dalam
keadaan terpaksa seperti batang pisang (Musa paradisiaca), batang papaya (Carica papaya) dan
buah semu jambu mente (Anacardia officinale). Pemberian pakan jenis ini juga dilaporkan oleh
Bamualim dkk (1994b) dilakukan oleh peternak di pulau lainnya di Nusa Tenggara.
          Gambar 3. Grafik komposisi pakan yang diberikan pada ternak di musim kemarau (%)

               80                                                                                      75
               70

               60
                             50
               50

               40                    35

               30

               20                             15                                         15
                                                                                                10
               10
                                                          0                     0
                0
                                       July_02                                            Oct_02


                                                 grass        legume   forb     other_cc
        Pada pertengahan musim kemarau yaitu pada bulan Juli, kandungan protein pakan berkisar
antara 5 – 11% dengan kecernaan sekitar 36 – 43 % bahan kering. Nilai kandungan protein ini
lebih rendah sedikit dibandingkan dengan nilai protein pakan seperti dilaporkan oleh Bamualim
dkk (1994). Hal ini mungkin disebabkan karena pada saat ini kondisi rumput sudah mulai menurun
dengan daun yang mulai mengering dan jumlah batang yang cukup banyak. Sedangkan pada
puncak kemarau yaitu pada bulan Oktober, kualitas pakan dapat meningkat karena pakan
didominasi oleh legum pohon seperti Lamtoro dan Gamal dengan kandungan protein sekitar 17%
dan kecernaan sampai 70%. Sementara walaupun batang pisang dan buah semu jambu mente
memiliki kecernaan yang tinggi tetapi kandungan proteinnya rendah.


                                             18                                                                 17.06

                                             16
                         Crude protein (%)




                                             14
                                             12            11.058                                                               10.85
                                             10
                                                                 7.3533                                                                          6.83
                                              8                                                                           6.3
                                              6                                                        5.0167
                                                     4.2967                                                                             4.1433
                                              4
                                              2                            0       0       0
                                              0
                                                                    July_02                                               Oct_02


                                                       grass        legume         forbs       tree_leaf      banana_stem                 cashew



                         18                                                                                 17.06

                         16
     Crude protein (%)




                         14
                         12                            11.058                                                              10.85
                         10
                                                              7.3533                                                                        6.83
                                 8                                                                                  6.3
                                 6                                                                 5.0167
                                                  4.2967                                                                           4.1433
                                 4
                                 2                                     0       0       0
                                 0
                                                                July_02                                             Oct_02


                                                   grass        legume       forbs         tree_leaf       banana_stem               cashew

    Gambar 4. Grafik kandungan protein pakan yang diberikan pada musim kemarau (% bahan kering)
  Gambar 5. Grafik kadar kecernaan in vitro pakan yang diberikan pada musim kemarau (% bahan kering)

        Kondisi panas dan kering pada musim kemarau ternyata tidak mempengaruhi jumlah
pemberian air minum kepada ternak. Pada musim ini air minum yang diberikan pada ternak adalah
sekitar 10 – 15 liter/ekor/hari. Jumlah ini tidak berbeda dengan jumlah air yangh diberikan pada
musim hujan.
                                        KESIMPULAN

         Pada musim kemarau peternak memberikan pakan dengan mengandalkan pada tanaman
legum pohon seperti Lamtoro dan Gamal. Walaupun pemberian jumlah pakan pada musim ini
(sekitar 16 kg segar/ekor/hari) jumlah ini cukup bagi ternak untuk mempertahankan kondisi berat
badannya sampai datangnya musim hujan. Peternak mulai bergeser menggunakan Lamtoro dan
Gamal sekitar pertengahan musim kemarau pada saat rumput mulai kering atau sulit didapat, dan
kemudian sepenuhnya bergantung pada tanaman legum pohon dan tanaman pohon lainnya pada
puncak musim kemarau. Kandungan protein pakan berkisar antara 5 – 17% dengan kecernaan in
vitro sekitar 37 – 70%. Pemberian air minum ternyata sama dengan pemberian pada musim hujan
yaitu sekitar 10 – 15 liter/ekor/hari.
Ucapan terima kasih: Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian yang dibiayai oleh ACIAR
Project AS/2000/12, yang merupakan kerjasama CSIRO – Sustainable Ecosystem Australia,
Universitas Mataram dan Badan Pengkajian Teknologi Pertanian Propinsi Nusa Tenggara Barat.


                                     DAFTAR PUSTAKA

Bamualim, A. dan Wirdahayati, R.B. (2003). Nutrition and Management Strategies to Improve Bali
        Cattle Productivity in Nusa Tenggara. In. Strategies to Improve Bali Cattle in Eastern
        Indonesia. K. Entwistle and D.R. Lindsay (Eds). ACIAR Proceeding No. 110.
Bamualim A., Saleh A., dan Patrick I. 1994a. Komposisi Jenis Makanan yang Diberikan Petani
        pada Ternak Sapi yang Dipelihara dengan Sistem Semi Intensif di Nusa Tenggara.
        CHAPS Book A. Eastern Islands Veterinary Services Project.
Bamualim A., Saleh A., Fernandez, P.Th., dan Liem, C. 1994b. Produksi dan Kualitas Hujauan
        Rumput Alam Sebagai Makanan Ternak Sapi di Nusa Tenggara. CHAPS Book A.
        Eastern Islands Veterinary Services Project.
Nitis, I M., Lana, K., Suarna, M., Sukanten, W., Putra, S., and Arga, W. 1989. Three Strata Forage
          System for Cattle Feeds and Feeding in Dryland Farming area in Bali. Final Report to
          IDRC Canada.

								
To top