naskah-drama-remaja-2005

Document Sample
naskah-drama-remaja-2005 Powered By Docstoc
					                                                            1


Drama Remaja

AKU vs AYAHKU
               Budi Ros




PEMBUKA

GONG DUA BERBUNYI.


PARA PEMAIN MUNCUL DARI PINTU MASUK AUDITORIUM, MENUJU
PANGGUNG. SEMUA MENYAPA PENONTON DENGAN RAMAH : ― SELAMAT
MALAM SEMUA, SELAMAT DATANG … APA KABAR ?. ‖


SESAMPAI DI PANGGUNG, PARA PEMAIN MENATA SET DAN PERALATAN
LAINNYA. BAGUS, PEMIMPIN MEREKA, MEMBERI KOMANDO BAGAIMANA
SET DAN PERALATAN HARUS DI TATA.


KEMUDIAN DARI SALAH SATU SISI PANGGUNG MUNCUL MENEJER
PANGGUNG, YANG MEMBERI TAHU BAHWA KOMANDO BAGUS TERNYATA
SALAH. SET DAN SEMUA PERALATAN KEMUDIAN DI TATA ULANG SEPERTI
PETUNJUK MENEJER PANGGUNG.


SEMUA PEMAIN TURUT AKTIF MENYIAPKAN PERALATAN.
MENEJER PANGGUNG DIBANTU BAGUS SESEKALI MENGECEK APAKAH
SEMUA PERALATAN DITEMPATKAN PADA TEMPATNYA ATAU TIDAK.


MEREKA MEMERIKSA DARI BEBERAPA SUDUT, KEMUDIAN BEBERAPA KALI
MELIHAT ARLOJINYA, DAN KETIKA MENYADARI SUDAH WAKTUNYA
PERTUNJUKAN DIMULAI, MENEJER PANGGUNG BERTANYA PADA PARA
PEMAIN


MENEJER PANGGUNG :
                                                                                     2


Bagaimana, sudah siap ?


PARA PEMAIN :
Belummm …


MENEJER PANGGUNG :
Oke, cepat sedikit kalau begitu.


LALU MENEJER PANGGUNG BERUNDING DENGAN BAGUS. KEMUDIAN
MEREKA      SEPAKAT,       BAGUS      MEMULAI       PERTUNJUKAN         SEMENTARA
PANGGUNG DISIAPKAN.


MENEJER        PANGGUNG            TURUN      TANGAN     LANGSUNG        MEMBANTU
PERSIAPAN, IKUT MENGANGKAT SET DAN PERALATAN, BAGUS MEMULAI
PERTUNJUKAN.




BAGUS : ( BICARA PADA PENONTON )
Ternyata repot sekali membuat pementasan teater. Tapi jangan kuatir, apa pun yang
terjadi pertunjukan akan tetap jalan. Selesai tidak selesai panggung ini ditata, kami
akan tetap main. Sebab kami berlatih sudah sangat lama, sekitar 6 bulan. Kami sudah
banyak kehilangan waktu, tenaga, dan tentu saja biaya. Sia-sia sekali kalau kami tidak
jadi main gara-gara panggung belum beres. Kami pun merasa berdosa pada Anda
semua. Jadi jangan kuatir, kami pasti main.


Malam ini kami akan membawakan lakon berjudul MARNI versus Ayah, lakon yang
sederhana tapi seru. Seru di sini bukan saja ramai, tapi punya arti lain, yaitu Sedikit
Ruwet. Ini lakon tentang pertentangan anak muda dan orang tua, pertentangan pop
dan klasik, tradisi dan modern. Pertentangan yang sebetulnya tidak perlu ada. Tapi
begitulah, nyatanya pertentangan semacam ini selalu ada, dari waktu ke waktu. Dan
gara-gara pertentangan ini, kita semua sering kehabisan waktu. Cinta, kata orang bisa
menjadi jawaban semua masalah. Tapi dalam kasus ini, cinta mengakibatkan banyak
masalah.
                                                                                     3


Lihat, apa yang terjadi dengan Marni, tokoh utama lakon ini. Marni !


MARNI : ( MENDEKAT )
Ya …


BAGUS :
Lho, kok cengegesan ? Kamu kan ceritanya lagi patah hati.


MARNI :
Kan belum mulai ?


BAGUS :
Oh, ya. Tapi ini sudah waktunya mulai. Siap dong, aktris harus siap sebelum mulai.


MARNI :
Tapi panggungnya juga belum siap.


BAGUS :
Lho, belum siap juga ? Ya ampun, lama betul. He, menejer panggung, masih lama ?


MENEJER PANGGUNG :
Sebentar lagi. Ngomong aja dulu.


BAGUS :
Eee .. sudah berbusa begini. Bisa keburu pulang nanti penontonnya.


MARNI :
Ya … jangan dong. Para penonton, mohon jangan pulang dulu ya ? Betul, ya ? Kan
belum nonton Marni akting. Nanti ada door prize-nya lho.


BAGUS :
Ngawur. Door prize, memangnya infotainment. Sudah, sudah, sana siap-siap.
( MARNI PERGI )
                                                                                  4


Maaf. Itu tadi pemeran Marni. Dia ceritanya patah hati melulu. Karena setiap kali
Marni jatuh cinta, atau ada pemuda jatuh cinta padanya, babenya selalu melarang.
Dan anehnya, sang babe selalu punya alasan yang sama: aku sayang sama kamu NAK,
jadi aku harus menjagamu. Gile, memangnya cinta itu kejahatan. Atau jangan-jangan
babe si Marni ngidam jadi sekuriti.


MARJUKI :
He, ngomongin gue lu ? Sompret kamu. Berani-beraninya.


BAGUS :
Siapa ngomongin ? Ini perkenalan tokoh, namanya.


MARJUKI :
Pakai diperkenalkan segala. Memangnya saya tidak bisa memperkenalkan sendiri
tokoh yang saya mainkan ?


BAGUS :
Bisa, bisa. Justru ini untuk membantu situ. Supaya penonton lebih jelas, Marjuki itu
tokoh macam apa. Soalnya akting situ pas-pasan.


MARJUKI :
Sembarangan ! Saya aktor. Main saya dijamin bagus. Dalam lakon ini Marjuki pun
tokoh penting, jelas karakternya. Tidak perlu diperkenalkan.


BAGUS :
Tetap perlu diperkenalkan, kawan. Jangan kata Marjuki, capres juga perlu perkenalan,
perlu kampanye. Kalau tidak, nggak akan dapat dukungan publik. Malah ada capres
yang bikin buku dulu sebelum mencalonkan diri. Mereka membangun imej yang
hebat-hebat tentang dirinya. Padahal, begitu jadi presiden, sami mawon.


MARJUKI :
Sudah jangan ngelantur.


BAGUS :
                                                                                    5


Saya bukan ngelantur, saya bicara fakta. Eh, tahu tidak bedanya capres dengan aktor ?


MARJUKI :
Tahu. Mereka harus sama-sama jago akting.


BAGUS :
Pinter. Sekarang bedanya aktor dengan Presiden ?


MARJUKI :
Aktor menjalankan amanat lakon. Presiden menjalankan amanat rakyat.


BAGUS :
Betul. Terus ? Kenyataannya, presiden menjalankan amanat rakyat tidak ?


MARJUKI :
Itu pertanyaan saya juga. Sudah ah, kamu ngelantur lagi.


BAGUS :
Ini juga bagian dari amanat. Kita semua masing-masing punya tugas, misi atau
amanat. Marjuki, dalam lakon ini punya tugas sebagai tokoh antagonis atau si jahat.
Dalam kehidupan nyata, orang tua seperti Marjuki, tidak boleh begitu. Orang tua
harus ngemong anak. Harus mengerti kemauan anak. Bukan main larang. Apalagi
dalam urusan cinta.


BAGUS : ( MENYANYI )


       CINTA ADALAH ANUGERAH ALAM
       ANUGERAH SANG PENCIPTA
       JANGAN COBA DIKEKANG
       APALAGI DILARANG


       BIARKAN CINTA TUMBUH
       MENGIKUTI ATURAN ALAM
       BIARKAN ANAK MERDEKA
                                                                6


     MEMILIH JALAN


( PARA PEMAIN SUDAH SELESAI MENATA PANGGUNG KEMUDIAN IKUT
MENYANYI )


     TAPI PARA ORANG TUA
     SELALU PUNYA SENJATA
     DAN KAMI TERKAPAR TAK BERDAYA
     “ JANGAN INI JANGAN ITU ”, KATA MEREKA SELALU


( SEMUA PEMAIN UNDUR DIRI, KECUALI MARNI DAN AYAHNYA )




                                            LAMPU BERUBAH




ADEGAN SATU

BERANDA DEPAN RUMAH MARJUKI. SIANG.


SETELAH      MENGGAMBARI    SELURUH    TEMBOK    RUMAH,   MARNI
MENGGAMBARI LANTAI. ITULAH UNGKAPAN PROTES MARNI KEPADA SANG
AYAH, SEBAB SELALU DILARANG PACARAN.


SEBELUMNYA, MARNI PROTES DENGAN CARA MOGOK BICARA SEMINGGU.
SEBELUMNYA LAGI, IA MOGOK MAKAN DAN TIDAK KELUAR KAMAR 3 HARI
TIGA MALAM.


MARJUKI BARU DATANG DARI KELURAHAN, KAGET MELIHAT AKSI MARNI.


MARJUKI :
                                                                                 7


Ya, ampun. Protes model apa lagi ini Marni ? Masa, seluruh rumah digambari
begini ? Aduh … aduuhh … gambar apa pula ini ? ( MEMANDANG LEBIH
SEKSAMA ) Ya ampun, Marni .. Marni … saya pikir protes kamu sudah cukup. Tujuh
hari mogok bicara, 3 hari 3 malam mogok makan dan tidak keluar kamar, eh masih
ada lagi. Seluruh rumah digambari begini. Lukisan abstrak lagi. Soal protes dengan
cara yang lain-lain itu, okelah. Ayah bisa terima. Tapi lukisan abstrak ini, saya
keberatan. Melukis itu ada aturannya. Pertama orang harus melukis realisme,
surealisme, kemudian yang lain-lainnya, baru abstrak.


MARNI :
Itu kuno.


MARJUKI :
Apa salahnya kuno kalau baik ?


MARNI :
Apa salahnya modern kalau juga baik ?


MARJUKI :
Sudahlah Marni, jangan ajak ayah berdebat. Capek.


MARNI :
Marni juga capek, makanya kemaren seminggu diam.


MARJUKI :
Marni, sekali lagi ayah tegaskan. Ayah tidak melarang kamu pacaran. Ayah hanya
tidak setuju dengan caramu. Kamu pacaran tidak kenal waktu. Pagi, siang, sore,
malam. Itu satu. Kedua, ayah ingin kamu benar-benar memilih pemuda yang cocok.


MARNI :
Itu sama saja dengan melarang.


MARJUKI :
Lain, Marni. Beda.
                                                                                8



MARNI :
Sama !


MARJUKI :
Mmm … berdebat lagi.


MARNI :
Dulu, ayah melarang Marni dekat sama Ongky. ― Jangan yang beda agama ‖ kata
ayah. Lalu Marni dekat sama Taufik, ayah juga melarang. ― Jangan dengan anak
pejabat. Miskin tidak pantas, kaya disangka KKN ‖ begitu.


Sekarang, Marni dekat sama Anto, jelas dia anak baik, se-iman, bukan anak pejabat.
Apa lagi ? Apa ayah tidak ada kata lain selain ― jangan ‖ ?


MARJUKI :
Siapa rela punya anak pacaran sama pengangguran ?


MARNI :
Siapa bilang dia pengangguran ? Dia sekolah ayah.


MARJUKI :
Kalau sekolah ngapain tiap pagi mondar-mandir naik motor ?


MARNI :
Pagi dia ngojek.


MARJUKI :
Kapan sekolahnya ?


MARNI :
Anto Masuk siang.


MARJUKI :
                                                                                  9


Kalau sekolah siang kenapa malam-malam sering datang ke sini ? Habis sekolah
mustinya pulang ke rumah, bukan main ke sini.


MARNI :
Malam dia narik angkot ayah. Kalau lagi sepi, atau angkotnya dibawa orang lain baru
main. Kan tidak tiap malam Anto ke sini ?


MARJUKI :
O, supir tembak ? Ampun Marni, apa yang bisa diharap dari tukang ojek dan sopir
tembak ?


MARNI :
Jangan kuatir. Dia punya cita-cita tinggi, punya platform !


MARJUKI :
Syarat yang diperlukan sebagai calon suami adalah hidup mapan, punya pekerjaan
tetap, penghasilan cukup, dan sayang sama kamu.


MARNI :
Itu pendapat kuno.


MARJUKI :
Biar kuno kalau baik apa salahnya ?


MARNI :
Biar modern kalau baik juga apa salahnya ?


MARJUKI :
Jangan mengajak berdebat Marni. Capek !


MARNI :
Saya juga capek dan tidak ada waktu. Masih banyak yang harus Marni kerjakan.
Seluruh rumah harus saya lukis. Tapi catnya kurang. Permisi dulu. Saya mau beli cat.
( PERGI )
                                                                                  10



MARJUKI :
Duh, aduh …           ( MENYANYI )


                      AMPUN … AMPUN …
                      SUNGGUH-SUNGGUH MINTA AMPUN
                      PUNYA ANAK GADIS PUBER SEMATA WAYANG
                      REPOTNYA BUKAN KEPALANG
                      MAU DIKASIH KEBEBASAN
                      TAKUT JADI SALAH JALAN
                      TAPI KALAU DILARANG
                      BIKIN GEGERAN SIANG MALAM
                      AMPUN, AMPUN …!




                                                          LAMPU BERUBAH




ADEGAN DUA

AULA SEBUAH SMU. SIANG.


PARA SISWI / SISWA SEDANG ESKUL MENARI. MEREKA BERGERAK TANPA
PENGHAYATAN. IBU WIWIK MEMBERI PENGARAHAN.


IBU WIWIK :
Coba perhatikan semua. Irna, Audi, Lala, semua tenang dulu sebentar.
( SETELAH SEMUA TENANG )


Perhatikan ya. Menari itu bukan asal bergerak. Tapi bergeraklah dengan perasaan,
dengan emosi atau greget. Tanpa dibarengi perasaan, tarian kalian tidak akan menarik.
Hambar, kosong. Seperti robot ! Dan penonton akan cepat bosan, lalu pulang.
                                                                                  11


Menyedihkan. Tontonan yang ditinggalkan penonton sebelum waktunya adalah
tontonan yang sangat menyedihkan.


Sekarang coba lagi dari awal. Coba pakai musik. Ibu mau ke toilet. Irna, pimpin
teman-teman, ya. ( PERGI )


IRNA :
Baik, bu. Yuk, teman-teman. Langsung ya ?


LALA :
Istirahat dulu dong.


AUDI :
Heeh, BT nih.


YANG LAIN :
Ya. Pegel juga ya ?


AUDI :
Neyesel juga milih tari tradisi. Mana gerakannya lambaaattt … jawa banget deh !


YANG LAIN :
Ember …


IRNA :
Siapa yang dulu ngotot milih tari tradisi ?


AUDI :
Eh, bukan gue lagi. Keputusan bersama kan ?


LALA :
Ya. Tapi provokatornya kamu. Lala bilang modern dance aja. eh, kamu ngotot.


AUDI :
                                                                                12


Gara-gara ibuku juga sih. Tradisi, tradisi aja, supaya kamu kenal tradisi. Tahunya
pegeeelll. Gerakannya lambaaatttt … pantes Marni nggak mau ikut.


( MARNI MENDADAK MUNCUL )


MARNI :
Heh, latihan yang bener. Jangan mengeluh.


SEMUA :
Eh, nongol dia.


LALA :
Heh, katanya masih mogok sekolah. Kok nongol ?


MARNI :
Aku cuma mampir, habis beli cat.


AUDI :
Mau ngecat rumah ? Wah, mau hajatan rupanya ? Orang tua Anto mau melamar ?


MARNI :
Gila ! Tapi betul teman-teman, aku punya hajatan. Kalian harus datang, ya ?


IRNA :
Acara apa dong, yang jelas ?


MARNI :
Datang saja, pokoknya seru. Ini acara kejutan, jadi sengaja tidak pakai penjelasan.
Datang dan bawa makanan apa saja, kueh kek, rujak kek. Apa saja, soalnya aku nggak
sempat masak. Kabarkan ke yang lain ya ? Dah .. ( PERGI )


AUDI :
Acara apa sih ?
                                                              13


SEMUA :
Mana tahu.




                                              LAMPU BERUBAH




ADEGAN TIGA


DI SEBUAH TEMPAT. MALAM.


ANTO SENDIRIAN, HATINYA GUNDAH.




ANTO : ( MENYANYI )


      … DUDUDUDU … DUDU .. DUDUDU .. DU …
      HUHU .. HUHU . HUHU … YEHE .. HEHE ……


      SIAPA BILANG CINTA INDAH UNTUK DIKENANG
      DUDUDU … DUDU .. DUDU .. DUDU …
      YEYEYEYEY … YEY .. YEY .. YEYE ….


( CEPI, DATANG DIAM-DIAM. NIMBRUNG NYANYI )


      UNTUK DIKENANG SIAPA BILANG CINTA INDAH
      CINTA INDAH SIAPA BILANG UNTUK DIKENANG
      DIKENANG UNTUK SIAPA CINTA INDAH BILANG


CEPI : ( MENYANYI )
                                                                                 14


         SIAPA SANGKA, CINTA MARNI BIKIN PATAH HATI
         SIAPA SANGKA, CINTA MARNI DILARANG PAK MARJUKI


ANTO :
Setan kamu !


CEPI :
Tenang kawan, tenang. Harap tenang. Semua aman terkendali, karena ada Cepi.
Kamu ingat kan ? Bayu, Agus, Edo, Tyas, Audi, Lala, Irna, semua pernah punya
masalah dalam urusan cinta. Tapi begitu Cepi datang, semua masalah selesai. Jadi
harap sabar, tenang.


ANTO :
Memang siapa yang ribut ?


CEPI :
Sekarang aku sedang berpikir, bagaimana supaya ayah Marni bisa menerima kamu.
Tapi sebelumnya dengar kataku. Ini penting dan perlu diketahui semua orang. Ini ilmu
kuno, tapi manjur. Sayang orang sering melupakan.


Begini, dalam hidup ini ada dua hal yang harus diingat: sukses atau gagal. Menang
atau kalah. Untung atau buntung. Senang atau sedih. Bahagia atau sengsara.
Dalam urusan cinta, juga hanya ada dua kemungkinan: diterima atau ditolak. Jadi
tenanglah.


ANTO :
Memang siapa yang ribut ?


CEPI :
Kalau cinta diterima, kita memang bahagia. Tapi sebetulnya ada sejuta resiko
menunggu. Kamu harus apel setiap malam Minggu, harus datang tepat waktu, harus
berpikir baju dan parfum apa yang pantas dipakai, punya uang saku, dan hadiah apa
yang pantas diberikan pada saat si dia merayakan ulang tahun.
                                                                               15


ANTO :
Memang siapa yang bikin aturan begitu ?


CEPI :
Itu baru tahap-tahap awal. Tahap berikutnya, lebih repot. Kamu harus datang
silaturahmi pada kakek-neneknya, pada para om dan tentenya waktu mereka hajatan,
harus datang waktu sepupu-sepupu dia kawin, atau ultah dan semacamnya.


ANTO :
Siapa yang bikin aturan begitu ?


CEPI :
Pada tahap yang paling serius, waktu kamu sudah nikah dengan dia misalnya, kamu
akan dibilang orang paling sombong dalam keluarga mereka, hanya gara-gara tidak
datang waktu mereka bikin acara arisan keluarga. Bayangkan, arisan keluarga, acara
paling membosankan di dunia pun kamu harus datang. Itulah resiko kalau cinta kita
diterima seorang gadis. Jadi ditolak, sebetulnya lebih bagus.


( ANTO TERTAWA )


CEPI :
Kenapa tertawa ?


ANTO :
Kamu penyitir yang hebat.


CEPI :
Maksudnya ?


ANTO :
Kamu menyitir buku “ Enaknya Hidup Membujang ” kan ?


CEPI :
Kok tahu ?
                                                                             16



ANTO :
Yang nulis buku itu pamanku. Aku sudah baca sebelum buku itu dicetak. Aku pikir
cuma aku yang hafal luar kepala, ternyata kamu lebih hafal lagi. Kapan kamu baca
buku itu, tadi siang ya ?


CEPI :
Bukan. Tadi sebelum ke sini.


ANTO :
Pantes, hafal sampai titik komanya.
Tapi maaf Cepi, aku tidak sepakat dengan buku itu. Ogah aku jomblo seumur hidup.
Aku betul-betul sayang sama Marni, dan ingin suatu saat hidup bersamanya.
Bisa tidak bisa, harus bisa. Apa pun rintangan yang menghadang, akan kuterjang.
( PERGI )


CEPI :
Anto, tunggu. Anto ! Busyet, Romeo sekali.
( MENYUSUL ANTO )




                                                       LAMPU BERUBAH




ADEGAN EMPAT

RUMAH MARJUKI. SIANG


IRNA, AUDI, LALA DAN BEBERAPA TEMAN MARNI DATANG.
MEREKA SEMUA LANGSUNG MENGAGUMI LUKISAN MARNI.
MARJUKI MENEMUI MEREKA, MARNI TIDAK DI RUMAH.
                                                                                 17



MARJUKI :
Silahkan, silahkan masuk semua.


SEMUA :
Terimakasih …


AUDI :
Marni pergi jam berapa, om ?


MARJUKI :
Sekitar jam 8 mungkin. Buru-buru rupanya, malah tidak pamit. Kapan Marni
menyampaikan undangan dan bilang ada hajatan ?


AUDI :
Kemarin. Marni mampir ke sekolah.


IRNA :
Marni bilang, acara kejutan. Jadi tidak pakai penjelasan acaranya apa.


LALA :
Ya. Keliatannya kemaren dia buru-buru sekali. Habis beli cat dan banyak pekerjaan di
rumah. Dia juga pesan supaya kami bawa makanan. Marni tidak akan sempat masak
katanya. Ini om, kami bawa jajan pasar.


MARJUKI :
O, begitu ya ? Ya .. ya.. Terimakasih .. terimakasih. Mungkin yang Marni maksud
acara kejutan ya ini, lukisan-lukisan yang memenuhi rumah ini. Sebab setahu saya
tidak ada kejutan lain.    Kami pun tidak punya hajatan apa-apa. Jadi silahkan
menikmati lukisan-lukisan ini.


( SEMUA LANGSUNG MENGAGUMI LUKISAN MARNI )


AUDI :
                                                                                 18


Ini semua Marni yang melukis om ?


MARJUKI :
Ya, Marni semua.


IRNA :
Luar biasa. Sangat berbakat.


LALA :
Fantastis !


IRNA :
Di mana Marni belajar melukis om ? Setahu saya, di sekolah Marni tidak pernah
belajar.


MARJUKI :
Saya juga kurang tahu. Sejak kanak-kanak Marni lebih tertarik menari atau menyanyi.


AUDI :
Apa ini yang dikerjakan Marni selama seminggu lebih tidak masuk sekolah ?


MARJUKI :
Marni mengerjakan ini hanya sehari semalam.


SEMUA :
Oh … luar biasa.


IRNA :
Sangat luar biasa ! ( BEBERAPA SAAT DIAM )
Om, ada apa sebetulnya dengan Marni ?


LALA :
Apa dia sedang jatuh cinta dan ...
                                                                                   19


AUDI :
.. .dan om melarangnya ?


MARJUKI :
Saya tidak pernah melarang. Saya hanya meminta Marni memilih pemuda yang tepat
dan jangan pacaran sembarang waktu. Jangan sampai pacaran mengganggu jam
belajar. Itu kan tuntutan umum setiap orang tua ?


IRNA :
Mungkin cara om meminta pada Marni terlalu keras, dan …


LALA :
.. dan Marni terluka hatinya.


IRNA :
Ya, terluka hatinya. Lihat om, lihat semua lukisan itu. Saya bisa menangkap, luka hati
yang sangat, sangat …


AUDI :
… sangat dalam ….


IRNA :
Maaf om, sebagai orang tua om tentu lebih tahu bagaimana menyayangi anak.
Tapi sebagai anak, kami-kamilah yang lebih tahu apa yang kami butuhkan dari orang
tua. ( PADA AUDI ) Bukan begitu ?


MARJUKI :
Mungkin begitu …


AUDI :
Lihat om, lihat lukisan yang sebelah sini.


MARJUKI :
Ya, saya lihat.
                                                                             20



AUDI :
Om lihat warna putih yang menggumpal seperti awan ?


MARJUKI :
Ya.


AUDI :
Apa yang om rasakan waktu melihat gumpalan warna putih itu ?


MARJUKI : ( BINGUNG )
Ee … e ..


AUDI :
Saya merasakan hati pelukisnya yang tengah kosong, hilang harapan, hampa.


LALA :
Mungkin, waktu Marni melukis itu, darahnya tengah berhenti mengalir, karena
kepedihan yang sangat.


IRNA :
Bisa jadi hati Marni serasa terbang ke awan, sebab bumi tempatnya berpijak tidak
memberi harapan apa-apa.


AUDI :
Om lihat, warna hitam di lantai sebelah sini ?


MARJUKI :
Yang mirip gua karang bolong ?


AUDI :
Ya. Apa yang timbul dalam imajinasi om memandang lukisan ini ?


MARJUKI : ( BINGUNG )
                                                                                  21


Ya .. ada semacam ..


IRNA :
Saya merasakan masa depan yang suram, gelap ..


LALA :
Seperti masuk sumur tanpa dasar.


AUDI :
Persis !


IRNA :
Mungkin sebaiknya om bicara dengan Marni, tanyakan apa yang terjadi. Semua
lukisan ini adalah isyarat yang sangat jelas, hati Marni sedang kacau. Mungkin ada
keinginan terpendam yang tidak kesampaian. Kalau saya jadi om, saya akan kabulkan
apa pun keinginan Marni.


LALA :
Ya, om harus bicara dan mengabulkan keinginannya.


IRNA & AUDI :
Harus.


MARJUKI : ( RAGU-RAGU )
Ya, ya, soal bicara dengan Marni saya rasa itu usulan yang baik. Dan saya sudah
sering mencoba. Tapi kalau soal mengabulkan keinginan Marni, harus saya timbang-
timbang dulu. Dan, maaf ya, anu, saya ada rapat RT di kelurahan. Saya sudah
terlambat. Saya kan ketua RT paling senior di kampung ini, jadi malu kalau terlambat.
Apa kalian mau menunggu Marni pulang, atau bagaimana ?


AUDI : ( BINGUNG )
Mungkin …


IRNA : ( BINGUNG JUGA )
                                                                                   22


Mungkin sebaiknya kami pulang.


LALA :
Ya. Nanti kami datang lagi kapan-kapan.


YANG LAIN :
Salam buat Marni ya om.


IRNA :
Sampaikan pada Marni, kami gembira sekaligus sedih atas acara kejutan ini.


MARJUKI :
Ya, ya … saya sampikan nanti.


( TEMAN-TEMAN MARNI PERGI )


MARJUKI :
Kurang ajar. Berani-beraninya kasih nasehat sama saya. Apa hak mereka menyuruh
saya menuruti apa saja kemauan anak saya ? Sok pintar. Aku susah payah membiayai
anakku, aku punya hak atas masa depan anakku. Ini pasti akal-akalannya si Marni
sama si Anto.


MARNI : ( MUNCUL DARI DALAM )
Jangan menuduh sembarangan, ayah. Aku tidak tahu apa-apa. Apa lagi Anto. Semua
yang mereka lakukan tadi, adalah isnisiatif mereka sendiri. Aku sudah mencegah tapi
mereka ngotot. Itu sebabnya aku pergi.


MARJUKI :
Mereka datang atas undanganmu kan ?


MARNI :
Aku memang mengundang mereka, tapi sekedar untuk ngobrol dan pamitan. Aku mau
jadi TKI ke luar negeri. Itu protesku selanjutnya pada ayah. Dan aku akan terus protes
sampai ayah mengijinkan aku pacaran sama Anto.
                                                                            23



MARJUKI :
O, begitu ? Jadi kamu pikir dengan protes keras ayah akan mengijinkan ?


MARNI :
Tentu ada syarat lain. Aku harus mandiri. Dengan bekerja aku punya uang. Dengan
uang aku bisa menentukan masa depanku sendiri. Selamanya anak akan kalah suara,
kalau anak masih tergantung sama uang orang tua.


MARJUKI :
Stop Marni ! Itu pikiran yang dangkal.


MARNI :
Kita tidak perlu berdebat ayah. Aku pergi dulu, banyak urusan. ( PERGI )


MARJUKI :
Marni … ( MENGEJAR MARNI )




                                                                 LAMPU PADAM




ADEGAN LIMA

SEBUAH TEMPAT. MALAM.


ANTO SEDANG DIBUJUK CEPI UNTUK SEGERA MENEMUI MARNI


CEPI :
Aku serius Anto. Kamu harus ke rumah Marni. Kamu akan menyesal kalau Marni
keburu pergi.
                                                                                 24


ANTO :
Kalau memang mau pergi masa dia tidak kasih tahu aku ?


CEPI :
Mungkin belum sempat kasih tahu.


ANTO :
Dari mana kamu dapat berita itu ?


CEPI :
Irna, Audi, Lala, semua sudah tahu.


ANTO :
Kalau dia sempat kasih tahu semua orang masa saya tidak dikasih tahu ?


CEPI :
Mungkin belum sempat, makanya datang supaya tahu. Cari berita, jangan pasif.


ANTO :
Barangkali memang sengaja tidak mau kasih tahu. Sudah tidak peduli sama aku.


CEPI :
Aku tahu sifat Marni. Tidak mungkin dia begitu.


ANTO :
Nyatanya dia begitu.


CEPI :
Tidak mungkin Anto. Aku yakin ini soal waktu. Mungkin dia menunggu waktu yang
tepat untuk bicara sama kamu. Kalian kan lama tidak saling ketemu. Biasanya kamu
datang ke rumah Marni, sekarang tidak. Biasanya kalian jalan bareng, sekarang tidak.
Marni juga lama tidak masuk sekolah.


ANTO :
                                                                              25


Memang tidak bisa telpon ?


CEPI :
Telpon ke mana ? Kamu HP tidak ada, di rumah jarang.


ANTO :
Jelas, dia sudah berubah. Tidak sayang aku lagi.


CEPI :
Dari pada mengambil kesimpulan buru-buru dan salah, lebih baik kamu buru-buru ke
rumah Marni dan semuanya jadi jelas. Tidak ada yang salah terima, tidak ada yang
sakit hati. Ayo, kita ke sana. Aku siap menemani.


ANTO :
Kalau ayahnya mengusir kita bagimana ? Aku trauma pernah diusir.


CEPI :
Diusir kita pergi. Dimarahi kita diam. Disuguhi kita makan.


ANTO :
Kamu bisa bilang begitu, coba kamu jadi aku.


CEPI :
Kalau aku jadi kamu, tidak akan pernah diusir. Malah ayah Marni yang akan kubikin
mencari-cari aku.


ANTO :
Bagaimana caranya ?


CEPI :
Anak gadisnya kita buntingin !


ANTO :
Ngaco !
                                                                              26



CEPI :
Ayo berangkat. Ambil motormu dong.


ANTO :
Jalan kaki saja. Knalpotnya tambah bocor, berisik sekali. Ayah Marni paling benci
mendengar bunyi motorku.


CEPI :
Ya sudah. Ayo !


ANTO :
Kamu jalan di depan, aku di belakang.


CEPI :
Aduh. Begitu amat. Seberapa trauma sih ?
( CEPI JALAN, ANTO MENGIKUTI DI BELAKANGNYA )


ANTO : ( BERHENTI )
Tunggu Cepi. Bagaimana kalau Marni tidak mau menemui kita ?


CEPI :
Gampang, ingat saja nasehat buku ― Enaknya Hidup Membujang ‖. Oke ?


ANTO :
Tidak. Lebih baik aku pulang. ( PERGI )


CEPI :
Ampun … Anto, Anto ! Kenapa kamu jadi pengecut begitu sih ? Anto ! Ampuuunn.
( ANTO TERUS JALAN, CEPI MENGIKUTI )




                                                        LAMPU BERUBAH
                                                                              27




ADEGAN ENAM

TAMAN DEKAT SEKOLAH. SORE.


MARNI DIBUJUK TEMAN-TEMANNYA SUPAYA JANGAN PERGI.


                                                                INTRO MUSIK


AUDI :
Jangan Marni, jangan pergi. Pergi tidak akan menyelesaikan masalah.


IRNA :
Justru kamu akan bikin masalah baru.


LALA :
Jadi TKI itu tidak gampang Marni. Kamu akan banyak kesulitan.


IRNA :
Sebaiknya kamu segera masuk sekolah. Sebentar lagi kita ujian, tahun depan kita
harus kuliah. Lupakan keinginan konyol itu.


SEMUA :
Lupakan … Marni !


MARNI :       ( MENYANYI )


              AKU HARUS PERGI
              RUMAH TAK LAGI MEMBERIKU KEDAMAIAN
              SEBAB AKU DAN AYAH TAK PERNAH SEPAHAM
              CINTA PEMUDA YANG KUDAMBAKAN
              SELALU LEPAS DARI GENGGAMAN
                                                                               28


AUDI :
Bersabarlah, Marni. Kita masih banyak kesempatan. Waktu berjalan, sikap ayahmu
pasti berubah.


IRNA :
Orang seusia kita selalu diangap masih kanak-kanak. Dianggap belum waktunya
pacaran.


LALA :
Memang menjengkelkan, tapi di mana-mana selalu begitu.


MARNI :          ( MENYANYI )


                 AKU TAK MAU BEGITU
                 MASA DEPANKU ADALAH MILIKKU
                 URUSAN CINTA HARUS KITA YANG MENENTUKAN


IRNA :
Tapi ayahmu bilang tidak melarangmu pacaran. Dia hanya minta kamu memilih
pemuda yang tepat, dan jangan sampai pacaran mengganggu belajar.


MARNI :          ( MENYANYI )


                 ITU SAMA DENGAN MELARANG


Ayahku bahkan pernah mengusir Anto. Gara-garanya sangat sepele. Suara berisik
knalpot motor Anto yang bocor. Padahal ada banyak suara knalpot motor yang lebih
berisik lewat di depan rumah. Itu tidak adil.


AUDI :
Tapi semua pacar-pacar kita pernah ada masalah dengan orang tua kita. Semua pernah
diperlakukan tidak adil. Hubungan kalian pasti akan membaik.


MARNI :
                                                                                  29


Ketidakadilan harus diperjuangkan, kawan. Sebab ia tidak datang dari langit.
Hubungan bisa saja membaik, tapi pasti ada prinsip dan hak-hak yang dilanggar. Ada
yang menindas dan tertindas. Dan itu tidak baik.


LALA :
Tapi kami tetap tidak rela kamu pergi Marni. Apa lagi pergi ke luar negeri untuk jadi
TKI.


IRNA :
Ya. Omonganmu yang pintar tadi membuktikan kamu tidak pantas jadi TKI. Kamu
harus lulus SMU dan kuliah.


MARNI :
Soal ke luar negeri dan jadi TKI, bisa jadi aku memang asal bicara. Yang jelas aku
harus pergi dari rumah. Mungkin itu protes yang mempan buat ayahku.


AUDI :
Itu lebih baik Marni. Kamu bisa tinggal di rumahku. Soal biaya sekolah, jangan
kuatir. Ayahku pasti mau bantu.


LALA :
Ayahku juga pasti mau bantu. Tapi kamu harus tinggal bergiliran di rumah kami
bertiga dong, supaya adil.


IRNA :
Ya. Aku setuju.


AUDI :
Kalau kamu tidak ke luar negeri, pacaran sama Anto tetap berjalan lancar. Hidup
backstreet !


MARNI :
Tunggu. Kalian jangan salah ngerti. Aku pergi dari rumah bukan semata-mata protes.
                                                                               30


Tapi juga bermaksud mandiri. Supaya aku tidak tergantung siapa-siapa. Supaya aku
merdeka menentukan masa depan. Tinggal di rumah kalian jelas bukan pilihan yang
tepat. Aku tetap jadi tanggungan orang.


AUDI :
Itu tidak masalah Marni. Kami ikhlas membantumu. Itulah gunanya sahabat.


LALA :
Yang penting kamu tetap bisa sekolah.


MARNI :
Prioritas utamaku sekarang cari kerja supaya bisa membiayai hidupku sendiri.
Sekolah aku pikirkan belakangan. Soal pacaran dengan Anto, aku sendiri tidak yakin
tetap bisa jalan. Sejak diusir ayahku, dia tidak pernah muncul lagi. Dia ternyata
pengecut. Tapi terimakasih atas iktikad baik kalian. Selamat sore, aku pergi dulu.
Ada perlu. ( PERGI )


IRNA :
Marni, tunggu. Marni !


LALA & AUDI :
Marniii …


AUDI :
Bagaimana sih dia ?


IRNA :
Kok kepala batu banget ?


LALA :
Memang kepala batu dari sononya.


( CEPI MUNCUL BERGEGAS )
                                                                               31


CEPI :
He, lihat Marni ?


AUDI :
Baru pergi.


CEPI :
Anto ?


AUDI :
Nggak. Sudah lama nggak lihat Anto. Bukannya dia jarang masuk sekarang ?


CEPI :
Memang.


IRNA :
Ada apa ?


CEPI :
Mungkin cuma Anto yang bisa membujuk Marni tidak kabur ke luar negeri.
Kemaren aku bicara sama Anto supaya dia datang menemui Marni, tapi gagal. Malah
Anto ngambek. Merasa tidak dipamiti. Memang Marni belum pamit sama Anto, ya ?.


IRNA :
Kelihatannya begitu. Marni juga ngambek karena Anto tidak pernah datang lagi sejak
dimarahi ayahnya.


CEPI :
Begitu ? Wah, tambah ruwet dong. Terus bagimana ini ?


IRNA :
Bagaimana, bagaimana ? Kita juga tidak tahu bagaimana.
( MENDADAK TERFIKIR ) Cepi, bagaimana kalau kita bagi tugas ?
Begini, coba temui Marni …
                                                                           32



CEPI :
Saya tadi ke rumah dia, tapi tidak ada …


LALA :
Tadi dia di sini …


IRNA :
Temui Marni, bujuk supaya ketemuan sama Anto. Saya, kami bertiga ini, membujuk
Anto supaya ketemuan sama Marni. Bagaimana ?


CEPI :
Tapi Anto sudah dibilangin juga bandel.


IRNA :
Kamu jangan ikutan bandel. Kita berbagi tugas, setuju ? Oke ?


CEPI :
Oke.




                                                          LAMPU BERUBAH.




ADEGAN TUJUH


TAMAN YANG SAMA, BEBERAPA HARI KEMUDIAN. SORE.


MARNI BERTEMU ANTO.
MARNI SUDAH LAMA MENUNGGU, DUDUK DIAM-DIAM.
                                                                               33


ANTO DATANG KEMUDIAN, JUGA DIAM-DIAM.




MARNI :
Aku kira tidak datang …


ANTO :
Aku kira kamu juga tidak datang …


( BEBERAPA SAAT ANTO SALAH TINGKAH. MAU DUDUK DI SEBELAH MARNI
TAPI RAGU. AKHIRNYA IA DUDUK JUGA, TAPI AGAK JAUH. SUASANANYA
SUNGGUH KAKU )


ANTO :
Kamu mau pergi untuk menghindari aku kan ?


MARNI :
Kamu tidak pernah datang ke rumah lagi, kenapa ?


ANTO :
Supaya ayahmu tenang, karena tidak ada suara knalpot motor yang berisik.


MARNI :
Bijaksana sekali …


ANTO :
Aku harus tahu diri. Aku kan cuma tukang ojek dan sopir tembak. Jangan kata
pacaran sama kamu, datang ke rumahmu pun aku tidak pantas.


MARNI :
Oo … jadi begitu cara berpikirmu ? Kalau begitu kamu lebih cocok jadi anak ayahku,
dan memang tidak pantas jadi pacarku. Maaf … selamat tinggal ! ( PERGI )


ANTO : ( KAGET )
                                                                               34


Marni .. Marni …


( MARNI BALIK LAGI )


MARNI :
Maaf, saya tidak ada urusan sama tukang ojek. ( MAU PERGI LAGI TAPI ANTO
MENAHANNYA )


ANTO :
Maaf Marni, aku tidak bermaksud membuat kamu marah.


MARNI :
Kamu sudah membuat aku marah.


ANTO :
Maaf. Aku tidak akan membuat kamu marah lagi. Maaf.


MARNI :
Katakan dengan jujur, kenapa lama tidak datang ? ( LAMA TIDAK MENJAWAB )
Katakan ! Kamu takut sama ayahku ? Aku benci orang yang pengecut Anto. Aku
yakin kamu juga benci orang semacam itu. Jadi salahkan dirimu sendiri, jangan
menyalahkan aku. Aku mau pergi dari rumah, tujuanku jelas. Aku protes keras pada
ayahku karena dia berlaku tidak adil pada kita. Jelas ?


ANTO :
Kamu betul, aku pengecut..


MARNI :
Bagus kalau kamu sadar. Tapi kenapa harus berlaku pengecut ? Kamu tidak salah apa-
apa sama ayahku. Pacaran juga bukan kejahatan. Yang penting kita tahu batas.


ANTO :
Ya. Tapi mungkin ayahmu betul. Kamu harus memilih pemuda yang tepat. Dan itu
bukan aku.
                                                                                   35



MARNI :
Stop ! Jangan mulai lagi Anto. Selain benci pengecut, aku juga benci orang rendah
diri. Dulu kamu begitu percaya diri dengan semua yang kamu kerjakan. Kamu punya
cita-cita dan berjuang keras untuk meraihnya. Itu kelebihan kamu. Itu juga yamg
membuat aku … sayang … sama kamu. Jadi tolong jangan berubah.


ANTO :
Kamu .. betul-betul sayang sama aku ?


MARNI : ( MALU )
Ah, pakai nanya lagi.


ANTO :
Tapi nilaiku jeblok. Aku banyak narik dan bolos sekolah. Aku kuatir tidak lulus.


MARNI :
Belum terlambat untuk mengejar ketinggalan.


ANTO :
Biaya kuliah makin mahal, apa aku sanggup ?


MARNI :
Pasti sanggup. Kamu pekerja keras. Kalau perlu kamu bisa kerja yang lain, yang
penghasilannya lebih banyak.


ANTO :
Tapi ngojek pekerjaan bersejarah, Marni. Itu kan yang mempertemukan kita ?


MARNI :
Ya. Suara knalpot motormu yang berisik membuat aku selalu menengok setiap kamu
lewat di depan rumah.


ANTO :
                                                                           36


Ya. Dan kamu bilang pada teman-temanmu, aku tukang ojek paling keren.


MARNI :
Yang jelas kamu berbeda. Tukang ojek lain kalau nunggu penumpang main gaple,
kamu bikin PR. Tukang ojek lain selalu siap dengan uang kembalian, kamu tidak.
Tukang ojek lain siap menerima uang tip, kamu malu-malu.


ANTO :
Sekarang aku tidak malu, supaya cicilan motor cepat lunas.


MARNI :
Eh, berapa utangku ?


ANTO :
Utang apa ?


MARNI :
Langganan ngojek sama kamu.


ANTO :
Simpan saja uangmu. Aku lagi tidak butuh.


MARNI :
Yang kamu butuh apa dong ?


ANTO :
Pakai tanya lagi. Kita kan lama nggak ketemu ?
Marni. ( MEMEGANG TANGAN MARNI )


MARNI : ( MALU )
Apa sih ?


ANTO :
Soal pergi ke luar negeri, kamu tidak sungguh-sungguh kan ?
                                                                                    37



MARNI :
Tidak tahu. Yang jelas, aku harus pergi dari rumah. Aku tidak tahan, ayahku betul-
betul kelewatan. Tidak adil. ( MENANGIS ) Aku harus protes. Harus ! Sampai ..


ANTO :
Setuju, boleh saja protes. Tapi kan bisa dengan cara lain. Pergi dari rumah, bukan cara
yang tepat. Nanti semuanya jadi kacau.
( MARNI TERUS MENANGIS. ANTO MENENANGKAN )
Tunggu, tenang dulu. Tenang Marni. Dengar. ( MARNI DIAM )
Bagaimanapun, rumah adalah tempat terbaik untuk memulai segala rencana, segala
cita-cita. Dan orang tua, segalak apa pun, tetap sayang sama anak.


MARNI :
Sok tahu, ah !


ANTO :
Aku tidak sok tahu, Marni. Tapi memang tahu.
Kamu juga tahu ayahmu sayang sama kamu. Kamu hanya sedang emosi.


MARNI :
Terus aku harus bagaimana ? Apa usulmu ?


ANTO :
Kamu janji tidak akan pergi ?


MARNI :
Ya. Asal kamu tetap ke rumah seperti biasa.


ANTO :
Janji kembali masuk sekolah ?


MARNI :
Ya. Janji.
                                                                                 38



ANTO :
Oke. Aku punya usul untuk kamu. Ayo, kita bicara di tempat lain.


( MEREKA PERGI )




                                                          LAMPU BERUBAH




ADEGAN DELAPAN


RUMAH MARJUKI. MALAM.


CEPI DATANG KE RUMAH MARJUKI UNTUK MENYAMPAIKAN PESAN
MARNI.


MARJUKI :
Ya ampun, jadi Marni betul-betul mau pergi ke luar negeri ? Aku pikir cuma gertak.


CEPI :
Rupanya begitu, om. Saya juga tidak menyangka Marni sungguh-sungguh.


MARJUKI :
Terus di mana Marni sekarang ? Kapan berangkatnya ?


CEPI :
Saya juga tidak tahu. Dia cuma bilang sekarang ada di tempat penampungan. Saya
tanya bolak-balik di mana alamatnya, dia tetap tidak mau menjawab.


MARJUKI :
                                                                                  39


Tapi apa secepat itu prosesnya ? Diterima jadi TKI bukannya prosesnya panjang ?


CEPI :
Itu juga pernah saya tanya. Dia bilang, ― semua bisa diatur ‖ asal ada uang.


MARJUKI :
Dari mana Marni dapat uang ?


CEPI :
Ya dari uang gaji Marni yang dipotong tiap bulan nanti. ― Semua dibiayai sama
agen ‖, begitu Marni bilang.


MARJUKI :
Apa nama agennya ? Di mana alamatnya ?


CEPI :
Marni tidak sebut-sebut om. Dia hanya minta tolong saya supaya mengambil beberapa
baju yang ketinggalan.


MARJUKI :
Ya ampun, Marni .. Marni. Apa sebegitu besar marahmu sama ayah, sampai-sampai
harus pergi keluar negeri jadi TKI ? Tidak pamit lagi. Coba nak Cepi pikir, apa
pantas ?


CEPI :
Kalau ditanya pantas atau tidak, jelas tidak pantas. Tapi kelihatannya, Marni memang
sangat marah sama om. Tapi terus-terang, sebagai teman, saya tidak setuju Marni
pergi. Marni sebentar lagi ujian dan tahun depan harus kuliah. Setelah lulus kuliah,
terserah mau ke mana dan jadi apa. Jadi TKI ke luar negeri pun tidak masalah. Itu
bukan hal yang jelek. Menyelesaikan kuliah, lebih aman buat masa depan Marni.


MARJUKI :
Ah, itu baru pikiran sehat. Terus, teruskan nak …
                                                                             40


CEPI :
Maaf om, saya tidak bisa lama. Marni memerlukan baju yang saya ambil.


MARJUKI :
Kapan Marni mau ambil baju-baju itu ? Di mana kalian janjian ketemu ?


CEPI :
Maaf om, saya tidak boleh bilang. Itu pesan Marni.


MARJUKI :
Tolonglah nak Cepi, sebutkan. Saya harus ketemu Marni sebelum dia pergi. Tolong,
saya mohon sekali. Please …


CEPI :
Sekali lagi, maaf om. Saya tidak bisa melanggar janji.


MARJUKI :
Please …


CEPI :
Maaf ommm …. Saya tidak bisa. ( MENATAP MARJUKI BEBERAPA SAAT )
Tapi, kalau om bersedia kerjasama dengan saya, kita sebetulnya bisa membatalkan
Marni pergi. Seperti saya bilang tadi, saya tidak setuju Marni pergi.


MARJUKI :
Membatalkan Marni pergi ? Bagaimana caranya ? Jelas saya setuju.


CEPI :
Tapi jangan sampai dia tahu. Ini rahasia antara kita. Om Setuju ?


MARJUKI :
Setuju. Saya bisa pegang janji. Bagaimana caranya ?


CEPI :
                                                                                41


Tunggu dulu. Saya mau tanya, tolong jawab dengan jujur Apa sebetulnya yang
membuat Marni marah sama om ?


MARJUKI :
Saya melarang Marni pacaran sama Anto.


CEPI :
Kenapa ?


MARJUKI :
Saya tidak tahu persis. Saya merasa, si Anto sebetulnya anak baik. Jadi, saya tidak
sungguh-sungguh melarang. Tapi Marni keburu protes keras.
Merasa tidak didengar omongannya, saya jadi tambah jengkel.


CEPI :
Saya lihat Marni begitu juga. Makin dilarang, makin menentang. Intinya sama: ingin
didengar suaranya.


MARJUKI :
Begitu ?


CEPI :
Begitu.


MARJUKI :
Jadi bagaimana caranya supaya Marni tidak jadi pergi ?


CEPI :
Turuti saja kemauannya. Toh om sudah yakin Anto anak baik.


MARJUKI :
Nak Cepi bisa jamin 100% Marni batal pergi ?


CEPI :
                                                                                42


Saya harus ketemu Marni dulu.


MARJUKI :
Kalau begitu temui Marni, segera. Katakan, saya akan ijinkan Marni pacaran sama
Anto. Sesudah itu, ajak mereka berdua ke sini supaya mendengar langsung dari saya.


CEPI :
Om Marjuki bisa pegang janji ?


MARJUKI :
Bisa. Saya jamin !


CEPI :
Baik. Kalau begitu saya jamin 100% Marni batal pergi. Permisi dulu om, saya harus
cari Marni dan Anto sekarang juga. Saya akan kabarkan berita gembira ini.


( IRNA, AUDI, LALA DAN BEBERAPA TEMAN MARNI YANG LAIN MENDADAK
MUNCUL )


IRNA :
Tunggu Cepi ! Maaf om Marjuki, kami mendengar semua pembicaraan ini. Kami
ikut gembira. Tapi itu tidak cukup. Harus ada jaminan tertulis bahwa om Marjuki
akan menepati janji.


CEPI :
Tidak Irna, aku percaya orang tua bijaksana ini.


AUDI & LALA :
Perlu dong !


( ANTO MUNCUL )


ANTO :
                                                                                  43


Tidak, tidak perlu. Cepi betul. Saya juga percaya om Marjuki akan menepati janji. Ini
kan bukan urusan jual beli tanah atau semacamnya. Tapi urusan anak dan orang tua.
Jangan repot-repot. Janji secara lisan sudah cukup.


IRNA :
Tapi …


MARJUKI :
Nak Anto betul, jangan repot-repot. Makin kita repot, makin lama Marni di
penampungan TKI. Kasihan dia. Lebih baik kita cari Marni sekarang. Apa kalian ada
yang tahu alamatnya ?


( MARNI MUNCUL DARI ARAH DALAM )


MARNI :
Marni sudah di sini ayah. Tidak usah dicari.


MARJUKI : ( KAGET )
Marni ? Ah, kemarilah kamu nak. Ayah sangat kuatir ada apa-apa dengan kamu.


MARNI :
Jangan kuatir ayah, Anto menjaga aku. Kalau bukan karena dia, aku pasti jadi TKI
sungguhan.


MARJUKI :
Syukur .. syukur kalau begitu. Terima kasih nak Anto.


ANTO :
Marni melebih-lebihkan om.


MARNI :
Anto meyakinkan aku begitu rupa, segalak apa pun, ayah tetap sayang aku. Dan
rumah adalah tempat terbaik menyusun rencana dan cita-cita.
                                                                            44


MARJUKI :
Bagus. Kamu menemukan pemuda yang tepat anakku.
Dan kamu tidak tinggal di tempat penampungan bukan ?


MARNI :
Tidak.


IRNA, AUDI & LALA :
Di rumah kami om. Kami bertiga.


MARJUKI :
Jadi siapa yang mengatur nak Cepi datang ke mari dan main sandiwara di depan
saya ?


ANTO :
Saya om. Sayalah komadan semua sandiwara malam ini. Sebagai komandan saya
tidak akan lari. Saya siap diadili.


MARJUKI :
Bagus. Itu komandan yang baik. Anda siap saya tuntut di depan penghulu menikahi
anak saya ?


ANTO :
Sekarang ?


IRNA & YANG LAIN :
Huuuu …


MARJUKI :
Nanti, setelah lulus kuliah dong.


ANTO :
Marni, siap jadi anggota Dharma Wanita ?
                                                                             45


MARNI : ( MALU )
Idih, masa harus dibahas sekarang ? Sudah malem lagi. Kayaknya durasinya sudah
lewat deh. Stage manager mana sih ? Stage manager !


YANG LAIN :
Stage manager !


CEPI :
Dia nggak tahu stage manager. Tahunya menejer panggung. Menejer panggung !


MENEJER PANGGUNG :
Ya, ya …


MARNI :
Durasinya sudah lewat belum ?


MENEJER PANGGUNG :
Sudah lewat dari tadi.


MARJUKI :
Bukannya ngingetin.


MENEJER PANGGUNG :
Habis situ ngomong melulu …


MARJUKI :
Ee, malah marah sama saya. Saya tokoh lho, tokoh ini !


MENEJER PANGGUNG :
Biar tokoh kalau ngaco dimarahin.


ANTO : ( TERTAWA ) ( BICARA PADA PENONTON )
                                                                             46


Baiklah penonton sekalian, kelihatannya sudah waktunya bagi kita untuk berpisah.
Lakon sudah tamat, ― pesan sponsor ‖ mudah-mudahan tidak salah alamat. Dan
marilah kita sama-sama beristirahat.




PENUTUP



( ANTO MENGGANDENG MARNI DAN MENYANYI BERSAMA )




ANTO :        ( MENYANYI )


              CINTA ADALAH ANUGERAH ALAM
              ANUGERAH SANG PENCIPTA
              JANGAN COBA DIKEKANG
              APALAGI DILARANG




MARNI :       ( MENYANYI )


              BIARKAN CINTA TUMBUH
              MENGIKUTI ATURAN ALAM
              BIARKAN ANAK MERDEKA
              MEMILIH JALAN



SEMUA :       ( MENYANYI )


              TUGAS ORANG TUA
              HANYA PENGGEMBALA
              PENUNJUK JALAN YANG BIJAKSANA
              MEMAKSAKAN KEHENDAK
                                                              47


BUKAN SIKAP BIJAK




         LAMPU PADAM PERLAHAN


               LAKON SELESAI
                 Depok, Mei 2004




                                             Teriimakasih banyak,
 jika sebelum mementaskan naskah ini memberitahukan pada penulis.
                                               Selamat berkarya !
                                                                          48




BIODATA SINGKAT


Budi Ros.


Lahir di Banjarnegara ( Banyumas ), 6 Januari 1959.


Menamatkan Sekolah Dasar hingga SLTA di daerah kelahirannya.
Mulai tahun 1985 hingga sekarang ( 2004 ) bergabung dengan Teater Koma
mendalami tiga bidang pilihan: penulisan, seni peran, dan penyutradaraan.
Tahun 1989, sempat menjadi mahasiswa IKJ jursan teater.


Selama 9 tahun tinggal di sanggar Teater Koma di bilangan Setiabudi ( 1986 –
1994 ). 10 Juli 1994 menikah dengan Erna N Nursilowati, asal Semarang.
Sejak itu tinggal di Depok, dikaruniai seorang putri, Sekar Dewantari ( lahir
1996 ).


“ Racun kesenian ” diserap sejak kanak-kanak. Sastro Mihardjo, sang ayah,
sering mengajak nonton Wayang Kulit semalaman hingga paginya sering
bolos sekolah. Selain Wayang Kulit, Wayang Orang dan Ketoprak seolah jadi
tontonan wajib. Pasalnya, sang ayah sering “ nimbrung main ” setiap ada
Ketoprak atau Wayang orang keliling mentas di kampung.


Tahun 2004, naskah dramanya berjudul FESTIVAL TOPENG mendapat
penghargaan dalam sayembara penulisan naskah drama Dewan Kesenian
Jakarta.




Alamat :
                                                 49


Perumahan Puri Anggrek Mas
Jl. Anggrek VI C, Blok E 1 No. 2
Depok Barat 16434.


Telpon/fax : (021) 77883525 – HP : 08161949863
                                                                       50




Naskah drama / teater


Judul :
LIT


Oleh : Viddy AD Daery

Untuk pementasan 45 menit s-d 60 menit




SINOPSIS                  LIT            :
Di tengah kesemrawutan hukum Di REPUBLIK JOMBROT , Lit, pemimpin non-

formal dari kaum terpelajar miskin, menantang kekuasaan semena-mena sistem
                                                                           51


pendidikan yang mahal dan mencekik rakyat, juga melawan polisi dan hamba-hamba

hukum yang justru mempermainkan hukum.


Tapi, alam selalu mempunyai hukumnya sendiri.



Tokoh-tokoh :

Lit………………………………19 tahun.

Kepala sekolah………………….45 tahun.

Orang BP 3……………………..35 tahun.

Pemimpin Gelandangan………..30 tahun.

Pemimpin Satpol Tramtib………30 tahun

Komandan Polisi………………..35 tahun




LIT
Oleh : Viddy AD Daery
                                                                               52


Setting : latar belakang bentuk sekolah dijepit gedung-gedung tinggi.
Foreground : kumuh, tumpukan sampah dimana-mana persis di Indonesia.
Tanah-tanah basah dan becek, tergenang air dan lumpur.
Banyak lalat beterbangan.
Kucing dan ayam mengais-ngais sampah.
Kejorokan sangat terasa di mana-mana.
Dinding sekolah dicoret-coret.
Genteng sekolah bocor, piannya ngelingkap, jendela pecah pokoknya nggak
terurus, duitnya Cuma dikorupsi para penggede.

Lampu gelap remang-remang memperlihatkan bentuk setting.
Lampu menyorot fokus bidang-bidang kumuh yang harus diperhatikan penonton.

Musik gemrenggeng aneh, penuh suara kucing,lalat, ayam dan suara desah orang
bermain sex. Juga bicara berebut rokok.

Lampu yang gelap tiba-tiba menyorot terfokus pada seorang remaja berseragam SMU
yang belel dan ditulisi macam2 juga bertambal-tambal, pokoknya amburadul,
rambutnya awut-awutan.

Dia berdiri dan menggugat :

LIT       :

Kenapa seluruh pelajaran budi pekerti yang diajarkan sejak SD sampai SLTA tidak
berlaku di kehidupan nyata ?

( hening …3 menit )

Kenapa seluruh ajaran Kitab Suci dan teladan para nabi menjadi NOL dalam
perjalanan hidup di REPUBLIK JOMBROT ini ?

( hening….lampu menyoroti tubuh2 yang teler…)

Tiba2 musik disko berdentam…

Kamera menyorot anak2 SMU yang mabok, mereka bangkit lalu berdansa rancak
pakai koreografi yang bagus, mengikuti irama disko, bagai di videoklip MTV di TVG
:

Syair :

Lit,Lit,Lit..kita kawula alit
Lit,Lit,Lit…kita orang kejepit
Jangan lagi menjerit
Jangan lagi mencicit

Mereka tak akan menggubris
                                                                               53


Mereka tak akan perduli

Elit kita elit tulalit
Elit kita elit yang sakit

Telinganya congekan
Penuh cureg ambune badheg…baunya nggak ketulungaaaannnn….


Usai dansa….mereka kecapekan…

Tiba-tiba Kepsek dan BP 3 datang dan menegur mereka :

KS      : waaaah…waah….diamput tenan iki….
                Ini dia biang rusuh sekolah kita ini
Wis sekolah bolos terus…
SPP nggak pernah mbayar
Iuran OSIS gak bayar
Iuran komputer gak bayar
Iuran renang gak bayar
Iuran BP 3 gak bayar
Iuran guru udunen gak bayar
Iuran bu guru hamil gak bayar
Iuran kucing pak guru ketabrak truk gak bayar
Iuran fotokopi rumus-rumus gak bayar
Iuran ulang tahun guru kesenian gak bayar
Iuran tetangga pak guru kawinan gak bayar
Iuran guru agama naik haji gak bayar
Iuran guru fisika pindah rumah gak bayar
Iuran guru baru pesta tumpengan gak bayar
Iuran kepala sekolah kawin lagi gak bayar…waaah..wahhh….
Kalian ini kalau MISKIN JANGAN SEKOLAAAH !!!!

Sekolah sekarang hanya untuk orang berduit tahu !
Sudah nggak jamannya lagi sekolah mbayar bolet !           (keterangan: bolet= ubi
jalar ).


Lit membantah :
Tapi kenapa di Malaysia,Brunei,Singapura, Thailand, bahkan di Srilangka yang
negara miskin aja SEKOLAH BISA GRATIS !!!! ?????

KS bingung lholak-lolok gak bisa jawab.
KS nanya ke BP 3 :

Pak BP 3…gimana jawabannya nih ?
Kamu kan yang paling bisa ngajarin aku praktek-praktek pemerasan terhadap orang
tua siswa ?
                                                                                               54


BP 3 membisiki : wssswssswsss….

KS        : Opoooo ???????? Wswswsws…iku opo ????

BP 3      : Whalah bapak ini ah…itu lhooo…wswswswswsw…..

     KS : Oooo yayaya….pemerintah negara-negara asing itu kan memberi subsidi terhadap dunia
     pendidikan, goblok !


     Pemerintah kita kan sudah mencabut subsidi pendidikan, dananya dikorupsi…weeeek….goblok !



BP 3      : Lho pak, yang goblok Bapak !

KS        : Heh, lha kok aku yang goblok ?

BP 3      : Ya sudah, yang goblok dan bajingan adalah pemerintah !

LIT       : ( bernada sangat marah dan berang )
     Kenapa ? Kenapa subsidi kepada anggota-anggota DPR, uang dinas jabatan menteri dan pejabat-

     penjabat tinggi justru dinaikkan kok malah subsidi pendidikan dicabut ????



KS        : Lha yo embuh….kok nanyak aku…

BP 3      : Lho pak, jawabannya wswswswswswsws….

KS        : Jawabannya wes hewes hewes bablas angine…..

BP 3      : Lho bukan gitu pak….ssst…wewswswswswsws

KS        : Oooo, ya supaya kalian bayar sekolah, gitu aja kok repot !
            Lagian bukankah orangtua kalian selama ini adalah rakyat paling baik di
dunia ?
           Tapi sebenarnya berarti rakyat paling bodoh didunia hehehehe….

           Lha ya toh….orang tua kalian bayar tarif listrik yang terus naik, nggak
           pernah protes.

           Tarif telpon naik, gak penah protes.
           Tarif air minum naik, gak pernah protes.
           Iuran sampah naik, gak pernah protes.

           Iuran RT RW…bayaaar aja.
           Iuran 17 agustusan, bayaar aja.
           Iuran lebaran, bayaar aja.
           Iuran natalan, bayaar aja.
           Iuran imlek, bayaar aja.
           Iuran nyepi, bayaar aja.
                                                                                              55




( Ayo penonton, kalian kan rakyat yang baik…kalau aku habis omong kalian bilang :
bayaaar aja….ayo mulai…)

          Harga minyak naik, ( penonton : bayaaar aja…dst )
          Elpiji naik,
          Daging naik,
          Sayur mayur naik,
          Tempe naik,
          Onde-onde naik,
          Gula nak,
          Telur naik,
          Susu naik,
          Terigu naik,
          Sabun naik,
          Odol naik,
          Baju naik,
          Sepatu naik,
          Minyak rambut naik,
          TARIF NDOLLY naiiikkkk……

          Lhoooo…………….

          Pokoknya kami sampai heran, ortu kalian itu manusia apa mayat hidup ?

          Naah, sudah ortu kalian kayak mayat hidup dan penurut kayak kerbau
          dongok…eeh,kalian anak-anaknya malah sok jadi PEMBERONTAK….

Lit    :
Karena kami tidak mau seperti orang tua kami yang bodoh dan
jahiliyah !!!!!


     BP 3           : waah,waah…Pak,anak-anak ini ngomongnya sudah keblinger ini pak, sudah
     bernada kiri !


          Ini pasti sudah dihasut oleh LSM-LSM kiri itu pak.

          Ini sudah masalah politik,pak !

          Ini sudah subversib pak, berarti sudah masalah serius ini pak…

          Kita harus lapor ke polisi ini pak….

          Mudah-mudahan bisa ditindas lebih kejam dari yang di Makassar itu pak.

KS       : ya setelah ada kasus Makassar polisi jadi ngeper, reeek…
                                                                                                     56

     BP 3          : Kata siapa ? Wong polisi itu ya preman kok, bedanya Cuma pakai seragam yang
     dibeli dari uang rakyat.


KS       : Ya sudah ayo cepat telpon….

KS dan BP 3 nyari telpon

Ketemu Hp-nya, lalu saling nyuruh.

KS       : ini Hp-nya,kamu aja yang nelpon.

     BP 3 : Lho ya Pak KS toh, orang Bapak adalah kepala sekolah, yang punya wewenang kok….


     KS : halaaahhhhhh….kamu juga nggak papa toh, soalnya kamu lebih pandai bicara….otakmu
     lebih kancil.


BP 3     : Bapak aja ah.

KS       : Kamu aja.

BP 3     : Bapak aja.

KS       : Kamu aja.

BP 3     : Bapak aja.

KS       : Kamu aja.

BP 3     : Bapak.

KS       : Kamu.

BP 3     : Bapak.

KS       : Kamu.

BP 3     : Bapak kamu.

     KS : Bapakku ? Bapakku sudah almarhum jeee…lho ini yok opo sih, kok mbanyol kayak Srimulat
     aja….tak antemi lho koen…


     BP 3         : lho kehidupan kita ini memang panggung komedi pak, apalagi di Republik Silit
     ini…malah lebih lucu dari Srilmulat lho, makanya Srimulat di THR itu bangkrut pak, kalah lucu
     dari kehidupan sehari-hari pakk…


     KS : Sudah-sudah….katamu ini masalah gawat, makanya jangan guyon ae…ayo cepat lapor polisi
     !!!


BP 3     : lha memangnya kenapa kalau bapak KS aja yang lapor ?
                                                                                                         57



     KS : hmmm….aku takut dimintai bayaran eee…soalnya kata orang, kalau lapor polisi kehilangan
     anjing, kita malah dimintai ongkos sebasar kambing…lho lak rugi reek…


           Lha ini bukan soal anjing, ini soal subversi, kita bisa dimintai ongkos berjuta-juta toh ??


           Biayanya itu lebih subversif ketimbang subversinya….ya tooh ?

     BP 3 : Lhaaaaa,bapak ini….kita ini orang kaya, lembaga kaya….wong kita korupsi gedhe-gedhean
     kok takut dipalak polisi sejuta dua juta….


KS       : Lhooooooooo….itu rahasia, Dul, jangan diomongkan didepan umum….

     BP 3          : halaaah paak, jaman sekarang korupsi itu dilakukan dari presiden sampai tukang
     cat, jangan takuuut….lembaga komisi pemberantas korupsi aja nggak pernah ngapa-
     ngapain……malah kerjanya juga korupsi kok.


TIBA-TIBA terdengar suara gemuruh.
Muncul sekelompok gelandangan kumal, membawa poster-poster :

BERI KAMI PENDIDIKAN GRATIS SESUAI PASAL 31 UUD 45

MEGAWATI : PENDIDIKAN GRATIS ITU MENYESATKAN ! DASAR YANG
NGOMONG GUOBLOK !
Dsbnya.


Yel-yel minta pendidikan gratis diteriakkan oleh para gelandangan, setelah itu
pemimpinnya memberi isyarat agar diam.

Pimp.Gelandangan/PG : Apa benar ini kantor Dinas Pendidikan ?

KS dan BP 3 berpandangan bingung.

KS       : Kamu ini guuuooobbloogghk uhuk-uhuk ( sampai batuk ).
               Ini SMU NOL BESAR !
                  Kantor Dinas Pendidikan itu disana lho, di bawah jembatan sana lho.


PG       : Ooooo…itu tadi…ituuu tutup pak, lha pagere dikunci e pak, digembok pak.

KS       : ya iya, tapi kan ada satpam yang jaga.

PG       : Nggak ada pak,digembok kok pak, …

KS       : Soalnya mereka tahu kalian akan datang berdemo…

PG       : tahu dari mana ? wong kami nggak ngomong apa-apa sama mereka kok…

KS       : Tapi kalian kan lapor polisi kan ?
                                                                                                    58

     PG : Lha iya toh pak…kan peraturannya begitu, kalau mau demo, harus lapor polisi dulu….


     KS : Ya itu, kalian dibujuki polisi…ya polisinya sudah nelpon Kepala Dinas Pendidikan, Ndul.


     PG : Waah busuk sekali kelakuan orang pinter itu ya, ulahnya Cuma minteri rakyat, bukan
     membangun dan memakmurkan rakyat….


     KS : Lho, baru tahu toh ? Waaah….guuuoooblok, makanya kok dalam pemilu ini kalian pilih lagi
     partaipartai busuk…dasar rakyat guuuuooobbloookkkkk kelas berrraat !!!!


LIT      : Ini memang negeri busuk, bang.
                          Presiden busuk, menteri busuk, pejabat tinggi sampai rendah busuk.
                 Tentara busuk, kyai busuk, pengusaha busuk. Kepala sekolah juga
busuk !!!!

KS       : Lho kok malah aku diseret-seret dalam kebusukan toh….

BP 3     : Nggak apa-apa pak, nggak apa-apa….

KS       : Lho kok nggak apa-apa…

BP 3 : Lebih baik             busuk     tapi   duitnya     banyak,    ketimbang bersih         tapi
bodhoooooooo…


Musik menggema, disko dangdut.
Semua menari rancak dengan koregrafi yang asyik.
Semua menari dan menyanyi koor :

Suk-suk-suk-busssssssssssssssssssuuuuuuuuuuuuuuuuuuukkk….
Ini negeri busuk
Telurnya busuk-busuk
Tomatnya busuk-busuk
Katesnya busuk-busuk
Mangganya busuk-busuk
Dagingnya busuk-busuk
Rotinya busuk-busuk
Airnya busuk-busuk
Susunya busuk-busuk

Insert LIT menyela : hanya SUSUMU yang tidak busuk….

Musik lagi, Koor lagi :

Suk-suk-suk bussssssssssssssssuuuuuuuuuuukkkkkkkkk
Presiden busuk-busuk
Menteri busuk-busuk
Dirjennya busuk-busuk
Irjennya busuk-busuk
                                                                                                  59


Stafnya busuk-busuk
Satpamnya Busuk-busuk
Polisi busuk-busuk
Tentara Busuk-busuk
Kyai busuk-busuk
Gurunya busuk-busuk
Pedagang busuk-busuk
Pedaging busuk-busuk

Insert LIT : Hanya rakyat yang tidak busuk.

Koor : KARENA SUDAH BOOOOSSSOOOKKKK!!!

Tiba-tiba datang rombongan tramtib dengan membawa pentungan, mereka
petantang petenteng.

Kepala Tramtib ( Katib ) :
Ada apa ini ? Heh…ada apa ini ? Apaaa iniiii ada-ada…eh…adakah.. iniiii apa-apa…
eeeh…. pokoknya kalian ini mengganggu ketertiban….ketertiban apa ketiban yooo ?
Ketiban lak kejatuhan….

Wis jangan pringisan…lho kan aku sendiri ya yang pringisan….yaaakkk hush
!!!.lhaaaa iniiii ( menunjuk-mengenali-Kelompok Gelandangan )
Ini…musuh besarku ini…kalian ini bisanya Cuma mengganggu kedamaian
masyarakat saja too…bikin rusuh,bikin sampah….lha kalian ini sudah sering kuusir,
tak garuk, tak giepuki…lha kok masih berani unjuk rasa !
Gak kapok-kapok ya kalian…. ????

LIT maju dan menjendul kepala Katib.

   Lit : Pak, dadi opooooooooooo koen iku, eta-ete…petentengan kayak wong penting aja.
   Kamu itu preman bayaran tahu, kalian lebih sampah dari para gelandangan yang kalian anggap

   sampah itu.



         Ya kalian-kalian itu pak yang namanya RAKYAT BUSUK.

         Mencari makan kok dengan cara menggebugi sesama rakyat kecil.


         Ingat pak,kalian juga orang miskin.

   Rumah kalian,rumah petak di pingiran kota toooh,sewanya Cuma Rp 100.000,- sebulan toh ?



   Lihat saat ini isteri kalian belum masak nasi toh…anak kalian kelaparan,tidak bisa sekolah, semua

   karena pemerasan yang dilakukan para pemimpin busuk, para elit tulalit.
                                                                                                                       60



             Tapi kalian malah menjadi kaki tangan orang-orang busuk itu, dan malah
             memukuli sesama rakyat kecil yang tertindas. Kalian itu laksana ANJING,
             tahu !

             Kok tega kalian memukuli sesama rakyat, merobohkan rumah-rumah gubug
             rakyat, apa kalian nggak bisa membayangkan kalau itu menimpa rumah dan
             keluarga kalian sendiri ?

Tiba-tiba Katib terharu dan menangis.
Anak buahnya ikut menangis.
Terdengar tangisan bersahut-sahutan.
Ada yang hoaaaaaaaaaa…..huuuuuu….haaaaaaaaaoooo…. dsbnya ramai sekali.
Memang tangisan mereka harus berefek lucu tapi serius.

Lit        : He , he, he….sudah,sudah, berhenti menangis !
                          Tangisan tidak menyelesaikan masalah !
      Para pemimpin busuk sudah kebal, tidak akan jatuh kasihan hanya dengan air mata dan darah

      rakyat.



      Rakyat sendiri sih yang memang bodoh.


             Pemilu itu kan sarana yang demokratis dan merupakan kesempatan untuk
             memilih pemimpin yang baik dan menendang pemimpin yang busuk.

             Eee lha kok rakyat malah memenangkan partai-partai busuk, dan
             menelantarkan partai-partai yang ingin menyelamatkan rakyat.

             Itu semua karena rakyat bodoh ! Bodoh terus karena tidak pernah dididik !
             Karena sekolah bayarnya mahal ! Padahal seharusnya gratis !!!!

             Coba baca UUD 45 !

( tiba-tiba semua mengeluarkan buku UUD 45 dari sakunya---ya sudah dipersiapkan
toooh… )

Lit        : Ayo semua membaca Pasal 31….

Semua koor membaca :
1. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.

      2. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerntah wajib membiayainya.


      3. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan
      ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa…


      4. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 % dari APBN dan APBD.
                                                                                                  61



KS    : Lho,lho,lho…berarti selama ini pemerintah sendiri melanggar undang-
undang ?

Koor : Wis suwe rek, kok gek ngerti…

KS        : Lho. Berarti aku bodho yo kok gek ngerti ?

Siswa-siswa : Lho wis suwe Pak…
            Kami sampek muak kok….Bapak aja yang kayak badak…..

      KS : Oooo jadi aku ini badak yooo….wis rek, gini aja, aku sekarang sadar, tobat, pokoknya
      seperti drama-drama itu lho, orang yang salah akhirnya tobat, sadar….minta maaf…dan sekarang
      saya putuskan kalian semua boleh sekolah gratis, anak-anak !


Lit       : Serius tah ?

KS   : Lho serius              ,anak-anak….aku       ini   Kepala     sekolah     lho,   berkuasa
memutuskan…

Koor siswa           :     Horeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee…………………Hidup                           Pak
Kepsek….

BP 3      : Lho Pak! Kok gratis sih…lha kita makan apa ?

Siswa-siswa koor : Taek iku panganen !

KS marah kepada BP 3.
      KS : Memang kamu ini kok yang bikin masalah. Kamu ini lembaga ekstra ! Tidak resmi,tidak
      formal,kamu ini calo! Rente !


Siswa-siswa emosi : Ayo basmi ! Basmi ! Tunjeki ae !

Para gepeng terpengaruh : Betul, basmi ! Bakar !

Semua mengeroyok BP 3 dan memassa sampai hancur berdarah-darah, bajunya sobek
parah.

Lit       : Sabar, sabar…jangan main hakim sendiri,teman-teman….

Tramtib : Gak isok…gak isok…ini dia biangnya sehingga rakyat kecil tidak bisa
          menikmati pendidikan ! Ayo bakar !

( semua membakar BP 3 dengan trik diganti boneka,sosok BP 3 dibakar ).

Api menjilat-jilat ke atas.

Semua menari kesurupan diiringi musik disko seram….suara mereka fals mirip hantu
haus darah….
                                                                               62



Lirik :

Kami rakyat bisa seperti zombie
Sabar dan sabar
Meski kalian sakiti
Dan terus kalian sakiti

Namun jika kesabaran habis
Kamipun berubah total
Seperti raksasa Tiwikrama
Kami bisa marah tak terkendali

Jangan salahkan rakyat yang marah
Karena marahnya akibat ditindas
Berjuta-juta kali

Kalau rakyat sudah mengamok
Yang ada adalah REVOLUSI !
                REVOLUSI !
                REVOLUSI !
                REVOLUSI !!!!!!!!!


Musik berhenti.
Rakyat teriak-teriak tak terkendali.

Lit       : Kita berRevolusi, tapi jangan anarki !

Tramtib : Yooo gak isoookkk….revolusi berarti cabut sampai akar-akarnya ! Ayoooo
           serbuuu !!!!

Semua massa menyerbu kota.
Lit meraung-raung menenangkan massa.
Massa tak perduli, bahkan ada yang memukuli dan menjongkrokkan Lit ke tanah.
Massa sudah kesetanan.

Mereka melempari kota. ( puluhan onde-onde berbungkus plastik dilemparkan ke arah
penonton )

Mereka membakari kota.

( Setting gedung-gedung dari kertas dibakar massa ).

Lampu dimainkan menambah efek kebakaran kota.
Terdengar sirine meraung-raung.

Muncul petugas pemadam kebakaran menyemprotkan selang air kemana-mana tapi
malah lebih banyak ke arah penonton, bukan ke arah gedung yang terbakar.
                                                                            63


Para gepeng dihasut tramtib untuk memassa petugas kebakaran. Para petugas
pemadam kebakaran malah digebuki dan dibunuh.


Lit    : Berhenti ! Berhenti ! Pakai akal sehat !
         Jangan menuruti hawa nafsu !

Tapi perang terus berlangsung.

Maka datang rombongan polisi menembakkan bedil ke udara.

Semua terpengaruh, kerusuhan mereda.

Komandan polisi : Hentikan ! Hentikan !
                  Menyerahlah kalian !
                  Kalau tidak, akan kami tembak di tempat !


Semua angkat tangan.

Seorang polisi teler, malah menembak salah seorang : Dor !

Ternyata yang terkena KS, KS roboh, semua terkejut dan meradang.

Komandan marah dan membentak polisi teler.

Kopol : He…kamu ini menyalahi prosedur…waah, bisa dicopot aku nanti….diaamput
        kamu ini Dul !

Dul    : Sorry Pak !

Kopol : Enak aja sorry,sorry, ingat kasus Makassar….waaah aku dipecat nanti Dul
        gara-gara kamu.

Dul    : Sorrrrrrrrrrrrrrrrryyyyyyyyyyyyyyyyyyyy….pak.

Lit    : He, ini soal nyawa, jangan main-main !

Dul    : alaaaaaaa di Negeri Jombrot ini, nyawa sangat murah kok !

Lit    : Pernyataan bapak              SANGAT MENYAKITKAN ! SANGAT
         MENYESATKAN !

Dul    : Lhoooooooooo…ada faktanya lho, Nyongg !

Karena pemerintah menelantarkan rakyat, lalu rakyat yang putus asa bunuh
diri, setahun ada sekitar 30 orang…lhooooooo aku polisi kok ya
taaaaaaaaaaahuuu
                                                                            64


Lalu yang nekad menjadi copet, maling, garong, rampok, mereka sudah
membunuh korban sekitar 170 orang setahun…lhooooooo aku polisi kok ya
taaaaaaaahuuu

Lalu para garong yang digerebeg polisi lalu lari dan ditembak, jumlah yang mati
sekitar 200 orang setahun…lhooo….aku polisi kok ya taaaaaaaaaaahuuuu

Menurut data CDC dan AGI, 2 juta nyawa bayi di Republik Jombrot ini
dibunuh per tahun di meja aborsi

Data yang dikutip koran MERDEKA baru-baru ini, setiap jam ada 2 ibu
meninggal karena melahirkan lantaran kemiskinan dan buruknya fasilitas di
Republik Gombal ini

Lalu data ELSAM mencatat 65 buruh TKI mati setiap tahun di Singapura,
karena negeri ini nggak bisa ngasih makan, karena duit negara sudah digarong
para pemimpin

Data dari Depkes RI mencatat 35 orang mati per tahun karena HIV AIDS

Waaaah….dataku lengkap nyong !

Belum lagi yang mati karena berbagai macam penyakit, kecelakaan lalu lintas,
kapal laut dan udara, belum yang mati-mati karena 1001 macam bencana alam
yang terjadi tiap hari karena alam lingkungan dirusak….wooooooo nggak karu-
karuan jumlah orang mati di Negeri Gombal Mukiyo ini…Tapi kok ya jumlah
penduduk tetap berjubeeeeel aja…Makanya aku tinggal melanjutkan upaya
PENCIUTAN PENDUDUK hehehehe

Itu semua demi keseimbangan rasio kepadatan…hahahaha

Komandan Polisi : Sok tahu kamu Dul, daripada sok pinter dan lebih pinter dari
                   aku, mendingan kamu tak tembak aja duluan !

Dor ! Polisi Dul mati.

Lit    : Ini apa-apaan ? Apa tidak ada hukum di negeri ini ? Kok main bunuh
         semaunya ????

Komandan Polisi : hahahaha….hukum ? hukum di Republik Jombrot ini hanya berupa
                   tulisan di buku-buku dan pidato para pejabat di
                   televisi….pelaksanaannya Nol Besaaar !!!

Dor ! Komandan yang setres menembak satu gepeng.

Lit    : Tunggu ! Anda polisi!anda penegak hukum, jangan justru malah
        menghancurkan hukum !

Kom-pol : He ! Kamu tidak tahu atau pura-pura bodoh ? Pelanggar hukum di
Republik ini justru polisi, presiden dan para pejabat !
                                                                                65



Coba kamu baca lagi kitab UUD 45 ! Berapa pasal yang dilanggar mereka ?

Dor ! Satu siswa mati.

Lit     : Waaah…kalau begini caranya ya sudah, ayo perang…perang adalah satu-
          satunya pilihan karena terpaksa….hanya satu kata : Lawaaaan !!!!!!

Siswa sok pinter : Itu puisinya Wiji Thukul ya Lit ?

Siswa dan gepeng : Waaah, taek koen iki, sudah perang aja….serbuuuuu !!!!!!!!

Perang ramai.
Semua saling bunuh. Polisi lawan massa.
Semua mati, tinggal Lit yang hidup meski luka parah.


Dengan tertatih-tatih menahan luka, Lit menggugat negeri Gombal ini dengan
puisi protes :

Dipimpin para pemimpin pengkhianat
Minyak berkhianat kepada rakyat
Air berkhianat kepada rakyat
Hutan berkhianat kepada rakyat
Gunung berkhianat kepada rakyat
Beras berkhianat kepada rakyat
Gula berkhianat kepada rakyat
Udara berkhianat kepada rakyat
Transportasi berkhianat kepada rakyat
Telekomunikasi berkhianat kepada rakyat
Rumah berkhianat kepada rakyat
Listrik berkhianat kepada rakyat
Batu berkhianat kepada rakyat
Pupuk berkhianat kepada rakyat
Sayur mayur berkhianat kepada rakyat
Buah-buahan berkhianat kepada rakyat
Daging Berkhianat kepada rakyat
Roti Berkhianat kepada rakyat
Sekolah berkhianat kepada rakyat
Buku-buku berkhianat kepada rakyat
Guru-guru mata duitan berkhianat kepada rakyat

Ulama-ulama gila hormat berkhianat kepada rakyat
Hakim-hakim bajingan berkhianat kepada rakyat
Polisi-polisi pemeras berkhianat kepada rakyat
Politisi-politisi badak berkhianat kepada rakyat
Cendekiawan-cendekiawan gila jabatan berkhianat kepada rakyat
Rakyat yang bodoh berkhianat kepada KEHORMATANNYA SENDIRI !
                                                                         66


Lit berjalan terseok-seok menuju penonton
Sorot lampu mengiringi
Baunya menyebar harum
Lalu hilang di kerumunan penonton / lampu kian kabur

( Musik prihatin mendenging ngilu )




SELESAI

Penonton boleh tepuk tangan

Jakarta, Patal Senayan Juraganan 11 Mei 2004

Viddy AD Daery=============================viddyad2@yahoo.com
( fotokopi identitas akan dikirim menyusul, mungkin via pos )




BIODATA PENULIS NASKAH DRAMA / TEATER “ LIT ”


Viddy AD Daery atau Drs.Anuf Chafiddi lahir di Lamongan 28 Desember 1961
adalah penyair, cerpenis, novelis, kolumnis dan budayawan.

Sewaktu masih kuliah di FISIP UNAIR Surabaya, sudah menghasilkan puisi
masterpiece ―Surabaya mari Bicara Empat mata‖ yang sempat menjadi maskot DKS
dan HUT Kotamadya Surabaya di zaman Walikota Poernomo Kasidi.
                                                                                  67



Setelah lulus sarjana sosiologi tahun 1987 , lalu menjadi koresponden Jawa Pos
sambil mengelola toko emas di Lamongan.

Tahun 1991 hijrah ke Jakarta karena bekerja di TPI ( Televisi Pendidikan Indonesia ),
mula-mula sebagai redaktur features SERBANEKA.

Tahun 1993-2001 menjadi produser eksekutif. Produknya yang terkenal antara lain :
Lenong Bocah, Patrio Ngelaba, Telenovela Dimana Cinta Kutitipkan. Lalu keluar dari
TPI dan mendirikan jaringan production house sambil menjadi budayawan yang
banyak diundang ceramah budaya Indonesia oleh negara-negara Asia Tenggara.

Novelnya ―Sungai Bening‖ diterbitkan oleh PT Grasindo Jakarta, dan cukup laku di
pasaran.

Sejak remaja/mahasiswa sampai kini aktif ikut lomba kreatif dan cukup banyak
menyabet juara di bidang penulisan puisi, cerpen dan produksi acara televisi.

E-mailnya : viddyad2@yahoo.com.
                                                                                68


                                 SRIKANDI EDIAN
                                  Karya : Sang Aru
                             ( Hardjono Wiryosoetrisno )




Daftar Pemain :
1. Srikandi            : remaja putri tomboy, cerdas dan cantik
                        umur sekitar 17 thn.
2. Dalang              : remaja laki-laki atau perempuan, kocak dan cerdas.
3. Wayang wayang       : kelompok koor moderat umur sekitar 17 thn
                        jumlahnya lebih 5 orang boleh laki, perempuan atau
campuran.
4. Pak pos             : laki-laki atau perempuan umur sebaya mereka yang penting
bisa
                        naik sepeda motor atau sepeda biasa.
5. Dibantu oleh kelompok musik.




Synopsis

Srikandi jaman wayang belajar ilmu memanah kepada Arjuna pemilik ilmu
Danurwendo, jaman sekarang atau masa depan Srikandi belajar ilmu sejarah kepada
Arjuna juga.
Srikandi kali ini ingin belajar sejarah negeri ini supaya tahu dengan jelas sejarah
negerinya. Selama ini sejarah hanyalah sebagai ilmu yang dihafalkan.
Sampai sedikit edian Srikandi berusaha mencari Arjuna untuk belajar sejarah, tetapi
sayang sekali sampai cerita ini habis Srikandi tak bisa belajar sejarah tentang
negerinya. Mengapa ?
Apakah Arjuna memang tak mau ditemui Srikandi, atau karena sejarah negeri ini tak
perlu dipelajari, dan hanya dihafalkan saja ? Inilah kegelisahan Srikandi Srikandi
jaman ini.
                                                                                69


                                   =====




ADEGAN I.
         LAYAR DIBUKA, TAMPAK PANGGUNG DENGAN BEBERAPA
         BUAH KOTAK SEBAGAI PROPERTY. BEGITU JUGA KELOMPOK
         MUSIK SEDANG MEMAINKAN MUSIK. SEDERHANA.
  TAMPAK JUGA SEORANG DALANG SEDANG BERSIAP MAIN LENGKAP DENGAN
  PERALATAN DALANGNYA. WAYANG-WAYANG KELUAR DIIRINGI MUSIKNYA.
  MEMBUAT KOMPOSISI ENAK.


Dalang        : Syahdan, malam ini kita bangunkan seorang tokoh wayang
                terkenal cantik jelita dan otaknya yang cemerlang. Srikandi
                namanya.
                Tetapi Srikandi ini tidak tinggal di Madukara seperti Srikandi
                jaman Mahabharata dulu, sebab Madukara sekarang sudah habis
                dimakan gempa api dan banjir.
                Srikandi yang sekarang ini tinggal di kawasan Darmo Permai sana.
               Itu lho perumahan elit dan mewah ya, sebelah barat setasiun
               televisi.
               Apa tuan ? Jauh ?
               Ah ya nggak se, masak Darmo Permai jauh ?
               Jauh darimana tuan ? Jauh dan dekat itu kan diukur darimana
               tempatnya. Ya kan ?
               Apa tuan ? Dari Wonokromo ?
               Yo mesti ae adoh rek nek teko Wonokromo. Dari jembatan merah
               juga jauh, apalagi dari Gresik. Dan lagi naik apa tempat itu kita
               katakan jauh. Kalau naik sedan atau panther ya dekat. Kalau naik
               sepeda, becak bendi, ya jauh apalagi kalau jalan kaki. Ya to ?
                                                                                                               70


                 Srikandi jaman wayang dan Srikandi jaman komputer ini jauh
                berbeda.
                Srikandi jaman wayang dulu amat senang dan pandai sekali dalam
                ilmu memanah, Srikandi sekarang pinter dan senang dengan ilmu
                sejarah. Kata orang bijak, negara itu besar karena sejarah. Jangan
                sekali kali meninggalkan sejarah kata salah seorang proklamator
                negeri ini. Sejarah lain lho dengan sujarah. Coba tanyakan dulu
                pada guru, apa bedanya sejarah dan sujarah.
                  Srikandi dulu, Srikandi jaman wayang jatuh cinta kepada Arjuna
                pura pura edan atau gila. Srikandi sekarang ketika jatuh cinta pada
                Arjuna pura-pura sakit keras.
                     Nah, malam ini saya coba bangunkan lagi Srikandi ini. Tidak usah bertanya ini Srikandi dulu,
                Srikandi sekarang ataukah Srikandi masa depan.




MUNCULLAH SEORANG GADIS ATAU REMAJA DENGAN PAKAIAN SANTAI.
PAKAI KAOS OBLONG, CELANA JEAN LENGKAP DENGAN TOPINYA
(TOMBOY) DARI WAYANG WAYANG.

     Srikandi      :      Hallo selamat malam penonton
                selamat malam Surabaya
                selamat malam malam ini. Apa kabar ?
                Ya benar, akulah Srikandi yang tuan tunggu sejak tadi.
                Apa tuan ? Cantik ?
                Lho itu kan katanya dalang. Jangan gampang percaya kata dalang.
                Dalang itu kan kerjanya memang mendalangi…
                mendalangi wayang, mendalangi kekacauan, mendalangi kerusuhan. Oalah

                dalang dalang…..


                Benar tuan, aku memang pengin sekali berjumpa Arjuna. Pengin
                sekali belajar padanya.
                Tuan tuan tahu rumah Arjuna ?
                Tolonglah tuan kalau tahu rumah Arjuna. Aku ingin sekali
                kerumahnya. Jangan khawatir soal uang lelahnya. Pasti ada. Kalau
                hanya memberi tahu di mana rumahnya jelas berbeda lho dengan
                kalau ikut mengantarkan aku sampai ke rumahnya.
                                                                          71


                  Apa tuan ?
                  Oh ya aku ingin belajar kepadanya.
                  Belajar sejarah.
Wayang wayang : Belajar atau…
     Srikandi      : Atau apa ?
Wayang wayang : Belajar atau jatuh cinta ?
Srikandi        : Oh… belajar rek.
Wayang wayang : Jatuh cinta atau belajar
Srikandi        : Belajar.
Wayang wayang : Belajar atau belajar
Srikandi        : Belajar belajar !
Wayang wayang : Belajar atau jatuh cinta ?
Srikandi        : Belajar !
                  Sekali belajar tetap belajar !
Wayang wayang : Belajar sambil jatuh cinta ?
Srikandi        : Malu ah…..




LANGSUNG MASUK SEBUAH LAGU REMAJA CINTA DI SEKOLAH OLEH
WAYANG WAYANG. : malu aku malu pada semut merah
                       yang berbaris di dinding
                       menatapku curiga seakan penuh tanya
                       sedang apa disini menunggu pacar jawabku

DISELA-SELA LAGU ITU DALAM DIALOG LAGI :

Dalang        : Begitulah Srikandi memulai perjalanan cinta pertamanya.
                Sambil menyelam minum air.
                Belajar sejarah negerinya sambil jatuh cinta
Wayang wayang : mengapa belajar sejarah
                Mengapa tidak belajar matematika
                Belajar kok sejarah
Srikandi      : Kenapa kalau belajar sejarah
                Sejarah itu perlu dipelajari
                Sejarah tidak saja hanya dihafalkan, tetapi harus dipelajari.
                Negara besar itu karena sejarah
                Sejarah kok dihafalkan. Kalau sudah hafal terus untuk apa ?
                What for ?
                                                                               72


                  Pelajari sejarah negara-negara besar
                  Pelajari sejarah orang-orang besar
                  Pelajari sejarah pikiran-pikiran besar
                  Ya kan pak dalang ?
Dalang          : Benar.
                  Terus keinginanmu
Srikandi        : Ya harus kucari rumah Arjuna.
Dalang          : kalau sudah ketemu
Srikandi        : ya belajar sejarah padanya
Dalang          : Kalau nggak ketemu ?
Srikandi        : Ya harus dicari sampai ketemu
Dalang          : Pantang mundur ?
Srikandi        : Ya benar. Pantang mundur
                  Pantang untuk mundur
                  Sekali layar berkembang tak ingin perahu surut kembali sebelum
                  sampai ke pulau tujuan
Dalang          : Siap terus maksudmu ?
Srikandi        : Menurut dalang bagaimana harusnya ?
Dalang          : Tanyakan saja pada wayang wayang



Srikandi        : Bagaimana wayang seharusnya ?
Wayang          : Jangan tanya kepada saya, nanti bisa dianggap ikut mendalangi
                  kisahmu Srikandi
                  Sesama wayang tidak boleh saling mendahului.
Srikandi        : Sudahlah kalau begitu kuputuskan sendiri.

SRIKANDI LANGSUNG PERGI.

Wayang wayang   : Kemana Srikandi ?
Srikandi        : Mencari rumah Arjuna
Wayang wayang   : dimana rumahnya ?
Srikandi        : Nggak tahu, tetapi pasti ketemu
Dalang          : begitulah kisah Srikandi sementara ini.
                  Ia berkeras hati, berkeras kepala untuk mencari rumah Arjuna.
                  Ia harus melewati rumah-rumah besar
                  Ia harus melewati jalan-jalan besar
                  Ia harus melewati toko-toko besar
                  Ia harus melewati sekolah-sekolah besar karena ingin belajar
                  tentang sejarah orang-orang besar, belajar tentang sejarah
                  negara-negara besar, sebab Srikandi juga memiliki pikiran besar.

SRIKANDI SUDAH KELUAR DARI KOMPOSISI ITU.

Srikandi      : benar, disinilah rumah Arjuna
                Jalan Diponegoro, dekat pom bensin, belok ke kanan terus ada
                toko kelontong toko Bahagia belok kiri terus, terus nomoe dua
                puluh empat. Ya benar, inilah rumahnya.
Wayang wayang : masuklah Srikandi jangan takut
                                                                               73


                  Benar itu rumah Arjuna.
Srikandi        : benar ya ini rumah Arjuna
                  Tetapi jangan marah lho ya, siapa tahu ini bukan Arjuna yang kau
                  maksud itu. Bukankah nama Arjuna sekarang ini banyak.
                  Cobalah Srikandi, cobalah dulu. Bukankah salah itu juga sebuah
                  proses menuju benar

SRIKANDI BERAKTING SEPERTI SESEORANG YANG SEDANG MENGETUK
PINTU.

Wayang wayang : thok thok thok



Wayang wayang nyanyi : buka pintu…buka pintu… buka pintu…
                         Buka pintu buka pintu beta mau masuke
                         Siolah nona nona nona betalah dimukae
                         Ada anjing gonggong betae
                         Ada hujan basah basahe…siolah nona
                         beta mau masuke he he he…….
Wayang dialog : Arjuna keluarlah sebentar
                Ada tamu ingin menemuimu
Arjuna        : siapa dia ?
Srikandi      : benarkah ini rumah Arjuna ?
Wayang wayang : benar tak salah lagi. Tunggulah sebentar
              : cepatlah keluar Arjuna, ada tamu
Arjuna        : Siapa dia ?
Wayang wayang : tidak tahu, tetapi tengoklah sebentar atau intip dari lubang kunci
                rumahmu
Arjuna        : katakan padanya
                Hari ini aku tak bisa menemuinya
                Sampaikan permintaan maafku, tetapi tolong sampaikan aku akan
                menemui di rumahnya. Catat alamat dan nomor teleponnya.
Wayang wayang : tidak kecewa ?
Arjuna        : Sebenarnya kecewa, tetapi bagaimana lagi. Suatu saat pasti bisa
                bertemu.
Wayang wayang : Baiklah Arjuna
                Srikandi ?!
Srikandi      : Bagaimana bisa ditemui hari ini ?
Wayang wayang : Maafkan Srikandi
                Hari ini Arjuna tak bisa kau temui
Srikandi      : Kenapa ?
Wayang wayang : Ada kepentingan yang tak bisa ditinggalkan, tetapi akan
                menemuimu sendiri di rumahmu. Sekarang tolong alamat rumah
                dan nomor teleponmu
Srikandi      : Benar tidak bohong ?
Wayang wayang : Tidak, ia sendiri sebenarnya ingin juga bertemu denganmu.
Srikandi      : Tetapi apakah rumahnya memang disini ?
                                                                                  74


Wayang wayang : Tidak. Tak seorangpun yang tahu alamatnya. Sesekali datang
                kemari. Tetapi yang penting ia mau datang kerumahmu asal tahu
                alamat rumahmu Srikandi.
Srikandi      : 0311234567. HP ku masih dipinjam yang punya.
Wayang wayang : Sekarang mau kemana Srikandi ?



Srikandi        : Tetap mencari Arjuna sampai ketemu
Dalang          : Begitulah penonton tekad Srikandi.
                  Mencari Arjuna sampai ketemu.
                  Tidak ada pilihan lain kita harus berjalan terus kata sang penyair.
                  Bayangkan, siang malam Srikandi mencarinya.
                  Sekarang lihatlah perjalanan Srikandi.

SRIKANDI KELUAR DARI KELOMPOK ITU DAN BERJALAN LAGI DENGAN
RASA KECEWA. DIALOG DENGAN PENONTON.

Srikandi        : Penonton tolonglah saya.
                  Dimana rumah Arjuna sebenarnya
                  Aku ingin sekali ketemu dengannya untuk belajar sejarah.
                  Biarlah orang lain mentertawakan aku belajar kok sejarah.
                  Sejarah negeri ini perlu dipelajari dengan benar. Penting belajar
                  sejarah itu.
                  Apa tuan ?
                  Rembulan ?
                  Masa rembulan tahu rumah Arjuna.
                  Nggak apa apa, siapa tahu rembulan memang tahu rumah Arjuna.

SRIKANDI DIALOG DENGAN REMBULAN.

                Rembulan, selamat malam. Apa kabar ?
                Kalau aku sealalu dalam keadaan sehat.
                Oh ya rembulan, tahukah kau dimana rumah Arjuna.
                Tolonglah beritahu aku dimana rumah Arjuna
                Jangan bohong lho rembulan. Aku perlu sekali dengannya.
                Aku ingin belajar sejarah negeri ini.
                Katanya dia adalah yang paling tahu tentang sejarah negeri ini.
                Apa rembulan ?
                Lho yok apa se rek rembulan ini.
                Pelajaran sejarah itu penting juga, terutama sejarah negerinya
                sendiri.
                Tolonglah rembulan dimana rumah Arjuna itu
Wayang wayang : Sudahlah Srikandi sudah
                Sekarang pulanglah segera
Srikandi      : Tidak, aku tidak mau pulang kalau belum bertemu Arjuna.
Wayang wayang : Hari sudah larut malam
                Besok kita cari lagi. Atau……
                                                                              75



Srikandi      : Atau apa.
Wayang wayang : Cobalah tanya pada semut semut
                Siapa tahu ia mengerti rumah Arjuna
                Tanyalah pada semut atau rumput rumput
                Cobalah kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

SRIKANDI LANGSUNG JONGKOK SEAKAN BERBICARA DENGAN RUMPUT
RUMPUT

Srikandi      : Rumput rumput selamat malam
                Maaf ya kalau ada di antara kalian yang terinjak kakiku.
                Benar rumput, aku tidak sengaja.
                Habis malam hari dan rembulan tidak bersinar seperti tadi lagi.
                Rumput rumput boleh kan aku bertanya
                Eh rumput bangunlah sebentar dari tidurmu. Aku ingin
                mengganggumu sebentar rumput rumput.
                Tolonglah barangkali kalian tahu dimana rumah sang Arjuna. Apa
                ?
                Ya, Arjuna yang pinter ilmu sejarah itu. Aku ingin ketemu dia
                untuk belajar sejarah khususnya sejarah negeri ini.
                Masak kata guruku berbeda dengan kata bapakku tentang sejarah
                negeri ini.
                Benar rumput rumput aku pengin sekali bertemu dengan Arjuna
                untuk belajar sejarah.
                Oh ya, kalau sejarah untuk dihafalkan memang mudah. Tetapi
                sejarah kan tidak untuk dihafalkan saja. Sejarah harus dipelajari
                rumput rumput.
                Apa rumput ?
                Tanya pada semut semut ?
                Tadi rembulan menyuruhku bertanya pada rumput sekarang kau
                suruh aku bertanya pada semut.
                Nanti semut…..ah biarlah aku mencoba untuk bertanya pada
                semut. Siapa tahu mengerti. Terima kasih rumput rumput.
Wayang wayang : Bagaimana Srikandi jadi bertanya pada semut.
Srikandi      : ya.
Wayang wayang : benar Srikandi. Perlu bantuan ?
Srikandi      : Boleh kalau nggak keberatan
WAYANG WAYANG BERNYANYI : Semut semut kecil
                                          Saya mau tanya
                                          Apakah engkau di dalam sana
                                          Tahu rumah Arjuna


Srikandi     : Ssst jangan ramai ramai nanti mereka marah.
               Coba aku.
 SRIKANDI NYANYI : Semut semut kecil saya mau tanya
                      Apakah engkau didalam sana
                      Tahu rumah Arjuna…..
SRIKANDI DIALOG : Ayolah semut semut jawablah
                                                                                 76


                         Apakah engkau tahu rumah Arjuna. Tadi kata rumput
                         rumput engkau tahu. Jangan takut nanti kuberi hadiah gula
                         kalau kau mau memberi tahu di mana rumah Arjuna. Masak
                         nggak tahu. Jangan bohong lho ya.
                         Tolonglah semut, aku perlu sekali dengan Arjuna itu. Hanya
                         Arjuna saja yang bisa menjadi tempat aku belajar sejarah
                         negeri ini. Masa depan negeri ini jangan sampai keliru gara
                         gara tak pernah mempelajari sejarah.
                         Benar ?
                         Nggak tahu. Siapa ?
                         Ah nggak akan aku cari sendiri saja rumah Arjuna.
                         Terima kasih semut semut. Selamat malam
                         Daaag semut

TIBA TIBA TERDENGAR SUARA HANDPHONE. SRIKANDI LANGSUNG
MENGANGKATNYA.

Wayang wayang : Lho tadi katanya nggak punya.
Srikandi      : Baru beli….
Wayang wayang : Siapa Srikandi ?
Srikandi      : Ssst…
                Ya hallo..
                Benar, ini aku sendiri
                Arjuna ? Ah benar….benar. Ya ya.
Wayang wayang : Siapa Srikandi ?
                Arjuna ya. Nah, awas lho hati hati.




BIODATA PENULIS

Naskah SRIKANDI EDIAN

Nama penulis (samaran)       : Sang Aru
Nama penulis (asli)          : Hardjono Wiryosoetrisno
Alamat penulis               : Desa Jatidukuh Gondang Mojokerto
                                                                           77




                     Nimok, Aku cinta kamu.
                            Karya : I n u l.
                    ( Hardjono Wiryosoetrisno )

  Daftar Pemain.


  1. Nimok         : remaja putri umur 17 tahun,
                    cerdas, cantik dan lincah.
  2. Momon         : remaja putra umur sekitar 17 tahun
                    egois dan manja
  3. Anu           : suara - suara imaginer kedua tokoh berjumlah bebas.
  4. Pasien        : tokoh pengguna narkoba putra umur sekitar 17 tahun,
                    kurus ceking dan lelah.


  Dibantu pemain musik kalau perlu musik alternatif.




Synopsis :
      Awalnya, Nimok menolong Momon yang menjadi korban
   pengguna narkoba hanya karena keduanya adalah sahabat. Momon
   berhasil lepas dari persoalan itu tetapi mencintai Nimok dan Nimok
   menolaknya.
                                                                                78


         Akibatnya, Momon makin parah terjerumus dalam persoalan itu
         kembali. Nimok kembali datang, tetapi tetap tidak ingin
         menerima cinta Momon.
         Mengapa Nimok kembali datang ?


                               =========




ADEGAN I.



         PANGGUNG          GELAP.      PEMAIN        MUSIK       TELAH       SIAP
         DITEMPATNYA.
         DENGAN IRAMA YANG TETAP MULUTPUN IKUT BERMUSIK.
         DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG
         THAK
      DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING
   DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK…

      MAKIN RAMAI. SESEKALI NAIK SESEKALI TURUN, SESEKALI KERAS SESEKALI

   PELAN.

      LAMPU MENYALA, TAMPAK DIPOJOK PANGGUNG SEBUAH KURUNGAN DILILIT

   KAIN PANJANG DAN DI ATASNYA ADA SEBUAH KEMARON KECIL BERISI

   BUBUKAN KANJI ( SAGU ) ATAU TEPUNG.

      MUSIK BERBUNYI TERUS.

      KEMUDIAN MUNCUL NIMOK DAN MOMON SAMBIL MEMBAWA DUA BUAH

   KURSI SEBAGAI HAND PROPERTY MEREKA DIIRINGI PEMAIN PEMBANTU ATAU

   SUARA SUARA YANG AKHIRNYA MEMBUAT KOMPOSISI. SUARA SUARA SENDIRI
                                                                       79

    BEGITU JUGA DENGAN NIMOK DAN MOMON. KEDUANYA MEMAINKANNYA

    DENGAN GERAK GERAK INDAH BUKAN GERAKAN TARI.

        MUSIK MENGIRINGI GERAK MEREKA. SETELAH ITU KEDUANYA DUDUK DI

    KURSI MEREKA MASING MASING, DENGAN KOMPOSISI SEIMBANG. KURSI

    KEMBALI SEBAGAI PROPERTY MEREKA.

        SUARA MAKIN KERAS BEGITU JUGA MUSIKNYA.

          DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING

          DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK…




Nimok dan Momon : suara suara berhentilah




Suara suara           : Dhing dhang thak dhing dhang thak

                        Dhing dhang thak dhing dhang thak

                        Dhing dhang thak dhing dhang thak




Nimok dan Momon       : suara suara berhentilah sebentar




Suara suara           : Dhing dhang thak dhing dhang thak

                        Dhing dhang thak dhing dhang thak




Nimok dan Momon       : Suara apakah kalian ini ?




Suara suara           : Kami adalah suaramu sendiri

                        Yang terus hidup sepanjang hari
                                                                      80

                   Kenapa Nimok ?

                   Kenapa Momon ?

                   Dhing dhang thak dhing dhang thak

                   Dhing dhang thak dhing dhang thak




Nimok dan Momon   : Berhentilah suara suara

                   Berhentilah sebentar, kami ingin bicara sendiri.




Suara-suara       : Sendirian ?




Nimok dan Momon   : Nggak, kami berdua




Suara suara       : tanpa kami ?




Nimok dan Momon   : Ya




Suara-suara       : Bib bab bib bab bib bab bib bab bib bab

                   Bib bab bib bab bib bab bib bab bib bab




KEMUDIAN SUARA SUARA ITU MEMBUAT KOMPOSISI BEGITU JUGA NIMOK DAN

MOMON, MUSIK DAN SUARA MAKIN LAMA MAKIN LENYAP.




Nimok             : Kenapa diam ?
                                        81

MOMON DIAM TAK MENJAWAB.




Nimok          : kenapa diam ?




Momon          : nggak tahu




Nimok          : nggak tahu ?




Momon          : ya nggak tahu




Nimok          : kenapa nggak tahu ?




Momon          : karena nggak tahu




Nimok          : kenapa nggak tahu ?




Momon          : ya karena nggak tahu




Nimok          : oh…..
                                                                     82

KEDUANYA DIAM LAGI DENGAN MOTIVASI BERBEDA, SEMENTARA SUARA SUARA

BERMAIN SALING BERDIALOG DALAM HATI. HANYA GERAK GERAKNYA SAJA YANG

MEMAINKAN DILOG MEREKA. DAN SEGERA DIAM KETIKA MOMON MULAI DIALOG.




Momon           : Kenapa diam?




Nimok           : Apa?




Momon           : Kenapa diam?




Nimok           : Karena ingin diam




Momon           : Kenapa ingin diam?




Nimok           : Karena ya memang ingin diam




Momon           : Tidak ingin bicara




Nimok           : Ingin




Momon           : Kapan




Nimok           : Kapan kapan




Suara-suara     : Kapan Nimok?
                                                                          83




Nimok         : Kapan-kapan




Suara-suara   : Wuah nggak boleh begitu Nimok

                Itu namanya mangkelan

                Nggak boleh Nimok mangkelan

                Jangan pendam dendammu sampai matahari tenggelam Nimok.




Nimok         : Diamlah suara-suara




Suara-suara   : Bib bab bib bab bib bab bib bab bib bab

               Bib bab bib bab bib bab bib bab bib bab




Momon         : Kau siapa ?




Nimok         : Aku ?

               Nimok !




Momon         : Nimok temanku ?
                                                                                    84




Nimok           : Bukan saja temanmu

                 Tetapi sahabatmu




Momon           : sahabatku ?




Nimok           : Ya sahabatmu




Suara-suara     : Ya benar Momon

                 Nimok sahabatmu datang lagi

                 Nimok sahabatmu balik lagi




Momon           : Kenapa kau datang lagi ?

                 Aku sudah tak ingin ketemu lagi

                 Kenapa kau masih datang lagi

                 Kenapa ?




Nimok           : Karena aku sahabatmu Momon

                 Karena sahabatmu itulah aku mengharuskan datang kembali ke tempatmu.




KEDUANYA DIAM BERPIKIR.
                                                                                      85




Nimok         : Karena aku sahabatmu, aku harus datang kembali.




Momon         : Kenapa masih ingin datang kembali ?




Nimok         : Aku ingin menjadi sahabatmu seperti waktu dulu. Tidak ingin menjadi

               seseorang yang kamu cintai.




Momon         : Kenapa ?




Nimok         : Tidak ingin




Suara-suara   : Tidak ingin atau belum ingin




Nimok         : Tidak ingin




Suara-suara   : Tidak ingin atau belum ingin




Nimok         : Tidak




Suara-suara   : Tidak atau belum




Nimok         : Tidak, sekali tidak ya tidak
                                                                                            86




Suara-suara     : Belum atau belum




Nimok           : Sssttt….




LANGSUNG SUARA SUARA DIAM.




Momon           : Sebenarnya aku lebih senang kalau kau tidak mau datang lagi Nimok.

                 Kenapa ?

                 Kau campakkan lagi aku dari sebuah tempat yang lebih tinggi setelah kau

                 angkat dari tempat terbawah. Itu membuatku lebih sakit.

                 Sekarang, setelah aku sakit kau datang lagi untuk mengangkatku dan pasti

                 akan menjatuhkan dari tempat yang lebih tinggi lagi.

                 Pergilah Nimok itu lebih baik.




Nimok           : Tidak usah khawatir. Suatu saat aku pasti pergi. Tanpa kau suruh aku akan

                 pergi. Tetapi untuk sekarang, aku masih ingin datang lagi untukmu




Momon           : Kenapa Nimok ?




Nimok           : Aku sahabatmu.
                                                                                         87

                 Sebagai seorang sahabat, aku ingin datang lagi untuk mengajakmu pergi

                 meninggalkan tempat yang tak patut kau singgahi.

                 Mengerti maksudku Momon ?




MOMON DIAM, INNER MERENUNG UNTUK BERPIKIR.




Nimok           : Tinggalkan semua ini. Aku ingin Momon kembali Momon yang dulu,

                 semasa masih menjadi sahabatku.

                 Apa yang kau dapatkan dari tempat ini ?

                 Sia-sia Momon, dan…




Momon           : Cukup Nimok, cukup




Nimok           : Belum !

                 Belum cukup Momon.

                 Karena aku sahabatmu, aku wajib mengajakmu pergi dari sebuah tempat

                 yang tak layak kau tempati. Hanya ini !




MOMON BERPIKIR KERAS KEDUANYA DIAM.




Nimok           : Kau mencintai aku Momon ?




MOMON RAGU RAGU MENJAWABNYA.




Nimok           : Jawablah dengan jujur Momon
                                                                     88

               Kau mencintai aku ?




Suara-suara   : Jawablah Momon

               Jawablah dengan jujur

               Kenapa diam momon ? malu ya ?

               Jatuh cinta kok malu

               Malu kok jatuh cinta

               Jangan jatuh cinta kalau masih punya malu




Nimok         : Diamlah suara suara

               Benar Momon kau mencintai aku ?




Momon         : Ya.

               Aku cinta kamu.




Nimok         : Tidak tepat kalau kau mencintai aku




Momon         : Kenapa ?




Nimok         : Karena kau sendiri belum mencintai dirimu sendiri.




Momon         : Aku mencintai diriku sendiri Nimok
                                                                                          89




Nimok           : Tidak




Momon           : Benar Nimok, aku mencintai diriku.




Nimok           : Bohong kalau kau mencintai dirimu sendiri




Momon           : Aku mencintai diriku Nimok




Nimok           : Mengapa kau sakiti dirimu sendiri kalau kau sudah mencintai dirimu sendiri

                 Kenapa kau siksa dirimu sendiri kalau kau sudah bisa mencintai dirimu

                 sendiri.

                 Bohong, aku tidak percaya.




Suara-suara     : Mencintai tidak menyakiti Momon

                 Mencintai tidak menyiksa Momon

                 Ya kan ?




Nimok           : Cintailah dirimu sendiri, sebelum ingin orang lain mencintaimu

                 Sayangilah dirimu sendiri sebelum ingin orang lain menyayangimu




MOMON BERPIKIR KERAS, MERENUNG.
                                                                                         90




Nimok          : Apakah salah kalau sebagai seorang sahabat aku ingin datang lagi untukmu

                ?

                Jangan usir aku Momon

                Suatu saat pasti aku pergi. Sementara ini aku masih ingin melihatmu sebagai

                sahabatku kembali seperti dulu lagi.

                Ayo bangun dari mimpi mimpimu yang indah tetapi hanya kebusukan dan

                kesakitan yang kau dapatkan.

                Tidak ada pilihan lain kecuali harus segera meninggalkan tempat ini, kalau

                kau benar benar mencintai dirimu sendiri.

                Yakinlah suatu saat orang orang yang mencintai pasti datang. Ya kan ?

                percayalah !




LAMAT-LAMAT TERDENGAR SEBUAH TEMBANG. TEMBANG ITU MENGINGATKAN

IBUNYA YANG TELAH ALMARHUM.




                Rungokna kandaku ya ngger

                Isih cilik tak kudang kudang

                Dadia pengarepanku

                Ing tembe kena tak sawang…..




Momon          : Diam !

                Diamlah suara-suara
                                                                              91

               Aku tak ingin mendengar suara itu

               Ayo diamlah suara




Suara-suara   : Kenapa Momon ?




Momon         : Tak seorangpun yang mencintaiku

               Tak seorangpun yang menyayangiku

               Semua pergi

               Semua menjauhiku




Nimok         : Diamlah Momon

               Aku ingin menemanimu




Momon         : Kemudian meninggalkan lagi

               Sebenarnya aku tak ingin lahir kalau akhirnya harus begini

               Siapa yang menyuruhku lahir ini sebenarnya




Nimok         : Jangan kau salahkan kelahiran Momon

               Dan mengapa tidak mencoba menyalahkan diri sendiri ?

               Siapapun tak berhak menolak atau memilih kelahirannya

               Kita hanya berhak menolak jalan hidup kita sendiri. Ya kan ?
                                                                                             92

                  Kita sendirilah yang memiliki hidup kita karena kita sendiri yang berhak

                  menentukan diri kita sendiri. Bukan orang lain.

                  Belum terlambat Momon

                  Hidup ini milikmu sendiri bukan milikku

                  atau milik orang lain. Ayolah Momon

                  Lihatlah sebelah sana

                  Langit dan matahari masih cemerlang

                  Jangan menuntut orang lain mencintaimu

                  Kalau kau sendiri belum menuntut dirimu sendiri untuk lebih mencintai diri

                  sendiri

                  Ayolah Momon

                  Sekali lagi hanya kita sendirilah yang harus mempertanggung jawabkan

                  hidup ini pada sang pembuat hidup ini.

                  Memalukan menyayanginya sendiri tak mampu, menyuruh orang lain

                  menyayangi.

                  Bagaimana Momon ?




TERDENGAR LAMAT-LAMAT SUARA-SUARA ITU MENEMBANG LAGI.




Nimok            : Dengar Momon suara ibumu

                  Dengar Momon doa ibumu




MENDENGAR SUARA ITU, TIBA-TIBA PANDANGAN MOMON NYALANG DAN DENGAN

BERINGAS TIBA-TIBA IA BERDIRI. PANDANGANNYA MAKIN LIAR MELIHAT KE

BEBERAPA ARAH KEMUDIAN BERJALAN DENGAN LANGKAH GAGAH DAN CEPAT

MENGELILINGI PANGGUNG. SESEKALI BERHENTI MEMANDANG SEBUAH ARAH
                                                                          93

DENGAN LIAR. KEMUDIAN BERJALAN LAGI SEAKAN INGIN CEPAT SAMPAI DI SEBUAH

TEMPAT DAN LANGSUNG MELAKUKAN SESUATU.




Suara-suara      : Momon… mau kemana ?




TIDAK ADA JAWABAN MESKIPUN MOMON SEMPAT BERHENTI SEBENTAR KEMUDIAN

BERJALAN LAGI SEPERTI SEMULA.




Suara-suara      : Momon pulanglah

                  Ibumu sudah menunggu…




TIDAK ADA JAWABAN MESKIPUN MOMON SEMPAT BERHENTI SEBENTAR KEMUDIAN

BERJALAN LAGI SEPERTI SEMULA LEBIH CEPAT, SEMENTARA NIMOK HANYA

MELIHAT DENGAN KEMAMPUAN INNER ACTIONNYA.




Suara-suara      : Momon kemana ?

                  Ajaklah Nimok serta, jangan dibiarkan di sini sendiri




Momon            : Tidak

                  Aku akan belajar lebih mencintai diriku.
                                                                                      94

PANDANGAN MOMON MAKIN NYALANG SAAT MELIHAT SESUATU YANG ADA DI

POJOK PANGGUNG. DIAM SEBENTAR ADA KEBENCIAN.

LANGKAHNYA CEPAT SETENGAH BERLARI. LANGSUNG DIAMBILLAH ―KEMARON

KECIL‖ DIPEGANG LANGSUNG DIBANTING BERANTAKAN, SEMENTARA SERBUKNYA

BETERBANGAN MEMENUHI PANGGUNG. MUNDURLAH MOMON BEBERAPA LANGKAH

MELIHAT DENGAN LIAR LANGSUNG KAIN PANJANG YANG MELILIT KURUNGAN

DITARIK PAKSA DAN KURUNGAN ITUPUN DIBUKA DAN DILEMPARKAN SEKALIGUS.

TAMPAK SEORANG REMAJA SEDANG MENIKMATI ROKOKNYA ( GANJA ) DALAM

KURUNGAN DENGAN PANDANGAN KUYU.

MOMON MUNDUR SELANGKAH DEMI SELANGKAH DAN TERUS MELIHAT PASIEN

DENGAN MOTIVASI TERKEJUT SEKALIGUS PENYESALAN.

DENGAN LANGKAH GAGAH MOMON MENDEKATI PASIEN DEKAT DEKAT DAN

LANGSUNG DIPELUKNYA ERAT ERAT SETELAH ITU LANGSUNG DIGENDONG (

DIPANGGUL ) BERKELILING LAGI.




Suara-suara      : Momon kemana ?

                   Ini Nimok, jangan ditinggalkan sendiri




Momon            : Aku ingin mencintai diriku sendiri sebelum mencintai orang lain.




DIPANGGUL LAGI SANG PASIEN UNTUK KELILING PANGGUNG LAGI. NIMOK PELAN-

PELAN TAPI PASTI MENDEKATINYA MUSIKPUN MULAI BERBUNYI

DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK

DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK

DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK
                                                                     95




Suara-suara      : Momon, Nimok masuklah

                   Angin malam berhembus kencang




PELAN PELAN KETIGA PEMAIN ITU MASUK. SUARA-SUARA BERGERAK MEMBUAT

KOMPOSISI. MUSIK BERBUNYI TERUS. SESEKALI KERAS SESEKALI PELAN.




Suara-suara      : Hidup ini milik kita sendiri

                   Bukan milik orang lain

                   Bukan milik anak anak kita dan

                   Bukan juga milik orang tua kita.




MUSIK BERBUNYI TERUS PELAN PELAN KEMUDIAN SESEKALI KERAS. SESEKALI

CEPAT SESEKALI LAMBAT. IRAMA BERGANTIAN. SUARA-SUARA IKUT BERSUARA

DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK

DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK

DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK DHING DHANG THAK

    MUSIK TERUS BERLANJUT, LAMPU MAKIN LAMA MAKIN REDUP KEMUDIAN

    PADAM.




                             SELESAI
                                                              96




BIODATA PENULIS



Naskah NIMOK, AKU CINTA KAMU

Nama penulis (samaran)   : Inul
Nama penulis (asli)      : Hardjono Wiryo Soetrisno
Alamat penulis           : Desa Jatidukuh Gondang Mojokerto
                                                       97


          NASKAH DRAMA REMAJA


       HITAM PUTIH


                 Untuk diikutsertakan dalam
              “Lomba Penulisan Naskah Teater
       Seksi Penyajian Taman Budaya Jawa Timur 2004”




                         Karya :
ENANG ROKAJAT ASURA




                   CILEGON 2004




                JUDUL : HITAM PUTIH
                                                                98



                           TOKOH :
                           AMARAL
                            NENEK
                                RIO
                     DUA ORANG BODYGUARD
                            PUTRI
                        SEORANG LELAKI
                            FIGURAN




1
BABAK SATU


     PANGGUNG ADALAH SEBUAH RUANGAN KOSONG. RUANGAN
FANTASI. AMARAL, SEORANG REMAJA BELIA TERSERET DALAM
TARIK-MENARIK ANTARA KEPENTINGAN YANG BERBEDA. DI SISI KIRI
RIO DENGAN SELENDANG HITAM, DAN DI SISI KANAN NENEK DENGAN
SELENDANG PUTIH.


     TARIK-MENARIK ANTARA RIO DAN NENEK AMARAL MEMBENTUK
SEBUAH    TARIAN.   SELENDANG    HITAM   DAN   PUTIH   ITU   TERUS
MENJERAT AMARAL DALAM GERAKAN-GERAKAN YANG MAKIN LAMA
KIAN RANCAK. AKHIRNYA PADA SAAT AMARAL MENCAPAI PUNCAK
KEKESALAN DAN GELISAH, SELENDANG HITAM DAN PUTIH ITU PUTUS.
AMARAL TERDUDUK LESU BEBERAPA SAAT. DALAM TEMARAM
LAMPU, GERAK AMARAL BANGKIT MEMBENTUK SEBUAH SILHOUTTE.
DINGIN.
                                                                    99


      DETAK JANTUNG TERDENGAR MEMBURU. AMARAL BANGKIT
KEMUDIAN MENGIKUTI GERAK DETAK JANTUNG ITU. MAKIN LAMA
TERDENGAR     MAKIN     KERAS    DAN     MEMBURU.       PADA    DETAK
JANTUNGNYA SENDIRI, AMARAL TIDAK BISA MENGUASAI BAHKAN TAK
MAMPU MENGENDALIKAN. DETAK JANTUNG ITU TERUS MEMBURU
DAN   MEMBURU.     AMARAL     LALU      TERENGAH-ENGAH         MENCARI
SESUATU. DI KIRI DAN KANAN SELENDANG PUTIH DAN HITAM JUGA
MENGGAPAI-GAPAI.
                             AMARAL
                           Hitam….putih…
              Hitamku …putihmu…putihku…hitammu…
                 Dimana hitamku…dimana hitammu…
                 Dimana putihku….dimana putihmu…
                           Putih….hitam…
                      Putihku…hitamku…dingin…
              Angin…dimana hitamku…dimana putihku…


                                 RIO
             Hitammu disini…bukan itu…bukan disana…
                       Lihat…pandang…tatap…
                      Hitammu di sini…Amaral !


                             AMARAL
                Hitamku di sana ? hitamku di nadimu ?


                                NENEK
                        Itu bukan hitam, Cu !
       Itu abu-abu…abu bukan hitam…karena ada putih di sana…
                        Abu-abu bukan putih…
         Oh…( TERKEKEH ) abu-abu bikin bingung kamu, Cu ?
                       Tidak…jangan bingung !
                 Pandanglah abu-abu itu dengan ini …
                  ( MENEPUK DADA DAN BATUK )
                                                         100


                               RIO
                         ( TERKEKEH )
         mana mungkin bisa membedakan hitam dan putih,
                mengatur nafas saja tidak becus !
                   kau batuk-batuk terus, Nek !
              Tak perlu memikirkan hitam dan putih,
                     pikirkanlah liang lahat !


                             NENEK
                  Tengik juga kau anak muda !
           Jangan dengar itu, Cu ! Jangan kau dengar…
                kau akan menemukan putihmu…
             putihmu yang kaucari…bukan putih dia…
                    bukan putih orang lain !!!


                            AMARAL
               Biarlah aku pandang sendiri, Nek !!
            Jangan memandang dengan mata nenek…
                       Aku masih awas…
                        Pasti lebih awas !
                   Mata nenek sudah rabun…
                Mana bisa mewakili keinginanku !!


    AMARAL BERJALAN KE DEPAN PANGGUNG. PADA PENONTON.
MENATAP SATU PER SATU. MENCARI SESUATU. AMARAL SEPERTI
BINGUNG SENDIRI. NENEK GELENG-GELENG KEPALA TAK PERCAYA
DENGAN UCAPAN CUCUNYA TADI.


                            AMARAL
                 Aku tak melihat putih di sana…
                 Hoi…adakah putihku di sana ?
               Hoi…hanya ada hitamkah di sana ?


                             NENEK
                                                                    101


                            ( BATUK-BATUK )
                 hitam dan putih tidak dimana-mana, Cu !
                              tapi di sini ….
         ( MENEPUK DADA DAN BATUK-BATUK KEMBALI )
               ah…kenapa penyakit ini selalu saja manja…
                    dasar penyakit jaman sekarang…
                       manja…tak bisa mandiri…


                                AMARAL
                            ( PADA NENEK )
                       Artinya nenek sudah tua…


                                 NENEK
                          Bagus…bagus itu, Cu !
                   Kalau kau sudah mengaku aku tua,
         kau akan pula mengaku nenekmu bisa membedakan
                        mana hitam mana putih…


                                   RIO
                        Dalam kacamata tuamu,
            mana mungkin bisa membedakan hitam dan putih
                       lihat…ini hitammu di sini…
                  hitammu ada pada hitamku, Amaral !


     AMARAL MULAI TERLIHAT GAMANG. IA BERJALAN KE ARAH RIO.
NAMUN NENEK TIBA-TIBA DATANG TERGOPOH. DENGAN SELENDANG
PUTIHNYA, NENEK MEMBELIT AMARAL. SESEKALI BERHASIL, TAPI
AMARAL   BISA    LEPAS.     DIBELITKANNYA       LAGI   SELENDANG    ITU
BEBERAPA KALI. BERHASIL. TAPI AMARAL BISA MELEPASNYA LAGI.
ADEGAN   INI    BEBERAPA      KALI    DIULANG       SEHINGGA   TERLIHAT
BAGAIMANA      TARIK-MENARIK     KEINGINAN      ANTARA     AMARAL   DAN
NENEK.
                                                                 102


     DARI SUDUT PANGGUNG BEBERAPA ORANG BERPAKAIAN
HITAM SEHINGGA HANYA TAMPAK SEBAGAI BAYANGAN. BAYANGAN
HITAM ITU KEMUDIAN MENDEKATI NENEK DAN AMARAL. PADA SATU
SAAT SECARA SEREMPAK BAYANGAN ITU MEMEGANG AMARAL,
MENGANGKATNYA TINGGI DAN MEMBOPONGNYA MENJAUH DARI
NENEK. RIO TERDENGAR TERKEKEH. KEMUDIAN LELAKI JANGKUNG
INI DUDUK DI KURSI. IA MULAI KONSENTRASI DAN BERMAIN PIANO.
PIANO FANTASI. LAMAT-LAMAT MENGALUN LAGU SENDU. NENEK
TERLIHAT BERDIRI GOYAH, LALU TERDUDUK TAK MAMPU MENAHAN
GEJOLAK RASA DAN BERAT TUBUHNYA.


                               NENEK
            Tuhan, jangan biarkan hitam membawa cucuku !
                       Kuatlah putihmu di sini….
                   Pancarkan putihmu pada cucuku !
              Jangan…jangan biarkan hitam itu, Tuhan !
                   Jangan biarkan membawa cucuku…


     NENEK MEMAKSA BERDIRI TAPI KEMBALI TERDUDUK. BERDIRI.
DUDUK.   BERDIRI     DAN   ROBOH       KEMBALI.    NENEK   AKHIRNYA
MENDORONG TUBUHNYA KE ARAH PENONTON. SEPERTI TENTARA
SEDANG LATIHAN TIARAP. NENEK TERUS MENDEKATI PINGGIR
PANGGUNG.    SEMENTARA      RIO    TERUS      BERMAIN PIANO.   MAKIN
SEMANGAT BAHKAN SEPERTI YANG KERASUKAN SEHINGGA NADA
YANG DIHASILKANNYA PUN LEBIH BERUPA TEROR. TEROR NADA.
NENEK TAK PEDULI DAN TETAP BICARA PADA PENONTON.


                               NENEK
                       Adakah putihku di sana ?
                            Tunjukanlah !!!
                           Mana putihku ?


                       DARI ARAH PENONTON
                        Tak ada putih di sini…
                                                                  103



                                NENEK
               Ah, ternyata kalian masih suka bohong…
           Aku pikir kebohongan hanya ada di pasar-pasar…
       Ditawar seribu…dia bilang belinya saja seribu dua ratus…
                 padahal ia beli lima ratus…he he he…
           Aku sangka kebohongan hanya ada di terminal…
                    bus penuh dikatakan kosong…
                   tadinya aku hanya beranggapan…
                  kebohongan hanya ada di senayan
                      tapi ternyata…di sini juga …
                    apa pasar pindah ke sini heh ?
                     apa terminal juga ada di sini ?
         atau tempat ini sudah disulap jadi senayan tandingan ?


     NENEK TERGOPOH DAN MENJAUH DARI PENONTON. TAPI DIA
BALIK LAGI. TIARAP LAGI. BERTANYA LAGI PADA ARAH PENONTON.


                                NENEK
                       Adakah putihku di sana ?
                     Tunjukanlah…mana putihku ?


     TAK TERDENGAR JAWABAN. SEPI.


                                NENEK
                       Adakah putihku di sana ?
                    ( SEPERTI AKAN MENANGIS )
                     Tunjukanlah…mana putihku ?


     TAK TERDENGAR JAWABAN. HENING.


                                NENEK
         ( BENAR-BENAR MENANGIS DAN BICARA SENDU )
                       Adakah putihku di sana ?
                                                      104


                          Tunjukanlah !!
                          Mana putihku ?


     NENEK MEMEGANG SELENDANG PUTIH. DIBELITNYA KE LEHER.
AMARAL DATANG DARI ARAH LAIN. KAGET. LALU IA MEMEGANG
NENEK. MEMELUKNYA.


                            AMARAL
                     Nenek jangan bunuh diri…
                 Nenek masih diperlukan di sini…


     NENEK MEMAINKAN SELENDANG DAN SEPERTI AKAN BENAR-
BENAR DIBELITKAN KE LEHERNYA SENDIRI.




                            AMARAL
                          Jangan, Nek !
               Jangan buang kesempatan hidupmu…
                         Hidup itu mahal !!


     AMARAL MEMBAWA NENEK MENJAUH DARI ARAH PENONTON.
RIO TERTEGUN SEJENAK. TAPI JARI-JEMARINYA TETAP SEPERTI
SEDANG MEMAINKAN PIANO. NENEK MENATAP KE ARAH PENONTON
SAMBIL TERSENYUM PENUH KEMENANGAN.


                             NENEK
                       Cucuku masih ada…
                       Dia masih sayang…


     AMARAL TERSENTAK. MELIUK. MENGHENTAK DAN MENJAUH.
NENEK BENGONG DAN KECEWA. SELENDANG AKAN DIBELITKANNYA
KE LEHER TAPI AMARAL TETAP MENJAUH. MELIUK. RIO TETAP
MEMAINKAN PIANO DENGAN SEMANGAT.
                                                              105


     PADA SATU KESEMPATAN NENEK BENAR-BENAR MENJERAT
LEHERNYA. TAPI KETIKA AKAN DITARIK, NENEK BATUK-BATUK. BATUK
ITU TERUS TERDENGAR SEIRING DENGAN SUARA PIANO YANG
SEOLAH SEDANG DIMAINKAN RIO.


     SEIRING TERDENGAR SUARA LEDAKAN, RIO, NENEK DAN
AMARAL BERKUMPUL DI TENGAH PANGGUNG. MEREKA TAMPAK
PANIK.


                                 RIO
                               Bom !!


                             AMARAL
                           Bom … bom !!


                               NENEK
                    Bukan bom…itu tadi kentut !


                                 RIO
                  Kentut ? begitu kerasnya kentut ?


                               NENEK
                         Ya, itu tadi kentut !
          Bahkan ada kentut yang bisa lebih keras dari itu…


                             AMARAL
                               Ngaco !
                       Nenek jangan ngaco !
                     Ayo keluar…itu tadi bom…
                  atau paling tidak granat tangan…


                               NENEK
                               Kentut !
                                                              106


                            RIO
                    Siapa yang kentut ?


                          NENEK
                  Kamu ! kau yang kentut !
       Kentut orang macam kau itu pasti sekeras bom !


                            RIO
                Aku kentut ? kentutku keras ?
                    Mana mungkin, Nek,
          aku masih bebas keluar masuk Amerika !
               kalau aku kentut sekeras bom,
               pasti dicekal masuk Amerika…


                          NENEK
             Kalau begitu, kau yang kentut, Cu !


                         AMARAL
                        ( TERSIPU )
     Nenek…mana mungkin aku kentut di depan umum…
         lagi pula kentut perempuan itu tidak keras…
             Mana mungkin bisa sekeras bom…


                          NENEK
                        Ya, sudah !
          Kalau begitu, mungkin aku yang kentut…
                 Kentutku bisa sekeras bom,
buat ngebom laki-laki brengsek yang akan mengganggu kamu !!
               Tapi….karena aku perempuan,
                pasti kentutku tetap santun…
          Buktinya kentutku tak salah sasaran kan ?
                   Tidak salah tembak…
             Kentutku tepat nembak Riomu itu !
                                                                    107


     RIO    MENJAUH.     DUDUK     DI   KURSI.      SEPERTI   ADEGAN
SEBELUMNYA, IA KONSENTRASI DAN KEMBALI SEOLAH SEDANG
BERMAIN PIANO. AWALNYA PERMAINAN PIANO RIO SYAHDU, TAPI
MAKIN LAMA TERASA SEMAKIN BERSEMANGAT. MENGHENTAK.
PERHATIAN AMARAL TERSEDOT LALU MULAI IKUT HANYUT PADA
PERMAINAN PIANO RIO. AMARAL MULAI BERNYANYI KENDATI SEPERTI
SEDANG TERCEKIK.


                             AMARAL
                         menghitung hari…
                          detik demi detik…


     PADA ADEGAN BERIKUTNYA AMARAL SEPERTI TELAH MENJADI
SEORANG PENYANYI. IA MENANGGALKAN PAKAIAN KESEHARIANNYA.
IA SEPERTI SEDANG MENYANYI DI HADAPAN BANYAK PENONTON.
NENEK SENDIRI DUDUK DI POJOK MEMEGANG SELENDANG PUTIH.
SELENDANG ITU IA PANDANG SEBAGAI SEORANG ANAK KECIL.
DIELUS. DIAJAKNYA BERMAIN. RIO TERUS MENGIMBANGI AMARAL
MENYANYI.


     NENEK MASIH JUGA BERMAIN DENGAN SELENDANG. PADAHAL
TAK JAUH DARINYA, AMARAL SEDANG MENARI DENGAN RIO. PADA
BEBERAPA GERAKAN TARIAN ITU TAMPAK EROTIS SEHINGGA
MEMBERI GAMBARAN BAGAIMANA PERTEMANAN ANTARA AMARAL
DAN RIO TELAH BERUBAH MENJADI HUBUNGAN CINTA KASIH.


     TARIAN AMARAL DAN RIO DEMIKIAN MEMUKAU. PADA SATU
SAAT TIBA-TIBA AMARAL TERKILIR DAN JATUH. RIO MENATAP TAJAM
LALU DENGAN TAK ACUH MENINGGALKAN AMARAL YANG PADAHAL
SEDANG     MERONTA     MEMINTA   TOLONG.      RIO    LALU   DUDUK   DI
TEMPATNYA SEMULA DAN DENGAN EMOSIONAL MEMAINKAN PIANO
SEHINGGA MENGELUARKAN SUARA BERISIK. NENEK TERSENTAK.
MENATAP PADA AMARAL SILIH BERGANTI DENGAN MENATAP RIO.
                                                    108


                     NENEK
                  Ah…kau ini !
      Dia itu lelaki tak bertanggung jawab…


                    AMARAL
         Tapi Rio telah memberi jalan….
           Jalan menuju sukses, Nek !


                     NENEK
         Yang memberi jalan itu, Allah !
           Jangan kau salah sangka…
              Kita itu kecil…kerdil…
Mana mungkin bisa memberi jalan untuk orang lain,
        jalan buat sendiri saja tidak bisa…
                    AMARAL
                 Sudahlah, Nek !
   Simpan omongan nenek itu di lemari besi…
        Aku tak mau mendengarnya lagi…


                     NENEK
 ( TERSENTAK HINGGA SELENDANG JATUH )
                    Amaral ?


                    AMARAL
           Sadar…aku sangat sadar !


                     NENEK
       Oh, Tuhan, sia-sialah upayaku ini…


                    AMARAL
             Nenek tidak mengerti…
      Dunia hiburan memberi jalan hidup…
   jalan yang tak pernah nenek temukan dulu…
 Pandanglah dunia dengan mata sekarang, Nek !!
                                                                  109


                   Bukan mata nenek yang dulu !


                               NENEK
                       Mengkhayalah terus…
                   Bermainlah dalam fantasimu !!
         Tapi kau sedang ada dalam genggamanku sekarang…


                              AMARAL
                     Mulai sekarang tidak, Nek !
                        Aku lepas…bebas…


                               NENEK
                        Bawalah pikiranmu…
                 Tapi kau lupa, hatimu tetap di sini…


      NENEK MEMANDANG SELENDANG YANG JATUH. TAPI KETIKA IA
BERGERAK UNTUK MENGAMBILNYA, DENGAN CEPAT RIO JUSTRU
YANG MENGAMBIL SELENDANG PUTIH ITU. RIO BERLARI KE TENGAH
PANGGUNG. MENYATUKAN SELENDANG PUTIH DAN HITAM MILIKNYA.
SELENDANG ITU TERUS DIPILIN SEHINGGA WARNANYA SALING
SILANG, HITAM DAN PUTIH. NENEK BENAR-BENAR KECEWA BAHKAN
MENANGIS TERSEDU. AMARAL BERDIRI MEMANDANG KE ARAH RIO.
RIO   TERSENYUM.    MENGULURKAN         SELENDANG       ITU.   AMARAL
MENCOBA MENANGKAPNYA BERKALI-KALI TAPI TAK JUGA BISA
MEMEGANGNYA.


      PANGGUNG GELAP. SUARA MENGHENTAK. DALAM GELAP
PANGGUNG ITU TERDENGAR KEMBALI LEDAKAN.


                         SEBUAH SUARA
                        Siapa yang kentut ?
                             Ayo ngaku !
                        Siapa yang kentut ?
                     Perempuan atau laki-laki ?
                                                     110



     MUSIK BERHENTI. LAMPU BERUBAH. SUASANA BERUBAH.
PANGGUNG BERUBAH PADA ADEGAN BERIKUTNYA.


                                 ***




2
BABAK DUA

     SEBUAH KURSI SIMBOL KESUKSESAN BERADA DI TENGAH
PANGGUNG. BEBERAPA SAAT PANGGUNG ITU HANYA BERISI KURSI
TERSEBUT. CAHAYA TERANG. PADA SATU SISI PANGGUNG ADALAH
KAMAR NENEK LENGKAP DENGAN TERALIS. NENEK SESEKALI
TAMPAK DARI JENDELA, MENATAP KELUAR KADANG MEMEGANG
TERALIS MENATAP PADA JARAK JAUH.


     DARI LANGIT TURUN HUJAN. BUKAN HUJAN AIR MELAINKAN
LEMBARAN UANG DAN BUNGKUSAN KADO. LEMBARAN UANG DAN
BUNGKUSAN KADO YANG SEOLAH TURUN DARI LANGIT ITU DIATUR
SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA JATUH DI ATAS KURSI KESUKSESAN,
PALING TIDAK DI SEKELILINGNYA.


     DARI ARAH LAIN BEBERAPA ORANG BERPAKAIAN HITAM
MENYERET SEBUAH KOTAK KADO DALAM UKURAN SANGAT BESAR.
DENGAN KESULITAN MEREKA TERUS MENDORONG KADO TERSEBUT
                                                                111


HINGGA MENDEKATI KURSI. KADO RAKSASA ITU BERBEDA DENGAN
KADO-KADO LAIN. SELAIN UKURANNYA BESAR JUGA WARNANYA
HANYA HITAM DAN PUTIH. KADO RAKSASA ITU DEMIKIAN MENCOLOK.
SETELAH MENEMPATKAN KADO RAKSASA ITU DI PINGGIR KURSI,
ORANG-ORANG ITU MUNDUR DENGAN TERATUR.


     DARI   SAMPING      KIRI DAN KANAN PANGGUNG KEMUDIAN
MUNCUL DUA ORANG BERBADAN TEGAP. KEDUANYA MENGENAKAN
SAFARI WARNA GELAP. MEMAKAI KACAMATA HITAM. KEDUANYA
KEMUDIAN BERDIRI KOKOH DI SAMPING KIRI DAN KANAN KURSI. DARI
TAMPANG KEDUANYA ORANG AKAN LANGSUNG DIINGATKAN BAHWA
KEDUANYA ADALAH BODYGUARD YANG SIAP MENJADI TAMENG
KESELAMATAN TUANNYA. KEDUA LELAKI ITU TAK BANYAK BICARA.
KEDUANYA HANYA MENGGUNAKAN ISYARAT SEPERTI ROBOT.


     SEIRING DENGAN MUSIK MENGHENTAK, KEDUA BODYGUARD
TADI LANGSUNG TIARAP. KEDUANYA SIAP PASANG BADAN.


     DENGAN PAKAIAN GLAMOUR, AMARAL DATANG. SEPERTI
HALNYA   ARTIS    TERKENAL      YANG    BANYAK     DIPUJA,   AMARAL
MELENGGANG.      IA    MENGUMBAR       SENYUM      SEOLAH    SEDANG
MENGHADAPI BANYAK PENGGEMARNYA.


     PADA SISI LAIN, DIBALIK TERALI NENEK MENATAP NANAR PADA
CUCUNYA ITU.


                                 AMARAL
                      Makasih…makasih…sabar ya…
                       semuanya pasti kebagian …
                             sabar dong…
                                                                112


                       ( PADA SESEORANG )
             siapa namanya ? bagus…mana bukunya…
                   oke…tanda tangan di sini ya…
                             iya…iya…


    AMARAL     TERUS    MENGUMBAR         SENYUM.     NENEK   TERUS
TERTEGUN. SITUASI KONTRAS ITU TERUS BERTAHAN UNTUK JANGKA
WAKTU TERTENTU.


                             AMARAL
                 ( PADA SEORANG BODYGUARD )
                Kalian atur jangan sampai berebut …
                     Kalian dibayar untuk itu…
             Kulitku bisa lecet kalau berdesakan terus…


    BODYGUARD ITU TAK BICARA SELAIN SALING MENATAP
DENGAN TEMANNYA.


                                 NENEK
                            ( TERIAK )
                    tak ada penggemarmu, Cu !
                        tak ada penonton…
                     tak ada penjaga pribadi…


                                 AMARAL
                             ( KESAL )
                              Diam !
                      Apa sih maksud nenek ?!


                                  NENEK
                 Aku hanya ingin menyadarkanmu…
                       Bukalah mata hatimu…
                   Ini bukan panggung sandiwara
              untuk melambungkan angan-anganmu…
             ini rumah kita…rumah sederhana milik kita…
                                                                           113



                                     AMARAL
          Lebih baik nenek diam, supaya saya tidak berbuat kasar…
                                    Paham ?!


                                        NENEK
                                     Tidak !


                                        AMARAL
                                Ah, itulah, Nek !
                        Jaman sekarang sudah maju…
                 Jauh lebih maju dari jaman yang nenek alami…
                         Sekarang jaman globalisasi…
                   Nenek pasti tidak tahu apa itu globalisasi ?


                                      NENEK
                          He he he … salah kau, Cu !
             Dari dulu juga namanya sa-si-sa-si itu sudah ada …


                                       AMARAL
                                   ( TERIAK )
                         Britney spears segera hadir…
                         Lihat…kurang apa saya, Nek !
                            Lihat…lihat…penonton !
                           Saya cantik luar dalam …


    AMARAL           KEMUDIAN        MELENGGOK          MENGITARI       KURSI.
MENGITARI KEDUA BODYGUARD KHAYALANNYA. LALU AMARAL
BERLARI     KE     DEPAN.     PASANG      KUPING      SEOLEH      IA   SEDANG
MENDENGAR RIUHNYA TEPUK TANGAN. KEMBALI MEMANDANG KE
ARAH NENEKNYA.


                                     AMARAL
                               Dengar…dengar !!
                        Gemuruhnya sambutan dunia ?
                               Rrrruarrrr…biasa…
                                                                      114



     AMARAL BERDIRI ANGGUN. MENEBAR SENYUM. SESEKALI IA
MENEMPELKAN JEMARINYA KE BIBIR, KEMUDIAN MENIUPNYA KE
ARAH PENONTON. TERSENYUM GENIT.


                                      NENEK
                                  ( SEDIH )
                          Kau terlalu jauh mimpi…
                    Bangunlah, Cu, hari sudah siang !!
                          Lihatlah…ini rumah kita…


     AMARAL TIDAK PEDULI. IA MELENGGOK SEPERTI SEDANG
BERJALAN    DI     ATAS     CATWALK.       MEMAMERKAN        PAKAIANNYA.
MENGITARI   BODYGUARD            KHAYALANNYA        BEBERAPA     PUTARAN.
KETIKA   SUATU     SAAT     IA   MENCUIL    HIDUNG       SALAH   SEORANG
BODYGUARD. AMARAL TERLIHAT SEPERTI TERKEJUT.


                                 AMARAL
                   Aneh…kenapa dicolek tidak kerasa ?
                        Apa aku mencolek angin ?
                            Mencolek bayangan ?


     AMARAL         MULAI        MEMERIKSA        KEDUA      BODYGUARD
KHAYALANNYA ITU. KEMBALI IA TERTEGUN. IA TAK MERASA APA-APA.
TAPI KETIKA MEMEGANG PINGGANG SALAH SEORANG BODYGUARD,
AMARAL KELIHATAN TERSENYUM.


                                   AMARAL
                            Hidup…ya…hidup…
                          Ada kehidupan di sana…


                                   NENEK
                          ( MEMEGANG TERALIS )
                   Ternyata kau memang masih waras…
                 Yang kau pegang itu memang kehidupan…
                                                             115


          He he he … maksud nenek sumber kehidupan…
             Tapi yakinlah cucuku, ia bukan apa-apa…
                      Ia bukan siapa-siapa…
                Seperti juga kamu bukan apa-apa…
                      dan bukan siapa-siapa !!


                                AMARAL
                          Aduh..nenek !!
         Bener-bener membuat saya kehilangan kesabaran…
       Nenek memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa…
            Tapi jangan samakan saya dengan nenek…
                Ini dunia saya … dunia angan-angan


                                 NENEK
        Kau sebenarnya yang bikin aku kehilangan kesabaran
             Dengan cara begini kau akan disadarkan…


     DARI DALAM KAMAR ITU NENEK MELEMPAR BOTOL MINUMAN
KE ARAH AMARAL. BOTOL ITU TEPAT MENGENAI TUBUH AMARAL.
AMARAL TERLIHAT MARAH. PADA KEDUA BODYGUARDNYA IA MARAH.


                                AMARAL
                           Kurang ajar !!
               Apa kalian sudah jadi robot beneran ?
          Apa kalau aku dilembar bom, kalian tetap diam ?!
                         Kalian kupecat !!


     AMARAL MEMBUKA SYAL YANG DIPAKAINYA. LALU SYAL ITU
DIPAKAI MENUTUPI JENDELA KAMAR NENEK. BEGITU SYAL ITU
DIBENTANG, NENEK TERDENGAR BEBERAPA KALI BERSIN.


                                 NENEK
               Mana ada syal artis besar bau apek…
              Kau memang terlalu jauh melamun, Cu !
                 Sayang…orang tuamu tidak ada…
                                                                  116



                                   AMARAL
                     Jangan ungkit masalah itu, Nek !
                    Aku malas mendengar cerita itu…
                        Padahal dady di Amerika !!
                             Mom di Prancis !!
          Nenek malu anak dan menantu sukses di negeri orang ?!


                                  NENEK
                  ( DARI TERALIS TERHALANG SYAL )
                  Aku malu karena punya cucu pelamun !
                    Buang jauh-jauh cerita busuk itu…
              Kedua orang tua meninggal karena kecelakaan !
                  Tak ada di Amerika…tidak di Prancis…


                                   AMARAL
                    Dengar !! Dengar !! Kalian dengar !!
                    Siapa sebenarnya yang melamun ?
                           Aku atau nenekku ?
                         Kalian dengar sendiri …
                  Nenek bilang ayah ibuku meninggal…
          Nenek tak mengenal Prancis…tak mengenal Amerika…
          Nenek kecewa tak bisa masuk ke dunia anak-anaknya…


    AMARAL TERTAWA SEBENTAR KEMUDIAN TAMPAK SEDIH. DARI
DALAM KAMAR TERDENGAR NENEK MENANGIS. PADA SAAT ITULAH
SALAH SEORANG BODYGUARD MEMBUKA KACAMATA DAN RAMBUT
PALSUNYA. IA JUGA MEMBUKA JAS SAFARINYA SEHINGGA TINGGAL
KAOS OBLONG PUTIH. BODYGUARD ITU TERNYATA RIO. AMARAL
TERTEGUN MELIHAT KEJADIAN ITU. RIO TERSENYUM DAN TEPUK
TANGAN.


                                    RIO
                             Hebat…hebat…
                Kau benar-benar telah jadi bintang hebat…
                                                117


                ( SINDIRAN )
   Kau begitu gampang memecat orang…
 tapi tidak apa-apa, untuk maju harus tega !!
        Tega menjegal orang lain…


                   AMARAL
          Apa maksud semua ini ?!
                 Apa Rio ?!


                      RIO
         Penyamaran itu penting…
       Semakin sempurna menyamar,
semakin besar kesempatan untuk jadi besar…


                     AMARAL
              Aku tak paham…


                      RIO
      Tak perlu semuanya mengerti…
         Semakin banyak mengerti,
   justru semakin membuat orang bego…
              Sederhana saja !!


                  AMARAL
      Sederhana menghadapi hidup ?


                    RIO
      Sederhana menanggapi hidup…
      Untuk maju kau perlu sandaran,
     menyandarlah pada orang-orang !!
       Untuk maju perlu kesempatan,
  curilah kesempatan ketika mereka tidur !!
       Untuk maju perlu kepandaian,
    pura-puralah seperti orang pandai !!
                                                                        118


     AMARAL BELUM BEGITU KELIHATAN FAHAM. DARI DALAM
KAMAR       TERDENGAR         NENEK       MENANGIS.         SEDIH    SEKALI
KEDENGARANNYA. TAPI BAIK AMARAL MAUPUN RIO, KEDUANYA
TIDAK PEDULI. MEREKA TENGAH ASYIK DENGAN DUNIA SENDIRI-
SENDIRI.
     RIO       MERENTANGKAN          TANGAN,       AMARAL        MENDEKATI.
KEDUANYA BERPELUKAN. LALU MENARI MELEPASKAN GEJOLAK JIWA
MASING-MASING.


                                     AMARAL
                                Luar biasa…
                         Mas telah memberi jalan !!



                                       RIO
                        Aku tak segan jadi jembatan
            asal bisa menghubungkan kamu ke pantai harapan…
                                     AMARAL
                                 Sungguh ?!


                                       RIO
                    Kau bisa rasakan sendiri selama ini !


                                     AMARAL
                                  Mas Rio !


                                       RIO
                 Aku tidak brengsek seperti kata nenekmu…
                Aku tidak sialan seperti kata orang-orang itu…
             Aku bukan bajingan seperti kata orang-orang suci…
           Aku tidak seperti yang tudingan wartawan-wartawan itu…


                                     AMARAL
                       Jangan peduli dengan nenek…
                   Jangan peduli dengan orang-orang itu…
                    Kita tak ada urusan dengan mereka !!
                                                                119



                                  RIO
                     Siapa yang kau perlukan ?


                                AMARAL
                          ( MALU-MALU )
                         mas Rio tentu …
                   siapa yang mas Rio perlukan ?


                                 RIO
                          Kamu … pasti !


     KEDUANYA SALING MENATAP. BIRAHI MENYEMBURAT KE UBUN-
UBUN. MEREKA MELENGGANG MASUK KE KAMAR SEBELAH KAMAR
NENEK. JENDELA TAK DITUTUP. PINTU KAMAR JUGA TAK DITUTUP.
MEREKA MASUK KE LORONG GELAP ITU, MEMBIARKAN NENEK DAN
SEORANG BODYGUARD YANG SEJAK TADI BERDIRI DIANGGAP
KAMBING CONGEK.


     SEPATU AMARAL DILEMPAR KE TENGAH PANGGUNG. SATU PER
SATU DIAMBIL BODYGUARD. SEPATU RIO DILEMPAR KE TENGAH
PANGGUNG. SATU PER SATU DIAMBIL BODYGUARD. DISIMPANNYA DI
ATAS KURSI YANG TETAP KUKUH DI TENGAH PANGGUNG. KEMEJA
RIO DILEMPAR KE TENGAH PANGGUNG. BODYGUARD TERTEGUN
SEJENAK TAPI AKHIRNYA DIAMBIL DAN DISIMPAN DI ATAS KURSI.
PAKAIAN AMARAL DILEMPAR KE TENGAH PANGGUNG. BODYGUARD
HANYA   GELENG-GELENG       KEPALA.        TAPI    SEPERTI   ADEGAN
SEBELUMNYA, AKHIRNYA IA MENGAMBILNYA DAN DISIMPAN DI KURSI.


                              BODYGUARD
                  Sepatu yang membuat lupa diri…
                Tak terasa menginjak orang kecil…
                  Kemeja yang membuat dia silau…
                    Semua telah ditanggalkan…
               Semua teronggok tak berarti di sini…
                                                                   120


              Keduanya telah menjadi binatang tentu…
                Sama-sama menanggalkan pakaian…
                  ( PADA ONGGOKAN PAKAIAN )
                     Kau dicipta untuk kebaikan,
               bukan untuk membuat orang lupa diri…
                              Ingat itu !!


     BODYGUARD MENANGGALKAN SEPATU YANG KIRI DAN DIGANTI
DENGAN SEPATU RIO. IA JUGA MENANGGALKAN SEPATU YANG
KANAN   DAN   DIGANTI     DENGAN        SEPATU     AMARAL.   IA   JUGA
MENANGGALKAN JAS SAFARI DAN DIGANTI SEBELAH PAKAIAN RIO
DAN SEBELAH PAKAIAN AMARAL. NENEK KELUAR DARI KAMAR DAN
TERTEGUN MELIHAT BODYGUARD. KACAMATA TUANYA BERKALI-KALI
DIPEGANG DAN DICOPOT SEPERTI TIDAK YAKIN DENGAN APA YANG
DILIHATNYA. TAPI KETIKA BENAR-BENAR YAKIN DENGAN APA YANG
DILIHATNYA SAAT ITU, NENEK AKHIRNYA TERKEKEH.


                                  NENEK
               Tambah satu lagi orang gila sekarang…
                  Kaukah telah melupakan takdir…


                              BODYGUARD
                Aku perlu mencoba takdir orang lain…
              Takdir sebagai manajer artis di sisi kiriku…
                Takdir sebagai artis di sisi kananku…


                                  NENEK
                 Dan takdirmu tak kebagian tempat…


                                BODYGUARD
                        Takdirku tetap di sini…
                       Di dalam dada ini, Nek !


                                   NENEK
                             Berjalanlah !
                                                       121



                      BODYGUARD
              Aku tak bisa berjalan…
      Karena kaki kananku kaki perempuan…
           dan kaki kiriku kaki laki-laki…


                         NENEK
            Artinya kau menolak takdir…


                       BODYGUARD
                      Bukan !!
              Bukan menolak takdir !
    Tapi aku ingin kompromi dengan takdir, Nek !
Antara perempuan dan laki-laki pasti bisa kompromi…
  Tapi kenyataannya aku benar-benar menyesal…
    Jangankan antara perempuan dan laki-laki…
antara kaki kanan dan kaki kiri saja sulit kompromi…
      Hebat benar orang di atas awan sana !!


                        NENEK
      Hah…kau telah berjalan ke atas awan ?


                      BODYGUARD
           Aku sering berjalan ke sana !!


                          NENEK
      Kau lihat orang-orang saling kompromi ?
      Kau lihat kaki kanan dan kiri kompromi ?
  Kau saksikan tangan kanan dan kiri kompromi ?
            Atau sama seperti di sini …
Sulit menerima kompromi ketika tak jelas jatahnya !!


                      BODYGUARD
     Aku melihat orang-orang di atas awan sana
              Semuanya bersahaja…
        Semuanya tertib tanggung jawab…
                                                                   122


                Di jalan tak pelanggaran lalu lintas …
          Di kantor kepolisian tak ada jual beli kesalahan…
       Di pengadilan tak ada transaksi pasal dan delik aduan…
             Di parlemen tak ada adu jotos kekuasaan…


                                 NENEK
                        Tentu damai di sana…
                  Semuanya serba teratur…tertib…


                             BODYGUARD
            Nenek tahu kenapa di atas awan seperti itu ?
                 Karena tak ada yang punya cita-cita
                          Tak ada lalu lintas..
                         Tak ada kepolisian…
                        Tak ada pengadilan…
               Dan absen yang namanya parlemen…


                                   NENEK
                         Aku tahu sekarang …
          Kalau mau tertib lalu lintas, hilangkan lalu lintas !!
                    Mau bersih, lenyapkan polisi !!
                  Mau adil, hilangkan pengadilan…
             Kalau mau jujur di parlemen….hilangkan…


    DARI KAMAR AMARAL TERDENGAR SUARA TEMPAT TIDUR
AMBRUK. NENEK DAN BODYGUARD SALING PANDANG.


                                   NENEK
                                Roboh !


                                BODYGUARD
                               Dahsyat !


                                   NENEK
                                Amblas !
                                                      123


                           BODYGUARD
                           Puas !


                             NENEK
                         Bencana !


                           BODYGUARD
                          Pesona !


                            NENEK
                      ( MEMBENTAK )
                          Adzab !!


                          BODYGUARD
                    ( MENAHAN NAFAS )
                           huh…


    DARI DALAM KAMAR AMARAL MENJULURKAN TANGAN.


                            AMARAL
                        Pakaianku !!
                        Sepatuku…


    DARI SEBELAH TANGAN RIO MENGGAPAI-GAPAI.


                               RIO
                        Pakaianku !!
                         Sepatuku !!


    PAKAIAN RIO DAN AMARAL MASIH TERONGGOK DI ATAS KURSI.
TAK ADA YANG BERANI MEMEGANGNYA. KETIKA BODYGUARD
MENCOBA UNTUK MENGAMBILNYA, NENEK MENGHALANGI.


                             NENEK
                   Jangan kau sentuh itu…
               Itu api…tanganmu akan meletup…
                                                    124


                      Jauhilah api itu…
                  Kau akan terbakar nanti !!


                          BODYGUARD
                         Api !! Api !!
                  Aku harus menjauhinya…


    NENEK MENDEKATI KURSI ITU. IA BARU SAJA BERUBAH
PIKIRAN. NENEK MENJULURKAN TANGANNYA AKAN MENGAMBILNYA,
BODYGUARD YANG MENGHALANGI.


                          BODYGUARD
                     Jangan sentuh itu !!
                         Api !! Api !
                      Jauhilah api itu !!
                      Terbakar nanti !!


                            NENEK
              Ya…api…aku harus menjauhinya…


                              ***
                                                               125




3
BABAK TIGA


     SEBUAH RUANG TENGAH. DI KIRI DAN KANAN TERDAPAT DUA
KAMAR. SATU KAMAR AMARAL DAN SATU KAMAR NENEK. AMARAL
DUDUK DI KURSI PANJANG, MEMEGANG PERUT, WAJAHNYA TEGANG.
AMARAL SAAT ITU SEDANG HAMIL. NENEK DUDUK DI KURSI GOYANG.
PANDANGAN AMARAL TERLIHAT KOSONG. MENATAP KE ARAH TAK
PASTI. SESEKALI IA MEMEGANG PERUTNYA.


                                 AMARAL
              Aku tahu kesuksesan itu harus disongsong…
                       dengan tenaga dan hati…
                 Aku telah melakukan semuanya, Nek !


NENEK
                             ( TAK ACUH )
          Kau tahu caranya tapi tidak tahu menjalankannya !!
                      Kau pinter tapi tidak cerdik…
             Kancil itu kecil tapi bisa memperdaya harimau…
                Kancil memang tidak pintar tapi cerdik…


                                  AMARAL
                                Nenek…


                                  NENEK
                   Kau tahu brengseknya lelaki itu…
                      ( MELIRIK PADA AMARAL )
                          aku tidak tahu dunia,
                tapi pernah merasakan hal yang sama !!
                              Sudahlah !!
                          Tak perlu berdebat !!
                                                                   126


                  sekarang selamatkan anakmu itu !!


                                  AMARAL
                              Aib, Nek !
                Tak ada yang bisa menanggung aib !!


                                   NENEK
                                 Aib !!
                               Ya…aib !
         Tapi anak itu tetap akan tumbuh dan akhirnya lahir !!


                                AMARAL
                 ( BERDIRI. MERINGIS SEBENTAR )
       Aku harus menghentikan agar anak ini tidak terus besar !!
                Aku yakin pilihanku sekarang benar !!


     AMARAL MASUK KE DALAM KAMAR. NENEK TERSENTAK KAGET.
IA BERDIRI. BERJALAN PELAN MENUJU KAMAR AMARAL. DARI PINTU
KAMAR YANG AGAK TERBUKA, AMARAL MENJULURKAN TANGANNYA
YANG SEDANG MEMEGANG PISAU. MELIHAT KILAU PISAU, NENEK
TERLIHAT KAGET DAN HAMPIR TERIAK.


     AMARAL MENARIK TANGANNYA. KINI KEPALA YANG TERJULUR
DARI PINTU KAMAR ITU. MELIHAT NENEK YANG MASIH BENGONG.
MELIHAT KE SEKELILINGNYA. AMARAL MASUK LAGI DAN TERDENGAR
BICARA DARI DALAM KAMAR.


                                  AMARAL
            Nenek pasti tahu apa yang akan aku lakukan…
               Nenek telah banyak makan asam garam
                     Pasti tahu apa yang kupilih !!


                                 NENEK
                        Tidak…aku tidak tahu !
                        Aku tidak paham, Cu !
                                                            127


                   Aku tidak mau mereka-reka…
                      Juga tentang pisau itu !!


                                 AMARAL
                       Aku tak sanggup, Nek !


                                  NENEK
                              Jangan !!
             Percayalah…kasih Allah seluas samudera…
                 bahkan ditambah samudera lain…
                     samudera yang lain lagi…


                                 AMARAL
                   Aku tak perlu samudera, Nek !
               Aku perlu bagaimana menutup aib ini !!


     NENEK MENUBRUK PINTU KAMAR. TAK TERDENGAR APA-APA.
HENING. BEBERAPA SAAT KEMUDIAN AMARAL DAN NENEK KELUAR
DARI KAMAR. PERGELANGAN TANGAN AMARAL DIPERBAN. NENEK
MEMEGANG PISAU ITU. KEDUANYA KEMUDIAN DUDUK. TAK BICARA.
AMARAL MERINGIS MELIHAT LUKA DI PERGELANGAN DAN NENEK
MERINGIS MELIHAT PISAU.


                                 NENEK
                    Beruntung pisau itu tumpul…
                  Kalau tidak, nadimu pasti putus !!


                                 AMARAL
                       Beruntung ada nenek !!
           Kalau tidak, pasti bukan pisau yang aku pakai…


                                NENEK
                  Kematian bukan penyelesaian…
                Kematian bukan akhir dari masalah…
                Kematian justru awal dari masalah…
                                                                 128


                              AMARAL
                 Kematian memang awal masalah…
                Tapi masalah yang belum aku tahu…
               Sementara hidup jelas awal masalah…
             Dari masalah yang telah tahu akibatnya …
                Itulah kenapa aku memilih kematian !!


    AMARAL BERJALAN KE DEPAN. BEBERAPA LANGKAH LALU
BERHENTI. IA SEPERTI SEDANG MENDENGAR SESUATU. AMARAL
TERUS MEMASANG KUPINGNYA. IA YAKIN AKAN APA YANG SEDANG
DIDENGARNYA. AMARAL SEDANG MENDENGAR SUARA RIO YANG
MEMBAWA KEMATIAN.


                                AMARAL
                          Rio…kaukah itu ?
                     Kenapa kau hitam sayang ?
              Kaukah bersama malaikat maut itu heh ?
                    Hitam…kau hitam sayang …


                                  NENEK
                        Dari dulu dia hitam…
                  Hanya mata kamu rabun ayam…
                        Hitam dibilang putih…
              Mana mungkin hitam bisa disebut putih…
         Antara hitam dan putih punya suara sendiri-sendiri !!
                   Punya nuansa sendiri-sendiri !!


                                 AMARAL
                           ( TAK PEDULI )
                  Rio…hitamkan yang kau bawa ?!


                               NENEK
        Sayang kau selalu menggunakan warna orang lain !!
                     Aku benar-benar kecewa…
                 jangan-jangan anak muda sekarang
                                                                       129


                selalu senang dengan warna orang lain !!
         Ah…Cu…cu…terlalu jauh kau bercermin pada orang !!


     AMARAL     TERUS     MELANGKAH.         DI     DEPAN   PANGGUNG    IA
BERHENTI. MENATAP KE ARAH PENONTON. IA MULAI BICARA SENDIRI
SEOLAH SEDANG BICARA DENGAN ORANG LAIN. ENTAH SIAPA. DAN
ENTAH KENAPA IA BICARA SEPERTI ITU. PANGGUNG SEMAKIN GELAP
HINGGA MENGABURKAN WARNA NENEK. KINI HANYA AMARAL YANG
DOMINAN TEROMBANG-AMBING KEBIMBANGAN.


                               AMARAL
                     Mendekat…mendekatlah, Rio !
                           Lihat…lihat ke sini !!
                  Tadi aku akan mengakhiri hidup ini !!
           Padahal di perutku ada janin yang mulai hidup….
       Ah…kau tak paham bagaimana kegundahanku sekarang…
                     Tidak…kau tidak cukup pintar !!
                     Kau menghancurkan harapan !!
   ( SEDIH. MEMEGANG SELENDANG PUTIH YANG TERSAMPIR DI
                                PUNDAK )
                             Selendang ini !!
                     Kau ingat selendang putih ini ?
                  Aku membawanya agar kau datang !!
       Bukankah kau selalu amarah ingin melenyepkan putih ini ?!
                           Kau ingat itu Rio ?
                             Ayo ambil Rio !!
                         Ambil…ambil putih ini !!
              Tak ada nenek di sini !! tak ada siapa-siapa !!
                         Ambil !! Ambil segera !!
( TERTAWA TERBAHAK-BAHAK. BERHENTI. MELANGKAH PELAN. LALU
                   DUDUK DAN MULAI MENANGIS )
                             Hitam….putih…
               Hitamku …putihmu…putihku…hitammu…
                  Dimana hitamku…dimana hitammu…
                                                                   130


                 Dimana putihku….dimana putihmu…
                           Putih….hitam…
                     Putihku…hitamku…dingin…
              Angin…dimana hitamku…dimana putihku…


                                RIO
             Hitammu disini…bukan itu…bukan disana…
                      Lihat…pandang…tatap…
                      Hitammu di sini…Amaral !


                              NENEK
                        Itu bukan hitam, Cu !
       Itu abu-abu…abu bukan hitam…karena ada putih di sana…
                       Abu-abu bukan putih…
         Oh…( TERKEKEH ) abu-abu bikin bingung kamu, Cu ?
                       Tidak…jangan bingung !
                 Pandanglah abu-abu itu dengan ini …


      AMARAL MENATAP GAMANG KE ARAH SUARA TANPA WUJUD
ITU. IA BERDIRI. GONTAI. MELANGKAH PELAN. MENYEKA AIR MATA.
SELENDANG YANG ADA DI LEHERNYA KEMUDIAN DILILITKAN, LALU
KEDUA UJUNGNYA IA TARIK KE ARAH YANG BERLAWANAN. AMARAL
TERLIHAT MULAI SULIT BERNAPAS. PADA SAAT ITULAH SEOLAH-OLAH
ADA   KEKUATAN     BESAR     YANG     INGIN     MELEPASKAN     LILITAN
SELENDANG ITU MEMBUAT AMARAL TEROMBANG-AMBING. AMARAL
BERLARI KE SANA KE MARI DITARIK KEKUATAN ITU. IA SESEKALI
TAMPAK BERPUTAR DI TENGAH PANGGUNG, KADANG KE KIRI DAN
KADANG KE KANAN. GERAKAN-GERAKAN ITU SEPERTI SEDANG
MENARI, MELIUK-LIUK LAKSANA ULAR KOBRA MENDENGAR SERULING
PAWANG. LAMA IA MELIUK-LIUK SAMPAI AKHIRNYA KEHABISAN NAPAS
DAN   BERHENTI. CAHAYA PANGGUNG MULAI TERANG SEHINGGA
JELAS SOSOK AMARAL YANG TERDUDUK LESU.
                                                         131


    DARI ARAH YANG BERLAWANAN DATANG RIO DAN NENEK.
KEDUANYA SALING PANDANG PENUH KEBENCIAN. LALU KEDUANYA
PULA MELIHAT AMARAL YANG TERDUDUK LESU. NENEK MULAI
TERPANCING AMARAHNYA.


                             NENEK
                     Pembunuh ! Bajingan !
                        Bangsat tengik !
                           Cecunguk !
                     Amburadul…sampah !
                            Busuk !!


                                 RIO
                          Kutu busuk !
                          Tua banga !!
                          Pembunuh !!
                        Kau cecunguk !!
                     Kau tengik !! Sampah !!
                      ( MELUDAH ) puih !


                                NENEK
                       Terkutuk kau, Rio !


                                  RIO
                    Terkutuk kau tua bangka !


                             NENEK
             Heh…sompret, kenapa kau ikut-ikutan ?
                                 RIO
                  Karena kau biang keladinya…


                             NENEK
           Kau yang menghancurkan cucuku, sompret !


                                 RIO
          Tapi kau yang kesatu menghancurkan pacarku !
                                                                      132


                   Seharusnya kau urus liang lahat…
                 Ukur jangan sampai terlalu longgar…
      Bumi ini akan menolak jika kau minta kubur terlalu longgar !!


                               NENEK
          Hei…kenapa kau urus masalah kubur segala heh ?


                                   RIO
               Karena kau yang sengaja minta dikubur !!
           Orang yang suka mengubur keinginan orang lain,
                    memang selayaknya dikubur !!


                                  NENEK
                         Lancang kau tengik !
                       Kau apakan cucuku itu ?


                                    RIO
                        Kau yang harus jawab !!
                     Kau apakan pacarku itu heh ?


    KEDUANYA DIAM. TERENGAH-ENGAH DAN SEPERTI KEHABISAN
KATA-KATA. NENEK DAN RIO BERBARENGAN MENATAP AMARAL YANG
MASIH TERDUDUK LESU.




                                  NENEK
                          Kenapa kau diam ?


                                     RIO
                         Kau sendiri kenapa ?


                                 NENEK
                    Aku capek…bengekku kambuh !


                                   RIO
                        Sama…aku juga capek !
                                                            133



    RIO MEMBOPONG AMARAL DIBAWA MASUK KE KAMAR. TAPI DI
PINTU KAMAR NENEK MALAH MENGHALANGI.


                                NENEK
                     Langkahi dulu mayatku…


                                 RIO
                Tak sudi…bisa-bisa aku impoten !!
                  Minggir atau aku kasih kentut !


    NENEK MENUTUP HIDUNG DAN MULAI BATUK-BATUK.


                                 RIO
               Baru kentut bohongan sudah panik…


                              NENEK
                  ( BICARA PADA PENONTON )
                          Dasar busuk !
               Masih hidup saja sudah bau busuk…
                    Apalagi kalau sudah mati !!
          Jangan-jangan akan tercium sampai Amerika…
                                RIO
             Hei…tua bangka hentikan omonganmu !!
           Nanti kalau Amerika kentut, kau bisa celaka !!
          Nasibmu bisa lebih parah dari Saddam Husein !!


                               NENEK
                      Tuh kan…kentut lagi !!
                         Aku mual tahu…


                                RIO
               Itu baru ngomong…kentutnya belum


                               NENEK
                   Cih…pantas cucuku hamil…
                                                                   134


                    Sering kena kentut kau rupanya…


       RIO KELUAR DARI KAMAR AMARAL. IA TERSENYUM MANIS PADA
NENEK. NENEK TERLIHAT KAGET DAN LANGSUNG GEMETARAN.


                                     RIO
                 Kenapa kita tidak membentuk koalisi …
                  Kita bikin poros penyelamat amaral…
                          Kalau nenek setuju,
                  kita bisa kompromi bagi-bagi kentut !!
                       atau kita bagi-bagi kursi….


                                     NENEK
         Aku tak butuh kentut …kursi goyangku masih cukup kuat…


                                      RIO
             Oke…kita bagi-bagi kursi goyang…bagaimana ?




                                NENEK
                     Heh…apa maksudmu tengik ?!


                                     RIO
              Kita kompromi saja…kita selamatkan Amaral…
             Nenek akui saja, Amaral itu hamil sama nenek…


                                NENEK
                               Apa bisa ?


                                 RIO
                        Namanya juga kompromi,
                     apa sih yang nggak bisa, Nek ?


       RIO MENGGANDENG NENEK LALU DISURUHNYA DUDUK DI
KURSI GOYANG. KURSI ITU DIGOYANG-GOYANGKAN OLEH RIO. MULA-
MULA    PELAN,    MAKIN    LAMA     MAKIN     KENCANG.     PADA   SATU
                                                              135


KESEMPATAN DENGAN SELENDANG PUTIH, RIO MENJERAT LEHER
NENEK. NENEK TERLIHAT KELOJOTAN. LALU DIAM. TAPI KURSI
GOYANG ITU MASIH TERUS BERGOYANG.


                                ***




4
BABAK EMPAT


     PANGGUNG ADALAH SEBUAH JALAN CUKUP RAMAI. DARI SATU
ARAH MUNCUL AMARAL BERSAMA SEORANG ANAK KECIL, PUTRI
(ANAKNYA).   DI    DEPAN    BEBERAPA    ORANG     YANG     SEDANG
NONGKRONG,        AMARAL    MENARI    DENGAN    GEMULAI.    MUSIK
PENGIRINGNYA DARI MULUT PUTRI. SELESAI MENARI, AMARAL
MENYODORKAN        KALENG    BEKAS    SUSU.    BEBERAPA    ORANG
MEMASUKAN UANG RECEHAN KE DALAM KALENG ITU. AMARAL
MENGANGGUK DAN TERSENYUM BAHAGIA. PADA SALAH SATU SUDUT
PANGGUNG, KOTAK RAKSASA HITAM PUTIH TERONGGOK TANPA
DIPEDULIKAN ORANG-ORANG.
                                                                 136


    DI SUDUT PANGGUNG, AMARAL DUDUK BERSAMA PUTRI. IA
MULAI CERITA TENTANG KEBAIKAN DAN KEBEJATAN ORANG-ORANG.


                                 AMARAL
                   Kau tahu orang-orang itu, Nak ?
                   Kemarin ketika matahari di atas,
                mereka adalah para pengagum ibu !!
                Mereka itu siap menjilati keringat ibu !!


                                   PUTRI
                              Ih…jorok…
                     Apa mereka tidak makan ?!


                              AMARAL
                      Makan…mereka makan…
                 Tapi tidak dengan mulut-mulutnya…


                                    PUTRI
                             Kok gitu, Bu !


                                AMARAL
            Mereka makan tidak dengan mulut-mulutnya…
              Mereka makan dengan pantat-pantatnya…
                  Kau pasti bingung…tapi sudahlah,
      tugas seorang ibu memang menyampaikan segala sesuatu
                  yang membingungkan anaknya…
                  nenek juga dulu begitu pada ibu…
     Buyutmu juga sama saja…bahkan lebih membingungkan lagi !!


                                  PUTRI
               Apa pantat orang-orang itu ada giginya ?


                                   AMARAL
                     Tidak ! Tentu saja tidak ada !
                                                          137


                         PUTRI
             Bagaimana mereka makan ?


                     AMARAL
     Mereka akan memaksa memasukannya …
Mereka memang sering memaksakan kehendaknya…
         Mereka akan memakan apa saja…
                Memakan siapa saja !!


                        PUTRI
                   Memakan ibu ?


                          AMARAL
                  Ya ! hampir saja…
        Hampir saja ibu mereka makan juga…
     Beruntung ibu punya benteng yang kokoh…
              Ayahmu…Rio namanya !
              ( MENERAWANG JAUH )
           Dia lelaki tampan juga gagah…
Selalu melindungi ibu dari kerakusan orang-orang itu !!


                          PUTRI
                    Ayah hebat !!


                       AMARAL
              Ayahmu memang hebat…
Jauh lebih hebat dari Superman…apalagi Gatotkoco..


                          PUTRI
                 Ayah bisa terbang ?


                         AMARAL
       Tentu, sayang ! Ayahmu bisa terbang…


                          PUTRI
                 Ayah punya sayap ?
                                                                     138


                                  AMARAL
                                Tidak !


                                PUTRI
              Kok nggak punya sayap bisa terbang ?!


                                  AMARAL
                    Ia terbang dengan uangnya…
                   Ia terbang dengan jabatannya…
                    Ia terbang dengan ambisinya…
                  Bahkan dengan pikiran-pikirannya…


                                   PUTRI
                             Ibu ngawur !!
                                AMARAL
                       ( TERSENTAK KAGET )
                    apa benar ibu bicara ngawur ?


     PUTRI MENGANGGUK. MENDEKATI KOTAK RAKSASA YANG
TERONGGOK    DI    SUDUT     LAIN.    ANAK    ITU     MENCOBA      UNTUK
MENAIKINYA, TAPI TIDAK BERHASIL. IA MENGAJAK IBUNYA UNTUK
MENAIKI   KOTAK     RAKSASA       ITU.    AMARAL         SEPERTI   MULAI
TERSADARKAN DENGAN KEHADIRAN KOTAK ITU. KOTAK YANG
PERNAH MELAMBUNGKAN FANTASINYA.


                                  AMARAL
                  Jangan kau naiki kotak ini, sayang !
                       Kotak ini terlalu tinggi…
                    Tak bisa kau jangkau sendiri !!


                                   PUTRI
                      Ibu pernah naik kotak ini ?


                               AMARAL
                       ( TERSENYUM PAHIT )
            Ya…ya…dulu ibu pernah menaiki kotak ini…
                                                           139


      Ibu juga pernah merasakan jatuh dari kotak ini…
            ( SEDIH. MENGUSAP AIR MATA )


                             PUTRI
                       Ibu nangis ?
            Kata ibu jangan pernah menangis…
              Kata ibu menangis itu bodoh !!
   Kata ibu…menangislah kalau menghadapi kematian…
           Siapa yang akan mati sekarang, Bu ?


                          AMARAL
                 ( TERSENTAK KAGET )
                   Ibu tidak menangis…
    Ibu hanya ingat Buyutmu… ibu juga ingat ayahmu…


                             PUTRI
               Apa uyut naik kotak ini, Bu ?


                       SEORANG LELAKI
    Buyutmu tentu tidak pernah menaiki kotak ini, Nak !
              Tapi ia seperti ditulis sejarah…
        Pernah melarang ibumu menaiki kotak ini…
           Inilah kotak raksasa… kotak fantasi…
Yang hanya akan membuat gila siapa saja yang menaikinya…


                           AMARAL
                     ( MEMBENTAK )
                Jangan hancurkan anakku !


                       SEORANG LELAKI
                 Tidak mungkin, Nyonya !
            Karena saya adalah tanah di sini …
 Tanah yang pernah menyaksikan bagaimana anda dulu…
              Demikian mabuk kesuksesan…
              Demikian mabuk kehormatan…
   Demikian mabuk kekayaan…prestasi…pujian…dan…
                                                         140



                                AMARAL
                              Cukup !


                             PUTRI
               ( KAGET DAN HAMPIR MENANGIS )
                        Orang gila ya, Bu ?!


                                AMARAL
                       Ya, dia memang gila !
                   Ayo kita menyingkir dari sini…


                                   PUTRI
                    Ayo, Bu ! kita menyingkir…
            Ibu menari lagi…dan Putri main musik lagi…


     AMARAL MENJAUHI KOTAK RAKSASA DAN LELAKI MISTERIUS

ITU, TAPI ENTAH KENAPA KAKINYA SEPERTI TERPATOK. TAK BISA

MELANGKAH. PUTRI TAMPAK KAGET DAN TERUS MEMAKSA AGAR

AMARAL MENINGGALKAN TEMPAT ITU. LELAKI MISTERIUS ITU HANYA

TERSENYUM PAHIT.



                                 PUTRI
                             Ayo, Bu !
                     Ibu harus nari… nari, Bu !


                               AMARAL
           Sebentar sayang… ibu tidak bisa melangkah…


                           SEORANG LELAKI
            Kau tak mungkin meninggalkan tempat ini…
                     Tanah ini adalah saksi…
                Bagaimana kau terbius fantasimu…
            Kau tak mungkin meninggalkan tempat ini…
                                                             141


                      Tanah ini adalah saksi…
          Bagaimana kau tergila-gila kehidupan orang lain…


                                  PUTRI
                         Lari ibu… ayo lari !


                                 AMARAL
                        Tidak bisa sayang…
                                PUTRI
                     Menari… ayo ibu menari…
                      Aku yang main musik….


     PUTRI MAIN MUSIK DENGAN MULUTNYA. AMARAL MULAI
MENARI. TAPI ENTAH KENAPA TARIANNYA TIDAK LUWES. TARI ITU
PATAH-PATAH SEPERTI GERAKAN ROBOT. KAKU DAN MENYEBALKAN.
LELAKI MISTERIUS ITU LAGI-LAGI TERSENYUM.


                            SEORANG LELAKI
                       Kau tak bisa menari…
             Karena dulu kau pernah menghina tarian…
                 Kau sering menelantarkan tarian…
               Kau anggap tarian adalah tiket masuk…
                   Ke dunia gemerlap dan erotis…
                  Kau telah menelantarkan tarian…
          Sekarang rasakan bagaimana tarian mengutukmu !!


     PUTRI TERUS MAIN MUSIK DAN AMARAL TERUS MENARI PATAH-
PATAH. KEDUANYA TERUS MELAKUKAN ITU TANPA LELAH DAN TANPA
MEMPEDULIKAN LAGI ORANG-ORANG DI SEKITARNYA YANG MULAI
MENCIBIR. BEBERAPA ORANG BAHKAN ADA YANG MELEMPARNYA
DENGAN BEKAS MAKANAN DAN KOTORAN.


                                PUTRI
                         Lapar…Bu, lapar !
                                                                  142


                                AMARAL
             Sebentar sayang…tugas kita belum selesai…
                      Ayo…musiknya mana…
                      Ibu akan menari terus…




                                 PUTRI
                           Lapar…lapar…


                                 AMARAL
                   Lapar ? apa itu lapar sayang ?
                  Ibu tidak pernah merasakannya…


     PUTRI BENGONG DAN MENATAP TAJAM KE AMARAL. LELAKI
MISTERIUS ITU LALU MEMBERI ISYARAT AGAR PUTRI MENDEKATI
KOTAK RAKSASA.


                                  AMARAL
          Buyutmu dulu tidak pernah mengajarkan ibu lapar…
    Buyutmu hanya mengajari bagaimana kita memberi orang lapar…
                     Buyutmu memang hebat…


                                 PUTRI
                      Hebat seperti ayah, Bu ?


                                  AMARAL
                       Ya, hebat seperti ayah !


     PUTRI BENAR-BENAR MENDEKATI KOTAK RAKSASA ITU TAPI
TIDAK BERHASIL. LAGI-LAGI IA JATUH. AMARAL BERHENTI MENARI.
MEMEGANG PUTRI AGAR MENAIKI KOTAK ITU. PUTRI SEKARANG
TELAH MENAIKI KOTAK ITU. IA TAMPAK SUKACITA. ANAK ITU BAHKAN
MENARI-NARI. PADA SAAT PUTRI MENARI ITULAH DARI DALAM KOTAK
TERDENGAR ADA SUARA. PUTRI LONCAT MEMBURU AMARAL.
                                                          143


                              PUTRI
                      Takut…Putri takut…




                          SEORANG LELAKI
            Ada yang tidak beres dengan kotak ini…
              Awas… awas… kalian menyingkir !!
               Jangan-jangan ada bom waktu !!


                           AMARAL
                 Bom ? awww…bom…bom !!
                 Ke sini sayang… ada bom…
                            Bom…!
( BERPIKIR MENGINGAT SESUATU. IA TERINGAT UCAPAN NENEK
         KETIKA IA SEDANG BICARA DENGAN RIO )
                      Bom ? apa kentut ?


                      SEORANG LELAKI
        Tenang…sabar…kalian harus bisa menjaga diri !
                Percayalah…selama ada saya,
                 semua aman dan terkendali !


                              PUTRI
                            Bom ?
          Bom itu apa, Bu ? Bom itu manis apa pahit ?


                           AMARAL
        Bom itu…ya…bom itu seperti tangan raksasa…
           Akan merenggut siapa saja yang lemah…
                           Bom itu…
                        Ah…sudahlah !
         Nanti kalau kau besar, akan tahu apa itu bom !
                                                                   144


     PUTRI HANYA DIAM. BENGONG. BAHKAN TERLIHAT IA MULAI
FRUSTASI. IA MENDEKATI KOTAK ITU LAGI, TAPI CEPAT-CEPAT
DILARANG OLEH LELAKI MISTERIUS ITU.


                            SEORANG LELAKI
             Lihat…ada yang bergerak di dalam kotak ini !
                           Ada kehidupan…


                                 AMARAL
                              Bukalah !


                           SEORANG LELAKI
                    Ya…saya harus membukanya !
                             Satu…dua…
                    Apa saya harus membuka ini ?
          Kalau ini bom waktu…saya pasti korban pertama…
                             ( BERPIKIR )
         tapi nggak apa-apa…kesempatan untuk jadi pahlawan,
                     tak pernah datang dua kali…
                 kalau ini bom waktu dan saya mati…
       tolong beritahukan pada tukang ketupat di sudut gang ini…
                  saya sudah dua kali belum bayar…
             makan kerupuk tiga, tak pernah saya hitung…


     LELAKI MISTERIUS ITU MULAI MEMBUKA TALI KOTAK RAKSASA
ITU, KEMUDIAN BUNGKUSNA DIBUKA SATU PERSATU. LALU TUTUP
KOTAK ITU DIBUKA. ADA YANG MENGEPUL DARI DALAM KOTAK.


                            SEORANG LELAKI
                 Kurang ajar… ternyata bukan bom…
                       Ini hanya kotak kentut…
               Kau benar… ini bukan bom tapi kentut…


                             AMARAL
            ( MENENGOK KE DALAM KOTAK. IA KAGET )
                                                                 145


                      ada orang… ada orang…
                          lihat… ada orang…
    LELAKI MISTERIUS ITU MEMERIKSA SEMENTARA AMARAL
MENJAUH DAN MENGGENDONG PUTRI. LELAKI MISTERIUS ITU
MENDENGUS KARENA MENCIUM BAU YANG TAK SEDAP.


                              SEORANG LELAKI
                  Sialan ! sudah mati masih kentut…
                            ( BERPIKIR )
                     oh…bukan…bukan kentut…
                        ia memang sudah mati !
            yang saya cium tadi…oh alah…bau bangkai !
                     ya…benar…bau bangkai !!


                                 AMARAL
                              Bangkai ?!


                                    PUTRI
                         Bangkai itu apa, Bu ?


                                AMARAL
                    Bangkai itu…bau…ya…bau !


    LELAKI MISTERIUS ITU MULAI MENGGOYANG-GOYANG TUBUH
KAKU ITU. DILUAR DUGAAN MAYAT ITU BANGKIT. AMARAL MEMEKIK
KAGET KARENA TERNYATA YANG DI DALAM KOTAK ITU NENEK.
NENEK   KELUAR   DARI    KOTAK,     SEMENTARA     LELAKI   MISTERIUS
MENJAUH KETAKUTAN.


                               AMARAL
                    Nek…nenek ? nenekkah itu ?
             Ah, ternyata nenek masih bisa senyum…
                 Tapi apakah nenek hidup atau mati ?
                                                      146



                   SEORANG LELAKI
                 Dia telah mati…
         Aku mencium bau bangkai tadi…
         Dia itu pasti arwah penasaran…


                       NENEK
          Aku bukan arwah penasaran…
         Tapi jasad dan jiwa penasaran !!
Karena belum tuntas bicara pada cucu dan cicitku !!


                       AMARAL
                    Nenek…?


                        NENEK
              Kau tak perlu kaget…
Sejarah telah menuliskan semuanya dengan baik…
     Perjalanan kau juga telah dituliskannya…
   Ketika kau punya anak…ngamen…makan…
      Juga telah dengan baik dituliskannya…
                   Percayalah !


                       AMARAL
               Apa maksud nenek ?


                        NENEK
         Aku hanya ingin mengatakan …
 Apa yang aku katakan dulu adalah kebenaran…
           Riomu memang brengsek…
      Sepanjang hidupnya terus brengsek !!
    Sepertinya dia dilahirkan untuk brengsek !!


                       AMARAL
                 Sudahlah, Nek !
     Rio itu suamiku…bapak cicit nenek ini !!
                                                                     147


                                     PUTRI
                               Uyut, Bu ?!
                         Uyut bau kentut, Bu ?


                                AMARAL
                     Ya…karena uyut sudah tua…


                                  PUTRI
                    Apa semua yang tua bau kentut ?


                                    NENEK
                                 Tidak !
                  Tidak semua orang tua bau kentut !!


     PUTRI BERLARI KE ARAH NENEK. AMARAL YANG MENCEGAH
TIDAK BISA MENGHALANGI. LELAKI MISTERIUS JUGA TAK BISA
BERBUAT APA-APA. NENEK KEMUDIAN MENGGENDONG PUTRI. IA
MULAI CERITA TENTANG KEHIDUPAN AMARAL TANPA MEMPEDULIKAN
AMARAL SENDIRI.


                                    NENEK
                        Ibumu itu terlalu egois…
                  Ia selalu menganggap benar sendiri…
                  Padahal kebenaran itu milik semua !!
                            Milik bersama !!


                                    PUTRI
                        Uyut masih batu kentut !!


                                 NENEK
                  ( TAK PEDULI DAN TERUS BICARA )
                    Kebenaran ada dimana-mana…
                  Tidak boleh dikuasi oleh seseorang !!
        Kalau saja ia tidak egois, tentu akan jadi lain ceritanya…
                   Bapakmu juga sama-sama egois…
                           Bahkan brengsek !!
                                                                   148



                                  PUTRI
                              Huh…bau !!


                               NENEK
       ( TIDAK PEDULI DAN TERUS BICARA. TAK BISA DIREM )
                Ia tidak saja membuat ibumu senewen…
         Tapi telah berhasil membuat malu sepanjang masa !!
              Kau tau, Nak, ibumu pernah mau bunuh diri !!
         Ia kira dengan bunuh diri semua urusan akan selesai…
              Tapi sudahlah…kau jangan seperti ibumu…
                 Pandanglah dunia dengan bijaksana !!
              Minumlah jamu setiap saat kau merasa perlu
                         Jangan minum sirup…


                                    PUTRI
                            Mau sirup, Bu !!


                                 NENEK
                        ( TERSENYUM PAHIT )
                   Minum sirup itu manis sekarang !!
                           Enak sekarang !!
                  Tapi bisa membuat kamu mencret…
                     Tapi jamu…pahit sekarang…
                   Tapi bisa membuat kamu sehat !!
                             Paham kau ?


     PUTRI    MENGGELENG       BAHKAN      MEMAKSA      UNTUK   TURUN.
AMARAL TERTUNDUK MALU. IA SEPERTI SEDANG MELIHAT DIRINYA DI
CERMIN. AMARAL KEMUDIAN MULAI BANGKIT, MENATAP KE ARAH TAK
TERBATAS. IA MULAI MENARI. ANEHNYA KINI BISA LUWES SEPERTI
SEDIA KALA.      AMARAL TERTERLIHAT KAGET TAPI IA TERUS
MENARI. PUTRI MULAI BERMAIN MUSIK DENGAN MULUTNYA.
                                                        149


     NENEK MEMPERHATIKAN DENGAN SENYUM. LALU IA MELIHAT
KE ARAH LELAKI MISTERIUS ITU. KEDUANYA SALING MENATAP
SEPERTI DUA SAHABAT YANG TELAH LAMA BERPISAH.


                              NENEK
                  Tugas kamu sudah selesai !
                     Sekarang kembalilah !


                         SEORANG LELAKI
                      Kembali ke mana ?
                  Aku tak tahu jalan kembali…


                              NENEK
                          Kemarilah !


     LELAKI MISTERIUS ITU LALU MENDEKATI NENEK. KEDUANYA
SALING MENATAP. LALU MENDEKAT DAN SEMAKIN MENDEKAT. LELAKI
MISTERIUS ITU TIBA-TIBA HILANG DARI PANDANGAN DAN NENEK
LANGSUNG AMBRUK. IA BENAR-BENAR MATI SEKARANG. MELIHAT
KEJADIAN ITU AMARAL TIDAK PEDULI. IA TERUS MENARI SEMENTARA
PUTRI TERUS BERMAIN MUSIK DENGAN MULUT.


                              ***




               Curiculum vitae
                                                                                          150


                 ENANG ROKAJAT ASURA
                              Bandung, 07 April 1965
                      Kompleks Gedong Cilegon Damai
                   Blok C.23 No. 17 Tlp. (0254) 396417
                                 HP. 081.310.860817
                                      Cilegon 42424



RIWAYAT PEKERJAAN

 1.   Menulis cerita pendek, artikel dan novel yang dipublikasikan di Pikiran Rakyat
      Mingguan Galura, Jawa Pos, Mingguan Mandala, Mangle,          Suara Karya Minggu,
      Kompas Minggu, Mingguan Swadesi, Mingguan Mutiara, Mingguan Terbit, Mingguan
      Gala, Tabloid Citra, Mingguan Berita Wanita NOVA dan Harian Fajar Banten

 2. Reporter Mingguan Galura (1989-1990)
 3. Redaktur Pelaksana Majalah Seni Prasasti (1990-1991)
 4. Script Writer Radio Shinta FM (1991-1995)
 5. Manajer Produksi Radio Shinta FM (1995-1998)
 6. Manajer Siaran Radio Shinta FM (1998-2001)
 7. Trainner di Masima Training and Consulting Jakarta (Prambors Grup)
 8. Repoter Majalah ZONA Misteri Jakarta (2001-2002)
 9. Redaktur Pelaksana Majalah ZONA Misteri Jakarta (2002)
 10. Wakil Pemimpin Redaksi Majalah ZONA Misteri Jakarta (2003)



PRESTASI KREATIF

 1. Juara III Menulis Drama LBSS (1989)
 2. Juara Harapan Menulis Drama LBSS (1989)
 3. Juara III Lomba Mengarang Filateli Nasional (1986)
 4. Juara I Mengarang Perpustakaan (1990)
                                                                                151


5. Juara II Mengarang Taman Lalu lintas (1991)
6. Juara Harapan Menulis Essay Pemilu (1996)
7. Juara Harapan Sastra D.K Ardiwinata Bidang Drama (1996)
8. Juara II Sastra LBSS Bidang Essay (1996)
9. Nominator Menulis Cerita Film Direktorat Pembinaan Film Deppen
   (1997)
10. Nominator Penulis Cerita Lepas FSI 1998
11. Juara   I         Lomba   Menulis   Cerita   Film    Jenis    Drama   Direktorat
   Pembinaan Film
   (1998/1999)

12. Juara    I        Lomba   Menulis   Cerita    Film    Jenis Komedi Direktorat
   Pembinaan Film
    (1998/1999)

13. Juara    II       Lomba   Menulis   Cerita   Film     Jenis   Drama Direktorat
   Pembinaan Film
     (1998/1999)
14. Juara       III     Lomba Menulis Cerita Film Jenis Legenda Direktorat
   Pembinaan Film
     (1998/1999)
15. Juara III Lomba Menulis Cerita Film dan Video Cerita Jenis Drama
   Direktorat
     Pembinaan Film (1999/2000)
16. Juara Harapan Lomba Menulis Cerita Film dan Video Cerita Jenis
   Legenda
     Direktorat          Pembinaan Film (1999/2000)
17. Juara I Lomba Menulis Cerita Film dan Video Cerita Jenis Cerita
   Peningkatan
     HAM Direktorat Pembinaan Film (2000)
18. Juara II Lomba Menulis Cerita Film dan Video Cerita Jenis Cerita
   Pendidikan
     dan Kebudayaan Direktorat Pembinaan Film (2000)
19. Sepuluh Besar Cerpenis Versi Lingkaran Komunikasi, Jawa Timur
   (2002)
                                                                       152


 20. Sepuluh Besar Lomba Karya Tulis Bank Syariah (2003)




K ARYA KREATIF

  1. Senja Kesaksian, berhasil meraih 4 nominasi dalam FSI 1998
  2. KAMAR 1604 (3 episode / TPI)
  3. Es Krim dan Flamboyan (FTV Cinta)
  4. Istana Kertas (FTV)
  5. Seperti Kekasihku (FTV)
  6. Merahnya Merah (FTV)
  7. Bayu (Sineri TVRI)
  8. Kau Di Atas Aku Dimana? (Sineri Komedi TVRI)
  9. Gejolak Anak Muda (Sineri Remaja TVRI)
  10. Kabayan In Drama (Masima Production, 13 episode)
  11. Siluman Marakayangan (Komedi Radio, 360 episode)
  12. Sangkuriang (Komedi Radio, 270 episode)
  13. Jaka Boys (Komedi Radio, 90 episode)
  14. Nyi Cantrik (Drama Radio Laga, 180 episode)
  15. Kancil Bis Kota (Novel, Pikiran Rakyat Minggu)
  16. Toenggoel: Matinya Seorang Warok (Novel,Mingguan Nova)
  17. Rumah Di Atas Bukit (Novel Misteri, Zona Misteri Jakarta)
  18. Babad Tanah Sunda (Roman, Zona Misteri Jakarta)




BUKU

     Para Penari (Antologi Cerpen, Malang, 2002)
     Kanaga (Antologi Cerpen Sunda, Bandung, 2003)
     Anak Seribu Pulau (Kumpulan Cerita Pendek Islami, dalam proses
  penerbitan)
     Pemikiran Kritis Tentang Acara Televisi (proses penerbitan)
                                                                      153




PENDIDIKAN FORMAL

     Sekolah Dasar Berijazah tahun 1979
     Sekolah Menengah Pertama Berijazah tahun 1982
     Sekolah Menengah Atas Berijazah tahun 1985
     FMIPA Jurusan Statistika Universitas Terbuka




PENDIDIKAN INFORMAL

     Pendidikan Jurnalistik di ICB Bandung ( 1 tahun )
     Lokakarya Jurnalistik Radio - LPDS dan The Freedom Forum
     Pendidikan Jurnalistik bersama Internews Asia
     Workshop Social Mobilization – Aliansi Pita Putih Indonesia
     Workshop bersama CCP JOHNS HOPKINS UNIVERSITY
     Seminar Sehari Regulasi Undang-undang Penyiaran
     Team Building Management in West Java Depelopment Project
     Kursus Peningkatan Sumber Daya Manusia
     Diklat Operasional Televisi Indosiar
     Berbagai Workshop Produksi Siaran
     Diklat Special Programm PD PRSSNI Jawa Barat
     Kursus Menulis Skenario dan Drama
     Pendidikan Komputer di Institut Komputer Indonesia ( 1 tahun)
     Kursus Bahasa Inggris di Harvard English College
     Saresehan Pemberdayaan Anggota PRSSNI


                                       ***
                      154




   RUMAH
  DI TUBIR
   JURANG




NASKAH DRAMA REMAJA
                                                                                             155




                       S. YOGA




Para Tokoh



Eyang Kakung                   : Usia 80

Tuan Sunan            : Setengah Baya

Nyonya Sumirah        : Setangah Baya

Papa (Umar)           : 23 tahun

Mama (Lastri)                  : 23 tahun

Mawar                          : 21 tahun

Noki                           : 21 tahun

Ijah                  : Pembantu Rumah Tangga 17 tahun



Dikisahkan di sebuah rumah dihuni oleh Eyang Kakung ( pelupa dan sering mengigau sendiri ),
Tuan - Nyonya ( suami yang tak mampu mengendalikan rumah tangga dan istri yang pencuriga
dan egois ), Papa - Mama ( menikah dalam usia muda karena ―kecelakaan‖ dan hidup berfoya-foya
), Mawar dan Noki ( pacarnya ) yang terseret dalam pergaulan bebas dan nikah siri tanpa diketahui
orangtuanya. Dan Ijah pembantu rumah tangga yang genit. Orang-orang inilah yang akan berjuang
keluar dari permasalahan hidup dan menyelamatkan citra keluarga besarnya dari kehancuran.
Ibarat negara, akan hancur kalau masing-masing daerah ( orang ) ingin bebas ( merdeka ) sendiri-
sendiri tanpa mempertahankan aturan dan norma-norma moral yang berlaku.
                                                                                                                         156




                                                                 1
( Rumah putih dengan perabotan antik, senapan angin di sisi kanan tembok, dua orang laki-laki dan perempuan setengah baya,
duduk menghadap dua buah layar tv, asyik menyaksikan dunia lain, sebuah dunia maya. Masing-masing menonton acara tv
kesukaan sendiri. Menghadap penonton. Di belakang nampak meja dan kursi lain, almari tempat menyimpan perkakas. Dari
belakang, tepatnya dari atas seorang pencuri meluncur turun dari atap dengan tali, mukanya dibalut kain hitam, persis ninja di
film-film. Pencuri dengan tenang dan kehati-hatian yang penuh, turun perlahan, mengambili perhiasan yang mudah didapat,
masuk ke dalam kamar tempat perhiasan lain disimpan. Kemudian naik lagi ke atas keluar dengan aman ).




TUAN SUNAN                   :          Maafkan. Selama ini aku hanya diam saja. Habis bagaimana. Semua
                                        sudah kau atasi sendiri. ( Sambil mengecilkan suara tv ).

NYONYA SUMIRAH :                        Hhhmmmmmmm. ( Batuk-batuk dan semakin mengeraskan suara tv ).
                                                                                                                         157


( TV dikecilkan NYONYA SUMIRAH, berdiri lalu mencari obat. Membuka-buka
lemari, obat yang dicari tidak ada. Mendekat TUAN SUNAN, kesal dan memandang
penuh kebencian. Kembali lagi ke almari mencari-cari. Kesal. Ke meja dan
mengambil air minum setelah batuk rejannya hebat menghantam tubuh kurusnya ).

NYONYA SUMIRAH :                      ( Batuk ). Tak ada yang beres di rumah ini. Semuanya maling. ( Batuk ). Sampai
                                      obat saja hilang. ( Bicara sambil membawa minuman ke tempat duduk di depan tv ).

TUAN SUNAN            :               Kau kira aku yang mengambil. ( Sambil berdiri. Menyulut pipa rokok tapi tidak
                                      berhasil ). Kita sudah tua, masak dari pernikahan dulu kita terus-menerus bertengkar.
                                      Kapan hidup damai. Sebentar-sebentar protes. Ngambek. Memangnya masalah hidup
                                      akan selesai dengan cara seperti itu.

NYONYA SUMIRAH :                      Kau kira ada yang mendengarkan dan mempercayai kata-katamu. Dasar mata keranjang.
                                      ( Sambil berdiri, nampak mengingat sesuatu dan emosial ). Kau masih saja punya
                                      perasaan sama tetangga sebelah kan. Ya aku tahu dia lebih bahenol dan lebih muda
                                      dariku. Kau kira aku tidak tahu tiap pagi kau pura-pura memberi makan ayam-ayam di
                                      belakang rumah, sambil bertukar pandang dengan dia. Iya kan. Mengaku saja. ( TUAN
                                      SUNAN nampak salah tingkah ). Tiap hari pula aku perhatikan tingkah polahmu dan aku
                                      mencoba bersabar. Tapi sekali lagi kau berbuat begitu, hari itu pula kau harus angkat
                                      kaki dari rumah ini. Banyak saksi mata yang melihat kau sering bertemu dengan Rukiah,
                                      di terminal, di pasar sayur. Pantas suka pura-pura membantu aku belikan sayur.
                                      Ternyata ada udang di balik batu. Dan berapa kali kau tua bangka berboncengan dengan
                                      dia. Aku tidak bisa ditipu. Semuanya aku ketahui dengan persis. ( Ketika TUAN
                                      SUNAN hendak mendekat, NYONYA SUMIRAH menjauh, nampak benci ). Jangan
                                      sentuh aku lagi. Semuanya telah berakhir. Sudah berakhir. ( Berkemas, masuk kamar ).
                                      Aku benci. Aku benci. Aku benci.



( TUAN SUNAN hanya bisa menatap kosong ruang tamu yang sunyi. Mematikan semua tv, duduk di sofa panjang. Berdiri,
berjalan memandangi potret, kenangan pengantin, nampak tersenyum, membersihkan foto yang sudah berdebu, kembali
memasangnya, dengan kebahagiaan kecil. Berjalan ke almari, mencari-cari pipa gadingnya di dalam almari, ternyata sudah
tidak ada. Mencari lagi ke sana ke mari, namun tidak menemukan. Melihat kamar NYONYA SUMIRAH dengan kesal, rasanya
ingin membalas dendam ).



TUAN SUNAN           :                Aku tahu siapa yang mencuri di rumah ini. Aku sudah merasa sejak dulu. Dulu kelihatan
                                      baik. Tapi akhirnya semuanya terbongkar sudah. Dia pencuriga. Sama tetangga saja dia
                                      tidak bisa akur. Apa dia tidak sadar sebentar lagi akan mati. Mestinya ia berbaik-baik
                                      dengan semua orang. Tidak justru penyakit dengki dan curiganya bertambah parah. Aku
                                      sebagai kepala keluarga rupanya tidak pernah dihormati. Sikap egoisnya telah
                                      menguasai seluruh hidupnya. Keberadaanku sebagai suaminya rasanya tidak diakui lagi.
                                      Diremehkan. Tapi biarlah, suatu saat, ia pasti akan sadar.




                                                             2
                                                                                                                              158

( Dari arah kamar belakang muncul seorang kakek, rambut putih semua. Membawa pipa gading dan merokok, pakai baju jas
lengkap dengan sepatu mengkilap. Membawa tas kerja dan tongkat keramat. Berjalan penuh wibawa meski jalannya
sempoyongan. Duduk di depan meja dan segera mengeluarkan kaca mata minusnya, mengeluarkan arsip-arsip yang ada di
dalam tas, memeriksa dan sesekali membaca kertas kerjanya. Sebelum dilanda kepikunan yang menumpuk, ia seorang manajer
di sebuah perusahaan roti miliknya sendiri. Dulu begitu dihormati. Namun setelah kepikunannya kumat ia bagai sampah, tak
ada gunanya, diremehkan anak buahnya dan semua orang, bahkan dianggap meresahkan dan membuat repot keluarga, hampir
ia akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa, tapi ditolak oleh pihak rumah sakit, pernah di panti wreda, sebulan kemudian pihak
panti keberatan. Keluarga TUAN SUNAN tidak bisa berbuat banyak, mereka harus mengurusnya. TUAN SUNAN kemudian
mendekati dan mengamat-ngamati pipa gading yang dibawa EYANG KAKUNG, yang diletakkan di asbak. Pipa gading itu
diambil TUAN SUNAN, diamat-amati dengan seksama, sebelum pipa dikembalikan lagi sudah direbut kembali oleh EYANG
KAKUNG ).

TUAN SUNAN           :       Kakung, ini sudah malam.

EYANG KAKUNG :                           ( Sambil memeriksa berkas-berkas ). Semua pekerja memang brengsek semua. Tidak
                                         becus kerja. Semua salah. Pembukuan macam apa ini. Kapan perusahaan akan maju. (
                                         Memandang sekeliling ). Sepagi ini juga belum ada yang masuk. Hanya seorang jongos
                                         kantor. Disiplinmu boleh. Kamu memang pekerja yang baik, pagi-pagi sudah buka
                                         kantor. Apakah sudah dipel dan dibersihan semua meja kursi.

TUAN SUNAN            :                  Sudah. ( Menjawab sambil tidak enak ).

EYANG KAKUNG :                           Bagus. Bagus. Rencananya hari ini akan ada rapat perusahaan. Kamu tahu tidak rasa-
                                         rasanya perusahaan ini sudah menggaji para buruh lebih dari cukup. Bandingkan dengan
                                         perusahaan lain. Silahkan. Bapak-bapak dan Ibu-ibu semua yang hadir dalam rapat
                                         perusahaan hari ini. Tentunya semua yang hadir sudah memegang laporan perusahaan
                                         akhir-akhir ini. Dan silahkan dibaca. Silahkan. Pertanyaannya. Bagaimana mungkin
                                         perusahaan ini sudah mengalami kemerosotan yang begitu dratis. Pemasaran tidak jalan.
                                         Sehingga di sana sini tidak ada pemasukan keuntungan sama sekali, kalau begini terus,
                                         perusahaan akan bangkrut. Bangkrut. Kalau bangkrut aku akan keluar dan kalian tidak
                                         akan aku beri pesangon sama sekali. Aku akan jual perusahaan dan kemudian akan aku
                                         inveskan pada perkebunan durian. Di sana aku akan hidup lebih sederhana lagi dan akan
                                         bahagia sekali melihat kebun-kebunku. Aku akan membuat pondok rumah yang indah.
                                         Dan cucu-cucuku akan aku bawa ke sana semua setiap bulan sekali. Aku akan bahagia.
                                         Aku akan beli beberapa kuda terbaik yang ada, akan aku gunakan untuk tunggangan
                                         pribadi. Karena istriku sudah meninggal aku akan memohon kepada anak-anak untuk
                                         mencarikan istri lagi yang lebih cantik dan sempurna. Ah rasanya hidup akan
                                         membahagiakan.

TUAN SUNAN            :                  Betul sekali Kung. Dan sekarang calon istri Kakung sudah ada di sini.

EYANG KAKUNG             :               Apakah kamu tidak bohong.

TUAN SUNAN            :                  Tidak. Sekarang Tuan Putri sudah ada di kamar Kakung. Sudah menunggu sejak tadi.
                                         Sebaiknya Kakung lekas tidur. ( Sambil membimbing EYANG KAKUNG ). Ijah ! Ijah !

IJAH                  :                  ( Dari dalam ). Iya Tuan. Ya Tuan. Sebentar !

TUAN SUNAN            :                  Tolong Kakung di antar ke kamar Tuan Putri. Kung Tuan Putri sudah menunggu.
                                         Kakung nanti langsung tidur duluan saja. Iya. Iya Tuan Putri yang cantik jelita sudah
                                         menunggu.

EYANG KAKUNG             :               Ah betapa bahagianya hidup ini. Tuan Putri yang cantik jelita tunggu aku sebentar.
                                         Tunggu jangan tidur duluan. Ah Tuan Putri. Terima kasih anakku. Kamu memang anak
                                         yang berbudi luhur sama orang tua. Aku doakan kamu mendapatkan istri yang paling
                                         cantik sedunia. Seperti Cleopatra. Seperti Ken Dedes. Aha jangan mereka kan gila
                                                                                                                         159

                                      kekuasaan. Perempuan kalau gila kuasa apa pun akan ia lakukan. Menghalalkan segala
                                      cara. Kecantikan dan tubuhnya akan ia manfaatkan. Lebih baik cari perempuan cantik
                                      yang alamiah. Aha kenangan masa lalu. Kenangan yang indah. ( Bernyanyi sambi
                                      menari-nari, merayu-rayu IJAH, sesekali mencubit pipi IJAH ).



                                      Abang-abang gendero londo

                                      Wetan sitik kuburan mayit

                                      Klambi abang nggo tondo moto

                                      Wedak pupur nggo golek dhuwit



TUAN SUNAN           :                Iya Kung. Iya. Tuan Putri ada di dalam. Sudah tidur. Jangan brisik. Nanti Tuan Putri
                                      terbangun. Kakung nyusul tidur ya. Kasihan Tuan Putri sendirian. Silahkan masuk. (
                                      Setelah EYANG KAKUNG dan IJAH masuk, TUAN SUNAN nampak pikirannya lelah,
                                      duduk di sofa ). Hancur semua. Hancur semua. ( Masuk kamar. Eksit ).




                                                             3
( Dua orang pasangan muda masuk, habis berbelanja, membawa bawaan barang-barang. Meletakkan barang-barang di atas
meja. Duduk di sofa nampak capai. Yang laki-laki tinggi kurus berwajah oval, yang perempuan berwajah bundar, pupurnya
agak pudar. Pasangan keluarga muda ini nampak dengan lagak gaya sok modern ).



MAMA                 :                ( Sambil memeriksa barang ). Papa tadi ada barang yang lupa kita beli. Baju itu.
                                      Kosmetik itu. Kenapa kita lupa. Papa lupa kan beli piyama. Kenapa kita menjadi pelupa.
                                      Jangan-jangan penyakit Kakung sudah menular pada kita. ( Berdiri nampak kesal.
                                      Berjalan modar-mandir ). Semua nampaknya sudah tidur. ( Melihat jam ).

PAPA                 :                Panggil saja Ijah. Untuk membereskan ini. Suruh buatkan Papa kopi.

MAMA                 :                Ijah ! Ijah !

IJAH                 :                Iya ! Sebentar ! ( IJAH muncul ). Iya.

MAMA                 :                Masukkan barang-barang ini.

PAPA                 :                Ijah. ( Dengan suara mesra, dan terus memandangi IJAH ). Jangan lupa buatkan kopi
                                      kesukaan Papa. ( Nampak MAMA tidak suka akan sikap PAPA, cemburu ). Cepat ya,
                                      Ijaaahh. Apa si kecil sudah tidur.

IJAH                 :                Iya. Sudah Tuan. ( Segera pergi sambil membawa barang-barang. Genit ).

PAPA                 :                Begitu saja cemburu. Tidak apa kan sekali-sekali bersikap mesra sama pembantu. Agar
                                      mereka merasa kita hargai. Begitu sayang. Jagan cemberut. Nah begitu kan manis. Lho
                                      masih masam. Kalau gitu aku hitung tiga kali. Pasti tersenyum. Satu. Ha bibirnya mulai
                                      tersungging. Dua. Sudah mulai tersenyum. Oh senyumnya baru sedikit. Senyumnya
                                      dikulum. Dua setengah. Mulai merekah. ( MAMA lantas terseyum dan marah-marah ).
                                                                                              160

MAMA   :   Aku tidak suka Papa menggoda begitu. Sudah. Sudah jangan bercanda. ( PAPA terus
           menggoda. Terjadi kejar-kejaran di ruang. Sesekali PAPA tertangkap namun dapat
           meloloskan diri. Terus bercanda. Mereka hampir berpelukan. Lalu MAMA meloloskan
           diri kembali ke sofa, menghempaskan tubuh, mengambil buah jeruk, mengupas ).

IJAH   :   ( Sambil menghidangkan kopi ). Ini kopinya, Tuan. ( PAPA hanya mengangguk,
           matanya tetap nakal ).

PAPA   :   Ngomong-ngomong kapan kita bisa punya rumah sendiri. Masak terus-terusan numpang
           di mertua. Malu kan.

MAMA   :   Ayah Ibu saja tidak keberatan kita tinggal di sini.

PAPA   :   Bukan masalah itu. Tapi bagaimana tanggung jawab seorang suami. Di samping itu
           tidak enak kan sama tetangga. Penilaian tetangga itulah yang paling berat. Mereka sama
           sekali tidak mau tahu kondisi kita yang sebenarnya. Mereka hanya tahu kalau kita
           numpang di mertua. Itu saja. Karena tidak tahu itulah, omongan mereka tidak bersumber
           pada kebenaran. Jadinya yang diomongkan yang jelek-jelek saja. Kata pepatah lebih
           baik menunjukkan sedikit kebaikan kepada mertua dan jangan tinggal bersamanya.
           Daripada menunjukkan kebaikan yang banyak tapi tinggal bersamanya. Karena jika
           tinggal bersamanya kalau ada kejelekan sedikit saja maka semua kebaikan kita akan
           hilang. Seumur hidup yang dikenang dan dibicarakan hanya kejelekan-kejelekan kita
           saja.

MAMA   :   Maunya Papa bagaimana. Papa mau beli rumah. Memangnya kita punya uang.

PAPA   :   Ya itu masalahnya. ( Mereka terdiam cukup lama. Berpikir. PAPA minum kopi, berdiri
           dan berjalan hilir mudik ).

MAMA   :   Selama ini kita tidak pernah nabung. Kerjaan Papa juga tidak mesti. Kalau ada proyek
           baru kerja.

PAPA   :   Bagaimana kalau kita minta warisan terlebih dahulu. Tanah warisan itu bisa kita jual
           untuk beli rumah.

MAMA   :   Papa nggak salah ngomong toh. Orang tuaku masih hidup. Masak kita minta warisan
           terlebih dahulu.

PAPA   :   Sama saja toh nantinya kita juga akan menerima. Papa kira Ayah Ibu akan setuju
           melihat kondisi kita seperti ini.

MAMA   :   Tapi Mama tidak berani ngomong.

PAPA   :   Ya harus Mama yang ngomong. Mama yang bisa merayu. Pasti mau. Kalau Papa pasti
           sulit. Ibumu sih keras sekali. Kaku.

MAMA   :   Tidak mau ! Tidak mau !

PAPA   :   ( Terdiam sejenak ). Begini saja yang menghadap kita berdua.

MAMA   :   Tapi yang ngomong Papa.

PAPA   :   Ya berdua.

MAMA   :   Berdua.

PAPA   :   ( Sambil dinyanyikan ). Selamanya kita selalu berdua. Selamanya kita selalu satu. Dalam
           suka dan duka. Selamanya kita bahagia. Selamanya kita berdua. Berdua selamanya.

           ( Mereka nampak gembira. Berdansa sambil masuk kamar. Eksit ).
                                                                                                                           161




                                                                  4
( Pagi hari, di teras rumah yang nampak luas, bercat putih, di pinggir teras depan ada tulisan Jl. Tubir 275. Di teras ada satu
meja, dua kursi, dan EYANG KAKUNG tidur di kursi panjang, ada beberapa pot bunga, tempat menyiram air, suasana nampak
asri. PAPA dan MAMA masuk dari luar sehabis kerja. Nampak wajahnya tegang. Seolah habis bertengkar. Mereka duduk
dikursi saling tak peduli ).




PAPA                              :      Papa kan sudah bilang keluar saja dari pekerjaan itu.
                                         Kenapa harus ngoyo-ngoyo kerja keras sedang gajinya
                                         kecil. Enak perusahaan. Kita hanya diperas. Dijadikan sapi
                                         perahan. Dasar kapitalis.
MAMA                              :      Papa kira, Papa sudah mendapatkan pekerjaan yang layak.
                                         Kerja tidak tetap gitu.
PAPA                             :       Papa memang kerja tidak tetap tapi sekali kerja gajinya
                                         kan besar tidak seperti Mama. Papa kerja di proyek jadi
                                         kalau ada proyek pasti untungnya besar. Itu sudah bisa
                                         dipastikan. Tapi memang tahun ini. Proyek apa pun seret.
                                         Negara kacau. Investor takut menanam modal. Ini salah
                                         siapa. Mereka takut dibakar. Mereka takut didemo.
                                         Mereka takut nggak untung. Negara nggak stabil.
                                         Pemerintah disangsikan bisa ngatasi.
MAMA                                 :   Mereka kan juga kapitalis. Gitu mencemooh pekerjaan
                                         Mama.
PAPA                                 :   Papa tidak mencemooh. Papa mengingatkan kalau kita
                                         kerja sama kapitalis siap-siap tenaga kita diperas habis-
                                         habisan.        Papa         menyalahkan            kapitalis        itu     kenapa
                                         menghargai tenaga kerja kita sangat rendah. Ya sedikit
                                         manusiawi gitu lho.
MAMA                                 :   Kapitalis kok manusiawi. Nggak laku. Nggak untung.
                                         Nggak kapitalis namanya.
PAPA                                 :   Ya sedikit sosialislah.
                                                                              162


MAMA           :       Jadi kapitalis yang sosialis. Masak ada. Kapitalis kok
                       sosialis. Kapitalis ya kapitalis. Titik. Tidak sosialis dan
                       tidak manusiawi.
PAPA           :       ( Mereka terdiam sejenak. PAPA melihat EYANG
                       KAKUNG ). Kenapa lagi Kakung tiduran di lantai.
                       Bangunkan, Ma. Suruh tidur di dalam.
MAMA           :       Mama yakin, Kakung terkenang lagi masa lalunya. Masa
                       lalu yang membahagiakan. ( Mengambil senapan ). Pasti
                       Kakung terkenang saat waktu perjuangan dulu. Mama juga
                       nggak habis pikir, kenapa seseorang bisa jadi pelupa dan
                       hanya ingat masa lalu saja. Tanpa sedikit pun bisa diajak
                       bicara masa kini. Apalagi masa depan. Hidup hanya untuk
                       masa lalu. Masa-masa kejayaan dulu. Apa itu yang
                       dinamakan post power syndrom.
PAPA           :       Sok tahu ! Memangnya Kakung punya kedudukan, punya
                       jabatan, punya kuasa.
                       ( Dari arah dalam masuk Tuan Sunan dan Nyonya
                       Sumirah ).
TUAN SUNAN     :       ( Duduk di kursi ). Kalian habis kerja kok malah di sini.
                       Apa sudah makan. ( MAMA dan PAPA nampak saling
                       celingukan, seolah ada yang ingin dibicarakan dengan
                       Ayahnya ).
NYONYA SUMIRAH :       Sebenarnya ada apa sih. ( Duduk di samping TUAN
                       SUNAN ). Kelihatannya ada yang ingin dikatakan.
MAMA           :       Papa saja yang ngomong.
PAPA               :   Lebih baik Mama.
MAMA           :       Papa !
PAPA               :   Mama !
MAMA           :       Papa !
PAPA               :   Mama !
TUAN SUNAN     :       Kalian berdua seperti anak kecil. Ada apa sebenarnya.
                       Memang kalian menikah terlalu muda, bahkan kuliah
                       kalian nggak kalian selesaikan, mungkin itu yang
                                                                               163


                        menyebabkan kalian sering tengkar. Tapi sekarang kalian
                        harus lebih dewasa.
MAMA               :    Begini lho, Yah. Papa kan ingin punya rumah.
PAPA                :   Mama yang pingin.
NYONYA SUMIRAH :        Sudah ! Sudah ! Kalian tak pernah dewasa.
MAMA               :    Jadi kami pingin beli rumah.
NYONYA SUMIRAH :        Ya sudah kalau pinginnya begitu. Ibu dan Ayah juga tidak
                        keberatan, mungkin itu akan menjadi lebih baik bagi
                        kalian, agar bisa membangun keluarga secara mandiri.
                        Rencananya mau beli rumah di mana ?
MAMA               :    Masalahnya kami tidak punya uang. Uang kami tidak
                        cukup untuk beli rumah itu. Karenanya kami sepakat ingin
                        meminta hak kami pada Ayah Ibu.
TUAN SUNAN         :    Hak apa ?
MAMA               :    Kami ingin warisan yang nantinya akan diberikan, kami
                        minta dulu.
PAPA                :   Iya, Yah. Kami sangat membutuhkan. Toh nanti juga
                        warisan itu akan diberikan pada kami juga.
NYONYA SUMIRAH :        Tidak bisa. T i d a k b i s a ! ( Mereka terdiam sejenak ).
                        Kalian tahu apa artinya warisan. Kami masih segar bugar
                        begini kalian menuntut warisan. Permintaan kalian itu
                        tidak wajar. Toh kalian masih bisa tinggal di rumah ini.
                        Mestinya kalian sedikit-sedikit bisa menabung untuk masa
                        depan. Jangan bisanya cuma foya-foya, beli barang-barang
                        yang mahal, barang yang belum perlu. Tidak usah gengsi.
                        Gaya hidup kalian harus diubah.
PAPA               :    Tapi kami ingin mandiri dan terpisah Ayah dan Ibu.
NYONYA SUMIRAH :        Itu bagus. Silahkan.
PAPA                :   Tapi kami perlu uang. Perlu warisan itu.
NYONYA SUMIRAH :        T i d a k b i s a.   T i d a k !!!! Kalian dengar.


( MAMA dan PAPA wajahnya nampak sangat kecewa, lekas masuk rumah. Suasana
kemudian senyap. TUAN SUNAN dan NYONYA SUMIRAH saling menarik nafas
dalam-dalam ).
                                                                                 164




                                          5
( Dua orang remaja membawa tas, sangat modis, yang perempuan sedikit menor,
yang laki-laki sedikit macho. Masuk ke halaman, ke teras rumah ).


MAWAR                  :   Assalamualaikum.
NYONYA SUMIRAH :           Walaikumsalam. ( Mereka saling bersalam-salaman,
                           nampak NYONYA SUMIRAH tidak suka dengan NOKI ).
MAWAR                  :   Bagaimana keadaan Ayah Ibu.
NYONYA SUMIRAH :           Baik-baik.
MAWAR                  :   Kakung bagaimana.
TUAN SUNAN             :   Baik-baik saja. Masih seperti biasanya.
NYONYA SUMIRAH :           Suratmu barusan tadi pagi sampai. ( Mengambil surat yang
                           ada di meja ). Ini belum Ibu baca. Apa isinya sih.
MAWAR                  :   Gimana Pak Pos sih, ini udah dua minggu aku kirim. (
                           Mengambil surat ). Cap kantor pos di sini saja tanggal 10,
                           berarti sudah seminggu yang lalu. Dasar Pak Pos males.
NYONYA SUMIRAH :           Padahal dia hampir saban hari mampir ke sini. Apa dia
                           lupa. Apa surat itu ketlinsut di kantor pos.
TUAN SUNAN             :   Sudahlah. Pokoknya anak kita sudah sampai rumah
                           dengan selamat.
MAWAR                  :   Sebenarnya surat ini hanya ingin memberi tahu Ayah
                           dan Ibu. ( Memasukkan surat ke tas ). Sudahlah nanti akan
                           kami beritahu, jadi surat ini dianggap saja tidak pernah
                           ada.
NYONYA SUMIRAH :           Ini bagaimana, surat sudah sampai kok ditarik kembali.
                           Sebenarnya ada     apa sih. Bagaimana kuliahmu. Jangan
                           terlalu banyak pacaran. ( Menyindir mereka berdua ). Ingat
                           kuliahmu.
MAWAR                  :   Terus terang kami sengaja menghadap Ayah Ibu karena
                           ingin membicarakan perihal hubungan kami. Saya harap
                                                                       165


                   Ibu sudilah kiranya menganggap kami berdua sudah
                   dewasa. Tidak seperti selama ini Ayah Ibu merasa bahwa
                   kami masih anak-anak sehingga tidak diperkenankan
                   berpendapat dan memutuskan segala sesuatu secara
                   mandiri. Mawar percaya segala sesuatu keputusan Ibu
                   sebenarnya ingin membahagiakan diri Mawar, namun
                   harus Ibu ketahui bahwa tidak setiap keputusan Ibu yang
                   berkaitan dengan Mawar selalu baik buat Mawar. Seperti
                   hubungan Mawar dengan Noki, memang Ibulah yang
                   paling tidak setuju karena berbagai pertimbangan……..
NYONYA SUMIRAH :   Cukup ! Sekali Ibu tidak setuju selamanya tidak setuju.
                   Bisa dimengerti. Ibu tidak ingin mengulang yang kedua
                   kalinya. Lihat kehidupan kakakmu sekarang. Ini semua
                   gara-gara menikah terlalu muda. Seandainya tidak terjadi
                   ―kecelakaan‖ itu tentu Ibu tidak mau menikahkan. Dan
                   sekarang lihatlah siapa yang membelikan susu           dan
                   keperluan ponakanmu yang masih bayi itu. Bukan dia kan
                   ?
MAWAR          :   Bagaimana Ayah ?
NYONYA SUMIRAH :   ( Begitu TUAN SUNAN hendak menjawab NYONYA
                   SUMIRAH memotong ). Semua masalah anak-anak Ibulah
                   yang bertanggung jawab. Semua yang memutuskan Ibu.
                   Tidak boleh ada yang membantah keputusan Ibu. Kalau
                   Ibu sudah memutuskan, tentu demi kebahagiaan anak-
                   anak. Kebaikan Ibu dan masa depan kalian. Demi nama
                   baik keluarga.
NOKI           :   Maaf Ibu. Mengenai hubungan kami. Rasanya tidak
                   sesederhana yang Ibu bayangkan. Permasalahan kami
                   pelik. Dan kami tidak mau putus hanya karena paksaan
                   orangtua.
NYONYA SUMIRAH :   Di sini Anda tamu. Harap itu dimengerti.
MAWAR          :   Ibu harus mengerti permasalahan kami. Terus terang
                   selama ini kami merahasiakan hubungan kami yang
                   sebenarnya. Sekarang saatnyalah kami harus berterus
                                                                            166


                   terang. Sebelumnya kami minta maaf sama Ayah dan Ibu.
                   Sebenarnya kami telah menikah.
NYONYA SUMIRAH :   Apa ! Nggak salah Ibu dengar !
MAWAR          :   Tidak Ibu. Sejak di semester satu, saat itu pula kami
                   sepakat untuk menikah secara siri, tanpa memberitahu
                   Ayah Ibu.
NYONYA SUMIRAH :   Itu tidak sah. Kami tak ada yang dilibatkan. Itu tidak sah.
NOKI           :   Masalahnya bukannya sah atau tidak sah menurut Ibu.
                   Tapi kami telah berjanji di hadapan Allah, terlebih ada
                   saksinya pula.
NYONYA SUMIRAH :   Ibu tidak meminta pendapatmu.
MAWAR          :   Noki benar Ibu. Ibu tidak boleh keras seperti ini. Ini
                   menyangkut masa depan Mawar.
NYONYA SUMIRAH :   Ibu tahu apa yang terbaik untuk anak-anakku.
MAWAR          :   Lalu Ibu tetap ingin menjodohkan Mawar dengan Ajiz.
                   Apa Ibu tahu apakah Ajiz bisa menerima apa adanya
                   diriku. Mawar sudah tidak seperti dulu lagi. Ibu harus
                   paham itu.
NYONYA SUMIRAH :   Maksudmu ? ( MAWAR mulai terisak ).
NOKI           :   Kami kira Ibu sudah dapat memahaminya apa artinya
                   pernikahan. Kami adalah suami istri.
NYONYA SUMIRAH :   Jadi kalian telah melakukan ………….
NOKI           :   Ya. Karena kami suami istri dan hal itu sudah sah.
NYONYA SUMIRAH :   Kurang ajar kamu Noki. Berani-beraninya menjamah
                   anakku.
NOKI           :   Kami sudah suami istri Ibu.
NYONYA SUMIRAH :   Meski begitu kalian tetap putus. Putus. Berani-beraninya
                   kau menodai anakku. Pastilah semua itu karena akal
                   muslihatmu saja. Akal bulusmu saja. Kau menipu anakku
                   dengan bujuk rayu gombalmu itu. Kau kira aku tidak tahu
                   sejarah keluargamu. Kau kira siapa sebenarnya Ibumu.
                   Siapa Ayahmu. Makanya sejak dulu aku tidak setuju
                   hubungan kalian. Jadi benar kan kata pepatah anak tidak
                                                                              167


                   jauh dari orang tua. Tabiat orangtua akan menurun ke
                   anaknya.
NOKI           :   Ibu bicara apa. Sebagai orangtua bicaralah yang baik.
TUAN SUNAN     :   Sebaiknya kita bicarakan nanti saja. Biar mereka istirahat
                   dulu.    Biar   pikiran    tenang.   Semua   masalah      dapat
                   dipecahkan dengan jernih.
NYONYA SUMIRAH :   Tidak bisa. Sudah tidak usah ikut campur urusan ini. Biar
                   aku atasi sendiri. Ketahuilah anak muda, Ibumu dulu
                   seorang pelacur, aku tahu persis. Dan Ayahmu seorang
                   mantan preman yang kerjanya merampok. Seorang
                   bajingan. Kalian berasal dari keluarga rusak.
NOKI           :   Ketahuilah Ibu, bahwa sebelum Mawar berhubungan
                   dengan     diriku,   dia   pernah    diperkosa,   siapa   yang
                   memperkosa, tak lain dan tak bukan menantu Ibu sendiri,
                   Umar. Bagaimana mungkin kakak ipar memperkosa adik
                   istri sendiri. Jadi dalam keluarga Ibu juga mengalir darah
                   bajingan bukan.
NYONYA SUMIRAH :   Bicaramu yang benar. ( Terdiam sejenak ). Mawar, apa
                   benar cerita Noki. ( MAWAR mengangguk dan kembali
                   menangis lagi ). Rusak semuanya. ( Marah pada TUAN
                   SUNAN ). Ini gara-gara kamu tidak bisa memimpin
                   keluarga. Peran apa sebenarnya yang sedang kau lakukan.
                   Kepala keluarga, bukan.
TUAN SUNAN     :   Katanya kamu sudah bisa mengatasi semuanya. Jangan
                   salahkan aku. Salahkan dirimu sendiri yang keras kepala.
                   Suka memaksakan kehendak.
NYONYA SUMIRAH :   Mawar ! Katakan semua cerita ini tidak benar. Mawar !
                   Katakan semua ini tidak benar. Tidak benar kan !
MAWAR          :   ( Menangis tersedu-sedu ). Maafkan Mawar. Maafkan Ibu.
                   Maafkan Ayah. Maafkan. Semua itu benar. Semua itu
                   benar.
TUAN SUNAN     :   Sebaiknya sekarang kita cari jalan keluar terbaik bagi
                   mereka berdua. Jangan sampai merusak masa depan
                   mereka.
                                                                                    168


NYONYA SUMIRAH :             Jalan terbaik adalah Mawar putus dengan Noki. Titik.
MAWAR                    :   Ibu mau membunuh diriku perlahan.
NYONYA SUMIRAH :             Rusak semuanya ! Rusak ! Siapa yang kamu anut selama
                             ini. Siapa Mawar. Sehingga dirimu begitu hina. Semua ini
                             pastilah gara-gara kamu Noki. Sekarang keluar dari
                             rumahku. Aku tidak sudi punya menantu sepertimu.
NOKI                 :       Baik Ibu. Tapi ketahuilah semua masalah ini yang
                             menyebabkan Ibu sendiri. Kalau Ibu benar bisa mendidik
                             anak-anak Ibu tak mungkin akan terjadi seperti ini.
                             Kekakuan pikiran Ibu dan mau menangnya sendirilah yang
                             menyebabkan ini semua. Benar kata Ayah, semua ini
                             karena kehendak berkuasa Ibu yang berlebihan terhadap
                             semua isi rumah ini.
NYONYA SUMIRAH :             Keluar dari rumah ini ! Tahu apa kamu tentang kehidupan.
                             Keluar ! Keluar !
NOKI                     :   Baiklah ! Ketahui bahwa Mawar kini tengah mengandung
                             anakku.
NYONYA SUMIRAH :             Kurang ajar ! Keluar ! Keluar !


( NOKI eksit. Lampu perlahan meredup hingga gelap, diiringi kesedihan yang
menusuk-nusuk. Mereka terdiam seperti patung hendak runtuh ).




                                            6
( Di ruang makan, meja makan memanjang. NYONYA SUMIRAH duduk di kursi yang

mengesankan bahwa dia pemimpin keluarga. Di kelilingi MAMA, PAPA, MAWAR,

EYANG KAKUNG dan TUAN SUNAN. IJAH sibuk menyiapkan hidangan makan

malam. Suasana agak tegang saling curiga dengan pandangan mata yang ganjil dan

mengancam. Sambil mulai makan ).
                                                                         169


NYONYA SUMIRAH :     Di rumah ini aku rasa sudah tidak tentram lagi. Tingkah

                     laku kalian sudah keterlaluan. Ibu juga tidak tahu siapa

                     yang mencuri perhiasan Ibu. Ibu sudah mencarinya tidak

                     ketemu juga. Berarti ada maling di rumah ini. Apa

                     mungkin Ijah yang mengambil. ( Terdiam semua ). Umar

                     ! Jadi benar kau telah melakukan pada Mawar ? ( PAPA

                     hanya diam saja, menunduk ).

MAMA           :     Kau benar-benar tak tahu malu. Kau berani melakukan

                     pada adiku sendiri. Kau mengkhianati perkawinan kita.

                     Dasar mata keranjang.

EYANG KAKUNG :       Oh gadisku. Baju merah, wajah cerah. ( Pada MAWAR ).

                     Kekasihku pujaan hatiku. ( Pada PAPA yang duduk di

                     sebelahnya ). Tolong sampaikan salamku padanya.

                     Tolong. Nanti tak kasih hadiah. Sampaikan salamku

                     padanya ya. Ini namanya cinta pada pandangan pertama.

                     Siapa namanya ? Aku belum kenal. Baru hari ini aku

                     melihatnya. ( PAPA hanya diam saja dan sesekali

                     menganggukkan kepala. EYANG KAKUNG kemudian

                     menyanyi dan mendekati MAWAR ).



                     Abang-abang gendero londo.

                     Klambi abang nggo tondo moto.




MAWAR            :   Kung ! Ingat ! Aku Mawar, Kung. Cucu Kakung. Kung !
                     Ingat ! ( EYANG KAKUNG terus merayu ).
NYONYA SUMIRAH :     Kakung ingat Kung. Maemnya dihabiskan dulu. Ijah ! Ijah
                     !
                                                                            170


EYANG KAKUNG   :   Oh       gendero londoku. Oh          klambi abangku. Oh
                   matahariku. Oh kekasihku. Oh menor-menorku.
IJAH           :   Kung ! Klambi abang Kakung di dalam kamar. Ayo kita
                   ambil. Di dalam kamar. Ayo ke sana. Ada di dalam.
                   Menunggu Kakung. ( EYANG KAKUNG menurut sambil
                   ngomel klambi abang ).
NYONYA SUMIRAH :   Jadi Ibu tidak tahu bagaimana lagi kita harus menegakkan
                   martabat keluarga. Apa dari dulu hingga kini keluarga kita
                   harus    menjadi     jelaga   dalam   sejarah.   Tidak   bisa
                   menampilkan trah keluarga yang bisa dibanggakan. Dua
                   anakku rasanya juga mengalami nasib yang tidak enak
                   juga. Lastri, rupanya terlalu dini menikah, kau salah
                   memilih suami, memang dulu, Umar, kelihatan baik, tapi
                   apa yang diperbuat pada Mawar adalah malapetaka
                   keluarga, noda hitam yang tak akan terhapus. Dan kau
                   Mawar juga mengambil langkah yang salah dalam cara
                   bergaul, kau ulangi kesalahan yang dilakukan kakakmu,
                   dan kini kau hamil. Ayahmu sendiri tidak mampu
                   memimpin keluarga. Justru mata keranjangnya makin
                   menjadi-jadi. Hidup di rumah ini rasanya asing. Semua
                   penghuni tidak ada yang saling mempercayai. Semua
                   asing.
TUAN SUNAN     :   Tentu saja karena ingin saling menang sendiri.
MAWAR          :   Ada yang ingin memaksakan kehendak sendiri.
MAMA           :   Kapal ini sudah karam. Nama keluarga sudah tercoreng.
                   Untuk apa dipertahankan.
NYONYA SUMIRAH :   Ibu melakukan itu semua karena ingin menyelamatkan
                   keluarga.
TUAN SUNAN     :   Tabiatmu    itulah    yang    menghancurkan      semua   ini.
                   Kehendak berkuasa berlebihan itulah sumber malapetaka.
                   Mulanya      tidak      dirasakan     tapi   dampak      dari
                   kepemimpinanmu yang otoriter, anak-anak jadi korban.
                   Biduk keluarga pecah. Ingin bebas sendiri-sendiri. Sesuai
                   keinginan masing-masing. Tanpa tahu jalan yang ditempuh
                                                                        171


                   benar apa salah. Semua salah kaprah. Tak ada kebaikan
                   yang muncul dari jiwa yang bersih, karena dalam diri dan
                   kalbu kita sudah dikotori perasaan-perasaan tidak senang
                   dan ingin menang sendiri. Ingin berkuasa sendiri.
NYONYA SUMIRAH :   Apa yang kau tahu dengan kepemimpinan.
TUAN SUNAN     :   Pikiranmu itulah yang menyesatkan dirimu. Tidak mau
                   mendegarkan      pendapat    orang   lain.   Tidak   mau
                   mempercayai orang lain. Seolah dirimu adalah pusat
                   kebenaran. Padahal kebenaran jauh dari jangkauan
                   tanganmu. Karena kebenaran dalam hidup hanyalah
                   mengarah pada kebaikan kita semua. Kebaikan yang
                   bersumber pada moral dan agama. Kebaikan yang
                   membuat diri kita tidak berdaya di hadapan Allah. Tidak
                   sebaliknya, membuat diri kita angkuh, keras, tidak mau
                   dikritik dan sewenang-wenang. Itu semua hanya membuat
                   diri kita rendah di mata Allah. Rendah di mata keluarga.
                   Rendah di mata masyarakat. Tunjukkan kebaikan dirimu
                   dengan bercermin dengan luka-luka masa lalu. Masa lalu
                   adalah cermin untuk masa depan. Semua ini salah kita.
                   Karena kita tidak saling percaya pada anggota keluarga
                   sendiri. Sekarang terserah. Kalau Ibu masih ingin
                   memimpin keluarga ini. Atau ingin mundur. Silahkan.
                   Yang penting ciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan
                   keluarga. Jangan hanya mempertahankan keinginan-
                   keinginan yang semu saja. Hadapi kenyataan dengan
                   lapang dada. Dan ambil jalan keluar yang tepat. Kalau
                   Mawar kini sudah hamil sama Noki apa mungkin kita
                   biarkan bayi itu tidak berayah.
EYANG KAKUNG   :   ( Keluar membawa senapan ). Angkat tangan semua. Buka
                   topi. Topinya dibuka. ( Semua angkat tangan karena kaget
                   ). Ha ha ha ha ha. Si Penguasa akhirnya menyerah juga.
                   Aku menang. Aku menang. Aku menang. ( Pada IJAH ).
                   Siap grak. Lapor komandan. Pasukan sudah menyerah.
                   Mereka mengaku kalah. Mereka membuka topi. Tanda
                                                                                   172


                             kalah. Kalah komandan. Kita menang. Kita menang.
                             Mereka kalah. Hidup perjuangan. Hidup perjuangan.
                             Merdeka. Merdeka. Hidup kita menang. Hidup kita
                             menang. Hidup mereka kalah. Hidup mereka kalah.
                             Mereka kalah. Mereka kalah. Mereka menyerah. Mereka
                             menyerah dalam hidup. Kita menang dalam hidup.
IJAH                       : Pasukan !
EYANG KAKUNG           :     Siap !
IJAH                       : Balik kanan ! Grak ! Maju jalan. Satu. Dua. Tiga. Satu.
                             Dua. Tiga. Belok kiri. Grak. Satu. Dua. Tiga.


( EYANG KAKUNG dan IJAH masuk kamar. Eksit. Yang lagi terdiam dalam kebisuan
yang memuncak, terpikirkan atas nasib hidupnya masing-masing. Merefleksi diri.
Jalan apa yang harus ditempuh ).




                                            7
( Seperti adegan pertama. NYONYA SUMIRAH dan TUAN SUNAN menghadap layar

kaca masing-masing, menghadap penonton, sementara meja dan kursi sofa ada di

belakang. Larut malam. Ada suara kentongan bertalu-talu. Mereka asyik menonton tv

sendiri-sendiri, sesekali berganti ke chanel lain. Wajah mereka dingin, diam, seolah

sedang memikirkan sesuatu, sorot matanya kosong, tak peduli pada sekitar, tak peduli

pada yang lain. Seorang pencuri masuk dengan baju ninja, turun dari atas dengan

tali yang mengelantung, turun perlahan dengan tenang, membuka almari, mengambil

barang, masuk kamar NYONYA SUMIRAH, mengambil barang, perhiasan dan uang,

kembali, tertarik pada jam tangan yang tergeletak di meja dekat sofa ).



EYANG KAKUNG           :      ( Dari pintu ). Angkat tangan. ( Maling kaget bukan main,

                             mengangkat tangan, meletakkan barang curian ). Buka
                                                                      173


           topi ! Buka topi ! ( Maling membuka kerudung, wajahnya

           terlihat. Sementara itu TUAN SUNAN dan NYONYA

           SUMIRAH cuek saja pada apa yang terjadi. Mereka sudah

           muak dengan kelakuan EYANG KAKUNG yang selalu

           mengganggu hidup mereka ). Jangan bergerak ! Aku

           tembak ! Angkat tangan !

PAPA   :   ( Menyanyi Tul Jaenak, disambut EYANG KAKUNG yang

           gembira bukan main mendengar lagu kesukaannya.

           Mereka             sambil      menari   berputar-putar   dengan

           kebahagiaan tersendiri. PAPA melepaskan semua baju

           hitamnya. Tiba-tiba muncul IJAH dengan pakaian minim,

           seronok, mengundang birahi. Ikut menari, mula-mula

           menari bersama EYANG KAKUNG. Kemudian menari

           bersama PAPA. Saling bergandeng tangan. PAPA dan

           IJAH menari mesra sekali. PAPA memberikan kantung

           berisi perhiasan, hasil curian, lalu membelai rambut

           IJAH. IJAH senang dengan pemberian itu, lalu mencium

           tangan PAPA ).



           Tul jaenak

           Jare jatul jaeji

           Kuntul jare banyak

           Ndoke bajul kari siji

           Abang-abang gendero londo

           Wetan sitik kuburan mayit

           Klambi abang nggo tondo moto

           Wedak pupur nggo golek dhuwit
                                                                                   174




( NYONYA SUMIRAH dan TUAN SUNAN cuek bukan main. Perlahan dan pasti

mereka mengeraskan suara tv, sehingga suara nyanyian EYANG KAKUNG, PAPA

dan IJAH perlahan hilang, tak terdengar meski penampakan mereka masih menari-

nari. Seolah menggoda kehidupan. Lampu mulai meredup perlahan hingga hitam

kelam. Tinggal suara televisi yang makin mengeras, berisik tak terusik, silih berganti,

tak jelas suara apa yang terdengar, sahut menyahut, melambung-lambung, kering di

telinga. Sampai puncaknya, tiba-tiba suara itu mati, seolah ada chanel yang terputus

).



                                         ***

                               S E L E S A I
                                                                                                175



                         BIODATA                      S. Y O G A

       S. Yoga dilahirkan di Purworejo Jawa Tengah tahun 70an, semasa kecil gemar
akan wayang dan ketoprak, sejak SD sudah berkenalan dengan bacaan anak majalah
Bobo dan Si Kuncung, perpustakaan di sekolah dasar merupakan pemicu utama
kenapa ia akhirnya bergelut di dunia sastra. Sewaktu SMA ia telah memilih jurusan
Bahasa dan Budaya sehingga banyak mempelajari sastra dan budaya, waktu itu ia
kesengsem dengan karya-karya, Danarto, Iwan Simatupang, Budi Darma dan Putu
Wijaya. Bersama teman-teman SMA tahun 1988 ia pernah membuat antologi cerpen
dan puisi; Kering Shanira.
   Kemudian melajutkan kuliah di Jurusan Sosiologi FISIP Unair Surabaya, di mana ia berkenalan
   dengan teori-teori ilmu sosial. Beberapa karya-karyanya masuk antologi lomba cipta cerpen dan
   puisi, dan juga banyak disebarluaskan di majalah dan media massa. Kini bekerja sebagai Fasilitator
   Kecamatan untuk Program Pengembangan Kecamatan di Madiun
        Di antaranya karya-karyanya dimuat di Jurnal Cerpen, Jurnal Puisi, Graffiti
Imaji-Antologi Cerpen Pendek YMS 2002, Para Penari-Lomba Cipta Cerpen
Nasional Kota Batu 2002, Sepuluh Besar Lomba Cipta Cerpen Nasional Bali Post
2002, Dari Negeri Asing-Lomba Cipta Cerpen Forum Lingkar Pena 2002, Antologi
Puisi Indonesia 1997-KSI, Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001-Kompas, Amsal
Sebuah Patung-Borobudur Award 1997, Lampung Kenangan: Lomba Cipta Puisi
Krakatau Award 2002, Semi Finalis Poetry. Com bulan Agustus 2002, Lomba Cipta
Cerpen dan Puisi KOPISISA Purworejo 1998, Permohonan Hijau-Antologi Penyair
Jawa Timur 2003, Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Horison, Surabaya Post,
Sinar Harapan, The Jakarta Post, Jawa Pos, Surya, Lampung Post, Surabaya News,
Suara Merdeka, Solo Pos, Suara Karya dan Bali Post, Radio Jerman.
        Pernah juga mencoba menjadi sutradara film independen bersama teman-
temannya di @rekfilm Surabaya untuk lomba film di TVRI Surabaya tahun 2002,
filmnya yang berjudul Ia yang Pergi dan Ia yang Kembali terpilih sebagai film
terbaik.


       Alamat      Jl. Ki Ageng Pemanahan Blok L 275
                   :
                   Perum Asabri Selo Kanigoro
                   Madiun
       E-mail :    s_yoga5@yahoo.com
       Telepon :   0351-457276
       Handphone : 08123438854
                                                                                 176


             MEREKA TELAH MEMBAKAR MEUNASAH KITA


     ( Seorang perempuan remaja memakai kruk berjalan tertatih-tatih ke tengah
panggung. Berhenti Diam. Matanya menerawang jauh ke depan. Kemudian dia duduk
                      di tengah panggung. Menangis terisak )


Aisyah
  Emak akan pulang, kan ? Lihat, lihat aku telah menemukan beberapa butir peluru
    yang membuat Bang Yunus terkapar dan mati ? Peluru yang manghadiahkan
kematian bagi Bang Yunus saat ulang tahunnya yang ke-25. Sebelum dia berangkat di
                 pagi itu menuju Jawa, tempat dia menuntut ilmu.
Tapi mereka siapa, Mak ? Meraka siapa, Yah ? Orang –orang yang berbaju doreng itu
     ? Katanya, mereka datang hendak membebaskan kita dari penderitaan yang
berkepanjangan ini ? Orang-orang itu menuduh Bang Yunus sebagai mata-mata, entah
mata-mata siapa. Mereka hanya bisa menuduh tanpa alasan yang jelas, atau memang
                             itu sudah tabiat mereka ?
Mengapa kita tak pernah merdeka, Mak ? Tapi, merdeka itu sebenarnya artinya apa,
Mak ? Dan peluru tak mungkin bisa diajak bicara. Dan di Meunasah juga tak pernah
   diajari apa itu peluru, untuk apa peluru dan bagaimana cara membunuh dengan
                                      peluru.


                   ( Dari dalam ada suara memanggil-manggil )


                                     Noora :
           Aisyah, Aisyah, dimana kau ? Hari sudah menjelang maghrib.


                                     Aisyah :
  Hari sudah menjelang maghrib ? Bagiku hari sama saja. Bagiku waktu sama saja.
                            Penindasan dan kekejaman.


                                     Noora :
  Aisyiah, Aisyiah, dimana kau ? Tak baik Inong keluyuran maghrib-maghrib. Kau
                                     dimana ?


                         Ada suara anak-anak menyanyi :
                                                                                   177


              Bungong jeumpa…..,bungong jeumpa….meugah di Aceh
                Bungong telebeh…bungong telebeh..indah lagoina..


                 Hening. Aisyah bangkit. Seperti mencari sesuatu.


                                      Aisyah :
Bungong jeumpanya sudah gak ada lagi ( sedih ). Wanginya pun juga sudah tidak ada
  meski sisa di angin lalu. Hanya amis darah, bungong jeumpanya amis darah. Di
  bawah pohon bungong jeumpa itu Bang Yunus ditembak mati para pengecut itu.
                           Mereka benar-benar pengecut !


                   Ada suara anak-anak menyanyi, sayup-sayup :
      Bungong jeumpa..bungong jeumpa..meugah di Aceh
               Bungong lelebeh..bungong lelebeh..indah lagoina
                           Puteh kuneng mejampu mirah
                         Keumang siulah cidah that rupa..


                      Aisyah menangis. Suara terputus-putus.


                                      Aisyah :
Bungong jeumpanya sudah tidak wangi. Inong sudah tidak wangi. Mana ada di tanah
  air ini yang masih wangi. Hanya darah. Tanah ini penuh cerita tentang darah dari
dahulu. Sampai Cut Nyak Dien pun dikhianati. Anak-anak pun dibunuhi. Bukankah
  darah lebih merah dari bunga mawar mana pun yang tercantik ? Tapi ada kriteria
  cantik dan tak cantik, apa ? Suara rentetan bedil yang memberondong anak-anak
 Meunasah pun bukankah terdengar indah bagi telinga para penembak jahanam itu ?
 Ya, ya, aku dengar suara itu. Suara ketawa yang nyinyir di antara jerit tangis anak-
 anak Meunasah. Dan Bu Salehah ? Kau tahu apa yang terjadi dengan Bu Salehah ?
    Aku tak pernah menceritakan kepadamu. Banyak dan terlalu banyak nestapa
     ditaburkan di atas tanah ini. Mungkin kau akan bosan dengan cerita-cerita
 pembantaian di tanah kami. Mungkin kau tak tahu berapa jumlah anak-anak yang
dibunuhi setiap harinya di tanah ini ? Mungkin kau tak tahu berapa jumlah anak-anak
                   yang tak sekolah lagi di tanah penderitaan ini ?
                                                                                  178


                                      Noora :
         Mainnya jangan jauh-jauh, Aisyah. Ayo, pulang ke rumah, Inong.


     ( Noora datang mendekati Aisyah. Membelai-belai kepalanya. Sambil lirih
                        menyanyikan lagu bungong jeumpa.
                                  Hening. Sesaat )


                                      Aisyah :
  Bagaimana keadaan Meunasah, Noora ? Apakah anak-anak itu, teman-teman kita
sudah pada masuk lagi untuk mengaji, Noora ? Apakah mereka sudah siap mengikuti
                         ujian, Noora ? Apa Bu Salehah….


                                      Noora :
Sst. Ayo, kita pulang Aisyah. Hari menjelang malam. Sebentar lagi banyak binatang
malam yang jahat keluar dari sarangnya. Apalagi kita kaum perempuan, harus segera
                                 pulang ke rumah.
  Mengunci pintu rapat-rapat. Ayo kita pulang, Aisyah. Tak baik kita tetap di sini.
Nanti keluargamu kelabakan mencarimu. Kita tak ingin seperti Malika, teman sekolah
kita, yang jenazahnya ditemukan dipinggir kali, seperti habis diperkosa dan dibunuh
                                   dengan sadis.


                                      Aisyah :
 Dan kesadisan mereka tak memandang siapa, meski gadis cacat seperti Malika. Tak
ada yang peduli. Juga para penguasa itu, mereka tetap saja bisa tidur nyenyak padahal
 rakyatnya berteriak-teriak minta dilindungi. Sudahlah, siapa yang mau peduli pada
                              rakyat kecil seperti kita.
  Aku tidak mau pulang. Aku mau menjaga Meunasah kita. Aku tak mau binatang-
  binatang malam jalang itu merusak Meunasah kita. Memperkosa dan membakar
hidup-hidup Bu Salehah. Aku tak mau. Meunasah itu adalah rumah kita juga, Noora.
 Apakah kita rela jika rumah kita dihancurkan orang lain, Noora ? Dimana kita bisa
             berlindung dari hujan, dingin, sengatan matahari, Noora ?
 Dimana kita dan teman-teman kita belajar ? Aku tak ingin, aku tak ingin ada yang
                  merampas Meunasah itu apalagi membakarnya !
                                                                                 179


                                        Noora :
 Tak ada yang akan membakar Meunasah kita, Aisyah. Percayalah. Yakinlah. Semua
                                 akan aman-aman saja.


                                       Aisyah :
Kau jangan bohong, Noora. Kamu jangan terpengaruh apa kata-kata mereka.

Meunasah adalah juga pusaka kita. Tanpa Meunasah kekuatan kita akan lemah dan

mudah dibodohi lalu dibunuhi. Meunasah itu punya sejarah panjang, Noora. Para

pejuang tanah air ini yang membangunkannya, sejak jaman kejayaan tanah air ini.

Aku tak yakin orang-orang jahat itu akan membiarkan Meunasah itu tetap berdiri.

Mereka    takut   pada    gemuruh    suara   anak-anak   mengaji,   suara   anak-anak

bersyalawatan, anak-anak berpuisi dari dalam Meunasah itu. Mereka takut. Maka

mereka berusaha membakar Meunasah kita dan membunuh kita dan teman-teman

kita. Sadarlah, Noora.

  Lihat pelor-pelor di tanganku ini, Noora. Ini yang telah membunuh Bang Yunus,
Hasan, Ibrahim, Laka, Maryam, Fatimah dan teman-teman kita yang lain. Lihat, darah
    kering mereka masih ada. Dan ini sebutir peluru yang menghajar pahaku dan
      membuat kaki satuku pincang. Mereka tak peduli siapapun, mereka akan
 menghancurkan Meunasah itu meski yang menghalang-halangi mereka, anak-anak
    seperti kita, mereka tidak peduli bahkan kalau perlu menembaki membunuhi.
Mungkin mereka tak pernah mengalami masa remaja seperti kita dan juga tak pernah
punya anak seusia kita. Karena mereka sudah disiapkan hidup sebagai makhluk yang
                           buas, yang membunuhi siapa saja.


 Terdengar lirih anak-anak bersholawatan. Tapi tiba-tiba terdengar rentetan senapan.
                         Ada isak tangis. Ada jeritan menyayat.


       Aisyah menutupi kedua telinganya. Tubuhnya bergetar. Noora berusaha
                                    menenangkan.


                                       Aisyah :
                                                                                180


Dengar,    dengar derap     langkah mereka       mulai mendekat.     Mereka bersiap

menghancurkan Meunasah kita. Mereka akan membakar Meunasah kita. Mereka akan

membakar Meunasah kita.



     Aisyah panik. Berlari ke sana ke sini. Noora kewalahan menenangkannya.


                                       Noora :
  Tak ada yang hendak membakar Meunasah kita, Aisyah. Tenanglah. Tenanglah.
                    Sebutlah nama Allah banyak-banyak, Aisyah !


                                      Aisyah :
Mereka sudah datang, Noor. Mereka semuanya membawa bedil dan api. Mereka akan
          membakar Meunasah kita dan menembaki siapa saja yang bersikeras
mempertahankannya. Kita harus menolong Bu Salehah dan teman-teman kita. Mereka
tak pantas dibunuh dengan cara kejih seperti itu. Mereka biadab, Noor. Meunasah kita
                   akan dibakar, Noor. Meunasah kita akan dibakar.


           Aisyah tetap panik. Kemudian terdengar gemuruh api membakar.


                                      Aisyah :
Mereka telah membakar Meunasah kita, Noor. Sedang kita tak berbuat apa-apa untuk
          mencegahnya. Kita pengecut, kita munafik. Mengapa kita takut mati.


                             Aisyah menangis. Menjerit.


                                       Noora :
  Tenanglah, Aisyah. Tak ada yang membakar Meunasah kita, lihat Meunasah kita
                                masih berdiri megah.


  Noora menenangkan Aisyah. Membelai-belai kepalanya, mendekapnya. Hening,
                                senyap. Cahaya redup.
                                                                                   181


 Perlahan ada iring-iringan jenazah. Anak-anak remaja mengusung sebuah keranda.
Lamat-lamat. Bisu. Sunyi. Lenyap. Kemudian lagu bungong jeumpa muncul kembali.


                                 Aisyah bangkit.
Matanya sayu. Kemudian Noora memeluk erat tubuh Aisyah kembali. Membenamkan
    kepalanya dalam dekapannya. Lalu menyenandungkan lagu bungong jeumpa
  beriringan dengan nyanyian bungong jeumpa yang sayup dinyanyikan anak-anak.


                                     Aisyah :
  Noor, pohon bungong jeumpa di halaman Meunasah kita, yang merupakan pohon
bungong jeumpa satu-satunya di kampung kita, masih hidup ? Masih ada bunganya ?
  Beberapa hari yang lalu, bunganya mekar lebat-lebat. Aku memetiknya kemudian
  kusuling menjadi minyak, lalu aku berikan untuk Bu Salehah dan kubagi-bagikan
kepada teman-teman kita agar semua merasakan wanginya. Dan untuk Bu Salehah, itu
hadiahku untuk acara pernikahan dia, agar kedua mempelai itu lebih wangi. Dan akan
  aku nyanyikan lagu bungong jeumpa sewaktu mereka melangsungkan pernikahan
                nanti. Pohon bungong jeumpa itu masih ada, kan ?


                                     Noora :
 Pohon bungong jeumpa itu masih ada. Kamu jangan khawatir. Penghuni Meunasah
 itu juga kita akan selalu menjaganya, akan selalu merawatnya agar bunganya lebat,
   agar kita bisa memetiknya, agar kita bisa menyuling minyaknya, agar kita bisa
                      membagi wanginya kepada siapa saja.


                                     Aisyah :
 Membagi wanginya kepada siapa saja ? Aku tidak mau membagi wanginya kepada
   orang-orang yang ingin membakar Meunasah kita dan membunuhi orang-orang
kampung kita, Noor. Aku tidak rela membagi wangi bungong jeumpa kepada mereka,
                     aku pun tak rela jika kau melakukannya.


                                     Noora :
 Aisyah, bukankah kebaikan kita untuk siapa saja, hatta mereka adalah musuh kita.
    Bukankah Sang Nabi melarang kita untuk mendendam. Ketika batu-batu Taif
  dilemparkan tangan-tangan kasar itu sampai melukai tubuhnya, sampai darahnya
                                                                                  182


 menggenangi terompahnya, beliau tidak mengumpat, ataupun menyumpah serapahi
 manusia-manusia itu, tapi malah beliau mendoakan dengan doa yang indah. Jangan
                            menyimpan dendam, Aisyah.


                                      Aisyah :
Tapi hendak membakar Meunasah kita. Bukankah Sang Nabi juga menyuruh agar

kita tidak lari ketika bertemu musuh, apalagi musuh hendak menghabisi kita. Noora,

aku tak rela jika mereka menghanguskan Meunasah juga pohon bungong jeumpa kita.

Aku tak rela. Aku tak rela. Lihat ini buktinya, pelor-pelor ini, Noora ! Apa tak cukup

kekejaman mereka, yang membunuhi tidak hanya bapak dan ibu-ibu kita, bahkan

anak-anak seperti kita. Apa artinya peperangan ini, Noora. Apa artinya ? Apakah

orang-orang tua hanya bisa menyelesaikan dengan jalan kekerasan ? Dan kematian,

Noora ? Bukankah terlalu indah jika atas nama Allah, seperti yang dikisahkan pada

Hikayat Perang Sabil. Kita tak perlu takut pada kematian, Noora meski kita merasa

masih remaja.

      Karena kematian akan datang menjemput siapa saja tak memandang usia.
  Kematian lebih pasti meminang kita. Saat bunga-bunga sejati diberikan pada kita.
 Dan Meunasah kita akan ada yang menjaganya, meski kita mati dahulu, insya Allah,
   meski hanya ruhnya. Jangan-jangan kau pikir remaja-remaja yang hadir adalah
      remaja-remaja teroris, bukan, tapi remaja-remaja yang punya keberanian
    mempertahankan kedaulatan negeri ini. Bahkan remaja-remaja pengecut yang
 bersembunyi di ketiak harta dan narkoba. Dan pohon jeumpa itu akan selalu rimbun
       bunga-bunganya, akan menaburkan semerbak wangi ke penjuru negeri.


           ( Kemudian ada seorang anak perempuan berlari tergesa-gesa )
                            Seorang anak perempuan :
Cepat, cepat lari, selamatkan diri kalian. Mereka telah datang hendak menghancurkan
                         kampung kita. Juga Meunasah kita.


                           Aisyah terperanjat. Juga Noora.
                                                                                183



                                     Aisyah :
 Sudah kubilang apa. Mereka sama saja. Untuk apa kita berlari dari mereka. Aku tak
   mau mati dalam kepengecutan dan kemunafikkan. Aku akan melawan mereka.
Meunasah itu tak boleh hancur. Aku tak rela jika Meunasah itu hancur. Aku tak rela.


Noora menarik-narik tangan Aisyah untuk segera pergi menghindar dari bahaya yang
 mengancam, tapi Aisyah meronta-ronta. Sampai akhirnya tangan Aisyah lepas dari
 pegangan Noora dan Aisyah pun bergegas tertatih menyongsong maut. Sedangkan
                   Noora mengejar Aisyah sambil kebingungan.


                       Kemudian terdengar sayup nyanyian
      bungong jeumpa..bungong jeumpa meugah di Aceh
                bungong lelebeh..bungong lelebeh indah lagoina
                           puteh kuneng mejampu mirah
                         keumang siulah cidah that rupa…


        sayup. Redup. Hanya suara rentetan bedil dan api yang menggejolak.


                                   Bogor,1425
                    Zakh Syairum Majid ( Surono B Tjasmad )




BIODATA PENULIS


Zakh Syairum Majid (Surono B Tjasmad), lahir di Pekalongan, 16 Mei 1980, alumni
Institut Pertanian Bogor. Aktif sebagai Wakil Ketua Forum Lingkar Pena Bogor.
Karya berupa cerpen dan puisi pernah dimuat dalam : Republika, Suara Karya,
Tabloid MQ, Elegi Gerimis Pagi (Antologi Cerpen Mini KSI Award 2002), Yang
Dibalut Lumut (Antologi Cerpen Lomba Kreativitas Pemuda 2003, Depdiknas), Muli
Sikep (Antologi Cerpen Krakatau Award 2003), dll. Cerpennya yang bertajuk ―Elegi
Gerimis Pagi‖ memenangkan Komunitas Sastra Indonesia Award 2002, sedangkan
cerpennya yang berjudul ―Jejak-Jejak Terhapus Hujan‖ memenangkan juara III
                                                                          184


Lomba Cipta Cerpen Kreativitas Pemuda Depdiknas 2003. tinggal di Wisma Dolphin
Balebak 32 Balumbangjaya, Bogor. (0251) 621628 / 081310326178.
                                                          185




              SITTY NOERBAJA
(EPISODE LEPAS DARI BUMI)




                                 OLEH

                        ILHAM YUSARDI




      PEMAIN
Seorang perempuan muda, berperan sebagai SITTY NOERBAJA
Seorang laki-laki muda, berperan sebagai SAMSUL BAHRI
Seorang laki-laki muda, berperan sebagai BAKHTIAR
                                                                  186


Seorang laki-laki muda, berperan sebagai ARIFIN
Seorang laki-laki paruh baya, berperan sebagai AYAH
Seorang laki-laki tua, berperan sebagai DATUK MARINGGIH
Seorang laki-laki, berperan sebagai PENDEKAR LIMA
Seorang laki-laki, berperan sebagai PEDAGANG
Seorang laki-laki, berperan sebagai PEDAGANG PALSU ( SURUHAN DATUK )
Beberapa orang SISWA.




I.

PENTAS MENGGAMBARKAN SESUDUT JALAN ATAU HALTE TEMPAT
ANAK-ANAK SEKOLAH MENUNGGU JEMPUTAN ATAU ANGKUTAN
UMUM. DI SITU MANGKAL SEORANG PEDAGANG GEROBAK YANG
MENJUAL MAKANAN DAN MINUMAN RINGAN. DI SEBELAH KIRI
                                                                                  187


TERDAPAT SEBUAH RAMBU-RAMBU YANG MENUNJUKAN TEMPAT
PERHENTIAN BUS.

SITTY, SAMSULBAHRI, BAKHTIAR DAN ARIFIN MASUK. MEREKA
BERCENGKRAMA SEPERTI ADAYANG DIPERDEBATKAN.

BAKHTIAR :
Yang namanya hidup di dunia tentu harus dengan akal, pandai-pandai. Kalau hidup di
akhirat baru mesti dengan iman.

SITTY :
Tapi, melihat jimat saat ujian tadi kamu bilang pandai, Bakhtiar ? Bukankah itu cara
yang licik.

ARIFIN :
Kalau saya berpendapat lain. Yang dilakukan Bakhtiar diwaktu ujian tadi namanya
‗licik pandai‘, bukan cerdik pandai.

BAKHTIAR :
Aah, hei. Untuk hasil maksimal dibutuhkan usaha yang maksimal. Betulkan Samsul ?

SAMSUL :
Kata-kata itu benar. Kamunya yang tidak benar. Usaha maksimal bukannya
menghalalkan segala cara. Ingat, alam terkembang jadikan guru. Bisa-bisa berubah
pepatah itu, jimat terkembang otak membeku.

SEMUA TERTAWA MENDENGARNYA

PEDAGANG :
Oi ! onde-onde, onde-onde mande. Tertawa sambil makan onde-onde pasti lebih
asyik.
( SITTY MEMERIKSA SAKUNYA )

SITTY :
Ujian tadi baru tahap percobaan. Apakah kamu bisa melihat jimat saat ujian akhir
yang sebenarnya, Bakhtiar ?

ARIFIN :
Kalau saya berpendapat lain. Resiko untuk melakukan kecurangan di ujian akhir
sangat besar. Melihat kiri-kanan saja mungkin dicurigai. Bertanya tetangga ?, sesekali
jangan. Nah, apalagi lihat jimat, kertas kecil apapun jenisnya pasti akan gagal.

SAMSUL :
Barangkali Bakhtiar siap dengan resiko, didiskualifikasi.

ARIFIN :
Nah..., dari pada kepala pusing. Menurut pendapat saya. Lebih baik begini.
Pertanyaan yang tidak terjawab oleh kita, gunakan pilihan bantuan. Pertama, ask the
audience, kode tetangga-tetangga sebelah. Kalau dicurigai, urungkan niat. Kedua,
phone a friends, siapkan kertas kecil untuk sms-sms-an,‖ bantu saya nomor sekian‖.
                                                                                 188


Lemparkan pada kawan yang mungkin tahu jawabannya. Tidak bisa juga ! Baru
gunakan fifty-fifty.

BAKHTIAR :
Fifty-fifty bagaimana ?

ARIFIN :
Tentukan dua pilihan jawaban yang menurut kamu paling berkemungkinan benar.
Dari dua jawaban tersebut, pilih satu saja dengan cara menimbang ( MENIRUKAN
DENGAN TANGAN ). ―Ma rancak iko pado iko, rancak iko‖
Nah, dapatlah satu jawabannya. Untung-untung betul. Gampangkan.... ?

SAMSUL :
Alaahh...., sama juga bohong Arifin.

SITTY :
Tidak ada gunanya. Seperti kata petuah :
       Jalar-menjalar akar benalu
       Kuat melingkar di batang mangga
       Kita belajar menuntut ilmu
       Tabiat buruk tak akan berharga

ARIFIN :
Tapi bukankah fifty-fifty itu sah saja. Lain halnya dengan cara Bakhtiar yang menurut
pendapat saya....

BAKHTIAR :
Sudah, sudah. Waktu seminggu itu masih panjang. Cukup untuk bersantai
menenangkan pikiran. Pergi piknik, tenangkan jiwa.

SAMSUL :
Seminggu kamu bilang masih panjang ? Mana jari tanganmu ? Hitung mundur mulai
detik ini. Saatnya siaga satu, kawan.

BAKHTIAR :
Jangan tegang, rileks saja. Kita tentu punya cara masing-masing sebelum bertempur.
Kalau saya, butuh refreshing dulu sebelum menuju gelanggang. Kalau mau belajar
kejar tayang menghafal buku-buku, silahkan coba. Bisa-bisa meledak itu kepala.

ARIFIN :
Dasar pemalas !

BAKHTIAR :
Terserah saja, sekarang lebih baik pulang. Dengar,
       Batang purut di tepi pagar
       Ditanam putri anak bangsawan
       Kerontang perut karena lapar
       Segera pulang mencari makan.
Ayo, Arifin. Kamu pulang bersama saya atau tidak ? Biarlah mereka berdua
menggagas masa depan. Apakah kamu mau jadi pamong terus, jadi obat nyamuk
                                                                                  189


bakarnya ? ( ARIFIN MENGIKUTI BAKHTIAR ) Samsul, Sitty, kami duluan. O, ya.
Bayar onde-onde kami ini. Buat tutup mulut kami. Daaah.., selamat berindehoi !

BAKHTIAR DAN ARIFIN KELUAR SETELAH MENGAMBIL BEBERAPA
ONDE-ONDE

SAMSUL :
Cerdik juga dia !
Kamu lapar, Sitty ?

SITTY :
(MENGGELENG)

SAMSUL :
Benar tidak lapar ?

SITTY :
( MENGGELENG )

SAMSUL :
Bagaimana kalau kita beli onde-onde. Sekedar pengganjal perut.

SITTY :
Mau, mau ! Boleh juga.

SAMSUL MENUJU PEDAGANG

SAMSUL :
Onde-ondenya, pak.

PEDAGANG :
Nah, begitu. Perhatikan juga nasib orang kecil seperti saya. Masa seharian saya
berjualan di sini tidak ada yang beli ? Makanya dari tadi saya tawarkan onde-onde ini.
Saya tahu kalau putrimu itu sangat suka onde-onde. Dia kan langganan saya.

SAMSUL :
Berapa, pak ?

PEDAGANG :
Belum seberapa, sepuluh onde-onde baru lima ribu saja. Kali ini saya kasih bonus dua
buah. Buat nona Sitty.

SAMSUL :
 O. Ya. Terima kasih. Bapak baik sekali. Eh, benar tidak, pak ? Kata orang, hari esok
harus lebih baik dari hari ini.

PEDAGANG :
Ya, harus !
                                                                                    190


SAMSUL :
Kalau begitu besok bapak harus lebih baik. Besok, kalau saya beli onde-onde
bonusnya harus lebih dari dua. Hehehe ......

PEDAGANG :
Pintar juga otakmu.

SAMSUL KEMBALI KE TEMPAT SITTY

SAMSUL :
Sitty, ini onde-ondenya. Makanlah. Bapak itu memberi bonus buat kamu.

SITTY :
O, ya. Kalau saya tadi yang beli pasti bonusnya lebih dari dua.

SITTY DAN SAMSUL DUDUK MENIKMATI ONDE-ONDE

SAMSUL :
Sitty, selepas lulus sekolah nanti, ayahku menyuruhku untuk meneruskan ke
perguruan tinggi. Aku sendiri setuju dengan itu. Kalau kamu bagaimana ?

SITTY :
Baguslah. Siapa yang tidak bangga bisa lanjut ke jenjang yang lebih tinggi . Ayahmu
tentu telah menyiapkan semua demi kamu. Aku sendiri belum tentu, Sam. Belakangan
ini ayahku sakit-sakitan. Aku tidak mungkin memaksakan keinginanku dalam kondisi
seperti ini. O... rencananya kamu mau melanjutkan kemana, Sam ?

SAMSUL :
Ayahku menyarankan untuk kuliah di luar negeri.

SITTY :
Luar negeri ?!

SAMSUL :
Iya, Sitty. Tidak di sini.

SITTY :
Kenapa mesti ke luar negeri, Sam ?

SAMSUL :
Kata ayahku, sangat baik untukku nantinya. Dengan kuliah di luar negeri kita bisa
mendapatkan ilmu dengan maksimal.

SITTY :
Di sini juga bisa, bukan ? Banyak perguruan tinggi yang tidak kalah kualitasnya. Dan
lagi, kuliah di luar itu butuh biaya besar, Sam. Apakah ayahmu sudah memikirkannya
matang-matang ?

SAMSUL :
                                                                                  191


Ah, entahlah. Selain itu sebenarnya aku belum siap untuk merantau terlalu jauh. Jauh
dari kampung halaman, jauh dari keluarga, dan tentu akan menjauhkan aku dari kamu
Sitty.

SITTY :
Jauh tidak lagi persoalan, Sam. Selagi masih di bumi ini. Apalagi zaman sekarang ini.
Jarak dan waktu bisa direkayasa dengan teknologi.

SAMSUL :
Aku tidak ingin jauh dari kamu Sitty.
       Anak baginda berburu rusa
       Rusa mati tertembak panah
       Jika kasih jauh dimata
       Rasa mati badan sebelah.

SITTY :
     Burung puyuh masuk ke rimba
     Di dahan jati singgah merapat
     Meskipun jauh dipelupuk mata
     Di dalam hati tetapkan dekat.

SAMSUL :
    Ombak berdentum di hujan lebat
    Sampan melaju ke pulau seberang
    Hendak kemana carikan obat
    Badan bertemu makanya senang.

     Kalau lama tidak ke ladang
     Tinggilah rumput dari padi
     Kalau lama tak bisa kupandang
     Rasa rindu menjadi-jadi.
SITTY :
     Risau kicaunya si anak balam
     Ditinggal induknya di pohon jambu
     Walau tak bisa berjawat tangan
     Di dalam mimpi kita bertemu.

       Utara selatan jadi penjuru
       Timur dan barat jadi pedoman
       Jika tuan dilanda rindu
       Dikerat rambut jadikan kenangan.

SAMSUL :
    Tetak lontar alaskan padi
    Peti dibawa dari Palembang
    Bertemu sebentar bagaikan mimpi
    Itu membawa hatiku bimbang

       Bendi dipapah jalan berliku
       Mengangkut sirih ke tengah pekan
                                           192


       Kaki dilangkah terasa kaku
       Takut kasih berpindah tangan.

SITTY :
     Anak Kediri berdagang kain
     Kain disimpan dalam peti
     Niat diri tidak pada yang lain
     Tuan terikat di dalam hati.

       Anak dara bersunting kembang
       Rupanya elok serta jelita
       Banyak dara di negeri orang
       Tidakkah tuan bersimpang mata.

SAMSUL :
    Manis-manis bukannya tebu
    Manisnya manis si gula jawa
    Manis tidak sekedar dari rupamu
    Manis kupandang budi bahasa.

       Surabaya kota pahlawan
       Dikenang seluruh anak negeri
       Sitty Noerbaja yang menawan
       Tak akan kudapati di luar negeri.


SITTY :
     Merah warnanya si bunga mawar
     Putih suci bunga melati
     Janji bukan untuk ditawar
     Kasih hanya dilerai mati

SAMSUL :
    Tanam melati di depan rumah
    Ubur-ubur berdamping dua
    Jikalau mati kita bersama
    Satu kubur kita berdua.

SITTY :
     Ubur-ubur berdamping dua
     Tanam melati bersusun tangkai
     Kalau mati kita berdua
     Jikalau boleh bersusun bangkai.

SAMSUL :
    Tanam melatai bersusun tangkai
    Tanam padi satu persatu
    Jikalau boleh bersusun tangkai
    Daging melebur jadi satu.
                                                                                     193


TANPA DISADARI, PEDAGANG MEMPERHATIKAN PERCINTAAN SAMSUL
DENGAN SITTY.

PEDAGANG :
―Allahuakbar Allahuakbar..............!!‖ ( KEARAH SITTY DAN SAMSUL )

SAMSUL :
Hah ! O . Ayo kita pulang, Sitty. Sudah terlalu senja. Nanti orang di rumah marah-
marah. Merantaunya masih lama. Lulus saja juga belum tentu.

SAMSUL DAN SITTY KELUAR

PEDAGANG :
    Ikat berikat tali kuda
    Pasang pelana kuda yang putih
    Hati terikat samanya muda
    Lupa waktu sebab berkasih

        Minta daun diberi daun
        Dalam daun buah bidara
        Minta pantun diberi pantun
        Dalam pantun ada cerita

PEDAGANG ITU PUN KEMUDIAN MENUTUP DAGANGANNYA. KELUAR
SERAYA MEMBAWA RAMBU-RAMBU YANG TERNYATA BISA DICABUT
DENGAN MUDAH.


                                           ***



II.

DI RUANGAN SEBUAH RUMAH SEORANG LAKI- LAKI SEPARUH BAYA
DUDUK. LAKI-LAKI ITU TERBATUK-BATUK SERAYA MENGUSAP-USAP
DADANYA MENAHAN SAKIT. ANAK PEREMPUANNYA DUDUK DI
SEBELAH LAKI-LAKI ITU, SESEKALI MEMIJIT-MIJIT BAHUNYA.

SITTY :
Istirahatlah lagi ayah, sudah terlalu larut.

AYAH :
Tidak mudah tidur bagi ayah sekarang ini, Sitty.
Dipejam mata tak terpejam
Direbah tubuh tak jua senang perasaan.

SITTY :
Apalagi yang ayah pikirkan ? Bukankah ayah pernah bilang pada Sitty,
Tidaklah beban jadi rasian
                                                                                   194


Habis daging dihisapnya.

AYAH :
Sitty, anakku. Kamu ini seperti orang dulu bilang,
Kecil tak lagi untuk disuruh-suruh.
Besar belumlah dapat ditumpangi.

SITTY :
Ah, ayah. Kecil Sitty anak ayah, besar juga tetap anak ayah. Kalau boleh Sitty tahu,
apa yang ayah pikirkan ?

AYAH :
Dipintal benang dengan gulungan
Biar berpisah pangkal dengan ujungnya
Tak kusut pula dalam genggaman.
Tapi, kali ini kamu terpegang ujung benang, Sitty.
Ayah memintal dari pangkalnya.

SITTY :
Kalaulah ujung di tangan Sitty, tentulah Sitty takkan berlepas tangan.
Ceritakanlah ayah. Dengan senang Sitty dengarkan.

AYAH :
( MENARIK NAFAS )
Berniaga ke tanah Jawa dagang emas dengan budi bahasa.
Tapi, bagaimanapun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.
Nasib tertoreh di telapak tangan.
Niat hendak menyekolahkanmu tinggi-tinggi, biar bertambah isi kepala.
Cita-cita membumbung langit, Tuhan dari atas jua yang menentukan.
Jerih peluh usaha niaga kita kali ini telah habis surut, Sitty. Ayah tak dapat lagi
berbuat apa-apa. Sekarang, kamu juga tahu, harta ayah hanya tinggal badan
sepembawaan ini. Hutang-hutang tumbuh melilit pinggang. Mencekik kerongkongan.

SITTY :
Sitty mengerti, ayah.

AYAH :
Hutang emas dibayar emas. Hutang budi, tentulah dibawa mati.

SITTY :
Benar ayah.

AYAH :
Kemarin Datuk Maringgih datang ke sini. Tak lain untuk menagih hutang pinjaman
dagang yang sudah jatuh tempo. Ayah meminta Datuk menambah jangka waktu yang
diberikan. Tapi, dia menolak. Karena telah melewati batas waktu yang seharusnya.
Sehingga bunganya sudah berlipat ganda. Rumah yang satu-satunya inipun hendak
disitanya. Dan itupun belum juga akan menutupi hutang kita Sitty.

SITTY :
                                                                               195


Iya, ayah. Sitty paham, ayah.

AYAH :
Panjang cerita segelas kopi, direntang masa setinggi bulan. Bersilat lidah di
perbincangan, berkecamuk darah dalam dada.
Ah. Hutang kita seperti memotong rumput di tengah padang. Potong dipotong tumbuh
jua. Bunganya menjulang menyentuh lutut. Tiap melangkah terjatuh pula menyentuh
tanah.

SITTY :
Sitty mengerti, ayah.
Jual gabah di tengah pekan, gabah dibawa dengan bendi.
Kalaulah susah sama kita pikirkan, nak lapang jua beban di hati.
Ayah, apa yang bisa Sitty perbuat untuk itu, Ayah.

AYAH :
( KEMBALI MENARIK NAFAS, KEMUDIAN MENGGELENGKAN KEPALA )
Daunmu terlalu hijau. Berputik sudah, berbunga belum. Harumnya belumlah melintas
pagar.

SITTY :
Maksud ayah.... ?

AYAH :
Sitty, hutang emas dibayar emas ? Hutang budi dibayar budi ? Tapi, lain dengan
Datuk Maringgih. Seluruh hutang kita padanya, tidak berguna pepatah demikian.
Datuk ingin mempersuntingmu. Maka, lepaslah hutang yang selilit pinggang.

SITTY :
( TERKEJUT )
Dengan Sitty, ayah !? Datuk Maringgih !?

AYAH :
Itulah jalan yang ia pintaskan agar terlepas dari segala hutang.

SITTY :
Tidak, ... tidakkah ada jalan lain, ayah ?

AYAH :
Kalaulah umur ayah masih panjang, dan tenaga berisi di badan. Tentu ayah tidak akan
memberi tahu kamu, Sitty.

SITTY :
Tapi, ... Sitty belum ...

AYAH :
Sitty, Ayah paham kalau kamu belum punya timbangan yang kuat, Sitty. Timbangan
yang bagus tidak berat sebelah. Berlebih semata ditentang dengan pikiran. Selepas
kamu lulus sekolah nanti, Datuk Maringgih hendak menjatuhkan hari.
                                                                                  196


SITTY :
( TERDIAM LAMA SEPERTI BERPIKIR )
Ayah, bolehkah Sitty mohon diri Ayah ?
Sudah berat kelopak mata. O, ayah istirahatlah dahulu.

SITTY KELUAR MENINGGALKAN AYAHNYA.
LAMPU MENYURUT.



                                          ***



III.

PENTAS KEMBALI MENGGAMBARKAN SESUDUT JALAN. PEDAGANG
MENUNGGU ANAK-ANAK PULANG SEKOLAH.

DATUK MARINGGIH MASUK BERSAMA PENDEKAR LIMA—ASISTEN,
JUBIR SEKALIGUS PENGAWALNYA.

DATUK :
Sudah keluar anak sekolah itu ?

PEDAGANG :
O, belum Tuan. Mungkin sebentar lagi. Coba lihat arlojinya ( MENARIK TANGAN
DATUK, MELIHAT ARLOJI ). Baru pukul lima lewat sedikit. Lihat, baru sedikit
lewatnya. Sekolah bubar pukul setengah enam. Ya, setengahnya saja. Sebentar lagi.
Sabar, sabar. Silahkan duduk dulu. Santai dulu. Dan saya punya onde-onde, enak
rasanya. Silahkan dicoba. Kalau tidak percaya lihat saja nanti. Seorang gadis cantik
akan memborong onde-onde ini, Sitty Noerbaja gadis....

DATUK :
Sitty Noerbaja ?!

PEDAGANG :
Tepat sekali. Gadis manis, semanis tebu, suka onde-onde. Dia bilang onde-onde lebih
hebat dari makanan import manapun. Eh, apa Tuan menunggu Sitty Noerbaja ?

DATUK :
Ya. Saya menjemputnya.

PEDAGANG :
Berarti Tuan ini keluarganya Sitty, kakeknya barangkali ?

PENDEKAR LIMA :
Heh ! Jangan asal bicara ya !

PEDAGANG :
                                                                                  197


Bapaknya ?

PENDEKAR LIMA :
Datuk ini bukan bapaknya.

PEDAGANG :
Jadi, pamannya begitu ?

PENDEKAR LIMA :
Huhh ! Tidak kata saya !
PEDAGANG :
Kakek bukan, bapak tidak, paman juga salah. Tapi ke sini untuk menjemput Sitty.
Nah, berarti Tuan ini sopir pribadinya nona Sitty.

PENDEKAR LIMA :
Hei ! Mau kakek, kek. Mau bapak, kek. Mau paman, kek. Apa urusanmu ! Urus saja
onde-ondemu itu.

PEDAGANG :
O. Oke, oke. Maafkan saya. Tidak akan saya urus lagi. Ya, bukan urusan saya. Tapi
ingat, sekedar informasi. Bagi saya, Sitty berarti onde-onde, seperti onde-onde.
Lembut di luarnya, manis di dalamnya. Dia ramah sekali....

DATUK :
( KEPADA PENDEKAR LIMA )
Coba kau lihat kesana. Lama sekali keluarnya. Apa yang mereka perbuat di sekolah
itu. Zaman saya sekolah tidak terlalu penting. Lihat saya, tidak perlu sekolah tinggi-
tinggi untuk bisa hidup sejahtera. Cuma pakai akal-akalan. Kecil bahagia, muda foya-
foya, tua sejahtera, mati masuk......

PENDEKAR LIMA :
Itu dia, Datuk. Menuju kesini. Anak sekolah keluar seperti kambing lepas dari
kandang. Tapi, Sitty bergandengan Datuk.

DATUK :
Bergandengan ! Dengan siapa !?

PENDEKAR LIMA :
Dengan laki-laki. Mesra sekali mereka.

DATUK :
Siapa laki-laki itu ? Hah ! Samsul Bahri. Anak Sutan Mahmud. Sudah melekat-lekat
pula ia dengan Sitty.

SAMSUL , SITTY, BAHKTIAR DAN ARIFIN MASUK.

SAMSUL :
Tuan Datuk Maringgih rupanya. ( MENGULURKAN TANGAN HENDAK
BERSALAMAN TAPI TIDAK DIBALAS OLEH DATUK )
                                                                                198


PENDEKAR LIMA :
Oh, bersalaman dengan Datuk harus melalui saya. Saya asisten, jubir, sekaligus
pengawal pribadi Datuk. Jadi segala apapun urusan dengan Datuk harus melalui saya.

DATUK :
Selamat sore Sitty. Sedari tadi saya menunggu. Niat di hati hendak menjemputmu.
Mobil sudah saya persiapkan. Mari, kita berkeliling menikmati senja yang menarik
ini. Bagaimana kalau kita ke tepi laut, mencari angin segar sambil makan rujak atau
jagung bakar. Setelah itu kita ke plaza mencari oleh-oleh untuk ayahmu.

SITTY :
Ah, eh. O. Mmmh ... Datuk !?

DATUK :
Ayo Sitty, mari. ( MENARIK TANGAN SITTY )

SAMSUL :
Ada apa ini Datuk ?

PENDEKAR LIMA :
Bukan urusan kamu !

SAMSUL :
Ini jadi urusan saya.

PENDEKAR LIMA :
Oi, urus saja dirimu sendiri, kalau tidak mau berurusan panjang dengan saya !

SAMSUL :
Tapi jangan main ... !

SITTY :
Tenang Sam. Ini urusan saya. Pulanglah dulu bersama Bachtiar dan Arifin. Saya mau
bicara sebentar dengan Tuan Datuk.

SAMSUL :
Tapi, Sitty. Kamu...

SITTY :
Sam, saya mohon pengertian kamu.

PENDEKAR LIMA :
Nah, kamu dengar tidak ? Sitty menyuruhmu pergi dari sini. Tunggu apalagi,
menunggu kena usir, ya ?

BACHTIAR :
Enak saja main usir. Ini tempat umum tahu.

PENDEKAR LIMA :
                                                                                    199


Kamu juga mau turut campur urusan ini, ya ? Mau tahu prosedur berurusan dengan
saya ?

ARIFIN :
Op, op, op. Menurut pendapat saya lebih baik kita mengalah. Mundur. Ayo. Sitty,
kami duluan. Jaga diri baik-baik.

SAMSUL, BACHTIAR DAN ARIFIN PERGI DENGAN KESAL.

SITTY :
Datuk. Apa maksud Datuk menjemput saya ?

DATUK :
Saya bermaksud baik Sitty. Mulai hari ini saya, eh, aku, akan menjemputmu. Sebagai
seorang calon induk berasku, alangkah menyenangkan kita bertemu setiap saat. Biar
kita merasa dekat. Bukan begitu hendaknya ?

SITTY :
Siapa yang menyuruh Datuk melakukannya ?

DATUK :
O, tidak siapa-siapa. Ini aku lakukan tulus dan murni dari hati nuraniku sendiri.

PENDEKAR LIMA :
Ah, tidak usah pakai menolak segala. Turuti sajalah. Datuk akan membuat hari-
harimu bahagia.

DATUK :
Saya tidak menyuruhmu bicara !

SITTY :
Datuk. Saya tidak pernah meminta untuk dijemput, Datuk.

DATUK :
Sitty, semua sudah saya perhitungkan dengan ayahmu, Sitty. Tidak ada lagi yang
perlu dipermasalahkan.

SITTY :
Tuan Datuk. Ini bukan hitungan matematik, Tuan. Sebagai seorang yang jauh lebih
dewasa, tentu Tuan lebih paham dunia ini.

DATUK :
Ah, kau kan bukan lagi anak kecil yang tidak bisa menentukan langkahmu sendiri.
Sudah tujuh belas tahun. Tentu kau mengerti Sitty.

SITTY :
Jalan saya masih panjang Datuk. Saya belum berpikir melangkah sejauh ini. Alangkah
bagusnya Datuk mencari perempuan yang lebih dari saya. Lebih pantas, lebih pas
menjalankan hidup dengan Datuk.
                                                                                 200



DATUK :
Apalagi yang kamu cari setamat sekolah ini, Sitty ? Lebih baik lakukan langkah besar.
Apalagi, kamu perempuan. Bukankah perempuan itu hanya ; sumur, dapur, dan kasur.

SITTY :
Tuan. Hendaklah Tuan berpikir baik. Baik untuk Tuan, dan juga baik untuk saya.

PENDEKAR LIMA :
Ini sudah yang terbaik Datuk lakukan untuk kamu dan Ayahmu, Sitty. Apakah kamu
senang melihat ayahmu sakit-sakitan memikirkan...

SITTY :
Tentang hutang Ayah saya pada Datuk, saya berharap Datuk sabar. Berilah saya
kesempatan. Tunggu saya menyelesaikan sekolah saya dulu. Saya akan berusaha,
bekerja mencari uang untuk membayarnya.

PENDEKAR LIMA :
Heh ! Mau kerja apa kamu Sitty ? Tidak gampang mencari pekerjaan di jaman
sekarang ini. Kerja di kantor ? Di Bank ? Jangan mimpi Sitty. O, barangkali kamu
bisa jadi babu, buruh kasar, atau kamu jadi pekerja ... pekerja seks komersil.

SITTY :
( MENAHAN AMARAH )
Saya tidak bicara demikian Tuan-tuan.

DATUK :
Pendekar Lima. Saya tidak suruh kamu bicara. Diam saja di sana.
Jadi, kamu keberatan dengan aku Sitty ?

SITTY :
Maafkan saya Tuan Datuk.

DATUK :
Saya tidak main-main Sitty.

PENDEKAR LIMA :
Tidak tahu diuntung pula kau rupanya. Ingat. Hutang ayahmu dengan Datuk sudah
terlalu banyak. Mau dibayar dengan apa lagi ? Ayahmu sudah menjual seluruh
perusahaan dagangnya. Untuk bunganya saja itu pun belum cukup. Ayahmu sudah
mulai bicara sendiri memikirkannya. Lebih baik kau bayar lunas dengan ...

SITTY :
Hutang emas dibayar emas, Tuan.

PENDEKAR LIMA :
Jadi kau kemanakan perbuatan baik Datuk selama ini pada ayahmu ?

SITTY :
                                                                                 201


Saya akan selalu mengingatnya. Tidak akan saya lupakan, bahwa Datuk adalah
seorang yang baik. Bahkan terlalu baik.

PENDEKAR LIMA :
Nah, tunggu apa lagi ?

SITTY :
Namun, keinginan Datuk terhadap saya, apakah baik buat saya ?

PENDEKAR LIMA :
Jelas sangat baik. Niat baik Datuk tidak akan ada yang menghalangi.

SITTY :
Belum tentu, Tuan. Kalau Tuhan berkeinginan lain, tidaklah boleh mendahului yang
di atas.

DATUK :
Hhh. Jangan bermain-main, apalagi mempermainkan saya. Jadi kamu menolak saya ?
Saya tidak pantas untuk kamu, begitu ? Lalu, siapa yang pantas ?

PENDEKAR LIMA :
Samsul Bahri tentu telah mempengaruhi otaknya.

SITTY :
Tidak baik menyangkut – pautkan persoalan ini dengan orang lain, Tuan. Samsul
tidak tahu apa-apa dengan masalah ini.

PENDEKAR LIMA :
Jangan bersilat lidah, Sitty. Sejak kapan kau berhubungan dengan dia ? Sudah sejauh
mana ? Jangan-jangan kau telah melakukan......

SITTY :
Cukup Tuan. Persoalan ini hanya antara keluarga saya dengan tuan Datuk.

DATUK :
Baik, baik. Sitty ! Silahkan kamu berpikir baik-baik sekarang. Baik untuk kamu serta
ayahmu. Terserah ! Saya tunggu keputusanmu.

SITTY :
Sekali lagi, saya mohon maaf dan berharap Tuan mengerti. Maafkan atas
kelancangan saya. Saya mohon diri dulu, Tuan. Saya pulang.

SITTY KELUAR



PENDEKAR LIMA :
Keras kepala juga dia !
                                                                               202


DATUK :
Keras hati, pendekar.

PENDEKAR LIMA :
Keras hatinya pada Samsul Bahri.

DATUK :
Mmmh. Hehehe ... Samsul Bahri !? Tampaknya dia akan menjadi batu sandungan
bagi langkah saya. Tapi dia bukan masalah yang besar. Pendekar, ke sini !
( MEMBISIKAN SESUATU. PENDEKAR MENGANGGUK-ANGGUK )

PENDEKAR LIMA :
Ide yang usul. Tapi...

DATUK :
Tapi bagaimana ?

PENDEKAR LIMA :
Begini Datuk, apakah setelah ini dilakukan Sitty akan mau dengan Datuk ? Tentu dia
akan tambah sulit didekati. Lebih baik langsung Sitty saja, Datuk.

DATUK :
Kamu gila ya ! Tujuan saya itu jelas-jelas Sitty. Kenapa Sitty pula yang dijadikan
sasaran. Goblok ! Sekarang gunakan otakmu, bagaimana caranya.

PENDEKAR LIMA :
O. Baik. Begini ( BEBICARA PELAN DENGAN DATUK, SESEKALI
MENUNJUK KE ARAH PEDAGANG )

DATUK :
Bagus, bagus. Sekarang gunakan bibirmu itu kesana.

PENDEKAR LIMA MENDEKATI PEDAGANG.

PEDAGANG :
Eh, Tuan. Kelihatan serius sekali pembicaraan tuan-tuan dengan Nona Sitty. Sehingga
Ia tidak sempat menikmati onde-onde saya. Rejeki saya jadi hilang begitu saja.

PENDEKAR LIMA :
Ah, biasalah. Kami ini memiliki sebuah Production House yang sedang menggarap
sebuah film baru. Pembicaraan tadi itu, kami menawarkan sebuah peran pada Sitty
Noerbaja. Tapi dia masih ragu. Pikir-pikir dulu katanya ( MEMAKAN SEBUAH
ONDE-ONDE ) Mmmh..onde-ondenya enak sekali.

PEDAGANG :
Tuan mengajak Sitty main film ? Dia menolaknya ?

PENDEKAR LIMA :
O, Belum. Sitty belum memutuskannya tadi.
( MEMATUT-MATUT GEROBAK PEDAGANG )
                                                                                   203


Selain dengan Sitty, sepertinya kita juga bisa berkerjasama.

PEDAGANG :
Bekerjasama ? Tuan membutuhkan saya untuk main film ?

PENDEKAR LIMA :
Ya. Kami membutuhkan gerobak Anda ini untuk setting sebuah adegan di film kami
nantinya.

PEDAGANG :
Aah..., masa cuma gerobaknya saja. Sayanya tidak. Memang apa judul filmnya ?

PENDEKAR LIMA :
Mmmh. ―Tidak Ada Apa-apa Dengan Cinta‖.

PEDAGANG :
Lho ! Kok pakai kata ‗tidak‘ ?

PENDEKAR LIMA :
Di situlah nilai jual film ini, lain dari yang lain. Film ini akan memperlihatkan bahwa
tidak ada apa-apa dengan cinta. Persetan dengan yang namanya cinta. Nah,
pengambilan gambar pertamanya akan dilakukan di sini. Sitty akan memainkan tokoh
utamanya yang sedang menunggu kekasihnya sambil makan onde-onde.

PEDAGANG :
Makan onde-onde ? Wah, cocok sekali dengan hobinya.

PENDEKAR LIMA :
Karena itulah kami memberikan peran ini pada dia.

PEDAGANG :
Semestinya saya juga diajak, dikasih peran. Saya ini kan sudah biasa melakukan
adegan yang Tuan inginkan. Sitty pasti senang dengan saya sebagai lawan mainnya.

PENDEKAR LIMA :
Sayang, wajah Anda itu tidak Kameragenik

PEDAGANG :
Apa maksudnya ?


PENDEKAR LIMA :
Wajah Anda itu tidak menarik jika dishoot dengan kamera. Itu akan merusak citra
film ini di mata penonton nantinya. Jadi saya cuma pakai gerobaknya saja. Bagaimana
? Mau tidak ? Kami hargai ( MEMBERI PENJELASAN DENGAN TANGAN
SAMBIL BERBISIK ).

PEDAGANG :
Ah, cuma segitu ? Biasanya seorang produser itu sangat royal. Apalagi untuk sebuah
adegan penting.
                                                                                 204



PENDEKAR LIMA :
Tenang, sesudah pengambilan gambar adegan ini akan saya tambah. Dua kali lipat,
bagaimana ?

PEDAGANG :
Nah, begitu. Kerjasama disepakati. Tapi.....

PENDEKAR LIMA :
( HENDAK BERBALIK KE TEMPAT DATUK ) Apa lagi !?

PEDAGANG :
Tadi kata Tuan, Nona Sitty belum memastikan dirinya untuk.......

PENDEKAR LIMA :
O. Itu bukan urusan kamu. Nanti akan kami hubungi lagi dia. Cuma persoalan nilai
kontrak. Dengan nilai yang lebih tinggi, pasti Sitty tidak akan sanggup menolaknya.
( MENUJU DATUK )

DATUK :
Bagaimana, Pendekar ?

PENDEKAR LIMA :
Beres, Datuk. Semua sudah saya persiapkan

DATUK :
Bagus. Tidak percuma kau kuangkat jadi jubir, bibirmu tak kalah cepatnya dengan
otakmu. Setelah Samsul dibereskan, tidak ada lagi halangan bagi saya menuju Sitty.
Oh, Sitty ( SERAYA MENERAWANG ).


***




IV.

SEORANG PEDAGANG PALSU SURUHAN PENDEKAR LIMA TELAH SIAP DI
TEMPAT ITU. IA MONDAR-MANDIR MENUNGGU ANAK-ANAK SEKOLAH
KELUAR.

SITTY MASUK, HERAN MELIHAT PEDAGANG ITU.

PEDAGANG PALSU :
O. Mmh, nona pasti Sitty Noerbaja.
                                                                                   205


SITTY :
Betul. Tapi bapak ini siapa ? Biasanya kan pak Amat yang berjualan dengan gerobak
ini.

PEDAGANG PALSU :
Saya ini... anu, maksud saya, saya ini saudara dari isterinya si Amat yang biasanya
berjualan di sini. Berhubungan si Amatnya ada urusan ke situ...., maksud saya
ke....kampung isterinya itu, saya diminta untuk menggantikannya. Daripada tidak
untung....Eh, maksud saya daripada merugi, lebih baik saya yang menjual-jual
dagangannya hari ini. Katanya dia ada......

SITTY :
Ada apa, Pak ?

PEDAGANG PALSU :
Ah, entahlah. Tidak tahu saya. Pokoknya anu. Penting !

SITTY :
Maksud bapak urusan penting.

PEDAGANG PALSU :
Nah, betul. Seperti yang Nona maksudkan tadi.
Yang penting bagi saya itu, si anu, maksud saya, teman Nona yang bernama Samsul
itu .

SITTY :
O, Samsul Bahri. Dia belum keluar. Sebentar lagi. Saya biasa menunggunya di sini.
Ada perlu apa bapak dengan Samsul ?

PEDAGANG PALSU :
Begini. Saya ini di...., maksud saya ada sesuatu yang akan saya......

SITTY :
Maksud bapak ada yang ingin bapak sampaikan pada Samsul ? Katakan saja pada
saya, nanti saya sampaikan pada Samsul.

PEDAGANG PALSU :
Ooo...tidak bisa, maksud saya tidak usah. Biar saya saja. Ini juga penting Nona.

SITTY :
Memangnya siapa yang berpesan ?

PEDAGANG PALSU :
Si itu..., si anu, maksud saya.......

SITTY :
Pak Amat ?

PEDAGANG PALSU :
Iya, ya, seharusnya saya bilang begitu. Hehehe........
                                                                        206



SEMENTARA PEDAGANG PALSU ITU MENUNGGU SAMSUL, SITTY
MENGAMBIL BEBERAPA BUAH ONDE-ONDE DARI GEROBAKNYA.

SITTY :
Pak, Saya beli onde-ondenya. Ini uangnya.

PEDAGANG PALSU :
Ha! Onde-onde ? Nona Sitty membeli onde-onde ini untuk siapa ?

SITTY :
Ya buat saya.

PEDAGANG PALSU :
Tapi ini tidak untuk........

SITTY :
O, tidak untuk dijual, begitu ? Apa bapak tidak mau uang ?

PEDAGANG PALSU :
Uang ! Mau saya. Ini saya lakukan karena uang.

SITTY :
Nah, ini uangnya.

SITTY DUDUK MELEPAS LELAH . KEMUDIAN IA MEMAKAN SATU BUAH
ONDE-ONDE.

PEDAGANG PALSU :
( KESAMPING ) Aduh ! Celaka saya. Seharusnya Samsul, seperti yang disuruhkan
pada saya. Nona memakannya ? ( PADA SITTY )


SITTY :
Iya, kenapa ?

PEDAGANG PALSU :
Ditelan ?

SITTY :
( MENGANGGUK )

PEDAGANG PALSU :
Enak ?

SITTY :
Mmm, enak. Tapi gulanya terlalu manis dari yang biasa.
( MEMAKAN SEBUAH LAGI )

PEDAGANG PALSU :
                                                                              207


Yang itu ?

SITTY :
Sama saja. Bapak ini kenapa ? Kalau bapak mau silahkan coba saja.
( MENYODORKAN ONDE-ONDE )

PEDAGANG PALSU :
O. Tidak, tidak ! Saya tidak suka onde-onde. Onde-onde itu manis. Saya tidak boleh
makan yang manis-manis. Kalau saya makan, saya akan batuk-batuk. Saya akan jadi
pusing. ( SITTY MEMEGANG KEPALANYA SEPERTI KESAKITAN ) Nah, anak
saya akan marah. Ia akan tambah pusing melihat saya. Ia akan kasak-kusuk
mencarikan saya obat. Pernah saya pusing sekali gara-gara makan dodol yang juga
sama manisnya dengan onde-onde. Saya jadi terbatuk-batuk, nafas saya sesak sekali
( SITTY MEMEGANG DADANYA KARENA SESAK NAFAS ) Hampir-hampir
saya tidak kuat lagi. Untung anak saya segera membawa saya ke Puskesmas. Kata
anak saya, puskesmas itu kependekan dari; pusing, kepala sakit dan masuk angin.
Susternya menyuntik saya disini ( MENUNJUK BAGIAN PAHANYA ) Sakit. Tapi,
setelah itu saya bisa sembuh. Kalau tidak, saya bisa mati.( SITTY SUDAH
TERDIAM BEGITU SAJA.TERKAPAR ) Saya ini belum ingin mati. Saya ingin
hidup seribu tahun lagi. Nona takut mati ? ( MENOLEH KEPADA SITTY ) Nona ?
Nona ! Bangun nona. Nona, bangun. Wah, celaka. Aduh, seharusnya Samsul. Kalau
tidak, saya tak dapat uang. Aduh, nona ini ( MENDEKATKAN TANGAN PADA
HIDUNG SITTY ) Haa ! Tidak ada anginnya. Puskesmas, puskesmas ! Tolong !
Tolong ! Ah, kalau orang-orang datang hancur saya. Aduh, bagaimana ini !?.

SAMSUL, BAKHTIAR DAN ARIFIN MASUK

SAMSUL :
Sitty !?

BAKHTIAR :
Sitty kenapa !?

ARIFIN :
Ada apa dengan Sitty !?

SAMSUL :
Hah ! Tidak usah bertanya lagi. Cepat angkat. Bawa ke rumah sakit.

MEREKA KELUAR MEMBOPONG TUBUH SITTY. DARI ARAH LAIN DATUK
MARINGGIH DAN PENDEKAR LIMA MASUK.

DATUK :
Bagaimana ?

PEDAGANG PALSU :
Wah. Aduh, celaka ! Sitty !

DATUK :
Kenapa Sitty ?
                                                                                 208



PEDAGANG PALSU :
Onde-onde, maksud saya Sitty makan onde-ondenya. Sudah saya larang, tapi ia terus
saja. Mau apa lagi. Kalau saya katakan ada racunnya tidak mungkin. Sekarang Sitty
diangkut ke...

PENDEKAR LIMA :
Diangkut ke rumah sakit ? Cepat bapak lihat kondisinya ! Segera balik, kami tunggu
di sini !

PEDAGANG PALSU KELUAR MELIHAT SITTY

DATUK :
Haahhh ! Kenapa bisa jadi seperti ini ? Kacau ! Yang saya perintahkan bunuh Samsul
Bahri. Kalau Sitty mati, percuma semuanya !

PENDEKAR LIMA :
Ini kesalahan teknis, Datuk.

DATUK :
Ini kesalahan kamu ! Menyuruh orang yang tidak bisa diandalkan ! Apa tidak ada
yang lebih punya akal !

PENDEKAR LIMA :
Kalau orang berakal mungkin tidak mau melakukannya, Datuk.


DATUK :
Sudah! Jangan mencari alasan lagi. Apa yang harus kita lakukan ? Kita dalam
keadaan bahaya. Sebaiknya kita pergi dari sini.

PENDEKAR LIMA :
Kita tunggu laporan dari orang tadi dulu Datuk.

DATUK :
Untuk apa lagi ?

PENDEKAR LIMA :
Mengetahui keadaan Sitty, ia mati atau tidak.

DATUK :
Mati atau tidak, tidak perlu lagi saat ini. Kasus ini pasti diusut. Sekaranglah waktu
yang tepat untuk menghindar. Ayo !

LANGKAH DATUK TERHENTI KARENA SAMSUL DATANG.

SAMSUL :
O. Ternyata langkah saya tak kurang dan tak jua lebih. Hendak ke mana tuan-tuan ?
Tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya, ya ! Begitu ? Sitty sekarang
                                                                                209


dalam keadan koma, Dokter telah mengetahui penyebabnya. Tidak ada alasan untuk
tidak menuduh Datuk sebagai dalangnya.

DATUK :
Jangan asal tuduh ! Kamu ingin mencemarkan nama baik saya, ya !?

PENDEKAR LIMA :
Oi, anak muda. Apakah kau punya bukti otentik kalau bicara !?

SAMSUL :
Bukti ? ( MENGODE DENGAN TEPUKAN TANGAN )

BAKHTIAR MASUK MEMBAWA PEDAGANG PALSU

SAMSUL :
Siapa yang menyuruh bapak untuk meracuni Sitty ? ( KEPADA             PEDAGANG
PALSU )

PEDAGANG PALSU :
Itu, Situ. Maksud saya orang itu ( MENUNJUK PENDEKAR LIMA )

SAMSUL :
Berapa bapak dibayarnya ?


PEDAGANG PALSU :
Tadi saya dikasihnya uang segini ( HENDAK MENGELUARKAN SELURUH ISI
SAKUNYA ). Janjinya saya akan dikasih uang banyak, satu juta katanya. Jadi saya
mau. Perintah cuma menyerahkan onde-onde itu pada Samsul Bahri. Samsul Bahrinya
tidak ada. Tapi Nona Sitty membeli onde-onde itu dan mengasih saya uang.

SAMSUL :
Maksud bapak ?

PEDAGANG PALSU :
Aduh, ini sudah tiga kali saya jelaskan pada kalian !

BAKHTIAR :
Jadi tidak usah berkelit lagi dari kami, Datuk !

SAMSUL :
Datuk hendak meracuni saya agar Sitty bisa jatuh ke tangan Datuk ? Terlalu sempit
jalan pikiran datuk. Tidak semua orang bisa Datuk bodoh-bodohi. Zaman sudah
bertukar, Datuk ! Nah, sekarang kau harus me......

ARIFIN MASUK DENGAN RAUT MUKA TEGANG BERCAMPUR TANGIS.

ARIFIN :
Sitty sudah mendahului kita.
                                                          210


SEMUA :
Sitty !?

SAMSUL :
Gaek keparat ! ( HENDAK MENYERANG DATUK )

DATUK :
Lari !

PENDEKAR LIMA :
Kita hadapi saja, saatnya perhitungan terakhir, Datuk !

BAKHTIAR :
Oooooooiii ! Babi hutan masuk ke ladang !

BEBERAPA ORANG SISWA MASUK MEMBAWA BENDA-BEDA KERAS DI
TANGAN. MEREKA LANGSUNG MENYERANG SEHINGGA TERJADI
TAWURAN.

        ―Bagi saya.‖
        ―Ini. Hajar !‖
        ―Kubunuh kau, anak ingusan !‖
        ―Ayo, pak tua !‖
        ―Beraninya keroyokan !‖
        ―Sudah biasa, Datuk !‖
        ―Ekstrakurikuler !‖

DALAM PERISTIWA TAWURAN ITU SAMSUL BAHRI TEWAS TERTUSUK
BELATI OLEH DATUK, SEDANGKAN DATUK MARINGGIH TEWAS
DIKEROYOK SISWA DENGAN BATU.

        ―Samsul !?‖

KAWAN SAMSUL MENGANGKAT TUBUH SAMSUL KELUAR. PENDEKAR
LIMA DAN PEDAGANG PALSU MELARIKAN DIRI.

                                         ***



V.

DI SUDUT JALAN BEBERAPA HARI KEMUDIAN, SEORANG LAKI-LAKI
BERPAKAIAN LUSUH DUDUK DI HALTE. IA TENGAH BERBICARA
SEORANG DIRI.

AYAH :
Sitty...kembalilah Sitty...dst.

SUARA-SUARA :
                                                                                   211


Sitty di sini Ayah. Menjelma gunung. Orang-orang mendaki, seperti mendaki mimpi.
Sitty melihat mimpi itu, Ayah. Bintang jatuh ke samudera jiwa, jiwa lepas dari
tubuh....

AYAH :
Kemarilah, sayang. Maafkan Ayah, kemarilah...peluk Ayah....dst.

SUARA-SUARA :
Sitty di sini Ayah. Serupa jembatan, antara masa lalu, masa kini, dan masa datang.
Jembatan waktu yang melingkar, metamorfosis. Orang-orang melintas, datang,
singgah, pergi, dan menghilang.

AYAH :
Jangan cengeng, Sitty ! Ayo, berdiri. Ayo! Bangun, nak. Lepaskan kemanjaan...dst.

SUARA-SUARA :
Sitty jadi muara, Ayah. Tempat segalanya berakhir. Akhir dari kepedihan, akhir dari
segala dendam. Akhir dari mimpi-mimpi yang dihanyutkan orang dari hulu, dari masa
lalu. Telah jadi kisah, Ayah. Yang melahirkan seribu tafsir.... Meski kita tidak pernah
tahu kapan episode ini berakhir....

LAMPU PERLAHAN MENYURUT. PADAM.

SELESAI


                                                            Bukandiya april-mei 2004
                                                                                            212




BIODATA PENULIS
Nama           : Ilham Yusardi
TTL            : Padang, 28 April 1982
Alamat         : Jl. DR. M. Hatta RT 05 / RW 01 No. 29-30 Anduring Padang 25151
Alamat Surat   : Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fak. Sastra Univ. Andalas Padang

               PO. BOX 235.


Status         : Mahasiswa Sastra Indonesia FSUA angkatan 2001
Aktivitas      : Menulis puisi, cerpen, esai. Aktif di Teater LANGKAH FSUA, HMJ SASINDO,
               Teater GARAK. Pernah ikut berbagai pementasan teater. Diantaranya; ―Suara-suara
               Patung‖ karya Mila K. Sari, ―Primordial II‖ karya S. Metron M. Di beberapa kota di
               Sumatera Barat.
No. Rekening : 107.750093953.901 Atas nama HARIYANTO. Kantor BNI Capem.
Andalas Limau Manih.
                                                  213




  Sebuah sandiwara remaja




Symphoni
anak jalanan
                            Karya : IGN. Arya Sanjaya


Sebuah sandiwara remaja
                                                                                214


  Symphoni Anak Jalanan
  Karya : IGN. Arya Sanjaya




  Pemain

  Atet        = pengamen
  Iwo         = pengamen
  Kemal       = pengamen
  Abdul       = petugas
  Nasir       = petugas
  Komandan




  ___________________________________ Symphoni anak jalanan




          Babak Satu

Di sepotong trotoar sebuah jalan di sebuah kota, tiga remaja tanggung, Atet, Iwo dan
Kemal sedang mengamen. Iwo sering bermimpi, Atet sangat acuh dengan dirinya dan
Kemal senantiasa menepuk-nepuk perutnya yang selalu kelaparan. Mereka sedang
menyanyikan sebuah lagu berirama dangdut.
                                                                              215



Lagu Pengamen
        Mondar-mandir di sela-sela mobil
        nyanyi-nyanyi sampai suaraku sember

        hilir-mudik di antara rumah makan
        senyam-senyum sampai bibirku dower

        andai saja kupunya rumah mobil juga
        ku tak akan sengsara
        andai saja kudapat hasil berjuta-juta
        pasti aku traktir semua

        ( kepada penonton ) mau, mau, mau ...



Kemal      : Dapat berapa kita hari ini ?
Atet       : Sebentar, aku hitung dulu. ( Menghitung uang
               recehan, penghasilan mereka )
Iwo        :    Eh,     kawan-kawan,      tadi      malam    aku     bermimpi
               kejatuhan durian !
Atet       : Benjol dong kepalamu. Eh, Wo, jangan mimpi- mimpi melulu deh !

Iwo        : Memangnya kenapa kalo aku mimpi ketiban durian ?!
Kemal      : Kita jadi kebelet pingin durian dong ! Ah, bego
               kamu !
Iwo        : Iya, mimpi dulu, nanti benerannya !!
Kemal      : Dasar tukang mimpi !
Atet       :   Sudah,     sudah    !    Eh,   Wo,    Mal,     lumayan     juga
               penghasilan kita hari ini.
Iwo + Kemal : Berapa ?!
Atet       : Tiga ribu dua ratus rupiah.
Kemal      :   Berarti     kita    bisa    makan    sama-sama      sebungkus
               nasi kuah sayur dong ...


Tiba-tiba dua orang petugas datang dari sebuah sisi panggung, bergegas sambil
meniup peluitnya. Setelah kejar-kejaran, akhirnya anak-anak itu terperangkap di
salah satu pojok.
                                                                             216


Abdul   : Eh, eh, mau lari kemana kalian, hah ?!
Bertiga : Maaf pak, apa salah kami ?!
Nasir     : Sudah sering dikasih tahu masih bandel juga,
            memangnya kalian mau jadi jagoan ya ?!
Iwo       : Ampun pak, kami sungguh tidak mengerti.
Abdul     : Kalian dilarang             ngamen di sekitar tempat ini,
            tahu !!
Kemal     : Maaf pak, kami tidak tahu, pak !
Nasir     : Dasar anak brekele, kamu ...
Atet      : Betul pak, kami bener-bener tidak tahu. Baru
            pertama kali ini kita bertiga ngamen disini !
Abdul     : Baru pertama-baru pertama, eh, kalian kira kita
            berdua        buta    apa   ?!   Sudah     sering     aku    lihat
            kalian pada genjrang-genjreng di sekitar sini
            ...
Iwo       : Barangkali bukan kami, pak !
Nasir     : Pokoknya aku tidak mau tahu, yang jelas malam ini kalian bertiga yang

            kami tangkap. Sekarang, ayo ikut ke kantor. Ayo cepat, cepat, cepat

            ...!!

Bertiga : Tapi pak, bukan kami, sungguh bukan kami ...


        Ketiga anak itu digiring oleh petugas, mereka semua
keluar.




Babak dua
        Keesokan harinya di kantor petugas. Iwo, Kemal dan
Atet    duduk       di   bangku   panjang,    dua    petugas,      Abdul    dan
Nasir mendampingi mereka. Abdul duduk di belakang meja,
sementara       Nasir     berdiri   mondar-mandir        dengan     pentungan
karet di tangannya.
                                                                          217

Nasir   : Nah, hari ini kalian bertiga akan dibebaskan.
            Tapi ingat, jangan sekali-sekali kulihat lagi
            kalian ngamen di tempat itu lagi. Berisik tahu
            !! Bapak pejabat yang rumahnya dekat situ empet
            matanya    ngeliatin       kamu-kamu          semua...    ngerti,
            nggak ?!
Bertiga : Ngerti bang, eh, pak !


Tiba-tiba     telepon       berdering,            Abdul     mengangkatnya.
terdengar      suara        komandan        memanggilnya            menghadap
kemejanya.


Komandan: Dul, harap segera datang keruangan saya !
Abdul   : Siap, komandan. ( pergi ke meja komandan, yang
            ada di ruangan itu juga, di atas level yang
            agak ditinggikan )
Abdul   : Siap, komandan !
Komandan: Duduklah.
Abdul   : Terima kasih, ‘dan !
Komandan: Begini Dul, aku sedang bingung nih. Hari ini
            anakku yang nomor dua akan berulang tahun. Dan
            kami    ingin    sedikit        ada    perayaan     di     rumah,
            karena dia ingin mengundang beberapa temannya.
            Selain makan-makan ala kadarnya, aku juga minta
            seorang      pemusik,           organ         tunggal       untuk
            memeriahkannya. Tapi dasar apes, tadi pagi dia
            telpon,     katanya       nggak        bisa     tampil     karena
            bapaknya    meninggal.          Nah,     aku     jadi     bingung
            mencari     gantinya       ?!     Kira-kira        kamu     punya
            kenalan yang bisa nyanyi nggak ?!
Abdul   : Kenalan ? Rasanya nggak ada komandan.
Komandan: Atau, tolong cari tahu deh !
Abdul   :    Baik   komandan.     (    Hendak       berbalik,       tiba-tiba
            ingat sesuatu ) Maaf komandan, bagaimana kalau
                                                                        218

            pengamen yang kami tangkap tadi malam saja kita
            suruh tampil di rumah komandan ?!
Komandan: Pengamen ?!
Abdul   : Iya, komandan !
Komandan: Kamu menangkapnya di mana ?
Abdul   : Di depan rumah boss, komandan.
Komandan: Oh, begitu. Ehm, boleh juga. Tapi apa                      mereka
            bisa    bernyanyi     dengan     baik     ?!   Jangan-jangan
            mereka     hanya    bisa       nyanyi     sepotong-sepotong
            saja, kan di jalan mereka nggak pernah nyanyi
            utuh ?!
Abdul   : Oh ya, ya ?! Tapi bagaimana kalau kita test
            saja mereka, komandan ?!
Komandan: Maksud kamu ?
Abdul   : Ya, kita suruh mereka menyanyikan sebuah lagu,
            yang     utuh    tentu   saja.     Nah,    kalau    komandan
            anggap layak, kita tampilkan mereka di rumah
            komandan.
Komandan:   Wah,     bagus   juga    ide    kamu.   Tidak     sia-sia    ku
            manggil kamu kemari. Dimana mereka ?
Abdul   :   Di     ruangan    sebelah,     komandan.       Sedang    diberi
            pengarahan oleh Nasir.
Komandan: Kalau begitu mari kita temui mereka. ( mereka
            berdua pergi ke ruang sebelah ).
Nasir   : Siap, selamat pagi komandan !
Komandan: Pagi, semua baik-baik saja Sir ?
Nasir   : Baik, komandan.
Komandan: Terima kasih. Begini Sir, tadi aku sudah cerita
            sama    Abdul,     aku   butuh    penyanyi      untuk     ulang
            tahun anakku Ria nanti malam. Aku ingin anak-
            anak ini bisa tampil, tapi sebelumnya aku ingin
            mendengarkan       mereka      menyanyikan      sebuah     lagu
            dulu.
                                                                            219

Nasir    : Siap, komandan !               ( terus         mendekati        para
             pengamen ). Kalian bertiga, kalian betul-betul
             beruntung,      kalian     bertiga     mendapat      kesempatan
             yang    bagus     kali     ini.    Kalian     diminta      tampil
             dalam acara ulang tahun anaknya bapak komandan.
Atet     : Kami diminta tampil, wah kesempatan bagus nih
...
Iwo      : Ya, betul !
Nasir    :   Tapi,     tentu     saja     kalau    kalian       lulus    test.
             Sekarang     kalian      diminta      untuk       bernyanyi     di
             hadapan     komandan.        Ayo,     nyanyikanlah         sebuah
             lagu, lagu apa saja, yang penting enak didengar
             dan    sopan,     jangan    lagu     protes-protesan,         awas
             kalau macam-macam !!
Kemal    :   Baik,     pak.     Ayo     kita    nyanyikan       sebuah     lagu
kawan.
Iwo      : Iya, tapi lagu apa ?
Kemal    : Lagu Judul-judulan aja ?!
Iwo      : Jangan, itu saru ...
Atet     : Bagaimana kalau lagu plesetannya kang Harry itu
?
Iwo      :   Jangan,     itu    masuk    kategori     lagu      protes,     kan
             nggak boleh katanya.
Kemal    : Kalau begitu, lagu ( menyebutkan sebuah judul
             lagu yang akan di tampilkan ) saja !
Iwo      : Ya, ya, lagu itu aja, tapi kamu hafal nggak ?!
Kemal    : Hafal dong ...
Atet     : Oke, kalau begitu !! Pak, kami siap pak !
Nasir    : ( setelah mohon persetujuan komandan ) Baik,
             mulailah.


         Mereka bertiga mulai menyanyikan sebuah lagu (
yang    judulnya     sudah     disebutkan        diatas    )    yang    sesuai
dengan situasi serta kondisi di tempat pementasan.
                                                                                    220


Selesai nyanyian, komandan, Abdul dan Nasir bertepuk tangan.

Komandan: Bagus, bagus !!
Abdul      : Dahsyat, man !!
Nasir      : Asyiikkkk !!!
Komandan: Nah, sekarang                bersiap-siaplah kalian. Biar
               kostumnya nanti diatur oleh Abdul dan Nasir.
               Ayo kita berangkat ( mereka keluar )




Babak tiga

           Esok harinya, di kantor dua petugas, Abdul dan
Nasir    ngobrol       tentang        pesta      anak     komandan       mereka    tadi
malam.


Abdul      : Meriah banget pestanya si Ria tadi malam ya, Sir !!
Nasir      : Ya, makanannya enak-enak dan melimpah, teman-
               temannya si Ria juga cantik-cantik dan seksi-
               seksi, wah, betah aku jadinya. Dan anak-anak
               itu    juga     nyanyinya         nggak         malu-maluin,      kompak
               dan apik deh.
Abdul      :   Ya,      walau      peralatan          mereka        sederhana,     tapi
               penampilan mereka tetap memikat. Sampai semua
               yang       hadir         terpikat            dan       terkagum-kagum
               dibuatnya.
Nasir      : Eh, kira-kira komandan datang nggak hari ini ?!
Abdul      :   Aku     jamin,       nggak       bakalan.           Paling-paling    dia
               sedang      molor         kecapaian         !    (    Tiba-tiba    masuk
               sang     komandan )
Komandan: Siapa yang kamu bilang molor, Dul ?!
                                                                       221

Abdul   : Eh, itu komandan, ehm .. anak-anak itu ...tentu
            mereka kecapaian.
Komandan: Oh ya, tapi dimana mereka, ya ?!
Nasir   : Kurang tahu, komandan.
Komandan: Dimana kira-kira aku bisa menemukan mereka ?!
Abdul   :   Apa     mereka    sudah    nyolong    sesuatu    dari    rumah
            komandan ?!
Nasir   : Betul komandan, apa mereka sudah berlaku kurang
            senonoh di pesta tadi malam ?!
Komandan: Tidak, tidak. Kalian salah sangka. Tadi malam
            aku tidak melihat mereka pulang. Jadinya belum
            sempat mengucapkan terima kasih.
Abdul   : Oh, saya kira mereka tak tahu diri dan berbuat
            kacau.
Nasir   :     Ya,      saya     juga         mengira     mereka      telah
            mempermalukan komandan di depan para undangan
            komandan.
Komandan:    Oh,     tidak-tidak.      Malahan     tamu-tamuku      banyak
            yang    memuji     mereka.    Banyak       diantaranya    yang
            menanyakan       dimana    aku    menemukan     mereka.    Dan
            sekarang     aku    mau    minta     tolong     pada    kalian
            berdua untuk menemui mereka.
Abdul   : Mereka disuruh tampil lagi, komandan ?!
Komandan:    Tidak,     aku    hanya    ingin    menyampaikan       ucapan
            terima kasihku pada mereka. Karena mereka telah
            tampil dengan baik dan dapat menghibur tamu-
            tamuku. Tolong sampaikan             ini    kepada     mereka.
            ( Menyerahkan amplop ). Nah, aku pulang dulu,
            karena ada urusan yang harus kubereskan dulu,
            berkaitan dengan pesta tadi malam.
Abdul + Nasir      : Baik, komandan !
Komandan: Tolong sampaikan kepada mereka sekarang juga !
Abdul + Nasir      : Siap, komandan !! ( Komandan keluar )
Abdul   : Sir, ayo kita berangkat ..
                                                            222

Nasir     : Ayo !!! ( mereka berdua keluar )




Babak tiga

          Sepotong trotoar di sebuah jalan, di sebuah kota.
Abdul dan Nasir berjalan mencari Atet, Iwo dan Kemal.
Terlihat keringat mulai menitik di dahi mereka, karena
mentari      mulai   meninggi.    Sambil      berjalan   mereka
mendendangkan potongan lagu.


Abdul     : Mengamen jangan mengamen
              kalau tak pada tempatnya
              mengamen boleh saja
              asal dibagi dua ...

Nasir     : Huusss ...
                  bertugas harus bertugas
                  tak boleh karena terpaksa
                  bertugas tentu saja
                  suka atau tak suka ...

Abdul     : Sir, kearah mana kita harus mencari mereka, ya
             ?!
Nasir     : Kesana !!
Abdul     : Kenapa kesana ?
Nasir     : Karena disana ada warungnya si Mawar, si janda
             bahenol ...
Abdul     : Dasar buaya kamu, ayo ... ( mereka berjalan
             sebentar ) Wah, lumayan capek nih.
Nasir     : Ya, kakiku juga mulai pegel nih.
Abdul     : Tapi kemana perginya anak-anak brekele itu, ya
             ?!
Nasir     : He-eh, kalau dicari menghilang bagai setan, nah
             kalau lagi nggak dicari, eh, malah ngibing di
             depan mata. Dasar apa tuh ..., kata kamu ?!
Abdul     : Brekele ...
                                                                       223

Nasir   : Ya, brekele ...
Abdul   : Tapi ngomong-ngomong, apa ya isi amplop itu ?!
Nasir   : Maksud kamu ?
Abdul   : Iya, amplop yang diberikan komandan untuk anak-
            anak itu.
Nasir   : Huss, ini amanat tahu !!
Abdul   : Eeeh, aku kan cuma pengen tahu isinya doang.
Nasir   : Iya, ya. Apa ya, kira-kira isinya ?
Abdul   :    Makanya,      buruan     buka,        biar     kita     tidak
            penasaran.
Nasir   : Tapi dosanya kita bagi dua, ya ?!
Abdul   : Dosa-dosa, buruan ah ! ( Nasir mengeluarkan dan
            membuka amplop ).
Nasir   : Duit, isinya duit Dul !!
Abdul   : Berapa banyak ? ( Nasir menghitung )
Nasir   : Dua ratus ribu !!
Abdul   : Dua ratus ribu ?! Wah banyak juga, ya !
Nasir   : Iya, banyak ...
Abdul   : Bagaimana kalau kita meminjamnya sedikit untuk
            sarapan ?
Nasir   : Meminjam bagaimana maksud kamu ?
Abdul   : Ya, kita kan tidak mencuri atau merampoknya,
            kita   hanya     meminjamnya.          Ya,    hitung-hitung
            ongkos pengantaran. Nanti kalau kita ada rezeki
            kita   kembaliin      kepada       mereka.    Anu,   ngomong-
            ngomong perutku sudah keroncongan, nih !!
Nasir   : Boleh juga ide kamu. Tapi, dosanya kita bagi
            dua, ya ?!
Abdul   :   Dosa-dosa,     buruan    !     (    Nasir    mengambil    satu
            lembar 50 ribuan, segera dirampas oleh Abdul,
            kemudian     dengan    malu-malu       dia    mengambil     50
            ribuan satu lagi untuk dirinya )
                                                                                     224

        Kemudian, masuk Atet dan Kemal sambil berdendang.
Kedua   petugas      itu      buru-buru         menyelipkan           uang      kutipan
serta amplop itu kedalam kantung baju mereka.


Nasir   : Itu mereka, hai .. kamu !! ( mendengar teriakan
            itu, atet dan Kemal lari, terus dikejar oleh
            kedua petugas. Mereka lari keliling panggung )
Abdul   : Tunggu, tunggu dulu !! Kami datang bukan mau menangkap kalian ...
Atet    : Terus, mau ngapain dong ?!
Nasir   : Mau ngasihin uang !!
Kemal   :    Ngasih       uang      buat      apa      ?    (    mereka        berhenti
            berkejaran )
Abdul   : Kamu aja yang ngejelasin, Sir.
Nasir   : Bapak komandan ingin menyampaikan ucapan terima
            kasih     ala     kadarnya.          Karena         berkat        penampilan
            kalian         yang        bagus,         tamu-tamunya              menjadi
            terhibur.         (    Nasir       menyerahkan            amplop      terus
            keluar bersama Abdul. Sementara Atet dan Kemal
            bengong,         seperti          nggak             percaya          dengan
            kenyataan yang mereka hadapi )
Kemal   : Duit ?! Wah, berapa banyak isinya, ya ?!
Atet    : ( Mengeluarkan isi amplop ) Seratus ribu ...
Kemal   :   Banyak       amat      !    Eh,     Tet     bagaimana         kalau    kita
            pinjam sedikit buat sarapan, perutku lapar nih
            !!
Atet    : Tapi ini amanat buat kita bertiga. Bagaimana
            kalau     kita        tunggu      Kemal        dulu,     sebentar      lagi
            pasti dia datang. Nanti kita sarapannya sama-
            sama, bagaimana ?! ( Iwo masuk ) Tuh, Iwo sudah
            datang.
Iwo     : Maaf friends, aku kebelet tadi. Tapi sekarang
            sih sudah lega, kita berangkat ?!
                                                                         225

Atet       : Wo, tadi petugas yang menangkap kita kemarin
               datang kemari. Komandannya menitipkan duit buat
               kita ...
Iwo        : Duit, berapa banyak ?!
Kemal      : Seratus ribu.
Atet       : Nah, ini uangnya. ( menyerahkan amplop ).
Iwo        : Baik juga hati komandan itu, ya ?!
Atet + Kemal           : Ya !!
Iwo        :    Nah,       sekarang    mari   kita   pergi   kerumah   makan
               Padang yang di belokan jalan itu. Kita pesan
               nasi kapau dengan ayam bakar bumbu balado yang
               lezat itu, setuju ...
Atet + Kemal               : Let’s go ... ( mereka berjalan berputar-
                            putar sambil bernyanyi )


Lagu Symphoni Anak Jalanan
           Kucoba-coba menapis madu
           madu kutapis sengat kudapat
           kucoba-coba menulis lagu
           lagu kutulis uang kudapat

           Jamane-jamane jaman edan
           asyik jadi anak jalanan
           walaupun susah mencari makan
           namun tak pernah menjadi beban

           Sungguh enak anak-anak jalanan
           anak jalanan banyak kawannya
           walau disaku uang tak ada
           tetap berdendang tertawa-tawa


                                      Selesai

Parakan Resik, Mei 2004.
                                      226




BIODATA PENULIS :


NAMA     : IGN. Arya Sanjaya
ALAMAT   : Jl. Parakan Resik No. 14
           Bandung
Telp.    : (022) 7501232
                                                         227




                           Syair Kamelia


                                    pp
                      Nasib bunga diperantauan
                      Bertaut asa menyulam duka
                      Adat dan budaya dijunjung tinggi
                      Sopan dan santun
                      Telah dijaga,kenapadaku
                      Yang durjana ? Kasih entah
                      kemana, cinta jauh dimata
                      “AkulahKamelia yang
                      terbiar disangkar kerinduan
                      yang membakar”
                      Dimanakah tuan kini ?
                      Hilang dimata dihati tidak,
                      Berurai air mata kutagih
                      Janji, biar jadam ridho
                      Ku terima


Naskah oleh : Tri Aamalia Lestari




                                  BAG. I
                                                                                                    228


       Disuatu tempat kecil di Batavia, terdapat sebuah kampung bernama kampung
melayu. Disana terdapat komunitas kecil daripada orang-orang melayu yang
merantau. Tercipta suasana kampung yang asri seperti di kota melayu layaknya.
Para penduduknya senang bersenda gurau. Di depan halaman rumah, Kamelia
sedang menyapu halaman lalu lewatlah beberapa orang pemuda yang menyapa
Kamelia dengan lirikan dan siulan, sesekali menyeru gadis desa itu. Kemudian
disusul teman-teman dan tetangga Kamelia. Merekapun saling menyapa bersenda
gurau penuh keramahan, saling memberi nasehat dengan bersenandung dan menari
bersama.
          Setelah suasana kembali sepi, Kamelia meneruskan pekerjaannya di teras. Dari kejauhan
datang Samsul dengan luka-luka di tubuhnya.
Kamelia   : ― Abang ade apeni bang… ? Uww… pastilah abang betengka lagi, iye kan ? Sudah
              berape kali abang mace mini,tak jera ke ? ‖ ( sambil mengobati luka-luka Samsul ).
Samsul    :   ― Bukannye abang yang nak betengka, merekelah yang berani-berani nak tantang abang
              jadi ye abang terime aje. Tapi asal kau tau Kamelia, abang babak belo macam ni
              bukannye kalah, abang dihantam oleh tujuh orang Jawe tu, soal kecillah tu, satu due kali
              pukul tunggang langgang lah mereke lari.
              Ha….ha…. ‖
Kamelia   : ― Abang-abang, jadi betul abang betengka lagi dengan orang-orang Jawe tu.
              Alamakjang……hari ini tujuh orang besuk sepuluh orang besok lagi satu kampunglah
              nak pukul abang, teruklah badan ! Kenapelah abang ni, suke sangatlah abang betengka,
              Kamelia yakin pasti abang yang belagak, itulah yang buat mereke meradang. ‖
Samsul    :   ― Eh Kamelia sini abang nak cakap, kite ni orang Melayu yang terkenal jago dan
              terhormat jadi pantanglah bagi abang dikalahkan same orang-orang Jawe yang ilmunya
              tak cukup ( sambil menunjukkan kelingking ) pantang dek abang cume nak tunjuk meski
              kite ni tinggal di negeri orang tapi kite ni tetap orang Melayu yang hebat dan pantang
              menyerah.‖
Kamelia   : ― Abang cakap macam cume abang yang paling terhormat dimuke bumi ni. Sebut aje
              pengase jagad raye, nak menyaingi Tuhan ke ? kite ni duduk dekat perantauan bang, ini
              negri orang janganlah suke mengacau. Kite cume hidup bedue, mesti boleh jage diri dan
              adapt, tetapi bukan bemakne abang mesti betengka dengan orang-orang sini. Orang
              takkan hormat kite atau anggap kite ni terhormat, bile kite juge tak sopan. ‖
Samsil    :   ― Hei kenape ni adek abang jadi marah-marah. Buruklah orang tengok, nanti orang kate
              bunge dese yang parasnye bak rembulan tu da redup.‖
Kamelia   : ― Abang dengalah cakap Kamelia kali ni aje, janganlah abang betengka lagi, abang tau
              sendiri kite ni masih dijajah Belanda, negri kite kan hanco, bile persatuan bangsa ini taka
              ade. Bukankah semestinye bangsa yang beragam ini menjadi satu buat menghadapi
              Belande. Entah tu orang Jawe, Melayu, Betawi ataupun Sunde, mereke semue tu saudare
              kite, hargailah prajurit yang susah payah beradu di medan perang ‖.
Samsul    :   ―Cakap kau macam ceramah kopral aje, sudahlah yang penting abang kau ni selamat,
              cume itukan yang kau risaukan. Kau tu
                                                                                               229

               taulah alasan sebenarnye,abang betengka ni kerne abang tak suke dengar mereke betaruh
               demi merebutkan kau. Mereke pikir kau ni emas ape ? aku tak terime orang-orang Jawe
               tu perlakukan kau mom tu dan aku juge…. ‖
Kamelia   : ― abang sekali lagi Kamelia cakap, janganlah abang betengka lagi, Kamelia cume punye
               abang kalau abang terluke atau terbunuh siape nak tolong Kamelia ni ? ‖




                                               BAG. II


          Disela pembicaraan Hamidah datang sambil berlari kecil.
Hamidah    :    ― Kamelia…! Kamelia…! ‖
Kamelia    :    ― Hamidah kenape kau ni ? Ade ape ? ‖
Hamidah    :    ― Ini aku…... ( terpotong karena terkesima melihat Samsul yang ada disebelah Kamelia
                ). Dia abangmu ? ( sambil berbisik dan tersenyum malu ).
Kamelia    :    ― Betul kenape ?... Owwh aku pahamlah ( sambil berbisik ). Bang Samsul die ni kawan
                Kamelia, namenye Hamidah orang Betawi asli, die ni jugelah yang kerap beri semur
                jengkol kesukaan abang tu. ‖
Hamidah    :    ( Tersenyum salah tingkah sambil mencubit Kamelia lalu mengulurkan tangan pada
                Samsul dan disambut hangat pula )
                ― Ngomong-ngomong abang suka semur jengkol juga ye ? Duh… aye jadi semangat ni
                masak, bukannya ape-ape bang, ancing aye punya kebun jengkol sebelas hektar bang,
                jadi enggak bakalan deh kehabisan kalau abang pesan semur jengkol ama aye . Kalau
                perlu Midah anterin setiap hari kalau abang demen mah ? ‖
Samsul     :    ― Ah tak payahlah nanti buat susah Midah. Tapi abang betul-betul sukelah dengan
                semur jengkol Midah tu. Abang nak saran supaye Midah tu buke kedai aje. Sebenta ye
                abang nak ke belakang, cakap-cakap lah kalian dulu ‖.
Kamelia    :    ― Hai Midah ade ape ni kau cari aku, ade laying ke untuk aku ? ‖
                                                                                                 230

Hamidah    :   ― Kinclong juga otak lu, tau aje aye bawa beginian ( menyerahkan surat ). Eh abang lu
               cakep juga ye ? Kenapa nggak lu kenalin dari kemaren-kemaren ‖.
Kamelia    :   ― Terime kasih ye Midah tak percume lah aku ni punye anak tukang pos. ‖
Hamidah    :   ― Eh non ( menepuk bahu Kamelia ) aye ngomong abang lu, kenapa nggak kemaren-
               kemaren lu kenalin ke gue ? Heh dengar kagak sih ! ‖
Kamelia    :   ― Iye….iye kalau takdir nak temukan kalian sekarang tak ape lah kan ‖.
Hamidah    :   ― Gue sih sebenarnya udah sekali ngeliat abang lu, waktu abang lu berkelahi dipasar
               sama Jarwo, tapi aye kan belum tau ntu abang lu. ‖
Kamelia    :   ― Ape cakap kau lah Midah, sekarang ni aku nak bace layang, pergilah kau balek dulu
               nona manis. ‖
Hamidah    :   ― De ile keterlaluan banget lu jadi temen, baru aja gue kasih surat diusir ! ‖.
Kamelia    :   ― Bukannye macam tu, aku nak bace laying sorang aje, malu lah aku ditengokkan
               engkau. ‖
Samsul     :   ― Hem…hem… ― ( keluar dari pintu dan mengejutkan Kamelia dan Midah ).
Kamelia    :   ― Ah tak ade ape-ape lah bang, tak taulah Midah ni katenye nak balek ( Midah
               mencubit Kamelia ) Auww….sakit tu ‖ ( Kamelia tertawa usil ).
Hamidah    :   ― Kagak kog bang, aye masih betah disini, beneran deh bang.. ‖
Samsul     :   ― Iye,janganlah dulu terburu-buru nak balek, nanti aje kalau rase masih betah. Oh iye
               Kamelia abang nak keluar sebenta, engkau abang tinggal tinggal dulu ye dengan Midah
               ‖ ( wajah Midah langsung kaget ).
Kamelia    :   ― Oww….. tapi nak kemane kea bang ni ? ‖
Samsul     :   ― Abang nak mandi ke sungai sebenta ‖.
Hamidah    :   ― Eee… ke sungai ye bang ye, kalau gitu aye jadi pulang deh.
               Kan mumpung ada yang nemenin aye. ‖
Kamelia    :   ― Uww…. Macam manelah Midah ni, tadi cakap masih betah ‖.
Hamidah    :   ― Setelah aye pikir-pikir, mendingan aye pulang aje deh, ntar dicariin enyak lagi. Pan
               pas tuh jalan mau ke sungai leat juga rumah aye, nanti deh Midah kenalin sekalian
               abang ama enyak babe aye….. barangkali… he… he…‖
Samsul     :   ― Ye tak ape-apelah kalau memang macam tu, jage rumah baek-baek ye Kamelia,
               Assalamualaikum ‖.
Kamelia    :   ― Waalaikumsalam ( menggerutu sambil membuka surat ), macam manelah Midah tu,
               tapi syukurlah die juge pergi ‖ ( baca surat dr. Satrio ).


Kepada pujaan hatiku Kamelia,
Apa kabarmu adinda ? Kanda harap dinda selalu dalam perlindungan-Nya, Amin. Kabar kanda pun
baik-baik disini. Maaf apabila telah lama menanti datangnya kabar dari kanda. Hal ini dikarenakan
situasi dan kondisi kanda yang tidak memungkinkan dapat memberi balasan kabar untuk Kamelia.
Saat ini kanda masih berada di kampung, baru saja minggu lalu kanda pergi lagi ke medan
pertempuran. Berperang melawan Belanda. Sayangnya pasukan kita sedikit, sehingga kita kalah dan
kandapun ikut terluka, tapi Kamelia tak usah gundah dan gelisah sekarang kanda sudah sehat dan bisa
                                                                                              231

membalas suratmu. Mungkin karena kekuatan cinta kita yang membuat kanda terus bertahan dan
berjuang. Seandainya Kamelia tahu teramat dalam kerinduan kanda padamu pukaan hatiku.
Percayalah kanda begitu amat sangat merindukan Kamelia. Parasmu bak purnama bersinar selalu
kanda kenang dan terngiang-ngiang diingatan serta meracuni seluruh nadi ini. ( sebentar
mendekapsurat lalu membaca lagi ) Oh ya Kamelia, ada kabar baik untuk kita berdua,kanda
diperbolehkan pulang sebentar. Kanda harap Kamelia dapat menanti kanda pada malambulan
purnama di bulan Agustus di taman tepi utan. Kanda akan datang padamu tentulah dengan membawa
sekantong hati untuk Kamelia. Kiranya sekian kabar dari kanda. Ingatlah sebentar lagi kita kan
bersua. Ada satu permintaan kanda, kanda ingin Kamelia datang dengan sematan bunga dahlia di
sanggulmu. Wassalam.
                                                            Kekasihmu,
                                                             Satria
( Kamelia merasa sangat bahagia demi mendengar kekasihnya datang )




                                            BAG. III


            Di suatu taman di bulan purnama, Kamelia duduk seorang diri menanti kekasihnya akan
datang. Sekian menit, sekian jam dinanti tak kunjung datang, sesekali ia mengira yang datang adalah
kekasihnya, tapi ternyata hanyalah orang-orang yang lewat disana. Puas sudah menunggu malampun
semakin larut, lalu ia bergumam.
Kamelia     : ― Kanda…. Dimane ke kanda saat ni, ade ape lah dengan kanda, ade sesuatu ke
             yang menimpe atau kanda lupe dengan janji kite ? ( mengambil selipan bunga
             dahlia di sanggul ), meskipun bunge dahlia ni layu, Kamelia kan tetap menanti. Tapi ….
             Betulkah kanda akan datang ? Bukannye aku ragu, aku ni cume cemburu dengan
             purname yang bersinar tu. ( Sejenak termangu dan menggenggam surat dari satria, lalu
             dia bersenandung ).
                                                                                                  232

             Sekarang Kamelia taulah kanda ni takkan datang, Kamelia cume terbuai dengan rayuan
             kanda ‖.
             ( akhirnya Kamelia pun beranjak pergi, belum lagi selangkah melangkah, datang dua
             orang pemuda mencoba menggoda Kamelia ).
Pemuda 1: ― Mau kemana nona manis… kok sendirian malam-malam begini ?‖
Pemuda 2: ― Iya, lagi kesepian ya… boleh dong kita temenin ‖ ( mencolek badan Kamelia ).
Kamelia    : ( mulai sebal & setengah marah ) ― Hey janganlah kurang ajar kau ni ‖
Pemuda 1: ― Wuih…galak ! Masak begitu aja kok marah to mbak, ojo nesu mbak…nanti elek lho
             mukane ‖ ( Menghalang-halangi Kamelia )
Pemuda 2: ― Lha…daripada nganggur mendingan jalan sama kangmas Jaduk dan mas Sugina ‖ (
             mengerdipkan mata )
Pemuda 1: ― Duk, hati-hati kowe ngerayu,inikan adeknya Samsul to ? Anak kampung Melayu. ‖
Pemuda 2: ― O..begitu to ? Pantes kudengar dari jauh merdu buanget suaranya….kayak Siti Nurhaliza
             he..he..he..tapi nggak papa to kalau aku colek sedikit badannya, mumpung nggak ada
             Samsul. Ayo No…arep melu nyolek ora ?‖
Kamelia    : ( memukul tangan pemuda 2 tadi ) ― Jangan cobe-cobe nak pegang aku atau aku teriak ! ‖
Pemuda 1: ―He…he…he..mau berteriak katanya Duk, piye ? Tapi…sik tak colek sithik. ‖ ( mencolek
             pipi ).
Kamelia    : ( mulai gelisah & mengelak ) ― Tolong…tolong…! Tolong saye…! ‖
Pemuda 2: ― Mau panggil sopo ? Saiki wis gelap, ndak ada yang denger. Percuma ha..ha..ha..ha.. ‖ (
             tiba-tiba dari balik hutan Samsul datang dan melihat adeknya dipermainkan oleh dua
             pemuda tadi, Samsul pun marah ).
Samsul     : ― Hey awas kau ! lepaskan adekku atau kubuat mampus kau ― ( 2 pemuda tadi
             melepaskan tangan Kamelia tapi Samsul tetap menghajar dua orang tadi, lalu tiba-tiba
             datang Jarwo musuh Samsul ).
Jarwo      : ― Ada apa ini ? ‖ ( dua pemuda tadi langsung menghampiri Jarwo dan mengadu ).
Pemuda 1: ― Itu kang Jarwo, Samsul memukul kita berdua padahal kami cuma mau nganter adeknya
             kang. ‖
Samsul     : ― Bangsat !!! cakap ape kau ni ?! Sini kan ku buat patah batang leher kalian semue ! ‖
Jarwo      : ― Samsul !!! Aku tahu kau hebat tapi kamu jangan berani-berani lawan anak buah Jarwo !
             Kalau kau memang bernyali, langkahi dulu mayatku. Aku juga masih ingat kekalahanmu
             kemaren, apa kau lupa ?! ‖
Samsul     : ― Tak payah banyak cakap kau Jarwo, lawan aje aku ! Jangan salahkan aku bile kubuat
             habis kau malam ni juge ! ‖ ( akhirnya terjadilah perkelahian sengit antara Jarwo dan
             Samsul, Kamelia mencoba melerai mereka tapi percume ).
Kamelia    : ― Abang, sudah bang       berhenti !! Janganlah betengka bang…cukup…!! ― ( tak ada
             yang menghiraukan Kamelia ).
Samsul     : ― Kamelia cepat kau pergi dari tempat ni ! cepat..! ―
Kamelia    : ― Tapi bang… Kamelia tak mau tinggalkan abang…‖
                                                                                               233

Samsul    : ― Bodoh !!! Nak mampus ke kau disini ? cepat pergi ! Dengarkan cakap abang ! cepat !‖ (
           Kamelia tidak mau pergi, hanya menepi ).
Kamelia   : ― Tidak, Kamelia tak akan pergi bang ! ‖
Samsul    : ― Terserah kau lah bile kau nak pilih mampus disini ! ‖
Jarwo     : ― Tenang Samsul…adekmu tidak akan kubunuh, justru sebaliknya akan kujadikan istri
           ketigaku. ‖
Samsul    : ― Diamkau !!! ‖ ( setelah lama berkelahi akhirnya Samsul menang juga melawan Jarwo
           dan anak buahnya babak belur )
Jarwo     : ― Awas kau nanti, ingat akan kubayar hutangku padamu.
           Sekarang kau boleh menang, tapi aku akan bales ini !! Cuih ‖     ( Jarwo langsung lari ).
Kamelia   : ( mendekati dan menuntun Samsul ) ― Abang…abang tak ape-ape ? Luke abang tampak
           parah, marilah kite cepat balek kerumah aje ‖.
Samsul    : ― Kemane aje kau ! Untung ade abang cube bile tak ade, mampuslah kau Kamelia ! ‖
Kamelia   : ― Maafkan Kamelia bang, tak ade maksud Kamelia nak susahkan abang, apalagi nak buat
           abang terok macam ni ‖.
Samsul    : ―Ahh…sudahlah kite cakap dirumah aje ‖ ( Akhirnya mereka kembali pulang ke rumah ).




                                             BAG. IV
                                                                                                       234



              Didepan teras Kamelia mengobati luka Samsul.
Samsul       : ― Aku heranlah dengan kau ini Kamelia, entah ape yang timpe kau sekarang ni, ah !
              abang tak tau lah. Ape sebenernya yang kau sembunyikan dari abang ? kenape kau pergi
              tak cakap dulu dengan abang ?‖
Kamelia      : ― Ehmm.. emm sebetulnya Kamelia… tadi sedang nantikan seseorang ‖.
Samsul       : ― Seseorang..? Seseorang      ape    maksud kau ni ? Laki-laki atau perempuan ? !‖ (
              penasaran ).
Kamelia      : ( menunduk ) ― anu…hem… laki-laki bang ‖.
Samsul       : ― Ape ? jadi kau tadi jumpe dengan laki-laki dan abang tak tau ?! ‖.
Kamelia      : ― Kamelia tak jumpelah dengan Satrio, die tak datang, kami cume buat janji nak jumpe
              sebenta disane ―.
Samsul       : ― Owhh.. namenye Satrio. Orang mane ?!!!.
Kamelia      : ― Anu… hmm.. dieorang Jawe ‖.
Samsul       : ― Orang Jawe !!! Kamelia.. Kamelia sudah berape kali abang cakap, janganlah sekali kali
              dekat dengan orang-orang Jawe macam mereke tu ! ‖ ( memukul meja ).
Kamelia      : ― Tapi bang… Satrio bukan orang yang macam abang bayangkan, tak macam orang-orang
              Jawe tadi. Die seorang prajurit yang saat ini ade di medan perang melawan penjajah, die tu
              orang baek bang.. Dulu kami jumpe ketike kite datang pertame kali di pulau seribu. Masih
              inget kea bang ? Die yang selamatkan Kamelia, ketike Kamelia jatuh di pangkalan, ingat kan
              bang ? ‖
Samsul       : ( Sedikit berfikir ) ― Tak ‖ !!.. Pokoknye abang tak nak tau, lepaskan hubungan kau tu, abang
              tak ndak kau dekat dengan orang Jawe manepun, abang dah muak !!!! ‖.
Kamelia      : ― Abang diracun kepicikan akal dan otak yang kotor ! Kamelia ni tak sedang betaruh asal
              muasal tapi betaruh cinte bang…‖
Samsul       : ( ingin memukul Kamelia lalu diurungkan ) ― Tau ape kau soal cinte hah !!!!‖.
Kamelia      : ( masuk kedalam rumah sambil menangis )
Samsul       : ( Lalu Samsul pun menyusul masuk tanpa rasa bersalah )
BAG. V

          Kamelia menyalakan lentera diteras rumah, beberapa saat kemudian Dahlia dan Nurul datang.
Kamelia         : ― Eh Nur, Dahlia, sudah tibe rupanye ‖.
Dahlia          : ― Marilah kite pergi, ustadz sudah menanti ‖.
Nurul           : ― Belum siap ke kau Kamelia ? ‖.
Kamelia         : ― Maafkan aku la… aku baru saje selesai menanak nasi. Jangan lah terburu-buru,
                lagipun Hamidah belum datang ‖
Nurul           : ― Oh iye ye, kawan kite satu tu belum datang ‖
Dahlia          : ― Kite tunggu aje lah dulu ye ‖ ( Dahlia dan Nurul duduk di teras ).
Kamelia         : ― Eiyy… ngape ni kalian duduk diluar, masuklah tak sopan orang orang tengok tamu
                duduk diluar malam-malam macam ni, mari masuk ‖
Dahlia          : ― Ah tak ape ape, disini ajelah ‖
                                                                                           235

Nurul     : ― Oh ye Kamelie, kau punye banyak sulaman ke ? ‖
Kamelia   : ― Oh iye tentu, banyaklah aku punye ‖
Nurul     : ― Boleh ke kami nak tengok sebenta, mane tau ade yang aku suke… boleh lah juge
          bile aku nak beli. Ye tak Dahlia ? ‖
Dahlia    : ― Iye, aku setujulah tu ‖
Kamelia   : ― Ah kalian ni bise aje, marilah masuk ke dalam, biar kukasih tunjuk ‖ ( Mereka
          bertiga masuk kedalam lalu Samsul berselisih sebentar keluar sambil membawa ayam )
Samsul    : ― Eh ade tamu kirenye, marilah masuk ‖ ( diteras Samsul menaruh ayam itu dalam
          kurunannya, sesaat kemudian Hamidah datang membawa rantang sambil tersenyum
          malu ).
Hamidah   : ― Eh…. Ade abang, kebetulan deh abang disini, aye mau ‖
Samsul    : ― Owwwh… Midah, abang kire gadis manelah tadi, mari masuk, Kamelia dan
          kawan-kawan Midah sudah tunggukan Midah, "
Hamidah   : ― Iye bang… bentar. Aye kesini sekalian mau ngasih ini bang…. ( memberi
          rantangannya ) sayur jengkol kesukaan abang he… he….―
Samsul    : ― Betulkah ??? Terime kasih banyak ye Midah, tapi tak payah lah kerap betul beri
          abang semur jengkol, nanti abang bise minte terus, payahlah Midah jadinye ‖
Hamidah   : ― Ah… abang bise aje, kagak ape-ape bang aye ikhlas kok. ‖
Samsul    : ― Kau pandai betulah memasak, jaranglah ade gadis macam kau ni ―
Hamidah   : ― Duh… abang jangan bikin jantung aye berdebar-debar, ayekan kagak enak hati
          bang ‖ ( menyenggol Samsul )
Samsul    : ― Eh abang ni sungguh-sungguh ‖.
Hamidah   : ― Ah abang bise aje, aye pan malu bang… ‖ ( menyenggol lagi ).
Samsul    : ― Malu macam mane ni ? kau ni bile, malu tambah eloklah wajah kau tu ‖
Hamidah   : ― Ih… abang,, ( mencubit Samsul ) genit deh ! ngapa kagak dari dulu abang ngomong
          kayak gini… jadi pan kagak ade penyesalan diantara kite berdue bang ‖.
Samsul    : ― Kenape pulelah harus menyesal, bekenalan dengan orang sebaik Midah ni ―
Samsul    : ― Hamidah abang nak…… ‖
Hamidah   : ― Iye… bang… ‖ ( geer ).
Samsul    : ― Hamidah………? ―
Hamidah   : ― Iye bang……… ‖
Samsul    : ― Midah…….? ‖
Hamidah   : ― Kenape bang…………..? ‖
Samsul    : ( berbisik ) ― Kawanmu dah diluar………. ‖
Kamelia   : ― Ehmm….. hmm ( mengagetkan Midah ). Eh Midah sudah datang rupanye ― (
          sambil tertawa kecil ).
Dahlia    : ― Kite ni dah lame nanti, kite sangke Midah tak ngaji… tapi taunye…? ‖ ( ha….ha….
          ).
Hamidah   : ― Eh kalian udah disini ya….. ‖
Kamelia   : ― Bawe ape kau tu Midah ? ‖
Hamidah   : ― Oh…… ini sayur jengkol buat abang elu, katanya pan kemarin habis sakit, banyak
          luka-lukanya, jadi ya aye pikir mendingan aye nengok sekalian gitu. Tapi bener deh….
          Kagak ade ape-ape sama kite berdue, ye bang ye….. bener deh……. ‖
Nurul     : ― Ade juge, tak ape-ape lah Midah, iye tak Kamelia ? ‖
                                                                                                   236

Kamelia       : ― Iye betullah tu ‖
Samsul        : ― Cakap ape kalian ni ? Sudahlah abang nak masuk dulu, hati-hati ye di jalan ‖
Kamelia, Midah, Nurul dan Dahlia : ― Iye bang ‖ ( Samsulpun masuk kedalam ).
Hamidah       : ― Eh……. Kamelia…. Gimane kemarin, jadi kagak ketemuan ame Satria…. Ups (
              Kamelia mendekap mulut Hamidah ) kenape…… ? ―
Kameia        : ― Jangan keras-keras, nanti dengaran oleh abang aku, meradanglah die ‖
Hamidah       : ― Ye….. emang ngapa sih abang lu pake marah segale ? ‖
Nurul         : ― Taulah aku, pasti kau dilarang pacaran ye ? ‖
Kamelia       : ― Ssst…. Diam ! diam….. ! iye betul, tapi tak itu aje, yang lebih parah lagi aku tak
              jumpe dengan Satria, yang ade cume ketahuan bahwa aku ni punye pacar orang Jawe ‖.
Dahlia        : ― Owwh macam tu masalahnye, tapi ade ape dengan Satria, kenape die tak datang ? ‖
Kamelia       : ― Itu die masalahnye ( menunduk )…. Die…. Ah tak taulah aku, kenape die tak tepati
              janji, mungkin…. Die dah lupe dengan aku atau ade cinte lain dihatinye, aku tak tau lah
              ! Tapi sampai kapanpun aku nak nantikan die ‖
Nurul         : ― Memang payah punye pacar prajurit perang, iye betulah kite tau die beperang
              membele rakyat, tapi di tengah kampung yang sepi itu, mungkin aje die rase kesepian,
              lalu cari gadis dese lah die disane, iye tak ? ‖
Kamelia       : ― Janganlah kau takuti aku macam tu ‖
Dahlia        : ― Betullah cakap Nurul tu, die tak punye maksud nak takutkan engkau, cume saje die
              beri gambaran kenyataan, kehidupan orang di medan perang tu kejam. Kadang mereke
              rase lapar, sakit dan letih, hingge mereke pun tak bise bepikir jernih lagi, yang penting
              bagi mereke tu… bagaimane buat mereke bahagai dir mereke sorang dan melepas rase
              tegang yang ade, tentulah kau tau sendiri gimane lelaki buat bahagia dirinya ‖
Hamidah       : ― Maksud elu, cari cewek gituan ? ‖
Dahlia        : ― Iye bukannye saat-saat tu, cume wanitelah yang bise buat mereke rase bahagia,
              apalagi kalau gratis…… hee….. he….. ‖
Kamelia       : ― Dahlia janganlah cakap macam tu, Satria tak mungkin buat laku macam yang kau
              cakap ‖
Nurul         : ― Terserah kaulah Kamelia nak pecaya atau tak. Tapi kau tau kan, gimana dulu aku
              dikhianati oleh prajurit perang brengsek tu ‖
Hamidah       : ― Ha…….. ha…… ‖
Nurul         : ― Hey kenape kau ni ketawe ?! ‖
Hamidah       : ― Pacarmu dulu tu bukan ngkhianatin elu, tapi emang kagak naksir elu, lagian pan
              dulu elu yang ngejar-ngejar die. Lupa apa ye…..? ( dipukul Nurul ) au… pakai acara
              ngasih semur jengkol lagi …. he… he…‖
Nurul         : ― Iye tapi kau kini juge macam itu kan ? ‖
Kamelia       : ― Sudah ! sudah ! kalau macam ni terus, kapanlah kite jadi pergi, marilah tak payah
              dibahas lagi ‖ ( mereka pun akhirnya pergi ).
                                                                                                     237




                                               BAG. VI


              Pasukan Jarwo datang dengan teriakannya yang berapi-api sehingga mengundang
tontonan warga sekitar.
Jarwo           : ― Samsul, keluar kau….. !! Samsul ayo keluar ! jangan bersembunyi saja !……..ayo
                keluar !! ―
Pasukan Jarwo :       ― Iya….. ayo keluar ! keluar ! keluar ! ―
Samsul          :     ― ( keluar sambil menggeliat ) Hay….! Ade ape ni kau teriak-teriak, ganggu
                orang aje….! ‖
Jarwo           :      ― Hey…… Samsul kau jangan pura-pura tidak tahu ! semua warga disini sudah
                tau siapa kamu, kamu yang sering membuat onar dimana-mana ! Orang perantauan
                yang tidak tahu sopan-santun ! ini tanah kami, jangan sok jago kau disini ! ‖
Samsul          :     ― Cakap ape kau ni…. alah…. Cakap ajelah kau nak bayar hutang kekalahan kau
                dulu ― ( dengan santai duduk diteras )
Jarwo           :    ― Kau jangan sembarangan ! aku kesini mewakii seluruh warga disini yang ingin
                mengadili kamu ! kamu sudah sepantasnya mendapat hukuman karena telah
                mengganggu ketentraman warga disini ! kamu sudah jadi pengacau ! ‖
Pasukan Jarwo         : ― Benar ! benar itu ! bakar saja rumahnya ! adili…..! hajar saja ! pukuli !! ―
Samsul          :     ― Alamak jang…. Fitnah macam pule tu…… sejak kapan kau jadi jaksa Jarwo ?
                ‖
Jarwo           :     ― Aku hanya mewakili mereka saja….! Mereka sudah muak melihat kau yang
                suka membuat onar dan menggoda gadis-gadis, sudah lama mereka marah padamu
                hanya saja mereka takut…..! ‖
                                                                                                       238

Samsul           :     ― Jarwo……. Jarwo…… drame ape yang kau mainkan ni ? berape kau bayar
                 orang-orang kau tu ??? kau memang pintar memutar balik fakta ! ‖
Jarwo            :     ― Lihat dia ! ( mendekati warga sekitar ) dia pintar sekali bersilat lidah. Jangan
                 percaya dia ! sudah saatnya kalian terbebas dari ketakutan akan keonaran Samsul !!!
                 ayo habisi dia….! Serang dia !!! ( berkelahi dengan Samsul dan disusul pukulan dari
                 warga dan pasukan Jarwo ) mati kau Samsul !! habisi dia !! ‖
                       Setelah puas mereka memukuli Samsul yang sudah tergeletak tak berdaya.
Kemudian Kamelia yang pulang dari pengajian sangatlah terkejut melihat abangnya yang tergeletak,
apalagi setelah tau abangnya sudah tak bernyawa lagi.
Jarwo            :     ( mengusir semua warga kecuali, pasukannya ) ―….. Ayo bubar semua …….! ‖
Kamelia          :    ― Abang……. Abang..…..abang Samsul !!!! bangun……. Abang…..!!! (
                 Kamelia menangis seadanya ) ‖
Jarwo            :    ( mencoba mendekap Kamelia lalu ditangkis ) ― Sudahlah…… Kamelia,
                 abangmu sudah tak bernyawa lagi. Tenang masih ada aku……. Aku bisa jadi
                 abangmu……. Lebih dari itupun bisa…… bagaimana ? ‖
Kamelia          :      ( memukul Jarwo ) ― Bangsat kau !!! kau apakan abang aku ?! Ape salah die hah
                 ?!?? ‖
Jarwo            :     ― Bukan aku…. Tapi kami semua warga disini, kamu tahu apa kesalahan
                 abangmu ? Dia tak sopan sebagai warga perantauan selalu berbuat onar dan suka
                 menggoda gadis-gadis, sehingga orang-orang disini tak tahan lagi, mereka
                 ketakutan, dan….. ini hasilnya ― ( menunjuk mayat Samsul ).
Kamelia          :     ― Dusta kau !!! abang aku tak suke buat ribut, tak pernah menggoda gadis-gadis.
                 Kau jangan pure-pure, aku tau siape kau, kau sengaje kan nak buat macam ni, itu karne
                 kau dendam, Iye kan ?! Permainan kau sungguh kotor Jarwo !!!! ‖
Jarwo            :     ― Ha……. Ha… pintar juga kau menebak manis, tapi bukan hanya itu alasanku
                 menghilangkan nyawa abangmu dimuka bumi, aku terlanjur jatuh hati padamu
                 Kamelia…. Setiap kali aku lihat wajahmu…. Hasratku semakin panas…. Ayolah
                 sayang kau mau kan denganku….? ( memegang tangan Kamelia ).
Kamelia          :     ( Kamelia semakin gugup dan mundur perlahan ) ― Bajingan kau !!! pergi kau
                 jangan dekat dengan aku !! ‖ ( melemparkan kayu ke badan Jarwo namun Jarwo
                 semakin mendekat )


              Ketakutan Kamelia semakin menjadi-jadi diantara dan ketakutan, semakin mundur ia
melangkah hingga masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu, tapi Jarwo mendobraknya dan masuk
kedalam.


Jarwo            :     ― Ayo manis jangan takut, abangmu sudah tidak ada, percuma kau berteriak
                 wargapun tak akan datang menolongmu Kamelia ‖
Pasukan Jarwo:       ― Kang Jarwo….. kami boleh ikut ngga !? iya nih… udah nggak tahan ! lumayan
                     barang bagus, bagi kang yo…. !? ‖
Jarwo            :    ( setelah menengok kanan kiri dan memastikan semua aman, Jarwo
                 menganggukkan kepala dan yang lain ikut masuk kedalam ) ― Tapi jangan ribut….! ‖


                Malang nasib Kamelia, dia diperkosa oleh Jarwo dan pasukannya, dari dalam rumahnya
itu hanya terdengar teriakan berontak dan jerit tangis diiringi tawa puas birahi lelaki.
               Setelah puas, mereka keluar rumah dengan menyeret Kamelia keluar yang hanya
berbalut selimut. Lalu tak cukup itu, merekapun juga memporak porandakan rumah Kamelia dan pergi
menyisakan amarah dan dendam. Tinggalah Kamelia meratapi nasib yang akan mengubah seluruh
hidupnya.
                                                                                                239




                                            BAG. VII


             Di taman tepi hutan yang rindang diperbatasan kampung datanglah seorang pemuda di
remang purnama dengan balutan perban di tangankirinya dan sedikit memar di kepala, pemuda itu
memanggil-manggil Kamelia.


Satria        :     ― Kamelia…. Kamelia dimana kau, Kamelia aku sudah datang Kamelia…. ‖
Kamelia       :      ( dari balik pohon Kamelia keluar dengan pakaian elok dan bunga dikepalanya )
              ― Satria…. Satria…. ‖
Satria        :     ― Kamelia kau cantik sekali, sudah lama wajah ini aku rindukan apa kabarmu
              adinda ? ‖ ( menggenggam tangan Kamelia )
Kamelia       :      ― Kanda tengok sendiri kan ? Kamelia bahagia sangat, air terjun pun tak bise
              gantikan keindahan hati ni, kanda sendiri ape kabar ? Ape ni kanda ?? luke… ?? Kanda
              terluke ?? ‖ ( meraba luke di tangan dan kepala Satria )
Satria        :    ― Ya…gara-gara luka inilah, aku tidak bisa menepati janjiku dulu padamu.
              Maafkan aku Kamelia, sudikah kiranya kau memberikan maaf untukku ? ‖ ( sambil
              mengajak Kamelia duduk di bangku ).
Kamelia       :      ― Jangankan maaf, semue akan kuberi. Andaipun kanda tak datang dan
              khianatkan Kamelia, tapi Kamelia kan selalu nantikan kanda disini. Bak syair pujangge.
              Ibarat bunge dahlia tak akan layu bile disiram cinte ‖.
Satria        :     ― Terima kasih kau baik sekali, dinda tau ketika kanda berangkat pulang kesini,
              Belanda menyerbu camp kami, banyak yang meninggal dan terluka, sehingga tak
              mungkin untuk……. ‖
Kamelia       :     ― Ssstt…. Sudahlah yang kanda selamat. Senang sangatlah hati Kamelia, kanda
              berade disamping Kamelia, rasenye macam mimpi ‖ ( Kamelia lalu bernyanyi )
Satria        :      ― Kamelia… aku bawakan sesuatu untukmu….. lihatlah gelang ini sengaja aku
              beli dari pedagang gujarat. Pakailah kau pasti cocok. ―
                                                                                                 240

Kamelia       :     ― Indah sangatlah kanda… ( melamun ) hanye sayangnye…….. ―
Satria        :     ― Sayang….. ? apa maksud adinda ? ‖
Kamelia       :     ― Ah tak ape ape. Seandainye kanda datang menepati janji pasti Kamelia tak
              akan sendiri ‖
Satria        :     ― Kanda tidak mengerti apa maksud Kamelia ? ‖
Kamelia       :      ― Ah sudahlah kanda tak payah dipikirkan, Kamelia tak sungguh-sungguh. (
              sesaat melamun lalu melihat purnama ) :Kanda sekarang waktunye Kamelia harus
              pulang, purname sudah tinggi ‖
Satria        :     ― Kenapa tergesa-gesa adinda ? ‖
Kamelia       :     ― Kamelia harus balek, abang Samsul pastilah marah bile die tau kite disini.
              Kamelia permisi ye kanda…. Maaf Kamelia tak bise lagi temani kanda, tapi Kamelia
              senang akhirnya kanda penuhi janji. Assalamualaikum ‖ ( Kamelia lalu pergi di balik
              hutan meninggalkan rasa heran pada Satria )
Satria        :    ― Kamelia… Kamelia… ( melamun lalu duduk ) mengapa begitu cepat dia pergi
              ? ah…. Mungkin dia takut pada abangnya ‖.


               Beberapa saat kemudian tanpa sengaja seorang pemuda lewat yang juga teman lama
Satria kemudian berhenti menyapanya.


Bejo          :       ― Satria !! kowe wis balik toh, wah curang kowe ora aweh kabar ndisik nek wis
              bali. ‖
Satria        :     ― Bejo…. Bejo kamu masih kayak dulu! ‖
Bejo          :     ― Ngapa kowe mbengi-mbengi neng kene ? ‖
Satria        :     ― He… he… ( tertawa malu ), aku baru ketemu bojoku ‖
Bejo          :     ― Bojo sing endi ? ‖
Satria        :     ― Kamu ini kayak ndak tau aja, siapa lagi, Kamelia anak kampung Melayu. ‖
Bejo          :     ― Kamelia… ? Edan kowe, ora guyon ? ‖
Satria        :     ― Sopo sing guyon ? baru saja dia pulang kerumah. ‖
Bejo          :     ( kaget dan mengelus bulu kuduknya ) ‖ kowe ora ngerti yo ? ‖
Satria        :     ― Tidak tahu apa ? ‖
Bejo          :     ― Kamelia kan wis mati nem wulan wingi ―
Satria        :     ― Apa maksudmu ? jangan buat aku bingung ?? ‖
Bejo          :     ― Temenan, yakin, dek mbiyen mase Samsul dikeroyok Jarwo karo kanca-
              kancane Jarwo nganti mati. Rumahnya diobrak-abrik… pokokke wis hancur ! melasi
              banget, terus Kamelia di… di… ‖
Satria        :     ― Di… diapakan Bejo… !? ―
Bejo          :     ― Di…. Diperkosa Jarwo, preman pasar karo kanca - kancane kae ― ( takut
              dan gugup )
Satria        :      ― Tidak……. Ndak mungkin ! Kamu pasti mau ngerjain aku, jawab !! ― (
              Satria mencekik leher Bejo ).
Bejo          :     ( sambil kesakitan ) ― Wani disamber gledek ! swer ! Maning bar Kamelia
              diperkosa, Kamelia ora dianggep maning nang kampung kiye, ono sing omong edan,
              ono sing omong strees…. Pokokke ora ono sing gelem nampung Kamelia, kanca-
              kancane dewek ora gelemnulungi, wedi kena sial…… akhirnya ( sedikit gugup ) ya….
              Kaya kae kuwi, Kamelia akhirnya nganu…. nganu…. bunuh diri…. Hih! Aku dadi
              mrinding kiye ‖ ( lari lalu pergi meninggalkan Satria ).
                                                                                                 241



                       Digambarkan kisah terakhir sejak Kamelia diperkosa, terlunta-lunta hingga
bunuh diri dengan sebotol kecil racun di depan reruntuhan rumahnya sendiri. Setiap lelaki yang lewat
dilempari dan dipukuli, dia kira itulah orang-orang yang telah memperkosanya, dibayangannya Satria
akan datang, hanya menangisi pabila sadar itu hanya khayal. Satria tak percaya mendengar kisah itu
diam lalu berteriak-teriak memanggil Kamelia, dia berlari-lari seperti orang yang tidak waras, hingga
tiba di depan reruntuhan rumah Kamelia tak ada apapun disana tapi Satria menemukan setangkai bunga
dahlia yang diselip Kamelia dirambutnya diantara reruntuhan rumah Kamelia yang sekaligus menjadi
kuburan tak bernisan..


Satria           :      ( meremas bunga dahlia sambil terisak lalu berteriak )
                        ― Kamelia……………..!!! ‖




                                                          Miracle of february 2004


                                         BIODATA PENULIS


Nama             : TRI AMALIA LESTARI
Lahir            : Rantau, 28 Agustus 1984
Alamat           : Jl. Sorogenen No. 27 C Nitikan, Umbulharjo
                     Yogyakarta

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:33729
posted:3/19/2010
language:Indonesian
pages:241