EVALUASI DAMPAK PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI SEKTOR

Document Sample
EVALUASI DAMPAK PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI SEKTOR Powered By Docstoc
					               PROPOSAL PENELITIAN T.A. 2010




  EVALUASI DAMPAK PROGRAM PENANGGULANGAN
     KEMISKINAN DI SEKTOR PERTANIAN DI TINGKAT
      RUMAH TANGGA DAN WILAYAH PERDESAAN




                            Oleh:

                        Benny Rahman
                      I Wayan Rusastra
                       M. Husein Sawit
                      Erna Maria Lokollo
                         Edi Basuno
                        Herlina Tarigan
                          Andi Askin
                      Bambang Prasetyo
                       Valeriana Darwis
                           Sunarsih




PUSAT ANALISIS SOSIAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN
                KEMENTERIAN PERTANIAN
                          2010
                                   I.   PENDAHULUAN


1.1.   Latar Belakang Penelitian
       Deklarasi pembangunan millennium yang disepakati dan menjadi komitmen bagi
Indonesia memiliki delapan tujuan utama (Millenium Development Goals/MDGs), yang
dalam penangananya membutuhkan pendekatan lintas sektoral. Patut disadari bahwa
kedelapan MDG adalah bersifat inklusif dan integratif (GOI dan UN System, 2004).
Pengentasan kemiskinan dan kelaparan (MDG-1) adalah penting, tetapi tidak cukup,
dan membutuhkan dukungan pencapaian tujuan terkait dengan pendidikan, kesetaraan
gender, kesehatan dan keberlanjutan lingkungan. Pencapaian sasaran tujuh pertama
MDG, juga sangat tergantung pada goal kedelapan, yang mensyaratkan dukungan dan
bantuan yang lebih besar dan lebih efektif dari negara maju.
       Bagi Indonesia, pencapaian sasaran MDG akan dihadapkan pada permasalahan
yang semakin kompleks. Di tingkat internasional terdapat permasalahan globalisasi dan
komitmen negara maju, krisis energi dan pangan global. Pada tataran domestik
permasalahannya      terkait   dengan   pelaksanaan     desentralisasi   pembangunan,
peningkatan kapasitas produksi pertanian, peningkatan kapasitas dan akses ekonomi
bagi penduduk miskin. Permasalahan domestik lainnya adalah urgensi pemantapan
pendekatan, kebijakan strategis, dan program pengentasan kemiskinan. Permasalahan
umum domestik dan internasional tersebut bermuara pada perlambatan dalam
pencapaian sasaran pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang diikuti oleh disparitas
pendapatan yang semakin besar antar wilayah, desa-kota, dan antar kelompok
pendapatan.


1.2.   Perumusan Masalah
       Permasalahan pokok pengentasan kemiskinan di perdesaan adalah koordinasi,
sinergi, dan efektivitas program lintas sektoral yang mencakup program pembangunan,
pemberdayaan, dan jaring pengaman sosial. Alokasi dana program pengentasan
kemiskinan yang dilakukan berbagai kementerian terus ditingkatkan dari tahun ke tahun.
Bahkan pada momen tertentu (antisipasi pengurangan dampak subsidi BBM) dilakukan
peningkatan alokasi dana secara signifikan. Namun demikian, penurunan populasi
penduduk miskin masih relatif kecil, dan bahkan cenderung mengalami perlambatan.
       Gambaran diatas mengindikasikan adanya permasalahan terkait dengan
formulasi perencanaan dan efektivitas implementasi program di lapangan. Antisipasi



                                                                                    1
permasalahan mencakup paradigma/prinsip dasar, pendekatan/perumusan program,
koordinasi pelaksanaan di lapangan, dan kelembagaan struktural dan operasional
implementasi program. Revitalisasi strategi penanggulangan kemiskinan secara inklusif
dan integratif diharapkan dapat meningkatkan efektivitas program lintas sektoral,
penghematan    sumberdaya     dana   pembangunan       dengan    sasaran   keberlanjutan
pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.


1.3.   Justifikasi
       Koordinasi dan sinergi program lintas sektoral pengentasan kemiskinan akan
memperbaiki efektivitas pemanfaatan dana pembangunan dan kinerja program
pengentasan kemiskinan. Dampak antara (intermediate impact) tersebut secara
simultan akan mampu menjamin keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dan pengentasan
kemiskinan. Tanpa pertumbuhan ekonomi tidak akan dimungkinkan pelaksanaan
pengentasan kemiskinan secara berkesinambungan.
       Kritik umum terhadap penanggulangan kemiskinan selama ini adalah kurangnya
pemahaman karaketeristik penduduk miskin, tidak mengacu pada permasalahan riil
yang dihadapi masyarakat miskin, berbasis individu dan tidak berkelanjutan. Koreksi
pendekatan penanggulangan kemiskinan perlu mempertimbangkan beberapa aspek
strategis (Mubyarto, 2002; Santosa et al., 2003; Adiyoga dan Hermiati, 2003), sebagai
berikut: (a) indikator keberhasilan individu perlu dikomplemen dengan prestasi kelompok
dan masyarakat; (b) paradigma penanggulangan kemiskinan dengan pengakuan
terhadap potensi partisipatif dan modal sosial kaum miskin untuk mengembangkan diri;
(c) kewenangan menentukan sendiri aktivitas penanggulangan kemiskinan, dan
meniadakan ego-sektoral yang bersifat tumpang tindih, tidak efektif, dan kurang efisien;
(d) menumbuhkan sendiri prinsip transparansi dan akuntabilitas ditingkat masyarakat
desa; (e) melakukan reposisi peran pihak-pihak luar desa dari agen pembangunan
menjadi fasilitator pemberdayaan; dan (f) percepatan transformasi struktural ekonomi
perdesaan melalui pengembangan strategi pertumbuhan inklusif sektor pertanian dan
pedesaan.
       Dalam    percepatan    transformasi    struktural   dan   pertumbuhan     inklusif
pembangunan pertanian dan perdesaan (Timmer, 2006; Henderson, 2007; IFPRI dan
ADB, 2007) menyarankan beberapa kebijakan strategis dan program sebagai berikut:
(a) fokus pada pembangunan pertanian dan perdesaan, tanpa mengabaikan
pertumbuhan sektor perkotaan; (b) percepatan integrasi pasar tenaga kerja pertanian



                                                                                       2
dan non-pertanian dengan dukungan perbaikan pasar finansial; (c) perbaikan kapasitas
dan akses ekonomi penduduk miskin melalui investasi pedesaan dan migrasi tenaga
kerja; (d) perbaikan inovasi teknologi rantai pasok; (e) investasi infrastruktur dan sistem
komunikasi untuk mengurangi disparitas spasial dan percepatan integrasi desa-kota;
dan (f) fasilitasi jaring pengaman sosial dan perbaikan status pendidikan dan kesehatan
bagi penduduk miskin.
       Dari ilustrasi diatas melalui perbaikan koordinasi dan sinergi pembangunan lintas
sektoral melalui pendekatan multisektoral berbasis partisipasi masyarakat dengan
sasaran percepatan transformasi struktural pembangunan pedesaan, diharapkan akan
dapat dicapai keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dan percepatan pengentasan
kemiskinan di pedesaan.


1.4.   Tujuan dan keluaran Penelitian

Tujuan Penelitian
1. Menganalisis     prakondisi   pembangunan       pertanian    dan   perdesaan     dalam
   pengentasan kemiskinan.
2. Menganalisis kinerja dan dampak program pemberdayaan dalam pengentasan
   kemiskinan;
3. Perumusan kebijakan pengentasan kemiskinan rumah tangga dan masyarakat
   perdesaan.


Keluaran penelitian
1. Deskripsi prakondisi dan sinergi program pemberdayan pengentasan kemiskinan.
2. Kinerja dan dampak program terhadap ketahanan pangan dan pengentasan
   kemiskinan (termasuk aspek sosial, ekonomi, kelembagaan).
3. Rumusan antisipasi pendekatan, kebijakan strategis dan program pengentasan
   kemiskinan rumah tangga dan masyarakat perdesaan.




                                                                                         3
                           II.      METODE PENELITIAN


2.1.   Kerangka Pemikiran
       Permasalahan utama program pengentasan kemiskinan di pedesaan adalah
mensinergikan program lintas sektoral yang ada yang terkait dengan program
pemberdayaan dan jaring pengaman sosial. Tanpa koordinasi dan sinergi program lintas
sektoral ini tidak akan diperoleh efektivitas dan efisiensi pemanfaatan dana
pembangunan dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan di
pedesaan. Koordinasi dan sinergi program pemberdayaan dan jaring pengaman sosial
ini juga membutuhkan prakondisi pembangunan pertanian yang kondusif (Gambar 1).
       Dalam operasional penelitian di lapangan, akan dilakukan identifikasi program
utama multisektoral dan jaring pengaman sosial yang sedang berjalan. Program utama
multisektoral yang dapat dipertimbangkan diantaranya adalah program Desa Mandiri
Pangan (Mapan), PUAP (Pengembangan Usaha Agribisnis Pedeasaan) dan Proyek
Pengembangan Kecamatan (PPK). Berbagai program jaring pengaman sosial juga perlu
disinergikan   dengan     program      pemberdayaan      multisektoral   ini.   Dengan
mempertimbangkan sejumlah instrumen analisis program yang mencakup deskripsi dan
implementasi, koordinasi dan sinergi, manfaat dan dampak; dan kinerja serta perspektif
program kedepan, diharapkan dapat dirumuskan reorientasi program kedepan dengan
sasaran akhir percepatan transformasi struktural ekonomi pedesaan dalam perspektif
pengentasan kemiskinan.


2.2.   Perencanaan Sampling
       Basis lokasi penelitian mengacu pada jenis program utama multisektoral yang
ada, dengan mempertimbangkan departemen pelaksana dan eksistensi manfaat dan
dampak program. Program Desa Mapan dan PUAP merupakan keberlajutan program
ketahanan pangan seperti PIDRA dan SPFS, yang dilaksanakan oleh Kementerian
Pertanian. Sedangkan Proyek Pengembangan Kecamatan (PPK) dilaksanakan oleh
Badan Pengembangan Masyarakat, Kementerian Dalam Negeri. Ketiga program
tersebut (Desa Mapan, PUAP dan PPK) dinilai representatif untuk mewakili program
multisektoral yang ada. Lokasi penelitian ketiga program tersebut juga perlu
mempertimbangkan     kondisi spasial    wilayah   yang   memiliki   keragaman   kondisi
infrastruktur, perkembangan ekonomi, dan karakteristik sosial budaya masyarakat yang
berbeda.



                                                                                     4
                                     Prakondisi Ekonomi Pedesaan
                                Kapasitas produksi dan pengembangan pasar
                                  Diversifikasi usaha dan kesempatan kerja
                                Pengembangan infrastruktur dan peran swasta




   Program Utama Multisektoral                                       Program Jaring Pengaman Sosial (JPS)
     Ketahanan Pangan                                                  Bantuan langsung Tunai (BLT)
     Mandiri Pangan                                                    Raskin
     PUAP                                                              JPS lainnya
     Proyek Pengembangan Kecamatan


                                           Analisis Program
                                        Deskripsi dan implementasi
                                          Koordinasi dan sinergi
                                          Manfaat dan dampak
                                          Kinerja dan perspektif



                                          Reorientasi Program
                                               Pendekatan
                                            Kebijakan strategis
                                            Rumusan program



                         Sasaran akhir: Percepatan Transformasi Struktural Ekonomi
                            Pedesaan dalam perspektif Pengentasan Kemiskinan



            Gambar 1. Kerangka Fikir Evaluasi Program Pengentasan Kemiskinan di Perdesaan



       Berdasarkan pada kinerja program di lapangan, melalui studi pendahuluan,
dapat ditetapkan secara purposif satu propinsi/kabupaten contoh di Jawa/luar Jawa.
Pada Kabupaten contoh dapat ditentukan beberapa desa kasus yang dinilai
representatif mewakili agroekosistem dan komoditas dominan yang diusahakan
masyarakat. Kinerja program akan dihasilkan melalui analisis data primer ditingkat studi
kasus (desa), dan analisis data sekunder dinamika implementasi, hasil, manfaat/dampak
program di tingkat kabupaten. Dengan demikian, penelitian akan difasilitasi dengan dua
jenis kuesioner, yaitu kuesioner terinstruktur untuk pengumpulan data primer di tingkat
desa   kasus    dan    kuesioner       semi-terstruktur       untuk       verifikasi    dan    penggalian
data/informasi terkait dengan pendalaman data sekunder terkait dengan dinamika
perkembangan program. Tentatif cakupan lokasi penelitian ditampilkan pada Tabel 1.




                                                                                                            5
           Tabel 1. Lokasi penelitian evaluasi program pengentasan kemiskinan di perdesaan
                                                        Program Utama
                       Lokasi
                                         Desa Mapan          PUAP              PPK
            1.     Jawa
                     Provinsi JABAR
                     Kabupaten
                     Desa
            2.     Luar Jawa
                     Provinsi NTB
                     Kabupaten
                     Desa



2.3.   Jenis Data dan Metoda Analisis


Tujuan 1: Menganalisis prakondisi pembangunan pertanian dan perdesaan dalam
           pengentasan kemiskinan.
Kebutuhan data
       a. Data primer dan persepsi tentang prakondisi pembangun pedesaan di desa
          kasus yang mencakup kapasitas produksi dan pengembangan pasar;
          diversifikasi usaha dan kesempatan kerja; pengembangan infrastruktur dan
          peran swasta.
       b. Data sekunder dan persepsi tentang prakondisi pembangunan pedesaan
          yang merupakan agregasi di desa pelaksana program, dari berbagai pihak di
          tingkat kabupaten.
       c. Eksistensi, efektivitas dan antisipasi program jaring pengaman sosial dalam
          perspektif meningkatkan sinergi dengan program pemberdayaan multisektoral
          di lapangan.
   • Metoda Analisis: Analisis deskriptif and analisis kebijakan (review dan sintesis).




Tujuan 2 : Menganalisis kinerja dan dampak program pemberdayaan dalam
                   pengentasan kemiskinan;
   • Kebutuhan data
       a. Data primer di desa kasus penelitian dengan mempertibangkan aspek dan
          cakupan dimensi program (pemberdayaan masyarakat, pengembangan
          infrastruktur, pengembangan usaha mikro, kebijakan pendukung, dan lain-
          lain).
       b. Data sekunder yang mencakup laporan kinerja implementasi program di
          tingkat kabupaten.


                                                                                             6
      c. Data primer terkait dengan tanggapan dan persepsi berbagai pihak secara
          hirarkhis dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, dan provinsi tentang
          kinerja dan permasalahan implementasi program di lapangan.
      d. Hasil program terkait dengan implementasi dimensi program, yang pada
          hakekatnya merupakan “intermediate impact”.
      e. Data primer di desa kasus terkait dampak program (pendapatan, kesempatan
          kerja, kesejahteraan yang lebih luas, dan pola pikir/mindset masyarakat, dan
          lain-lain).
      f. Data primer terkait dengan tanggapan dan persepsi terkait hasil dan dampak
          program di lapangan.
   • Metoda Analisis: Analisis deskriptif and analisis kebijakan (review dan sintesis).


Tujuan 3: Perumusan kebijakan pengentasan kemiskinan rumah tangga dan masyarakat
          perdesaan.
Note: Merupakan derivasi/kesimpulan/dan aplikasi dari output tujuan 1 dan 2.




Tabel 4. Jadwal Palang
Jenis Kegiatan                     Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nop        Des

Pembuatan Proposal
Seminar dan perbaikan Proposal
Studi literatur
Penyusunan kuesioner
Pra survei dan pretest kuesioner
Survey Utama
Pengolahan dan analisis data
Penulisan Laporan
Seminar hasil peneltitian
Perbaikan laporan hasil penelitian
Penggandaan




                                                                                          7
                                 DAFTAR PUSTAKA



Adiyoga, IDDBM dan E. Hermiati. 2003. Pola Nafkah Lokal: Acuan Mengkaji Kemiskinan
       di Era Otonomi Daerah (Kasus Nusa Tenggara Timur). Jurnal Ekonomi Rakyat.
       Artikel Tahun I No. 12, Februari 2003, Jakarta. www.ekonomirakyat.org.
GOI and UN System. 2004. Indonesia Progress Report on the Millennium Development
       Goals. Government of Indonesia and United Nations Sysem, Jakarta.
Henderson, W. 2007. Rural-Urban Inequality in Asia. CAPSA Flash, Volume 5 / 9,
       September 2007. UNESCAP-CAPSA, Bogor.
International Food Policy Research Institute (IFPRI) and Asian Development Bank
       (ADB). 2007. Agricultural and Rural Development for Reducing Poverty in Asia;
       In Pursuit of Inclusive and Sustainable Growth. IFPRI, Washington D.C., USA,
       and ADB, Metro Manila, The Philippines.
Mubyarto. 2002. Penanggulangan Kemiskinan di Jawa Tengah. Jurnal Ekonomi Rakyat.
       Artikel Tahun I No. 7, November 2002, Jakarta. www.ekonomirakyat.org.
Santosa, H., D.G. Hidayat, dan P. Indrayono. 2003. Program Penanggulangan
       Kemiskinan Bersasaran di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Ekonomi Rakyat.
       Artikel Tahun II No. 2, April 2002, Jakarta. www.ekonomirakyat.org.
Timmer, C.P. 2006. The Structural Transformation in Historical Perspective: Lesson from
       Global Pattern and Divergent Country Paths. Unpublished paper. Centre Global
       development, Washington, D.C. USA.




                                                                                     8