PERKEMBANGAN ASPEK FISIK by rifalputeracerbon

VIEWS: 6,136 PAGES: 17

									PERKEMBANGAN ASPEK FISIK, MOTORIK,
KOGNITIF, BAHASA, MORAL, SOSIAL, EMOSI
DAN AGAMA DARI BAYI HINGGA KANAK-
KANAK
Posted by Bustamam Ismail on October 24, 2009

A. Perkembangan Aspek Fisik




                                  Daur Pertumbuhan Fisik

Petumbuhan fisik tidak dapat dikatakan mengikuti pola ketetapan yang tertentu.
Pertumbuha tesebut terjadi secara bertahap atau dengan kata lain seperti naik turunnya
gelombang adakalanya cepat adakalanya lambat.

Daur Pertumbuha Utama

Studi tentang pertumbuhan fisik telah menunjukkan bahwa pertumbuha aak dapat di
bagi menjadi 4 periode utama, dua periode ditandai dengan pertumbuhan yang cepat
da dua periode lainnya dicirikan oleh pertumbuhan yang lambat. Selama periode
pralahir dan 6 bulan setelah lahir, pertumbuhan tubuhnya sagat cepat. Pada akhir tahu
pertama kehidupan pascalahirnya, pertumbuhan memperlihatkan tempo yang sedikit
lambat dan kemudian menjadi stabil sampai si anak memasuki tahap remaja, atau
tahap kemataga kehidupa seksualnya.

Keanekaragaman Daur Pertumbuhan

Ukuran dan bangun tubuh yag diwariskan secara genetik, juga mempengaruhi laju
pertumbuhan tersebut. Anak-anak yang mempunyai bangun tubuh kekar biyasanya
akan tumbuh dengan cepat dibandingkan dengan mereka yang bangun tubuhnya kecil
atau sedang. Anak-anak dengan bangun tubuh besar ini, biyasanya akan memasuki
tahap remaja lebih cepat dari pada teman sebayanya yang mempunyai bangun tubuh
lebih kecil.

Besar Kecilnya Ukuran Tubuh

Besar kecilya tubuh seseorang dipengaruhi oleh factor keturunan dan juga factor
lingkungan. Faktor keturunan menentukan cara kerja hormon yang mengatur
pertumbuhan fisik yang dikelurka oleh lobus anterior dari kelenjar pituitary, suatu
kelejar kecil yang terletak didasar sebelah bawah otak.
Tinggi Tubuh

Anak-anak dengan usia sebaya dapat memparlihatkan tinggi tubuh yang sangat
berbeda, tetapi pola pertumbuhan tinggi tubuh mereka tetap mengikuti aturan yang
sama. Bila dihitung secara rata-rata, pola ini dapat menggambarkan pertumbuhan
anak pada usia tertentu. hal ini dipenganruhi oleh faktor dari dalam (gen) dan faktor
dari luar seperti asupan gizi yang memadai untuk pertumbuhan tinggi badan

Berat Tubuh

Rata-rata berat bayi ketika dilahirkan adalah 3 sampai 4 kg, tatapi ada juga beberapa
bayi yany beratnya 1½ sampai 2 kg.Pada waktu berusia 2 dan 3 tahun berat tubuh
anak akan bertabah 1½ sampai 2 ½ kg setiap tahunnya. Setelah anak berusia 3 tahun,
nampak berat tubuh tidak lagi bertambah dengan cepat, bahkan cenderung pelahan
sampai saatnya nanti ia memasuki usia remaja. Pada usia 5 tahun, seorang anak yang
normal akan memiliki berat tubuh yang berkisar antara 40 dan 45 kg.

Proporsi Tubuh

Proporsi tubuh atau perbandingan besar kecilnya anggota badan secara keseluruhan
pada bayi jelas berbeda dari proporsi orang dewasa. Pertumbuhan tinggi dan berat
badan menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi badan anak lebih cepat dari pada
pertumbuhan berat badannya. Kecuali pada tahun pertama kehidupan sewaktu ia
tumbuh dengan cepat

Tulang

Perkembangan tulang yang terjadi pada setiap manusia biasaya mencakup
pertumbuhan tulang, perubahan jumlah tulang, dan perubaha komposisi tulang.
Perkembangan tulang ini sejalan dengan kecenderungan pertumbuhan umumnya yaitu
pada tahu pertama pertumbuhan cepat sekali, kemudia lambat da pada saat remaja
menjadi cepat kembali.

Pertumbuhan tulang terjadi karea memang ada pemajanga pada ujung tulang.
Epiphisis, juga disebut tulang rawa memisahka baying tulang atau yang disebut
diaphsis dari tulang laiya.

Otot dan Lemak

Pada saat seseorang dilahirkan, dia sudah mempunyai serabut otot, tetapi masih belum
berkembang. Setelah kelahiraya, serabut ini akan berubah ukuran, betuk dan
komposisi. Pajag, lebar, dan ketebalan otot ini akan mengalami proses pertumbuhan.
Memasuki usia dewasa, otot ini telah berkembang sebanyak lima kali dari saat
dilahirkan.

Dalam perkembangan pembentukan sel lemak ada tiga periode kriis. Periode pertama
selama tiga bulan terakhir kehidupan pra lahir, periode kedua selama dua sampai tiga
tahun kehidupa pasca lahir dan periode ke tiga atara usia sebelas sampai tiga belas
tahun.
Gigi

Biasanya gigi susu sudah akan memotong graham bayi ketika ia berusia enam sampai
delapan bulan, tetapi kapan tepatnya gigi itu tumbuh keluar tergantug pada kesehatan,
keturuan, gizi, jenis kelamin anak, dan factor lainnya. Rata-rata anak usia sembilan
bulan sudah memilki tiga gigi sedangkan pada usia dua sampai dua setengah tubuh
mereka akan memiliki dua puluh gigi susu yang telah tumbuh.

Setelah gigi susu tumbuh sempurna, dalam gusi anak nantinya calon gigi tetap mlai
diberi kapur pengguat. Urutan gigi tetap yag diberi kapur penguat ini sama dengan
proses terjadinya pemunculan gigi susu. Rata-rata anak berusia enam tahun akan
mempunyai satu atau dua gigi tetap, pada usia sepuluh tahun mempunyai empat belas
sampai enam belas gigi susu, da pada usia 13 tahun telah memiliki 27 atau 28 gigi
tetap. Empat gigi tetap terakir, yang serig disebut sebagai gigi kebijakan akan tumbuh
pada usia 17 dan 25 tahun.

B. Perkembangan Aspek Bahasa (berbicara)

Perkembangan bahasa di tingkat pemula ( bayi) dapat dianggap semacam persiapan
berbicara.

a. Pada bulan-bulan pertama, bayi hanya pandai menangis. Dalam hal ini tangisan
bayi dianggap sebagai pernyataan rasa tidak senang.

b. Kemudian ia menangis dengan cara yang berbeda-beda menurut maksud yang
hendak dinyatakannya.

c. Selanjutnya ia mengeluarkan bunyi ( suara-suara ) yang banyak ragamnya. tetapi
bunyi-bunyi itu belum mempunyai arti , hanya untuk melatih pernapasan saja.

d. Menjelang ussia pertengahan di tahu pertama, ia meniru suara-suara yang
didengarkannya, kemudian mengulangi suara tersebut, tetapi bukan karna dia sudah
mengerti apa yang dikatakan kepadanya.

Ada dua alasan mengapa bayi belum pandai berbicara: pertama, alat-alat bicaranya
belum sempurna. Kedua, untuk dapat berbicara, ia memerlukan kemampuan berpikir
yang belum dimiliki oleh anak bayi. Kemampuan berbicara dapat dikembangkan
melalui belajar dan berkomunikasi dengan orang lain secara timbal balik.

Ditingkat pemula ( bayi ) tidak ada perbedaan perkembangan bahasa antara anak yang
tuli dengan anak yang biasa. Anak tuli juga menyatakan perasaan tak senang dengan
cara menangis. sedangkan rasa senangnya dinyatakan dengan berbagai macam suara
raban, tetapi tingkat perkembangan bahasa yang selanjutnya tidak dialami olehnya. Ia
tidak mampu mengulangi suara-suara rabannya dan suara orang lain. Jika ia nanti
sudah besar, ia akan menjadi bisu.

Pada mulanya motif anak mempelajari bahasa adalah agar dapat memenuhi:

   1. keinginan untuk memperoleh informasi tentang lingkungannya, diri sendiri,
      dan kawan-kawannya ini terlihat pada anak usia 2 setengah – 3 tahun.
   2. Memberi perintah dan menyatakan kemauannya.
   3. Pergaulan social dengan orang lain.
   4. Menyatakan pendapat dan ide-idenya.

Perkembangan bahasa seorang anak menurut Clara dan William Stern, ilmuan bangsa
Jerman, dibagi dalam empat masa, yaitu: masa kalimat satu kata, masa memberi
nama, masa kalimat tunggal dan masa kalimat majemuk.

   1. Kalimat satu kata: satu tahun s.d satu tahun enam bulan

Dalam masa pertama ini seorang anak mulai mengeluarkan suara-suara raban yakni
permainan dengan tenggorokan, mulut dan bibir supaya selaput suara menjadi lebih
lembut. Selain itu di masa ini seorang anak sudah dapat menirukan suara-suara
walaupun tidak begitu sama persis dengan bunyi aslinya. Di masa ini juga mulai
terbentuknya satu kata. Anak sudah mulai bisa mengucapkan kata seperti “ibu” dan
lainnya.

   1. Masa memberi satu nama: satu setengah tahun s.d dua tahun

Dalam masa kedua ini terjadi masa apa itu, masa dimana mulai timbul suatu dorongan
dalam diri seorang anak untuk mengetahui banyak hal. Inilah yang menyebabkan anak
akan sering bertanya apa ini? apa itu? siapa ini? dan lainnya. Dan di masa ini
kemampuan anak merangkai kata mulai meningkat. Dulu yang hanya bisa satu kata,
bertambah menjadi dua kata, tiga kata hingga lebih sempurna.

   1. Masa kalimat tunggal: dua tahun s.d setengah tahun.

Dalam masa ketiga ini terdapat usaha anak untuk dapat berbahasa dengan lebih baik
dan sempurna. Anak mulai bisa menggunakan kalimat tunggal serta menggunakan
awalan dan akhiran pada kata. Namun tak jarang anak membuat kata-kata baru yang
lucu didengar dengan menggunakan caranya sendiri.

   1. Masa kalimat majemuk : dua tahun enam bulan dan seterusnya.

Di tahap ini seorang anak sudah dapat mengucapkan kalimat yang lebih panjang dan
sempurna,baik berupa kalimat majemuk dan berupa pertanyaan, sehingga susunan
bahasanya terdengar lebih sempurna.

C. Perkembangan Aspek Moral

Untuk mempermudah dalam membahas perkembangan moral, prlu untuk dimengerti
arti istilah tersebut.

Perilaku moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial.
“Moral”berasal dari kata latinyang berarti tatacara, kebiasaan dan adat. Perilaku moral
dikendalikan oleh konsep-konsep moral- peraturan perilakuyang telah menjadi
kebiasaan bagi anggota suatu budaya dan yang menentukan popla perilaku yang
diharapkan dari seluruh anggota kelompok.
Perilaku tak bermoral berarti perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial.
perilaku demikian tidak disebabkan oleh ketidak acuhan akan harapan sosial,
melainkan ketidak setujuan dengan standart sosial atau kurang adanya perasaan wajib
menyesuaikan diri.

Perilaku amoral berarti perilaku yang lebih disebabkan ketidak acuhan terhadap
harapan kelompok sosial dari pada pelanggaran sengaja terhadap standart kelompok.
Beberapa diantara perilaku anak kecil lebih bersifat amoral dari pad takbermoral.

Pada saat lahir, tidak ada anak yang memiliki hati nurani atau skala nilai. Akibatnya,
tiap bayi yang baru lahir dapat dianggap amoral. Tidak seorang anakpun dapat
diharapkan mengembangkan kode moral sendiri. Maka, tiap anak harus diajarkan
standart kelompok tentang yang bernar dan yang salah.

Dalam mempelajari sikap moral, terdapat empat pokok utama:

1) Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya sebagaimana
dicantumkan dalam hukum, kebiasaan, dan peraturan.

2) Mengembangkan hati nurani.

3) Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu tidak
sesuai dengan harapan kelompok.

4) Mempunyai kesempatan untuk interaksi sosial untuk belajar apa saja yang
diharapkan anggota kelompok.

Pola Perkembangan Moral

Menurut Peaget, perkembangan moral terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama disebut
tahap realisme moral ( moralitas oleh pembatasan”. Tahap kedua disebut moralitas
otonomi ( moralitas oleh kerja sama atau hubungan timbal balik)

Dalam tahap yang pertama ini seorang anak menilai tindakan sebagai benar atau salah
atas dasar konsekuensinya dan bukan berdasarkan motifasi dibelakangnya. Moral
anak otomatis mengikuti peraturan tanpa berfikir atau menilai, dan cendrung
menganggap orang dewasa yang berkuasa sebagai maha kuasa. Yang paling penting
menurut Piaget bahwa anak menilai suatu perbuatan benar atu salah berdasarkan
hukuman bukan pada nilai moralnya.

Di tahap kedua perkembangan kognitif anak telah terbentuk sehingga dia dapat
mempertimbangkan semua cara yang mungkin untuk memecahkan masalah tertentu.
Anak mulai dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan dapat
mempertimbangkan berbagai faktor untuk memecahkan masalah.

D. PERKEMBANGAN AGAMA

1). Perkembangan Jiwa Beragama
Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. Menurut
Kohnstamm, tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode,
yaitu:

1. Umur 0 – 3 tahun, periode vital atau menyusuli.

2. Umur 3 – 6 tahun, periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain.

3. Umur 6 – 12 tahun, periode intelektual (masa sekolah)

4. Umur 12 – 21 tahun, periode social atau masa pemuda.

5. Umur 21 tahun keatas, periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis
seseorang.

Elizabeth B. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap
sebagai berikut:

1. Masa Pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai lahir.

2. Masa Neonatus, saat kelahiran sampai akhir minggu kedua.

3. Masa Bayi, akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.

4. Masa Kanak- Kanak awal, umur 2 – 6 tahun.

5. Masa Kanak- Kanak akhir, umur 6 – 10 atau 11 tahun.

6. Masa Pubertas (pra adolesence), umur 11 – 13 tahun

7. Masa Remaja Awal, umur 13 – 17 tahun. Masa remaja akhir 17 – 21 tahun.

8. Masa Dewasa Awal, umur 21 – 40 tahun.

9. Masa Setengah Baya, umur 40 – 60 tahun.

10. Masa Tua, umur 60 tahun keatas.

2. Agama Pada Masa Anak- Anak

Sebagaimana dijelaskan diatas, yang dimaksud dengan masa anak- anak adalah
sebelum berumur 12 tahun. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B.
Hurlock, dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan:

1. 0 – 2 tahun (masa vital)

2. 2 – 6 tahun (masa kanak- kanak)

3. 6 – 12 tahun (masa sekolah)
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang yang ada
dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada
permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan
kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini
dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik
pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia
menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau
perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya
terhadap kata tuhan itu tumbuh.

Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan
campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan.
Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi
terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada
hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih
sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut
dan cinta padanya sekaligus.

Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada
dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan
tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya.
Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah
karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman,
kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang
menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak
terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh
rasa percaya dan merasa aman.

3. Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak

Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi
menjadi tiga bagian:

a) The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng)

Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun, konsep mengeanai Tuhan banyak
dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama anak masih
menggunakan konsep fantastis yang diliputi oelh dongeng- dongeng yang kurang
masuk akal. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng-
dongeng.

Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama dari pada isi
ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak
karena sesuai dengan jiwa kekanak- kanakannya. Dengan caranya sendiri anak
mengungkapkan pandangan teologisnya, pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan
lebih bernada individual, emosional dan spontan tapi penuh arti teologis.

b) The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)
Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan
sebagai pencipta. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi
berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika.

Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7
tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis, sehingga wajarlah bila anak
harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul
bila melanggarnya.

c) The Individual Stage (Tingkat Individu)

Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan
perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi
menjadi tiga golongan:

Ø Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian
kecil fantasi.

Ø Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat
personal (perorangan).

Ø Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik, yaitu agama telah menjadi etos
humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama.

Berkaitan dengan masalah ini, Imam Bawani membagi fase perkembangan agama
pada masa anak menjadi empat bagian, yaitu:

a. Fase dalam kandungan

Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit, apalagi yang
berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian perlu dicatat bahwa
perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya ketika
terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya,

b. Fase bayi

Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang
anak. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis, seperti
memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak.

c. Fase kanak- kanak

Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan.
Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia luar. Banyak hal yang ia
saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. Dalam
pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan- ucapan orang disekelilingnya. Ia
melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. Anak pada
usia kanak- kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam,
akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak
dalam melakukan tindakan- tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru.
d. Masa anak sekolah

Seiring dengan perkembangan aspek- aspek jiwa lainnya, perkembangan agama juga
menunjukkan perkembangan yang semakin realistis. Hal ini berkaitan dengan
perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang.

4. Sifat agama pada anak

Sifat keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian:

a. Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik)

Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam, cukup sekedarnya saja. Dan
mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang- kadang kurang masuk akal.
Menurut penelitian, pikiran kritis baru muncul pada anak berusia 12 tahun, sejalan
dengan perkembangan moral.

b. Egosentris

Sifat egosentris ini berdasarkan hasil ppenelitian Piaget tentang bahasa pada anak
berusia 3 – 7 tahun. Dalam hal ini, berbicara bagi anak-anak tidak mempunyai arti
seperti orang dewasa.

Pada usia 7 – 9 tahun, doa secara khusus dihubungkan dengan kegiatan atau gerak-
gerik tertentu, tetapi amat konkret dan pribadi. Pada usia 9 – 12 tahun ide tentang doa
sebagai komunikasi antara anak dengan ilahi mulai tampak. Setelah itu barulah isi doa
beralih dari keinginan egosentris menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang
bersifat etis.

c. Anthromorphis

Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalamannya.
Dikala ia berhubungan dengan orang lain, pertanyaan anak mengenai (bagaimana) dan
(mengapa) biasanya mencerminkan usaha mereka untuk menghubungkan penjelasan
religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan
konkret.

d. Verbalis dan Ritualis

Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal).
Mereka menghafal secara verbal kalimat- kalimat keagamaan dan mengerjakan
amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman mereka menurut tuntunan
yang diajarkan pada mereka. Shalat dan doa yang menarik bagi mereka adalah yang
mengandung gerak dan biasa dilakukan (tidak asing baginya).

e. Imitatif

Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak pada dasarnya diperoleh dengan meniru.
Dalam hal ini orang tua memegang peranan penting.
Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran, akan tetapi
berupa teladan

f. Rasa heran

Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. Berbeda
dengan rasa heran pada orang dewasa, rasa heran pada anak belum kritis dan kreatif.
Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriah saja. Untuk itu perlu diberi pengertian
dan penjelasan pada mereka sesuai dengan tingkat perkembangan pemikirannya.
Dalam hal ini orang tua dan guru agama mempunyai peranan yang sangat penting.

E. PERKEMBANGAN SOSIAL

Menurut keyakinan tradisional sebagian manusia dilajirkan dengan sifat social
dansebagian tidak. Orang yang lebih banyak merenungi diri sendiri daripada bersama-
sama dengan orang lain, atau mereka yang bersifat social pikirannya lebih banyak
tertuju pada hal-hal diluar dirinya, secara „alamiah‟ memang sudah bersifat demikian,
atau karena factor keturunan. Juga orang yang menentang masyarakat yaitu orang
yang anti social.

1). Mulainya Perilaku Sosial

Pada waktu lahir, bayi tidak suka bergaul dengan orang lain. Selama kebutuhan fisik
mereka terpenuhi, mereka tidak mempunyai minat terhadap orang lain. Pada vulan
pertama atau kedua sejak bayai dilahirkan, mereka semata-mata bereaksi terhadap
rangsangan dilingkungan mereka, terlepas dari apakah asal rangsangan itu manusia
atau benda, sebagai contoh, mereka tidak dapat membedakan dengan jelas antara
suara manusia dan suara lainnya.

Sosialisasi dalam bentuk perilaku yang suka bergaul dimulai pada bulan ketiga,
tatkala bayidapat membedakan antaramanusia dan benda dilingkungan mereka dan
mereka bereaksi secara berbeda terhadap keduanya. Pada saat itu otot mereka cukup
kuat dan terkoordinasi sehingga memunginkan untuk menatap orang atau benda dan
mengikuti gerak orang ataubenda tersebut, dan melihat sasaran itu dengan jelas.
Pendengaran mereka juga cukup berkembang sehingga memungkinkan mereka
mengenal suara. Akibat dari perkembangan ini, ditinjau dari sudut kematangan,
mereka telah siap untuk belajar bermasyarakat.

2). Reaksi Terhadap Orang Deewasa

Reaksi social pertama bayi adalah terhadap orang dewasa karena, secara normal,
orang dewasa merupakan hubungan social pertama bayi. Pada masa bayi menginjak
usia tiga bulan, mereka memalingkan muka kearah suara maa dan tersenyum
membalas senyuman atau berketuk. Bayi mengeksperesikan kegembiraan terhadap
kehadiran orang lain dengan tersenyum, menyepakkan kaki, atau melambaikan
tangan. Senyuman social, atau senyuman sebagai reaksi terhadap orang yang
dibedakan dari senyuman reflek yang timbul olehrabaan pada pipi atau bibir bayi,
dipandang sebagai awal perkembangan social.
Pada bulan ketiga, bayi menangis ketika ditinggalkan sendiriran dan mereka berhenti
menangis jika diajak berbicara atau dialihkan perhatiannya dengan suara gemerincing
atau bunyi alat lainnya. Bayi mengenal ibunya dan orang-orang dekat lainnya dan
menunjukkan rasa takut terhadap orang dewasa yang dikenal dengan menangis atau
memalingkan muka.

Pada bulan keempat, bayi melakukan penyesuaian pendahuluan kalau akan diangkat,
memperlihatkan perhatian yang selektif terhadap wajah orang, melihat ke arah orang
yang meninggalkannya, tersenyum kepada seseorang yang berbicara dengannya,
memperlihatkan kegembiraan terhadap perhatian pribadi, dan tertawa bila diajak
bermain,

Dari umur lima sampai enam bulan, bayi bereaksi secara berbeda kepada senyuman
dan omelan, dan dapat membedakan antara suara yang ramah dan suara yang bernada
marah. Bayi mmengenal orang yang sudah akrab dengan tersenyum, daakutan
memperlihatkan ekspresi ketakutan yang jelas terhdap kehadiran orang yang tidak
dikenal. Padausia enam bulan, gerak social mereka semakin agresif. Sebagai contoh,
bayi menarik rambut orang yang membopongnya, mencekau hidung dan
kacamatanya, dan meraba wajah orang tersebut.

Pada umur tujuh ata Sembilan bulan, bayi berusaha menirukan suara pembicaraan dan
juga menirukan perbuatan dan isyarat yang sederhana. Pada umur 12bulan, mereka
dapat menahan diri untuk melakukan sesuatu sebagai reaksi atas kata-kata, “jangan-
jangan!”. Mereka memperlihatkan ketakutan dan ketidaksukaan kepada orang yang
tidak dikenal dengan menghindar dan menangis jika ada orang yang tidak dikenal
mendekati mereka. Dari umur 15bulan, bayi memperlihatkan minat yang semakin
bertambah terhadap orang dewasa dan keinginan yang kuat untuk berada bersama atau
menirukan mereka. Pada umur dua tahun, merekadapaat bekerja sama dengan orang
dewasa dalam sejumlah aktivitas sederhana, seperti membantu ketika dimandikan atau
dikenakan baju.

Dengan demikian, jelas bahwa dalam jangka waktu yang relative pendek bayi berubah
dari anggota kelompok yang pasif, yang menerima perhatian lebih banyak dan
memberikan sedikit sebagai balasannya,menjadi anggota ynag aktif yang
memprakarsai hubungan social dan berpartisipasi dalam aktivitas keluarga. Mereka
telah melewati masa tidak suka bergaul dan tahap social dalam pola perkembangan.

3). Reaksi Terhadap Bayi Lain

Petunjuk pertama yang nyata bahwa bayi memperhatikan bayi lain terjadi antara umur
empat dan lima bulan ketika mereka tersenyum kepada bayi lain atau memperlihatkan
perhatian pada tangis bayi lain. Hubungan yang ramah diantara bayi biasanya mulai
antara umur enam bulan dan delapan bulan yang mencakup melihat, dan meraba bayi
lain. Usaha yang seringkali menimbulkan perkelahian. Antara umur Sembilan dan 13
bulan, bayi menyelidiki bayi lain dengan cara menarik rambut atau bajunya,
menirukan perilaku dan suara bayi lain, dan untuk pertama alinya memperlihatkan
kerja sama dalam penggunaan mainan. Jika sebuah mainandiambil oleh bayi lain,
biasanya bayi menjadi marah, berkelahi, dan menangis.
Reaksi social terhadap bayi lain dan anakanak berkembang pesatpada umur dua tahun.
Pada umur 12 dan 13 bulan, bayi tersenyum dan tertawa menirukan bayi lain atau
anak-anak. Minat mereka berpindah dari mainan ke bayi lain atau anak-anak,
perkelahian berkurang dan pada waktu bermain mereka lebih banyak bekerja sama.
Pada pertengahan akhir tahun kedua, bayi memandang mainan sebagai alat untuk
membina hubungan social. Mereka bekerjasama dengan teman bermain, mengubah
perilaku untuk menyesuaikan diri dengan aktivitas ke teman bermain, dan melibatkan
diri dalam permainan yang sederhana dengan anak-anak kecil atau anak-anak yang
lebih tua.

4). Perkembangan Sosial Pada Masa Awal Kanak-Kanak

Dari umur dua sampai enam tahun, anak belajar melakukan hubungan social dan
bergaul dengan orang-orang di luar lingkungan rumah, terutama dengan anak-anak
yang umurnya sebaya. Mereka belajar menyesuaikan diri dan bekerja sama dalam
kegiatan bermain. Studi lanjutan tentang kelompok anak melaporkan bahwa sikap dan
perilaku social yang terbentuk pada usia dini biasanya menetap dan hanya mengalami
perubahan sedikit.

Masa kanak-kanak awal sering disebut “usia pragang” (pregang age). Pada masa ini
sejumlah hubungan yang dilakukan anak dengan anak-anak lain meningkat dan ini
sebagian menentukan bagaimana gerak maju perkembangan social mereka. Anak-
anak yang mengikuti pendidikan prasekolah, misalnya pendidikan untuk anak
sebelum taman kanak-kanak (nursery school), pusat pengasuhan anak pada siang hari
(day care center), atau taman kanak-kanak (kindergarden), biasanya mempunyai
sejumlah besar hubungan social yang telah ditentukan dengan anak-anak yang
umurnya sebaya. Anak yang mengikuti pendidikan prasekolah melakukan penyesuain
social yang lebih baik dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengikuti
pendidikan prasekolah. Alasannya adalah mereka dipersiapkan secara lebih baik
untuk melakukan partisipasi yang aktif dalam kelompok disbanding dengan anak-anak
yang aktivitas sosialnya terbatas dengan anggota keluarga dan anak-anak dari
lingkungan tetangga terdekat.

Salah satu diantara sejumlah keuntungan pendidikan prasekolah adalah bahwa pusat
pendidikan tersebut memberikan pengalaman social dibawah bimbingan para guru
yang terlatih yang membantu mengembangkan hubungan yang menyenangkan dan
berusaha agar anak-anak tidak mendapat perlakuan yang mungkin menyebabkan
mereka menghindari hubungan social. Akibatnya, semua reaksi negative kepada anak
lain berkurang. Walaupun demikian, reaksi negative kepada guru kadang-kadang
meningkat sedikit setelah anak lebih suka bergaul dengan teman sebaya daripada
dengan orang dewasa.

Setiap tahun berganti, anak kecil semakin kurang menggunakan waktunya dengan
orang dewasa dan hanya memperoleh kesenangan sedikit dari pergaulan dengan orang
dewasa. Pada saat yang sama, minat mereka terhadap teman sepermainan yang
berusia sebaya semakin bertambah dan kesenangan yang mereka peroleh dari
pergaulan ini semakin kuat. Dengan berkembangnya keinginan terhadap kebebasan,
anak-anak mulai melawan otoritas orang dewasa.
Walaupun ingin mandiri, anak-anak masih berusaha memperoleh perhatian dan
penerimaan dari orang dewasa. Jika mereka telah memperoleh kepuasan dari perilaku
kelekatan pada masa kanak-kanak, mereka akan terus berusaha membina hubungan
yang bersahabat dengan orang dewasa, terutama anggota keluarga.

5). Hubungan Dengan Anak Lain

Sebelum usia dua tahun, anak kecil terlibat dalam permainan searah. Meskipun dua
atau tiga orang anak bermaindidalam ruangan yang sama dan dengan jenis mainan
yang sama, interaksi social yang terjadi sangat sedikit. Hubungan mereka terutama
terdiri atas meniru atau mengamati satu sama lain atau berusaha mengambil mainan
anak lain.

Sejak umur tiga atau empat tahun, anak-anak mulai bermain bersma dalam kelompok,
berbicara satu sama lain pada saat bermain, dan memilih dari anak-anak yang hadir
siapa yang akan dipilih untuk bermain bersama. Perilaku yang umum dari kelompok
ini ialah mengamati satu sama lain, melakukan percakapan, dan memberikan saran
lisan.

Studi terhadap anak-anak dalam masa prasekolah telah membuktikan bahwa dengan
semakin meningkatnya usia anak, pendekatan yang ramah meningkat dan interaksi
permainan semakin berkurang. Tahun demi tahun anak laki-laki semakin melakukan
pendekatan yang ramah tetapi juga semakin melakukan pendekatan yang bermusuhan
dengan anak lain.

6). Perkembangan Sosial Pada Masa Kanak-Kanak Akhir

Setelah anak memasuki sekolah dan melakukan hubungan yang lebih banyak dengan
anak laindibandingakan degan ketika masa prasekolah, minat pada kegiatan keluarga
berkurang. Pada saat yang sama permainan yang bersifat individual menggantikan
permainan kelompok. Karena permainan kelompok membutuhkan sejumlah teman
bermain, lingkungan pergaulan social anak yang lebih tua secara bertahap bertambah
luas. Dengan berubahnya minat bermain, keinginan untuk bergaul dengan dan untuk
diterima oleh anak-anak diluar rumah bertambah.

Pada waktu mulai sekolah, anak memasuki “usia gang”, yaitu usia yang pada saat itu
kesadaran social berkembang pesat. Menjadi pribadi yang social merupakan salah satu
tugas perkembangan yang utama dalam periode ini. Anak menjadi anggota suatu
kelompok teman sebaya yang secara bertahap menggantikan keluarga dalam
mempengaruhi perilaku. Kelompok teman sebaya didefinisikan oleh Havighurst
sebagai suatu “kumpulan orang yang kurang lebih berusia sama yang berfikir dan
bertindak bersama-sama”.

Pada masa transisi dari usia pragag masa kanak-kanak akhir, anak beralih dari satu
kelompok kekelompok lain atau dari aktivitas kelompk ke aktivitas individual. Tahap
“kelompok yang tidak tetap” menjembatani celah antara usia pragang dan usia gang.
Kelompok bermain informal pada masa sekolah awal hanya terdiri atas dua atau tiga
anak. Kelompok itu dibentuk untuk melakukan suatu aktivitas bermain yang spesifik
dan karenanya bersifat sementara. Aktivitas itu sendiri, yang bukan merupakan
persahabatan, merupakan dasar bagi pengorganisasian kelompok. Didalam kelompok,
kepemimpinan beralih dari anak yang satu ke anak yang lain, tergantung pada anak
mana yang mengambil inisiatif dalam suatu aktivitass tertentu. Pertengkaran singkat
banyak terjadi, tetapi hal ini tidak menimbulkan pengaruh yang permanent terhadap
susunan kelompok.

F. PERKEMBANGAN EMOSI

1. Pola Perkembangan Emosi

Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada pada bayi yang baru lahir.
Gejala pertama perilaku emosional adalah keterangsangan umum terhadap stimulasi
yang kuat. Keterangsangan yang berlebih-lebihan ini tercermin dalam aktivitas yang
banyak pada bayi yang baru lahir. Meskipun demikian, pada saat bayi lahir, bayi tidak
memperlihatkan reaksi yang secara jelas dapat dinyatakan sebagai keadaan emosional
yang spesifik.

Seringkali sebelum lewatnya periode neonate, keterangsangan umum pada bayi yang
baru lahir dapat dibedakan menjadi reaksi yang sederhana yang mengesankan tentang
kesenangan dan ketidaksenangan. Reaksi yang tidak menyenangkan dapat diperoleh
dengan cara mengubah posisi secara tiba-tiba, sekonyong-konyong membuat suara
keras, merintangi gerakan bayi, membiarkan bayi mengenakan popok yang basah, dan
menempelkan sesuatu yang dingin pada kulitnya. Rangsangan semacam itu
menyebabkan timbulnya tangisan dan aktivitas besar. Sebaliknya, reaksi yang
menyenangkan tampak jelas tatkala bayi menetek. Reaksi semacam itu juga dapat
diperoleh dengan cara mengayun-ayunkannya, menepuk-nepuknya, memberikan
kehangatan, dan membopongnya dengan mesra. Rasa senang pada bayi dapat terlihat
dari relaksasi yang menyeluruh pada tubuhnya, dan dari suara yang menyenangkan
berupa mendekut dan mendeguk.

Bahkan sebelum bayi berusia satu tahun, ekspresi emosional diketahui serupa dengan
ekspresi pada orang dewasa. Lebih jauh lagi, bayi menunjukkan berbagai macam
reaksi emosional yang semakin banyak, antara lain kegembiraan, kemarahan,
ketakutan, dan kebahagiaan. Reaksi ini dapat ditimbulkan dengan cara memberikan
berbagai macam rangsangan yang meliputi manusia serta objek dan situasi yang tidak
efektif bagi bayi ynag lebih muda.

Bukan hanya pola emosi umum yang mengikuti alur yang dapat diramalkan, tetapi
pola dari berbagai macam emosi juga dapat diramalkan. Sebagai contoh, reaksi
ledakan marah (temper tantrums) mencapai puncaknya pada usia antara dua dan
empat tahun, dan kemudian diganti dengan pola ekspresi yang lebih matang, seperti
cemberut dan sikap Bengal.

2. Variasi dalam Pola Perkembangan Emosi

Terdapat variasi dari segi frekuensi, intesitas serta jangka waktu dari berbagai macam
emosi, dan juga usia pemunculannya. Variasi ini sudah mulai terlihat sebelum masa
bayi berakhir dan semakin sering terjadi dan lebih menyolok dengan meningkatnya
usia kanak-kanak.
Dengan meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lebih lunak
karena mereka harus mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang
berlenihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang menyenangkan
lainnya. Selain itu, karena anak-anak mengekang sebagian emosi mereka, emosi
cenderung bertahan lebih lamadaipada dengan jika emosi itu diekspresikan secara
lebih kuat.

Variasi itu disebabkan oleh keadaan fisik anak pada saat itu dan taraf intelektualnya,
dan sebagian lagi disebabkan oleh kondisi lingkungan. Anak yang sehat cenderung
kurang emosional, dibandingkan dengan anak yang kurang sehat. Sedangkan ditinjau
sebagai suatu kelompok, anak-anak yang pandai bereaksi lebih emosional terhadap
berbagai rangsangan dibandingkan dengan anak-anak yang kurang pandai. Mereka
juga cenderung lebih mampu mengendalikan ekspresi emosi.

Variasi dipengaruhi oleh reaksi social terhadap perilaku emosional. Apabila reaksi
social ini tidak menyenangkan, misalnya pada rasa takut atau cemburu, emosi tersebut
akan jarang tampak dan terwujud dalam bentuk yang lebih terkendali dibandingkan
dengan apabila reaksi social yang mereka terima menyenangkan.

Keberhasilan emosi yang memenuhi kebutuhan anak mempengaruhi variasi pola
emosi. Jika ledakan marah berhasil memenuhi kebutuhan anak akan perhatian dan
memberikanapa yang mereka inginkan. Mereka tidak hanya akan terus menggunakan
perilaku tersebut untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Ditinjau sebagai suatu kelompok, anak laki-laki lebih sering dan lebih kuat
mengekspresikan emosi yang sesuai dengan jenis kelamin mereka, misalnya marah,
dibandingkan dengan emosi yang dianggap lebih sesuai bagi perempuan, misalnya
takut, cemas, dan kasihsayang. Rasa cemburu dan marah lebih umum terdapat
dikalangan keluarga besar sedangkan rasa iri lebih umum terdapat dikalangan
keluarga kecil. Rasa cemburu dan ledakan marah juga lebih umum dan lebih kuat
dikalangan anak pertama dibandingkan dengan anak yang lahir kemudian dalam
keluarga yang sama.

Cara mendidik anak yang otoriter mendorong perkembangan rasa cemas dan takut
sedangkan cara mendidik yang (serba membolehkan) permisif atau demokratis
mendorong berkembangnya semangat dan rasa kasih saying. Anak-anak yang berasal
dari keluarga yang berstatus social rendah cenderung lebih mengembangkan rasa
takut dan cemas dibandingkandengan mereka yang berasal dari keluarga yang
berstatus social tinggi.

Ciri Khas Penampilan Emosi Anak

      Emosi yang kuat
      Emosi sering kali tampak
      Emosi bersifat sementara
      Reaksi mencerminkan individualitas
      Emosi berubah kekuatannya
      Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku

3. Pola Emosi yang Umum
Beberapa bulan setelah bayi lahir, muncul berbagai macam pola emosi. Pola yang
paling umum, rangsangan yang membangkitkan emosi dan reaksi yang khas dari
setiap pola dibawah ini, antara lain;

      Rasa Takut

Rangsangan yang umumnya menimbulkan rasa takut pada masa bayi ialah suara yang
keras, binatang, kamar yang gelap, tempat yang tinggi, berada seorang diri, rasa sakit,
orangyang tak dikenal, tempat dan obyek yang tidak dikenal.

Anak kecil lebih takut kepada benda-benda dibandingkan dengan bayi atau anak yang
lebih tua. Usia antara dua sampai enam tahun merupakan masa puncak bagi rasa takut
yang khas didalam pola perkembangan yang normal. Alasannya karena anak kecil
lebih mampu mengenal bahaya dibandingkan dengan bayi, tetapi kurangnya
pengalaman menyebabkan mereka kurang mampu mengenal apakah suatu bahay
merupakan ancaman pribadi atau tidak.

Dikalangan anak-anak yang lebih tua, rasa takut terpusat pada bahaya yang fantastis,
adikodrati (supernatural), dan samara-samar pada gelap dan mahluk imajinatif yang
diasosiasikan dengan gelap, pada kematian atau luka, pada berbagai elemen terutama
guntur dan kilat, serta karakter dalam dongeng, film, buku, komik, dan televisi. Anak
yang lebih tua mempunyai berbagai ketakutan yang berhubungan dengan diri atau
status, mereka takut gagal, takut dicemoohkan, dan takut “berbeda” dari anak lain.

      Rasa Malu

Merupakan bentuk ketakutan yang ditandai oleh penarikan diri dari hubungan dengan
orang lain yang tidak dikenal atau tidak sering berjumpa. Rasa malu selalu
ditimbulkan oleh manusia, bukan oleh binatangatau situasi. Studi terhadap bayi telah
menunjukkan bahwa selama pertengahan tahun pertama kehidupan, rasa malu
merupakan reaksi yang hamper universal terhadap orang yang tidak dikenalatau orang
yang sudah dikenal tetapi memakai baju atau tata rambut yang tidak seperti biasanya.
Ketakutan terhadap orang yang tidak dikenal yang menimbulkan rasa malu tampak
pada perubahan sikap bayi setelah mereka menjadi terbiasa mengenal kembali orang
yang tadinya sudah dikenal. Kemudian, umumnya bayi berhenti menangis dan
bereaksi dengan ramah. Rasa malu dengan kehadiran orang yang tidak dikenal sangat
umum pada tingkat usia ini sehingga tingkat usia ini sering disebut sebagai “usia yang
tidak dikenal” (the strange age) atau “periode ketakutan yang infantile”.

Pada bayi, reaksi yang umum terhadap rasa malu ialah menangis, memalingkan muka,
dari orang yang tidak dikenal, dan bergayut pada orang yang sudah akrab untuk
berlindung. Hanya apabila mereka telah yakin bahwa tidak ada bahaya yang nyata
barulah mereka mau mendekati orang yang tidak dikenal itu.

Anak yang lebih tua menunjukkan rasa malu dengan muka memerah, dengan
menggagap, dengan berbicara sesedikit mungkin, dengan tingkah yang gugup sperti
menarik-narik telinga atau baju, dengan menolehkan wajah kearah lain dan kemudian
mengangkatnya dengan tersipu-sipu untuk menatap orag yang tidak dikenal itu.
Mereka berusaha membuat diri mereka sesedikit mungkin menarik perhatian dengan
cara berpakaian seperti orang lainnya dan berbicara sesedikt mungkin.
G. PERKEMBANGAN KOGNITIF

Perbedaan-perbedaan individual dalam perkembangan kognitif bayi telah dipelajari
melalui penggunaan skala perkembangan atau tes intelegensi bayi. Adalah penting
untuk mengetahui apakah seorang bayi berkembang pada tingkat yang lambat ,
normal, atau cepat. Kalau seorang bayi berkembang pada tingkat yang lambat,
beberapa bentuk pengayaan cukup penting. Akan tetapi bila seorang bayi berkembang
pada suatu tahapan yang lebih maju, orang tua dapat dinasehati untuk memberi
mainan yang lebih “sulit” guna merangsang pertumbuhan kognitif mereka.

Dan skala mental pda perkembangan kognitif bayi meliputi pengukuran sebagai
berikut :

Perhatian pendengaran dan penglihatan terhadap rangsangan yang diberikan.

Manipulasi, seperti mengkombinasikan benda-benda atau menggoyang-goyangkan

Suatu mainan yang dapat menghasilkan bunyi. Interaksi dengan penguji,


Sumber: Diy4h’s wOrLd

								
To top