Drum adalah kelompok alat musik perkusi yang terdiri dari kulit yang direntangkan dan dipukul dengan tangan atau sebuah batang

Document Sample
Drum adalah kelompok alat musik perkusi yang terdiri dari kulit yang direntangkan dan dipukul dengan tangan atau sebuah batang Powered By Docstoc
					Beberapa
Isu
Seksualitas Sebagai Isu Perkembangan Remaja
Masa remaja diawali oleh datangnya pubertas, yaitu proses bertahap yang mengubah
kondisi fisik dan psikologis seorang anak menjadi seorang dewasa. Pada saat ini
terjadi peningkatan dorongan seks sebagai akibat perubahan hormonal. Selain itu,
karakteristik seks primer dan sekunder menjadi matang sehingga memampukan
seseorang untuk bereproduksi (Steinberg, 2002). Namun bukan hanya pubertas saja
yang menjadikan seksualitas sebagai isu penting dalam hal perkembangan remaja.

Dalam tahapan perkembangan psikososial yang yang dikemukan Erikson, dinyatakan
bahwa tugas utama yang dihadapi remaja adalah membentuk identitas personal yang
stabil, kesadaran yang meliputi perubahan dalam pengalaman dan peran yang mereka
miliki, dan memungkinkan mereka untuk menjembatani masa kanak-kanak yang telah
mereka lewati dan masa dewasa yang akan mereka masuki (Stevens-Long & Cobb,
1983). Pemahaman mengenai seksualitas seseorang merupakan bagian dari upaya
pembentukan identitas personal yang stabil, karena dengan mengembangkan sikap
yang sehat mengenai keberadaan diri sebagai makhluk seksual, seseorang juga
memahami nilai-nilai, keyakinan, sikap, dan batasan-batasan yang dimilikinya; dan
akan memampukannya untuk dapat merasa nyaman menjadi dirinya sendiri (Shibley,
1997).

Sebenarnya sebelum memasuki usia remaja, anak sudah memiliki keingintahuan akan
seks. Mereka bahkan dapat terlibat dalam aktifitas seksual. Mereka dapat berciuman,
masturbasi, bahkan melakukan sexual intercourse (Steinberg, 2002). Seperti yang
diungkapkan Weis (2000), kemampuan untuk berinteraksi secara erotis dan untuk
mengalami perasaan seksual, dengan sesama ataupun berbeda jenis kelamin, secara
jelas ditunjukkan pada usia 5 sampai 6 tahun. Dalam observasi yang dilakukan
Langfeldt (dalam Weis, 2000) menunjukkan anak laki-laki yang belum memasuki
pubertas dan sedang melakukan permainan seksual dengan anak lain menunjukkan
ereksi pada penisnya selama permainan seksual itu berlangsung. Bahkan Fond dan
Beach (dalam Weis, 2000) menemukan bahwa anak-anak yang memiliki kesempatan
mengamati kegiatan seksual yang dilakukan orang dewasa, cenderung terlibat dalam
persetubuhan pada usia minimal 6-7 tahun.

Namun dalam permainan seksual itu, anak tidak melakukan introspeksi dan refleksi
mengenai perilaku seksual (Steinberg, 2002). Mereka melakukannya karena tindakan
itu memberikan sensasi nikmat sebagai reward dari tindakan mereka itu. Tindakan
mereka lebih didasari oleh rasa ingin tahu daripada motivasi seksual yang
sesungguhnya (Sullivan dalam Steinberg, 2002). Berbeda dengan remaja yang sudah
mampu mengambil keputusan apakah ia akan terlibat dalam aktifitas seksual itu, dan
mempertimbangkan apakah pasangan akan menolaknya, apakah dirinya terlihat baik
di mata pasangannya, dan sebagainya.

Masa remaja menjadi sebuah titik balik dalam perkembangan seksualitas karena
menandakan awal mula seseorang bertingkah laku seksual karena memiliki motivasi
seksual yang disadari bermakna seksual secara eksplisit, oleh diri sendiri dan orang
lain (Steinberg, 2002). Dengan demikian remaja harus memenuhi tugas
perkembangan mereka, untuk memahami bagaimana menangani minat seksual
mereka dan menjadikan seks sebagai bagian dari kehidupan personal dan sosial
mereka (Steinberg, 2002).



Remaja dan Self-esteem
Menurut Reasoner (2004), sebanyak 12% individu menunjukkan adanya penurunan
self-esteem setelah memasuki sekolah menengah pertama, dan 13% memiliki self-
esteem yang rendah pada sekolah menengah. Remaja wanita dikatakan mengalami
kenaikan self-esteem pada usia antara 18 hingga 23 tahun melalui aspek-aspek moral
dan hubungan pertemanan. Pada remaja, perubahan self-esteem terjadi pada 3
dimensi, yakni dalam hubungan personal, ketertarikan dengan lawan jenis, serta
kompetensi dalam pekerjaan.

Permasalahan yang sering dialami dalam masa remaja adalah masalah tidak percaya
diri karena tubuhnya dinilai kurang / tidak ideal baik oleh orang lain maupun oleh
dirinya sendiri, atau merasa tidak memiliki kelebihan yang bisa dipakai sebagai modal
dalam bergaul. Rasa kurang percaya diri ini kemudian menyebar ke hal-hal yang lain,
misalnya malu untuk berhubungan dengan orang lain, tidak percaya diri untuk tampil
di muka umum, menarik diri, pendiam, malas bergaul dengan lawan jenis atau bahkan
kemudian menjadi seorang yang pemarah, sinis, dll. Dalam perkembangan sosial
remaja, self-esteem yang positif sangat berperan dalam pembentukan pribadi yang
kuat, sehat dan memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan, termasuk mampu
berkata "tidak" untuk hal-hal yang negatif dengan kata lain tidak mudah terpengaruh
berbagai godaan yang dihadapi seorang remaja setiap hari dari teman sebaya mereka
sendiri (peer pressure) (Utamadi, 2001).

Self-esteem yang rendah akan memperlemah hubungan yang dibina dengan orang
lain, sedangkan self-esteem yang tinggi akan mendukung remaja untuk
mengembangkan hubungan mereka dengan orang lain. Selain itu, Masters & Johnson
(2001) juga mengatakan bahwa self-esteem ini juga berpengaruh terhadap sikap
seseorang terhadap statusnya sebagai remaja. Seorang remaja yang memiliki self-
esteem yang positif maka ia tidak akan mudah terbawa godaan yang banyak
ditawarkan oleh lingkugan. Misalnya dari sebuah penelitian, ditemukan bahwa.
remaja yang mempunyai self-esteem rendah cenderung lebih mudah mencoba
menyalahgunakan obat-obatan atau mengkonsumsi napza.



Orientasi Masa Depan dalam Bidang Pendidikan
Di antara orientasi masa depan yang mulai diperhatikan pada usia remaja, orientasi
masa depan remaja akan lebih terfokuskan dalam bidang pendidikan. Hal ini
dinyatakan oleh Eccles (dalam Santrock, 2004), dimana usia remaja merupakan usia
kritis karena remaja mulai memikirkan tentang prestasi yang dihasilkannya, dan
prestasi ini terkait dengan bidang akademis mereka. Suatu prestasi dalam bidang
akademis menjadi hal yang serius untuk diperhatikan, bahkan mereka sudah mampu
membuat perkiraan kesuksesan dan kegagalan mereka ketika mereka memasuki usia
dewasa (Santrock, 2001).

Penelitian yang dilakukan Bandura (dalam Santrock, 2001) terkait dengan prestasi
remaja, diketahui kalau prestasi seorang remaja akan meningkat bila mereka membuat
suatu tujuan yang spesifik, baik tujuan jangka panjang maupun jangka pendek. Selain
itu, remaja juga harus membuat perencanaan untuk mencapai tujuan yang telah dibuat.
Dalam proses pencapaian tujuan, remaja juga harus memperhatikan kemajuan yang
mereka capai, dimana remaja diharapkan melakukan evaluasi terhadap tujuan,
rencana, serta kemajuan yang telah mereka capai (Santrock, 2001), sehingga dapat
dikatakan kalau orientasi masa depan yang dimiliki remaja akan lebih terkait dengan
bidang pendidikan.



Remaja dan Perilaku Konsumtif
Hurlock (1991) menyatakan salah satu ciri masa adalah masa yang tidak realistik.
Pada masa ini, umumnya remaja memandang kehidupan sesuai dengan sudut
pandangnya sendiri, yang mana pandangannya itu belum tentu sesuai dengan
pandangan orang lain dan juga dengan kenyataan. Selain itu, bagaimana remaja
memandang segala sesuatunya bergantung pada emosinya sehingga menentukan
pandangannya terhadap suatu objek psikologis. Sulitnya, emosi remaja umumnya
belum stabil. Secara psikososial terlihat perkembangan remaja pun memandang dan
menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan peran mereka sebagai konsumen.


Seiring perkembangan biologis, psikologis, sosial ekonomi tersebut, remaja memasuki
tahap dimana sudah lebih bijaksana dan sudah lebih mampu membuat keputusan
sendiri (Steinberg, 1996). Hal ini meningkatkan kemandirian remaja, termasuk juga
posisinya sebagai konsumen. Remaja memiliki pilihan mandiri mengenai apa yang
hendak dilakukan dengan uangnya dan menentukan sendiri produk apa yang ingin ia
beli. Namun di lain pihak, remaja sebagai konsumen memiliki karakteristik mudah
terpengaruh, mudah terbujuk iklan, tidak berpikir hemat, kurang realistis

Dalam kaitannya dengan perilaku remaja sebagai konsumen, walaupun sebagian besar
tidak memiliki penghasilan tetap, tetapi ternyata mereka memiliki pengeluaran yang
cukup besar. Sebagian besar remaja belum memiliki pekerjaan tetap karena masih
sekolah. Namun, para pemasar tahu bahwa sebenarnya pendapatan mereka tidak
terbatas, dalam arti bisa meminta uang kapan saja pada orang tuanya (Loudon & Bitta,
1984).

Salah satu fungsi aktivitas remaja adalah fungsi ekonomi. Jumlah populasi remaja dan
fakta bahwa remaja kurang terampil dalam mengelola keuangan daripada kelompok
usia lainnya yang menyebabkan remaja menjadi target menarik bagi bermacam-
macam bisnis (Fine et al., 1990 dalam Steinberg, 2000). Dalam usianya, remaja
cenderung belanja lebih impulsive, dimana usia 18-39 tahun kecenderungan belanja
impulsive meningkat (Wood, 2003).



Remaja dan keluarga
Keluarga merupakan suatu sistem yang bersifat dinamis. Keluarga merupakan sistem
yang hampir sama dengan manusia, ia berkembang berdasarkan waktu. Perubahan
terjadi di dalam keluarga, keluarga pada waktu anak berada pada tahap perkembangan
anak berbeda dengan keluarga pada waktu anak sudah beranjak dewasa.


Pada umumnya orang tua yang memiliki anak yang sudah berada dalam tahap
perkembangan remaja berada pada usia 35-40 tahun. Pada usia ini orang tua sering
mengadakan perubahan dari kehidupannya sebelumnya. Orang tua mulai untuk
menarik diri dan cara berpikirnya berusaha untuk mencari cara yang aman.
Tidak hanya orang tua yang bertambah usianya, anak pun mulai beranjak remaja. Ia
mulai untuk bersikap mandiri. Perubahan pada orang tua membawa dampak pada
hubungan remaja dengan orang tua. Sebelumnya, anak mencari nasihat dari orang
tua, sedangkan sekarang remaja mulai merasa dirinya lebih mudah dipahami oleh
teman-temannya. Remaja sering merasa orang tua kurang memberi kebebasan yang
bertanggung jawab. Orang tua tetap bersikap otoriter. Perbedaan perilaku dan
kebutuhan ini mengaibatkan keduanya berada dalam permasalahan. Perubahan-
perubahan yang ada di dalam keluarga ini membuat keluarga berada dalam keadaan
yang tidak seimbang, maka perlu dicari pemecahannya agar keluarga berada kembali
dalam keadaan yang homeostatis.

Kebutuhan dari masing-masing pihak, baik dari orang tua maupun dari anak yang
berada pada masa remaja ini ingin dipenuhi. Menurut Mappiare (1982), kebutuhan
remaja yang menuntut pemenuhan dari orang tua adalah pengakuan sebagai orang
yang mampu untuk menjadi dewasa, perhatian dan kasih sayang.
Kontrol dari orang tua juga menjadi hal yang penting bagi remaja, menurut Blood
(dalam Purwati,1989), ada bebepa hal yang berkaitan dengan kontrol orang tua, yaitu:

1. Dalam menentukan standar dari tingkah laku yang dituju

a. Bagaimana ketepatan dan kejelasan peraturan yang dibuat (firmness).

Jika orang tua menetapkan patokan (standart) yang jelas dan pasti bagi anak –
anaknya dimana disertai dengan kebebasan di dalam patokan yang telah ditentukan,
maka anak akan mendapat lingkungan yang baik bagi perkembangan sosialnya. Jika
orang tua tidak memberikan patokan dan peraturan yang jelas maka berarti anak tidak
dilindungi dari arah perkembangan yang dapat membahayakan penyesuaian sosial
maupun kepribadiannya.

b. Konsistensi


Jika norma – norma atau peraturan yang diberikan ingin efektif, maka peraturan
tersebut haruslah dimengerti, jelas dan konsisten dalam pelaksanaannya.
Ketidakjelasan dapat tampil jika kedua orang tua menerapkan peraturan yang berbeda,
atau dalam pelaksanaannya seringkali tak tetap. Dari hasil penelitian Peck (1958)
didapatkan bahwa anak – anak dari keluarga yang menetapkan konsistensi dari
peraturan yang ditetapkan akan membentuk anak yang secara emosi matang, kata
hatinya kuat, dan mampu untuk menepati peraturan – peraturan sosial.

c. Peraturan yang dapat diterapkan
Mengharapkan terlalu banyak atau terlalu rendah akan patokan – patokan yang harus
dikuasai anak, tidak akan membentuk anak menjadi matang. Jika standar terlalu
rendah anak menjadi tidak terdorong untuk maju, jika terlalu tinggi anak akan kecewa
karena tidak dapat mencapainya. Jadi standar yang ditentukan harus disesuaikan
dengan tingkatan usia dengan kondisi seperti ini anak akan terdorong maju untuk
menguasai sesuatu tujuan.

d. Penjelasan (reasoning)


Peraturan yang diiringi penjelasan akan mampu membentuk kontrol yang bersifat
intrinsik, sedangkan jika tanpa penjelasan maka anak tidak akan mampu untuk
mematuhinya karena peraturan tersebut bersifat eksternal, dimana kepatuhan yang ada
hanya tergantung dengan adanya kehadiran orang tua saja.

e. Mendengarkan (Listening)


Penjelasan peraturan pada anak tidak saja hanya berbicara pada anak tapi juga
mendengarkan reaksi dari anak. Dengan mendengarkan, orang tua dapat penegasan
apakah anak dapat mengerti tentang hal – hal yang dibicarakan. Selain itu juga dapat
menjadi tempat untuk memecahkan masalah jika anak merasa permintaan orang tua
tidak dapat diterima. Dalam hal ini anak dan orang tua dapat bersama – sama mencari
alternatif, sehingga dapat sampai pada tujuan yang ingin dicapai. Kondisi ini juga
mengembangkan suasana penghargaan terhadap anak dan orang tua.

2. Memperkuat proses belajar
Teori belajar mengatakan bahwa suatu respon harus diberi ‘reward’ (hadiah) jika
ingin diperkuat. Dalam hal ini bagaimana respon orang tua akan menentukan
kecepatan suatu respon dipelajari oleh seorang anak.

Pengarahan dan percayaan
Pada masa kanak – kanak orang tua diharapkan untuk memberi pengarahan secara
konsisten, agar ia mampu untuk menguasai tugas – tugas perkembangannya.

Sedangkan semakin dewasa anak, anak lebih membutuhkan kepercayaan dari orang
tua untuk dapat melaksanakan tugasnya, keperayaan yang diebrikan orang tua bahwa
ia ammpu menyelesaikan tugas – tugas yang telah disepakati bersama, merupakan
suatu ‘incentives’ tersendiri.

Hadiah dan hukuman
Jika seorang anak mampu menyelesaikan suatu tugas, pemberian hadian akan
memperkuat rasa kemampuannya, kompensasi terhadap kesulitan – kesulitan yang
dialaminya, dan memperkuat keinginan untuk mengulangi tingkah lakunya. Jika anak
tidak dapat menyelesaikan suatu tugas ia tidak akan mendapatkan hadiah. Sebaiknya
pemberian hukuman dihindarkan, karena berakibat menyakitkan baik secara fisik
maupun psikologis, selain itu akan timbul rasa dendam yang akan menghalangi proses
sosialisasi. Hadiah dan hukuman dapat dibagi dalam bentuk fisikan dan bersifat
psikologis. Secara umum hadiah yang bersifat psikologis lebih efektif dibandingkan
dengan hukuman yang bersifat fisik.

Dengan demikian kontrol menjadi hal penting dari orang tua pada remaja dalam
mengatasi permasalahan remaja yang berkaitan dengan kebutuhan remaja untuk diberi
kebebasan. Namun tidak hanya remaja yang memiliki permasalahan, orang tua juga
memiliki permasalahan dengan remaja.

Orang tua juga sering merasa tidak diperhatikan, anak remajanya lebih senang
meluangkan waktu lebih banyak dengan teman – temannya, sehingga orang tua
merasa membutuhkan perhatian dari anak remajanya lebih banyak. Untuk mencapai
hal tersebut, maka interaksi yang baik sangat dibutuhkan. Dukungan dari remaja bagi
orang tuanya dibutuhkan, demikian juga dukungan dari orang tua sangat dibutuhkan
remaja. Dukungan ini dapat diperoleh jika masing-masing pihak mau bekerja sama
untuk mencapainya. Remaja sangat membutuhkan orang tuanya dalam mencari
identitas dirinya, yang pada masa ini sedang dicari.

Menurut Gerald (1983), keluarga menyediakan 3 fungsi dasar sebelum, selama dan
setelah masa remaja. 3 fungsi ini tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh peergroups /
struktur sosial yang lain sepanjang hidup. 3 fungsi tersebut adalah:

Keluarga menyediakan ‘sense of cohesion’


Kohesi ini atau ikatan emosi membuat kondisi untuk identifikasi dengan kelompok
dasar yang utama dan meningkat secara emosional, intelektual dan kedekatan fisik

Keluarga menyediakan model kemampuan adaptasi.


Keluarga mengilustrasikan melalui fungsi dasar bagaimana sebuah struktur kekuatan
dapat berubah, bgaimana peran hubungan dapat berkembang dan begaimana peraturan
hubungan dapat terbentuk. Remaja yang memiliki pengalaman tipe keluarga yang
rigid (rendah tingkat adaptasinya) cenderung terinternalisasi gaya interaksi yang rigid.
Sebaliknya, terlalu banyak kemampuan adaptasi dapat membuat gaya ‘chaotic’.
Keseimbangan penting untuk fungsi ini, hal yang sama juga dengan kohesi.

Keluarga menyediakan sebuah jaringan komunikasi


Melalui pengalaman dimana individu belajar seni dari pembicaraan, interaksi,
mendengarkan dan negosiasi.



Sumber pustaka menyusul

Reasoner, R. (2004). The True Meaning of Self-Esteem. http://www.self-esteem-
nase.org/whatisselfesteem.shtml
Drum adalah kelompok alat musik perkusi yang terdiri dari kulit yang direntangkan
dan dipukul dengan tangan atau sebuah batang. Selain kulit, drum juga digunakan dari
bahan lain, misalnya plastik. Drum terdapat di seluruh dunia dan memiliki banyak
jenis, misalnya kendang, timpani, Bodhrán, Ashiko, snare drum, bass drum, tom-tom,
beduk, dan lain-lain.

Dalam musik pop, rock, dan jazz, drums biasanya mengacu kepada drum kit atau
drum set, yaitu sekelompok drum yang biasanya terdiri dari snare drum, tom-tom,
bass drum, cymbal, hi-hat, dan kadang ditambah berbagai alat musik drum listrik.
Orang yang memainkan drum set disebut "drummer"
Cello Nama cello adalah singkatan dari kata dalam bahasa Italia violoncello, yang
berarti "violone kecil". Violone adalah sebuah instrumen yang kuno, sebuah viol
besar, yang mirip dengan bass modern.

Cello paling erat terkait dengan musik klasik Eropa. Ia adalah bagian dari orkestra
standar dan memberikan suara bas dalam sebuah kuartet gesek, serta bagian dari
banyak kelompok musik kamar. Sejumlah besar concerto dan sonata telah digubah
untuknya. Alat musik ini kurang lazim dalam musik pop, namun kadang-kadang
ditampilkan dalam rekaman-rekaman pop dan rock.

Di antara karya-karya Barok yang paling terkenal untuk cello adalah karya J. S. Bach
Unaccompanied Suites for Cello, yang biasanya dikenal sebagai Bach Cello Suites.
Sebuah contoh lagu era klasik adalah karya Haydn Cello Concerto #1 in C major.
Repertoar standar era romantik termasuk Cello Concerto in B minor oleh Antonín
Dvořák, Cello Concerto in E minor oleh Elgar, dan dua sonata oleh Brahms.
Komposisi-komposisi modern dari awal abad ke-20 termasuk sonata-sonata cello
tanpa iringan oleh Paul Hindemith (opus 25) dan Zoltán Kodály (opus 8). Rekaman-
rekaman di dalam genre Avant Garde telah menghidupkan kembali keluwesan alat
musik ini. Contohnya adalah Night of the Four Moons oleh George Crumb.
Biola adalah sebuah alat musik dawai yang dimainkan dengan cara digesek. Biola
memiliki empat senar (G-D-A-E) yang disetel berbeda satu sama lain dengan interval
sempurna kelima. Nada yang paling rendah adalah G. Di antara keluarga biola, yaitu
dengan viola dan cello, biola memiliki nada yang tertinggi. Alat musik dawai yang
lainnya, bas, secara teknis masuk ke dalam keluarga viol. Kertas musik untuk biola
hampir selalu menggunakan atau ditulis pada kunci G.

Sebuah nama yang lazim dipakai untuk biola ialah fiddle, dan biola seringkali disebut
fiddle jika digunakan untuk memainkan lagu-lagu tradisional (lihat di bawah).

Di dalam bahasa Indonesia, orang yang memainkan biola disebut pemain biola
(pebiola), atau violinis (Inggris: Violinist - bedakan dengan violis atau pemain viola).
Orang yang membuat atau membetulkan alat musik berdawai disebut luthier.
Harmonika adalah sebuah alat musik yang paling mudah dimainkan. Hanya tinggal
meniup dan menghisapnya harmonika akan mengeluarkan suara yang cukup bagus.
Harmonika berasal dari alat musik tradisional China yang bernama 'Sheng' yang telah
digunakan kira-kira 5000 tahun yang lalu sejak kekaisaran Nyu-kwa.

Harmonika modern ditemukan pada tahun 1821 oleh Christian Friedrich Buschmann.
Sebuah instrumen musik tiup sederhana yang terdiri dari plat-plat getar dari logam
yang disusun secara horozontal dengan desain yang kurang baik dan hanya
menyediakan nada tiup kromatis.

Desain awal dari Buschmann akhirnya banyak ditiru dan dimodifikasi menjadi lebih
baik. Salah satu contohnya adalah harmonika buatan Richter yang merupakan desain
awal dari sebuah harmonika modern. Pada tahun 1826 ia mengembangkan variasi
harmonika dengan 10 lubang tetap dan 20 pelat getar dengan pemisahan fungsi pelat
yang ditiup dan yang dihisap. Pada akhirnya, nada yang dibuat oleh Richter disebut
sebagai nada diatonis dan merupakan nada standard harmonika.

Bisnis instrumen Harmonika dimulai pada tahun 1857 saat pengrajin jam Jerman
bernama Matthias Hohner memutuskan untuk menjadi produsen harmonika. Dengan
bantuan dari keluarganya, ia dapat memproduksi 650 harmonika tahun itu. Hohner
memperkenalkan harmonika ke Amerika Utara pada 1862 sebuah langkah yang
membawa pabrikan Hohner menjadi produsen nomor satu utnuk harmonika. Pada
1887 Hohner telah memproduksi lebih dari 1 juta harmonika per tahunnya. Sekarang,
Hohner telah memproduksi lebih dari 90 model harmonika yang berbeda jenis, nada,
dan model. Yang memungkinkan untuk memainkan berbagai macam gaya musik
mulai dari pop, blues, rock, country, ska dan bermacam-macam lainnya.
Banjo adalah alat musik petik yang dikembangkan oleh budak Afrika di Amerika
Serikat, dan merupakan gabungan beberapa alat musik Afrika. Nama banjo umumnya
dianggap berasal dari istilah Kimbundu, mbanza. Meski demikian, penelitian
menyatakan bahwa istilah ini mungkin berasal dari istilah Senegambia yang
menunjuk pada tongkat bambu yang digunakan untuk leher alat musik ini.

      Artikel bertopik musik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu
      Wikipedia dengan mengembangkannya.
Terompet adalah alat musik tiup logam. Terletak pada jajaran tertinggi di antara tuba,
eufonium, trombon, sousafon, French horn, dan Bariton. Terompet di-pitch di
B♭  .Terompet hanya memiliki tiga tombol, dan pemain trompet harus menyesuaikan
embouchure untuk mendapatkan nada yang berbeda. Jenis yang paling umum adalah
            ,                     ,
trompet B♭ tapi trompet C, D, E♭ E, F, G dan A juga dapat ditemukan. Trompet C
paling umum dipakai dalam orkestra Amerika, dengan bentuknya yang lebih kecil
memberikan suara yang lebih cerah, dan hidup dibandingkan dengan trompet B♭      .




Harpa atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Harp adalah merupakan jenis alat
musik petik. Seringkali alat musik ini diilustrasikan bersama dengan para malaikat.
Bentuknya tinggi, umumnya berwarna emas, dan memiliki senar. Biasanya berbentuk
dasar segitiga. Seringkali hadir bersamaan dengan orkes simphony, bersamaan dengan
suara vokal, suara flute, atau bisa juga dengan jazz bass dan drum.Sebuah harpa dapat
dimainkan baik dengan tangan, ataupun dengan tangan dan kaki, seperti yang ditemui
pada pedal harp. Harpa dapat dimainkan secara solo, atau bisa juga dalam bagian
sebuah ensemble.Namun lepas dari keseluruhan itu, baik dimana ataupun bagaimana
harpa dimainkan, Harpa dapat menciptakan sebuah dentingan yang sangat
indah.Harpa memiliki berbagai jenis variasi bentuk, ukuran, dan berat. Namun
kesemuanya itu tetap memiliki tiga bagian utama, yaitu:

   1. Papan suara (Sound board)
   2. Leher (Neck)
   3. Senar (String)
Harpa Modern biasanya berbentuk triangular. Variasi ukuran sebuah harpa bisa
mencapai dua kaki (60 cm) hingga enam kaki (180 cm) dan memiliki 22 sampai 47
buah senar. Harpa dengan ukuran yang lebih kecil bisa dipangku sambil dimainkan.
Sedangkan yang berukuran besar biasanya diletakkan di lantai.Harpa dapat ditemui
dengan bentuk dan ukuran yang lebih variatif dibandingkan dengan alat musik/
instrumen lain. Harpa merupakan salah satu intrument yang tertua, dan konon telah
digunakan sejak zaman Mesir kuno, dan untuk jenis Harpa yang terbaru, adalah Harpa
Elektrik.




Simbal merupakan alat musik yang telah dimainkan sejak Zaman kuno. Alat musik
ini dimainkan dengan memukul. Jenis alat musik seperti itu di sebut juga perkusi.
Pemmbuat simbal terkanal dari Turki hingga kini membuat simbal dari campuran
logam dengan rumus campuran tetap dan dijaga kerahasianya. Simbal ini masuk
dalam alat musik yang bertempo cadas.
Klarinet adalah instrumen musik dari keluarga woodwind. Namanya diambil dari
penambahan akhiran "-et" yang berarti "kecil" pada kata Itali "clarino" yang berarti
"trompet". Sama seperti saksofon, klarinet dimainkan dengan menggunakan satu reed.
Klarinet merupakan keluarga instrumen terbesar, dengan ukuran dan pitch yang
berbeda-beda. Kata klarinet umumnya merujuk pada soprano klarinet B♭ yang ,
merupakan klarinet terumum. Pemain klarinet disebut klarinetis.




Snare drum merupakan drum yang dilengkapi dengan beberapa baris tali senar
(terbuat dari kabel baja, atau plastik) yang direntangkan secara melintang pada
membran yang terdapat pada sisi sebelah bawah. Beberapa jenis snare drum yang
umumnya digunakan dalam organisasi kemiliteran menambahkan sejumlah senar
tambahan pada sisi bawah sebelah dalam dengan tujuan untuk mendapatkan suara
yang lebih jernih, caixa brazil bahkan meletakkan senar pada membran di sisi atas.
Snare drum merupakan salah satu komponen drum terpenting (jika bukan yang
terpenting) pada drum kit. Pemanfaatannya dalam musik populer, terutama pada drum
kit rock (musik), snare drum biasanya digunakan untuk memainkan pola backbeat
Gitar akustik adalah jenis gitar dimana suara yang dihasilkan berasal dari getaran
senar gitar yang dialirkan melalui sadel dan jembatan tempat pengikat senar ke dalam
ruang suara. Suara di dalam ruang suara ini akan beresonansi terhadap kayu badan
gitar. Jenis kayu akan mempengaruhi suara yang dihasilkan oleh gitar akustik.

       Artikel bertopik musik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu
       Wikipedia dengan mengembangkannya.




Piano adalah alat musik yang dimainkan dengan jari-jemari tangan. Pemain piano
disebut pianis.

Pada saat awal-awal diciptakan, suara piano tidak sekeras piano abad XX-an, seperti
piano yang dibuat oleh Bartolomeo Cristofori (1655 – 1731) buatan 1720. Pasalnya,
tegangan senar piano kala itu tidak sekuat sekarang. Kini piano itu dipajang di
Metropolitan Museum of Art di New York.

Meskipun siapa penemu pertama piano, yang awalnya dijuluki gravecembalo col
piano e forte (harpsichord dengan papan tuts lembut dan bersuara keras), masih
menjadi perdebatan, banyak orang mengakui, Bartolomeo Cristofori sebagai
penciptanya. Piano juga bukan alat musik pertama yang menggunakan papan tuts dan
bekerja dengan dipukul. Alat musik berprinsip kerja mirip piano telah ada sejak 1440.

Piano sendiri lahir dari keinginan untuk menggabungkan keindahan nada clavichord
dengan kekuatan harpsichord. Hasrat itu mendorong Marius dari Paris (1716),
Schroter dari Saxony (1717), dan Christofori (1720) dari Padua, Italia, untuk
membuat piano. Namun, hasil utuh dan lengkap cuma ditunjukkan Bartolomeo
Christofori. Dari piano ciptaan pemelihara harpsichord dan spinet (harpsichord kecil)
di Istana Florentine - kediaman Pangeran Ferdinand de’Medici - inilah piano modern
berakar.

Pada pertengahan abad XVII piano dibuat dengan beberapa bentuk. Awalnya, ada
yang dibuat mirip desain harpsichord, dengan dawai menjulang. Piano menjadi lebih
rendah setelah John Isaac Hawkins memodifikasi letaknya menjadi sejajar lantai.
Lalu, dengan munculnya tuntutan instrumen musik lebih ringan, tidak mahal, dan
dengan sentuhan lebih ringan, para pembuat piano Jerman menjawabnya dengan
piano persegi. Sampai 1860 piano persegi ini mendominasi penggunaan piano di
rumah.

Rangka untuk senar piano pertama menggunakan rangka kayu dan hanya dapat
menahan tegangan ringan dari senar. Akibatnya, ketika pada abad XIX dibangun
gedung-gedung konser berukuran besar, suara piano tadi kurang memadai. Maka,
mulailah dibuat piano dengan rangka besi. Sekitar tahun 1800 Joseph Smith dari
Inggris membuat suatu piano dengan rangka logam seluruhnya. Piano hasil inovasinya
mampu menahan tegangan senar sangat kuat, sehingga suara yang dihasilkan pun
lebih keras. Sekitar 1820, banyak pembuat menggunakan potongan logam untuk
bagian piano lainnya. Pada 1822, Erard bersaudara mematenkan double escapement
action, yang merupakan temuan tersohor dari yang pernah ada berkaitan dengan cara
kerja piano.

Dalam perkembangannya, sebelum memiliki 88 tuts seperti sekarang, piano memiliki
lima oktaf dan 62 tuts. Ia juga dilengkapi dengan pedal. Semula pedal itu digerakkan
dengan lutut. Namun, kemudian pedal kaki yang diperkenalkan di Inggris menjadi
populer hingga sekarang.

Sejumlah pengembangan berlanjut pada abad XIX dan XX. Tegangan senar, yangg
semula ditetapkan 16 ton pada tahun 1862, bertambah menjadi 30 ton pada piano
modern. Hasilnya adalah sebuah piano dengan kemampuan menghasilkan nada yang
tidak pernah dibayangkan Frederic Chopin, Ludwig van Beethoven, dan bahkan Franz
Liszt.



Sebuah perkembangan nyata di abad XX (berawal di tahun 1930-an) adalah kehadiran
piano elektronik (atau piano listrik), yang didasarkan pada teknologi elektroakustik
atau metode digital. Nada suaranya terdengar melalui sebuah amplifier dan
loudspeaker.

Dari sisi mutu suara, piano elektronik nyaris tak ada bedanya dengan piano biasa.
Perbedaan terletak pada berbagai fitur yang melengkapinya. Fitur itu tentu tidak ada
sama sekali dalam piano biasa. Misalnya, bisa dihubungkan dengan perangkat MIDI,
komputer, alat rekam; memiliki pengatur volume, tusuk kontak untuk pendengar
kepala; dan sebagainya.
Gendang karo atau gendang lima si dalinen terdiri dari lima perangkat alat musik
tabuh (perkusi) yang dimainkan oleh lima orang pemusik. Kelima perangkat tersebut
adalah satu penaruné, dua penggual, dan dua si malu gong. Gendang Lima sedalanen
disebut karena ensambel musik tersebut terdiri dari lima instrumen musik, yaitu
Sarune (aerofon), gendang indung (membranofon), gendang anak (mebranofon, gung,
dan penganak. Namun biasa juga disebut dengan gendang lima sedalanen, ranggutna
sepulu dua, yaitu angka dua belas untuk hitung-hitungan perangkat yang
dipergunakan seluruhnya, termasuk stik atau alat memukul instrumen musik tersebut.

Jika diklasifikasi berdasarkan ensambel musik, sebenarnya gendang Karo terdiri dari
gendang lima sedalanen dan gendang telu sedalanen. Gendang telu sedalanen adalah
terdiri dari tiga instrumen musik yang dimainkan secara bersamaan, yang terdiri dari
kulcapi (long neck lute) sebagai pembawa melodi, keteng-keteng (idiokordofon, tube-
zhyter) sebagai pembawa ritmis, dan mangkuk mbentar (idiofon) sebagai pembawa
tempo.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:1274
posted:3/17/2010
language:Indonesian
pages:17