Boleh nggak sich merayakan valentine day by langitka9s

VIEWS: 9 PAGES: 3

									Boleh Nggak sih Merayakan Valentine?

Bentar lagi banyak orang, media, pebisnis merayakan hari yang nggak jelas ini ...

Tidak diketahui pasti sejak kapan Valentine‟s Day dirayakan di Indonesia. Namun sekitar
pertengahan 1980-an, perayaan Valentine‟s Day sudah dilakukan para remaja Indonesia di kota-kota
besar.

Hari Kasih Sayang atau yang lebih „modern‟ disebut sebagai Hari Valentine (Valentine‟s Day),
berasal dari suatu ritual paganisme, ritual satanis, yang penuh dengan kemaksiatan. Ritual kuno ini
di zaman Romawi dikenal sebagai Lupercalia Festival, di mana para pemuda dan pemudi
diperbolehkan melakukan kemaksiatan secara bebas di mana pun mereka mau.

Agama Kristen yang datang kemudian dan menjadi agama resmi Roma di ssaat Kaisar Konstantin,
mengadopsi ritual ini dan memolesnya dengan mitos Santo Valentinus yang oleh gereja sendiri
diakui tidak bisa dipastikan asal-muasalnya. Belakangan, pada sekitar tahun 1960-an, Gereja
Vatikan menghapus perayaan Valentine ini dari Kalender Gereja dan melarang umatnya untuk ikut-
ikutan merayakan ritual tersebut karena jelas-jelas tidak berdasar.

Namun kian hari perayaan Valentine kian mendapat tempat di banyak anak-anak muda dunia. Hal
ini ada dua kemungkinan yang bisa menjawabnya.
Pertama, para pebisnis melihat perayaan Hari Valentine merupakan sebuah momentum yang
sangat bagus untuk dieksploitasi dan dijadikan ajang „perayaan bisnis‟ guna meraup
keuntungan material sebanyak-banyaknya. Sebab itulah, para pebisnis ini setiap tahun selalu
saja „mempertahankan‟ bahkan „menyuburkan‟ perayaan Hari Valentine ini dan
mengindoktrinasikan kepada otak-otak anak muda seluruh dunia bahwa Hari Valentine merupakan
Hari Kasih Sayang yang harus dirayakan secara spesial. Caranya? Ya dengan membeli berbagai
produk yang dikeluarkan oleh para pebisnis seperti coklat spesial berbentuk hati, boneka, bunga,
kartu ucapan, bahkan di malam Hari Valentine, para pebisnis juga menanamkan pemikiran mereka
bahwa belum komplit cinta mereka jika di Hari Valentine tidak dirayakan dengan makan malam
berdua dalam suasana romantis di cafe-cafe dan hotel-hotel, nonton bioskop berdua, dan berakhir
dengan membooking satu kamar hotel untuk menghabiskan malam spesial bersama pasangannya.
Secara esensi hal ini sangat mirip dengan Lupercalia Festival berabad silam. Dan masyarakat Barat
banyak yang memang sudah rusak secara norma dan nilai-nilai keagamaan, kian terjerumus.
Ironisnya, hal ini secara latah diikuti oleh generasi muda yang berada di luar Barat dengan alasan
modernisasi.

Kedua, kelakuan para pebisnis yang terus memelihara eksistensi perayaan Valentine didasari
oleh dua motif di mana antara satu dengan yang lainnya saling terkait. Yang pertama adalah
motif ekonomi yakni memanfaatkan semua celah untuk bisa di eksploitasi guna bisa mendatangkan
keuntungan material sebanyak mungkin, dan kedua, hal ini juga selaras dengan indoktrinasi para
„Tetua Yahudi‟ yang dirumuskan dalam agenda bersama Gerakan Zionis Internasional „The
Protocolat of Zions‟ (disahkan dalam Konferensi Zionis Internasional I di Basel-Swiss, tahun 1897).

Kelompok-kelompok klandestin yang menggerakkan banyak konglomerat dunia ini menunggangi
gereja agar dunia menganggap Valentine‟s Day merupakan salah satu hari raya Kristen. Banyak
yang terkecoh dan menerima hal yang sesungguhnya tidak tepat, sehingga Hari Valentine kadung
dikenal sebagai bagian dari kekristenan sekarang ini. Padahal hal itu tidak benar sama sekali
karena Injil tidak pernah menyinggung sedikitpun tentang Valentine. Banyak kalangan
gereja menyatakan bahwa perayaan Valentine merupakan salah satu bentuk heresy (bid‟ah)
di dalam kekristenan yang harus dihindari.
Sebab itulah, para pemuka agama Islam di seluruh dunia dari golongan dan gerakan Islam mana pun
telah sepakat bahwa HARAM hukumnya bagi umat Islam untuk ikut-ikutan merayakan Hari
Valentine dengan tingkat partisipasi sekecil apa pun, bahkan sekadar mengucapkan “Selamat Hari
Valentine”. Inilah beberapa fatwa yang dikeluarkan berkenaan dengan hari Valentine:

Firman Allah swt yang tercantum di dalam Al-Qur‟an dan hadits Rasulullah saw merupakan dasar
bagi fatwa-fatwa pelarangan ini. Dalam QS. Al-maidah ayat 51, Allah swt berfirman melarang
umat Islam untuk meniru-niru atau meneladani kaum Yahudi dan Nasrani, “Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi
pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain.
Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya
orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang zalim.”




„Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al
Isra‟ : 36)

Rasulullah saw dalam suatu haditsnya yang diriwayatkan oleh Bu Daud dan Imam Ahmad
dari Ibnu Umar mengatakan, “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dalam
kaum tersebut.”

“Barangsiapa melkaukan amal yang tiada didasari perintahku(Qur‟an dan Sunnah), maka
amal perbuatannya tertolak.” (HR. Ahmad)

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah juga berkata, “Memberi selamat atas acara ritual
orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahawa perbuatan tersebut haram.
Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat
hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai kepada
kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat
atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah.

Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada
memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang
kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya
perbuatan tersebut. Ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan
kemurkaan Allah.”

Sudah menjadi jelaslah bahwa mengucapkan selamat hari Valentine saja tidak diperbolehkan
menurut akidah Islam, apalagi ikut serta dan berperan aktif dalam perayaannya. Apa pun
dalihnya. Karena dalih bisa saja dibuat hingga ribuan pasal. Tetapi esensinya adalah tidak
diperbolehkan umat Islam turut serta sekecil apa pun untuk menyambut hari tersebut.

Penulis : Teh Yusni Emilia
Sumber : Eramuslim digest Edisi koleksi 5

								
To top