Docstoc

Anti Maghrib

Document Sample
Anti Maghrib Powered By Docstoc
					         ANTI M AGHRIB; Ciri Khas Perniagaan Islam
                 Oleh : Mukti Al i/Bank Muamal at Indonesia

      Banyak orang bertanya-tanya apa itu anti maghrib? Kata “maghrib” untuk
kalangan masyarakat Indonesia sudah dikenal sebagai salah satu istilah untuk
menyebut kegiatan ibadah sholat maghrib, atau untuk kalangan yang sudah
mengenal perbendaharaan bahasa arab dimaknai sebagai salah satu arah mata
angin, yaitu barat.
       Kata maghrib disini hanyalah sebuah istilah kata, ia merupakan kependekan
dari beberapa hal, yaitu “M aysir, Gharar, Riba, dan Bathil ”, dimana hal-hal
tersebut merupak an hal-hal mendasar yang harus dihindari oleh pelaku kegiatan
perniagaan dalam Islam, apapun bentuk perniagaanya, entah itu perdagangan,
jasa, perbankan, asuransi, pegadaian, dan kegiatan perniagaan atau bisnis lainnya.
      Jika sebuah kegiatan perniagaan sudah terbebas dari praktik maghrib atau
disebut juga anti maghrib, dapat dipastikan bahw a peniagaan tersebut adalah
sesuai dengan syariah Islam. Sekarang mari kita bahas satu persatu unsur-unsur
yang ada dalam kata maghrib.
      “Hai orang-orang yang beriman, janganlah k amu saling memak an hart a
sesamamu dengan jalan yang bathil, kecu ali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka-sama suka diant ara kamu, janganlah kamu membunuh diri kamu,
sesungguhnya Allah sangat menyayangi kamu” (QS. Anisa: 29)
       Ada dua kata kunci yang tersurat dalam ayat diatas, yaitu Tijarah
(perniagaan) dan Antaradim minkum (saling suka/ridho)
TIJARAH
      berarti aktifitas atau kontrak-kontrak perniagaan untuk memperoleh
keuntungan (profit oriented) yang dapat dilakukan dengan dua cara utama, yaitu
dengan jalan kontrak jual beli (kontrak yang pasti) dan kontrak berbagi hasil
(kontrak yang tidak pasti)
       Kontrak jual beli merupakan kontrak pertukaran, karena dalam prakteknya
selalu ada pertukaran, yaitu pertuakaran antara barang dengan barang (barter)
atau uang dengan barang dengan menambahkan tingkat keuntungan tertentu
dimuka.
      Kontrak bagi h asil merupak an kontrak percampuran, karena dalam
prakteknya selalu terjadi percampuran modal, baik uang dengan uang, barang
dengan uang, atau uang dengan keterampilan (skill) untuk suatu kegiatan
usaha/proyek guna menyatukan modal. Keuntungan/kerugian di-sharing (dibagi)
sesuai porsi modal dan tanggung jaw abnya masing-masing atau sesuai
kesepakatan dimuka.
ANTARADHIM M INKUM
      Merupakan prinsip kerelaan antar pihak yang berakad/bertransaksi, setiap
perniagaan/jual beli ataupun bagi hasil—harus didasarkan pada prinsip kerelaan
para pihak, jika ada salah satu pihak yang tidak suka/ridho, maka perniagaan
menjadi batal dan akhirnya menjadi bathil.
      P rinsip-prinsip kerelaan harus terbebas dari unsur-unsur sebagai berikut:
   MAYSIR; Yaitu kegiatan yang mengandung unsur perjudian dan
    spekulatif, dimana setiap transaksi yang dilakukan akan selalu
    melahirkan salah satu pihak menangguk keuntungan dan pihak lain
    menderita kerugian (zero sum game). Contoh: Jual-beli P ergerakan Indek
    Harga Saham Gabungan, hasil pertandingan sepak bola yang dijadikan
    taruhan, sms berhadiah, lottre, dll.
   GHARAR; Yaitu, kegiatan yang memiliki unsur ketidakpastian atau
    ketidak jelasan kedua belah pihak (uncertain to both party). Gharar bisa
    terjadi dalam jumlah, kualitas, harga, dan w aktu penyerahan. Contoh:
    1. Membeli atau menjual buah yang masih kembang (berbunga) dalam
       satu pohon, dalam hal ini jumlah buah, kualitas, harga pada saat
       panen belum bisa diketahui.
    2. Menjual barang yang hilang yang belum tahu kapan penyerahannya.
   RIBA; Yaitu, merupakan tambahan yang disyaratkan dalam transaksi
    bisnis tanpa adanya padanan (iw ad) yang dibenarkan syariah atas
    penambahan tersebut (imam sarakhsi dalam al mabsut, juz xii, halaman
    109)
    Allah SWT berfirman:
    “Hai orang-orang yang beriman, bert akwalah kepada Allah dan tinggalkan
    sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.
    Mak a jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka
    ketahuilah, b ahwa Allah dan Rasuln ya akan memerangi kamu, dan jika
    kamu bertobat (dari pengambilan riba), mak a bagimu pokok hartamu,
    kamu tidak menganiyaya dan tidak (pula) dianiyaya”. (QS Albaqarah 278-
    279)
    Riba terbagi menjadi tiga golongan, yaitu riba fadl, riba nasiah, dan riba
    jahiliyah.
    1. Riba Fadl , yaitu riba yang timbul akibat pertukaran barang sejenis
       yang tidak memenuhi kriteria sama dalam hal kuantitas, kualitas, dan
       w aktu penyerahannya. Ada enam jenis barang yang masuk dalam
       riba ini, yaitu pertukaran emas dengan emas, perak dengan perak,
       gandum dengan gandum, tepung dengan tepung, korma dengan
       korma, dan garam dengan garam. Diluar keenam barang tersebut
       boleh dilakukan transaksi pertukaran barang sejenis asal
       penyerahannya dalam w aktu yang bersamaan.
    2. Riba Nasiah, yaitu riba yang timbul akibat utang piutang yang tidak
       memenuhi kriteria al ghunmu bil ghurmi (keuntungan ada bersama
       resiko) dan al kharaj bi dhoman (hasil usaha ada bersama biaya).
       Misalnya pemberian atau pengambilan bunga bank, baik pada
       simpanan maupun pemberian kredit. Deposan menerima bunga
       tabungan yang tetap, tidak berhubungan apakah bank memperoleh
       pendapatan bunga yang besar atau kecil.
    3. Riba Jahiliyah, yaitu utang yang dibayar melebihi pokok pinjaman,
       karena si peminjam tidak mampu mengembalikan pada w aktu yang
       telah ditentukan, misalnya pengenaan bunga pada kartu kredit yang
       telah jatuh tempo dan tidak dilakukan pembayar an, baik sebagian
       maup un seluruhnya.
        BATHIL; Yaitu kegiatan atau perbuatan yang mengandung unsur
         kejahatan dan penipuan atau manipulasi, dan kemudharatan yang terdiri
         dari:
         1. Tadhlis; adanya unsur penipuan salah satu pihak, atau ada unsur
            unknown to one party (adanya informasi yang disembunyikan atau
            tidak diketahui salah satu pihak). T adhlis bisa terjadi dalam jumlah,
            kualitas, harga, dan w aktu penyerahan. Contoh. mengurangi jumlah
            timbangan/takaran, mencampur kualitas beras baik dan bur uk,
            memanfaatkan ketidak tahuan pembeli tentang harga pasar suatu
            barang seperti menaikan tarif ojek lebih mahal kepada orang
            asing/turis, membeli padi pada saat masih belum dipanen yang belum
            tahu kapan w aktu pasti penyerahan barangnya.
         2. Riswah (suap); memberi sesuatu (uang/barang) kepada pihak lain
            untuk memperoleh sesuatu yang bukan haknya dan dilakukan
            dengan suka-sama suka (antaradim minkum). Misalnya orang yang
            ingin mendapatkan proyek ia memberikan hadiah kepada pejabat
            pembuat keputusan atau panitia lelang, sehingga mengalahkan
            peserta lelang lainnya yang mungkin lebih baik.
            “Dan janganlah seb agian kamu memakan h art a seb agian yang lain
            diantara kamu dengan jalan yang b athil dan janganlah k amu
            memb awa urusan harta itu kepada h akim supaya kamu dapat
            memak an sebagian dari h art a benda orang lain dengan jalan berbuat
            dosa, p adahal kamu mengetahui”. (QS Albaqarah: 188)
            “Allah melaknat orang yang memberi suap, menerima suap, sekaligus
            perantara su ap yang menjadi penghubung antara keduan ya”. (HR
            Ahmad)
         3. Objek Perniagaan yang haram karena zatnya, seperti minuman
            keras, babi, darah, dan bangkai.
      Dengan mengetahui hal-hal diatas, kita sudah dapat mengukur sendiri
apakah kegiatan usaha/bisnis/perdagangan/perniagaan kita sudah anti maghrib?
Kalau sudah, kita patut bersyukur berarti perniagaan yang kita lakukan sudah
sesuai dengan syariah islam. Wallahu’alam.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:198
posted:3/14/2010
language:Malay
pages:3