Docstoc

Teologi Islam - PDF

Document Sample
Teologi Islam - PDF Powered By Docstoc
					Rekonstruksi Teologi
Islam
Kamis, 20 Oktober 2005
Oleh: Benni Setiawan

Munculnya Islam
Munculnya di dataran jazirah Arab di sebelah selatan Palestina, sebelah barat Teluk
Persia, sebelah timur Samudra Hindia dan sebelah timur Laut Merah (Muhammad Husain
Haekal.1992) bersama sang pembawanya telah menorehkan tinta emas sejarah peradaban
dunia yang akan terekam sepanjang zaman. Islam yang datang dengan misinya sebagai
ajaran rahmatan lil alamin adalah merupakan revolusi sejarah dan kekalaman kebudayaan
menuju masyarakat yang berperadaban (al mujta' al madaniyah, civil sosiaty), masyarakat
tanpa kelas, egaliter, mengedepankan kepentingan bersama tanpa diskriminasi.
Namun setelah Nabi wafat bahkan jenasahnya belum di kebumikan terjadi perebutan
kekuasaan yang berorientasi kepada kepentingan pribadi dan kelompok, di sana ada suara
minna amir wa minkum amir yang menandakan watak asli putra Padang Pasir itu masih
melekat dalam kepribadiannya. Maka tampillah orang-orang yang menginginkan status
quo, sehingga Islam kehilangan daya revolusinya sampai sedemikian jauh, dan perhatian
umat tertuju kepada persoalan ideologi. Kondisi ini ditambah dengan persinggungan
antara Islam, ilmu pengetahuan Yunani yang selain membawa keuntungan juga
menimbulkan dampak negatif. Teologi yang sebenarnya dekat dengan masalah keadilan
sosial (ada banyak ayat al Qur'an yang membahas golongan masyarakat lemah, seperti
yatim piatu, fakir miskin, janda, budak dil) mulai mengalihkan perhatiannya pada
masalah eskatologi yang hanya berkutat pada masalah langit dan kurang menyentuh
atmosfer bumi yang sebenarnya lebih penting untuk dibicarakan.
Maka dari itu yang saat ini diperlukan adalah menggali kembali nilai-nilai yang
revolusioner di dalam teologi Islam sebagai mana termaktub di dalam al Qur'an. Hal ini
paling tidak dilandasi oleh tiga persoalan. Pertama, teologi yang kini berkembang di
masyarakat telah hilang relevansinya dengan konteks sosial yang ada, padahal teologi
Islam itu harus bersifat tekstual dan transendental. Kedua, teologi pasti mengalami
demistified dari apa yang sebenarnya dimaksud oleh Islam. Ketiga, mengembalikan
semula komitmen Islam terhadap terciptanya keadilan sosial ekonomi dan terhadap
golongan masyarakat ekonomi lemah (Asghar Ali Engineer-.1999).
- Dalam tulisan ini mencoba menguak dan menggali kembali ajaran-ajaran Islam yang
telah di tanamkan dalam misinya yang merupakan kekayaan khasanah Islam abad
pertengahan dan sekarang mulai menghilang relevansinya dengan konteks modern. Hal ini
sering dikritik oleh para tokoh pembaharu Islam sendiri mulai dari Muhammad Abduh
sampai tokoh-tokoh pembaharu akhir abad ini (Hasan Hanafi, Mohammed Arkoun, Fazlur
Rahman, Asghar Ali, Abid Al Jabiri,
Bassam Tibi dll) sehingga Islam membawa misi pembebasan, maka mengakibatkan dan
melaksanakan titik sejarah adalah keniscayaan.

Teologi Pembebasan Dalam Islam
Jika pada abad dua puluh gagasan teologi pembebasan di munculkan di Eropa dan
dilanjutkan pada dataran praksisnya di Amerika Latin dan Asia yang kemudian menjadi
studi penting bagi agama-agama untuk melihat peran agama dalam membebaskan
manusia dan ancaman globalisasi dan menghindarkan manusia dan pelbagai macam dosa
sosial, serta menawarkan paradigma untuk memperbaiki segi sosial. Bagi manusia yang
telah dirusak oleh sistem dan ideologi dari perbuatan manusia itu sendiri. (Fr Wahono Niti
Prawiro: 2000). Maka jauh sebelum yang di bawa Nabi Muhammad adalah pembebas
bagi seluruh umat manusia dengan cara membebaskan golongan masyarakat menengah.
Nabi Muhammad mengakui untuk mengadakan perlawanan pada awal dakwahnya dalam
menghadapi saudagar-saudagar Mekkah yang kaya dan kuat.
Para sarjanawan membuktikan bahwa sebagai utusan Allah Nabi menggulirkan
tantangan yang membahayakan saudagar-saudagar kaya di Mekkah. Sadaugar-saudagar
kaya ini berasal dari suku yang berkuasa di Mekkah yaitu suku Quraisy. Mereka
menyombongkan diri dan mabuk dengan kekuasaannya. Mereka melanggar norma-norma
kesukuan dan benar-benar tidak menghargai kaum fakir miskin, orang-orang miskin dan
kaum tertindas. Kedatangan Islam melalui Nabi (yang yatim piatu dan berasal dari
keluarga miskin) adalah untuk mengubah status quo serta mengentaskan kelompok lemah,
masyarakat yang sebagian anggotanya mengeksploitasi anggota yang lain. Tidak dapat
disebut masyarakat Islam (Islamic society) meskipun mereka menjalankan ritual Islam
tanpa diiringi semangat menolong orang lain, menegakkan keadilan dan hormat
menghormati serta menyantuni sesamanya serta yang membutuhkan.
Pada dasarnya konsep pokok teologi Islam adalah tauhid yang dalam rangka
mengembangkan struktur sosial yang membebaskan manusia dari segala perbudakan.
Tauhid yang dianggap inti dari teologi Islam oleh kalangan teologi tradisional biasanya
diartikan ke-Esaan Tuhan, namun dalam teologi pembebasan tauhid lebih diartikan tidak
hanya sebagai keEsaan Tuhan, tapi juga sebagai kesatuan manusia (unity of mankind)
yang tidak akan benar-benar terwujud tanpa terciptanya masyarakat tanpa kelas (classless
society). Konsep tauhid ini sangat dekat dengan semangat al Qur'an untuk menciptakan
keadilan dan kebajikan (al 'adl wa al ahsan). Selama dunia terbagi menjadi negara-
negara berkembang di satu sisi, dan kelas tertindas di sisi lain kesatuan manusia
sesungguhnya tidak mungkin tercapai. Maka dari itu, tauhid merupakan iman kepada
Allah dan konsekuensinya adalah menciptakan struktur yang bebas dari eksploitasi.
Sehingga tauhid yang bermakna bagi masyarakat tidak dapat dilepaskan dari dua hal tadi.

Misi Pembebasan
Sesungguhnya misi Islam yang paling besar adalah pembebasan. Dalam konteks dunia
modern, ini berarti Islam harus membebaskan manusia dari aliran kungkungan filsafat
yang menganggap bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dan hidup dalam
absurditas, tapi karena dunia modern juga menciptakan sistem-sistem yang membelenggu
manusia, baik itu berupa sistem produksi teknologi modern, sistem-sistem ekonomi sosial
ekonomi maupun sistem-sistem lainnya yang menyebabkan manusia tidak dapat
mengaktualisasikan dirinya seperti manusia yang merdeka dan mulia. Maka sekali lagi
Islam harus melakukan revolusi untuk merombak semuanya itu yaitu suatu revolusi untuk
pembebasan. Dengan misi teologi seperti ini, Islam sesungguhnya menyediakan basis
filsafat untuk mengisi kehampaan spiritual yang merupakan produk dunia modern
industrial. Sungguh, sudah saatnya kini Islam untuk kembali memimpin peradaban dan
menyelamatkan manusia dari belenggu dunia modern. (Kuntowijoyo: 1999:164-165).

Pembebasan dalam Bidang Sosial
Berdasar dari semangat al Qur'an bahwa "sesungguhnya yang paling mulia di antara
kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa". Ini adalah merupakan konsep yang
revolusioner, bukan hanya bagi bangsa arab, tetapi juga bagi seluruh manusia. Perbedaan
kulit, ras menjadi masalah yang begitu serius akhir-akhir ini sehingga PPB dalam piagam
deklarasi Hak Asasi Manusia tentang persamaan manusia yang terlepas dari perbedaan
kasta, kepercayaan, warna kulit, dan konsep ini dianggap paling liberatif serta tepat. Jauh
sebelumnya al Qur'an telah mengantisipasinya beberapa abad yang lalu. Nabi menerapkan
ajaran al Qur'an tersebut dengan cara menggangkat seorang budak Negro, Bilal menjadi
Muadzin, sebuah kehormatan yang didambakan oleh orang Arab yang bebas. Sepeninggal
Nabi beberapa orang Arab membentuk masyarakat Bilal (Bilal society). Dengan
menggangkat seorang budak Negro yang kemudian dibebaskan Nabi dengan jelas
menunjukkan bahwa harkat manusia melampaui segala hal, apakah warna kulit ataupun
status sosial. Pada saat itu, tidak ada tindakan yang liberatif dari pada tindakan yang
dilakukan oleh Nabi.

Keadilan di Bidang Ekonomi
Islam melarang keras praktek riba dan memperingatkan kepada siapa saja yang berbuat itu
akan diperangi oleh Allah dan RasulNya (Q.S 2:275-278 dan 30:39) banyak intelektual
yang berpendapat bahwa secara umum riba adalah eksploitasi, mendapat keuntungan yang
eksploitatif (ihid:53). Tetapi masih banyak orang yang beranggapan bahwa riba adalah
kebutuhan ekonomis, akan tetapi agama Islam melarang adanya riba dan tidak hanya
Islam saja yang melarang adanya riba akan tetapi kaum komunis juga melarang. Dengan
realitasnya Rusia meletakan landasan ekonominya dengan tidak menyertakan riba di
dalamnya. Para pakar ekonomi barat terkemuka tidak menyetujui riba dan
mengingatkan bahwa ini akan menyebabkan penimbunan kekayaan di tangan sekelompok
masyarakat kaya saja.
Nabi tidak mengijinkan mukhobiro dan muhaqila yang sekali lagi merupakan praktek
yang eksploitatif. Beliau juga melarang segala bentuk spekulatif untuk mencegah segala
eksploitasi kaum miskin yang justru menguntungkan orang kaya yang kuat. Misalnya
beliau melarang pembelian padi yang masih muda oleh tengkulak, karena akibatnya
eksploitasi terhadap petani miskin. Nabi hanya mengijinkan pembagian keuntungan
tertentu (sebagai upah atas pekerjaan dan atas usaha bersama) dan dengan tegas melarang
penimbunan, pasar gelap dan seterusnya. Nabi bukan hanya mengijinkan orang yang
kelaparan merampas makanan dari orang kaya, namun juga menyebut dia sebagai mujahid
jika sampai meninggal dalam melakukan hal itu.

Kesimpulan
Dari pemaparan di atas sekiranya dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang
menjunjung tinggi harkat, martabat, dan Hak Asasi Manusia (HAM). Semua manusia
mempunyai hak dan kewajiban yang sama di hadapan Allah, hanya ketakvvaanlah yang
membedakannya.
Islam dalam misinya sebagai agama yang membawa rahmad bagi seluruh alam adalah
sebuah prestasi sejarah yang pada awal bangkitnya di bawah kendali sang Nabi dan telah
menggulirkan tantangan yang telah membahayakan saudagar-saudagar kaya Mekkah.
Namun, pada perkembangan selanjutnya (setelah wafat Nabi) umat Islam terjebak pada
persoalan-persoalan kekuasaan yang lebih berorientasi kepada kepentingan pribadi dan
kelompok, sehingga misi Islam yang telah diperjuangkan Nabi telah kehilangan daya
revolusionernya. Maka suatu keharusan menggali kembali nilai dan semangat revolusi
yang dibawa oleh Nabi dan kemudian diperjuangkan.
Paling tidak ada tiga hal yang melandasi perlunya menggali kembali nilai-nilai
revolusioner di dalam Islam. Pertama, teologi yang berkembang saat ini berkembang di
masyarakat telah hilang relevansinya dengan konteks sosial yang ada, padahal teologi
Islam itu seharusnya bersifat kontekstual dan transendental. Kedua, teologi Islam
mengalami demistified dan apa yang sebenarnya dimaksud oleh Islam. Ketiga,
mengembalikan seperti semula komitmen Islam terhadap terciptanya keadilan sosial
ekonomi dan terhadap golongan masyarakat lemah (wong cilik).
Penulis adalah Alumni MA Al Islam Surakarta 2001, Pimpinan- Korkom (Koordinator
Komisariat) lkatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.
Sekretaris Redaksi Majalah Kibar.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1711
posted:3/14/2010
language:Indonesian
pages:4