Kimia SMK Kelas XII

Document Sample
Kimia SMK Kelas XII Powered By Docstoc
					KURIKULUM KTSP




         KIMIA
      TEKNOLOGI DAN INDUSTRI




           SYAHRIAL, S.T
                           Untuk
                            XII
                           SMK
KATA PENGANTAR

Syukur kehadirat Allah SWT atas segala kekuatan piker dan dzikir sehingga penyusun dapat
menyelesaikan buku Kimia SMK kelas XII bidang keahlian Teknologi dan Industri dengan
segala kemudahan-Nya.
Buku Kimia SMK kelas XII ini disusun berdasarkan kurikulum KTSP yang berfungsi
membentuk peserta didik supaya memiliki dasar pengetahuan kimia yang luas dan kuat
untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungan social dan lingkungan
kerja, serta mampu mengembangkan diri sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
Buku Kimia SMK kelas XII ini berisi materi-materi senyawa hidrokarbon, polimer, laju reaksi,
koloid, kimia inti dan pemisahan campuran.
Penyusunan Buku Kimia SMK kelas XII ini didasarkan pada kenyataan bahwa masih
kurangnya sumber belajar pada mata pelajaran kimia bagi siswa kelas XII SMK. Untuk itu
penyusun selaku tenaga pengajar di SMK merasa perlu untuk segera memenuhi kebutuhan
siswa tersebut demi kelancaran proses belajar mengajar di sekolah.
Pada kesempatan ini penyusun ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu penyusunan dan penerbitan buku ini. Secara khusus penyusun
ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Sandri Maulani, S.H (istri) atas segala
dukungannya dalam memotivasi penyusun sampai selesainya buku ini.
Akhirnya tegur sapa, kritik dan saran dari kalangan akademisi dan pemakai buku ini sangat
penyusun harapkan demi kemajuan bidang pendidikan.

Manggar, Pebruari 2010


Syahrial, S.T
DESKRIPSI PEMBELAJARAN
      STANDAR
                           KOMPETENSI DASAR                  MATERI PEMBELAJARAN
      KOMPETENSI
12. Memahami senyawa     12.1   Mendeskripsikan        - Kekhasan atom karbon dan senyawa
    hidrokarbon dan             kekhasan atom karbon     hidrokarbon.
    kegunaannya                 yang membentuk         - Pengelompokan senyawa hidrokarbon
                                senyawa hidrokarbon    - Tata nama senyawa hidrokarbon
                                                       - Sifat fisika senyawa hidrokarbon
                                                       - Isomer senyawa hidrokarbon
                                                       - Reaksi kimia pada senyawa
                                                         hidrokarbon

                         12.2   Menggolongkan          - Senyawa hidrokarbon dan turunannya
                                senyawa hidrokarbon    - Alkana dan turunannya:
                                dan turunannya         - Gugus fungsi, jenis-jenis, dan isomer
                                                         senyawa turunan alkana
                                                       - Haloalkana
                                                       - Alkohol dan eter
                                                       - Aldehida dan keton
                                                       - Asam karboksilat dan ester
                                                       - Benzena dan turunannya:
                                                       - Struktur dan sifat benzene
                                                       - Struktur dan tata nama turunan
                                                         benzene
                                                       - Pembuatan serta reaksi kimia
                                                         benzena dan turunannya
                                                       - Kegunaan serta dampak benzena dan
                                                         turunannya

                         12.3   Mendeskripsikan        -   Gas alam
                                kegunaan senyawa       -   Alkohol
                                hidrokarbon dan        -   Parfumery
                                turunannya dalam       -   Plastik
                                kehidupan manusia      -   Minyak bumi dan kegunaannya:
                                                            Pembentukan dan pengelolaan
                                                                minyak bumi
                                                            Produk hasil pengolahan minyak
                                                                bumi dan dampak yang
                                                                ditimbulkannya
                                                            Nafta (residu)
                                                            Petrolium (bensin)
                                                            Karosen (minyak tanah dan
                                                                avtur)
13. Menjelaskan          13.1   Menjelaskan
    sistem klasifikasi          karbohidrat,           - Karbohidrat dan klasifikasinya
    dan kegunaan                klasifikasi dan        - Aplikasi karbohidrat
    makromolekul                penggunaannya
    (karbohidrat,        13.2   Menjelaskan lipid,
                                                       - Lipid dan klasifikasinya
    lipid, protein dan          klasifikasi dan
                                                       - Aplikasi lipid
    polimer)                    penggunaannya
      STANDAR
                           KOMPETENSI DASAR                MATERI PEMBELAJARAN
      KOMPETENSI
                         13.3   Menjelaskan
                                protein, klasifikasi   - Protein dan klasifikasinya
                                dan                    - Aplikasi protein
                                penggunaannya
                         13.4   Menjelaskan
                                                       - Polimer dan klasifikasinya
                                polimer, klasifikasi
                                                       - Aplikasi polimer
                                dan
                                                       - Polimer sintesis
                                penggunaannya
14. Memahami             14.1   Mengidentifikasi
    koloid, suspensi,           koloid, suspensi,      - Koloid, suspensi dan larutan
    dan larutan sejati          dan larutan sejati
                         14.2   Membedakan
                                macam dan sifat        - Macam dan sifat-sifat koloid
                                koloid
                         14.3   Menerapkan             - Pembuatan dan pemurnian
                                sistem koloid            koloid
                                dalam kehidupan        - Penggunaan Koloid
15. Memahami             15.1   Memahami kimia         - Penemuan sinar radioaktif
    konsep kimia inti           inti dan radiasi       - Sifat-sifat dan sinar radioaktif
    dan radiokimia                                     - Peluruhan radioaktif alami
                                                       - Reaksi transmutasi buatan
                                                       - Bahaya unsur-unsur radioaktif
                                                       - Reaksi fisi dan fusi
                         15.2   Memahami
                                                       - Konsep dasar radiokimia
                                radiokimia dan
                                                       - Aplikasi radiokimia
                                aplikasinya
16. Melakukan            16.1   Memisahkan zat         - Pemisahan campuran:
    pemisahan dan               dari campuran             Maserasi
    analisis                                              Ekstraksi
                                                          Destilasi
                                                          Filtrasi
                         16.2   Menentukan kadar       - Penentuan kadar suatu
                                suatu unsur/             unsur/senyawa
                                senyawa-senyawa        - Teknik-teknik pengukuran
                                                         kadar : gravimetri, vilumetri,
                                                         dan teknik lainnya
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .........................................................................................................................           i
Deskripsi Pembelajaran ............................................................................................................               ii
Daftar Isi ....................................................................................................................................   iv
                          Kekhasan atom karbon …………………………………………………………………………….                                                                     1

     BAB XII              Penggolongan senyawa hidrokarbon ………………………………………………………..
                                                                                                                                                  3
                          Kegunaan senyawa hidrokarbon ………………………………………………………………..                                                                 23




                          Karbohidrat, klasifikasi dan penggunaannya .................................................                            29

                          Lipid, klasifikasi dan penggunaannya ............................................................                       31
      BAB XIII
                          Protein, klasifikasi dan penggunaannya ........................................................                         32

                          Polimer, klasifikasi dan penggunaannya ........................................................                         35


                          Koloid, suspensi, dan larutan sejati ...............................................................
                                                                                                                                                  43
                          Macam dan sifat koloid .................................................................................                44
      BAB XIV
                          Sistem koloid dalam kehidupan .....................................................................
                                                                                                                                                  50



                          Kimia inti dan radiasi .....................................................................................
                                                                                                                                                  51
      BAB XV
                          Radiokimia dan aplikasinya ………………………………………………………………………
                                                                                                                                                  57



                          Pemisahan zat dari campuran .......................................................................
                                                                                                                                                  60
    BAB XVI
                          Penentuan kadar suatu unsur/ senyawa-senyawa ……………………………………
                                                                                                                                                  62

Daftar Pustaka ………………………………………………………………………………………………………………………                                                                                      72
BAB XII


               KEKHASAN ATOM KARBON




Atom karbon (C) dengan nomor atom 6 mempunyai susunan elektron K = 2, L = 4. C mempunyai 4 elektron
valensi dan dapat mernbentuk empat ikatan kovalen serta dapat digambarkan dengan rumus Lewis. Sebagai
contoh, dapat dilihat molekul CH4 (metana) yang memiliki diagram yang cukup sederhana dibawah ini.




Selain itu kemampuan diatas, atom karbon juga dapat membentuk ikatan dengan atom karbon lain untuk
membentuk rantai karbon yang terbuka, terbuka bercabang dan tertutup. Contoh rantai karbon dapat
digambarkan dengan rumus struktur berikut :
Dapatlah sekarang dimengerti bahwa jumlah senyawa karbon demikian banyaknya walaupun jumlah jenis
unsur pembentuknya sedikit.
Kini kita dapat mulai membuat klasifikasi hidrokarbon, yang merupakan senyawa yang hanya tersusun oleh
karbon dan hidrogen. Senyawa-senyawa karbon lainnya dapat dipandang sebagai turunan dari hidrokarbon ini.
Hidrokarbon dapat dibagi menjadi dua kelompok utama : hidrokarbon alifatik dan hidrokarbon aromatik.
Termasuk di kelompok pertama adalah senyawa yang berantai lurus, berantai cabang dan rantai melingkar.
Kelompok kedua, hidrokarbon aromatik, biasanya mengandung cincin atom karbon yang sangat stabil.
Berdasarkan kelipatan ikatan karbon-karbonnya, hidrokarbon alifatik masih dapat dibedakan lagi menjadi dua
sub-kelompok, yakni hidrokarbon jenuh yang mengandung ikatan tunggal karbon-karbon, serta hidrokarbon
tak jenuh yang mengandung paling sedikit satu ikatan rangkap dua, atau ikatan rangkap tiga.
Karena senyawa hidro karbon terdiri atas karbon dan hidrogen, maka salah satu bagian dari ilmu kimia yang
membahas segala sesuatu tentang senyawa hidrokarbon disebut kimia karbon. Dulu ilmu kimia karbon
disebut kimia organik, karena senyawa-senyawanya dianggap hanya dapat diperoleh dari tubuh makhluk hidup
dan tidak dapat disintesis dalam pabrik.
Pada tahun 1928, Friedrich Wohler berhasil mensintesis urea (suatu senyawa yang terdapat dalam air seni)
dari senyawa anorganik yaitu amonium sianat – dengan jalan memanaskannya.




                              Reaksi pemanasan amonium sianat oleh Wohler

Setelah keberhasilan Wohler diketahui, banyaklah sarjana lain yang mencoba membuat senyawa karbon dari
senyawa anorganik. Lambat laun teori tentang arti hidup hilang dan orang hanya menggunakan kimia organik
sebagai nama saja tanpa disesuaikan dengan arti yang sesungguhnya. Sejak saat itu banyak senyawa karbon
berhasil disintesis dan hingga sekarang lebih dari 2 juta senyawa karbon dikenal orang dan terus bertambah
setiap harinya. Apa sebabnya jumlah senyawa karbon sedemikian banyak bila dibandingkan dengan jumlah
senyawa anorganik yang hanya sekitar seratus ribuan?
Selain perbedaan jumlah yang sangat mencolok yang menyebabkan kimia karbon dibicarakan secara
tersendiri, karena memang terdapat perbedaan yang sangat besar antara senyawa karbon dan senyawa
anorganik seperti yang dituliskan pada tabel berikut.
Hidrokarbon adalah sejenis senyawa yang banyak terdapat dialam sebagai minyak bumi. Indonesia banyak
menghasilkan senyawa ini dalam bentuk minyak bumi yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.
Senyawa hidrokarbon terdiri dari :
     1. Alkana (CnH2n+2)
     2. Alkena (CnH2n)
     3. Alkuna (CnH2n-2)
                PENGGOLONGAN SENYAWA
                     HIDROKARBON
Kita mulai dengan klasifikasi hidrokarbon yang merupakan senyawa yang hanya tersusun oleh karbon dan
hidrogen. Sedangkan senyawa karbon lainnya dapat dipandang sebagai turunan dari hidrokarbon. Hidrokarbon
masih dapat dibagi menjadi dua kelompok utama: hidrokarbon alifatik, termasuk di dalamnya adalah yang
berantai lurus, yang berantai cabang, dan rantai melingkar, dan kelompok kedua, hidrokarbon aromatik yang
mengandung cincin atom karbon yang sangat stabil.
Hidrokarbon alifatik masih dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan kelipatan ikatan karbon-karbon;
hidrokarbon jenuh yang mengandung ikatan tunggal karbon-karbon; dan hidrokarbon tak jenuh yang
mengandung paling sedikit satu ikatan rangkap dua karbon-karbon atau ikatan rangkap tiga.

ALKANA
Perbedaan rumus struktur alkana dengan jumlah C yang sama akan menyebabkan berbedaan sifat alkana yang
bersangkutan. Banyaknya kemungkinan struktur senyawa karbon, menyebabkan perlunya pemberian nama
yang dapat menunjukkan jumlah atom C dan rumus strukturnya. Aturan pemberian nama hidrokarbon telah
dikeluarkan oleh IUPAC agar dapat digunakan secara internasional.
Aturan tata nama alkana
1. Rantai tidak bercabang (lurus) Jika rantai karbon terdiri dari 4 atom karbon atau lebih, maka nama alkana
diberi alawal n- (normal)
CH3 CH2 CH2 CH2 CH3 = n-pentana
2. Jika rantai karbon bercabang, maka:
a. Tentukan rantai induk, yaitu rantai karbon terpanjang dari ujung satu ke ujung yang lain. Rantai induk diberi
nama alkana.




                      rantai induk terdiri dari 6 atom C, sehingga diberi nama heksana
b. Penomoran.        Berilan nomor pada rantai induk dari ujung terdekat cabang.




Jika nomor dari bawah, maka cabang ada di nomor 3. tetapi jika dari kanan, maka cabang ada di nomor 4.
Sehingga dipilih penomoran dari ujung bawah.
c.     Tentukan cabang, yaitu atom C yang yang terikat pada rantai induk. Cabang merupakan gugus alkil dan
beri nama alkil sesuai struktur alkilnya. Perhatikan beberapa gugus alkil berikut:
d. Tabel 3. Nama Alkil
e.      Urutan penulisan nama. Urutan penulisan nama untuk alkana bercabang: Nomor cabang-nama cabang
nama rantai induk:
Nama untuk struktur di atas adalah: 3-metilheksana
-jika terdapat lebih dari satu alkil sejenis, maka tulis nonor-nonor cabang dari alkil sejenis dan beri awalan alkil
dengan di, tri, tetra, penta dan seterusnya sesuai dengan jumlah alkil sejenis.




-Jika terdapat dua atau lebih jenis alkil, maka nama-mana alkil disusun menurut abjad.




3. Tambahan untuk penomoran khusus
a. Jika terdapat beberapa pilihan rantai induk yang sama panjang, maka pilih rantai induk yang mempunyai
cabang lebih terbanyak.




Rantai induk = 5 atom C Rantai induk = 5 atom C
Cabang = 2 (metil dan etil) Cabang = 1 (isopropil)
Sehingga yang dipilih adalah struktur yang pertama : 3-etil-2-metilpentana
b. Gugus alkil dengan jumlah atom C lebih banyak diberi nomor yang lebih kecil.
Dari kiri, nomor 3 terdapat cabang etil
Dari kanan, nomor 3 terdapat cabang metil.
Sehingga yang dipilih adalah penomoran dari kiri: 3-etil-4metilpentana.

Sifat-sifat Alkana

Sifat fisik
1. Semua alkana merupakan senyawa polar sehingga sukar larut dalam air. Pelarut yang baik untuk alkana
adalah pelarut non polar, misalnya eter. Jika alkana bercampur dengan air, lapisan alkana berada di atas, sebab
massa jenisnya lebih kecil daripada 1.
2. Pada suhu kamar, empat suku pertama berwujud gas, suku ke 5 hingga suku ke 16 berwujud cair, dan suku
diatasnya berwujud padat.
3. Semakin banyak atom C, titik didih semakin tinggi. Untuk alkana yang berisomer (jumlah atom C sama
banyak), semakin banyak cabang, titik didih semakin kecil.
                                        Tabel Beberapa sifat fisik alkana
           Nama alkana       Rumus         Mr       Titik leleh     Titik didih  Kerapatan       Fase
                            molekul                    (oC)             (0C)      (g/Cm3)        pada
                                                                                                 250C
       Metana                  CH4         16          -182            -162         0,423         Gas
       Etana                  C2H6         30          -183              -89        0,545         Gas
       Propana                C3H8         44          -188              -42        0,501         Gas
       Butana                C4H10         58          -138            -0. 5        0,573         Gas
       Pentana               C5H12         72          -130               36        0,526         Cair
       Heksana               C6H14         86           -95               69        0,655         Cair
       Heptana               C7H16        100           -91               99        0,684         Cair
       …                        …          …             …                …           …            …
       …                        …          …             …                …           …            …
       Heptadekana          C17H36        240            22             302         0,778         cair
       Oktadekana           C18H38        254            28             316         0,789        padat
       Nonadekana           C19H40        268            32             330         0,789        padat
       Iikosana             C20H42        282            37             343         0,789        padat
Sifat kimia
1. Pada umumnya alkana sukar bereaksi dengan senyawa lainnya.
2. Dalam oksigen berlebih, alkana dapat terbakar menghasilkan kalor, karbon dioksida dan uap air



3. Jika alkana direaksikan dengan unsur-unsur halogen (F2, Cl2, Br2, I2), atom -atom H pada alkana akan
digantikan oleh atom-atom halogen.




                                         ALKENA
Alkena merupakan hidrokarbon tak jenuh yang mempunyai ikatan rangkap dua C=C. Suku alkena yang paling
kecil terdiri dari dua atom C, yaitu etena. Nama alkena sesuai dengan nama alkana dengan mengganti akhiran
– ana menjadi -ena.
  Dari tabel diatas rumus molekul untuk alkena jumlah atom H selalu dua kali jumlah atom C, sehingga secara
                                             umum dapat dirumuskan:
                                                      CnH2n
Tata nama alkena
Tata nama alkena menurut IUPAC adalah sebagai berikut:
1. Tentukan rantai induk, yaitu rantai karbon terpanjang dari ujung satu ke ujung yang lain yang melewati
ikatan rangkap, berilah nama alkena sesuai jumlah atom C pada rantai induk.
2. Penomoran.           Penomoran dimulai dari ujung rantai induk yang terdekat dengan rangkap.
3. Jika terdapat cabang berilah nama cabang dengan alkil sesuai jumlah atom C cabang tersebut. Jika terdapat
lebih dari satu cabang, aturan penamaan sesuai dengan aturan pada tatanama alkana.
4. Urutan penamaan: nomor cabang-nama cabang-nomor rangkap-rantai induk
Contoh:




                             3-metil-1-butena (benar) 2-metil-3-butena (salah)




Isomer alkena
Etena (C2H4) dan propena (C3H6) tidak mempunyai isomeri katena hanya ada satu struktur.

Isomer dari Butena (C4H8):




Sifat-sifat Alkena

Sifat fisik
1. pada suhu kamar, tiga suku yang pertama adalah gas, suku-suku berikutnya adalah cair dan suku-suku tinggi
berbentuk padat. Jika cairan alkena dicampur dengan air maka kedua cairan itu akan membentuk lapisan yang
saling tidak bercampur. Karena kerpatan cairan alkena lebih kecil dari 1 maka cairan alkena berada di atas
lapisan air.
2. Dapat terbakar dengan nyala yang berjelaga karena kadar karbon alkena lebih tinggi daripada alkana yang
jumlah atom karbonnya sama.
                                        Tabel Beberapa sifat fisik alkena
        Nama alkena       Rumus         Mr       Titik leleh    Titik didih   Kerapatan      Fase pada
                          molekul                   (oC)            (0C)       (g/Cm3)         250C
      Etena                C2H4           28        -169           -104         0,568           Gas
      Propena              C3H6           42        -185             -48        0,614           Gas
      1-Butena             C4H8           56        -185              -6        0,630           Gas
      1-Pentena           C5H10           70        -165              30        0,643           Cair
      1-Heksena           C6H12           84        -140              63        0,675           Cair
      1-Heptena           C7H14           98        -120              94        0,698           Cair
      1-Oktena            C8H16          112        -102            122         0,716           Cair
      1-Nonesa            C9H18          126         -81            147         0,731           Cair
      1-Dekena            C10H20         140         -66            171         0,743           Cair
Sifat kimia
Sifat khas dari alkena adalah terdapatnya ikatan rangkap dua antara dua buah atom karbon. Ikatan rangkap
dua ini merupakan gugus fungsional dari alkena sehingga menentukan adanya reaksi-reaksi yang khusus bagi
alkena, yaitu adisi, polimerisasi dan pembakaran
1. Alkena dapat mengalami adisi Adisi adalah pengubahan ikatan rangkap (tak jenuh) menjadi ikatan tunggal
(jenuh) dengan cara menangkap atom/gugus lain. Pada adisi alkena 2 atom/gugus atom ditambahkan pada
ikatan rangkap C=C sehingga diperoleh ikatan tunggal C-C. Beberapa contoh reaksi adisi pada alkena:
a. Reaksi alkena dengan halogen (halogenisasi)




b. Reaksi alkena dengan hidrogen halida (hidrohalogenasi) Hasil reaksi antara alkena dengan hidrogen halida
dipengaruhi oleh struktur alkena, apakah alkena simetris atau alkena asimetris.
      alkena simetris : akan menghasilkan satu haloalkana.




       alkena asimetris akan menghasilkan dua haloalkana. Produk utana reaksi dapat diramalkan
        menggunakan aturan Markonikov, yaitu: Jika suatu HX bereaksi dengan ikatan rangkap asimetris,
        maka produk utama reaksi adalah molekul dengan atom H yang ditambahkan ke atom C dalam
        ikatan rangkap yang terikat dengan lebih banyak atom H.
c. Reaksi alkena dengan hidrogen (hidrogenasi)
1. Reaksi ini akan menghasilkan alkana.




2. Alkena dapat mengalami polimerisasi. Polimerisasi adalah penggabungan molekul-molekul sejenis menjadi
molekul-molekul raksasa sehingga rantai karbon sangat panjang. Molekul yang bergabung disebut monomer,
sedangkan molekul raksasa yang terbentuk disebut polimer.




3. pembakaran alkena Pembakaran alkena (reaksi alkena dengan oksigen) akan menghasilkan CO2 dan H2O.
                                    CH2=CH2 + 2 O2 → 2CO2 + 2H2O




ALKUNA

Alkuna merupakan hidrokarbon tak jenuh yang mempunyai ikatan rangkap tiga C=C. Suku alkana yang paling
kecil terdiri dari dua atom C, yaitu etuna. Nama alkuna sesuai dengan nama alkana dengan mengganti akhiran
– ana menjadi -una.
Nama               Struktur                                                               Rumus molekul
Etena              CH=CH                                                                  C2H4
Propena            CH=C-CH3                                                               C3H4
Butena             CH=C-CH2-CH3                                                           C4H6
Pentena            CH=C- CH2- CH2?-CH3                                                    C5H8
                         Dari tabel diatas rumus molekul secara umum dapat dirumuskan:
                                                     CnH2n-2
Tata nama alkuna
Tata nama alkuna menurut IUPAC sama dengan tatanama alkena, lang-kah-langkah untuk memberi nama
alkuna adalah sebagai berikut:
1. Tentukan rantai induk, yaitu rantai karbon terpanjang dari ujung satu ke ujung yang lain yang melewati
ikatan rangkap, berilah nama alkuna sesuai jumlah atom C pada rantai induk.
2. Penomoran.           Penomoran dimulai dari ujung rantai induk yang terdekat dengan rangkap.
3. Jika terdapat cabang berilah nama cabang dengan alkil sesuai jumlah atom C cabang tersebut. Jika terdapat
lebih dari satu cabang, aturan penamaan sesuai dengan aturan pada tatanama alkana.
4. Urutan penamaan: nomor cabang-nama cabang-nomor rangkap-rantai induk.
Contoh:
Penentuan rantai induk salah Meskipun mempunyai rantai terpanjang, tetapi tidak melewati rangkap.




ISOMER ALKUNA
Etuna (C2H2), propena (C3H4) tidak mempunyai isomeri katena hanya ada satu struktur.


Isomer dari butuna (C4H6):




Isomer pentuna (C5H8)




Sifat Alkuna

Sifat fisis
Sifat fisis alkuna, yakni titik didih mirip dengan alkana dan alkena. Semakin tinggi suku alkena, titik didih
semakin besar. Pada suhu kamar, tiga suku pertama berwujud gas, suku berikutnya berwujud cair sedangkan
pada suku yang tinggi berwujud padat.
                                            Tabel Beberapa sifat fisik alkuna
    Nama alkena            Rumus           Mr      Titik leleh        Titik     Kerapatan        Fase
                          molekul                     (oC)            didih      (g/Cm3 )        pada
                                                                      (0 C)                     250 C
       Etuna              C2H2        26           -81           -85             -            Gas
     Propuna              C3H4        40          -103           -23             -            Gas
     1-Butuna             C4H6        54          -126            8              -            Gas
    1-Pentuna             C5H8        68           -90            40           0,690          Cair
    1-Heksuna            C6H10        82          -132            71           0,716          Cair
    1-Hepuna             C7H12        96           -81           100           0,733          Cair
     1-Oktuna            C8H14       110           -79           126           0,740          Cair
    1-Nonusa             C9H16       124           -50           151           0,766          Cair
    1-Dekuna             C10H18      138           -44           174           0,765          Cair

Sifat kimia
Adanya ikatan rangkap tiga yang dimiliki alkuna memungkinkan terjadinya reaksi adisi, polimerisasi, substitusi
dan pembakaran
1. reaksi adisi pada alkuna
o Reaksi alkuna dengan halogen (halogenisasi)




Perhatikan reaksi di atas, reaksi pada tahap 2 berlaku aturan markonikov.
o Reaksi alkuna dengan hidrogen halida




Reaksi di atas mengikuti aturan markonikov, tetapi jika pada reaksi alkena dan alkuna ditambahkan peroksida
maka akan berlaku aturan antimarkonikov. Perhatikan reaksi berikut:




o Reaksi alkuna dengan hidrogen




2. Polimerisasi alkuna




3. Substitusi alkuna Substitusi (pengantian) pada alkuna dilakukan dengan menggantikan satu atom H yang
terikat pada C=C di ujung rantai dengan atom lain.




4. Pembakaran alkuna Pembakaran alkuna (reaksi alkuna dengan oksigen) akan menghasilkan CO2 dan H2O.
                                        2CH=CH + 5 O2 → 4CO2 + 2H2O




Halogen alkana juga dikenal sebagai haloalkana atau alkil halida. Halaman ini menjelaskan pengertian
halogenalkana dan membahas sifat-sifat fisiknya. Disini juga akan dibahas secara ringkas tentang kereaktifan
kimiawi dari halogenalkana. Rincian tentang reaksi-reaksi kimia halogenalkana akan dibahas pada halaman-
halaman yang lain.

Haloalkana
Halogenalkana adalah senyawa-senyawa dimana ada satu atau lebih atom hidrogen pada sebuah alkana yang
digantikan oleh atom-atom halogen (fluorin, klorin, bromin atau iodin). Pada pembahasan tingkat dasar ini,
kita hanya membahas tentang senyawa-senyawa halogenalkana yang hanya mengandung satu atom halogen.
Contoh:




Jenis-jenis halogenalkana
Halogenalkan terdiri dari beberapa kelompok yang berbeda tergantung pada bagaimana posisi atom halogen
dalam rantai atom karbon. Ada beberapa perbedaan sifat kimia antara berbagai jenis halogealkana.
Halogenalkana primer
Pada halogenalkana primer (1°), atom karbon yang membawa atom halogen hanya berikatan dengan satu
gugus alkil lainnya.
Beberapa contoh halogenalkana primer antara lain sebagai berikut:



Perlu diperhatikan bahwa tidak jadi masalah bagaimanapun kompleksnya gugus alkil yang terikat. Pada
masing-masing contoh di atas, hanya ada satu ikatan terhadap sebuah gugus alkil dari gugus CH2 yang
mengikat halogen.
Terdapat pengecualian dalam hal ini, yakni CH3Br dan metil halida lainnya seringkali ditemukan sebagai
halogenalkana primer walaupun tidak ada gugus alkil yang terikat pada atom karbon yang membawa halogen.
Halogenalkana sekunder
Pada halogenalkana sekunder (2°), atom karbon yang padanya terikat halogen berikatan langsung dengan dua
gugus alkil yang lain, yang bisa sama atau berbeda.
Contoh-contoh:


Halogenalkana tersier
Pada halogenalkana tersier (3°), atom karbon yang mengikat halogen berikatan langsung dengan tiga gugus
alkil, yang bisa merupakan kombinasi dari gugus akil yang sama atau berbeda.
Contoh-contoh:




Sifat-sifat fisik halogenalkana
Perhatikan bahwa ada tiga dari halogenalkana pada gambar yang memiliki titik didih di bawah suhu kamar
(sekitar 20°C). Ketiga halogenalkana tersebut akan berwujud gas pada suhu kamar. Semua halogenalkana yang
lain kemungkinan ditemukan dalam wujud cair.
Perlu diingat bahwa:
      satu-satunya metil halida yang berwujud cair adalah iodometana;
      kloroetana merupakan sebuah gas.
Pola-pola titik didih mencerminkan pola-pola gaya tarik antar-molekul.
Gaya-gaya dispersi van der Waals
Gaya tarik ini menjadi lebih kuat apabila molekul lebih panjang dan memiliki lebih banyak elektron. Ini dapat
meningkatkan besarnya dipol-dipol sementara yang terbentuk.
Inilah sebabnya mengapa titik didih meningkat apabila jumlah atom karbon dalam rantai meningkat. Mari kita
ambil contoh untuk tipe halida tertentu, misalnya klorida. Gaya-gaya dispersi akan menjadi semakin kuat
apabila jumlah atom karbon semakin bertambah dalam rantai (misalnya dari 1 menjadi 2, 3 dan seterusnya).
Dibutuhkan lebih banyak energi untuk mengatasi gaya dispersi tersebut, sehingga titik didih meningkat.
Semakin meningkatnya titik didih dari klorida ke bromida sampai ke iodida (utuk jumlah atom karbon tertentu)
juga disebabkan oleh semakin meningkatnya jumlah elektron yang menimbulkan gaya dispersi yang lebih
besar. Sebagai contoh, terdapat lebih banyak elektron dalam iodometana dibanding yang terdapat dalam
klorometana – anda bisa menghitungnya sendiri!
Gaya tarik dipol-dipol van der Waals
Ikatan karbon-halogen (selain ikatan karbon-iodin) bersifat polar, karena pasangan elektron tertarik lebih
dekat ke atom halogen dibandng ke atom karbon. Ini disebabkan karena halogen (kecuali iodin) lebih
elektronegatif dibanding karbon.
Nilai keelektronegatifan unsur-unsur halogen dapat dilihat sebagai berikut:
C 2.5       F    4.0

            Cl   3.0

            Br 2.8

            I    2.5
Ini berarti bahwa selain gaya-gaya dispersi, ada juga gaya-gaya lain yang ditimbulkan oleh gaya tarik antara
dipol-dipol permanen (kecuali pada iodin).
Besarnya gaya-tarik dipol-dipol akan berkurang apabila ikatan menjadi semakin tidak polar (misalnya semakin
ke bawah mulai dari klorida sampai bromida terus ke iodida). Meski demikian, titik didih tetap meningkat! Ini
menujukkan bahwa efek gaya tarik dipol-dipol permanen jauh lebih tidak penting dibanding efek dipol-dipol
temporer yang menimbulkan gaya-gaya dispersi.
Besarnya peningkatan jumlah elektron pada iodin melebihi kehilangan dipol-dipol permanen dalam molekul.
Titik didih beberapa isomer




Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa pada isomer-isomer halogenalkana, titik didih semakin berkurang
dari halogenalkana primer ke halogenalkana sekunder ke halogenalkana tersier. Penurunan titik didih ini
adalah akibat dari menurunnya efektifitas gaya-gaya dispersi.
Dipol-dipol temporer paling besar untuk molekul yang terpanjang. Gaya-gaya tarik juga lebih kuat jika molekul-
molekul bisa saling berdekatan. Halogenalkana tersier memiliki struktur yang sangat pendek dan besar
sehingga tidak bisa berdekatan dengan molekul tetangganya.
Kelarutan halogenalkana
Kelarutan dalam air
Halogenalkana sangat sedikit larut dalam air.
Agar halogenalkana bisa larut dalam air, maka gaya tarik antara molekul-molekul halogenalkana harus diputus
(gaya dispersi van der Waals dan gaya-tarik dipol-dipol) demikian juga dengan ikatan hidrogen antara molekul-
molekul air. Pemutusan kedua gaya tarik ini memerlukan energi.
Energi akan dilepaskan apabila gaya tarik terbentuk antara halogenalkana dengan molekul-molekul air. Gaya-
gaya tarik yang terbentuk ini hanya gaya dispersi dan gaya tarik dipol-dipol. Kedua gaya ikatan ini tidak sama
kuatnya dengan ikatan hidrogen sebelumnya terdapat dalam air, sehingga energi yang dilepaskan lebih kecil
dibanding yang digunakan untuk memisahkan molekul-molekul air.
Energi yang terlibat tidak cukup banyak sehingga halogenalkana hanya sedikit larut dalam air.
Kelarutan dalam pelarut-pelarut organik
Halogenalkana cenderung larut dalam pelarut organik karena gaya tarik antar-molekul yang baru terbentuk
memiliki kekuatan yang sama dengan kekuatan ikatan yang diputus dalam halogenalkana dan pelarut.
Kereaktifan kimiawai halogenalkana
Pentingnya kekuatan ikatan
Pola kekuatan dari keempat ikatan karbon-halogen ditunjukkan pada gambar berikut:




Perlu diperhatikan bahwa kekuatan ikatan semakin berkurang ketika kita berpindah dari C-F ke C-I, dan juga
perhatikan bahwa ikatan C-F jauh lebih kuat dibanding lainnya.
Agar zat lain bisa bereaksi dengan halogenalkana, maka ikatan karbon-halogen harus diputus. Karena
pemutusan semakin mudah dilakukan semakin ke bawah (mulai dari fluoride sampai iodin), maka senyawa-
senyawa semakin ke bawah golongan halogen akan semakin reaktif.
Iodoalkana merupakan halogenalkana yang paling reaktif dan fluoroalkana merupakan yang paling tidak
reaktif. Sebenarnya, kereaktifan fluoroalkana sangat kecil sehingga bisa diabaikan dalam pembahasan-
pembahasan selanjutnya
Pengaruh polaritas ikatan
Dari keempat halogen, fluorin merupakan unsur yang paling elektronegatif dan iodin yang paling tidak
elektronegatif. Ini berarti bahwa pasangan elektron dalam ikatan karbon-fluorin akan tergeser ke ujung
halogen.
Perhatikan metil halida sebagai contoh-contoh sederhana berikut ini:




Keelektronegatifan karbon dan iodin sama sehingga tidak akan ada pemisahan muatan pada ikatan (pasangan
elektron berada pada posisi netral).
Salah satu reaksi penting yang dialami oleh halogenalkana melibatkan penggantian halogen oleh sesuatu yang
lain – yakni reaksi substitusi. Reaksi-reaksi ini melibatkan salah satu dari mekanisme berikut:
      ikatan karbon-halogen terputus menghasilkan ion positif dan ion negatif.Ion yang memiliki atom
          karbon bermuatan positif selanjutnya bereaksi dengan sesuatu yang bermuatan negatif (baik negatif
          penuh maupun negatif parsial).
      sesuatu yang bermuatan negatif penuh atau parsial tertarik ke atom karbon yang sedikit bermuatan
          positif dan melepaskan atom halogen.
Mungkin anda berpikir bahwa kedua mekanisme di atas akan menjadi lebih efektif untuk ikatan karbon-fluorin
yang sebelumnya telah memiliki banyak muatan positif dan negatif. Tapi kenyataannya tidak demikian – justru
sedikit kebalikannya yang terjadi!
Yang mengendalikan kereaktifan adalah kekuatan ikatan yang harus diputus, sementara cukup sulit untuk
memutus sebuah ikatan karbon-fluorin, tapi cukup mudah untuk memutus ikatan karbon-iodin.
Alkohol dan eter

Alkohol
Alkohol mempunyai rumus umum R-OH. Strukturnya serupa dengan air, tetapi satu hidrogennya diganti
dengan satu gugus alkil. Gugus fungsi alkohol adalah gugus hidroksil, -O. Alkohol tersusun dari unsur C, H, dan
O. Struktur alkohol : R-OH primer, sekunder dan tersier




Sifat fisika alkohol :
                                                                              o                o
-      TD alkohol > TD alkena dengan jumlah unsur C yang sama (etanol = 78 C, etena = -88,6 C)
-      Umumnya membentuk ikatan hidrogen
-      Berat jenis alkohol > BJ alkena
-      Alkohol rantai pendek (metanol, etanol) larut dalam air (=polar)
Struktur Alkohol : R – OH
R-CH2-OH             (R)2CH-OH            (R)3C-OH
Primer                sekunder               tersier
Pembuatan alkohol :
-      Oksi mercurasi – demercurasi
-      Hidroborasi – oksidasi
-      Sintesis Grignard
-      Hidrolisis alkil halida
Penggunaan alkohol :
-      Metanol : pelarut, antifreeze radiator mobil, sintesis formaldehid, metilamina, metilklorida, metilsalisilat,
dll
-      Etanol : minuman beralkohol, larutan 70 % sebagai antiseptik, sebagai pengawet, dan sintesis eter,
koloroform, dll.
Tatanama alkohol
Nama umum untuk alkohol diturunkan dari gugus alkol yang melekat pada –OH dan kemudian ditambahkan
kata alkohol. Dalam sisitem IUAPAC, akhiran-ol menunjukkan adanya gugus hidroksil. Contoh-contoh berikut
menggambarkan contoh-contoh penggunaan kaidah IUPAC (Nama umum dinyatakan dalam tanda kurung).




Eter
Bagi kebanyakan orang kata eter dikaitkan dengan anestesi. Eter yang dimaksud adalah hanyalah salah satu
anggota kelompok eter, yaitu senyawa yang mempunyai dua gugus organik melekat pada atom oksigen
tunggal. Rumus umum eter ialah R-O-R’, yang R dan R’-nya bisa sama atau berbeda, gugusnya dapat berupa
alkil atau aril. Pada anestesi umum kedua R-nya adalah gugus etil. CH3CH2-O-CH2CH3.
Eter merupakan isomer atau turunan dari alkohol (unsur H pada OH diganti oleh alkil atau aril). Eter
mengandung unsur C, H, dan O.
Sifat fisika eter :
-      Senyawa eter rantai C pendek berupa cair pd suhu kamar dan TD nya naik dengan penambahan unsur C.
-      Eter rantai C pendek medah larut dalam air, eter
-      dengan rantai panjang sulit larut dalam air dan larut dalam pelarut organik.
    -     Mudah terbakar
                                                                                            o              o
    -     Unsur C yang sama TD eter > TD alkana dan < TD alkohol (metil, n-pentil eter 140 C, n-heptana 98 C,
                        o
    heksil alkohol 157 C).
    Pembuatan eter :
    -     Sintesis Williamson
    -     Alkoksi mercurasi – demercurasi
    Penggunaan eter :
    -     Dietil eter : sbg obat bius umum, pelarut dari minyak, dsb.
    -     Eter-eter tak jenuh : pada opersi singkat : ilmu kedokteran gigi dan ilmu kebidanan.
    Tatanama eter
    -     Eter diberi nama berdasarkan gugus alkil atau arilnya menurut urutan abjad, diikuti dengan kata eter
    misalnya :




    Untuk eter dengan stuktur kompleks, kadang-kadang diperlukan nama gugus –OR sebagai gugus alkoksi.
    Misalnya, dalam sistem IUPAC eter diberi nama sebagai hidrokarbon dengan substitusi alkoksi.




    Mengenal Aldehid dan Keton

    Aldehid dan keton adalah senyawa-senyawa sederhana yang mengandung sebuah gugus karbonil – sebuah
    ikatan rangkap C=O. Aldehid dan keton termasuk senyawa yang sederhana jika ditinjau berdasarkan tidak
    adanya gugus-gugus reaktif yang lain seperti -OH atau -Cl yang terikat langsung pada atom karbon di gugus
    karbonil – seperti yang bisa ditemukan misalnya pada asam-asam karboksilat yang mengandung gugus -COOH.
    Contoh-contoh aldehid
    Pada aldehid, gugus karbonil memiliki satu atom hidrogen yang terikat padanya bersama dengan salah satu
    dari gugus berikut:
   atom hidrogen lain
   atau, yang lebih umum, sebuah gugus hidrokarbon yang bisa berupa gugus alkil atau gugus yang mengandung
    sebuah cincin benzen.
    Pada pembahasan kali ini, kita tidak akan menyinggung tentang aldehid yang mengandung cincin benzen.




    Pada gambar di atas kita bisa melihat bahwa keduanya memiliki ujung molekul yang sama persis. Yang
    membedakan hanya kompleksitas gugus lain yang terikat.
    Jika kita menuliskan rumus molekul untuk molekul-molekul di atas, maka gugus aldehid (gugus karbonil yang
    mengikat atom hidrogen) selalunya dituliskan sebagai -CHO – dan tidak pernah dituliskan sebagai COH. Oleh
    karena itu, penulisan rumus molekul aldehid terkadang sulit dibedakan dengan alkohol. Misalnya etanal
    dituliskan sebagai CH3CHO dan metanal sebagai HCHO.
Penamaan aldehid didasarkan pada jumlah total atom karbon yang terdapat dalam rantai terpanjang –
termasuk atom karbon yang terdapat pada gugus karbonil. Jika ada gugus samping yang terikat pada rantai
terpanjang tersebut, maka atom karbon pada gugus karbonil harus selalu dianggap sebagai atom karbon
nomor 1.
Contoh-contoh keton
Pada keton, gugus karbonil memiliki dua gugus hidrokarbon yang terikat padanya. Sekali lagi, gugus tersebut
bisa berupa gugus alkil atau gugus yang mengandung cincin benzen. Disini kita hanya akan berfokus pada
keton yang mengandung gugus alkil untuk menyederhanakan pembahasan.
Perlu diperhatikan bahwa pada keton tidak pernah ada atom hidrogen yang terikat pada gugus karbonil.




Propanon biasanya dituliskan sebagai CH 3COCH3. Diperlukannya penomoran atom karbon pada keton-keton
yang lebih panjang harus selalu diperhatikan. Pada pentanon, gugus karbonil bisa terletak di tengah rantai atau
di samping karbon ujung – menghasilkan pentan-3-ena atau pentan-2-on.
Ikatan dan Kereaktifan
Ikatan pada gugus karbonil




Atom oksigen jauh lebih elektronegatif dibanding karbon sehingga memiliki kecenderungan kuat untuk
menarik elektron-elektron yang terdapat dalam ikatan C=O kearahnya sendiri. Salah satu dari dua pasang
elektron yang membentuk ikatan rangkap C=O bahkan lebih mudah tertarik ke arah oksigen. Ini menyebabkan
ikatan rangkap C=O sangat polar.
Reaksi-reaksi penting dari gugus karbonil
Atom karbon yang sedikit bermuatan positif pada gugus karbonil bisa diserang oleh nukleofil. Nukleofil
                                                                     -
merupakan sebuah ion bermuatan negatif (misalnya, ion sianida, CN ), atau bagian yang bermuatan negatif
dari sebuah molekul (misalnya, pasangan elektron bebas pada sebuah atom nitrogen dalam molekul amonia
NH3).
Selama reaksi berlangsung, ikatan rangkap C=O terputus. Efek murni dari pemutusan ikatan ini adalah bahwa
gugus karbonil akan mengalami reaksi adisi, seringkali diikuti dengan hilangnya sebuah molekul air. Ini
menghasilkan reaksi yang dikenal sebagai adisi-eliminasi atau kondensasi. Dalam pembahasan tentang aldehid
dan keton anda akan menemukan banyak contoh reaksi adisi sederhana dan reaksi adisi-eliminasi.
Aldehid dan keton mengandung sebuah gugus karbonil. Ini berarti bahwa reaksi keduanya sangat mirip jika
ditinjau berdasarkan gugus karbonilnya.
Perbedaan aldehid dan keton
Aldehid berbeda dengan keton karena memiliki sebuah atom hidrogen yang terikat pada gugus karbonilnya. Ini
menyebabkan aldehid sangat mudah teroksidasi.
Sebagai contoh, etanal, CH3CHO, sangat mudah dioksiasi baik menjadi asam etanoat, CH3COOH, atau ion
                  -
etanoat, CH3COO .
Keton tidak memiliki atom hidrogen tersebut sehingga tidak mudah dioksidasi. Keton hanya bisa dioksidasi
dengan menggunakan agen pengoksidasi kuat yang memiliki kemampuan untuk memutus ikatan karbon-
karbon.
Oksidasi aldehid dan keton juga dibahas dalam modul belajar online ini pada sebuah halaman khusus di topik
aldehid dan keton.
Sifat-sifat fisik
Titik didih
Aldehid sederhana seperti metanal memiliki wujud gas (titik didih -21°C), dan etanal memiliki titik didih +21°C.
Ini berarti bahwa etanal akan mendidih pada suhu yang mendekati suhu kamar.
Aladehid dan keton lainnya berwujud cair, dengan titik didih yang semakin meningkat apabila molekul semakin
besar. Besarnya titik didih dikendalikan oleh kekuatan gaya-gaya antar-molekul.
Gaya dispersi van der Waals
Gaya tarik ini menjadi lebih kuat apabila molekul menjadi lebih panjang dan memiliki lebih banyak elektron.
Peningkatan gaya tarik ini akan meningkatkan ukuran dipol-dipol temporer yang terbentuk. Inilah sebabnya
mengapa titik didih meningkat apabila jumlah atom karbon dalam rantai juga meningkat – baik pada aldehid
maupun pada keton.
Gaya tarik dipol-dipol van der Waals
Aldehid dan keton adalah molekul polar karena adanya ikatan rangkap C=O. Seperti halnya gaya-gaya dispersi,
juga akan ada gaya tarik antara dipol-dipol permanen pada molekul-molekul yang berdekatan.
Ini berarti bahwa titik didih akan menjadi lebih tinggi dibanding titik didih hidrokarbon yang berukuran sama –
yang mana hanya memiliki gaya dispersi.
Mari kita membandingkan titik didih dari tiga senyawa hidrokarbon yang memiliki besar molekul yang mirip.
Ketiga senyawa ini memiliki panjang rantai yang sama, dan jumlah elektronnya juga mirip (walaupun tidak
identik).


                                     molekul         tipe      titik didih (°C)


                                   CH3CH2CH3       alkana            -42


                                   CH3CHO          aldehid          +21


                                   CH3CH2OH        alkohol          +78

Pada tabel di atas kita bisa melihat bahwa aldehid (yang memiliki gaya tarik dipol-dipol dan gaya tarik dispersi)
memiliki titik didih yang lebih tinggi dari alkana berukuran sebanding yang hanya memiliki gaya dispersi.
Akan tetapi, titik didih aldehid lebih rendah dari titik didih alkohol. Pada alkohol, terdapat ikatan hidrogen
ditambah dengan dua jenis gaya-tarik antar molekul lainnya (gaya-tarik dipol-dipol dan gaya-tarik dispersi).
Walaupun aldehid dan keton merupakan molekul yang sangat polar, namun keduanya tidak memiliki atom
hidrogen yang terikat langsung pada oksigen, sehingga tidak bisa membentuk ikatan hidrogen sesamanya.
Kelarutan dalam air
Aldehid dan keton yang kecil dapat larut secara bebas dalam air tetapi kelarutannya berkurang seiring dengan
pertambahan panjang rantai. Sebagai contoh, metanal, etanal dan propanon – yang merupakan aldehid dan
keton berukuran kecil – dapat bercampur dengan air pada semua perbandingan volume.
Alasan mengapa aldehid dan keton yang kecil dapat larut dalam air adalah bahwa walaupun aldehid dan keton
tidak bisa saling berikatan hidrogen sesamanya, namun keduanya bisa berikatan hidrogen dengan molekul air.
Salah satu dari atom hidrogen yang sedikit bermuatan positif dalam sebuah molekul air bisa tertarik dengan
baik ke salah satu pasangan elektron bebas pada atom oksigen dari sebuah aldehid atau keton untuk
membentuk sebuah ikatan hidrogen.




Tentunya juga terdapat gaya dispersi dan gaya tarik dipol-dipol antara aldehid atau keton dengan molekul air.
Pembentukan gaya-gaya tarik ini melepaskan energi yang membantu menyuplai energi yang diperlukan untuk
memisahkan molekul air dan aldehid atau keton satu sama lain sebelum bisa bercampur.
Apabila panjang rantai meningkat, maka "ekor-ekor" hidrokarbon dari molekul-molekul (semua hidrokarbon
sedikit menjauh dari gugus karbonil) mulai mengalami proses di atas.
Dengan menekan diri diantara molekul-molekul air, ekor-ekor hidrokarbon tersebut memutus ikatan hidrogen
yang relatif kuat antara molekul-molekul air tanpa menggantinya dengan ikatan yang serupa. Ini menjadi
proses yang tidak bermanfaat dari segi energi, sehingga kelarutan berkurang.

Asam karboksilat dan turunannya
Asam organik yang paling penting adalah asam-asam karboksilat. Gugus fungsinya adalah gugus karboksil,
kependekan dari dua bagian yaitu gugus karbonil dan hidroksil. Rumus asam karboksilat dapat dipanjang dan
atau dipendekkan seperti :
Ciri-ciri asam karboksilat
-      Mengandung gugus COOH yang terikat pada gugus alkil (R-COOH) maupun gugus aril (Ar-COOH)
-      Kelarutan sama dengan alkohol
-      Asam dengan jumlah C 1 – 4 : larut dalam air
-      Asam dengan jumlah C = 5 : sukar larut dalam air
-      Asam dengan jumlah C > 6 : tidak larut dalam air
-      Larut dalam pelarut organik seperti eter, alkohol, dan benzen
-      TD asam karboksilat > TD alkohol dengan jumlah C sama.
Contoh : asam format = HCOOH
-      Sifat fisika : cairan, tak berwarna, merusak kulit, berbau tajam, larut dalam H2O dengan sempurna.
-      Penggunaan : untuk koagulasi lateks, penyamakkan kulit, industri tekstil, dan fungisida.
Contoh lain :asam asetat = CH3-COOH
                           o         o
-      Sifat : cair, TL 17 C, TD 118 C, larut dalam H2O dengan sempurna
-      Penggunaan : sintesis anhidrat asam asetat, ester, garam, zat warna, zat wangi, bahan farmasi, plastik,
serat buatan, selulosa dan sebagai penambah makanan.
Pembuatan asam karboksilat
-      Oksidasi alkohol primer
-      Oksidasi alkil benzen
-      Carbonasi Reagen Grignard
-      Hidrolisin nitril
Tatanama Asam karboksilat
Karena banyak terdapat dialam, asam-asam karboksilat adalah golongan senyawa yang paling dulu dipelajari
oleh kimiawan organik. Karena tidak mengherankan jika banyak senyawa-senyawa asam mempunyai nama-
nama biasa. Nama-nama ini biasanya diturunkan dari bahasa Latin yang menunjukkan asalnya. Tabel berikut
memuat nama-nama asam berantai lurus beserta nama IUPAC-nya. Banyak dari asam ini mula-mula dipisahkan
dari lemak sehingga sering dinamakan sebagai asam-asam lemak (struktur lemak secara terinci dibahas dalam
bab berikutnya). Untuk memperoleh nama IUPAC suatu asam karboksilat diperlukan awalan kata asam da
akhiran at. Asam-asam bersubstitusi diberi nama menurut dua cara. Dalam sisitem IUPAC, nomor rantai
dimulai dari asam karbon pembawa gugus karboksil dan substituen diberi nomor lokasi. Jika nama umum yang
digunakan lokasi substituen dilambangkan dengan huruf latin, dimulai dengan atom karbon α.
Jika gugus karboksilat dihubungkan dengan cincin, akhiran karboksilat ditambahkan pada nama induk
sikloalkana.




Ester

Ester diturunkan dari asam dengan mengganti gugus OH dengan gugus OR. Sifat fisika : berbentuk cair atau
padat, tak berwarna, sedikit larut dalm H2O, kebanyakan mempunyai bau yang khas dan banyak terdapat di
alam. Struktut ester : R – COOR. Ester diberi nama seperti penamaan pada garam.




Perhatikan bahwa bagian R dari gugus OR disebutkan dahulu, diikuti dengan nama asam yang berakhiran –at.



Pembuatan ester :
-     Reaksi alkohol dan asam karboksilat
-     Reaksi asam klorida atau anhidrida.
Penggunaan ester :
-     Sebagai pelarut, butil asetat (pelarut dalam industri cat).
-     Sebagai zat wangi dan sari wangi.
Pembuatan ester, estrerifikasi Fischer
Jika asam karboksilat dan alkohol dan katalis asam (biasanya HCl atau H 2SO4) dipanaskan terdapat
kesetimbangan dengan ester dan air.
Proses ini dinamakan esterifikasi fischer, yaitu berdasarkan nama Emil Fischer kimiawan organik abad 19 yang
mengembangkan metode ini. Walaupun reaksi ini adalah reaksi kesetimbangan, dapat juga digunakan untuk
membuat ester dengan hasil yang tinggi dengan menggeser kesetimbangan kekanan. Hal ini dapat dicapai
dengan beberapa teknik. Jika alkohol atau asam harganya lebih murah, dapat digunakan jumlah berlebihan.
Cara lain ialah dengan memisahkan ester dan/atau air yang terbentuk (dengan penyulingan) sehingga
menggeser reaksi kekanan.

SENYAWA AROMATIS

Cincin Benzene
Semua senyawa aromatis berdasarkan benzen, C6H6, yang memiliki enam karbon dan simbol sebagai berikut:
Setiap sudut dari segienam memiliki atom karbon yang terikat dengan hidrogen.

Fenil
Ingat bahwa anda mendapatkan metil , CH3, dengan mengingkkirkan sebuah hidrogen pada metan, CH4.
Dan anda mendapatkan Fenil , C6H5, dengan menghilangkan sebuah hidrogen dari benzen, C6H6. Seperti metil
atau etil , Fenil selalu terikat pada yang lain.
Golongan aromatik dengan suatu golongan terikat pada cincin benzen.
Kasus dimana penamaan didasarkan pada benzen

Klorobenzen
Ini merupakan contoh sederhana dimana sebuah halogen terikat pada cincin benzen. Penamaan sudah sangat
jelas.




Penyederhanaannya menjadi C6H5Cl. Sehingga anda dapat (walau mungkin tidak!) menamainya fenilklorida.
Setiap kalo anda menggambar cincin benzen dengan sesuatu terikat padanya sebenarnya anda menggambar
fenil. Untuk mengikat sesuatu anda harus membuang sebuah hidrogen sehingga menghasilkan fenil.

Nitrobenzen
Golongan nitro, NO2, terikat pada rantai benzen.




                                       Formula sederhananya C6H5NO2.

Metilbenzen
Satu lagi nama yang jelas. Benzen dengan metil terikat padanya. Golongan alkil yang lain juga mengikuti cara
penamaan yang sama.Contoh, etilbenzen. Nama lama dari metilbenzen adalah toluen, anda mungkin masih
akan menemui itu.




                                       Formula sederhananya C6H5CH3.

Klorometil)benzen
Variasi dari metilbensen dimana satu atom hidrogen digantikan dengan atom klorida. Perhatikan tanda dalam
kurung,(klorometil) . Ini agar anda dapat mengerti bahwa klorin adalah bagian dari metil dan bukan berikatan
dengan cincin.




Jika lebih dari satu hidrogen digantikan dengan klorin, penamaan akan menjadi (diklorometil)benzene atau
(triklorometil) benzen. Sekali lagi perhatikan pentingnya tanda kurung.
asam benzoik (benzenecarboxylic acid)
Asam benzoik merupakan nama lama, namun masih umum digunakan -lebih mudah diucapkan dan ditulis.
Apapun sebutannya terdapat asam karboksilik, -COOH, terikat pada cincin benzen.




Kasus dimana penamaan berdasarkan Fenil

Ingat bahwa golongan fenil adalah cincin benzen yang kehilangan satu atom karbon – C6H5.

fenilamine
Fenilamin adalah amin primer yang mengandung -NH2 terikat pada benzen.




Nama lama dari fenilamin adalah anilin, dan anda juga dapat menamakanya aminobenzene.

fenileten
Molekul eten dengan fenil berikatan padanya. Eten adalah rantai dengan dua karbon dengan ikatan rangap.
Karena itu fenileten berupa:




Nama lamanya Stiren -monomer dari polystyren.

feniletanon
Mengandung rantai dengan dua karbon tanpa ikatan rangkap. Merupakan golongan adalah keton sehingga
ada C=O pada bagian tengah. Terikat pada rantai karbon adalah fenil.




feniletanoat
Ester dengan dasar asam etanoik. Atom hidrogen pada -COOH digantikan dengan golongan fenil.




fenol
Fenol memiliki -OH terikat pada benzen sehingga formulanya menjadi C6H5OH.
Senyawa Aromatik dengan lebih dari suatu golongan terikat pada cincin benzen.

Menomori cincin
Salah satu golongan yang terikat pada cincin diberi nomor satu.
Posisi yang lain diberi nomor 2 sampai 6. Anda dapat menomorinya searah atau berlawanan arah dengan
jarum jam. Sehingga menghasilkan nomor yang terkecil. Lihat contoh untuk lebih jelas
Contoh:
Menambah atom klorin pada cincin
Lihat pada senyawa berikut:




Semuanya berdasar pada metilbenzen dan dengan itu metil menjadi nomor 1 pada cincin.
Mengapa 2-Klorometilbenzen dan bukan 6-klorometil benzen? Cincin dinamai searah jarum jamdalam kasus
ini karena angka 2 lebih kcil dari angka 6.
asam 2-hidrobenzoik
Juga disebut sebagai asam 2-hidroksibenzenkarbolik. Ada -COOH terikat pada cincin dan karena penamaan
berdasarkan benzoik maka golongan benzoik menjadi nomor satu. Pada posisi disampingnya terdapat hidroksi
-OH dengan nomor 2.




asam benzene-1,4-dikarboksilik
“di” menunjukkan adanya dua asam karboksilik dan salah satunya berada diposidi 1 sedangkan yang lainnya
berada pada posisi nomor 4.




2,4,6-trikloofenol
Berdasarkan dengan fenol dengan -OH terikat pada nomor 1 dari rantai karbon dan klorin pada posisi nomor
2,4 dan 6 dari cincin karbon.




2,4,6-triklorofenol adalah antiseptik terkenal TCP.
metil 3-nitrobenzoat
Nama ini merupakan nama yang akan anda temui pada soal-soal latihan me-nitrat-kan cincin benzen.
Dari namanya ditunjukkan bahwa metil 3-nitrobenzoat merupakan golongan ester (akhiran oat). Dan metil
tertulis terpisah.
Ester ini berdasarkan asam T, asam 3-nitrobenzoik -dan kita mulai dari sana.
Akan ada cincin benzen dengan -COOH pada nomor satu dari cincin dan nitro pada nomor 3. untuk
menghasilkan ester sebuah hidrogen pada -COOH degantikan dengan metil.
Metil 3-nitrobenzoat menjadi:




 KEGUNAAN SENYAWA HIDROKARBON
Kegunaan Gas Alam
Gas alam seperti juga minyak bumi merupakan senyawa hidrokarbon (Cn H2n+2) yang terdiri dari campuran
beberapa macam gas hidrokarbon yang mudah terbakar dan non-hidrokarbon seperti N2, CO2 dan H2S.
Umumnya gas yang terbentuk sebagian besar dari metan CH4, dan dapat juga termasuk etan C2H6 dan propan
C3H8. Komposisi gas alam bervariasi, tetapi umumnya tipikal gas alam (sebelum dilakukan pemrosesan) adalah
seperti pada tabel di bawah ini.
Gas alam yang didapat dari dalam sumur di bawah bumi, biasanya ber-gabung dengan minyak bumi. Gas ini
disebut sebagai gas associated. Ada juga sumur yang khusus menghasilkan gas, sehingga gas yang dihasilkan
disebut gas non associated. Sekali dibawa ke atas permukaan bumi, terhadap gas dila-kukan pemisahan untuk
menghilang-kan impurities seperti air, gas-gas lain, pasir dan senyawa lainnya. Beberapa gas hidrokarbon
seperti propan (C3H8) dan butan (C4H10) dipisahkan dan dijual secara terpisah. Setelah diproses, gas alam yang
bersih ditransmisikan ke titik-titik penggunaan melalui jaringan pipa, yang jauhnya dapat mencapai ribuan
kilometer. Gas alam yang dikirim melalui pipa tersebut merupakan gas alam dalam bentuk yang murni karena
hampir seluruhnya adalah metan (CH4).
Gas alam yang dikirim tersebut merupa-kan ‘dry gas’ atau ‘gas kering’. Metan adalah molekul yang dibentuk
oleh satu atom karbon dan empat atom hidrogen sebagai CH4. Gas metan mudah terbakar dimana secara
kimia terjadi reaksi antara metan dan oksigen yang hasilnya berupa karbon di-oksida (CO2), air (H2O) ditambah
sejumlah besar energi, sebagaimana persamaan be-rikut :
CH4[g] + 2 O2*g+ → CO2[g] + 2 H2O[50] + 891 kJ

Kegunaan etanol
Minuman
"Alkohol" yang terdapat dalam minuman beralkohol adalah etanol.
Spirit (minuman keras) bermetil yang diproduksi dalam skala industri
Etanol biasanya dijual sebagai spirit (minuman keras) bermetil yang diproduksi dalam skala industri yang
sebenarnya merupakan sebuah etanol yang telah ditambahkan sedikit metanol dan kemungkinan beberapa zat
warna. Metanol beracun, sehingga spirit bermetil dalam skala industri tidak cocok untuk diminum. Penjualan
dalam bentuk spirit dapat menghindari pajak tinggi yang dikenakan untuk minuman beralkohol (khususnya di
Inggris).
Sebagai bahan bakar
Etanol dapat dibakar untuk menghasilkan karbon dioksida dan air serta bisa digunakan sebagai bahan bakar
baik sendiri maupun dicampur dengan petrol (bensin). "Gasohol" adalah sebuah petrol / campuran etanol yang
mengandung sekitar 10 – 20% etanol.
Karena etanol bisa dihasilkan melalui fermentasi, maka alkohol bisa menjadi sebuah cara yang bermanfaat bagi
negara-negara yang tidak memiliki industri minyak untuk mengurangi import petrol mereka.
Sebagai pelarut
Etanol banyak digunakan sebagai sebuah pelarut. Etanol relatif aman, dan bisa digunakan untuk melarutkan
berbagai senyawa organik yang tidak dapat larut dalam air. Sebagai contoh, etanol digunakan pada berbagai
parfum dan kosmetik.

Kegunaan metanol
Sebagai bahan bakar
Metanol jika dibakar akan menghasilkan karbon dioksida dan air.

Metanol bisa digunakan sebagai sebuah aditif petrol untuk meningkatkan pembakaran, atau kegunaannya
sebagai sebuah bahan bakar independen (sekarang sementara diteliti).
Sebagai sebuah stok industri
Kebanyakan metanol digunakan untuk membuat senyawa-senyawa lain – seperti metanal (formaldehida),
asam etanoat, dan metil ester dari berbagai asam. Kebanyakan dari senyawa-senyawa selanjutnya diubah
menjadi produk.

Kegunaan propan-2-ol
Propan-2-ol banyak digunakan pada berbagai situasi yang berbeda sebagai sebuah pelarut.

Minyak Bumi




Minyak bumi (bahasa Inggris: petroleum, dari bahasa Latin petrus – karang dan oleum – minyak), dijuluki
juga sebagai emas hitam, adalah cairan kental, coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada
di lapisan atas dari beberapa area di kerak bumi. Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks dari berbagai
hidrokarbon, sebagian besar seri alkana, tetapi bervariasi dalam penampilan, komposisi, dan kemurniannya.
Minyak Bumi adalah campuran dari berbagai jenis hidrokarbon.
Komposisi minyak bumi Minyak mentah (petroleum) adalah campuran kompleks, terutama terdiri dari
hidrokarbon bersama-sama dengan sejumlah kecil komponen yang mengandung sulfur, oksigen dan nitrogen
dan sangat sedikit komponen yang mengandung logam.
Struktur hidrokarbon yang ditemukan dalam minyak mentah:
Alkana. Fraksi ini merupakan yang terbesar di dalam minyak mentah.
Sikloalkana (napten) CnH2n Sikloalkana ada yang memiliki cincin 5 (lima) yaitu siklopentana ataupun cincin 6
(enam) yaitu sikloheksana.
Aromatik CnH2n -6 Aromatik memiliki cincin 6 (enam).
hanya terdapat dalam jumlah kecil, tetapi sangat diperlukan dalam bensin karena :
- Memiliki harga anti knock yang tinggi
- Stabilitas penyimpanan yang baik
- Dan kegunaannya yang lain sebagai bahan bakar (fuels).
Proporsi dari ketiga tipe hidrokarbon sangat tergantung pada sumber dari minyak bumi. Pada umumnya alkana
merupakan hidrokarbon yang terbanyak tetapi kadang kadang (disebut sebagai crude napthenic) mengandung
sikloalkana sebagai komponen yang terbesar, sedangkan aromatik selalu merupakan komponen yang paling
sedikit.
Pengilangan/penyulingan (refining) adalah proses perubahan minyak mentah menjadi produk yang dapat
dijual (marketeble product) melalui kombinasi proses fisika dan kimia. Produk yang dihasilkan dari proses
pengilangan/penyulingan tersebut antara lain:
     1. Light destilates adalah komponen dengan berat molekul terkecil. Ini ada beberapa buah :
      Bensin




Gasoline (Amerika Serikat) atau motor spirit (Inggris) atau bensin (Indonesia) memiliki titik didih terendah dan
merupakan produk kunci dalam penyulingan yang digunakan sebagai bahan pembakar motor (45% dari minyak
mentah diproses untuk menghasilkan gasolin).
     Naphta




Naphta adalah material yang memiliki titik didih antara gasolin dan kerosin. Beberapa naphta digunakan
sebagai : – Pelarut karet – Bahan awal etilen – Dalam kemiliteran digunakan sebagai bahan bakar jet dan
dikenal sebagai jP-4. – Pelarut dry cleaning.

       Kerosin




Kerosin memiliki titik didih tertinggi dan biasanya digunakan sebagai :
- Minyak tanah
- Bahan bakar jet untuk air plane
Intermediate destilates merupakan minyak gas atau bahan bakar diesel yang penggunaannya sebagai bahan
bakar transportasi truk-truk berat, kereta api, kapal kecil komersial, peralatan pertanian dan lain-lain.
Heavy destilates merupakan komponen dengan berat molekul tinggi. Fraksi ini biasanya dirubah menjadi
minyak pelumas (lubricant oils), minyak dengan berat jenis tinggi dari bahan bakar, lilin dan stock cracking.
Residu termasuk aspal, residu bahan bakar minyak dan petrolatum. Residu memiliki prosentasi yang tidak
besar.

PEMBENTUKAN MINYAK BUMI

Proses pembentukan minyak bumi
Membahas identifikasi minyak bumi tidak dapat lepas dari bahasan teori pembentukan minyak bumi dan
kondisi pembentukannya yang membuat suatu minyak bumi menjadi spesifik dan tidak sama antara suatu
minyak bumi dengan minyak bumi lainnya. Karena saya adalah seorang chemist, maka pendekatan yang saya
lakukan lebih banyak kepada aspek kimianya daripada dari aspek geologi. Pemahaman tentang proses
pembentukan minyak bumi akan diperlukan sebagai bahan pertimbangan untuk menginterpretasikan hasil
identifikasi. Ada banyak hipotesa tentang terbentuknya minyak bumi yang dikemukakan oleh para ahli,
beberapa diantaranya adalah :
Teori Biogenesis (Organik)
Macqiur (Perancis, 1758) merupakan orang yang pertama kali mengemukakan pendapat bahwa minyak bumi
berasal dari tumbuh-tumbuhan. Kemudian M.W. Lamanosow (Rusia, 1763) juga mengemukakan hal yang
sama. Pendapat di atas juga didukung oleh sarjana lainnya seperti, New Beery (1859), Engler (1909), Bruk
(1936), Bearl (1938) dan Hofer. Mereka menyatakan bahwa: “minyak dan gas bumi berasal dari organisme laut
yang telah mati berjuta-juta tahun yang lalu dan membentuk sebuah lapisan dalam perut bumi.”

Teori Abiogenesis (Anorganik)
Barthelot (1866) mengemukakan bahwa di dalam minyak bumi terdapat logam alkali, yang dalam keadaan
bebas dengan temperatur tinggi akan bersentuhan dengan CO2 membentuk asitilena. Kemudian Mandeleyev
(1877) mengemukakan bahwa minyak bumi terbentuk akibat adanya pengaruh kerja uap pada karbida-karbida
logam dalam bumi. Yang lebih ekstrim lagi adalah pernyataan beberapa ahli yang mengemukakan bahwa
minyak bumi mulai terbentuk sejak zaman prasejarah, jauh sebelum bumi terbentuk dan bersamaan dengan
proses terbentuknya bumi. Pernyataan tersebut berdasarkan fakta ditemukannya material hidrokarbon dalam
beberapa batuan meteor dan di atmosfir beberapa planet lain.
Dari sekian banyak hipotesa tersebut yang sering dikemukakan adalah Teori Biogenesis, karena lebih bisa.
Teori pembentukan minyak bumi terus berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi dan teknik
analisis minyak bumi, sampai kemudian pada tahun 1984 G. D. Hobson dalam tulisannya yang berjudul “The
Occurrence and Origin of Oil and Gas”.
Berdasarkan teori Biogenesis, minyak bumi terbentuk karena adanya kebocoran kecil yang permanen dalam
siklus karbon. Siklus karbon ini terjadi antara atmosfir dengan permukaan bumi, yang digambarkan dengan dua
panah dengan arah yang berlawanan, dimana karbon diangkut dalam bentuk karbon dioksida (CO 2). Pada arah
pertama, karbon dioksida di atmosfir berasimilasi, artinya CO2 diekstrak dari atmosfir oleh organisme
fotosintetik darat dan laut.
Pada arah yang kedua CO2 dibebaskan kembali ke atmosfir melalui respirasi makhluk hidup (tumbuhan, hewan
dan mikroorganisme). Dalam proses ini, terjadi kebocoran kecil yang memungkinkan satu bagian kecil karbon
yang tidak dibebaskan kembali ke atmosfir dalam bentuk CO2, tetapi mengalami transformasi yang akhirnya
menjadi fosil yang dapat terbakar. Bahan bakar fosil ini jumlahnya hanya kecil sekali. Bahan organik yang
mengalami oksidasi selama pemendaman. Akibatnya, bagian utama dari karbon organik dalam bentuk
karbonat menjadi sangat kecil jumlahnya dalam batuan sedimen.
Pada mulanya senyawa tersebut (seperti karbohidrat, protein dan lemak) diproduksi oleh makhluk hidup
sesuai dengan kebutuhannya, seperti untuk mempertahankan diri, untuk berkembang biak atau sebagai
komponen fisik dan makhluk hidup itu. Komponen yang dimaksud dapat berupa konstituen sel, membran,
pigmen, lemak, gula atau protein dari tumbuh-tumbuhan, cendawan, jamur, protozoa, bakteri, invertebrata
ataupun binatang berdarah dingin dan panas, sehingga dapat ditemukan di udara, pada permukaan, dalam air
atau dalam tanah.
Apabila makhluk hidup tersebut mati, maka 99,9% senyawa karbon dan makhluk hidup akan kembali
mengalami siklus sebagai rantai makanan, sedangkan sisanya 0,1% senyawa karbon terjebak dalam tanah dan
dalam sedimen. Inilah yang merupakan cikal bakal senyawa-senyawa fosil atau dikenal juga sebagai embrio
minyak bumi.
Embrio ini mengalami perpindahan dan akan menumpuk di salah satu tempat yang kemungkinan menjadi
reservoar dan ada yang hanyut bersama aliran air sehingga menumpuk di bawah dasar laut, dan ada juga
karena perbedaan tekanan di bawah laut muncul ke permukaan lalu menumpuk di permukaan dan ada pula
yang terendapkan di permukaan laut dalam yang arusnya kecil.
Embrio kecil ini menumpuk dalam kondisi lingkungan lembab, gelap dan berbau tidak sedap di antara mineral-
mineral dan sedimen, lalu membentuk molekul besar yang dikenal dengan geopolimer. Senyawa-senyawa
organik yang terpendam ini akan tetap dengan karakter masing-masing yang spesifik sesuai dengan bahan dan
lingkungan pembentukannya. Selanjutnya senyawa organik ini akan mengalami proses geologi dalam perut
bumi. Pertama akanmengalami proses diagenesis, dimana senyawa organik dan makhluk hidup sudah
merupakan senyawa mati dan terkubur sampai 600 meter saja di bawah permukaan dan lingkungan bersuhu
di bawah 50°C.




Pada kondisi ini senyawa-senyawa organik yang berasal dan makhluk hidup mulai kehilangan gugus beroksigen
akibat reaksi dekarboksilasi dan dehidratasi. Semakin dalam pemendaman terjadi, semakin panas
lingkungannya, penam-bahan kedalaman 30 – 40 m akan menaik-kan temperatur 1°C. Di kedalaman lebih dan
600 m sampai 3000 m, suhu pemendaman akan berkisar antara 50 – 150 °C, proses geologi kedua yang disebut
katagenesis akan berlangsung, maka geopolimer yang terpendam mulal terurai akibat panas bumi.
Komponen-komponen minyak bumi pada proses ini mulai terbentuk dan senyawa–senyawa karakteristik yang
berasal dan makhluk hidup tertentu kembali dibebaskan dari molekul. Bila kedalaman terus berlanjut ke arah
pusat bumi, temperatur semakin naik, dan jika kedalaman melebihi 3000 m dan suhu di atas 150°C, maka
bahan-bahan organik dapat terurai menjadi gas bermolekul kecil, dan proses ini disebut metagenesis.
Setelah proses geologi ini dilewati, minyak bumi sudah terbentuk bersama-sama dengan bio-marka. Fosil
molekul yang sudah terbentuk ini akan mengalami perpindahan (migrasi) karena kondisi lingkungan atau kerak
bumi yang selalu bergerak rata-rata sejauh 5 cm per tahun, sehingga akan ter-perangkap pada suatu batuan
berpori, atau selanjutnya akan bermigrasi membentuk suatu sumur minyak. Apabila dicuplik batuan yang
memenjara minyak ini (batuan induk) atau minyak yang terperangkap dalam rongga bumi, akan ditemukan
fosil senyawa-senyawa organik. Fosil-fosil senyawa inilah yang ditentukan strukturnya menggunaan be-berapa
metoda analisis, sehingga dapat menerangkan asal-usul fosil, bahan pembentuk, migrasi minyak bumi serta
hubungan antara suatu minyak bumi dengan minyak bumi lain dan hubungan minyak bumi dengan batuan
induk.

PENGOLAHAN MINYAK BUMI
Minyak bumi ditemukan bersama-sama dengan gas alam. Minyak bumi yang telah dipisahkan dari gas alam
disebut juga minyak mentah (crude oil). Minyak mentah dapat dibedakan menjadi:
     Minyak mentah ringan (light crude oil) yang mengandung kadar logam dan belerang rendah,
         berwarna terang dan bersifat encer (viskositas rendah).
         Minyak mentah berat (heavy crude oil) yang mengandung kadar logam dan belerang tinggi, memiliki
          viskositas tinggi sehingga harus dipanaskan agar meleleh.
Minyak mentah merupakan campuran yang kompleks dengan komponen utama alkana dan sebagian kecil
alkena, alkuna, siklo-alkana, aromatik, dan senyawa anorganik. Meskipun kompleks, untungnya terdapat cara
mudah untuk memisahkan komponen-komponennya, yakni berdasarkan perbedaan nilai titik didihnya. Proses
ini disebut distilasi bertingkat. Untuk mendapatkan produk akhir sesuai dengan yang diinginkan, maka
sebagian hasil dari distilasi bertingkat perlu diolah lebih lanjut melalui proses konversi, pemisahan pengotor
dalam fraksi, dan pencampuran fraksi.
Distilasi bertingkat
Dalam proses distilasi bertingkat, minyak mentah tidak dipisahkan menjadi komponen-komponen murni,
melainkan ke dalam fraksi-fraksi, yakni kelompok-kelompok yang mempunyai kisaran titik didih tertentu. Hal
ini dikarenakan jenis komponen hidrokarbon begitu banyak dan isomer-isomer hidrokarbon mempunyai titik
didih yang berdekatan. Proses distilasi bertingkat ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
      Minyak mentah dipanaskan dalam boiler menggunakan uap air bertekanan tinggi sampai suhu
          ~600oC. Uap minyak mentah yang dihasilkan kemudian dialirkan ke bagian bawah menara/tanur
          distilasi.
      Dalam menara distilasi, uap minyak mentah bergerak ke atas melewati pelat-pelat (tray). Setiap pelat
          memiliki banyak lubang yang dilengkapi dengan tutup gelembung (bubble cap) yang memungkinkan
          uap lewat.
      Dalam pergerakannya, uap minyak mentah akan menjadi dingin. Sebagian uap akan mencapai
          ketinggian di mana uap tersebut akan terkondensasi membentuk zat cair. Zat cair yang diperoleh
          dalam suatu kisaran suhu tertentu ini disebut fraksi.
      Fraksi yang mengandung senyawa-senyawa dengan titik didih tinggi akan terkondensasi di bagian
          bawah menara distilasi. Sedangkan fraksi senyawa-senyawa dengan titik didih rendah akan
          terkondensasi di bagian atas menara.
Sebagian fraksi dari menara distilasi selanjutnya dialirkan ke bagian kilang minyak lainnya untuk proses
konversi.




                                              Menara destilasi
BAB XIII

   KARBOHIDRAT DAN KLASIFIKASINYA




                         Butir-butir pati dilihat dengan mikroskop cahaya.

Karbohidrat ('hidrat dari karbon', hidrat arang) atau sakarida (dari bahasa Yunani σάκχαρον, sákcharon,
berarti "gula") adalah segolongan besar senyawa organik yang paling melimpah di bumi. Karbohidrat memiliki
berbagai fungsi dalam tubuh makhluk hidup, terutama sebagai bahan bakar (misalnya glukosa), cadangan
makanan (misalnya pati pada tumbuhan dan glikogen pada hewan), dan materi pembangun (misalnya selulosa
pada tumbuhan, kitin pada hewan dan jamur). Pada proses fotosintesis, tetumbuhan hijau mengubah karbon
dioksida menjadi karbohidrat.
Secara biokimia, karbohidrat adalah polihidroksil-aldehida atau polihidroksil-keton, atau senyawa yang
menghasilkan senyawa-senyawa ini bila dihidrolisis. Karbohidrat mengandung gugus fungsi karbonil (sebagai
aldehida atau keton) dan banyak gugus hidroksil. Pada awalnya, istilah karbohidrat digunakan untuk golongan
senyawa yang mempunyai rumus (CH2O)n, yaitu senyawa-senyawa yang n atom karbonnya tampak terhidrasi
oleh n molekul air. Namun demikian, terdapat pula karbohidrat yang tidak memiliki rumus demikian dan ada
pula yang mengandung nitrogen, fosforus, atau sulfur.
Bentuk molekul karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu molekul gula sederhana yang disebut
monosakarida, misalnya glukosa, galaktosa, dan fruktosa. Banyak karbohidrat merupakan polimer yang
tersusun dari molekul gula yang terangkai menjadi rantai yang panjang serta dapat pula bercabang-cabang,
disebut polisakarida, misalnya pati, kitin, dan selulosa. Selain monosakarida dan polisakarida, terdapat pula
disakarida (rangkaian dua monosakarida) dan oligosakarida (rangkaian beberapa monosakarida).
Peran dalam biosfer
Fotosintesis menyediakan makanan bagi hampir seluruh kehidupan di bumi, baik secara langsung atau tidak
langsung. Organisme autotrof seperti tumbuhan hijau, bakteri, dan alga fotosintetik memanfaatkan hasil
fotosintesis secara langsung. Sementara itu, hampir semua organisme heterotrof, termasuk manusia, benar-
benar bergantung pada organisme autotrof untuk mendapatkan makanan.
Pada proses fotosintesis, karbon dioksida diubah menjadi karbohidrat yang kemudian dapat digunakan untuk
mensintesis materi organik lainnya. Karbohidrat yang dihasilkan oleh fotosintesis ialah gula berkarbon tiga
yang dinamai gliseraldehida 3-fosfat. Senyawa ini merupakan bahan dasar senyawa-senyawa lain yang
digunakan langsung oleh organisme autotrof, misalnya glukosa, selulosa, dan pati.
Peran sebagai bahan bakar dan nutrisi




            Kentang merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung banyak karbohidrat.

Karbohidrat menyediakan kebutuhan dasar yang diperlukan tubuh makhluk hidup. Monosakarida, khususnya
glukosa, merupakan nutrien utama sel. Misalnya, pada vertebrata, glukosa mengalir dalam aliran darah
sehingga tersedia bagi seluruh sel tubuh. Sel-sel tubuh tersebut menyerap glukosa dan mengambil tenaga yang
tersimpan di dalam molekul tersebut pada proses respirasi selular untuk menjalankan sel-sel tubuh. Selain itu,
kerangka karbon monosakarida juga berfungsi sebagai bahan baku untuk sintesis jenis molekul organik kecil
lainnya, termasuk asam amino dan asam lemak.
Sebagai nutrisi untuk manusia, 1 gram karbohidrat memiliki nilai energi 4 Kalori. Dalam menu makanan orang
Asia Tenggara termasuk Indonesia, umumnya kandungan karbohidrat cukup tinggi, yaitu antara 70–80%.
Bahan makanan sumber karbohidrat ini misalnya padi-padian atau serealia (gandum dan beras), umbi-umbian
(kentang, singkong, ubi jalar), dan gula.
Namun demikian, daya cerna tubuh manusia terhadap karbohidrat bermacam-macam bergantung pada
sumbernya, yaitu bervariasi antara 90%–98%. Serat menurunkan daya cerna karbohidrat menjadi 85%.
Manusia tidak dapat mencerna selulosa sehingga serat selulosa yang dikonsumsi manusia hanya lewat melalui
saluran pencernaan dan keluar bersama feses. Serat-serat selulosa mengikis dinding saluran pencernaan dan
merangsangnya mengeluarkan lendir yang membantu makanan melewati saluran pencernaan dengan lancar
sehingga selulosa disebut sebagai bagian penting dalam menu makanan yang sehat. Contoh makanan yang
sangat kaya akan serat selulosa ialah buah-buahan segar, sayur-sayuran, dan biji-bijian.
Selain sebagai sumber energi, karbohidrat juga berfungsi untuk menjaga keseimbangan asam basa di dalam
tubuh, berperan penting dalam proses metabolisme dalam tubuh, dan pembentuk struktur sel dengan
mengikat protein dan lemak.

Peran sebagai cadangan energi
Beberapa jenis polisakarida berfungsi sebagai materi simpanan atau cadangan, yang nantinya akan dihidrolisis
untuk menyediakan gula bagi sel ketika diperlukan. Pati merupakan suatu polisakarida simpanan pada
tumbuhan. Tumbuhan menumpuk pati sebagai granul atau butiran di dalam organel plastid, termasuk
kloroplas. Dengan mensintesis pati, tumbuhan dapat menimbun kelebihan glukosa. Glukosa merupakan bahan
bakar sel yang utama, sehingga pati merupakan energi cadangan.
Sementara itu, hewan menyimpan polisakarida yang disebut glikogen. Manusia dan vertebrata lainnya
menyimpan glikogen terutama dalam sel hati dan otot. Penguraian glikogen pada sel-sel ini akan melepaskan
glukosa ketika kebutuhan gula meningkat. Namun demikian, glikogen tidak dapat diandalkan sebagai sumber
energi hewan untuk jangka waktu lama. Glikogen simpanan akan terkuras habis hanya dalam waktu sehari
kecuali kalau dipulihkan kembali dengan mengonsumsi makanan.

Peran sebagai materi pembangun
Organisme membangun materi-materi kuat dari polisakarida struktural. Misalnya, selulosa ialah komponen
utama dinding sel tumbuhan. Selulosa bersifat seperti serabut, liat, tidak larut di dalam air, dan ditemukan
terutama pada tangkai, batang, dahan, dan semua bagian berkayu dari jaringan tumbuhan. Kayu terutama
terbuat dari selulosa dan polisakarida lain, misalnya hemiselulosa dan pektin. Sementara itu, kapas terbuat
hampir seluruhnya dari selulosa.
Polisakarida struktural penting lainnya ialah kitin, karbohidrat yang menyusun kerangka luar (eksoskeleton)
arthropoda (serangga, laba-laba, crustacea, dan hewan-hewan lain sejenis). Kitin murni mirip seperti kulit,
tetapi akan mengeras ketika dilapisi kalsium karbonat. Kitin juga ditemukan pada dinding sel berbagai jenis
fungi.
Sementara itu, dinding sel bakteri terbuat dari struktur gabungan karbohidrat polisakarida dengan peptida,
disebut peptidoglikan. Dinding sel ini membentuk suatu kulit kaku dan berpori membungkus sel yang memberi
perlindungan fisik bagi membran sel yang lunak dan sitoplasma di dalam sel.
Karbohidrat struktural lainnya yang juga merupakan molekul gabungan karbohidrat dengan molekul lain ialah
proteoglikan, glikoprotein, dan glikolipid. Proteoglikan maupun glikoprotein terdiri atas karbohidrat dan
protein, namun proteoglikan terdiri terutama atas karbohidrat, sedangkan glikoprotein terdiri terutama atas
protein. Proteoglikan ditemukan misalnya pada perekat antarsel pada jaringan, tulang rawan, dan cairan
sinovial yang melicinkan sendi otot. Sementara itu, glikoprotein dan glikolipid (gabungan karbohidrat dan lipid)
banyak ditemukan pada permukaan sel hewan. Karbohidrat pada glikoprotein umumnya berupa oligosakarida
dan dapat berfungsi sebagai penanda sel. Misalnya, empat golongan darah manusia pada sistem ABO (A, B, AB,
dan O) mencerminkan keragaman oligosakarida pada permukaan sel darah merah.

Klasifikasi karbohidrat
Monosakarida
Monosakarida merupakan karbohidrat paling sederhana karena molekulnya hanya terdiri atas beberapa atom
C dan tidak dapat diuraikan dengan cara hidrolisis menjadi karbohidrat lain. Monosakarida dibedakan menjadi
aldosa dan ketosa. Contoh dari aldosa yaitu glukosa dan galaktosa. Contoh ketosa yaitu fruktosa.
Disakarida dan oligosakarida
Disakarida merupakan karbohidrat yang terbentuk dari dua molekul monosakarida yang berikatan melalui
gugus -OH dengan melepaskan molekul air. Contoh dari disakarida adalah sukrosa, laktosa, dan maltosa.
Polisakarida
Polisakarida merupakan karbohidrat yang terbentuk dari banyak sakarida sebagai monomernya. Rumus umum
polisakarida yaitu C6(H10O5)n. Contoh polisakarida adalah selulosa, glikogen, dan amilum.




                 LIPID DAN KLASIFIKASINYA




                             Struktur kimia untuk trimyristin, sejenis triglyceride.

Lemak atau Lipid tidak sama dengan minyak. Orang menyebut lemak secara khusus bagi minyak nabati atau
hewani yang berwujud padat pada suhu ruang. Lemak juga biasanya disebutkan kepada berbagai minyak yang
dihasilkan oleh hewan, lepas dari wujudnya yang padat maupun cair.
1 gram lemak menghasilkan 39.06 kjoule atau 9,3 kcal. Lemak terdiri atas unsur-unsur karbon, hidrogen, dan
oksigen

Sifat dan Ciri ciri
Karena struktur molekulnya yang kaya akan rantai unsur karbon(-CH2-CH2-CH2-)maka lemak mempunyai sifat
hydrophob. Ini menjadi alasan yang menjelaskan sulitnya lemak untuk larut di dalam air. Lemak dapat larut
hanya di larutan yang apolar atau organik seperti: eter, Chloroform, atau benzol.

Fungsi
Secara umum dapat dikatakan bahwa lemak biologis memenuhi 4 fungsi dasar bagi manusia, yaitu:
1 Penyimpan energi
2 Transportasi metabolik sumber energi
3 Sumber zat untuk sintese bagi hormon, kelenjar empedu serta menunjang proses pemberian signal Signal
transducing.
4 Struktur dasar atau komponen utama dari membran semua jenis sel.

Klassifikasi
Ada beberapa model klasifikasi, tetapi disini akan diklasifikasikan berdasarkan kelas dari lemak tersebut.

    Lipid                Fungsi primer                                       Contoh
Asam lemak        Sumber energi, biologis           Asam palmitin, asam olein, asam linol
                  prekursor
Gliserida         Penyimpan energi                  Trigliserida
Fosfogliserida    Komponen dari membran             Fosfatidylcholin, Fosfatidylserin, Fosfatidyletanolamin
Badan Keton       Sumber energie                    Aceton, Acetoacetat, ß Hidroxibutyrat
Sfingolipid       Komponen dari membran             Sfingomyelin(Ceramid) dan Glikosfingolipid(Cerebrosid,
                                                    Globosid)
Eicosanoida       Modulator proses fisiologis       Prostaglandin, Thromboxan, Leukotriene, HPETE
Cholesterin       Komponen dari membran             Cholesterin, Cholesterinester
Hormon            Modulator proses fisiologis       Aldosteron, Cortisol, Androgen
steroid




           PROTEIN DAN KLASIFIKASINYA




                      Segelas susu sapi. Susu sapi merupakan salah satu sumber protein.

Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama") adalah senyawa organik
kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang
dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen,
nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel
makhluk hidup dan virus.
Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain berperan dalam fungsi struktural
atau mekanis, seperti misalnya protein yang membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam
sistem kekebalan (imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen
penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber gizi, protein berperan
sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu membentuk asam amino tersebut (heterotrof).
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan polinukleotida, yang
merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein merupakan salah satu molekul yang paling
banyak diteliti dalam biokimia. Protein ditemukan oleh Jöns Jakob Berzelius pada tahun 1838.
Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang dibawa DNA ditranskripsi menjadi
RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi yang dilakukan ribosom. Sampai tahap ini, protein masih
"mentah", hanya tersusun dari asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah
protein yang memiliki fungsi penuh secara biologi.

Struktur




                                               Struktur tersier protein.
Protein ini memiliki banyak struktur sekunder beta-sheet dan alpha-helix yang sangat pendek. Model dibuat
dengan menggunakan koordinat dari Bank Data Protein (nomor 1EDH).
Struktur protein dapat dilihat sebagai hirarki, yaitu berupa struktur primer (tingkat satu), sekunder (tingkat
dua), tersier (tingkat tiga), dan kuartener (tingkat empat). Struktur primer protein merupakan urutan asam
amino penyusun protein yang dihubungkan melalui ikatan peptida (amida). Sementara itu, struktur sekunder
protein adalah struktur tiga dimensi lokal dari berbagai rangkaian asam amino pada protein yang distabilkan
oleh ikatan hidrogen. Berbagai bentuk struktur sekunder misalnya ialah sebagai berikut:
      alpha helix (α-helix, "puntiran-alfa"), berupa pilinan rantai asam-asam amino berbentuk seperti spiral;
      beta-sheet (β-sheet, "lempeng-beta"), berupa lembaran-lembaran lebar yang tersusun dari sejumlah
          rantai asam amino yang saling terikat melalui ikatan hidrogen atau ikatan tiol (S-H);
      beta-turn, (β-turn, "lekukan-beta"); dan
      gamma-turn, (γ-turn, "lekukan-gamma").
Gabungan dari aneka ragam dari struktur sekunder akan menghasilkan struktur tiga dimensi yang dinamakan
struktur tersier. Struktur tersier biasanya berupa gumpalan. Beberapa molekul protein dapat berinteraksi
secara fisik tanpa ikatan kovalen membentuk oligomer yang stabil (misalnya dimer, trimer, atau kuartomer)
dan membentuk struktur kuartener. Contoh struktur kuartener yang terkenal adalah enzim Rubisco dan
insulin.
Struktur primer protein bisa ditentukan dengan beberapa metode:
(1) hidrolisis protein dengan asam kuat (misalnya, 6N HCl) dan kemudian komposisi asam amino ditentukan
    dengan instrumen amino acid analyzer.
(2) analisis sekuens dari ujung-N dengan menggunakan degradasi Edman
(3) kombinasi dari digesti dengan tripsin dan spektrometri massa, dan
(4) penentuan massa molekular dengan spektrometri massa.
Struktur sekunder bisa ditentukan dengan menggunakan spektroskopi circular dichroism (CD) dan Fourier
Transform Infra Red (FTIR). Spektrum CD dari puntiran-alfa menunjukkan dua absorbans negatif pada 208 dan
220 nm dan lempeng-beta menunjukkan satu puncak negatif sekitar 210-216 nm. Estimasi dari komposisi
struktur sekunder dari protein bisa dikalkulasi dari spektrum CD. Pada spektrum FTIR, pita amida-I dari
puntiran-alfa berbeda dibandingkan dengan pita amida-I dari lempeng-beta. Jadi, komposisi struktur sekunder
dari protein juga bisa diestimasi dari spektrum inframerah.
Struktur protein lainnya yang juga dikenal adalah domain. Struktur ini terdiri dari 40-350 asam amino. Protein
sederhana umumnya hanya memiliki satu domain. Pada protein yang lebih kompleks, ada beberapa domain
yang terlibat di dalamnya. Hubungan rantai polipeptida yang berperan di dalamnya akan menimbulkan sebuah
fungsi baru berbeda dengan komponen penyusunnya. Bila struktur domain pada struktur kompleks ini
berpisah, maka fungsi biologis masing-masing komponen domain penyusunnya tidak hilang. Inilah yang
membedakan struktur domain dengan struktur kuartener. Pada struktur kuartener, setelah struktur
kompleksnya berpisah, protein tersebut tidak fungsional.

Kekurangan Protein
Protein sendiri mempunyai banyak sekali fungsi di tubuh kita. Pada dasarnya protein menunjang keberadaan
setiap sel tubuh, proses kekebalan tubuh. Setiap orang dewasa harus sedikitnya mengkonsumsi 1 g protein pro
kg berat tubuhnya. Kebutuhan akan protein bertambah pada perempuan yang mengandung dan atlet-atlet.
Kekurangan Protein bisa berakibat fatal:
      Kerontokan rambut (Rambut terdiri dari 97-100% dari Protein -Keratin)
      Yang paling buruk ada yang disebut dengan Kwasiorkor, penyakit kekurangan protein. Biasanya pada
         anak-anak kecil yang menderitanya, dapat dilihat dari yang namanya busung lapar, yang disebabkan
         oleh filtrasi air di dalam pembuluh darah sehingga menimbulkan odem.Simptom yang lain dapat
         dikenali adalah:
              o hipotonus
              o gangguan pertumbuhan
              o hati lemak
      Kekurangan yang terus menerus menyebabkan marasmus dan berkibat kematian.

 Sintesa protein
Dari makanan kita memperoleh Protein. Di sistem pencernaan protein akan diuraikan menjadi peptid peptid
yang strukturnya lebih sederhana terdiri dari asam amino. Hal ini dilakukan dengan bantuan enzim. Tubuh
manusia memerlukan 9 asam amino. Artinya kesembilan asam amino ini tidak dapat disintesa sendiri oleh
tubuh esensiil, sedangkan sebagian asam amino dapat disintesa sendiri atau tidak esensiil oleh tubuh.
Keseluruhan berjumlah 21 asam amino. Setelah penyerapan di usus maka akan diberikan ke darah. Darah
membawa asam amino itu ke setiap sel tubuh. Kode untuk asam amino tidak esensiil dapat disintesa oleh DNA.
Ini disebut dengan DNAtranskripsi. Kemudian mRNA hasil transkripsi di proses lebih lanjut di ribosom atau
retikulum endoplasma, disebut sebagai translasi.

Sumber Protein
     Daging
     Ikan
     Telur
     Susu, dan produk sejenis Quark
     Tumbuhan berbji
     Suku polong-polongan
     Kentang
Studi dari Biokimiawan USA Thomas Osborne Lafayete Mendel, Profesor untuk biokimia di Yale, 1914,
mengujicobakan protein konsumsi dari daging dan tumbuhan kepada kelinci. Satu grup kelinci-kelinci tersebut
diberikan makanan protein hewani, sedangkan grup yang lain diberikan protein nabati. Dari eksperimennya
didapati bahwa kelinci yang memperoleh protein hewani lebih cepat bertambah beratnya dari kelinci yang
memperoleh protein nabati. Kemudian studi selanjutnya, oleh McCay dari Universitas Berkeley menunjukkan
bahwa kelinci yang memperoleh protein nabati, lebih sehat dan hidup dua kali lebih lama.

Keuntungan Protein
    Sumber energi
    Pembetukan dan perbaikan sel dan jaringan
    Sebagai sintesis hormon,enzim, dan antibodi
    Pengatur keseimbangan kadar asam basa dalam sel

Methode Pembuktian Protein
    Tes UV-Absorbsi
    Reaksi Xanthoprotein
    Reaksi Millon
    Reaksi Ninhydrin
          Reaksi Biuret
          Reaksi Bradford
          Tes Protein berdasar Lowry
          Tes BCA-




             POLIMER DAN KLASIFIKASINYA




Suatu molekul raksasa (makromolekul) yang terbentuk dari susunan ulang molekul kecil yang terikat melalui
ikatan kimia disebut polimer (poly = banyak; mer = bagian). Suatu polimer akan terbentuk bila seratus atau
seribu unit molekul yang kecil yang disebut monomer, saling berikatan dalam suatu rantai. Jenis-jenis
monomer yang saling berikatan membentuk suatu polimer terkadang sama atau berbeda.
Sifat-sifat polimer berbeda dari monomer-monomer yang menyusunnya. Pada contoh diatas, teflon (politetra-
fluoroetilena) yang berwujud padat dibuat bila molekul-molekul gas tetra-fluoroetilena bereaksi membentuk
rantai panjang. Contoh lain, molekul-molekul gas etilena bereaksi membentuk rantai panjang plastik
polietilena yang ada pada kaleng susu. Dapatkah Anda mencari contoh-contoh pembentukan polimer yang
lain?




        Beberapa contoh monomer dari kiri ke kanan: vinil klorida, propena, tetra-fluoroetilena, dan stirena




    Monomer akrilonitril membentuk polimer poliakrilonitril (PAN), yang dikenall dengan nama orlon, dan
   digunakan sebagai karpet dan pakaian “rajutan”. Ikatan rangkap pada karbon dalam monomer berubah
           menjadi ikatan tunggal, dan berikatan dengan atom karbon lain membentuk polimer.
STRUKTUR POLIMER
Bila Anda ingin memahami struktur polimer, Anda dapat mengidentifikasi monomer yang secara berulang-
ulang menyusun polimer tersebut. Karena polimer merupakan molekul yang besar, maka polimer umumnya
disajikan dengan menggambarkan hanya sebuah rantai. Sebuah rantai yang digambarkan tadi harus mencakup
paling tidak satu satuan ulang yang lengkap.




  Selulosa, merupakan komponen utama tumbuhan, suatu senyawa organik yang sangat berlimpah di bumi.

Selulosa merupakan polimer yang ditemukan di dalam dinding sel tumbuhan seperti kayu, dahan, dan daun.
Selulosa itulah yang menyebabkan struktur-struktur kayu, dahan dan daun menjadi kuat. Dapatkah Anda
menemukan bagian dari struktur molekul selulosa yang diulang? Ingat bahwa bagian cincin dari molekul
selulosa semuanya identik. Ada satuan-satuan monomer yang bergabung membentuk polimer. Glukosa adalah
nama monomer yang ditemukan di dalam selulosa.




POLIMER BERDASAR ASALNYA
Berdasarkan asalnya, polimer dibedakan atas polimer alam dan polimer buatan. Polimer alam telah dikenal
sejak ribuan tahun yang lalu, seperti amilum, selulosa, kapas, karet, wol, dan sutra. Polimer buatan dapat
berupa polimer regenerasi dan polimer sintetis. Polimer regenerasi adalah polimer alam yang dimodifikasi.
Contohnya rayon, yaitu serat sintetis yang dibuat dari kayu (selulosa). Polimer sintetis adalah polimer yang
dibuat dari molekul sederhana (monomer) dalam pabrik.

Polimer Sintetis
Polimer sintetis yang pertama kali yang dikenal adalah bakelit yaitu hasil kondensasi fenol dengan
formaldehida, yang ditemukan oleh kimiawan kelahiran Belgia Leo Baekeland pada tahun 1907. Bakelit
merupakan salah satu jenis dari produk-produk konsumsi yang dipakai secara luas. Beberapa contoh polimer
yang dibuat oleh pabrik adalah nylon dan poliester, kantong plastik dan botol, pita karet, dan masih banyak
produk lain yang Anda lihat sehari-hari.
Ahli kimia telah mensintesis polimer di dalam laboratorium selama 100 tahun.

Polimer alam
Laboratorium bukan satu-satunya tempat mensintesis polimer. Selsel kehidupan juga merupakan pabrik
polimer yang efisien. Protein, DNA, kitin pada kerangka luar serangga, wool, jaring laba-laba, sutera dan
kepompong ngengat, adalah polimer-polimer yang disintesis secara alami. Serat-serat selulosa yang kuat
menyebabkan batang pohon menjadi kuat dan tegar untuk tumbuh dengan tinggi seratus kaki dibentuk dari
monomer-monomer glukosa, yang berupa padatan kristalin yang berasa manis.
Banyak polimer-polimer sintesis dikembangkan sebagai pengganti sutra. Gagasan untuk proses tersebut adalah
benang-benang sintesis yang dibentuk di pabrik diambil dari laba-laba.




 Pemintalan secara industri (a) dan pemintalan dari laba-laba (b). Benang yang panjang, halus dipintal ketika
 molekul-molekul polimer itu ditekan melalui lubang kecil didalam pemintalan, baik secara alami dan industri

Karet merupakan polimer alam yang terpenting dan dipakai secara luas. Bentuk utama dari karet alam, terdiri
dari 97% cis-1,4-poliisoprena, dikenal sebagai hevea rubber. Karet ini diperoleh dengan menyadap kulit sejenis
pohon (hevea brasiliensis) yang tumbuh liar. Hampir semua karet alam diperoleh sebagai lateks yang terdiri
dari sekitar 32 – 35% karet dan sekitar 5% senyawa lain, termasuk asam lemak, gula, protein, sterol, ester dan
garam.
Polimer alam lain adalah polisakarida, selulosa dan lignin yang merupakan bahan dari kayu.

POLIMER BERDASAR JENIS MONOMERNYA
Berdasarkan jenis monomernya, polimer dibedakan atas homopolimer dan kopolimer. Homopolimer
terbentuk dari sejenis monomer, sedangkan kopolimer terbentuk lebih dari sejenis monomer. Uraian berikut
menjelaskan perbedaan dua golongan polimer tersebut.

Homopolimer
Homopolimer merupakan polimer yang terdiri dari satu macam monomer, dengan struktur polimer. . . – A – A
– A – A – A – A -. . .
Kopolimer
Kopolimer merupakan polimer yang tersusun dari dua macam atau lebih monomer. Contoh: polimer SBS
(polimer stirena-butadiena-stirena)
Jenis-jenis kopolimer
a) Kopolimer acak, yaitu kopolimer yang mempunyai sejumlah satuan berulang yang berbeda tersusun secara
acak dalam rantai polimer. Strukturnya: . . . – A – B – A – A – B – B – A – A -. . . .
b) Kopolimer bergantian, yaitu kopolimer yang mempunyai beberapa kesatuan ulang yang berbeda
berselang-seling adanya dalam rantai polimer. Strukturnya:. . . – A – B – A – B – A – . . .
c) Kopolimer balok (blok), yaitu kopolimer yang mempunyai suatu kesatuan berulang berselang-seling
dengan kesatuan berulang lainnya dalam rantai polimer. Strukturnya: . . . – A – A – A – A – B – B – B – B – A – A
– A – A -. . .
d) Kopolimer tempel/grafit, yaitu kopolimer yang mempunyai satu macam kesatuan berulang menempel
pada polimer tulang punggung lurus yang mengandung hanya satu macam kesatuan berulang dari satu jenis
monomer. Strukturnya




POLIMER BERDASAR REAKSI PEMBENTUKANNYA
Polimer Adisi
Reaksi pembentukan teflon dari monomer-monomernya tetrafluoroetilen, disebut reaksi adisi.




Monomer etilena mengalami reaksi adisi membentuk polietilena yang digunakan sebagai tas plastik,
pembungkus makanan, dan botol. Pasangan elektron ekstra dari ikatan rangkap dua pada tiap monomer
etilena digunakan untuk membentuk suatu ikatan baru menjadi monomer yang lain
Menurut jenis reaksi adisi ini, monomer-monomer yang mengandung ikatan rangkap dua saling bergabung,
satu monomer masuk ke monomer yang lain, membentuk rantai panjang. Produk yang dihasilkan dari reaksi
polimerisasi adisi mengandung semua atom dari monomer awal. Polimerisasi adisi adalah polimer yang
terbentuk dari reaksi polimerisasi disertai dengan pemutusan ikatan rangkap diikuti oleh adisi dari monomer-
monomernya yang membentuk ikatan tunggal. Dalam reaksi ini tidak disertai terbentuknya molekul-molekul
kecil seperti H2O atau NH3.




          Polietilen dan polivinil asetat adalah contoh polimer yang dibuat melalui polimerisasi adisi.

Dalam reaksi polimerisasi adisi, umumnya melibatkan reaksi rantai. Mekanisme polimerisasi adisi dapat dibagi
menjadi tiga tahap yaitu:




Sebagai contoh mekanisme polimerisasi adisi dari pembentukan polietilena
a) Inisiasi, untuk tahap pertama ini dimulai dari penguraian inisiator dan adisi molekul monomer pada salah
satu radikal bebas yang terbentuk. Bila kita nyatakan radikal bebas yang terbentuk dari inisiator sebagai R’, dan
molekul monomer dinyatakan dengan CH2 = CH2, maka tahap inisiasi dapat digambarkan sebagai berikut:




b) Propagasi, dalam tahap ini terjadi reaksi adisi molekul monomer pada radikal monomer yang terbentuk
dalam tahap inisiasi




Bila proses dilanjutkan, akan terbentuk molekul polimer yang besar, dimana ikatan rangkap C= C dalam
monomer etilena akan berubah menjadi ikatan tunggal C – C pada polimer polietilena




c) Terminasi, dapat terjadi melalui reaksi antara radikal polimer yang sedang tumbuh dengan radikal mula-
mula yang terbentuk dari inisiator (R’) CH2 – CH2 + R � CH2 – CH2- R atau antara radikal polimer yang sedang
tumbuh dengan radikal polimer lainnya, sehingga akan membentuk polimer dengan berat molekul tinggi R-
(CH2)n-CH2° + °CH2-(CH2)n-R’ � R-(CH2)n-CH2CH2-(CH2)n-R’ Beberapa contoh polimer yang terbentuk dari
polimerisasi adisi dan reaksinya antara lain.
     Polivinil klorida
n CH2 = CHCl → [ - CH2 - CHCl - CH2 - CHCl - ]n Vinil klorida polivinil klorida
     Poliakrilonitril
n CH2 = CHCN → [ - CH2 - CHCN - ]n
     Polistirena




Polimer Kondensasi
Polimer kondensasi terjadi dari reaksi antara gugus fungsi pada monomer yang sama atau monomer yang
berbeda. Dalam polimerisasi kondensasi kadang-kadang disertai dengan terbentuknya molekul kecil seperti
H2O, NH3, atau HCl.
Di dalam jenis reaksi polimerisasi yang kedua ini, monomer-monomer bereaksi secara adisi untuk membentuk
rantai. Namun demikian, setiap ikatan baru yang dibentuk akan bersamaan dengan dihasilkannya suatu
molekul kecil – biasanya air – dari atom-atom monomer. Pada reaksi semacam ini, tiap monomer harus
mempunyai dua gugus fungsional sehingga dapat menambahkan pada tiap ujung ke unit lainnya dari rantai
tersebut. Jenis reaksi polimerisasi ini disebut reaksi kondensasi.
Dalam polimerisasi kondensasi, suatu atom hidrogen dari satu ujung monomer bergabung dengan gugus-OH
dari ujung monomer yang lainnya untuk membentuk air.
              Ada enam atom karbon di setiap monomer, maka jenis nylon ini disebut nylon 66.




                           Pembuatan Nylon 66 yang sangat mudah di laboratorium.

Contoh lain dari reaksi polimerisasi kondensasi adalah bakelit yang bersifat keras, dan dracon, yang digunakan
sebagai serat pakaian dan karpet, pendukung pada tape – audio dan tape – video, dan kantong plastik.
Monomer yang dapat mengalami reaksi polimerisasi secara kondensasi adalah monomer-monomer yang
mempunyai gugus fungsi, seperti gugus -OH; -COOH; dan NH3.

POLIMER BERDASAR SIFAT THERMALNYA
Plastik adalah salah satu bentuk polimer yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa plastik
memiliki sifat-sifat khusus, antara lain lebih mudah larut pada pelarut yang sesuai, pada suhu tinggi akan lunak,
tetapi akan mengeras kembali jika didinginkan dan struktur molekulnya linier atau bercabang tanpa ikatan
silang antar rantai. Proses melunak dan mengeras ini dapat terjadi berulang kali. Sifat ini dijelaskan sebagai
sifat termoplastik.
Bahan-bahan yang bersifat termoplastik mudah untuk diolah kembali karena setiap kali dipanaskan, bahan-
bahan tersebut dapat dituangkan ke dalam cetakan yang berbeda untuk membuat produk plastik yang baru.
Polietilen (PE) dan polivinilklorida (PVC) merupakan contoh jenis polimer ini.
Sedangkan beberapa plastik lainnya mempunyai sifat-sifat tidak dapat larut dalam pelarut apapun, tidak
meleleh jika dipanaskan, lebih tahan terhadap asam dan basa, jika dipanaskan akan rusak dan tidak dapat
kembali seperti semula dan struktur molekulnya mempunyai ikatan silang antar rantai. Polimer seperti ini
disusun secara permanen dalam bentuk pertama kali mereka dicetak, disebut polimer termosetting.
Plastik-plastik termosetting biasanya bersifat keras karena mereka mempunyai ikatan-ikatan silang. Plastik
termoset menjadi lebih keras ketika dipanaskan karena panas itu menyebabkan ikatan-ikatan silang lebih
mudah terbentuk. Bakelit, poli(melanin formaldehida) dan poli (urea formaldehida) adalah contoh polimer ini.
Sekalipun polimer-polimer termoseting lebih sulit untuk dipakai ulang daripada termoplastik, namun polimer
tersebut lebih tahan lama. Polimer ini banyak digunakan untuk membuat alat-alat rumah tangga yang tahan
panas seperti cangkir.
Perbedaan sifat plastik termoplas dan plastik termoset
POLIMER THERMOPLASTIK DAN THERMOSETTING
1. Polimer termoplastik
Polimer termoplastik adalah polimer yang mempunyai sifat tidak tahan terhadap panas. Jika polimer jenis ini
dipanaskan, maka akan menjadi lunak dan didinginkan akan mengeras. Proses tersebut dapat terjadi berulang
kali, sehingga dapat dibentuk ulang dalam berbagai bentuk melalui cetakan yang berbeda untuk mendapatkan
produk polimer yang baru.
Polimer yang termasuk polimer termoplastik adalah jenis polimer plastik. Jenis plastik ini tidak memiliki ikatan
silang antar rantai polimernya, melainkan dengan struktur molekul linear atau bercabang. Bentuk struktur
termoplastik sebagai berikut.




Bentuk struktur bercabang termoplastik.




Polimer termoplastik memiliki sifat – sifat khusus sebagai berikut.
-    Berat molekul kecil
-    Tidak tahan terhadap panas.
-    Jika dipanaskan akan melunak.
-    Jika didinginkan akan mengeras.
-    Mudah untuk diregangkan.
-    Fleksibel.
-    Titik leleh rendah.
-    Dapat dibentuk ulang (daur ulang).
-    Mudah larut dalam pelarut yang sesuai.
-    Memiliki struktur molekul linear/bercabang.
Contoh plastik termoplastik sebagai berikut.
-    Polietilena (PE) = Botol plastik, mainan, bahan cetakan, ember, drum, pipa saluran, isolasi kawat dan
      kabel, kantong plastik dan jas hujan.
-    Polivinilklorida (PVC) = pipa air, pipa plastik, pipa kabel listrik, kulit sintetis, ubin plastik, piringan hitam,
      bungkus makanan, sol sepatu, sarung tangan dan botol detergen.
-    Polipropena (PP) = karung, tali, botol minuman, serat, bak air, insulator, kursi plastik, alat-alat rumah
      sakit, komponen mesin cuci, pembungkus tekstil, dan permadani.
-    Polistirena = Insulator, sol sepatu, penggaris, gantungan baju.

2. Polimer termoseting
Polimer termoseting adalah polimer yang mempunyai sifat tahan terhadap panas. Jika polimer ini dipanaskan,
maka tidak dapat meleleh. Sehingga tidak dapat dibentuk ulang kembali. Susunan polimer ini bersifat
permanen pada bentuk cetak pertama kali (pada saat pembuatan). Bila polimer ini rusak/pecah, maka tidak
dapat disambung atau diperbaiki lagi. Plomer termoseting memiliki ikatan – ikatan silang yang mudah dibentuk
pada waktu dipanaskan. Hal ini membuat polimer menjadi kaku dan keras. Semakin banyak ikatan silang pada
polimer ini, maka semakin kaku dan mudah patah. Bila polimer ini dipanaskan untuk kedua kalinya, maka akan
menyebabkan rusak atau lepasnya ikatan silang antar rantai polimer.
Bentuk struktur ikatan silang sebagai berikut.
Sifat polimer termoseting sebagai berikut.
-      Keras dan kaku (tidak fleksibel)
-      Jika dipanaskan akan mengeras.
-      Tidak dapat dibentuk ulang (sukar didaur ulang).
-      Tidak dapat larut dalam pelarut apapun.
-      Jika dipanaskan akan meleleh.
-      Tahan terhadap asam basa.
-      Mempunyai ikatan silang antarrantai molekul.
Contoh plastik termoseting :
Bakelit = asbak, fitting lampu listrik, steker listrik, peralatan fotografi, radio, perekat plywood.
BAB XIV

                         KOLOID, SUSPENSI
                        DAN LARUTAN SEJATI
Sebelumnya kita sudah belajar tentang larutan, campuran yang homogen antara dua macam zat atau lebih.
Pada bab ini, kita akan mempelajari koloid. Sistem koloid sebenarnya terdiri atas dua fase, yaitu fase
terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi. Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi
sedangkan sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan disebut medium pendispersi.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering bersinggungan dengan sistem koloid sehingga sangat penting untuk
dikaji. Sebagai contoh, hampir semua bahan pangan mengandung partikel dengan ukuran koloid, seperti
protein, karbohidrat, dan lemak. Emulsi seperti susu juga termasuk koloid. Dalam bidang farmasi, kebanyakan
produknya juga berupa koloid, misalnya krim, dan salep yang termasuk emulsi.
Dalam industri cat, semen, dan industri karet untuk membuat ban semuanya melibatkan sistem koloid. Semua
bentuk seperti spray untuk serangga, cat, hair spray, dan sebagainya adalah juga koloid. Dalam bidang
pertanian, tanah juga dapat digolongkan sebagai koloid. Jadi sistem koloid sangat berguna bagi kehidupan
manusia.




                                    Contoh larutan, koloid, dan suspensi
                             Tabel Perbandingan sifat antara larutan, koloid, dan suspensi
SISTEM DISPERS
A. Dispersi kasar
(suspensi) : partikel zat yang didispersikan berukuran lebih besar dari 100 nm.
B. Dispersi koloid
: partikel zat yang didispersikan berukuran antara 1 nm – 100 nm.
C. Dispersi molekuler
(larutan sejati) : partikel zat yang didispersikan berukuran lebih kecil dari 1 nm.
Sistem koloid pada hakekatnya terdiri atas dua fase, yaitu fase terdispersi dan medium pendispersi. Zat yang
didispersikan disebut fase terdispersi sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan disebut
medium pendispersi.




               MACAM DAN SIFAT KOLOID
JENIS KOLOID
Sistem koloid digolongkan berdasarkan pada jenis fase terdispersi dan medium pendispersinya.
- koloid yang mengandung fase terdispersi padat disebut sol.
- koloid yang mengandung fase terdispersi cair disebut emulsi.
- koloid yang mengandung fase terdispersi gas disebut buih.

PENGELOMPOKAN KOLOID
Berdasarkan pada fase terdispersi dan medium pendisfersinya, sistem koloid dapat digolongkan sebagaimana
seperti dalam berikut.




                                           Tabel Jenis-jenis koloid
Macam-macam Koloid
    Aerosol : suatu sistem koloid, jika partikel padat atau cair terdispersi dalam gas. Contoh : debu, kabut,
      dan awan.
    Sol : suatu sistem koloid, jika partikel padat terdispersi dalam zat cair.
    Emulsi : suatu sistem koloid, jika partikel cair terdispersi dalam zat cair.
    Emulgator : zat yang dapat menstabilkan emulsi dan (Sabun adalah emulgator campuran air dan
      minyak dan Kasein adalah emulgator lemak dalam air?.
    Gel : koloid liofil yang setengah kaku.
    Gel terjadi jika medium pendispersi di absorbs oleh partikel koloid sehingga terjadi koloid yang agak
      padat. Larutan sabun dalam air yang pekat dan panas dapat berupa cairan tapi jika dingin membentuk
      gel yang relatif kaku. Jika dipanaskan akan mencair lagi.




                                                Contoh koloid

SIFAT-SIFAT KOLOID
a. Efek Tyndall
Efek Tyndall adalah efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid.




Efek Tyndall merupakan satu bentuk sifat optik yang dimiliki oleh sistem koloid. Pada tahun 1869, Tyndall
menemukan bahwa apabila suatu berkas cahaya dilewatkan pada sistem koloid maka berkas cahaya tadi akan
tampak. Tetapi apabila berkas cahaya yang sama dilewatkan pada dilewatkan pada larutan sejati, berkas
cahaya tadi tidak akan tampak. Singkat kata efek Tyndall merupakan efek penghamburan cahaya oleh sistem
koloid.
Pengamatan mengenai efek Tyndall dapat dilihat pada gambar
                                           Efek Tyndal koloid




                                     Hamburan cahaya oleh koloid

Dalam kehidupan sehari-hari, efek Tyndall dapat kita amati seperti:
     Di bioskop, jika ada asap mengepul maka cahaya proyektor akan terlihat lebih terang.
     Di daerah berkabut, sorot lampu mobil terlihat lebih jelas
     Sinar matahari yang masuk melewati celah ke dalam ruangan berdebu, maka partikel debu akan
        terlihat dengan jelas.




                                      Hamburan cahaya oleh asap
Pengamatan ini dapat dilakukan dengan melakukan percobaan sebagai berikut:
Alat dan Bahan :
     1. 1 buah senter
     2. 10 ml air + pasir
     3. 10 ml air gula
     4. 10 ml air sabun
     5. 10 ml koloid Fe2O3
     6. 10 ml sol Fe(OH)3
     7. 10 ml susu
     8. 10 ml tinta
     9. 8 buah tabung reaksi
     10. 1 buah rak tabung reaksi
Cara Kerja :
    1. Menyiapkan 10 ml suspensi, larutan dan koloid, seperti yang tertera pada alat dan bahan, pada
        tabung reaksi yang berbeda, diaduk rata, didiamkan sebentar. Kemudian mengamati apakah zat
        tersebut homogen/heterogen dan stabil atau tidak selama didiamkan.
    2. Menyinari dan mengarahkan sinarnya pada masing-masing tabung reaksi dengan menggunakan
        senter.
    3. Mengamati apakah berkas sinarnya dihamburkan atau tidak oleh larutan atau koloid tersebut dan
        mencatat hasilnya.
    4. Menyaring campuran tersebut, dan mengamati mana yang meninggalkan residu.




                                             Tabel hasil pengamatan

b. Gerak Brown
Gerak Brown adalah gerak acak, gerak tidak beraturan dari partikel koloid.




                                                 Robert Brown
Sistem koloid juga mempunyai sifat kinetik selain sifat optic yang telah dijelaskan diatas. Sifat kinetik ini dapat
terjadi karena disebabkan oleh gerakan termal dan gravitasi. Dua hal ini menyebabkan sistem koloid dapat
bergerak zig-zag. Gerakan ini pertama ditemukan oleh seorang ahli biologi yang bernama Robert Brown yang
melakukan pengamatan pada serbuk sari dengan menggunakan mikroskop, sehingga dinamakan gerak Brown.
Pengamatan mengenai gerak Brown dapat dilihat pada gambar dibawah.
                                                Gerak Brown
c. Adsorbsi
Beberapa partikel koloid mempunyai sifat adsorbsi (penyerapan) terhadap partikel atau ion atau senyawa yang
lain. Penyerapan pada permukaan ini disebut adsorbsi (harus dibedakan dari absorbsi yang artinya penyerapan
sampai ke bawah permukaan).
Contoh :
                                                                          +
(i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H .
(ii) Koloid As2S3 bermuatan negatit karena permukaannya menyerap ion S 2.




                  Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+




                                                                                       2-
                   Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S

d. Koagulasi
Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti
zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid.
Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti
penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan.
Koagulasi atau pengendapan/penggumpalan yang disebabkan oleh gaya gravitasi akan terjadi jika sistem
koloid dalam keadaan tidak bermuatan. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan koloid bersifat netral,
yaitu:
     1. Menggunakan Prinsip Elektroforesis. Proses elektroforesis adalah pergerakan partikel-partikel koloid
          yang bermuatan ke elektrode dengan muatan yang berlawanan. Ketika partikel ini mencapai
          elektrode, maka sistem koloid akan kehilangan muatannya dan bersifat netral.
    2.   Penambahan koloid lain dengan muatan yang berlawanan. Ketika koloid bermuatan positif
         dicampurkan dengan koloid bermuatan negatif, maka muatan tersebut akan saling menghilangkan
         dan bersifat netral.
    3.   Penambahan Elektrolit. Jika suatu elektrolit ditambahkan pada sistem koloid, maka partikel koloid
         yang bermuatan negatif akan mengadsorpsi koloid dengan muatan positif (kation) dari elektrolit.
         Begitu juga sebaliknya, partikel positif akan mengadsorpsi partikel negatif (anion) dari elektrolit. Dari
         adsorpsi diatas, maka terjadi koagulasi.
    4.   Pendidihan. Kenaikan suhu sistem koloid menyebabkan tumbukan antar partikel-partikel sol dengan
         molekul-molekul air bertambah banyak. Hal ini melepaskan elektrolit yang teradsorpsi pada
         permukaan koloid. Akibatnya partikel tidak bermuatan.

e. Koloid Liofil dan Koloid Liofob
Koloid ini terjadi pada sol yaitu fase terdispersinya padatan dan medium pendispersinya cairan.
Koloid Liofil: sistem koloid yang affinitas fase terdispersinya besar terhadap medium pendispersinya. Contoh:
sol kanji, agar-agar, lem, cat
Koloid Liofob: sistem koloid yang affinitas fase terdispersinya kecil terhadap medium pendispersinya. Contoh:
sol belerang, sol emas.
Sistem koloid dimana fase terdispersinya mempunyai daya adsorbsi relatif lebih besar disebut koloid liofil yang
bersifat lebih stabil. Sedangkan jika partikel terdispersinya mempunyai daya adsorbsi relatif lebih lemah
disebut koloid liofob yang bersifat kurang stabil. Sol liofil/liofob mudah terkoagulasi dengan sedikit
penambahan larutan elektrolit.
      Koloid liofil (suka cairan). Koloid dimana terdapat gaya tarik menarik yang cukup besar antara fase
          terdispersi dengan medium pendispersi. Contoh: kanji, sabun, dan deterjen.
      Koloid liofob (tidak suka cairan). Koloid dimana terdapat gaya tarik menarik antara fase terdispersi
          dengan medium pendispersi yang cukup lemah atau bahkan tidak ada sama sekali. Contoh, dispersi
          emas, belerang dalam air.




                                      Perbedaan antara sol liofil dan liofob
    SISTEM KOLOID DALAM KEHIDUPAN
PEMISAHAN KOLOID
Elektroforesis
Telah disinggung pada pembahasan sebelumnya, elektroforesis merupakan peristiwa pergerakan partikel
koloid yang bermuatan ke salah satu elektroda dalam suatu sistem sejenis elektrolisis.
Elektroforesis dapat digunakan untuk mendeteksi muatan suatu sistem koloid. Jika koloid bergerak menuju
elektroda positif maka koloid yang dianalisa mempunyai muatan negatif. Begitu juga sebaliknya, jika koloid
bergerak menuju elektroda negatif maka koloid yang dianalisa mempunyai muatan positif. Salah satu proses
yang menggunakan sistem elektroforesis adalah proses membersihkan asap dalam suatu industri dengan
menggunakan alat Cottrell. Penggunaan elektroforesis tidak hanya sebatas itu, melainkan meluas untuk
memisahkan partikel yang termasuk dalam ukuran koloid, antara lain pemisahan protein yang mempunyai
muatan yang berbeda.

Dialisis
Dialisis merupakan proses pemurnian suatu sistem koloid dari partikel-partikel bermuatan yang menempel
pada permukaan Pada proses digunakan selaput Semipermeabel. Proses pemisahan ini didasarkan pada
perbedaan laju transport partikel. Prinsip dialisis digunakan dalam alat cuci darah bagi penderita gagal ginjal, di
mana fungsi ginjal digantikan oleh dialisator.

Penyaringan Ultra
Penyaringan ultra digunakan untuk memisahkan koloid melewati membran. Proses pemisahan ini didasarkan
pada perbedaan tekanan osmosis.




                                           Rangkaian untuk elektrolisis




                                                  Prinsip dialisis
PEMBUATAN KOLOID
Kondensasi
Merupakan cara kimia. Prinsip umum: Terjadinya kondensasi partikel molekular membentuk partikel koloid.
Kondensasi partikel → koloid
Reaksi kimia untuk menghasilkan koloid meliputi:
™Reaksi Redoks
2H2S(g) + SO2(aq) → 3S(s) + 2H2O(l)
™Reaksi Hidrolisis
FeCl3(aq) + 3 H2O(l) → Fe(OH)3(s) + 3 HCl(aq)
™Reaksi Substitusi/Agregasi Ionik
2H3AsO3(aq) + 3H2S(g) → As2S3(s) + 6 H2O(l)
™Reaksi Penggaraman
Dispersi
Dapat dilakukan dengan cara mekanik maupun dengan cara kimia. Prinsip umum : Partikel Besar → Partikel
Koloid
Yang termasuk cara dispersi:
Cara Mekanik
Cara ini dilakukan dari gumpalan partikel yang besar kemudian dihaluskan dengan cara penggerusan atau
penggilingan.
Cara Busur Bredig
Digunakan untuk membuat sol-sol logam dengan loncatan bunga listrik. Instrument Busur Bredig dapat dilihat
pada Gambar 6.12.
™Cara Peptisasi
Cara peptisasi adalah pembutan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan
pemeptisasi (pemecah).
Contoh :
    1. Agar-agar dipeptisasi oleh air ; Karet oleh bensin.
    2. Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S, Endapan Al(OH)3 olehAlCl3.




                                               Busur Bredig
BAB XV

                     KIMIA INTI DAN RADIASI




Kita telah mengetahui bahwa atom terdiri atas inti atom dan elektron-elektron yang beredar mengitarinya.
Reaksi kimia biasa (seperti reaksi pembakaran dan penggaraman) hanya menyangkut perubahan pada kulit
atom, terutama elektron pada kulit terluar, sedangkan inti atom tidak berubah. Reaksi yang meliputi
perubahan pada inti disebut reaksi inti atau reaksi nuklir (nukleus = inti). Reaksi nuklir ada yang terjadi secara
spontan ataupun buatan. Reaksi nuklir spontan terjadi pada inti-inti atom yang tidak stabil. Zat yang
mengandung inti tidak stabil ini disebut zat radioaktif. Adapun reaksi nuklir tidak spontan dapat terjadi pada
inti yang stabil maupun inti yang tidak stabil. Reaksi nuklir disertai perubahan energi berupa radiasi dan kalor.
Berbagai jenis reaksi nuklir disertai pembebasan kalor yang sangat dasyat, lebih besar dan reaksi kimia biasa.
Dewasa ini, reaksi nuklir telah banyak digunakan untuk tujuan damai (bukan tujuan militer) baik sebagai
sumber radiasi maupun sebagai sumber tenaga dan pemanfaatannya dalam bidang kesehatan.
Penemuan Keradioaktifan




Pada tahun 1895, W.C. Rontgen menemukan bahwa tabung sinar katoda menghasilkan suatu radiasi berdaya
tembus tinggi yang dapat menghitamkan film potret, walaupun film tersebut terbungkus kertas hitam. Karena
belum mengenal hakekatnya, sinar ini dinamai sinar X. Ternyata sinar X adalah suatu radiasi elektromagnetik
yang timbul karena benturan berkecepatan tinggi (yaitu sinar katoda dengan suatu materi (anoda). Sekarang
sinar X disebut juga sinar rontgen dan digunakan untuk rongent yaitu untuk mengetahui keadaan organ tubuh
bagian dalam.
Penemuan sinar X membuat Henry Becguerel tertarik untuk meneliti zat yang bersifat fluoresensi, yaitu zat
yang dapat bercahaya setelah terlebih dahulu mendapat radiasi (disinari), Becquerel menduga bahwa sinar
yang dipancarkan oleh zat seperti itu seperti sinar X. Secara kebetulan, Becquerel meneliti batuan uranium.
Ternyata dugaan itu benar bahwa sinar yang dipancarkan uranium dapat menghitamkan film potret yang
masih terbungkus kertas hitam. Akan tetapi, Becqueret menemukan bahwa batuan uranium memancarkan
sinar berdaya tembus tinggi dengan sendirinya tanpa harus disinari terlebih dahulu. Penemuan ini terjadi pada
awal bulan Maret 1986. Gejala semacam itu, yaitu pemancaran radiasi secara spontan, disebut keradioaktifan,
dan zat yang bersifat radioaktif disebut zat radioaktif.
Zat radioaktif yang pertama ditemukan adalah uranium. Pada tahun 1898, Marie Curie bersama-sama dengan
suaminya Pierre Curie menemukan dua unsur lain dari batuan uranium yang jauh lebih aktif dari uranium.
Kedua unsur itu mereka namakan masing-masing polonium (berdasarkan nama Polonia, negara asal dari Marie
Curie), dan radium (berasal dari kata Latin radiare yang berarti bersinar).
Ternyata, banyak unsur yang secara alami bersifat radioaktif. Semua isotop yang bernomor atom diatas 83
bersifat radioaktif. Unsur yang bernomor atom 83 atau kurang mempunyai isotop yang stabil kecuali
teknesium dan promesium. Isotop yang bersifat radioaktif disebut isotop radioaktif atau radioisotop,
sedangkan isotop yang tidak radiaktif disebut isotop stabil. Dewasa ini, radioisotop dapat juga dibuat dari
isotop stabil. Jadi disamping radioisotop alami juga ada radioisotop buatan.
Sinar-sinar radioaktif
Ditulis oleh Ratna dkk pada 23-12-2009




Pada tahun 1903, Ernest Rutherford mengemukakan bahwa radiasi yang dipancarkan zat radioaktif dapat
dibedakan atas dua jenis berdasarkan muatannya. Radiasi yang bermuatan positif dinama sinar alfa, dan yang
bermuatan negatif diberi nama sinar beta . Selanjutnya Paul U.Viillard menemukan jenis sinar yang ketiga yang
tidak bermuatan dan diberi nama sinar gamma.
Sinar alfa ( α )
Sinar alfa merupakan radiasi partikel yang bermuatan positif. Partikel sinar alfa sama dengan inti helium -4,
bermuatan +2e dan bermassa 4 sma. Partikel alfa adalah partikel terberat yang dihasilkan oleh zat radioaktif.
Sinar alfa dipancarkan dari inti dengan kecepatan sekitar 1/10 kecepatan cahaya. Karena memiliki massa yang
besar daya tembus sinar alfa paling lemah diantara diantara sinar-sinar radioaktif. Diudara hanya dapat
menembus beberapa cm saja dan tidak dapat menembus kulit. Sinar alfa dapat dihentikan oleh selembar
kertas biasa. Sinar alfa segera kehilangan energinya ketika bertabrakan dengan molekul media yang dilaluinya.
Tabrakan itu mengakibatkan media yang dilaluinya mengalami ionisasi. Akhirnya partikel alfa akan menangkap
2 elektron dan berubah menjadi atom
Sinar beta (β)
Sinar beta merupakan radiasi partikel bermuatan negatif. Sinar beta merupakan berkas elektron yang berasal
dari inti atom. Partikel beta yang bemuatan -1e dan bermassa 1/836 sma. Karena sangat kecil, partikel beta
dianggap tidak bermassa sehingga dinyatakan dengan notasi        . Energi sinar beta sangat bervariasi,
mempunyai daya tembus lebih besar dari sinar alfa tetapi daya pengionnya lebih lemah. Sinar beta paling
energetik dapat menempuh sampai 300 cm dalam udara kering dan dapat menembus kulit.
Sinar gamma ( γ )
Sinar gamma adalah radiasi elektromagnetek berenergi tinggi, tidak bermuatan dan tidak bermassa. Sinar γ
dinyatakan dengan notasi . Sinar gamma mempunyai daya tembus. Selain sinar alfa, beta, gamma, zat
radioaktif buatan juga ada yang memancarkan sinar X dan sinar Positron. Sinar X adalah radiasi sinar
elektromagnetik.
Peluruhan radioaktif
Jika jumlah proton lebih besar dari jumlah netron (N < P), maka gaya elektrostatis akan lebih besar dari gaya
inti, hal ini akan menyebabkan inti atom berada dalam keadan tidak stabil. Jika jumlah netron yang lebih besar
dari jumlah protonnya (N = P) akan membuat inti berada dalam keadaan stabil. Hasil eksperimen menunjukkan

bahwa inti ataom paling berat yang stabil adalah Bismuth               yaitu yang mempunyai 83 proton dan 126
netron. Inti atom yang mempunyai jumlah proton lebih besar dari 83 akan berada dalam keadaan tidak stabil.
Inti yang tidak stabil ini akan berusaha menjadi inti stabil dengan cara melepaskan partikel bisa berupa proton

murni         , partikel helium         yang memiliki 2 proton atau partikel lainnya seperti ditunjukkan oleh
Gambar 2. Inti atom yang tidak stabil ini memiliki sifat dapat melakukan radiasi spontan atau mampu
melakukan aktivitas radiasi sehingga dinamakan inti radioaktif. Unsur yang inti atomnya mampu melakukan
aktivitas radiasi spontan berupa pemancaran sinar-sinar radioaktif dinamakan unsur (zat) radioaktif.
Pemancaran sinar-sinar radioaktif (berupa partikel atau gelombang elektromagnetik) secara spontan oleh inti-
inti berat yang tidak stabil menjadi inti-inti yang stabil disebut Radioaktivitas. Inti yang memancarkan sinar
radioaktif disebut inti induk dan inti baru yang terjadi disebut inti anak.




Peluruhan adalah bentuk radiasi partikel dengan kemampuan mengionisasi atom sangat tinggi dan daya
tembusnya rendah. Pertikel alpha terdiri atas dua buah proton dan dua buah netron yang terikat menjadi
suatu atom dengan inti yang sangat stabil, dengan notasi atom            atau
Partikel  diradiasikan oleh inti atom radioaktif seperti uranium atau radium dalam suatu proses yang disebut
dengan peluruhan alpha. Sering terjadi inti atom yang selesai meradiasikan partikel alpha akan berada dalam
eksitasi dan akan memancarkan sinar gamma untuk membuang energi yang lebih.

Setelah partikel alpha diradiasikan , massa inti atom akan turun kira-kira sebesar 4 sma, karena kehilangan 4
partikel. Nomor atom akan berkurang 2, karena hilangnya 2 proton sehingga akan terbentuk inti atom baru
yang dinamakan inti anak. Pada peluruhan-a berlaku

1. hukum kekekalan nomor massa : nomor massa (A) berukuran 4 dan
2. hukum kekekalan nomor atom : nomor atom (Z) berkurang 2

Dalam peluruhan -a berlaku persamaan peluruhan
contoh :




Reaksi peluruhan alpha dapat ditulis sebagai



                                     +         -
Peluruhan Beta Plus dan Beta Min ( ß dan ß )




Peluruhan Beta adalah merupakan radiasi partikel beta (elektron atau positron) dengan kemampuan ionisasi
lebih rendah dari partikel a. Radiasi beta dapat berupa pemancaran sebuah elektron disebut peluruhan beta
         -                                                                  +
minus (ß ), dan pemancaran positron disebut sebagai peluruhan beta plus (ß ).
                         -
Peluruhan beta minus (ß ) disertai dengan pembebasan sebuah neutrino (v) dan dinyatakan dengan
persamaan peluruhan.




Elektron yang dipancarkan dalam peluruhan ini bukanlah elektron orbital (elektron yang bergerak mengelilingi
inti) melainkan elektron yang ditimbulkan oleh inti atom itu sendiri dari energi yang tersedia di dalam inti.
                     -       +
Hadirnya elektron (ß ) dan (ß ) di dalam inti melalui proses

1. sebuah netron memancarkan positron dan sebuah neutrino (v)



2. sebuah proton memancarkan sebuah netron dan sebuah neutrino :
Spesifikasi peluruhan beta plus adalah adanya pemberian energi dalam proses “penciptaan” massa, karena
massa netron (sebagai inti anak) ditambah massa positron dan neutrino lebih besar daripada massa proton
(sebagai inti induk).
Sebagai contoh

                                                  (beta minus)



                                                   (beta plus)

Aktivitas Radiasi
Aktivitas Radiasi zat radioaktif menyatakan banyaknya initi atom yang meluruh per satuan waktu. Atau disebut
juga laju peluruhan inti atom tidak stabil menuju inti stabil dengan radiasi sinar-sinar radioaktif. Jika N adalah
banyaknya inti atom mula-mula, dan A adalah aktivitas radiasi maka diperoleh hubungan




Tanda negatif (-) diberikan karena setiap 1 peluruhan inti atom berkurang jumlahnya. Satuan aktivitas radiasi
(A) dalam SI adalah .           Untuk menghormati dan mengenang jasa Henri Becquerel sekon sebagai
penemu radioaktivitas didefinisikan




Di singkat Bq. Kadang-kadang satuan aktivitas radiasi dinyatakan dengan Curie (Ci) untuk mengenang jasa
                                                                                               10
Marie Currie sebagai penemu Polonium (Po) dan Radium (Ra). Di definisikan bahwa 1 Ci = 3,7 x 10 Bq.

Bagaimana Menentukan Jumlah Zat Sisa Setelah Peluruhan?

Misalkan terdapat No zat radioaktif yang belum meluruh. Setelah satu periode peluruhan zat radioaktif sisa
adalah N(t). Bagaimana menghitung N(t)?

kita gunakan dua pengertian aktivitas radiasi yang dibahas sebelumnya yaitu

               Persamaan ini kita ubah ke bentuk differensial,


Dengan mensubtitusi A = λ N bentuk differensial laju peluruhan diperoleh,

                        atau

No ; Ao adalah banyaknya inti yang belum meluruh ; besar aktivitas radiasi mula-mula yaitu pada t = 0 s
Nt ; At adalah sisa inti setelah meluruh ; besar aktivitas radiasi setelah peluruhan selama t = t s
λ adalah tetapan peluruhan (s-1)
t adalah lamanya peluruhan

Dari persamaan di atas diketahui bahwa peluruhan suatu zat radioaktif bergantung pada lamanya peluruhan
(t) dan fungsi peluruhannya mengikuti fungsi eksponensial. Ini menunjukkan bahwa banyaknya zat yang
meluruh tiap periode peluruhan tidak sama. Fenomena ini dinamakan Hukum Peluruhan Radioaktif yang
menyatakan bahwa aktivitas radiasi suatu zat radioaktif tidaklah sama pada setiap periode peluruhan.

Contoh:
                                                                                        -6 -1
Berapakah aktivitas dari 10,0 mg sampel Au-198 yang memiliki tetapan peluruhan 2,97 x 10 s ? Penyelesaian
:
A=λ.N
                        -6                            23                  15
N = 1,00 mg = 1,00 x 10 g x (1 mol/298 g) x (6,02 x 10 /1 mol) = 3,04 x 10 atom
               -6 -1            15                6
A = ( 2,97 x 10 s ) x (3,04 x 10 atom) = 9,03 x 10 Becquerel

Transmutasi adalah perubahan atau konversi satu objek menjadi objek lain. Transmutasi unsur kimia terjadi
melalui reaksi nuklir dan disebut dengan transmutasi nuklir. Transmutasi alami terjadi bila unsur radioaktif
secara spontan meluruh melalui suatu periode waktu yang panjang dan berubah menjadi unsur lain yang lebih
stabil. Transmutasi buatan terjadi pada mesin yang memiliki cukup energi untuk menyebabkan perubahan
pada struktur nuklir unsur tersebut. Mesin yang mampu menyebabkan transmutasi buatan antara lain adalah
akselerator partikel dan reaktor tokamak.

Reaksi nuklir




Reaksi fusi antara Lithium-6 dan Deuterium yang menghasilkan 2 atom Helium-4.
Dalam fisika nuklir, sebuah reaksi nuklir adalah sebuah proses di mana dua nuklei atau partikel nuklir
bertubrukan, untuk memproduksi hasil yang berbeda dari produk awal. Pada prinsipnya sebuah reaksi dapat
melibatkan lebih dari dua partikel yang bertubrukan, tetapi kejadian tersebut sangat jarang. Bila partikel-
partikel tersebut bertabrakan dan berpisah tanpa berubah (kecuali mungkin dalam level energi), proses ini
disebut tabrakan dan bukan sebuah reaksi.
Dikenal dua reaksi nuklir, yaitu reaksi fusi nuklir dan reaksi fisi nuklir. Reaksi fusi nuklir adalah reaksi peleburan
dua atau lebih inti atom menjadi atom baru dan menghasilkan energi, juga dikenal sebagai reaksi yang bersih.
Reaksi fisi nuklir adalah reaksi pembelahan inti atom akibat tubrukan inti atom lainnya, dan menghasilkan
energi dan atom baru yang bermassa lebih kecil, serta radiasi elektromagnetik. Reaksi fusi juga menghasilkan
radiasi sinar alfa, beta dan gamma yang sagat berbahaya bagi manusia.
Contoh reaksi fusi nuklir adalah reaksi yang terjadi di hampir semua inti bintang di alam semesta. Senjata bom
hidrogen juga memanfaatkan prinsip reaksi fusi tak terkendali. Contoh reaksi fisi adalah ledakan senjata nuklir
dan pembangkit listrik tenaga nuklir.
Unsur yang sering digunakan dalam reaksi fisi nuklir adalah Plutonium dan Uranium (terutama Plutonium-239,
Uranium-235), sedangkan dalam reaksi fusi nuklir adalah Lithium dan Hidrogen (terutama Lithium-6,
Deuterium, Tritium).




          RADIOKIMIA DAN APLIKASINYA
Radiokimia adalah bahan radioaktif kimia, dimana unsur-unsur radioaktif isotop digunakan untuk mempelajari
sifat dan reaksi kimia non-radioaktif isotop (seringkali dalam ketiadaan radiokimia radioaktivitas mengarah
pada suatu zat yang digambarkan sebagai orang yang tidak aktif sebagai isotop stabil) . Banyak radiokimia
berkaitan dengan penggunaan radioaktivitas untuk mempelajari reaksi kimia biasa.
Radiokimia mencakup studi baik alam dan buatan manusia radioisotop.
Semua radioisotop adalah isotop dari unsur-unsur tidak stabil-nuklir mengalami peluruhan dan memancarkan
suatu bentuk radiasi. Radiasi yang dipancarkan dapat menjadi salah satu dari tiga jenis, yang disebut alfa, beta,
atau radiasi gamma.

1. α (alfa) radiasi - emisi partikel alfa (yang mengandung 2 proton dan 2 neutron) dari inti atom. Ketika ini
terjadi, massa atom atom akan berkurang oleh 4 unit dan nomor atom akan berkurang 2.
2. β (beta) radiasi - transmutasi neutron menjadi elektron dan proton. Setelah ini terjadi, elektron dipancarkan
dari inti ke dalam awan elektron.
3. radiasi gamma - emisi energi elektromagnetik (seperti X-ray) dari inti atom. Ini biasanya terjadi selama alfa
atau beta peluruhan radioaktif.

Ketiga jenis radiasi dapat dibedakan oleh perbedaan mereka dalam daya tembus.
Alfa dapat dihentikan dengan mudah oleh beberapa sentimeter di udara atau sepotong kertas dan setara
dengan inti helium. Beta dapat dipotong oleh lembaran aluminium hanya beberapa milimeter tebal dan
elektron. Gamma adalah yang paling menembus dari tiga dan tak bermassa chargeless foton energi tinggi.
Radiasi gamma membutuhkan jumlah yang cukup radiasi logam berat (biasanya timah atau barium-based)
untuk mengurangi intensitas.

Analisis Aktivasi
Oleh iradiasi neutron objek adalah mungkin untuk mendorong radioaktivitas; pengaktifan ini isotop stabil
untuk menciptakan radioisotop adalah dasar dari analisis aktivasi neutron. Salah satu benda paling menarik
yang telah dipelajari dalam cara ini adalah rambut kepala Napoleon, yang telah diperiksa untuk konten arsenik
mereka.
Serangkaian metode percobaan yang berbeda ada, ini telah dirancang untuk memungkinkan pengukuran
berbagai unsur yang berbeda dalam matriks yang berbeda. Untuk mengurangi efek matriks ini, sudah lazim
menggunakan ekstraksi kimia dari unsur yang diinginkan dan / atau untuk membolehkan radioaktivitas karena
unsur-unsur matriks membusuk sebelum pengukuran radioaktivitas. Karena efek matriks dapat diperbaiki
untuk dengan mengamati spektrum peluruhan, sedikit atau tidak ada persiapan sampel diperlukan untuk
beberapa sampel, membuat analisis aktivasi neutron kurang rentan terhadap kontaminasi.
Efek dari serangkaian waktu pendinginan yang berbeda dapat dilihat jika hipotetis sampel yang mengandung
natrium, uranium dan kobalt dalam rasio 100:10:1 menjadi sasaran denyut nadi yang sangat singkat neutron
termal. Radioaktivitas awal akan didominasi oleh kegiatan 24Na (paruh 15 jam), tetapi dengan meningkatnya
waktu 239Np (paruh 2,4 d setelah pembentukan dari orang tua 239U dengan paruh 24 menit) dan akhirnya
60Co kegiatan (5,3 thn) akan mendominasi.

Penggunaan Biokimia
Salah satu aplikasi biologis adalah studi DNA menggunakan radioaktif fosfor-32. Dalam eksperimen-
eksperimen ini stabil fosfor digantikan oleh identik kimia radioaktif P-32, dan radioaktivitas yang dihasilkan
digunakan dalam analisis molekul dan perilaku mereka.
Contoh lain adalah pekerjaan yang dilakukan pada metilasi dari unsur-unsur seperti belerang, selenium,
telurium dan polonium oleh organisme hidup. Telah ditunjukkan bahwa bakteri dapat mengkonversi elemen-
elemen ini menjadi senyawa volatil, itu adalah berpikir bahwa Methylcobalamin (vitamin B12) alkylates
elemen-elemen ini untuk menciptakan dimethyls. Telah menunjukkan bahwa kombinasi polonium Cobaloxime
dan anorganik dalam air steril polonium bentuk senyawa yang mudah menguap, sementara percobaan kontrol
yang tidak mengandung senyawa kobalt tidak membentuk senyawa volatile polonium. Untuk pekerjaan
belerang isotop 35S digunakan, sedangkan untuk 207Po polonium digunakan. Dalam beberapa karya terkait
dengan penambahan bakteri 57Co ke budaya, diikuti oleh isolasi dari cobalamin dari bakteri (dan pengukuran
radioaktivitas yang terisolasi cobalamin) itu menunjukkan bahwa bakteri mengkonversi tersedia kobalt ke
Methylcobalamin.

 Lingkungan
Radiochemistry juga mencakup studi tentang perilaku radioisotop dalam lingkungan; sebagai contoh,
kebakaran hutan atau rumput dapat membuat radioisotop menjadi mobile lagi. Pada eksperimen ini,
kebakaran dimulai di zona eksklusi di sekitar Chernobyl dan radioaktivitas dalam melawan arah angin udara
diukur.
Penting untuk dicatat bahwa sejumlah besar proses mampu melepaskan radioaktivitas ke lingkungan, misalnya
tindakan sinar kosmik di udara bertanggung jawab untuk pembentukan radioisotop (seperti 14C dan 32P),
peluruhan bentuk 226Ra 222Rn yang merupakan gas yang dapat menyebar melalui bebatuan sebelum
memasuki bangunan dan larut dalam air dan dengan demikian memasukkan air minum di samping kegiatan
manusia seperti tes bom, kecelakaan, [9] dan normal rilis dari industri telah mengakibatkan pelepasan
radioaktivitas.

Bentuk kimia actinides
Kimia lingkungan beberapa unsur radioaktif, seperti plutonium rumit oleh fakta bahwa solusi elemen ini dapat
menjalani disproporsionasi dan sebagai hasilnya banyak oksidasi yang berbeda dapat hidup berdampingan
sekaligus. Beberapa pekerjaan telah dilakukan pada identifikasi dan koordinasi negara oksidasi jumlah
plutonium dan actinides lain di bawah kondisi yang berbeda yang telah dilakukan. Hal ini termasuk bekerja
pada kedua solusi sederhana yang relatif kompleks dan bekerja pada koloid Dua dari matrixes kunci adalah
tanah / batu dan beton, dalam sistem ini sifat-sifat kimia plutonium telah diteliti dengan menggunakan
metode seperti EXAFS dan XANES.

Gerakan koloid
Sementara pengikatan logam pada permukaan partikel tanah dapat mencegah gerakan melalui lapisan tanah,
adalah mungkin untuk partikel-partikel tanah yang menanggung logam radioaktif dapat bermigrasi sebagai
partikel koloid melalui tanah. Hal ini telah terbukti terjadi menggunakan partikel tanah dilabeli dengan 134Cs,
ini telah terbukti dapat bergerak melalui retakan di dalam tanah.
Radioaktivitas hadir di mana-mana (dan telah sejak terbentuknya bumi). Menurut Badan Energi Atom
Internasional, satu kilogram tanah biasanya mengandung jumlah berikut dari tiga 370 Bq radioisotop alam 40K
(khas kisaran 100-700 Bq), 25 Bq 226Ra (kisaran 10-50 khas Bq), 25 Bq 238U (khas kisaran 10-50 Bq) dan 25 Bq
232Th (kisaran 7-50 khas Bq).

Aksi mikroorganisme
Tindakan mikro-organisme dapat memperbaiki uranium; Thermoanaerobacter dapat menggunakan kromium
(VI), besi (III), kobalt (III), mangan (IV) dan uranium (VI) sebagai akseptor elektron, sementara asetat, glukosa,
hidrogen, laktat, piruvat , suksinat, dan xylose dapat bertindak sebagai donor elektron untuk metabolisme
bakteri. Dengan cara ini, logam dapat dikurangi untuk membentuk magnetit (Fe3O4), siderite (FeCO3),
rhodochrosite (MnCO3), dan uraninite (UO2). Para peneliti lain juga bekerja pada penetapan uranium dengan
menggunakan bakteri , Francis R. Livens et al. (Bekerja di Manchester) telah menyarankan bahwa alasan
mengapa Geobacter sulfurreducens dapat mengurangi kation UO22 uranium dioksida adalah bahwa bakteri
mengurangi uranyl kation untuk UO2 + yang kemudian mengalami disproporsionasi untuk membentuk dan
UO22 + UO2. Alasan ini didasarkan (setidaknya sebagian) pada pengamatan bahwa NpO 2 + adalah tidak
dikonversi ke oksida neptunium larut oleh bakteri.
BAB XVI

     PEMISAHAN ZAT DARI CAMPURAN
DASAR PEMISAHAN CAMPURAN
Zat atau Materi dapat dipisahkan dari campurannya karena campuran tersebut memiliki perbedaan sifat,
itulah yang mendasari pemisahan campuran atau dasar pemisahan. Beberapa dasar pemisahan campuran
antara lain sebagai berikut :

Perbedaan Ukuran Partikel
Jika ukuran partikel suatu zat yang diinginkan berbeda dengan zat yang tidak diinginkan (zat pencampur) dapat
dipisahkan dengan metode penyaringan (metode filtrasi). Untuk keperluan ini kita harus menggunakan
penyaring dengan ukuran yang sesuai. Partikel zat hasil akan melewati penyaring dan disebut hasil
penyaringan dan zat pencampurnya akan terhalang dan disebut residu / ampas.

Perbedaan Titik didih
Untuk memisahkan campuran zat yang memiliki perbedaan titik didih, kita dapat melakukannya dengan
metode destilasi. Zat yang memiliki titik didih lebih tinggi akan lebih dulu menguap. Jika yang kita inginkan
adalah zat yang memiliki titik didih yang lebih tinggi, maka langkah selanjutnya kita mengembunkan uap dari
zat tersebut (pendinginan) dan mengalirkannya ke wadah tertentu. Jika yang kita inginkan adalah zat yang
memiliki titik didih lebih rendah, maka kita cukup memanaskan campuran tersebut saja, sampai suhu
mencapai titik didih zat yang akan kita cari. Bingung? Untuk lebih detailnya akan saya berikan contohnya nanti.

Perbedaan Kelarutan
Suatu zat selalu memiliki spesifikasi kelarutan yang berbeda, artinya suatu zat mungkin larut dalam pelarut A
tetapi tidak larut dalam pelarut B, atau sebaliknya. Secara umum pelarut dibagi menjadi dua, yaitu pelarut
polar (pelarut yang memiliki kutub), seperti air, dan pelarut nonpolar (disebut juga pelarut organik) seperti
alkohol, aseton, methanol, petrolium eter, kloroform, dan eter. Dengan hal menggunakan perbedaan
kelarutan, kita dapat memisahkan campuran dengan pelarut tertentu.

Perbedaan Pengendapan
Suatu zat akan memiliki kecepatan mengendap yang berbeda dalam larutan yang berbeda. Zat yang memiliki
berat jenis lebih besar daripada pelarutnya akan mudah mengendap. Bila dalam suatu campuran mengandung
satu atau beberapa zat dengan kecepatan pengendapan yang berbeda, kita dapat melakukan pemisahan
campuran tersebut dengan metode sedimentsi atau sentrifugsi atau pemusingan. Jika dalam campuran
terdapat lebih dari satu zat yang akan kita inginkan, maka digunakan metode presipitasi yang dikombinasi
dengan metode filtrasi.

Difusi (bergerak mengalir dan bercampur)
Dua macam zat berwujud cair atau gas bila dicampur dapat berdifusi satu sama lain. Aliran ini dapat
dipengaruhi oleh muatan listrik. Listrik yang diatur sedemikian rupa (baik besarnya tegangan maupun kuat
arusnya) akan menarik partikel zat hasil ke arah tertentu untuk memperoleh zat murni. Metode pemisahan
campuran dengan menggunakan bantuan listrik disebut elektrodialisis. Selain itu kita mengenal juga istilah
elektroforesis, yaitu pemisahan zat berdasarkan banyaknya nukleotida (satuan penyusun DNA) dapat
dilakukan dengan elektroforesis menggunakan suatu media agar yang disebut gel agarosa.

Adsorbsi (Penyerapan sampai permukaan)
Adsorbsi merupakan penarikan suatu zat oleh zat lain sehingga menempel pada permukaan dari bahan
pengadsorbsi. Penggunaan metode ini diterapkan pada pemurnian air dan kotoran renik atau organisme.
METODE PEMISAHAN CAMPURAN
Filtrasi / Penyaringan




Filtrasi adalah metode pemisahan zat yang memiliki ukuran partikel yang berbeda dengan menggunakan alat
berpori (penyaring/filter). Penyaring akan menahan zat yang ukuran partikelnya lebih besar dari pori saringan
dan meneruskan pelarut. Hasil penyaringan disebut filtrat sedangkan sisa yang tertinggal dipenyaring disebut
residu (ampas).
Metode penyaringan dimanfaatkan untuk membersihkan air dari sampah pada pengolahan air, menjernihkan
preparat kimia di laboratorium, menghilangkan pirogen (pengotor) pada air suntik injeksi dan obat-obat
injeksi, dan membersihkan sirup dari kotoran yang ada pada gula. Penyaringan di laboratorium dapat
menggunakan kertas saring dan penyaring buchner. Penyaring buchner adalah penyaring yang terbuat dari
bahan kaca yang kuat dilengkapi dengan alat penghisap.

Kristalisasi
Kristalisasi merupakan metode pemisahan untuk memperoleh zat padat yang terlarut dalam suatu larutan.
Dasar metode ini adalah kelarutan bahan dalam suatu pelarut dan perbedaan titik beku. Kristalisasi ada dua
cara yaitu kristalisasi penguapan dan kristalisasi pendinginan.




                                               Tambak garam
Contoh proses kristalisasi dalam kehidupan sehari-hari adalah pembuatan garam dapur dari air laut. Mula-
mula air laut ditampung dalam suatu tambak, kemudian dengan bantuan sinar matahari dibiarkan menguap.
Setelah proses penguapan, dihasilkan garam dalam bentuk kasar dan masih bercampur dengan pengotornya,
sehingga untuk mendapatkan garam yang bersih diperlukan proses rekristalisasi (pengkristalan kembali).




                                                     Evaporator
Contoh lain adalah pembuatan gula putih dari tebu. Batang tebu dihancurkan dan diperas untuk diambil
sarinya, kemudian diuapkan dengan penguap hampa udara sehingga air tebu tersebut menjadi kental, lewat
jenuh, dan terjadi pengkristalan gula. Kristal ini kemudian dikeringkan sehingga diperoleh gula putih atau gula
pasir.

Destilasi
Destilasi merupakan metode pemisahan untuk memperoleh suatu bahan yang berwujud cair yang terkotori
oleh zat padat atau bahan lain yang mempunyai titik didih yang berbeda. Dasar pemisahan adalah titik didih
yang berbeda. Bahan yang dipisahkan dengan metode ini adalah bentuk larutan atau cair, tahan terhadap
pemanasan, dan perbedaan titik didihnya tidak terlalu dekat.
                                           Destilasi di laboratorium
Proses pemisahan yang dilakukan adalah bahan campuran dipanaskan pada suhu diantara titik didih bahan
yang diinginkan. Pelarut bahan yang diinginkan akan menguap, uap dilewatkan pada tabung pengembun
(kondensor). Uap yang mencair ditampung dalam wadah. Bahan hasil pada proses ini disebut destilat,
sedangkan sisanya disebut residu.
Contoh destilasi adalah proses penyulingan minyak bumi, pembuatan minyak kayu putih, dan memurnikan air
minum.

Ekstraksi
Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah zat terlarut antara dua
pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang
lain. Seringkali campuran bahan padat dan cair (misalnyabahan alami)tidak dapat atau sukar sekali dipisahkan
dengan metode pemisahan mekanis atau termis yang telah dibicarakan. Misalnya saja,karena komponennya
saling bercampur secara sangat erat, peka terhadap panas,beda sifat-sifat fisiknya terlalu kecil, atau tersedia
dalam konsentrasi yang terlalu rendah.




Dalam hal semacam. itu, seringkali ekstraksi adalah satu-satunya proses yang dapat digunakan atau yang
mungkin paling ekonomis.




                PENENTUAN KADAR SUATU
                    UNSUR/SENYAWA
GRAVIMETRI
Analisa gravimetri merupakan salah satu metode analisis kuantitatif dengan penimbangan. Tahap awal analisis
gravimetri adalah pemisahan komponen yang ingin diketahui dari komponen-komponen lain yang terdapat
dalam suatu sampel kemudian dilakukan pengendapan.
Pengukuran dalam metode gravimetri adalah dengan penimbangan, banyaknya komponen yang dianalisis
ditentukan dari hubungan antara berat sampel yang hendak dianalisis, massa atom relatif, massa molekul
relatif dan berat endapan hasil reaksi.
Analisis gravimetri dapat dilakukan dengan cara pengendapan, penguapan dan elektrolisis.

1. Metode Pengendapan
Suatu sampel yang akan ditentukan seara gravimetri mula-mula ditimbang secara kuantitatif, dilarutkan dalam
pelarut tertentu kemudian diendapkan kembali dengan reagen tertentu. Senyawa yang dihasilkan harus
memenuhi sarat yaitu memiliki kelarutan sangat kecil sehingga bisa mengendap kembali dan dapat dianalisis
dengan cara menimbang.




Endapan yang terbentuk harus berukuran lebih besar dari pada pori-pori alat penyaring (kertas saring),
kemudian endapan tersebut dicuci dengan larutan elektrolit yang mengandung ion sejenis dengan ion
endapan.
Hal ini dilakukan untuk melarutkan pengotor yang terdapat dipermukaan endapan dan memaksimalkan
endapan. Endapan yang terbentuk dikeringkan pada suhu 100-130 derajat celcius atau dipijarkan sampai suhu
800 derajat celcius tergantung suhu dekomposisi dari analit.
Pengendapan kation misalnya, pengendapan sebagai garam sulfida, pengendapan nikel dengan DMG,
pengendapan perak dengan klorida atau logam hidroksida dengan mengetur pH larutan. Penambahan reagen
dilakukan secara berlebihan untuk memperkecil kelarutan produk yang diinginkan.
aA +rR ———-> AaRr(s)
Penambahan reagen R secara berlebihan akan memaksimalkan produk AaRr yang terbentuk.

2. Metode Penguapan
Metode penguapan dalam analisis gravimetri digunakan untuk menetapkan komponen-komponen dari suatu
senyawa yang relatif mudah menguap. Cara yang dilakukan dalam metode ini dapat dilakukan dengan cara
pemanasan dalam gas tertentu atau penambahan suatu pereaksi tertentu sehingga komponen yang tidak
diinginkan mudah menguap atau penambahan suatu pereaksi tertentu sehingga komponen yang diinginkan
tidak mudah menguap.




Metode penguapan ini dapat digunakan untuk menentukan kadar air(hidrat) dalam suatu senyawa atau kadar
air dalam suatu sampel basah. Berat sampel sebelum dipanaskan merupakan berat senyawa dan berat air
kristal yang menguap. Pemanasan untuk menguapkan air kristal adalah 110-130 derajat celcius, garam-garam
anorganik banyak yang bersifat higroskopis sehingga dapat ditentukan kadar hidrat/air yang terikat sebagai air
kristal.

3. Metode Elektrolisis
Metode elektrolisis dilakukan dengan cara mereduksi ion-ion logam terlarut menjadi endapan logam. Ion-ion
logam berada dalam bentuk kation apabila dialiri dengan arus listrikndengan besar tertentu dalam waktu
tertentu maka akan terjadi reaksi reduksi menjadi logam dengan bilangan oksidasi 0.
Endapan yang terbentuk selanjutnya dapat ditentukan berdasarkan beratnya, misalnya mengendapkan
tembaga terlarut dalam suatu sampel cair dengan cara mereduksi. Cara elektrolisis ini dapat diberlakukan pada
sampel yang diduga mengandung kadar logam terlarut cukup besar seperti air limbah.
                                                   Elektrolisis
Suatu analisis gravimetri dilakukan apabila kadar analit yang terdapat dalam sampel relatif besar sehingga
dapat diendapkan dan ditimbang. Apabila kadar analit dalam sampel hanya berupa unsurpelarut, maka
metode gravimetri tidak mendapat hasil yang teliti. Sampel yang dapat dianalisis dengan metode gravimetri
dapat berupa sampel padat maupun sampel cair.

VOLUMETRI
Pada zaman yang serba modern ini banyak alat dan cara analisis yang dapat mengetahui kadar suatu analat
dengan cepat , tepat, dan mudah. Tetapi analisis kuantitatif secara volumetri masih tetap digunakan. Dalam
titrimetri, analat direaksikan dengan suatu bahan lain yang diketahui/dapat diketahui jumlah molnya dengan
tepat. Bila bahan tersebut berupa larutan ,maka konsentrasinya harus diketahui dengan teliti dan larutan
tersebut dinamakan larutan baku.




                                                     Titrasi
Tidak semua pereaksi dapat digunakan sebagai titran. Untuk itu pereaksi harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut :
     Berlangsung sempurna, tunggal, dan menurut persamaan yang jelas (dasar teoritis).
     Cepat dan irreversible .
     Ada petunjuk akhir titrasi ( indicator).
     Larutan baku yang direaksikan dengan analat harus mudah didapat dan sederhana menggunakannya,
         juga harus stabil sehingga konsentrasinya tidak mudah berubah bila disimpan.
Berdasarkan reaksinya suatu titrasi digolongkan menjadi 2 yaitu :
1) Reaksi Metatetik (titrasi berdasarkan pertukaran ion).
    Meliputi :
    1. Netralisasi (asidimetri dan alkalimetri).
    2. Presipitimetri ( berdasarkan terbentuknya endapan).
    3. Kompleksometri (berdasarkan pembentukan persenyawaan            kompleks yaitu ion kompleks atau
         garam yang sukar mengion).
2) Reaksi Redoks (titrasi berdasarkan perpindahan electron)
    Meliputi :
    1. Permangganatometri, Dikhromatometri , Seriometri (berdasarkan penggunaan oksidator kuat).
    2. Iodometri dan Iodimetri (Titrasi yang menyangkut reaksi)
                                                        -     -
                                                 I2 + 2e → 2I
Karena metoda iodimetri masih jarang digunakan dalam analisis di laboratorium maka kami dari kelompok IV
mencoba untuk memberikan penjelasan tentang metoda tersebut.
NETRALISASI
Konsep paling mendasar dan praktis dalam kimia asam basa tidak diragukan lagi adalah netralisasi. Fakta
bahwa asam dan basa dapat saling meniadakan satu sama lain telah dikenal baik sebagai sifat dasar asam basa
sebelum perkembangan kimia modern.
Neutralisasi dapat didefinisikan sebagai reaksi antara proton (atau ion hidronium) dan ion hidroksida
membentuk air. Dalam bab ini kita hanya mendiskusikan netralisasi di larutan dalam air.
                                                +     -
                                             H + OH –> H2O (9.33)
                                                 +      -
                                            H3O + OH –> 2H2O (9.34)
Jumlah mol asam (proton) sama dengan jumlah mol basa (ion hidroksida).
                                        Stoikiometri netralisasi
                                           nAMAVA = nBMBVB
                              jumlah mol proton jumlah mol ion hidroksida
 subskrip A dan B menyatakan asam dan basa, n valensi, M konsentrasi molar asam atau basa, dan V volume
                                            asam atau basa.
Dengan bantuan persamaan di atas, mungkin untuk menentukan konsentrasi basa (atau asam) yang
konsentrasinya belum diketahui dengan netralisasi larutan asam (atau basa) yang konsentrasinya telah
diketahui. Prosedur ini disebut dengan titrasi netralisasi.
Contoh soal titrasi netralisasi
0,500 g NH4Cl tidak murni dipanasakan dengan NaOH berlebih menghasilkan amonia NH 3 yang diserap dalam
         3               -3                                 3                -3
25,0 cm 0,200 mol dm asam sulfat. Diperlukan 5,64 cm NaOH 0,200 mol.dm untuk menetralkan asam
sulfat berlebih. Hitung kemurnian NH4Cl.
Jawab
Ingat asam sulfat adalah asam diprotik. Dengan mengaasumsikan jumlah mol amonia yang dihasilkan x m mol,
jumlah mol amonia dan natrium hidroksida dua kali lebih besar dari jumlah mol asam sulfat. Jadi,
                            -3         -3     3                   -3          -3   3
x (mmol) + 0,200 (mol dm ) x 5,64 x 10 (dm )= 2 x 0,200 (mol dm ) x 25,0 x 10 (dm )
x + 1,128 = 10,0
∴ x = 8,872 (mmol)
Karena massa molar amonium khlorida adalah 52,5, 8,872 mmol ekivalen dengan 0,466 g amonium khlorida.
Jadi kemurnian sampel adalah (0,466 g/0,500 g) x 100 = 93 %.
 Indikator
Pigmen semacam fenolftalein dan metil merah yang digunakan sebagai indikator titrasi adalah asam lemah
                                                              +
(disimbolkan dengan HIn) dan warnanya ditentukan oleh [H ] larutan. Jadi,
                                                          +     -
                                                HIn H + In ….
Rentang pH yang menimbulkan perubahan besar warna indikator disebut dengan interval transisi. Alasan
mengapa ada sedemikian banyak indikator adalah fakta bahwa nilai pH titik ekivalen bergantung pada
kombinasi asam dan basa. Kunci pemilihan indikator bergantung pada apakah perubahan warna yang besar
akan terjadi di dekat titik ekivalen.




                                            Universal indikator
                              Tabel Indikator penting dan interval transisinya.

       Indikator                    interval transisi             perubahan warna(asam–>basa)
Biru timol                1,2-2,8                            merah –> kuning
Metil oranye              3,1-4,4                            merah –> kuning
Metil merah               4,2-6,3                            merah –> kuning
bromotimol biru           6,0-7,6                            kuning–> biru
merah kresol              7,2-8,8                            kuning –> merah
Fenolftalein              8,3-10,0                           tak berwarna–> merah
alizarin kuning           10,2-12,0                          kuning–> merah

Contoh soal: Titrasi netralisasi campuran, bagaimana menggunakan indikator.
        3                                                                    -3
25 dm larutan mengandung NaOH dan Na2CO3 dititrasi dengan 0,100 mol.dm HCl dengan indikator
                                                        3
fenolftalein. Warna indikator hilang ketika 30,0 dm HCl ditambahkan. Metil oranye kemudian ditambahkan
                                  3
dan titrasi dilanjutkan. 12,5 dm HCl diperlukan agar warna metil oranye berubah. Hitung konsentrasi NaOH
dan Na2CO3 dalam larutan.
Jawab Asam karbonat adalah asam diprotik, dan netralisasi berlangsung dalam reaksi dua tahap
                                                     2-     +          -
                                                 CO3 + H –> HCO3 ;
                                                     -    +
                                                HCO3 + H –> H2O + CO2
Tahap pertama netralisasi campuran NaOH-Na2CO3 tercapai saat fenolftalein berubah warna.
Perubahan warna metil oranye menandakan akhir tahap kedua netralisasi natrium karbonat.
                                                   -3               -3   3 -3
Jadi, jumlah NaOH-Na2CO3 adalah 0,100 mol dm x 30,0 x 10 dm = 3,0 x 10 mol
                                                                                             -3          -3
sebagaimana dinyatakan dalam tahap pertama netralisasi. Jumlah Na 2CO3 adalah 0,100 mol.dm x 12,5 x 10
   3             -3
dm = 1,25 x 10 mol sebagaimana dinyatakan dalam tahap kedua netralisasi. Jumlah NaOH adalah selisih
                                             -3
antara kedua bilangan tersebut, 1,75 x 10 mol. Jadi
                       -3              -3   3                    -3
[Na2CO3] = 1,25 x 10 mol/25,0 x 10 dm = 0,050 mol dm
                    -3              -3    3                   -3
[NaOH] = 1,75 x 10 mol/25,0 x 10 dm = 0,070 mol dm
DAFTAR PUSTAKA
Azizah Utiya, Polimer Berdasarkan Asalnya www.chem-is-try.org, 18 Apr 2009
Azizah Utiya, Polimer Berdasarkan Jenis Monomernya www.chem-is-try.org, 18 Apr 2009
Azizah Utiya, Polimer Berdasarkan Reaksi Pembentukannya -www.chem-is-try.org , 18 Apr 2009
Azizah Utiya, Polimer Berdasarkan Sifat Thermalnya www.chem-is-try.org, 18 Apr 2009
Azizah Utiya, Pengertian Polimer www.chem-is-try.org-, 18 Apr 2009
Azizah Utiya, Struktur Polimer www.chem-is-try.org-, 18 Apr 2009
Budiman Anwar, Bimbingan Pemantapan Kimia untuk SMA/MA,Yrama Widya,2005
Clark Jim, Efek dari Katalis, www.chem-is-try.org, 23 Sep 2004
Clark Jim, Efek dari Konsentrasi, www.chem-is-try.org, 23 Sep 2004
Clark Jim, Efek dari Luas Permukaan, www.chem-is-try.org, 23 Sep 2004
Clark Jim, Efek dari Suhu, www.chem-is-try.org, 23 Sep 2004
Clark Jim, Efek dari Tekanan, www.chem-is-try.org, 23 Sep 2004
Clark Jim, Order Reaksi dan Mekanisme Reaksi, www.chem-is-try.org, 23 Sep 2004
Clark Jim, Order Reaksi dan Persamaan Laju Reaksi, www.chem-is-try.org, 23 Sep 2004
Clark Jim, Teori Tumbukan, www.chem-is-try.org, 23 Sep 2004
Clark Jim, Tetapan Laju dan Persamaan Arrhenius, www.chem-is-try.org, 23 Sep 2004
Emi Erawati, S.T , Kimia Teknologi dan Industri untuk 2 SMK,Yudhistira, 2005
Michael Purba, Kimia 2000 SMU Kelas 2, Erlangga, 2000
Ratna dkk., Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi, www.chem-is-try.org - 19 Dec 2009 Ratna
dkk., Kinetika Kimia, Definisi Laju Reaksi dan Hukum Laju , www.chem-is-try.org- 18 Dec 2009
Ratna dkk., Orde Reaksi dan Kesimpulan , www.chem-is-try.org- 21 Dec 2009
Ratna dkk., Polimer , www.chem-is-try.org- 19 Jan 2010
Ratna dkk., Teori Tumbukan , www.chem-is-try.org- 20 Dec 2009
Septyaningrum Riana , Analisis Kuantitatif secara Volumetri, www.chem-is-try.org, 14-Mar-2009
Suparni Setyowati Rahayu , Ekstraksi, www.chem-is-try.org, 24-Aug-2009
Takeuchi Yoshito, Netralisasi, www.chem-is-try.org, 11-Aug-2008

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags: Kimia
Stats:
views:41255
posted:3/13/2010
language:Indonesian
pages:73