DINAS PERTANIAN PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT

W
Document Sample
scope of work template
							   PROGRAM UNGGULAN DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN
     DAN HORTIKULTURA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT


I. JAGUNG

Pendahuluan



          Kebijakan pembangunan pertanian ditujukan untuk meningkatkan        ketahanan
pangan, mengembangkan agribisnis dan meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan
tujuan tersebut mengisyaratkan bahwa produk pertanian yang dihasilkan harus
memenuhi syarat kuantitas, kualitas dan kontinyuitas sehingga mempuyai daya saing.
          Jagung merupakan salah satu komoditi dari sub sektor tanaman pangan yang
memiliki peran yang cukup penting dan strategis dalam pembangunan nasional dan
regional. Peranan jagung dalam subsektor tanaman pangan telah terbukti secara
menyakinkan memberikan andil yang cukup besar bukan saja terhadap ketahanan
pangan tetapi juga terhadap perekonomian. Dalam krisis ekonomi jagung telah
memperlihatkan ketangguhannya dengan tetap tumbuh positif dan menjadi penarik
bagi pertumbuhan industry hulu dan pendorong pertumbuhan industry hilir yang
kontribusinya pada pertumbuhan ekonomi nasional cukup besar.
          Dari segi agronomi tanaman jagung merupakan contoh alam yang sangat
menakjubkan dalam menangkap dan menyimpan energy. Biji jagung yang beratnya
sekitar 0,3 grm, dalam waktu dua bulan dapat mencapai tinggi 2 meter dan dalam
waktu satu setengah bulan berikutnya dapat menghasilkan 600.000 butir biji. Jika
dibandingkan dengan tanaman gandum replikasinya rata-rata 50 kali dan padi antara
125 – 200 kali
          Permintaan jagung dari tahun ke tahun semakin meningkat karena banyak
dimanfaatkan       sebagai bahan pangan (Food), pakan ternak (Feed), dan bioetanol
(Fuel),
          Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu Provinsi di Indonesia memiliki
potensi dan peluang dalam pengembangan jagung, hal ini dikarenakan Provinsi NTB
memiliki keadaan iklim, jenis tanah dan topografi yang sangat mendukung untuk
pengembangan jagung. Produksi jagung di Provinsi NTB pada tahun 2008 baru
mencapai 198.263 ton dengan luas panen 59.078 Ha, dan pada tahun 2009 ditargetkan
sebesar 238.043 ton dengan luas panen sebesar 66.476 ha sehingga pada tahun 2013
diharapkan bisa mencapai produksi sebesar 613.496 ton dengan luas panen sebesar
116.268 ha
       Peluang untuk meningkatkan produksi jagung di Nusa Tenggara Barat masih
cukup besar, karena selain          mempunyai potensi sumberdaya lahan yang luas,
agroklimat yang sesuai untuk tanaman jagung, juga masih adanya perbedaan
produktivitas potensial dengan capaian produktivitas rata-rata berdasarkan Badan Pusat
Statistik.   Berdasarkan data BPS bahwa produktivitas jagung NTB tahun 2008 baru
mencapai 33,22 kw/Ha dan menurut Angka Ramalan III tahun 2009 produktivitas 35,89
kw/ha, sedangkan produktivitas potensial jagung hibrida dapat mencapai 100-150
kw/ha.
       Dari aspek budidaya, jagung merupakan tanaman yang mudah dikembangkan
oleh masyarakat, tidak tergantung pada waktu tertentu, jenis hama dan penyakitnya
terbatas dan relatif sedikit membutuhkan air.
       Dalam upaya peningkatan produksi ditahun mendatang maka diperlukan
langkah-langkah antara lain ; penyediaan sarana produksi secara enam tepat dan
gerakan peneraapan teknologi anjuran seperti penggunaan benih bermutu, perbaikan
pola tanam, pemupukan berimbang, PHT, pasca panen yang baik serta alsintan dan
permodalan. Disamping itu diperlukan daya dukung yang optimal terhadap pencapaian
sasaran      produksi   melalui   pola   pendekatan   agribisnis    yang   diarahkan   untuk
meningkatkan pendapatan petani, menyediakan kesempatan kerja yang produktif,
memantapkan        struktur   kelembagaan     perekonomian     di   pedesaan,    menumbuh
kembangkan perusahaan-perusahaan agribisnis di pedesaan dan memantapkan
swasembaada dalam rangka memenuhi permintaan pasar dalam dan luar negeri.
       Dengan pertimbangan daya dukung berbagai aspek tersebut yaitu aspek sumber
daya lahan, aspek sumber daya manusia, aspek tekhnologi budidaya dan aspek
permintaan, maka menentukan jagung sebagai komoditas unggulan daerah merupakan
pilihan yang logis.
b. Rencana Kerja dan Target Capaian Tahun 2009 – 2013.



      Rencana kerja yang akan dilaksanakan dalam program percepatan jagung dalam
      rangka meningkatkan produksi dan produktivitas jagung adalah sebagai berikut :
      1. Meningkatkan luas tanam dan luas panen
      2. Meningkatkan provitas dan produksi jagung
      3. Membina dan mengembangkan akses pasar komoditas jagung NTB


Tabel 3.1. Rencana Kerja dan Target Capaian Kinerja Program Jagung Tahun 2009 –
            2013.


                                                                  Target Capaian kinerja
             Rencana         Indikator      Satu
No
              Kerja           Kinerja        an
                                                     2009      2010       2011        2012     2013

 1      Meningkatkan           Adanya        Ha     69,975    80,471     92,541     106,424   122,387
         Luas Tanam         peningkatan
                          Luas Tanam tiap
                                tahun

 2      Meningkatkan          Adanya         Ha     66.476    76.447     87.914     101.103   116.268
         Luas Panen         peningkatan
                          luas panen tiap
                               tahun

 3.     Meningkatkan          Adnya         Kw/Ha    35,81     37,99     41,29       46,68     52,77
          Provitas         peningkatan
                           Provitas tiap
                              tahun


 4.     Meningkatkan          Adanya         Ton    238.043   290.413   363.013     471.920   613.496
          Produksi          peningkatan
                           produksi tiap
                               tahun




      1. Capaian Pelaksanaan sampai pada Triwilan III (2009).

         Berdasarkan ARAM III 2009 pada Sub Raund III (September – Desember) tahun
         2009.

         -     Luas Panen : 13.496 Ha

         -     Provitas       : 36,52 Ku/Ha

         -     Produksi      : 305.551 ton.
      2. Permasalahan

        Permasalahan yang dihadapi dalam program agribisnis jagung dapat dilihat
        pada tabel 3.2 di bawah ini :

Tabel 3.2. Permasalahan yang dihadapi dalam Pelaksanaan Program Jagung

 No             Aspek                              Permasalahan
 1.             Teknis             Penyediaan dan Penyaluran bantuan benih
                                   dari BUMN pertanian belum tepat waktu..

 2.        Administrasi dan        - Belum adanya kerjasama dengan pihak
             Managemen               luar untuk pemasaran jagung
                                   - Operasional organisasi PAJ belum
                                     lengkap dan memadai.
 3.          Kelembagaan           - Kelembagaan Usaha Tani masih lemah
                                     sehingga posisi tawar petani terhadap
                                     nilai ekonomi jagung rendah
 4.          Pembiayaan            - Investasi di bidang agribisnis jagung
                                     masih terbatas pada Trading
                                     (pembelian) saja, belum ada yang
                                     berinvestasi dari budidaya sampai
                                     pemasaran.
                                   - Kredit dari perbankan masih sulit
                                     diakses oleh kelompok tani


c. Rekomendasi

  Langkah strategis yang perlu dilaksanakan untuk mendukung pengembangan
  program jagung antara lain :



1. Pengembangan Areal Tanam
  Pengembangan perluasan areal tanaman jagung dapat dilakukan pada lahan kering
  dan lahan sawah. Pengembangan areal tanam di lahan kering terutama dilakukan
  pada areal yang mempunyai sumber air irigasi seperti sumur pompa air dalam dan
  embung, sehingga minimal dapat ditanami dua kali setahun. Kemudian di lahan
  sawah irigasi ditanam setelah padi dengan peningkatkan indek pertanaman terutama
  yang mendapat rehabilitasi jaringan irigasi (JITUT dan JIDES).
2. Peningkatan Produktivitas
  Berdasarkan data Badan Pusat Statistik produktivitas jagung NTB tahun 2008 rata-
  rata baru mencapai 33,22 kw/ha. Potensi produksi jagung komposit antara          50 –
  70 kw/ha, sedangkan untuk jagung hibrida dapat mencapai 100 -150 kw/ha.
  Sehubungan dengan itu maka upaya pergantian varietas            dari varietas potensi
  produksi rendah (varietas lokal) ke varietas potensi produksi sedang (varietas
  komposit) dan dari varietas potensi sedang ke varietas potensi tinggi (varietas
  hibrida). Pergantian varietas ini tentunya harus diikuti dengan teknis budidaya yang
  baik.


3. Pengamanan Produksi
  Terdapat tiga kegiatan yang berkaitan dengan upaya pengamanan produksi yaitu (a)
  pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), (b) perlindungan tanaman
  dari dampak fenomena iklim (kekeringan, kebanjiran), dan (c) penanganan pasca
  panen.
  Pengendalian OPT dapat ditekan dengan menerapkan penggunaan benih unggul,
  penggunaan benih yang tahan terhadap hama dan penyakit dan penggunaan pupuk
  berimbang. Sedangkan dalam rangka penanganan pasca panen berbagai upaya yang
  dilakukan pemerintah diantaranya; pemberian bantuan alat pemipil jagung,
  pemberian bantuan SILO jagung kepada kelompok tani di kabupaten Lombok
  Tengah, Lombok Timur dan Sumbawa.


4. Kelembagaan dan Pembiayaan
  Penataan dan penguatan kelembagaan         tani merupakan keharusan dalam rangka
  meningkatkan      produksi,   karena   keberhasilan   peningkatan   produksi   banyak
  dipengaruhi oleh kemampuan kelompok tani dalam rekayasa teknologi, rekayasa
  ekonomi dan rekayasa sosial. Kelompok tani yang mantap (utama) lebih responsive
  terhadap teknologi, dapat melaksanakan kemitraan dengan baik dan lebih di percaya
  oleh perbankan.
  Untuk mendukung pengembangan jagung di NTB, berbagai upaya yang dilakukan
  pemerintah yaitu memfasilitasi pelaku usaha melalui penyediaan pembiayaan kepada
  petani/ kelompok tani. Permodalan yang disediakan oleh pemerintah yaitu, Skim
  Kredit Ketahanan Pangan (KKP), Skim Pelayanan Pembiayaan Pertanian (SP3) dan
  Lembaga Mandiri yang mengakar di Masyarakat (LM3). Dengan pendekatan
  pengembangan Agribisnis Jagung ini diharapkan produksi jagung dapat meningkat
  2,5 - 3 ton/ha.


  Untuk mencapai langkah strategis tersebut perlu dibuat rekomendasi dalam
  pelaksanaan program jagung sebagai berikut :



Tabel 3.3. Rekomendasi Program Jagung



                                              Rekomendasi

  No         Aspek
                          Dalam Rentang kendali
                                                       Diluar Rentang Kendali

  1.        Teknis       Meningkatkan fungsi BBI           Meningkatkan
                          dan Asbenindo dalam         koordinasi kepada pihak
                            penyediaan benih           BUMN Pertanian dalam
                                                         penyediaan benih.

  2.     Administrasi        Penyiapan Grand         - Diperlukan adanya
            dan                  Strategy               regulasi yang
         Manajemen            Pengembangan              mencakup aspek
                                                        tataniaga, advokasi
                             Agribisnis Jagung
                                                        program dan jaminan
                           (PAJ) dan Action Plan        stabilisasi harga
  3.    Kelembagaan - Peningkatan kapasitas - Fasilitasi dan dukungan
                       kelembagaan petani      sarana dan prasarana
                       melalui pendampingan    dalam pengembangan
                       dan penyuluhan          PAJ
  4.     Pembiayaan - Fasilitasi dan        - Dukungan kebijakan dan
                       pendampingan program    regulasi dalam
                       kepada kelompok dan     penyediaan skim
                       pelaku usaha jagung     pembiayaan/kredit
                                               perbankan dan
                                               lembaga keuangan
                                               lainnya
II.     PASAR TANI

Pendahuluan

             Produk pertanian sangat beranekaragam macamnya baik bentuk, sifat fisiknya
      yang akhirnya akan mempengaruhi cara dan sistem pemasarannya. Dalam
      pemasaran hasil pertanian dikenal bentuk dan rantai pemasaran yang relatif cukup
      panjang. Sehingga menyebabkan perbedaan harga yang cukup besar antara harga
      di tingkat petani dan harga di tingkat konsumen. Rantai pemasaran yang cukup
      panjang sering tidak efisien dan merugikan petani maupun konsumen, dimana
      sementara ini petani menerima harga yang cukup rendah sementara harus
      membayar harga yang relatif tinggi. Bila melihat kondisi yang demikian tentu pihak
      pemerintah / instansi terkait perlu memikirkan bagaimana untuk memperpendek
      rantai pemasaran yang ada sehingga dari pihak petani maupun konsumen dapat
      lebih diuntungkan. Dari permasalahn ini maka salah satu program pemerintah
      adalah membentuk pasar tani
             Pasar tani merupakan outlet pemasaran komoditas pertanian dimana petani
      secara individu maupun kelompok dapat memasarkan secara langsung hasil
      pertaniannya, dimana kegiatan pasar berlangsung secara berkala.
             Untuk kelancaran pelaksanaan pasar tani, peserta pasar tani telah membentuk
      asosiasi yang tujuannya dapat mengkoordinir para pelaku usaha/ anggota agar lebih
      aktif dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Pada tahun 2008 telah dibentuk pasar
      tani pada 2 lokasi yaitu Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Timur. Kedua pasar
      tani ini telah membentuk asosiasi yaitu di Mataram adalah Aspartan Gora
      Selaparang dan di Lombok Timur Aspartan Rinjani.
             Dalam rangka operasionalisasi dan kesinambungan pasar tani, dinas pembina
      melakukan pembinaan        dan pengawasan secara intensif berupa pengawalan
      terhadap pengurus pasar tani agar kegiatan pasar tani dapat berlangsung secara
      berkesinambungan
             Secara umum salah satu permasalahan yang mendasar dalam memajukan
      usaha pertanian di Nusa Tenggara Barat termasuk kegiatan pasar tani adalah masih
      lemahnya kemampuan Sumber Daya Manusia dan kelembagaan usaha. Hal tersebut
      disebabkan oleh karena pembinaan Sumber Daya Manusia Pertanian selama ini lebih
      difokuskan kepada upaya peningkatan produksi pertanian, sedangkan masalah
      pemasaran lebih banyak diserahkan kepada mekanisme pasar yang ada, sehingga
      keuntungan yang diperoleh petani tergantung pada pasar yang ada.
             Dalam meningkatkan operasional kegiatan pasar tani sejak diprogramkan
      pada tahun 2008 telah dilakukan berbagai kegiatan yang dituangkan dalam kegiatan
      pengawalan pasar tani yang antara lain berupa pembinaan kelembagaan, bantuan
      operasional, promosi dan modal usaha (PMUK).
1.         Capaian dan Parameter Kinerja Pasar Tani Tahun 2009

     No.     KEGIATAN      LOKASI                            CAPAIAN KINERJA
                                             INDIKATOR              TARGET          REALISASI
     1          2            3                     4                     5                6

 1.         Pengawalan   Mataram        Input /Biaya :                  Rp.            Rp.
            Pasar Tani   dan Lombok      Rp. 50.000.000.-            50.000.000    48.880.000,-
                         Timur                                       (100,00%)      (97,76%)

                                        Output / Keluaran              2 lokasi       2 lokasi
                                        - Terlaksananya              (100,00%)      (100,00%)
                                          kegiatan
                                          Pengawalan Pasar
                                          Tani pada 2 lokasi
                                        Outcome/Hasil                100,00%            88,33%
                                        -      Meningkatnya
                                          volume transaksi
                                          dan jumlah
                                          komoditas
                                                                     100,00%            50,00%
                                        Benefit/ Manfaat
                                        - Meningkatnya
                                          pendapatan petani
                                                                     100,00%            30,00%
                                        Impact/ Dampak
                                        -Meningkatnya
                                          kesejahteraan
                                          petani




Tabel 3.26          Rencana Kerja dan Target Capaian Kinerja Program Pasar Tani Tahun
                    2009-2013

 No.         Rencana      Indikator       Satuan                Target Capaian Kinerja
              Kerja        Kinerja                     2009      2010    2011     2012        2013
1          Pengembang    Meningkatnya     Juta
           an usaha      volume          Rp. /         300     400        500     600         700
           pasar tani    transaksi       bulan
                         pasar tani
                         Meningkatnya    Ton/
                         jumlah          bulan         50      100        200     300         400
                         komoditi
Tabel 3.27       Permasalahan Program Pasar Tani

No.          Aspek                                    Permasalahan
1.    Aspek Teknis                 Belum ada kendaraan khusus untuk angkutan sarana
                                 dan produk hasil pertanian
                                   Belum ada gudang penyimpanan

2.    Aspek Administrasi dan         Jaringan pemasaran belum terbangun
      Manajemen                      Pelaporan kegiatan pasar tani kurang diperhatikan

3.    Aspek Kelembagaan              Pengurus Aspartan belum bekerja secara maksimal
                                     Masih kurangnya dukungan / bantuan dari dinas dan
                                   pemda kabupaten/kota

4.    Aspek Pembiayaan              Biaya operasional pasar tani masih cukup besar
                                 (bongkar pasang tenda, penyimpanan, keamanan,
                                 kebersihan dll )
                                    Pendapatan belum layak untuk menanggulangi biaya
                                 operasional, sehingga masih dibantu dari biaya operasinal
                                 dalam kegiatan pengawalan pasar tani.
Tabel 3.28    Rekomendasi Program Pasar Tani

No.   Lingkup & Aspek                                Rekomendasi
A. Dalam Rentang
    Kendali SKPD
1.   Aspek Teknis                    Usulan rencana kegiatan studi banding untuk Aspartan
                                  ke pasar tani yang telah berkembang
                                     Usulan rencana pertemuan kemitraan usaha dan pekan
                                  pasar tani
2.   Aspek Administrasi              Rencana pembukaan pasar tani pada kecamatan-
     dan Manajemen                kecamatan yang memiliki potensi baik yang ada di Kota
                                  Mataram maupun Lombok Timur.
                                     Dukungan /rekomendasi terhadap permohonan ijin
                                  kepada walikota untuk melaksanakan pasar tani minimal 3
                                  hari dalam seminggu.
                                     Usulan rencana pengawalan manajemen pasar tani
3.   Aspek Kelembagaan               Mempromosikan pasar tani melalui kelompok
                                  tani/gapoktan/PPL dan dinas/instansi di kabupaten
                              
4.   Aspek Pembiayaan               Biaya operasionl masih ditangani dari bantuan
                                  operasional pasar tani yanga da pada kegiatan pengawalan
                                  pasar tani tahun 2009
B.   Diluar Rentang Kendali
     SKPD
1.   Aspek Teknis                  Mengusulkan kendaraan operasional kepada Dinas
                                Pertanian Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Timur
2.   Aspek Administrasi            Perlu pembinaan administrasi dan manajemen dari
     dan Manajemen              dinas/ instansi lain baik provinsi maupun kabupaten/kota
3.   Aspek Kelembagaan             Pelatihan kepada anggota Asosiasi Pasar Tani tentang
                                teknik pemasaran, pasca panen, dan manajemen usaha
                                oleh instansi terkait.
4.   Aspek Pembiayaan              Perlu usulan dukungan dana permodalan dari Dinas dan
                                Pemda Kabupaten/Kota
III. KENTANG

Pendahuluan

      Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan wilayah agraris dengan potensi
pengembangan berbagai komoditas pertanian dalam arti luas. Disamping komoditas
tanaman pangan seperti Padi, Jagung, kedele yang memang sudah lama berkembang,
kentang yang merupakan salah satu komoditas hortikultura juga sangat potensial
dikembangkan utamanya jenis Atlantis yang banyak digunakan untuk industri pangan

       Desa Sembalun yang berada di kaki gunung Rinjani adalah merupakan wilayah
yang sangat potensial untuk pengembangan kentang Atlantis dan jenis kentang lainnya.
Dengan potensi luas lahan 4.470 ha, Sembalun dapat dikembangkan sebagai salah satu
sentra pengembangan kentang nasional, khususnya industri perbenihan kentang.
Hingga saat ini kebutuhan benih kentang Atlantis untuk Indonesia hampir 100%
diimpor dari Australia, Canada dan Belanda. Dengan potensi sumberdaya alam wilayah
Sembalun seperti lahan datar pertanian yang mencapai luasan sekitar 1.400 ha dengan
ketinggian antara 1.200 sampai 1.600 meter dari permukaan laut adalah merupakan
ketinggian yang ideal bagi pertumbuhan tanaman kentang, maka peluang NTB sebagai
pemasok benih kentang nasional adalah sangat besar. Disamping itu berdasarkan hasil
uji lapang terhadap kemungkinan adanya kontaminan organisme pengganggu tanaman
(OPT) yang telah dilakukan di kawasan Pertanian Sembalun diperoleh hasil bahwa
wilayah tersebut dinyatakan bebas dari endemik penyakit Nematoda Siste Kuning (NSK)
yang merupakan salah satu penyakit kentang yang sangat ditakuti oleh petani kentang
di dunia.

       Berdasarkan hasil uji coba pertanaman, sejak akhir tahun 2008 dilakukan
kerjasama antara Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Horsela dengan perusahaan
mitra INDOFOOD untuk memasok kebutuhan industri chips kentang Indofood dengan
panen perdana mencapai 2.800 ton kentang yang langsung diserap oleh PT. Indofood.
Pada tahun 2009 Gapoktan Horsela juga telah memenuhi kontrak pasokan sebanyak
3.200 ton kentang segar.

       Dengan memperhatikan potensi yang dimiliki dan peluang pengembangan
komoditas kentang, maka Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura telah
menetapkan salah satu program unggulan bidang Hortikultura berupa Pengembangan
Perbenihan Kentang di Desa Sembalun yang berorientasi pada upaya mengurangi
ketergantungan Indonesia pada impor benih kentang. Bila hal tersebut terlaksana
sesuai tahapan program yang sedang dikembangkan, maka pada tahun 2013 NTB akan
menjadi wilayah sumber benih kentang Nasional.
a. Rencana Kerja dan Target Capaian Tahun 2009 – 2013

 No      Rencana kerja        Indikator Kinerja      Satuan              Target Capaian Kinerja
                                                               2009     2010     2011      2012   2013
1     Penyiapan              Tersedianya calon      kelompok   1-2        2        2         2      2
      Kelompok calon         pengangkar benih
      Penangkar              kentang yang
                             memiliki kualifikasi
2     Penyusunan             Tersedianya             paket      1        1         -        -       -
      Rencana                dokumen
      Pengembangan dan       perencanaan
      Roadmap                Pengembangan
                             industri Benih
                             Kentang
3     Uji coba budidaya      Tersedianya              Ton      3.200   4.000     4.000   5.000    5.000
      kentang konsumsi       kentang jenis
      pada Kelompok          Atlantis sebagai
                             bahan baku industri
                             chips kentang

4     Pemberdayaan
      Aparatur:                                      Orang               2        2         3      3
       Pelatihan tenaga     Tersedianya tenaga
        teknis BBI           teknis perbenihan
                             kentang

       Pelatihan Selektor   Tersedianya tenaga
        BPSB                 selektor benih dlm      Orang               2        3         2      2
                             menunjang
                             sertifikasi benih
                             kentang
       Pelatihan calon      Tersedianya calon
        Penangkar benih      penangkar yang          Orang               3        3         2      2
        kentang              memiliki kualifikasi

5     Pembangunan Seed       Tersedianya sarana
      Processing:            dan prasarana            Unit               1        1         -       -
                             pendukung
                             produksi benih
                             kentang
                             bersertifikat

       Pembangunan                                   M2         -      500        -        -       -
        Gudang Benih
       Pembangunan                                   M2               10 ribu
        Screen House
       Penyediaan                                   paket       -       2        5         5       -
        Alsintan
6     Pengembangan           Terbangunnya
      Kemitraan              sistem kemitraan
                             antara Kelompok
                             Penangkar, Petani
                             kentang dan
                             Industri
                             Pengolahan
                             kentang
7       Produksi Benih      Tersedianya benih        Ha         Uji   Uji coba    50      100        100
        Kentang dan         kentang dan                        coba    G-0 ke
        kentang bahan       produksi kentang                    G-0     G-1
        baku industri       bahan baku industri

b. Capaian pelaksanaan sampai dengan Triwulan III 2009

Pelaksanaan program kegiatan kegiatan pengembangan kentang sampai dengan
Triwulan III Tahun 2009, yaitu telah terlaksananya penanaman kentang di wilayah
pengembangan sembalun Kabupaten Lombok Timur, antara lain dengan :
• Terbangun kemitraan/ kerja sama dengan PT. INDO FOOD
• Penanaman kentang dan Pengembangannya seluas 257 Ha (160 ha jenis Atlantis
  dengan prosuksi 3.200 ton kentang bahan baku industri dan 97 ha kentang Granola)
• Terlaksanaknya uji coba perbenihan kentang dengan instansi terkait ( BPSB-TPH )
• Meningkatkan Pemahaman Sumberdaya Manusia ( SDM ) melalui study banding ke
  sentra perbenihan kentang Jawa Barat dan Jawa Tengah.

c. Permasalahan

 No                     Aspek                                     Permasalahan
  1      Aspek Teknis                        Infrastruktur transportasi menuju Sembalun dan jalan
                                              akses usaha tani masih terbatas
                                             Belum tersedia infrastruktur perbenihan kentang yang
                                              memadai (seed processing, gudang dll)
                                             Kebutuhan benih kentang atlantis masih impor dari
                                              Australia/Canada
    2    Administrasi dan Menejemen          Dokumen Rencana Pengembangan dan Roadmap belum
                                              final
                                             Kemitraan antara Klp Tani/ Gabungan Klp Tani dengan
                                              mitra Indo Food belum tertuang dlm bentuk perjanjian
                                              yang permanen
    3    Kelembagaan                         Kelembagaan unit perbenihan kentang di Sembalun
                                              belum terbentuk
                                             Kapasitas Kelompok Penangkar belum optimal
    4    Pembiayaan                          Dukungan pembiayaan terhadap program
                                              pengembangan perbenihan kentang
                                              (APBD/APBN/sumber lain) masih sangat minim
                                             Pembiayaan budidaya dan pemasaran kentang oleh
                                              Perbankan belum ada
    5    Ekonomi                             Dukungan fasilitasi pemasaran belum ada



d. Rekomendasi

Langkah strategis yang diperlukan untuk mendukung Program pengembangan
kentang antara lain sebagai berikut :
No       Lingkup dan Aspek                          Rekomendasi
A    Dalam Rentang Kendali
     SKPD
1                                      Fasilitasi teknologi budidaya dan
     Aspek Teknis                       bimbingan teknis srta penyiapan
                                        dukungan program

2    Aspek Administrasi dan Menejemen  Penyiapan dokumen Rencana
                                        Pengembangan dan Roadmap
                                       Penyiapan JUKLAK dan JUKNIS
                                       Penguatan menejemen produksi dan
                                        pemberdayaan unit produksi benih serta
                                        Kelompok Penangkar
3    Aspek Kelembagaan                 Pembentukan unit perbenihan kentang
                                        Sembalun
                                       Penguatan Kapasitas Kelompok Penagkar
                                        dan Kelompok Tani
4    Aspek Pembiayaan                  Fasilitasi dana program melalui PMUK
                                       Fasilitasi penjaminan untuk mengakses
                                        Perbankan
5    Aspek Ekonomi                     Fasilitasi promosi melalui website dan
                                        outlet promosi P2HP
B    Diluar Kendali SKPD:
1    Aspek Teknis                      Dukungan Teknologi budidaya dan
                                        perbenihan dari Badan/Balai Penelitian
                                       Dukungan infrastruktur transportasi dan
                                        pengairan
2    Aspek Administrasi dan Menejemen  Regulasi dan penguatan menejemen
                                        kelompok dan menejemen perbenihan
3    Aspek Kelembagaan                 Pendampingan oleh Penyuluh dan Peneliti
                                        dalam kemitraan dan pengembangan
                                        usaha
4    Aspek Pembiayaan                  Fasilitasi kredit dan Pembiayaan lain
                                        pendukung program perbenihan kentang
                                        dan budidaya kentang konsumsi
5    Aspek Ekonomi                     Regulasi tataniaga benih dan kentang
                                        konsumsi
                                       Fasilitasi dan advokasi pasar yang
                                        berkeadilan

						
Related docs