DINAS PERTANIAN PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT
Document Sample


PROGRAM UNGGULAN DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN
DAN HORTIKULTURA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
I. JAGUNG
Pendahuluan
Kebijakan pembangunan pertanian ditujukan untuk meningkatkan ketahanan
pangan, mengembangkan agribisnis dan meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan
tujuan tersebut mengisyaratkan bahwa produk pertanian yang dihasilkan harus
memenuhi syarat kuantitas, kualitas dan kontinyuitas sehingga mempuyai daya saing.
Jagung merupakan salah satu komoditi dari sub sektor tanaman pangan yang
memiliki peran yang cukup penting dan strategis dalam pembangunan nasional dan
regional. Peranan jagung dalam subsektor tanaman pangan telah terbukti secara
menyakinkan memberikan andil yang cukup besar bukan saja terhadap ketahanan
pangan tetapi juga terhadap perekonomian. Dalam krisis ekonomi jagung telah
memperlihatkan ketangguhannya dengan tetap tumbuh positif dan menjadi penarik
bagi pertumbuhan industry hulu dan pendorong pertumbuhan industry hilir yang
kontribusinya pada pertumbuhan ekonomi nasional cukup besar.
Dari segi agronomi tanaman jagung merupakan contoh alam yang sangat
menakjubkan dalam menangkap dan menyimpan energy. Biji jagung yang beratnya
sekitar 0,3 grm, dalam waktu dua bulan dapat mencapai tinggi 2 meter dan dalam
waktu satu setengah bulan berikutnya dapat menghasilkan 600.000 butir biji. Jika
dibandingkan dengan tanaman gandum replikasinya rata-rata 50 kali dan padi antara
125 – 200 kali
Permintaan jagung dari tahun ke tahun semakin meningkat karena banyak
dimanfaatkan sebagai bahan pangan (Food), pakan ternak (Feed), dan bioetanol
(Fuel),
Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu Provinsi di Indonesia memiliki
potensi dan peluang dalam pengembangan jagung, hal ini dikarenakan Provinsi NTB
memiliki keadaan iklim, jenis tanah dan topografi yang sangat mendukung untuk
pengembangan jagung. Produksi jagung di Provinsi NTB pada tahun 2008 baru
mencapai 198.263 ton dengan luas panen 59.078 Ha, dan pada tahun 2009 ditargetkan
sebesar 238.043 ton dengan luas panen sebesar 66.476 ha sehingga pada tahun 2013
diharapkan bisa mencapai produksi sebesar 613.496 ton dengan luas panen sebesar
116.268 ha
Peluang untuk meningkatkan produksi jagung di Nusa Tenggara Barat masih
cukup besar, karena selain mempunyai potensi sumberdaya lahan yang luas,
agroklimat yang sesuai untuk tanaman jagung, juga masih adanya perbedaan
produktivitas potensial dengan capaian produktivitas rata-rata berdasarkan Badan Pusat
Statistik. Berdasarkan data BPS bahwa produktivitas jagung NTB tahun 2008 baru
mencapai 33,22 kw/Ha dan menurut Angka Ramalan III tahun 2009 produktivitas 35,89
kw/ha, sedangkan produktivitas potensial jagung hibrida dapat mencapai 100-150
kw/ha.
Dari aspek budidaya, jagung merupakan tanaman yang mudah dikembangkan
oleh masyarakat, tidak tergantung pada waktu tertentu, jenis hama dan penyakitnya
terbatas dan relatif sedikit membutuhkan air.
Dalam upaya peningkatan produksi ditahun mendatang maka diperlukan
langkah-langkah antara lain ; penyediaan sarana produksi secara enam tepat dan
gerakan peneraapan teknologi anjuran seperti penggunaan benih bermutu, perbaikan
pola tanam, pemupukan berimbang, PHT, pasca panen yang baik serta alsintan dan
permodalan. Disamping itu diperlukan daya dukung yang optimal terhadap pencapaian
sasaran produksi melalui pola pendekatan agribisnis yang diarahkan untuk
meningkatkan pendapatan petani, menyediakan kesempatan kerja yang produktif,
memantapkan struktur kelembagaan perekonomian di pedesaan, menumbuh
kembangkan perusahaan-perusahaan agribisnis di pedesaan dan memantapkan
swasembaada dalam rangka memenuhi permintaan pasar dalam dan luar negeri.
Dengan pertimbangan daya dukung berbagai aspek tersebut yaitu aspek sumber
daya lahan, aspek sumber daya manusia, aspek tekhnologi budidaya dan aspek
permintaan, maka menentukan jagung sebagai komoditas unggulan daerah merupakan
pilihan yang logis.
b. Rencana Kerja dan Target Capaian Tahun 2009 – 2013.
Rencana kerja yang akan dilaksanakan dalam program percepatan jagung dalam
rangka meningkatkan produksi dan produktivitas jagung adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan luas tanam dan luas panen
2. Meningkatkan provitas dan produksi jagung
3. Membina dan mengembangkan akses pasar komoditas jagung NTB
Tabel 3.1. Rencana Kerja dan Target Capaian Kinerja Program Jagung Tahun 2009 –
2013.
Target Capaian kinerja
Rencana Indikator Satu
No
Kerja Kinerja an
2009 2010 2011 2012 2013
1 Meningkatkan Adanya Ha 69,975 80,471 92,541 106,424 122,387
Luas Tanam peningkatan
Luas Tanam tiap
tahun
2 Meningkatkan Adanya Ha 66.476 76.447 87.914 101.103 116.268
Luas Panen peningkatan
luas panen tiap
tahun
3. Meningkatkan Adnya Kw/Ha 35,81 37,99 41,29 46,68 52,77
Provitas peningkatan
Provitas tiap
tahun
4. Meningkatkan Adanya Ton 238.043 290.413 363.013 471.920 613.496
Produksi peningkatan
produksi tiap
tahun
1. Capaian Pelaksanaan sampai pada Triwilan III (2009).
Berdasarkan ARAM III 2009 pada Sub Raund III (September – Desember) tahun
2009.
- Luas Panen : 13.496 Ha
- Provitas : 36,52 Ku/Ha
- Produksi : 305.551 ton.
2. Permasalahan
Permasalahan yang dihadapi dalam program agribisnis jagung dapat dilihat
pada tabel 3.2 di bawah ini :
Tabel 3.2. Permasalahan yang dihadapi dalam Pelaksanaan Program Jagung
No Aspek Permasalahan
1. Teknis Penyediaan dan Penyaluran bantuan benih
dari BUMN pertanian belum tepat waktu..
2. Administrasi dan - Belum adanya kerjasama dengan pihak
Managemen luar untuk pemasaran jagung
- Operasional organisasi PAJ belum
lengkap dan memadai.
3. Kelembagaan - Kelembagaan Usaha Tani masih lemah
sehingga posisi tawar petani terhadap
nilai ekonomi jagung rendah
4. Pembiayaan - Investasi di bidang agribisnis jagung
masih terbatas pada Trading
(pembelian) saja, belum ada yang
berinvestasi dari budidaya sampai
pemasaran.
- Kredit dari perbankan masih sulit
diakses oleh kelompok tani
c. Rekomendasi
Langkah strategis yang perlu dilaksanakan untuk mendukung pengembangan
program jagung antara lain :
1. Pengembangan Areal Tanam
Pengembangan perluasan areal tanaman jagung dapat dilakukan pada lahan kering
dan lahan sawah. Pengembangan areal tanam di lahan kering terutama dilakukan
pada areal yang mempunyai sumber air irigasi seperti sumur pompa air dalam dan
embung, sehingga minimal dapat ditanami dua kali setahun. Kemudian di lahan
sawah irigasi ditanam setelah padi dengan peningkatkan indek pertanaman terutama
yang mendapat rehabilitasi jaringan irigasi (JITUT dan JIDES).
2. Peningkatan Produktivitas
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik produktivitas jagung NTB tahun 2008 rata-
rata baru mencapai 33,22 kw/ha. Potensi produksi jagung komposit antara 50 –
70 kw/ha, sedangkan untuk jagung hibrida dapat mencapai 100 -150 kw/ha.
Sehubungan dengan itu maka upaya pergantian varietas dari varietas potensi
produksi rendah (varietas lokal) ke varietas potensi produksi sedang (varietas
komposit) dan dari varietas potensi sedang ke varietas potensi tinggi (varietas
hibrida). Pergantian varietas ini tentunya harus diikuti dengan teknis budidaya yang
baik.
3. Pengamanan Produksi
Terdapat tiga kegiatan yang berkaitan dengan upaya pengamanan produksi yaitu (a)
pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), (b) perlindungan tanaman
dari dampak fenomena iklim (kekeringan, kebanjiran), dan (c) penanganan pasca
panen.
Pengendalian OPT dapat ditekan dengan menerapkan penggunaan benih unggul,
penggunaan benih yang tahan terhadap hama dan penyakit dan penggunaan pupuk
berimbang. Sedangkan dalam rangka penanganan pasca panen berbagai upaya yang
dilakukan pemerintah diantaranya; pemberian bantuan alat pemipil jagung,
pemberian bantuan SILO jagung kepada kelompok tani di kabupaten Lombok
Tengah, Lombok Timur dan Sumbawa.
4. Kelembagaan dan Pembiayaan
Penataan dan penguatan kelembagaan tani merupakan keharusan dalam rangka
meningkatkan produksi, karena keberhasilan peningkatan produksi banyak
dipengaruhi oleh kemampuan kelompok tani dalam rekayasa teknologi, rekayasa
ekonomi dan rekayasa sosial. Kelompok tani yang mantap (utama) lebih responsive
terhadap teknologi, dapat melaksanakan kemitraan dengan baik dan lebih di percaya
oleh perbankan.
Untuk mendukung pengembangan jagung di NTB, berbagai upaya yang dilakukan
pemerintah yaitu memfasilitasi pelaku usaha melalui penyediaan pembiayaan kepada
petani/ kelompok tani. Permodalan yang disediakan oleh pemerintah yaitu, Skim
Kredit Ketahanan Pangan (KKP), Skim Pelayanan Pembiayaan Pertanian (SP3) dan
Lembaga Mandiri yang mengakar di Masyarakat (LM3). Dengan pendekatan
pengembangan Agribisnis Jagung ini diharapkan produksi jagung dapat meningkat
2,5 - 3 ton/ha.
Untuk mencapai langkah strategis tersebut perlu dibuat rekomendasi dalam
pelaksanaan program jagung sebagai berikut :
Tabel 3.3. Rekomendasi Program Jagung
Rekomendasi
No Aspek
Dalam Rentang kendali
Diluar Rentang Kendali
1. Teknis Meningkatkan fungsi BBI Meningkatkan
dan Asbenindo dalam koordinasi kepada pihak
penyediaan benih BUMN Pertanian dalam
penyediaan benih.
2. Administrasi Penyiapan Grand - Diperlukan adanya
dan Strategy regulasi yang
Manajemen Pengembangan mencakup aspek
tataniaga, advokasi
Agribisnis Jagung
program dan jaminan
(PAJ) dan Action Plan stabilisasi harga
3. Kelembagaan - Peningkatan kapasitas - Fasilitasi dan dukungan
kelembagaan petani sarana dan prasarana
melalui pendampingan dalam pengembangan
dan penyuluhan PAJ
4. Pembiayaan - Fasilitasi dan - Dukungan kebijakan dan
pendampingan program regulasi dalam
kepada kelompok dan penyediaan skim
pelaku usaha jagung pembiayaan/kredit
perbankan dan
lembaga keuangan
lainnya
II. PASAR TANI
Pendahuluan
Produk pertanian sangat beranekaragam macamnya baik bentuk, sifat fisiknya
yang akhirnya akan mempengaruhi cara dan sistem pemasarannya. Dalam
pemasaran hasil pertanian dikenal bentuk dan rantai pemasaran yang relatif cukup
panjang. Sehingga menyebabkan perbedaan harga yang cukup besar antara harga
di tingkat petani dan harga di tingkat konsumen. Rantai pemasaran yang cukup
panjang sering tidak efisien dan merugikan petani maupun konsumen, dimana
sementara ini petani menerima harga yang cukup rendah sementara harus
membayar harga yang relatif tinggi. Bila melihat kondisi yang demikian tentu pihak
pemerintah / instansi terkait perlu memikirkan bagaimana untuk memperpendek
rantai pemasaran yang ada sehingga dari pihak petani maupun konsumen dapat
lebih diuntungkan. Dari permasalahn ini maka salah satu program pemerintah
adalah membentuk pasar tani
Pasar tani merupakan outlet pemasaran komoditas pertanian dimana petani
secara individu maupun kelompok dapat memasarkan secara langsung hasil
pertaniannya, dimana kegiatan pasar berlangsung secara berkala.
Untuk kelancaran pelaksanaan pasar tani, peserta pasar tani telah membentuk
asosiasi yang tujuannya dapat mengkoordinir para pelaku usaha/ anggota agar lebih
aktif dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Pada tahun 2008 telah dibentuk pasar
tani pada 2 lokasi yaitu Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Timur. Kedua pasar
tani ini telah membentuk asosiasi yaitu di Mataram adalah Aspartan Gora
Selaparang dan di Lombok Timur Aspartan Rinjani.
Dalam rangka operasionalisasi dan kesinambungan pasar tani, dinas pembina
melakukan pembinaan dan pengawasan secara intensif berupa pengawalan
terhadap pengurus pasar tani agar kegiatan pasar tani dapat berlangsung secara
berkesinambungan
Secara umum salah satu permasalahan yang mendasar dalam memajukan
usaha pertanian di Nusa Tenggara Barat termasuk kegiatan pasar tani adalah masih
lemahnya kemampuan Sumber Daya Manusia dan kelembagaan usaha. Hal tersebut
disebabkan oleh karena pembinaan Sumber Daya Manusia Pertanian selama ini lebih
difokuskan kepada upaya peningkatan produksi pertanian, sedangkan masalah
pemasaran lebih banyak diserahkan kepada mekanisme pasar yang ada, sehingga
keuntungan yang diperoleh petani tergantung pada pasar yang ada.
Dalam meningkatkan operasional kegiatan pasar tani sejak diprogramkan
pada tahun 2008 telah dilakukan berbagai kegiatan yang dituangkan dalam kegiatan
pengawalan pasar tani yang antara lain berupa pembinaan kelembagaan, bantuan
operasional, promosi dan modal usaha (PMUK).
1. Capaian dan Parameter Kinerja Pasar Tani Tahun 2009
No. KEGIATAN LOKASI CAPAIAN KINERJA
INDIKATOR TARGET REALISASI
1 2 3 4 5 6
1. Pengawalan Mataram Input /Biaya : Rp. Rp.
Pasar Tani dan Lombok Rp. 50.000.000.- 50.000.000 48.880.000,-
Timur (100,00%) (97,76%)
Output / Keluaran 2 lokasi 2 lokasi
- Terlaksananya (100,00%) (100,00%)
kegiatan
Pengawalan Pasar
Tani pada 2 lokasi
Outcome/Hasil 100,00% 88,33%
- Meningkatnya
volume transaksi
dan jumlah
komoditas
100,00% 50,00%
Benefit/ Manfaat
- Meningkatnya
pendapatan petani
100,00% 30,00%
Impact/ Dampak
-Meningkatnya
kesejahteraan
petani
Tabel 3.26 Rencana Kerja dan Target Capaian Kinerja Program Pasar Tani Tahun
2009-2013
No. Rencana Indikator Satuan Target Capaian Kinerja
Kerja Kinerja 2009 2010 2011 2012 2013
1 Pengembang Meningkatnya Juta
an usaha volume Rp. / 300 400 500 600 700
pasar tani transaksi bulan
pasar tani
Meningkatnya Ton/
jumlah bulan 50 100 200 300 400
komoditi
Tabel 3.27 Permasalahan Program Pasar Tani
No. Aspek Permasalahan
1. Aspek Teknis Belum ada kendaraan khusus untuk angkutan sarana
dan produk hasil pertanian
Belum ada gudang penyimpanan
2. Aspek Administrasi dan Jaringan pemasaran belum terbangun
Manajemen Pelaporan kegiatan pasar tani kurang diperhatikan
3. Aspek Kelembagaan Pengurus Aspartan belum bekerja secara maksimal
Masih kurangnya dukungan / bantuan dari dinas dan
pemda kabupaten/kota
4. Aspek Pembiayaan Biaya operasional pasar tani masih cukup besar
(bongkar pasang tenda, penyimpanan, keamanan,
kebersihan dll )
Pendapatan belum layak untuk menanggulangi biaya
operasional, sehingga masih dibantu dari biaya operasinal
dalam kegiatan pengawalan pasar tani.
Tabel 3.28 Rekomendasi Program Pasar Tani
No. Lingkup & Aspek Rekomendasi
A. Dalam Rentang
Kendali SKPD
1. Aspek Teknis Usulan rencana kegiatan studi banding untuk Aspartan
ke pasar tani yang telah berkembang
Usulan rencana pertemuan kemitraan usaha dan pekan
pasar tani
2. Aspek Administrasi Rencana pembukaan pasar tani pada kecamatan-
dan Manajemen kecamatan yang memiliki potensi baik yang ada di Kota
Mataram maupun Lombok Timur.
Dukungan /rekomendasi terhadap permohonan ijin
kepada walikota untuk melaksanakan pasar tani minimal 3
hari dalam seminggu.
Usulan rencana pengawalan manajemen pasar tani
3. Aspek Kelembagaan Mempromosikan pasar tani melalui kelompok
tani/gapoktan/PPL dan dinas/instansi di kabupaten
4. Aspek Pembiayaan Biaya operasionl masih ditangani dari bantuan
operasional pasar tani yanga da pada kegiatan pengawalan
pasar tani tahun 2009
B. Diluar Rentang Kendali
SKPD
1. Aspek Teknis Mengusulkan kendaraan operasional kepada Dinas
Pertanian Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Timur
2. Aspek Administrasi Perlu pembinaan administrasi dan manajemen dari
dan Manajemen dinas/ instansi lain baik provinsi maupun kabupaten/kota
3. Aspek Kelembagaan Pelatihan kepada anggota Asosiasi Pasar Tani tentang
teknik pemasaran, pasca panen, dan manajemen usaha
oleh instansi terkait.
4. Aspek Pembiayaan Perlu usulan dukungan dana permodalan dari Dinas dan
Pemda Kabupaten/Kota
III. KENTANG
Pendahuluan
Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan wilayah agraris dengan potensi
pengembangan berbagai komoditas pertanian dalam arti luas. Disamping komoditas
tanaman pangan seperti Padi, Jagung, kedele yang memang sudah lama berkembang,
kentang yang merupakan salah satu komoditas hortikultura juga sangat potensial
dikembangkan utamanya jenis Atlantis yang banyak digunakan untuk industri pangan
Desa Sembalun yang berada di kaki gunung Rinjani adalah merupakan wilayah
yang sangat potensial untuk pengembangan kentang Atlantis dan jenis kentang lainnya.
Dengan potensi luas lahan 4.470 ha, Sembalun dapat dikembangkan sebagai salah satu
sentra pengembangan kentang nasional, khususnya industri perbenihan kentang.
Hingga saat ini kebutuhan benih kentang Atlantis untuk Indonesia hampir 100%
diimpor dari Australia, Canada dan Belanda. Dengan potensi sumberdaya alam wilayah
Sembalun seperti lahan datar pertanian yang mencapai luasan sekitar 1.400 ha dengan
ketinggian antara 1.200 sampai 1.600 meter dari permukaan laut adalah merupakan
ketinggian yang ideal bagi pertumbuhan tanaman kentang, maka peluang NTB sebagai
pemasok benih kentang nasional adalah sangat besar. Disamping itu berdasarkan hasil
uji lapang terhadap kemungkinan adanya kontaminan organisme pengganggu tanaman
(OPT) yang telah dilakukan di kawasan Pertanian Sembalun diperoleh hasil bahwa
wilayah tersebut dinyatakan bebas dari endemik penyakit Nematoda Siste Kuning (NSK)
yang merupakan salah satu penyakit kentang yang sangat ditakuti oleh petani kentang
di dunia.
Berdasarkan hasil uji coba pertanaman, sejak akhir tahun 2008 dilakukan
kerjasama antara Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Horsela dengan perusahaan
mitra INDOFOOD untuk memasok kebutuhan industri chips kentang Indofood dengan
panen perdana mencapai 2.800 ton kentang yang langsung diserap oleh PT. Indofood.
Pada tahun 2009 Gapoktan Horsela juga telah memenuhi kontrak pasokan sebanyak
3.200 ton kentang segar.
Dengan memperhatikan potensi yang dimiliki dan peluang pengembangan
komoditas kentang, maka Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura telah
menetapkan salah satu program unggulan bidang Hortikultura berupa Pengembangan
Perbenihan Kentang di Desa Sembalun yang berorientasi pada upaya mengurangi
ketergantungan Indonesia pada impor benih kentang. Bila hal tersebut terlaksana
sesuai tahapan program yang sedang dikembangkan, maka pada tahun 2013 NTB akan
menjadi wilayah sumber benih kentang Nasional.
a. Rencana Kerja dan Target Capaian Tahun 2009 – 2013
No Rencana kerja Indikator Kinerja Satuan Target Capaian Kinerja
2009 2010 2011 2012 2013
1 Penyiapan Tersedianya calon kelompok 1-2 2 2 2 2
Kelompok calon pengangkar benih
Penangkar kentang yang
memiliki kualifikasi
2 Penyusunan Tersedianya paket 1 1 - - -
Rencana dokumen
Pengembangan dan perencanaan
Roadmap Pengembangan
industri Benih
Kentang
3 Uji coba budidaya Tersedianya Ton 3.200 4.000 4.000 5.000 5.000
kentang konsumsi kentang jenis
pada Kelompok Atlantis sebagai
bahan baku industri
chips kentang
4 Pemberdayaan
Aparatur: Orang 2 2 3 3
Pelatihan tenaga Tersedianya tenaga
teknis BBI teknis perbenihan
kentang
Pelatihan Selektor Tersedianya tenaga
BPSB selektor benih dlm Orang 2 3 2 2
menunjang
sertifikasi benih
kentang
Pelatihan calon Tersedianya calon
Penangkar benih penangkar yang Orang 3 3 2 2
kentang memiliki kualifikasi
5 Pembangunan Seed Tersedianya sarana
Processing: dan prasarana Unit 1 1 - -
pendukung
produksi benih
kentang
bersertifikat
Pembangunan M2 - 500 - - -
Gudang Benih
Pembangunan M2 10 ribu
Screen House
Penyediaan paket - 2 5 5 -
Alsintan
6 Pengembangan Terbangunnya
Kemitraan sistem kemitraan
antara Kelompok
Penangkar, Petani
kentang dan
Industri
Pengolahan
kentang
7 Produksi Benih Tersedianya benih Ha Uji Uji coba 50 100 100
Kentang dan kentang dan coba G-0 ke
kentang bahan produksi kentang G-0 G-1
baku industri bahan baku industri
b. Capaian pelaksanaan sampai dengan Triwulan III 2009
Pelaksanaan program kegiatan kegiatan pengembangan kentang sampai dengan
Triwulan III Tahun 2009, yaitu telah terlaksananya penanaman kentang di wilayah
pengembangan sembalun Kabupaten Lombok Timur, antara lain dengan :
• Terbangun kemitraan/ kerja sama dengan PT. INDO FOOD
• Penanaman kentang dan Pengembangannya seluas 257 Ha (160 ha jenis Atlantis
dengan prosuksi 3.200 ton kentang bahan baku industri dan 97 ha kentang Granola)
• Terlaksanaknya uji coba perbenihan kentang dengan instansi terkait ( BPSB-TPH )
• Meningkatkan Pemahaman Sumberdaya Manusia ( SDM ) melalui study banding ke
sentra perbenihan kentang Jawa Barat dan Jawa Tengah.
c. Permasalahan
No Aspek Permasalahan
1 Aspek Teknis Infrastruktur transportasi menuju Sembalun dan jalan
akses usaha tani masih terbatas
Belum tersedia infrastruktur perbenihan kentang yang
memadai (seed processing, gudang dll)
Kebutuhan benih kentang atlantis masih impor dari
Australia/Canada
2 Administrasi dan Menejemen Dokumen Rencana Pengembangan dan Roadmap belum
final
Kemitraan antara Klp Tani/ Gabungan Klp Tani dengan
mitra Indo Food belum tertuang dlm bentuk perjanjian
yang permanen
3 Kelembagaan Kelembagaan unit perbenihan kentang di Sembalun
belum terbentuk
Kapasitas Kelompok Penangkar belum optimal
4 Pembiayaan Dukungan pembiayaan terhadap program
pengembangan perbenihan kentang
(APBD/APBN/sumber lain) masih sangat minim
Pembiayaan budidaya dan pemasaran kentang oleh
Perbankan belum ada
5 Ekonomi Dukungan fasilitasi pemasaran belum ada
d. Rekomendasi
Langkah strategis yang diperlukan untuk mendukung Program pengembangan
kentang antara lain sebagai berikut :
No Lingkup dan Aspek Rekomendasi
A Dalam Rentang Kendali
SKPD
1 Fasilitasi teknologi budidaya dan
Aspek Teknis bimbingan teknis srta penyiapan
dukungan program
2 Aspek Administrasi dan Menejemen Penyiapan dokumen Rencana
Pengembangan dan Roadmap
Penyiapan JUKLAK dan JUKNIS
Penguatan menejemen produksi dan
pemberdayaan unit produksi benih serta
Kelompok Penangkar
3 Aspek Kelembagaan Pembentukan unit perbenihan kentang
Sembalun
Penguatan Kapasitas Kelompok Penagkar
dan Kelompok Tani
4 Aspek Pembiayaan Fasilitasi dana program melalui PMUK
Fasilitasi penjaminan untuk mengakses
Perbankan
5 Aspek Ekonomi Fasilitasi promosi melalui website dan
outlet promosi P2HP
B Diluar Kendali SKPD:
1 Aspek Teknis Dukungan Teknologi budidaya dan
perbenihan dari Badan/Balai Penelitian
Dukungan infrastruktur transportasi dan
pengairan
2 Aspek Administrasi dan Menejemen Regulasi dan penguatan menejemen
kelompok dan menejemen perbenihan
3 Aspek Kelembagaan Pendampingan oleh Penyuluh dan Peneliti
dalam kemitraan dan pengembangan
usaha
4 Aspek Pembiayaan Fasilitasi kredit dan Pembiayaan lain
pendukung program perbenihan kentang
dan budidaya kentang konsumsi
5 Aspek Ekonomi Regulasi tataniaga benih dan kentang
konsumsi
Fasilitasi dan advokasi pasar yang
berkeadilan
Related docs
Get documents about "