KEMAMPUAN MAHASISWA PGPJSD DALAM MEMPERSIAPKAN EVALUASI PENDIDIKAN

Document Sample
KEMAMPUAN MAHASISWA PGPJSD DALAM MEMPERSIAPKAN EVALUASI PENDIDIKAN Powered By Docstoc
					KEMAMPUAN MAHASISWA PGPJSD DALAM
       MEMPERSIAPKAN EVALUASI
PENDIDIKAN JASMANI DI SEKOLAH DASAR




                       SKRIPSI
    Diajukan dalam rangka penyelesaian studi Strata 1
        Untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan




                         Oleh :
  Nama            : Muhamad Sufangi
  NIM             : 6124000016
  Program Studi   : Pend. Jasmani Kesehatan dan
                    Rekreasi / S1
  Jurusan         : Pend. Jasmani Kesehatan dan Rekreasi
  Fakultas        : Ilmu Keolahragaan




    UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
                 2005


                            i
                                     SARI

Muhamad Sufangi, 2005.          Kemampuan Mahasiswa PGPJSD dalam
Mempersiapkan Evaluasi Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar. Pendidikan
Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri
Semarang.

        Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana
kemampuan mahasiswa PGPJSD dalam mempersiapkan evaluasi pendidikan
jasmani di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bekal dan
informasi tentang kemampuan mahasiswa PGPJSD dalam mempersiapkan
evaluasi pendidikan jasmani di Sekolah Dasar.
        Populasi dalam penelitian ini adalah Mahasiswa D2 PGPJSD UNNES
UPT Tegal tahun ajaran 2004/2005 semester III sebanyak 81 orang. Pengambilan
sampel menggunakan total sampling. Variabel yang akan diteliti adalah
kemampuan mahasiswa PGPJSD dalam mempersiapkan evaluasi pendidikan
jasmani di sekolah dasar. Metode pengumpulan data menggunakan angket dan
dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif persentase.
        Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa PGPJSD
dalam mempersiapkan evaluasi pendidikan jasmani di Sekolah Dasar termasuk
kategori baik, mencapai 60,32% telah berhasil melaksanakan evaluasi secara baik.
Secara terperinci, ditinjau dari tiap-tiap aspek evaluasi menunjukkan persiapan
mahasiswa sebagai calon guru melaksanakan perencanaan evaluasi, pre test dan
post test secara baik.
        Dari hasil penelitian tersebut penulis mengambil beberapa kesimpulan
antara lain : 1) Kemampuan mahasiswa PGPJSD dalam mempersiapkan evaluasi
pendidikan jasmani di Sekolah Dasar termasuk kategori baik. 2) Mahasiswa calon
guru telah malaksanakan perencanaan evaluasi, pre test, post test, penilaian dan
penentuan nilai secara baik. Dari hasil penelitian tersebut penulis juga dapat
mengajukan saran agar mahasiswa calon guru pendidikan jasmani mempersiapkan
diri dan berusaha menghasilkan kemampuan melaksanakan evaluasi secara baik
dan benar sesuai dengan aturan yang berlaku.




                                       ii
                        HALAMAN PERSETUJUAN


       Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang
panitia ujian skripsi pada :
Hari           :
Tanggal        :




Dosen Utama                                         Dosen Pendamping




Dra. Endang Sri Handayani, M. Kes                   Drs. Cahyo Yuwono, M. Pd
NIP. 131 404 303                                    NIP. 131 571 550




                                   Mengetahui,

                               Ketua Jurusan PJKR




                               Drs. Harry Pamono, M. Si
                               NIP. 131 469 638




                                        iii
                        LEMBAR PENGESAHAN


        Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang pada :
        Hari          : Selasa
        Tanggal       : 5 April 2005
        Pukul         : 13.00 – 15.00 WIB
        Tempat        : Laboratorium PJKR


                                  Panitia Ujian

Ketua                                                      Sekretaris



Dr. Khomsin, M. Pd.                                        Drs. Sulaiman, M. Pd.
NIP. 131 469 639                                           NIP. 131 813 670

                                 Dewan Penguji




                           1. Drs. Harry Pramono, M. Si.                (Ketua)
                              NIP. 131 469 838




                           2. Dra. Endang Sri Hanani, M. Kes.           (Anggota)
                              NIP. 131 404 303




                           3. Drs. Cahyo Yuwono, M. Pd.                 (Anggota)
                              NIP. 131 571 550




                                       iv
                               KATA PENGANTAR



           Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi.

           Keberhasilan penulis dalam menyusun skripsi ini atas bantuan dan

dorongan dari berbagai pihak, sehingga pada kesempatan ini penulis

mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dekan FIK Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin dan

    kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

2. Ketua Jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FIK UNNES yang

    telah memberikan dorongan dan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini.

3. Dra. Endang Sri Hanani, M. Kes pembimbing utama dan Drs. Cahyo Yuwono,

    M. Pd pembimbing pendamping yang telah memberikan bimbingan, petunjuk

    dan pengarahan sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

4. Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri

    Semarang yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan sehingga penulis

    dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

5. Kaprodi D2 PGPJSD UNNES.

6. Mahasiswa D2 PGPJSD UNNES UPT Tegal Tahun ajaran 2004/2005 yang

    telah bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini.

7. Teman-teman seangkatan yang telah membantu dalam penelitian.



                                         v
8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu atas bantuan

   yang telah diberikan dalam penelitian untuk penulisan skripsi ini.

       Semoga Allah S.W.T. memberikan pahala yang setimpal atas kebaikan

yang telah mereka berikan selama ini.

       Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi para

pembaca semua.



                                                   Semarang,       2005




                                                   Penulis




                                        vi
                    MOTTO DAN PERSEMBAHAN




Motto :

“Siapa ingin terkabul atau dibebaskan dari kesulitan, hendaknya ia

membantu mengatasi kesulitan orang lain (H.R. Ahmad)”.




                              Persembahan :
                              Skripsi ini ku persembahkan untuk :
                              1. Ibu tercinta atas bantuan segala materiil
                                  dan spirituilnya.
                              2. Bapak angkat yang memberikan dorongan
                                  dalam penyelesaian studi.
                              3. Kakak yang selalu memberikan motivasi .
                              4. Teman-teman PJKR angkatan 2000.
                              5. Almamater FIK UNNES




                                  vii
                                                    DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ......................................................................................                      i
SARI ................................................................................................................    ii
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................                              iii
KATA PENGANTAR....................................................................................                      iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN.................................................................                                  vi
DAFTAR ISI...................................................................................................           vii
DAFTAR GAMBAR......................................................................................                     ix
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................                       x

BAB I PENDAHULUAN..............................................................................                          1
           1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................                   1
           1.2 Permasalahan .................................................................................            4
           1.3 Penegasan Istilah............................................................................             4
           1.4 Tujuan Penelitian ...........................................................................             6
           1.5 Manfaat Penelitian .........................................................................              6

BAB II LANDASAN TEORI .......................................................................                            7
             2.1 Belajar ..........................................................................................      7
             2.2 Pembelajaran................................................................................           11
             2.3 Pembelajaran Pendidikan Jasmani...............................................                         16
             2.4 Evaluasi Belajar Dan Pembelajaran............................................                          22

BAB III METODE PENELITIAN ...............................................................                               44
             3.1 Populasi .......................................................................................       44
             3.2 Sampel .........................................................................................       44
             3.3 Variabel Penelitian ......................................................................             44
             3.4 Metode Pengumpulan Data .........................................................                      45
             3.8 Analisis data ...............................................................................          48



                                                            viii
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN..............................                                             49
         4.1 Hasil Penelitian............................................................................        49
         4.2 Pembahasan .................................................................................        55

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................                              58
         5.1 Kesimpulan .................................................................................        58
         5.2 Saran ...........................................................................................   58

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN




                                                        ix
                                       DAFTAR GAMBAR



Gambar                                                                                          Halaman

1. Perencanaan Evaluasi Pendidikan Jasmani ...............................................             49

2. Pelaksanaan Pre Test Pendidikan Jasmani.................................................            50

3. Pelaksanaan Evaluasi Pendidikan Jasmani ................................................            51

4. Post Test Pendidikan Jasmani ....................................................................   52

5. Penentuan Nilai Pendidikan Jasmani .........................................................        53

6. Proses Evaluasi Secara Keseluruhan……………………………………… 54




                                                     x
                                         DAFTAR LAMPIRAN



Lampiran                                                                                                  Halaman

1. Kisi-kisi Angket/kuesioner Penelitian .......................................................                  61

2. Permohonan Pengisian Angket ..................................................................                 62

3. Angket Penelitian………………………………………………………….                                                                       63

4. Data Hasil Penskoran Angket Kemampuan Mahasiswa………………….                                                        70

5. Analisis Deskriptif Persentase Proses Pelaksanaan Evaluasi Pendidikan

    Jasmani Sekolah Dasar...............................................................................          72

6. Data Hasil Uji Coba Angket Penelitian .....................................................                    76

7. Perhitungan Validitas Angket Penelitian ...................................................                    78

8. Perhitungan Reliabilitas Angket Penelitian ...............................................                     79

9. Daftar Mahasiswa yang Menempuh Studi D2 PGPJSD Unnes UPT Tegal

    Tahun 2004 ................................................................................................   80

10. Usul Penetapan Pembimbing .....................................................................               83

11. Penetapan Dosen Pembimbing...................................................................                 84

12. Permohonan Ijin Penelitian Pendidikan .....................................................                   86




                                                         xi
                                     BAB I

                                 PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang Masalah

       Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam

upaya membantu peserta didik menguasai tujuan-tujuan pendidikan. Interaksi

pendidikan dapat terjadi dimana saja baik dalam keluarga, sekolah maupun

masyarakat. Dalam lingkungan keluarga, interaksi pendidikan terjadi antara orang

tua sebagai pendidik dan anak sebagai peserta didik. Interaksi ini terjadi tanpa

rencana tertulis. Orang tua sering tidak memiliki rencana yang jelas dan rinci

kemana anaknya diarahkan, dengan cara apa mereka dididik dan apa isi

pendidikannya. Secara umum orang tua memiliki harapan tertentu pada anaknya,

mudah-mudahan dia menjadi anak yang soleh, sehat, pandai dan sebagainya,

tetapi bagaimana rincian sifat-sifat tersebut bagi mereka tidak jelas. Mereka juga

tidak tahu apa yang harus diberikan dan bagaimana memberikannya agar anaknya

memiliki sifat-sifat tersebut.

       Pendidikan dalam lingkungan sekolah lebih bersifat formal. Guru sebagai

pendidik di sekolah telah dipersiapkan secara formal dalam lembaga pendidikan

guru. Guru telah mempelajari ilmu, keterampilan dan seni sebagai guru. Guru juga

telah dibina untuk memiliki kepribadian sebagai seorang pendidik. Selain itu guru

juga telah diangkat dan diberi kepercayaan oleh masyarakat untuk menjadi guru,

bukan sekedar dengan surat keputusan dari pejabat yang berwenang, tetapi juga

penghargaan dari masyarakat. Guru melaksanakan tugas-tugasnya sebagai


                                        1
                                                                                 2



pendidik dengan rencana dan persiapan yang matang. Mereka mengajar dengan

tujuan yang jelas, bahan-bahan yang disusun secara sistematis dan rinci dengan

cara dan alat-alat yang telah dipilih dan dirancang secara cermat. Di sekolah guru

melakukan interaksi pendidikan secara berencana dan sadar.

        Dalam   lingkungan    masyarakat    terjadi   berbagai   bentuk   interaksi

pendidikan, dari yang sangat formal yang mirip dengan pendidikan di sekolah

dalam bentuk kursus-kursus, sampai dengan yang kurang formal seperti ceramah,

sarasehan dan pergaulan kerja. Gurunya bervariasi       dari yang memiliki latar

belakang pendidikan khusus sebagai guru, sampai dengan yang melaksanakan

tugas sebagai pendidik karena pengalaman.

        Pendidikan formal memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan

pendidikan informal. Pertama, pendidikan formal di sekolah memiliki lingkup isi

pendidikan yang lebih luas, bukan hanya berkenaan dengan pembinaan segi-segi

moral tetapi juga ilmu pengetahuan dan keterampilan. Kedua, pendidikan di

sekolah dapat memberikan pengetahuan yang lebih tinggi, lebih luas dan

mendalam. Ketiga, pendidikan di sekolah memiliki rancangan secara formal dan

tertulis.

        Dalam pendidikan formal, interaksi antara guru dengan siswa atau sering

disebut proses belajar mengajar atau proses pembelajaran memiliki beberapa

komponen. Salah satu diantara beberapa komponen pembelajaran adalah evaluasi.

Evaluasi sebenarnya tidak hanya dipakai dalam pendidikan formal saja tetapi

evaluasi juga dipakai di luar pendidikan formal.
                                                                               3



       Memang tidak semua orang menyadari bahwa setiap saat kita selalu

melakukan pekerjaan evaluasi. Dalam beberapa kegiatan sehari-hari kita jelas-

jelas sering mengadakan pengukuran dan penilaian, yang tanpa disadari bahwa

tindakan yang dilakukannya tersebut merupakan suatu kegiatan evaluasi.

       Sebagian orang memang lebih cenderung mengartikan bahwa evaluasi,

pengukuran dan penilaian sebagai suatu pengertian yang sama sehingga dalam

pemakaiannya hanya tergantung dari kata         mana yang sedang siap untuk

diucapkannya. Akan tetapi sebagian orang yang lain membedakan ketiga istilah

tersebut. Kalau evaluasi dikatakan sebagai salah satu komponen dalam sistem

pengajaran, maka tentunya kegiatan evaluasi itu sangat penting dalam proses

pendidikan (Rusli Lutan, 2000:28).

       Berdasarkan pengamatan di lapangan pendidikan jasmani dianggap mata

pelajaran yang mudah. Dengan image tersebut menjadikan siswa beranggapan

bahwa pendidikan jasmani hanya merupakan kegiatan atau aktivitas jasmaniah

saja. Demikian halnya ketika evaluasi dilaksanakan. Selain itu juga siswa di

bangku sekolah khususnya di sekolah dasar memiliki latar belakang yang

berbeda-beda. Diantarnya adalah latar belakang keluarga, ekonomi, sosio kultural,

serta kemampuan dasar yang berbeda pula. Evaluasi adalah proses mendapatkan

informasi dan menggunakannya untuk menyusun penilaian dalam rangka

membuat keputusan (Aip Syarifudin, 1979:18). Evaluasi disini tidak hanya

dilakukan melalui kegiatan siswa sehari-hari (perilaku hidup sehat, sopan santun,

kedisiplinan dan lain-lain). Adapun alasan pemilihan judul penelitian ini adalah

sebagai berikut :
                                                                               4



     1. Proses evaluasi pendidikan jasmani di lapangan bisa dilaksanakan

         dengan baik dan benar agar dapat dipantau tentang kemajuan dan

         perkembangannya.

     2. Proses evaluasi harus dilakukan secara tetap, benar dan sesuai dengan

         pedoman yang berlaku.

     3. Mahasiswa D2 PGPJSD adalah calon guru pendidikan jasmani yang

         nantinya merekalah yang melakukan kegiatan evaluasi.

     4. Memberikan bekal dan pemahaman dalam aplikasi proses evaluasi

         secara benar.

        Atas dasar hal diatas, maka penulis berkeinginan untuk meneliti kajian

dengan judul “Aplikasi Proses Pelaksanaan Evaluasi Pendidikan Jasmani di

Sekolah Dasar Tahun 2004”.



1.2 Permasalahan

       Setiap penelitian tidak terlepas dari suatu permasalahan sehingga perlu

kiranya masalah tersebut diteliti, dianalisa dan dipecahkan. Dalam kesempatan ini

peneliti mengajukan permasalahan sebagai berikut : Bagaimanakah aplikasi

proses pelaksanaan evaluasi yang dilakukan oleh mahasiswa D2 PGPJSD sebagai

calon guru pendidikan jasmani di Sekolah Dasar.



1.3 Penegasan Istilah

       Dari Judul penelitian “Aplikasi Proses Pelaksanaan Evaluasi Pendidikan

Jasmani Sekolah Dasar Tahun 2004”. Penulis ingin memberikan batasan-batasan
                                                                            5



sebagai pedoman untuk penulisan skripsi selanjutnya serta untuk menghindari

salah tafsir oleh pembaca. Beberapa istilah yang dijelaskan antara lain :

1.3.1   Aplikasi

        Aplikasi adalah penggunaan, penerapan (KBBI, 2001:61).

1.3.2   Proses

        Proses adalah kegiatan-kegiatan yang menggarap, upaya mengubah

masukan menjadi keluaran, hasil atau output (Supandi, 1992:80). Proses juga

diartikan sebagai runtutan perubahan (peristiwa) dalam perkembangan sesuatu

(KBBI, 2001:899)

1.3.3   Pelaksanaan

        Pelaksanaan adalah proses, cara, perbuatan melaksanakan rancangan,

keputusan dan sebagainya. (KBBI, 2001:627).

1.3.4   Evaluasi

        Evaluasi adalah penilaian (KBBI, 2001:310). Menurut S. Sukardjo dan

Nurhasan (1992:4) evaluasi adalah suatu proses penghargaan terhadap hasil

pengukuran. Evaluasi dalam pembelajaran diartikan sebagai suatu kegiatan untuk

menentukan nilai pencapaian hasil belajar.

1.3.5   Pendidikan Jasmani

        Pendidikan jasmani merupakan usaha pendidikan dengan menggunakan

aktivitas otot-otot besar hingga proses pendidikan yang berlangsung tidak

terhambat oleh gangguan kesehatan dan pertumbuhan badan (Abdulkadir Ateng,

1992:4). Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan yang diarahkan
                                                                                6



untuk mendorong, mengembangkan dan membina kemampuan jasmaniah dan

rohaniah serta kesehatan siswa dan lingkungan hidup agar tumbuh dan

berkembang secara harmonis dan optimal. Pendidikan jasmani adalah proses

pendidikan melalui gerak insani (Rusli Lutan, 2000:2)

1.3.6   Siswa

        Siswa diartikan sebagai murid, pelajar terutama pada tingkat sekolah dasar

dan menengah (KBBI, 2001:709).


1.4 Tujuan Penelitian

        Berdasarkan dari permasalahan penelitian di atas, maka tujuan penelitian

ini adalah untuk mengetahui hasil kemampuan aplikasi proses pelaksanaan

evaluasi pendidikan jasmani di Sekolah Dasar.


1.5 Manfaat Penelitian

        Setiap kali dilakukan suatu penelitian diharapkan bagi pengembangan ilmu

yang dijadikan subyek penelitian termasuk pengembangan ilmu di bidang

pendidikan jasmani, sedangkan manfaat hasil penelitian ini adalah untuk

memberikan bekal, panduan dan informasi pada mahasiswa calon guru pendidikan

jasmani tentang hal-hal yang berkenaan dengan masalah proses pelaksanaan

evaluasi.
                                      BAB II

                               LANDASAN TEORI



2.1 Belajar

2.1.1 Pengertian Belajar

         Para ahli telah merumuskan dan membuat tafsiran mengenai pengertian

belajar. Seringkali penafsiran dan perumusan itu berbeda-beda namun pada

intinya mengarah pada tujuan yang sama. Nana Sujana (2000:28) mengemukakan

bahwa pengetian belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan perubahan diri

seseorang. Winkel dalam Tim MKDK IKIP Semarang (1996:2) mengemukakan

bahwa pengertian belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis, yang

berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan

perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai

sikap.

         Berdasarkan pada pengertian belajar di atas pada prinsipnya tujuan belajar

itu sama yaitu perubahan tingkah laku, yang berbeda hanya dalam hal cara atau

usaha pencapaiannya. Perubahan tingkah laku tersebut mempunyai ciri-ciri

sebagai berikut :

1. Perubahan terjadi secara wajar

         Berarti bahwa seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya

perubahan itu atau sekurang-kurangnya seseorang itu telah merasakan perubahan

dalam dirinya.



                                         7
                                                                                8



2. Perubahan dalam belajar bersifat kontinyu dan fungsional

        Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi pada diri seseorang

berlangsung secara berkesinambungan, tidak statis. Satu perubahan yang terjadi

akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan atau

proses belajar berikutnya.

3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif

        Perubahan dalam belajar bersifat positif maksudnya bahwa dalam belajar

perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh

sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan bersifat aktif maksudnya

bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha dari

individu itu sendiri.

4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara

        Perubahan yang bersifat sementara atau temporer tidak dapat digolongkan

sebagai perubahan dalam arti belajar. Perubahan dalam belajar akan bersifat

menetap. Ini berarti bahwa tingkah laku yang terjadi setelah belajar bersifat

menetap.

5. Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah

        Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan

yang akan dicapai. Perubahan belajar terarah pada perubahan tingkah laku yang

benar-benar disadari.

6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

        Perubahaan yang telah dicapai seseorang setelah memiliki suatu proses

belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seorang individu belajar

sesuatu sebagai hasilnya maka individu itu akan mengalami suatu perubahan
                                                                               9



tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan, pengetahuan dan

sebagainya.

2.1.1 Prinsip-prinsip Belajar

       Prinsip-prinsip belajar adalah hal-hal yang sangat penting yang harus ada

dalam suatu proses belajar dan pembelajaran. Berdasarkan pengertian belajar di

atas, belajar mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan berpartisipasi aktif meningkatkan

   minat dan belajar untuk mencapai tujuan instruksional.

2. Belajar harus dapat menimbulkan reinformasi dan motivasi yang kuat untuk

   mencapai tujuan instruksional.

3. Belajar    perlu   lingkungan    yang    menantang      dimana    anak   dapat

   mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar yang efektif.

4. Belajar perlu ada interaksi antara siswa dan lingkungannya.

2.1.2 Hakikat Belajar

1. Belajar itu harus kontinyu, maka harus tahap demi tahap menurut

   perkembangannya.

2. Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery.

3. Belajar adalah kontinyuitas (berhubungan antara pengertian yang satu dengan

   yang lain) sehingga mendapat pengertian yang diharapkan stimulus dan

   menimbulkan respon yang diharapan.

4. Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur penyajian

   yang sederhana sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya.
                                                                            10



5. Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan

   tujuan instruksional yang harus dicapai.

2.1.3 Syarat Keberhasilan Belajar Siswa

       Keberhasilan belajar siswa dipengaruhi oleh banyak faktor, yang secara

garis besar dibagi dua bagian, antara lain sebagai berikut :

1. Faktor internal adalah faktor yang terdapat dalam diri individu yang terdiri

   atas faktor biologis dan psikologis.

2. Faktor eksternal adalah faktor yang terdapat diluar individu yang meliputi

   faktor lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan faktor lingkungan

   masyarakat.

2.1.4 Sumber Belajar

       Secara sederhana sumber belajar dapat dirumuskan sebagai segala sesuatu

yang dapat memberikan kemudahan pada peserta didik dalam memperoleh

sejumlah informasi, pengetahuan, dan keterampilan dalam proses belajar

mengajar yang jika dimanfaatkan secara optimal dapat menunjang keberhasilan

dari proses belajar.

1. Manusia

       Manusia meripakan orang yang menyajikan pesan secara langsung seperti

guru, conselor, dan administrator yang diniati secara khusus dan sengaja untuk

kepentingan belajar. Di samping itu ada pula orang yang tidak diniati untuk

kepentingan proses belajar tetapi memiliki suatu keahlian yang dapat

dimanfaatkan untuk kepentingan belajar, misalnya penyuluh pertanian, pengurus

koperasi, pemimpin perusahaan dan sebagainya yang sewaktu-waktu bisa

dimanfaatkan untuk kepentingan belajar.
                                                                          11



2. Bahan

       Bahan merupakan sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, baik

yang diminati secara khusus maupun badan yang bersifat umum yang bisa

dimanfaatkan untuk kepentingan belajar, misalnya film dokumenter keluarga

berencana, peta, grafik, buku paket dan sebagainya.

3. Lingkungan

       Lingkungan adalah ruang atau tempat dimana sumber-sumber dapat

berinteraksi dengan peserta didik, misalnya laboratorium, perpustakaan, ruang

micro teaching dan sebagainya.

4. Alat dan peralatan

       Alat dan peralatan merupakan sumber belajar untuk produksi dan atau

memainkan sumber-sumber lain, misalnya tata ruang, tape recorder, proyektor,

radio dan sebagainya.

5. Aktivitas

       Aktivitas adalah sumber belajar yang biasanya merupakan kombinasi

antara suatu teknik dengan sumber lain untuk memudahkan belajar, misalnya

karya wisata, simulasi dan lain-lain.


2.2 Pembelajaran

2.2.1 Pengertian Pembelajaran

       Kegiatan pembelajaran tidak dapat terlepas dari kegiatan belajar.

Penggunaan istilah pembelajaran sebagai pengganti mengajar relatif baru.

Penggantian istilah ini mempunyai dasar yang kuat, yang menyangkut perubahan
                                                                               12



filosofi pendidikan. Kita masih ingat dan hafal tentang pengertian mengajar, yaitu

suatu kegiatan sadar dari guru untuk memberikan, memindahkan sejumlah

pengetahuan dan nilai-nilai budaya nenek moyang pada generasi berikutnya.

       Di sini jelas terlihat bahwa tugas guru betul-betul dominan, sedangkan

siswa hanya berada pada pihak yang pasif, siap menerima segala sesuatu yang

diberikan, yang dipindahkan oleh guru. Pandangan seperti ini sudah tidak sesuai

lagi dengan kemajuan berpikir dan kemajuan jaman. Pandangan seperti ini harus

disingkirkan, diganti dengan pandangan baru ynag dasar filosofinya lebih

manusiawi. Dengan menggunakan istilah pembelajaran terasa ada kemampuan

siswa untuk belajar, dan kemampuan ini akan terwujud apabila dibantu dan

dibimbing oleh guru. Oleh karena itu pengertian pembelajaran sekarang ini ialah

usaha sadar guru untuk membantu siswa atau anak didik, agar mereka dapat

belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya (Tim MKDK IKIP Semarang,

1996:11). Guru sebagai fasilitator, yaitu orang yang menyediakan fasilitas dan

menciptakan situasi yang mendukung agar siswa dapat mewujudkan kemampuan

belajarnya.

       Pengertian belajar dan pembelajaran yang diutarakan diatas merupakan

pengertian umum atau populer. Seperti halnya pengertian belajar yang dapat

diartikan secara khusus berdasarkan aliran psikologi tertentu, maka pembelajaran

dapat diartikan secara khusus berdasarkan aliran psikologi tertentu. Aliran-aliran

psikologi yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Psikologi Daya

       Pembelajaran adalah upaya melatih daya-daya yang ada pada jiwa manusia

supaya menjadi lebih tajam atau lebih berfungsi.
                                                                            13



       Menurut aliran psikologi daya, jiwa manusia terdiri dari jiwa-jiwa yang

berdiri sendiri, umpamanya daya pikir, daya ingat yang dibutuhkan dalam

kegiatan belajar. Daya pikir dapat dipertajam dengan memberikan latihan soal-

soal matematika, sedangkan untuk memperkuat daya ingat diperlukan latihan

menghafalkan syair-syair atau materi-materi lain yang berkaitan dengan bahasa.

Jadi kalau guru telah melatih kedua daya itu dengan mempergunakan materi

pelajaran (subject matter), maka siswa dianggap telah mampu mempelajari hal-

hal lain yang menggunakan pikiran dan ingatan (trasfer of learning). Pengertian

pembelajaran menurut psikologi daya ini nampaknya terlalu sederhana, sehingga

sekarang sudah tidak dianut lagi.

2. Psikologi Kognitif

       Pembelajaran adalah usaha membantu siswa atau anak didik untuk

mencapai perubahan struktur kognitif melalui pemahaman (insight). Jadi dalam

pembelajaran, guru tidak hanya berorientasi pada materi pembelajaran (subject

matter) tetapi juga pada proses menerima dan memahami materi tersebut. Dlam

hal ini guru mampu membelajarkan siswa sampai pada taraf insight. Untuk itu

guru harus mengorganisir materi menjadi suatu keseluruhan yang bermakna

sehingga siswa mudah mempelajarinya.

3. Psikologi Humanistik

       Pembelajaran adalah usaha guru untuk menciptakan suasana yang

menyenangkan untuk belajar (Enjoying learning), yang membuat siswa terpanggil

untuk belajar (Tim MKDK IKIP Semarang, 1996:11). Kegiatan belajar yang

dilakukan oleh siswa dirasakan dan disadari sebagai suatu kebutuhan sendiri,
                                                                             14



bukan suatu paksaan dari pihak luar. Menurut Supandi (1988), belajar seperi ini

didasarkan pada self instructif learning (belajar dengan kemauan sendiri).

2.2.2 Ciri-ciri Pembelajaran

       Dari berbagai pengertian pembelajaran yang telah dikemukakan di atas,

kita dapat mengidentifikasi beberapa ciri pembelajaran sebagai berikut :

1. Pembelajaran merupakan upaya sadar dan disengaja.

       Tersirat disini bahwa pembelajaran bukan kegiatan insidental tanpa

persiapan, tetapi merupakan kegiatan yang sadar dan penuh persiapan.

2. Pembelajaran merupakan pemberian bantuan yang memungkinkan siswa dapat

   belajar.

       Dalam hal ini, guru harus menganggap siswa sebagai individu yang

mempunyai unsur-unsur dinamis yang dapat berkembang, bila disediakan kondisi

yang menunjang . Jadi status guru tidak mutlak menentukan apa dan bagaimana

siswa harus belajar (direct teaching), melainkan ada suasana demoktratis.

3. Pembelajaran lebih menekankan pada pengaktifan siswa, karena yang belajar

   adalah siswa, bukan guru.

2.2.3 Aplikasi Pembelajaran

       Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:61) aplikasi artinya

penggunaan, penerapan. Aplikasi pembelajaran adalah kemampuan seorang guru

untuk menggunakan dan menerapkan segenap kemampuannya dalam kegiatan

pembelajaran demi tercapainya tujuan yang sudah ditetapkan. Dalam aplikasi

pembelajaran, seorang guru perlu memiliki pengetahuan, perencanaan dan

pandangan yang luas tentang segala sesuatu yang berkanaan dengan proses
                                                                             15



pembelajaran dan pendidikan. Wibawa guru harus ditumbuhkembangkan dengan

meningkatkan sikap kepulian, semangat belajar, disiplin kerja, keteladanan dan

hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim pembelajaran yang

kondusif. Lebih lanjut, guru dituntut untuk melakukan fungsinya sebagai planner

dan organizer dalam proses belajar mengajar, dengan membina dan memberikan

saran-saran positif kepada siswa (E. Mulyasa, 2002:57).

       Dalam     rangka    mengaplikasikan    kemampuannya      dalam    proses

pembelajaran secara efektif dan efisien, guru harus berkreasi dalam meningkatkan

manajemen kelas. Guru adalah teladan dan panutan langsung para peserta didik di

kelas. Oleh karena itu, guru perlu siap dengan segala kewajiban, baik manajemen

maupun persiapan isi materi pembelajaran. Guru harus mengorganisasikan

kelasnya dengan baik. Jadwal pelajaran, pembagian tugas peserta didik,

kebersihan, keindahan dan sebagainya harus dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Suasana pembelajaran yang menyenangkan dan penuh disiplin sangat diperlukan

untuk mendorong semangat belajar peserta didik. Kreativitas dan daya cipta

seorang guru untuk mengaplikasikan kemampuan perlu terus menerus didorong

dan dikembangkan.

       Aplikasi pembelajaran akan berlangsung secara efektif dan efisien apabila

didukung oleh sumber daya manusia yang profesional untuk mengoperasikan

sekolah, dana yang cukup agar sekolah mampu menggaji staf sesuai dengan

fungsinya, sarana prasarana yang memadai untuk mendukung proses belajar

mengajar serta dukungan masyarakat dan orang tua yang tinggi (E. Mulyasa,

2002:58).
                                                                              16



2.2.4 Tujuan Pembelajaran

       Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang bertujuan, tujuan ini harus searah

dengan tujuan belajar siswa. Tujuan belajar siswa adalah mencapai perkembangan

optimal, yang meliputi aspek-aspek kognitif, efektif dan psikomotor. Menurut

Tim MKDK IKIP Semarang (1996:10), pembelajaran adalah usaha sadar guru

untuk membatu siswa atau anak didik, agar mereka dapat belajar sesuai dengan

kebutuha dan minatnya. Dengan demikian tujuan pembelajaran adalah agar siswa

mencapai perkembangan optimal dalam ketiga aspek tersebut.

       Untuk mencapai tujuan bersama itu siswa melakukan kegiatan belajar,

sedangkan guru melaksanakan pembelajaran. Kedua kegiatan          tersebut saling

melengkapi untuk mencapai tujuan yang sama.

2.2.5 Unsur-unsur Dinamis dalam Pembelajaran

       Unsur-unsur dinamis dalam pembelajaran serupa dengan unsur-unsur

dinamis dalam belajar. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa unsur-unsur

dinamis dalam pembelajaran itu berhubungan dengan masalah motivasi dan upaya

menimbulkan motivasi belajar pada siswa, masalah bahan belajar dan upaya

penyediaannya, masalah suasana belajar dan upaya pengembangannya, masalah

kondisi siswa yang belajar dan upaya penyiapan dan penguatannya. Kelima unsur-

unsur ini bersifat dinamis, karena kondisinya dapat berubah-ubah. Pada suatu

ketika kondisi unsur tersebut menunjang proses pembelajaran, namun pada saat

lain mungkin tidak menunjang atau bahkan menghambat proses pembelajaran.


2.2.6 Unsur-unsur Dinamis Pembelajaran pada Guru

       Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh guru. Oleh karena itu guru harus

memperhatikan dan mengembangkan unsur-unsur dinamis tersebut pada saat

pembelajaran.
                                                                             17



       Guru adalah manusia yang mempunyai ciri atau karakteristik tertentu.

Bagaimana ia mengembangkan unsur–unsur dinamis pembelajaran, sangat

bergantung pada kemampuan, keterampilan, dan sikapnya. Misalnya untuk

memotivasi   siswa    dalam   belajar,   diperlukan   pengetahuan   keterampilan

memotivasi. Agar guru dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan baik ia

harus mempunyai kesiapan baik kesiapan profesional, personal, dan sosial. Tanpa

persiapan dapat diramalkan, bahwa pembelajaran yang dilakukan tidak akan

berhasil secara maksimal. Begitu pula halnya bila guru akan mengembangkan

unsur-unsur dinamis pada diri siswa pada saat belajar, kemampuan dan sikap guru

sangat berpengaruh.



2.3 Pembelajaran Pendidikan Jasmani

       Dalam suatu proses belajar mengajar seorang guru memegang peranan

penting yaitu memberikan bantuan kepada siswa untuk mencapai tujuan yang

diinginkan. Dengan bantuan guru diharapkan siswa akan lebih mudah dalam

memahami pelajaran yang diberikan. Menurut Nana Sujana (2000:29) mengajar

adalah membimbing kegiatan siswa belajar. Mengajar adalah mengatur dan

mengorganisasikan lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat

mendorong dan menumbuhkan siswa melakukan kegiatan belajar. Menurut ahli

yang lain mengajar mengajar diartikan sebagai suatu proses mengorganisasi atau

menata sejumlah sumber potensi secara baik dan benar sehingga terjadi proses

belajar anak. Implikasi dari pengertian tersebut bahwa peranan guru bukanlah

mentransmisikan atau mendistribusikan pengetahuan kepada anak-anak semata-
                                                                              18



mata, akan tetapi sebagai direktur belajar (direktorat of learning) dari sejumlah

peserta didik.

         Pada dasarnya kegiatan mengajar itu seperangkat dari kegiatan yang

direncanakan oleh seseorang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang

akan diberikan kepada orang yang ingin mendapatkan ilmu dan keterampilan dari

orang yang mengajar.

2.3.1 Perencanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani

     Perencanaan berasal dari kata rencana yang mengandung arti rancangan,

konsep, cerita, acara atau program. Sehubungan dengan itu perencanaan dapat

diartikan sebagai proses menyusun suatu acara, rencana atau program dengan

cara-cara yang secara akademis dapat dipertanggungjawabkan secara realistis agar

dapat dilaksanakan dan dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Perencanaan ini bersifat umum, bisa berlaku hampir pada semua kegiatan

termasuk perencanaan penyelenggaraan pendidikan jasmani di sekolah-sekolah.

     Khusus untuk pendidikan, penataan dalam proses pembuatan perencanaan

pengajaran pendidikan jasmani nampak lebih penting mengingat lingkungan

pembelajarannya yang unik. Faktor-faktor penting alasan dibuatnya perencanaan

pengajaran pendidikan jasmani antara lain sebagai berikut :

1. Waktu mengajar yang relatif terbatas

       Rata-rata frekuensi mengajar pendidikan jasmani dalam seminggu adalah

satu kali dengan jumlah waktu 2 x 30 atau 2 x 40 menit.

2. Jumlah siswa dan fasilitas

       Jumlah siswa yang cukup banyak, peralatan dan fasilitas yang relatif

terbatas akan mempengaruhi teknik dan strategi mengajar agar tujuan

pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
                                                                              19



3. Latar belakang guru

       Walaupun kemungkinan besar semua guru pendidikan jasmani adalah

lulusan dari lembaga persiapan guru, namun tidak menutup kemungkinan harus

mengajar pelajaran yang tidak diperolehnya waktu mengikuti pendidikan,

misalnya olahraga atau permainan tradisional, dansa dan lain-lain. Karakteristik

siswa meliputi kemampuan fisik, pengetahuan, minat, lingkungan sosial, ekonomi

dan letak geografisnya.

4. Keterlibatan guru lain

       Terkadang guru pendidikan jasmani memerlukan bantuan guru lain untuk

mengawasi program yang diberikan kepada siswa, misalnya minta bantuan guru

kelas untuk mengawasi siswanya dalam melaksanakan program kesegaran

jasmani yang melibatkan guru lain.

2.3.2 Pelaksanaan Pengajaran Pendidikan Jasmani

       Dalam melaksanakan pengajaran pendidikan jasmani yang diutamakan

adalah partisipasi dari siswa yaitu siswa harus banyak bergerak dan berkarya dan

seorang guru harus sedikit bicara dan banyak bekerja. Pelaksanaan adalah proses,

cara, perbuatan melaksanakan suatu rancangan, keputusan dan sebagainya (KBBI,

1998:627).

     Salah satu prinsip penting dalam pendidikan jasmani adalah partisipasi siswa

secara penuh dan merata, karena pendidikan jasmani harus memperhatikan secara

penuh dan merata, karena pendidikan jasmani harus memperhatikan kepentingan

siswa dengan memperhatikan perbedaan kemampuan. Apabila ada anak yang

lemah kemampuannya harus memperoleh layanan yang sebaik-baiknya. Untuk

mencapai tujuan pengajaran anak harus aktif atau mengalami sendiri pelaksanaan

tugas-tugas ajar, sedangkan pengajar atau guru berfungsi untuk merencanakan
                                                                                  20



tugas ajar karena semakin giat para siswa melaksanakan tugas ajar maka semakin

besar kemungkinan tujuan pengajaran akan tercapai (Rusli Lutan, 2000:7-8).

2.3.3 Tugas, Peranan dan Tanggung Jawab Guru

      Agar guru dapat melaksanakan tugas mengajar dengan baik diperlukan

seperangkat kemampuan yang harus dikuasainya. Seperangkat kemampuan itu

antara lain kemampuan profesional yang disebut dengan kompetensi profesioanal.

Kompetensi adalah usaha untuk menggambarkan apa yang diharapkan,

dikehendaki, didambakan, diantisipasi, dilatih dan sebagainya. Komponen berada

dalam diri seseorang berupa kemampuan dan kecakapan untuk melakukan dan

berkaitan dengan pola-pola perilaku yang dapat diamati.

      Adapun tugas, peran dan tanggung jawab seorang guru adalah sebagai

berikut :

1. Planner (perencana) dalam mempersiapkan suatu proses belajar mengajar

    (pembelajaran)

2. Organizer (pelaksana) kegiatan proses belajar mengajar dengan jalan

    menciptakan situasi, memimpin, mengelola, merancang, menggerakkan dan

    mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai rencana.

3. Evaluator (penilai) suatu proses dan hasil kegiatan belajar mengajar.

4. Teacher,     conselor    (pembimbing)     peserta    didik   dalam    membantu

    mengidentifikasi gejala-gejala kesulitan belajar, melakukan diagnosis tentang

    jenis, sifat dan faktor penyebab kesulitan belajar (Rusli Ibrahim, 2000:3).

2.3.4 Hambatan Pelaksanaan Pendidikan Jasmani

        Ada beberapa aspek kelemahan dalam pelaksanaan pendidikan jasmani

antara lain sebagai berikut :
                                                                           21



1. Adanya ketimpangan dalam alokasi waktu pendidikan jasmani dibandingkan

   dengan bidang studi lainnya.

2. Status pendidikan jasmani yang masih dianggap kurang penting dan kurang

   menentukan karier masa depan diakibatkan karena adanya : 1) Faktor

   ketenagaan khususnya guru yang menangani bidang studi tersebut. Selain

   karena jumlahnya kurang, kualifikasi juga masih rendah, tidak sesuai dengan

   tugasnya. 2) Prasarana. 3) Kekurangan dana untuk menjalankan program.

       Pemahaman dan penguasaan dasar-dasar pendidikan jasmani secara

mendalam perlu dimiliki oleh setiap penyelenggara pendidikan jasmani (Adang

Suherman, 2000:2).

2.3.5 Asas dan Landasan Pendidikan Jasmani

       Asas dan landasan pendidikan jasmani secara umum dapat diklasifikasikan

sebagai berikut :

1. Perkembangan fisik

       Perkembangan fisik berhubungan dengan kemampuan melakukan

aktifitas-aktifitas yang melibatkan kekuatan fisik dari berbagai organ tubuh

seseorang (Physical fitnes).

2. Perkembangan gerak

       Perkembangan gerak berhubungan erat dengan kemampuan melakukan

gerak secara efektif, efisien, halus, indah dan sempurna (skillfull)

3. Perkembangan mental

       Perkembangan mental berhubungan dengan kemampuan berpikir dan

menginteraksikan keseluruhan pengetahuan tentang pendidikan jasmani.
                                                                             22



4. Perkembangan sosial

        Perkembangan sosial berhubungan dengan kemampuan siswa dalam

menyesuaikan diri pada suatu kelompok atau masyarakat (Adang Suherman,

2000:23).

        Perilaku peserta didik itu tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi

disebabkan oleh keikutsertaan secara aktif untuk melaksanakan tugas-tugas ajar

yang direncanakan dan dikelola oleh guru. Upaya guru dalam pengelolaan

perilaku yaitu mengendalikan dan mengontrol aktivitas jasmani para siswa.

2.3.6 Metode Belajar Mengajar Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar

        Dalam dunia pendidikan khususnya di Sekolah Dasar terdapat beberapa

pendekatan yang mungkin dapat diterapkan dalam berbagai metode yang cocok

untuk diterapkan di Sekolah Dasar. Pendekatan tersebut antara lain sebagai

berikut :

1. Metode Permainan (Metode Bermain)

        Pendekatan ini berlandaskan anggapan dasarnya pada sifat manusia yang

hakiki yaitu suka bermain. Pada garis besarnya pendekatan parmainan ini meliputi

jenis-jenis sebagai berikut :

a. Permainan meniru, gerakan atau pokok bahasannya meniru perilaku hewan,

    manusia atau mesin yang bergerak.

b. Permainan peran, pokok bahasannya dikemas dengan peranan-peranan suatu

    pekerjaan seperti sopir, petani atau pekerjaan yang lain.

c. Permainan fantasi, pokok bahasannya dikemas dengan dunia dongeng atau

    imajinasi dan lain-lain.
                                                                           23



d. Permainan dramatisasi.

        Pada permainan dramatisasi ini tugas-tugas gerak disusun dalam suatu

lakon dengan kerangka kerja drama.Keuntungan metode ini adalah sesuai dengan

sifat dan kodrati manusia yang suka bermain, sehingga proses belajar mengajar

menjadi lebih menarik.

e. Metode Perlombaan

        Pada dasarnya perlombaan ini merupakan suatu persaingan dalam bentuk

sederhana antar individu, kelompok atau masyarakat. Secara garis besarnya

langklah-langkah penerapan metode perlombaan ini dikemukakan sebagai

berikut :

1) Tetapkan sasaran yang akan dicapai.

2) Jelaskan cara-cara mencapai sasaran tersebut.

3) Tetapkan kriteria keberhasilan dan kemenangan.

4) Umumkanlah siapa-siapa yang menang.

        Keuntungan dari metode ini adalah sebagai berikut :

1) Memberikan kesempatan mengembangkan segi-segi sosial siswa yang sesuai

    dengan adat kebiasaan masyarakatnya.

2) Suasana yang cenderung bebas dan informal memberikan kemungkinan

    kebebasan dalam membuat keputusan.

3) Kelemahan dari metode ini adalah terlalu banyak waktu sehingga kurang

    efisien dalam membina keterampilan teknik gerakan. Karena bebas dan

    informal, dalam metode ini sering terjadi kehilangan sasaran dan cenderung
                                                                                24



    menekankan pada segi hura-hura daripada peningkatan keterampilan geraknya

    (Supandi, 1992:44).


2.4 Evaluasi Belajar dan Pembelajaran

2.4.1    Pengertian Evaluasi

         Evaluasi berasal dari bahasa Inggris Evaluation yang berarti perilaku dan

penafsiran (S. Sukardjo, 1984:220). Evaluasi adalah suatu usaha untuk

membandingkan hasil pengukuran terhadap bahan pembanding atau patokan

tertentu.

         Evaluasi merupakan bagian integral dari proses pendidikan karena dalam

proses pendidikan guru perlu mengetahui seberapa jauh proses pembelajaran yang

telah dicapai. Dalam konteks pembelajaran, istilah evaluasi menunjuk pada suatu

kegiatan untuk menentukan nilai pencapaian hasil belajar. Evaluasi merupakan

sarana      untuk   menentukan    pencapaian    tujuan   pendidikan    dan   proses

pengembangan ilmu sesuai tujuan yang diharapkan. Evaluasi mempunyai

hubungan timbal-balik antara tujuan pendidikan dan proses belajar mengajar yang

satu sama lain menunjukkan ikatan rantai yang tidak dapat dipisahkan.



2.4.2    Prinsip-prinsip Evaluasi

         Prinsip dasar evaluasi dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut :

1. Objektif, maksudnya bahwa evaluasi harus berdasarkan bukti-bukti yang

    nyata, tidak boleh berdasarkan ingatan saja, ini berarti harus melalui tes atau

    ujian.

2. Sesuai dengan tujuan, maksudnya bahwa evaluasi yang dilaksanakan tidak

    boleh menyimpang dari tujuan yang sudah ditentukan.
                                                                                     25



3. Evaluasi harus mengukur secara jelas hasil belajar yang telah diteyapkan

   sesuai dengan tujuan-tujuan anstruksional.

4. Mencakup bentuk tes yang cocok, maksudnya bahwa evaluasi haruslah

   mencakup bentuk-bentuk tes yang cocok untuk mengevaluasi hasil belajar

   yang diinginkan.

5. Dapat digunakan untuk perbaikan, maksudnya bahwa evaluasi harus dapat

   digunakan u.ntuk memperbaiki cara-cara belajar siswa.

6. Sesuai dengan bahan ajaran, maksudnya bahwa materi yang disusun dalam

   butir-butir soal haruslah disesuaikan dengan bahan ajaran.

2.4.3   Prinsip Pelaksanaan Evaluasi

1. Kontinyu, maksudnya bahwa evaluasi harus dilaksanakan secara terus

   menerus tanpa terputus–putus, dapat melalui aktivitas sehari-hari, ulangan-

   ulangan dan sebagainya.

2. Komprehensif, maksudnya evaluasi harus maencakup semua aspek, yaitu

   aspek kognitif, afektif dan psikomotor serta seluruh aspek kepribadian siswa.

   Evaluasi harus mempunyai dan memperlihatkan wawasan yang luas (Noehi

   Nasution, 1993:ii).

3. Sesuai dengan rancangan, maksudnya untuk menghindari agar tes yang

   disusun tidak menyimpang dari materi serta aspek tingkah laku yang

   dievaluasi, untuk itu disusunlah sebuah rancangan sebagai patokan yang

   disebut blue print atau tabel spesifikasi atau kisi-kisi (S. Sukardjo, 1992:6).

2.4.4   Bentuk Penghargaan Evaluasi

        Bentuk penghargaan atau penilaian hasil belajar pada dasarnya ada dua

jenis yaitu sebagai berikut :
                                                                                26



1. Bentuk kuantitatif

          Bentuk ini menggunakan angka untuk memberikan harga tentang hasil

belajar siswa, misalnya : 40, 50, 60, 70 dan seterusnya.

2. Bentuk kualitatif

          Bentuk kualitatif adalah bentuk penghargaan yang diberikan kepada siswa

tentang hasil belajar dalam bentuk pernyataan verbal, misalnya : baik sekali, baik,

cukup, kurang dan sebagainya atau pernyataan lain yang sejenis.

2.4.5     Kesalahan-kesalahan Evaluasi

          Mengingat bahwa evaluasi dalam pendidikan itu sangat penting, maka

perlu diusahakan agar kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi diperkecil agar

penilaian dapat mendekati objektif. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan

terjadinya kesalahan dalam evaluasi antara lain sebagai berikut :

1. Kesalahan observasi

          Kesalahan observasi akan menyebabkan kurangnya objektivitas dalam

evaluasi, misalnya : 1) Kurang teliti dalam mengobservasi. 2) Kurang menyeluruh

objek yang diobservasi. 3) Kurang cukup lama waktu yang diberikan. 4) Teknik

observasi yang digunakan kurang tepat.

2. Kesalahan alat ukur

          Kesalahan alat ukur dapat mengakibatkan tidak tepatnya pemberian nilai,

misalnya : riliabilitas yang rendah, validitas yang rendah dan data yang tidak

akurat.

3. Kesalahan proses pengolahan data

          Kesalahan proses pengolahan data dapat berupa kesalahan menjumlahkan,

mengalikan, membagi dan sebagainya sehingga dapat mengakibatkan evaluasi

tidak tepat.
                                                                               27



a. Pengaruh pekerjaan terdahulu

       Karena pekerjaan terdahulu baik memungkinkan guru terpengaruh untuk

memberikan nilai yang baik pula, sekalipun hasil yang dicapai saat ini kurang

memuaskan dan sebaliknya.

b. Kecenderungan menilai lebih rendah atau lebih tinggi

       Adakalanya seorang guru cenderung untuk memberikan nilai rendah,

misalnya : 3, 4, 5, dan 6 jarang atau kurang berani menilai 8, 9, atau 10 walaupun

hasil ujiannya baik dan sebaliknya ia akan memberi nilai 8 atau 9 walaupun hasil

ujiannya rendah.

c. Pengaruh kesan-kesan luar.

       Hal-hal yang dapat mempengaruhi seorang guru untuk memberi nilai lebih

baik antara lain sebagai berikut :

1) Pakaian rapi, bersih dan serasi

2) Tingkah laku sopan, wajah manis dan sebagainya.

3) Tulisan bersih, teratur dan mudah dibaca dan sebagainya. Sebaliknya kesan

   yang kurang menyenangkan akan mempengaruhi untuk memberi nilai kurang

   atau jelek.

       Pada umumnya evaluasi hasil pengajaran, baik dalam bentuk formatif

maupun sumatif, telah dilaksanakan oleh guru. Melalui pertanyaan secara lisan

atau tulisan pada akhir pengajaran guru menilai keberhasilan pengajaran (tes

formatif). Penilaian formatif juga bisa dilakukan dalam bentuk tugas-tugas yang

harus dikerjakan oleh siswa, baik individual maupun kelompok. Demikian juga

tes sumatif yang dilakukan pada pertengahan program atau pada akhir program
                                                                                28



seperti akhir kuartal atau akhir semester. Dalam setiap semester minimal

dilakukan dua kali, yaitu pada pertengahan semester dan pada akhir semester.

        Penilaian hasil belajar bertujuan melihat kemajuan belajar para siswa

dalam hal penguasaan materi pembelajaran yang telah dipelajarinya sesuai dengan

tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Dengan hasil itu pula dapat dilihat program

mana yang belum dikuasai oleh siswa dan sampai dimana kemampuan siswa

dalam penguasaan materi yang telah diberikan dalam kurun waktu tersebut.

        Sasaran atau objek evaluasi hasil belajar adalah perubahan tingkah laku

yang mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang. Masing-

masing bidang terdiri dari sejumlah aspek. Aspek-aspek tersebut sebaiknya dapat

diungkapkan melalui penilaian. Dengan demikian dapat diketahui tingkah laku

mana yang sudah dikuasai oleh siswa dan mana yang belum dikuasai sebagai

bahan bagi perbaikan dan penyempurnaan program selanjutnya.

2.4.6   Perencanaan Kegiatan Evaluasi

        Dalam perencanaan kegiatan penilaian tes hasil belajar siswa tidak terlepas

dari tujuan yang akan dicapai. Dimana tujuan tersebut sudah dirumuskan terlebih

dahulu dalam bentuk tingkah laku siswa serta bersifat operasional. Tujuan itu

dibedakan menjadi dua, yaitu 1) Tujuan Instruksional Khusus (TIK), adalah

bentuk tingkah laku yang bersifat operasional dan pemunculannya dapat diamati

sehingga dapat diukur. 2) Tujuan Instruksional Umum (TIU), adalah tujuan yang

hendak dicapai secara umum melalui pengajaran tertentu (S. Sukardjo, 1992:69).

Untuk mengukur pencapaian tujuan-tujuan yang dimaksud, diperlukan bentuk-
                                                                                29



bentuk dan jenis kegiatan penilaian dalam setiap unit pendidikan dan juga di

dalam pengajaran.

       Bentuk atau jenis kegiatan penilaian dalam setiap unit pendidikan antara

lain sebagai berikut :

1. Penilaian pada setiap akhir satuan pelajaran (tes formatif)

       Tes formatif ini, adalah tes yang diberikan kepada siswa setelah mereka

selesai mengikuti pelajaran dari suatu program bahan satuan pelajaran. Penyajian

tes formatif adalah sesudah penyampaian bahan ajar dalam satuan pelajaran

(termasuk ruang lingkup post test).

       Dengan diadakannya tes ini, merupakan usaha untuk memperbaiki proses

belajar mengajar. Juga bertujuan untuk mengukur sejauh mana tujuan insruksional

yang digariskan itu, sudah tercapai atau belum tercapai sama sekali.

       Aspek-aspek yang dinilai meliputi yaitu 1) Proses belajar. 2) Hasil belajar

(penguasaan bahan). 3) Keserasianh bahan dengan metode mengajar. 4)

Keserasian bahan dengan alat pelajaran/alat peraga. 5) Keserasian bahan dengan

Tujuan Instruksional Khusus (TIK). 6) Keserasian bahan dengan waktu.

2. Penilaian pada akhir unit pendidikan (tes sumatif).

       Tes sumatif juga termasuk dalam ruang lingkup post test. Tes ini diberikan

kepada siswa sesudah mereka selesai mengikuti bahan pengajaran dalam satu

semester. Tujuannya untuk mengetahui atau menentukan hasil yang dicapai oleh

siswa dalam susatu program dalam waktu tertentu, misalnya satu semester, akhir

tahun atau ketika akhir program bahan pada suatu unit pendidikan. Pengukuran ini

dilakukan untuk mengetahui integritas pengetahuan, pemahaman dan aplikasi

suatu bahan pelajaran.
                                                                               30



        Hasil pengukuran digunakan untuk mengisi rapot, kepentingan kenaikan

kelas atau ujian akhir dari suatu tingkatan pada lembaga pendidikan tertentu. Di

dalam pengisian nilai ke dalam rapot ataupun sebagai laporan kecakapan siswa,

kenaikan kelas, dan penentuan hasil ujian akhir perlu juga diperhatikan hasil dari

tes formatif sebagai bahan pertimbangan.

2.4.7   Aspek-Aspek Penilaian

1. Kemampuan gerak

        Kemampuan atau perilaku gerak dapat dibagi menjadi tiga kategori yang

luas dan seringkali saling melingkup. Ketiga ketegori itu merupakan kasus utama

dari perkembangan motorik. Yang pertama dan paling besar dari kategori gerak

mengacu pada stabilisasi. Kemampuan stabilisasi adalah pengembangan pola

gerak yang memungkinkan anak-anak memperoleh serta mempertahankan titik

pangkal eksplorasi yang mereka buat dalam ruang gerak. Kemampuan stabilisasi

kadang-kadang disebut gerakan nonlocomotor karena menyangkut aktivitas

stasioner seperti membungkuk, meregang, memutar dan membalik. Stabilisasi

menyangkut aktivitas yang pada pokoknya mempertahankan keseimbangan

seperti perubahan penyangga (kayang atau tegak tumpu kepala) dan gerak

berguling.

        Pada waktu stabilisasi berkembang, lokomosi juga berkembang. Lokomosi

mencakup proyeksi tubuh terhadap ruang eksternal dengan perubahan lokasi, baik

vertikal maupun horisontal. Aktivitas seperti lari, lompat, loncat dan jingkat

biasanya disebut sebagai lokomosi. Dengan lokomosi anak-anak mampu secara

efektif melakukan eksplorasi tentang dunianya.
                                                                             31



       Aspek ketiga dari pengembangan kemampuan gerak anak menyangkut

perkembangan dasar manipulasi. Manipulasi motorik besar adalah pengalihan

kekuatan terhadap objek-objek seperti melempar, memukul, mendorong dan

menarik benda dan menerima kekuatan dari objek-objek seperti menangkap,

menahan dan memegang benda. Melalui manipulasi benda-benda, anak-anak

mampu melakukan kontak fisik yang sebenarnya dengan objek-objek di dunianya.

       Pendidikan gerak taman anak-anak dan kelas permulaan sekolah dasar

mencakup perkembangan kemampuan gerak lokomosi, manipulasi dan stabilisasi

dasar. Jika perilaku gerak diperhatikan sepanjang hayat manusia, terlihat bahwa

ketiga kategori tersebut berlaku bagi gerak manusia sejak kanak-kanak sampai

dewasa. Lokomosi, manipulasi dan stabilisasi dialami pada semua tingkat dalam

pengalaman hidup keseluruhan yang dapat diklasifikasikan dalam tingkat-tingkat

perkembangan motorik.

       Gerak refleksi janin dan bayi yang baru lahir dianggap sebagai suatu fase

pertama dari perkembangan motorik. Fase kedua yaitu berupa gerakan awal yang

mulai berkembang setelah lahir sampai berumur dua tahun. Fase ketiga dari

perkembangan motorik adalah fase kemampuan gerak dasar yang dimulai sejak

usia dua tahun sampai taman kanak-kanak dan kelas permulaan sekolah dasar

sampai umur tujuh tahun. Fase keempat yaitu fase kemampuan gerak umum yang

dialami pada saat kelas tiga, empat dan lima. Fase kelima dari perkembangan

motorik yaitu kemampuan gerak khusus yang dialami saat kelas enam sampai

kelas dua SMP. Fase terakhir perkembangan motorik yaitu fase gerak spesialisasi

yang dimulai kira-kira pada tingkat SMU dan seterusnya hingga dewasa.
                                                                           32



2. Kemampuan fisik

       Aspek perkembangan kemampuan fisik dari phsycomotorik dapat dibagi

menjadi kesegaran organik dan kesegaran motorik. Foktor-faktor yang

berhubungan dengan perkembangan kesehatan dan kapasitas fungsional tubuh

diklasifikasikan sebagai nkomponen kesegaran organik. Yang diperlukan untuk

keterampilan suatu aktivitas diklasifikasikan sebagai komponen kesegaran

motorik. Kemampuan motorik (kesegaran motorik) umumnya dipandang sebagai

kemampuan-kemampuan berperilaku seseorang yang dipengaruhio oleh faktor-

faktor kecepatan, keseimbangan, daya tahan, koordinasi, tenaga, kelentukan dan

ketepatan.

3. Perkembangan kognitif

       Tujuan lain yang penting dari pendidikan gerak yang baik bagi anak

adalah meningkatkan konsep kognitif dasar. Sepanjang sejarah manusia, para

filosof, psikolog dan pendidik telah menunjukkan adanya hubungan antara fungsi

jasmani dan rohani. Ada dua aspek utama dari perkembangan kognitif yang

mendukung secara efektif melalui pendidikan gerak anak-anak. Aspek pertama

adalah berbagai konsep motorik perseptual yang ,mencakup perkembangan

kesadaran tubuh, kesadaran ruang, kesadaran arah dan pembentukan orientasi

ruang dan waktu secara efektif. Yang kedua dari aspek perkembangan kognitif

mencakup perkembangan dan pacuan peningkatan pengertian dan sikap dari

konsep-konsep akademik dasar termasuk sains, matematika, seni bahasa dan studi

sosial melalui medium gerak. Kebanyakan dari bukti-bukti yang tersedia

menunjukkan bahwa kedua konsep tersebut dapat dipacu melalui keikutsertaan
                                                                              33



secara aktif dalam aktivitas gerak yang terarah dan terpilih dengan cermat. Isi

yang terkandung dalam istilah motorik conseptual menunjukkan interdependensi

satu sama lain. Ini menjadi nyata bila kita perhatikan bahwa gerak efektif dan

efisien tergantung pada kecermatan persepsi diri sendiri dan sekitarnya dan bahwa

perkembangan kemampuan perseptual seseorang sebagian tergantung pada gerak.

2.4.8   Tujuan Evaluasi

        Evaluasi dilaksanakan dalam hubungan dengan tujuan pedidikan yaitu

untuk hal-hal sebagai berikut :

1. Mengetahui status siswa.

        Agar diketahui status siswa saat tertentu berada, apakah memperoleh

kemajuan atau tidak dalam mengikuti pembelajaran.

2. Mengadakan seleksi

        Untuk memilih anggota regu atau pemain-pemain yang dapat mewakili

sekolah dalam suatu lomba atau pertandingan.

3. Mengetahui prestasi siswa

        Agar diketahui prestasi hasil belajar yang dicapai siswa.

4. Mengetahui kelemahan dan kesulitan siswa

        Dengan evaluasi akan diketahui latar belakang siswa yang mengalami

kelemahan dan kesulitan belajar.

5. Mengadakan pengelompokan

        Umumnya pengelompokan untuk memudahkan dalam pelaksanaan proses

pembelajaran.
                                                                                  34



6. Memberi motivasi siswa

        Dengan diketahuinya hasil belajar siswa, maka akan mendorong siswa

untuk belajar dan berlatih lebih giat lagi.

7. Penempatan siswa

        Untuk menempatkan siswa sesuai dengan jurusan atau program

spesialisasi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki siswa.

8. Memberikan data pada pihak tertentu

        Dengan data hasil evaluasi sekolah atau lembaga pendidikan dapat

melaporkan hasil belajar siswa kepada pihak yang memerlukan.

2.4.9   Kegunaan Evaluasi Pendidikan

        Kegunaan evaluasi dalam proses pendidikan antara lain sebagai berikut :

1. Keputusan pengajaran

        Guru harus mengerti peserta didik secara baik, cara-cara mengajar,

kelebihan dan kelemahannya untuk perbaikan proses pembelajaran.

2. Keputusan hasil belajar

        Evaluasi hasil belajar dapat digunakan untuk mengambil keputusan

tentang naik tidaknya seorang siswa, lulus tidaknya siswa pada akhir program,

diagnosis dan usaha perbaikan. Setelah diketahui kesulitan belajar siswa, guru

akan membantu memecahkan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa.

3. Keputusan kurikulum

        Data yang objektif dan relevan merupakan sumber yang objektif dalam

melakukan evaluasi kurikulum.
                                                                              35



4. Evaluasi kelembagaan

       Berdasarkan data yang objektif maka hasil evaluasi kelembagaan

memungkinkan untuk mengambil keputusan tentang peningkatan atau penurunan

kewenangan lembaga tersebut.

2.4.10 Langkah-langkah Evaluasi

       Dalam evaluasi pendidikan ada beberapa langkah yang harus ditempuh

yaitu sebagai berikut :

1. Menetapkan tujuan

       Evaluasi yang akan dilakukan harus berorientasi kepada tujuan yang telah

ditetapkan, sedangkan tujuan itu sendiri dibuat sebelum evaluasi dilakukan.

2. Menetapkan ruang lingkup

       Setelah tujuan ditetapkan, maka langkah berikutnya adalah menetapkan

ruang lingkup evaluasi, agar sasaran yang akan diukur menjadi jelas.

3. Menetapkan alat ukur

       Alat ukur yang akan digunakan haruslah ditetapkan sesuai dengan tujuan

dan ruang lingkup yang akan dievaluasi.

4. Menetapkan kriteria

       Setelah tujuan, ruang lingkup dan alat ukur ditetapkan, maka langkah

berikutnya adalah menetapkan kriteria keberhasilan siswa dalam mengikuti proses

pembelajaran.

5. Mengumpulkan data atau informasi

       Data dikumpulkan untuk mengevaluasi seberapa jauh tujuan pendidikan

yang sudah dicapai secara tepat dan benar.
                                                                                36



6. Mengolah data

       Data yang telah dikumpulkan melalui tes atau non tes belum mempunyai

arti selama belum diolah dan dianalisis, oleh karena itu data tersebut harus diolah

terlebih dahulu.

7. Menyimpulkan

       Setelah data diolah dan dianalisis kemudian disimpulkan dan memberikan

arti sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditentukan.

8. Memutuskan hasil evaluasi

       Setelah data diolah dan dianalisis sesuai dengan kriteria yang ditetapkan,

yang bisa digunakan untuk mengambil mengambil keputusan penilaian

pendidikan yang dapat dikaitkan dengan perenanaan, pengelolaan, proses dan

tindak lanjut pembelajaran baik yang menyangkut perorangan, kelompok maupun

kelembagaan (Depdikbud, 1981:1).

2.4.11 Pendekatan Evaluasi

       Dalam hal pemberian nilai pada suatu pekerjaan atau tugas, umpamanya

pemberian nilai pada hasil yang di capai oleh siswa didasarkan pada dua pendapat

atau pendirian, yaitu pendirian yang bersumber pada kriteria ukuran mutlak atau

sering di sebut dengan istilah Penelian Acuan Patokan (PAP) dan pendirian yang

bersumber kepada norma relatif atau sering disebut dengan istilah Penilaian

Acuan Norma (PAN).

1. Penilaian Acuan Patokan (PAP)

       Penilaian Acuan Patokan (PAP) merupakan pendekatan penilaian yang

membandingkan hasil pengukuran seorang siswa dengan suatu patokan atau batas
                                                                                37



lulus, yang merupakan penguasaan minimum yang ditetapkan lebih dulu sebelum

proses pembelajaran. Oleh karena itu, tekanan dari Penilaian Acuan Patokan

(PAP) adalah penetapan tingkat penguasaan (misalnya pengetahuan atau

keterampilan pada diri seseorang). Penilaian Acuan Patokan (PAP) sangat

bermanfaat dalam upaya meningkatkan kualitas hasil belajar sebab siswa dipaksa

untuk mencapai standar yang telah ditetapkan. Dengan demikian hasil belajar

siswa   dapat   diketahui   derajat   pencapaiannya.   Namun    resikonya     dapat

melemahkan semangat belajar siswa apabila hasil yang diperolehnya relatif

rendah atau dibawah standar yang telah ditetapkan.

        Penilaian yang bersumber kepada kriteria ini, dimaksudkan dalam

peberian nilai pada hasil belajar yang dicapai oleh siswa didasarkan kepada

kriteria-kriteria yang sudah ditentukan terlebih dahulu, antara lain sebagai

berikut :

a. Kompetensi belajar murid

        Kompetensi belajar murid menjadi kriteria dalam pelaksanaan penilaian

hasil belajar untuk menentukan kualifikasi. Sasaran penilaian yang berhubungan

dengan kompetensi belajar yaitu : 1) Penguasaan terhadap bahan pelajaran yang

telah diajarkan. 2) Sikap atau kepribadian murid dalam mengikuti pelajaran.

b. Efektivitas murid

        Penilaian terhadap efektifitas murid dalam belajar, berkenaan dengan

kesanggupan murid untuk mengikuti bahan pelajaran yang diberikan termasuk

kegiatan-kegiatan belajarnya.
                                                                               38



c. Efisiensi belajar

       Penilaian terhadap efisiensi belajar murid agar dapat diketahui

kemampuan murid selama murid belajar dalam rangka pencapaian tujuan.

       Adapun cara penentuan PAP yaitu sebelum proses pembelajaran batas

lulus sebagai kriteria ditentukan lebih dahulu. Batas lulus ini ditentukan sebagai

batas keberhasilan minimum. Siswa dianggap telah menguasai materi ajar bila

bisa mencapai batas lulus dan mereka diperbolehkan mempelajari materi lebih

lanjut. Sedang siswa yang belum mencapai batas lulus harus mengulang materi

ajar tersebut. Dengan begitu sudah jelas bahwa PAP bersifat tetap (Nasrun

Harahap, 1979:21)

2. Penilaian Acuan Norma (PAN)

       Penilaian Acuan Norma ( PAN ) adalah penilaian yang membandingkan

hasil belajar siswa terhadap hasil belajar siswa yang lain dalam kelompoknya.

Sistem penilaian ini tidak bersumber pada kriteria, melainkan kepada norma-

norma yang belum diketahui kepastiannya. Norma-norma ini didasarkan pada

pandangan, pendapat atau dengan jalan membanding-bandingkan hasil belajar dari

setiap siswa atau klasifikasi setiap siswa yang berkenaan dengan kemampuan,

meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap belajar. Dengan demikian dapat

diketahui prestasi siswa dibandingkan dengan kelompoknya. PAN disebut juga

norma referenced evaluation atau relative standard.

       Penilaian Acuan Norma (PAN) dapat dipakai untuk semua mata pelajaran

dari yang paling teoritis sampai ke mata pelajaran keterampilan. Pada Penilaian

Acuan Norma (PAN) ada dua hal pokok yang harus dilakukan oleh pengajar yaitu
                                                                              39



: 1) Menetapkan pengikut ujian yang akan diluluskan. 2) Menetapkan batas lulus.

Sebagai contoh guru akan meluluskan 80 %, selanjutnya dapat dilihat 80% dari

jumlah siswa yang memperoleh angka tertinggi yang dinyatakan lulus.

       Dalam menentukan nilai terhadap hasil belajar, biasanya dipakai

beberapa bentuk penilaian, yaitu : 1) Menggunakan nilai kuantitatif dengan angka-

angka. 2) menggunakan nilai kualitatif dengan kata baik, cukup, kurang, kurang

sekali. 3) Menggunakan nilai dengan huruf A, B, C atau D. 4) Mengkombinasikan

ketiga macam bentuk penilaian tersebut, misalnya pada sebagian bidang studi

dipergunakan angka sebagian lagi dengan kata-kata atau huruf (Nasrun

Harahap,1979:20-21)

2.4.12 Macam-macam Penilaian di Sekolah

       Jenis-jenis penilaian teknik disesuaikan dengan perubahan kurikulum di

sekolah–sekolah atau madrasah–madrasah, maksudnya setelah menggunakan

kurikulum dengan sistem bidang studi, serta teknik penyajiannya menggunakan

sistem Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) yang dituangkan

kedalam satuan pelajaran.

       Perubahan tentang kurikulum tersebut, membawa perubahan juga kedalam

sistem penilaian hasil belajar, baik pada waktu maupun penyelenggaraan

penilaian. Sebelum diadakan perubahan kurikulum di sekolah-sekolah, biasanya

pelaksanaan penilaian hasil belajar hanya dilakukan pada akhir semester, pada

akhir tahun ajaran, atau setelah anak didik selesai menempuh program pengajaran

disuatu tingkat lembaga pendidikan tertentu.

       Penilaian yang sekarang diselenggarakan secara kontinyu baik sebelum

dan sesudah menyajikan bahan pelajaran (pre test dan post test) dalam program
                                                                               40



satuan pelajaran, semester ataupun penilian tahap akhir program pembelajaran

pada suatu unit pendidikan tertentu.

       Dalam rangka perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan maka

dilaksanakan penilaian, sebagai alat kontrol terhadap kemajuan hasil belajar

siswa. Penilaian itu ada beberapa jenis, yaitu penilaian formatip, sumatif,

penempatan dan diagnostik hasil belajar. Dalam uraian ini di tekankan penilaian

sumatif dan formatif    karena lebih erat hubungannya dengan penilaian hasil

belajar, tetapi bukan bertujuan tidak mengindahkan atau mengabaikan jenis

penilaian yang lain, seperti penempatan dan diagnostik, tetapi penilaian itu perlu

demi perbaikan hasil belajar siswa .

1. Penilaian Formatif. Penilaian formatif yaitu penilaian yang dilakukan terhadap

   hasil belajar, setelah selesai mengikuti suatu program satuan pelajaran.

2. Penilaian Sumatif . Penilaian sumatif yaitu penilaian yang dilakukan terhadap

   hasil belajar, setelah selesai mengikuti materi palajaran dalam satu semester,

   akhir tahun atau setelah selesai mengikuti program pengajaran pada suatu unit

   tingkatan pendidikan tertentu.

3. Penilaian Penempatan. Penilaian penempatan yaitu penelaian tentang keadaan

   pribadi anak didik untuk kepentingan penempatan di dalam situasi belajar

   mengajar yang sesuai dengan anak didik tersebut.

4. Penilaian Diagnostik. Penilaian diagnostik yaitu penilaian yang dilakukan

   terhadap hasil penganalisaan tentang keadaan belajar anak didik, baik yang

   berupa kesulitan-kesulitan belajar atau hambatan-hambatan yang dialami oleh

   anak didik di dalam proses belajar mengajar (S. Sukardjo, 1992:29-33).
                                                                                 41



2.4.13 Perbedaan dan Pengenalan tentang Jenis–jenis Penilaian

       Penilaian pendidikan yang telah disebutkan diatas, memiliki perbedaan

antara penilaian yang satu dengan jenis penilaian yang lain, baik ditinjau dari segi

tujuan maupun fungsinya masing-masing. Adapun fungsi, tujuan, aspek-aspek

yang dinilai serta waktu pelaksanaan dari masing-masing          penilaian tersebut

adalah sebagai berikut :

1. Penilaian Formatif adalah untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh

   anak didik setelah menyelesaikan program dalam satu satuan bahan pelajaran

   pada suatu bidang tertentu.

1) Fungsi penilaian formatif adalah untuk memperbaiki proses belajar mengajar

   kearah yang lebih baik atau memperbaiki program satuan pelajaran tersebut.

2) Tujuan penilaian formatif adalah untuk mengatahui sampai dimasna

   penguasaan siswa tentang bahan yang diajarkan dalam suatu program satuaan

   pelajaran, apakah sudah sesuai dengan tujuan intruksional yang digariskan.

3) Aspek-aspek yang dinilai pada penilaian formatif ialah berkenaan dengan hasil

   kemajuan belajar siswa, meliputi pengetahuan, keterampilan, sikap dan

   penguasaan terhadap bahan p[elajaran yang disajikan.

2. Penilaian Sumatif

1) Fungsi penilaian sumatif adalah untuk menentukan angka atau nilai siswa

   setelah mengikuti program bahan pengajaran dalam satu semester, akhir tahun

   atau akhir dari suatu proram pengajaran dari suatu unit pendidikan. Disamping

   itu untuk memperbaiki situasi proses belajar mengajar kearah yang lebih baik

   serta untuk kepentingan penilaian selanjutnya
                                                                             42



2) Tujuan penilaian sumatif adalahUntuk mengetahui taraf hasil belajar yang

   dicapai oleh para siswa setelah menyelsaikan program bahan pengajaran

   dalam satu semester, akhir tahun atau akhir suatu progarm bahan pengajaran

   pada suatau unit pendidikan tertentu.

3) Aspek –aspek yang dinilai dalam penilaian sumatif adalah beberapa hal yang

   berkenaan dengan hasil kemajuan belajar siswa, meliputi pengetahuan,

   keterampilan, sikap dan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran yang

   diberikan.

4) Waktu pelaksanaan penilaian sumatif yaitu setelah siswa menyelesaikan

   program bahan dalam satu semester, akhir tahun atau setelah selesai penyajian

   program bahan pengajaran dalam suatu unit pendidikan tertentu.

3. Penilaian Penempatan (Placement)

1) Fungsi penilaian penempatan adalah utuk mengetahui keadaan anak sepintas

   lalu termasuk keadaan seluruh pribadinya agar aanak tersebut dapat

   ditempatkan pada posisinya.

       Umpamanya : Anak yang berbadan kecil jangan ditempatkan paling

belakang, tetapi sebaiknya di depan, agar tidak mengalami kesulitan untuk

mengikuti proses belajar mengajar yang dilaksanakan.

       Penilaian ini juga bisa dilakukan pada Sekolah Menengah Atas yang

memiliki jurusan atau pembegian kejuruan, anak yang memiliki bakat ilmu pasti

jangan dittempatkan pada jurusan bahasa. Anak tersebut akan mendapat hmbatan

dalam menerima pelajaran lebih lannjut.

2) Tujuan penilaian penempatan adalah untuk menempatkan anak didik pada

   kedudukan yang sebebarnya berdasarkan bakat, minat, kemampuan,
                                                                             43



   kesanggupan serta keadaan-keadaan diri anak, sehingga anak tidak mengalami

   hambatan dalam mengikuti setiap program bahan yang disajikan guru.

3) Aspek-aspek yang dinilai meliputi keadaan fisik, psychis, bakat, kemampuan,

   pengetahuan, keterampilan, sikap ddan aspek lain yang dianggap perlu bagi

   kepentingan pendidikanb selanjutnya.

4) Waktu pelaksanaan penilaian ini sebaiknya dilaksanakan sebelum anak

   mengikuti proses belajar mengajar atau anak tersebut baru akan mengikuti

   pendidikan di suatu tingkatan tertentu. Kemungkinan dapat juga dilakukan

   setelah anak mengikuti pelajaran selama satu semester, akhir tahun atau akhir

   program pengajaran yang disesuaikan dengan maksud dari suatu lembaga

   pendidikan yang bersangkutan.

4. Penilaian Diagnostik

1) Fungsi penilaian diagnostik adalah untuk mengetahui masalah-masalah apa

   yang dialami atau yang mengganggu anak didik, sehingga anak            didik

   mengalami kesulitan, hambatan atau gangguan ketika mengikuti program

   pembelajaran pada suatu bidang studi tertentu atau keseluruhan bidang studi

   serta bagaimana usaha untuk pemecahan kesulitan tersebut.

2) Tujuan penilaian diagnostik adalah untuk mengatasi atau membantu

   pemecahan kesulitan atau hambatan yang dialami anak didik waktu mengikuti

   proses belajar mengajar pada suatu bidang studi atau keseluruhan program

   pembelajaran.

3) Aspek-aspek yang dinilai termasuk hasil belajar yang diperoleh siswa, latar

   belakang kehidupannya serta semua aspek yang menyangkut kegiatan belajar

   mengajar.
                                                                                 44



4) Waktu pelaksanaan tes diagnostik ini disesuaikan dengan keperluan

   pembinaan dari suatu lembaga pendidikan dalam rangka meningkatklan mutu

   pengetahuan anak didik (Nasrun Harahap, 1979:23-28).

2.4.14 Cara pengolahan hasil penilaian

       Pengolahan hasil penilaian secara singkat ada empat macam cara, yaitu :

1. Pengolahan soal demi soal, bertujuan untuk mengetahui berapa jumlah atau

   persentase siswa yang gagal dan siswa yang berhasil dalam setiap soal tes.

2. Standard mutlak, untuk hasil belajar yang dicapai oleh setiap siswa bila

   dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

3. Pengolahan hasil tes secara keseluruhan, yaitu untuk menentukan nilai atau

   angka dari setiap siswa setelah menyelesaikan tes tertentu.

4. Standard yang relatif, yaitu hasil yang telah dicapai oleh siswa dibandingkan

   dengan nilai rata-rata kelompok siswa dalam kelasnya.
                                   BAB III

                          METODE PENELITIAN


3.1 Populasi

       Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Suharsimi Arikunto, 2002:

108). Populasi adalah sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit

mempunyai sifat yang sama (Sutrisno Hadi, 2000:220). Populasi adalah

keseluruhan individu yang ada, yang pernah dan mungkin ada yang merupakan

sasaran yang sesungguhnya dari suatu penelitian (T. Raka Joni, 1984:201)

       Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa D2

PGPJSD yang ada di Tegal sebanyak 2 kelas.



3.2 Sampel

       Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Suharsimi

Arikunto, 2002:109). Sampel adalah sejumlah kecil individu yang diambil dari

keseluruhan individu serupa yang ada dan mungkin pernah ada (T. Raka Joni,

1984:202). Teknik sampel dalam penelitian ini adalah total sampling, karena

dalam pengambilan sampelnya peneliti mengambil semua subyek yang ada di

dalam populasi untuk dipilih menjadi sampel. Sampel di sini adalah mahasiswa

program D2 PGPJSD yang ada di Tegal sejumlah 81 orang.



3.3 Variabel Penelitian

       Variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik

perhatian suatu penelitian (Suharsimi Arikunto, 2002:96). Variabel penelitian


                                      45
                                                                                 46



dalam penelitian ini adalah hasil aplikasi proses pelaksanaan evaluasi pendidikan

jasmani di Sekolah Dasar tahun 2004.



3.4 Metode Pengumpulan Data

       Untuk memperolah data yang tepat dan benar diperlukan penggunaan

metode yang tepat dan benar pula. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini

terdiri dari dua bagian :

1. Metode Dokumentasi.

       Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data berupa catatan

tertulis, dapat dipertanggungjawabkan sebagai alat bukti yang resmi (Suharsimi

Arikunto, 2002:131). Dokumentasi tersebut dapat berupa hal-hal atau variabel

yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat,

agenda dan sebagainya.

2. Metode Angket/Kuesioner

       Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk

memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau

hal-hal yang ia ketahui (Suharsimi Arikunto 2002:120). Dalam penelitian ini

angket yang digunakan sebagai metode utama yang berfungsi untuk

mengumpulkan data mengenai aplikasi proses pelaksanaan evaluasi pendidikan

jasmani di Sekolah Dasar tahun 2004. Dalam hal ini angket yang digunakan

adalah tipe pilihan. Angket ini digunakan untuk mengetahui tanggapan responden

terhadap pertanyaan yang diajukan. Dengan angket ini responden mudah
                                                                            47



memberikan jawaban karena alternatif jawaban sudah disediakan dan hanya

membutuhkan waktu yang lebih singkat dalam menjawabnya.

         Metode kuesioner ini digunakan untuk mengambil data mengenai aplikasi

proses pelaksanaan evaluasi pendidikan jasmani di Sekolah Dasar Tahun 2004.

Untuk setiap item pertanyaan masing-masing jawaban diberi skor 1-4, adapun

penskorannya sebagai berikut :

a. Jawaban a diberi skor 4
b. Jawaban b diberi skor 3
c. Jawaban c diberi skor 2
d. Jawaban d diberi skor 1



3.5 Analisis data

3.5.1    Analisis Angket

1. Validitas angket

         Suatu instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data variabel

yang diteliti secara tepat (Suharsimi Arikunto, 1998:136). Validitas soal

ditentukan dengan menggunakan teknik korelasi product moment angka kasar:

                N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )
rxy =
         {N ∑ X   2
                               }{
                      − (∑ X ) 2 N ∑ Y 2 − (∑ Y ) 2   }
rxy
      = koefisien korelasi

X     = skor butir

Y     = skor total
N     = jumlah subyek
(Suharsimi Arikunto, 1998:256).
                                                                             48



          Berdasarkan hasil uji validitas angket penelitian pada lampiran

menunjukkan bahwa dari 31 butir angket yang diuji cobakan terdapat 30 butir

angket yang valid karena memiliki harga rxy > rtabel= 0,44 untuk α = 5% dengan,

N = 20 dan terdapat 1 butir angket yang tidak valid karena memiliki harga rxy

< rtabel= 0,44 untuk α = 5% dengan N = 10. Selanjutnya 30 butir soal yang valid

tersebut penomorannya diurutkan kembali dan dapat digunakan untuk

pengambilan data penelitian (perhitungan selengkapnya pada lampiran sejumlah 4

halaman yaitu halaman ……………………)

2. Reliabilitas angket

          Reliabilitas dapat menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu

instrumen untuk bisa dipercaya sebagai alat pengumpul data. Dengan kata lain

reabilitas diartikan sebagai kemantapan hasil mengukur tes (T. Raka Joni,

1984:2001). Untuk menguji reliabilitas digunakan rumus alpha sebagai berikut :

      ⎡ K ⎤ ⎡ ∑ σb ⎤
                       2

r11 = ⎢        ⎥⎢ 1− 2 ⎥
      ⎣ (K −1) ⎦ ⎢
                 ⎣   σt ⎥⎦

Keterangan :

r11       = Koefisien reliabilitas.

K         = Banyaknya butir soal.

∑σ    2
      b
          = Jumlah varians butir.

σ2
 t        = Varians total. (Arikunto 2002:171)

          Untuk mencari varians butir dengan rumus :
                                                                                  49



                   Σ(X) 2
        Σ(X) 2 −
σ² =                 N
              N

Keterangan :

σ       = Varians tiap butir

X       = Jumlah skor butir

N       = Jumlah responden (Suharsimi Arikunto 2002:171)

         Berdasarkan hasil uji reliabilitas angket penelitian pada lampiran diperoleh

harga r11 = 0,936 > rtabel= 0,444 untuk α = 5% dengan N = 10. dengan

demikian angket tersebut reliabel dan dapat digunakan untuk pengambilan data

penelitian.

3.5.2    Analisis Data

         Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, perlu segera

dilakukan pengolahan data. Data dari hasil pengamatan dan angket dianalisis

secara deskriptif persentase dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Menghitung nilai responden dari masing-masing aspek atau sub variabel.

2. Merekap nilai.

3. Menghitung nilai rata-rata.

4. Menghitung persentase dengan rumus :

             R
    NP =       X 100%
            SM
    Keterangan :

    NP = Nilai dalam persen %

    R = Skor rata-rata yang dicapai siswa

    SM = Skor maksimal ideal

    (Nana Sudjana, 1989:46).
                                         BAB IV

                 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil Penelitian

        Pengolahan data penelitian dari jawaban yang diperoleh dari responden

terhadap pertanyaan yang tertuang dalam angket/kuesioner tentang kemampuan

mahasiswa PGPJSD dalam mempersiapkan evaluasi pendidikan jasmani di

Sekolah Dasar.

        Gambaran kemampuan mahasiswa PGPJSD dalam mempersiapkan

evaluasi pendidikan jasmani di Sekolah Dasar berdasarkan data yang diperoleh di

lapangan dari masing-masing indikator yaitu perencanaan, pre test, pelaksanaan,

post test dan penentuan nilai disajikan sebagai berikut :

4.1.1 Perencanaan

        Berdasarkan hasil analisis deskriptif persentase data kemampuan

mahasiswa PGPJSD dalam mempersiapkan evaluasi pendidikan jasmani di

Sekolah Dasar pada aspek perencanaan diperoleh hasil seperti pada bagan berikut:

:




                                 Gambar 4.1.
                    Perencanaan Evaluasi Pendidikan Jasmani
                              (Sumber : Hasil Penelitian 2004)


                                         50
                                                                                 51



                     Berdasarkan gamabr di atas terdapat 6 atau 9,52% dalam

             kategori sangat baik, 28 atau 44,44% yang merencanakan pengajaran

             dalam kategori baik, 23 atau 36,51% dalam kategori cukup baik, dan

             6 atau 9,52% dalam kategori kurang baik. Dengan demikian

             menunjukkan bahwa perencanaan evaluasi pendidikan jasmani di

             Sekolah Dasar tahun 2004 tersebut diperagakan dengan baik.


4.1.2 Pre Test

       Berdasarkan hasil analisis deskriptif persentase data kemampuan

mahasiswa PGPJSD dalam mempersiapkan evaluasi pendidikan jasmani di

Sekolah Dasar pada tahap pre test diperoleh hasil seperti pada bagan berikut :




                                 Gambar 4.2.
                    Pelaksanaan Pre Test Pendidikan Jasmani
                              (Sumber : Hasil Penelitian 2004)
                                                                            52



                    Berdasarkan gambar di atas diketahui bahwa terdapat 10 atau

             15,87% dalam kategori sangat baik, 30 atau 47,62% telah

             melaksanakan pre test dalam kategori baik, 17 atau 26,98% dalam

             kategori cukup baik, 4 atau 6,35% dalam kategori kurang baik dan 1

             atau 3,17% dalam kategori tidak baik. Dengan demikian hasil

             tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar telah melaksanakan pre

             test dalam evaluasi dengan kategori baik.


4.1.3 Pelaksanaan

       Berdasarkan hasil analisis deskriptif persentase data kemampuan

mahasiswa PGPJSD dalam mempersiapkan evaluasi pendidikan jasmani di

Sekolah Dasar pada tahap pelaksanaan memperoleh hasil seperti disajikan pada

bagan berikut :




                                  Gambar 4.3.
                    Pelaksanaan Evaluasi Pendidikan Jasmani
                        (Sumber : Hasil Penelitian 2004)
                                                                               53



        Berdasarkan bagan diatas di ketahui terdapat 11 atau 17,46% dalam

kategori sangat baik, 26 atau 41,27% yang melakukan evaluasi pendidikan

jasmani dalam kategori baik, 22 atau 34,92% dalam kategori cukup baik, 3 atau

4,76% dalam kategori kurang baik dan 1 atau 1,59% dalam kategori tidak baik.


4.1.4 Post Test

        Berdasarkan hasil analisis deskriptif persentase data kemampuan

mahasiswa PGPJSD dalam mempersiapkan evaluasi pendidikan jasmani di

Sekolah Dasar pada tahap post test diperoleh hasil seperti disajikan pada bagan

berikut :




                                 Gambar 4.4.
                   Pelaksanaan Post Test Pendidikan Jasmani
                       (Sumber : Hasil Penelitian 2004)
                                                                            54



        Berdasarkan gambar di atas diketahui terdapat 8 atau 12,70% dalam

kategori sangat baik, 36 atau 57,14% yang melaksanakan post test dalam kategori

baik, 12 atau 19,05% dalam kategori cukup baik, , 6 atau 9,52% dalam kategori

kurang baik dan 1 atau 1,59% dalam kategori tidak baik.


4.1.5 Penentuan Nilai

        Berdasarkan hasil analisis deskriptif persentase data kemampuan

mahasiswa PGPJSD dalam mempersiapkan evaluasi pendidikan jasmani di

Sekolah Dasar pada penentuan nilai diperoleh hasil seperti disajikan pada bagan

berikut :




                                 Gambar 4.5.
                      Penentuan Nilai Pendidikan Jasmani
                             (Sumber : Hasil Penelitian 2004)

        Berdasarkan gambar di atas diketahui bahwa terdapat 9 atau 14,29%

dalam kategori sangat baik, 31 atau 60,32% menentukan nilai dengan baik, 20
                                                                           55



atau 31,75% dalam kategori cukup baik, dan 3 atau 4,76% dalam kategori kurang

baik.



4.1.6 Proses Evaluasi Secara Keseluruhan

        Berdasarkan hasil analisis deskriptif persentase data kemampuan

mahasiswa PGPJSD dalam mempersiapkan evaluasi pendidikan jasmani di

Sekolah Dasar diperoleh hasil seperti disajikan pada bagan berikut :




                                  Gambar 4.6.
                       Proses Evaluasi Pendidikan Jasmani
                        (Sumber : Hasil Penelitian 2004)

        Berdasarkan gambar di atas diketahui bahwa terdapat 1 atau 1,59% dalam

kategori sangat baik, 38 atau 60,32% yang melaksanakan penilaian pendidikan

jasmani dalam kategori baik, 22 atau 34,92% dalam kategori cukup baik, 2 atau

3,17% dalam kategori kurang baik.
                                                                           56



4.2. Pembahasan

       Evaluasi merupakan bagian integral dari proses pendidikan karena dalam

proses pendidikan guru perlu mengetahui seberapa jauh proses pembelajaran yang

telah dicapai. Evaluasi merupakan sarana untuk menentukan pencapaian tujuan

pendidikan dan proses pengembangan ilmu sesuai tujuan yang diharapkan. Oleh

karena itu guru harus memiliki kemampuan melakukan proses evaluasi secara

baik. Adang Suherman (2000: 2) menjelaskan bahwa pemahaman dan penguasaan

dasar-dasar pendidikan jasmani secara mendalam perlu dimiliki oleh setiap

penyelenggara pendidikan jasmani.

       Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kemampuan mahasiswa

PGPJSD dalam mempersiapkan evaluasi pendidikan jasmani di Sekolah Dasar

sudah baik. Dari 63 mahasiswa yang menjadi responden dalam penelitian ini, 38

atau 60,32% telah melaksanakan proses evaluasi pendidikan jasmani dalam

kategori baik, dan 22 atau 34,32% telah melaksanakan evaluasi pendidikan

jasmani dalam kategori cukup baik. Hal ini menunjukkan mahasiswa D2 PGPJSD

telah mampu menjabarkan pelaksanaan evaluasi dalam Garis-garis Besar Program

Pengajaran (GBPP).


4.2.1 Perencanaan evaluasi

       Berdasarkan hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa terdapat 28 atau

44,44% yang telah merencanakan evaluasi pendidikan jasmani dalam kategori

baik, hal ini dibuktikan dengan penyusunan perencanaan evaluasi yang tertuang

dalam rencana program tahunan, program semester, program migguan serta

program remidial. Dengan baiknya penyusunan rencana evaluasi tersebut dapat

memudahkan proses pelaksanaan evaluasi sehingga mampu mencapai tujuan
                                                                              57



pembelajaran secara efektif dan efisien. Perencanaan pengajaran pendidikan

jasmani nampak lebih penting mengingat lingkungan pembelajarannya yang unik

yaitu waktu mengajar yang relatif terbatas.



4.2.2 Pre Test

       Berdasarkan hasil penelitian di atas ketahui terdapat 30 atau 47,62% telah

melaksanakan pre test dalam kategori baik. Tujuan dari pre test ini adalah untuk

mengetahui kemampuan awal dari masing-masing siswa dan mengetahui

kemampuan daras siswa sebagai perdoman dalam proses pembelajaran yang akan

dilaksanakan sehingga kegiatan pembelajaran terarah pada peningkatan

kemampuan siswa secara optimal.



4.2.3 Pelaksanaan

       Berdasarkan hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa kemampuan

mahasiswa PGPJSD dalam mempersiapkan evaluasi pendidikan jasmani di

Sekolah Dasar sudah baik, hal ini ditunjukkan dari 63 responden 26 atau 41,27%

telah melakukan evaluasi pendidikan jasmani dalam kategori baik. Hal ini

menunjukkan bahwa para calon guru tersebut telah melaksanakan seluruh

komponen evaluasi meliputi tes objektif, tes non objektif dan tes keterampilan

secara terprogram dan terencana.
                                                                              58



4.2.4 Post test

        Kegiatan post test dalam proses evaluasi pendidikan jasmani merupakan

kegiatan evaluasi akhir dari seluruh kegiatan belajar yang telah dilaksanakan.

Hasil penelitian di atas, menunjukkan bahwa sebagian besar yaitu 36 atau 57,14%

sudah melaksanakan post test sebagai bagian dari proses pendidikan jasmani

secara baik. Baiknya post test dalam proses evaluasi pendidikan secara umum dan

pendidikan    jasmani   pada   khususnya    menunjukkan     bahwa    guru   telah

menggunakan seluruh parameter keberhasilan siswa dalam kegiatan penilaian

secara baik, telah memperhatikan aspek kompetensi masing-masing siswa,

melakukan kegiatan remidial bagi siswa yang belum mencapai batas minimal

hasil belajar dan telah menguji validitas atau ketepatan alat ukur yang digunakan

dalam kegiatan evaluasi.



4.2.5 Penentuan nilai akhir

        Penentuan nilai akhir merupakan kegiatan akhir dari seluruh proses

evaluasi pendidikan yang dilakukan oleh guru. Akurat tidaknya penentuan nilai

akhir yang dilakukan oleh guru sangat tergantung dari parameter-parameter yang

digunakan dalam menentukan nilai akhir tersebut. Berdasarkan hasil penelitian di

atas, diketahui bahwa penentuan nilai akhir pendidikan jasmani di Sekolah Dasar

oleh mahasiswa D2 PGPJSD tahun 2004 sudah baik. Dalam pelaksanaan proses

evaluasi akhir telah memperhatikan aspek kognisi siswa, aspek afeksi siswa dan

aspek psikomotor siswa.
                                       BAB V

                            SIMPULAN DAN SARAN


5.1 Simpulan

       Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik

beberapa simpulan sebagai berikut :

1. Kemampuan mahasiswa PGPJSD dalam mempersiapkan evaluasi pendidikan

   jasmani di Sekolah Dasar termasuk kategori baik yang ditunjukkan dari

   sebagian besar yaitu 60,32% telah melaksanakan evaluasi secara baik.

2. Secara terperinci, ditinjau dari tiap-tiap aspek evaluasi menunjukkan bahwa

   mahasiswa calon guru telah melaksanakan perencanaan evaluasi, pre test,

   penilaian, post test dan penentuan nilai secara baik.

3. Dengan melihat hasil penelitian, baiknya hasil kemampuan mahasiswa

   PGPJSD dalam mempersiapkan evaluasi pendidikan jasmani di Sekolah Dasar

   yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa Mahasiswa D2 PGPJSD sudah

   memiliki kemampuan melaksanakan evaluasi pendidikan jasmani di Sekolah

   Dasar dengan baik.


5.2 Saran

       Dari hasil penelitian ini, peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut :

1. Dalam proses pelaksanaan evaluasi pendidikan jasmani di Sekolah Dasar,

   hendaknya mempertahankan pelaksanaan evaluasi yang sudah baik dan

   berusaha meningkatkannya agar menjadi lebih baik dengan cara meningkatkan

   kenerjanya.


                                       59
                                                                           60



2. Hendaknya guru pendidikan jasmani mampu mengatasi seluruh hambatan

   yang ada dengan cara melakukan kajian ulang pada pelaksanaan evaluasi hasil

   belajar yang telah dilakukannya.
                               DAFTAR PUSTAKA


Abdulkadir Ateng, 1992. Asas dan Landasan Pendidikan Jasmani, Jakarta :
      Depdikbud.

Aip Sarifudin, 1979. Evaluasi Olahraga, Jakarta : Depdikbud

E. Mulyasa, 2002. Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung : Remaja Rosdakarya.

………….., 2004.           Kurikulum     Berbasis    Kompetensi,    Bandung:   Remaja
   Rosdakarya.

Imam Sodikun, 2004. Pengembangan Sistem Penilaian Hasil Belajar Latihan
     Gerak, Yogyakarta : Seminar nasional.

Lukman Ali, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka

M. Ali, 1993. Penelitian Pendidikan Prosedur dan Strategi, Bandung : Angkasa.

Nana Sudjana, 2001. Teknologi Pengajaran, Bandung : Sinar Baru Algesindo.

Nasrun Harahap, 1979. Teknik Penilaian Hasil Belajar, Jakarta : Bulan Bintang.

Noehi Nasution, 1993. Psikologi Pendidikan, Jakarta : Universitas Terbuka

Rusli Ibrahim, 2000. Pengantar Pendidikan, Jakarta : Depdikbud.

…………….., 2000. Profesi Kependidikan, Jakarta : Depdikbud.

Rusli Lutan, 2000. Pengukuran dan Evaluasi Penjaskes, Jakarta : Depdiknas

Adang Suhirman, 2000. Perencanaan Pembelajaran Penjaskes, Jakarta :
     Depdikbud.

Suharsimi Arikunto, 2002. Prosedur Penelitian, Jakarta : Rineka cipta.

Supandi, 1992. Strategi Belajar Mengajar Pendidikan Jasmani dan Kesehatan,
      Jakarta : Depdikbud.

Sutrisno Hadi, 2000. Statistik Jilid II, Jakarta : Andi Offset

S. Sukardjo, 1992. Evaluasi Pengajaran Penjaskes, Jakarta : Depdikbud.

T. Raka Joni, 1984. Pengukuran dan Penilaian Pendidikan, Malang : YP2LPM.

Tim MKDK IKIP Semarang, 1996. Belajar dan Pembelajaran, Semarang : IKIP
     Press Semarang.


                                          61

				
DOCUMENT INFO