Docstoc

budaya lengkap jawa tengah

Document Sample
budaya lengkap  jawa tengah Powered By Docstoc
					Jawa Tengah adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa.
Provinsi ini berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat di sebelah barat, Samudra Hindia dan
Daerah Istimewa Yogyakarta di sebelah selatan, Jawa Timur di sebelah timur, dan Laut Jawa di
sebelah utara. Luas wilayahnya 32.548 km², atau sekitar 25,04% dari luas pulau Jawa. Provinsi
Jawa Tengah juga meliputi Pulau Nusakambangan di sebelah selatan (dekat dengan perbatasan
Jawa Barat), serta Kepulauan Karimun Jawa di Laut Jawa.

Pengertian Jawa Tengah secara geografis dan budaya kadang juga mencakup wilayah Daerah
Istimewa Yogyakarta. Jawa Tengah dikenal sebagai "jantung" budaya Jawa. Meskipun demikian
di provinsi ini ada pula suku bangsa lain yang memiliki budaya yang berbeda dengan suku Jawa
seperti suku Sunda di daerah perbatasan dengan Jawa Barat. Selain ada pula warga Tionghoa-
Indonesia, Arab-Indonesia dan India-Indonesia yang tersebar di seluruh provinsi ini.

Sejarah

Jawa Tengah sebagai provinsi dibentuk sejak zaman Hindia Belanda. Hingga tahun 1905, Jawa
Tengah terdiri atas 5 wilayah (gewesten) yakni Semarang, Rembang, Kedu, Banyumas, dan
Pekalongan. Surakarta masih merupakan daerah swapraja kerajaan (vorstenland) yang berdiri
sendiri dan terdiri dari dua wilayah, Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran, sebagaimana
Yogyakarta. Masing-masing gewest terdiri atas kabupaten-kabupaten. Waktu itu Rembang
Gewest juga meliputi Regentschap Tuban dan Bojonegoro.

Setelah diberlakukannya Decentralisatie Besluit tahun 1905, gewesten diberi otonomi dan
dibentuk Dewan Daerah. Selain itu juga dibentuk gemeente (kotapraja) yang otonom, yaitu
Pekalongan, Tegal, Semarang, Salatiga, dan Magelang.

Sejak tahun 1930, provinsi ditetapkan sebagai daerah otonom yang juga memiliki Dewan
Provinsi (Provinciale Raad). Provinsi terdiri atas beberapa karesidenan (residentie), yang
meliputi beberapa kabupaten (regentschap), dan dibagi lagi dalam beberapa kawedanan
(district). Provinsi Jawa Tengah terdiri atas 5 karesidenan, yaitu: Pekalongan, Jepara-Rembang,
Semarang, Banyumas, dan Kedu.

Menyusul kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1946 Pemerintah membentuk daerah swapraja
Kasunanan dan Mangkunegaran; dan dijadikan karesidenan. Pada tahun 1950 melalui Undang-
undang ditetapkan pembentukan kabupaten dan kotamadya di Jawa Tengah yang meliputi 29
kabupaten dan 6 kotamadya. Penetapan Undang-undang tersebut hingga kini diperingati sebagai
Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah, yakni tanggal 15 Agustus 1950.




                                    Peta lokasi Jawa Tengah

Pemerintahan

Secara administratif, Provinsi Jawa Tengah terdiri atas 29 kabupaten dan 6 kota. Administrasi
pemerintahan kabupaten dan kota ini terdiri atas 545 kecamatan dan 8.490 desa/kelurahan.

Sebelum diberlakukannya Undang-undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah, Jawa
Tengah juga terdiri atas 4 kota administratif, yaitu Purwokerto, Purbalingga, Cilacap, dan
Klaten. Namun sejak diberlakukannya Otonomi Daerah tahun 2001 kota-kota administratif
tersebut dihapus dan menjadi bagian dalam wilayah kabupaten.

Menyusul otonomi daerah, 3 kabupaten memindahkan pusat pemerintahan ke wilayahnya
sendiri, yaitu Kabupaten Magelang (dari Kota Magelang ke Mungkid), Kabupaten Tegal (dari
Kota Tegal ke Slawi), serta Kabupaten Pekalongan (dari Kota Pekalongan ke Kajen).

Daftar kabupaten dan kota

No.    Kabupaten/Kota               Ibu kota

1      Kabupaten Banjarnegara       Banjarnegara
2      Kabupaten Banyumas           Purwokerto
3      Kabupaten Batang             Batang
4      Kabupaten Blora              Blora
5      Kabupaten Boyolali           Boyolali
6      Kabupaten Brebes             Brebes
7      Kabupaten Cilacap            Cilacap
8      Kabupaten Demak              Demak
9      Kabupaten Grobogan           Purwodadi
10     Kabupaten Jepara             Jepara
11     Kabupaten Karanganyar        Karanganyar
12       Kabupaten Kebumen       Kebumen
13       Kabupaten Kendal        Kendal
14       Kabupaten Klaten        Klaten
15       Kabupaten Kudus         Kudus
16       Kabupaten Magelang      Mungkid
17       Kabupaten Pati          Pati
18       Kabupaten Pekalongan    Kajen
19       Kabupaten Pemalang      Pemalang
20       Kabupaten Purbalingga   Purbalingga
21       Kabupaten Purworejo     Purworejo
22       Kabupaten Rembang       Rembang
23       Kabupaten Semarang      Ungaran
24       Kabupaten Sragen        Sragen
25       Kabupaten Sukoharjo     Sukoharjo
26       Kabupaten Tegal         Slawi
27       Kabupaten Temanggung    Temanggung
28       Kabupaten Wonogiri      Wonogoro
29       Kabupaten Wonosobo      Wonosobo
30       Kota Magelang –
31       Kota Pekalongan –
32       Kota Salatiga –
33       Kota Semarang –
34       Kota Surakarta –
35       Kota Tegal -

Geografi




Relief
Menurut tingkat kemiringan lahan di Jawa Tengah, 38% lahan memiliki kemiringan 0-2%, 31%
lahan memiliki kemiringan 2-15%, 19% lahan memiliki kemiringan 15-40%, dan sisanya 12%
lahan memiliki kemiringan lebih dari 40%.

Kawasan pantai utara Jawa Tengah memiliki dataran rendah yang sempit. Di kawasan Brebes
selebar 40 km dari pantai, dan di Semarang hanya selebar 4 km. Dataran ini bersambung dengan
depresi Semarang-Rembang di timur. Gunung Muria pada akhir Zaman Es (sekitar 10.000 tahun
SM) merupakan pulau terpisah dari Jawa, yang akhirnya menyatu karena terjadi endapan aluvial
dari sungai-sungai yang mengalir. Kota Demak semasa Kesultanan Demak (abad ke-16 Masehi)
berada di tepi laut dan menjadi tempat berlabuhnya kapal. Proses sedimentasi ini sampai
sekarang masih berlangsung di pantai Semarang.

Di selatan kawasan tersebut terdapat Pegunungan Kapur Utara dan Pegunungan Kendeng, yakni
pegunungan kapur yang membentang dari sebelah timur Semarang hingga Lamongan (Jawa
Timur).

Rangkaian utama pegunungan di Jawa Tengah adalah Pegunungan Serayu Utara dan Serayu
Selatan. Rangkaian Pegunungan Serayu Utara membentuk rantai pegunungan yang
menghubungkan rangkaian Bogor di Jawa Barat dengan Pegunungan Kendeng di timur. Lebar
rangkaian pegunungan ini sekitar 30-50 km; di ujung baratnya terdapat Gunung Slamet dan
bagian timur merupakan Dataran Tinggi Dieng dengan puncak-puncaknya Gunung Prahu dan
Gunung Ungaran. Antara rangkaian Pegunungan Serayu Utara dan Pegunungan Serayu Selatan
dipisahkan oleh Depresi Serayu yang membentang dari Majenang (Kabupaten Cilacap),
Purwokerto, hingga Wonosobo. Sebelah timur depresi ini terdapat gunung berapi Sindoro dan
Sumbing, dan sebelah timurnya lagi (kawasan Temanggung dan Magelang) merupakan lanjutan
depresi yang membatasi Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pegunungan Serayu Selatan
merupakan pengangkatan zone Depresi Bandung.

Kawasan pantai selatan Jawa Tengah juga memiliki dataran rendah yang sempit, dengan lebar
10-25 km. Perbukitan yang landai membentang sejajar dengan pantai, dari Yogyakarta hingga
Cilacap. Sebelah timur Yogyakarta merupakan daerah pegunungan kapur yang membentang
hingga pantai selatan Jawa Timur.
[sunting] Hidrologi

Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa (572 km); memiliki mata air di
Pegunungan Sewu (Kabupaten Wonogiri), sungai ini mengalir ke utara, melintasi Kota
Surakarta, dan akhirnya menuju ke Jawa Timur dan bermuara di daerah Gresik (dekat Surabaya).
Sungai-sungai yang bermuara di Laut Jawa diantaranya adalah Kali Pemali, Kali Comal, dan
Kali Bodri. Sedang sungai-sungai yang bermuara di Samudra Hindia diantaranya adaah Serayu
dan Kali Progo. Diantara waduk-waduk yang utama di Jawa Tengah adalah Waduk
Gajahmungkur (Kabupaten Wonogiri), Waduk Kedungombo (Kabupaten Boyolali dan Sragen),
Rawa Pening (Kabupaten Semarang), Waduk Cacaban (Kabupaten Tegal), Waduk Malahayu
(Kabupaten Brebes), dan Waduk Sempor (Kabupaten Kebumen).
[sunting] Gunung berapi
Terdapat 6 gunung berapi yang aktif di Jawa Tengah, yaitu: Gunung Merapi (di Boyolali),
Gunung Slamet (di Pemalang), Gunung Sindoro (di Temanggung - Wonosobo), Gunung
Sumbing ( di Temanggung - Wonosobo), dan Gunung Dieng (di Banjarnegara).
[sunting] Keadaan tanah

Menurut Lembaga Penelitian Tanah Bogor tahun 1969, jenis tanah wilayah Jawa Tengah
didominasi oleh tanah latosol, aluvial, dan gromosol; sehingga hamparan tanah di provinsi ini
termasuk tanah yang mempunyai tingkat kesuburan yang relatif subur.
[sunting] Iklim

Jawa Tengah memiliki iklim tropis, dengan curah hujan tahunan rata-rata 2.000 meter, dan suhu
rata-rata 21-32oC. Daerah dengan curah hujan tinggi terutama terdapat di Nusakambangan
bagian barat, dan sepanjang Pegunungan Serayu Utara. Daerah dengan curah hujan rendah dan
sering terjadi kekeringan di musim kemarau berada di daerah Blora dan sekitarnya serta di
bagian selatan Kabupaten Wonogiri.
[sunting] Penduduk
Demografi

Jumlah penduduk Provinsi Jawa Tengah adalah 30.775.846 jiwa. Kabupaten/kota dengan jumlah
penduduk terbesar adalah Kabupaten Brebes (1,767 juta jiwa), Kabupaten Cilacap (1,644 juta
jiwa), dan Kabupaten Banyumas (1,603 juta jiwa).

Sebaran penduduk umumnya terkonsentrasi di pusat-pusat kota, baik kabupaten ataupun kota.
Kawasan permukiman yang cukup padat berada di daerah Semarang Raya (termasuk Ungaran
dan sebagian wilayah Kabupaten Demak dan Kendal), Solo Raya (termasuk sebagian wilayah
Kabupaten Karanganyar, Sukoharjo, dan Boyolali), serta Tegal-Brebes-Slawi.

Pertumbuhan penduduk Provinsi Jawa Tengah sebesar 0,67% per tahun. Pertumbuhan penduduk
tertinggi berada di Kabupaten Demak (1,5% per tahun), sedang yang terendah adalah Kota
Pekalongan (0,09% per tahun).

Dari jumlah penduduk ini, 47% diantaranya merupakan angkatan kerja. Mata pencaharian paling
banyak adalah di sektor pertanian (42,34%), diikuti dengan perdagangan (20,91%), industri
(15,71%), dan jasa (10,98%).
[sunting] Suku

Mayoritas penduduk Jawa Tengah adalah Suku Jawa. Jawa Tengah dikenal sebagai pusat budaya
Jawa, di mana di kota Surakarta dan Yogyakarta terdapat pusat istana kerajaan Jawa yang masih
berdiri hingga kini.

Suku minoritas yang cukup signifikan adalah Tionghoa, terutama di kawasan perkotaan
meskipun di daerah pedesaan juga ditemukan. Pada umumnya mereka bergerak di bidang
perdagangan dan jasa. Komunitas Tionghoa sudah berbaur dengan Suku Jawa, dan banyak
diantara mereka yang menggunakan Bahasa Jawa dengan logat yang kental sehari-harinya.
Selain itu di beberapa kota-kota besar di Jawa Tengah ditemukan pula komunitas Arab-
Indonesia. Mirip dengan komunitas Tionghoa, mereka biasanya bergerak di bidang perdagangan
dan jasa.

Di daerah perbatasan dengan Jawa Barat terdapat pula orang Sunda yang sarat akan budaya
Sunda, terutama di wilayah Cilacap, Brebes, dan Banyumas. Di pedalaman Blora (perbatasan
dengan provinsi Jawa Timur) terdapat komunitas Samin yang terisolir, yang kasusnya hampir
sama dengan orang Kanekes di Banten.
Bahasa

Meskipun Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi, umumnya sebagian besar menggunakan
Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa Jawa Dialek Solo-Jogja dianggap sebagai
Bahasa Jawa Standar.

Di samping itu terdapat sejumlah dialek Bahasa Jawa; namun secara umum terdiri dari dua,
yakni kulonan dan timuran. Kulonan dituturkan di bagian barat Jawa Tengah, terdiri atas Dialek
Banyumasan dan Dialek Tegal; dialek ini memiliki pengucapan yang cukup berbeda dengan
Bahasa Jawa Standar. Sedang Timuran dituturkan di bagian timur Jawa Tengah, diantaranya
terdiri atas Dialek Solo, Dialek Semarang. Diantara perbatasan kedua dialek tersebut, dituturkan
Bahasa Jawa dengan campuran kedua dialek; daerah tersebut diantaranya adalah Pekalongan dan
Kedu.

Di wilayah-wilayah berpopulasi Sunda, yaitu di kabupaten Brebes bagian selatan, dan kabupaten
Cilacap utara sekitar kecamatan Dayeuhluhur, orang Sunda masih menggunakan bahasa Sunda
dalam kehidupan sehari-harinya.
Agama

Sebagian besar penduduk Jawa Tengah beragama Islam dan mayoritas tetap mempertahankan
tradisi Kejawen yang dikenal dengan istilah abangan.

Agama lain yang dianut adalah Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, dan puluhan
aliran kepercayaan. Penduduk Jawa Tengah dikenal dengan sikap tolerannya. Sebagai contoh di
daerah Muntilan, Kabupaten Magelang banyak dijumpai penganut agama Katolik, dan dulunya
daerah ini merupakan salah satu pusat pengembangan agama Katolik di Jawa.
Perekonomian

Pertanian merupakan sektor utama perekonomian Jawa Tengah, dimana mata pencaharian di
bidang ini digeluti hampir separuh dari angkatan kerja terserap.

Kawasan hutan meliputi 20% wilayah provinsi, terutama di bagian utara dan selatan. Daerah
Blora-Grobogan merupakan penghasil kayu jati. Jawa Tengah juga terdapat sejumlah industri
besar dan menengah. Daerah Semarang-Ungaran-Demak-Kudus merupakan kawasan industri
utama di Jawa Tengah. Kudus dikenal sebagai pusat industri rokok. Cilacap terdapat industri
semen.
Blok Cepu di pinggiran Kabupaten Blora (perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah) terdapat
cadangan minyak bumi yang cukup signifikan, dan kawasan ini sejak zaman Hindia Belanda
telah lama dikenal sebagai daerah tambang minyak.
Transportasi

Jawa Tengah dilalui beberapa ruas jalan nasional, yang meliputi jalur pantura (menghubungkan
Jakarta-Semarang-Surabaya-Banyuwangi), jalur Tegal-Purwokerto, jalur lintas selatan
(menghubungkan Bandung-Yogyakarta-Surakarta-Madiun-Surabaya), serta jalur Semarang-
Solo. Losari, pintu gerbang Jawa Tengah sebelah barat dapat ditempuh 3,5 - 4 jam perjalanan
dari Jakarta. Saat ini telah dibangun ruas jalan tol yang menghubungkan Semarang dan Solo,
sehingga mempersingkat waktu tempuh dan memperlancar kegiatan perekonomian.

Jawa Tengah merupakan provinsi yang pertama kali mengoperasikan jalur kereta api, yakni pada
tahun 1862 dengan rute Semarang-Yogyakarta, namun jalur ini sekarang tidak lagi dipakai. Saat
ini jalur kereta api yang melintasi Jawa Tengah adalah lintas utara (Jakarta-Semarang-Surabaya),
lintas selatan (Bandung-Yogyakarta-Surabaya), jalur Kroya-Cirebon, dan jalur Solo-Gundih-
Semarang. Jalur kereta Solo-Wonogiri yang telah lama mati dihidupkan kembali pada tahun
2005.

Untuk transportasi udara, Bandara Ahmad Yani di Semarang dan Bandara Adi Sumarmo di
Surakarta merupakan bandara komersial yang paling penting di Jawa Tengah. Selain itu juga
terdapat Bandara Tunggulwulung di Cilacap dan Bandara Wirasaba di Purbalingga. Penerbangan
Jakarta-Semarang atau Jakarta-Surakarta dapat ditempuh dalam waktu 45-50 menit.
Komunikasi dan Media Massa

Semarang, Surakarta, Purwokerto, dan Tegal merupakan kota-kota di mana biasanya terdapat
stasiun relay televisi swasta nasional. Beberapa stasiun televisi lokal di Jawa Tengah adalah TV
Borobudur, Pro-TV, Cakra Semarang TVdan TVKU (di Semarang); TATV (di Surakarta);
TegalTV (di Tegal); Kebumen TV (di Kebumen); dan Banyumas TV (di Banyumas).

Suara Merdeka, harian yang terbit dari Semarang, adalah surat kabar dengan sirkulasi tertinggi
di Jawa Tengah; harian ini juga memiliki edisi lokal Suara Pantura dan Suara Solo. Di samping
itu terdapat koran jaringan Jawa Pos Group, baik yang terbit bersama induknya Jawa Pos (Radar
Solo, Radar Jogja, Radar Semarang, dan Radar Kudus) maupun yang terbit sendiri (Meteor, Solo
Pos, Radar Tegal, Radar Banyumas Joglosemar).

Selain itu, di Semarang masih ada beberapa radio yang merupakan jaringan radio news dan
hiburan nasional Jakarta, diantaranya 89,8 Trijaya FM; 91,00 Elsinta FM; 93,4 Smart FM; 106,0
PAS FM, Female FM, dan beberapa radio news maupun hiburan lokal lain seperti Rasika FM,
Gajahmada FM, Suara Sakti FM, Idola FM, Imelda FM, CFM, SoloPos FM, dll.
Pendidikan Tinggi di Jawa Tengah

Jawa Tengah memiliki sejumlah perguruan tinggi terkemuka, terutama di kota Semarang dan
Surakarta. Perguruan tinggi negeri meliputi: Universitas Diponegoro (Undip), Universitas
Negeri Semarang (Unnes), dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN)Walisongo di Semarang;
Universitas Negeri Surakarta (UNS) di Solo, serta Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) di
Purwokerto

Sedangkan universitas swasta terkemuka adalah Universitas Dian Nuswantoro Semarang
(UDINUS), Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di Salatiga, Universitas Islam Sultan
Agung (Unissula) dan Unika Soegijapranata di Semarang, STIE Bank BPD Jateng, Universitas
Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muhammadiyah Magelang serta Universitas Panca Sakti
di Tegal.

Universitas Dian Nuswantoro Semarang (UDINUS) telah bekerja sama dalam bentuk
TWINNING PROGRAM dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan JOINT PROGRAM
dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya(ITS). Selain itu UDINUS juga telah
bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi terkemuka lainnya seperti Universitas Indonesia
(UI), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Malaysia Multimedia Universiti (MMU).
Selain itu UDINUS merupakan satu-satunya perguruan tinggi swasta yang memiliki Televisi
Kampus UDINUS berijin dengan nama TVKU.

Selain itu juga terdapat Akademi Angkatan Darat (AAD) dan SMA Taruna Nusantara di
Magelang serta Akademi Kepolisian di Semarang. LPLP Tutuko adalah lembaga pendidikan
aviasi dan maintenance penerbangan (mekanik) di Surakarta (Jl. Merapi, Surakarta) dan
Yogyakarta (Jl. Sorosutan, Yogyakarta).

Berbagai pendidikan kesehatan seperti akademi keperawatan dan akademi kebidanan.

Pendidikan kursus dan pelatihan untuk instansi, organisasi, perorangan (privat) dan umum.
Pariwisata

Jawa Tengah banyak terdapat obyek wisata yang sangat menarik. Kota Semarang memiliki
sejumlah bangunan kuno. Obyek wisata lain di kota ini termasuk Puri Maerokoco (Taman Mini
Jawa Tengah) dan Museum Rekor Indonesia (MURI).

Salah satu kebanggaan provinsi ini adalah Candi Borobudur, yakni monumen Buddha terbesar di
dunia yang dibangun pada abad ke-9, terdapat di Kabupaten Magelang. Candi Mendut dan
Pawon juga terletak satu kompleks dengan Borobudur.

Candi Prambanan di perbatasan Kabupaten Klaten dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan
kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Di kawasan Dieng terdapat kelompok candi-candi
Hindu, yang diduga dibangun sebelum era Mataram Kuno. Kompleks candi Gedong Songo
terletak di lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang.

Surakarta dipandang sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa, dimana di kota ini terdapat
Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Obyek wisata menarik di luar kota ini adalah Air
Terjun Grojogan Sewu dan candi-candi peninggalan Majapahit di Kabupaten Karanganyar; serta
Museum Fosil Sangiran yang terletak di jalur Solo-Purwodadi.
Bagian selatan Jawa Tengah juga menyimpan sejumlah obyek wisata alam menarik, diantaranya
Goa Jatijajar dan Pantai Karangbolong di Kabupaten Kebumen, serta Baturraden di Kabupaten
Banyumas. Di bagian utara terdapat Obyek Wisata Guci di lereng Gunung Slamet, Kabupaten
Tegal; serta Kota Pekalongan yang dikenal dengan julukan 'kota batik'.

Kawasan pantura barat banyak menyimpan wisata religius. Masjid Agung Demak yang didirikan
pada abad ke-16 merupakan bangunan artistik dengan paduan arsitektur Islam dan Hindu.
Demak adalah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Kawasan pantura barat terdapat 3 makam
wali sanga, yakni Sunan Kalijaga di Demak, Sunan Kudus di kota Kudus, dan Sunan Muria di
Kabupaten Kudus. Kudus juga dikenal sebagai 'kota kretek', dan kota ini juga terdapat museum
kretek.

Upacara Khas Suku Jawa !

* Kematian Mendhak

Tradisi Mendhak adalah salah satu ritual dalam adat istiadat kematian budaya Jawa. Upacara
tradisional Mendhak dilaksanakan secara individu atau berkelompok untuk memperingati
kematian seseorang. Peralatan dan perlengkapan yang diperlukan untuk upacara tradisional
Mendhak adalah sebagai berikut: tumpeng, sega uduk, side dishes, kolak, ketan, dan apem.
Kadang-kadang, sebelum atau sesudah upacara Mendhak dilaksanakan, sanak keluarga dapat
mengunjungi makam saudara mereka.

Upacara tradisional ini dilaksanakan tiga kali dalam seribu hari setelah hari kematian: pertama
disebut Mendhak Pisan, upacara untuk memperingati satu tahun kematian (365 hari); kedua
disebut Mendhak Pindho sebagai upacara peringatan dua tahun kematian; ketiga disebut sebagai
Mendhak Telu atau Pungkasan atau Nyewu Dina, yang dilaksanakan pada hari ke seribu setelah
kematian.

Menurut kepercayaan Jawa, setelah satu tahun kematian, arwah dari saudara yang diperingati
kematiannya tersebut telah memasuki dunia abadi untuk selamanya. Menurut kepercayaan juga,
untuk memasuki dunia abadi tersebut, arwah harus melalui jalan yang sangat panjang; oleh
karena itu penting sekali diadakannya beberapa upacara untuk menemani perjalanan sang arwah.

* Kematian surtanah

Tradisi kematian dalam adat Jawa salah sataunya adalah Upacara Surtanah yang bertujuan agar
arwah atau roh orang mati mendapat tempat yang layak di sisi Sang Maujud Agung.

Perlengkapan upacara: - Golongan bangsawan: tumpeng asahan lengkap dengan lauk, sayur
adem (tidak pedas), pecel dengan sayatan daging ayam goreng/panggang, sambal docang dengan
kedelai yang dikupas, jangan menir, krupuk, rempeyek, tumpeng ukur-ukuran, nasi gurih, nasi
golong, dan pisang raja. - Golongan rakyat biasa: tumpeng dengan lauknya, nasi golong,
ingkung dan panggang ayam, nasi asahan, tumpeng pungkur, tumpeng langgeng, pisang sajen,
kembang setaman, kinang, bako enak dan uang bedah bumi.
Upacara ini diadakan setelah mengubur jenazah yang dihadiri oleh keluarga, tetangga dekat, dan
pemuka agama.

* Upacara nyewu dina

Inti dari upacara ini memohon pengampunan kepada Tuhan. Perlengkapan upacara: - Golongan
bangsawan: takir pentang yang berisi lauk, nasi asahan, ketan kolak, apem, bunga telon
ditempatkan distoples dan diberi air, memotong kambing, dara/merpati, bebek/itik, dan
pelepasan burung merpati. - Golongan rakyat biasa: nasi ambengan, nasi gurih, ketan kolak,
apem, ingkung ayam, nasi golong dan bunga yang dimasukan dalam lodong serta kemenyan.

Upacara tersebut diadakan setelah maghrib dan diikuti oleh keluarga, ulama, tetangga dan relasi.

* Upacara Brobosan

Salah satu upacara tradisional dalam adat istiadat kematian jawa adalah upacara Brobosan.
Upacara Brobosan ini bertujuan untuk menunjukkan penghormatan dari sanak keluarga kepada
orang tua dan leluhur mereka yang telah meninggal dunia. Upacara Brobosan diselenggarakan di
halaman rumah orang yang meninggal, sebelum dimakamkan, dan dipimpin oleh anggota
keluarga yang paling tua.

Tradisi Brobosan dilangsungkan secara berurutan sebagai berikut: 1) peti mati dibawa keluar
menuju ke halaman rumah dan dijunjung tinggi ke atas setelah upacara doa kematian selesai, 2)
anak laki-laki tertua, anak perempuan, cucu laki-laki dan cucu perempuan, berjalan berurutan
melewati peti mati yang berada di atas mereka (mrobos) selama tiga kali dan searah jarum jam,
3) urutan selalu diawali dari anak laki-laki tertua dan keluarga inti berada di urutan pertama;
anak yang lebih muda beserta keluarganya mengikuti di belakang.

UPACARA ADAT KELAHIRAN SUKU JAWA

Upacara tradisional ini menyimbolkan penghormatan sanak keluarga yang masih hidup kepada
orang tua dan leluhur mereka.

Salah satu tradisi kelahiran dalam budaya Jawa adalah Selapanan. Upacara Selapanan bertujuan
memohon keselamatan bagi si bayi. Perlengkapan upacara yang dibutuhkan adalah sebagai
berikut:
- Golongan bangsawan: Nasi tumpeng gudangan, nasi tumpeng kecil yang ujungnya ditancapi
tusukan bawang merah dan cabe merah, bubur lima macam, jajan pasar, nasi golong, nasi gurih,
sekul asrep-asrepan, pecel ayam, pisang, kemenyan, dan kembang setaman diberi air.
- Golongan rakyat biasa: Tumpeng nasi gurih dengan lauk, nasi tumpeng among-among, nasi
golong, jenang abang putih, ingkung dan panggang ayam.
Upacara terakhir dalam rangkaian selamatan kelahiran yang dilakukan pada hari ke 36 sesuai
dengan weton atau hari pasaran kelahiran si bayi. Selapanan diadakan setelah maghrib dan
dihadiri oleh si bayi, ayah, dukun, ulama, famili dan keluarga terdekat.

UPACARA PERNIKAHAN SUKU JAWA

Pesta pernikah adat Jawa mempunya beraneka ragam tradisi. Pemaes, dukun pengantin
perempuan di mana menjadi pemimpin dari acara pernikahan, itu sangat penting. Dia mengurus
dandanan dan pakaian pengantin laki-laki dan pengantin perempuan yang bentuknya berbeda
selama pesta pernikahan. Biasanya dia juga menyewakan pakaian pengantin, perhiasan dan
perlengkapan lain untuk pesta pernikahan.

Banyak yang harus dipersiapkan untuk setiap upacara pesta pernikahan. Panitia kecil terdiri dari
teman dekat, keluarga dari kedua mempelai. Besarnya panitia itu tergantung dari latar belakang
dan berapa banyaknya tamu yang di undang (300, 500, 1000 atau lebih). Sesungguhnya upacara
pernikahan itu merupakan pertunjukan besar.

Panitia mengurus seluruh persiapan perkawinan: protokol, makanan dan minuman, musik
gamelan dan tarian, dekorasi dari ruangan resepsi, pembawa acara, wali untuk Ijab, pidato
pembuka, transportasi, komunikasi dan keamanan. Persiapan yang paling penting adalah Ijab
(catatan agama dan catatan sipil), dimana tercatat sebagai pasangan suami istri.

Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan, pintu gerbang dari rumah orangtua wanita dihias
dengan Tarub (dekorasi tumbuhan), terdiri dari berbeda Tuwuhan (tanaman dan daun).

* Dua pohon pisang dengan setandan pisang masak berarti: Suami akan menjadi pemimpin yang
baik di keluarga. Pohon pisang sangat mudah tumbuh dimana saja. Pasangan pengantin akan
hidup baik dan bahagia dimana saja.
* Sepasang Tebu Wulung berarti: Seluruh keluarga datang bersama untuk bantuan nikah.
* Cengkir Gading berarti: Pasangan pengantin cinta satu sama lain dan akan merawat keluarga
mereka.
* Bentuk daun seperti beringin, mojo-koro, alang-alang, dadap srep berarti: Pasangan pengantin
akan hidup aman dan melindungi keluarga.

bekletepe di atas pintu gerbang berarti menjauhkan dari gangguan roh jahat dan menunjukan di
rumah mana pesta itu diadakan.

Kembar Mayang adalah karangan dari bermacam daun (sebagian besar daun kelapa di dalam
batang pohon pisang). Itu dekorasi sanggat indah dan menpunya arti yang luas.

* Itu menpunyai bentuk seperti gunung: Gunung itu tinggi dan besar, berarti laki-laki harus
punya banyak pengetahuan, pengalaman dan kesabaran.
* Keris: Melukiskan bahwa pasangan pengantin berhati-hati dalam kehidupan, pintar dan
bijaksana.
* Cemeti: Pasangan pengantin akan selalu hidup optimis dengan hasrat untuk kehidupan yang
baik.
* Payung: Pasangan pengantin harus melindungi keluarganya.
* Belalang: Pasangan pengantin akan giat, cepat berpikir dalam mengambil keputusan untuk
keluarganya.
* Burung: Pasangan pengantin mempunyai motivasi hidup yang tinggi.
* Daun Beringin: Pasangan pengantin akan selalu melindungi keluarganya dan masyarakat
sekitarnya.
* Daun Kruton: Daun yang melindungi mereka dari gangguan setan.
* Daun Dadap srep: Daun yang dapat digunakan mengompres untuk menurunkan demam,
berarti pasangan pengantin akan selalu mempunyai pikiran yang jernih dan tenang dalam
mengadapi masalah.
* Daun Dlingo Benglé: Jamu untuk infeksi dan penyakit lainnya, itu digunakan untuk
melindungi gangguan setan.
* Bunga Patra Manggala: Itu digunakan untuk memperindah karangan.

Sebelum memasang Tarub dan Bekletepe harus membuat sepesial Sajen.

Tradisionil Sajen (persembahan) dalam pesta adat Jawa itu sangat penting. Itu adalah simbol
yang sangat berarti, di mana Tuhan Pencipta melidungi kami. Sajen berarti untuk mendoakan
leluhur dan untuk melindungi dari gangguan roh jahat. Sajen diletakan di semua tempat di mana
pesta itu diadakan, diantaranya di kamar mandi, di dapur, di bawah pintu gerbang, di bawah
dekorasi Tarub, di jalan dekat rumah, dan lain-lain.

Siraman sajen terdiri dari:

* Tumpeng Robyong, nasi kuning dengan hiasan.
* Tumpeng Gundul, nasi kuning tanpa hiasan.
* Makanan: ayam, daging, tahu, telur.
* Tujuh macam bubur.
* Pisang raja dan buah lainnya.
* Kelapa muda.
* Kue manis, lemper, cendol.
* Teh dan kopi pahit.
* Rokok dan kretek.
* Lantera.
* Bunga Telon (kenanga, melati, magnolia) dengan air Suci.

Siraman: Makna dari pesta Siraman adalah untuk membersihkan jiwa dan raga. Pesta Siraman
ini biasanya diadakan di siang hari, sehari sebelum Ijab dan Panggih. Siraman di adakan di
rumah orangtua pengantin masing-masing. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau di
taman. Sekarang lebih banyak diadakan di taman. Daftar nama dari orang yang melakukan
Siraman itu sangat penting. Tidak hanya orangtua, tetapi juga keluarga dekat dan orang yang
dituakan. Mereka menyeleksi orang yang bermoral baik. Jumlah orang yang melakukan Siraman
itu biasanya tujuh orang. Bahasa Jawa tujuh itu PITU, mereka memberi nama PITULUNGAN
(berarti menolong).

Apa saja yang harus dipersiapkan:

* Baskom untuk air, biasanya terbuat dari tembaga atau perunggu. Air dari sumur atau mata air.
* Bunga Setaman - mawar, melati, magnolia dan kenanga - di campur dengan air.
* Aroma - lima warna - berfungsi seperti sabun.
* Tradisionil shampoo dan conditioner (abu dari merang, santan, air asam Jawa).
* gayung dari 2 kelapa, letakkan bersama.
* Kursi kecil, ditutup dengan:
* Tikar - kain putih - beberapa macam daun - dlingo benglé (tanaman untuk obat-obatan) -
bango tulak (kain dengan 4 macam motif) - lurik (motif garis dengan potongan Yuyu Sekandang
dan Pula Watu).
* Memakai kain putih selama Siraman.
* Kain batik dari Grompol dan potongan Nagasari.
* Handuk.
* Kendi.

Keluarga dari pengantin wanita mengirim utusan untuk membawa air-bunga ke keluarga dari
pengantin laki-laki. Itu Banyu Suci Perwitosari, berarti air suci dan simbol dari intisari
kehidupan. Air ini diletakan di rumah pengantin laki-laki.

Pelaksanaan dari SIRAMAN:

Pengantin perempuan/laki-laki datang dari kamarnya dan bergabung dengan orangtuanya. Dia
diantar ke tempat Siraman. Beberapa orang jalan di belakangnya dan membawa baki dengan
kain batik, handuk, dan lain-lain. Dan ini akan digunakan setelah Siraman. Dia mendudukkan di
kursi dan berdoa. Orang pertama yang menyiramkan air ke pengantin adalah ayah. Ibu boleh
menyiramkan setalah ayah. Setelah mereka, orang lain boleh melakukan Siraman. Orang terakhir
yang melakukan Siraman adalah Pemaes atau orang sepesial yang telah ditunjuk. Pengantin
perempuan/laki-laki duduk dengan kedua tangan di atas dada dengan posisi berdoa. Mereka
menyiramkan air ke tangannya dan membersihkan mulutnya tiga kali. Kemudian mereka
menyiramkan air ke atas kepala, wajah, telinga, leher, tangan dan kaki juga sebanyak tiga kali.
Pemaes menggunakan tradisionil shampoo dan conditioner. Setelah Kendi itu kosong, Pemaes
atau orang yang ditunjuk memecahkan kendi ke lantai dan berkata: ‘Wis Pecah Pamore‘ - berarti
dia itu tampan (menjadi cantik dan siap untuk menikah).

Upacara NGERIK:

Setelah Siraman, pengantin duduk di kamar pengantin. Pemaes mengeringkan rambutnya dengan
handuk dan menberi pewangi (ratus) di seluruh rambutnya. Dia mengikat rambut ke belakang
dan mengeraskannya (gelung). Setelah itu Pemaes membersihkan wajahnya dan lehernya, dia
siap untuk di dandani. Pemaes sangat behati-hati dalam merias pengantin. Dandanan itu
tergantun dari bentuk perkawinan. Akhirnya, pengantin wanita memakai kebaya dan kain batik
dengan motif Sidomukti atau Sidoasih. Itu adalah simbol dari kemakmuran hidup.

Upacara Midodareni: Pelaksanaan pesta ini mengambil tempat sama dengan Ijab dan Panggih.
Midodareni itu berasal dari kata Widodari yang berarti Dewi. Pada malam hari, calon pengantin
wanita akan menjadi cantik sama seperti Dewi. Menurut kepercayaan kuno, Dewi akan datang
dari kayangan.

Pengantin wanita harus tinggal di kamar dari jam enam sore sampai tengah malam di temani
dengan beberapa wanita yang dituakan. Biasanya mereka akan memberi saran dan nasihat.
Keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita akan datang berkunjung; semuanya harus
wanita.

Orangtua dari pengantin wanita akan menyuapkan makanan untuk yang terakhir kalinya. Mulai
dari besok, suaminya yang akan bertanggung jawab.

Apa saja yang harus diletakan di kamar pengantin?

* Satu set Kembar Mayang.
* Dua kendi (diisi dengan bumbu, jamu, beras, kacang, dan lain-lain) di lapisi dengan kain
Bango Tulak.
* Dua kendi (diisi dengan air suci) di lapisi dengan daun dadap srep.
* Ukub (baki dengan bermacam pewangi dari daun dan bunga) diletakan di bawah tempat tidur.
* Suruh Ayu (daun betel).
* Kacang Areca.
* Tujuh macam kain dengan corak letrek.

Di tengah malam semua sajen di ambil dari kamar. Keluarga dan tamu dapat makan bersama. Di
kamar lain, keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita bertemu dengan keluarga dari
pengantin laki-laki.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:34264
posted:3/12/2010
language:Indonesian
pages:14
Description: budaya lengkap jawa tengah meliputi sejarah, geogarafi, peta jawa tengah , kota di jawa tengah, adat istiadat , upacara adat dan sebagainya...