kerajaan sriwijaya dan majapahit by trisnaningsih

VIEWS: 9,605 PAGES: 13

More Info
									Kerajaan Sriwijaya
 Sriwijaya
 ←
          600-an – 1300-an            →
 ←




Jangkauan terluas Kemaharajaan   Sriwijaya
sekitar abad ke-8 Masehi.

 Ibu kota          Palembang, Jambi
                   Melayu       Kuno,
 Bahasa
                   Sansekerta
 Agama             Buddha, Hindu
 Pemerintahan      Monarki
 Maharaja
 - 683             Jayanasa
 - 775             Dharmasetu
 - 792             Samaratunga
 - 835             Balaputradewa
                   Sri
 - 988
                   Culamanivarmadeva
 Sejarah
 - Didirikan        600-an
 - Invasi Majapahit 1300-an
                    Koin emas        dan
 Mata uang
                    perak


Sriwijaya adalah kerajaan Melayu kuno di pulau Sumatra yang banyak berpengaruh di
Nusantara.[1] Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang
pendeta Tiongkok, I-Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 selama 6
bulan.[2][3] Prasasti pertama mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu Prasasti
Kedukan Bukit di Palembang, Sumatra, pada tahun 683.[4] Kerajaan ini mulai jatuh sekitar tahun
1200 - 1300 karena berbagai faktor, termasuk ekspansi kerajaan Majapahit.[1] Dalam bahasa
Sansekerta, sri berarti "bercahaya" dan wijaya berarti "kemenangan".[5]

Setelah Sriwijaya jatuh, kerajaan ini terlupakan dan sejarawan tidak mengetahui keberadaan
kerajaan ini. Eksistensi Sriwijaya diketahui secara resmi tahun 1918 oleh sejarawan Perancis
George Coedès dari École française d'Extrême-Orient.[5] Sekitar tahun 1992 hingga 1993, Pierre-
Yves Manguin membuktikan bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit
Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatra Selatan, Indonesia).[5]

Historiografi
Tidak terdapat catatan lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah Indonesia; masa lalunya
yang terlupakan dibentuk kembali oleh sarjana asing. Tidak ada orang Indonesia modern yang
mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana Perancis George Coedès
mempublikasikan penemuannya dalam koran berbahasa Belanda dan Indonesia.[6] Coedès
menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap "Sanfoqi", sebelumnya dibaca "Sribhoja", dan
prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.[7]

Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatra awal, dan kerajaan besar yang dapat mengimbangi
Majapahit di timur. Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi referensi oleh kaum
nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelelum
kolonialisme Belanda.[6]

Sriwijaya disebut dengan berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Sanfotsi atau
San Fo Qi.[8][9] Dalam bahasa Sansekerta dan Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan
Javadeh.[8] Bangsa Arab menyebutnya Zabag dan Khmer menyebutnya Melayu.[8] Banyaknya
nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan.[8][10]

Berikut ini adalah beberapa sumber sejarah yang diketahui berkaitan dengan Sriwijaya:

Berbahasa Sanskerta atau Tamil                     - Kronik Tao Chih Lio oleh Wang Ta Yan
                                                   - Kronik Ling-wai Tai-ta oleh Chou Ku Fei
- Prasasti Ligor di Thailand                       - Kronik Ying-yai Sheng-lan oleh Ma Huan
- Prasasti Kanton di Kanton
- Prasasti Siwagraha
- Prasasti Nalanda di India
- Piagam Leiden di India
- Prasasti Tanjor
- Piagam Grahi
- Prasasti Padang Roco
- Prasasti Srilangka

Sumber berita Tiongkok

- Kronik dari Dinasti Tang
- Kronik Dinasti Sung
- Kronik Dinasti Ming
- Kronik Perjalanan I Tsing
- Kronik Chu-fan-chi oleh Chau Ju-kua
Prasasti berbahasa Melayu Kuno

- Prasasti Kedukan Bukit tanggal 16 Juni 682 Masehi di Palembang
- Prasasti Talang Tuo tanggal 23 Maret 684 Masehi di Palembang
- Prasasti Telaga Batu abad ke-7 Masehi di Palembang
- Prasasti Palas Pasemah abad ke-7 Masehi di Lampung Selatan
- Prasasti Karang Brahi abad ke-7 Masehi di Jambi
- Prasasti Kota Kapur tanggal 28 Februari 686 Masehi di P. Bangka
- Prasasti Sojomerto abad ke-7 Masehi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah

Pembentukan dan pertumbuhan




Peta pengaruh Sriwijaya di abad ke-10

Tidak banyak bukti fisik mengenai Sriwijaya yang dapat ditemukan.[11] Menurut Prasasti Kedukan
Bukit, kekaisaran Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang Çri Yacanaca (Dapunta Hyang Sri
Jayanasa). Ia memimpin 20.000 tentara (terutama tentara darat dan beberapa ratus kapal) dari
Minanga Tamwan ke Palembang, Jambi, dan Bengkulu. Menurut sebagian sejarawan, Minanga
Tamwan merujuk pada daerah di sekitar hulu sungai Kampar di Kabupaten Lima Puluh Kota
sekarang. Tambo Minangkabau mencatat bahwa keluarga Dapunta Hyang turun dari gunung Marapi
ke hulu sungai Kampar, yang kemudian keturunannya meluaskan rantau ke selatan Sumatra.[12]

Kerajaan ini adalah pusat perdagangan dan merupakan negara maritim. Negara ini tidak
memperluas kekuasaannya diluar wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan pengecualian
berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Sekitar tahun 500, akar
Sriwijaya mulai berkembang di wilayah sekitar Palembang, Sumatra. Kerajaan ini terdiri atas tiga
zona utama - daerah ibukota muara yang berpusatkan Palembang, lembah Sungai Musi yang
berfungsi sebagai daerah pendukung dan daerah-daerah muara saingan yang mampu menjadi pusat
kekuasan saingan. Wilayah hulu sungai Musi kaya akan berbagai komoditas yang berharga untuk
pedagang Tiongkok.[13] Ibukota diperintah secara langsung oleh penguasa, sementara daerah
pendukung tetap diperintah oleh datu lokal.

Pada tahun 680 di bawah kepemimpinan Jayanasa, Kerajaan Melayu takluk di bawah imperium
Sriwijaya. Penguasaan atas Melayu yang kaya emas telah meningkatkan prestise kerajaan. [14]. Di
abad ke-7, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di Sumatera dan tiga kerajaan di
Jawa menjadi bagian imperium Sriwijaya. Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain
Tarumanegara dan Holing berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini
pula wangsa Budha Sailendra di Jawa Tengah berada di bawah dominasi Sriwijaya. [15].
Berdasarkan prasasti Kota Kapur, imperium menguasai bagian selatan Sumatera hingga Lampung,
mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata. Di
abad ini pula, Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan. [16]. Di masa
berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak di sebelah utara Langkasuka, juga berada di
bawah pengaruh Sriwijaya.
Ekspansi kerajaan ke Jawa dan semenanjung Melayu, menjadikan Sriwijaya mengontrol dua pusat
perdagangan utama di Asia Tenggara. Berdasarkan observasi, ditemukan reruntuhan candi-candi
Sriwijaya di Thailand dan Kamboja. Di abad ke-7, pelabuhan Cham di sebelah timur Indochina
mulai mengalihkan banyak pedagang dari Sriwijaya. Untuk mencegah hal tersebut, maharaja
Dharmasetu melancarkan beberapa serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Kota Indrapura di
tepi sungai Mekong, di awal abad ke-8 berada di bawah kendali Palembang.[15] Sriwijaya
meneruskan dominasinya atas Kamboja, sampai raja Khmer Jayawarman II, pendiri imperium
Khmer, memutuskan hubungan dengan kerajaan di abad yang sama.[17]

Setelah Dharmasetu, Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa pada periode 792 sampai
835. Tidak seperti Dharmasetu yang ekspansionis, Samaratungga tidak melakukan ekspansi militer,
tetapi lebih memilih untuk memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa. Selama masa
kepemimpinannya, ia membangun candi Borobudur di Jawa yang selesai pada tahun 825.[18]

Di abad ke-12, wilayah imperium Sriwijaya meliputi Sumatera, Sri Lanka, semenanjung Melayu,
Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Philipina.[19] Dengan penguasaan tersebut, kerajaan
Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang hebat hingga abad ke-13.[1]

Budha Vajrayana
Sebagai pusat pengajaran Budha Vajrayana, Sriwijaya menarik banyak peziarah dan sarjana dari
negara-negara di Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok I Ching, yang melakukan kunjungan ke
Sumatra dalam perjalanan studinya di Universitas Nalanda, India pada tahun 671 dan 695, serta di
abad ke-11, Atisha, seorang sarjana Budha asal Benggala yang berperan dalam mengembangkan
Budha Vajrayana di Tibet. I Ching melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi ribuan sarjana
Budha. Pengunjung yang datang ke pulau ini menyebutkan bahwa koin emas telah digunakan di
pesisir kerajaan.

Relasi dengan kekuatan regional
Meskipun catatan sejarah dan bukti arkeologi jarang ditemukan, tetapi beberapa menyatakan bahwa
pada abad ke-7, Sriwijaya telah melakukan kolonisasi atas seluruh Sumatra, Jawa Barat, dan
beberapa daerah di semenanjung Melayu. Dominasi atas Selat Malaka dan Selat Sunda, menjadikan
Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan
biaya atas setiap kapal yang lewat. Palembang mengakumulasi kekayaannya sebagai pelabuhan dan
gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, Melayu, dan India.

Kerajaan Jambi merupakan kekuatan pertama yang menjadi pesaing Sriwijaya yang akhirnya dapat
ditaklukkan pada abad ke-7 dan ke-9. Di Jambi, pertambangan emas merupakan sumber ekonomi
cukup penting dan kata Suwarnadwipa (pulau emas) mungkin merujuk pada hal ini. Kerajaan
Sriwijaya juga membantu menyebarkan kebudayaan Melayu ke seluruh Sumatra, Semenanjung
Melayu, dan Kalimantan bagian Barat. Pada abad ke-11 pengaruh Sriwijaya mulai menyusut. Hal
ini ditandai dengan seringnya konflik dengan kerajaan-kerajaan Jawa, pertama dengan Singasari dan
kemudian dengan Majapahit. Di akhir masa, pusat kerajaan berpindah dari Palembang ke Jambi.

Pada masa awal, Kerajaan Khmer juga menjadi daerah jajahan Sriwijaya. Banyak sejarawan
mengklaim bahwa Chaiya, di propinsi Surat Thani, Thailand sebagai ibu kota terakhir kerajaan,
walaupun klaim tersebut tak mendasar. Pengaruh Sriwijaya nampak pada bagunan pagoda Borom
That yang bergaya Sriwijaya. Setelah kejatuhan Sriwijaya, Chaiya terbagi menjadi tiga kota yakni
(Mueang) Chaiya, Thatong (Kanchanadit) dan Khirirat Nikhom.

Sriwijaya juga berhubungan dekat dengan kerajaan Pala di Benggala, dan sebuah prasasti tertahun
860 mencatat bahwa raja Balaputra mendedikasikan seorang biara kepada Universitas Nalada, Pala.
Relasi dengan dinasti Chola di India selatan cukup baik dan menjadi buruk setelah terjadi
peperangan di abad ke-11.
Masa keemasan
Setelah terjadi kekacauan perdagangan di Kanton antara tahun 820 - 850, pemerintahan Jambi
menyatakan diri sebagai kerajaan merdeka dengan mengirimkan utusan ke China pada tahun 853
dan 871. Kemerdekaan Jambi bertepatan dengan dirampasnya tahta Sriwijaya di Jawa dengan
diusirnya raja Balaputradewa. Di tahun 902, raja baru mengirimkan upeti ke China. Dua tahun
kemudian raja terakhir dinasti Tang menganugerahkan gelar kepada utusan Sriwijaya. Dari literatur
Tiongkok utusan itu mempunyai nama Arab hal ini memberikan informasi bahwa pada masa-masa
itu Sriwijaya sudah berhubungan dengan Arab yang memungkinkan Sriwijaya sudah masuk
pengaruh Islam di dalam kerajaan.[20]

Pada paruh pertama abad ke-10, diantara kejatuhan dinasti Tang dan naiknya dinasti Song,
perdagangan dengan luar negeri cukup marak, terutama Fujian, kerajaan Min dan negeri kaya
Guangdong, kerajaan Nan Han. Tak diragukan lagi Sriwijaya mendapatkan keuntungan dari
perdagangan ini. Pada tahun 903, penulis Muslim Ibn Batutah sangat terkesan dengan kemakmuran
Sriwijaya. Daerah urban kerajaan meliputi Palembang (khususnya Bukit Seguntang), Muara Jambi
dan Kedah.

Penurunan
Tahun 1025, Rajendra Chola, raja Chola dari Koromandel, India selatan menaklukkan Kedah dari
Sriwijaya dan menguasainya. Kerajaan Chola meneruskan penyerangan dan penaklukannya selama
20 tahun berikutnya keseluruh imperium Sriwijaya. Meskipun invasi Chola tidak berhasil
sepenuhnya, tetapi invasi tersebut telah melemahkan hegemoni Sriwijaya yang berakibat
terlepasnya beberapa wilayah dengan membentuk kerajaan sendiri, seperti Kediri, sebuah kerajaan
yang berbasiskan pada pertanian.

Antara tahun 1079 - 1088, orang Tionghoa mencatat bahwa Sriwijaya mengirimkan duta besar dari
Jambi dan Palembang.[21] Tahun 1082 dan 1088, Jambi mengirimkan lebih dari dua duta besar ke
China.[21] Pada periode inilah pusat Sriwijaya telah bergeser secara bertahap dari Palembang ke
Jambi.[21] Ekspedisi Chola telah melemahkan Palembang, dan Jambi telah menggantikannya sebagai
pusat kerajaan.[22]

Berdasarkan sumber Tiongkok pada buku Chu-fan-chi[23]yang ditulis pada tahun 1178, Chou-Ju-
Kua menerangkan bahwa di kepulauan Asia Tenggara terdapat dua kerajaan yang sangat kuat dan
kaya, yakni Sriwijaya dan Jawa (Kediri). Di Jawa dia menemukan bahwa rakyatnya memeluk
agama Budha dan Hindu, sedangkan rakyat Sriwijaya memeluk Budha. Berdasarkan sumber ini pula
dikatakan bahwa beberapa wilayah kerajaan Sriwijaya ingin melepaskan diri, antara lain Kien-pi
(Kampe, di utara Sumatra) dan beberapa koloni di semenanjung Malaysia. Pada masa itu wilayah
Sriwijaya meliputi; Pong-fong (Pahang), Tong-ya-nong (Trengganu), Ling-ya-ssi-kia (Langkasuka),
Kilan-tan (Kelantan), Fo-lo-an (?), Ji-lo-t'ing (Jelutong), Ts'ien-mai (?), Pa-t'a (Batak), Tan-ma-ling
(Tambralingga, Ligor), Kia-lo-hi (Grahi, bagian utara semenanjung Malaysia), Pa-lin-fong
(Palembang), Sin-t'o (Sunda), Lan-wu-li (Lamuri di Aceh), and Si-lan (Srilanka?)[24].

Pada tahun 1288, Singasari, penerus kerajaan Kediri di Jawa, menaklukan Palembang dan Jambi
selama masa ekspedisi Pamalayu. Di tahun 1293, Majapahit pengganti Singasari, memerintah
Sumatra. Raja ke-4 Hayam Wuruk memberikan tanggung jawab tersebut kepada Pangeran
Adityawarman, seorang peranakan Minang dan Jawa. Pada tahun 1377 terjadi pemberontakan
terhadap Majapahit, tetapi pemberontakan tersebut dapat dipadamkan walaupun di selatan Sumatra
sering terjadi kekacauan dan pengrusakan.

Dimasa berikutnya, terjadi pengendapan pada sungai Musi yang berakibat tertutupnya akses
pelayaran ke Palembang. Hal ini tentunya sangat merugikan perdagangan kerajaan. Penurunan
Sriwijaya terus berlanjut hingga masuknya Islam ke Aceh yang di sebarkan oleh pedagang-
pedagang Arab dan India. Di akhir abad ke-13, kerajaan Pasai di bagian utara Sumatra berpindah
agama Islam.
Pada tahun 1402, Parameswara, pangeran terakhir Sriwijaya mendirikan kesultanan Malaka di
semenanjung Malaysia.

Perdagangan
Di dunia perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok,
yakni dengan penguasaan atas selat Malaka dan selat Sunda. Orang Arab mencatat bahwa Sriwijaya
memiliki aneka komoditi seperti kamper, kayu gaharu, cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan
timah yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India.

Pengaruh budaya
Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India, pertama oleh budaya agama Hindu dan
kemudian diikuti pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di Srivijaya pada tahun
425 Masehi. Sriwijaya merupakan pusat terpenting agama Buddha Mahayana. Raja-raja Sriwijaya
menguasai kepulauan Melayu melewati perdagangan dan penaklukkan dari kurun abad ke-7 hingga
abad ke-9.

Pada masa yang sama, agama Islam memasuki Sumatra melalui Aceh yang telah tersebar melalui
hubungan dengan pedagang Arab dan India. Pada tahun 1414 pangeran terakhir Sriwijaya,
Parameswara, memeluk agama Islam dan berhijrah ke Semenanjung Malaya dan mendirikan
Kesultanan Melaka.

Agama Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana disebarkan di pelosok kepulauan
nusantara dan Palembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Pada tahun 1017, 1025, dan
1068, Sriwijaya telah diserbu raja Chola dari kerajaan Colamandala(India) yang mengakibatkan
hancurnya jalur perdagangan. Pada serangan kedua tahun 1025, raja Sri Sanggramawidjaja
Tungadewa ditawan. Pada masa itu juga, Sriwijaya telah kehilangan monopoli atas lalu-lintas
perdagangan Tiongkok-India. Akibatnya kemegahan Sriwijaya menurun. Pada tahun 1088, Kerajaan
Melayu Jambi, yang dahulunya berada di bawah naungan Sriwijaya menjadikan Sriwijaya
taklukannya.

Raja yang memerintah
Para Maharaja Sriwijaya[25]

                                                        Prasasti, catatan pengiriman utusan ke
Date           King's name                  Capital
                                                        Tiongkok serta peristiwa
                                                        Prasasti Kedukan Bukit (683), Talang Tuo
                                                        (684), dan Kota Kapur
683            Jayanasa                     Palembang
                                                        Penaklukan Malayu, penaklukan Jawa
                                                        Tengah
702            Indravarman                              Utusan ke Tiongkok 702-716, 724
               Rudra vikraman atau Lieou-
728                                                     Utusan ke Tiongkok 728-748
               t'eng-wei-kong
Tidak ada
berita pada
periode 728-
775
                                            Nakhon Si
790            Dharmasetu                   Thammarat   Vat Sema Muang
                                            (Ligor)
                                                        Naskah Arab (790)
                                            Jawa
               Sangramadhananjaya or
775
               Vishnu                                   Memulai pembangunan Borobudur pada 770,
                                            Ligor
                                                        menaklukkan Kamboja selatan
792             Samaratungga                Jawa           802 kehilangan jajahannya di Kamboja
                Balaputra                   Jawa-          Kehilangan Jawa Tengah,
835
                Sri Kaluhunan               Palembang      Prasasti Nalanda (860)
Tidak ada
berita pada
periode 835-
960
                Sri Uda Haridana atau Çri
960                                         Palembang      Utusan ke Tiongkok 960
                Udayadityavarman
                Sri Wuja atau Çri
961                                         Palembang      Utusan ke Tiongkok 961-962
                Udayadityan
Tidak ada
berita pada
periode 961-
980
980             Hia-Tche                    Palembang      Utusan ke Tiongkok 980-983
                                                           Utusan ke Tiongkok 988-992-1003


988             Sri Culamanivarmadeva       Palembang      Jawa menyerang Palembang, pembangunan
                                                           kuil untuk Kaisar China, Prasasti Tanjore
                                                           atau Prasasti Leiden (1044), pemberian
                                                           anugrah desa oleh Raja-raja I
1008            Sri Maravijayottungga       Palembang      Utusan ke Tiongkok 1008
1017            Sumatrabhumi                Palembang      Utusan ke Tiongkok 1017
                                                           Dikalahkan oleh Rajendra Chola
1025            Sangramavijayottungga       Palembang
                                                           Prasasti Chola pada candi Rajaraja, Tanjore
1028            Sri Deva                    Palembang      Utusan ke Tiongkok 1028
Tidak ada
berita pada
periode 1028-
1064
1064            Dharmavira                  Solok, Jambi
Tidak ada
berita pada
periode 1064-
1156
1156            Sri Maharaja                Palembang      Utusan ke Tiongkok 1156
Tidak ada
berita pada
periode 1156-
1178
                                                           Utusan ke Tiongkok 1178
                Trailokaraja Maulibhusana
1178                                        Jambi
                Varmadeva
                                                           Arca Buddha perungguChaiya 1183
Tidak ada
berita pada
periode 1183-
1251
Majapahit
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
      Untuk kegunaan lain dari Majapahit, lihat Majapahit (disambiguasi).

             Majapahit
 ←            1293 – 1527              →




             Surya Majapahit




      Peta wilayah kekuasaan Majapahit
  berdasarkan Nagarakertagama; keakuratan
    wilayah kekuasaan Majapahit menurut
       penggambaran orang Jawa masih
               diperdebatkan.[1]

                      Majapahit,
 Ibu kota             Wilwatikta
                      (Trowulan)
                      Jawa Kuno,
 Bahasa
                      Sansekerta
 Agama                Hindu, Buddha
 Pemerintahan         Monarki
 Raja
                      Kertarajasa
 - 1295-1309
                      Jayawardhana
 - 1478-1498          Girindrawardhana
 Sejarah
 - Penobatan          10
 Raden Wijaya         November 1293
 - Invasi Demak       1527
                      Koin emas dan
                      perak, kepeng
 Mata uang            (koin perunggu
                      yang diimpor dari
                      Tiongkok)
 Surya Majapahit adalah lambang yang
 umumnya dapat ditemui di reruntuhan
 Majapahit, sehingga Surya Majapahit
 mungkin merupakan simbol kerajaan
 Majapahit


Majapahit adalah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293
hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Hayam Wuruk,
yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389.

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Semenanjung Malaya
dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia.[2] Kekuasaannya
terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Borneo, hingga Indonesia timur, meskipun
wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan.[3]

Historiografi
Hanya terdapat sedikit bukti fisik sisa-sisa Majapahit,[4] dan sejarahnya tidak jelas.[5] Sumber utama
yang digunakan oleh para sejarawan adalah Pararaton ('Kitab Raja-raja') dalam bahasa Kawi dan
Nagarakretagama dalam bahasa Jawa Kuno.[6] Pararaton terutama menceritakan Ken Arok (pendiri
Kerajaan Singhasari) namun juga memuat beberapa bagian pendek mengenai terbentuknya
Majapahit. Sementara itu, Nagarakertagama merupakan puisi Jawa Kuno yang ditulis pada masa
keemasan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Setelah masa itu, hal yang terjadi
tidaklah jelas.[7] Selain itu, terdapat beberapa prasasti dalam bahasa Jawa Kuno maupun catatan
sejarah dari Tiongkok dan negara-negara lain.[7]

Keakuratan semua naskah berbahasa Jawa tersebut dipertentangkan. Tidak dapat disangkal bahwa
sumber-sumber itu memuat unsur non-historis dan mitos. Beberapa sarjana seperti C.C. Berg
menganggap semua naskah tersebut bukan catatan masa lalu, tetapi memiliki arti supernatural dalam
hal dapat mengetahui masa depan.[8] Namun demikian, banyak pula sarjana yang beranggapan
bahwa garis besar sumber-sumber tersebut dapat diterima karena sejalan dengan catatan sejarah dari
Tiongkok, khususnya daftar penguasa dan keadaan kerajaan yang tampak cukup pasti.[5]

Sejarah
Berdirinya Majapahit




Arca Harihara, dewa gabungan Siwa dan Wisnu sebagai penggambaran Kertarajasa. Berlokasi
semula di Candi Simping, Blitar, kini menjadi koleksi Museum Nasional Republik Indonesia.

Sesudah Singhasari mengusir Sriwijaya dari Jawa secara keseluruhan pada tahun 1290, Singhasari
menjadi kerajaan paling kuat di wilayah tersebut. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan, penguasa
Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama Meng Chi[9] ke Singhasari yang
menuntut upeti. Kertanagara, penguasa kerajaan Singhasari yang terakhir menolak untuk membayar
upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong
telinganya.[9][10] Kublai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293.

Ketika itu, Jayakatwang, adipati Kediri, sudah membunuh Kertanagara. Atas saran Aria Wiraraja,
Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu Kertanegara, yang datang
menyerahkan diri. Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan
membangun desa baru. Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya diambil dari buah maja, dan
rasa "pahit" dari buah tersebut. Ketika pasukan Mongol tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan
Mongol untuk bertempur melawan Jayakatwang. Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu
Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-kabut
karena mereka berada di teritori asing.[11][12] Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka
untuk menangkap angin muson agar dapat pulang, atau mereka harus terpaksa menunggu enam
bulan lagi di pulau yang asing.

Tanggal pasti yang digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adalah hari penobatan
Raden Wijaya sebagai raja, yaitu pada tanggal 10 November 1293. Ia dinobatkan dengan nama
resmi Kertarajasa Jayawardhana. Kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang terpercaya
Kertarajasa, termasuk Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak melawannya, meskipun
pemberontakan tersebut tidak berhasil. Slamet Muljana menduga bahwa mahapatih Halayudha lah
yang melakukan konspirasi untuk menjatuhkan semua orang terpercaya raja, agar ia dapat mencapai
posisi tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak terakhir (Kuti),
Halayudha ditangkap dan dipenjara, dan lalu dihukum mati.[12] Wijaya meninggal dunia pada tahun
1309.

Anak dan penerus Wijaya, Jayanegara, adalah penguasa yang jahat dan amoral. Ia digelari Kala
Gemet, yang berarti "penjahat lemah". Pada tahun 1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya, Tanca.
Ibu tirinya yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya menggantikannya, akan tetapi Rajapatni memilih
mengundurkan diri dari istana dan menjadi pendeta wanita. Rajapatni menunjuk anak
perempuannya Tribhuwana Wijayatunggadewi untuk menjadi ratu Majapahit. Selama kekuasaan
Tribhuwana, kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di daerah tersebut.
Tribhuwana menguasai Majapahit sampai kematian ibunya pada tahun 1350. Ia diteruskan oleh
putranya, Hayam Wuruk.

Kejayaan Majapahit




Terakota wajah yang dipercaya sebagai potret Gajah Mada.

Hayam Wuruk, juga disebut Rajasanagara, memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389.
Pada masanya Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan bantuan mahapatihnya, Gajah
Mada. Di bawah perintah Gajah Mada (1313-1364), Majapahit menguasai lebih banyak wilayah.
Pada tahun 1377, beberapa tahun setelah kematian Gajah Mada, Majapahit melancarkan serangan
laut ke Palembang,[2] menyebabkan runtuhnya sisa-sisa kerajaan Sriwijaya.
Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi
Sumatra, semenanjung Malaya, Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan
sebagian kepulauan Filipina[13]. Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa
daerah-daerah kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat
Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin berupa monopoli
oleh raja[14]. Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian
selatan, dan Vietnam, dan bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok.[14][2]

[sunting] Jatuhnya Majapahit

Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan Majapahit berangsur-angsur melemah.
Tampaknya terjadi perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi
melawan Wikramawardhana. Demikian pula telah terjadi pergantian raja yang dipertengkarkan pada
tahun 1450-an, dan pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun
1468[7].

Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning
bumi. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu
tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”.
Namun demikian yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre
Kertabumi, raja ke-11 Majapahit, oleh Girindrawardhana[15].

Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki
Nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh Nusantara
mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan Islam,
yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat Nusantara[16].

Catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis (Tome Pires), dan Italia (Pigafetta) mengindikasikan bahwa
telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus,
penguasa dari Kesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M[15].

Kebudayaan




Gapura Bajangratu, diduga kuat menjadi gerbang masuk keraton Majapahit. Bangunan ini masih
tegak berdiri di kompleks Trowulan.

Ibu kota Majapahit di Trowulan merupakan kota besar dan terkenal dengan perayaan besar
keagamaan yang diselenggarakan setiap tahun. Agama Buddha, Siwa, dan Waisnawa (pemuja
Wisnu) dipeluk oleh penduduk Majapahit, dan raja dianggap sekaligus titisan Buddha, Siwa,
maupun Wisnu.

Walaupun batu bata telah digunakan dalam candi pada masa sebelumnya, arsitek Majapahitlah yang
paling ahli menggunakannya[17]. Candi-candi Majapahit berkualitas baik secara geometris dengan
memanfaatkan getah tumbuhan merambat dan gula merah sebagai perekat batu bata. Contoh candi
Majapahit yang masih dapat ditemui sekarang adalah Candi Tikus dan Candi Bajangratu di
Trowulan, Mojokerto.

Ekonomi




Celengan zaman Majapahit, abad 14-15 Masehi Trowulan, Jawa Timur. (Koleksi Museum Gajah,
Jakarta)

Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan[14]. Majapahit memiliki
pejabat sendiri untuk mengurusi pedagang dari India dan Tiongkok yang menetap di ibu kota
kerajaan maupun berbagai tempat lain di wilayah Majapahit di Jawa[18].

Menurut catatan Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah
lada, garam, kain, dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas,
perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah
putih, timah hitam, dan tembaga[19]. Selain itu, catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik
Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa istana raja Jawa
penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata[20].

Struktur pemerintahan

Majapahit memiliki struktur pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur pada masa
pemerintahan Hayam Wuruk, dan tampaknya struktur dan birokrasi tersebut tidak banyak berubah
selama perkembangan sejarahnya[21]. Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia dan ia
memegang otoritas politik tertinggi.

Aparat birokrasi

Raja dibantu oleh sejumlah pejabat birokrasi dalam melaksanakan pemerintahan, dengan para putra
dan kerabat dekat raja memiliki kedudukan tinggi. Perintah raja biasanya diturunkan kepada
pejabat-pejabat di bawahnya, antara lain yaitu:

             Rakryan Mahamantri Katrini, biasanya dijabat putra-putra raja
             Rakryan Mantri ri Pakira-kiran, dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan
             Dharmmadhyaksa, para pejabat hukum keagamaan
             Dharmma-upapatti, para pejabat keagamaan

Dalam Rakryan Mantri ri Pakira-kiran terdapat seorang pejabat yang terpenting yaitu Rakryan
Mapatih atau Patih Hamangkubhumi. Pejabat ini dapat dikatakan sebagai perdana menteri yang
bersama-sama raja dapat ikut melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu, terdapat pula
semacam dewan pertimbangan kerajaan yang anggotanya para sanak saudara raja, yang disebut
Bhattara Saptaprabhu.

[sunting] Pembagian wilayah

Di bawah raja Majapahit terdapat pula sejumlah raja daerah, yang disebut Paduka Bhattara. Mereka
biasanya merupakan saudara atau kerabat dekat raja dan bertugas dalam mengumpulkan
penghasilan kerajaan, penyerahan upeti, dan pertahanan kerajaan di wilayahnya masing-masing.
Dalam Prasasti Wingun Pitu (1447 M) disebutkan bahwa pemerintahan Majapahit dibagi menjadi
14 daerah bawahan, yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre.[22] Daerah-daerah bawahan
tersebut yaitu:
      Daha             Kahuripan            Kembang          Singhapura          Wengker
      Jagaraga         Keling                Jenar            Tanjungpura         Wirabumi
      Kabalan          Kelinggapura         Matahun          Tumapel
                                              Pajang



Raja-raja Majapahit




Genealogi keluarga kerajaan Majapahit. Penguasa ditandai dalam gambar ini.[23]

Berikut adalah daftar penguasa Majapahit. Perhatikan bahwa terdapat periode kekosongan antara
pemerintahan Rajasawardhana (penguasa ke-8) dan Girishawardhana yang mungkin diakibatkan
oleh krisis suksesi yang memecahkan keluarga kerajaan Majapahit menjadi dua kelompok[7].

   1. Raden Wijaya, bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293 - 1309)
   2. Kalagamet, bergelar Sri Jayanagara (1309 - 1328)
   3. Sri Gitarja, bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328 - 1350)
   4. Hayam Wuruk, bergelar Sri Rajasanagara (1350 - 1389)
   5. Wikramawardhana (1389 - 1429)
   6. Suhita (1429 - 1447)
   7. Kertawijaya, bergelar Brawijaya I (1447 - 1451)
   8. Rajasawardhana, bergelar Brawijaya II (1451 - 1453)
   9. Purwawisesa atau Girishawardhana, bergelar Brawijaya III (1456 - 1466)
   10. Pandanalas, atau Suraprabhawa, bergelar Brawijaya IV (1466 - 1468)
   11. Kertabumi, bergelar Brawijaya V (1468 - 1478)
   12. Girindrawardhana, bergelar Brawijaya VI (1478 - 1498)
   13. Hudhara, bergelar Brawijaya VII (1498-1518)[24]

								
To top