SAATNYA TAHUN EKONOMI SYARIAH

Document Sample
SAATNYA TAHUN EKONOMI SYARIAH Powered By Docstoc
					SAATNYA TAHUN EKONOMI SYARIAH
Friday, 09 January 2009 15:32




Oleh Willson Gustiawan

Menyimak perjalanan ekonomi setahun terakhir, baik di tingkat internasional, regional, nasional,
maupun lokal yang penuh ketidakgembiraan, banyak hikmah dan ibrah yang sepatutnya diambil
menjadi peringatan. Walaupun tingkat tekanan yang berbeda-beda, hampir semua kawasan
terkena imbas gelombang krisis ekonomi. Indonesia, kata Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, terkena "tsunami"-nya.

  Sebagaimana telah jamak diketahui, cerita itu berawal dari subprime mortgage yang mulai
memacetkan sektor finansial di negeri Paman Sam. Kredit perumahan yang seharusnya tidak
layak, setelah didandani di sana sini supaya kelihatan cantik, diobral dengan sangat murahnya
kepada orang yang sebenarnya tidak sanggup membayar. Perusahaan keuangan seperti bank,
bank investasi, asuransi, pemeringkat, dan lembaga finansial lainnya yang beraset besar,
banyak berperan dalam menciptakan krisis itu. Mereka dengan tidak mempertimbangkan moral,
memperanakpinakkan produk subprime mortgage tersebut. Dengan demikian, wajar jika krisis
menimpa sebagian besar lembaga finansial secara berjamaah, sebagai konsekuensi logis efek
domino. Tidak saja di Amerika, Eropa pun terkena imbasnya sehingga ditengarai ada konspirasi
internasional untuk mengkrisiskan perekonomian dunia.

Resesi di suatu negara, apalagi di Amerika Serikat yang dianggap sebagai kiblat sistem
ekonomi kapitalisme, berakibat langsung atau tidak langsung pada negara lain. Indonesia
misalnya, terjadi penurunan permintaan ekspor. Sebagaimana diketahui, AS adalah salah satu
negara pengimpor terbesar produk-produk Indonesia. Negara dengan pertumbuhan ekonomi
besar seperti Cina atau India pun tak lepas dari imbas resesi ini, apatah lagi negara lain yang
pertumbuhan ekonominya masih relatif rendah. Kesudahannya adalah resesi dunia.

Cerita kelam kelesuan ekonomi dunia membawa dampak psikologis yang cukup serius. Orang
menjadi apatis akan hari depannya. Mereka mempunyai alasan yang tepat untuk menyatakan
gagal pada diri sendiri. Pesimis pun muncul dalam benak mereka. Ini sangat disayangkan.

Di tengah suasana gulita seperti itu, masih ada secercah cahaya yang masih terus menyala.
Dia akan tetap menjadi penerang dalam berekonomi. Dia menjadi penuntun langkah berikutnya
bagi manusia yang sadar bahwa sistem ekonomi kapitalisme telah berkali-kali
menenggelamkan kehidupan perekonomian mereka. Dia adalah sistem ekonomi syariah.

Sistem ekonomi syariah telah mendapat sorotan internasional untuk dijadikan solusi sistem
ekonomi masa depan yang aman. Pemerintah Cina dan Prancis terus mendesak Bank Dunia
dan IMF untuk memformulasikan sistem baru yang lebih aman, sebagai kritik atas lemahnya
sistem finansial yang dibangun. Dana bail out yang dikucurkan The Fed, Bank Sentral Amerika
Serikat pun, dikelola secara syariah juga, walaupun tidak secara eksplisit dikemukakan. Hal ini
adalah terobosan pertama yang dilakukan The Fed sejak berdirinya yang tidak memakai bunga
sebagai basis geraknya. Nyatalah bahwa sistem bunga tidak lagi menggembirakan. Jepang
sudah lama menentukan suku bunganya hanya "nol koma sekian persen" atau di bawah 1%,
sedangkan The Fed sudah menurunkan bunganya ke tingkat 0,25%. Dengan demikian, apalagi
yang diharapkan dengan sistem bunga ini?




                                                                                           1/3
SAATNYA TAHUN EKONOMI SYARIAH
Friday, 09 January 2009 15:32




Konsep ekonomi syariah di Indonesia mulai marak sejak hadirnya bank berbasis syariah
pertama, disusul kemudian lembaga-lembaga keuangan syariah lainnya. Namun, memang,
disadari bahwa sosialisasi memperkenalkan sistem ekonomi syariah ini kepada khalayak ramai
berjalan lambat. Di sini peran anggota masyarakat seperti pakar ekonomi syariah, praktisi
ekonomi syariah, ulama, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, dan pemerintah, sangat
dibutuhkan dalam menumbuhkembangkan ekonomi syariah.

Di tengah pesimistis pelaku ekonomi lain, industri berbasis syariahlah yang yakin menempuh
tahun 2009 dengan proyeksi pertumbuhan yang optimistis. Untuk dunia perbankan, misalnya,
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan perbankan syariah dalam tiga skenario
berdasarkan asumsi-asumsi yang telah diformulasikan dalam program grand strategy. Skenario
pesimis sekalipun, memproyeksikan pertumbuhan 25% dengan total aset Rp 57 triliun, skenario
proyeksi moderat dengan pertumbuhan 37% dan total aset Rp 68 triliun, dan skenario proyeksi
optimis dengan pertumbuhan 75% dan total aset Rp 87 triliun (Direktorat Perbankan
Syariah-BI). Di tahun 2009 akan hadir lagi beberapa bank umum yang beroperasi dengan
sistem syariah secara penuh, di samping bank umum yang akan membuka unit usaha
syariahnya (UUS).

Dengan ikhtiar keras yang senantiasa dilumuri doa, insya Allah target pertumbuhan yang
moderat dapat dicapai bahkan dilampaui. Hal ini mengingat bahwa pada 2001-2007,
pertumbuhan perbankan syariah dapat mencapai angka 40% (sedangkan saudaranya yang
konvensional hanya 10%), ditambah lagi dengan adanya implikasi penyelesaian UU Perbankan
Syariah, UU SBSN, dan ketentuan perpajakan diharapkan akan mendorong minat investor
untuk mendirikan BUS/ UUS/ BPRS pada tahun mendatang, serta memanfaatkan inovasi
produk perbankan syariah.

Nada optimis juga bisa dilantunkan, mengingat pemerintah melalui Meneg BUMN mendorong
BUMN untuk melakukan diversifikasi portofolio dananya ke bank syariah untuk memperbesar
lagi market share bank syariah. Di tingkat internasional, keuangan syariah bertumbuh lebih dari
35% setiap tahunnya. Saat ini, terdapat lebih dari 400 bank syariah yang beroperasi penuh
dengan aset lebih dari 600 miliar dolar AS.

Walaupun demikian, dalam pengembangan ekonomi syariah ke depan, masih harus
menghadapi sejumlah tantangan yaitu membangun sumber daya manusia yang memadai,
membangun perekonomian syariah dengan semangat keterbukaan agar manfaat menjadi
bagian dari ekonomi global bisa diraih dan mengintensifkan edukasi dan sosialisasi mengenai
ekonomi syariah kepada masyarakat luas. Demikian diungkapkan Muliaman D. Hadad, Deputi
Gubernur Bank Indonesia saat terpilih sebagai Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah.

Tantangan itu harus dapat diatasi untuk menjadikan ekonomi syariah bukan sekadar sebuah
landasan ekonomi yang bisa mencegah krisis ekonomi, tetapi lebih dari itu ia mampu
menawarkan solusi. Di sini bisa diperlihatkan kesyumulan ajaran Islam sebagai sistem yang
universal bahwa ekonomi syariah bukan sistem ekslusif yang diperuntukkan hanya kepada
umat Islam, tetapi ia bisa digunakan oleh seluruh pelaku ekonomi.

Mengingat besarnya peluang pengembangan ekonomi syariah dan tantangan yang harus



                                                                                           2/3
SAATNYA TAHUN EKONOMI SYARIAH
Friday, 09 January 2009 15:32




dihadapi di tahun mendatang serta keinginan menjadikan ekonomi syariah sebagai sistem
ekonomi masa depan yang aman agar terhindar dari krisis kembali, tak salah jika tahun 2009
Masehi dan tahun 1430 Hijriah -- yang kebetulan beriringan datangnya -- dicanangkan sebagai
Tahun Ekonomi Syariah. ***

Penulis, staf pengajar Politeknik Negeri Universitas Andalas Padang, sekarang mahasiswa
Pascasarjana Universitas Padjadjaran Bandung. 




Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Jum'at 09 Desember 2008




                                                                                       3/3