Perkembangan Jambu Mete dan Strategi Pengendalian Hama Utamanya by vdr16883

VIEWS: 0 PAGES: 11

									Perspektif Vol. 7 No. 2 / Desember 2008. Hlm 102 - 111
ISSN: 1412-8004



                                  Perkembangan Jambu Mete dan
                              Strategi Pengendalian Hama Utamanya
                                                    ELNA KARMAWATI
                                 Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
                              Indonesian Center of Estate Crops Research and Development
                                          Jalan Tentara Pelajar No.1 Bogor



                        ABSTRAK                               Indonesian export commodities. Beside shells and
                                                              nuts, the plant produces lacca oil and other products
Tanaman jambu mete menghasilkan komoditas ekspor              from the fruits. The cashew growing area increases
yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan relatif        every year and the end of 2006 achieved 595.111 ha.
stabil dibanding komoditas ekspor Indonesia lainnya.          Pests can cause the death or the lower productivity
Selain gelondong dan kacang mete tanaman tersebut             and nut quality. In several production area, Helopeltis
menghasilkan pula minyak laka dan produk lain yang            has the largest attack area, followed by Sanurus
diolah dari buah semu. Arealnya bertambah terus tiap          indecora or other pests. Several problems have been
tahun, sehingga akhir 2006 mencapai 595.111 ha.               found in the field, such as: a). more branches produced
Organisme pengganggu tumbuhan terutama hama                   by the plant caused micro climate changes, b).
merupakan salah satu penyebab kematian dan                    Helopeltis spp and S. indecora have a very wide host
mengakibatkan produktivitas serta mutu menjadi                range, c). the over usage of synthetic insecticide, d).
rendah. Pada beberapa daerah sentra produksi                  the lack of farmers knowledge of intercropping, e).
Helopeltis merupakan hama yang luas serangannya               there is interaction among Helopeltis spp, S. indecora
paling tinggi diikuti oleh S. indecora dan hama lainnya.      and Dolichoderus sp. Before 2001, synthetic insecticide
Beberapa permasalahan           telah ditemukan yang          were commonly used for controlling insect pest. Since
menyebabkan hama Helopeltis spp seringkali muncul             then, other control methods have been developed. The
atau Sanurus menjadi hama baru, diantaranya a).               control strategy are a). ecosystem engineering and its
percabangan tanaman yang semakin banyak sehingga              utilization surrounding cashew plantation and b). large
tumpang tindih dan mengakibatkan perubahan iklim              scale assessment of agroecologies and farmer and
mikro, b). Helopeltis spp dan S. indecora mempunyai           extension worker supervision in Field School of
rentang tanaman inang yang sangat lebar dan                   Integrated Pest Management (FSIPM).
berlimpah di lapangan, c). penggunaan insektisida
kimia yang berlebihan, d). kurangnya pengetahuan              Key words : Anacardium occidentale L., shell, cashew,
petani mengenai tanaman sela, e). adanya interaksi                        Helopeltis spp, Sanurus indecora, micro
antara Helopeltis spp, S. indecora dan Delichoderus sp.                   climate,    host    plant,     ecosystem
Upaya pengendalian sebelum tahun 2001 sebagian                            engineering, FSIPM
besar masih      menggunakan bahan kimia, namun
perbaikan-perbaikan teknologi telah dilakukan setiap
tahun. Strategi pengendalian yang digunakan adalah
a). pemanfaatan dan perekayasaan lingkungan                                    PENDAHULUAN
pertanaman jambu mete, b). pengkajian skala luas di
beberapa      agroekologi      sekaligus    melanjutkan           Tanaman jambu mete (Anacardiun accidentale
pembinaan pemandu dan petani dalam wadah
                                                              L) merupakan komoditas ekspor yang memiliki
sekolah langsung pengendalian hama terpadu
(SLPHT).                                                      nilai jual yang cukup tinggi dan relatif stabil
                                                              dibanding komoditas ekspor Indonesia lainnya.
Kata kunci: Anacardium occidentale L., gelondong ,            Nilai ekspor Indonesia dari gelondong mete pada
            kacang mete, Helopeltis spp., Sanurus
                                                              akhir 2006 mencapai US $ 409.081.000 dengan
            indecora, iklim mikro, tanaman inang,
            perekayasaan lingkungan, SLPHT                    volume 494.471 M/ton (BPEN, 2007). Harga jual
                                                              dalam negeri pun cukup tinggi, saat ini berkisar
                       ABSTRACT                               antara Rp. 65.000 - Rp. 77.000/kg. Selain
Cashew nut Development and                        Control     menghasilkan gelondong dan kacang mete,
Strategy of Its Main Pests                                    tanaman jambu mete menghasilkan pula minyak
Cashew plant produces export commodity having a               laka dan produk lain yang diolah dari buah
very high value and stability compared with other             semu. Tanaman ini menghendaki iklim kering


102                                                                        Volume 7 Nomor 2, Desember 2008 : 102 - 111
sehingga sangat potensial untuk dikembangkan                      OPT jambu mete terutama hama,
di Kawasan Timur Indonesia, yang umumnya                    merupakan salah satu penyebab kematian
mempunyai kondisi alam yang cocok dengan                    tanaman dan mengakibatkan produktivitas serta
persyaratan tumbuh dari komoditas tersebut.                 mutu menjadi rendah. Jenis dan luas serangan
Status tanaman jambu mete yang semula                       hama utama bervariasi pada daerah sentra jambu
merupakan      tanaman      penghijauan     beralih         mete. Pada 5 daerah sentra produksi utama
menjadi komoditas unggulan, sehingga dirasakan              Helopeltis spp. mencapai luas serangan yang
perlu adanya penekanan pola pengembangan                    paling tinggi saat ini. Luas serangan hama kedua
yang berorientasi agribisnis.                               berbeda pada masing-masing propinsi, seperti
     Usahatani jambu mete masih mengun-                     Sanurus indecora di NTB, Trips sp di NTT, Rayap di
tungkan. Harga kacang mete Rp. 35.000-                      Sulawesi Selatan dan Cricula sp di Yogyakarta.
Rp.40.000 per kg dengan tingkat suku bunga 12%              Berbeda dengan hama-hama jambu mete lainnya
nilai NPV masih positif (Rp. 1.049.293), B/C 1.36           yang muncul di setiap sentra produksi walaupun
dan IRR 22,17% (Balittro, 2002). Apabila harga              hanya sedikit, Sanurus indecora merupakan hama
saat ini mencapai Rp. 77.000, nilai B/C dan IRR             baru dan hanya ditemukan di Lombok.
akan lebih tinggi. Nilai tersebut baru berasal dari               Upaya pengendalian hama jambu mete
gelondong dan kacang mete. Peluang untuk                    telah dimulai dengan menggunakan berbagai
meningkatkan nilai tambah berasal dari CNSL                 komponen sejak pemerintah mengeluarkan
yang merupakan bahan multiguna untuk bahan                  kebijakan PHT jambu mete pada tahun 2001,
baku cat, pernis, ban, kanvas rem,minyak                    namun usaha ini belum memberikan hasil yang
pelumas, anti serangga, pengawet dan jaring ikan            optimal karena pengendalian masih bersifat
(Mulyono dan Sumangat, 2001). Permasalahan                  parsial. Makalah ini mengemukakan perkem-
utama pada usahatani jambu mete di Indonesia                bangan jambu mete di Indonesia, masalah hama
terletak pada produktivitas dan mutu kacang                 utama jambu mete, upaya-upaya serta strategi
mete yang masih rendah, sehingga harganya                   pengendalian di masa mendatang.
lebih rendah dibandingkan kacang mete negara
lain (Ferry et al., 2001). Areal pengembangan
sudah cukup luas dengan penghasilan utama                         PERKEMBANGAN JAMBU METE
saat ini propinsi Nusa Tenggara Timur. Luas
keseluruhan jambu mete di Indonesia 595.111 ha                  Pengembangan jambu mete dicanangkan
(Direktorat Jenderal Perkebunan, 2006).                     pertama kali oleh Pemerintah pada pertengahan
     Ada anggapan bahwa tanaman jambu mete                  tahun 1972, yang diawali dengan program
akan tumbuh dengan baik di lahan marjinal dan               penghijauan pada lahan kritis oleh Sub Sektor
beriklim kering, namun kenyataan di lapang saat             Kehutanan (Alaudin, 1996). Ternyata beberapa
ini tidak sedikit pertanaman di areal                       tahun kemudian, selain untuk penghijauan dan
pengembangan yang pertumbuhannya merana,                    memulihkan kembali kondisi lahan kritis,
berdaun kering, berbunga lebat tapi pem-                    tanaman ini dapat meningkatkan pendapatan
bentukan buahnya rendah. Hal ini disebabkan                 petani serta memperluas lapangan kerja. Pada
oleh berbagai faktor yang sangat kompleks,                  tahun 1977, kacang mete mulai diekspor dengan
mulai dari bahan tanaman sampai ke gangguan                 volume 23 ton senilai US$ 90.000 (BPS, 2003) dan
Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).                        disebut sebagai tanaman ekspor non tradisional.
Walaupun demikian, ternyata ada kantong-                        Sejak tahun 1979 Direktorat Jenderal
kantong wilayah yang memberikan harapan dan                 Perkebunan mulai mengembangkan jambu mete
produktivitas di atas rata-rata nasional, dan               melalui pola Unit Pelayanan Pengembangan
diharapkan pada pengembangan jambu mete ke                  (UPP), walaupun dengan input yang sangat
depan, diadakan pemilahan terhadap kantong-                 terbatas yaitu hanya penyaluran benih kepada
kantong wilayah.                                            petani. Itupun tidak seluruhnya dibiayai oleh



Perkembangan Jambu Mete dan Strategi Pengendalian Hama Utamanya (ELNA KARMAWATI)                          103
APBN, tetapi beberapa propinsi oleh APBD            tahun 2000. Penanaman terakhir oleh proyek
(Nogoseno, 1996). Hal ini berjalan selama 10        SRADP dilakukan di Sulawesi Tengah dan
tahun. Walaupun hanya bersifat sporadis, luas       Sulawesi Tenggara seluas 500 dan 450 ha pada
arealnya pada tahun 1990 dapat mencapai             tahun 2000. Disamping kegiatan pengembangan,
275.221 ha dan 98% merupakan perkebunan             pada beberapa proyek berbantuan tersebut
rakyat. Nilai ekspor yang dicapai waktu itu US$     terdapat kegiatan penelitian dan pengembangan,
8.243.000.                                          antara lain : a) Pada proyek EISCDP terdapat
     Kerjasama komoditas menunjukkan bahwa          pembangunan 2 unit stasiun penelitian di Dompu
peluang pasar dan nilai ekonomis cukup              dan Manggarai serta penelitian usahatani
memberikan harapan, sehingga bagi wilayah           terpadu dengan tanaman pokok jambu mete, b)
Indonesia Timur yang kondisinya cukup sesuai        Pada proyek ADB terdapat bantuan peningkatan
dengan persyaratan tumbuh jambu mete,               sarana dan prasarana bangunan, peralatan dan
komoditas ini dapat dijadikan andalan. Oleh         pelatihan di BPP Naibonat, dan c) Pada proyek
sebab itu pengembangan jambu mete dilaksana-        SADP bantuan ADB terdapat pendirian Pusat
kan secara besar-besaran dan bertahap dalam 5       Penelitian Usahatani Terpadu di Jayapura dan
tahun (1990 – 1994) melalui proyek Pengem-          pendirian 2 unit percobaan usahatani di Jaya
bangan Perkebunan Wilayah Khusus (P2WK)             Wijaya dan Sorong (Nogoseno, 1996).
dengan bobot pengembangan terbesar di                    Ternyata, luas areal jambu mete tidak
propinsi NTB dan NTT, kemudian ditambah 8           berhenti setelah proyek bantuan luar negeri
propinsi lainnya yaitu DIY, Jatim, Bali, Sulsel,    terhenti. Hal ini menunjukkan masih adanya
Sultra, Sulteng, Maluku dan Irja. Tujuan dari       minat dari petani dan pemerintah daerah. Sampai
program P2WK adalah menangani wilayah               akhir 2003 luas areal menjadi 581.641 ha dengan
pengembangan yang tertinggal dan wilayah            produksi 112.509 ton. Sebagian besar (98%) dari
bermasalah lainnya dengan memanfaatkan              luas areal tersebut, merupakan perkebunan
lahan-lahan marginal. Konsepsi dari P2WK ini        rakyat (571.528 ha). Sekitar 50% dari produksi
adalah menghadirkan perusahaan inti, agar dana      gelondong mete diekspor (57.087 ton) dengan
pemeliharaan terjamin. Perusahaan inti yang         nilai US$ 36.968.000 (BPEN, 2004) dengan negara
ditunjuk adalah PT. Bali Anacardia, PT. Sekar       tujuan India (61,15%), Vietnam (36,45%), China
Alam dan PT. Supin Raya. Secara keseluruhan         (1,04%), Amerika (0,53%) dan Taiwan (0,51%).
P2WK telah membangun seluas 21.686 ha,                   Kontribusi gelondong Indonesia dalam
perusahaan inti 3.300 ha dan Bank Pembangunan       perdagangan mete internasional, hanya sekitar
Asia 1.000 ha. Mengacu kepada keberhasilan          10.10%, jauh dibawah Tanzania yang memiliki
P2WK Lembaga keuangan luar negeri juga              kontribusi sebagai eksportir gelondong utama
tertarik untuk membantu yaitu ADB (UFDP,            44,92%. Sedangkan kontribusi ekspor kacang
TCSPP, SADP), IFAD (EISCDP) dan OECF                mete hanya 0,98%, jauh dibawah eksportir utama
(ADP). Luas areal jambu mete pada akhir tahun       yaitu India sebesar 57,28% dan Brazil sebesar
1994 meningkat 5 kali lipat dibanding tahun 1978    25,51%. (Indrawanto et al., 2001). Seperti
yaitu menjadi 418.801 ha. Seiring dengan            dijelaskan    sebelumnya     ekspor   gelondong
meningkatnya areal dan produksi, ekspor jambu       Indonesia sebagian besar ditujukan ke India.
mete juga mengalami peningkatan yang cukup          Kekuatan monopoli India inilah yang menjadikan
pesat. Volume eskpor kacang mete mencapai           Indonesia kesulitan untuk menembus pasar
38.620 ton dengan nilai US$ 43.401.000              dunia yang sudah lebih percaya ke India.
(Ditjenbun, 2000).                                       Tiga negara besar yang memasok kacang
     Sumbangan pertambahan luas areal dari          mete hádala India, Brazil dan Vietnam. Ketiga
proyek bantuan luar negeri sampai akhir tahun       negara tersebut (87,5%) memiliki kebijakan yang
1994 sebenarnya masih sangat sedikit. Sisa target   berbeda     dalam      pengembangan      industri
seluas 58.050 ha masih diteruskan sampai dengan     pengolahan kacang mete. India melarang impor



104                                                             Volume 7 Nomor 2, Desember 2008 : 102 - 111
kacang mete dan mengimpor gelondong agar                    berproduksi, bahkan di gudangpun masih ada
industrinya berjalan sepanjang tahun, sedang                jenis hama yang menyerang. Sebaran dan
Brazil dan Vietnam melarang ekspor gelondong                kerusakan yang ditimbulkan oleh hama jambu
mete (FAO, 2003). Jika dilihat dari segi                    mete belum tercatat dengan baik, karena semula
konsumen, pasar kacang mete terkonsentrasi                  tanaman tersebut hanya untuk konservasi,
kepada USA dan Eropa yang mengimpor kacang                  tanaman pekarangan atau tanaman sela saja.
mete dunia masing-masing 48 dan 28%. Hal ini                Perkembangan 15 tahun terakhir, masalah hama
yang membuat posisi tawar USA pada pasar                    menjadi penting untuk diperhatikan, karena
mete internasional cukup kuat. Menghadapi                   jambu mete ditanam secara monokultur dan pada
pasar yang sangat terkonsentrasi tersebut                   areal yang luas.
industri mete Indonesia harus memiliki daya                      Hama utama pada jambu mete selalu
saing yang tinggi. Daya saing ini akan tercapai             mengalami perubahan dalam sepuluh tahun
kalau usahatani jambu mete Indonesia memiliki               terakhir ini. Hal-hal yang menyebabkannya
kinerja yang tinggi, diantaranya kinerja sistem             adalah perubahan ekosistem/lingkungan dan
agribisnis yang merupakan kesatuan dari lima                perilaku manusia (Rauf, 2004). Pada tahun 1996,
subsistem (Indrawanto et al., 2003).                        berdasarkan hasil inventarisasi di 8 propinsi
    Salah satu subsistem yang perlu diperhatikan            utama daerah pengembangan, minimal ada 8
adalah subsistem usahatani. Ada anggapan                    jenis hama (Wikardi et al., 1996). Namun hama
bahwa tanaman jambu mete akan tumbuh dan                    yang paling merusak, tersebar luas dan hampir
berproduksi dengan baik dilahan marginal,                   selalu ditemukan pada daerah pengembangan
beriklim kering dan memiliki musim kemarau 5 –              hanya dua yaitu Cricula trifenestrata (Saturniidae :
7 bulan di KTI, oleh sebab itu pemerintah                   Lepidoptera) dan Helopeltis antonii Sign
mencanangkan pengembangan jambu mete di                     (Heteroptera:     Miridae).    Beberapa      tahun
Kawasan Timur Indonesia sejak 1990. Pada                    kemudian, hasil survei yang telah dilaksanakan
kenyataan di lapang saat ini, tidak sedikit                 oleh Supriadi et al. (2002) menunjukkan bahwa
pertanaman di areal pengembangan yang telah                 lebih dari 90 jenis serangga yang telah
berumur 9 – 11 tahun pertumbuhannya kurang                  diidentifikasi dari pertanaman jambu mete.
baik seperti merana, berdaun kering, berbunga               Serangga ini terdiri atas serangga hama,
lebat tapi pembentukan buahnya rendah. Hal ini              parasitoid, predator, penyerbuk dan serangga
diakibatkan oleh berbagai faktor yang sangat                lainnya. Hama utama dari serangga tersebut,
kompleks, misalnya bahan tanaman yang                       yaitu Helopeltis spp. dan Sanurus indecora Jacobi.
ditanam waktu itu bukan bibit unggul, tanaman               Hasil pengamatan di Nusa Tenggara Barat, luas
ini ditujukan untuk konservasi lingkungan                   serangan hama dan penyakit mencapai 1.217 ha
agroekologinya kurang sesuai, kurangnya                     pada tahun 2002 sehingga menurunkan hasil
pemeliharaan dan tingginya gangguan OPT.                    sebesar 10% atau taksasi kerugian hasil mencapai
Faktor-faktor    inilah   yang       menyebabkan            Rp. 13,8 milliar (Dinas Perkebunan NTB, 2002).
produktivitas rata-rata nasional sangat rendah              Kedua jenis hama dijumpai hampir merata di 6
hanya 333 kg gelondong/ha.                                  kabupaten di Nusa Tenggara Barat dengan
                                                            intensitas yang berbeda-beda. (Puslitbangbun
 PERKEMBANGAN HAMA UTAMA DAN                                dan Ditjenbun, 2002).
    PERMASALAHAN DI LAPANG
                                                            1. Helopeltis spp.
Perkembangan Hama Utama                                         Sampai saat ini Helopeltis spp. tetap menjadi
                                                            hama yang paling dominan pada pertanaman
    Serangan hama merupakan salah satu                      jambu mete baik di dalam maupun luar negeri.
kendala produksi pada pertanaman jambu mete                 Berdasarkan studi pustaka, ada 9 spesies yang
di Indonesia. Serangan ini dapat terjadi sejak              menyerang beberapa jenis tanaman perkebunan,
tanaman masih di pembibitan sampai tanaman                  seperti kopi, kakao dan teh (Wiratno et al., 2001),


Perkembangan Jambu Mete dan Strategi Pengendalian Hama Utamanya (ELNA KARMAWATI)                            105
namun hanya 3 spesies yang menyerang tanaman         adalah Sanurus indecora Jacobi (Siswanto et al.,
jambu mete yaitu H. antonii, H. theivora dan H.      2003). S. indecora yang sekarang dikenal sebagai
bradyi (Supriadi et al., 2002).                      wereng pucuk jambu mete jauh lebih kecil dari
    Nimfa dan imago mengisap cairan tumbuhan         Lawana Sp. Pronotum tidak bercarina, sudut
pada pucuk muda, tunas, bunga, gelondong dan         posterior atas segmen tidak meruncing, jumlah
buah muda. Air liurnya sangat beracun dan            spine pada tubuh kaki belakang 1 buah. Sayap
tempat yang terkena menjadi melepuh dan              bewarna putih, hijau atau putih kemerahan,
bewarna coklat tua. Buah yang terserang              berukuran 6-8 mm (Siswanto et al., 2003).
berbecak hitam. Serangan pada pucuk dapat                 Telur diletakkan secara berkelompok pada
mengakibatkan gugur pucuk dan daun muda              permukaan bawah daun dan diselimuti dengan
yang      terserang       menjadi   kering    dan    lapisan lilin berwarna putih atau krem. Nimfa
mengakibatkan mati pucuk. Bunga-bunga yang           dan serangga dewasa mengisap cairan tanaman
terserang menjadi hitam dan mati, kadangkala         pada pucuk, daun muda, tangkai bunga dan
bekas tusukan serangga ditandai oleh keluarnya       buah muda. Serangan pada populasi tinggi
gum. Menurut Rickson dan Rickson dalam Davis         terutama pada tangkai bunga dan buah muda
(1999), serangan Helopeltis anacardii di beberapa    menyebabkan bagian yang terserang menjadi
negara Asia Selatan, India dan Afrika Timur          kering, bunga tidak dapat menjadi buah. Selain
menyebabkan kerusakan ranting hingga 80%,            itu kehadiran serangga ini menyebabkan
sedang Mandal (2000) menyebutkan bahwa               terhalangnya aktivitas penyerbukan bunga oleh
serangan Helopeltis Spp. menyebabkan kerusakan       serangga penyerbuk.
sebesar 25% pada tunas-tunas, 30% pada bunga              Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh S.
dan 15% pada buah yang masih lunak.                  indecora belum diketahui secara pasti, namun
    Ciri khas serangga ini adalah jarum yang         hasil penelitian yang telah dilaksanakan di dusun
tegak pada bagian punggung (toraks). H. antonii      Sambik Rindang, desa Salut, kabupaten Lombok
bewarna coklat kemerahan dengan kepala hitam         Barat, menunjukkan bahwa investasi S. indecora
dan toraks merah dengan ukuran sekitar 7-10          pada fase generatif dapat menurunkan hasil
mm dan antena yang berukuran hampir dua kali         sebesar 57,83% (Mardiningsih et al., 2004).
ukuran panjang toraks. H. theivora bewarna           Memang sepintas lalu gejala serangan tidak
kuning kehijauan. Telur diletakkan pada pucuk        terlihat jelas, namun bila bagian terserang
daun dan pada jaringan muda yang masih lunak.        dikupas akan terlihat bintik-bintik hitam bekas
Rata-rata telur yang diletakkan sebanyak 25 butir.   tusukan stilet (Wiratno dan Siswanto, 2001).
Sepasang benang halus yang menonjol keluar           Populasi S. indecora mulai menanjak di
menandakan adanya telur di dalam jaringan            pertanaman bila populasi Helopeltis spp menurun
tersebut (Kalshoven, 1980). Populasi Helopeltis      dan mencapai puncak pada akhir masa
spp.     pada    pertanaman       mengikuti  pola    pembungaan. Pada keadaan tertentu, seperti
munculnya pucuk muda. Pucuk muda muncul              pada akhir tahun 2004 dan awal tahun 2005,
setelah ada hujan dan mencapai puncak pada           populasi S. indecora tetap ada di pertanaman
akhir musim hujan.                                   (Karmawati et al., 2004).

2. Sanurus indecora                                  3. Cricula trifenestrata dan hama lainnya
    Serangga ini baru menyerang pertanaman               Hama Cricula disebut juga ulat kenari. Ulat
jambu mete beberapa tahun terakhir, khususnya        ini pernah menjadi hama utama, namun tiga
di Lombok dan Sumbawa, karena di Jawa dan            tahun terakhir ini tidak muncul karena kokonnya
daerah pengembangan lainnya serangga ini             bernilai ekonomis. Selain menyerang jambu mete
belum ditemukan. Semula dikenal dengan nama          ulat ini juga menyerang kenari, alpukat, jambu,
Lawana sp, namun hasil identifikasi yang             kedondong, mangga, kakao dan kayumanis.
dilakukan di Laboratorium Entomologi Balittro        Daerah sebaran hama ini luas antara lain Asia
Zoologi-LIPI diketahui bahwa serangga tersebut       Selatan dan Asia Tenggara. Di Indonesia


106                                                              Volume 7 Nomor 2, Desember 2008 : 102 - 111
ditemukan di setiap sentra produksi di Jawa                 enggan untuk melakukan pemangkasan cabang
Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat,                    yang tidak produktif. Kedua faktor ini paling
Sulawesi dan Maluku (Wikardi dan Wahyono,                   berkaitan erat dengan peningkatan populasi
1991; Wikardi et al., 1996).                                Helopeltis (Karmawati et al., 1999).
     Ulat kecil memakan daun yang masih muda                     Helopeltis spp. dan Sanurus indecora
dari bagian bawah, secara bergerombol dan                   mempunyai rentang tanaman inang yang sangat
bekas serangan terlihat seperti sobekan-sobekan             lebar (Kalshoven, 1981; Siswanto, et al, 2003).
tidak teratur pada pinggiran daun. Serangan ulat            Kedua hama ini mempunyai wilayah serangan
yang lebih besar dapat menghabiskan seluruh                 berat yang berbeda 3 tahun terakhir ini, Sanurus
helainya, tinggal tulang daun saja. Bila populasi           menyerang pertanaman di Kabupaten Lombok
ulat tinggi, seluruh daun dalam areal yang luas             Barat dan Helopeltis spp menyerang pertanaman
akan gundul, tinggal ranting-ranting saja.                  di Kabupaten Dompu. Kedua hama tersebut lebih
     Di Jawa, status hama ini cukup menarik                 mudah untuk mempertahankan hidupnya
untuk dikaji karena beberapa petani di Jawa                 sebelum pindah ke jambu mete karena
dengan sengaja memeliharanya untuk diambil                  mempunyai inang alternatif. Tanaman mangga
kokonnya yang berwarna kuning keemasan yang                 adalah salah satu inang alternatif bagi S. Indecora,
dapat digunakan sebagai bahan serat kain.                   padahal tanaman mangga sedang dikembangkan
     Disamping hama-hama tersebut, Thrips                   di Lombok. Selain kakao dan teh, tanaman inang
(Selenotrip sp.), Nepophterix sp., Acrocercops sp.,         alternatif Helopeltis spp adalah gulma babadotan
aphid, Hypomeces sp. juga merupakan hama                    dan singkong. Gulma di pertanaman jambu mete
penting (Wikardi et al., 1996; Wikardi, 1997).              hampir mencapai kanopi jambu mete, petani
                                                            malas untuk membersihkan.
Permasalahan di Lapang                                           Penggunaan       insektisida    kimia    dapat
                                                            membunuh musuh alami dari serangga sehingga
     Berdasarkan fenomena yang ditemukan di
                                                            pertumbuhan populasinya tidak ada yang
alam diketahui bahwa populasi serangga pada
                                                            membatasi. Perubahan pertanaman polikultur
pertanaman selalu berfluktuasi dalam keadaan
                                                            menjadi monokultur umumnya akan mengurangi
stabil. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi
                                                            sumber makanan bagi parasit atau predator atau
kesinambungan populasi ini di alam serta sangat
                                                            tanaman sela dapat berfungsi sebagai tempat
kompleks. Namun secara umum faktor tersebut
                                                            berlindung (Refugee). Petani kurang dapat
dapat dikelompokkan menjadi faktor biotik dan
                                                            memilih tanaman sela yang cocok untuk tempat
abiotik (Krebs, 1978). Apabila pada suatu saat
                                                            berlindung bagi parasitoid dan predator. Hasil
kelimpahan populasi terus bertambah dan terjadi
                                                            penelitian di Wonogiri menunjukkan bahwa pola
ledakan serangan suatu hama, berarti ada satu
                                                            tanam jambu mete dengan kacang-kacangan
atau dua faktor yang tidak dapat bekerja lagi
                                                            dapat mengurangi tingkat kerusakan pucuk
karena perilaku manusia atau faktor lain.
                                                            dibandingkan        jambu      mete     monokultur
     Pada pertanaman jambu mete, beberapa
                                                            (Karmawati et al., 2001). Penciptaan infrastruktur
permasalahan       telah     ditemukan     yang
                                                            ekologi yang seimbang dalam agroekosistem
menyebabkan hama Helopeltis spp seringkali
                                                            dengan melengkapi sumber energi yang
muncul atau Sanurus menjadi hama baru.
                                                            diperlukan bagi musuh alami dan diintegrasikan
Sebagian besar pertanaman di sentra produksi,
                                                            dalam suatu ruang dan waktu sangatlah penting
umur tanaman jambu mete lebih dari 10 tahun
                                                            (Landis et al., 2000). Selain tanaman, interaksi
percabangan semakin banyak dan sudah
                                                            dengan mahluk hidup yang lain juga diperlukan.
tumpang tindih akibat dari jarak tanam yang
                                                            Kehadiran S indecora sangat diperlukan bagi
terlalu dekat. Hal ini mengakibatkan perubahan
                                                            Dolichoderus sp untuk memperoleh cairan dan
iklim mikro pada pertanaman jambu mete
                                                            Dolichoderus sp merupakan pemangsa bagi
terutama kelebaban nisbi dan perubahan
                                                            Helopeltis spp. (Karmawati et al., 2004).
pemaparan terhadap        sinar matahari. Petani


Perkembangan Jambu Mete dan Strategi Pengendalian Hama Utamanya (ELNA KARMAWATI)                            107
          UPAYA PENGENDALIAN                           yang diterapkan belum mampu menekan biaya
                                                       produksi dan meningkatkan pendapatan serta
Teknik Pengendalian
                                                       tidak mudah untuk dilaksanakan,            maka
      Penelitian pengendalian hama terpadu (PHT)       teknologi tersebut belum sesuai bagi kondisi
jambu mete baru diprioritaskan pada tahun 2001,        petani kecil di Indonesia. Teknologi yang
oleh sebab itu upaya pengendalian di lapang            diperlukan adalah yang bersifat efektif, efisien,
belum bernafaskan ”PHT” dan masih bersifat             aman, murah dan mudah dilakukan. Oleh sebab
komponen-komponen yang sebelum tahun 2001              itu strategi yang prospektif digunakan untuk
sebagian besar menggunakan pestisida kimiawi.          mengembangkan PHT adalah a). pemanfaatan
Tercatat pada tahun 1994, di tujuh propinsi            dan perekayasaan lingkungan pertanaman jambu
daerah pengembangan, hama yang menyerang               mete (kembali ke prinsip dasar PHT) serta b).
pertanaman jambu mete adalah C. trifenestrata,         pengkajian skala luas di beberapa agroekologi
Selenothrips sp., H. antonii, Acrocercops sp,          sekaligus melanjutkan pembinaan pemandu dan
Pseudococcus sp dan Aphids sp. Pengendalian            petani dalam wadah SLPHT.
yang telah dilaksanakan bersifat mekanis untuk             Pemanfaatan lingkungan pertanaman sangat
C. trifenestrata, dan sisanya menggunakan              erat hubungannya dengan SLPHT karena
monokrotofos. Beberapa tempat menggunakan              kegiatan pokok dan SLPHT adalah analisis
jamur Beauveria bassiana.                              agroekosistem    dan pengambilan keputusan.
      Perbaikan-perbaikan teknologi pengendalian       Seluruh peserta berpartisipasi aktif dalam
telah dilakukan yang merupakan rakitan dari            pengumpulan data aktual lapangan, pengkajian
hasil penelitian di daerah sentra produksi dan         data dan pengambilan keputusan manajemen
laboratorium. Sampai dengan tahun 2004, banyak         lahan. Kegiatan analisis agroekosistem ini
informasi yang telah dihasilkan seperti dinamika       bermanfaat dalam penajaman ”pandangan”
populasi (Siswanto et al., 2003; Mardiningsing et      petani dan petugas terhadap ekologi lokal serta
al., 2004), identifikasi musuh alami (Karmawati et     memudahkan proses pengelolaan ekologi lokal.
al., 1999; Karmawati et al., 2001; Karmawati et al.,       Sebagai gambaran teknologi yang murah,
2004; Purnayasa, 2003; Wikardi et al., 2001) dan       mudah dilakukan dan berada di sekitar
jenis-jenis pestisida nabati (Subiyakto, 2003).        pertanaman adalah a) nomor harapan yang
Teknologi-teknologi tersebut telah berulangkali
                                                       toleran terhadap Helopeltis spp (Amir et al., 2004),
disosialisasikan untuk diterapkan oleh petani
                                                       b) Serasah yang berupa bahan organik yang telah
dikebun jambu mete, karena visi dari kegiatan
                                                       mati dari ranting, dan hasil pengkasan atau
PHT adalah kemandirian petani dalam
                                                       gulma hasil penyiangan. Hasil penelitian
mengambil keputusan dengan pengelolaan
sistem kebun berdasarkan prinsip-prinsip PHT           menunjukkan sekitar 100 spesies parasitoid dan
untuk meningkatkan kesejahteraannya. Evaluasi          predator muncul dari serasah selama proses
terhadap hasil perbaikan belum memberikan              dekomposisi (Soebandrijo et al., 2000), c)
hasil yang memuaskan, terbukti serangan hama           Pembersihan gulma berdaun lebar karena
di salah satu sentra produksi makin meluas.            merupakan inang alternatif bagi Helopeltis spp.
                                                       Berbeda pada tanaman kapas, gulma berguna
Strategi Pengendalian                                  bagi parasitoid dan serangga penyerbuk (Kromp
    Teknologi budidaya termasuk PHT jambu              dan Steinberger, 1992), d) Pemangkasan tajuk
mete sebagian besar     telah ditemukan dan            yang tumpang tindih , karena Helopeltis spp
sebagian menjadi teknologi tepat guna, namun           sangat   peka     terhadap    radiasi  matahari
pengembangan teknologi tersebut di tingkat             (Kalshoven, 1981), e) Peningkatan populasi semut
petani tidak selalu mudah. Pengendalian hama           predator di pertanaman (Karmawati et al., 2004),
selalu dirasakan menjadi salah satu input yang         dan f) Penggunaan pestisida nabati biji mimba
memberatkan bagi petani. Apabila teknologi             yang pertanamannya banyak ditemukan di


108                                                                 Volume 7 Nomor 2, Desember 2008 : 102 - 111
daerah sentra jambu mete (Karmawati et al.,                  1. Pengembangan jambu mete di Indonesia
2007).                                                           selain ditujukan untuk konservasi juga untuk
                                                                 peningkatan nilai tambah petani dan
Strategi Penelitian                                              peningkatan devisa.
                                                             2. Perubahan ekosistem pada lingkungan jambu
    Sebagian besar penelitian jambu mete sampai
                                                                 mete menimbulkan masalah serangan hama.
saat ini masih bersifat parsial, mengacu pada
                                                                 Jenis serangan hama utama berubah seiring
kegiatan-kegiatan     penelitian   monodisiplin,
                                                                 dengan berjalannya waktu, oleh sebab itu
terpotong-potong serta lebih banyak berorientasi
                                                                 strategi pengendalian ke depan adalah
pada cara berfikir dan kepentingan peneliti. Oleh
                                                                 pengelolaan habitat yang dilakukan secara
karena itu kegiatan penelitian belum dapat
                                                                 bijaksana dengan melengkapi sumber-
mengatasi permasalahan yang nyata yang
                                                                 sumber energi yang diperlukan.
dihadapi oleh petani untuk mengambil
                                                              3. Strategi    penelitian jambu mete ke depan
keputusan dalam ekosistem yang dinamis.
                                                                 adalah : a) Melakukan inventarisasi parasit
Langkah strategis yang perlu dilakukan untuk
                                                                 dan predator dan cara perbanyakannya di
menjembatani        antara     penelitian     dan
                                                                 laboratorium serta mencari varietas yang
permasalahan di lapang adalah :
                                                                 tahan     terhadap    serangan   hama.     b)
(a) Melakukan inventarisasi parasit dan predator                 Melakukan penelitian teknologi dan stabilitas
    dan cara perbanyakannya di laboratorium                      mutu pestisida nabati dan agens hayati, c)
    serta mencari varietas yang tahan terhadap                   Penelitian    tidak    terbatas pada     tim
    serangan hama.                                               perlindungan saja tapi multidisiplin, dan d)
(b) Melakukan penelitian toksikologi dan                         Penelitian sosial ekonomi pendukung.
    stabilitas   mutu     untuk     meningkatkan
    kesadaran petani dalam menggunakan                                    DAFTAR PUSTAKA
    pestisida nabati dan agens hayati.
(c) Mengingat       kegiatan    PHT       sekarang          Alaudin. 1996. Status dan pengembangan
    berdasarkan ekologis yang berorientasi pada                    nasional komoditas jambu mete di
    pengelolaan ekosistem, maka kegiatan                           Indonesia. Prosiding Forum Komunikasi
    penelitian harus bersifat integratif dan                       Ilmiah Komoditas Jambu Mete. Bogor, 5 – 6
    komprehensif, yang dilaksanakan oleh suatu                     Maret 1996. Hlm. 1 – 16.
    tim peneliti yang lintas disiplin yang tidak            Amir, A.M., E. Karmawati dan Hadad E.A. 2004.
    terbatas oleh tim perlindungan tanaman,                        Evaluasi ketahanan beberapa aksesi jambu
    karena stabilitas suatu ekosistem ditentukan                   mete terhadap hama Helopeltis antonii Sign.
    pula oleh faktor lain seperti penelitian                       Jurnal Littri 10 (4) : 149-153
    varietas, keragaman tanaman serta iklim                 Balittro. 2002. Agribisnis Tanaman Jambu Mete.
    mikro disekitarnya.                                            Booklet. Balittro. 11 hlm.
(d) Untuk mendukung paradigma PHT yang                      Biro Pusat Statistik. 2003. Ekspor Gelondong
    baru ini diperlukan penelitian sosial ekonomi                  Jambu Mete Indonesia. Data lepas.
    mengingat keadaan sosial ekonomi petani                 BPEN. 2007. Indonesia Export of Cashew Nut in
    Indonesia yang rumit, spesifik dan dinamis,                    Shell by Country of Destination. 6p
    agar teknologi yang dihasilkan efektif dan              Davis, K. 1999. Cashew. Eco Technical Note.
    efisien.                                                       http:///www.echonet.org.
                                                            Dinas Perkebunan Nusa Tenggara Barat. 2002.
                 KESIMPULAN                                        Taksasi Kehilangan Hasil dan Kerugian
                                                                   Hasil Akibat Serangan OPT di Nusa
    Berdasarkan uraian yang telah disampaikan,                     Tenggara Barat. Laporan Pengamatan OPT
kesimpulan yang dapat diberikan adalah :                           Tanaman Perkebunan. 10 hlm.



Perkembangan Jambu Mete dan Strategi Pengendalian Hama Utamanya (ELNA KARMAWATI)                          109
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2000. Statistik              enemies of Arthropod pests in agriculture.
      Perkebunan Indonesia 1994 – 1996. 52 hal.              Annu. Rev. Entomol. 2000. 45 : 175 – 201.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2006. Statistik        Mandal, R.C. Cashew Production and Processing
      Perkebunan Indonesia. Jambu Mete. 2004-                Technology. 2000. Agrobias, India. 195 hal.
      2005, Jakarta. 33 hlm                            Mardiningsih, T.L., A.M. Amir, I.M. Trisawa dan
FAO. 2003. FAO : Statistic               data base.          IGNR Purnayasa. 2004. Biologi dan
      www.FAO.org.                                           pengaruh serangan Sanurus indecora
Ferry, Y., J.T. Yuhono dan Chandra Indrawanto.               terhadap kehilangan hasil jambu mete.
      2001. Strategi Pengembangan Industri Mete              Jurnal Littri 10 (3) : 112 – 117.
      Indonesia. Hlm. 8 – 9.                           Mulyono, E. dan D. Sumangat. 2001. Pengelolaan
Indrawanto, C., E. Mulyono, R. Zaubin dan I.                 gelondong jambu mete, cairan kulit biji
      Sriwulan. 2001. Perspektif perkembangan                mete      (CNSL)       dan    pemanfaatannya.
      pemasaran dan pasca panen jambu mete.                  Monograf Jambu Mete. Monograf No.6,
      Warta Litbangtri 7(4) : 12 – 14.                       Balai Penelitian Tanaman Rempah dan
Indrawanto, C., S. Wulandari dan A. Wahyudi.                 Obat. p. 77 – 96.
      2003.      Analisis      faktor-faktor    yang   Nogoseno. 1996. Pengembangan jambu mete di
      empengaruhi keberhasilan usahatani jambu               Indonesia. Prosiding Forum Komunikasi
      mete di Sulawesi Tenggara. Jurnal Littri 9             Ilmiah Komoditas Jambu Mete. Bogor, 5 – 6
      (4) : 141 – 147.                                       Maret 1996. Hlm. 37 – 45.
Kalshoven, L.G.E. 1981. Pests of Crops in              Purnayasa, I.G.N.R. 2003. Parasitasi Aphanomerus
      Indonesia. PT. Ichtiar Baru – Van Hoeve,               sp. pada wereng pucuk jambu mete
      Jakarta. p. 119.                                       Sanurus indecora Jacobi. Jurnal Littri 9 (1) : 1
Karmawati, E., T.H. Savitri, T.E. Wahyono dan                – 3.
      I.W. Laba. 1999. Dinamika populasi               Puslitbangbun dan Ditjenbun. 2002. Evaluasi
      Helopeltis antonii Sign, pada jambu mete.              Pelaksanaaan Pengendalian OPT Tanaman
      Jurnal Littri 4 (6) : 163 – 67.                        Perkebunan di Nusa Tenggara Timur, Nusa
Karmawati, E., T.H. Savitri, W.R. Atmadja dan                Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Selawesi
      T.E. Wahyono. 2001. Jurnal Littri 7 (1) 1 – 5.         Selatan dan Kalimantan Selatan pada T.A.
Karmawati, E., Siswanto dan E.A. Wikardi. 2004.              2002. Kerjasama Puslitbangbun dan
      Peranan semut (Oecophylla smaragdina dan               Ditjenbun. 18 hlm.
      Dolichoderus sp.) dalam pengendalian             Rauf, A. 2004. Entomologi Dalam Perubahan
      Helopeltis Spp. dan Sanurus indecora pada              Lingkungan dan Sosial : Perspektif
      jambu mete. Jurnal Littri 10 (1) : 1 – 7.              Pertanian. Disampaikan pada Seminar
Karmawati, E. dan R. Balfas. 2007. Pemanfaatan               Nasional IV PEI – Cabang Bogor, 5 Oktober
      pestisida nabati dan jamur Beauveria                   2004. 6 hlm.
      bassiana untuk pengendalian kutu daun F.         Siswanto, E.A. Wikardi, Wiratno dan E.
      virgata. 8 hlm (dalam proses penyusunan                Karmawati. 2003. Identifikasi wereng
      prosiding)                                             pucuk jambu mete, Sanurus indecora dan
Krebs, C.J. 1978. Ecology : The Experimental                 beberapa aspek biologinya. Jurnal Littri 9
      Analysis of Distribution and Abundance.                (4) : 157 – 161.
      Harper and Row Publications. 678 hlm.            Soebandrijo, Sri Hadiyani, S.A. Wahyuni dan M.
Kromp, B dan K.H.Steinberger. 1992. Grassy field             Soehardjan. 2000. Peranan serasah dan
      margin and arthoprod diversity ; a case                gulma dalam meningkatkan keanekar-
      study in ground and spiders in Eastern                 agaman hayati dan pengendalian serangga
      Australia Agric. Ecol. Environ. 40; 71-93              hama kapas di Indonesia. Pros. Simp.
Landis, D.A., S.D. Wratten and G.M. Gurr. 2000.              Keanekaragaman Hayati Arthropoda pada
      Habitat management to conserve natural



110                                                                 Volume 7 Nomor 2, Desember 2008 : 102 - 111
      Sistem Produksi Pertanian, PEI. Cipayung :            Wikardi, E.A. dan T.E. Wahyono. 2001. Serangga
      277 – 284.                                                 perusak tanaman kayumanis (Cinnamomum
Subiyakto. 2003. Teknologi Sederhana Peman-                      Spp.) dan masalahnya. Buletin Littro 6 (1).
      faatan Pestisida Nabati (Leaflet). Balittas.          Wikardi, E.A., G.N.R. Purnayasa dan Siswanto.
Supriadi, Siswanto, E. Karmawati, S. Rahayu-                     2001. Potensi Cendawan Synnematium Sp.
      ningsih, D. Sitepu, E.M. Adhi, E.A.                        sebagai    agens   hayati     Lawana     Sp.
      Wikardi, Wiratno, T.E. Wahyono dan C.                      (Hemoptera : Flatidae). Jurnal Littri 7 (3) :
      Sukmana. 2002. Pengelolaan Ekosistem                       84 – 87.
      Jambu Mete Berdasarkan Teknologi PHT.                 Wiratno, E.A. Wikardi dan Siswanto. 2001.
      Laporan Hasil Penelitian PHT Tahun 2001.                   Keanekaragaman      Helopeltis   spp.     di
      (tidak dipublikasikan). 50 hlm.                            Indonesia. Prosiding Simposium Keaneka-
Wikardi, E.A., Wiratno dan Siswanto. 1996.                       ragaman Hayati Arthropoda pada Sistem
      Beberapa hama utama tanaman jambu                          Produksi Pertanian. Cipayung, 16 – 18
      mete dan usaha pengendaliannya. Pro-                       Oktober 2000. Hlm. 387 – 390.
      siding Forum Komunikasi Ilmiah Komo-                  Wiratno dan Siswanto. 2001. Serangan Lawana Sp
      ditas Jambu Mete. Bogor, 5 – 6 Maret 1996.                 (Homoptera : Flatidae) pada tanaman
      Hlm. 124 – 132.                                            jambu mete (Anacardium occidentale).
Wikardi, E.A. 1997. Consultant’s report of                       Prosiding     Seminar     Nasional      PEI,
      National Entomologist. The Ministry of                     Pengelolaan Serangga yang Bijaksana
      Forestry and Estate. Jakarta.                              Menuju Optimasi Produksi. Bogor, 6
                                                                 Nopember 2001. p. 165 – 172.




Perkembangan Jambu Mete dan Strategi Pengendalian Hama Utamanya (ELNA KARMAWATI)                          111
                                       INDEKS
                                    Volume 7, 2008


INDEKS SUBJEK                                       Helicoverpa armigera 1
                                                    Jerami padi 55
Anacardium occidentale
                                                    Pengendalian hama 55
      Gelondong 102
                                                    Periode kering 92
      Helopeltis, spp 102
                                                    PHT 92
      Iklim mikro 102
                                                    Morfologi tanaman 47
      Kacang mete 102
                                                    Mulsa 55
      Perekayasaan lingkungan 102
                                                    Musuh alami 1
      Sanurus indicora 102
                                                    Tumpangsari 55
      SLPHT 102
                                                    Waktu tanam 92
Brassicaceae                                 Metroxylon
       Biofumigan 20                                Maluku 65
       Hidrolisis 20                                Pengembangan bio-etanol 65
       Indonesia 20
                                             Musa textilis
       Prospek pengembangan 20
                                                    Fusarium oxysporum f.sp.cubense 80
       Sumber tanaman 20
                                                    Seleksi in-vitro 80
Cendawan kontaminan
                                             Nicotiana tabacum
     Mikotoksin 35
                                                    Besuki 12
     Tumbuhan obat 35
                                                    Jember Selatan 12
Gossypium hirsutum                                  Permasalahan 12
      Ambang kendali 1                              Pengembangan 12
      Amrasca biguttulla 1, 47




INDEKS PENULIS

Bustaman, S. 65
Djajadi 12
Indrayani, I G.A.A. 47, 55
Karmawati, E. 92
Noveriza, R. 35
Nurindah 1
Riajaya, P.D. 82
Subiyakto 55
Sudjindro 80
Sunarto, D.A. 1
Supriadi 20
Yulianti, T. 20




112                                                       Volume 7 Nomor 2, Desember 2008 : 102 - 111

								
To top