WABAH ANTRAKS DI KABUPATEN SUMBAWA, PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT - PDF by csa19005

VIEWS: 766 PAGES: 11

									                 WABAH ANTRAKS DI KABUPATEN SUMBAWA,
              PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PADA TAHUN 2004
                    (The Outbreak of Anthrax in Sumbawa District
                     the Province of West Nusa Tenggara in 2004)

     Anak Agung Gde Putra, Lalu Zuhudin*, Ni Luh Dartini, A.A. Sagung Dewi,
                 Ni Made Arsani, dan Rince Morita Butarbutar
               BPPV Denpasar dan *Dinas Peternakan Propinsi NTB


                                                 ABSTRAK

Telah terjadi wabah antraks yang menyerang kerbau, sapi, kambing, anjing, ayam, dan juga manusia di
Kabupaten Sumbawa. Berdasarkan informasi yang diperoleh, diperkirakan bahwa wabah mulai terjadi sekitar
pertengahan bulan September 2004 di Desa Berare dan menyerang 8 ekor sapi, tetapi kasus ini luput dari
pengamatan petugas karena tidak dilaporkan saat kasus terjadi. Dua minggu kemudian, penyakit muncul di
Desa Ngeru, Karang Dima, Batu Bangka, Lito, Lito B, Penyaring, dan terakhir di Desa Pelita. Sampai akhir
Nopember 2004, sebanyak 9 ekor kerbau, 18 ekor sapi, 1 ekor kambing, 6 ekor anjing, dan 1 ekor ayam telah
tertular antraks. Di samping itu, 13 orang juga tertular antraks, tetapi tidak ada yang sampai meninggal dunia.

Kabupaten Sumbawa telah diketahui sebagai daerah tertular antraks dan kasus itu kerap muncul secara
periodik. Kasus antraks muncul karena rendahnya cakupan vaksinasi di Kabupaten Sumbawa, yaitu sekitar
17%. Rendahnya cakupan vaksinasi di daerah (desa) tertular juga diakibatkan oleh pendekatan program
vaksinasi yang tidak memprioritaskan pelaksanaan vaksinasi pada desa-desa tertular berdasarkan sejarah
kejadian antraks. Mengingat rendahnya cakupan vaksinasi di desa tertular dan kasus antraks juga terjadi di
daerah yang berbukit, untuk menghindari terjadinya wabah yang lebih besar pada saat musim hujan, maka
disarankan agar segera dilakukan vaksinasi di desa tertular, desa yang mengikuti aliran air (sungai) yang
berkaitan dengan tempat kasus antraks terjadi, dan di desa sekitar desa tertular, serta melakukan penutupan
lalu lintas ternak ke dan dari desa tertular.

Kata kunci: antraks, ternak, manusia, pulau Sumbawa


                                                ABSTRACT

The outbreak of anthrax in the District of Sumbawa, West Nusa Tenggara Province was initiated by the first
case of anthrax that occurred in Berare Village in the midle of September 2004, affecting 8 buffaloes.
Anthrax was then found in four other villages. Up to the end of the outbreak (late November 2004): 9
buffaloes, 18 cattle, 1 goat were affected. More over 6 dogs and one chicken that affected by the disease was
due to that those animals were fed with infected meat by the owner. During the outbreak, 10 men and 1
woman were also affected due to either they skinning or consuming meat from the dead animals.
Sumbawa District has been known as one of endemic areas for anthrax in the Province of West Nusa
Tenggara and for that reason the disease was controlled by vaccination. The recent outbreak occurred
because of a relatively low vaccination coverage in the district which was about 17%. The low vaccination
coverage was also due to the poor approach in vaccination programme; it was not based on infected villages
according to historical incidence of anthrax. Of those findings and in order to stop the outbreak before the
rainy season comes, which begi by the end of the year, it was then recommended to revaccinate all of the
susceptible population with priority to: infected villages, low land villages and the neighbour of infected
villages.

Keyword: anthrax, livestock, human, Sumbawa island
           PENDAHULUAN                       terhadap seluruh hewan peka di semua
                                             desa tertular dan desa sekitarnya yang
Antraks adalah penyakit hewan menular        secara epidemiologi terancam. Kalau
yang dapat menyerang berbagai jenis          program vaksinasi dilaksanakan secara
hewan mamalia, bersifat perakut, akut,       berkesinambungan dan dalam jangka
atau subakut, dan bersifat zoonosis.         waktu yang lama, pada akhirnya spora B.
Burung unta juga dilaporkan peka             anthracis pada suatu saat akan mati juga
terhadap antraks (Noor dkk., 2001;           seperti yang terjadi di pulau Bali. Laporan
Hardjoutomo dkk., 2002). Ada dua             penyidikan ini dibuat berkaitan dengan
bentuk antraks, yaitu bentuk kulit dan       munculnya wabah antraks di Kabupaten
bentuk septisemik (Ezzel, 1986). Bila        Sumbawa yang menyerang ternak dan
kuman Bacillus anthracis berada dalam        manusia.
lingkungan yang tidak menguntungkan
bagi perkembangannya dan memperoleh
jumlah oksigen yang cukup, maka ia akan             MATERI DAN METODE
membentuk spora, dan spora ini mampu
bertahan hidup selama puluhan tahun.         1. Pengamatan Lapangan
Penyembelihan hewan tertular antraks         Penyidikan lapangan tahap pertama
akan mendorong kuman ini membentuk           dilakukan pada tanggal 5 Nopember,
spora., Karena itu, hewan tertular antraks   selanjutnya tahap ke dua dilakukan pada
dilarang untuk disembelih. Padang            tanggal 11 Nopember 2004. Penyidikan
penggembalaan atau lingkungan budidaya       dilakukan oleh tim Dinas Peternakan
ternak yang telah tercemari spora antraks    Kabupaten       Sumbawa,     tim     Dinas
akan mengakibatkan penyakit itu menjadi      Peternakan Propinsi NTB, dan tim
bersifat endemik apabila tidak ditangani     penyidik BPPV Regional VI Denpasar.
secara baik. Akibat dari penanganan          Pengamatan dilakukan langsung di lokasi
antraks yang belum optimal, sejak lama       kasus setelah mendengar informasi
pulau Sumbawa dikenal sebagai pulau          adanya kasus kematian ternak yang
yang endemik antraks (Poerwadikarta,         mencirikan antraks dan adanya manusia
1998; Hardjoutomo dan Poerwadikarta,         yang tertular karena ada hubungan dengan
1996; Poerwadikarta dkk., 1993;              ternak yang mati. Untuk memperoleh
Hardjoutomo dkk., 1995; Kertayadnya          informasi      yang    diperlukan,     tim
dan Suendra, 2003).                          melakukan         wawancara         dengan
                                             masyarakat atau peternak yang ternaknya
Kabupaten Buleleng, Bali sekitar tahun       mengalami kematian dan juga kepada
1885 pernah dilaporkan tertular antraks      orang yang diduga tertular antraks.
(Soemanagara, 1958). Sekarang pulau
Bali dikenal sebagai salah satu pulau di     2. Pengambilan Spesimen
Indonesia yang bebas dari antraks. Data      Untuk peneguhan diagnosa secara
ini menunjukkan bahwa antraks masih          laboratorium dari dugaan kasus antraks
dapat diberantas, tentu dengan program       yang terjadi, dilakukan pengambilan
yang jelas dan berkesinambungan dan          spesimen di tiga desa tertular.
dilaksanakan dalam jangka waktu yang         a) Di Desa Berare diambil dua sampel
lama mengingat daya tahan hidup spora            tanah di sekitar tempat dilakukan
antraks di tanah dapat berlangsung dalam         penyembelihan kerbau, di dua lokasi
kurun waktu yang sangat lama. Di daerah          yang berbeda.
endemik, salah satu cara untuk               b) Di Desa Batu Bangka diambil sampel
mengendalikan penyakit ini adalah                tanah dan tulang (rahang, rusuk)
dengan melakukan vaksinasi massal                kerbau yang tersisa di sekitar tempat
   pemusnahan kerbau.                        2. Kronologi Kasus Antraks
c) Di Desa Karang Dima diambil               Dari hasil wawancara dengan pemilik
   sampel tanah di sekitar tempat            ternak dan masyarakat, diperoleh
   dilakukannya pemusnahan kambing.          informasi bahwa penyakit mulai terjadi
                                             sekitar pertengahan bulan September
3. Pengujian Spesimen                        2004, yaitu adanya kematian 8 ekor sapi
Selama proses penyidikan, dilakukan          yang terjadi di Desa Berare dan
pemeriksaan preparat ulas darah oleh         berlangsung selama dua minggu. Kasus
Laboratorium tipe C Sumbawa terhadap 6       ini luput dari pengamatan petugas Dinas
ekor ternak yang mati di Desa Batu           Peternakan karena hal tersebut tidak
Bangka, Berare dan Desa Karang Dima.         dilaporkan oleh peternak. Berita antraks
Untuk melakukan konfirmasi agen              baru kemudian menjadi pembicaraan
penyebab, terhadap spesimen yang             setelah tertularnya beberapa orang sekitar
diambil dilakukan uji pembiakan pada         tanggal 27 Oktober 2004. Berdasarkan
plat agar darah dan uji biologis             data yang diperoleh, sebelum berita
(Hardjoutomo, 1985), dengan tetap            antraks tersebar luas, sudah ada tiga desa
memperhatikan        kesehatan     dan       yang tertular        (Tabel 1). Kronologi
keselamatan lingkungan (Sudana dkk.,         kejadian antraks di masing-masing desa
1983). Karena pulau Bali bebas dari          tertular diuraikan berikut ini.
antraks, maka pengujian dilakukan di
Laboratorium tipe B di Mataram. Di           a) Kasus antraks di Desa Berare,
samping itu, sampel yang sama juga                Kecamatan Moyohilir, Kabupaten
dikirim ke Balitvet Bogor dalam rangka            Sumbawa.
uji banding.                                 Pada tanggal 27 Oktober 2004, satu ekor
                                             sapi      dilaporkan     mati    dengan
                                             memperlihatkan gejala klinis antraks.
                 HASIL                       Hewan yang mati tersebut telah
                                             dimusnahkan       dengan     pembakaran.
1. Diagnosa Lapangan                         Diperoleh informasi bahwa beberapa
Berdasarkan pemeriksaan ulas darah dan       minggu sebelumnya telah ada 8 ekor sapi
gejala klinis serta gambaran epidemiologi,   yang mati secara mendadak dalam kurun
kasus kematian ternak yang terjadi di        waktu sekitar dua minggu. Tentang kasus
Desa Batu Bangka, Ngeru, Berare, dan         kematian 8 ekor sapi ini belum dapat
Desa Karang Dima di Kabupaten                ditelusuri secara cermat dan juga tidak
Sumbawa disebabkan oleh antraks.             dilakukan pemeriksaan oleh petugas yang
Tertularnya 13 orang penduduk di desa        berwenang. Diduga kasus antraks mulai
tertular terjadi setelah mereka melakukan    terjadi    sekitar pertengahan    bulan
penyembelihan ternak tertular. Gejala        September 2004, dan kematian 8 ekor
klinis yang muncul pada ternak tertular      sapi tersebut diduga merupakan kasus
antraks      adalah     berupa   kematian    awal berjangkitnya antraks di Kecamatan
mendadak, kejang-kejang, dan keluar          Moyohilir, Kabupaten Sumbawa tahun
darah dari lubang kumlah. Pada manusia,      2004.
terlihat gejala klinis pada kulit yaitu
berupa gatal-gatal, kemudian terbentuk       Kasus antraks selanjutnya terjadi pada
vesikula selanjutnya terbentuk ulser yang    tanggal 12 November 2004, menyerang
ditemukan pada tangan, daerah pinggul,       1 ekor kerbau; kerbau tersebut selanjutnya
pinggang, dan kaki.                          dijual ke pejagal kemudian dilaporkan
                                             mati. Kasus kematian ternak terakhir di
                                             Desa Berare terjadi pada tanggal 17
Nopember 2004 di Dusun Melili,             memperoleh perawatan dari Puskesmas
menyerang 1 ekor sapi. Sapi tersebut       Moyohilir dan tidak ada yang dilaporkan
dimusnahkan dengan cara dibakar. Tim       meninggal.
penyidik        menyaksikan       proses
pembakaran, tetapi sepanjang pengamatan    Lebih lanjut, 6 ekor anjing yang memakan
tim, tidak terlihat adanya kedua kaki      daging kerbau tersebut juga dilaporkan
belakang dari sapi yang dimusnahkan.       mati 2 hari kemudian, demikian juga 1
                                           ekor ayam yang makan daging kerbau
Sampai dengan penyidikan lapangan          tersebut juga dilaporkan mati pada
dilakukan, di desa Berare belum terjadi    tanggal 2 Nopember 2004. Kasus
penyebaran penyakit kepada manusia.        selanjutnya di Dusun Sengkal terjadi pada
                                           tanggal 4, 6, dan 8 Nopember 2004,
b) Kasus antraks di Desa Ngeru,            berturut-turut menyerang 3 ekor kerbau,
    Kecamatan Moyohilir, Kabupaten         masing-masing kerbau diketahui mati
    Sumbawa.                               secara mendadak, bangkai dari kerbau
Pada tanggal 7 Oktober 2004, satu ekor     tersebut dibakar. Pada tanggal 9
kerbau dilaporkan mati secara mendadak     Nopember 2004 kasus antraks terjadi lagi
dengan memperlihatkan klinis antraks.      di Dusun Sengkal menyerang 1 ekor sapi.
Dilaporkan ada 3 orang yang tertular       Selanjutnya, antraks muncul di Dusun
dengan memperlihatkan lesi menyerupai      Penyaring, Desa Batu Bangka pada
antraks. Sampai penyidikan dilakukan       tanggal 27 November 2004 menyerang 2
belum ada yang meninggal karena            ekor sapi.
penyakit tersebut.
                                           d) Kasus antraks di Desa Karang
c) Kasus antraks di Desa Batu                  Dima, Kecamatan Labuhan Badas,
     Bangka, Kecamatan Moyohilir,              Kabupaten Sumbawa.
     Kabupaten Sumbawa.                    Pada tanggal 26 Oktober 2004, di Dusun
Pada tanggal 31 Oktober 2004, 1 ekor       Bangkong, Desa Karang Dima ada 1 ekor
sapi sakit dan kemudian dipotong paksa,    kambing yang dilaporkan mati yang
dagingnya dijual ke pejagal dan setelah    memperlihatkan gejala klinis antraks.
diketahui      limpanya    membengkak      Selanjutnya, antraks menyebar ke Dusun
kemudian dilaporkan daging ini dibakar     Pemulung, Desa Karang Dima pada
dan dikubur. Pada tanggal 31 Oktober       tanggal 29 Nopember 2004 menyerang 1
juga, 1 ekor kerbau dari 12 ekor kerbau    ekor sapi. Tidak ada laporan yang
dalam satu kelompok dilaporkan mati        menyatakan bahwa penyakit telah
secara mendadak dengan memperlihatkan      menulari manusia.
klinis antraks. Kemudian beberapa orang
melakukan pengulitan dari kerbau yang      e) Kasus antraks di Lito B, Pelita, dan
mati tersebut dan daging dari kerbau            Lito, Kecamatan Moyo Hulu,
tersebut dipotong-potong selanjutnya            Kabupaten Sumbawa.
diberikan ke 6 ekor anjing dan 1 ekor      Di Kecamatan Moyo Hulu, antraks terjadi
ayam.                                      di tiga lokasi (dusun/desa) yang dimulai
                                           pada tanggal 7 November 2004 dan kasus
Dua hari kemudian 4 orang yang             terakhir pada tanggal 29 November 2004,
menguliti        kerbau        tersebut    menyerang 2 ekor kerbau dan 3 ekor sapi.
memperlihatkan gejala klinis gatal-gatal    Berkaitan dengan kasus antraks tersebut,
dan selanjutnya memperlihatkan luka-       4 orang dilaporkan tertular antraks, dan
luka pada kulit (karbunkel) menyerupai     semuanya dapat disembuhkan.
lesi antraks. Keempat orang tersebut
3. Tingkat Morbiditas dan Mortalitas          5. Hewan Terserang
Antraks                                       Dari 13.084 ekor ternak (sapi, kerbau,
Tingkat morbiditas dan mortalitas antraks     kambing, dan kuda) yang ada di daerah
pada berbagai ternak di 3 kecamatan           tertular, kasus antraks paling banyak
tertular disajikan pada Tabel 2, 3, dan       menyerang sapi (0,49%) kemudian
Tabel 4. Secara keseluruhan, tingkat          disusul kerbau (0,18%) dan kambing
morbiditas antraks adalah sebesar 0,21%       (0,05%)(Tabel 5). Dari 2.429 kuda yang
(28/13.084). Tingkat kematian penderita       ada di daerah wabah, tidak ada satu ekor
(case fatality rate) dan tingkat mortalitas   pun yang terserang antraks. Sementara itu,
antraks adalah juga sebesar 0,21%.            6 ekor anjing dan 1 ekor ayam yang
                                              tertular antraks disebabkan karena diberi
Data tentang cakupan vaksinasi antraks        makan daging yang berasal dari ternak
per    desa      tidak     tersedia,   maka   yang terserang antraks.
hubungannya dengan kejadian kasus
antraks sulit dianalisis secara cermat.

4. Hasil Pengujian Spesimen
Laboratorium Type C di Kabupaten
Sumbawa telah membuat preparat ulas
darah dari 6 ekor hewan yang mati,
dengan hasil secara mikroskopis positif B.
anthracis. Pengujian sampel yang
dilakukan di Laboratorium Type B di
Mataram, baik pada pemupukan pelat
agar darah maupun pada uji biologis pada
tikus putih, positif B. anthracis. Hasil
pengujian sampel yang sama yang
dilakukan oleh Balitvet Bogor juga positif
 B. anthracis.
                                          Tabel 1
Kejadian antraks di lima desa tertular, tiga kecamatan, Kabupaten Sumbawa pada tahun
2004

Dusun / Desa,       Tanggal                 Hewan tertular:             Kasus
Kecamatan           Kejadian       Ker   Sa Ka       anjin    Ayam      pada
                                   bau   pi   mbi g                    manusia
                                              ng
A. Kecamatan Moyohilir:
1) Berare        - 15-09-04         -     8      -       -       -         -
                 - 27-10-04         -     1      -       -       -         -
                 - 12-11-04         1     -      -       -       -         -
                 - 17-11-04         -     1      -       -       -         -

2)   Ngeru          -   07-10-04    1      -     -       -       -         3

3) Sengkal, Batu - 31-10-04         1     1      -      6        1         4
   Bangka        - 04-11-04         1     -      -      -        -         -
                 - 06-11-04         1     -      -      -        -         -
                 - 08-11-04         1     -      -      -        -         -
                 - 09-11-04         -     1      -      -        -         -
Dusun Penyaring  - 27-11-04         -     2      -      -        -         -

B. Kecamatan Labuhan Badas
4) Dusun          - 26-10-04        -     -      1       -       -         -
    Bangkong dan - 29-11-04         -     1      -       -       -         -
    Pemulung
    Bangkong,
    Desa Karang
    Dima

C. Kecamatan Moyo Hulu
5) Dusun Lito B  - 07-11-04         1      -     -       -       -         3
                 - 22-11-04         1      -     -       -       -         1

     Dusun Pelita   -   29-11-04    -     1      -       -       -         -

     Dusun Lito     -   24-11-04    -     2      -      -        -         -
                        Jumlah:     8     18     1      6        1        11
                                      Tabel 2
Tingkat morbiditas dan mortalitas antraks di desa tertular, di Kecamatan Moyohilir,
Kabupaten Sumbawa, tahun 2004.

      Jenis ternak          Populasi       Cakupan      Jumlah sakit    Jumlah mati
                                           vaksinasi
 1. Desa Berare:
 Sapi                              451         ?           10 (2,2%)       10 (2,2%)
 Kerbau                          1.361         ?           2 (0,15%)       2 (0,15%)
 Kambing                           180         ?                   0               0
 Kuda                              568         ?                   0               0
 Jumlah:                         2.560                    12 (0,46%)      12 (0,46%)
 2. Desa Ngeru:
 Sapi                              560         ?                   0               0
 Kerbau                          1.112         ?           1 (0,09%)       1 (0,09%)
 Kambing                           257         ?                   0
 Kuda                              384         ?                   0
 Jumlah:                         2.313                     1 (0,04%)       1 (0,04%)
 3. Desa Batu Bangka
 Sapi                              388         ?             4 (1,0%)       4 (1,0%)
 Kerbau                          1.651         ?           4 (0,24%)       4 (0,24%)
 Kambing                           540         ?                    0              0
 Kuda                              760         ?                    0              0
 Jumlah:                         3.339                     8 (0,24%)       8 (0,24%

 Total:                          8.212                    21 (0,25%)      21 (0,25%)


                                       Tabel 3
Tingkat morbiditas dan mortalitas antraks di Desa Karang Dima, Kecamatan Labuhan
Badas, Kabupaten Sumbawa, tahun 2004.

  Jenis ternak       Populasi          Cakupan         Jumlah sakit     Jumlah mati
                                       vaksinasi
 Sapi                    1.655            ?               1 (0,06%)        1 (0,06%)
 Kerbau                     20            ?                       0                0
 Kambing                   867            ?               1 (0,11%)        1 (0,11%)
 Kuda                      331            ?                       0                0
 Jumlah:                 2.873                           2 (0,07%)         2 (0,07%)
                                       Tabel 4
Tingkat morbiditas dan mortalitas antraks di Lito B, Pelita, dan Lito, Kecamatan Moyo
Hulu, Kabupaten Sumbawa, tahun 2004.

  Jenis ternak     Populasi            Cakupan            Jumlah sakit    Jumlah mati
                                       vaksinasi
 Sapi                    620              ?                  3 (0,48%)       3 (0,48%)
 Kerbau                  849              ?                  2 (0,23%)       2 (0,23%)
 Kambing                 386              ?                          0               0
 Kuda                    144              ?                          0               0
 Jumlah:               1.999                                 5 (0,25%)       5 (0,25%)



                                         Tabel 5
Jenis ternak yang terserang selama kejadian wabah antraks pada tahun 2004 di Kabupaten
Sumbawa

    Jenis Ternak      Populasi Ternak di           Jumlah Ternak         Persentase
                       Daerah Tertular             yang Terserang

 Sapi                         3.674                     18                0,49%
 Kerbau                       4.993                      9                0,18%
 Kambing                      1.988                      1                0,05%
 Kuda                         2.429                      0                   0
 Jumlah:                      13.084                    28                0,21%


           PEMBAHASAN                              menjadi penyakit zoonosis yang perlu
                                                   memperoleh perhatian khusus dari
Sebagai     daerah   endemik    antraks            pemerintah. Antraks pada manusia
(Poerwadikarta, 1998; Hardjoutomo dan              hampir selalu diawali oleh kejadian
Poerwadikarta, 1996; Pourwadikarta dkk.,           antraks    pada      ternak     sehingga
1993;     Hardjoutomo     dkk.,   1995;            pengendalian penyakit pada manusia
Kertayadnya dan Suendra, 2003) adanya              sangat ditentukan oleh keberhasilan
gejala klinis baik pada ternak maupun              pengendalian penyakit pada ternak
pada orang sudah cukup untuk membuat               (Hardjoutomo, 1986; Hardjoutomo dkk.,
diagnosa lapangan secara cepat (Bale               1995; Hardjoutomo dan Poerwadikarta,
dkk., 1984; Sudana dkk., 1980; Putra,              1996; Noor dkk., 2001; Putra, 2004).
2004; Anonim, 2004) sehingga dapat
diambil tindakan yang cepat.                       Peningkatan pemahaman masyarakat
                                                   terhadap penyakit ini hanya dapat
Rendahnya pemahaman masyarakat                     dilakukan      melalui      peningkatan
(peternak) terhadap antraks telah                  pelaksanaan penyuluhan secara intensif
menyebabkan penyakit dapat menulari                dan         dilaksanakan          secara
manusia dan penyakit ini akhirnya                  berkesinambungan oleh otoritas kesehatan
hewan. Keberhasilan dari kegiatan            Sesungguhnya       dengan     keterbatasan
penyuluhan dapat diukur dari tingkat         jumlah vaksin yang tersedia, dan jika
partisipasi masyarakat dalam kegiatan        vaksin tersebut digunakan secara efektif,
vaksinasi dan tindakan yang dilakukan        diharapkan masih dapat ditingkatkan
apabila terjadi antraks. Menyembelih atau    optimalitas     pengendalian     penyakit.
memperdagangkan ternak tertular antraks,     Penularan utama antraks pada hewan
selain memperparah keadaan karena spora      adalah melalui makanan dan minuman
kuman ini dapat bertahan lama di tanah,      yang terkontaminasi oleh spora kuman B.
juga dapat mengakibatkan orang lain          anthracis yang ada di tanah (Ezzel, 1986).
tertular antraks. Hal inilah yang perlu      Adanya spora dari kuman antraks di tanah
ditekankan pada saat kegiatan penyuluhan     karena      dilakukannya      pemotongan
dilaksanakan di samping hal-hal lainnya.     terhadap hewan tertular antraks.

Penanganan kasus / wabah antraks oleh        Berdasarkan sejarah kejadian antraks di
masyarakat di Kabupaten Sumbawa              setiap daerah, maka pemetaan penyakit
masih belum optimal. Hal tersebut dapat      dapat dibuat, baik dengan pendekatan
dilihat dari masih adanya masyarakat         dusun maupun dengan pendekatan desa.
yang menyemblih, memperdagangkan,            Jadi, hanya dusun/desa tertular yang wajib
dan mengkonsumsi daging yang tertular        diberikan prioritas utama dalam kegiatan
antraks. Sekalipun demikian, sudah           vaksinasi. Prioritas vaksinasi lainnya juga
nampak ada upaya perbaikan dengan            harus ditujukan pada ternak yang berada
dimusnahkannya beberapa ekor ternak          di sepanjang aliran air (sungai), jika ada
yang tertular antraks.                       ternak tertular antraks yang mati di daerah
                                             perbukitan seperti yang dilaporkan terjadi
Rendahnya cakupan vaksinasi yang baru        di Kabupaten Ngada, Propinsi Nusa
mencapai sekitar 17% di Kabupaten            Tenggara Timur pada tahun 1996 (Putra,
Sumbawa, selain akibat terbatasnya           2004). Prioritas vaksinasi selanjutnya
jumlah vaksin yang tersedia, juga dapat      adalah dusun/desa yang berada di sekitar
diinterpretasikan sebagai belum efektifnya   desa      tertular     antraks.     Dengan
pelaksanaan      kegiatan      penyuluhan.   menggunakan pendekatan ini, jumlah
Tertularnya manusia juga mendukung           vaksin antraks yang tersedia di Kabupaten
anggapan bahwa kegiatan penyuluhan           Sumbawa yang setiap tahun sekitar
yang dilaksanakan belum mencapai             45.000 dosis, diharapkan akan lebih
sasarannya secara efektif. Rendahnya         mencapai sasarannya (perhatikan data
partisipasi peternak dalam kegiatan          sementara desa tertular antraks di
vaksinasi pada kambing diakibatkan oleh      Kabupaten Sumbawa).
terjadinya anapilaktik sok pascavaksinasi.
Hal tersebut diduga disebabkan oleh          Untuk dapat mengamati tingkat kekebalan
adanya kandungan saponin pada vaksin.        kelompok (herd immunity) pascavaksinasi
Karena itu, perlu dicarikan alternatif       untuk mengevaluasi keberhasilan program
pemecahan vaksin khusus untuk kambing.       vaksinasi yang dilaksanakan, perlu
Meskipun kejadian antraks pada ternak        dilaksanakan surveilans seroepidemiologi.
lain dapat dikendalikan secara optimal       Metode uji serologis yang ada saat ini
dan jika ternak kambing masih tertular       perlu dikembangkan sehingga memiliki
antraks (Kertayadnya dan Suendra, 2003),     sensitivitas dan spesifisitas yang memadai
maka hal tersebut akan tetap mengancam       dan        disebarkan        penggunaannya
kesehatan      manusia      serta    dapat   (Hardjoutomo dkk., 1993; Hardjoutomo
memelihara endemisitas penyakit di suatu     dan Poerwadikarta, 1996).
lokasi.
Pada saat penyidikan dilakukan, antraks                pemberantasan penyakit anthrax di Propinsi
di beberapa dusun/desa tertular di                     Nusa Tenggara Barat tahun 2004-2005.
                                                       Disampaikan saat dialog antara Menteri
Kabupaten Sumbawa masih sedang
                                                       Pertanian dan Pemerintah Propinsi NTB di
berlanjut (kasus terakhir pada ternak                  Kantor Gubernur NTB pada tanggal 31
tanggal 11 Nopember 2004), yang                        Oktober 2004.
mengindikasikan tidak tingginya herd
immunity. Maka, telah disarankan untuk           Bale, A. R., Sudana, I. G. dan Suendra, I. N.
segera melakukan vaksinasi sesuai                      (1984) Studi laboratorik penyakit radang
                                                       limpa (anthrax), tanda klinis dan diagnosa.
dengan pendekatan program vaksinasi
                                                       Laporan Tahunan Hasil Penyidikan
seperti yang telah diuraikan di atas.                  Penyakit Hewan di Indonesia Periode
Pembentukan         antibodi     antraks               Tahun 1982-1983. Direktorat Kesehatan
memerlukan waktu sekitar dua minggu                    Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan,
pascavaksinasi sehingga dengan demikian                Jakarta, 30-37.
diharapkan mampu menahan peningkatan
                                                 Ezzell Jr., J. W. (1986) Bacillus anthracis. In
kasus pada saat musim hujan. Desa/dusun                 Pathogenesis of Bacterial Infections in
tertular antraks harus ditutup, untuk                   Animals. Edited by Carlton L. Gyles and
menghambat penyebaran penyakit baik                     Charles O. Thoen. Iowa State University
pada ternak maupun pada manusia.                        Press, Ames, pp. 21-25.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan           Hardjoutomo, S. (1985) Diagnosa antraks secara
                                                       laboratorik pengaruh pemanasan pada
bahwa sudah saatnya ada suatu                          spesimen terhadap hasil pemeriksaan.
penyempurnaan                   manajemen              Penyakit Hewan XVII (29): 276-279.
penanggulangan         antraks      secara
keseluruhan baik pada tingkat nasional,          Hardjoutomo, S. (1986) Antraks, salah satu
Propinsi, Kabupaten/Kota, yang meliputi:               zoonosis penting di Indonesia. Jurnal
prioritas penanganan penyakit secara                   Penelitian dan Pengembangan Pertanian
                                                       V (1): 22-26.
nasional, pendekatan program vaksinasi,
pengembangan vaksin khusus kambing,              Hardjoutomo, S., Purwadikarta, M.B. (1996)
peningkatan       program      penyuluhan,             Seratus sebelas tahun antraks di Indonesia:
pengembangan teknik uji serologi,                      Sampai dimana kesiapan kita? Jurnal
pengorganisasian pengendalian penyakit,                Penelitian dan Pengembangan Pertanian
dan lain-lainnya.                                      XV (2): 35-40.

                                                 Hardjoutomo, S., Purwadikarta, M.B., Patten, B.
                                                       dan Barkah, K. (1993) The aplication of
      UCAPAN TERIMAKASIH                               ELISA to monitor the vaccinal response of
                                                       anthrax vaccinated ruminants. Penyakit
Ucapan terimakasih disampaikan kepada                  Hewan XXV (46A): 7-10.
Bapak Ir. H. Lalu Widjaje (mantan
                                                 Hardjoutomo, S., Purwadikarta, M.B. dan
Kepala Dinas Peternakan Propinsi NTB)
                                                       Martindah, E. (1995) Antraks pada hewan
dan semua staf, juga kepada Bapak Ir.                  dan manusia di Indonesia. Prosiding
Ibrahim (Kepala Dinas Peternakan                       Seminar Nasional Peternakan dan
Kabupaten Sumbawa) beserta staf, atas                  Veteriner 7-8 Nopember 1995, Cisarua,
segala bantuan yang diberikan selama                   Bogor. Halaman: 305-318.
penyidikan dilakukan.
                                                 Hardjoutomo, S., Purwadikarta, M.B., Barkah, K.
                                                       (2002) Kejadian antraks pada burung unta
            DAFTAR PUSTAKA
                                                       di Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia.
                                                       Wartazoa 12(3): 114-120.
Anonim (2004) Laporan penyakit anthrax tahun
      2003-2004 dan rencana pengendalian serta
Noor, S.M., Darminto, dan Hardjoutomo, S.         Soemanagara, R. M. T. (1958) Ichtisar singkat dari
      (2001) Kasus antraks pada manusia dan            penyakit radang limpa, penyakit ngorok
      hewan di Bogor pada awal tahun 2001.             dan radang paha di Indonesia. I. Anthrax,
      Wartazoa 11(2): 8-14.                            radang limpa. Hemera Zoa LXV (7-8):
                                                       95-109.
Poerwadikarta, M.B. (1998). Protein profiles of
      field isloates of Bacillus anthracis from   Sudana, I. G., Soeharsono dan Malole, M. (1980)
      different endemic areas of Indonesia.             Penyidikan penyakit hewan di Perwakilan
      Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 3(1):            Kecamatan Ngadu Ngala, Kabupaten
      34-38.                                            Sumba Timur. Laporan Penyidikan BPPH
                                                        VI Denpasar.
Poerwadikarta, M.B., Hardjoutomo, S. dan
      Barkah, K. (1993). Sensitivity of local     Sudana, I. G., Bale, A. R., Hartaningsih, N. dan
      isloates of Bacillus anthracis against            Suendra, I N. (1983) Studi laboratorik
      several antibiotics. Penyakit Hewan               penyakit radang limpa (anthrax). IV. Daya
      XXV(46: 133-136.                                  tahan spora anthrax terhadap beberapa
                                                        bahan kimia. Laporan Penyidikan BPPH
Putra, A.A.G. (1996). Letupan penyakit antraks          VI Denpasar.
       pada ternak di Kabupaten Ngada Propinsi
       Nusa Tenggara Timur. Buletin Veteriner
       XVI (64): 1-8.

								
To top