DINAMIKA PLURALISME AGAMA DI NUSA TENGGARA BARAT by csa19005

VIEWS: 2,711 PAGES: 16

									                      Dinamika Pluralisme Agama di Nusa Tenggara Barat (Israil, dkk.)




               DINAMIKA PLURALISME AGAMA
                 DI NUSA TENGGARA BARAT

                                  Israil, dkk∗


        Abstrak: Dalam sejarah, keragaman agama maupun budaya
        terkadang menghasilkan interaksi sosial yang padu dan
        mengagumkan, namun tidak jarang juga mengakibatkan
        perseteruan. Secara historis di Nusa Tenggara Barat, di mana
        agama-agama      besar    berkembang    dengan     suburnya,
        kedatangan agama-agama umumnya dapat berlangsung
        secara damai. Secara sosiologis hubungan masing-masing
        agama sarat dengan berbagai dinamika, terkadang akomodatif
        dan terkadang konfrontatif. Pola hubungan akomodatif terjadi
        karena masing-masing umat bisa mengaktualisasikan ajaran
        agamanya dengan benar sekaligus mereka mentaati dan
        mengakomodir nilai-nilai budaya setempat. Masyarakat
        muslim dan Hindu di daerah ini telah membuktikan semangat
        pluralismenya dalam tatanan sosial dan dalam simbol-simbol
        kebudayaannya bahkan sampai ke hubungan perkawinan.
        Demikian juga dengan umat Nasrani dan Budha, komunikasi
        dan dialog-dialog dalam ranah sosial dapat tumbuh dan
        berkembang dalam bingkai tradisi. Sedangkan mencuatnya
        hubungan yang konfrontatif disebabkan oleh sifat dan watak
        umat beragama, termasuk pemahaman agama yang sempit,
        selain juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti
        kesenjangan ekonomi, semangat etnisitas yang buta dan
        adanya provokasi dari luar. Inilah yang kemudian
        menyebabkan berbagai kasus kerusuhan bernuansa agama di
        tengah masyarakat.

        Kata Kunci: pluralisme, akomodatif, konfrontatif, damai.




        ∗
       Penulis adalah ketua MUI NTB dan sebagai ketua peneliti, dengan anggota
Ahmad Amir Aziz, Moh. Mahbub, dan Kadri.

                                                                                   1
Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 1, No. 1, Desember 2004: 1-16



PENDAHULUAN
        Pluralitas merupakan suatu fenomena unik dan menarik yang
menyertai perjalanan masyarakat tetapi juga bisa menjadi pangkal
konflik seperti yang banyak terjadi sejak dahulu hingga kini. Dalam
sejarah kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, keragaman agama
maupun budaya terkadang menghasilkan interaksi sosial yang padu
dan mengagumkan, namun tidak jarang juga mengakibatkan
perseteruan. Di satu sisi keragaman dapat diterima oleh masyarakat
sebagai sebuah keniscayaan yang disikapi dengan arif, namun di sisi
lain, pluralitas ternyata menimbulkan masalah yang cukup komplek
di tanah air dalam beberapa tahun terakhir.
        Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu potret daerah
yang sangat plural di kawasan Nusantara. Propinsi yang dijuluki
Bumi Gora ini selain memiliki tiga etnis asli yaitu etnis Sasak yang
mayoritas berdomisili di Pulau Lombok serta etnis Samawa dan
Mbojo yang umumnya berdomisili di Pulau Sumbawa, juga terdapat
belasan etnis pendatang yang memeluk agama berbeda-beda. Islam
merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk baik ketiga
etnis asli tersebut maupun oleh warga etnis lainnya. Jumlah
penduduk Muslim tercatat 3.815.879, Katolik 7.772, Protestan 9.541,
Hindu 117.750, dan Budha 34.037.1
        Selama bebarapa dekade, persatuan dan kesatuan yang
ditampilkan oleh masyarakat cukup terasa di permukaan sebagai
konsekwensi logis dari diterapkannya kebijakan-kebijakan
akomodatif oleh pemerintah Orde Baru. Jargon “persatuan dan
kesatuan” relatif cukup mujarab dalam menekan tingkat ancaman
disintegrasi dan konflik horisontal, meskipun letupan konflik yang
bernunsa SARA pernah terjadi pada beberapa daerah di wilayah ini.
Manajemen konflik yang dikelola pemerintah itu sama dengan
merakit bom waktu hingga pada saat melemahnya sendi-sendi
pengikat persatuan seiring dengan tumbangnya rezim Orde Baru,
ledakan dahsyatpun tidak dapat dielakkan lagi. Kasus 17 Januari
2000 di kota Mataram atau yang biasa dikenal dengan “Tragedi 171”
merupakan fakta yang tidak mudah dilupakan. Tragedi yang
berawal dari aksi solidaritas umat terhadap peristiwa Ambon yang
sedianya hanya akan dilakukan dalam bentuk Tabligh Akbar dan
pengumpulan dana simpati, akhirnya berubah menjadi tragedi amuk



         1Tim   BPS, NTB dalam Angka 2001 (Mataram: Biro Pusat Statistik, 2000).

2
                      Dinamika Pluralisme Agama di Nusa Tenggara Barat (Israil, dkk.)



massa bernuansa agama yang benar-benar memilukan dan memalu-
kan.2
        Sebelumnya, kawasan Nusa Tenggara Barat khususnya
ibukota “Seribu Masjid” Mataram telah lama dikenal sebagai
kawasan yang aman dan damai yang mana warganya sangat
menjunjung tinggi nilai-nilai keharmonisan dan kesetiakawanan.
Akibat kasus ini 12 Gereja hancur atau rusak, 44 toko/rumah dibakar
atau dijarah dan kerugian fisik lainnya yang mencapai lebih 22
milyar. 3 Selain itu juga hancurnya banyak fasilitas umum,
eksodusnya para dokter spesialis, guru, dosen, pengusaha, investor
dan wisatawan manca negara, benar-benar menjadikan kehidupan
masyarakat dan dunia usaha menjadi lesu darah.
        Berdasarkan latar belakang di atas, tampak suatu kesenjangan
antara fakta kerukunan antar agama di permukaan di satu sisi
dengan kenyataan ternodainya kerukunan itu dengan sejumlah kasus
kerusuhan bernuansa agama. Permasalahan pokok yang ingin
dijawab dalam penelitian ini adalah: bagaimana sejarah pluralitas
agama-agama di provinsi NTB?, dan bagaimana bentuk-bentuk
hubungan konfrontatif dan akomodatif antar masyarakat beragama
di NTB? Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan serta
menganalisis sejarah perkembangan agama-agama di NTB sehingga
dapat diketahui dengan jelas faktor-faktor sosio-historis yang
menopang perkembangannya dari waktu ke waktu. Selain itu juga
untuk menelusuri dan menganalisis pasang surutnya pola hubungan
antar agama sehingga dapat dipetakan masa-masa intim penuh
harmoni dan masa-masa terjadinya saling curiga.
        Kerangka teoritik yang dipakai dalam studi ini tidak mengacu
pada teori atau pandangan tertentu, melainkan merupakan gabungan
dari berbagai pandangan tokoh yang memiliki perhatian dalam soal
pluralisme ini. Secara literal, pluralitas berarti keanekaragaman atau
kemajemukan. Dalam realitas kehidupan kemanusiaan fakta
kemajemukan merupakan design Tuhan, yaitu masyarakat yang tidak
monolitik. Tatanan dunia ini penuh dengan berbagai bentuk
pluratitas, dan di antara yang terpenting adalah pluralitas agama.
Dalam konteks ini pluralisme merupakan sikap yang memandang
fakta pluralitas apa adanya, disertai upaya menghadapi kenyataan


       2 Lihat penelitian Miftahul Huda, dkk, Kerusuhan 171 (Mataram: Yayasan

Nusatenggara Center –NC, 2000).
       3 Lombok Post, 19 Januari 2000.


                                                                                   3
Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 1, No. 1, Desember 2004: 1-16



itu sebijak mungkin. Sebagaimana dinyatakan Alwi Shihab
pluralisme tidak semata menunjuk pada kenyataan adanya
kemajemukan, namun yang terpenting adalah keterlibatan aktif
menyikapi fakta pluralitas itu. Dengan kata lain, pluralisme agama
berarti tiap pemeluk agama dituntut bukan saja mengakui
keberadaan dan hak agama lain, tetapi turut serta dalam usaha
memahami perbedaan dan persamaan dalam agama-agama guna
tercapainya kerukunan dalam kebhinekaan.4
         Secara fenomenologis, pluralisme keagamaan merupakan
gambaran riil dalam kehidupan sehari-hari menyangkut hubungan
antara agama-agama yang memang berbeda. Perbedaan antar
berbagai agama itu menyangkut dua hal; pertama, perbedaan yang
amat mendasar menyangkut apakah realitas mutlak itu bersifat
personal atau impersonal; dan kedua, perbedaan tentang persoalan
kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, watak seorang
pluralis selalu memberikan apreasiasi positif dan penghargaan tinggi
terhadap sistem keimanan orang lain dalam wujud absolutisme
dalam batas-batas tertentu. Karena agama merupakan gabungan
antara substansi dan bentuk, maka agama kemudian menjadi sesuatu
yang absolut tetapi relatif (relatively-absolut). Kepicikan dan
kesempitan sebuah agama akan terjadi jika kebenarannya
diidentikkan hanya dengan bentuknya. Kata tokoh perennialis;
“Islam spread through the world like lightning by virtue of its substance,
and its expansion was brought to a halt by reason of its form”.5
         Pluralisme menawarkan ajakan kepada semua pemeluk
agama untuk melakukan passing-over satu dengan yang lain sehingga
dapat semaksimal mungkin dieliminir perbedaan-perbedaan yang
ada antar berbagai agama, yang pada gilirannya akan menumbuhkan
koeksistensi ke arah saling memahami. Dalam konteks ini setiap
agama memiliki kesamaan dengan yang lain, tetapi sekaligus juga
memiliki kekhasan sehingga berbeda dengan yang lain.

METODE PENELITIAN
      Penelitian ini     bersifat kualitatif-eksploratif  dengan
pendekatan historis-sosiologis, yakni peneliti berusaha memahami

         4Alwi Shihab, Islam Inklusif Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama (Bandung:

Mizan, 1997), 41.
         5 Frithjof Schuon, Islam and The Perennial Philosophy (WOI: Festival

Publishing Company, Ltd, 1976), 15.


4
                    Dinamika Pluralisme Agama di Nusa Tenggara Barat (Israil, dkk.)



kejadian atau suatu keadaan yang berlangsung pada masa lalu
dan hubungannya dengan keadaan masa sekarang, atau memahami
kejadian atau keadaan masa sekarang dalam hubungannya
dengan masa lalu. Bahwa masa sekarang ini adalah hasil dari
suatu    proses perkembangan historis          yaitu    suatu proses
perkembangan melalui fase-fase yang masing-masing memuat
kondisi atau kausalitas dari fase berikutnya. Melalui pendekatan
ini dapat dikemukakan penjelasan sejarah (historical explanation) yang
meliputi: asal usul, pertumbuhan dan perkembangannya dari waktu
ke waktu. Pengertian keagamaan dalam konteks ini mengacu pada
gejala faktual agama-agama (pendekatan behavioral), dan tidak
menyinggung aspek teologis-metafisisnya.
        Tehnik      pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini meliputi telaah literatur, studi dokumentasi, dan
wawancara. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
data dokumenter meliputi dokumen resmi maupun dokumen
pribadi yang terkait dengan penelitian. Untuk menghindari
adanya keterbatasan sebuah dokumen merekam konteks sosial
yang melatarbelakanginya dan subyektivitas penulis dokumen maka
dilakukan kritik sumber terhadap kredibilitas sumber dengan cara
membandingkan         dokumen satu dengan dokumen lain dan
melakukan wawancara terhadap pihak-pihak yang mengetahui,
seperti ketika menelusuri data tentang masuknya agama-agama di
NTB. Dalam hubungan ini, sumber-sumber yang banyak dipakai
adalah arsip dan dokumen yang ada di Perpustakaan Daerah NTB,
Perpustakaan Perguruan Tinggi, hasil-hasil penelitian dan koleksi
naskah sejumlah individu. Tidak semua dokumen dapat
dimanfaatkan karena keterbatasan kemampuan tim dalam
mengakses informasi dari dokumen-dokumen yang masih dalam
bahasa lokal.
        Wawancara diajukan kepada         15 orang (tokoh agama,
pemerintah, tokoh masyarakat) yang mengetahui peta hubungan
antar agama. Untuk memperoleh informasi yang akurat dan
obyektif, wawancara dilakukan dengan beberapa langkah dan
pendekatan: identifikasi, persuasi, dan partisipasi, khususnya dalam
mengambil data kepada tokoh-tokoh yang sudah terkenal yang
umumnya agak sulit ditemui. Adapun terhadap tokoh agama lain,
peneliti menggunakan teknik rekomendasi tokoh untuk
memudahkan peneliti mewancarai mereka. Memang sebagian sudah
dikenal oleh tim sebelumnya sehingga tidak ada kesulitan sama

                                                                                 5
Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 1, No. 1, Desember 2004: 1-16



sekali untuk berkomunikasi, tetapi ada juga tokoh agama lain yang
belum dikenal sehingga peneliti harus mencari tokoh pengantar.
        Pencatatan, baik terhadap hasil studi            dokumentasi,
wawancara mendalam maupun hasil observasi dilakukan dalam
dua bentuk: kronologis, yakni pencatatan yang dilakukan menurut
urutan kejadian, dan sistematis yakni pencatatan yang dilakukan
dengan memasukkan tiap-tiap gejala yang ada ke dalam kategori
tertentu, tanpa memperhatikan         urutan kejadiannya. Data-data
tersebut kemudian diproses dalam bentuk deskripsi data yang
berisi uraian data dan pernyataan-pernyataan reflektif.
        Pada bagian pertama tentang sejarah agama-agama, setelah
data terkumpul dibuatlah abstraksi untuk menyusun draft hasil
penelitian. Pada tahap ini peneliti membuat rangkuman inti
berlangsungnya proses hubungan antar agama baik yang bercorak
positif atau negatif. Cross check tetap juga dilakukan sebagai langkah
memperkuat kredibilitas hasil, dan untuk menyempurnakan kualitas
analisis. Dengan demikian fakta yang telah terseleksi melalui proses
verifikasi data itu, selanjutnya dideskripsikan secara interpretatif,
yakni pemaparan maupun konseptualisasi terhadap data oleh
peneliti, dengan berusaha memberikan pemaknaan obyektif
berdasarkan sumber-sumber tertulis maupun pengetahuan informan
sesuai konteks sosial-budaya masyarakat.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Sejarah Agama-agama
        Pada sekitar abad ke-5/6 M migran-migran Jawa yang berasal
dari kerajaan Kalingga, Daha dan Singosari banyak berdatangan ke
Lombok dengan membawa ajaran Syiwa-Budha. Menyusul setelah
itu kerajaan Hindu Majapahit masuk ke daerah ini sekitar abad ke-7,
dan memperkenalkan agama Hindu-Budha kepada masyarakat NTB.
Pada abad ke-17 setelah kerajaan Karangasem Bali menduduki
daerah Lombok, pengaruh budaya Hindu semakin besar terhadap
sebagian masyarakat di Pulau Lombok.6
        Pengaruh Hindu di Lombok bagian Barat jauh lebih
mendalam bila dibandingkan dengan pengaruhnya di Lombok
bagian timur ataupun tengah. Banyak sekali Pura klasik yang sampai
kini menjadi saksi dinamika Hindu di Lombok, antara lain: Pura


               lanjut tentang hal ini lihat Anak Agung Gde Agung, Kupu-kupu
         6 Lebih

Kuning Menyeberangi Selat Lombok (Denpasar: Bhatara, 1964).

6
                       Dinamika Pluralisme Agama di Nusa Tenggara Barat (Israil, dkk.)



Meru Cakranegara (1720), Taman Mayura (1744), Pura Gunung
Pengsong, Pura Narmada (1727), Pura Lingsar (1741), Pura Batu
Bolong, serta Pura dan Taman Suranadi (1722). Demikian juga di
Pulau Sumbawa, meskipun tidak banyak, jejak peninggalan Hindu
cukup nyata.7 Dewasa ini pemeluk Hindu di NTB merupakan jumlah
terbesar kedua setelah Islam, umumnya mereka terkonsentrasi di
Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat.
        Secara umum awalnya kedatangan orang-orang Hindu ke
daerah ini didorong oleh kepentingan ekonomi dan politik. Perlahan
unsur-unsur kebudayaan pendatang masuk ke dalam kebudayaan
daerah penerima dengan tidak sengaja dan tanpa paksaan. Dengan
kata lain, masuknya Hindu khususnya kebudayaan Bali ke Lombok
bersifat penetration pasifique. Dengan terjadinya kontak sosial di
antara mereka maka dengan sendirinya pula terjadi hubungan timbal
balik dan akulturasi budaya. 8 Dapat dikatakan bahwa masuknya
agama Hindu di wilayah Nusa Tenggara Barat, tidak mendapat
perlawanan yang serius dari masyarakat. Kondisi ini terjadi
disebabkan oleh adanya kemiripan antara ajaran Hindu-Budha
dengan tradisi lokal dan pola kepercayaan masyarakat NTB
sebelumnya.
        Sementara itu walaupun agama Budha lebih dahulu masuk, ia
tidak banyak meninggalkan bekas-bekas kesejarahan. Ada julukan
faham “Boda” (Sasak: bodoh) bagi masyarakat lokal yang masih setia
mengikuti ajaran leluhurnya. Ketika ajaran Budha mulai intens
disosialisasikan, mereka lebih suka menjadi pengikut resmi agama
Budha, dan sampai kini mereka banyak berada di daerah

        7Peninggalan    Hindu yang ada di Pulau Sumbawa, misalnya di kecamatan
Bolo kabupaten Bima terdapat satu kampung yang bernama Ncandi. Di Donggo dan
di daerah Kabupaten Bima juga ditemukan beberapa Menhir. Di desa Sowa
Kabupaten Bima terdapat Candi Siwa Budha yang diperkirakan adanya sejak abad
IX – X. Di daerah Bata Kabupaten Dompu terdapat bekas bangunan Hindu yang oleh
masyarakat setempat dikenal dengan nama Doro Bata. Di Utan Sumbawa terdapat
sebuah Candi yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Batu Gong. Selanjutnya
lihat, Monografi Daerah Nusa Tenggara Barat, Jilid I (Jakarta: Depdikbud, 1977).
         8Misalnya penaklukan kerajaan Gelgel Bali terhadap kerajaan Selaparang

Lombok pada tahun 1616 dan 1624, meskipun gagal. Kemudian tahun 1672 kerajaan
Karangasem Bali berhasil mengalahkan Selaparang dan pada tahun 1686 kerajaan
Pejanggik Lombok juga dikalahkan oleh Karangasem, hingga terbentuklah kerajaan
Mataram yang berkuasa selama satu setengah abad (1740-1894), yang secara penuh
menggunakan filsafat Hindu-Budha dalam menata administrasi kerajaan. Lihat
Fathurrahman Zakaria, Mozaik Budaya Orang Mataram (Mataram: Yayasan Sumurmas
Al-Hamidy, 1998).

                                                                                    7
Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 1, No. 1, Desember 2004: 1-16



pegunungan dan dataran tinggi. Komunitas Budha tidak sebanyak
Hindu, dan mereka terkonsentrasi pada beberapa tempat. Sebagian
menetap di kota Mataram, dan yang terbanyak ada di kabupaten
Lombok Barat seperti kecamatan Tanjung, Gangga, Pamenang,
Sekotong dan Lembar. Desa-desa Budha yang terkenal adalah
Lendang Bila, Pejarakan, Karang Panas, Bentek, Tebango, Ganjar, dan
Tendaun.9
       Sementara itu basis sosial Islam sangat kuat mendominasi di
seluruh kawasan Lombok maupun Sumbawa. Hal ini berkaitan
dengan sejarah masuk Islam di NTB yang bersumber dari dua jalur,
yakni dari Barat (Jawa) dan dari Timur (Goa). Pengislaman pulau
Lombok terjadi di bawah pemerintahan Sunan Prapen, putera
Susuhunan Ratu Giri yang pernah menaklukan kerajaan-kerajaan
Sumbawa dan Bima. Sedangkan Islam masuk ke Sumbawa dan Bima
melalui misi Sultan Gowa yang mengirim sejumlah da’i. Baik di
Lombok maupun Sumbawa Islam masuk lewat jalur dakwah secara
damai, perdagangan dan juga melalui pertalian hubungan darah
(perkawinan).10
       Ada dua versi pendapat tentang Islam masuk ke Lombok.
Pendapat pertama mengatakan bahwa agama Islam masuk melalui
Timur lewat Pelabuhan Kayangan Lombok Timur sekitar abad XIV
dibawah oleh seorang pendakwah dari Arab bernama Syekh Nurul
Rasyid. Dari Kayangan beliau melanjutkan perjalanan melalui laut
Jawa dan mendarat di pelabuhan Carik Desa Bayan, hingga akhirnya
bertahan di kawasan Lombok bagian utara ini. Pendapat kedua
menyebutkan bahwa agama Islam masuk ke pulau Lombok melalui
Barat yakni Pulau Jawa pada abad ke XVI yang dibawa oleh
Pangeran Sangapati dan Sunan Prapen. 11 Tidak bisa dipungkiri

         9 Soenyata Kartadarmadja (ed), Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Nusa

Tenggara Barat (Jakarta: Depdikbud, 1978/1979), 30-31.
         10Lalu Wacana, Sumbawa Pada Masa Lalu (Surabaya: Penerbit Rinta, 1984);

Sribanun Muslim, Islam di Pulau Lombok, Laporan Penelitian, STAIN Mataram, 1999;
Tawalinuddin Haris, “Masuk dan Berkembangnya Islam di Lombok Kajian Data
Arkeologi dan Sejarah” dalam Kanjian Jurnal Pemikiran Sosial Ekonomi Daerah NTB,
Nomor 01/Th.I, 2002, 15-22; Tajib, Sejarah Bima Dan Mbojo (Jakarta: PT Harapan
Masa PGRI, 1995).
         11 Lihat Monografi Daerah Nusa Tenggara Barat, Jilid I, 33. Bukti-buktinya

antara lain: (a) Dua kalimat syahadat yang diartikan dalam bahasa Jawa, sering
dipergunakan dalam upacara pernikahan. Terjemahan syahadat tersebut yakni Weru
Insun Nora Ana Pangeran Liane Allah, Lan Weruh Insun Setuhune Nabi Muhammad
Utusan Allah. (b) Adanya tulisan sastra yang memakai daun lontar, berhuruf dan
berbahasa Jawa yang berisi ajaran kekebalan, tasawuf dan fiqih. (c) Adanya

8
                      Dinamika Pluralisme Agama di Nusa Tenggara Barat (Israil, dkk.)



bahwa mula-mula Islam datang sebagai kekuatan budaya dan
kemudian baru sebagai kekuatan politik. Kedua pandangan
menggarisbawahi bahwa proses masuknya Islam berjalan
sedemikian sosiologis dan merakyat.
        Semenjak itu basis sosial Islam semakin kukuh di tengah
kehidupan masyarakat. Meski demikian satu hal yang perlu
diketengahkan bahwa ada dua corak praktek keagamaan, yang
selama ini dikenal dengan sebutan wetu telu dan waktu lima. 12
Penganut faham waktu lima adalah orang-orang yang memiliki
ketaatan yang tinggi terhadap ajaran-ajaran agama dan secara
konsisten melaksanakan rukun Islam. Kecintaan yang tinggi
terhadap praktek-praktek ini maupun terhadap syari’ah membuat
komitmen mereka terhadap aturan-aturan adat lokal menipis.
Mereka ini adalah kalangan tuan guru dan ustadz --dengan
pesantren dan masyarakat sekitar sebagai basisnya-- serta kalangan
keluarga muslim terpelajar pada umumnya. Sedangkan Penganut
faham wetu telu adalah orang Sasak yang meskipun mengaku sebagai
muslim, mereka masih memuja roh para leluhur sesuai tradisi
lokalitas mereka. Adat dan tradisi leluhur memainkan peran yang
dominan dikalangan komunitas wetu telu, dan mereka tidak
menggariskan suatu batas yang jelas antara tradisi dan agama.
Mereka umumnya tinggal di desa-desa yang agak terisolasi, jauh dari
keramaian. Meskipun terdapat corak yang berbeda, akhir-akhir ini
pertentangan antara kedua kelompok ini makin menipis seiring
dinamika adanya saling memahami antara kedua belah pihak.
        Kalau Islam datang melalui para pedagang Arab, Persia dan
Gujarat, maka Kristen hadir di daerah ini melalui bangsa Barat. Jika
orang-orang Arab, Persia dan Gujarat datang untuk dagang dan
berdakwah secara damai, maka orang-orang Barat selain untuk
kepentingan dagang adalah juga untuk menjajah. Karena itu Kristen
tidak bisa berkembang pesat di NTB karena Belanda mendapat
perlawanan yang sengit dari masyarakat lokal. Meletusnya perang
Dena dan perang Ngali di Bima, selain disebabkan oleh keengganan


seperangkat gamelan sebagai instrumen pengiring kesenian tradisional Sasak yang
sering dipergunakan dalam upacara maulid Nabi mirip acara sekatenan Yogyakarta.
(d) Adanya sebutan prabot-prabot agama yang diambil dari bahasa Jawa, seperti
ketib (orang yang membaca khutbah pada sholat Ied), muadzin (tukang azan), dan
lebe (orang yang menikahkan orang dan memimpin do’a).
          12 Karya terakhir yang mengulas masalah ini adalah disertasi Erni

Budiwanti, Islam Sasak: Wetu Telu Versus Waktu Lima (Yogyakarta: LkiS, 2000).

                                                                                   9
Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 1, No. 1, Desember 2004: 1-16



masyarakat setempat untuk membayar pajak belasting dan kerja rodi,
juga bermotifkan agama sehingga perang tersebut berwatak perang
“sabil”. Motivasi yang sama dimiliki oleh muslim Sasak. Para tuan
guru yang sebelum kedatangan Belanda telah melakukan dakwah
untuk menyiarkan ajaran-ajaran Islam, akhirnya menjadikan Islam
sebagai dasar perjuangan ideologis untuk melawan penjajah Belanda
yang dianggap kafir. 13 Meskipun demikian komunitas Kristen di
Bima khususnya yang berdomisili di salah satu kampung di
Kecamatan Donggo adalah warga asli Bima (bukan warga
pendatang).
        Kini sebagian besar dari warga Kristen yang berdomisili di
Nusa Tenggara Barat (khususnya di kota-kota kabupaten) adalah
orang-orang pendatang yang berprofesi sebagai pengusaha,
distributor dan sektor ekonomi lainnya. Sedangkan sisanya adalah
pengawai negeri maupun swasta serta pekerja informal lainnya yang
menyebar di beberapa wilayah di Nusa Tenggara Barat. Khususnya
yang dari daerah Folres, Sumba, Timor, dan Sumatera, kebanyakan
mereka sudah lama menetap di NTB sejak era pra kemerdekaan.
Dinamika Pola Hubungan
        Pada dasarnya pola hubungan antar agama di Nusa Tenggara
barat tidaklak terlalu fluktuatif. Kecenderungan saling menghargai
dan kesediaan hidup berdampingan secara damai antar pemeluk
merupakan ciri umum. Meskipun             demikian,   tidak berarti
sepenuhnya berjalan mulus. Beberapa kali antara umat Islam dengan
pemeluk agama lain pernah terlibat dalam konflik, khususnya
apabila isu yang mengemuka sudah memasuki segi-segi sensitif
dalam hubungan antar agama.
        Di Bima misalnya pada tahun 1975 pernah terjadi kasus
“daging babi”. Kasus tersebut muncul karena tindakan seorang
Nasrani yang meletakkan daging Babi di dalam suatu masjid di kota
Bima sehingga menggugah kemarahan masyarakat Islam Bima.
Mereka kemudian merusak gereja-gereja dan berbagai harta milik

        13 Para pempinan-pimpinan tarekat Sasak yang berada di garda depan

permberontakan antara lain Haji Abdurrahman, Haji Usman, Haji Durasid, Haji
Abdullah di Kelayu Lombok Timur, Haji Muhammad Montongtanggek, Haji Husen
dan Haji Abdul Gafur di Sumbek Lombok Tengah. Sedangkan tiga orang lainnya
yang berada di Mataram adalah Haji Muhammad Sidik Karang Kelok, Haji
Muhammad Amin Pajeruk, dan Guru Taseh Sukaraja Ampenan. Lihat Martin Van
Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia (Bandung: Mizan, Cet.I, 1992), 215-
225.

10
                         Dinamika Pluralisme Agama di Nusa Tenggara Barat (Israil, dkk.)



warga Nasrani di kota tersebut. Pada tahun 1997 komunitas Kristen
yang ada di kota Praya juga terganggu akibat dibakarnya rumah
ibadah mereka. Konon, karena ia bukan tempat ibadah “resmi”,
yakni suatu rumah yang dijadikan sentra kegiatan keagamaan.
Ketika jamaahnya masih sedikit tidak mengundang kecurigaan umat
Islam, tetapi karena percepatannya jumlah pengikut dan efek
syiarnya yang dirasa mengganggu, maka kecemburuan umat Islam
berakhir dengan pengrusakan tersebut.
       Hubungan Muslim-Hindhu pernah terganggu akibat
kesalahpahaman di antara meraka. Misalnya yang terbesar pada
tahun 1980-an terjadi mesiat (perang) Hindu dengan Islam di
Taliwang Cakra karena persoalan pembangunan tempat ibadah
yang     saling berdekatan, sementara Pura lebih awal berdiri.
Persoalan ini muncul kembali pada bulan April 2000 ketika terjadi
kesalahpahaman tentang        perbedaan      ekspresi keagamaan.
Masyarakat Hindu yang sedang melaksanakan ibadah nyepi
membutuhkan ketenangan dan kesunyian sementara masyarakat
Islam yang sedang mempersiapkan pemberangkatan jamaah haji
yang dikenal dengan sebutan ziarahan, selalu menampakkan
keramaian. Karena sama-sama menampilkan simbolisme yang kental
dan melibatkan massa yang begitu banyak maka bentrokpun terjadi.
       Di antara semua konflik, tragedi 171 merupakan kasus
terbesar yang terjadi sepanjang sejarah perjalanan hubungan antar
agama di NTB. Penyebabnya antara lain adalah ekspresi solidaritas
umat Islam terkait dengan konflik Islam-Kristen di Ambon,
kecemburuan sosial, berkembangnya isu kristenisasi, serta masuknya
provokasi dari pihak tertentu. Tidaklah berlebihan jika dikatakan
meledaknya kasus 171 Mataram adalah salah satu bentuk protes
warga setempat atas kesenjangan yang telah terjadi selama ini,
meskipun pemicu akhirnya adalah tabligh akbar umat Islam di
lapangan umum Mataram sebagai bentuk solidaritas kaum muslim
atas nasib sesamanya. Indikasi ketidakpuasan karena ketimpangan
ekonomi bisa dilihat dari modus operandi para perusuh, yakni selain
menghancurkan tempat ibadah, mereka juga membakar atau
menghancurkan toko-toko serta menjarah isi yang ada didalamnya.14
Kasus tersebut jelas tidak murni soal agama, bahkan lebih banyak
faktor non-agama. Yang jelas fakta menunjukkan bahwa urat nadi
perekonomian NTB dikuasai oleh warga pendatang yang kebetulan

       14Lihat   Lombok Post, tanggal 18, 19, 20 Januari 2000.

                                                                                     11
Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 1, No. 1, Desember 2004: 1-16



berbeda etnis dan agama. Para distributor besar, toko-toko dan pusat
perbelanjaan (khususnya di kota Mataram) sebagian besar diisi oleh
etnis Cina dan Bali. Gerakan perlawanan terhadap pedagang dari
etnis pendatang inipun pernah terjadi dan dilakukan oleh warga
kabupaten Lombok Timur pada tahun 1967, sehingga otomatis
sampai hari ini sektor perdagangan di kabupaten paling timur dari
Pulau Lombok tersebut sangat steril dari warga pendatang khusunya
Bali dan Cina.
        Meskipun demikian, pola hubungan yang bercorak
antagonistik tersebut bukanlah merupakan wajah dominan. Sisi lain
hubungan antar agama, yakni sisi akomodatifnya, sangat terlihat
nyata sepanjang perjalanan historis daerah NTB. Sebagaimana
disebut sebelumnya, berbagai agama masuk di Lombok umumnya
dengan wajah yang damai. Masyarakat awalnya memeluk Hindu-
Budha tanpa tekanan. Kalau toh ada keterpaksaan itu karena faktor
politik, yakni pendudukan kerajaan Hindu Karangasem Bali ke
Lombok. Tetapi prinsip awal penyebaran agama tetap menjunjung
nilai kedamaian, dan terbukti antara masyarakat Hindu Bali dan
muslim Lombok telah terjalin hubungan yang harmonis. Kemudian
Islam masuk di kawasan Bima, lantas berkembang menjadi
kesultanan juga dengan jalan damai lewat perdagangan. Hanya saja,
Kristen yang datangnya bersama Belanda agak membawa kesan
negatif bagi masyarakat. Meskipun demikian tercatat tidak pernah
ada pemaksaan orang asli NTB untuk menerima Kristen. Orang
Kristen cukup berjasa ketika sekolah-sekolah sekuler dibuka, banyak
warga Kristen dari Timor yang menjadi guru, kemudian menetap
sampai berketurunan khususnya di Bima dan Mataram.
        Masyarakat muslim NTB tidak bisa mengingkari bahwa
sejarah hubungan antar agama telah mewarnai perjalanan
historisnya. Setelah menerima Islam mereka mempunyai kitab
hukum yang dipatuhi yaitu kotaragama. Dalam hubungannya dengan
agama dan etnis lain, mereka mempunyai sejumlah tradisi seperti:
saling jot (mengantar makanan), saling pelangarin (melayat), saling
ayoin (mengunjungi), saling ajinan (menghormati). Prinsip-prinsip
tradisional tersebut sejauh ini tetap mentradisi khususnya dalam
hubungan antara Muslim dengan Hindu. Orang Sasak biasanya
mengantar makanan masak kepada tetangganya yang Hindu,
sementara orang Hindu membalasnya dengan memberikan makanan
mentah seperti buah-buahan dan makanan kering. Kalau orang
Hindu-Bali meninggal, tidak sedikit muslim-Sasak melayat meskipun

12
                      Dinamika Pluralisme Agama di Nusa Tenggara Barat (Israil, dkk.)



cukup sampai di rumah duka. Sebaliknya jika orang Bali melayat
muslim Sasak yang meninggal dia bisa mengantar sampai ke pintu
halaman kuburan. Bila ada rombongan pengantin atau acara-acara
ritual lain sedang melewati rumah ibadah atau komunitas suatu
agama, mereka menghentikan bunyi gamelannya sejenak. Sikap
saling menghormati tersebut juga terlihat        misalnya ketika
ada peringatan acara maulid, khitanan, dan perkawinan. Warga
masyarakat saling mengundang satu dengan lainnya, dan bahkan
saat-saat hari raya terutama hari raya Idul Fitri masyarakat
Hindu pun berkunjung ke rumah orang-orang Islam. 15
        Jadi khususnya dengan Hindu, kaum muslim dapat hidup
berdampingan dengan sangat terbuka dan toleran. 16 Rupanya
pengalaman historis interaksi     masyarakat Lombok dengan Bali
telah memunculkan local wisdom untuk mewujudkan pluralitas yang
bersendikan tradisi. Mereka sudah terbiasa melakukan passing over
untuk mempertajam visi sosial-keagamaannya. 17 Kearifan budaya
interaksi komunal ini telah melahirkan adat istiadat yang
dilestarikan oleh masayarakat secara turun temurun. Mereka
mampu belajar dari sejarah interaksi sosial para pendahulunya
dengan tidak menyentuh hal-hal sensitif yang bisa mengoyak sendi-
sendi dasar kerukunan yang telah terbangun selama ini. Hasil nyata
yang bisa dinikmati sekarang adalah masing-masing kultur dan
ekspresi religiusitas yang dikembangkan oleh masing-masing agama
dapat sama-sama hidup dan berkembang.


          15 Lihat artikel Arzaki “Kearifan Budaya Suku Bangsa Sasak” dalam

Jalaluddin Arzaki, dkk, Nilai-nilai Agama dan Kearifan Budaya Lokal (Mataram:
Relawan untuk Demokrasi dan HAM - Redam, 2001), 26-28.
          16Suatu contoh, ada seorang raja Hindu menikah dengan wanita muslim

bangsawan Sasak, yaitu Dende Nawangsasih dari Lotim, lalu ia diboyong ke
Mataram. Dende tetap memilih menganut Islam bahkan ia menuntut dibangunkan
Masjid di komplek Pura Meru. Masjid tersebut sampai kini masih ada bernama
Babus Salam di bagian Barat Pura Meru dan Sebelah Timur Pasar Cakranegara.
Contoh lain, taman Mayura dibangun atas kerjasama lintas agama yaitu H. Abdul
Kadir, seorang warga Inggris dan pedagang Cina. Sampai kini dalam komplek
tersebut ada patung haji, saudagar, pendeta, dan burung, untuk mengabadikan
interaksi antara etnis dan agama. Lihat I Wayan Gede Wange, “Eksistensi
Masyarakat Bali di NTB”, artikel dalam jurnal Kanjian, Nomor 03/Th.II/2003, 75.
          17Banyak orang Hindu yang menjadi dalang Wayang Kulit Sasak dengan

lakon kisah-kisah keagamaan berbasis keislaman, antara lain (alm) Nengah Gowang,
I Wayan Giur dan I Wayan Satep. Lihat I Gede Mandia “Potensi Kerukunan dan
Kearifan Budaya untuk Kerukunan Masyarakat” dalam Jalaluddin Arzaki, dkk,
Nilai-nilai Agama …, 75.

                                                                                  13
Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 1, No. 1, Desember 2004: 1-16



       Kini masing-masing agama berkembang secara wajar di
tengah semangat otonomi daerah yang terkadang dimaknai secara
sempit. Karena itu masih ada bahaya menghadang, yaitu rasa
sentimen, kecemburuan serta militansi keagamaan. Simbol-simbol
dan identitas keagamaan yang cukup menonjol serta gebyarnya
berbagai ritual keagamaan tetap rawan ditunggangi berbagai
kepentingan yang bisa memicu konflik. Menyadari akan hal itu
digelarlah berbagai forum yang mempertemukan tokoh-tokoh agama
sekaligus sebagai ajang rekonsiliasi. Beberapa forum telah dibentuk
dan telah pula beberapa kali melakukan dialog sehingga
menghasilkan sejumlah kesepahaman. 18 Terdapat beberapa poin
kesepakatan yang merupakan komitmen umat beragama dalam
mereformulasi pola hubungan yang harmonis, yaitu: (1) upaya
penyelesaian     segala bentuk permasalahan yang timbul dan
berkembang antar agama maupun intern umat beragama dengan
cara musyawarah dan dilandasi sikap keterbukaan, toleransi yang
dijiwai semangat kekeluargaan dan kebersamaan. (2) kesepakatan
untuk meningkatkan kesadaran umat beragama agar tidak mudah
terpancing oleh segala bentuk provokasi yang bertujuan mengadu
domba. (3) pengembangkan prinsip agree and dissagreement. (4)
komitmen untuk mensosialisasikan kesepakatan-kesepakatan
bersama untuk menjamin kedamaian hidup bersama dalam rangka
penganggulangan kemungkinan adanya konflik.
       Semenjak kasus 171 di kota Mataram, hubungan antara
agama di NTB berada pada tensi yang normal. Hal ini tidak lepas
dari kearifan masing-masing para pemimpin agama dan gencarnya
penyebaran gagasan pluralisme baik yang dilakukan oleh
pemerintah, perguruan tinggi maupun lewat sejumlah LSM yang
concern dalam masalah ini. Para pemimpin agama menjadi sering
bertemu dalam berbagai kesempatan terlebih menjelang akhir tahun,
yaitu menjelang pelaksanaan hari raya Idul Fitri bagi umat Islam,
natal bagi kaum Nasrani, dan hari-hari tradisi-keagamaan bagi umat
Hindu. Masing-masing sepakat untuk menempuh jalan terbaik dalam
merayakan aktifitas keagamaannya dengan tanpa mengganggu umat
beragama lain. Mereka juga menggarisbawahi pentingnya



       18 Forum Komunikasi dan Konsultasi antar Umat Beragama serta Forum

Kerukunan Agama dan Etnis, keduanya dibentuk pada pertengahan tahun 2000.


14
                    Dinamika Pluralisme Agama di Nusa Tenggara Barat (Israil, dkk.)



memberikan kesejukan bagi umat masing-masing agar tercipta
hubungan yang makin toleran di antara para umat beragama.

SIMPULAN
       Berdasarkan pembahasan di atas, dapatlah dikemukakan
beberapa kesimpulan sebagai berikut: Pertama, Agama-agama yang
dianut oleh masyarakat Nusa Tenggara Barat seperti Hindu, Budha,
Islam, Katolik dan Protestan, telah melewati perjalanan yang panjang
serta berliku-liku dalam proses kelahiran, kemunculan dan
perkembangannya. Eksistensi agama-agama di atas telah
memberikan nuansa pluralis tersendiri dalam kehidupan beragama
di NTB. Kedua, Pola hubungan umat beragama di Nusa Tenggara
Barat sarat dengan berbagai dinamika, yang terkadang akomodatif
dan juga konfrontatif. Pola hubungan akomodatif terjadi karena
masing-masing umat bisa mengaktualisasikan ajaran agamanya
dengan benar sekaligus mentaati dan mengimplementasikan nilai-
nilai budaya setempat. Sedangkan mencuatnya hubungan yang
konfrontatif disebabkan oleh beragamnya sifat dan watak umat
beragama (faktor internal), juga tidak sedikit dipengaruhi oleh faktor-
faktor eksternal seperti adanya upaya provokasi dari sekelompok
orang, reaksi solidaritas atas pristiwa-pristiwa di luar serta faktor
eksternal lainnya.
       Dari kajian di atas dapat digarisbawahi bahwa meskipun
hubungan antar agama di NTB mengalami fluktuasi, namun pola
hubungan akomodatif lebih menonjol dari pada pola konfrontatif.
Artinya, sejauh tidak ada kesalahpahaman yang tidak perlu antar
pemeluk agama serta pihak-pihak tertentu yang mencuri kesempatan
untuk kepentingan sesaat, maka peran profetis agama-agama di
wilayah ini sebagai penebar kedamaian akan lebih mewarnai.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Abdullah, Kerajaan Bima dan Keberadaannya (Tp. Tt.)
Agung, Anak Agung Gde, Kupu-kupu Kuning Menyeberangi Selat
       Lombok (Jakarta; Bhatara, 1964).
Biro Pusat Statistik, NTB dalam Angka 2001 (Biro Pusat Statistik NTB,
       2001).
Budiwanti, Erni, Islam Sasak: Wetu Telu versus Waktu Lima (Yogyakar-
       ta: LkiS, 2000).
Coward, Harold, Pluralisme: Tantangan bagi Agama-Agama, terj. Tim
       Kanisius (Yogyakarta: Kanisius, 1996).


                                                                                15
Jurnal Penelitian Keislaman, Vol. 1, No. 1, Desember 2004: 1-16



Faruqi, Ismail Raji (ed), Trialog Tiga Agama Besar (Surabaya: Pustaka
          progresif, 1994).
Gardiner, The Nature of Historical Explanation (London: Oxford
          University Press, 1961)
Hidayat, Komaruddin dan Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan
          Perspektif Filsafat Perennial (Jakarta: Paramadina, 1995).
Huda, Miftahul, Kerusuhan 171 (Mataram: Yayasan Nusatenggara
          Centre-NC, 2000).
Lombok Post, Terbitan Tanggal 18-21 Januari 2000.
Mangunwijaya, dkk., Spiritualitas Baru : Agama dan Aspirasi Rakyat
          (Yogyakarta: Dian/Interfidei, 1994).
Madjid, Nuscholish, Islam Doktrin dan Peradaban (Jakarta:
          Paramadina, 1992).
Muhadjir, Noeng, Metodologi Penelitian Agama (Yogyakarta: Rake
          Sarasin,1996).
Permata, Ahmad Norma (ed), Metodologi Studi Agama (Yogyakarta:
          Pustaka Pelajar, 2000).
Shihab, Alwi, Islam Inklusif Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama
          (Bandung: Mizan, 1997).
Schuon, Frithjof, Islam and The Perennial Philosophy (T.tp.: WOI
          Festival Publishing Company, Ltd, 1976).
-----------, Mencari Titik Temu Agama-Agama, terj. Safroedin Bahar
          (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994).
Sofyan, Muhammad, Agama dan Kekerasan dalam Bingkai Reformasi,
          (Yogyakarta: Penerbit Media Pressindo, 1999).
Tajib, H. Abdullah, Sejarah Bima Dana Mbojo (Jakarta: PT Harapan
          Masa PGRI, 1995).
Tim Penyusun, Monografi Daerah NTB, Jilid I (Jakarta: Departemen
          Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1977).
Tim Penyusun, Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTB (Jakarta:
          Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1978).
Tim Penyusun, Geografi Budaya Daerah NTB (Jakarta: Departemen
          Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1983).
Zakaria, Fathurrahman, Mozaik Budaya Orang Mataram (Mataram:
          Yayasan Sumurmas Al-Hamidi, 1998).




16

								
To top