Docstoc

macam-macam candi di indonesia

Document Sample
macam-macam candi di indonesia Powered By Docstoc
					Candi Prambanan
Prambanan beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain dari Prambanan, lihat Prambanan
(disambiguasi).
Candi Prambanan*
Situs Warisan Dunia UNESCO




Negara Peserta                     Indonesia
Tipe                         Budaya
Kriteria                     i, iv
Referensi                    642
Wilayah†                     Asia-Pasifik

Sejarah prasasti
Prasasti resmi               1991     (Sesi ke-15)


* Nama resmi dalam Daftar Warisan Dunia.
† Menurut klasifikasi resmi UNESCO.


Candi Rara Jonggrang atau Lara Jonggrang yang terletak di Prambanan adalah kompleks
candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini terletak di pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur
Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan antara
provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa
Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.

Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni:
Rakai Pikatan, raja kedua wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu, semasa wangsa
Sanjaya. Tidak lama setelah dibangun, candi ini ditinggalkan dan mulai rusak.
CANDI BOROBUDHUR
Sejarah Candi Borobudur

Borobudur dibangun sekitar tahun 800 Masehi atau abad ke-9. Candi Borobudur dibangun oleh
para penganut agama Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra. Candi
ini dibangun pada masa kejayaan dinasti Syailendra. Pendiri Candi Borobudur yaitu Raja
Samaratungga yang berasal dari wangsa atau dinasti Syailendra. Kemungkinan candi ini
dibangun sekitar tahun 824 M dan selesai sekitar menjelang tahun 900-an Masehi pada masa
pemerintahan Ratu Pramudawardhani yang adalah putri dari Samaratungga. Sedangkan arsitek
yang berjasa membangun candi ini menurut kisah turun-temurun bernama Gunadharma.




Kata Borobudur sendiri berdasarkan bukti tertulis pertama yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford
Raffles, Gubernur Jendral Britania Raya di Jawa, yang memberi nama candi ini. Tidak ada bukti
tertulis yang lebih tua yang memberi nama Borobudur pada candi ini. Satu-satunya dokumen
tertua yang menunjukkan keberadaan candi ini adalah kitab Nagarakretagama, yang ditulis oleh
Mpu Prapanca pada tahun 1365. Di kitab tersebut ditulis bahwa candi ini digunakan sebagai
tempat meditasi penganut Buddha.
Candi Bangkal




Berada diantara
sawah/kebun milik
penduduk, lokasi
Candi Bangkal ini
masih mudah
dikunjungi dikarenakan letaknya tidak jauh berada dari jalan
desa yang masih bisa dilalui kendaraan roda empat. Sebuah
jalan dari semen menghubungkan antara pintu masuk objek
candi Bangkal dengan jalan desa tersebut.

Sempat salah ambil jalan ketika mencoba mencari letak dari candi ini, dikarenakan peta umum
yang ada/dijual di toko buku, tidak memberikan gambaran lokasinya secara tepat. Untunglah
bentuknya yang unik dan tinggi dengan dominasi warna merah menjadikannya terlihat cukup
jelas diantara warna hijau sawah dan peohonan dari kejauhan.

Kondisi candi yang terletak di Desa Kambangsari, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto ini
sudah rusak cukup parah. Batu bata merah yang merupakan bahan utama penyusun candi ini
nampak mulai banyak yang terkikis/terpotong/cuil di beberapa sudutnya.

Meskipun demikian secara keseluruhan bentuk candi ini masih terlihat cukup jelas hanya saja
pada bagian atasnya, sepertinya tidak utuh lagi mungkin pernah runtuh sebelumnya. Relief-relief
yang berada pada dinding kaki candi masih bisa terlihat cukup jelas, dan juga beberapa arca
banaspati yang ada pada dinding badan candi masih terlihat menempel pada tempatnya. Total
terdapat enam arca banaspati dengan 3 pada bagian pintu masuk (barat), dan masing-masing satu
buah pada sisi-sisi lainnya.

Pada bagian dalam candi, yakni dibagian tengah atasnya masih terpampang relief Batara Surya
yang mengendarai seekor kuda. Relief ini mengingatkan saya pada relief serupa yang pernah saya
lihat pada Candi Jawi dan Candi Badut. Suatu hal yang menarik mengingat Candi Jawi dan Candi
Badut tersusun dari batuan andesit, berbeda dengan Candi Bangkal yang tersusun dari bata
merah, tapi kedua candi ini memiliki "tema" yang sama pada bagian atas-tengah-dalam candi.

Sebelah muka atau bagian barat dari candi ini masih terdapat setumpuk batu bata yang
diperkirakan dulunya merupakan bagian pintu gerbang dari Candi Bangkal. Sedangkan disisi
utara dari candi ini masih terdapat sejumlah batuan andesit yang berserakan dengan bentuk-
bentuk khusus. Kemungkinan batuan andesit ini diperkirakan merupakan bagian hiasan dan atas
candi.

Candi Bangkal diperkirakan dibangun antara abad ke 13 dan 14 Masehi, dimana pada masa
tersebut terjadi pergeseran kekukasaan dari wilayah tengah jawa ke bagian timur jawa, seiring
dengan dominasi kekuasaan Majapahit pada abad itu. Seperti umumnya candi-candi lain, Candi
Bangkal memiliki pola simetris pada arsitekturnya.
Bentuknya yang ramping dan menjulang tinggi merupakan ciri khas dari candi-candi di Jawa
Timur, berbeda dengan candi yang di Jawa Tengah yang meskipun sama-sama memiliki pola
simetris namun memiliki bentuk yang lebih tambun. Bentuk yang tinggi dan ramping ini
menyebabkan candi-candi di Jawa Timur sangat rentan dari runtuh bila terjadi gempa bumi.
Candi Bangkal dan juga candi-candi lain (Candi Ngetos, Sawentar dan Sumberjati) diperkirakan
memiliki bagian atap yang tinggi namun telah runtuh akibat gempa bumi.

Berada di antara sawah/kebun punduduk, nampak menjadikan objek arkeologi ini sepi dari
kunjungan. Beberapa ekor kambing nampak asik merumput tak jauh dari sisi candi, sementara
bagian dasar candi yang becek karena tergenang air semakin mengurangi keinginan untuk
mencoba mendekati candi. Sebuah sarang tawon pada bagian atas pintu masuk candi ini semakin
mempertegas bahwa candi ini memang relatif jarang di kunjungi oleh wisatawan.
Candi-candi di Lereng Gunung Penanggungan

                                      Candi Jolotundo di desa Seloliman

                                     Candi-Candi di Gunung Penanggungan, Keberadaan
                                     benda bersejarah dalam kehidupan manusia sangatlah
                                     penting. Karena dengan keberadaan benda tersebut
                                     menggambarkan sejarah kehidupan dan kebudayaan
                                     manusia. Proses perkembangan zaman dapat juga dilihat
                                     dari benda-benda tersebut. Membuat manusia berfikir
                                     untuk bisa menghasilkan teknologi sesuai zamannya. Candi
merupakan benda sejarah yang zaman dahulu kala menjadi sebuah rumah atau persinggahan para
raja atau pembesar kerajaan untuk menenangkan diri (bersemedi). Keberadaan candi
memanfaatkan sumber daya alam yang ada disekitar hutan, yaitu material utama adalah batu,
yang letaknya tersembunyi diantara rimbunan pohon.

Jika menyelusuri lereng Gunung Penanggungan akan menemukan beberapa candi. Waktu yang
diperlukan kira-kira 2 hari untuk menemukan candi-candi tersebut. Karena lokasi dan letak yang
berpencar. Apalagi posisi yang tertutup oleh rimbunan pohon atau semak menyulitkan kita untuk
mencarinya. Ada beberapa candi yang berada di jalur pendakian. Ini mudah kita temukan. Tetapi
ada juga yang berada tersembunyi, sehingga kadang-kadang perlu memanjat pohon yang tinggi
lalu mencari dengan memanfaatkan binokuler.

Beberapa candi yang bisa ditemukan dilereng tersebut adalah:
Candi Jolotundo. Merupakan candi yang paling besar dan memiliki sumber air yang besar
dibandingkan candi-candi yang lain. Menuju candi ini sangat mudah. Mobil bisa sampai
dipelataran pakir candi ini. Biasanya banyak orang berkunjung kesini untuk mengambil air atau
mandi yang mengalir dari batu-batu candi. Menurut mereka bisa membuat awet muda. Candi ini
memiliki 2 tingkatan kolam. 2 kolam kecil untuk mandi ditingkatan atas. Satu kolam disebelah
kiri untuk tempat mandi wanita dan satu kolam lagi dikanan untuk mandi pria. Dan memiliki
kolam besar, ditingkatan bawah yang berisi ikan-ikan yang kecil hingga besar. Ikan-ikan ini tidak
boleh diambil. Menurut cerita, ikan-ikan tersebut adalah para dayang-dayang. Biasanya di malam
Jum’at legi, banyak para pengunjung datang kesana untuk mandi. Dengan suasana yang gelap
gulita. Setelah mandi ada yang melanjutkan ritual bersemedi ada juga yang tidur di pendopo
disana. Candi ini sudah menjadi obyek wisata, sehingga banyak juga warung-warung permanen
di luar kawasan candi (dibatasi pagar). Jika kita lupa membawa tempat untuk membawa airnya,
warung-warung tersebut menjual jerigen-jerigen air, selain menjual teh, kopi dan makanan.

      Candi Putri, Menuju candi ini memerlukan waktu ± 1,5 jam dari candi jolotundo.
       Kondisi candi ini masih terawat. Tetapi disini tidak ditemui air seperti candi jolotundo.
       Candi ini terdiri dari susunan batu. Candi ini akan ditemukan pada jalur pendakian
       menuju puncak.
      Candi Pure, Posisi candi ini tidak terlalu jauh dari candi putri. Dan ditemui pada jalur
       pendakian menuju puncak.
      Candi Sinto, Ditemui pada jalur pendakian menuju puncak. Bentuknya tidak jauh
       berbeda dengan candi putri, hanya lebih kecil.
      Candi Gentong, Ditemui pada jalur pendakian menuju puncak. Berbentuk seperti
       gentong air . kalau zaman sekarang gentong air terbuat dari tanah liat sedangkan candi
       tersebut terbuat dari batu.
      Candi Lurah, Ditemui pada jalur pendakian menuju puncak
      Candi Guru, Ditemui pada jalur pendakian menuju puncak
      Candi Wisnu, Candi ini berada paling tinggi, Hampir mendekati puncak. Setelah itu
       turun kembali ke candi guru untuk menemukan candi yang lain.
      Candi Carik, Menuju candi ini, dari candi Guru turun kea rah kiri. Maka akan
       menemukan jalur candi-candi yang lain. Jika ke puncak Gn. Penanggungan melalui candi
       jolotundo, tidak menemui candi ini.
      Candi Naga, Jika ke puncak Gunung Penanggungan melalui candi jolotundo, tidak
       menemui candi ini
      Candi Bayi, Jika ke puncak Gunung Penanggungan melalui candi jolotundo, tidak
       menemui candi ini
      Candi Selokelir, Posisi candi ini berada di dekat perumahan penduduk. Keberadaan candi
       ini sangat mengkhawatirkan. Karena batu-batu penyusun candi banyak yang sudah rusak
       dan juga dijadikan jalan bagi masyarakat. Relief pada candi ini ada bergambar bunga.
      Candi Siwa, Candi ini posisi tersembunyi. Dengan ukuran tidak terlalu besar, berada
       dirimbunan tanaman kaliandra.

Candi tidak ada nama, Candi ini tidak memiliki memiliki plang nama seperti candi-candi yang
lain.
Kompleks Candi Dieng

                 Secara administratif dataran                                   tinggi Dieng
                                                                                (Dieng Plateau)
                                                                                dengan
                                                                                ketinggian
                                                                                kurang lebih
                                          2088                                  m DPL dengan
                                          suhu                                  rata-rata 13-17
                                          C,                                    berada di lokasi
wilayah                                   kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo,
Propinsi Jawa                             Tengah. Dataran tinggi Dieng merupakan dataran yang
terbentuk oleh kawah gunung berapi yang telah mati. Bentuk kawah jelas terlihat dari dataran
yang terletak di tengah dengan dikelilingi oleh bukit-bukit. Sebelum menjadi dataran, area ini
merupakan danau besar yang kini tinggal bekas-bekasnya berupa telaga. Bekas-bekas kawah
pada saat ini, kadang-kadang masih menampakan aktivitas vulkanik, misalnya pada kawah
Sikidang. Disamping itu juga aktivitas vulkanik, yang berupa gas / uap panas bumi dan dialirkan
melalui pipa dengan diameter yang cukup besar, dan dipasang di permukaan tanah untuk menuju
ke lokasi tertentu yang berada cukup jauh dari lokasi pemukiman penduduk dan dimanfaatkan
untuk Pembangkit Tenaga Listrik Panas Bumi. Dengan kondisi topografi, pemandangan alam
yang indah dan situs-situs peninggalan purbakala yang berupa candi, sehingga dataran tinggi
Dieng mempunyai potensi sebagai tempat rekreasi dan sekaligus obyek peninggalan sejarah yang
menarik.

Dataran tinggi Dieng dianggap merupakan suatu tempat yang memiliki kekuatan misterius
sebagai tempat bersemayamnya arwah para leluhur, sehingga tempat ini dianggap suci. Dieng
berasal dari kata Dihyang yang artinya tempat arwah para leluhur. Terdapat beberapa komplek
candi di daerah ini, komplek Candi Dieng dibangun pada masa agama Hindu, dengan
peninggalan Arca Dewa Siwa,Wisnu, Agastya, Ganesha dan lain-lainya bercirikan Agama Hindu.
Candi-candi yang berada di dataran tinggi Dieng diberi nama yang berkaitan dengan cerita atau
tokoh-tokoh wayang Purwa dalam lokan Mahabarata, misalnya candi Arjuna, candi Gatotkaca,
candi Dwarawati, candi Bima, candi Semar, candi Sembadra, candi Srikandi dan candi
Puntadewa.
Nama candi tersebut tidak ada kaitannya dengan fungsi bangunan dan diperkirakan nama candi
tersebut diberikan setelah bangunan candi tersebut ditinggalkan atau tidak digunakan lagi. Tokoh
siapa yang membangun candi tersebut belum bisa dipastikan, dikarenakan informasi yang
terdapat di 12 prasasti batu tidak ada satupun yang menyebutkan siapa tokoh yang membangun.
Dari prasasti batu yang ditemukan, menyebutkan angka tahun 731 saka (809 Masehi) dan 1210
Masehi, dari informasi ini dapat digunakan sebagai petunjuk bahwa tempat suci Agama Hindu
digunakan kurang lebih 4 abad. Dari sisi arsitektur candi-candi di komplek agak berbeda
dibandingkan dengan candi-candi umumnya di Pulau Jawa, terutama candi Bima. Bentuk bagian
atas candi Bima merupakan perpaduan gaya arsitektur India Utara dan India Selatan. Gaya arsitek
India Utara nampak pada bagian atas yang disebut dengan Sikhara, sedangkan arsitektur India
Selatan terlihat adanya hiasan Kudu yaitu hiasan kepala-kepala dewa yang seolah melongok
keluar dari bilik jendela.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:26300
posted:3/10/2010
language:Indonesian
pages:7
Description: berbagai macam candi di indonesia seperti candi prambanan, borobudur , dieng dll