1 MONITORING DAN EVALUASI DAERAH ALIRAN SUNGAI DALAM PERSPEKTIF by add37610

VIEWS: 1,044 PAGES: 21

									                                              Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



          MONITORING DAN EVALUASI DAERAH ALIRAN SUNGAI
            DALAM PERSPEKTIF DIAGNOSA KESEHATANNYA

                                      Oleh :
                  Paimin, Sukresno, Tyas M Basuki, dan Purwanto



                                   I. PENDAHULUAN


         Jumlah penduduk yang terus berkembang, sementara lapangan kerja sangat
terbatas, telah mendorong masyarakat memanfaatkan setiap jengkal lahan untuk
memperoleh produksi pertanian sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidup.
Permasalahan degradasi timbul, terutama oleh erosi tanah, apabila pemanfaatan lahan
ini dilakukan pada daerah berlereng tanpa memperhatikan kemampuan lahannya.
Aktivitas penggunaan lahan demikian tidak saja merugikan wilayah setempat (on site)
tetapi juga menjadikan derita di wilayah hilirnya (off site). Proses ini terangkai dalam
sistem aliran sungai yang berjalan mengikuti kaidah alami (proses hidrologis) yang
tidak terikat oleh batas administrasi. Memperhatikan hubungan proses hulu dan hilir
tersebut maka wilayah daerah aliran sungai (DAS) bisa digunakan sebagai satuan
(unit) wilayah perencanaan, analisis dan pengelolaan.
         Pemanfaatan lahan untuk usaha tani dalam wilayah DAS tersebut
menunjukkan adanya suatu aktivitas pengeloaan DAS. Pengelolaan DAS difahami
sebagai upaya manusia dalam mengendalikan hubungan timbal balik antara
sumberdaya alam dengan manusia di dalam DAS dan segala aktifitasnya, dengan
tujuan    membina    kelestarian    dan   keserasian      ekosistem        serta     meningkatkan
kemanfaatan sumberdaya alam bagi manusia secara berkelanjutan (Dep. Kehutanan,
2001). Sementara itu, Brooks, dkk. (1990) mendeskripsi pengelolaan DAS sebagai
suatu proses pengorganisasian dan pemanduan penggunaan sumberdaya lahan dan
sumberdaya lainnya dalam DAS untuk menyediakan barang dan jasa yang diinginkan
tanpa mengkibatkan kerusakan sumberdaya tanah, air dan sebagainya. Pengelolaan
DAS menyangkut aneka sumberdaya alam dan memerlukan pengertian hubungan
antara penggunaan lahan, tanah dan air, dan keterkaitan antara hulu dan hilir. Sama
pentingnya juga pemahaman sistem sosial dan politik yang berlaku dalam suatu batas


Surakarta, 23 Desember 2002                                                                            1
                                           Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



DAS, karena kelembagaan demikian menuntun penggunaaan lahan, baik melalui
regulasi maupun insentif.
       Dipandang dari keluaran yang bersifat biofisik, pengelolaan DAS dipahami
sebagai sistem perencanaan yang menggunakan masukan (inputs) pengelolaan dan
masukan alamiah untuk menghasilkan keluaran (outputs) yang berupa barang dan jasa
serta dampak terhadap sistem lingkungan baik di dalam maupun di luar DAS
(Hufschmidt, 1986). Sejalan dengan prinsip tersebut, Becerra (1995) memandang
DAS sebagai sistem produksi yang menerima masukan sumberdaya alam dan manusia
untuk menghasilkan keluaran berupa limpasan (runoff), dan produk pertanian, hutan
dan ternak. Disamping itu dalam proses produksi ini juga diperoleh akibat yang tidak
diharapkan baik setempat (on site), seperti erosi tanah dan penurunan produktivitas
pertanian, maupun di hilir (off site), seperti penurunan kualitas air, perubahan rejim
sungai, banjir, sedimentasi dan penurunan nilai wisata. Secara skematis sistem DAS
tersebut digambarkan seperti pada Gambar 1.
       Pengelolaan merupakan masukan kelembagaan yang berusaha untuk
mengorganisir sistem dalam rangka memperoleh tujuan pembangunan yang
direncanakan yakni perlindungan dan perbaikan keseimbangan lingkungan. Hal ini
biasanya melibatkan penggunaan sumberdaya alam DAS, terutama lahan, air, dan
vegetasi, dengan partisipasi aktif organisasinya dan dalam harmoni dengan
lingkungannya, oleh masyarakat di wilayah tersebut,. Dua hal yang perlu diperhatikan,
yakni : (1) penggunaan sumberdaya harus tidak melampaui potensi dan batas
ekosistem alami pegunungan yang rentan, dan (2) kepentingan strategis ekosistem
sungai dan aliran air (stream).




Surakarta, 23 Desember 2002                                                                         2
                                              Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”




                        PENGELOLAAN DAN
                       PENGEMBANGAN DAS
                     (MASUKAN KELEMBAGAAN)



                     EVAPOTRANS
                       PIRASI




                             DAS
                                               LIMPASAN                   DAM                   IRIGASI
                                                                          DAN                   LISTRIK
                          TIMBULAN                                       WADUK                 REKREASI
PRESIPITASI                                                                                      LAIN2
 DAN SINAR
                            TANAH
 MATAHARI
 (MASUKAN
  ALAMI)                PENGGUNAAN
                        SUMBERDAYA
                         ALAM DAN
                          MANUSIA
TEKNOLOGI,                                          PRODUKSI
AGROKHEMIS
 (MASUKAN                 VEGETASI             A)   TERNAK                                         KEBUTUHAN
TEKNOLOGI)                                     B)   PERTANIAN
                                                                                                   PENDUDUK
                       INFRASTRUKTUR           C)   HUTAN
                                               D)   LAIN2
                      INSTITUSI/DINAS




                              PRODUK TAK
                              DIINGINKAN
                               (IN SITU)
                                                           HILIR
                          A) EROSI
                          B) LAIN2                  A) SEDIMENTASI
                                                    B) LAIN2




      Gambar 1. Daerah Aliran Sungai Sebagai Sistem (disadur dari Becerra, 1995)


              Asdak (1995) memandang bahwa DAS sebagai suatu ekosistem, sehingga bisa
    merupakan satuan monitoring dan evaluasi (monev)             karena setiap ada masukan
    (inputs) ke dalam ekosistem tersebut dapat dievaluasi proses yang telah dan sedang
    berlangsung dengan melihat keluaran (outputs) dari ekosistem tersebut. Wilayah DAS
    yang terdiri dari komponen tanah, vegetasi dan air/sungai berperan sebagai prosesor.
    Kegiatan monev yang menghasilkan informasi tentang tingkat kesehatan DAS yang




    Surakarta, 23 Desember 2002                                                                        3
                                          Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



bersangkutan pada sistem pengelolaan yang diterapkan bisa dipandang sebagai
kegiatan diagnose.
       Dengan pemahaman di atas perlu dibangun sistem diagnose kesehatan DAS
melalui rangkaian penyelenggaraan monev DAS. Pada akhirnya hasil Diagnose
tersebut diharapkan bisa merupakan dasar dalam penyusunan perencanaan dan
implementasi pengelolaan DAS sebagai suatu upaya terapi atau penyehatan.




                       II. KERANGKA DASAR MONEV DAS


A. Monev Sebagai Diagnose
       Dalam kenyataan lapangan, permasalahan dan kendala tidak terduga sering
muncul begitu implementasi pengelolaan DAS dimulai. Segala sesuatunya tidak selalu
seperti yang direncanakan; situasi bisa berubah sehingga memaksa untuk merubah
perencanaan. Hal ini bukan karena perencanaan yang salah tetapi mencerminkan
adanya perubahan yang terjadi dengan berjalannya waktu. Hal ini disadari bahwa
dalam perencanaan pengelolaan DAS dijumpai adanya faktor ketidakpastian (Asdak,
1995, Brooks, et al., 1990).
       Monitoring dan evaluasi merupakan unsur dasar dari proyek perencanaan dan
pengelolaan. Monitoring adalah menghimpun informasi tentang dunia (fakta) nyata
yang dapat dibandingkan dengan dunia khayal yang diuraikan dalam rencana proyek,
untuk melihat seberapa dekat apa yang direncanakan dengan apa yang berjalan dalam
kenyataannya. Dengan prinsip yang tidak berbeda Becerra (1995) menyebutkan
monitoring sebagai pengukuran secara sistematis dari indikator proyek untuk
menetapkan hasil yang diperoleh terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan
evaluasi adalah mengorganisasi dan menilai informasi yang terhimpun dalam
monitoring, dibandingkan dengan informasi yang terhimpun melalui cara lain, untuk
dipresentasikan kepada manajer dan perencana pada tempat dan waktu yang tepat
(Brooks, dkk., 1990). Dengan hasil monev tersebut manajer (pengelola) mampu
menyediakan fakta yang berupa data kuantitatif yang jelas dan obyektif atas manfaat
dari aktivitas yang telah dicapai dan sejalan dengan tujuan pengelolaan yang



Surakarta, 23 Desember 2002                                                                        4
                                            Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



direncanakan. Monitoring dan evaluasi (monev) dilakukan pada fase awal proyek
(pengelolaan), proyek berjalan, akhir proyek, dan pasca proyek (Becerra, 1995).
Monev harus dirancang dan dilakukan sejalan dengan tujuan, karakteristik dan skala
proyek.
       Namun demikian, untuk melakukan monev pengelolaan DAS sering dijumpai
kesulitan karena adanya hal-hal sebagai berikut (Becerra, 1995) :
1. Sebagian besar manfaat diperoleh dalam jangka menengah dan jangka panjang
2. Faktor eksternal, bukan atribut pengelolaan, juga mempengaruhi pencapaian hasil
3. Manfaat tersebar luas secara geografis
4. Kegiatan perbaikan pada lahan miring tidak selalu diterjemahkan kedalam
   keuntungan hidrologis pada limpasan di titik keluaran (outlet)
5. Manfaat yang diperoleh sering terhapus oleh kerusakan dari aktivitas lain dalam
   DAS, seperti pembuatan jalan yang mengakibatkan erosi jurang dan tanah longsor.
6. Proyek sering salah dalam memberikan gambaran yang cukup untuk bisa
   dilakukan evaluasi yang obyektif.
       Di samping itu, di Indonesia agak jarang diperoleh kesinambungan proses
pengelolaan    (perencanaan dan pelaksanaan) secara konsisten, kecuali pada proyek-
proyek khusus dengan dana pinjaman (loan) atau bantuan (grant) luar negeri. Hal ini
bisa disadari karena tidak adanya salah satu institusi yang memiliki otoritas penuh atas
pengelolaan DAS.
       Berkenaan dengan kendala di atas, maka agak sulit untuk merancang sistem
monev pengelolaan DAS yang mencakup empat fase seperti diutarakan Becerra
(1995) di atas, kecuali fase pasca proyek yang bisa ditafsirkan sebagai monev secara
periodik, misalnya setiap lima tahun. Sistem monev perodik demikian akan sama
seperti disarankan oleh Walker, dkk. (1996) yakni untuk mendeteksi kecenderungan
kesehatan DAS dan mengidentifikasi penyebab kerusakannya (penyakitnya). Dengan
demikian penyelenggaraan monev yang dilakukan secara periodik tersebut bisa
dikatakan sebagai penyelenggaraan diagnose kesehatan DAS.




Surakarta, 23 Desember 2002                                                                          5
                                            Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



B. Kerangka Pikir Diagnose
       Dalam melakukan monev DAS Jenkins dan Sanders (1992), seperti dikutip
Walker, et. al (1996), mengikuti prosedur pemeriksaan kesehatan manusia. Pada
Diagnose awal, pasien (DAS) ditetapkan sehat atau sakit; kemudian diikuti diagnose
lanjut untuk menemukan jenis penyakitnya, yang akhirnya diputuskan cara dan jenis
pengobatannya. Lebih lanjut dikatakan bahwa monev kesehatan DAS (catchment
health) bisa dilakukan dalam 3 (tiga) skala yakni nasional, regional/DAS, dan usaha
tani (site). Di Indonesia tingkatan skala ini bisa dipilahkan menjadi tingkat
nasional/DAS, tingkat regional/kabupaten/sub-DAS, dan tingkat usaha tani/desa.
Untuk menetapkan tingkat kesehatannya, masing-masing skala memerlukan jumlah
indikator berbeda; semakin tinggi tingkat skalanya semakin sederhana jumlah
indikator yang digunakan. Indikator tingkat usahatani memberikan nilai angka dan
sesuai untuk pemetaan distribusi spasial nilai, sedangkan indikator tingkat DAS/sub-
DAS mengintegrasikan seluruh respon DAS, tetapi tidak mengindikasikan lokasi hot-
spot-nya. Indikator tersebut dibedakan dalam dua tipe, yakni : (1) indikator kondisi
yang menetapkan keadaan suatu sistem terhadap keadaan yang diinginkan, dan (2)
indikator kecenderungan yang mengukur bagaimana sistem tersebut berubah.
       Mengingat hasil akhir dari kegiatan monev DAS adalah untuk memperoleh
informasi tentang tingkat capaian hasil dari suatu proses pengelolaan terhadap tujuan,
maka sistem monev pengelolaan DAS dilakukan dengan prinsip dasar mengikuti alur
sistem DAS seperti pada Gambar 1, namun dilakukan secara terbalik. Diagnose awal
dimulai dari hasil luaran (outputs) yakni : (1) karakteristik hidrologi yang diukur pada
outlet (titik pelepasan) dari DAS terukur, yang meliputi aliran air (limpasan), sedimen
terangkut, dan air tanah, dan (2) produksi budidaya pertanian (pertanian, hutan,
perkebunan, ternak, dll), termasuk jasa. Melalui analisis hasil luaran akan diperoleh
informasi tingkat kesehatan DAS yang bersangkutan. Untuk mendeferensiasi tingkat
kesehatan bagian DAS perlu ditelusuri melalui diagnose awal kondisi setiap cabang
aliran sungai (sub-sub-DAS).
       Diagnose selanjutnya adalah melakukan observasi terhadap obyek prosesor
atau sumberdaya alam DAS dan masukan (inputs) alamiah dan teknologi serta pelaku
pengelolaan DAS (masyarakat dan kelembagaan) untuk memperoleh jawaban atas



Surakarta, 23 Desember 2002                                                                          6
                                               Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



fenomena hasil diagnose awal. Secara skematis sistem monev atau diagnose DAS
tersebut dapat digambarkan seperti pada Gambar 2. Indikasi yang diperoleh pada
diagnose awal memiliki hubungan erat dengan kondisi dan sifat dari faktor pada
diagnose lanjut dan juga memiliki hubungan antar indikator (interrelationship).
Hubungan tersebut selanjutnya akan diuraikan seperi berikut :




                                                                                     DIAGNOSE
                            Hidrologi              Produksi

                           - Limpasan            Pertanian
                                                                                                Awal
                           - Sedimen             Hutan
                           - Air tanah           Perkebunan
                          - Pencemar             Jasa, dll


                              Sub-DAS & Sub Sub-DAS




Morfometri DAS            Kondisi Lahan         Pengelolaan                  Hujan
                                                Lahan & Air
•   Luas              •     Batuan/geolo
•   Bentuk                 gi
•   Kemiringan        •     KPL                                                             Lanjut
  sungai & DAS        •     Jenis tanah
•   Kerapatan         •     Erosi
  Drainase            •     Penggunan
•   Ordo                   lahan                Tehnologi                       Masyarakat
Lanjut
                                           •     Input Usaha                •    Kelembagaa
                                                Tani                             n
                                           •     Pola & sistem              •    Persepsi
                                                tanam                       •    Norma
                                           •     Konservasi                 •    Perilaku
                                                Tanah
                                           •     Bangunan Air




             Gambar 2. Skema Alur Monev/Diagnose Kesehatan DAS




Surakarta, 23 Desember 2002                                                                             7
                                           Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



       Produksi budidaya pertanian secara umum, seperti tanaman pangan,
perkebunan, kehutanan, ternak dan lain-lain dalam DAS bisa mengalami
kecenderungan naik, stabil maupun turun.    Perubahan produksi tersebut dipengaruhi
oleh perubahan pola iklim, terutama hujan, dan kondisi lahan serta pola
pengelolaannya. Kondisi lahan yang mempengaruhi produksi adalah kesesuaian
pengunaan lahan terhadap kemampuan atau kapabilitasnya dan tingkat kesuburan
tanahnya. Pada daerah pegunungan (hulu) sering dijumpai penggunaan lahan yang
melampaui kemampuannya karena tingkat tekanan penduduk terhadap lahan cukup
tinggi serta lemahnya penegakan legislasi yang dibangun melalui kelembagaan yang
ada. Sedangkan faktor kesuburan tanah secara umum dapat dicirikan oleh jenis
tanahnya. Secara rinci kesuburan tanah bisa dimaksudkan sebagai status kerusakan
lahan seperti pada Peraturan Pemerintah (PP) No.150 Tahun 2000, dimana disebutkan
tentang nilai ambang kritis dari parameter kriteria baku kerusakan tanah di lahan
kering. Namun demikian mengacu saran Shaxson (1999) yang memandang penurunan
produktivitas atau hasil adalah berkaitan erat dengan kualitas tanah tersisa setelah
erosi, maka kesuburan tanah dapat disifatkan dari kondisi erosi tanahnya. Sementara
itu pengelolaan lahan ditentukan oleh :
1.   Masukan teknologi, yang berupa sarana produksi pertanian (saprotan), sistem
     dan pola tanam, dan teknik konservasi tanah yang diterapkan. Perubahan pola
     dan dan sistem tanam yang dimaksud termasuk perubahan penggunaan lahan,
     seperti lahan alang-alang dirubah menjadi lahan pertanian atau hutan atau
     perkebunan, sehingga pengaruh tanaman yang utama adalah kerapatan
     penutupan tanah .
2.   Peran masyarakat sebagai pengelola lahan dan sistem kelembagaan yang
     terbangun. Faktor sosial meliputi luas pemilikan lahan, status pengelola lahan
     terhadap kepemilikan, tingkat ketergantungan hidup terhadap lahan, pengetahuan
     petani terhadap kegiatan konservasi tanah, dan kelembagaan pengelolaan DAS
     yang mencakup lembaga masyarakat, konflik, nilai-nilai, dan norma masyarakat.
       Jumlah dan distribusi limpasan (run-off) dari aliran sungai (stream flow)
menunjukkan indikasi sifat atau karakteristik DAS di atasnya dalam memberikan
respon terhadap hujan yang jatuh sebagai masukan terhadap DAS. Nilai limpasan bisa



Surakarta, 23 Desember 2002                                                                         8
                                           Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



dinyatakan dalam : (1) debit aliran yang merupakan jumlah per satuan waktu, (2)
koefisien variasi limpasan, dan (3) koefisien rejim sungai (KRS) yaitu nisbah debit
maksimum dan minimum. Debit aliran yang penting adalah besarnya debit puncak
atau banjir dan frekuensi kejadiannya sebagai indikator kemampuan DAS dalam
merespon air hujan yang jatuh. Peristilahan banjir puncak sering digunakan dalam
perancangan bangunan air (hidrolik); demikian juga parameter koefisien limpasan.
Memperhatikan kegunaan tersebut maka nilai koefisien limpasan bisa diambil dari
limpasan puncak pada kejadian hujan yang bersangkutan (rainfall event). Nilai
koefisien limpasan yang dihitung dari nilai total limpasan dan hujan dalam satu tahun
menunjukkan nilai neraca air tetapi bukan merupakan bentuk respon DAS secara
langsung terhadap air hujan yang jatuh. Hal ini juga terlihat bahwa limpasan yang
mengalir di sungai sebagai hasil respon DAS terhadap hujan tidak langsung terukur
sebagai luaran tetapi masih didiversi untuk kepentingan irigasi. Memperhatikan hal-
hal tersebut, maka nilai KRS seyogyanya menggunakan pendekatan yang sama.
Sementara itu pemanfaatan limpasan untuk usaha tani bisa dinilai dalam parameter
indek penggunaan air.
       Limpasan yang terjadi dipengaruhi oleh curah hujan yang jatuh dan
karakteristik DAS yang dicerminkan oleh morfometri DAS, kondisi lahan dan
pengelolaan lahan dan air. Morfometri DAS merupakan karakteristik DAS yang
bersifat bawaan alamiah yang sulit untuk dimanipulasi oleh manusia yang meliputi
luas dan bentuk DAS, kemiringan sungai, kemiringan rata-rata DAS, kerapatan
drainase, dan ordo sungai. Sementara itu karakerisik lahan juga ada yang bersifat
permanen adalah geologi (batuan), sedangkan tanah bersifat agak permanen
(perubahan agak lambat), dan yang paling dinamis adalah penggunaan lahan. Undang-
undang No. 41 Tahun 1999           menetapkan bahwa guna optimalisasi manfaat
lingkungan, manfaat sosial dan manfaat ekonomi pemerintah menetapkan dan
mempertahankan kecukupan luas kawasan hutan dan penutupan hutan minimal 30%
dari luas DAS dengan sebaran secara proporsional (Pasal 18). Sementara itu dengan
tumbuhnya industri dan jumlah penduduk yang terus bertambah telah mendorong
perubahan penggunaan lahan yang kurang memiliki fungsi perlindungan atau
konservasi, seperti perubahan lahan pertanian menjadi pabrik dan pemukiman atau



Surakarta, 23 Desember 2002                                                                         9
                                           Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



lahan hutan menjadi lahan pertanian. Masukan teknologi untuk pengelolaan lahan,
seperti jumlah dan jenis penggunaan sarana produksi pertanian (saprotan), pola dan
sistem tanam, tindakan konservasi tanah, dan pembangunan jaringan irigasi dan dam,
akan mempengaruhi sifat limpasannya. Pengelolaan yang terbangun tergantung dari
kondisi sosial ekonomi masyarakat pelakunya seperti tingkat pengetahuan petani,
kelembagaan, status pemilikan lahan dan ketergantungan hidup petani pada lahan
pertanian..
       Bahan yang terangkut dalam limpasan dapat berupa bahan pencemar yang
bersifat fisis (partikel tanah) maupun khemis. Namun partikal tanah terangkut, sebagai
produk erosi dari DAS, yang akan merupakan sedimen di tempat pengendapannya
dibicarakan secara terpisah dari pencemar khemis lainnya. Besarnya erosi memiliki
korelasi dengan limpasan walaupun tidak selalu sejalan. Partikel tanah yang terangkut
bersama limpasan merupakan produk dari erosi permukaan (lapis dan alur) dan
morfoerosi (jurang, tebing sungai dan jalan, longsoran dan lainnya). Faktor yang
mempengaruhi besarnya erosi adalah hujan, topografi, tanah dan pengelolaan
lahannya. Tingkat erosi tanah diidentifikasi berdasarkan kenampakan tanah akibat
erosi yakni tebal solum tanah, luas batuan permukaan, dan aplikasi teknik konservasi
tanah. Pengelolaan lahan yang mempengaruhi besarnya erosi tanah adalah aplikasi
teknik konservasi tanah, baik vegetatif maupun teknik sipil. Namun tingkat
keberhasilan teknik konservasi tanah yang dilakukan tergantung dari perilaku
masyarakat dan kelembagaan yang terbangun untuk menggerakkan masyarakat
pengelola tersebut. Bahan pencemar yang terangkut melalui aliran air akan
menunjukkan input (masukan) teknologi yang diaplikasikan dalam pengelolaan lahan.


               III. KRITERI DAN INDIKATOR KESEHATAN DAS


       Dalam melakukan Diagnose terhadap kesehaatan DAS perlu dirancang
indikator-indikator yang menunjukkan tingkat kesehatan suatu DAS. Kerangka
pendekatan monev sebagai proses diagnose seperti Bab II disusun dalam bentuk
pendekatan indikator masukan dan indikator keluaran yang dibangun dalam fase
diagnose awal dan diagnose lanjut sehingga hasil diagnose bisa diketahui proses



Surakarta, 23 Desember 2002                                                                       10
                                            Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



sebab-akibatnya. indikator yang disusun harus memenuhi dua kondisi dasar, yakni :
(1) mudah diverifikasi secara obyektif, (2) terkait langsung dengan pencapaian hasil.
Dengan demikian, pilihan indikator tidak saja memiliki arti, tetapi juga harus dapat
dipahami oleh para pengelola DAS dan pihak lain yang terkait. Mengacu kerangka
dasar pada Bab II, maka disusun kriteria dan indikator kesehatan DAS seperti pada
Tabel 1.
       Pemberian bobot pada setiap indikator dimulai dari pembagian bobot antara
diagnose awal (40%) yang meliputu kriteria hidrologi dan produksi, dan diagnose
lanjut (60%) yang mencakup kriteria morfometri DAS (hidrologi), kondisi lahan,
masukan teknologi, dan kondisi masyarakat (sosial).
       Masing-masing indikator memiliki nilai berdasarkan atas kondisinya yang
berkisar antara baik (3), sedang (2), dan buruk (1) seperti pada Lampiran 1. Nilai
setiap indikator dikalikan dengan bobotnya seperti pada Tabel 1. Hasil kali ini
dijumlahkan dan kemudian dibagi dengan total bobot (100) yang kemudian disebut
skor tingkat kesehatan DAS. Kriteria kesehatan DAS diklasifikasi berdasarkan skor
rata-rata seperti Tabel 2 berikut.


Tabel 2. Kriteria Tingkat Kesehatan DAS :
                    Kriteria                                   Skor Rata-rata
  1. Jelek                                                      1    -       < 1,5
  2. Sedang                                                   1,5 -          <2
  3. Agak baik                                                  2     -      < 2,5
  4. Baik                                                      2,5       -    3




Surakarta, 23 Desember 2002                                                                        11
                                                     Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



Tabel 1. Bobot Setiap Indikator Monev/Diagnose Pengelolaan DAS
                           KRITERIA/INDIKATOR                                           BOBOT (%)

 I. DIAGNOSE AWAL                                                                 40
 A. HIDROLOGI                                                                               35
    1. Limpasan                                                                                        12
      a. Debit puncak (banjir)                                                                                     4
      b. Koefisien regim sungai (KRS)                                                                              3
      c. Koefisien varian limpasan                                                                                 3
      d. Indeks penggunaan air (IPA)                                                                               2
    2. Sedimentasi                                                                                     10
    3. Kualitas air                                                                                     9
      a. Fisika                                                                                                    3
      b. Kimia                                                                                                     3
      c. Biologi                                                                                                   3
    4. Air tanah                                                                                        4
        Fluktuasi muka air tanah                                                                                   4
 B. PRODUKSI                                                                                 5
    1. Trend produksi usaha tani konservasi                                                             3
    2. Jasa                                                                                             2


 II. DIAGNOSE LANJUT                                                              60


 A. MORFOMETRI DAS                                                                           5
 B. LAHAN                                                                                   20
    1. Kemampuan penggunaan Lahan (KPL)                                                                 8
    2. Erosi                                                                                            7
    3. Penggunaan lahan                                                                                 5
        a. Vegetasi (penutupan lahan) permanen                                                                     3
        b. Perubahan penggunaan lahan                                                                              2
 C. MASUKAN TEKNOLOGI                                                                       20
    1. Masukan usaha tani (Saprotan)                                                                    3
    2. Konservasi tanah                                                                                10
    3. Pola dan sistem tanam                                                                            4
    4. Bangunan Air                                                                                     3
 D. SOSIAL/MASYARAKAT                                                                       15
    1. Luas pemilikan lahan                                                                             3
    2. Status pemilikan lahan                                                                           2
    3. Kelembagaan pengelolaan DAS                                                                      5
    4. Budaya                                                                                           5
      a. Konflik                                                                                                   1
      b. Norma                                                                                                     1
      c. Tingkat adopsi                                                                                            1
 D. EKONOMI                                                                                 15
      a. Prosen Pendapatan UT terhadap pendapatan keluarga                                                         1
      b. Pendapatan rata-rata                                                                                      1
                                                                   TOTAL        100




Surakarta, 23 Desember 2002                                                                                 12
                                               Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



                                IV. KESIMPULAN


       Berdasarkan telaah sistem monitoring dan evaluasi (monev) pengelolaan DAS
tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Monev pengelolaan DAS yang dilakukan secara periodik, setiap 5 atau 10 tahun,
   bisa dipandang sebagai suatu Diagnose terhadap kesehatan atau tingkat kerusakan
   suatu DAS. Hasil yang diperoleh dapat digunakan sebagai dasar untuk perbaikan/
   penyempurnaan sistem perencanaan maupun pelaksanaan pengelolaan DAS
   selanjutnya.
2. Diagnose awal terhadap kesehatan DAS dilakukan pada hasil keluaran (output)
   suatu sistem pengelolaan DAS yang meliputi aspek (kriteria) hidrologi dan
   produksi (ekonomi), termasuk jasa didalamnya. Melalui 11 indikator, 9 untuk
   kriteria hidrologi dan 2 untuk kriteria produksi, tingkat kesehatan atau kerusakan
   awal dari suatu DAS yang bersangkutan akan bisa dievaluasi.
3. Untuk mengetahui tempat dan penyakit (sebab kerusakan) dari DAS tersebut perlu
   Diagnose lanjut terhadap karakteristik DAS dan masyarakat pelaku pengelolaan.
   Sebanyak 17 indikator penyusun Diagnose lanjut yang dikelompokkan dalam 4
   (empat) kriteria : (1) morfometri DAS (1 indikator), (2) lahan (4 indikator), (3)
   masukan teknologi (4 indikator), dan (4) sosial/masyarakat (8 indikator).
4. Bobot penilaian indikator secara garis besar terbagi menjadi 40% untuk Diagnose
   awal dan 60% untuk Diagnose lanjut dimana untuk masing-masing kriteria adalah
   hidrologi sebesar 35%, produksi sebanyak 5%, morfometri DAS sebesar 5%,
   lahan sebesar 20%, masukan teknologi sebesar 20%, dan sosial sebesar 15%.




Surakarta, 23 Desember 2002                                                                           13
                                         Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



                              DAFTAR PUSTAKA


Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada
       Univ. Press

Becerra, E. H. 1995. Monitoring and Evaluation of Watershed Management Project
         Achievements. FAO Conservation Guide 24. FAO. Rome.

Brooks, K. N, H. M. Gregersen, A. L. Lundgren, and R. M. Quinn. 1990. Manual on
        Watershed Management Project Planning, Monitoring and Evaluation .
        ASEAN-US Watershed Project. Philippines.

BTPDAS Surakarta. 2000. Pedoman Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Daerah
      Aliran Sungai.

Departemen Kehutanan, 2001. Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan Daerah Aliran
        Sungai.   Kep.Men.Hut.      No.52/Kpts-II/2001.   Tentang.  Pedoman
        Penyelenggaraan Pengelolaan DAS. DitJen RLPS. Dit. RLKT.

Hufschmidt, M.M., 1986. A Conceptual Framework for Analysis of Watershed
       Management Activities. Strategies, Approaches, and System in Integrated
       Watershed Management. FAO Conservation Guide 14. FAOUN, Rome.

Dixon, J. A, and K. W. Easter. 1986. Intregated Watershed Management : An
        Approach to Resource Management, In. K. W. Easter, J. A. Dixon, and M.
        M. Hufschmidt. Watershed Resource Management. An Integrated
        Framework with Studies from Asia and the Pacific. East-West Center, Env.
        and Policy Institute. Honolulu, Hawaii.

Shaxon, F.,1999. New Concepts and Approaches to Land Management in the Tropics
        with Emphasis on Steeplands. FAO Soil Bulletin 75. FAOUN, Rome.

Walker, J., D. Alexander, C. Irons, B. Jones, H. Penridge, and D. Rapport. 1996.
        Catchment Health Indicators : An Overview. In. J. Walker and D. J. Reuter.
        Indicators of Cacthment Health. A Technical perspective. CSIRO. Australia.




Surakarta, 23 Desember 2002                                                                     14
                                                            Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



Lampiran 1. Kriteria, Indikator dan Parameter Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS

Kriteria       Tujuan                   Indikator                              Parameter                   Standar         Skor
                                                                                                           Evaluasi
Hidrologi                                                                         3
            Menilai tingkat   Koefisien Regim Sungai (KRS)        KRS = Qmax (m /det)                   < 40              Baik
                                                                                 3
            banjir dan                                                  Qmin (m /det)                   40 – 80           Sedang
            kekeringan                                            (pada banjir puncak/rainfall event)   > 80              Buruk

                              Debit puncak/banjir (Qmax)          Qmax (banjir) dalam 5 tahun           Tak pernah        Baik
                                                                                                        Agak sering       Sedang
                                                                                                        Setiap tahun      Buruk
                              Koefisien varian (CV)               CV = St. Dev. limpasan X 100%         < 10              Baik
                                                                        Q rata-rata thnan               10 – 30           Sedang
                                                                  (pada banjir puncak/rainfall event)   > 30              Buruk
                                                                                      3
                              Indeks Penggunaan Air (IPA)         IPA = Potensi (m )                    < 0,9             Baik
                                                                                      3
                                                                       Kebutuhan (m )                   0,5 – 0,9         Sedang
                                                                                                        > 0,5             Buruk

            Menilai           Kandungan sedimen                   Laju sedimentasi (mm/thn)             <1                Baik
            sedimentasi &                                                                               1–2               Sedang
            estimasi erosi                                                                              >2                Buruk

            Menilai           Fisik                               Warna                                 Tidak             Baik
            kualitas air                                                                                berwarna &
                                                                                                        tidak berbau
                                                                                                        Berwarna &        Buruk
                                                                                                        berbau
                                                                  Kekeruhan                             Bening (5)        Baik
                                                                                                        Keruh (5-25)      Sedang
                                                                                                        Berlumpur         Buruk
                                                                                                        (>25)
                              Kimia                               PH                                    6,5 – 7,5         Baik
                                                                                                        5-6,5/7,5-8,5     Sedang
                                                                                                        <5,5 / > 8,5      Buruk
                                                                  NO3 (mg/L)                            < 10              Baik
                                                                                                        10 – 50           Sedang
                                                                                                        > 50              Buruk
                                                                  PO4 (mg/L)                            < 12,5            Baik
                                                                                                        12,5 – 40         Sedang
                                                                                                        > 40              Buruk
                                                                  Ca (mg/L)                             < 75              Baik
                                                                                                        75 – 200          Sedang
                                                                                                        > 200             Buruk
                              Biologi                             Biological Oxygen Demand (BOD)        <5                Baik
                                                                  (mg/L)                                5 – 10            Sedang
                                                                                                        > 10              Buruk

            Menjaga           Fluktuasi muka air tanah            Perbedaan muka air sumur pada         <5                Baik
            persediaan air                                        musim hujan dan kemarau (m)           5 – 10            Sedang
            tanah                                                                                       > 10              Buruk

Produksi     Menilai tren     Tren produksi usaha tani            Produksi utama usaha tani             Meningkat         Baik
              produksi        konservasi                          konservasi                            Stabil            Sedang
                                                                                                        menurun           Buruk

                              Jasa                                Perkembangan nilai jasa sebagai       Berkembang        Baik
                                                                  dampak pengelolaan DAS                Sedikit maju      Sedang
                                                                                                        Tidak ada         Buruk




Surakarta, 23 Desember 2002                                                                                         15
                                                             Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



Kriteria      Tujuan                     Indikator                              Parameter                   Standar         Skor
                                                                                                            Evaluasi
Lahan      Mengestimasi      Indeks Erosi (IE)                     Kelas lereng (%)                            <8          Ringan
           erosi             (dinilai dari satu atau lebih                                                   8 – 25        Sedang
                             parameternya)                                                                    >25          Berat
                                                                   Ketebalan solum tanah (Cm)                 >50          Ringan
                                                                                                            20 – 50        Sedang
                                                                                                              <20          Berat
                                                                   Batuan singkapan (% luas)                  < 10         Ringan
                                                                                                             10 –40        Sedang
                                                                                                              > 40         Berat
                                                                   Morfoerosi                            Tidak ada         Ringan
                                                                                                         Sedikit           Sedang
                                                                                                         Besar             Berat
                                                                   KT = Realisasi KT x 100%                   > 75         Baik
                                                                     Luas yg harus di KT                    40 – 75        Sedang
                                                                                                              < 40         Buruk
           Mengidentifika    Indeks Kemampuan                      IKPL =                                     > 75         Baik
           si tata ruang     Penggunaan Lahan (IKPL)                Luas sesuai KPL x 100%                  60 – 75        Sedang
                                                                     Luas unit peta/lahan                     < 60         Buruk
                             Indeks Penutupan Lahan                IPML =                                     > 30         Baik
                             Permanen (IPLM)                       Luas lahan berveg. perm. X 100%          20 – 30        Sedang
                                                                         Luas DAS                             < 20         Buruk
Masukan    Menilai           Masukan usaha tani (saprotan)         Kecenderungan peningkatan             Tak meningkat     Baik
Teknolo    masukan                                                 penggunaan jumlah dan jenis           Sedikit (<20%)    Sedang
gi         teknologi                                               saprotan                              Besar (>20%)      Buruk
                             Tindakan konservasi tanah (KT)        KT = Realisasi KT x 100%                   > 70         Baik
                                                                      Luas yg harus di KT                   40 – 70        Sedang
                                                                                                              < 70         Buruk
                             Sistem dan pola tanam                 Kerapatan tanaman terhadap            Rapat             Baik
                                                                   penutupan tanah                       Sedang            Sedang
                                                                                                         Jarang            Buruk
                             Bangunan air                          Persen limpasan pada musim                 > 60         Baik
                                                                   kemarau yang diversi                     30 – 60        Sedang
                                                                                                              < 30         Buruk
Sosial     Mengidentifika    Pemilikan lahan                       Luas pemilikan lahan (Ha)                 1–2           Baik
           si kondisi dan                                                                                   0,25 – 1       Sedang
           karakter sosial                                                                                   < 0,25        Buruk
           dalam
           pengelolaan
           DAS
                             Status pemilikan pengelola            Penggarap sebagai pemilik lahan           75 – 100      Baik
                             lahan                                 (bukan penyewa)                            25 – 50      Sedang
                                                                                                               < 50        Buruk
                             Kelembagaan Pengelolaan DAS

                              1.    Konflik                        Konflik kepentingan pemanfaatan       Tak ada konflk    Baik
                                                                   sumberdaya DAS                        Ada, teratasi     Sedang
                                                                                                         Ada, tak          Buruk
                                                                                                         teratasi
                              2.    Nilai-nilai                    Nilai-nilai RLKT dimata masyakat      Dianggap          Baik
                                                                                                         penting/tinggi
                                                                                                         Kurang peduli     Sedang
                                                                                                         Dianggap jelek    Buruk
                              3.    Norma                          Norma sosial/adat dalam               Ada, disiplin     Baik
                                                                   konservasi tanah dan air (RLKT)       Ada, tidak        Sedang
                                                                   dalam bentuk sangsi                   disiplan
                                                                                                         Tidak ada         Buruk

                             Pengetahuan petani terhadap           Pemahamam dan tindakan petani         ‘T’ & ‘L’         Baik
                             konservasi                            dalam konservasi (RLKT)               ‘T’, tidak ‘L’    Sedang
                                                                   (T=tahu, L=melaksanakan)              Tidak ‘T’         Buruk




Surakarta, 23 Desember 2002                                                                                          16
                                             Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



                              PERTANYAAN DAN SARAN


1.    Pembahasan Prof. Dr. Sutikno
      (Jurusan Geografi Fisik dan Lingkungan, Fakultas Geografi UGM dan Kepala
      Pusat Studi Bencana Alam UGM, Yogyakarta)
        Kerusakan pada DAS akan diikuti dengan kesulitan hidup dan kesengsaraan
antara lain bencana banjir, kekeringan, longsor, dan sebagainya. DAS yang rusak sulit
dipulihkan dan membutuhkan dana yang besar.
Beberapa masukan untuk perbaikan:
a. Memasukkan penambangan galian C dalam Monev karena hal tersebut akan
     mempengaruhi kesehatan DAS.
b. Perlu penajaman dan transparansi tentang masalah yang akan dipecahkan dan
     tujuan yang ingin dicapai. Permasalahannya : dapatkah dan bagaimanakah
     membangun sistem diagnose kesehatan DAS.              Tujuannya adalah mempelajari
     sistem kesehatan DAS melalui monitoring dan evaluasi pengelolaan DAS.
c. Komponen batuan dan biota (selain vegetasi) kurang dimasukkan dalam Monev
     Pengelolaan DAS.         Selain itu manusia merupakan pelaku dan pemanfaat
     sumberdaya alam pada DAS yang sangat menentukan kondisi DAS. Untuk itu
     perlu pemberdayaan masyarakat dan pensosialisasian pengelolaan DAS.
d. Pembahas sependapat dengan kerangka pikir diagnose DAS yaitu DAS
     didiagnose, diidentifikasi jenis penyakitnya, dan selanjutnya diterapi. Tetapi perlu
     dicermati karakteristik DAS sehingga tidak pukul rata dalam memonev DAS.
e. Sistem pengelolaan lahan pada DAS dapat dibedakan menjadi: (1) dikelola sendiri,
     (2) dikelola bersama, (3) dikelola pemerintah, dan (4) dikelola secara kombinasi.
     Untuk itu sistem monevnya perlu diperhatikan dan dibedakan.
f. Pengelolaan DAS tergantung pada kondisi sosial ekonomi masyarakat dan perlu
     ditambah persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan DAS.
g. Perlu ada justifikasi untuk pembobotan dan dan dicari faktor pembatasnya.




Surakarta, 23 Desember 2002                                                                         17
                                             Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



2. Pembahasan Dr. Maksum (Kepala Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan UGM,
   Yogyakarta)
       Makalah cukup komprehensif tetapi kurang aspek sosial ekonomi. Padahal
aspek sosial ekonomi sangat berperan dalam menentukan kesehatan suatu DAS.
Monev DAS agak gagal dalam melihat fenomena sosial ekonomi dan terlihat satu arah
serta statis, padahal Monev DAS seharusnya dinamis.
       Faktor relevansi, efisiensi, efektivitas, dan sustainibilitas tidak nampak dalam
makalah. Selain itu, persoalan pembobotan perlu lebih diperhatikan karena setiap
daerah memiliki karakteristik yang berbeda. Untuk itu, maka pembobotan tersebut
perlu di tera setiap saat. Dalam kaitan inilah, maka para stakeholder perlu duduk
bersama untuk menyamakan persepsi dan menentukan pembobotan yang sesuai.


3. Kuswaji (Fakultas Geografi UMS)
       Sependapat bila diagnosa DAS sama seperti diagnosa penyakit, yaitu dimulai
dari diagnosa lalu dicari penyakitnya dan selanjutnya diterapi sesuai dengan penyakit
DAS. Tetapi perlu hati-hati dalam terapinya, karena bisa terjadi penyakit DAS sama
namun disebabkan oleh faktor yang berbeda, sehingga terapinya pun akan berbeda.
Apa asumsi penentuan waktu Monev 5—10 tahun dan dasar penentuan
pembobotannya?


4. Suharno (Fakultas Pertanian UNS)
       Keberatan pada diagnosa lanjut, kenapa pada aspek sosial ekonomi hanya 15
dari 60, padahal seharusnya diberi bobot lebih besar. Banyak kasus kekritisan DAS
disebabkan oleh masalah sosial ekonomi.


5. Isnugroho (Balai Sungai DAS Solo)
   a. Institusi pelaksana Monev itu siapa?
   b. Wilayah administrasi tidak sama dengan wilayah DAS.                       Untuk itu perlu
       dijadikan suatu bobot juga dalam kaitannya dengan keterpaduan pengelolaan
       DAS. Hal ini akan makin besar pengaruhnya pada era otonomi daerah.




Surakarta, 23 Desember 2002                                                                         18
                                           Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



6. Sumarto Gunadi (Fakultas Teknologi Pertanian UGM)
       Sistem Monev DAS merupakan suatu sistem yang iterkatif. Kenapa perlu
dikuantifikasi dalam penilaian kesehatan DAS? Kuantifikasi terhadap peubah skor
akan berdampak besar pada persoalan akurasi. Perlu diperhatikan parameter kondisi,
fungsi, dan kepentingan dari masing-masing yang akan dikuantifikasi.


7. Teguh Prasetyo (BPTP Jawa Tengah)
       Kriteria dalam Monev DAS terlalu complicated. Pada aspek nilai hasil kenapa
hanya pada awal saja, padahal di diagnose lanjut masih terdapat unsur produksi
sebagai akibat masuknya teknologi.        Ada perubahan produksi sebagai akibat
masuknya teknologi dalam pengelolaan DAS.               Perlu pula kesepakatan dalam
penentuan modeling untuk menilai hasil.


8. Sukiman (BP DAS Solo)
       Soal pembobotan yang disampaikan ternyata ada perbedaan dengan kriteria
yang lama. Untuk itu perlu ada penegasan dan kesepakatan sistem Monev DAS versi
siapa yang akan dipergunakan.


9. Hernawati (Dinas Kehutanan Semarang)
       Pengelolaan DAS merupakan suatu keseimbangan hidrologi dengan air sebagai
faktor pengikatnya. Belum terlihat aspek geologi dalam kaitannya dengan peresapan
air, untuk itu perlu dimasukkan peubah geologi dalam kaitannya dengan kemampuan
peresapan air.

10. Suyamni (BAPPEDA Propinsi Jawa Tengah)
       Terutama pada menu utama, supaya juga memperhatikan karakteristik/sifat
morfologi tanah yang akan mempengaruhi infiltrasi / limpasan permukaan (run off)
juga dihitung puncak banjir. Perlu diinformasikan bahwa di Bappeda Propinsi Jawa
Tengah juga pernah ada studi Monev Pengelolaan DAS utamanya pelaksanaan
penghijauan yang sudah dilaksanakan + 20 tahun (Pengkajian oleh Fak. Pertanian
UGM – 1994/1995) di DAS Galih ds. (Kab. Temanggung) dengan penutup lahan yang



Surakarta, 23 Desember 2002                                                                       19
                                           Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



karakteristik yaitu tembakau dimana akan sangat mempengaruhi menurunnya
kesuburan (leaching) dan erosi. Berdasarkan studi tersebut diantaranya diperoleh
rekomendasi/penukaran semacam dana kompensasi dari pengguna hasil-hasil dari
komoditi tersebut (pabrik rokok) kepada pemilik-pemilik tanah yang “dirugikan”
tersebut. Berdasarkan hal tersebut diharapkan agar nanti diskusi-diskusi Monitoring
dan Evaluasi Pengelolaan DAS ini dapat menghasilkan produk yang bersifat user
friendly and applicable.
          Untuk aspek Sosial Ekonomi juga perlu dipertimbangakan karakteristik-
karakteristik dari Sosek masing-masing kawasan yang berlainan. Sebagai contoh di
daerah hulu DAS Citanduy yang sepertinya telah membudaya membuang sampah
batang-batang pisang ke Sungai Citanduy sehingga disamping sedimen yang tinggi
juga penuhnya sampah batang-batang pisang dimuara sungai.
11. Sutrisno (Dinas Kehutanan dan Perkebunan Wonosobo)
          Kami tertarik dengan uraian Pak Paimin dan kawan-kawan ada pertanyaan –
pertanyaan sebagai berikut :
Siapa yang tanggung jawab MONEV tentang Pengelolaan DAS, karena bila ada
musibah banjir dan longsor yang disalahkan sering Dinas Teknis terutama Kehutanan,
padahal aturan / peraturan yang ada sudah jelas bahwa ada fasal-fasal menyatakan
pada Undang-undang Lingkungan. Saya rasa kesemuanya dari Kebijakan yang ada
khususnya bidang Pengelolaan DAS terpadu           tentunya dari rasa disiplin                pihak
pemerintah, Swasta, masyarakat, LSM, sampai para tokoh masyarakat, baik agama,
politik    sampai kepemudaan    untuk mentaati peraturan disiplin dalam mengelola
lingkungan DAS. Membuang sampah yang tertib dan teratur.


TANGGAPAN PEMAKALAH (Ir. Paimin, M.Sc.)
1. Untuk mengubah suatu yang rumit menjadi mudah dipakai dan dipahami
    merupakan suatu pekerjaan yang sulit dan perlu kerja keras.
2. Pengelolaan DAS merupakan suatu kegiatan yang dinamis sehingga monev pun
    dinamis.
3. Bagaimana kaitkan DAS dengan batas administrasi kabupaten atau propinsi bila
    banyak kabupaten atau propinsi yang belum tahu dengan pengelolaan DAS.



Surakarta, 23 Desember 2002                                                                       20
                                           Prosiding Seminar “Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS”



    Untuk itu kami sependapat akan pentingnya sosialisasi pengelolaan DAS dan
    Monev DAS.
4. Untuk Bapak Sutikno, cukup membingungkan untuk memasukkan unsur
    pertambangan karena pengelolaan tambang tidak pengaruhi tata air, selain itu
    pembukaan vegetasi akibat penambangan sudah menjadi salah satu indikator
    dalam Monev DAS. Perubahan penggunaan lahan dari yang konservatif menjadi
    tidak konservatif. Selain itu, memasukkan pertambangan akan membuat Monev
    DAS menjadi sangat complicated.
5. DAS juga oleh dipengaruhi unsur biotik dan abiotik, tetapi dalam Monev yang
    kami ajukan belum memasukkan unsur biotik karena akan membuat complicated
    dan biaya yang besar. Namun demikian, pada tahun depan BP2TP DAS sudah
    mulai mengarah untuk memasukkan faktor biotik dalam Monev DAS.
6. Tentang faktor pembatas memang menentukan dalam Monev DAS dan ini akan
    dibahas lebih lanjut dalam sidang komisi.
7. Persoalan pemberian bobot yang lebih besar fisik dibandingkan sosial. Pada saat
    pembuatan awal Monev sempat terjadi debat panjang tentang apa yang mau
    dillihat dalam DAS apakah prosesnya atau fase. Hal ini akan membuat binggung
    dalam hal diagnosa dan proses. Pada saat itu disepakati bahwa yang akan dilihat
    adalah fasenya, sehingga ada diagnosa awal dan diagnose lanjut.
8. Untuk waktu Monev yang 5—10 tahun, mengacu pada aspek perencanaan.




Surakarta, 23 Desember 2002                                                                       21

								
To top