KEEFEKTIVAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MODEL PEMBELAJARAN by eht15743

VIEWS: 3,725 PAGES: 76

									KEEFEKTIVAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED
 HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP HASIL BELAJAR
SISWA PADA MATERI POKOK SEGITIGA SISWA KELAS VII
  SEMESTRER 2 SMP KESATRIAN 2 SEMARANG TAHUN
                 PELAJARAN 2008/2009

                             skripsi

               disajikan sebagai salah satu syarat

           untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

             Program Studi Pendidikan Matematika



                              Oleh
               DYAH MEIYARSI SUSANTYO
                          4101404547


                 JURUSAN MATEMATIKA
  FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
           UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
                             2009
                             PENGESAHAN




Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi FMIPA

UNNES pada tanggal 27 Maret 2009

Panitia:

Ketua                                      Sekretaris




Drs. Kasmadi Imam S., M.S.                 Drs. Edy Soedjoko, M.Pd.
NIP. 130781011                             NIP. 131693657



                                           Penguji




                                           Dra. Kusni, M.Si
                                           NIP. 130515748


Penguji/Pembimbing I                       Penguji/ Pembimbing II




Dra. Endang Retno W, M. Pd                 Drs. Rochmad, M..Si
NIP. 130935363                             NIP. 131651607




                                     iii
                                              PERNYATAAN

     Yang bertanda tangan di bawah ini:

1.    Nama Lengkap/NIM                            SITI KUSRINI / 4101404573
2.    Tempat, Tanggal Lahir                       SEMARANG, 6 AGUSTUS 1986
                                                  JALAN GENUK SARI ATAS RT 03 RW IX ,
3.    Alamat Asal
                                                  SEMARANG
4.    Nomor Telepon                               085640980912
5.    Skor TOEFL                                  400
6.    Jumlah SKS yang telah lulus                 142 SKS
      Prestasi yang pernah diperoleh selama       -
7.    kuliah (a.l.: kejuaraan, penghargaan,
      penelitian, karya tulis dll.)
                                                  Nama beasiswa
                                                  Besar bea siswa
8.    Untuk penerima bea siswa                    perbulan
                                                                       Tgl:        -        -
                                                  Waktu
                                                                     s.d.     -       -
                                                  Keefektifan pembelajaran Matematika Dengan Model
                                                  Pembelajaran Kooperatif Team Assisted Individualization
9.    Judul Skripsi                               (TAI) Materi Segitiga Pada Siswa Kelas VII SMP 18
                                                  Semarang

                                                  1. Prof. Dr. YL. Sukestiyarno.
10. Pembimbing Skripsi
                                                  2. Dra Kristina W, MS.
11. Proposal skripsi disetujui                    Tgl. 10     Bl. Maret            Th. 2008
12. Ujian skripsi (diisi bulan dan tahun)         Tgl.        Bl.                             Th.
13. IPK (tidak termasuk nilai skripsi)            2, 76
     RIWAYAT PEKERJAAN SELAMA KULIAH
     (Apabila Anda kuliah sambil bekerja):
                                                                       Mulai Bekerja
       No      Pekerjaan                                                                            Gaji perbulan
                                                                     tgl      bl       th
        1      Mengajar
        2      Memberi Les Classical
        3      Memberi Les Private
         4                                                     *
     Pernyataan ini saya isi dengan sebenar-benarnya.
     *: Pekerjaan lain, sebutkan.
                                                                    Semarang,      September 2008


                                                                    SITI KUSRINI
                                                                    4101404573
                       MOTTO DAN PERSEMBAHAN


MOTTO


  1. Hidup kosong dan tak bermakna tidak akan memberikan wewenang kepadamu
      untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang diturunkan dari Tuhan YME. (Penulis).

  2. Hargai waktu yang ada jangan sampai kamu menyesal (Penulis).

  3. Selagi kita punya kesempatan yang ada di depan kita, jangan sia-siakan kesempatan
      itu, karena kesempatan tidak pernah datang dua kali (Penulis).

  4. Tiada sesuatu yang berharga selain kebahagiaan orang tua (Penulis).




                                                        PERSEMBAHAN


                                       Skripsi ini penulis berikan kepada:
                               1. Keluarga tersayang (Bapak, Ibu, kakak dan adik-
                                  adikku);;
                               2. Masku Yosua Dharmanto ;
                               3. Sahabat sejatiku Feri, Anang, Rika, Pandu, Yuyun,
                                  Antok, dan Anom;
                               4. Teman-temanku seperjuangan;




                                          iv
                              KATA PENGANTAR

          Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
hidayah yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan
skripsi ini dengan baik dan lancar.

          Skripsi ini dapat terselesaikan karena adanya bantuan dan dorongan dari
berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan
terimakasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Sudijono Sastroatmojo, M.Si, Rektor Universitas Negeri
   Semarang;

2. Drs. H. Kasmadi Imam S, M.S, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu
   Pengetahuan Alam;

3. Drs. Edy Soedjoko, M.Pd, Ketua Jurusan Matematika;

4. Dra. Hj. Endang Retno W, M. Pd, Dosen pembimbing utama yang telah
   memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam penyusunan skripsi
   ini;

5. Drs. Rochmad, M. Si, Dosen pembimbing pendamping yang telah
   memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam penyusunan skripsi
   ini;

6. Bapak dan Ibu Dosen jurusan matematika yang senantiasa memberikan ilmu
   dan bimbingannya;

7. Sholihul Hadi, S.Pd. Kepala Sekolah SMP Kesatrian 2 Semarang yang telah
   memberikan ijin penelitian;

8. Bapak Drs. Joko Sutikno Guru mata pelajaran matematika Kesatrian 2
   Semarang yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian untuk
   penyusunan skripsi ini;




                                         v
9. Keluargaku yang selalu memberi dukungan, semangat yang tak ternilai kepada
   penulis;

10. Yosua Dharmanto, yang senantiasa setia mendampingi, memberikan
   semangat, dukungan, serta setia menemaniku dalam suka maupun duka;

11. Sahabatku tersayang yang selalu memberi semangat untukku;

12. Teman-teman seperjuanganku Pendidikan Matematika 2004;

13. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan dalam skripsi ini yang
   tidak dapat disebutkan satu persatu;

      Dengan segala keterbatasan, penulis menyadari bahwa skripsi ini belum
sempurna. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca yang
budiman.




                                                Semarang,         Maret 2009

                                                            Penulis




                                          vi
                                      ABSTRAK

Dyah Meiyarsi Susantyo. 2009. Keefektivan Pembelajaran Matematika Dengan
Model Pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) Materi Pokok
Segitiga Pada Siswa Kelas VII SMP Kesatrian 2 Semarang Tahun Pelajaran
2008/2009.

           SMP Kesatrian 2 Semarang merupakan salah satu sekolah yang akan membawa
sekolahnya menjadi Sekolah Standar Nasional (SSN). Akan tetapi hasil belajar
matematika siswa kelas VII dirasa belum optimal. Hal ini tercermin dari nilai ulangan
harian siswa kelas VII tahun pelajaran 2008/2009 SMP Kesatrian 2 Semarang, banyak
siswa memperoleh nilai yang masih kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM)
yang ditentukan oleh sekolah yaitu 65, sehingga guru lebih sering memberikan remedial.
Hal tersebut dikarenakan guru masih menggunakan pembelajaran ekspositori. Untuk
meningkatkan semangat siswa dalam belajar serta meningkatkan hasil belajar siswa,
bukan hanya diperlukan model pembelajaran saja, melainkan suasanan belajar yang
cukup menyenangkan, salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah dengan
menerapakan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together.
           Berdasarkan hal yang telah dikemukakan diatas, muncul permasalahan apakah
hasil belajar siswa pada materi pokok segitiga dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT
(Numbered Heads Together): (1) mencapai Standar Ketuntas Minimum (KKM) yaitu
65?(2) keterampilan prosesnya berpengaruh terhadap hasil belajar? (3) hasil belajar siswa
pada pembelajaran Numbered Heads Together lebih baik daripada hasil belajar dengan
pembelajaran Ekspositori?.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII
SMP Kesatrian 2 Semarang tahun pelajaran 2008/2009. Pengambilan sampel
menggunakan teknik random sampling dan terpilih kelas VII D sebagai kelas kontrol dan
kelas VII B sebagai kelas eksperimen. Variabel dalam penelitian ini adalah hasil belajar
dan keterampilan proses. Data diambil melalui pengamatan dan tes diolah dengan uji t
statistik. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes yaitu tes tes
tertulis.
           Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, permasalahan pertama untuk
ketuntasan hasil belajar diperoleh hasil belajar kelompok eksperimen telah mencapai
ketuntasan yaitu 75% dari jumlah siswa di kelas VII B mendapai nilai lebih dari atau
samadengan 65. Permasalahan kedua pengujian hipotesis dilakukan dengan
menggunakan analisis regresi linier. Hasil perhitungan diperoleh persamaan regresinya
adalah Ŷ = 73,6 + 6,96X, dengan X: keterampilan proses pembelajaran matematika
dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT dan Y: hasil belajar siswa dengan
pembelajaran kooperatif tipe NHT. Koefisien determinasi (R2) adalah 0,26 ini berarti
bahwa signifikan keterampilan proses berpengaruh secara Signifikan sebesar 26%
terhadap hasil belajar. Permasalahan ketiga pengujian hipotesis dilakukan menggunakan
uji t dan diperoleh rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen adalah 75,5 dan rata-rata
kelas kontrol adalah 64,9. Ini dapat disimpulkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen
lebih baik daripada hasil belajar kelas kontrol. Simpulan yang diperoleh dalam skripsi ini
dengan ketiga permasalahan di atas adalah Keefektivan Pembelajaran Numbered Heads
Together pada materi pokok segitiga dapat mencapai efektif dalam proses pembelajaran
di kelas.



                                           vii
                                                DAFTAR ISI

                                                                                                     Halaman

HALAMAN JUDUL ...............................................................................             i
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN..............................................                                 ii
PENGESAHAN.......................................................................................         iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN .........................................................                           iv
KATA PENGANTAR.............................................................................               v
ABSTRAK ...............................................................................................   vii
DARTAR ISI ..........................................................................................     ix
DAFTAR LAMPIRAN ..........................................................................                x
BAB I PENDAHULUAN

       1.1      Latar belakang…………………………................................ .                                    1
       1.2      Rumusan Masalah……………………………………………                                                              7
       1.3      Tujuan Penelitian…………………………………………….                                                           7
       1.4      Penegasan Istilah…………………………………………….                                                           8
       1.5      Manfaat Penelitian……………………………………………                                                           11
       1.6      Sistematika Penulisan Skripsi…………………………………                                                    12
BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

        2.1     Landasan Teori........................................................................    14
          2.1.1 Pengertian Belajar...............................................................         14
          2.1.2 Model Pembelajaran Kooperatif .........................................                   16
          2.1.3 Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT .......................                            19
          2.1.4 Pembelajaran Ekspositori....................................................              21
          2.1.5 Keterampilan Proses Pembelajaran.....................................                     23
          2.1.6 Lembar Kerja Siswa............................................................            26
          2.1.7 Uraian Materi Segitiga........................................................            27
        2.2     Kerangka Berfikir ...................................................................     33
        2.3     Hipotesis Penelitian ................................................................     34

BAB III METODE PENELITIAN

        3.1     Metode Penentuan Obyek Penelitian Populasi .......................                        36




                                                            ix
       3.2     Variabel Penelitian..................................................................         37

       3.3     Metode Pengumpulan Data.....................................................                  37

       3.4     Desain Penelitian ...................................................................         39

       3.5     Instrumen Penelitian ..............................................................           40

       3.6     Teknik Analisis Data...............................................................           45

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

       4.1     Hasil Penelitian ......................................................................       53

       4.2     Pembahasan ............................................................................       56

BAB V PENUTUP

       5.1 Simpulan ..................................................................................       61

       5.2 Saran .........................................................................................   62

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................                 63

LAMPIRAN – LAMPIRAN...................................................................                       64




                                                              x
                                          DAFTAR LAMPIRAN

                                                                                                            Halaman
Lampiran 1.         Data Nilai Awal .............................................................................. 64

Lampiran 2.         Uji Normalitas dan Homogenitas Data Awal ................................. 66

Lampiran 3.         Daftar Nama Kelas Uji Coba .......................................................... 68

Lampiran 4.         Kisi-kisi Soal Tes Uji Coba ............................................................ 72

Lampiran 5.         Soal Tes Uji Coba ........................................................................... 74

Lampiran 6.         Lembar Jawa ................................................................................... 79

Lampiran 7.         Kunci Jawaban Tes Uji Coba.......................................................... 80

Lampiran 8.         Analisis Batir Tes Uji Coba ............................................................ 90

Lampiran 9.         Analisis Validasi Tes Uji Coba....................................................... 93

Lampiran 10. Analisis Reliabilitas Tes Uji Coba.................................................. 94

Lampiran 11. Perhitungan Tingkat Kesukaran Tes Uji Coba............................... 95

Lampiran 12. Perhitungan Daya Pembeda Tes Uji Coba...................................... 96

Lampiran 13. Kesimpulan Hasil Analisis Tes Uji Coba ....................................... 97

Lampiran 14. RPP 1 Kelas Eksperimen ................................................................ 98

Lampiran 15. LKS 1 .............................................................................................101

Lampiran 16. RPP 2 Kelas Eksperimen.................................................................105

Lampiran 17. LKS 2 .............................................................................................110

Lampiran 18. RPP 3 Kelas Eksperimen ................................................................114

Lampiran 19. LKS 3 ..............................................................................................119

Lampiran 20. Quis 1 ..............................................................................................121

Lampiran 21. Quis 2...............................................................................................123

Lampiran 22. RPP 1 Kelas Kontrol.......................................................................126

Lampiran 23. RPP 2 Kelas Kontrol.......................................................................129

Lampiran 24. RPP 3 Kelas Kontrol.......................................................................133


                                                          xi
Lampiran 25. Kisi-kisi Soal Tes............................................................................136

Lampiran 26. Soal Tes Hasil Belajar.....................................................................138

Lampiran 27. Jawaban Soal Tes Hasil Belajar......................................................141

Lampiran 28. Nilai Tes Kelas Eksperimen dan Kontrol .......................................148

Lampiran 29. Analisis Validasi, Reliabilitas dengan SPSS ..................................149

Lampiran 30. Uji Normalitas Data Akhir..............................................................151

Lampiran 31. Uji Homogenitas Data Akhir ..........................................................152

Lampiran 32. Uji t Satu Sampel (pihak kanan) .....................................................153

Lampiran 33. Uji Beda Rata-rata ..........................................................................154

Lampiran 34. Lembar Observasi ...........................................................................155

Lampiran 35. Perhitungan Hasil Observasi...........................................................161

Lampiran 36. Surat Permohonan Ijin Penelitian ...................................................178

Lampiran 37. Surat Keterangan Melakukan Penelitian.........................................179




                                                      xii
                                   BAB 1

                           PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

        Pendidikan dapat diartikan dari berbagai sudut pandang, misalnya

pendidikan berwujud sebagai suatu sistem, artinya pendidikan dipandang sebagai

keseluruhan gagasan terpadu yang mengatur usaha-usaha sadar untuk membina

seseorang mencapai harkat kemanusiaannya secara utuh; pendidikan berwujud

sebagai suatu proses, artinya pendidikan dipandang sebagai pelaksana usaha-

usaha untuk mencapai tujuan tertentu dalam rangka mencapai harkat kemanusiaan

seseorang secara utuh; dan pendidikan berwujud sebagai suatu hasil, artinya

pendidikan dipandang sebagai sesuatu yang telah dicapai atau dimiliki seseorang

setelah proses pendidikan berlangsung.

        Keefektivan belajar yang dilakukan oleh siswa di sekolah tidak semata

ditentukan oleh derajat pemilikan potensi siswa yang bersangkutan, melainkan

juga lingkungan, terutama guru yang profesional. Ada kecerendungan bahwa

sikap   menyenangkan,    kehangatan      persaudaraan,   tidak   menakutkan   atau

sejenisnya, dipandang sebagian orang sebagai guru yang baik. Dengan demikian

pembelajaran cenderung dilakukan secara monoton sehingga pembelajaran

matematika yang bertujuan untuk membentuk pola pikir kritis, deduktif, dan

aksiomatis belum terwujud. Kondisi ini diprediksi karena pembelajaran

matematika belum mengarah pada tercapainya kompetensi matematika. Jika




                                         1
pembelajaran matematika diarahkan untuk mencapai kompetensi matematika

maka matematika akan mudah dipelajari sebagai alat untuk mengembangkan

kecakapan hidup yang nantinya dapat bermanfaat bagi siswa untuk menghadapi

kehidupan yang nyata. Oleh karena itu diperlukan suatu integrasi matematika

yang diharapkan dapat meningkatkan kompetensi matematika siswa sehingga

siswa akan mengerti pentingnya matematika dalam kehidupan sehari-hari. Guru

yang profesional dituntut untuk memiliki karakteristik yang lebih dari aspek-aspek

tersebut, seperti kemampuan untuk menguasai bahan belajar, keterampilan

pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. Dengan demikian profesionalitas guru

merupakan totalitas perwujudan kepribadian yang ditampilkan sehingga mampu

mendorong siswa untuk belajar efektif.

       Pembelajaran matematika sekolah menurut Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (dalam Diknas, 2006:1) bertujuan untuk mengembangkan matematika
dengan harapan tercapainya hal-hal sebagai berikut:
1. menunjukkan pemahaman konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar
   konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat,
   efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah;
2. mempunyai kemampuan pada pola dan sifat, melakukan manipulasi
   matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan
   gagasan, dan pernyataan matematika;
3. mempunyai sikap menghargai kegunaan metematika dalam kehidupan yaitu
   memiliki rasa ingin tau, perhatian, minat dalam mempelajari matematika serta
   sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
       Tujuan pembelajaran matematika tersebut dapat dicapai melalui kegiatan

pembelajaran. Akan tetapi proses pembelajaran tidak selalu efektif. Mengingat

setiap siswa mempunyai taraf berfikir yang berbeda, dan adanya kesulitan siswa

dalam memecahkan suatu masalah, maka dengan keterampilan dan keahlian yang

dimiliki seorang guru diharapkan mampu memilih model pembelajaran yang tepat

agar siswa menguasai pelajaran sesuai dengan target yang akan dicapai dalam




                                         2
kurikulum. Selain itu memang perlu dilakukanya pembaharuan dalam

pembelajaran matematika sebagai respon melemahnya kualitas proses dan hasil

belajar siswa yang ditunjukan oleh masih banyaknya siswa yang pemahaman dan

penguasaan matematikanya rendah.

       SMP Kesatrian 2 Semarang merupakan salah satu sekolah yang akan

membawa sekolahnya menjadi Sekolah Standar Nasional (SSN). Akan tetapi

kemampuan keterampilan proses matematika siswa kelas VII dirasa belum

optimal. Hal ini tercermin dari nilai ulangan harian siswa kelas VII tahun

pelajaran 2008/2009 SMP Kesatrian 2 Semarang, banyak siswa memperoleh nilai

yang masih kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditentukan

oleh sekolah yaitu 65, sehingga guru lebih sering memberikan remedial dari pada

pengayaan.

       Ada dugaan bahwa rendahnya nilai yang diperoleh siswa dikarenakan guru

masih bersifat aktif dan belum memberi kesempatan siswa untuk mengkonstruksi

dan mengemukakan ide-idenya. Selain itu model pembelajaran yang diterapkan

oleh guru di dalam kelas dirasa kurang variatif dan kurang menarik minat siswa

untuk belajar matematika. Akibatnya siswa menjadi jenuh dan tidak

memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan oleh guru. Padahal guru

sangat berperan penting dalam mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran

matematika. Oleh karena itu guru harus dapat membangkitkan semangat dan

membantu kesulitan belajar matematika siswa. Salah satu upaya untuk mengatasi

kesulitan belajar siswa kelas VII di SMP Kesatrian 2 Semarang pada mata

pelajaran matematika yaitu dengan penerapan pembelajaran yang ditekankan pada




                                      3
keterkaitan antara konsep-konsep matematika dengan pengalaman sehari-hari,

serta perlunya penerapan pembelajaran matematika yang berpusat pada siswa

sehingga siswa menjadi lebih aktif dan berpartisipasi dalam pembelajaran.

       Berdasarkan pada materi yang diajarkan di SMP Kesatrian 2 Semarang,

maka materi segitiga merupakan materi yang essensial karena dekat dengan

kehidupan sehari-hari siswa. Oleh karena itu diperlukan argumentasi siswa untuk

memperolah ide-idenya serta daya keterampilan proses (memprediksikan data-

data yang telah ditemukan, penerapan konsep untuk memecahkan suatu masalah,

dan mempresentasikan hasil diskusinya) yang tinggi untuk memahaminya.

Keterampilan proses dapat dibangkitkan dengan cara dilatih secara rutin dan

kontinyu. Untuk membangkitkan kemampuan keterampilan proses siswa tersebut

maka dalam penelitian ini diterapkan penggunaan model pembelajaran Numbered

Heads Together (NHT). Diharapkan setelah diterapkannya model pembelajaran

tersebut kemampuan keterampilan proses matematika siswa akan lebih baik dan

hal itu diharapkan dapat mendukung tercapainya ketuntasan belajar siswa

terutama pada materi segitiga.

       Salah satu implikasi dari teori belajar kontruktivis dalam pendidikan

adalah perlunya pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis masalah dan

penemuan. Pada pembelajaran kooperatif, siswa diharapkan pada proses berpikir

dengan teman sebaya sehingga siswa dapat berinteraksi dan bekerja sama dalam

menyelesaikan tugas-tugas serta siswa menjadi aktif dalam pembelajaran. Dengan

demikian siswa bekerja di dalam zona perkembangan terdekat (Zona Of Proximal

Development) pada saat mereka terlibat dalam tugas-tugas yang tidak dapat




                                       4
diselesaikan sendiri tetapi dapat diselesaikan jika dibantu olah teman sebaya atau

orang dewasa (Rochmad, 2008: 10).

       Model pembelajaran kooperatif diterapkan di kelas agar pembelajaran

lebih variatif dan menarik minat siswa untuk belajar. Dalam melaksanakan model

pembelajaran kooperatif dapat dikombinasikan dengan pendekatan tertentu untuk

mencapai tujuan yang diharapkan. Salah satu pendekatan pembelajaran

matematika yang membantu siswa untuk mengaitkan materi yang diajarkan

dengan situasi dunia nyata siswa dan dorongan siswa membuat hubungan antara

pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan mereka.

       Untuk menciptakan pembelajaran matematika yang lebih variatif dan

padat meningkatkan kemampuan keterampilan proses matematika siswa SMP

Kesatrian 2 Semarang, maka guru mencoba untuk menerapkan pembelajaran

model Numbered Heads Together (NHT). Siswa-siswa yang mempunyai beragam

kemampuan akademik dan aktif dalam pembelajaran tentu akan mendukung

penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT). Dalam model

pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dikembangkan kegiatan

membaca, menulis, dan berbicara. Oleh karena itu, guru perlu memperhatikan

latar belakang siswa dan membantu meningkatkan keaktifan siswa dalam proses

pembelajaran sehingga pembelajaran akan menjadi lebih bermakna.

       Selain   itu   siswa   dituntut   untuk   bertanggung    jawab    terhadap

pembelajarannya sendiri dan orang lain serta kerjasama terhadap anggota

kelompok. Diharapkan setelah dilaksanakan pembelajaran model Numbered

Heads Together (NHT), kemampuan keterampilan proses matematika siswa




                                         5
melebihi angka KKM yang telah ditentukan SMP Kesatrian 2 Semarang yaitu 65,

sehingga dapat dikatakan siswa telah mencapai ketuntasan belajar.

          Model pembelajaran kooperatif tipe NHT mengarahkan siswa belajar

dengan cara mengkonstruksi pengetahuan yang diperoleh dari belajar sendiri dan

sharing dengan teman kelompoknya. Siswa akan memperoleh pengetahuan dari

bertanya, pemodelan dan dari berbagai sumber informasi yang lain.

          Berdasarkan uraian di atas, maka diperlukan penelitian dengan judul

“Keefektifan Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) Terhadap

Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Segitiga Siswa Kelas VII SMP Kesatrian

2 Semarang Semester II Tahun Pelajaran 2008/2009”



1.2 Rumusan Masalah

          Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah:

1.2.1     Apakah hasil belajar siswa pada materi pokok segitiga dengan

          menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together

          (NHT) dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 65?

1.2.2     Apakah keterampilan proses siswa pada pembelajaran kooperatif tipe

          Numbered Heads Together (NHT) dapat berpengaruh positif terhadap

          hasil belajar siswa?

1.2.3     Apakah hasil belajar siswa dengan pembelajaran Numbered Heads

          Together (NHT) lebih baik daripada hasil belajar dengan pembelajaran

          ekspositori?




                                         6
1.3 Tujuan Penelitian

        Penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut.

1.3.1   Mengetahui apakah hasil belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran

        NHT pada pembelajaran matematika materi pokok segitiga dapat

        mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 65.

1.3.2   Mengetahui apakah dengan menggunakan keterampilan proses siswa pada

        pembelajaran NHT dapat berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa.

1.3.3   Mengetahui apakah dengan menggunakan hasil belajar siswa dengan

        pembelajaran NHT lebih baik daripada hasil belajar dengan pembelajaran

        ekspositori.



1.4 Penegasan Istilah

        Untuk memberikan kejelasan arti dan menghindari penafsiran yang salah

pada istilah yang digunakan dalam judul, masalah, dan tujuan penelitian ini, maka

diberikan penegasan istilah. Penegasan istilah dimaksud adalah:

1.4.1   Keefektifan

        Menurut KBBI, keefektifan berasal dari kata efektif yang berarti dapat

membawa hasil, berhasil guna (usaha, tindakan) dan keefektifan berarti

keberhasilan (usaha, tindakan). Dalam penelitian ini keefektifan yang dimaksud

adalah hasil belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran NHT pada

pembelajaran matematika materi pokok segitiga dapat mencapai             Kriteria

Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 65, dengan menggunakan keterampilan proses

pada pembelajaran NHT dapat berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa,




                                        7
dan dengan menggunakan pembelajaran NHT hasil belajar siswa lebih baik

daripada hasil belajar dengan pembelajaran ekspositori.

1.4.2   Pembelajaran Matematika

        Menurut Heinich (dalam Suheman, 2003:298) menyatakan bahwa

pembelajaran merupakan susunan dari informasi dan lingkungan untuk

memfasilitasi belajar. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pembelajaran

matematika yaitu suatu upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap

kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa sehingga terjadi interaksi

yang optimal antara guru dengan siswa atau siswa dengan siswa pada waktu

belajar matematika. Dalam pembelajaran matematika diharapkan siswa lebih aktif

sehingga peran guru sebagai fasilitator.

1.4.3   Numbered Heads Together (NHT)

        NHT adalah suatu pendekatan yang dikembangkan untuk melibatkan lebih

banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan

mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut sebagai gantinya

mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas (Ibrahim, 2000:28).

        Pembelajaran NHT dalam penelitian ini adalah guru hanya menunjuk

seorang siswa yang mewakili kelompoknya. Dalam menunjuk siswa tersebut, guru

tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompok tersebut.

Menurut Nur (2005:78) dengan cara tersebut akan menjamin keterlibatan total

semua siswa dan merupakan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan

tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok. Selain itu, model




                                           8
pembelajaran NHT memberi kesempatan kepada siswa untuk membagikan ide-ide

dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.

1.4.4   Keterampilan Proses

        Keterampilan proses adalah suatu proses bagaimana siswa belajar,

bagaimana mengelola perolehannya, sehingga dipahami dan dapat dipakai sebagai

bekal untuk memenuhi kebutuhannya dalam kehidupan dimasyarakat (Sugandi,

2004:77).

        Keterampilan proses dalam penelitian ini adalah bagaimana keterampilan

siswa untuk menerima pelajaran, keterampilan siswa mengingat kembali materi

(apersepsi), keterampilan membuat catatan penting materi pelajaran, konsentrasi

dalam mengikuti pelajaran, keterlibatan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran,

keterampilan menyelesaikan soal yang diberikan, banyak soal yang dikerjakan,

keterampilan siswa menjawab pertanyaan yang diberikan, memberi kesempatan

teman sekelompok untuk aktif, adanya kerjasama antar sesama anggota kelompok,

keterampilan beradaptasi dengan teman, membuat daftar pertanyaan yang

berkualitas,   keterampilan   mengungkapkan       pendapat,   antusias   siswa

mendemontrasikan kemampuan di depan kelas, keterampilan berinteraksi melalui

bertanya, kemampuan mengerjakan tugas di depan kelas, membuat rangkuman

materi yang berkualitas, keterampilan membuat kesimpulan hasil pembelajaran,

respon siswa dalam memberi selamat kepada teman, dan respon siswa untuk

mempelajari matematika dengan cara yang sama.




                                      9
1.4.5     Hasil Belajar Matematika

          Hasil belajar yaitu perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah

mengalami aktivitas belajar (Anni, 2004:4).

          Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan hasil belajar adalah perubahan

cara belajar siswa dengan menggunakan suatu model pembelajaran yang

berpengaruh terhadap nilai ulangan yang ingin dicapai yaitu lebih besar atau sama

dengan 65 .

1.4.6     Materi Segitiga

          Segitiga merupakan materi yang terdapat pada semester II untuk kelas VII,

pada penelitian ini ditekankan pada jenis-jenis segitiga, luas dan keliling segitiga.



1.5       Manfaat Penelitian

          Manfaat yang dapat diperoleh melalui penelitian ini adalah:

1.5.1     Bagi guru atau tenaga pengajar

          Diperoleh model pembelajaran matematika yang inovatif dan menarik

untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

1.5.2     Bagi siswa

a. Membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi yang

      dipelajari.

b. Mengembangkan kemampuan pemecahan masalah.

c. Menumbuhkan motivasi dan rasa percaya diri siswa dalam belajar

      matematika.

d. Menumbuhkan semangat kerjasama dalam kelompok.



                                          10
e. Memperoleh cara belajar matematika yang menarik, dan menyenangkan serta

      mudah untuk menangkap materi yang dipelajari.

1.5.3      Bagi peneliti

           Diperoleh pemecahan masalah dalam penelitian ini, sehingga akan

diperoleh suatu model pembelajaran kooperatif yang tepat dalam pembelajaran

matematika.



1.6     Sistematika Penulisan Skripsi

           Secara garis besar sistematika skripsi ini terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:

bagian awal skripsi, bagian isi, dan bagian akhir skripsi. Untuk memberikan

gambaran yang jelas tentang skripsi ini dan memudahkan pembaca dalam

menelaah isi skripsi ini maka skripsi ini disusun secara sistematis yaitu sebagai

berikut:

1.6.1      Bagian Awal Skripsi

Berisi halaman judul, halaman pengesahan, halaman motto dan persembahan, kata

pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar lampiran, dan abstrak.

1.6.2      Bagian Isi Skripsi

Bagian ini terdiri atas lima bab. Kelima bab tersebut adalah sebagai berikut:

BAB 1 PENDAHULUAN

Pada bab pendahuluan ini dikemukakan latar belakang masalah, permasalahan,

tujuan penelitian, penegasan istilah, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan

skripsi.




                                           11
BAB 2 LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

Landasan teori dan hipotesis merupakan teori-teori yang mendasari spemecahan

dari permasalahan yang disajikan. Pada bab ini dibagi menjadi sub bab:

1. Landasan Teori, yang terdiri dari: Keefektifan, Pembelajaran Matematika,

   Model Pembelajaran NHT , Pemecahan Masalah, Keterampilan Proses, Hasil

   Belajar Matematika, Tinjauan Tentang Materi Segitiga, dan Siswa SMP

   Kesatrian 2 Semarang Semester II Tahun 20008/2009.

2. Kerangka Berfikir

3. Hipotesis

BAB 3 METODE PENELITIAN

Meliputi: Populasi, Sampel, Variabel Penelitian, Metode Pengumpulan Data,

Metode Penyusunan Instrumen, Analisis Hasil Uji Coba Instrumen, dan Metode

Analisis Data.

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berisi tentang hasil penelitian dan pembahasannya.

BAB 5 PENUTUP

Bab ini berisi tentang simpulan hasil penelitian yang telah dilakukan dan saran-

saran yang diberikan peneliti berdasarkan simpulan.

1.6.3   Bagian Akhir Skripsi

Berisi tentang Daftar Pustaka dan Lampiran-lampiran.




                                       12
                                    BAB 2

              LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS


2.1 Landasan Teori

2.1.1    Pengertian Belajar

        Pengertian dan konsep belajar yang dikemukakan oleh beberapa ahli

psikologi untuk memahami pengertian belajar secara umum, Gagne dan Berliner

(dalam Anni, 2004:2) berpendapat bahwa belajar merupakan proses dimana suatu

organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Pengertian

tersebut tampak bahwa konsep tentang belajar mengandung tiga unsur utama,

yaitu:

1. belajar berkaitan dengan perubahan perilaku;

2. perubahan perilaku itu terjadi karena didahului oleh proses pengalaman;

3. perubahan perilaku karena belajar bersifat relatif permanen.

        Morgan (Anni, 2004:2) berpendapat bahwa belajar merupakan perubahan

relatif permanen yang terjadi karena hasil dari praktik atau pengalaman. Menurut

Slavin (Anni, 2004:2) belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan

oleh pengalaman. Gagne (dalam Anni, 2004:2) mengemukakan bahwa belajar

merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia, yang berlangsung

selama periode waktu tertentu, dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari

proses pertumbuhan.




                                       14
     Pengertian belajar secara khusus antara lain:

 1. Pengertian belajar menurut aliran kognitif

     Belajar sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi, terutama unsur

     pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari

     luar. Kata lainnya bahwa aktivitas belajar pada diri manusia ditekankan pada

     proses internal dalam berpikir, yakni proses pengolahan (processing)

     informasi.

     Kegiatan pengolahan informasi yang berlangsung di dalam kognisi itu akan

     menentukan     perubahan    perilaku   seseorang.   Teori   belajar   kognitif

     menekankan pada cara-cara seseorang menggunakan pikirannya untuk

     belajar, mengingat, dan menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan

     disimpan di dalam pikirannya secara efektif.

 2. Pengertian belajar menurut aliran humanistik

     Belajar dalam pandangan humanistik          adalah siswa mampu mengambil

     tanggung jawab dalam menentukan apa yang dipelajari dan menjadi individu

     yang mampu mengarahkan diri sendiri (self-directing) dan mandiri

     (independent). Pendekatan humanistik juga memandang pentingnya

     pendekatan pendidikan di bidang kreativitas, minat terhadap seni, dan hasrat

     ingin tahu.

     Menurut Ratumanan (dalam Rochmad, 2008: 1) bahwa pembelajaran hanya

dilakukan dengan penekanan pada transfer pengetahuan dan hukum latihan

semata. Sehingga pembelajaran hanya berorientasi pada hasil dan latihan berbasis

tujuan. Dalam transfer pengetahuan ini, siswa masih bersifat pasif, guru




                                       15
mengarahkan atau mengkontrol kegiatan dan guru mendominasi kelas dengan

pola mengajar.

        Menurut Hiebert (dalam Rochmad, 2008: 1) mengemukakan bahwa 78%

dari seluruh topik matematika yang diajarkan, guru menyampaikan prosedur-

prosedur dan ide-ide tanpa mengembangkannya. Hal ini menjadikan matematika

cenderung untuk dihafalkan. Padahal menurut Marpaung (dalam Rochmad,

2008:2) matematika tidak ada gunanya kalau hanya dihafalkan saja.

        Berdasarkan batasan-batasan belajar yang diberikan beberapa ahli, dapatlah

diambil suatu pengertian belajar, yaitu proses usaha seseorang yang ditandai

dengan perubahan tingkah laku yang merupakan hasil dari pengalaman dan

latihan dalam interaksinya dengan lingkungan.



2.1.2    Model Pembelajaran Kooperatif

        Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap

kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi

interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa.

(Suyitno, 2004:2). Menurut Nur (2001:25), pembelajaran kooperatif adalah

pembelajaran dimana siswa bekerja dalam kelompok kecil mempelajari suatu

materi, menerima pendapat dan mengisi kekurangan siswa yang lain. Pada

pembelajaran ini, siswa belajar dalam kelompok dengan tingkat kemampuan, jenis

kelamin, serta latar belakang yang berbeda-beda.

        Menurut    Suyitno (2004:2) Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri

sebagai berikut.




                                         16
1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi

   belajarnya.

2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan berbeda.

3. Jika dimungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, agama

   dan kelamin yang berbeda.

4. Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.

     Pembelajaran kooperatif juga memiliki tujuan penting yaitu.

1) Hasil belajar akademik

   Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatakan kinerja siswa dalam

   tugas-tugas akademik. Banyak ahli yang berpendapat bahwa pembelajaran

   kooperatif unggul dalam membantu siswa untuk memahami konsep-konsep

   yang sulit.

2) Penerimaan terhadap keragaman

   Pembelajaran kooperatif bertujuan agar siswa dapat menerima teman-

   temannya yang mempunyai berbagai macam perbedaan latar belakang.

   Perbedaan latar belakang tersebut antara lain perbedaan suku, agama,

   kemampuan akademik dan tingkat sosial.

3) Pengembangan keterampilan sosial

   Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial

   siswa. Keterampilan sosial yang dimaksud dalam pembelajaran kooperatif

   adalah: berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain,

   memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat,

   bekerja dalam kelompok , dan sebagainya.




                                      17
        Ada beberapa keuntungan dalam pengembangan pembelajaran kooperatif,

diantaranya.

1. Perilaku positif.

2. Meningkatkan relasi di antara siswa, saling membantu dan terbuka.

3. Meningkatkan motivasi siswa dan saling menghargai satu sama lain.

4. Mengembangkan kemampuan individu dan merupakan strategi untuk

   memecahkan konflik.

5. Meningkatkan kemampuan untuk memberi opini, argumentasi dan melatih

   mendengarkan pendapat orang lain, serta menerima pendapat.

6. Mengembangkan diskusi dalam kelompok, sehingga dengan bahasanya sendiri

   dapat menerangkan kepada orang lain.

7. Mendidik siswa bertanggung jawab.

8. Mengembangkan komitmen terhadap siswa lain.

9. Belajar mengembangkan aturan dan organisasi.

        Jenis-jenis model pembelajaran kooperatif antara lain: Numbered Heads

Together (NHT), Student Team achievement Divisions (STAD), Teams Games

Tournament (TGT), Team Assisted Individualization (TAI), Jigsaw, Jigsaw II,

Investigasi kelompok, dan tipe pendekatan struktural.



2.1.3    Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together

         (NHT)

        Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)

merupakan tipe pembelajaran yang terdiri atas 4 tahap yang digunakan untuk




                                       18
mereview fakta-fakta dan informasi dasar yang berfungsi untuk mengatur

interaksi siswa. Model pembelajaran ini juga dapat digunakan untuk memecahkan

masalah yang tingkat kesulitannya terbatas. Pembelajaran NHT digunakan untuk

melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu

pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut

sebagai gantinya mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa.

     Pembelajaran NHT sebagai model pembelajaran pada dasarnya merupakan

sebuah variasi diskusi kelompok. Adapun ciri khas dari pembelajaran NHT adalah

guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya. Dalam

menunjuk siswa tersebut, guru tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang

akan mewakili kelompok tersebut. Menurut Nur (2005:78) dengan cara tersebut

akan menjamin keterlibatan total semua siswa dan merupakan upaya yang sangat

baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok.

Selain itu, model pembelajaran NHT memberi kesempatan kepada siswa untuk

membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.

     Dengan adanya keterlibatan total semua siswa ini tentunya akan berdampak

positif terhadap motivasi belajar siswa. Siswa akan berusaha memahami konsep-

konsep atau memecahkan permasalahan yang disajikan oleh guru seperti yang

telah diungkapkan oleh Ibrahim dkk (2000:7) bahwa dengan pembelajar

kooperatif akan memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas penting lainnya serta

akan memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok

atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademisnya.




                                       19
2.1.3.1 Tahapan-tahapan yang harus ditempuh dalam pembelajaran NHT

     Menurut Ibrahim, dkk (2000: 27-28 ) ada 4 tahapan dalam pembelajaran

NHT sebagai berikut:

Tahap 1: Penomoran
         Guru membagi siswa ke dalam kelompok beranggotakan 3-5 orang dan
         setiap anggota kelompok diberi nomor 1 sampai 5.
Tahap 2: Mengajukan Pertanyaan
         Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat
         bervariasi, pertanyaan dapat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya
         atau bentuk arahan.
Tahap 3: Berfikir Bersama
         Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan
         menyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.
Tahap 4: Menjawab
         Guru memanggil siswa dengan nomor tertentu. Siswa yang nomornya
         sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab
         pertanyaan untuk seluruh kelas.
Tahap-tahap yang harus ditempuh dalam pembelajarn NHT dalam
penelitian ini adalah:
Tahap 1: Penomoran
         Guru membagi siswa ke dalam kelompok beranggotakan 3-5 orang dan
         setiap anggota kelompok diberi nomor 1 sampai 5 dan setiap kelompok
         diberi nama kubus, balok, tabung, kerucut, dll.
Tahap 2: Mengajukan Pertanyaan
         Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat
         bervariasi, pertanyaan dapat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya
         atau bentuk arahan. Sesuai dengan materi yang diajarkan.
Tahap 3: Berfikir Bersama
         Guru membagikan LKS yang akan dikerjakan bersama-sama dalam satu
         kelompok. Kemudian siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban



                                       20
          pertanyaan LKS dan menyakinkan tiap anggota dalam timnya
          mengetahui jawaban itu.
Tahap 4: Menjawab
          Guru memanggil siswa dengan nomor tertentu. Siswa yang nomornya
          sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab
          pertanyaan untuk seluruh kelas, dan membahas bersama-sama untuk
          menarik kesimpulan jawaban.
2.1.3.2 Pelaksanaan pembelajaran NHT

     Menurut Ibrahim (2000:19) pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe NHT

adalah sebagai berikut:

1. Tugas-tugas perencanaan

   (1) Memilih pendekatan

   (2) Pemilihan materi yang sesuai

   (3) Pembentukan kelompok siswa

   (4) Pengembangan materi dan tujuan

   (5) Mengenalkan siswa pada tugas dan peran

   (6) Merencanakan waktu dan tempat

2. Tugas-tugas interaktif

   (1) Menyampaikan tujuan dan motiivasi siswa

   (2) Menyampaikan informasi

   (3) Mengorganisasikan dan membantu kelompok belajar

Pelaksanaan yang ditempuh dalam pembelajarn NHT dalam penelitian ini
adalah:
1) Tugas-tugas perencanaan

   (1) Memilih pendekatan yaitu pembelajaran kooperatif tipe NHT




                                        21
   (2) Pemilihan materi yaitu segitiga

   (3) Pembentukan kelompok siswa, tiap kelompok terdiri dari 1-5 anak

   (4) Pengembangan materi dan tujuan pembelajaran

   (5) Mengenalkan siswa pada tugas dan peran

   (6) Merencanakan waktu dan tempat yaitu setiap jam pelajaran matematika

2) Tugas-tugas interaktif

   (1) Menyampaikan tujuan dan motiivasi siswa

   (2) Menyampaikan informasi

   (3) Mengorganisasikan dan membantu kelompok belajar



2.1.4    Pembelajaran Ekspositori

        Pembelajaran Ekspositori hampir sama dengan metode ceramah dalam hal

pusat kegiatan belajar guru bertindak sebagai pemberi informasi (bahan

pelajaran). Guru berbicara pada awal pelajaran, menerangkan materi dan contoh

soal. Disini siswa tidak hanya mendengarkan dan membuat catatan tetapi juga

membuat soal latihan dan bertanya jika ia tidak mengerti. Guru memeriksa

pekerjaan siswa secara individual atau klasikal. Siswa mengerjakan latihan soal

sendiri atau saling bertanya dan mengerjakan bersama dengan temannya atau

disuruh membuat di papan tulis.(Suherman, dkk.2003 : 203)

        Beberapa hasil penelitian (di Amerika serikat) menyatakan pembelajaran

ekspositori merupakan cara mengajar yang paling efektif dan efisien. Ausubel

berpendapat bahwa pembelajaran ekspositori yang baik merupakan cara mengajar




                                         22
yang paling efektif dan efisien dalam menanamkan belajar bermakna. Ausubel

membedakan belajar menjadi:

1. Belajar dengan menerima

   Jika materi yang disajikan kepada siswa lengkap sampai bentuk akhir maka

   cara belajar siswa dapat dikatakan belajar menerima.

2. Belajar melalui penemuan (dalam Suherman, 2003 :203).

   Pada belajar dengan penemuan, bentuk akhirnya harus ditemukan sendiri oleh

   siswa. Proses penemuannya dapat dilakukan sendiri atau dapat pula dengan

   bimbingan belajar yang dapat dibedakan menjadi :

   (1) Belajar dengan menghafal dan

   (2) Belajar dengan pengertian

   Pada belajar dengan pengertian yang diutamakan adalah prosesnya, sedang

   hasilnya hanya nomor dua.

     Kelebihan pembelajaran ekspositori antara lain:

1) dapat menampung kelas besar, setiap siswa mempinyai kesempatan aktif yang

   sama;

2) bahan pelajaran diberikan secara urut oleh guru;

3) guru dapat menentukan terhadap hal–hal yang dianggap penting;

4) guru dapat memberikan penjelasan–penjelasan secara individual maupun

   klasikal;

     Kekurangan pembelajaran ekspositori antara lain:

1. pada pembelajaran ini tidak menekankan penonjolan aktivitas fisik, seperti

   aktivitas mental siswa;




                                       23
2. kegiatan berpusat pada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran);

3. pengetahuan yang didapat dengan pembelajaran ini cepat hilang;

4. kepadatan konsep dan aturan yang diberikan dapat berakibat siswa tidak

   menguasai bahan pelajaran yang diberikan (Suharyono, 1996 :104).

        Pelaksanaan pembelajaran ekspositori dalam penelitian ini adalah:

(1) guru menyiapkan kondisi kelas;

(2) guru menyampaikan motivasi dan tujuan;

(3) guru mengingatkan materi yang berhubungan dengan bangun datar;

(4) guru menerangkan materi dan memberi contoh soal;

(5) guru memberikan kesempatan kepada siswa agar bertanya jika kurang jelas;

(6) guru menerangkan pertanyaan siswa, guru menggunakan alat peraga

   sederhana jika diperlukan;

(7) guru memberi latihan dan membahas bersama, namun guru mendominasi

   kegiatan tersebut



2.1.5    Keterampilan Proses pembelajaran

        Keterampilan proses pembelajaran adalah seluruh irama gerak atau tindakan

dalam proses pembelajaran yang akan menciptakan kondisi cara belajar siswa

aktif (Conny, 1985:18). Menurut Conny (1985:19-33) pembelajaran dapat terjadi

suatu interpenetrasi antar aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, dengan

menggunakan langkah-langkah pelaksanaan keterampilan proses sebagai berikut.




                                        24
1. Pengamatan (Observasi)

         Observasi atau pengamatan adalah keterampilan ilmiah yang mendasar.

   Mengobservasi atau mengamati tidak sama dengan melihat. Mengobservasi

   atau mengamati serta memilah-milah mana yang penting dari yang kurang

   penting. Semua indera digunakan untuk melihat, mendengar, merasa,

   mengecap, dan mencium. Observasi di dalamnya tercakup berbagai kegiatan

   seperti:

   (1) Menghitung

       Keterampilan menghitung anak biasanya dilatih dan dibina melalui mata

       pelajaran matematika, namun dalam pelajaran IPA, ilmu-ilmu sosial, dan

       bahasa Indonesia keterampilan ini dapat pula dikembangkan.

   (2) Mengukur

       Keterampilan mengukur sangat penting dalam kerja ilmiah. Dasar dari

       pengukuran adalah pembanding perlu membandingkan luas, kecepatan,

       suhu, volume dan sebagainya.

   (3) Mengklasifikasi

       Keterampilan mengklasifikasi atau menggolong-golongkan adalah salah

       satu kemampuan yang penting dalam kerja ilmiah. Guru hendaknya

       melatih anak terampil dalam membuat klasifikasi, misalnya dengan

       mengelompokkan berbagai jenis daun-daun menurut bentuk, warna,

       berduri atau tidaknya, dan corak tulang daun dan sebagainya.

       Mengklasifikasi menuntut kecermatan anak dalam mengamati.




                                      25
   (4) Mencari hubungan ruang atau waktu

       Guru perlu melatih anak agar terampil melihat hubungan ruang. Anak

       dapat diajak meneliti berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengelilingi

       lapangan dengan berjalan kaki, berlari, dan naik sepeda. Masih banyak

       contoh yang lain, tinggal bagaimana guru mengajar anak untuk berpikir

       ilmiah.

2. Perencanaan penelitian

         Perencanaan penelitian atau eksperimen merupakan keterampilan yang

   harus dikuasai. Eksperimen tidak lain adalah usaha menguji atau mengetes

   melalui penyelidikan praktis. Misalnya mencari hubungan antara panjang

   hasta dengan panjang rentang tangan, dan tinggi badan. Melakukan

   eksperimen perlu perencanaan, karena tanpa rencana bisa terjadi pemborosan

   waktu, tenaga, dan biaya serta hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

3. Interpretasi data

         Kemampuan menginterprestasi atau menafsirkan adalah salah satu

   keterampilan penting yang umumnya dimiliki dan dikuasai oleh para ilmuwan.

   Misalnya penelitian suhu udara pada pukul 12.00 selama enam hari. Data itu

   dicatat dan disajikan dalam berbagai bentuk seperti: tabel, histogram, dan

   poligon.

4. Prediksi atau peramalan

          Ilmuwan sering membuat prediksi berdasarkan observasi, pengukuran,

   atau penelitian yang memperlihatkan kecenderungan gejala tertentu. Guru




                                      26
   diharapkan      melatih     anak   dalam      memprediksi     data-data   yang    telah

   dikumpulkan.

5. Penerapan

            Keterampilan     menerapkan     atau    mengaplikasikan     konsep      adalah

   kemampuan yang harus dikembangkan oleh siswa. Guru dapat melatih siswa

   untuk menerapkan konsep yang telah dikuasainya untuk memecahkan masalah

   atau menjelaskan suatu peristiwa baru dengan menggunakan konsep yang

   telah dimiliki. Misalnya setelah siswa mempunyai konsep bahwa udara

   mempunyai tekanan, para siswa disuruh memompa ban sepeda yang mampu

   memuat beban yang berat, dan lain-lain.

6. Komunikasi

            Keterampilan mengkomunikasikan suatu hasil penelitian adalah salah

   satu keterampilan yang mendasar. Misalnya dengan membuat gambar, model,

   tabel,     diagram,     grafik   atau   histogram,   dengan     membuat     karangan,

   mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan lain-lain.



2.1.6    Lembar Kerja Siswa

        Menurut Suyitno, lembar kerja siswa (LKS) adalah media cetak yang berapa

lembaran–lembaran kertas yang berisi informasi soal–soal/pertanyaan yang harus

dijawab. LKS merupakan salah satu media pengajaran matematika, yang dibuat

sendiri oleh guru/tim khusus dengan tujuan mengajarkan suatu konsep dengan

metode NHT , siswa dapat menemukan prinsip umum berdasarkan bahan yang




                                            27
diajarkan guru. Penggunaan LKS juga merupakan salah satu variasi pengajaran

siswa tidak menjadi bosan.

         Lembar kerja siswa terbagi menjadi 2 kategori sebagai berikut :

1. LKS tak berstruktur

    LKS tak berstruktur adalah LKS yang berisi saran untuk menunjang materi

    pelajaran sebagai alat bantu kegiatan belajar siswa yang dipakai guru untuk

    menyampaikan pelajaran. Contohnya tabel, kertas bertitik, kertas millimeter,

    kertas berpetak.

2. LKS berstruktur

    LKS ini dirancang untuk membimbing siswa dalam suatu program kerja

    dengan sedikit bantuan guru, untuk mencapai sasaran yang ditujukan dalam

    pelajarannya pada lembar kerja ini telah disusun petunjuk dan pengarahannya.

    Kegunaan lembar kerja siswa berstruktur ini adalah :

    (1) merupakan alternatif bagi guru untuk mengarahkan/memperkenalkan suatu

         kegiatan tertentu sebagai variasi pengajaran;

    (2) menghemat waktu;

    (3) dapat disiapkan sewaktu jam bebas mengajar;

    (4) dapat memudahkan penyelesaian tugas perorangan;

    (5) meringankan tugas dalam memberi bantuan perorangan.

2.1.7    Segitiga

        Materi Segitiga yang akan dipelajari pada penelitian ini adalah dengan sub

pokok bahasan antara lain: pengertian segitiga, jenisjenis segitiga, jumlah sudut

pada segitiga, sifat-sifat segitiga, keliling dan luas segitiga.




                                           28
2.1.7.1 Pengertian Segitiga

     Segitiga adalah bangun datar yang dibatasi oleh tiga buah titik yang tidak

terletak pada satu garis lurus dan saling dihubungkan (Cunayah, 2007: 247)

2.1.7.2 Jenis-jenis Segitiga

     Menurut Cunayah, 2007: 247, Segitiga biasanya dinotasikan dengan “Δ”.

Unsur-unsur yang terdapat pada segitiga yaitu :

1. Titik sudut

2. Sisi segitiga

2.1.7.2.1 Jenis Segitiga Ditinjau dari Sisi-sisinya yaitu :

     Menurut Cunayah, 2007: 247, Jenis segitiga ditinjau dari sisi-sinya ada 3

yaitu segitiga sama kaki, segitiga sama sisi dan segitiga sembarang.




        1. Segitiga      2. Segitiga          3. Segitiga
          Sama Kaki         Sama SisiGambar 1    Sembarang

1. Segitiga Sama Kaki

     Segitiga sama kaki mempunyai dua sisi yang sama panjang. Akibatnya,

segitiga sama kaki memiliki dua sudut yang sama besar.

     Sifat-sifat segitiga sama kaki yang lain adalah :

 (1) Segitiga sama kaki dapat menempati bingkainya dengan tepat menurut dua

     cara.

 (2) Segitiga sama kaki mempunyai satu sumbu simetri.




                                        29
2. Segitiga Sama Sisi

       Segitiga sama sisi memiliki tiga buah sisi yang sama panjang, akibatnya

ketiga sudutnya sama besar yaitu sebesar 60˚.

       Sifat-sifat segitiga sama sisi yang lain, yaitu:

 (1) Segitiga sama sisi dapat menempati bingkainya dengan tepat menurut enam

       cara.

 (2) Segitiga sama sisi mempunyai tiga sumbu simetri.

 (3) Segitiga sama sisi mempunyai simetri putar tingkat tiga.

3. Segitiga Sembarang

      Segitiga sembarang memiliki tiga buah sisi yang tidak sama panjang,

      akibatnya ketiga sudutnya tidak sama besar.

2.1.7.2.2 Jenis Segitiga ditinjau dari Besar Sudutnya yaitu: (Cunayah, 2007:

           249)
                   C                         F            I




  A                                  B       E                D   H             G
                       (a)                       (b)                      (c)

                                                 Gambar 2

1. Segitiga Lancip

                             M                   P                    S


                                                                                    R
               K                 L       N                O       Q
                        a                        b                         c


                                                 Gambar 3




                                                     30
   Gambar 3a, dapat dilihat bahwa panjang KM = LM sehingga Δ KLM disebut

   segitiga lancip sama kaki.

   Gambar 3b, dapat dilihat bahwa panjang NO = OP = PN sehingga Δ NOP

   disebut segitiga lancip sama sisi.

   Gambar 3c, ketiga sisinya tidak sama sehingga Δ QRS disebut segitiga lancip

   sembarang.

2. Segitiga Siku-Siku

                P                           T




                Q               R               S         U
                         (a)                        (b)

                                Gambar 4

   Perhatikan gambar 4 panjang sisi-sisi dan besar sudut-sudut setiap segitiga:

   Gambar 4a dapat dilihat bahwa panjang QP = QR dan ∠ PQR siku-siku

   maka Δ PQR disebut segitiga siku-siku sama kaki.

   Gambar 4b dapat dilihat bahwa panjang ketiga sisinya tidak sama dan ∠ TSU

   siku-siku, maka Δ TSU disebut segitiga siku-siku sembarang atau hanya

   segitiga siku-siku.




                                           31
3. Segitiga Tumpul

       Amati panjang sisi-sisi dan besar sudut-sudut setiap segitiga pada gambar

   5 di bawah ini:

               B               C        R


                   (a)             D             S          T
                                                     (b)

                                       Gambar 5

   Gambar 5a dapat dilihat bahwa panjang BC = DC dan Δ BCD tumpul, maka

   Δ BCD disebut segitiga tumpul sama kaki.

   Gambar b dapat dilihat bahwa panjang ketiga sisinya tidak sama dan ∠ RST

   tumpul, maka Δ RST disebut segitiga tumpul sembarang.

2.1.7.3 Jumlah Sudut-sudut pada Segitiga

           Menurut Cunayah, 2007: 250, Jumlah sudut-sudut suatu segitiga

     adalah180˚.

2.1.7.4 Sifat-sifat Segitiga

2.1.7.4.1 Ketidaksamaan Sisi Segitiga

           Menurut Cunayah, 2007: 250, Sifat-sifat segitiga yang berhubungan

     dengan sisi segitiga adalah sebagai berikut.

   (1) Jumlah panjang kedua sisi segitiga lebih dari panjang sisi yang lainnya.

   (2) Selisih panjang kedua sisinya kurang dari panjang sisi yang lainnya.

2.1.7.4.2 Hubungan Sudut dan Sisi Segitiga

           Menurut Cunayah, 2007: 250, Ukuran sudut terkecil suatu segitiga

     berhadapan dengan ukuran sisi terpendek suatu segitiga, begitupun ukuran




                                            32
     sudut terbesar suatu segitiga berhadapan dengan ukuran sisi terpanjang suatu

     segitiga.

2.1.7.4.3 Hubungan Sudut dalam dan Sudut Luar Segitiga

           Menurut Cunayah, 2007: 251, Sudut dalam suatu segitiga adalah sudut

     yang berada di dalam segitiga. Sedangkan sudut luar segitiga adalah sudut

     pelurus dari sudut dalam segitiga tersebut.

           Ukuran sudut luar dari salah satu sudut dalam segitiga sama dengan

     jumlah dua sudut dalam yang lainnya.

2.1.7.5 Keliling dan Luas Daerah Segitiga

2.1.7.5.1 Keliling Segitiga

           Menurut Cunayah, 2007: 251, Keliling segitiga adalah jumlah panjang

     sisi-sisi segitiga itu atau jumlah panjang ketiga sisinya. Keliling segitiga

     dinotasikan dengan K.

2.1.7.5.2 Luas Daerah Segitiga

           Menurut Cunayah, 2007: 251, alas suatu segitiga dinotasikan dengan

     “ a ”tingginya dinotasikan dengan “t”dan luas dinotasikan dengan ”L”, maka

     rumus luas daerah segitiga yaitu :

                        1
                      L= at
                        2

     Contoh soal:

           Diketahui: panjang alas suatu segitiga adalah 18 cm dan tingginya 13

     cm. Luas segitiga adalah......

     Pembahasan:

     Tulis a : ukuran alas segitiga,



                                          33
            t : ukuran tinggi segitiga, dan
           L : ukuran luas segitiga.
     Dipunyai a =18 dan t =13.
                 a×t   18 × 13
     Jelas L =       =         = 117.
                  2       2
     Jadi Luas segitiga tersebut adalah 117 cm2



2.2 Kerangka Berpikir

     Sejauh ini pembelajaran matematika masih didominasi oleh pembelajaran

ekspositori. Siswa diposisikan sebagai objek, sementara guru memposisikan

sebagai satu-satunya sumber informasi bagi siswa dimana semua pengetahuan

yang harus dipelajari oleh siswa berasal dari guru. Siswa yang belum paham

kadang-kadang takut atau malu bertanya pada guru, sehingga cukup banyak siswa

yang hasil belajarnya masih kurang. Namun jika dalam pembelajaran semua

kegiatan difokuskan pada keaktifan siswa, dikhawatirkan justru bisa merumuskan

hasil belajar siswa, terutama bagi siswa yang kurang aktif.

     Salah satu contoh pembelajaran baru yang juga merupakan salah satu contoh

strategi pembelajaran adalah dengan menerapkan model pembelajaran NHT.

Dalam pembelajaran NHT ini siswa dituntut untuk lebih aktif dalam

mengembangkan sikap dan pengetahuannya tentang matematika sesuai dengan

kemampuan masing-masing sehingga akibatnya memberikan hasil belajar yang

lebih bermakna pada siswa. Dengan demikian pembelajaran NHT merupakan

pendekatan yang sangat berguna dalam pembelajaran matematika. Dengan

pembelajaran NHT selain siswa belajar matematikanya mereka juga mendapatkan




                                         34
pengertian yang lebih bermakna tentang penggunaan matematika tersebut di

berbagai bidang.

     SMP Kesatrian 2 Semarang merupakan salah satu sekolah di wilayah

kecamatan Semarang Barat wilayah kodya Semarang. Kurikulum yang digunakan

di SMP Kesatrian 2 Semarang adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

(KTSP). Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang harus di

kuasai oleh siswa pada kelas VII salah satunya adalah tetang segitiga. Materi yang

mendukung dalam penguasaan segitiga pada kelas VII adalah jenis–jenis segitiga;

sifat-sifat segitiga; sudut dalam dan sudut luar segitiga; keliling dan luas segitiga.

Dalam mengajarkan materi segitiga dengan model pembelajaran NHT, guru bisa

memberikan cara baru dalam mengajar. Dengan model pembelajaran NHT ini,

siswa bisa merasakan nuansa baru dalam belajar matematika, sehingga diharapkan

bisa mengurangi rasa jenuh siswa dalam belajar matematika di sekolah.

     Dengan menerapkan model pembelajaran NHT pada materi segitiga maka

diharapkan rata-rata hasil belajar siswa bisa mencapai batas ketuntasan maksimal,

yaitu 65 serta rata-rata hasil belajar siswa dengan model pembelajaran NHT, lebih

baik dari pada rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran

ekspositori.




                                         35
2.3 Hipotesis Penelitian

        Berdasarkan permasalahan dan uraian landasan teori di atas, maka hipotesis

penelitian ini adalah:

2.3.1    Hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan NHT (Numbered

         Heads Together) pada materi pokok segitiga dapat mencapai Kriteria

         Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 65;

2.3.2    Keterampilan proses siswa pada pembelajaran NHT (Numbered Heads

         Together) dapat berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa;

2.3.3    Hasil belajar siswa dengan pembelajaran NHT (Numbered Heads

         Together) lebih baik daripada hasil belajar dengan pembelajaran

         ekspositori.




                                         36
                                          BAB 3

                             METODE PENELITIAN


3.1 Metode Penentuan Objek Penelitian

3.1.1    Populasi

        Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Kesatrian 2

Semarang tahun ajaran 2008/2009 sebanyak 200 siswa yang terdiri dari 5 kelas masing-

masing 40 siswa.

3.1.2    Sampel

        Pada penelitian ini, peneliti mengambil sampel secara acak satu kelas sebagai kelas

eksperimen dan satu kelas sebagai kelas kontrol. Sampel ditentukan dengan cara teknik

random sampling. Pengambilan sampel random sampling ini dilakukan dengan

memperhatikan ciri-ciri antara lain, siswa mendapatkan materi yang berdasarkan kurikulum

yang sama, siswa diampu oleh guru yang sama, dan siswa duduk pada kelas yang sama

pula. Sebelum dilakukan teknik random sampling sampel diuji normalitas dan homogenitas

dan ternyata hasil uji sampel ke dua kelas tersebut adalah normal dan homogen. Untuk hasil

perhitungannya terdapat pada lampiran 2.

3.1.2.1 Kelompok Eksperimen

        Pada kelompok ini akan diberikan suatu perlakuan yang dalam hal ini adalah

pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT, yang menjadi kelas

eksperimen adalah siswa kelas VIIB.




                                             36
3.1.2.2 Kelompok Kontrol

     Dalam penelitian ini kelompok kontrol diberi pembelajaran ekspositori yang biasa

dilakukan oleh guru, yang menjadi kelas kontrol adalah siswa kelas VIID.



3.2 Variabel Penelitian

     Variabel dalam penelitian ini adalah: hasil belajar siswa kelas VII semester 2 SMP

Kesatrian 2 Semarang dengan menggunakan model pembelajaran Numbered Heads

Together (NHT) pada materi pokok segitiga.



3.3 Metode Pengumpulan Data

     Mengumpulkan data merupakan kegiatan penting dalam sebuah penelitian. Dengan

adanya data-data itulah peneliti menganalisisnya untuk kemudian dibahas dan disimpulkan

dengan panduan serta referensi-referensi yang berhubungan dengan penelitian tersebut.

Sedangkan yang dimaksud dengan data adalah hasil pencatatan peneliti, baik berupa fakta

maupun angka (Arikunto,2003:96).

3.3.1 Metode Observasi

     Pada metode observasi mengggunakan lembar observasi yang digunakan untuk

memperoleh data pengelolaan pembelajaran NHT oleh guru dan keterampilan proses siswa

dalam pembelajaran. Lembar observasi ini disediakan kemudian diisi oleh guru mata

pelajaran selaku observer. Observasi dilakukan setiap pembelajaran berlangsung. Untuk

hasil observasinya terdapat pada lampiran 35.

1. Indikator yang diukur dengan menggunakan lembar observasi               pengelolaan

   pembelajaran oleh guru adalah sebagai berikut.


                                             37
    1) Menyampaikan tujuan pembelajaran.

    2) Memotivasi siswa untuk belajar.

    3) Mengadakan tanyajawab yang mengarah pada materi pokok segitiga.

    4) Menyampaikan garis besar materi pokok segitiga yang akan dibahas dengan

         model pembelajaran NHT.

2. Indikator yang diukur dengan menggunakan lembar observasi keterampilan proses

   siswa adalah sebagai berikut.

    1)    Keterampilan siswa untuk menerima pelajaran.

    2)    Keterampilan siswa mengingat kembali materi (apersepsi).

    3)    Keterampilan membuat catatan penting materi pelajaran.

    4)    Konsentrasi dalam mengikuti pelajaran.

    5)    Keterlibatan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

    6)    Keterampilan menyelesaikan soal yang diberikan.

    7)    Jawaban soal yang dikerjakan.

    8)    Keterampilan siswa menjawab pertanyaan yang diberikan.

    9)    Memberi kesempatan teman sekelompok untuk aktif.

    10) Adanya kerjasama antar sesama anggota kelompok.

    11) Keterampilan beradaptasi dengan teman.

    12) Membuat daftar pertanyaan yang berkualitas.

    13) Keterampilan mengungkapkan pendapat.

    14) Antusias siswa mendemontrasikan kemampuan di depan kelas.

    15) Keterampilan berinteraksi melalui bertanya.

    16) Kemampuan mengerjakan tugas di depan kelas.

    17) Membuat rangkuman materi yang berkualitas.
                                          38
        18) Keterampilan membuat kesimpulan hasil pembelajaran.

        19) Respon siswa dalam memberi selamat kepada teman.

        20) Respon siswa untuk mempelajari matematika dengan cara yang sama.

           Indikator-indikator tersebut diukur dengan skala 1-5.

3.3.2       Metode Tes

        Metode ini bertujuan untuk mengambil data hasil belajar siswa pada materi pokok

segitiga yang selanjutnya digunakan untuk menguji hipotesis yang diujikan. Tes yang

digunakan yaitu tes tertulis.



3.4     Langkah-langkah Penelitian

        Langkah-langkah yang ditempuh sebagai prosedur penelitian ini adalah:

1. Menentukan sampel penelitian dari populasi normal dan homogen.

2. Menguji normalitas dan homogenitas kelas sampel dengan mengambil nilai pokok

      bahasan sebelumnya.

3. Menyusun instrumen indikator keterampilan proses.

4. Menyusun kisi-kisi tes uji coba.

5. Menyusun instrumen tes uji coba berdasarkan kisi-kisi yang ada.

6. Menguji cobakan instrumen tes uji coba pada kelas yang telah dipilih dari populasi.

7. Menganalisis data hasil instrumen tes uji coba pada kelas uji coba untuk mengetahui

      validitas butir soal, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda.

8. Melaksanakan pembelajaran pada trategi NHT pada kelas eksperimen.

9. Melaksanakan pengamatan selama pembelajaran berlangsung untuk mengetahui

      keterampilan proses pembelajaran tersebut. Dalam hal ini peneliti dibantu oleh 2 orang



                                                39
   pengamat. Nilai dari 2 pengamat dirata-rata untuk mendapatkan nilai keterampilan

   proses.

10. Menyusun kisi-kisi tes hasil belajar.

11. Melaksanakan tes hasil belajar pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.

12. Menganalisis hasil tes.

13. Menyusun hasil penelitian.



3.5 Instrumen Penelitian

3.5.1   Instrumen dalam penelitian ini adalah tes objektif berbentuk pilihan ganda

        dengan pertimbangan :

   1. Skoring objektif, relatif mudah, dan cepat.

   2. Karena stuktur soal sudah disusun rapi maka respon siswa terbatas. Tidak ada

        jawaban yang menyimpang meskipun siswa kadang menjawabnya dengan menerka,

        namun hal ini menggunakan skoring respon yang tepat.

   3. Materi yang digunakan untuk tes adalah pada pokok bahasan segitiga siswa kelas

        VII B dan siswa kelas VII D SMP Kesatrian 2 Semarang tahun ajaran 2008/2009.

3.5.2   Metode Penyusunan Perangkat Tes

   Metode penyusunan perangkat tes yang dilakukan yaitu:

   1. melakukan pembatasan materi yang diujikan;

   2. menentukan tipe soal;

   3. menetukan jumlah butir soal;

   4. menentukan waktu mengerjakan soal;

   5. menentukan komposisi atau jenjang;

   6. membuat kisi-kisi soal;
                                            40
   7. menulis petunjuk pengerjaan soal, bentuk lembar jawab, kunci jawaban, dan

         penentuan skor;

   8. menulis butir soal;

   9. mengujicobakan instrumen, menganalisis hasil uji coba dalam hal validitas,

         reliabilitas, daya beda, dan tingkat kesukaran, dan

   10. memilih item soal yang sudah teruji berdasarkan analisis yang sudah dilakukan.

3.5.3    Pelaksanaan Tes Uji Coba

        Setelah perangkat tes tersusun, kemudian diujicobakan kepada siswa kelas VII

semester 2 SMP Kesatrian 2 Semarang untuk diuji apakah butir-butir soal tersebut

memenuhi kualifikasi soal yang baik dan dapat digunakan.

3.5.4    Analisis Instrumen Hasil Belajar

        Analisis yang digunakan dalam pengujian instrumen tes uji coba meliputi: analisis

validitas, analisis daya pembeda, analisis taraf kesukaran, dan analisis reliabilitas.

3.5.4.1 Validitas

        Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevaliditasan/kesahihan

suatu instrumen (Arikunto, 2003: 144). Suatu instrumen yang valid mempunyai validitas

tinggi, sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah. Rumus

yang digunakan untuk menghitung validitas adalah rumus korelasi product moment

(Arikunto, 2003: 72), yaitu:

                               N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )
              rxy =
                      {N ∑ X   2
                                   − (∑ X )
                                              2
                                                  } {N ∑ Y   2
                                                                 − (∑ Y )
                                                                            2
                                                                                }




                                                         41
             Keterangan:

             rXY : koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y, dua variabel yang

                   dikorelasikan.

             N    : jumlah siswa yang ikut tes

             X    : skor butir

             Y    : skor total

     Hasil perhitungan r dikonsultasikan pada tabel kritis r product moment dan dengan

taraf signifikasi 5%. Jika rxy > rtabel maka soal tersebut valid (Arikunto, 2003: 72).

     Berdasarkan perhitungan dengan rumus point biseral, maka diperoleh soal yang valid

adalah soal nomor 3, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 14, 15, 16, 17, 18, 20, 21, 25, 26, 27, 28, dan 29.

adapun yang tidak valid adalah soal nomor 1, 2, 4, 5, 8, 13, 19, 22, 23, 24, dan 30. Untuk

hasil perhitungannya terdapat pada Lampiran 9.

3.5.4.2 Reliabilitas

     Rumus yang digunakan untuk mencari reabilitas tes, yaitu:

                         ⎡ k ⎤ ⎡ s − ∑ pq ⎤
                                    2

                   r11 = ⎢        ⎢       ⎥              (Arikunto 2003: 101).
                         ⎣ k − 1⎥ ⎢
                                ⎦⎣    s2  ⎥
                                          ⎦

             Keterangan:         r11   = reabilitas tes secara keseluruhan,

                                 k     = banyaknya soal,

                                 ∑ pq = jumlah varian butir soal, dan
                                 s2    = varian total.

     Klasifikasi indeks reabilitas yang telah dimodifikasi (Arikunto, 2003: 207) yaitu:

             1. Soal dengan r 0,00 sampai 0,30 adalah reliabel dengan tingkat sukar,

             2. Soal dengan r 0,31 sampai 0,70 adalah reliabel dengan tingkat sedang, dan

                                               42
            3. Soal dengan r 0,71 sampai 1,00 adalah reliabel dengan tingkat mudah

     Berdasarkan soal yang telah dilakukan diperoleh bahwa reliabilitas tes secara

keseluruhan soal adalah reliabel dengan tingkat sedang. Untuk hasil perhitungannya

terdapat pada Lampiran 10.

3.5.4.3 Taraf Kesukaran

     Soal yang diujikan harus diketahui taraf kesulitannya (P). Rumus untuk mencari P

adalah:

                              B
                         P=           (Arikunto, 2003: 211),
                              JS

            dimana: P = indeks kesukaran,

                      B = banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul, dan

                      JS = jumlah seluruh siswa peserta tes.

     Klasifikasi indeks kesukaran yang telah dimodifikasi (Arikunto, 2003: 207) yaitu:

            1. Soal dengan P 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar,

            2. Soal dengan P 0,31 sampai 0,70 adalah soal sedang, dan

            3. Soal dengan P 0,71 sampai 1,00 adalah soal mudah.

     Setelah dilakukan analisis taraf kesukaran pada soal uji coba, diperoleh hasil sebagai

berikut:

a. Yang termasuk soal dengan kriteria mudah, yaitu soal nomor 8, 11, dan 15.

b. Yang termasuk soal dengan kriteria sedang, yaitu soal nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 9, 10,

   12, 13, 14, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, dan 30.

Untuk hasil perhitungannya terdapat pada Lampiran 11.




                                              43
3.5.4.4 Daya Pembeda

     Uji daya pembeda soal bertujuan untuk mengetahui kesanggupan soal tersebut dalam

membedakan siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai. Artinya jika soal

dikerjakan siswa yang pandai hasilnya akan menunjukkan prestasi yang tinggi dan apabila

soal diberikan pada siswa yang berkemampuan rendah maka hasilnya akan rendah.

            Rumus untuk mencari D adalah:

                       B A BB
                  D=      −   = PA − PB           (Arikunto, 2003: 211),
                       JA JB

            dimana:    J = jumlah peserta tes,

                       JA= banyaknya peserta kelompok atas,

                       JB = banyaknya peserta kelompok bawah,

                       BA=banyaknya peserta kelompok atas yang             menjawab soal

                           dengan benar,

                       BB=banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal

                           dengan benar,

                       PA= proposi peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan

                           benar,

                       PB= proposi peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan

                           benar,

     Klasifikasi daya pembeda yang telah dimodifikasi (Arikunto, 2003: 207):

            a. Soal dengan D 0,00 sampai 0,20 adalah soal dengan daya beda jelek.

            b. Soal dengan D 0,21 sampai 0,40 adalah soal dengan daya beda cukup.

            c. Soal dengan D 0,41 sampai 0,70 adalah soal dengan daya beda baik.

            d. Soal dengan D 0,71 sampai 1,00 adalah soal dengan daya beda baik sekali.

                                            44
               e. Soal dengan D negatif adalah soal dengan daya beda yang semuanya tidak

                   baik, jadi semua butir soal yang mempunyai nilai D negatif sebaiknya

                   dibuang saja.

        Setelah dilakukan analisis daya beda pada soal uji coba, diperoleh hasil sebagai

berikut:

a.      Yang termasuk soal dengan kriteria jelek, yaitu soal nomor 1, 2, 4, 5, 8, 13, 19, 22,

        23, 24, dan 30.

b.      Yang termasuk kriteria cukup, yaitu soal nomor 3, 10, 12, 14, 15, 16, 17, 18, 20, 21,

        25, 26, 27, 28, dan 29.

c.      Yang termasuk kriteria baik, yaitu nomor 6, 7, 9, dan 11.

Untuk hasil perhitungannya terdapat pada Lampiran 12.



3.6 Teknik Analisis Data

     Setelah data terkumpul, data tersebut dianalisis dengan menggunakan uji-t, untuk

menggunakan uji-t diuji prasyarat terlebih dahulu yaitu uji normalitas dan homogenitas

sebagi berikut:

3.6.1    Uji normalitas

     Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel yang diperoleh

berdistribusi normal atau tidak.

             Rumus yang digunakan:

                                   k
                                         (Oi − Ei )2
                          X2 =∑                             (Sudjana, 2002: 273).
                                  i =1       Ei

             Keterangan:               X 2 = chi kuadrat,

                                   Oi = frekuensi, dan
                                                       45
                                   Ei = frekuensi yang diharapkan.

    Harga X 2 dikonsultasikan dengan X 2 tabel dengan derajat kebebasan dk = Banyaknya

interval kelas dikurangi dengan 3 pada taraf signifikasi α = 5%.

    Apabila X 2 hitung > X 2 tabel maka sampel berdistribusi normal. (Sudjana, 2002: 273).

    Hasil perhitungan uji normalitas untuk kelas eksperimen diperoleh χ                        2
                                                                                               hitung   = 6,41 dan

untuk kelas kontrol diperoleh χ              2
                                             hitung       = 5,43 sedangkan untuk kelas uji coba χ           2
                                                                                                            hitung   =

7,049. Daftar distribusi Chi-Kuadrat dengan α = 5% dan dk untuk kelas eksperimen = 4 dan

kelas kontrol dan kelas uji coba mempunyai dk = 3 sehingga pada kelas eksperimen χ                                2
                                                                                                                  tabel



= 9,488 sedangkan kelas kontrol dan kelas uji coba χ                    2
                                                                        tabel   = 7,815 maka χ    2
                                                                                                  hitung   < χ   2
                                                                                                                 tabel    ,

sehingga populasi dinyatakan berdistribusi normal. Perhitungan selengkapnya lihat pada

Lampiran 2.

3.6.2   Uji Homogenitas

    Uji homogenitas kesamaan dari sampel dibuktikan dengan uji Barlett.

                        Rumus uji Barlett yaitu:

                                             {
                        χ 2 = (ln 10 ) B − ∑ (n1 − 1) log s1 2         }        (Sudjana, 2002: 263),

              dengan:

                                  ∑ (n − 1)s
                                                          2
                                         1
                            2
                                =
                                                      i
                        s                                     ,
                                   ∑ n −1    i



                        B = (log s )∑ (ni − 1) ,




              keterangan:           x 2 = besarnya homogenitas,

                                     2
                                    s1 = varians masing-masing kelompok,

                                                                  46
                               s 2 = variansi total, dan

                              n = jumlah masing-masing kelompok.

    Apabila x 2 hitung > x 2 tabel maka sampel diambil dari populasi homogen dengan taraf

signifikasi 5%. (Sudjana, 2002: 263). Data awal yang diperoleh dilakukan uji homogenitas

dan diperoleh data yang homogen pada Lampiran 2.

3.6.3   Uji Hipotesis

    Langkah terakhir dari penelitian ini adalah pengujian hipotesis.

   1. Hasil belajar siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM)

   Hasil belajar siswa dikatakan telah berhasil jika nilai siswa mencapai kriteria ketuntasan

   minimum dan 75% dari jumlah siswa di kelas mendapat nilai lebih dari atau sama

   dengan 65

   2. Persamaan regresi linier

   Regresi linier digunakan untuk menguji pengaruh antara satu variabel terhadap variabel

   yang lain. Variabel yang dipengaruhi disebut variabel tergantung atau dependen,

   sedangkan variabel yang mempengaruhi disebut variabel bebas atau independen.

   Regresi yang memiliki satu variabel dependen dan satu variabel independen disebut

   regresi linier.

   (1) Persamaan yang digunakan adalah:

                  ˆ
                 Y = a + bX

                     Keterangan:

                      ˆ
                     Y : subyek dalam variabel dependen yang diprediksi.

                                ˆ
                     a : harga Y bila X = 0 (harga konstan)




                                              47
                b :angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukkan angka

                  peningkatan ataupun penurunan variabel dependen yang didasarkan

                  pada variabel independen. Bila b (+) maka arah korelasinya positif,

                  dan bila (-) maka arah korelasinya negatif.

                X :subyek pada vaiabel independen yang mempunyai nilai tertentu.

                Koefisien-koefisien regresi a dan b dihitung dengan rumus:

                   (∑ Y )(∑ X i 2 ) − (∑ X i )(∑ X i Yi )
                a=
                          n ∑ X i − (∑ X i )
                                   2           2




                     n ∑ X i Yi − (∑ X i )(∑ Yi )
                b=
                        n ∑ X i − (∑ X i )
                                2            2




                (Sudjana, 2002: 315)

(2) Uji independen, Uji kelinieran regresi, dan Analisis Korelasi

   1) Ringkasan ANAVA

                      Sumber
                                      dk                 JK                     KT               F
                      variasi

                  Total               N          ∑Yi2                ∑Yi2

                  Regresi (a)         1          (∑Yi)2/n            (∑Yi)2/n

                  Regresi (bla)       1          JKreg= JK(bla)      S2reg = JK(bla)            S 2 reg
                                                                                                S 2 res
                  Residu              n-2                      ˆ
                                                 JKres= ∑(Yi- Y )2    2
                                                                     S res =
                                                                                (    ˆ
                                                                             ∑ Yi − Yi   ) 2


                                                                               n−2

                  Tuna cocok          k-2        JK(TC)                         JK (TC )
                                                                     S 2 TC =
                                                                                 k −2
                                                                                               S 2 TC
                                                                              JK (E )          S 2E
                  Kekeliruan          n-k        JK(E)               S 2E =
                                                                               n−k



                                                  48
  Uji Kelinieran digunakan untuk menguji apakah model linier yang telah diambil

  itu benar-benar cocok dengan keadaannya atau tidak.

                  Hipotesis

                  Ho : model regresi linier

                  Ha : model regresi tidak linier

                  Rumus yang digunakan adalah

                       S 2 TC
                  F=
                       S 2E

                  Tolak Ho jika Fhitung ≥F(1-α)(k-2,   n-k),   dengan α = 5% (Sudjana,

                  2002:332).

2) Uji independen

   Hipotesis

   Ho : keterampilan proses pada pembelajaran NHT tidak berpengaruh terhadap

   hasil belajar siswa.

   Ha : keterampilan proses pada pembelajaran NHT berpengaruh terhadap hasil

   belajar siswa.

   Rumus yang digunakan adalah:

        S 2 reg
   F=
        S 2 res

   Tolak Ho jika Fhitung ≥F(1-α)(1, n-2), dengan α = 5%

3) Analisis korelasi

Metode korelasi digunakan untuk mengetahui adanya keeratan hubungan antara

keterampilan proses itu selama proses belajar mengajar terhadap hasil belajar siswa.

Alat Bantu pengukuran keterampilan proses siswa adalah hasil pengisian lembar


                                        49
observasi keterampilan proses yang diamati selama proses belajar mengajar

berlangsung.

                 Rumus yang digunakan adalah:

                                  N ∑ XY − (∑ X )(∑ Y )
                 rxy =
                         {N ∑ X   2
                                      − (∑ X )
                                                 2
                                                     } {N ∑ Y   2
                                                                    − (∑ Y )
                                                                               2
                                                                                   }
Harga rXY menunjukkan indeks korelasi antara dua variabel yang dikorelasikan.

Setiap nilai korelasi mengandung tiga makna, yaitu:

i) Ada tidaknya korelasi, ditunjukkan oleh besarnya angka yang terdapat di

   belakang koma, jika angka tersebut terlalu kecil sampai empat angka dibelakang

   koma, misalnya 0,0002 maka tidak ada korelasi antara variabel X dengan

   variabel Y.

ii) Arah korelasi, yaitu arah yang menunjukkan kesejajaran antar nilai variabel X

   dengan nilai variabel Y. Arah dari korelasi ditunjukkan oleh tanda hitung yang

   ada di depan indeks. Jika tandanya plus (+), maka arah korelasinya positif,

   sedang kalau tandanya minus (-) maka arah korelasinya negatif.

iii) Besarnya korelasi, yaitu besarnya angka yang menunjukkan kuat dan tidaknya,

   atau mantap tidaknya kesejajaran antara dua variabel yang diukur korelasinya

   (Arikunto, 2003: 146-147).

Analisis korelasi terdapat suatu angka yang disebut dengan koefisien determinan,

yang besarnya adalah kuadrat dari koefisien korelasi (r2).

Pemberian penafsiran terhadap koefisien korelasi yang ditemukan tersebut besar

atau kecil, maka dapat berpedoman pada ketentuan sebagai berikut.




                                           50
                                  Interval Koefisien        Tingkat Hubungan

                                     0,00 – 0,199             Sangat Rendah

                                     0,20 – 0,399                 Rendah

                                     0,40 – 0,599                 Sedang

                                     0,60 – 0,799                  Kuat

                                     0,80 – 1,000              Sangat Kuat

                          (Sugiyono, 2005:216)

   3. Analisis data dengan uji t dua sampel digunakan untuk menguji hipotesis:

   Uji hipotesis yang digunakan adalah uji perbedaan rata-rata, uji satu pihak yaitu pihak

   kanan dengan rumus uji t. Uji ini selanjutnya digunakan untuk menentukan keefektifan

   pembelajaran. (Sudjana, 2002: 227)

   Hipotesis adalah sebagai berikut.

   Ho :µ1 ≤ µ2 (prestasi belajar kelas eksperimen kurang dari atau sama dengan prestasi

   belajar kelas kontrol)

   Ha :µ1 > µ2 (prestasi belajar kelas eksperimen lebih dari prestasi belajar kelas kontrol).

   Untuk menguji hipotesis ini digunakan rumus sebagai berikut.

   1.   jika σ 1 = σ 2

                X1 − X 2
        t=
                 1     1
              s     +
                 n1 n2


          2
 dengan s =
               (n1 − 1) s1 2  + (n 2 − 1)s 2
                                               2


                         n1 + n 2 − 2

 Keterangan:

X 1 : nilai rata-rata dari kelompok eksperimen

                                                    51
X 2 : nilai rat-rata dari kelompok kontrol

n1 : banyaknya subjek kelompok eksperimen

n2 : banyaknya subjek kelompok kontrol

     2
 s1 : varians kelompok eksperimen

     2
 s2 : varians kelompok kontrol

s2 : varians gabungan

dengan kriteria pengujian terima Ho apabila thitung <                ttabel , dengan derajat kebebasan dk

                                         1
= n1 + n2 – 2, t tabel =1-                 α , taraf signifikasi 5%, dan tolak Ho untuk harga t lainnya
                                         2

(Sudjana, 2002:239)

2.       jika σ 1 ≠ σ 2

               X1 − X 2
t2 = t =
                   2
                s1   s2
                   + 2
                n1  n2

    Kriteria pengujian adalah: terima hipotesis Ho jika

     w1t1 + w2 t 2       w t + w2 t 2
−                  < t' < 1 1
      w1 + w2             w1 + w2

Dengan: w1 = s12/n1; w2 = s22/n2

t1 = t (1−α ),( n1 −1) dan t2 = t (1−α ),( n2 −1)

tβ,m didapat dari daftar distribusi Student dengan peluang β dan dk = m. untuk harga-harga t

yang lainnya, Ho ditolak. (Sudjana, 2002:241)




                                                         52
                                          BAB 4

               HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



4.1      Hasil Penelitian

        Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh data hasil penelitian. Data

ini kemudian dianalisis untuk mendapatkan simpulan yang berlaku untuk populasi

penelitian.

4.1.1    Uji Asumsi

4.1.2.1 Uji Normalitas

        Uji normalitas digunakan untuk mengetahui data yang diperoleh berdistribusi normal

atau tidak. Dalam pengujian ini, digunakan uji kolmogorov-smirnov (uji K-S satu sampel)

dengan menggunakan bantuan program SPSS. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh

nilai Asymp. Sig(2-tailed) = 0.126 > taraf signifikan ( α ) = 0.05, maka dapat disimpulkan

H 0 diterima artinya data berdistribusi normal. Untuk hasil perhitungan selengkapnya

terdapat pada Lampiran 30.

4.1.1.2 Uji Homogenitas

        Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui apakah data nilai sampel mempunyai

varians yang sama (homogen). Berdasarkan perhitungan uji homogenitas dengan

menggunakan bantuan program SPSS diperoleh Sig = 0,126 > taraf signifikan ( α ) = 0.05,

sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok mempunyai varians yang sama. Untuk

hasil perhitungan selengkapnya terdapat pada Lampiran 31.




                                              53
4.1.2    Uji Hipotesis

4.1.2.1 Uji Hasil belajar siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM)

   Berdasarkan hasil nilai ulangan matematika pada materi pokok segitiga diperoleh

   bahwa banyaknya siswa yang mendapat nilai lebih dari atau sama dengan Kriteria

   Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 65, sebanyak 30 anak atau 75% dari jumlah siswa

   dikelas. Itu menunjukan bahwa hasil belajar siswa telah mencapai KKM. Untuk hasil

   perhitungan selengkapnya terdapat pada Lampiran 28.

4.1.2.2 Uji Regresi Linier

        Persamaan regresi yang diperoleh dari analisis data adalah Ŷ= 73,6 +6,96X, dengan X :

keterampilan proses pembelajaran matematika dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT

dan Y : hasil belajar siswa dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT. Dari perhitungan

diperoleh ringkasan ANAVA sebagai berikut.

                   Sumber variasi            dk        JK              KT              F
                   Total                          40        229555.2
                   Regresi (a)                     1        224160.8
                   Regresi (bla)                   1        3454.365        3454.365       67.66034
                   Residu                         38        1940.071         51.0545
                   Tuna cocok                     24        207.0244        8.626018       0.069683
                   Kekeliruan
                                                  14        1733.047         123.789


4.1.2.2.1 Uji kelinieran

           Hipotesis

           Ho : model regresi linier

           Ha : model regresi tidak linier

           Ftabel = F (0,95;24,14) = 2,35 karena 0,069 < 2,35, maka Ho diterima. Ini berarti

           bahwa persamaan regresinya merupakan regresi linier.




                                                  54
4.1.2.2.2 Uji independen

         Hipotesis

         Ho : keterampilan proses pada pembelajaran NHT tidak berpengaruh terhadap

         hasil belajar siswa.

         Ha : keterampilan proses pada pembelajaran NHT berpengaruh terhadap hasil

         belajar siswa.

         Ftabel = F (0,95,1,28) = 4,1 karena 67,66 > 4,1, maka Ho ditolak. Ini berarti bahwa

         keterampilan proses pada pembelajaran NHT berpengaruh terhadap hasil belajar

         siswa.

4.1.2.2.3 Analisis korelasi

         Hasil perhitungan diperoleh rhitung = 0,51. Koefisien determinasinya = r2 = 0,512 =

         0,26.

         Perhitungan selengkapnya lihat pada lampiran 35.

4.1.2.3 Uji Beda Rata-rata

     Hipotesis:

H0 : Rata-rata hasil belajar siswa kelas ekperimen sama dengan kelas kontrol
H1 : Rata-rata hasil belajar siswa kelas eksperimen berbeda dengan kelas kontrol
     Berdasarkan perhitungan uji beda rata-rata dengan menggunakan bantuan program

SPSS diperoleh nilai t = 3.872 > ttabel = 1,69 dan nilai Sig(2-tailed) = 0,003 < taraf

signifikan ( α ) = 0.05, artinya H 0 ditolak. Jadi rata-rata hasil belajar siswa kelompok

eksperimen lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol. Untuk hasil perhitungan

selengkapnya terdapat pada Lampiran 33.




                                            55
4.2 Pembahasan

4.2.1   Pembelajaran NHT Pada Materi Pokok Segitiga.

        Berdasarkan data hasil ulangan harian matematika materi pada semester dua materi

bilangan diperoleh nilai siswa yang digunakan sebagai data awal. Analisis awal siswa kelas

VII SMP Kesatrian 2 Semarang pada kelas eksperimen, kelas kontrol dan kelas uji coba

menunjukkan bahwa data masing-masing kelas berdistribusi normal, kelas eksperimen dan

kelas kontrol merupakan kelas bagian populasi yang mempunyai varians yang sama

(homogen) dan tidak ada perbedaan rata-rata dari kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hal

ini dapat disimpulkan bahwa sampel mempunyai kondisi awal yang sama, kemudian kedua

kelompok diberi perlakuan untuk kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran

NHT     dan   kelas   kontrol   menggunakan    model    pembelajaran   ekspositori   dalam

pembelajarannya. Sedangkan untuk melakukan uji coba soal tes dilakukan pada kelas VII E

SMP Kesatrian 2 Semarang, dengan alasan bahwa kelas tersebut sudah selesai mempelajari

materi pokok segitiga.

        Uji yang digunakan untuk menguji hipotesis masalah 1 adalah uji hsail belajar siswa

mencapai KKM yaitu lebih dari atau sama dengan 65 atau 75% dari jumlah siswa dan

hanya dilakukan pada kelas eksperimen yaitu kelas VII B yang menggunakan model

pembelajaran NHT. Model Pembelajaran NHT adalah model pembelajaran yang diartikan

sebagai interaksi proses pembelajaran yang mengubah energi menjadi cahaya. Interaksi ini

mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan belajar

diantaranya adalah dengan adanya pemberian skor dan penghargaan terhadap kelompok

yang berhasil sehingga dapat memberi semangat kepada siswa untuk bersaing dalam

persaingan yang positif. Hasil analisis data diperoleh rata-rata hasil belajar kelompok

eksperimen adalah 75,5 dan rata-rata keterampilan proses kelas eksperimen adalah 68,7.
                                          56
Berdasarkan uji t satu sampel diperoleh thitung = 42.619 untuk uji rata-rata hasil belajar dan

thitung = 3.872 untuk uji rata-rata keterampilan proses, sedangkan ttabel = 1,68. Ini berarti Ho

ditolak dan Ha diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa rata-rata hasil belajar dan rata-rata

nilai keterampilan proses pada kelas eksperimen telah mencapai standar ketuntasan belajar

yaitu 65.

       Dalam pembelajaran NHT ini siswa dituntut untuk lebih aktif dalam

mengembangkan sikap dan pengetahuannya tentang matematika sesuai dengan kemampuan

masing-masing sehingga akibatnya memberikan hasil belajar yang lebih bermakna pada

siswa (Setiawan, 2006: 7). Dengan demikian NHT merupakan pendekatan yang sangat

berguna dalam pembelajaran matematika. Dengan pembelajaran NHT selain siswa belajar

matematikanya juga mereka mendapatkan pengertian yang lebih bermakna tentang

penggunaan matematika tersebut di berbagai bidang.

       Pembelajaran ekspositori adalah cara penyampaian materi pelajaran dari guru

kepada siswa di dalam kelas dengan cara berbicara di awal pelajaran, menerangkan materi

dan contoh soal disertai tanya jawab. Guru bersama siswa berlatih menyelesaikan soal

latihan dan siswa bertanya jika belum mengerti. Siswa mengerjakan latihan soal sendiri,

mungkin juga saling bertanya dan mengerjakan bersama dengan temannya atau disuruh

mengerjakannnya di papan tulis. Dengan demikian, terlihat bahwa dengan cara

pembelajaran yang berbeda, hasil belajar kedua kelompok tersebut berbeda secara

signifikan. Dengan kata lain, hasil belajar pada kelompok eksperimen lebih baik daripada

hasil belajar kelompok kontrol.

       Keberhasilan yang tercapai juga tercipta karena adanya hubungan antar anggota

yang saling mendukung, saling membantu, saling menghargai dan peduli antara siswa yang

satu dengan siswa lain dalam kelompoknya. Dengan belajar secara berkelompok, siswa
                                              57
yang lemah akan terbantu oleh siswa yang pandai sehingga dapat menumbuhkan motivasi

belajarnya. Siswa akan lebih mudah menemukan dan menguasai konsep yang sukar apabila

mereka dapat membahasnya dengan kelompok (Anni, 2006: 61). Dengan demikian

penggunaan belajar kelompok memungkinkan siswa memperoleh model berpikir, cara

menyampaikan gagasan atau fakta, dan mengatasi kesalahan konsepsi yang dihadapi oleh

kelompok. Di samping itu, guru dapat memberikan bantuan secara individual kepada siswa

yang membutuhkannya.

       Proses pembelajaran dengan model pembelajaran NHT merupakan model baru dan

cukup asing bagi siswa SMP Kesatrian 2 Semarang, karena dalam pembelajaran NHT,

siswa merasakan nuansa baru dalam belajar. Adanya nuansa baru dalam belajar ini mampu

meningkatkan semangat siswa dalam belajar matematika juga bisa mengubah pandangan

siswa pada matematika. Hal ini sesuai dengan teori belajar, bahwa adanya rasa senang dan

kepuasan siswa dalam belajar dapat memberikan respon positif dalam belajar.

       Pada awal kegiatan pembelajaran, peneliti merasa cukup kesulitan terutama dalam

penataan lingkungan belajar. Pembelajaran yang baru bagi guru maupun siswa

membutuhkan waktu untuk penyesuaian. Selain itu, pada waktu pengelompokkan

terkadang menimbulkan kegaduhan dalam kelas yang cukup menyita waktu pembelajaran.

Siswa masih belum terbiasa dengan dibentuknya kelompok belajar karena sebelumnya guru

tidak biasa membentuk kelompok belajar.

       Pertemuan berikutnya, siswa mulai terbiasa dengan teman lain dalam kelompoknya

dan mulai menerima perbedaan yang ada. Pada akhirnya, siswa justru saling membantu dan

menghormati satu sama lain karena adanya tuntutan masalah yang harus dikerjakan

bersama. Siswa merasa senang bekerja dan menyelesaikan tugas secara kelompok. Siswa



                                           58
juga bisa menikmati suasana baru dalam belajar matematika dan merasa lebih semangat

dalam belajar sehingga bisa meningkatkan hasil belajar.

4.2.2   Pengaruh Keterampilan Proses Pembelajaran NHT Terhadap Hasil Belajar

        Uji yang digunakan untuk menguji hipotesis masalah 2 adalah uji regresi linier dan

hanya dilakukan pada kelas eksperimen yaitu kelas VII B yang menggunakan model

pembelajaran NHT.

        Persamaan regresi yang diperoleh dari analisis data adalah Ŷ= 73,6 +6,96X.

Persamaan regresi tersebut dapat diartikan bahwa bila keterampilan proses bertambah 1,

maka nilai hasil belajar tiap siswa akan bertambah 6,96. Pada pembelajaran kelas

eksperimen, fungsi guru hanya sebagai fasilisator, yaitu memberikan pengarahan

seperlunya pada siswa. Keterampilan proses siswa lebih ditekankan pada pembelajaran.

Adanya keterampilan proses akan menumbuhkan motivasi belajar yang tinggi pada siswa

dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Terdapat korelasi yang

sangat kuat antara keterampilan proses terhadap hasil belajar siswa yaitu 0,51. Angka

korelasi yang positif menunjukkan semakin besar keterampilan proses akan membuat nilai

hasil belajar cenderung meningkat. Koefisien determinasi antar Y dan X adalah 26%, ini

memberi arti besarnya pengaruh keterampilan proses siswa dengan hasil belajar siswa

adalah 26%, melalui persamaan regresi Ŷ= 73,6 +6,96X sisanya 74% ditentukan oleh faktor

lain.




                                            59
4.2.3    Hasil Belajar

         Uji yang digunakan untuk menguji hipotesis masalah 3 adalah uji t dua sampel

pihak kanan dilakukan pada kelas eksperimen yaitu kelas VII B dan kelas kontrol yaitu

kelas VII D.

         Hasil analisis data diperoleh rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen adalah

75,5 dan rata-rata kelas kontrol adalah 64,9. Berdasarkan uji t dua sampel pihak kanan

diperoleh thitung = 42,61 dan ttabel = 1,67 sehingga thitung > ttabel maka Ho ditolak. Ini dapat

disimpulkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih baik daripada hasil belajar kelas

kontrol.

         Hal ini disebabkan karena        kedua kelas diberi perlakuan yang berbeda. Kelas

eksperimen dengan pembelajaran NHT sedangkan kelas kontrol dengan menggunakan

pembelajaran ekspositori Pembelajaran ekspositori pada awalnya memang membuat siswa

merasa lebih tenang karena guru mengendalikan siswa. Siswa duduk dan memperhatikan

guru menerangkan materi pelajaran. Hal semacam ini justru mengakibatkan guru kurang

memahami siswa, karena siswa yang jelas atau belum jelas hanya diam saja. Penyebab

yang lainnya yaitu:

a.      Kelas eksperimen menggunakan LKS yang dibuat oleh guru dalam pembelajaran

        sebagai perantara konsep materi segitiga karena penggunaan LKS dalam pengajaran

        matematika merupakan suatu alternatif untuk meningkatkan daya serap siswa dalam

        menerima informasi pembelajaran. Hal ini dikarenakan LKS dapat menuntun siswa

        untuk berpikir secara induktif.

b.      Siswa mengerjakan LKS sendiri dengan bimbingan guru sehingga siswa lebih

        menguasai konsep materi segitiga pada keliling dan luas daerah segitiga. Hal ini

        memberikan kesan tersendiri dalam diri siswa.
                                               60
c.   Siswa dibentuk berkelompok dalam mengerjakan LKS sehingga siswa dapat saling

     bekerjasama dengan siswa yang lain.

       Secara umum hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran NHT lebih efektif

daripada pembelajaran ekspositori.




                                           61
                                           BAB 5

                                        PENUTUP


5.1      Simpulan

               Berdasarkan uraian yang telah disampaikan pada bab sebelumnya, maka

      dapat ditarik suatu simpulkan sebagai berikut.

      1. Model pembelajaran NHT (Numbered Heads Together) dapat mencapai standar

         ketuntasan belajar yaitu 65 dalam pembelajaran matematika sub materi keliling dan

         luas daerah segitiga baik hasil belajarnya maupun keterampilan prosesnya.

      2. Keterampilan proses pada pembelajaran NHT (Numbered Heads Together)

         berpengaruh terhadap hasil belajar terlihat dari hasil perhitungan untuk keberartian

         koefisien regresi diperoleh signifikan, nilai korelasinya positif dan sangat kuat yaitu

         0,51 dan koefisien determinasinya adalah 26%.

      3. Hasil belajar matematika sub materi keliling dan luas daerah segitiga pada

         pembelajaran NHT (Numbered Heads Together) lebih baik daripada pembelajaran

         ekspositori. Model pembelajaran NHT (Numbered Heads Together) lebih efektif

         dibandingkan dengan pembelajaran ekspositori dalam pembelajaran matematika sub

         materi keliling dan luas daerah segitiga pada siswa kelas VII semester 2 SMP

         Kesatrian 2 Semarang tahun pelajaran 2008/2009.




                                               61
5.2      Saran

               Sesuai dengan hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sedikit

      sumbangan pemikiran sebagai usaha meningkatkan kemampuan dalam bidang

      matematika. Kepada guru kelas VII di SMP Kesatrian 2 Semarang. Saran yang dapat

      disumbangkan sehubungan dengan penelitian ini adalah:

      1. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, guru matematika hendaknya menggunakan

         model pembelajaran NHT terutama pada materi pokok segitiga.

      2. Guru hendaknya dapat membimbing siswa agar aktif dalam kegiatan pembelajaran

         dan menumbuhkan semangat kerjasama antar siswa

      3. Untuk menghindari kekurangan waktu dalam kegiatan pembelajaran, guru

         hendaknya menyampaikan terlebih dahulu pelaksanaan pembelajaran NHT pada

         pertemuan sebelumnya.




                                            62
                              DAFTAR PUSTAKA


Anni, Catharina Tri. 2004. Psikologi Belajar. Semarang : UNNES PRES.

Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta:
     Bumi Aksara.

Cunayah, cucun. 2005. Kompetensi Matematika untuk SMP/MTs Kelas VII Semester 1
     dan 2. Bandung: Yrama Widya.

Conny, Semiawan. 1985. Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: Gramedia.


Hudojo, Herman. 2005. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika.
     Malang: Universitas Negeri Malang.

Ibrahim, Muslimin dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA-
     UNIVERSITY PRESS.

Nur, Mohammad, dkk. (2005). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Pusat Sains dan
     Matematika Sekolah UNESA.

Setiawan. 2006. Model Pembelajaran dengan Pendekatan NHT. Tersedia di
     http://58.145.171.59/web/PPP/PPP_Pendekatan_Numbered Heads Together.pdf.
     [5 januari 2008].

Sudjana. 2002. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.

Sugandi, Achmad dkk. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK UNNES.

Suherman, Erman. 2003. Strategi Pembelajaran Kontemporer. Bandung: Universitas
     Pendidikan Indonesia

Suyitno, Amin. 2004. Dasar-Dasar dan Proses Pembelajaran Matematika 1.
     Semarang: UNNES.


                                        63
Rochmad. 2008. Penggunaan Pola Pikir Induktif-Deduktif Dalam Pembelajaran
     Matematika          beracuan            Konstruksivisme.      Http://rochmad-
     unnes.Blogspot.com/2008/01/penggunaan-pola-pikir-induktif-deduktif.Html,
     diakses tanggal 31 desember 2008

Tim PPG. 2005. Matematika. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi UNNES.

Tim Penyusun. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Tim Penyusun Kurikulum. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMP I 2006
     Mata Pelajaran Matematika. Jakarta: Depdiknas




                                        64

								
To top